Wednesday, October 11, 2006

Imagosentris

Imagosentris
(Published - Trolley Magazine, 2000)


Jangan tanya saya dari mana asal istilah itu, karena itu hasil rekaan saya sendiri ketika tengah merenungi fenomena budaya global ini. Image atau citra adalah adimagnet yang kini menjadi titik sentral dari kebudayaan modern, menariki semua orang – miliaran paku payung yang dengan sukarela ikut menari dalam tarian magnetis nan membius.

Hidup adalah gerakan antistatis. Dan kita dapat menyaksikan bagaimana bentangan sejarah tersarikan dalam ayunan sederhana sebuah bandul; meninggalkan satu mainstream menuju cikal bakal mainstream lainnya. Apa yang dicap kontroversial pada satu masa akan menjadi fosil pada masa yang lain. Dan apa yang sekarang kita tanggapi dengan cengangan dan banjuran kekaguman, cepat atau lambat, akan kita lewati dengan perasaan gersang.

Dalam setiap peralihan posisi bandul tadi, selalu ada kawanan ‘martir’ dan ‘pahlawan’ yang muncul. Siapakah gerangan mereka?

Saya yakin akan ada letupan nama-nama di benak Anda, dari mulai Janis Joplin sampai Jonathan Davis (Korn). Pada citra mereka itulah ditanamkan representasi kita terhadap gerakan resistensi heroik melawan rambu normalitas ataupun mainstream. Jangan heran kalau label absurditas dan abnormalitas kini bukan lagi celaan, melainkan klaim pujian dan simbol keberanian.

Namun bagaimana kalau saya tawarkan sosok yang lebih mencengangkan lagi? Ambillah cermin. Berkacalah di sana. Detik pertama pikiran Anda mulai merumuskan bayangan yang muncul, detik itu juga Anda menemukan sang ‘pahlawan’. Anda adalah partisipan yang tidak kalah penting dalam proses perubahan wajah dunia. Terlepas dari Anda seseorang yang melek budaya, seorang apatis sejati, atau seorang korban mode.

Kita semua berperan dalam gerakan imagosentris. Dunia citra dan simbol, yang selama ini digembar-gemborkan sebagai konsep eksklusif milik postmodernisme dan isme-isme lain, ternyata bisa saja bersemayam pada level hakekat. Tidakkah pernah terlintas kalau alam dan manusia juga hasil proyeksi dari ‘Sesuatu’? Dan sebuah ‘mini’ semesta pun termanifestasi dalam setiap pikiran ketika seseorang mulai mampu memaknai citraan dirinya sendiri. Berdasarkan citra itulah kebanyakan dari kita menjalankan hidup. Kita jatuh cinta pada citra, sengsara karena citra, mengorbankan nyawa demi mempertahakankan sebuah citra, dan seterusnya.

Pulau Jawa tanpa citra ke-jawa-annya hanyalah segumpal tanah tak bernama. Indonesia tanpa citra adalah konstelasi pulau anonim. Adalah citra yang otomatis menghadirkan batas, rambu, penilaian, blablabla, yang lalu diimanensikan dalam realitas ini. Jadi, siapakah gerangan bayangan cermin yang Anda lihat tadi? Siapakah Anda sesungguhnya? Siapakah saya? Apakah realitas ini? Adakah sesuatu yang benar-benar sejati?

Setelah kita sejenak bermain-main di area ‘basement’ tadi, marilah kita meloncat lagi ke batas antara normal dan abnormal, dan upaya keras manusia untuk menarik batas pembeda antara keduanya… tidakkah kita menemukan betapa konyolnya itu semua? Lucunya lagi, justru ‘kekonyolan’ itulah yang menjadi roda penggerak industri terbesar di Bumi: bisnis citra.

Menolak dunia citra ini adalah usaha yang sia-sia. Realitas kita berada pada level materi, dan materi itu sendiri adalah proyeksi citra dari level yang lebih halus: level energi. Kultur, ekonomi, pasar, dan seterusnya adalah rangkaian epifenomena dari fenomena abstrak yang niscaya tidak mampu termuat dalam kata-kata.

Bercerminlah sekali lagi. Lebih dalam. Seberangilah bayangan fisik yang muncul, dan bedahlah tumpukan image yang selama ini telah membentuk Anda. Sesuatu telah membuat Anda memilih celana kargo, tank-top, T-shirt band favorit, parfum tertentu, model rambut, CD kesukaan, hobi, sampai cara berjalan. Citra apa yang tengah Anda perankan? Apakah sudah cukup keren? Cukup trendi? Cukup cool? Ketika ditanya demikian, kebanyakan dari kita bakal menjawab, “Ah, gue sih asik-asik aja.” Dan ketika dicecar lagi dengan pertanyaan ‘kenapa’, jawabannya adalah “Nggak tahu. Pokoknya suka aja."

Citra memang membius. Citra bagaikan makhluk yang menuntut untuk terus diberi makan. Citra mengonsumsi perhatian kita. Detik demi detik. Nyaris tak memberikan kesempatan untuk bertanya. Akan tetapi, sama halnya dengan lambung, ada baiknya juga citra ‘berpuasa’ sekali-sekali. Ketika kita menjadi penonton yang berjarak, maka kita bisa memberi jeda sebentar pada diri kita. Tidak melulu menjadi obyek mesin hasrat (desiring machine) – istilah psikoanalisis Gilles Deleuze dan Felix Guattari untuk menerangkan mekanisme produksi ketidakcukupan dalam diri seseorang – tapi sesekali memberikan kesempatan bagi diri untuk merasakan energi kreativitas yang sesungguhnya. Kalau Anda beruntung, tentu saja. Tidak ada yang pasti di sini. Yang jelas, hidup rasanya mubazir apabila cuma terus menerus memberi makan pada mesin hasrat yang tak nyata.

Bercermin dan membedah refleksinya terkadang dapat menyelamatkan kita dari konflik superfisial yang tak perlu, seperti menghakimi teman yang tidak se-genre, berpusing-pusing menariki batas sana-sini dan bertingkah seperti satpam penjaga portal, karena seperti apakah sebenarnya Normal? Adakah kenormalan sejati? Adakah keabnormalan? Jangan-jangan semuanya adalah jajaran citra yang ingin diberi makan. Tidak ada yang lebih baik, juga tidak ada yang lebih buruk.

Mungkin sebagian akan bertanya, bukankah itu namanya pementahan? Dan pementahan adalah musuh besar kreativitas. Ada perbedaan besar antara mementahkan dan mempertanyakan. Derrida akan menyebutnya dekonstruksi. Kalau saya, supaya lebih gampang di lidah, menyebutnya bedah citra. Satu dari sekian banyak metoda bagi Anda yang ingin menjadi penonton berjarak.

Setiap kali Anda bercermin, coba tembusilah lapisan demi lapisan citra yang membungkus Anda selama ini. Realitas yang lebih segar mungkin akan muncul. Tepatnya, realitas yang lebih… riil. Apa adanya, hingga yang ada tinggal ada. Dan mari kita tercengang bersama.


* Satu lagi artikel dari masa lampau yang kembali menemukan momen idealnya. Barangkali berkenan bagi mereka yang tidak hanya ingin berpuasa perut pada bulan ini, tapi juga berpuasa citra. Termasuk saya.

9 comments:

Anonymous said...

citra ya! artikel ini mengingatkan gw tentang, secret beyond matter..
indera membentuk persepsi,
selanjutnya menentukan cara kita bertindak.. well, robot yang diprogram lingkungan.
apabila benar di luar hanyalah adalah citra holografis, mungkin
di dalam otak kita ada proyektornya, hehehe...
namun ada keanehan di semesta ini
dari partikel terkecil, sampai yang terbesar planet, galaksi, mereka berputar berlawanan arah jarum jam, kesadaran mungkin ini kuncinya...
kita mengaku sebagai mahluk yang miliki kesadaran, tapi lihat lah benda2 disekitar kita mereka juga memiliki kesadaran, mereka berotasi dari tingkatan microcosmis, sampai macrocosmis... ; ) fs:n1z4m_it@yahoo.com

Anonymous said...

berbagai pemikiran anda sering membuat saya berpikir "apakah seorang Dee menulisnya atau mendengar bisikan yang menggerakannya untuk menulis?"
mengagumkan, menimbulkan loncatan kuantum yang membuat saya berani menekan kenop ke dalam
citra?mana yang eksistensinya lebih kuat? dogma yang telah ada dan tertanam atau pemikir dari dogma tersebut?
jika kita menarik diri dari holografis,apakah tidak akan ada yang menjadikan kita sebagai tontonan pula?
sebagian dari kita tidak menyadari kita adalah karya seni yang agung, tersusun rapih dengan susunan PHI yang mengagumkan 1,618
jadi, bukankah dari awal eksistensi kita adalah partikel debu di tengah semesta?
namun segalanya memang ada pada kita, bukan?
menurut saya citra kita dari awal memang tidak pernah ada, karena yang ada hanyalah ada
namun saya setuju, Saya cinta eksistensi diri saya pada alam yang seharusnya terlihat

ganda said...

istilah bedah citra ini rasanya bisa juga dibikin terbiasa dengan sekali sekali public bathing, telanjang dalam arti sebenarnya

Pembual Kata said...

Mbak Dee
Jinjing inspirasi dalam setiap kreasi
Teruslah mengisi
Ku kan selalu teraspirasi

chindy said...

Dee, aq senang banget dengan artikel imagosentrismu ini, keren abiez bro!
Dee, aq share cerita dari pojok dapur kami ya,hehe...
Se yun ngider manggilin penghuni kontrakan, breakfast time ooiii! sarapan pagi ini, menu yang paling selalu kujagokan, havermout bro! Seperti biasa, satu piring disediakan khusus buat saya karena cuma saya yang doyan havemout asin, jadi seporsi disisihkan dulu sebelum diberi gula. Suapan pertama, terasa hambar, garam saya tambahkan lagi,sedikit..ehmm masih hambar tuh, nambahnya terlalu dikit kali...kali kedua saya tambah lagi...rasa tak banyak berubah, lagi-lagi masih hambar.

Teg! saya gumam sama diri sendiri, masalah rasa mungkin tak lebih karena kebiasaan. Lalu saya putuskan untuk tidak menambahkan garam lagi. Iseng saya beride, bagaimana jika saya geser kebiasaan ini, mencoba menikmati rasa hambar, RASA ASLI celetuk Se Yun. Rasa bebas poles, bebas perasa manis, perasa asin, perasa kecut atau apalah. Saya tantang diri saya, apakah saya dapat menikmati hambar?

Beberapa waktu yang lalu ketika pertama kali mencicip air hasil saringan dari kiriman Fukuang Fuothang, sekelibat memori mengusik persepsi saya akan rasa air tersebut. Rasa airnya BEDA dari biasanya. Memori awal saya akan cita rasa air, sekonyong-konyong terpanggil mencuat. Dalam benak saya, seperti inilah rasa air. Rasa yang pertama kali tercitra saat pertama kali mencicip air. Saya cerita pada Maya, Se Yun, Se Yi dan Anton, semua pada koor dengan ekspresi yang sama, termanyun-manyun..hehehe..

Saya juga ingat kala pertama kali diberi obat Huo Shiang sama Papa, astaganogir, rasanya kenyir, bikin wajah nyinyir bener-bener ANEH. Hidung saya pencet, mata saya tutup, bud taste kalo bisa saya matiin fungsi kecapnya saat itu. Demi menghabiskan seteguk HuoShiang, benaran deh nggak HauSiang banget, baunya tajam banget. Tau sendirilah obat cina rasanya kaya' apa;)

Sesungguhnya, apa yang benar-benar membuat lidah kita tak dapat menikmati rasa. Image RASA ENAK barangkali. Enak kita persepsikan dengan rasa tertentu kecuali hambar. Padahal hambar juga RASA kan, lalu mengapa hambar disisihkan, dikeluarkan dari kategori layak cicip. Diskriminatif, mungkin memang bawaan genetik makhluk manusia yang terakui mampu menganalisa. Karena ada penilaian, ada analisa, ada pembedaan. Namun analisa kita nampaknya tak sedikit yang kebablasan. Bablas menabrak batas penilaian, hingga tak sadar membangun, selapis demi selapis tembok jarak yang mengurung diri sendiri dalam sederet penilaian yang tak perlu, bahasa yang lebih mentereng mungkin bisa diungkap sebagai subjektifitas yang melahirkan multidiskriminasi. Dalam hal apa saja. Ini yang menghambat kemampuan berinteraksi yang murni dengan apa pun, dengan siapa pun.

Interaksi dengan makanan pun tak sedikit dari kita tak sadar kalau sudah menyulitkan diri sendiri, dengan patokan rasa enak dalam ukuran trend, prestise, atau apalah. Ada teman yang punya kebiasaan hanging out, tiap minggu, keliling dari satu cafe atau resto ke resto untuk mencicip se menu atau dua menu unggulan. Tiap mengajak saya, saya akan selalu punya satu menu tetap buah potong atau sekedar minum jus buah. Mereka hanya akan geleng-geleng tapi menutup dengan satu kalimat, 'gpplah sing penting awak'mu enjoy dan iso mencicip suasana'e' A ha! itu dia, ENJOY...dimana saja, apa saja asal ENJOY, tak ada yang terasa berat di lidah, semua aman2 saja. Tak ada rengutan, tak ada bosan, tak ada kata susah mencicipnya...setingkat lebih afdol adalah melampaui rasa itu sendiri, bebas dari kata enak-tak enak, ceilee sok bijak bro..

chindy said...

Dee,
Untuk paragraf ini:Bercermin dan membedah refleksinya terkadang dapat menyelamatkan kita dari konflik superfisial yang tak perlu, seperti menghakimi teman yang tidak se-genre, berpusing-pusing menariki batas sana-sini dan bertingkah seperti satpam penjaga portal, karena seperti apakah sebenarnya Normal? Adakah kenormalan sejati? Adakah keabnormalan? Jangan-jangan semuanya adalah jajaran citra yang ingin diberi makan. Tidak ada yang lebih baik, juga tidak ada yang lebih buruk.

Sungguh, buah pikir ini reflektor yang tajam, sentilan aktif non stop, rasanya ada yang terus menyentil untuk berkontak dengan Diri, eling dengan setiap persepsi yang berkelibatan di pikiran. bersimpuh saya di altar HIDUP, menjadi hamba HIDUP... bila mas Goenawan Mohamad menulis: kahyangan digambarkan sebagai ‘suwung’ dan tak ada ‘rasa pribadi,’ yang dimaksudkan bukanlah sebuah gambaran kekurangan. Bahkan sebaliknya. ‘Cipta, rasa dan karsa’ tak ada karena tak dibutuhkan. Keheningan itu total – yang juga berarti kebebasan dari pengaruh perasaan suka dan sedih: datan kaprabawaning rasa bungah lan susah. Ijinkan saya nimbrung,"saya punya detik kini yang menanti detik lain momentum bulatnya paham bagaimana menyaput selaput katarak-beban dualisme , mengirisnya dengan pisau bedah kesadaran, duri dalam daging kesadaran yang selama ini t'pelihara sekian episode kelahiran" Penilaian gaul-garing, cool-boring, bijaksana-bijaksini alias egois, keren-kerempeng, yang membuat membiarkan hati terganggu oleh purbasangka, sangka yang sudah terlalu purba untuk dibiarkan mengikuti kita hingga kini,hehe...ngawurmawur;)

Jenny Jusuf said...

Saya setuju, Mbak Dee.
Saya sudah lelah memberi makan citra. Lelah hidup baginya. Lelah menilai dan dinilai berdasarkan citra. Di blog saya ada 1 tulisan, Topeng-Topeng Ceria. Konteks dan perspektifnya entah tepat entah tidak, saya tak peduli... karena hanya melalui blog saya dapat berbicara tanpa khawatir dihakimi. Andai semua orang dapat berpuasa citra. Sehari saja.

Andai Supernova betul-betul eksis. Mungkin ia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.

Jenny Jusuf said...

Saya setuju, Mbak Dee.
Saya sudah lelah memberi makan citra. Lelah hidup baginya. Lelah menilai dan dinilai berdasarkan citra. Di blog saya ada 1 tulisan, Topeng-Topeng Ceria. Konteks dan perspektifnya entah tepat entah tidak, saya tak peduli... karena hanya melalui blog saya dapat berbicara tanpa khawatir dihakimi. Andai semua orang dapat berpuasa citra. Sehari saja.

Andai Supernova betul-betul eksis. Mungkin ia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.

dejavan said...

Sepanjang membaca tulisan-tulisan mbak Dee di blog ini, saya hanya bisa senyum-senyum sendiri.
Heran, entah dari mana semua ide itu lahir, lalu menumbuhkan sesuatu di dalam sini.

Thanks.