Wednesday, July 16, 2008

Catatan Tentang Perpisahan

Catatan Tentang Perpisahan


Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia. Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati.

Saya sempat termenung melihat salah satu adegan dalam film “Earth” di mana seekor kijang berlari sekuat tenaganya hingga pada satu titik dia begitu berpasrah saat digigit oleh harimau, menghadapi kematiannya dengan alami. Adegan yang tadinya begitu mencekam akhirnya bisa berubah indah saat kita mampu mengapresiasi kepasrahan sang kijang terhadap kekuatan yang lebih besar darinya. Persis bagaikan kijang yang berlari, manusia dengan segala macam cara juga menghindari kematian. Orang yang sudah tidak berfungsi pun masih ditopang oleh segala macam mesin agar bisa hidup. Perpisahan tak terkecuali. Kita pasti akan berjuang habis-habisan untuk bertahan terlebih dahulu. Namun, sebagaimana kijang yang akhirnya berlutut pasrah, sekeras-kerasnya kita menolak kematian dan perpisahan, setiap makhluk bisa merasakan jika ajal siap menjemput, jika ucapan selamat tinggal siap terlontar. Dan pada titik itu, segala perjuangan berhenti.

Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan yang kita anggap sebab sebuah perpisahan. Namun saya percaya, penyebab yang paling mendasar selalu sederhana dan alami: memang sudah waktunya. Hidup punya masa kadaluarsa, hubungan pun sama. Jika tidak, semua orang tidak akan pernah mati dan semua orang tidak pernah ganti pacar dari pacar pertamanya. Kita bisa bilang, putusnya hubungan A karena dia selingkuh, karena bosan, karena ketemu orang lain yang lebih menarik, belum jodoh, dan masih banyak lagi. Padahal intinya satu, jika memang sudah waktunya, perpisahan akan menjemput secara alamiah bagaikan ajal. Bungkus dan caranya bermacam-macam, tapi kekuatan yang menggerakkannya satu dan serupa. Tentu dalam prosesnya kita berontak, protes, menyalahkan ini-itu, dan seterusnya. Namun hanya dengan terus berproses dalam aliran kehidupan, kita baru menyadari hikmah di baliknya.

Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai penyebab perpisahan (orang ketiga, KDRT, tidak dinafkahi, dan lain-lain) menurut saya sebenarnya adalah gejala yang terlihat, bukan penyebab. Sama halnya batuk sebagai gejala penyakit flu. Batuk bukan penyebab, tapi gejala penyakit yang terlihat. Kita sendiri tidak bisa melihat virusnya, cuma merasakan akibatnya, yakni batuk atau beringus. Tapi seringkali kita tertukar memilah mana efek dan mana sebab, hanya karena efek yang terlihat lebih mudah dijelaskan. Alasan sesederhana “memang sudah waktunya” dirasa abstrak, teoritis, filosofis, dan mengada-ada.

September 2006 adalah momen penyadaran saya dengan Marcell, saat kami merasa bahwa hubungan kami sudah kadaluarsa. Susah sekali kalau disuruh menjelaskan: kok bisa tahu? Tapi kami sama-sama merasakan hal yang sama. Dan pada saat itulah kami memutuskan untuk belajar berpisah, saling melepaskan. Jadi, masalah intinya bukan memaafkan dan memaklumi efek apa yang terlihat, tapi menerima bahwa inilah adanya. Hubungan yang kadaluarsa. Perkembangan yang akhirnya membawa kami ke titik perpisahan. Dan, untuk sampai pada penerimaan ini, dua tahun saya jalani dengan berbagai macam cara: meditasi, penyembuhan diri, dan sebagainya, hingga kami bisa saling melepaskan dengan lapang dada, dengan baik-baik, dengan pengertian, dengan kesadaran.

Memaafkan bagi saya adalah menerima. Menerima kondisi kami apa adanya. Segala penyebab mengapa sebuah kondisi tercipta, barangkali kita cuma bisa tahu sekian persennya aja. Tidak mungkin diketahui semua. Apalagi dimengerti. Sama halnya saya tidak tahu persis kenapa dulu bisa bertemu dengan Marcell, menikah, dan seterusnya. Fate, atau destiny, menjadi cara manusia menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan. Perpisahan pun sama hukumnya. Meski sepertinya keputusan berpisah ada “di tangan kita”, tapi ada sesuatu kekuatan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.

Namun seringkali konsep “memaafkan” yang kita kehendaki adalah kemampuan untuk mengembalikan situasi ke saat sebelum ada masalah. Alias rujuk lagi seperti dulu. Dan keinginan kami untuk berpisah dianggap sebagai ketidakmampuan kami untuk saling memaafkan. Menurut saya, pemaafan yang sejati hanya bisa diukur oleh masing-masing pribadi, di dalam hatinya sendiri. Dan bagi kami, dalam masalah ini, “memaafkan” tidaklah identik dengan “pengembalian situasi ke kondisi semula”. Dalam proses pemaafan ini, kami pun bertumbuh. Dan di sinilah saya menyadari, juga Marcell, dinamika kami sebagai suami-istri lebih baik disudahi sampai di sini. Kami menemukan wadah yang lebih kondusif untuk menopang dinamika kami sebagai dua manusia, yakni sahabat tanpa wadah pernikahan.

Lantas, orang-orang pun berargumen: semua suami-istri juga pada ujungnya jadi sahabat! Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Bahkan ada suami-istri yang menjadi musuh bagi satu sama lain meski mereka tetap menikah. Ketika sepasang suami-istri menjadi sahabat, mereka tentu bisa merasakan wadah apa yang paling tepat untuk menopang dinamika mereka. Jika pernikahan masih dirasakan sebagai wadah yang pas, maka mereka akan meneruskan persahabatan dalam cangkang pernikahan. Evolusi saya dan Marcell ada di kompartemen yang lain lagi. Cangkang pernikahan tidak lagi kami rasakan sebagai wadah yang “pas”. Jika dijalankan pun, cuma jadi kompensasi sosial yang alasannya bukan lagi kebahagiaan kami, melainkan kebahagiaan masyarakat, keluarga, sahabat, dan seterusnya. Satu opsi yang menurut saya sangat tidak sehat, membunuh pelan-pelan, dan kepalsuan berkepanjangan.

Lantas, bagaimana dengan Keenan? Apakah kebahagiaannya juga tidak kami perhitungkan? Analogi yang barangkali bisa membantu menggambarkan ini adalah petunjuk emergensi di pesawat. Dulu, saya sering bingung, kenapa orang tua disuruh memakai masker oksigen duluan sebelum anaknya. Sekarang saya mengerti, dan setidaknya ini adalah kebenaran bagi saya: kita tidak bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri bahagia. Satu buku yang sangat terkenal, “Celestine’s Prophecy”, juga bicara soal ini. Kita harus “penuh” dulu sebelum bisa “memenuhi” orang lain. Cinta bukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi.

Saya menikah bukan karena Keenan, dan kalaupun saya bertahan menikah, seharusnya juga bukan karena Keenan. Karena kalau cuma karena Keenan, dengan demikian saya menaruh beban yang luar biasa besar dan bukan porsinya Keenan, bahkan saya menjadi seseorang yang tidak bertanggungjawab, dengan meletakkan fondasi pernikahan saya pada seorang anak. Ini barangkali bukan pandangan yang umum. Kita tahu betapa banyak orang di luar sana yang bicara bahwa anak harusnya menjadi pengikat, bahkan dasar. Bagi saya, Keenan bukan tali atau fondasi. Dia adalah anak panah yang akan melesat sendiri satu saat nanti. Kewajiban utama saya adalah menjadi manusia yang utuh agar saya bisa membagi keutuhan saya dengan dia. Dan keutuhan jiwa saya tidak saya letakkan dalam pernikahan, tidak juga pada siapa-siapa, melainkan pada diri saya sendiri. Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri. Kalau ada yang lain merasa kecipratan, ya, syukur. Kalau tidak pun bukan urusan saya.

Di dunia di mana seorang martir selalu memperoleh citra istimewa, apa yang saya ungkap barangkali terdengar egois. Sama seperti narasi yang kerap digaungkan infotainment, yang berbicara soal kebahagiaan anak bernama Keenan dan “hatinya yang terkoyak karena keegoisan ayah-bundanya”, seorang anak yang tidak mereka kenal sama sekali tapi mereka berbicara seolah bisa menembus ke dalam hatinya. Padahal, kalau direnungi dalam-dalam, sesungguhnya kita tidak pernah berbuat sesuatu untuk orang lain, meski kita berpikir demikian. Kita berbuat sesuatu karena itulah yang kita anggap benar bagi diri kita sendiri. Dan kebenaran ini sangatlah relatif. Jika ada 6,5 miliar manusia di dunia, maka ada 6,5 miliar kebenaran dan ukuran kebahagiaan. Norma berubah, agama berubah, sains berubah, segalanya berubah dan tidak pernah sama. Kebahagiaan pun sesuatu yang hidup, berubah, dan tidak statis.

Membahagiakan Keenan, keluarga, para penggemar, masyarakat, juga menjadi keinginan saya. Tapi saya pun tidak bisa selamanya mencegah mereka semua dari ketidakbahagiaan. Karena apa? Seseorang berbahagia karena dirinya sendiri. Kebahagiaan bukan mekanisme eksternal, tapi internal. Ilustrasinya begini, dua orang sama-sama dikasih apel, yang satu bahagia karena memang suka apel, yang lain kecewa karena sukanya durian. Berarti bukan apelnya yang bisa bikin bahagia, tapi reaksi hati seseoranglah yang menentukan. Yang tidak suka apel baru bisa bahagia kalau akhirnya dia bisa menerima bahwa yang diberikan kepadanya adalah apel dan bukan durian—sebagaimana yang dia inginkan. Alias menerima kenyataan. Saya tidak bisa membuat siapa pun berbahagia, sekalipun saya ingin berpikir demikian. Kenyatannya, hanya dirinya sendirilah yang bisa. Saya hanya bisa menolong dan memberikan apa yang orang tersebut butuhkan, SEJAUH yang saya bisa. Namun saya tidak memegang kendali apa pun atas kebahagiaannya.

Seseorang lantas mampir ke blog ini dan bertanya: Tuhan seperti apa yang saya anut? Karena kasih Tuhan seharusnya mengingatkan saya untuk terus bersatu, sebab tidak ada Tuhan yang menyukai perpisahan. Bagi saya, Tuhan berada di luar ranah suka dan tak suka. Jika dunia ini berjalan hanya berdasarkan kesukaan Tuhan, dan Tuhan hanya suka yang baik-baik saja, mengapa kita dibiarkan hidup dengan peperangan, dengan air mata, dengan patah hati, dengan ketidakadilan, dengan kejahatan? Mengapa harus ada hitam bersanding dengan putih? Lantas, kalau ada orang yang kemudian berargumen bahwa bagian hitam bukan jatahnya Tuhan tapi Setan, maka jelas Tuhan yang demikian bukan Yang Maha Kuasa. Ia menjadi terbatas, kerdil, dan sempit. Bagi saya, Tuhan ada di atas hitam dan putih, sekaligus terjalin di dalam keduanya. Tidak ada yang bukan Tuhan. Ia tak mengenal konsep “kecuali”.

Selama beberapa hari terakhir, begitu banyak pesan dan komentar yang dilayangkan pada kami. Dari mulai bertanya, kecewa, prihatin, sedih, kaget, bahkan bak seorang Nabi bernubuat, ada yang meramalkan ini-itu sebagai konsekuensi keputusan kami. Tak sedikit juga yang memilih tidak berkomentar dan bertanya, hanya memberi dukungan. Kami berterima kasih untuk semua. Kami pun tak meminta banyak, hanya satu hal: hargai keputusan kami. Yang kami selamatkan di sini bukan “keutuhan keluarga” melainkan keutuhan hati dan jiwa masing-masing. Karena buat kami, itu lebih penting daripada keluarga utuh tapi dalamnya rapuh. Maaf jika itu membuat beberapa dari Anda kecewa. Saya juga mengerti begitu banyak yang berupaya mendorong kami untuk terus berusaha, mempertanyakan usaha kami, dan bereaksi seolah-olah kami memutuskan keputusan ini dalam semalam. Sungguh, ini bukan keputusan “kemarin sore”. Kita semua tahu keputusan bercerai adalah keputusan yang besar. Intinya, terima kasih atas perhatiannya, dan mari kita kembali urus diri masing-masing.

Saya bukan penonton infotainment dan juga bukan pembaca tabloid, tapi dari beberapa info yang kebetulan sampai ke pengamatan saya, bisa disimpulkan bahwa manusia begitu haus drama. Mungkin karena itulah kita begitu rajin membuat sinetron dengan akting-akting berlebihan dan cerita-cerita ekstrem, karena hanya dengan cara demikianlah kita bisa menerima realitas. Kita begitu terbiasa dengan drama dan tragedi. Kondisi di mana saya dan Marcell bisa duduk berdampingan, berpisah dengan baik-baik, seolah-olah terlewatkan sebagai buah upaya kami yang nyata karena semua orang sibuk mengedepankan pertunjukan teater versinya masing-masing. Apa pun yang saya katakan, pada akhirnya selalu dibingkai narasi, entah lisan atau tulisan, yang merupakan ramuan opini si penulis naskah. Itulah yang akhirnya membuat saya dan Marcell lebih banyak tertawa sendiri, pers hiburan rasanya seperti servis sosial di mana kami mengumpankan dongeng untuk kepentingan hajat hidup mereka, bukan lagi berbagi kebenaran. Dengan info-info sepotong yang mungkin lebih banyak asumsinya ketimbang faktanya, mereka bisa merangkai pertunjukan teater apa pun yang mereka mau. Dan itulah yang menghibur. Sisanya? Kenyataan yang membosankan. Nyata, tapi tidak seru. Dan bukan itu yang orang mau.

Hari ini, saya ditunjukkan tabloid C&R yang terbaru. Kami berdua menjadi sampul depan, dengan laporan empat halaman. Saya sempat tercengang karena mereka mengutip hal yang tidak pernah saya lontarkan, menuliskan pertanyaan yang tidak pernah mereka tanyakan, tapi ditulis sedemikian rupa seolah terjadi dialog langsung antara saya dan penulis/wartawan (Fitriawan Ginting - RED). Bahkan, mereka menuliskan alamat rumah saya dengan lengkap, tanpa izin terlebih dahulu. Plus, ditambah unsur-unsur dramatis bahwa kepindahan saya adalah untuk “mengubur masa lalu”. Padahal saya berencana pindah sejak tahun lalu karena semata-mata alasan pekerjaan. Tidak hanya mereka menulis sesuai dengan bingkai yang mereka mau, bahkan untuk mengepas “gambar realitas” ke bingkai tersebut, mereka melakukan hal yang tidak etis. Saya tidak tahu fungsi dari alamat lengkap saya untuk bumbu berita mereka, tapi mereka menuliskannya seolah tidak berpikir bahwa hal tersebut menyangkut isu sekuritas, dan juga privasi. Media seharusnya tidak memberikan alamat seseorang begitu saja. Sejauh saya berkarier, pihak media selalu meminta izin jika ingin memberikan alamat. Entah zaman yang sudah berubah, atau privasi sudah jadi kata-kata kosong dalam realm pers hiburan.

Beberapa debat dan diskusi di internet pun merebak, bahkan terkadang menjadi pengadilan tak resmi. Ada banyak nama yang disebut, dispekulasikan, dan sampai didiskreditkan. Orang-orang yang juga punya kehidupan, keluarga, karier, dan privasi. Sekalipun dengan tegas saya dan Marcell mengatakan bahwa alasan kami berpisah bukan karena pihak ketiga atau ketujuhbelas, tapi seperti angin lalu, mereka tak jemu mengorek sana-sini, termasuk ke sahabat-sahabat terdekat saya. So, seriously, they don’t have any concern for the truth. They have concern on “stories”. Lucu. Yang menjalani saja santai-santai, yang kebakaran jenggot malah orang-orang lain. Jika dilihat secara keseluruhan, sesungguhnya inilah dagelan kita bersama. Barangkali demikian juga halnya nasib semua berita hiburan (bahkan non-hiburan) yang beredar selama ini.

Lalu, hendak ke mana setelah ini? Saya tidak tahu. Apakah akan ada penyesalan? Saya tidak tahu. Apa pun yang menanti saya sesudah ini, itulah konsekuensi, tanggung jawab, dan karma saya. Pahit atau manis. Tak seorang pun yang tahu. Namun inilah pelajaran hidup yang menjadi jatah saya, dan saya menerimanya dengan senang hati. Saya tidak berdagang dengan Tuhan. Setiap detik dalam hidup adalah hadiah. Setiap momen adalah perkembangan baru. Bagi saya, itu sudah cukup. Bagi saya, itulah bentuk kesadaran.

Jadi, kalau pertanyaan emas itu kembali dilontarkan: apa penyebab Dewi dan Marcell bercerai? Mereka sadar, menerima, dan memaafkan… bahwa hidup telah membawa mereka ke titik perpisahan.

Abstrak? Filosofis? Teoritis? Utopis? Saya sangat mengerti mengapa label-label itu muncul. Kebenaran kadang memang sukar dipahami. Hanya bisa dirasakan. Sama gagapnya kita berusaha mendefinisikan Cinta. Pada akhirnya, kita cuma bisa merasakan akibatnya.


Salam,

~ D ~

324 comments:

1 – 200 of 324   Newer›   Newest»
andy said...

Dee..
Sebelumnya makasih atas "jawaban-jawaban eksklusif" yg diberikan kepada pembaca setia blog Dee, termasuk saya; yg tidak menampik atas rasa penasaran yg mendalam karena daya khayal en imajinasi saya ttg pribadi seorang Dee (dimana imajinasi tsb terbentuk atas tulisan2 Dee); yg berpikir pelepasan wadah talian suci itu adalah hal yg tidak mungkin menjadi pilihan dlm hidup seorang Dee
*Mohon maaf atas kelancangan pemikiran saya..

Di sini saya tidak ingin menyatakan "Turut Berduka Cita", karena saya pribadi tidak tahu bagaimana yg dirasakan Dee atas kejadian yg merangkul perjalanan hidup demi sebuah 'keutuhan' yg diinginkan Dee berbasiskan pilihan tsb.

Dee, semoga mendapatkan kebahagiaan sejati :)

ipk4cumlaude said...

Tulisan ini membuat saya merenung setelah membacanya. Emang seperti itulah salah satu ciri tulisan yg bagus.

Oya eniwei saya setuju dengan kalimat "Tuhan ada di atas hitam dan putih, sekaligus terjalin di dalam keduanya."

Tapi Mba Dee, kalau mempertahankan rumah tangga ini kita sebut ujian untuk meningkatkan derajat kita di hadapan Tuhan, apakah dengan demikian bahwa Mba Dee menyerah dengan ujian dari Tuhan?

Ditunggu jawabannya ya Mba Dee cuz saya yakin Mba Dee pasti punya jawaban yg sangat bagus dan di luar jangkauans saya. Makasih.

fisto said...

...semoga selalu bahagia dengan apapun keyakinanmu...Anda yang paling tahu apa yg terbaik buat diri Anda dan keluarga...

Eftu said...

It sounds like a simple justification to me. To die is inevitable, to divorce is not inevitable. It's just ego. Your ego is not applicable to avoid death.

didut said...

hmm gak tau hrs komen apa dee ... hanya berdoa buat keenan aja, kalo dee-nya sih sudah mantap kelihatannya :)

O iya, sorry belum respon soal kotak takakuranya, kami baru pindahan kantor, akhirnya sanggup beli kantor sendiri sejak saya jadi relawan :P *kok malah cerita*

Gutlak buat semuanya dan semoga berbahagia selalu

edo said...

one word dee..
dalemm :)

thank for a great story
i got a lot from you

Ollie said...

Good luck.

Jauhari said...

Semoga Tetap Indah pada masanya....

saya suka kata kata ini "memang sudah waktunya"

Jenny Jusuf said...

Kemarin, sebuah SMS masuk ke handphone saya, mengonfirmasi berita perceraian Mbak Dee yang sedang ramai di media. Saya menjawab “Tidak tahu”, karena saya adalah perempuan cuek yang jarang berdekatan dengan benda bernama TV, apalagi menonton infotainmen.

Karena penasaran dengan SMS itu, saya mencoba menggali informasi di internet. Tapi, akhirnya saya menutup jendela-jendela yang sudah terakses karena ‘malas’. Tidak ada yang penting dari berita-berita itu, dan malas rasanya mencermati ‘informasi’ seheboh apapun.

Saya sangat menyukai tulisan-tulisan Mbak Dee. Sejujurnya, banyak entri blog Mbak yang saya copy-paste dan simpan di komputer (untuk konsumsi pribadi, tentunya) dengan tujuan setiap saat saya membutuhkan ‘nutrisi jiwa’, saya bisa langsung membacanya. Tulisan Mbak telah memberikan pencerahan bagi saya, meskipun saya harus mengakui, seringkali saya kurang konsisten menjalaninya hari lepas hari. ;-) Sungguh, saya bersyukur bisa menemukan rangkaian inspirasi dan makanan jiwa dalam tulisan-tulisan tersebut. Seringkali saya merasa ‘tersesat’, kemudian menemukan setitik cahaya dalam tulisan Mbak. Meski kecil, cahaya itu mampu memberi harapan bagi saya untuk terus melangkah dan menjadi manusia yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Saya tak peduli tentang pemberitaan di luar sana. Tak ingin tahu, dan tak ingin berusaha menilik atau memahami apa yang terjadi. Yang saya tahu hanya, saya menunggu tulisan-tulisan Mbak selanjutnya. Selalu. :-)


Salam hangat,

JJ

mirzal said...

Be strong,.

Emang sih gw gk ngerti gimana rasanya "dibantai" kuli-kuli tinta pas ada masalah,.

Tp dari yg liat mereka emang suka seenaknya,gak punya otak dan manner yg bener..

Yang kuat ya mbak dee..smoga kputusan yg diambil itu yg terbaik dari yg terbaik..

Perpisahan emang hal yg paling gak enak dan harus terjadi,tapi gimana bentuknya siapa yg tau?

oiya,salam kenal ya
:)

bennywu said...

Inilah realitas kehidupan. Ada pertemuan, ada perpisahan. Hanya masalah waktu saja.

Saya sepenuhnya setuju dengan sis Dee.

godot said...

hi, hanya mengingatkan saja,
janji pernikahan itu diucapkan kepada Yang Maha Kuasa, bukan untuk diri kita sendiri. jadi pernikahan itu adalah sakral.
"till death do us part"

regards,
I've been your fan from long time ago.

linda said...

speechless bacanya
semoga ini adalah keputusan terbaik

thepoets said...

Salut dengan pilihan Dee.
Banyak yang mempertahankan rumah tangganya karena alasan anak atau tekanan keluarga/lingkungan sekitarnya dan mungkin nama baik. Fakta bahwa hingga saat ini banyak yang memandang negatif perceraian, dan bahkan mereka berusaha untuk menciptakan cerita demi melengkapi kisah drama perpisahan.

Saya sendiri sampai saat ini masih terjebak dengan bingkai itu. Kepalsuan yang menimbulkan kelelahan dan gejolak amarah yang teredam oleh rasa cinta. Hingga detik ini saya kerap bertanya SEJAUH MANA dan SEBERAPA KUAT saya bisa bertahan karena seperti yang Dee bilang semua ada waktunya.

Thanks for the inspiration. You make me shead a tear today.

Dewi Lestari said...

Membaca komen Eftu, saya jadi tergelitik membahas perihal "ego". Sesungguhnya apa ego?

Ego adalah hasil evolusi yang membuat manusia berhasil menjadi makhluk paling berkuasa di Bumi. Binatang tidak punya ego. Ego adalah alat spesies manusia bertahan hidup. Dengan ego, kita mengenal "aku", "kamu", "mereka", "milikku", "milikmu", dan "miliknya". Setiap manusia merasa ada semacam "pusat" dalam dirinya, yang memisahkan dirinya dengan apa pun yang di luar darinya.

Dalam pengertian itu, selama kita mengaplikasikan "aku"-"kamu" dan "keakuan"-"kekamuan" dalam interaksi kita, itulah ego. Dalam tindakan yang kita nilai paling altruistik sekalipun, belum tentu tidak ada ego di sana.

So... jika tindakan seperti perceraian disponsori oleh ego, pernikahan pun sama saja. Dan ego yang sama jugalah yang membawa Eftu berkomentar di sini.

Untuk Cumlaude: Bagi saya, saya tidak punya kepentingan untuk meningkatkan derajat saya di depan Tuhan. Bertahan atau tidak, saya tidak melakukannya hanya untuk membuat saya lebih merasa berharga atau "naik kelas". Ketika saya masih bisa melewati satu hari dengan senyum dan humor, itu sudah lebih cukup dari saya.

~ D ~

Mirzal Dharmaputra said...

Be strong,.

Emang sih gw gk ngerti gimana rasanya "dibantai" kuli-kuli tinta pas ada masalah,.

Tp dari yg liat mereka emang suka seenaknya,gak punya otak dan manner yg bener..

Yang kuat ya mbak dee..smoga kputusan yg diambil itu yg terbaik dari yg terbaik..

Perpisahan emang hal yg paling gak enak dan harus terjadi,tapi gimana bentuknya siapa yg tau?

oiya,salam kenal ya
:)

widya rini said...

masih banyak hal yang aku tak mengerti, karena aku belum merasakan arti sesungguhnya dari pernikahan.
yang aku tahu, takdir tak kan berubah meskipun kita berusaha. namun siapakah kita bisa menentukan takdir? kita tak tahu bagaimana hari esok akan terjadi. yang bisa kita lakukan adalah berusaha yang terbaik semampu kita?
tapi apakah kita telah berusaha sekuat tenaga untuk yang terbaik? hanya hati nurani yang tahu.

semoga usaha yang dilakukan tidak berujung pada penyesalan yang terlambat.

doaku semoga yang terbaik selalu diberikan Yang Maha Kuasa kepadamu :)

MOTD said...

Dear Dee,

Wish all 3 of you the best in life.
Admire your courage
Admire your strength

Love the concept of happiness & the responsibility toward it, I believe in it too.

Anonymous said...

Terkadang kita tak pernah tau apa yg Tuhan rancang dalam kehidupan qt... tapi kita harus yakin semua akan indah pada waktunya...

lia said...

mb dee, terus terang saya kaget pas denger berita itu karena kalian berdua adalah pasangan favorit saya. Tapi saya yakin kalian berdua pasti sudah memikirkan hal ini masak-masak dan punya alasan yang bagus untuk itu. Dan saya yakin, seandainya boleh memilih pasti mb dee gak kepingin ini terjadi kan? Gak ada orang nikah niat untuk bercerai kan ??
Sabar ya mbak...
Anyway tetap ditunggu karya2 kalian berdua...

Nita Sellya said...

Dear Dee, Keenan, and Marcel..

Everything will be okay in its own right and termm..

God bless you..

Donny Verdian said...

Terlepas dari apa berita diluar, saya hanya ingin berujar "Selamat Bersahabat" untukmu dan Marcell.

Tak ada yang layak menghakimi dalam hal ini, saya pikir.

mila said...

wow.. *speechless*
saya doakan yang terbaik untuk mbak dewi-marcell-keenan

windede said...

kalau maju dan mundur sama-sama berisiko, maka majulah... hidup ini pilihan, dan jangan pernah terganggu dengan pikiran tentang "apa yang orang pikir mengenai kita".

senang dengan ketegaran dan cara anda menyikapi hidup...

Azure said...

Sebenarnya, sejak kapan sih perceraian itu dianggap salah?

Saya suka bertanya-tanya sendiri : kalau pernikahan adalah suatu ikatan sakral yang direstui dan bersumber dari Tuhan sendiri, kemudian harus dipertahankan sampai mati... lalu bagaimana dengan era sebelum institusi dan budaya pernikahan DIKEMBANGKAN OLEH MANUSIA?

Apakah berarti manusia-manusia purba itu semuanya pendosa? Apakah suku tertentu di Afrika yang tidak menganut kebudayaan ini lantas dipandang rendah oleh Tuhan?

Menurut saya, sama halnya dengan agama Katolik yang mengagungkan monogami, versus agama Islam yang membenarkan poligami... tiada seorangpun yang boleh mendoktrin orang lain soal pernikahan.

Kebenaran dan kepantasan itu relatif. Kepercayaan di dunia ini banyak dan beragam. Dan setiap individu berhak menentukan jalan hidupnya masing-masing.

Cheers ;)

peaceme said...

"So, seriously, they don’t have any concern for the truth. They have concern on “stories”."

Begitulah manusia, mempunyai dunianya masing-masing.
Jika ada 6,5 milyar manusia, berarti ada 6,5 milyar dunia :)

Yang jadi masalah kalau selalu menganggap dunianya (AKU) yang paling penting, kadang dengan label-label "suci".

peaceme said...

"Untuk Cumlaude: Bagi saya, saya tidak punya kepentingan untuk meningkatkan derajat saya di depan Tuhan. Bertahan atau tidak, saya tidak melakukannya hanya untuk membuat saya lebih merasa berharga atau "naik kelas". Ketika saya masih bisa melewati satu hari dengan senyum dan humor, itu sudah lebih cukup dari saya."

Selama orang masih berpatokan pada norma yang atau yang "seharusnya"; maka selama itu pula bisa timbul salah persepsi dan perselisihan.

Yang "seharusnya" seringkali menutup mata terhadap kenyataan (apa adanya) dan Cinta?

Salut sama @Dee :-)

Anonymous said...

Mbak dee.

This means a lot. Biarlah semua persepsi awam melintas. Sekilas dibaca emang rasanya garis antara ego dan kesadaran sangat tipis, tapi kalo dirasa dalam hati, setiap kalimat mbak dee terasa kebenarannya.

Its not a justification. Language is just a bridge. Kalo emang ada yang tidak paham, walk on mbak dee. Well, im sure you have walked on indeed. :)

Take care,
a fan.

Eftu said...

@Dee,

Betul Dee, tidak ada pertentangan kan? Pernikahan didasari ego, perceraian didasari ego.

Tapi kematian tidak.

Menganalogikan kematian dengan perceraian buat saya sama saja dengan menghina Tuhan. Dan jika bagi Dee itu bukan masalah, ya oke-oke aja. Saya tidak punya hak apa-apa terhadap sikap Dee.

Dan komentar saya juga bagian dari ego. Tidak ada pertentangan.

Semoga berbahagia selalu.

Ben said...

Dee, apapun keputusan dan latar belakangnya, semoga semuanya sesuai dengan yang diinginkan oleh Dee dan Marcell untuk kebahagiaan masing-masing.

Semoga hal itu tidak jadi penghalang untuk terus berkarya dan berprestasi...

btw, 'karya' terbarunya sudah terbit? :)

*kabur sblm ditimpuk*

fans said...

Terkadang kita begitu egois akan jalan dan cara kita sendiri, alih-alih mencari kebahagiaan tapi tidak ingatkan kita pada perasaan buah hati kita

sanghyang said...

Segala yang terbentuk akan musnah, ga terkecuali.
Selamat Ber-evolusi,dee...

Lam kenal

santy said...

Hidup, memang penuh dengan perubahan, masa lalu adalah kenangan, masa depan adalah misteri..dan hari ini adalah hadiah. Jadilah apa yang kamu bisa saat ini..karena hanya saat ini yang bisa kita lakukan...semoga perubahan hidup Dee, menjadi kearah penuh dengan kebaikannn...


Lam Niez

lintang said...

rasa, pendapat, wawasan adl buah dr pengalaman. pengalaman membuahkan pemikiran. Dee apa, bagaimana, siapa yg bisa menuntunmu sampai bisa sehebat ini? bukankah pada akhirnya akan kembali juga, pemikiran yg kompleks akan setara dengan yg sederhana. berbahagialah org yg bahagia dgn kesederhanaan

Anonymous said...

wow... saya nga pernah menyangka bahwa mba dee pada akhirnya akan menulis ttg kehidupan pribadi di blog ini. saya sendiri tau berita tersebut dari suatu forum, lengkap dgn gosip2 yg sebetulnya tidak penting memang.

media dan masyarakat butuh drama, drama yang bisa membuat mereka melupakan kehidupan mereka sendiri, drama yg bisa mengisi hari2 mereka untuk selalu meyakini bahwa mereka benar, drama yang membuat mereka lupa bahwa daya pikir mereka seharusnya bisa digunakan untuk membahas hal yang lebih penting dan lebih besar dibanding mengurusi kehidupan manusia lain.

mmm... stay strong mba dee!
blog ini di update terus yah, saya sudah kecanduan baca tulisan2 di blog ini sambil menunggu perahu kertas dan lajutan dari supernova.

-son2-

Anonymous said...

Gue sendiri, saat ini berada di ambang perceraian.

Dan memang, selama ini gue salah membaca tanda-tanda yang setelah sekarang direnungkan kembali, sudah jelas bahwa memang ada yang ga sehat di rumah tangga gue.

Sering kali kita terjebak dalam zona nyaman kita sendiri, dan akhirnya kehilangan waspada. Atau kebalikannya, kita terlalu takut kehilangan, berusaha terlalu keras melindungi pada apa yang kita punya dan ujungnya malah perpisahan.

Seperti Dee, gue rasa gue udah melakukan semuanya untuk memperbaiki hubungan keluarga gue. Dari meditasi, konseling sampe gila-gilaan kerja. Dari marah sampai merayu. Plus, diantaranya, beberapa tangisan mengiba.

Dan dalam kubikel kecil ini, gue melacak kejadian beberapa jam yang lalu. Di mana gue setuju dan menandatangani permintaan gugatan cerai istri gue.

Gue mencoba menghargai keputusan dia, dan mencoba ikhlas.

Some time you have to make the right decision, Some time you have to make the decision right.

It was a conscious choice. I let her go.

Funny thing is, now, I feel... liberated.

-thanks for such inspiring writing Dee.

_voldemort_

tandodol said...

Huaaah saya tidak tahu apa-apa mbak tentang perpisahan.
Yang pasti inilah hidup, kita tidak bisa selamanya bahagia. Pengalaman yang menjadi panutan utama kita mencapai kebahagiaan...

Eh, saya OOT ya?

Kahlil said...

God alone knows why we fall in love. Poets can try. We can justify. But we won't scratch the surface. The same for why we grow apart. Marriage, divorce are just the social structbures surrounding these. Don't even bother digging. We are given these to understand ourselves. We shouldn't confuse the lesson with the education. I see that you don't.

lite said...

Thank you for writing such a note. It's completely unnecessary for you to explain any of your decision to others. Yet you are still so generous to share the wisdom behind your decision of divorce here.
Thank you. I've learnt so many things from your posts.
I wish you all the best, all the strength and happiness.
For you, Keenan, and Marcell.
*hugssss*

Afreeze said...

Pernikahan, seyogyanya adalah sebuah institusi, kelembagaan yang bertanggungjawab langsung kepada Sang Khalik. Ketika berjanji di hadapanNya bahwa orang yang akan menemani kita di kala suka maupun duka, dialah itu maka kita telah membuat suatu ikatan dengan Tuhan bahwa kita telah mengambil pilihan itu dan akan setia hingga maut memisahkan.
Pernikahan bukan ajang coba-coba. Tidak ada pengecualian untuk hal ini. Kala kita mengutamakan keputusan dalam perasaan-perasaan ekstrem maka mungkin kita tidak pernah tau bahwa di ujung sana masih ada banyak jalan lain.

Semoga lekas menemukan arti kebahagiaan sejati itu..

Salam,
Afreeze

Brokoli sehat said...

Tulisan ini harusnya dibaca sama semua wartawan infotainment. Tapi kayaknya gak bakalan ngaruh hehehe, soalnya mereka tetep aja bisa nulis gosip untuk komersialitas. Mba dewi, aku tunggu tulisan-tulisan berikutnya

Anonymous said...

Mungkin sewaktu menikah dulu, janjinya bukan sehidup semati, sehingga saat ini melabeli expire date sendiri.

~~Devita~~ said...

Hi Dee! semangat!!

me said...

"hidup mengenal masa kadaluarsa, hubungan pun sama."

semoga hubungan elo sama tuhan tidak mengenal masa kadaluarsa.

Raffaell said...

Jujur aku geli baca ini:

konsep “memaafkan” yang kita kehendaki adalah kemampuan untuk mengembalikan situasi ke saat sebelum ada masalah.

Sebegitu dalamkah pemikiran tentang memaafkan ?

aRuL said...

semoga selalu mendapat jalan terbaik buat mbak dee.
btw berarti cinta abadi itu tidak ada yah? cinta yang pada akhirnya terpisahkan oleh maut? kalo ternyata semuanya ada kadaluarsanya.

emilda said...

like usual.. you always have the best reason to share.
Kenapa setelah membaca dan mengetahui hal ini, membuat "Perceraian" menjadi tidak semenakutkan biasanya ya??
PS : Didn't mean 'perceraian' adalah hal yang begitu menyenangkan!

windy said...

Don't worry about a thing
'Cause every little thing gonna be alright.
Singing': "Don't worry about a thing,
'Cause every little thing gonna be alright!"

Rise up this mornin',
Smiled with the risin' sun,
Three little birds
Pitch by my doorstep
Singin' sweet songs
Of melodies pure and true,
Saying', ("This is my message to you-ou-ou:")

salam,
'ndy

dana said...

Entah karena saya yang aneh, tapi keindahan hiduplah yang kubaca dari artikel ini.

Semoga tetap sadar.

AJ said...

a beautiful mind indeed.

so dee, sejak kapan kamu menyadari (percaya) jika pernikahan itu memiliki masa expire (non-death expiry)? sebelum atau sesudah nikah? jika sebelum, why bother menikah?

if it's too personal, pardon me. no sarcasm intended. merely my egoist curiosity.

RAMPA MAEGA said...

"Yang kami selamatkan di sini bukan “keutuhan keluarga” melainkan keutuhan hati dan jiwa masing-masing".

Pertanyaan saya. Mengapa perceraian ini mesti dimediasi oleh pihak eksternal (baca: pemerintah melalui pengadilan) dan kuasa-kuasa hukum (berdasarkan informasi dari infotainment?

Dari tulisan ini, saya yakin bahwa kondisi yang Dee alami adalah perceraian pada level esensi bukan lagi pada level epidermis atau level gejala sesuai istilah Dee. Esensi yang hanya bisa dipahami dengan utuh oleh sang pelakonnya sendiri.

Buat saya, lembaga pengadilan hanya lah sebuah media. Sebuah simbol. Sama halnya dengan lembaga pernikahan (baik agama maupun pemerintah) yang berusaha melegalformalkan esensi pernikahan. Tapi, sebagai simbol, mereka hanya lah simbol. Tak bisa menyentuh level esensi yang sebenarnya.

Jika buat Dee perceraian ini memang sudah waktunya sebagai bentuk dari hubungan yang sudah kadaluarsa, buat saya, tak perlu ada upaya untuk melegalkan perceraian tersebut. Karena upaya tersebut, balik lagi, hanya lah upaya yang terselubunag dalam sebuah simbol.

Mungkin awalnya sudah terlanjur mulai dengan pernikahan yang dilegalkan secara agama dan pemerintah jadinya perlu diakhiri juga dengan cara yang sama. Tapi, menilik kondisi yang ada sekarang, saya curiga keresahan (jika ada) yang muncul bukan lagi karena esensi pernikahan itu sendiri melainkan dari celotehan pihak-pihak eksternal (termasuk saya) yang kebanyakan sok tahu-nya. Tanpa adanya surat cerai dari pengadilan pun, saya rasa Dee dan Marcell tetap sudah bercerai secara esensi. Dan esensi perceraian itulah yang menurut saya lebih penting.

Note: Artikel ini sudah saya kirimkan ke seorang teman yang di ambang perceraian. Bukan sebagai usaha meyakinkan dia untuk segera bercerai melainkan sebagai bahan perenungan (kasusnya tidak sama dengan tabloid C&R yang mencantumkan alamat tanpa izin kan?:))

abi_ha_ha said...

oiya... Marcell, ingetnya Michael/Maikel, karena jaman di Sangkuriang kalo Keenan digendong-gendong pengasuhnya ke rumah, pengasuh anak saya selalu presenting, "...ini anaknya Maikel yang penyanyi itu lho pak..."
Semoga menjadi yang terbaik buat semua, terutama Keenan.
Sulit memang, ketika pada banyak hal 'black box', terus dipaksakan untuk ada alasannya.

"...That day, for no particular reason, I decided to go for a little run. So I ran to the end of the road, and when I got there, I thought maybe I'd run to the end of town. And when I got there, I thought maybe I'd just run across Greenbow County. And I figured since I run this far, maybe I'd just run across the great state of Alabama. And that's what I did I ran clear across Alabama. For no particular reason, I just kept on going. I ran clear to the ocean. And when I got there, I figured since I'd gone this far, I might as well turn around, just keep on going. When I got to another ocean, I figured since I've gone this far, I might as well just turn back, keep right on going. When I got tired, I slept. When I got hungry, I ate. When I had to go, you know, I went..." -Forrest Gump

ben abel said...

Ia sebuah nulis yg bagus, karena pandai, namun demikian bagiku ide mengenai kematian dan perceraian yg di[kau]sejajar - setarakan, ini hanyalah sebuah ego [pen]justifikasi diri semata.
Kematian adalah sebuah peristiwa yg mesti dan pasti sebagai akhir dari kehidupan seseorang. Ia sesuatu yg tidak bisa tidak. Ia berada diluar ego manusia, sekalipun terkadang memang ada yg membuat kematian sendiri. Sedang perceraian sama sekali tidak mesti dan tidak pasti. Ia masih bukan sesuatu yg tidak bisa tidak. Ia lebih merupakan pilihan, ego semata, apapun alasan justifikasinya.

Maaf, aku tidak tertarik dengan perceraian, karena itu urusan pribadimu. Aku hanya tertarik oleh pengakuan seorang penulis populer yg jelas sadar dengan tuntutan penggemarnya.

senasana said...

Hi Dee..
apapun itu keputusan Dee, semoga itu menjadi keputusan terbaik demi penyelesaian masalah Dee. Semoga Dee mendapatkan kebahagiaan yang Dee cari...

Tissa said...

Membaca tulisan kamu ttg masalah ini, membuat saya seperti "tersentil".Karena saya mungkin tidak akan punya keberanian sebesar kamu.
Do the best Mba'Dee.
B B U

Anonymous said...

Dee,

Secara pribadi saya bukan siapa-sipa. Saya tidak mengenal Anda sebelumnya maupun sekarang. Saya hanya seseorang yang kebetulan membaca tulisan Anda. Tulisan ini telah membuka mata dan hati saya dan memberikan jawaban atas apa yang telah terjadi pada saya.


Terima kasih,
anita

Anonymous said...

I am in no position to judge here.

Saya hanya menyayangkan bahwa Dewi harus menuliskan segala 'personal justification'-nya di dalam sebuah media umum seperti blog ini (walaupun agak konyol menyebut blog sebagai media umum, namun tidak bisa disangkal lewat beberapa kalimat Dewi di blog ini menunjukkan bahwa Dewi memang menulis utk mengklarifikasi sesuatu dengan masyarakat umum, bukan pembelaan semata).

Saya menyayangkan ini karena seseorang yang sudah memutuskan menikah, sudah mengucap janji sehidup semati, tidaklah pantas membela dirinya saat bercerai menggunakan alasan sedangkal 'segala sesuatu ada masa kadaluarsanya'. Dan ini dituliskan di blog dimana pasti akan dibaca penggemarnya. Dan mungkin saja at some level akan mempengaruhi penggemarnya. Bukankan itu bukan tindakan yang dewasa?

Pembelaan pribadi adalah hal yang lumrah dan masuk akal dan bisa diterima untuk seorang manusia dewasa. Tapi begitu itu disampaikan di muka umum, sebaiknya juga merupakan pembelaan yang cerdas dan tidak 'ridiculous'.

Flower Power said...

Mbak Dee,
membaca tulisan ini, saya seperti merasa, apa yang sebelumnya tidak mampu saya ungkapkan dengan kata-kata krn seluruh dunia seakan bersekutu melawan saya, terpapar dengan jelasnya sekarang.
Saya tahu bahwa saya tidak sendiri.
Tidak ada kata "mudah" dalam hidup orang dewasa. Tidak ada seorangpun manusia yang bisa sungguh2 merasakan perasaan manusia lainnya, meskipun dengan pengalaman yang sama. Dalam hidup ini, adakalanya dimana Tuhan yang Maha Kuasa sudah menentukan untuk kita. Namun, adakalanya Tuhan memberikan kebebasan pada manusia untuk memilih. Apapun pilihan seorang manusia, tidak ada manusia lain yang berhak untuk menghakimi. Karena Penghakiman hanyalah milik Tuhan semata. Ketika seseorang mengalami ujian,tidak ada org lain yang tau, kapan org tersebut seharusnya berhenti atau belum. Hanya sang Penguji yang tau. Bila org tersebut menyerah dan berhenti mengerjakan ujiannya, hanya Sang Penguji pulalah yang layak memberikan "nilai" apakah org tersebut lulus ujian atau tidak.. :-)
Semua manusia memiliki sikap dan pandangan yang berbeda dalam menjalani hidup, biarkanlah sebagaimana adanya.
Semoga ketika kita melepas semua "atribut" yg melekat pada diri kita krn kita pasangkan demi orang lain...masih ada yang tersisa di diri kita.
Mbak Dee, maap jadi kepanjangan... :-) Thanks banget buat tulisannya, saya belajar banyak.
Salam kenal dari saya yang sedang belajar ikhlas....

Anonymous said...

Ijinkan saya untuk bergabung .....

Adakah perkawinan yang betul-betul sempurna dari sepasang manusia yang serba punya keterbatasan ??

Saya rasa tiap pasangan dalam menjalani perkawinan, akan sampai pada satu saat yang membuat dia akan berpikir kembali apakah betul keputusan yang dia ambil untuk menjalani hidup dengan orang yang dipilih menjadi kawan hidup ??

Dan bagi pasangan yang sudah merasa yakin telah menemukan soul mate ataupun cinta sejati, itupun kadang belum menjadikan mutlak terbebas dari hadirnya cinta lain yang mungkin bisa datang kapanpun. Rasanya godaan akan terus datang sepenjang hidup perkawinan dalam segala rupa bentuk.
Dan kadang memang kita jadi tergoda untuk sampai pada perceraian, disaat semua rasanya sudah kadaluarsa ( meminjam istilah Dee ).

Kemudian , dalam perjalanan kedepan akan sangat dimungkinkan ada kesempatan lain untuk membina hubungan baru dimana kita akan kembali menemukan kawan hidup.
Lalu untuk hubungan baru itu, akankah juga mencapai titik "kadaluarsa" ??

Pertanyaan berikut adalah : sejauh mana kita akan terus berlari ?
Sebuah renungan kecil, buat kita bersama.

isabella said...

Dee...
Mbak itu sosok yang hebat sekali yah?? Di tengah masalah semacam ini pun masih berpikir begitu cerdas tapi bukan sok cerdas. Pemikiran2 dan tulisan2 Mbak begitu menginspirasi sekaligus membumi.
Kecanduan abis sama 'isi kepala'-mu, Mbak :p

Wish you, Marcell, and Keenan all the best!

PS: Aku akan tetap liat infotainment ya, Mbak. Aku ingin mendengar apa berita dan narasi dari mereka.Mereka pasti masih sibuk dengan drama2 yang mengiris hati,hahaha... Dan saat itulah aku akan tertawa dalam hati. Secara,aku udah baca pengakuan Mbak Dee yang sejujurnya ini...
:p

ruly said...

hm.. ga semua harus dan bisa dimengerti..
semoga dimampukan dalam menjalani pilihannya..

Anonymous said...

thanks for sharing...

saya juga percaya: segala usaha yang sudah optimal kita lakukan adalah takdir..

Icaros Girl said...

Terimakasih karena telah sangat jujur... bukan karena pertanyaan pertanyaan yang tidak pernah ada di kepala saya mengenai kehidupan, perceraian bla bla bla dari seorang mba dewi lestari..
(saya ga dikasih napsu buat nonton gosip, sinetron, and I don’t have any business on other people life right?) tapi terimakasih telah berbagi perasaan yang sangat jujur dalam tulisan yang sangat jujur...
Kejujuran itu memerlukan keberanian yang sangat, dan saya merasa telah dibagi keberanian karena tulisan mba dewi.
ini cermin buat saya. kebenaran, kebahagiaan serta keutuhan jiwa yang relatif ini. saya sangat menghargai keputusan alamiah yang terjadi di kehidupan anda.. (setelah baca blog ini mau ga mau jadi pengen comment juga soal gosip gosip itu hahaha..)
sama seperti saya sangat menghargai semua karya anda... yang telah setidaknya membangun jejaring pemikiran yang saya bawa dan bahkan ada beberapa kalimat yang dipakai teman saya ketika saya sedang "LUPA".
HAH...!!! terimakasih..

yati said...

ini jalan hidup, atau apalah namanya. dan tidak ada urusannya dengan oang lain. semoga jalan dee ke depan tetap lancar, Amin

uthee said...

sebuah renungan yang membuat saya lebih dewasa dalam menanggapi sebuah masalah lepas dari konteks perceraian (karena saya belum mengalami pernikahan apalagi bercerai). karena dalam tulisan ini ada subuah point yang saya ambil, memang dalam kehidupan semua yang kita inginkan belum tentu diberi tapi kita akan selalu diberi apa yang kita butuhkan. Dan untuk mencapai yang kita butuhkan juga butuh perjuangan.

kemudian perpisahan akan selalu ada ketika ada pertemuan. karena jodoh juga ada pengertiannya, ada jodoh yang memang akan dipisahkan oleh kematian tapi ada juga jodoh yang dipisahkan oleh perceraian hingga akhirnya dipisahkan oleh kematian.....
Jadi semangat buat mba Dee untuk menggapai kebahagian..... ^_^

MAY'S said...

tak ada lain, saya hanya ingin berucap, semoga ke depan semua menjadi lebih baik...
untuk dee dan marcel juga Keenan...

salam kenal

Vandij said...

seriously, dee..
u don't have to explain anything to everyone.

those who love you have already known the whys, and people who don't will never understand them.

but then again, u try. which is a good one. semoga tulisan terakhir minimal bisa jadi cermin sesaat buat orang2 yang mau tau terlalu banyak.

yg sabar ya.. :)

bowieWorlds said...

sangat idealis ... tapi kadang idealis akan membunuh takdir hidup manusia ..
But gw yakin ini merupakah keputusan terbaik buat kalian berdua, semoga anak anda tidak menjadi korban karena keidealisan anda berdua ..
gw pernah ngalamin ini dan anak gw korbannya ...
Gud lak for both of you and your child ...

bO-A's wOrLd said...

Mba Dee..
Saya bingung mau berkomentar apa, saya terlalu takut jika komentar saya akan berpengaruh baik atau malah buruk. Bukan ge-er, tapi memang ini yang saya rasakan ketika akan menulis komentar di sini. Mungkin memang ada suatu koneksi batin antara penulis dengan penggemarnya.
Terus berkarya ya Mba Dee...

edenia said...

mungkin dee sedang menggenapi ini kepada segala sesuatu di luar dirinya sendiri :
"i give you my word, my love, my command, my respect, but the soul belongs to man."
(Kingdom of Heaven)

dee said...

wah saya baru tahu mbak dewi cerai.

ho3,sy hanya hanya nonton tv kalo "Friends" atau MTV pimp my ride mulai (dimana Friends sudah habis masa serinya), jadi saya emg sering dicap ketinggalan jaman masalah celeb.

saya tidak tahu tentang benar salahnya bercerai.

tapi saya sering sekali ingin berteriak ke orang tua saya "Kenapa kalian mengatasnamakan kebahagiaan anak2 atas tidak-jadinya perceraian kalian"

sikap orangtua terhadap apa yang mereka pikir "kasihan anak2, kalo kita cerai", malah memberikan beban yang luar biasa bagi anak-anaknya selama beberapa tahun.

Jadi, saya pikir, Keenan sungguh beruntung memiliki dua orang tua yang benar2 "dewasa" dan sadar akan pentingnya mencintai diri sendiri terlebih dahulu seperti anda

cheers untuk Mb Dewi, Marcell, dan Keenan

Dewi Lestari said...

Ketika kita merenungkan hal-hal besar dalam hidup: kelahiran, kematian, perjumpaan, perpisahan... niscaya kita akan menemukan satu benang merah: Perubahan.

Yang pasti hanyalah perubahan. Tidak ada satu pun hal yang permanen dalam hidup ini. Masa muda punya kadaluarsa, kesuksesan punya kadaluarsa, kecantikan punya kadaluarsa, hubungan cinta pun sama. Ada yang ditamatkan oleh kondisi atau oleh usia.

Kemelekatan, adalah salah satu rintangan batin terbesar manusia. Dalam situasi tertentu, kita bisa begitu "anti perubahan". Jika hidup kita sedang bahagia, kita ingin selamanya melekat di sana. Sebaliknya, jika kita sedang sengsara, kita ingin secepat-cepatnya perubahan datang. Apa pun keinginan kita, banyak hal yang bermain sebagai penentu perubahan maupun ‘timing’ dari perubahan tersebut.

Tentunya menyakitkan jika apa yang kita berusaha segelkan (apalagi sudah dengan melibatkan Tuhan segala) sebagai perjanjian abadi ternyata berlangsung lebih pendek dari konsep agung “sehidup semati” yang diucapkan? Saya tidak pernah menyesal dengan keputusan saya menikah. Itulah keputusan terbaik yang bisa saya ambil pada saat itu. Tapi, saya harus jujur, bahwa dari dulu pun saya menyadari dalam hati, siapa pun yang menjadi pasangan saya—dia akan terus bersama saya sampai waktunya nanti. Kapan itu? Kita tidak tahu. Syukur-syukur sampai mati, kalau pun tidak, mampukah kita menerima kenyataan hidup bahwa yang absolut hanyalah perubahan? Jika kelak saya punya pasangan baru, kapan pun dan siapa pun itu, prinsip yang sama pun akan berlaku, terlepas seberapa seringnya ikrar “sehidup semati” terucap.

Di satu sisi, saya tidak bisa membayangkan kalau semua hubungan—pernikahan atau bukan—disterilkan dari perubahan. Bagi saya, itulah kematian yang sesungguhnya. Karena dengan demikian kita hanya akan menghabiskan hidup melawan arus alamiahnya. Bisakah kita membayangkan, apa jadinya kalau konsep “sehidup semati” diletakkan di atas hukum perubahan? Di beberapa kasus di mana pernikahan cuma jadi ajang penganiayaan, larangan untuk berpisah karena janji sehidup semati tak lain tak bukan menjadi hukuman mati bagi pihak yang teraniaya.

Namun demikianlah kecenderungan kita semua. Akibat keterbatasan kita mengendalikan hidup, kita membekali diri dengan aneka ilusi keabadian. Ilusi yang berabad-abad kita pelihara sehingga akhirnya terasa sebagai kebenaran. Kita bahkan libatkan Tuhan di dalamnya demi sakralitas. Tapi, jika kita benar-benar jujur, adakah itu sesungguhnya refleksi dari ketakutan kita sendiri yang tak pernah bisa sepenuhnya mengendalikan hidup? Adakah yang sesungguhnya lebih sakral dari perubahan? Karena hidup ini bisa bergulir hanya karena perubahan.

Pada titik itulah, kematian dan perpisahan bertemu. Hakikat keduanya adalah perubahan. Soal yang mana kehendak Tuhan dan mana yang bukan bukan, hanya cuma menjadi debat kusir, karena definisi Tuhan saja bermacam-macam. Saya percaya pada Tuhan yang tak berkehendak, Tuhan yang tak perlu dibela, Tuhan yang tak bisa dihina. Saya percaya ada beberapa hal yang bisa dicegah manusia, dan ada yang tidak. Namun apa yang kita tidak bisa cegah tak terbatas hanya soal jodoh, lahir, dan mati. Begitu banyak hal yang tampak remeh dan kecil yang kendalinya pun tak ada di tangan kita, meski kita ingin sekali berpikir demikian.

Adapun alasan saya menulis di blog ini adalah karena blog inilah media “terakrab” saya dengan Anda semua. Dan sebagaimana pada satu titik, saya pun ingin berbagi cerita dengan teman-teman saya, ini menjadi kesempatan saya berbagi cerita dengan Anda semua. Saya hanya merasa teman-teman saya berhak untuk tahu informasi ini langsung dari saya, dan bukan dari cerita media massa yang terdistorsi. Soal sepakat atau tidak, bukan jadi kepentingan utama saya di sini.

Jadi, mengutip satu komentar di blog ini: “Saya menyayangkan seseorang yang sudah memutuskan menikah, sudah mengucap janji sehidup semati, tidaklah pantas membela dirinya saat bercerai menggunakan alasan sedangkal 'segala sesuatu ada masa kadaluarsanya'. Dan ini dituliskan di blog dimana pasti akan dibaca penggemarnya. Dan mungkin saja at some level akan mempengaruhi penggemarnya. Bukankan itu bukan tindakan yang dewasa?”

Pertama-tama, ini sama sekali bukan tindakan membela diri. Pihak mana pula yang perlu saya minta pembelaan? Tidak ada. Dan mengapa Anda harus begitu khawatir bahwa akan ada yang terpengaruh dengan tulisan saya? Hidup pasti sangat berbeban saat kita merasa punya kendali atas pikiran orang lain. Dan saya tidak ingin hidup seperti itu. Sebaliknya, saya justru percaya pada kedewasaan pembaca saya untuk punya pendapatnya sendiri-sendiri.
Saya ingat cerita Sang Buddha, saat beliau menyadarkan seorang ibu yang tak bisa menerima kematian anaknya, sampai menggendong anaknya yang sudah jadi bangkai ke mana-mana. Sang Buddha hanya meminta satu hal pada sang ibu: Cari satu orang yang tidak pernah mengalami kesedihan, tidak pernah mengalami kedukaan. Si Ibu mencari, dan tidak menemukan. Saat itu ia tersadar akan kemelekatannya. Semua orang tak pernah selamanya senang, tak juga selamanya sedih.

“Segala sesuatu ada masa kadaluarsanya” bukanlah alasan. Itulah kenyataan. Jika bukan, marilah kita sama-sama mencari sesuatu dalam hidup ini yang tak mengalami perubahan.

Semoga “bangkai” apa pun yang kita gendong selama ini akhirnya bisa kita lepaskan dengan hati lapang…

~ D ~

edenia said...

pikiranmu terlalu kompleks dee,
membutuhkan sinergi tubuh-jiwa dan roh untuk menyelami apa yang kau maksud. aku tak mau dan tak ingin memasukinya, tapi kalau hanya sekadar mengintip, bolehlah..
toh aku sudah membuka blogmu :)

mg said...

mba dee saya mengucapkan selamat menempuh hidup baru.walaupun sakit karena perpisahan ini.tapi semoga itu adalah jalan terbaik buat mba dee .marcel dan keenan.dari mg tangerang

iambadung said...

"Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri. Kalau ada yang lain merasa kecipratan, ya, syukur. Kalau tidak pun bukan urusan saya."

Cool quotes.

Emang gak ada orang yang tahu seberapa bahagia kita atau sesedih apa kita. :) :)

Anonymous said...

dee kamu sudah semakin bijaksana saya bangga dengan kamu

re-desain said...

"Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri."

Agak susah untuk menerapkan konsep ini ke dalam suatu wadah bernama pernikahan. Karena ada dua "diri" di dalamnya...

Eftu said...

Hehehe, dan kemudian dikau memberikan justifikasi yang lain lagi; perubahan.

Butuh berbincang agak lama soal perubahan, nasib, takdir, Tuhan.

Oke lah Dee.

Semoga berbahagia.

RZ said...

Dee.....
ada satu yg tidak kadaluarsa....

"ENERGI"... dia hanya berubah bentuk,

..Sesuatu yg tidak pernah bisa diciptakan, tidak pernah bisa dimusnahkan..

'Energi menulis' yg berubah menjadi tulisan, .. dia takkan pernah "expired" (kecuali tdk terpublikasi!)

"Sebuah buku", yg menulis satu, tapi yg terinspirasi ribuan/jutaan orang lainnya.

Saya setuju, perubahan itu pasti, dan itu yg membuat manusia, manusiawi. Selamat datang perubahan, nikmati saja Dee!

anita said...

menurut saya,,,hal yang dee sampaikan merupakan buah pikiran manusia yang telah memiliki "kesadaran", jujur pada diri sendiri dan tidak terikat pada hal diluar dirinya...

hope the best for you dee :)

boim wang said...

haha..Happiness is A CHOICE.., sis !!
and i'm glad u choose it...^^

keep writing dee, love u..

Anonymous said...

hidup itu pilihan,
selamat buat mbak dewi, yang telah melewati "proses memilih" nya.
kalau mau dikatakan keenan akan menjadi korban orang tuanya, di satu sisi itu bisa jadi benar, tapi kalau dilihat dari sisi lain, mungkin saja keenan bersyukur atas pilihan orang tuanya.. mengapa..lebih baik melihat keduanya berpisah, daripada bersama, mempertahankan ke"aku"an, atas nama cinta yang sudah tidak ada lagi..sungguh sakit hati kalau disuruh melihat suami istri yang sudah tidak berjodoh, harus bertemu setiap hari..hehe..ga percaya...renungkanlah...

btw, yang menentukan adalah keenan sendiri, berhubung keenan saat ini belum mampu memilh,orang tuanya lah yang mewakili..
so..maju terus mbak dee...
u have already made your choice...

Anonymous said...

dalam kehidupan memang pasti ada perubahan, tapi perubahan bukan sama dengan kadaluarsa, krn perubahan tidak selalu diikuti akhiran, tapi lebih ke kedepannya... kesambungannya, yg ada hanyalah berjalan seiring waktu, kalo kadaluarsa kan ada konsep stopnya, berubah kan tidak hrs dg stop, tapi lebih spt aliran .... makin ke sana.. makin kesana ...makin kesana .....

stanzah said...

When I find myself in times of trouble, mother Mary comes to me,
speaking words of wisdom, let it be.
And in my hour of darkness she is standing right in front of me,
speaking words of wisdom, let it be.


-The Beatles

Jenny Jusuf said...

"We don’t look for an answer, we accept, and then life becomes much more intense, much more brilliant, because we understand that each minute, each step that we take, has a meaning that goes far beyond us as individuals. We realize that somewhere in time and space this question does have an answer. We realize that there is a reason for us being here, and for us, that is enough."

*sekadar kutipan dari Oom Coelho, yang saya kopipes dari blog orang :-)*

konnyaku said...

thanks for sharing it with us.
i'm agree that our own happiness is a prerequisite, so we can make others happy by our existence and actions.

this post has been enlightening and inspiring. :)

hope you can find your true happiness within you.

si buluk said...

:) karna kebahagiaan kita berada pada pundak kita sendiri, bukan begitu dee..

-keep writing-

Anonymous said...

halo mba dee,

saya yakin apapun keputusan yang telah dibuat mba dee dengan mas marcell adalah yang terbaik bagi kalia b2. memang inilah hidup. ada pertemuan, ada pula perpisahan. tapi bukankah tidak berarti semua perpisahan harus diartikan sebagai sesuatu yang negatif?... karena saya meyakini, semua orang memiliki jalannya masing-masing, sekarang hanya tergantung pada pilihan yang akan kita buat. selanjutnya kita hanya akan menerima konsekuensi dari pilihan kita itu. dan saya sadar bahwa setiap pilihan dan konsekuensi yang muncul kemudian, tidak ada yang harus diartikan sebagai sesuatu yang negatif. setidaknya kita bisa belajar dari pengalaman yang telah kita buat itu.

be strong for three of you...

be happy
hansen_zinck @ yogyakarta

Anonymous said...

Dee...
Saya 'terbuka' dengan kata-kata kemelekatan dan penutup tulisan dirimu yang terakhir:

>>Semoga “bangkai” apa pun yang kita gendong selama ini akhirnya bisa kita lepaskan dengan hati lapang…<<

Ini benar-benar berarti buat saya. Selama ini saya memiliki 'bangkai' itu dan terus saya simpan dalam bentuk penyesalan yang tidak habis-habis, walau pun isi kepala saya selalu berusaha melupakan. Dengan tulisan Dee, saya menyadari bahwa berusaha melupakan bukan jalan terbaik bagi saya malah sebaliknya semakin membebani, tetapi sekadar melepaskan 'bangkai' itu dan melihat bahwa banyak hal yang seharusnya ditempatkan sebagai kadaluarsa adalah jalan keluarnya.

Thanks Dee...

signifiant said...

Dear Dee,

Saya yakin Dee sudah melakukan yang terbaik dalam menjalani proses yang akhirnya mengantarkan Dee pada keputusan ini..

Kita memang hanya bisa berkomentar sebagai pihak luar yang tidak tahu prosesnya seperti apa, tapi saya percaya Dee sudah berusaha searif mungkin menempatkan masalah ini tanpa harus mendiskreditkan pihak mana pun, seraya menerima semuanya dengan ikhlas dan lapang dada..

Take care & be strong..
It's only temporary (this thing you have to go through), cause life itself is only temporary :)

arikstress said...

hmmm...
apapun ada negatif positf.
tergantung dari pilihan juga yang ngejalaninnya. perkawinan adalah dimana proses kita menjadi individu dalam tingkat level tertinggi yang tidak akan pernah habis , menjadi pasangan, orang tua, kakek, buyut, kakek buyut etc.
regenerasi pun sudah pasti akan muncul. entah itu melalui perceraian / tidak. belum tentu semua perceraian buruk dan belum tentu pernikahan bagus. itu yang perlu kita ketahui. tidak semua nya yang sakral akan menjadi bagus. apalagi di jaman gila seperti ini. "semuanya tergantung" dan menurut ku pendapat mbak -d- ini hal yang wajar yang dituangkan di sini personal, yang mungkin orang lain merasa hal ini tidak pantas / tidak tentunya perlu di ingat bahwa tiap individu punya kecenderungan masing masing maupun pendapat masing masing.

well, at least this is something i told you all. marilah sama sama berdoa dan belajar dari apa yang mbak -d- ungkapin, rasain, baik dari segi apapun itu, manusia hakekat untuk belajar tidak berhenti sampai skr, melainkan terus menerus ilmu tidak akan berhenti seiring waktu.

-a-

CY said...

Hidup adalah untuk belajar, itu sebabnya Tuhan mengatur agar selalu ada dua hal utama yg saling berkaitan untuk dipilih, ada hitam-putih, tinggi-rendah, kering-basah, dan sebagainya. Dan keduanya saling terikat, tak ada hitam maka putihpun sirna, tak ada basah maka kering itupun tak bermakna. Dalam hal ini kamu diberikan kesempatan untuk belajar, belajar bagaimana menentukan start yang baik supaya mencapai finish yang tetap bersatu, bukan berpisah. Sekian tahun mengendarai motor dan kemudian terjatuh suatu hari tidak berarti sudah waktunya untuk jatuh, tapi sebagai reminder bahwa ada yang tak beres dengan kita. Kalau dengan cara pandang "sudah waktunya" maka motor tidak akan laku dan pabrik Honda bakal tutup karena semua orang memutuskan berpisah dengan motor.

Jadi skill kita perlu diasah dari mulai start mengendarai, sampai tiba di tempat tujuan. Dalam satu rentang kehidupan ada ribuan kali kita belajar bagaimana start yang baik sehingga tiba ditempat tujuan berikut motor, bukan orangnya tiba dirumah motornya nginep di bengkel. Semua itu terbagi dalam fase-fase bertahap, diiringi dengan skill yang makin mumpuni.

We create our own hell, we create our own heaven, we are the architect of our faith.

Selamat belajar...

arie said...

Memahami karya karya mbak Dee yg menurut saya extraordinary. Menunjukkan bahwa mbak Dee memang penulis hebat. Saya teman mas Adam Herdanto mbak. Saya juga mengagumi tulisan dan karya beliau. Saya mencoba memahami orang2 seperti anda dan seperti Mas Adam. Memang ada sisi lain, boleh dibilang itu sisi psikologis, yang menuntut kebebasan dalam hal berpikir. Seseorang yang mampu menciptakan karya hebat,(terutama seniman, kayaknya mbak) biasanya memiliki pola pola pikir bebas. Ada hal-hal yang tidak bisa dupungkiri, bahwa pola pikir bebas ini mempengaruhi pola sikap kita dalam menjalani hidup. Sisi baiknya, kita akan menjadi lebih jujur, tidak munafik.
Saya hanya urun-urun aja mbak, istilah bhs jawanya...karena saya fans novel mbak Dee juga. Bahwa apa yang terjadi pada keluarga mbak Dee adalah suatu fase "pendewasaan tingkat lanjut" (wuah.. kayak apa aja ya mbak..mbak!) Buat saya ,dalam kapasitas mbak Dee,perpisahan akan memiliki hikmah besar. Menuju arah perenungan, dalam pendewasaan emosional, Spiritual, yang nantinya semoga akan bermanfaat untuk kehidupan mbak selanjutnya. Dan saya berdoa, semoga juga bermanfaat buat Keenan. Karena mbak Dee adalah ibu,yang akan memberikan kontribusi dalam hidup Keenan dimasa yang akan datang.
Btw.. anyway.. busway.., ayo mbak ! kita sama sama berjuang menjadi diri kita sendiri. Untuk menjadi ibu yang baik bagi anak kita. Karena anak adalah titipanNya, karena buah cinta kita dengan seseorang yang belum tentu jodoh kita yang sebenarnya. Tetap semangat ya mbak! Salut atas penyelesaian damai.

baroezy said...

inti dari perpisahan adalah... ada yang ditinggalkan..meninggalkan dan bertahan pada satu prinsip yaitu egois.... nggak ada org yang bercerai karena CINTA..bulshit... kenapa orgtua kita bisa sampe akhir hayat mereka mengarungi bahtera RT mrk?? ya karena mrk sepakat akan komitment... bercerai tidak ada yang menang...dua duanya kalah.... kalah akan keegoisan diri sendiri...semua FAKE...!!!

eviwidi said...

Halo Mba Dee,

Dalem banget tulisanya. Saya sempet beli tabloid Bintang yang memuat poster Mba Dee dan Marcell, sekadar memenuhi keingintahuan akan 'apa yang sesungguhnya terjadi' tapi tentu tulisannya tidak sedalem ini.

Semoga Mba Dee bisa mendapat yang terbaik dalam hidup.

Ca yoo..!

-Evi-

wuzun_fly said...

Sejak tanpa awal semua insan sudah berpijak pada garis batas sendiri-sendiri, mengapa malah berbicara ttg perpisahan yang seolah2 sudah pernah bersatu?

Anonymous said...

Ketika seseorang hendak menikah..tolonglah..bahwa hal tersebut adalah bertambahnya tanggung jawab .. bukan fasilitas..fasilitas yg baik-baik didapat dari pernikahan..semua berasal dari pernikahan yg didasari dengan niat tulus... dan pernikahan adalah suatu perjanjian dengan Maha Kuasa bukan antar manusia...

Antown said...

maaf, mbak Dee. saya baru tahu nih kalo ada musibah seperti ini. Saya turut bersedih. Semoga cahaya di depan bersinar kembali

Ifa said...

Agree, memaafkan adalah menerima kondisi apa adanya.. nggak saling menyalahkah satu sama lain, berdamai dengan kenyataan. I think it will easier..

Sandy Widianto said...

Dewasa dan rasional, mungkin dengan perpisahan bisa membuat mbak dee tersenyum

ceashop said...

sorry to say...

saat saya membaca tulisan yang panjang ini.. cuma ada satu yang langsung terbesit di pikiran saya.. ini adalah sebuah pembelaan yang baik secara sadar maupun tidak sadar Anda berikan.. pembelaan untuk semua orang yang menyalahkan Anda atas kejadian ini.. dan sebuah pembelaan untuk hati kecil Anda yang turut merasakan kesedihan ini..



Apa mau dikata.. Smua sudah terjadi.. Tapi bisa dengan lantang saya katakan.. Apapun alasannya.. Ini adalah suatu tindakan yang salah.. Yang terpenting bukanlah apa yang menjadi penyebab berakhirnya suatu hubungan.. Namun apa yang menjadi penyebab berakhirnya usaha untuk mempertahankan suatu hubungan..



Sudah waktunya? Sudah pasti bukan itu.. Karna selama kita masih mencintai pasangan hidup kita.. Bahkan kematianpun tak bisa menghapuskan rasa cinta yang ada dalam hati kita.. Lalu apa yang membuat kita tidak lagi bisa mempertahankan suatu hubungan? Sudah pasti karna itu adalah emosi sesaat yang terjadi.. Saya rasa Anda hanya perlu sedikit waktu untuk kembali mengingat betapa besar rasa cinta Anda kepada pasangan Anda.. Sebelum Anda memutuskan untuk mengakhiri segalanya..


Semoga sebuah kisah yang saya tuliskan ini bisa membuka hati dan pikiran Anda mengenai pergelutan apa yang sebenarnya terjadi dalam diri Anda..


Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.


Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.


Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen.


Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.


Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian. "Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut. "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan" Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.


Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan
akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?".


Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya:
Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"


Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."

Hati saya langsung gundah mendengar responnya

Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan....


"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."

Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Sayamelanjutkan untuk membacanya.


"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bias membantumu dan memperbaiki programnya."


"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.".


"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu."

"Kamu selalu pegal-2 pada waktu 'teman baikmu' dating setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal."


"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami."


"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu."


"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-2 bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".


"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku."
"Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu."


"Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu, aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu."


Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.


"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya.


Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu."


"Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu.


Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.".


Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.


Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.


Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.


Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".

Anonymous said...

Dee,
mungkin banyak dukungan yang tertulis di sini, tetapi tidak termasuk tulisanku.

Kejujuranmu menulis kubalas dengan kejujuranku... boleh kan?

Semakin panjang argumenmu, semakin jelas kamu menulis tentang pemikiran-pemikiranmu, semakin jelas menunjukkan kegagalanmu, Dee....
Maaf...

Kuperhatikan,
tidak sekalipun terlihat kerendahan hatimu di hadapan pembaca yang setia mengomentari blogmu, tidak juga kerendahan hatimu di hadapan Marcell yang pernah sangat kaucintai, tidak juga kerendahan hatimu di hadapan Keenan buah hatimu, apalagi kerendahan hatimu di hadapan Tuhanmu.

Maaf Dee...
Mungkin kamu memang tidak perlu jadi martir buat keluargamu,
atau martir buat sahabat-sahabatmu,
tetapi pikirkanlah untuk jadi martir buat Keenan...

Gali lebih dalam di kedalaman hatimu...
Apakah tidak ada keinginan untuk itu?

Jikalau saja masker di pesawatmu tidak berfungsi, apakah kau akan memakai parasut dan menyelamatkan diri terlebih dahulu, baru setelah itu kau akan menggapai-gapai ke arah Keenan? Menurutku itu tidak ada gunanya Dee....

Dee,
aku selalu menghargai kamu,
selalu setia membaca blogmu,
menyukai caramu menulis,
tetapi itu semua tidak membuatku setuju dengan semua pikiranmu...

Mengacu pada prinsipmu yang selalu terbuka untuk berubah,
kuharap untuk hal inipun engkau mau berubah Dee....


Salam manis...
Yeni

Anonymous said...

Berita percerain mbak dee lah yg paling malas saya tonton d tv,mjalah,dan lainnya.. Cz mereka pasti 'based on stories not the truth', &karena saya yakin mbak punya alasan sndiri..mski bg org lain trlalu filosofis.
Life goes on,mbak..!

natazya said...

saya sangat setuju dengan bagian di mana dibilang kita tidak akan pernah bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri merasa bahagia...

Yap! Saya selalu memegang teguh prinsip ini!

dan memang... jangan pernah menjadikan anak sebagai alasan untuk apapun, apalagi suatu pembenaran yang belum pasti juga benar... pernah terpikir tidak sebagai anak yang orangtuanya tidak jadi bercerai hanya karena dirinya, tapi dalam rumah yang dengan kedua orang tua yang utuh tidak ada kebahagiaan sama sekali di dalamnya?

saya berTuhan... saya yakin dee juga berTuhan... dan bagaimanapun perpisahan adalah pilihan... dan keputusan... sekalipun ada yang bilang berarti tidak mampu menghadapi ujian, toh yang menjalani diri sendiri dengan segala konsekuensi yang sudah pasti sudah siap diantisipasi ^_^

saya baca ini dari link di blognya temen siaran... ah... asupan yang bagus di hari minggu!

GOODLUck in ur everyway

bagaskara said...

with a cup of cofee i write this comment..
dee...
being to be death body is an option not givent from God, i feel that and i chose that way...
death isn't ending process for our life, i belieuve it is one of many way to get WISDOM...to get many hapyness...
i realy hope God is still up there,...and smile

-Che_

Goklas Tambunan said...

Sebuah 'hak jawab' yang menarik. Awalnya aku kecewa atas keputusan kalian. Tapi aku pikir, kalian berdualah yang paling tau apa yang terbaik buat kalian. Mudah-mudahan bukan hanya kalian berdua, bertiga dengan Keenan.

Satu yang mengusik pemikiran saat membaca 'hak jawab' ini, benarkah Keenan adalah busur? Karena [terus terang terprovokasi oleh Gibran], bukankah Keenan hanya anak panah? Dee dan Lae Marcell adalah busurnya. Bukankah kalian berdua yang mengarahkan dia akan dilesatkan kemana? Maaf, kalau kesannya menggurui. Mungkin karena aku belum terlalu memahami analogi anak panah dan busur, atau analogi busur, yang Dee pilih. Salamku buat Lae Marcell, Keenan dan keluarga besar kalian berdua.

mitra w said...

kok saya keblenger juga baca komen2nya si Etfu yaK? ya sudah laah, ini udah pilihan seorang dee lestari, kalo terima ya ambil hikmahnya, kalo gak setuju gak perlu mekso. Perceraian bukan akhir sgala2nya.

Saya penggemar karya2 mba, berita ini sama sekali ga akan menghilangkan respect saya thdp karya2nya mbak dee...

Well, banyak setuju juga dengan pendapat mbak. Memang kebanyakan kita tuh menetapkan standard yang harus sama, padahal kapasitas kita beda2..

Anonymous said...

Lucunya kita tidak saja bisa belajar dari tulisan awal mbak Dee, tetapi juga dari keberagaman komentar para pengunjung blog ini. Saya menemukan beberapa benang merah yang menarik, kalau boleh ingin berbagi.

Pertama, reaksi biasanya bermuara pada penilaian, dan penilaian yang kita buat tergantung dari sistem nilai yang kita lekatkan.

Bagi mereka yang secara sadar maupun tidak , melekatkan makna BURUK pada perceraian, dan makna BAIK pada pernikahan, maka dengan akurasi mendekati 100% kita bisa meramalkan bahwa nuansa reaksi adalah sedih, menyayangkan, kecewa, bahkan menuduh mbak Dee sedang memberikan pembenaran maupun pembelaan.

Bagi yang melekatkan makna BURUK pada pernikahan, dan makna BAIK pada perceraian, mungkin karena pernah mengalami atau menyaksikan betapa kehidupan seseorang paska perceraian menjadi lebih baik, maka umumnya akan bereaksi penuh dukungan sepenuh hati terhadap keputusan Dee.

Bagi yang mengerti bahwa sebenarnya penilaian BAIK maupun BURUK sebenarnya tidak pernah absolut, namun tergantung dari situasi unik yang dihadapi setiap individual, maka mereka cenderung tidak menentang, juga tidak mendukung, namun sekadar mengakui bahwa hidup ini memang penuh misteri dan konsekuensi, dan justru lahir rasa menghargai yang jujur pada pilihan setiap orang, termasuk Dee, yang pada dasarnya juga mencari kebahagiaan jiwa.

Tulisan Dee bisa saja dilihat sebagai pembenaran / pembelaan, kalau anda BERASUMSI bahwa dia menyimpan niat bahwa ingin diakui pilihannya bercerai benar. Tetapi bagaimanapun juga siapa yang tahu niat hati seseorang? Sampai kapanpun juga, ini tetap tergantung dari ASUMSI pembaca terhadap tulisan Dee.

Tulisan Dee bisa juga dilihat sebagai pelurusan salah paham, yang tentu niatnya adalah menuntaskan komunikasi yang sebelumnya salah dimengerti. Dalam niat seperti ini, targetnya bukan lagi diakui orang lain bahwa pilihannya benar, namun sekadar ingin dipahami maksud sebenarnya. Namun ironisnya, bila inilah sebenarnya niat Dee, maka inipun tidak mudah dicapai selama pembaca tulisan ini masih menggunakan asumsi dasar bahwa Dee ingin dianggap benar.

Jadi apa kesimpulannya? Kita semua punya pilihan. Anda bisa berasumsi bahwa Dee ingin dianggap benar, lalu bereaksi berdasarkan sistem nilai Anda sendiri. Bila jalur ini yang Anda tempuh, sadari bahwa Anda sedang tidak membaca dengan jeli, karena perhatian Anda terbias dengan ASUMSI Anda sendiri tentang apa yang ingin Dee sampaikan.

Atau pilihan lain, berusaha melepas kacamata asumsi Anda, membaca ulang tulisan ini, dan memetik pelajaran hidup yang bisa kita petik dari pengalaman orang lain, tanpa harus kita jalani sendiri sebuah pengalaman perceraian.

Atau pilihan lain, pahami saja bahwa inilah perjalanan seorang Dewi Lestari, inilah kebenaran yang dia temukan. Ini tidak harus jadi perjalanan Anda, referensi Anda, atau kebenaran Anda. Kita semua punya peta pembelajaran masing-masing, dan melihat perjalanan orang lain barangkali berguna sebatas untuk melatih diri kita agar bersyukur dan berhening.

Tuhan punya cara yang misterius dan tidak bisa diprediksi tentang bagaimana pelajaran disuguhkan kepada setiap individu. Saya, Anda dan juga Dee tidak berhak menilai secara absolut, barangkali kita hanya berhak punya sudut pandang sendiri yang tetap kastanya relatif.

Selamat Dee atas kejujuran dan keterbukaanmu berbagi pengalaman hidup, semoga kamu bisa memetik yang terbaik.

Anonymous said...

dee....sorry ini saya yang dulu dan sudah lama sekali tepatnya pada tahun 1997 - 1999 sering berkomunikasi entah melalui telepon atau diskusi langsung, terutama tentang permasalahan yang saya dalami hingga saat ini, yaitu tentang HIV/AIDS & Napza bahkan saya pernah meminta dee untuk menjadi narsum dalam sebuah seminar untuk remaja.

mendengar berita tentang rumah tangga anda, agak tersentak juga tapi saya yakin dengan kekuatan, pilihan serta ketegaran dee..
karena anda bukan seorang yang cengeng, dan ketika memilih sebuah pilihan, sesulit apapun pilihannya dee...akan tetap teguh dengan pilihannya.
maaf kalau saya salah, keputusan ini mungkin hampir sama dengan pilihan dee, ketika memutuskan untuk konsentrasi dalam dunia penulisan, dan pelan-pelan mengurangi atau menarik diri kegiatan di dunia tarik suara

tapi sesulit apapun, dan sekeras apapun kecaman masyarakat atau penggemar dee dan marcel, saya yakin dee tegar & kokoh,
semoga tuhan bersama mu...

dian novita subrata said...

mbak dee, ini dian, one of 3 girls in the kosan dulu.
cukup terkejut mendengar berita ini, tp bukan ini yg mau saya komentari.
tulisan mbak dee bagus sekali, keseluruhannya.
bukan, saya bukan pendukung perceraian, tapi yg paling saya percaya, bahwa kebenaran yang dipegang tiap orang itu relatif.

ttg perumpamaan emergency di pesawat saya jg pernah membaca sebelumnya, dan setuju sekali.
ini hidup mbak dee, mbak dee yg paling tau mana jalan terbaik yg mau mbak dee jalanin.
so, nevermind with people thinks or what they say. they just think, say, and see from what they want to see.

smoga mbak dee selalu bahagia dan bisa semakin menikmati hidup yg sedang mbak jalani ini.
dan terus menulis ya, terus menginspirasi orang lain dengan tulisan2 mbak dee.

salam buat keenan yg lucu sekali.

ndut said...

mba dee,

sebagai orang yang juga nggak suka ngurusin orang lain, saya senang membaca posting ini. sebuah cerita tanpa maksud konfirmasi, tapi melegakan dan tidak menyalahkan.

saya satu pandangan dengan mbak dee, dan susah rasanya menjelaskan kepada orang lain bahwa "utuh", adalah diri kita. bahwa itu bukan "egois".

saya sampai di satu titik dimana saya tidak ingin lagi mencoba menjelaskan pola pikir saya kepada orang lain. kalau ngerti, syukur. kalo enggak, tidak perlu juga ngurusin.

last, semoga dengan ini mbak dee bs mencapai keutuhan itu.

salam!

Gitar said...

kebanyakan orang tidak mengerti apa yang terjadi dalam diri orang yang memiliki tingkatan mental tertentu.

Mempertahankan kesadaran seperti itu di dalam dunia serba terbalik apalagi dalam sorotan media bukan pekerjaan mudah.

Ini seperti meladeni banyak orang yang sedang menghisap energi positif Anda.

Mau kembali ke gunung? :)

kkyn said...

saya melihat tulisan ini sebagai ungkapan sisi emosi seorang wanita yang berusaha membungkusnya dalam kain logika filosofi..tetapi bagaimanapun juga kita semua bisa melihat isi dalamnya..tidak bisa disembunyikan..

oiya, mbak dee, sebenarnya kebahagiaan seperti apa yang dicari? atau kasarnya apa yang mbak cari dalam hidup ini? saya tiba-tiba penasaran..
*bad habit euy..:p

robby said...

Sebelumnya aku pengagum berat karya2 novelnya Dee nih. Setelah membaca 'pembenaran' dari kisah perceraian Dee ini kok saya ngerasa dee sangat...sangat...self oriented banget ya?? Mohon koreksinya kalo keliru, atau itu hanya perasaan saya saja?? Dan seolah2 berkata, karena saya merasa tidak bahagia sudah lah kita cerai saja?? Trus, bagaimana masalah nasib anak kita nanti, biarlah jgn terlalu dipikirin, nanti juga anak kita nemu jalannya sendiri. Kasarnya seperti itu nggak ya? atau mungkin gaya 'penuturan' dee yang terlalu 'tinggi' hingga pemahamanku yg salah...mohon maaf sebelumnya, bukan maksudnya menghakimi. Karena sy setuju tiap orang berhak untuk menentukan jalannya sendiri2, cuman sy kurang sreg aja...dengan sesuatu yg 'dibungkus'2x...klo' dee mau cerai...monggoooo....itu haknya, tapi tidak perlu dengan melakukan pembenaran disertai justifikasi2, yang malah menunjukan betapa self oriented dan egoisnya Dee. Mohon maaf klo kesannya seakan menghakimi...

gadisbintang said...

ah, saya pikir, salah satu alasan mengapa komentar negatif muncul adalah karena si empunya komentar kecewa, mereka tidak berhasil menemukan pencitraan ideal - hasil konstruksi sosial yang melekat erat - yang ingin mereka lihat: hidup sempurna dengan perkawinan bahagia.

dan label "gagal" pun mereka sandangkan. padahal, siapa yang berhak memberi stempel usang macam itu? tak seorang pun.

menutup mulut dan telinga kadang memang jadi pilihan paling tepat.

:)

Dewi Lestari said...

Yep. Goklas benar. Maksud saya dalam konteks ini adalah "anak panah", bukan "busur". Terima kasih untuk koreksinya. Teks posting akan saya ubah.

Regards,

~ D ~

Anonymous said...

Mo ikutan komen, mumpung gratis he2...

Kalo pernyataan “Segala sesuatu ada masa kadaluarsanya” diganti jadi "Segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang abadi" beda ga ya komentar2 orang?
Hahahaa... *Whatever!*

Satu hal yang menurut saya penting (kalo menurut yang lain ga penting yah terserah aja).
Saya SETUJU SEKALI dengan komen dari "Anonymous ke-3" di tgl 20 Juli, s/he said:

"Bagi yang mengerti bahwa sebenarnya penilaian BAIK maupun BURUK sebenarnya tidak pernah absolut, namun tergantung dari situasi unik yang dihadapi setiap individual, maka mereka cenderung tidak menentang, juga tidak mendukung, namun sekadar mengakui bahwa hidup ini memang penuh misteri dan konsekuensi, dan justru lahir rasa menghargai yang jujur pada pilihan setiap orang, termasuk Dee, yang pada dasarnya juga mencari kebahagiaan jiwa."

Kalo saya maaah....Pusing2 amat mikirin hidup orang, mikirin hidup sendiri aja udah pusyiiinggg...
Nah lho, egois donk diriku ini... Auk ah!
(Yang jelas saya sadar, kapasitas saya sebagai manusia itu sangat terbatas)

Mba Dewi, kalo boleh saran sih... Tidak perlulah digubris komentar2 yang tidak sepaham dengan dirimu, atau tutup aja kolom Komentar, BERES!

Oya, saya masih penasaran sama Supernova, dan saya rasa bukan cuma saya yang masih setia menanti... :)

So, ENJOY YOUR LIFE, Mba Dewi! And I'm sure you are doing it in your own way... ;)

[SPASI] said...

Dewi ..
Seperti yang kamu mengerti, bahwa kita hadir dibumi ini karena Tuhan.
Ada hal-hal yang tidak bisa kita atur .. seperti
Kita hadir di bumi ini sebagai apa .. wanita, orang indonesia, suku batak dan seterusnya.
Saya juga percaya bahwa Tuhan juga yang mengarahkan kamu menjadi Penyanyi dan akhirnya Penulis buku.
Untuk hal ini Tuhan tidak bodoh menentukan keinginanNya tersebut dengan memaksa umatNya.
Saya percaya Tuhan menciptakan dunia ini penuh keteraturan, siang-malam, hujan-panas dan seterusnya .. semuanya harmonis.
Begitu juga dengan ..keluarga, Tuhan menciptakan keluarga sebagai alat untuk menciptakan keharmonisan itu .. lihat-lah pohon dari buahnya. Berapa persen anak yang dilahirkan dari keluarga harmonis menjadi baik?
Semua itu pilihanmu .. memang hal yang jahat akan terjadi .. tetapi sebaiknya kita tidak mengambil bagian darinya.

akang said...

Punten ...
Numpang beropini
Saya setuju bahwa yang abadi adalah perubahan, termasuk pada seorang Dewi Lestari. Entah sehari, seminggu, setahun yang akan datang setelah membaca 'masukan' dari para komentator, kemudian ngedit postingan "...sebenernya gw nyesel neh..sori gw waktu itu masih emosi lai, ...eh gw mau rujuk neh ama Marcell...pan ane dah bilang manusia bisa berubah coi.."
"Don't take it seriously...this is my blog, if you don't like it...please press Alt+F4..."

--intermezzo ah ti babaturan smp2 baheula ---

Anonymous said...

Saat individu tidak lagi menemukan bahwa perkawinan adalah suatu kebahagiaan maka wajarlah Ia memilih perceraian. All about the choice. Kalau dee memilih jalan ini dan siap dengan segala konsekuensi nya, itulah pilihan bukan lagi benar atau salah karena itu sesuatu yang tak berujung.
Tetap menulis ya Dee-dengan kerendahan hati tentunya karena menurut Sang Buddha:

"Begini Atula, ada satu perumpamaan bukan hari ini sahaja mengatakan: yang diam disalahkan, yang berbicara banyak juga disalahkan, bahkan yang berbicara sedikit pun disalahkan. Di dunia ini tidak ada orang yang tidak disalahkan"

me said...

cuma mau menyampaikan support ~ selesai.
be well ya =)

Anonymous said...

hanya satu alasan orang bercerai:

pernikahan!

there is only one thing people getting divorced: marriage!

glory h suryandari said...

Mbak Dewi yth,

Sudah tiba waktunya saya mampir setelah sekian lama membaca buah fikiran mbak.

Yang terbaik untuk mbak dewi selalu, do'a dari saya, selalu.

Anonymous said...

Dee/Dewi, bersyukurlah kamu, karena semua care sama kamu, dengan semua memberi comment berarti mereka care sama kamu n keluarga, tapi sayangnya kamu tidak mau berpikir untuk orang lain.
sepertinya itu yg harus kamu isi untuk hatimu, untuk keutuhan hatimu.
all the best 4 u

Enna said...

Hi Dee,


Cepatlah menjadi "Penuh" agar bisa "memenuhi" yang lain.
Cepatlah menjadi "Utuh" agar "keutuhan" bisa cepat dibagi.
Cepatlah menjadi "Bahagia" agar yang lain juga ikut merasa.

All the best for You and Marcell.
salam sayang buat Keenan.

Luv
Enna

shanty ida simanjuntak said...

Dee: Saya menikah bukan karena Keenan, dan kalaupun saya bertahan menikah, seharusnya juga bukan karena Keenan. Karena kalau cuma karena Keenan, dengan demikian saya menaruh beban yang luar biasa besar dan bukan porsinya Keenan, bahkan saya menjadi seseorang yang tidak bertanggungjawab, dengan meletakkan fondasi pernikahan saya pada seorang anak. Ini barangkali bukan pandangan yang umum. Kita tahu betapa banyak orang di luar sana yang bicara bahwa anak harusnya menjadi pengikat, bahkan dasar. Bagi saya, Keenan bukan tali atau fondasi. Dia adalah anak panah yang akan melesat sendiri satu saat nanti.

Kalau pertanyaannya dibalik: Apakah Keenan bisa memilih dee dan marcel sebagai orangtuanya? Apakah Keenan bisa memilih untuk terlahirke dunia dan akhirnya harus melihat dan merasakan kepedihannya atas orangtua yang berpisah? semoga dee bisa menjawabnya!

panda said...

Dee..
Tulisan yang menarik, yang membuat banyak pro dan kontra bagi orang-orang yang membacanya.
Banyak sekali yang bisa dipetik manfaatnya dari semua tulisan kawan-kawan yang pro dan yang kontra.
Saya hanya ingin sharing saja, inti dari semua pro dan kontra yang terdapat dalam blog ini adalah " Cara pandang mengenai sesuatu" ; kebetulan beberapa hari yang lalu saya jg memperoleh manfaat dari seseorang yang lebih tua mengenai point ini. Intinya adalah setiap orang memiliki cara pandang sendiri-sendiri terhadap sesuatu.

Jika ada 6.5 milyar penduduk ini mempunyai cara pandang masing-masing terhadap sesuatu yang mereka anggap benar, maka semua orang merasa dirinya benar, tidak ada seorangpun yang berhak menyalahkan seseorang.

Pada waktu pertama kali saya membaca tulisan Dee, saya jg menganggap bahwa itu adalah pembelaan atas ego Dee sendiri, tetapi setelah saya membaca semua komentar yang masuk, dan jawaban-jawaban Dee... rasanya pikiran menjadi terbuka, bahwa kita tidak boleh menyalahkan/menjudge seseorang atas tindakannya ,.karena seseorang berpikir/bertindak melalui cara pandang mereka sendiri-sendiri,. kita harus bisa menghargai itu

nona tria said...

pukpukpuk
salam untuk keenan dan marcell
oktober ke mendhut lagi ga mbak ?

thebutterfly said...

dewi hanya manusia ... biarlah dia menjalani prosesnya dan kita menjalani proses kita masing-masing ...
dee, apa makna kebahagiaan bagimu? apakah berkorban untuk orang yang kita cintai membunuh keutuhan kita untuk bahagia atau menopang makna kebahagiaan seseorang ?
thanks...

richard si pendosa said...

Seorang pemenang bukan seorang yang tak pernal gagal. Seorang pemenang adalah seorang yang tak pernah menyerah.(ELC)

Bahkan matipun bukanlah akhir dari segalanya. Tatap saja semuanya dengan mata tajam dan membelalak sambil menegakkan kepala menantang badai yang sedang berhembus kuat. Layaknya rajawali yang semakin terbang tinggi di kala angin semakin berhembus kuat.

Dan pastilah, ada oknum yang memang sanggup memberikan kekuatan ekstra itu.

Keep the faith, dee! God, is always be there for you.

ahead said...

Sebenernya saya dalam posisi gawat akan ada kemungkinan berpisah, makanya saya datang kesini untuk cari jawaban kenapa mba' dee keliatan ringan untuk menerima perpisahan saat di infotainment.
Sebaliknya saya masih menginginkan orang yang saya rasa akan berpisah ini... sulit banget....
tapi dengan segala rasa sakit di hati, mungkin memang ada kalanya kita tidak ditakdirkan bersama dengan seseorang yang kita inginkan...
saya berjuang mati-matian untuk mempersatukan kita, tapi keadaan sosial, perbedaan keyakinan spiritual, kesukuan, itu yang memisahkan...
fakta yang ada sekarang memang, kebahagiaan diukur dari kebahagiaan semua orang dan panggapan semua orang yahh... bukan kebahagiaan pasangan itu...
(**sigh)
Wish I was as ready as you... as prepared as you

novi said...

Dee.
aku dapat blog ini dari bangwin.aku sangat ingin bil thanks dan ingin nulis personal letter kenapa aku bil terima kasih. bisa tahu alamat emailmu?

Love and Light

Widya Dwi Setyawati said...

Dee...

Saya termasuk yang menyayangkan episode perpisahan kalian. Tapi setelah membaca tulisan ini, saya yakin segala sesuatu yang dilakukan dengan kesadaran penuh dan ikhlas maka jalannya akan dipermulus.

Layaknya menyaksikan orang yang mati dalam keadaan "khusnul khotimah" maka keluarga yang ditinggalkan tidak akan menangis dalam kepedihan tapi akan mengikhlaskan kepergiannya menghadap Tuhan Sang Pemilik Hidup.

Dee..
good luck and keep the faith yach...

Rivan Dwitantra said...

Nggak tau deh apa yang harus aku katakan. tapi jika aku membaca ini bersama istriku, pasti dia berkomentar "jangan diresapi dalem-dalem, nanti kamu punya pikiran yang sama lagi"

Anonymous said...

Mbak Dee yang baek,
Saya menghargai pendapat dan keputusan mbak.
Hanya saya punya ego yang pengen saya tuang disini.
Bagi saya sendiri, pernikahan adalah sakral karena dalam pernikahan kudus ada yang mengikat kita yaitu janji kita kepada Allah untuk setia sampai mati, dalam keadaaan (apapun) susah dan senang. So dalam membina sebuah Rumah Tangga dari awal kita sudah tahu konsekuensinya.
Tentang kebahagiaan itu dari dalam diri kita sendiri itu benar adanya, karena kebahagiaan itu bisa kita peroleh dengan merubah cara pandang kita.
Bisakah kita yang menyukai durian merasa bahagia/senang saat diberi apel? bisa. Karena jika kita mau coba memandang dari sisi lain seperti misalnya, kita tidak suka apel, tp saat kita tahu bahwa apel itu diberikan dengan rasa kasih sayang oleh orang yang kita cintai, pastilah kita merasa bahagia. Jadi bukan masalah suka dan tidak suka, tapi bahagia adalah bagaimana kita bisa merubah cara pandang kita dan menjadikan diri kita bahagia.

Percayalah mbak Dee, Tuhan sumber kekuatan akan memberi pertolongan dan pengharapan bagi kita yang mau berseru kepadanya.

Anonymous said...

ya ampun..


If I were you, I wouldn't bother explaining myself to a bunch of strangers. YOU live YOUR own life, YOU ARE the one who feels what you feel. Not other people. So why should you care about what others think and say . IMO There's no need to go justifying your actions.

Anonymous said...

Hi Dee,

Saya termasuk salah satu pengagum tulisan2 kamu. Pertama dengar berita ini, kaget juga.

But i think everyone have their own life, which we can;t judge from the surface, as long as we had tried our best in every circumstances, so we won't regret when we look back. The rest maybe just accept and pray..... put it all on the path...

As no body perfect! But lies behind the imperfection, selalu ada beauty yang tersimpan. Time will reveal it. Just try our best as Dee did .. be positif! Will always help us see the bright side.

Changes sometimes also bring hope. A company/ a person that can't adapt with the changes or stay the same all the time, its mean death had approached...

Kita sendiri juga...
Coba bayangkan dari jaman batu, bersikeras tidak mau berubah, mana bisa kita berkesempatan mendapat inspirasi2 dari blogmu ini.

Every day we are die & reborn again, our old cell die and change to the new one (dimana ini hasil reseach dari science), or otherwise we will still be the same size as the size of a baby when we were initially born. So changes are natural, just part of our life. Accept, learn and move forward!

We are so skillfull and natural in become a judge for others, even without a court & sometimes without wanting to know what really happen to other, (tidak terkecuali saya sendiri yg masih belajar), kadang lebih tertarik sama opini kita sendiri, tanpa berusaha untuk mengerti terlebih dahulu atau mencoba mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya.

We think we are always the right one! Which "benar" bagi tiap orang maybe beda, tergantung konsep dan pendidikan kita atau all the things that we perceive/ influence us during our life time. But the worst is we always thinks our views are the most correct one ( or if perlu mutlak/ tidak boleh di ganggu gugat, gaya ini bisa di pakai di jaman batu, dimana memang kayak batu kaku, kaga gerak2 ), and we think we have the right to judge others, according to what we think as right. And then start argue with others, and finally continue with a fight and then a war.

This is why so many wars happened without an ending.

The wars ( or the same with peace as well) start from when a family can't live in harmony. And after that to tingkat RT and RW, and then maybe an etnic, perangin etnic lain (which is so silly, cause we judge and merasa orang lain dan kita beda, hanya karena selapis kulit tipis dimuka, dimana abis di kupas... sebenarnya semua sama, padahal 'sorry' tahi...tahinya aja juga sama) and the worse a country, which is so stupid and silly, to kill and destroy other, out of ignorance (berpikir kamu dan saya beda, karena itu kamu harus di hancurkan) and bring so much suffering, in the name of ... to protect what is right/ truth.

In a war no body is right! Which may be hard to accept by some, but we can see the result proof that: both parties are suffer from the consequences. Improvement come from a sincere communication between both.

We can't deny that every child/ everyone want to live in a harmony family, with both dad and mom together... But i had seen thru right with my eyes, in order to follow what society/ others think what is right. They also suffer alot within the family. Both parents try to pertahankan so hard or be together, and nearly everyday can't avoid from argue or fight/ have a perang dingin.

To be a child yang tumbuh dengan kondisi family seperti ini, it's a suffering, like a living hell...(And i am sorry have to say this), but this is the truth, some child that live in this kind of family, sometimes even wish that "they are not alive." As they maynot have the capacity to cope/ to deal with.

Result: a lot of the child also grow up ke arah yang tidak benar, some may choose never want to get married. As some child remaja/ saat gede (either karena broken home or parents keep argue/ fight yang intinya tidak di perdulikan ortunya yang sibuk urusan masing2) may do all sort of things that bring negative effect to society & damage diri mereka juga.


But it doesn't mean kita encourage divorce, semua kembali tergantung circumstances tiap orang, just try our best in all situation & made the decision in accord with the circumstances at that time, it's enought.

Even divorce (as Dee said but we still remember our responsibility), which could be to nurture/ give the child love and taking care of them, let them know that as a parent, you will always be there whenever they need you, it is crucial for the child.


So married or divorce, or what ever we do...Janganlah hidup karena hanya mengikuti apa yang masyarakat say 'its right, it's wrong'... tidak ada kebenaran yang fix untuk satu hal, setiap kondisi pasti punya keadaan yang beda.

Just try our best with good motivation. Selama masih hidup/ masih bernafas, pasti masih ada harapan, betapapun susahnya hidup! So just do everything the best we could and pray. The rest just let it be...

Oh btw, Dee wartawan yang terbitin, justru pasti dia juga maybe ada struggle dengan karirnya, otherwise he won't do it if he is a profesional one, and not every wartawan are like that. Even maybe hard to find a good one, but wartawan juga manusia yang "just wanting happiness, don't want suffer", But out of ignorance, they go to the wrong way thinking of they are heading to the way that bring happiness, which actually not, jadi out of that ... just arouse your compassion for them, biar kaga bikin connection untuk keep meeting them again in the future in an unfavorable way. Tiada sesuatu tanpa sebab, ada bertemu ada 'jodoh'/ cause.

Btw ada juga wartawan yang bagus, yang bekerja sebarin info ttg justice/humanity atau tulisan bermanfaat kayak gua ha...ha (bercanda kok) Take care... bye

DW

endangcinta said...

bukankah selalu akan ada saja org yg berbicara ttg kehidupan yg kita jalani, dan kita bisa memilih dan memilah utk mendengarkan yg baik dan tidak baik.......apalagi seorang publik figur, sudah konsekuensinya jika lbh luas dibicarakan org.

jadi ... terima saja semuanya, semua komentar itu....pasti emosi, apalagi ketika kita sendiri jg sedang mencari justifikasi utk setiap yg kita lakukan.....

yanu said...

Mungkin sudah terlambat, mungkin juga tidak akan dibaca oleh Dee, tapi tergelitik saja untuk menulis ini setelah ada rekan wanita di tempat kerja mengirim tulisan Dee:

Dee bilang bahwa perpisahan akan terjadi apabila sudah sampai waktunya . Itu cuma kata-kata panjang dari sebuah kata sakti yaitu takdir. Tapi saya sejalan dengan Dee soal ini, apa ada di dunia ini yang tidak ditentukan takdir ?

Karena seperti takdir-takdir lainnya kita tidak pernah tahu apa takdir untuk kita sampai saatnya datang, maka kita perlu berusaha dengan maksimal agar perpisahan itu tidak terjadi

Tapi kalau dikatakan bahwa perpisahaan itu adalah takdir, maka KDRT dan lain-lain adalah gejala, saya berseberangan dengan Dee dalam hal ini. Analogi Dee agak tidak tepat.

Perpisahan adalah akibat (rasa sakit), KDRT dan lain-lain adalah sebab (virus flu), pertengkaran hebat, luka fisik adalah gejala(batuk). Bahwa tidak semua KDRT berakibat pada perceraian bisa jadi karena usaha yang berhasil dari kedua belah pihak dan tidak berpisah (seperti juga berpisah) adalah sebuah takdir.

Lantas menganalogikan mempertahankan kebahagiaan seorang anak karena hubungan orang tua yang utuh dengan prosedur mengenakan masker oksigen saat keadaan darurat di pesawat terbang adalah membuat analogi yang lagi-lagi tidak mengena.

Kebutuhan akan oksigen adalah mutlak sedangkan kebahagian adalah sesuatu yang relatif (Dee menulis tentang hal ini juga bukan ?). Memang betul seseorang harus penuh terlebih dahulu sebelum bisa memenuhi orang lain, tapi apakah kebahagian seorang ibu mutlak menjadi kebahagian sang anak ? Jawabannya belum pasti. Bagaimana seorang anak menjadi bahagia pastilah suatu hal yang kompleks dan apa yang membahagiakan seorang ibu belum tentu membahagiakan sang anak, terutama untuk jangka pendek. Sang ibu bisa saja bahagia karena tidak lagi harus berkompromi tentang banyak hal setelah perceraian dengan suami, tapi hal itu belum tentu membahagiakan sang anak

Pertanyaannya adalah apakah kompromi yang kita buat demi mempertahankan hubungan suami istri itu terlalu besar?

Itu membawa kita untuk berbicara apakah dasar sebuah hubungan. Pada akhirnya dasar sebuah hubungan dapat direduksi menjadi mutual benefit with a certain mutual sacrifice. Benefit bisa jadi sesuatu yang sifatnya abstrak ataupun yang sifatnya sangat nyata. Demikian pula halnya dengan sacrifice. Agar sebuah hubungan menjadi langeng maka perlu sebuah usaha berkesinambungan agar terjadi keseimbangan antara benefit dengan sacrifice tersebut. Masalahnya tentu adalah seberapa besar ego kita berbicara dalam mencari keseimbangan antara benefit dan sacrifice.

Jadi sebenarnya kalau mau bicara takdir, seluruh proses hidup yang kita jalani ini adalah sebuah takdir. Termasuk bagaimana kita bisa belajar dari sebuah kejadian yang baru saja berlalu.

Apakah kita mau belajar atau sekedar mengatakan itu adalah takdir ?

Dee, tulisan ini akhirnya buat saya pribadi terasa seperti sebuah usaha "pembelaan" dari ulasan media infotainment. Padahal mungkin "pembelaan" seperti ini sama sekali tidak diperlukan.

Sorry kalau kepanjangan.......

Weny's Kitchen said...

Saya bangga dan salut kepada Dewi. Bangga karena Dewi sudah mampu selangkah lebih jauh dalam memahami hidup (Dewi), dan mampu menuangkan pikiran-pikiran tersebut ke dalam tulisan. Salut, karena Dewi sudah bisa memerdekakan diri dari belenggu keraguan, ketakutan, kekhawatiran, serta mampu mengambil keputusan dan tindakan dengan yakin dan sadar. Ini yang langka tidak dimiliki banyak orang.

MAsih terngiang di telinga saya ketika seorang bijak (yang juga seorang suami & bapak dari seorang istri dan beberapa anak) berkata, "Pernikahan hanyalah diatas kertas semata". Saya terhenyak mendengarnya, penuh tanda tanya, dan baru memahaminya setelah setelah saya menikah. Cinta tidaklah cukup untuk memelihara sebuah pernikahan, namun usaha keras untuk memelihara lentera kebahagiaan sejati masing-masing individu yang terlibatlah yang menjadi kuncinya. Pernikahan yang sejati ada di dalam hati kita. Dan betapa nistanya tatkala kita berpikir, berucap, dan bertindak tidak selayaknya seorang istri/suami sejati. Atau manakala kita harus membohongi diri sendiri dengan hidup dalam kepalsuan.

Bagi beberapa, memahami dan sadar bahwa pernikahan adalah sebuah panggilan dan tugas dari Tuhan, merupakan salah satu cara untuk mempertahankannya. Namun sungguh, pernikahan bukanlah lakon mudah untuk ditarikan.

Selamat kepada Dewi yang mampu memutuskan dan bertindak dengan yakin dan sadar. Semoga diberi kesempatan bertemu dengan si dia yang mampu membantu memelihara kebahagiaan sejati Dewi. Salam.

novi said...

Apapun pilihan Mbak, saya yakin Mbak dee pasti udah siap dengan segala konsekuensi nya, saya salut sama pemikiran mbak tentang perceraian, yang saya yakin tidak semua orang termasuk saya bisa bersikap seperti Mbak Dee...
Best Regards

Mustika said...

Salut kepada Dee yang selalu berpikir positif dan selalu belajar tentang makna dan nilai kehidupan.
Saya suka dengan novel2 Dee; juga seminar yang dibawakan Dee, memberikan banyak pencerahan kepada saya.
Apapun keputusan yang sudah diambil, semoga kebahagiaan selalu mengikutimu.

Jurist said...

It feels terribly cliché to leave a comment like this, but I agree with all your points regarding God, relationship and happiness, so just know that there's at least one person beside you and Marcell who sees where you're coming from.

And though I know you understand this point as much as I do, I thought you could use another person saying: oh well, you can't please everyone. You've tried your best explaining your thought process --and, indeed, it's difficult to find other explanations as thorough and as well-thought out-- so if others still disagree, too bad. Mo diapain lagi.

P.S. I'm sure with parents as wise and thoughtful as you and Marcell, Keenan would be fine. I wish all three of you well.

veronica said...

Dee..
Saya bisa memahami apa yang Dee rasakan. Hanya diri kita sendiri yang bisa menentukan kebahagiaan kita sendiri (tentunya tanpa merugikan orang lain). Kita juga tidak pernah tau rahasia Tuhan yang telah dibuat untuk diri kita.

Saya hanya bisa mengucapkan selamat karena Dee berani membuat keputusan besar dalam hidup Dee, semoga banyak kebahagiaan yang Dee peroleh dalam hidup ini (semoga kebahagiaan itu dapat dibagikan juga kepada Keenan dan Marcell-sebagai sahabat).

GBU
-V-

~Dewi~ said...

Setiap orang berhak untuk bahagia, gak terkecuali kamu Dee. You deserve it!

Kalau cinta sudah ternodai, teraniaya, tersakiti... menurut aku ga ada gunanya juga diterusin, just wasting time.

Untuk apa menjalani hidup dengan kepura-puraan? pura-pura bahagia padahal makan hati, diluar tersenyum dalam hati menangis, dsb. I hate everything fake!

Im proud of you... kamu perempuan yg tau apa maumu. Tough, open minded, dan berprinsip. cmiiw

Dun care what people say dear, just follow your heart. Karna bahagia atau tidaknya kamu, depend on you!

Good luck for ur new beginning life n GBU!

ViS said...

Dear Dee..
Saya salut kpd anda berdua, yang berhasil mematahkan belenggu "kemelakatan"...
mungkin dikehidupan "lampau", kalian berdua bukanlah suami istri, tapi hanyalah guru dan murid..yg begitu dekatnya, hingga bertemu lagi pada kehidupan sekarang sebagai suami istri...
Yah..memang sudah waktunya...hubungan karma sebagai suami istri harus berakhir...

Semoga kalian semua berbahagia

Anonymous said...

mbak dee,
kasih atau versi mbak dee "ego" saya memaksa saya untuk juga ikut berkomentar disini. benar bahwa setiap orang memiliki pendapat dan pandangannya sendiri sendiri. orang boleh bicara apapun, tapi coba kembalikan lagi ke hati yang terdalam, dan temukan jawaban terjujur disana. seringkali jawaban nurani yg terdalam itu adalah suara Tuhan. namun karena EGO kita sebagai manusia, ditambah segenap fakta fakta pendukung seperti KDRT, tidak bahagia dsb-nya,..membuat kita lebih cenderung membenarkan keputusan yang lahir dari EGO pribadi. sebagai perempuan, saya ragu mbak Dee setegar gambaran yg mbak tuliskan..saya yakin dalam hati terdalam juga banyak pertentangan. sedikit bercerita, saya lahir dan dibesarkan dikeluarga yang SANGAT miskin yang ibu saya sejak saya kecil mengalami banyak KDRT berat berkali kali bahkan terjadi didepan mata saya. bapak saya seorang pemalas yang kurang bertanggung jawab dan sering melakukan kekerasan thdp istri dan anak anaknya juga. dan bahkan yang terparah kekerasan yang beliau lakukan thdp saya. kalau saya tuang semua disini, terlalu panjang dan mungkin terkesan dramatis, tapi itu kenyataan dan fakta yang saya alami. duluuu sekali, saya SANGAT membenci bapak, dan berharap saya punya suami tidak seperti beliau. saya juda duluuu tidak mengerti kenapa mama tetap bertahan. sama bingungnya seperti banyak orang lain yang juga mempertanyakan hal yg sama pada ibu saya. ibu saya pernah mengalami hamil muda dipukuli sapu, lebam lebam dan keguguran, bleeding,..DI DEPAN MATA SAYA.itu hanya salah satu KDRT yang dilakukan bapak terhadap ibu. banyak yang lainnya. sampai satu waktu ketika usia saya kira kira 14tahun, saya tanyakan pada ibu kenapa bertahan sampai detik itu terhadap bapak, karena memang sama sekali TIDAK ADA ALASAN untuk beliau bertahan.SAMA SEKALI TIDAK ADA. ibu saya selalu menjawab dgn senyum dan bilang, Tuhan tidak pernah salah memilihkan orang, kelak dewasa, kamu akan tau jawabannya. ibu saya selalu dan tetap menghormati bapak. dan beliau terus mengajar kami untuk menghormati bapak. seiring saya bertambah dewasa, dan menemukan pribadi Tuhan yang saya sembah, yang mengajarkan saya untuk mengasihi dan mengampuni secara total. sekarang saya SANGAT mengasihi bapak dan berdoa bagi beliau. saya sudah melupakan dan menganpuni semua yang bapak lakukan dimasa kecil saya, dan saya sudah mampu bilang pada beliau bahwa sayang sangat mengasihi bapak. hubungan kami dipulihkan. hubungan bapak dan ibu juga pulih. demikianpun saudara saudara saya. Dan lewat teladan ibu saya, saya jatuh pada satu kesimpulan, bersama Tuhan, seperti yang dilakukan ibu dalam hidupnya, apapun dalam hidup bisa kita lewati, yang pada akhirnya, teladan ibu saya juga mengakar pada anak anaknya untuk toleransi terhadap pasangan dan mengasihi sebagaimana adanya dia, pernikahan jadi ajang pembelajaran dan pendewasaan karaker yang sama sekali TIDAK ADA MASA USANGNYA terkecuali maut yang memisahkan. AKAN SANGAT LAIN ceritanya kalau dulu ibu saya memilih berpisah dgn bapak, maka keluarga kami, saya dan saudara saudara saya, juga mungkin akan bertumbuh dgn cara dan pandangan hidup yang jauuh berbeda dari apa yg kami punya sekarang. dan saya amat sangat bersyukur, memiliki ibu yang tegar, yang lewat teladan beliau, tanpa beliau berkata kata, saya juga bertekad menjadi wanita yang tegar, dan juga penuh kasih dan maaf seperti beliau. teladan yang sangat memberkati hidup saya. semoga apa yang saya tulis disini, mbak Dee sudi membaca dan boleh menjadi berkat. salam kasih dari kami sekeluarga. Tuhan memberkati selalu.

kebhoganteng said...

Bhante Pannya bilang pada saya saat saya tidak jadi menikah dengan orang yang saya sayangi :

"...logika tidak selalu sesuai dengan kenyataan, semua jawaban bisa menimbulkan pertanyaan, namun tidak sebaliknya. Mencintai yang sesungguhnya adalah menyadari saat datang dan pergi, tidak melekat dan tidak harus memiliki..."

Saya rasa Mbak Dee dan Mas Marcell lebih memahami akan hal ini. JAdi apa yang dialami Mbak sekeluarga merupakan proses. Kita yang melihat tidak berhak memberi "judgement" apapun, kecuali melihat kebenaran dengan bijaksana tanpa PEMBENARAN. Apa yang dialami merupakan proses sebab-akibat bukan karena kutukan, atau kekuatan gak jelas lainnya, yang mungkin akan kita alami kelak.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia

fajar said...

Mbak Dee yang budiman.

Jadi ini hanya masalah waktu saja. hampir seperti kematian yang tidak bisa kita tolak. Rupanya hubungan pun memiliki masa kadaluarsa juga.

Hanya saja, sepengetahuan saya, masa kadaluarsa itu dicantumkan begitu suatu produk selesai dibuat. Sudah terukur dari awal proses produksi.

Apa anda juga begitu? Sudah mencantumkan kapan masa kadaluarsa dari pernikahan anda?

Saya belum lama ini bercerai. Dan sampai saat ini masih merasa bahwa ini adalah kegagalan kami dalam menjaga sebuah hubungan. Masih juga mencari-cari pembenaran dari apa yang telah kami putuskan.

Sebab apa? Ternyata saya tidak merasa sebahagia yang saya bayangkan sebelumnya.

Saya tidak dalam posisi yang berhak untuk menilai. Tulisan ini hanya untuk berbagi saja.

Semua orang dalam pencariannya.

Semoga sukses menemukan apapun yang anda cari.

salam

faizz said...

hai dee...
saya baru menemukan blog ini dan baca postingan dari dee...

baru baca paragraf awal aja udah bisa dipastikan ini adalah sebentuk klarifikasi dee untuk beberapa informasi yang beredar diluar sana, dan tidak hanya itu, setelah postingannya kelar saya baca, saya jadi berfikir ini adalah sebentuk curhat, perenungan, bantahan, dan apalah itu.

tapi yang pasti, saya cuma bisa comment orang-orang seperti kami (yang hanya bisa melihat dan mendengar tanpa bisa merasakan apa sebenarnya yang terjadi) percaya bahwa tidak ada orang lain yang paling mengenali diri kita, selain kita sendiri dan tuhan yang sudah menciptakan kita dengan segala bentuk kesempurnaan.

jadi apapun bentuk persoalan dan permasalahan yang dee hadapi saat ini dan kedepan saya juga setuju bahwa itu adlah hal yang semustinya terjadi dan tidak mungkin dihindari atau dibantah. sekarang hanya tinggal menjalni dan berusaha menjadi diri kita sendiri. komentar orang-orang hanya sebagai bentuk kepedulian dan suport terhadap seorang dee....

M5W said...

Kejadian ini tidaklah terlepas dari Ti-Lakkhana (tiga corak umum dalam kehidupan)
Anicca - Dukkha - Anatta
http://en.wikipedia.org/wiki/Tilakkhana

Perlu diketahui bahwa dalam Buddhisme tidak dikenal tuhan, yang ada itu konsep ketuhanan.
Segala perbuatan kita tidak dipertanggung jawabkan kepada siapapun kecuali diri kita sendiri.
Kita sendiri yang akan menghadapi konsekuensi dari hasil perbuatan kita (karma).

wian said...

apapun yang terjadi...intinya setiap individu harus terus meng-upgrade, meng-improve kualitas dirinya dalam wadah apapun itu...

dee...im your huge fans (dan emang karena gede beneran..hehe)...

so...ditunggu karya-karya selanjutnya

yuDa said...

100% setuju dengan isi tulisannya dan pandangan dee serta marcel tentang kehidupan dan pernikahan.

kehidupan ini milik kita masing masing. nevermind the bollock!

thanks for sharing...
walk on!

vitarlenology said...

wahh dee.. aku setuju sama pandang kamu.. mungkin kamu ga mencari persetujuan juga :D, tapi kamu menggaris bawahi sebuah point penting, anak tidak seharusnya menanggung beban sebagai pengikat atau pemersatu.. sebagai orang dewasa tentunya yang menyatakan diri berhubunganlah yang mesti bertanggung jawab dengan semua konsekuensi dari hubungan itu..

good luck..
no matter how cold the winter there's a spring time ahead..:)

Anonymous said...

dear ibu dewi,
saya juga seperti penonton televisi yang lain, sempat terkejut mendengar kabar perpisahan ibu dan suami. tapi kembali saya berkaca, memang dalam sebuah pernikahan, semua adalah tidak pernah seperti sesuatu yang tampak. saya terdiam, berpikir dan menangis pilu membaca cerita ibu dalam perpisahannya. saya pilu bukan karena saya sedih ibu berpisah, saya pilu karena saya menahan nahan diri dalam pernikahan saya yang belum 3 tahun, dengan seorang yang sanagt baik hati dan mengahdiahkan seorang laki laki muda untuk kami pelihara dan bekali. saya pilu karena , betapa saya mau mati bosan dan mati kutu dalam pernikahan saya. bukannya saya tidak berdaya dalam posisi saya, tapi entah bagaimana, kami memnag memposisikan anak kami sebagai pengikat pernikahan kami. kami berdua tak lagi utuh karena sedikit sedikit kematirasaan yang kata ibu, kadaluarsa, menggerogoti jiwa kami sedikit sedikit. saya tidak tahu sampai kapan kami bisa bertahan, tapi yang saya tahu, anak saya memanggil ayahnya hampir setiap malam jika ia belum pulang dari kerjanya, begitu pula jika saya kebetulan bertugas di luar daerah, anak saya akan memenaggil saya pada ayahnya. saya tidak tahu, ketidaklengkapan kehadiran kami akan membawa pengaruh sebesar apa bagi anak kami, dan karena itu kami bertahan. tulisan ibu membuat saya kembali berkaca, menata, jika memang ada jalan yang begitu damai walaupun panjang, harusnya untuk kami pun ada kesempatan damai yang serupa. entah akhirnya berpisah ataupun tetap bersama. thx for sharing.
-ada disni-

Lenny said...

Mba Dee..
Semoga masih ingat dengan saya, karena hasil karma baik yang berbuah, kita berjumpa di acara dhammadesana Twin Plaza Hotel. Kebetulan saya mengajukan pertanyaan saat diskusi, namun herannya saat berhadapan untuk mendapat tanda-tangan, Mba Dee masih ingat nama saya (that really impressed me)..
Berita perceraian M'Dee memang mengejutkan, akan tetapi dengan makin tinggi kebijakan seseorang saya rasa hal tersebut wajar (mohon maaf kalau saya salah), saya pribadi berpendapat selama kita 'menggantungkan' kebahagiaan kita pada seseorang atau sesuatu (kemelekatan), kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan itu sendiri.
Mengutip kata-kata M'Dee, semua orang berbicara atas nama Keenan, menyalahkan perpisahann ini, padahal mereka semua tidak pernah mengenal Keenan. Semua pendapat orang adalah opini bukan..??Semua orang bebas beropini, akan tetapi kita sendiri yang menjalankan hidup ini..
Semoga selalu berbahagia..:)

Nurul Diana said...

Dee..
kita berdua, saya dan hilman kaget luar biasa, rasanya gak ada yang salah dengan pasangan ini. Bahkan kita pernah expect bahwa kalian bisa bikin album berdua, atau bahkan seawet sophan sophian dan widyawati, dengan profesi yang hampir sama. Tapi semuanya memang kita lihat secara lahiriah aja..segala bentuk infotainment yang mengatakan ini itu kita juga gak percaya, masa sih gitu..

thanks buat tulisannya, semoga tetap menjadi dee yang sekarang dan semoga keenan tetap ada dalam pengasuhan kalian berdua. Ketemuan lagi pas halal bihalal ya? cyaaa

ginatri said...

Karena saya percaya kalau mati, rejeki dan jodoh di tangan Tuhan, maka saya yakin orang menikah bukan karena percaya kalau orang yang dinikahinya adalah jodohnya.

Sebaliknya, dia ingin menikah karena ingin MEMBUKTIKAN kalau orang itu adalah jodohnya.

Kalau pun dalam perjalanan ternyata terbukti mereka memang belum berjodoh atau sudah habis masa jodohnya, apa salahnya untuk berpisah?

Toh dua orang itu sudah berusaha untuk membuktikannya.

Novi said...

orang hanya bisa menilai karena mereka tidak merasakan apa yang sebenarnya yang terjadi...

tinus hariadi said...

speechless ... dee, you're so settle in mind ...

tinus hariadi said...

dee, you're so settle in mind ...

Sebuah proses tentunya melewati banyak hal, banyak tikungan, jalan lurus, tanjakan ataupun turunan. Bahkan layaknya lau lintas Jakarta, sebuah proses itu kadang melewati kemacetan dan traffic lamp. Traffic lamp unik yang mewakili pilihan akan kelanjutan sebuah proses kehidupan.

Adakalanya ketika hati dan pikiran bersatu dalam satu kesatuan traffic lamp tersebut saya patuhi. Tapi seringkali juga ketika saya merasa capek akan kemacetan – kemacetan proses hidup, ketika saya merasa sudah melakukan banyak hal, ketika saya merasa deserve untuk memberi sedikit reward berupa kesenangan yang bersifat absurd buat saya. Saya tidak mematuhi traffic lamp proses perjalanan hidup saya.

Terkadang hasilnya adalah saya melewati proses hidup yang lebih lancar, sering juga macet dan stuck di satu titik. Well, suka atau tidak, itulah konsekuensi atas pilihan saya…

Kemacetan – kemacetan yang terjadi kadang mendewasakan saya, mebuat saya belajar banyak hal. Termasuk mencari solusi dan jalan keluar dari kemacetan proses hidup tersebut. Dari situ saya juga belajar bahwa tidak hanya melalui jalan protokol saja untuk mencapai tujuan hidup. Banyak juga jalan – jalan alternatif yang bisa dijadikan pilihan.

Bagaimana dengan anda? Apakah anda ter masuk yang mematuhi traffic lamp of life atau tipe yang seperti saya?

Karena dalam proses kehidupan tidak ada polisi kehidupan ataupun surat tilang kehidupan. Andalah yang yang menetukan pilihan…
merah kuning hijau hidup anda…

Tiwoel said...

Dee..

Setelah semua yang terjadipada kamu.. ihklaskan saja.. serahkan sama yang diatas.. karena semuanya ini sudah terjadi... kalau memang kami perlu klarifikasi demi karir dan masa depan.. yah silahkan dengan tapi jangan berlarut-larut.. dan Saya setuju banget dengan prinsip kamu untuk menjadi manusia yang utuh untuk bisa berbagi dengan anakmu nantinya..

Semoga selalu dilindungi yang diatas..

Salam

mang iyus said...

Analogi kijang yang diterkam harimau itu terasa kurang pas. Kijang itu tidak pasrah atau ikhlas. Ia hanya tak berdaya saja. Kalau ia ikhlas maka namanya kijang masokhis, yang menikmati cengkeraman, gigitan dan sobekan taring harimau ke daging tubuhnya.
Manusia tidak pernah tidak berdaya. Manusia hanya memilih untuk mau atau tidak mau lagi berjuang lebih lanjut. Memilih untuk menyerah kepada keadaan yang impasse. Tetapi tidak semua pasangan akan memilih demikian. Ada yang memilih berkorban untuk sesuatu niat yang baik. Mereka mengadopsi nilai pengorbanan (sacrifice). Dan justru ikhlas menerima semua kepahitan impasse yang harus dijalani dan ditelan karena suatu komitmen yang sifatnya definitif. Bukan komitmen bersyarat atau komitmen temporer. Komitmen bersyarat itu misalnya: Kalau komitmen perkawinan ini menghambat pertumbuhan spiritual maka boleh-boleh saja dibatalkan. Apakah benar komitmen itu yang menghambat pertumbuhan spiritualnya? Main sepakbola ada komitmennya 2 x 45 menit dan kalau seri diperpanjang 2 kali 15 menit. Kalau seri terus lalu pakai penalti. Komitmen perkawinan tidak ada batasan seperti itu. Sumpahnya justru dalam senang dan susah, dalam sehat dan sakit, dalam untung atau malang, sampai maut memisahkan mereka. Komitmen dengan sumpah ini apa cuma lips service yang dimarginalisasikan menjadi suatu komitmen kondisional dan bukan lagi suatu komitmen yang definitif yang diambil berdasarkan keputusan iman?
Bagaimanapun juga adalah hak setiap pasangan untuk menentukan bagaimana sikapnya terhadap komitmen bersama. Karena itu keputusan Dee - Marcel harus tetap dihargai sebagai keputusan eksklusif mereka. Tetapi tidak lalu berarti bahwa argumentasinya dapat diterima - atau perlu diterima oleh setiap orang bukan?

Anonymous said...

BALANCE
Your life is a gift and you havae come to unwrap the gift. In the process of unwrapping, remember to also save the wrapper.
Your environment, the situations around you, the circumstances in which you find yourself, and your body are the wrapping paper. when we unwrap, we often destroy the wrapping paper. We are in such a hurry that at times we even destroy the gifts. With patience and endurance, open your gifts and save the wrapping paper as well

european ashram, bad antogast,germany
dec 24,1997

haree said...

thanks for sharing.

sekedar berbagi rasa. saya lahir dan besar dalam keluarga yg mengambil langkah 'berbeda' dari Mbak Dewi. Ayah-Ibu masih berstatus suami-istri, tapi ya hanya sekedar status... tak ada hubungan, ngga' ada komunikasi.

dengan segala hormat kepada Ibu saya yang pernah bilang kalo langkah yang beliau ambil semata-mata untuk kami, anak-anaknya... agar bisa tetap sekolah, agar masih punya sebuah keluarga yang 'lengkap', menjaga warisan, dsb.

jujur saja saya tidak setuju dengan langkah itu. di sini, korbannya malah kami--anak-anaknya yang tiap hari disuguhi kepalsuan. sedih rasanya melihat kedua orang tua tak bisa 'mengembangkan' dirinya demi kami..

saya ngga membenarkan atau menyalahkan langkah Mbak Dewi.. setiap kasus unik dan ngga bisa disamakan.. dan yg juga penting: setiap kita punya tingkat kesadaran yang juga beragam, jadi sebanyak apapun kalimat yg dipakai untuk menjelaskan pilihan kita tetap aja ngga akan bisa 'memuaskan' semua orang. :)

tetap semangat, Mbak Dewi...

Salam,
MH

Dhea said...

Klo saya... pada masa2 berat seperti itu hanya bisa pasrah ke Tuhan saja. Karena saya yakin... Tuhan sayang, dan memberikan yang terbaik untuk umatnya. Walaupun seberat apapun itu..

uwa said...

Saya berfikir tentang manusia sekarang, kayaknya mereka lebih banyak mencari daripada mensyukuri??. "Berhenti mencari, maka kau akan menemui" (Dee dalam Akar).

Adakalanya otokritik saja tidak cukup sebagai pengendali, dan manusia terus saja mencari tanpa tahu apa yang hilang.

Mbak Dee apa pun kondisinya sekarang, saya punya pesan dari seorang kawan : kapan PARTIKEL selesai?, hatur nuhun.

Anonymous said...

just live and let live, dee.
ribet amat ya?
life is cruel, don't keep making excuses.
cheers!

dejavu said...

good story.......good luck

Ade Alifya said...

mbak Dee,
mbak dan marcell adalah pasangan selebritis yg menginspirasi saya.

dari awal saya yakin, mbak pasti punya pertimbangan cerdas dibalik keputusan ini.

apapun, ini tidak akan mengurangi rasa hormat dan kagum saya sama mbak juga sama mas marcell.

God Bless Both of U!!

inKa said...

@Dee
Saya turut gembira dee telah menemukan sesuatu hal yang dee rasa harus dilewati..

Selamat Yah...

Maap Sebelumnya..
Jujur waktu denger kabar perceraian dalam hati saya berkata "waduh.. gimana karya2 dee ntar.."

Saya merasa takut kehilangan itu..

mungkin ego dalam hati saya...

dan saya berharap dee masih terus akan berkarya..


dan saya berdoa buat keenan supaya nanti suatu saat bisa menemukan paradigma yang tepat untuk perpisahan orang tuanya agar bisa membahagiakan dirinya sendiri....

^_^v

sate ayam said...

Demikianlah Anicca yang didengungkan oleh Buddha lebih dari 2500 tahun silam. Kita semua tahu sampai pada suatu titik, kadaluarsa adalah sesuatu yang mutlak. Tetapi makhluk itu bukanlah bernama manusia bila dia menyerah pasrah pada kenyataan akan kadaluarsa tersebut.

Saya merasa pendapat Dee soal kadaluarsanya hubungannya hanya sebuah upaya berlari ke dalam sebuah cangkang bernama self defense. Mencari excuse yang lebih tinggi dari sekadar excuse biasa.

Nah.... intellectual excuse mungkin kata yang cocok. Seorang Dewi Lestari tentu akan memiliki bahasa yang berbeda dengan seorang Dewi Persik untuk mengumumkan sebab perpisahannya.

Bila kita hanya pasrah pada kenyataan bahwa semua hal adalah ada akhir, pertanyaan terbesar yang timbul adalah mengapa kita memulai dari awal-awal sekali? Sudah tahu akan mati mengapa pilih hidup? Disinilah letak distinctive dari makhluk bernama manusia dengan makhluk yang lain, dan titik inilah jelas membedakan kita dengan seekor Kijang.

Mengapa Dee bisa sampai pada sebuah titik harus menganalogikan diri dengan seekor Kijang? Bukan sebagai Harimau? atau menempatkan dirinya sebagai manusia yang mengamati perburuan tersebut dengan cekatan melalui sebuah kamera yang kemudian mengemasnya dalam "Earth".

Manusia menciptakan peradaban sebagai upaya untuk mengontrol ketidakberdayaan dirinya dalam hukum alam. Dan sampai sekarang, manusia terus mencari obat melawan kadaluarsa pada dirinya.

Di dalam peradaban tersebut manusia menciptakan berbagai perangkat untuk mengendalikan alam dan dirinya serta sekitarnya (orang lain), salah satu adalah bernama PERNIKAHAN. Dee bukannya sudah memutuskan terlibat dalam permainan bernama peradaban manusia. Dan sudah melangkah demikian jauh ke dalam level bernama pernikahan. Bila dibagi dalam kuartal, boleh dibilang kuartal kehidupan ke-3 dari 4 kuartal telah dilalui.

Menurut pendapat saya, tanpa ingin menjustifikasi siapapun. Pernikahan adalah komitmen. Bukankah bukan fate atau destiny yang membuat dua manusia bisa menikah. Tetapi pertimbangan demi pertimbangan yang kemudian berujung kepada satu keputusan. Satu keputusan yang tidak lain adalah wujud sebuah komitmen untuk maju berdua melanjutkan perjalanan dalam peradaban manusia. Bila komitmen sudah dibuat, maka semestinya dipertanggungjawabkan sampai kehidupan ini kadaluarsa. Bukan malah komitmennya yang kadaluarsa.

Apakah logis kalau saya terlahir sebagai anak gelandangan sebatang kara, hidup jauh di bawah garis kemiskinan, lalu saya mencapai sebuah penyadaran bahwa hidup saya sudah kadaluarsa? Lalu saya sudah sepantasnya bunuh diri? Hanya karena sesuatu yang tidak bisa dijelaskan berbunyi di kepala saya (baca:insting) menyuruh saya demikian?

Biarpun saya seekor Kijang, hal itu tidak akan pernah saya lakukan. Mengapa?

Deep down inside, binatang atau manusia hanyalah hidup memenuhi egonya sendiri. Kita akan melakukan hal yang kita senangi dan menjauhi hal yang tidak menyenangkan bagi kita. Bila kita sudah merasakan ke-tidak-bahagia-an akan sesuatu maka kita akan menjauhi atau menendang jauh sumber yang membuat ketidaknyamanan hati tersebut. Dan yang jelas sumber penyebab tersebut tidak akan pernah kita akui berasal dari diri kita sendiri (walau yang merasa gerah adalah hati sendiri), melainkan hal lain atau orang lain yang harus dikorbankan demi membuat rasa gerah di hati sirna.

Mengapa tidak kita obati dulu hati masing-masing? Daripada mencari pembenaran akan tindakan kita menendang jauh masalah demi menenangkan ego?

Anonymous said...

menurut saya sih titik titik totol totol...budak leutik nyo'o botol..

empat kali empat sama dengan enam belas...sempat tak sempat kalau bisa dibalas...

dan jangan lupa tujuh kali tujuh sama dengan empat puluh sembilan...setuju tidak setuju yang penting penampilan..

Anonymous said...

Dee..

Sependapat kalo semua ada masanya dan perpisahan tidak ada hubungannya dengan karma. banyak yg berpikir bahwa kalau kita memutuskan hubungan maka kita akan pst akan dibalas hal yang sama. Tapi setelah aku menelaah dan berdiskusi dengan bhante, aku menemukan jawaban yg sama dengan dee.

Celestine propechy salah satu buku yg membuka wawasan ttg hubungan antar manusia.

Lalu dee, apa makna dan tujuan dari pernikahan? ini yang menjadi pertanyaan besar utkku (kalau ada perceraian?).

Thanks dee dan aku tau dee adlh seorang yang bijak dengan keputusannya.
Gudluck

Anonymous said...

:) sy tau kesadaran itu ada disana. dan sy nggak punya hak untuk komentar macammacam ataupun ikutcampur urusan mbak dee.
tp sy pgn nulis: wish you all the best :)

~Ps. anjing sy tetap menolak jadi vegetarian.. hehe.~

SIWA BUDDHA said...

Salam Damai dan Cinta Kasih... ,

Salam kenal mbak Dewi Lestari...

Yang tahu hal yang baik bagi diri kita adalah diri kita sendiri.

Keputusan yang telah diambil Mbak Dee tentu merupakan yang terbaik... .

Penuh dukungan dari kami mbak... .

SEMOGA SELALU BERBAHAGIA... ,

Salam Damai dan Cinta Kasih... .

novbrian said...

Masalahnya, konsep perceraian ada jelas dalam konteks institutif dan agamis (tidak perlu menyebut nama agama). Bukan begitu?

Apakah kata-kata 'sehidup semati', 'sampai maut memisahkan', atau apapun simbol estetis yang mengikat dua orang di sebuah pernikahan adalah hanya sedangkal persatuan tanpa esensi jasmaniah yang akan harus dipertahankan selama-lamanya?

Saya rasa Tuhan, siapapun Tuhan kita, tidak sedangkal itu.

Saya dukung Dee dengan segala keputusannya. Thanks for sharing, Dee.

awan said...

Dee...

Rada kaget juga 'akhirnya' pasangan ideal (secara kasat mata ya) berpisah..
Klo ada kalimat : say goodbye is just like say hello.. mungkin hanya sedikit orang yang bisa menerapkan itu, karna say hello mengacu pada harapan akan adanya pengalaman baru sementara say goodbye lebih kepada mencoba menghapus segala pengalaman yang pernah ada atau menerimanya dengan lapang dada..
Kita 'orang luar' gak pernah tau apa yang ada di pikiran Dee & Marcell selama menjalani instansi yang kita sebut pernikahan itu...
Ibarat rasa buah durian gak seseram tampak luarnya..

Pernikahan bukanlah awal hidup, pun perceraian bukanlah akhir dari segalanya.. It's just a matter of moment in life..
Sempet surprise juga liat tulisan Dee soal perpisahan.. Kesehatan hati dan jiwa emang nomer satu! You rock, Dee!

Pun sempat saya berpikir tentang ungkapan Tuhan adalah ciptaan manusia, Tuhan diciptakan manusia untuk kekuatan hati dan jiwa nya.. menciptakan sesuatu yang segala maha, sehingga manusia ada batasan dalam bertindak, berpikir dan berinteraksi.. plus segala sesuatu yang belum ada jawabannya bisa dijawab dengan satu kata itu "Tuhan".. Ekstrim yak?
Jadi kalo 'cuma' momen perpisahan dalam lembaga pernikahan.. piece a cake!

Saya sih gak mau ucapin apa2.. baik itu ucapan duka.. ucapan selamat or yg laen2.. karna saya yakin.. Dee udah sehat hati dan jiwanya saat ini..
Cheers!

Anonymous said...

Aku jenis orang yang suka dengan tantangan. Pernikahan adalah tantangan selain sebuah komitmen. Bagaimana aku bisa menyelesaikan skenario yang diberikanNya untukku untuk aku mainkan dengan baik dan secara sepenuh hati. Memenangkan pertandingan yang sudah disiapkanNya untukku agar bisa aku menangkan. Mengikuti alur dimana telah disiapkanNya seseorang yang setiap saat sangat "bersedia" untuk mengasah aku dengan alat asahnya yang super tajam agar aku menjadi "sesuatu" seperti yang sudah Dia rencanakan.
Pada saat "rasa" mulai hilang, aku tinggal meminta pada yang Empunya rasa. Pada saat kesabaranku mulai hilang, aku tinggal meminta pada yang Empunya sabar.
Semua tinggal bagaimana aku bisa jadi "rekan" bagi Dia, untuk memenuhi setiap tujuan penciptaanku.
Bukan begitu????

Retno di Surabaya

I-Think-Oke said...

Saya tidak akan memberi komentar apapun, karena Mbak benar, bahwa bahagia atau tidak kitalah sendiri yang paling tahu. Anda tetaplah seorang pribadi yang saya kagumi dan makin kagum sejak saya pernah interview Mbak lewat telepon (masih ingat Anda ditelepon seorang reporter dari Surabaya?). Semoga tetap sukses dan tetap berkarya

Ayu said...

Dee,
You have made up your mind about the divorce, so there is nothing to comment about. Saya di sini hanya ingin memberi sudut pandang lain bagi pembaca 'tulisan Dee ttg kasus divorcenya'. Life always has a choice, but death and birth is not our choice.They are God's grace. Bila Dee and Marcel memutuskan untuk menerima kekadaluwarsaan hubungan mereka, it's their choice. Walaupun sebenarnya bisa saja mereka memutuskan untuk mengingat kembali apa yang membuat mereka menikah dulu. Dengan kerendahan hati, memutuskan untuk memulai lembar baru dan meneruskan perkawinan. Karena perkawinan itu berbeda dengan pacaran. Pacaran kita hanya menyatakan suka dan sayang kepada pasangan kita, tapi perkawinan, regardless the religion, kita berjanji kepada Tuhan bahwa kita akan setia, mencintai pasangan kita dalam suka dan duka.

Anonymous said...

Sebenarnya saya sangat menyayangkan hubungan kalian bisa kandas di tengah jalan, karena saya pengagum kalian berdua. Kalian berdua terlihat begitu serasi dan pada waktu perpisahanpun kalian teap mesra.
Tapi biar bagaimanapun hubungan tidak dapat dipaksakan apabila kalian telah memutuskan apa yang aklian anggap jalan terbaik dalam kehidupan perkawinan kalian.
Sukses selalu buat Dee & Marcel...

Renni said...

Mbak Dee, tulisan mbak seperti menerjemahkan apa isi kepala saya tentang perpisahan. Sebagai orang yang pernah merasakan perpisahan, persis seperti itu lah yg saya rasakan. Thank u.. mudah2an hidup selanjutnya menjadi jauh lebih baik.

kebhoganteng said...

kadang bahkan pada umumnya pikiran orang sering mengkambinghitamkan takdir, kutukan, malah secara ndak langsung Tuhan atas segala kejadian yang terjadi terutama penderitaan, tanpa pernah menyadari apa yang pernah kita perbuat pasti ada akibatnya

ronitoxid said...

mungkin terlalu berebihan aku membahasnya disini
Hanya karena logika tak selamanya jadi dewa
dan perihnya perasaan tak selamanya menjadi penderitaan

Bukankah hidup harus mulai belajar dari rasa pahit, bukan semata mencecap kebebasan dan sebuah independensi logika yang terkadang menjadi terlalu berlebihan


maka,
memilih mana mempertahankan perih pernikahan sakral, atau memilih egoitas pribadi atas nama kebebasan ?


Maaf
aku pengagum terbesarmu
maka aku rasa tidak layak bagiku untuk memujimu


(just to anyone who wanna share a word with stupid me


http://ronitoxid.multiply.com/journal/item/277/P.E.R.C.E.R.A.I.A.N

tan_intan said...

wow.. membaca tulisan mba Dewi dan 182 comment lainnya benar-benar... melelahkan! tapi sangat worth it, begitu banyak pandangan dan sudut pandang tentang masalah 'beginian'.
komenku cuman: sabbe sankhara anicca. Semoga ketika aku harus menghadapi sesuatu seperti ini, aku tetap ingat kumpulan cerita-cerita di blog ini. terima kasih buat para 'komentator' terutama mba Dewi.

hadidot said...

dee, saya dapat tulisan ini dari kiriman email teman. terus terang saya tidak pernah tahu blog anda. saya langsung search di google dan akhirnya saya end up disini menulis komen ini.

bener banget apa yg ditulis, saya juga mengalami perpisahan secara baik2 sama pacar saya,karena kami berdua sadar,bahwa "sudah saatnya berpisah",mungkin kami akan kembali lagi bersama, mungkin juga tidak. apa sih yg tidak mungkin di dunia ini? saya tidak pernah menutup diri untuk keduanya.

kebetulan mantan pacar saya selalu menggantungkan kebahagiaannya secara eksternal kepada pasangannya,dan saya bilang, saya tidak mau menanggung beban itu ,beban yang terlalu berat buat saya, yaitu menjadi sumber kebahagiaannya. kebahagiaan adalah milik masing2 pribadi, dan merupakan tanggung jawab pribadi,bukan untuk diserahkan kepada orang atau sesuatu yang lain.

mungkin "keutuhan" yang dee maksud adalah kebahagiaan pribadi atau kedamaian hati. memang benar,kebetulan saya juga mendalami yoga,dan di dalam yoga,kita diajarkan untuk melihat kedalam agar bisa bahagia dengan benar. the fact is kita tidak butuh apapun dan siapapun untuk bahagia. cukup dengan hidup dan menjadi diri kita sendiri saja,menerima kelebihan dan kekurangan diri secara total,kita sudah bisa bahagia.toh hidup sebagai manusia saja sudah luar biasa mewah bukan? bisa merasakan cinta dan tangisan. itu juga suatu berkah. mau hidup sebagai orang kaya atau miskin,ganteng atau jelek, itu semua tidak penting, yg lebih penting adalah kesempatan hidup jadi manusia di dunia,untuk dapat merasakan apapun bentuk sedih ,senang,marah. bagaimana jika kita hanya hidup jadi tumbuhan? terlalu mewah bukan menjadi seorang manusia dari kacamata tumbuhan?
ah saya jadi terlalu banyak bertanya.

anyway, semoga Tuhan menguatkan anda dalam perjalanan ini,remember : what doesn't kill you only makes you stronger.

pasti ada rencana Tuhan yang baik dibalik semua ini, everything happens for a good reason right?

salam kenal dee,saya seorang pengagum cara berpikir anda yang berbeda

-didot-

Anonymous said...

semua orang punya sudut pandang masing-masing. begitu juga keinginan dan kebutuhan. sesuatu yang kita anggap fundamental dan penting, belum tentu sama dengan orang lain.

saya pikir semuanya kembali pada itu. apapun alasannya, tinggal memilih saja, mau mengikuti perasaan atau logika. kebahagiaan sendiri atau orang lain. keinginan sendiri atau orang lain.

setiap pilihan punya konsekuensinya masing-masing. itu yang haru slebih dipikirkan;)

dhania said...

saya pengagum setia supenova, filosofi kopi dan blog ini.

garis besar dari komen-komen diatas jelas :
bentuk kepedulian/care terhadap dee
(hehehe...jadi mirip sama ibu-ibu yang beli C&R soal dewi-marcell juga, trus nggosip, komentar, cuma bedanya media-nya lain, lebih intelek, bahasanya bisa lebih abstrak)
kenapa sih kemudian orang banyak menjadi peduli : mau tidak mau, suka tidak suka, ketika seseorang sudah dilabeli 'public figure', konsekuensi-nya adalah masuknya ruangan privasi menjadi ruang publik (yang pada akhirnya menjadi sebuah bisnis bernama infotainment).
jadi tidak bisa disalahkan untuk apapun komen2 diatas, sama kita juga tidak bisa men-judge apapun keputusan dee.

Jadi buat dee : statement apapun, akan berimplikasi sama seperti koin dengan 2 sisinya.

THE SHOW MUST GO ON DUDE :)

rgds
dhani

Anonymous said...

segala sesuatu memang akan ada ajalnya, karena keabadian hanya ada pada kehidupan setelah mati. that's what I believe in.

Anita M. said...

Mbak Dee... i really love your thoughts and i agree with most of your theories. I can feel them cause thats what i believe too. It's beautiful. The earth should be filled with more people with great minds like yours. Then world peace will become reality.

Ms said...

Dear Dewi, terlepas dari saya setuju/tidak setuju dgn pandangan Dewi ttg hidup-perpisahan-dll, tapi 1hal yg berkesan & penting bagi saya: Dewi berani jujur & menjalankan apa yg Dewi yakini -- It's a big thing. Saya berharap agar yg terbaik saja (sesuai pandangan Dewi & Marcell) buat Dewi, Marcell & Keenan. Oya saya juga suka dgn metafora yg Dewi gunakan, membuat saya mengerti pemikiran Dewi. Juga kerunutannya. Salam,

Tina said...

D,

Salut!! Bukan benar atau salah yang menjadi permasalahan. Tetapi, ketika berani jujur terhadap diri sendiri dan menjalani keputusan yang diambil.

Good luck for D, Marcell and Keenan.

zaky muzakir said...

Saya rasa Dee tidak sedang membuktikan apapun dalam hubungan dia dan Marcell dan si kecil Keenan. Jadi pertanyaan kenapa harus cerai; kenapa tidak mempertahankan pernikahan; dsb, tidak relevan.

I love dee

Anonymous said...

D,

Semuanya bukan menjadi benar atau salah. Tapi belajar untuk jujur pada diri sendiri dan menjalani keputusan yang diambil. Apa yang terbentang didepan tidak pernah kita ketahui, yang bisa dilakukan hanyalah berusaha sejauh yang kita mampu.

Good luck for u, Marcell, and Keenan.

zaky muzakir said...

Tak mengikuti ego memang sering TERKESAN paradoks. Dalam kasus perceraian, misalnya. Masyarakat kadung menilai bercerai adalah keputusan egois orang tua, yang pada akhirnya anak menjadi korban.

Bertahan dalam sebuah pernikahan, disebut keberhasilan. Melalui sebuah persidangan perceraian tapi kemudian rujuk, disebut kemenangan. Dan suami-istri yang tidak-jadi-cerai ini dinilai berhasil mengalahkan ego masing-masing.

Tapi di saat bersamaan, bila mempertahankan pernikahan karena tak ingin disebut egois adalah juga keputusan egoistis.

Apakah keputusan Dee bercerai egoistis? Hanya Dee yang tahu. Bahkan, menurut saya, Marcell pun yang terlibat langsung tidak akan pernah tahu; apakah keputusan Dee itu egoistis atau tidak. Begitu pula keputusan Marcell (menyetujui?) bercerai.

Baik Marcell maupun Dee tidak punya kapasitas untuk menilai keputusan pasangannya egoistis atau tidak. Kalau dua pihak yang terlibat langsung saja tidak punya kapasitas menilai satu sama lain, apalagi infotainment? Siapa elu? :)

Salam,

Zaky Muzakir
Scriptwriter Infotainment Juga (yang baik hati tentunya, hahaha)

Gusnelia said...

Mba' Dewi,

Saya baru saja mampir ke blogmu dan membaca catatan perpisahan. Saya tidak bermaksud dan tidak ingin ikut campur dalam masalah yang sedang mba' hadapi, juga tidak ingin menilai orang lain.

Membaca catatan itu mengingatkan saya pada tulisan saya sendiri. Saya akan senang sekali kalau mba' ada waktu berkunjung ke blog saya dan membaca tulisan saya yg terakhir diposting yg berjudul "Kisah Sepasang Rel Kereta". Adalah manusiawi kita membuat kekeliruan2 semasa hidup kita, namun sebisanya suatu kekeliruan itu cukup kita buat satu kali saja. Saya sendiri tidak takut atau malu membuat kekeliruan sepanjang bukan untuk hal yang sama karena artinya kita telah gagal memetik pelajaran dari pengalaman kita sendiri.

Blog saya di www.gusnelia.blogsopt.com. Tulisan itu saya buat tidak untuk menyinggung siapapun dan semata hasil renungan saya sendiri setelah terinspirasi buku 'the zahir'. Semoga mba' menyempatkan mampir. Terima kasih.

Nela Dusan

Nwrite said...

Mbak Dee perkenalkan saya Yana, tulisan-tulisan Anda selalu menginspirasi dan menyadarkan saya akan banyak hal. Anda memberi saya sudut pandang yang baru dalam memahami hal-hal yang pernah saya pelajari tapi tidak begitu saya mengerti.

Satu hal yang tidak saya mengerti adalah tentang pernikahan. Kadang saya berdebat dengan orang tua kenapa saya harus menikah. Saya juga tidak mengerti kenapa setiap orang antusias dengan yang namanya pernikahan. Saya pikir itu justru merepotkan, tidak logis maupun empiris. Katanya atas saksi tuhan tapi kenapa tuhan tidak menghentikan pernikahan jika dia tahu kalau banyak yang akan gagal (maaf jika tuhan disini saya tulis dengan hurup kecil karena saya sendiri tidak meyakini tuhan yang personal)

Dalam kasus Mbak Dee saya pikir jika kasih dan persahabatan Mbak dengan Marcell tulus seperti itu maka pernikahan tidak berarti apa2 hanya formalitas di atas kertas. Selama kasih menyertai hubungan seperti itu saya rasa itu lebih baik daripada terikat untuk saling manguasai. Bandingkan dengan orang yang nikah kemudian melakukan KDRT, atau yang cerai kemudian nikah lagi berulang-ulang (dalam pandangan saya ini hanya seks bebas yang disahkan dengan pernikahan). Pernikahanpun sekarang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan birahi (semoga Mbak ngerti karena saya tidak pandai merangkai kata,hehe).

Maksud saya disini adalah ingin bertanya karena benar-benar tidak mengerti. Tradisi mendesak saya untuk itu dan sayapun tidak mau makin membingungkan orang tua, tapi saya mau pada saatnya nanti saya bisa menjalaninya dengan tulus bukan dalam ketidakmengertian seperti ini. Apabila Mbak ada waktu saya sangat berharap dapat sudut pandang yang lain tentang ini dari Mbak Dee karena setiap jawaban yang saya terima selalu memunculkan pertanyaan lain. Maaf kalau terlalu panjang dan tidak koheren.

Mengenai Keenan saya rasa karena dididik oleh seorang Dee dia akan menjadi anak yang bijak. Saya sendiri berasal dari keluarga yang berpisah tapi saya bersyukur karena kedua orang tua saya bahagia dengan dirinya masing-masing. Dalam keluarga seperti ini anak akan cenderung menjadi seorang penyendiri. Dalam kesendirian saya justru banyak mendapat ilham.

sisesu said...

saya setuju. selalu belajar memahami hikmah hidup yang diberikan Tuhan terhadap kita. apapun yg terjadi, pasti ada alasannya. semoga alasan Tuhan kali ini membuat Dee, Marcell dan Keenan bahagia. love your blog, as always.....

ditt said...

akankah ada kasih sayang yang sifatnya emotionless hanya mengandung kasih dan sayang di antara 2 manusia atau lebih...

akankah ada ikatan tanpa pamrih mengikat dengan tulus dan memberikan rasa aman kepada anggota ikatan...

akankah ada cermin sebelum kita melangkah, petunjuk kita akan menoleh, panduan ketika kita akan menatap ke depan..

hidup ini bagai berjudi, all bet are on you.. follow the result ... follow the heart...

semua sebab pasti berakhibat, semua akhibat pasti muncul dari sebab, berkaitan, berpasangan, dan saling berhubungan, itulah duniawi yang nyata dan ada, sisanya milikNYA semata, in His mysterius ways...

selalu akan di coba kita semua untuk menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin ..

«Oldest ‹Older   1 – 200 of 324   Newer› Newest»