Tuesday, October 21, 2008

A Night With Vikram

A Night With Vikram


Minggu lalu (14/10) saya mendapatkan kesempatan langka. Sebuah jamuan makan malam di bilangan Darmawangsa bersama seorang penulis dunia yang sangat sohor: Vikram Seth.

Saat saya dan Reza tiba, sudah ada beberapa teman penulis yang berkumpul: Djenar Maesa Ayu, Richard Oh, Nirwan Arsuka, sang tuan rumah Rayya Makarim, dan teman-teman lainnya. Saya kangen mereka. Ada citarasa khusus yang selalu tercicip tiap teman-teman penulis ini berkumpul. Saya tidak bisa mengartikulasikannya. Yang jelas atmosfer ini sangat khas, terasa baik dalam topik obrolan maupun lelucon yang terlontar. Dan saya rindu itu.

Vikram datang bersama Janet DeNeefe, pemrakarsa sekaligus direktur dari Ubud Writer’s Festival yang mendatangkan Vikram ke Indonesia untuk pertama kalinya. Tak lama kemudian, Goenawan Mohammad pun muncul di pintu sambil melambaikan tangan. Lengkaplah sudah tamu undangan.

Makan malam diadakan di halaman belakang. Kombinasi indah antara langit dan siluet pepohonan menaungi kami. Namun berhubung ketersediaan waktu saya malam itu terbatas, terpaksa saya buru-buru ikut menyodok giliran bersama Richard untuk meminta tanda tangan Vikram di buku-bukunya. Richard membawa setumpuk koleksi novel Vikram miliknya. Saya cuma punya satu: “An Equal Music”.

* Vikram & Richard Oh


* Vikram & Me

Pemandangan sureal pun terjadi. Vikram dan Richard bercakap-cakap lancar dalam bahasa Mandarin. Bergantian secara frantik, Vikram bicara dengan bahasa Inggris yang sempurna. Belakangan saya tahu dia pun bisa berbahasa Arab. Dan, tentu saja, Hindi. Vikram bahkan menuliskan nama saya dalam bahasa Hindi di atas tanda tangannya.

Dalam pembicaraan yang terbilang cukup singkat, hanya sekitar sejam, saya merasakan kesan yang mendalam. Anehnya, kesan ini tidak jelas tentang apa dan bagaimana. Pembicaraan kami terbilang ringan-ringan saja, bahkan konyol. Kami ngobrol seputar kebiasaan orang Batak yang gemar memberi nama “ajaib”, sekilas tentang kisah pewayangan, dan sekelumit aneka pengalaman Vikram sebagai seorang penulis kelas dunia.

Namun, bagi saya ada satu hal yang mencuat dari sosok Vikram Seth: rasa ingin tahu. Saya mengamati bagaimana ia begitu fokus sekaligus luwes saat bercengkerama dengan kami satu per satu, berusaha menghafal nama kami dan menelusuri maknanya, bagaimana ia lebih suka bepergian sendiri karena itu membuatnya lebih leluasa berinteraksi dengan orang-orang, bagaimana ia tahu bahwa ada budaya Minang yang bertetangga cukup dekat dengan budaya Batak—dan hal ini ia ketahui hanya lewat obrolan dengan sopir taksi yang mengantarnya ke Darmawangsa.

Rasa ingin tahu seperti itulah yang selalu berusaha saya artikulasikan saat ditanya: apakah modal terbaik seorang penulis? Seorang penulis adalah petualang. Ia berjalan menuju tempat-tempat dalam dirinya dengan lebih rajin dan lebih eksploratif ketimbang turis biasa. Ia tidak mengambil “paket wisata” bersama serombongan orang banyak lainnya. Ia pergi sendiri, berbekal intuisi dan rasa ingin tahu, siap dengan risiko tersasar, gagal, dan jadi gembel. Ia mengamati, bergelut dan bergulat dengan pengamatannya, kemudian meramu dan menyajikannya bak seorang koki menyuguhkan hidangan terbaiknya.

Seorang penulis tidak mutlak memiliki kehidupan dan pengalaman pribadi yang serba luar biasa. Namun seorang penulis harus memiliki hasrat menggali yang luar biasa, yang menjadikan hal kecil sekalipun menjadi istimewa dan bermakna. Ia mampu menemukan mutiara dalam setiap pengamatan, dalam setiap penelusuran. Dan yang lebih penting, ia mampu menyampaikannya dengan jernih. Bukan untuk siapa-siapa. Tapi untuk dirinya sendiri. Seorang penulis berkata-kata bukan untuk melayani orang lain, melainkan untuk menuntaskan keingintahuannya sendiri terlebih dulu.

Amitav Gosh, salah satu penulis dunia yang juga pernah hadir di Ubud, pada salah satu sesinya berkata: “Pada dasarnya saya hanya menuliskan buku yang ingin saya baca.” Saat mendengar kalimat itu saya pun terpana. Dalam hati saya berseru: itu dia! Itulah yang selalu saya rasakan sejak pertama kali menyadari hobi satu ini. Seorang penulis selalu mengawali perjalanannya dari meniti diri sendiri. Jadi, tidaklah berlebihan jika dibilang bahwa menulis adalah perjalanan menemukan diri. Dan dalam perjalanannya, kita bisa tersesat, bahkan terpaksa merelakan kewarasan, citra diri, dan aneka bungkus “masuk akal” yang kita dapat dari lingkungan eksternal. Tersesat atau tidak, pada akhirnya perjalanan yang ditempuh seorang penulis adalah perjalanan tanpa tujuan. Apa yang kita temui dalam perjalanan itulah yang bermakna. Berisiko. Berharga.

Duduk di bawah pepohonan dan langit malam yang jernih, bersama para “petualang” lain, membuat saya sejenak menghela napas. Vikram berkata, salah satu kendala para penulis adalah mereka tak sempat lagi membaca. Saya sendiri mengakui itu. Membaca terkadang menjadi kemewahan atau sekadar bagian dari fantasi hari tua. Namun terkadang, membaca tidaklah terbatas pada teks di atas kertas. Udara ini, atmosfer ini, obrolan-obrolan ringan ini, gelas-gelas kosong yang minta kembali diisi… menjadi salah satu buku yang paling mengesankan yang pernah saya baca.

Sekelebat hadirnya seorang petualang bernama Vikram Seth, bersama sekumpulan petualang lain yang berceletuk dan terbahak bersama, sungguh membuat saya merasa perjalanan ini tidak sia-sia.

Begitu juga atas hadirnya Anda semua.


Read More ..

Tuesday, October 14, 2008

The Age of Ignorance

The Age of Ignorance


Delapan tahun yang lalu, saya menulis manuskrip “Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh” dengan sebuah harapan. Harapan yang lahir dari rasa sedih, amarah, dan frustrasi. Saat Ambon luluh lantak akibat perang berisukan agama pada tahun 1999, hati saya ikut remuk redam. Entah kenapa, konflik yang mengatasnamakan kebenaran dan Tuhan selalu membuat saya gerah. Terlepas dari isu politik apa di baliknya, sungguh menyakitkan bagi saya ketika seseorang mampu meneriakkan nama Tuhan saat menggorok leher sesamanya, ketika seseorang dirajam secara gotong royong atas nama agama.

Tahun 1999 juga merupakan tahun bersejarah bagi saya. Pada bulan Desember, untuk pertama kalinya saya “terbangun” dari mimpi panjang saya akan Tuhan dan segala kebenaran warisan. Untuk pertama kalinya, saya menemukan otentisitas yang selama ini saya cari-cari bagai ikan di laut yang bertanya-tanya keberadaan air. “Sesuatu” itu ada di bawah hidung saya, bersemayam dalam diri tanpa pernah saya sadari saking sibuknya menggapai ke luar. Malam pada tanggal 17 Desember, tabir itu terangkat dan “sesuatu” itu menunjukkan dirinya pada saya. Tak ada lagi keterpisahan.

Saya tidak akan pernah lupa momen tersebut. 27 jam berada dalam ekstase. Dan dunia berubah total bagi saya sejak saat itu. Segalanya tak lagi sama. Termasuk arti Tuhan dan kebenaran. Seusai titik puncak itu, saya pun kembali merenung dan bertanya: apa yang bisa saya lakukan? Apa yang bisa saya bagi? Dan pada tahun 2000, saya mulai menulis. Terbakar oleh harapan bahwa perubahan besar itu pasti akan datang, mengakhiri Kali Yuga yang merupakan zaman kegelapan batin, dan membangunkan semua jiwa yang sudah siap lepas landas. The great shift. The new age of consciousness. Gelombang kesadaran baru yang membawa dunia menuju pencerahan spiritual. Saya ingin menyumbang secercah riak, meskipun kecil dan lemah jika dibandingkan deru gelombang di samudera kesadaran yang tak berbatas ini.

Delapan tahun berlalu. Harapan itu masih saya simpan bagaikan mengantongi berlian mungil. Sesekali saya intip untuk melihat kilau cahayanya. Meski kadang mengusam dan menciut, saya tahu berlian tersebut masih tersimpan aman di kantong.

Seminggu yang lalu, saya menerima sebuah sms dari nomor tak dikenal. Isinya sebaris singkat caci maki. Sejenak saya bertanya dalam hati, apakah ini salah sambung? Atau ada teman saya yang iseng? Akhirnya saya menelepon nomor itu. Seorang laki-laki yang mengaku bernama Andi menjawab panggilan saya. Lalu saya bertanya, apa maksud dari sms-nya. Lantas mengalirlah keluh kesah kekecewaan dan kecaman dari orang yang saya tak kenal itu. Ia mengecam pilihan saya dan berdalih bahwa ia kasihan pada anak saya.

Saya tertegun. Dan akhirnya saya berkata padanya, keras: “Anda tidak mengenal saya, dan Anda berani menghakimi saya berdasarkan kesimpulan Anda sendiri yang bersumber dari berita yang Anda pikir benar padahal tidak, dan Anda bisa-bisanya beralasan kasihan pada seorang anak yang tidak pernah Anda temui dan kenali? Menurut saya, di sini yang terganggu adalah Anda. Bukan saya atau anak saya.”

Tak lama, ia meminta maaf, sejenak bahkan berbasa-basi menanyakan buku baru, dan pembicaraan kami pun usai. Saya menutup telepon dan seketika menyadari sesuatu: tangan saya gemetar. Saya marah. Saya murka. Merasa privasi saya diterjang dan diobrak-abrik. Orang itu datang ke teritori pribadi saya, berbekal asumsi yang ia rakit dari info sepotong, kemudian dengan gagah berani mengusung panji kebenarannya sendiri. Persis prinsip orang main hakim sendiri, tanpa ba-bi-bu merajam sang tersangka tanpa perlu memproses lebih lanjut. Senjatanya bukan batu, melainkan kata-kata. Merenungi itu semua dada saya pun sesak. Sesuatu bergolak sangat hebat.

Selama beberapa bulan terakhir, keadaan memaksa saya untuk menerima aneka justifikasi dari orang-orang yang tidak saya kenal. Mereka datang ke blog ini, atau bersuara dalam ruang mereka sendiri, tentang kehidupan dan pilihan saya—orang yang mereka pun tidak kenal. Dengan semangat berkobar mereka mengusung panji-panji kebenaran mereka, menyatakan perang atas “ketidakbenaran” yang mereka lihat, bahkan sampai mencuri foto pribadi lalu menyebarkannya seperti virus. Masih dengan perilaku serupa, institusi-institusi media nasional pun tak ketinggalan mengadopsi virus itu dengan segala keterbatasan dan kebelepotan mereka, hingga nilai akurasi dan faktualitas yang seharusnya menjadi kode etik media pun diabaikan. Beberapa bahkan sudah sampai ambang batas idiot.

Fenomena ini bukanlah barang baru. Ini adalah drama kemanusiaan yang terjadi di seluruh muka bumi. Dan jika kita sama-sama jujur dan berani bertanya: mengapa kita gemar infotainment? Mengapa kita menyukai koran merah? Mengapa kita begitu candu pada gosip dan tragedi? Mengapa kita diam-diam merasakan kepuasan saat orang bernasib lebih buruk dari kita? Mengapa kita merasa terganggu saat orang-orang yang kita pikir harusnya lempar-lemparan piring malah duduk semeja dengan manis dan tawa lebar? Jika kita berani bertanya dengan cukup dalam, barangkali kita menyadari bahwa kita ternyata kecanduan perang. Konflik adalah penjara yang membuat kita nyaman. Dengan alasan yang sama, manusia lantas menciptakan surga. Kita yang terbiasa hidup bak di neraka dan berbagi apinya bagai mengedarkan tongkat estafet, membutuhkan surga untuk jadi asuransi bersama. Kita perlu sebuah fantasi muskil yang baru bisa dicapai kalau kita mati. Tapi tidak sekarang. Surga bukan untuk dikonsumsi hari ini, bukan untuk dibangun di bumi. Di sini kita tidak boleh damai dan bahagia. Meski mulut kita selalu berkata sebaliknya.

Jika kita jujur, dapatkah Anda menyadari secercah kepuasan yang muncul saat Anda terbukti lebih bermoral daripada orang lain? Terbukti lebih normal dan sesuai kaidah orang banyak? Ada rasa aman di sana. Rasa nyaman, dan… rasa benar. Seumur hidup kita cari kebenaran itu. Dan kita berusaha mendapatkannya dari konsensus orang banyak, dari normalitas. Namun kita sering lupa bahwa konsensus itu pun dibentuk oleh orang-orang yang sama-sama mencari. Mereka yang menemukan tidak akan repot lagi menggalang massa demi mencari persetujuan.

Dua hari saya seperti orang patah hati. Percakapan telepon itu menjadi puncak kumulasi dari rasa frustrasi global saya atas kemanusiaan. Ia berhasil merenggut sebutir mungil berlian yang saya simpan selama ini. Dan saya dipaksa melihat kenyataan pahit bahwa perang itu ternyata masih berlangsung. Perang Salib atau kerusuhan Ambon, hanya masalah skala dan tempat. Esensinya tetap sama. Kita berperang setiap hari mengatasnamakan kebenaran, agama, dan Tuhan. Padahal apa yang kita perangkan hanyalah konsep kita sendiri, isu pribadi kita sendiri, yang tak berani kita selesaikan di dalam hingga kita harus memproyeksikannya keluar, ke orang-orang yang tidak kita kenal. Hanya karena kita pengecut. Kita tidak berani meninjau peperangan di dalam diri. Menggapai keluar lebih mudah. Menilai dan menghakimi orang lain lebih memuaskan daripada mengevaluasi ke dalam.

Mata saya dipaksa untuk melihat bahwa bandul kemanusiaan dari zaman batu sampai hari ini hanya bergerak dari kanan ke kiri dan tak ke mana-mana lagi. Era kesadaran baru… kebangkitan spiritual… semua rasanya hambar dan ilusif. Perang ini terus berlangsung dan tak akan pernah selesai.

The greatest enemy is not evil, but ignorance. And as far I as can see, we’re not living in the age of new consciousness. Not even close. We’re living in the age of ignorance, as we’ve always been, and will always be.

Duka cita yang mendalam ini barangkali hanya untuk sementara. Namun hari ini saya ingin mengucapkan selamat tinggal pada berlian mungil itu, yang meski juga sementara, cahayanya sempat menggerakkan saya untuk berharap dan berkarya.

Kini izinkan saya pamit dan berduka.
Read More ..