Wednesday, December 31, 2008

Menyantap "Mini M&M" Setiap Rabu

Menyantap “Mini M&M”
Setiap Rabu




Sejak kecil, saya punya masalah dengan rutinitas. Semasa bersekolah, saya sering bertanya-tanya sendiri: kenapa saya harus berada di tempat yang sama, pada waktu yang sama, dan pada hari-hari yang sama, terus menerus? Akibatnya, saya sering membuat “variasi” sendiri, misalnya dengan bolos, mabal, datang terlambat (didukung lagi oleh penyakit malas bangun pagi yang kronis). Itulah salah satu alasan utama saya memilih profesi yang saya jalankan sekarang. Profesi dalam bidang seni memang cenderung berskema lebih chaotic, dengan pola waktu dan aktivitas yang berubah-ubah. Meski kadang bermusik dan menulis pun butuh rutinitas, tapi biasanya tidak berlangsung dalam waktu lama.

Namun, sekarang ada satu rutinitas baru yang tengah saya jalankan. Tentunya ini jadi fenomena langka. Sepanjang ingatan saya, tidak banyak rutinitas yang saya pilih melalui inisiatif sendiri, lebih banyak karena terpaksa (mis. sekolah). Rutinitas baru ini tak punya judul resmi. Berlangsung setiap hari Rabu selama dua jam di Citrus Café, Jakarta Selatan. Ada yang menyebutnya Arisan Rabu Hening, ada juga yang menamainya Meditasi Rabu, atau, dengan konotasi bercanda, Sekte Rabu.

Kegiatan meditasi Rabu itu sendiri sudah berlangsung sejak Mei tahun lalu. Dan, penyelenggaranya sendiri, Reza Gunawan, sudah saya kenal cukup lama, dari mulai kami berteman sampai sekarang menjadi suami. Namun baru enam bulan terakhirlah saya muncul rutin di sana, tepatnya setelah mulai pindah ke Jakarta, mengikuti satu setengah jam kegiatan meditasi yang bentuknya bisa macam-macam, dari mulai duduk diam sampai obrol-obrol biasa.

Entah mengapa, pengalaman di satu Rabu bulan September terasa ekstra berkesan, sampai-sampai menggerakkan saya untuk menuliskan artikel ini. Malam itu, kami hadir bersepuluh. Duduk bersila membentuk lingkaran di atas lantai kayu dengan lampu temaram. Kaca besar yang mengelilingi kami sesekali memantulkan lampu kendaraan yang lalu-lalang, terkadang mengantarkan bunyi knalpot sayup-sayup. Reza lalu mengajak kami untuk melakukan semacam meditasi vocal toning, yakni membunyikan bunyi “a” selama lima menit. Bunyi “a” merupakan satu-satunya bunyi yang resonansinya menyentuh otak dan seluruh ujung saraf tubuh. Pusat utama bunyi ini terletak di chakra jantung (anahata), yang berhubungan dengan rasa syukur, ikhlas, dan kasih sayang. Dalam kehidupan sehari-hari, secara alamiah kita pun memproduksi bunyi ini untuk mengekspresikan kelegaan, pelepasan emosi, atau puncak pengalaman rasa.

Selama kami menyuarakan bunyi “a” dengan mata terpejam, saya merasa ketegangan batin maupun fisik mulai dikendurkan. Seakan lewat bunyi tersebut, tubuh dan batin saya menumpangkan “sampah-sampah”-nya untuk dialirkan keluar. Bunyi sederhana itu pun terdengar sakral dan penuh kekuatan. Sekalipun hanya bersepuluh, rasanya kekuatan suara yang keluar berlipat dari jumlah peserta yang hadir.

Lima menit berlalu, ditandai dengan bunyi bel. Kami pun serempak berhenti. Lima menit berikut kami lalui dengan keheningan. Dan hening singkat ini terasa dalam. Berkualitas. Rasanya seperti meditasi setengah jam. Terbersit rasa tidak rela ketika bel berbunyi karena inginnya memejamkan mata lebih lama lagi. Kesan serupa ternyata juga muncul bagi banyak peserta lain. Semuanya sama-sama merasa lima menit terlalu singkat.

Babak selanjutnya dimulai. Kali ini kami melakukan gibberish selama lima menit. Gibberish adalah bebunyian acak yang kita keluarkan secara spontan. Seperti celoteh bebas yang kerap dilontarkan anak-anak. Yang penting dalam ber-gibberish adalah kontinuitas (tidak boleh berhenti) dan tidak menggunakan kata atau kalimat yang bermakna.

Ini merupakan pengalaman pertama saya gibberish berkelompok. Ternyata efeknya sangat dahsyat. Saya merasa kekuatan gibberish untuk mengeruk “sampah” berkali lipat lagi dibandingkan lima menit membunyikan “a” tadi. Segala bebunyian aneh yang seringkali mengocok perut sudah pasti kita dapatkan selama ber-gibberish. Anehnya, meski terdengar seperti kendurian pasien RSJ, kor ceracau tak beraturan dan menggelikan itu pun terasa sakral. Bahkan pada saat tengah-tengah melakukan gibberish, saya merasa sangat rileks dan damai.

Lima menit berikut kembali hening. Dan lagi, lima menit ini terasa dalam. Jauh lebih dalam. Seusai babak kedua ini, saya sempat termenung. Menyadari betapa rindunya saya pada retreat meditasi, berhari-hari menyelam dalam sunyi, dan berefleksi ke dalam diri. Satu kesempatan yang sudah lama tidak saya cicip karena kepungan aktivitas dan tuntutan keseharian.

Babak terakhir adalah kombinasi antara gumam (humming) dan hening. Sama-sama lima menit. Humming di sini artinya menggumamkan bunyi “mmm” secara bersambung, bebas, dan spontan. Bumi ini sendiri diyakini mengeluarkan bunyi yang berupa gumaman, sehingga ketika kita melakukannnya, kita pun beresonansi kita dengan frekuensi Bumi. Dan saat dilakukan dengan berkelompok, bunyi ini memiliki efek sinkronisasi, mempersatukan.

Total kami bermeditasi tiga puluh menit. Malam ditutup dengan sharing mengenai kesan dan pengalaman kami selama berlatih. Saat saya berbagi, barulah saya menyadari betapa cemerlangnya rangkaian latihan sederhana tadi, dan betapa dalam manfaatnya bagi orang-orang produk zaman modern—termasuk saya—yang hidup dalam irama cepat dan pikiran yang terus menerus dibuat gelisah.

Sering saya mengamati orang-orang di sekitar saya; mulut yang balapan antara makan siang sambil bicara di ponsel, tak-tik-tuk jari jempol yang berpacu mengirim pesan singkat, teve yang terus-terusan berpendar dan bergaung. Tak terhitung banyaknya saya mendengar ungkapan: ‘gue kalo nggak kerja malah pusing’, ‘mendingan ketinggalan dompet daripada ketinggalan hape’, dan seolah seiring sejalan, ungkapan-ungkapan lainnya adalah: ‘pikiran gue kok nggak bisa diam, ya?’, ‘dikasih libur gue malah nggak bisa nikmatin,’ dsb. Jika kita dengan mudahnya menggandengkan diri dengan rutinitas bekerja dan berpikir, mengapa kita begitu sukar bergandengan dengan rutinitas diam dan stop berpikir? Mungkinkah kita sudah lupa caranya? Mungkinkah kita sudah lupa rasanya?

Saya teringat kejadian sebelum meditasi malam itu. Saya pergi belanja, dan anak saya, Keenan, menyambar sesuatu sesaat sebelum saya membayar di kasir. Kecepatan tangan si kasir tidak memberikan kesempatan pada saya untuk melihat dulu, bahkan menyetujui apa yang Keenan beli. Baru setelah sampai di rumah saya mengetahui bahwa dia membeli setabung permen cokelat “M&M”. Tapi kemasan “M&M” ini lebih kecil dari yang biasa saya lihat. Ketika saya buka isinya, menghamburlah warna-warni cokelat bersalut khas “M&M”, tapi kali ini dengan ukuran mini. Tidak ada catatan khusus dalam hati saya ketika melihat permen itu, cuma komentar pendek “lucu, ada ukuran sekecil ini” sambil mengunyah beberapa.

Ada kalanya, saking mendambanya retreat meditasi ke luar kota, saya cenderung melupakan atau mengecilkan makna latihan-latihan harian. Saking kepinginnya pergi ke tempat-tempat sunyi dan inspiratif seperti vihara di Mendut atau resort meditasi di Ubud, saya tidak memperhitungkan bahwa Jakarta pun bisa jadi oase bagi jiwa yang mendamba keheningan. Keinginan bermeditasi berjam-jam kadang membuat kita abai bahwa dalam sepuluh menit pun sebuah keajaiban bisa terjadi.

Jika retreat ke luar kota adalah sebalok besar cokelat, maka Meditasi Rabu ini ibarat permen cokelat “M&M”. Kesempatan mingguan bagi penghuni kota metropolitan Jakarta untuk menguras sampah batin dan sejenak berpulang ke ke kamar batin yang hening. Tapi khusus hari Rabu ini, saya berkesempatan mencicipi “M&M” mini, seri meditasi sepuluh menit yang ternyata mampu menghadirkan pengalaman luar biasa, yang tak kalah ampuh dengan porsi meditasi yang lebih besar.

Alangkah indahnya jika kita, masyarakat urban, selalu punya kesempatan untuk menarik diri dari aneka rutinitas dan kebisingan kota besar. Sayangnya, kesempatan itu tak selalu ada. Alangkah indahnya jika kita selalu berkesempatan dan berdisiplin untuk meluangkan sejam setiap harinya untuk duduk diam dalam hening. Sayangnya, kesempatan dan disiplin itu pun tak selalu hadir. Sepuluh menit yang saya cicip hari ini menjadi pilihan oase yang rileks dan realistis.

Meski terkenal punya masalah dengan rutinitas, saya harus mengakui yang satu ini: keheningan adalah rutinitas yang saya anggap esensial bagi kewarasan dan keselarasan diri saya. Dan Meditasi Rabu menjadi setabung cokelat M&M yang senantiasa ingin saya hadirkan di kantong.


* Informasi Meditasi Rabu bisa disimak di situs True Nature.
Terbuka untuk umum.

** Ilustrasi M&M diambil dari sini

Read More ..

Saturday, December 13, 2008

Membangunkan Pujangga Tidur

Membangunkan Pujangga Tidur


Sebuah ide membakar pikiran saya berhari-hari.

Apa gerangan yang membuat seseorang menulis? Apa yang sesungguhnya terjadi ketika seseorang memutuskan ingin jadi penulis? Apa yang ingin dicari seorang penulis? Dinamika apa yang sebenarnya terjadi antara penulis, pembaca, dirinya dan semesta raya?

Sudah cukup sering saya menjadi juri berbagai lomba penulisan. Ratusan naskah dari orang-orang yang ingin suaranya didengar, ingin suaranya menjadi pemenang… apakah hadiah yang mereka cari? Ataukah ada yang lebih dari sekadar piagam dan uang? Sudah cukup sering juga saya dimintai pendapat atas naskah seseorang. Dari mulai yang meminta endorsement sampai yang cuma ingin dibaca saja. Kepuasan apakah yang sebetulnya didapat dari menuliskan puluhan bahkan ratusan lembar itu? Apa yang memotori para penulis itu merangkai kata? Apa yang sebetulnya mereka ingin bisikkan, teriakkan, dan tangiskan?

Tak terhitung juga banyaknya pertanyaan yang terlontar pada saya, menanyakan tips menjadi penulis, cara menulis yang baik, cara menuangkan ide ke dalam tulisan, bahkan sampai tips mencari judul dan nama tokoh. Beberapa kali saya memang pernah memberikan pelatihan penulisan, tapi hanya untuk beberapa jam saja. Yang paling intensif pernah saya lakukan untuk UNAIDS, mentoring selama dua hari, dan hasilnya menjadi sebuah buku (“Kartini Bernyawa Sembilan”). Dan dalam proses relatif singkat itu, tetap saja saya terusik, termenung, bahkan terpukau melihat transformasi yang bisa diperagakan seseorang ketika ia berhasil “disentuh” oleh kekuatan ilham. Dan saya pun bertanya-tanya, adakah caranya agar seseorang bisa menyiapkan dirinya untuk disentil dan disengat inspirasi?

Saya tidak pernah punya latar belakang sastra secara formal. Nilai di rapor saya untuk pelajaran Bahasa Indonesia selalu biasa-biasa saja. Tapi sejak balita, saya senang berkhayal dan melamun. Saya bisa melamun berjam-jam sebelum terlelap. Waktu kanak-kanak, saya bukan seorang kutu buku. Urat baca saya masih kalah dibandingkan kakak-kakak saya yang lain.Tapi saya amat senang membuat cerita. Saat itu dorongan menulis buat saya lebih kuat ketimbang membaca.

Saya juga pemerhati hal-hal remeh. Waktu kecil, saya sangat suka kelereng. Bukan untuk dimainkan, melainkan untuk diamati. Saya bisa menghabiskan waktu panjang hanya untuk mengamati sebola kelereng di terang lampu. Rasanya ada galaksi ajaib di dalam bola itu. Kilau yang dipantulkan kaca dalam kelereng seolah membentuk labirin dan bintang-bintang, dan saya terlongo-longo dipukau keindahannya. Saya juga kecanduan mengamati langit. Mencari bentuk dan wajah di awan, menghayati warna-warni senja sampai dada saya sesak oleh haru. Sebuah kebiasaan yang terus berlanjut hingga dewasa: mengamati angkasa hingga menunggu ia “berbicara” pada saya.

Entah mengapa, hal-hal kecil yang susah didefinisikan itulah yang justru terasa kokoh dan masif saat saya mengamati ke dalam diri untuk mencari pilar-pilar apa yang menjadi penyangga saya sebagai penulis. Bukan hadiah, ketenaran, piagam, atau uang, meskipun semua itu bisa jadi efek samping yang menyenangkan.

Sayangnya, pilar-pilar itu justru sering luput diamati. Kita malah lebih tertarik pada “kabut” yang menyelimuti seorang penulis ketimbang bara api yang membakarnya. Tidak heran ketika saya iseng survei “pelatihan penulisan” di internet, yang muncul adalah workshop untuk jadi penulis best-seller, workshop untuk jadi penulis profesional, workshop how-to menerbitkan buku, bahkan ada yang menjadikan nama saya sebagai iming-iming (“ingin menjadi penulis best-seller seperti Dee?”). Tidak ada yang salah atau buruk dari workshop semacam itu, bahkan pada level kebutuhan tertentu bisa jadi malah sangat berguna. Tapi perlu kita sadari bahwa penjelajahan superfisial otomatis akan membawa kita ke tempat-tempat yang superfisial, sementara penjelajahan yang sifatnya esensial tentunya akan membawa kita menelusuri gorong-gorong yang lebih dalam. Tergantung pada apa yang kita masing-masing butuhkan saat ini.

Jika ditanya, apa rahasianya agar bisa jadi penulis best-seller? Saya akan jujur menjawab: tidak tahu. Jadi, kalau satu saat nanti saya berkoar tentang bagaimana cara menulis buku laku, jangan pernah percaya. Saya sungguh-sungguh tidak tahu. Jika ditanya, apa rahasianya agar naskah kita diterima penerbit? Jujur, saya pun tidak tahu. Seperti jodoh, kita bisa punya sederet kriteria ideal, tapi pada akhirnya misterilah yang menautkan kita dengan seseorang. Begitu juga hubungan antara penerbit dan penulis. Sudah jadi cerita klasik bagaimana sebuah naskah ditolak sejumlah penerbit sampai akhirnya ada satu pintu yang membuka dan tahu-tahu naskah itu meledak menjadi best-seller. JK. Rowling mengalaminya, John Grisham mengalaminya, Sitta Karina mengalaminya, dan masih banyak lagi. Dan kalau ada yang bertanya, bagaimana sih caranya menulis? Jawaban saya pun tetap sama: tidak ada cara lain untuk menulis selain menulis.

Ada sesuatu yang sederhana yang kerap lolos dari pengamatan kita. Saya akan mengambil diri saya sendiri sebagai contoh. Ketika ditanya: bagaimana caranya agar tulisan kita dibaca orang? Hati saya tidak bereaksi. Datar dan hambar. Yang sibuk berputar untuk menjawab adalah kepala saya. Sementara ketika ditanya: apa motor yang menggerakkan saya berkarya, yang bisa membuat saya menggelepar seperti cacing kena garam, yang mampu membuat rahang saya kejang karena gemas, yang bisa melesatkan saya menembus atmosfer bahasa? Hati saya seketika tergetar. Ada sesuatu yang hidup, yang dahsyat, yang langsung mengaliri tubuh saya. Sementara kepala saya cuma bisa kelimpungan mencari penjelasan yang memang di luar kesanggupannya.

Sesuatu itu, teman-teman, adalah sesuatu yang paling penting untuk ditemukan. Sisanya bonus. Kepala Anda tidak bisa menjawabnya. Hanya hati yang tahu. Di titik pertemuan antara Anda dan bara api yang membakar jiwa Anda itulah kabut kepenulisan akan meluruh dengan sendirinya. Anda seketika bisa membedakan mana yang penting dan tidak penting. Mana yang esensi dan mana yang aksesoris.

Sekarang Anda mungkin tergerak untuk bertanya, bagaimana caranya mengalami pertemuan itu? Saya pun harus jujur menjawab: tidak tahu pasti. Namun kali ini saya tertarik ingin mencari tahu, bersama-sama dengan Anda. Sama halnya kita tidak tahu kapan petir akan menyambar, tapi kita bisa mempersiapkan diri untuk disambar petir.

Inilah ide yang sekarang tengah membakar saya, yang mudah-mudahan bisa saya laksanakan pada awal tahun depan: membuat sebuah workshop penulisan intensif, bukan untuk menjadi penulis best-seller, bukan juga untuk memenangkan lomba, bukan untuk karyanya diterima penerbit, melainkan untuk membangunkan sang pujangga yang tertidur.

Pernahkah Anda melihat kandang macan di siang hari? Binatang yang sangat indah, tapi cenderung membosankan berhubung kerjanya cuma tidur. Sekarang bayangkan macan itu adalah pujangga dalam diri kita. Sekalipun kita sudah banyak menciptakan kalimat-kalimat indah, belum tentu kita menyuarakan kejujuran kita yang terdalam. Saat kita melihat seekor macan tertidur di kandang, yang mengaum di kepala kita adalah cerita-cerita orang tentang macan, atau pengetahuan kita tentang macan yang didapat dari brosur, buku, atau teve. Tapi selama macan itu belum mengaum langsung, sesungguhnya kita tidak pernah mendengar suara dia yang sebenarnya.

Saya ingin mendengar macan itu mengaum dan merobekkan cakarnya. Bahkan lebih dari itu, saya ingin macan itu merdeka dari kandangnya kemudian berlari bebas dan kembali jadi raja hutan. Pujangga dalam diri kita kini terkurung dan tertidur pulas. Terbius oleh aturan dan kata-kata orang. Bahkan kebanyakan dari kita tak menyadari sang pujangga itu ada.

Di sinilah saya menemukan titik temu antara menulis dan meditasi. Writing and Zen. Di luar embel-embel gemerlap profesi penulis, kegiatan menulis adalah samurai tajam yang mampu mengupas lapis demi lapis diri kita. Siapa dan apa yang sesungguhnya bersembunyi di balik tabir pikiran dan baju kata-kata? Dari mana datangnya itu semua? Menulis juga mampu membantu kita berjarak dari kemelut ego, dari “aku” yang mengira dirinya pusat segala hal. Jarak tersebut memampukan kita untuk melihat sesuatu dengan lebih jernih, netral, tidak menghakimi. Itulah kepekaan yang ingin kita asah melalui meditasi. Dan kepekaan itu jugalah yang bisa kita asah melalui aktivitas menulis dalam konteks meditatif.

Berbeda dengan “pengetahuan” yang diturunkan secara estafet, Zen bagi saya adalah pengalaman langsung. A path of direct knowing. Sesuatu yang universal dan bisa diakses oleh siapa saja terlepas dari ragam latar belakang dan kepercayaannya. Pada hakikatnya “pengetahuan” sudah mati, sementara “mengetahui langsung” adalah aktivitas hidup yang terjadi secara spontan. Itu jugalah yang membedakan antara “menulis dari hati” dengan “menulis berpikir”. Meski kita sering mengklaim bahwa tulisan kita adalah tulisan dari hati, seringkali yang terjadi adalah tulisan yang kita “pikir” dari hati. Sebaliknya, menulis dari hati juga bukan berarti tanpa proses berpikir sama sekali. Tapi dalam hal ini pikiran kita ditempatkan sebagai gerbong yang ditarik, bukan lokomotif.

Tentunya ini akan menjadi perjalanan yang membutuhkan banyak keberanian. Berani menghadapi diri sendiri dan bertarung dengan ketidakpastian. Tidak hanya bagi pesertanya tapi juga bagi fasilitatornya. Kita sama-sama tidak tahu macan jenis apa yang menunggu Anda di bawah sana. Bahkan kita tidak tahu akan menemukannya atau tidak. Tapi, tidakkah perjalanan ini menjadi sesuatu yang layak dicoba?

Workshop tersebut akan memiliki sebuah bunyi: ZWAMP!

Zen Writing Camp. Dua malam tiga hari. Hanya Anda, aksara, dan misteri. Sama-sama kita bersafari, membangunkan pujangga di dalam kandang, dan mendengarnya mengaumkan apa yang paling sejati.
Read More ..