Wednesday, July 15, 2009

Dicekik Plastik

Dicekik Plastik


Sabtu pagi. Akhir pekan. Keramaian manusia di pusat perbelanjaan. Sungguh bukan pemandangan baru. Tapi saya baru tahu, mengantre di kasir supermarket di hari Sabtu pagi bisa menjadi pengalaman yang begitu miris dan mengiris.

Pagi itu saya belanja di Carrefour sendirian. Sambil menunggu pembelanja sebelum saya yang belanjaannya sampai dua troli, saya mengamati sesuatu. Lewat pengeras suara, beberapa kali terdengar imbauan untuk mengurangi sampah plastik, bahwa Bumi sedang mengalami pemanasan global, dan sudah tersedianya kantong belanja ramah lingkungan yang bisa dibeli dengan harga terjangkau (ada dua pilihan: dua ribu perak berbahan plastik daur ulang dan sepuluh ribu perak untuk yang berbahan polyethylene).

Lalu di dekat kasir, tertempel sebuah stiker yang bunyinya kira-kira begini: petugas kasir diharuskan untuk menawarkan isi ulang pulsa dan kantong belanja ramah lingkungan pada para pembeli. Saya memperhatikan kiri-kanan, termasuk pada saat giliran saya membayar tiba. Memang betul saya ditawari pulsa. Tapi tidak kantong belanja tadi.

Dan, berbarengan dengan pengumuman yang bergaung di seantero toko mengenai pemanasan global, saya mengamati bagaimana belanjaan demi belanjaan dimasukkan ke kantong-kantong kresek oleh tangan-tangan gesit yang sudah bergerak terampil bagai robot. Tak sampai penuh, bahkan kadang setengah pun tidak, mereka mengambili kantong plastik baru. Yang belanja pun tenang-tenang saja menyaksikan. Kenapa tidak? Berapa pun kantong plastik yang dipakai, itu sepenuhnya terserah pihak supermarket. Gratisan pula.

Sambil mengamati gerakan tangan gesit petugas, dalam hati saya bertanya: haruskah seboros itu? Barangkali memang kebijakan dari toko yang mengharuskan berbagai jenis barang untuk tidak digabung dalam satu kantong. Tapi kenyataannya, kantong-kantong plastik setengah penuh itu hanya berfungsi sebagai alat angkut dari kasir menuju troli, lalu dari troli menuju bagasi mobil, lalu dari mobil menuju rumah. Kalaupun beberapa barang beda kategori tersebut harus digabung, asal tidak terkocok-kocok di mesin pengaduk semen, seriously, what harm can possibly be done with those stuffs?

Saat saya harus maju, memang saya terlihat lebih repot dari yang lain. Saya mengeluarkan tiga kantong yang saya bawa dari rumah, lalu mengisinya sendiri. Bukan apa-apa. Kadang-kadang akibat pelatihan yang mengharuskan para petugas supermarket untuk memilah-milah barang membuat mereka seringkali tampak canggung dan melambat ketika harus menggabungkan santan kotak dengan kapas, atau piring dengan brokoli, atau pasta gigi dengan selai. Sementara bagi saya itu bukan masalah. Tiga kantong yang saya bawa dari rumah tampak gendut dan sesak. Beberapa barang besar seperti beras dan deterjen tiga kiloan saya biarkan di troli tanpa plastik.

Melajulah troli saya yang jadinya tampak aneh di tengah troli-troli lain yang didominasi tumpukan kresek putih. Rata-rata orang keluar dari sana membawa 4-6 kantong kresek. Belum termasuk plastik-plastik yang membungkusi buah dan sayur. Jika semua ini direkam dalam video, lalu satu demi satu gambar dihilangkan dan dibiarkan gambar plastiknya saja, niscaya kita akan melihat buntelan-buntelan putih licin yang mengalir bagai sungai dari supermarket menuju parkiran.

Superindo punya kebijakan yang selangkah lebih mending. Jika belanjaan kita cukup banyak maka petugas di kasir akan menawarkan pemakaian dus. Dan sudah ada dus-dus yang disediakan dalam jangkauan, hingga tak perlu tunggu lama untuk cari-cari ke gudang. Beberapa kali saya mengantre di kasir Superindo, saya menemukan banyak pembeli yang menolak pakai kardus meski belanjaan mereka banyak. Entah apa alasannya. Mungkin menurut mereka kurang praktis. Atau tidak terbiasa. Seperti Carrefour, Superindo juga menjual green bag, kantong belanja yang bisa dipakai berkali-kali. Green bag tersebut pun bisa didapat dengan gratis. Caranya? Mengumpulkan 70 stiker. Satu stiker didapat dengan belanja 10 ribu, dan stiker berikutnya di kelipatan 50 ribu. Jadi belanjalah dulu 10 ribu sebanyak 70 kali, atau belanja 3,5 juta untuk mendapatkan tas itu secara cuma-cuma. Wow.

Kasir di Ranch Market selalu bertanya pada pembeli: "Apakah struknya perlu dicetak?" dan ketika kita menjawab 'tidak' (karena seringnya memang tidak dilihat lagi juga), maka dia tidak akan mencetakkan struk yang berarti penghematan kertas.
Sedang dilaksanakan pula kegiatan adopsi pohon dengan biaya 95 ribu, di mana kita akan mendapatkan satu kantong belanja bahan kain goni yang ukurannya cukup besar dan satu pohon akan ditanam atas nama kita di Gunung Rinjani. 'Saudara'-nya Ranch Market, yakni Farmer's Market, secara rutin mengadakan hari "Belanja Tanpa Kantong Plastik", di mana setiap Selasa minggu ke-2 Farmer's tidak menyediakan kantong plastik sama sekali. Sama seperti Carrefour dan Superindo, jaringan ini juga menjual green bag dari bahan kain seharga 10 ribu-an.

Memang, dibandingkan beberapa tahun yang lalu, inisiatif dari pihak supermarket/hipermarket sudah jauh lebih baik dan kreatif. Namun, apakah tidak bisa kita bergerak lebih cepat, lebih tajam, dan lebih langsung? Dan, mungkinkah perspektif yang digunakan pun sebetulnya terbalik? Jika benar-benar ingin mengurangi sampah plastik, kenapa justru pembeli yang tidak ingin menggunakan kantong kresek malah menjadi pihak yang harus mengeluarkan biaya ekstra dan tidak mendapat insentif apa pun? Sementara yang pakai kantong kresek tetap melenggang kangkung tanpa sanksi apa-apa? Tidakkah ini jadi mengimplikasikan bahwa gerakan go-green itu 'lebih mahal' dan 'repot', sementara yang sebaliknya justru 'gratis' dan 'praktis'? Di mata saya, penjualan kantong-kantong ramah lingkungan tersebut pun, selama masih menggunakan bahan baku baru dan bukan hasil daur ulang, akhirnya cuma jadi komoditas biasa. Seperti halnya jualan sabun atau sayur. Sementara yang paling penting adalah BERHENTI memproduksi barang baru dan menggunakan ulang apa yang ada. Yang paling penting bukanlah mencetak tulisan "Selamatkan Bumi" di selembar kain kanvas atau di kain polyethylene lalu menjudulinya tas ramah lingkungan, melainkan membuat kebijakan yang benar-benar realistis dan berpihak pada lingkungan.

Dari data yang saya baca, di jaringan Superindo sendiri, penggunaan kantong kresek bisa mencapai 300.000 lembar per hari. 700 ton sampah plastik diproduksi hanya oleh Jakarta saja. Dan menurut Kementrian Lingkungan Hidup, komposisi sampah plastik di kota-kota besar seperti Surabaya dan Bandung meningkat sejak tahun 2000 dari 50% ke 70%. Kita benar-benar sudah dicekik plastik.

Pikiran saya terus berandai-andai: jika memang pemerintah tidak berbuat sesuatu untuk menekan produksi dan penggunaan kantong plastik, dan andai saya adalah pengambil keputusan di rantai supermarket tadi, maka saya akan menetapkan harga 2000-5000 rupiah untuk satu kantong kresek, yang barangkali akan lebih efektif untuk 'memaksa' orang membawa kantong sendiri ketimbang menjual kantong ramah lingkungan seharga 10 ribu. Dana dari 'sanksi' kantong kresek tersebut lalu disalurkan untuk kegiatan penghijauan dan aktivitas lingkungan hidup lainnya. Di sebagian negara di Eropa, ternyata pengenaan biaya pada kantong belanja telah berhasil menurunkan sampah kantong plastik hingga 90%.

Saya cukup salut dengan keberanian Makro. Barangkali cuma di Makro berlaku peraturan tegas di mana konsumen harus mengeluarkan uang 2000 rupiah untuk setiap kantong belanja. Setiap pembeli yang pergi ke sana mau tak mau harus siap mental untuk membawa kantong belanja sendiri atau berebut dus-dus kosong yang memang disiapkan di sana. Kebijakan seperti itu dapat dimaklumi karena Makro memang menjual barang-barang berukuran dan berkuantitas besar, jadi alasannya tidak melulu lingkungan. Namun bukannya tidak mungkin jaringan supermarket dan hipermarket lainnya mengikuti jejak Makro dengan mengusung alasan lingkungan, sebagaimana yang digaungkan lewat pengeras suaranya.

Saya keluar dari aliran sungai plastik tadi menuju mobil. Hati masih miris dan teriris. Sesekali bertanya, apakah khayalan saya ketinggian? Apakah realistis jika berharap pihak produsenlah yang berani muncul dengan kebijakan tegas, sementara para konsumennya sendiri tidak mau belajar mengedukasi dan melatih dirinya? Namun, sampai kapan kita bertahan di balik sekat-sekat kaku yang memisahkan pembeli dan penjual, pemerintah dan masyarakat? Sementara belitan plastik yang mencekik tanah dan air Indonesia sudah terlihat jelas di depan mata.


107 comments:

a piece of echa said...

Umm.. penawaran polyethylene bag di carrefour jg g maksimal mbak.. kantung ini rentan putus tali pegangannya.. jd percuma jg..
kalo aku sdh mengimplementasikan pake karung goni mbak.. lebih besar n g ribet..

t.e.3.k.4 said...

sayang banget, masih jarang orang yang sadar kalo plastik itu berbahaya buat lingkungan
padahal udah banyak pemberitaan dimana2 tentang bahaya plastik yah

Priscilla Verblind said...

sedih bgt liat foto terakhirnya, Mba =(

memang dilema bagi supermarket/hipermarket,nda ada kantong plastik dan hanya jual recycle bag nya disangka aji mumpung mo ambil untung, itu yang sering didengar kan kalau kejadian itu datang.

warga kita susah untuk diajak kompromi masalah lingkungan. kapan kita bisa seperti di luar negri pakai paper bag? kesadaran masih minim sekali..

alasan mereka nda mau dus, krn mereka anggap lebih ringkes kalo bawa barang dengan plastik bukan dus, makanya mereka pilih plastik daripada dus.

saya jg masih belajar benahi diri untuk go green. ayo mulai lah dari diri kita sendiri ^_^

Kabasaran Soultan said...

Ngak kebayang Dee..
Bagaimana jadinya ini negeri
Kalau tidak segera berbenah diri
menata hati...
menyamakan visi...
menyusun strategi...
Ntuk menekan komsumsi plastik
yang semula dikira baik
ternyata ujung2nya
mencekik .....

Duh ngeri...
Duh ngeri...
Plastik-plastik ...
melilit negeri.

Sebuah renungan yang mencekik ...

Erma said...

saya gak pernah nemuin kasir di carrefour yang nawarin kantong belanja ramah lingkungan mbak. Kalo ditanya, baru mereka nawarin. Mungkin karena mereka sudah lelah menawarkan dan ditolak?

schultz said...

yup..masalah ini memang masih dilema..akhirnya ini kembali pada kesadaran masing-masing individunya..
postingan yang menarik..

.Dinda. said...

hi Mbak Dee..iya, gw jg suka miris ngeliat yg beginian. Apalagi kalo mereka pake plastik nya double(!) dengan alesan takut sobek. Typical orang indo emang ga mau repot, or belum bener2 paham. anyway, the least i can do at home is, kalo emang ada plastik banyak, sebisa mungkin gue pake berkali2, so at least ga jadi mubazir..
anyway, salam kenal and am big fans of ur writing :)

frozenmenye2 said...

selain kesadaran yang masih kurang - dan tentunya tidak bisa berharap banyak dari poin ini - juga karena edukasinya yang kurnag kena, mbak dee. saya sendiri ngaku, kalo belanja ke swalayan masih saya memakai plastik, tapi setidaknya saya berusaha menegur mbaknya untuk menyatukan saja semua blanjaan saya dalam satu kantung plastik, atau bahkan kalo blanjaan itu bisa saya masukkan tas, saya tidak perlu pake plastik.

Dee said...

Mba Dewi,
Sementara ini orang rmh udah mulai bw tas blanjaan sendiri ato pake kardus yg disediakan supermarket. Tp gmanapun d rmh ttp butuh plastik untuk alas tpt sampah di dlm rmh dan sampe saat ini aku gada ide untuk nggantinya dgn barang lain. Mau dong contekannya... Tengkyu *_*

Thiea Arantxa said...

iyah ya Mbak, sayang buanget masih banyak yg make kantong plastik.. huhuhu.. Mbak Dee ud baca The World Without Us? Disana dijabarin gimana 'gila'nya plastik dan dampaknya yg nyeremin.. saya jadi merinding tiap kali ngeliat kantong plastik. T.T

Adie Riyanto said...

Dear Mbak Dee

lama sudah saya menunggu tulisan Dee di blog yang mengulas masalah global warming dan pencemaran lingkungan akan sampah plastik. Mengikuti blog ini, awal2 postingannya adalah ajakan mengenai isu global warming, trus tiba2 banting setir ke kehidupan pribadi. Apapun, sekarang yang penting ada postingan lagi yang konsen ke masalah lingkungan.

Ada beberapa alasan yang "sepertinya" dipegang teguh oleh pihak produsen, bahwa penggunaan kantong plastik oleh tempat2 belanja itu adalah sarana promosi gratis, karena mereka pikir, kantong plastik itu akan dipakai lagi untuk membungkus barang yang lain, dan ketika kantong itu terbawa, akan kelihatan logo atau paling tidak nama supermarket itu.

Memang, para pelayan di supermarket2 itu dihimbau untuk memisahkan antara makanan, barang kamar mandi, baju, dll, alasannya adalah unsur kelayakan pelayanan. Pernah saya ngomong ke pelayan tsb utk menggabung beberapa barang, tapi ybs malah ngomong "gpp mas, biar pantes”, g jelas pantes buat apa. Kejadian serupa kalau kita beli makanan di warung dan gak mau pake plastik, ybs akan ngomong “ah mas, ora ilok dilihat” (ah mas, g enak dilihatnya) dan diikuti oleh pandangan “ apaan sih” dari para pengunjung warung. Begitulah pengalaman saya selama ini berbelanja.

Untuk green bag itu, mengapa kurang efektif atau banyak yang g beli, karena orang berpikir terlalu ribet utk membawa tas belanjaan padahal acara belanja akan dilakukan sehabis dari gramedia atau dari bioskop, masak dari bioskop harus tenteng2 tas. Norak g sih? Itu mungkin salah satu persepsi mereka. Lalu, green bag yang di jual di supermarket itu, kebanyakan ada tulisan supermarket ybs. Jadi ketika misalnya, suatu ketika belanja di Hypermart, masak bawa green bag yang ada tulisannya Carefour, biasanya pak Satpam akan menghentikannya ;=P

Untuk pengenaan charge bagi kantong plastik, saya kira jatuhnya jadi kurang efektif kalau semua produsen tidak menerapkan semuanya. Orang akan selalu mencari yang pelayanannya Ok dan tentu saja harga yang bersaing. Untuk beberapa kalangan ada juga yang menganggap tak masalah utk charge kantong plastic itu.

Yang terpenting itu di sini adalah edukasi beruntun. Maksudnya, pertama adalah diri pribadi yang harus teredukasi utk selalu sadar meminimalkan penggunaan plastic. Yang Kedua, propaganda kepada orang2 terdekat, keluarga, temen kantor, sahabat, dll, utk sebisa mungkin mengikuti penggunaan plastic. (tambahan yaitu penggunaan tisu, utk hal2 yang tidak perlu saya perhatikan temen2 kantor saya selalu menggunakan tisu secara berlebihan). Yang ketiga memudahkan ke arah kepraktisan dan kelayakan dalam berbelanja, maksudnya pembuatan green bag sebisa mungkin tanpa logo supermarket ybs, murah harganya (Carefour dah cukup murah, Rp. 10.000,00, Hypermart masih mahal, Rp. 32.000,00), dan tahan lama. Yang keempat adalah SADAR DIRI, ini yang sepertinya agak susah dilakukan dan kerap hanya menjadi sekadar wacana walaupun sudah berkali2 di talkshow-kan atau didiskusikan. Slogan2 yang ada di spanduk2 atau di poster2 itu, saya pikir justru menambah sampah daripada propaganda yang terencana. Yang kelima, di sinilah saya kira pemerintah turun tangan melalui Peraturan2 yang agak lebih realistis utk secara seksama supermarket2 itu diharuskan menggunakan bahan daur ulang utk pembungkusnya, atau kardus bekas seperti yang Dee tulis. Kalau pengenaan charge bagi produsen, akhirnya akan dilimpahkan ke konsumen seperti prinsip PPN, klo dikenakan ke konsumen, jelas konsumen ybs akan ke supermarket lain. Pada akhirnya ya kembali ke inisiatif produsen itu sendiri, menerapkan langkah yang bisa membuat konsumen senyaman mungkin dan g ribet tentunya.

Kalau semuanya sudah terencana, propaganda terus berjalan, yang penting sekarang adalah penyamaan persepsi. Justru ini yang tidak mudah ;=P

~ Adie ~

M.e.U.ti.A said...

Mbk Dee.. Skrg manusia sdh kehilangan kearifan lokal dan memilih menutup diri dari "peduli lingkungan". Lebih malu untuk mengatakan "Tidak" pd petugas supermarket saat dia memberi plastik baru dan kita membw plastik/kantong sendiri.Tp manusia tdk malu saat menyakiti lingk dgn memperparah bumi dan merusaknya dgn plastik

Before 20 Writer said...

Salam, mbak Dewi...

Benar, mbak, kalau kita cuma bisa berkoar-koar tetapi usaha kita masih 10 persen. Sebenarnya kita perlu belajar dari orang dulu, mereka tak pakai kantong plastik namun memakai tas yang dianyam dari bambu atau kain lainnya. Setiap belanja mereka bawa, jadi tak ada kantong plastik yang mencemari lingkungan.
Supermarket memang kadang memberi kantong yang berbeda untuk jenis produk berbeda.

Nenek saya selalu menyimpan kantong plastik hasil belanja di supermarket, pasar tradisional dan warung. Beliau jarang membuang platik (keculai sudah kotor seperti berminyak). Jika kami perlu kantong di rumah selalu tersedia. Selain itu, nenek saya juga membawa kantong plastik besar dri rumah. Jadi, seperti mbak Dewi.

Sebenarnya saya mau mengadakan kampanye di lingkungan kost mahasiswa di kampus saya Universitas Andalas Padang. Kampanye untuk mengurangi pemakaian plastik saat membeli lauk pauk di warung. Sebaiknya mereka membawa kotak tupperware sendiri dari rumah dan mengisi lauknya kesana. Soalnya satu lauk perlu satu kantong plastik. Jika sudah dipakai otomatis terbuang, karena tak mungkin memakainya lagi.
Tapi, sepertinya saya masih mimpi melihat teman-teman peduli dengan bumi yang perlu diselamatkan.

Selain itu, orang-orang yang memakai tas ramah lingkungan untuk belanja lebih kepada tren dan gaya hidup. Jika trennya sudah pudar apakah mereka akan tetap setia menyelamatkan bumi??

Ini saya namakan dengan Green Fashion. seperti fashion yang lain, jika tidak tren akan ditinggalkan.

Maaf kepanjangan, mbak... salam..

Liris Kinasih said...

mbak dee,
hm, ngenes juga ya liat fotonya.
makasi ya udah ingetin kita tentang pemakaian plastik.

kita emang harus mulai mengurangi penggunaan plastik. ini juga untuk kehidupan kita yg lebih baik bukan?

michan said...

Mb Dee, saya terakhir ke Superindo depan dapla juga begitu. Sungguh kabar baik.
Juga saya akui, usaha untuk meminimalisir pemakaian plastik memnag butuh perjuangan. Hihi.. tapi saya juga sedang berjuang nih. Sudah hampir dua tahun ini.

Henny Y.Caprestya said...

setuju deh sama echa..kayaknya emang yang harus dibenahi itu manajemen dari swalayannya, dan tentunya masyarakat juga harus andil di dalamnya. Lha..kalo sibuk gembar-gembor "go green" tapi ga ada yang berinisiatif dan ikutan kan susah juga

exort said...

fuih...susah kl mau ngomongin masalah seperti ini, mgkn harus ada gerakan agar memakai plastik2 itu hanya sekali atau 2 kali pakai lalau dibuang, tapi pakai kantong plastik itu berkali2 dulu sampai usang agar tidak terlalu menjadi sia2

lawofthefew said...

Sedih yah

Korporasi masih terlalu banyak 'mikir'.
Saya yakin keadaan berubah menjadi lebih baik, lebih ideal untuk semua.

Amin

Mochammad Ilham Putera said...

mba dee.. malaikat juga tahu Plastik udah jadi kebutuhan tersendiri, (hehe..suka bgt sm lagu mba yg ini,udh jrng muncul lg yah d TV)
dan untuk merubahnya..?
ga perlu d ubah..
sebentar lagi bumi akan meledak gara2 plastik yang nyumpel di sungai..tanah..laut..
sampe saat bencana besar melanda orang2 banyak, baru dh pada sadar...
cara yg paling jitu cuma itu..
kalau belum kelihatan bencana besarnya... ya susah sadarnya (misalny pabrik plastik kebakaran,ga bisa padam,asapny beracun, udara makin kotor, atmosfr makin tipis, kanker kulit, dst..dst..)
kalau udh parah baru sadar dh..
ironis bgt..
gara-gara benda yg namany plastik..
butuh tapi membunuh..

zons said...

Saya pikir, sesuai dgn kondisinya, masyarakat kita masih banyak yang menomorsatukan pertimbangan ekonomis sebelum yg lainnya.

Jadi, antara yg gratis sama yg bayar, tentu pilih yang gratis, walaupun mungkin sebenarnya mereka juga sadar, bahwa itu bisa mengakibatkan kerugian di bidang lainnya, dalam hal ini lingkungan.

Tapi karena soal lingkungan itu gak berdampak langsung saat ini juga buat masyarakat, ya, ngapain mikirin itu, ntar dulu deh, yg penting gimana biar hemat dulu... beda dgn pertimbangan ekonomi yg mungkin langsung terasa.

Begitu juga dgn perusahaan, misalnya pengusaha ritel, tentu cari untung sebanyak2nya.

Saya pikir, kelihatannya masih susah utk mengandalkan kesadaran masyarakat, termasuk dunia usaha. Jadinya, pemerintah yg harus kampanye segencar-gencarnya mengenai masalah lingkungan ini. Tentu saja harus dibarengi dengan perbaikan taraf hidup masyarakat.

Orang2 di luar negeri (terutama di negara2 maju) mungkin bisa terlihat lebih peduli masalah lingkungan daripada negara berkembang, salah satunya mungkin setelah tingkat perekonomian merek a sudah relatif cukup baik, dan mereka jadi peduli terhadap hal-hal lain selain masalah ekonomi rumah tangga mereka yg notabene sudah baik itu.

Tapi saya percaya, masyarakat kita bukan orang2 yg terlalu masa bodoh kok dengan hal2 spt ini, dan pelan2 akan semakin sadar, apalagi dengan kejadian2 fenomena alam yg bisa langsung terlihat, spt masih hujan terus di pertengahan tahun yg seharusnya sudah musim kemarau, banyak banjir, dll. Terus terang, kejadian keanehan musim hujan itu yg bikin saya jadi lebih 'nyadar' masalah global warming ini, hehehe.....

Anyway, asli deh very nice post bgt mba... :)

ZonS

.

Irene said...

hi mbak Dewi
hem, sekarang dimana-mana sedang membicarakan plastik..

besok kalo aku belanja bawa plasti dari rumah aja ah :)

oya, di alfamart sekarang juga sering ditanya ama kasirnya: struk nya mau di print gak mbak?mau pake plastik? (kalo belanja nya dikit, ditanya gitu)

NB: buku saya (Rectoverso) sudah diterima belum Mbak? :)

me-trailer-trash said...

Menyuruh orang mengurangi pemakaian plastik mungkin bakal susah. tapi banyak jalan ke Roma *optimis*

Yang pasti (at least) JANGAN BUANG PLASTIK DI SUNGAI ato LAUT!!!

Penyu2 yang sudah ada sejak jaman dinosaurus suka mengira PLASTIK sebagai UBUR2 (makanan mereka).

Banyak penyu mati gara2 tersedak plastik.

www.profauna.org

Mbak Dee, kapan gabung sama ProFauna???

si dede jadul punya said...

sama dg kawan2 di kampus, semua kaos bertema GO GREEN benar2 lagi in. ga gaul kalo ga make. dan ga gaul jg kalo ga bawa tas kain ramah lingkungan. lucunya, di dalam tas itu pun belanjaan masih dibuntel plastik.

satu pertanyaan yg masih mengganjal sejak saya duduk di bangku smp, bagaimana sampah pembalut bisa mengurai ya mbak?

Dewi Lestari said...

@Priscilla: menurut hemat saya, kantong kertas pun bukan jawaban yg paling ideal. Dalam satu episode Oprah, beliau pernah bertanya ke penonton: "lebih baik mana: kantong kertas atau kantong plastik?", penonton kor serempak menjawab "kantong kertas". Dan Oprah bilang, "salah. yg baik adalah menggunakan ulang apa yg ada dan tdk menambah kantong baru, baik itu kertas atau plastik." Dan saya setuju.

@Dee:
Memang susah utk urusan membungkus sampah. Tapi saya berusaha meminimalisir dengan mengolah sampah organik (sampah dapur, sisa makanan) di rumah menjadi kompos dg Kotak Takakura. Jadi yang tersisa tinggal sampah kering. Selain sampah kita jadi ga tll berbau dan relatif kering, kita juga memudahkan pekerjaan pemulung. Itu pun terkadang sy tetap hrs membeli kantong sampah. Tapi bagi saya agak lain antara membeli kantong sampah (krn msh ada implikasi finansial yg membuat kita lebih respek dan membatasi penggunaannya) dg pembagian kantong kresek scr massal dan cuma2 oleh para pedagang. Dua2nya bisa berfungsi sbg kantong sampah, tapi 'effort'-nya berbeda. Dari segi jumlah pun kalau memang kantong plastik adlh komoditi yg dihargai lebih mahal krn dampak lingkungan yg diakibatkannya, otomatis kita pun akan lebih membatasi dan hati2 menggunakannya.

@Adie:
Blog ini isinya memang bervariasi dan tidak ditujukan untuk satu tema saja. Cause I also have many sides and interests :)

@Dede Jadul:
Yang saya tahu, bahan kapasnya bisa terurai, tapi elemen plastiknya tidak, or susah, yah... sebagaimana penguraian plastik pada umumnya. Jaman dulu waktu sy SMP masih dijual pembalut yang hancur oleh air dan bisa di-flush ke toilet (yg otomatis ga ada unsur plastiknya), tapi sekarang udah nggak ada lagi di pasar.

Dewi Lestari said...

@Irene: Maksud kamu RV yang minta di-ttd itu ya? yg dikirim ke asisten saya, Jenny, bukan? Udah saya ttd kok. Mungkin belum sampai ya. Thanks for dropping by!

tiaaja said...

kemarin waktu belanja di salah satu supermarket di makassar, saya bilang gak usah di plastikin karena saya bawa tas khusus untuk belanjaan. eh tuh embak2 tetep aja ngambil plastik buat ngewadahin belanjaan saya. mungkin masih aneh ketika ada orang yg menolak belanjaannya diplastikin kali ya?

Re said...

ya kalau government belum bisa berbuat banyak, kita ikutin aja kata Aa Gym, kita harus 3M (mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang)

Herli Surjadjaja said...

kalo cuma belanja dikit, saya suka bilang ke petugasnya ga usah diplastikin dan saya tenteng saja. kebanyakan kasus malah mereka yang bingung krn saya ga mau kantong plastik.

shenxyz said...

hmm..
gak usa jauh2 ke eropa, mbak dee..

di taiwan aja, minimarket kecil macam 7 eleven menggunakan kebijakan Makro yang mbak ceritain di atas..
yaitu kalau pembeli ingin kantong plastik/kresek, harus nambah duit alias beli...

melur said...

kesadaran rata2 masyarakat Indonesia memang masih sangat rendah (dan akan selalu rendah jika tidak diimbangi dengan kebijakan yang tegas dari pemerintah) kalau di negara maju yg kecil seperti Singapura saja, SELURUH kantong plastik hanya bisa didapatkan dengan membeli... seharga 20 cent misalnya! apakah harus seperti itu jg ya di Indonesia? satu plastik dihargai 1000 rupiah saja, saya yakin beberapa persen pasti mulai tergerak untuk membawa kantong belanja sendiri...

sementara menunggu hal itu terjadi, 3M dari Aa Gym bisa dipraktikkan masing2 individu

THINKERBELLE said...

Mbak Dewi, bener tuh soal sebagian negara Eropa memberlakukan biaya pd kantong belanja plastik...saya ngalamin sndiri disalah satu neg tersebut, setelah bayar blanjaan trus ga dkasi kantong plastik sm skli pdhl lumayan banyak (sy bli aneka macam coklat sbg oleh2), pas dtanya kasirnya nunjuk k tumpukan kantong plastik di ujung counternya dan blg itu harganya sekian klo mo beli (yg klo dkurskan lebih dr 20rb lho)...sy smpt bengong, hah? kantong plastik aja kok djual??
tp pd saat yg sama terkagum2 jg, bhw inilah cara mereka mengontrol sampah plastik...pantesan aja stlh itu sy liat org2 yg antri dblakang sy itu pd bawa kantong2 kain sendiri..sy jd malu sndiri, mrasa kampungan skali hari gini ga sadar lingkungan...serasa d negri sendiri yg klo blanja d supermarket abis itu dng enaknya dapet kantong plastik gratisan...

science said...

pokok e say no to plastic bag ae!

BPOM sudah nge herald juga kan!

waspadai juga yg warna hitam...

pernah juga baca disalah satu artikel, burung2 pantai(semacam camar gitu)ditemukan mati dan pas di bedah ada sampah2 plastik...

ohya, buat tambahan referensi jgn lupa tiap jumat jam 8 pahi ada big ideas for small planet di metro tv!!;D

iam youth and iam earth defender..!!!

Priscilla Verblind said...

Mba Dee, masuk diakal jg statement nya Oprah. kl paper bag = tebang banyak pohon jg yah.. terima kasih, saya tau banyak jadinya, Mba.. =)
keep writing n inspiring us

Mirzal Dharmaputra said...

Saya setuju dgn konsep harus bayar untuk stiap pmakaian kantong plastik,

untuk mengurangi pemakaian plastik harus ada tindakan represif,

tapi itu membuat saya berpikir lg, betapa mahalnya bersahabat dengan bumi..

dilema,.

Ikan_ikan said...

Mungkin ini kebijakan pemerintah bisa merubah soal penggunaan plastik.

saya lagi kuliah di taiwan skrg mbak dee, kalo belanja ke supermarket atau ke mini market, mereka tidak menyediakan plastik. jika lupa membawa plastik kita harus membelinya seharga 2NT. Tidak cuma supermarket besar seperti Carefour memberlakukan hal begini, yang local juga sama. bagi yang tidak mau memakai plastik carefour menyediakan kardus gratis.

mungkin bimbingan mengenal dan mencintai alam harus sejak usia dini.

Go Green!! Go Veg

Danu Patria said...

Di India tingkat pendidikan masyarakatnya relatif lebih rendah drp Indonesia, tapi pemerintahnya sudah berani untuk melarang mgnk kantong plastik. Gak cuma di supermarket, tapi juga di toko2 kecil.
Jadi penyebab byknya kantong plastik di Indonesia bukan salah mentalitas masyarakatnya semata. Tapi lebih karena pemerintah yang tidak bisa mengedukasi masyarakat melalui keijakan2nya.

Sigit Jaya Herlambang said...

Ayo, kita kurangi penggunaan plastik!!

- cEmpRiT - said...

I agree with u sist...

few years ago saya datang ke acara sejenis untuk lingkungan hidup di senayan. disana ada satu organisasi ramah lingkungan yang memberikan tas jinjing serbaguna dari bahan daur ulang. dapatkan tas itu hanya dengan menuliskan kegiatan kita pagi hari untuk lingkungan pd papan yang disediakan. bahan tasnya ok bgt, masih saya pakai sampai sekarang, tidak robek sedikit pun padahal beban yg saya bawa selalu terbilang too heavy untuk tas seperti itu.

so, mari kita mengajak masyarkat untuk sadar lingkungan! kurangi penggunaan plastik.

Eki Qushay Akhwan said...

Terima kasih sudah menulis ini, Dee.

Mungkin kita sebagai konsumen seharusnya mengambil lebih banyak tanggung jawab.

Di pasar dan toko-toko kecil dekat rumah, apapun "diplastikin", meskipun hanya sebungkun mi instan. Dan rata-rata pemiliknya heran kalau saya tidak mau belanjaan saya yang tidak seberapa itu harus dimasukkan ke dalam kantong plastik.

Sebagai guru, saya mencoba menyadarkan siswa-siswi saya betapa plastik tak dapat dengan mudah dicerna oleh alam. Butuh waktu ratusan tahun untuk melenyapkannya.

Mudah-mudahan suara-suara kita yang kecil ini akan lebih besar gaungnya.

Sekali lagi, terima kasih.

diandra said...

hari ini belanja ke pasar tradisional..uff,lupa bawa kresek dari rumah.
Dengan sangat terpaksa, beli kresek 300 rupiah untuk mewadahi beberapa kantong plastik kecil.
Biasanya sampai rumah, kresek tanggung tuh untuk tempat sampah ehari-hari yang akhirnya nanti juga dibumihanguskan.

Slim White Rose said...

Menarik bahwa akhirnya trend "go green" sampai juga ke Indo. Selama beberapa tahun saya dan beberapa teman sudah memutuskan untuk membawa kantong plastik sendiri kalau belanja barang2 kecil (kita lipet2 kecil, terus dimasukin ke dompet jadi gak mungkin ketinggalan), misalnya belanja buku di Gramedia, beli sabun di Century, beli cemilan di warung, dll. Kalau cuma beli obat jerawat sebiji, gak perlu kan pake kantong plastik segala?
Plastik2 dari supermarket kita masih pakai, tapi di-reuse sebagai alas tempat sampah.
Semoga makin banyak orang yang melakukan gerakan sadar lingkungan. Gak usah muluk2, kecil2 aja, asal yang melakukan banyak orang pasti ada dampaknya.
Amin!

science said...

STAY ALERT:CHART NOMINEES NEW7WONDERS OF NATURE HAD DISPLAYED
!

GOODNEWS:KOMODO NATIONAL PARK ONE OF THOSE...

DONT FORGET TO VOTE

SHARE..
;D

Pascalis P W said...

semoga saja....plastik kresek itu LAKU KALAO DI JUAL...!!!!salut untuk pemulung dan teknologi pengolah plastik!!!

Zakky Rafany said...

Saya masih sering melihat kampanye 'go green' dengan menggunakan plastik dan barang2 yang tidak ramah lingkungan.

Saya sering melihat demo tentang lingkungan hidup, namun semangatnya hanya saat demo saja.

Saya bingung: semakin banyak kesadaran selalu berbanding lurus dengan ironi

Nur Nahdiyah said...

salam bumi mbak D
slalu dimulai dari hal yang kecil...seperti membawa kantong plastik dari rumah ketika berbelanja, mematikan lampu yang gak kepake....
kampanye go green yang ada di polyethylene bag belum cukup, karena ternyata bukan hasil recycle....
mesti banyak kampanye penggunaan barang daur ulang mbak biar bumi sedikit bernafas...

eri-communicator said...

Plastiknya kualitas murahan mbak, gampang putus walau terkadang sudah dobel bungkus plastiknya tapi tetap juga robek

eri-communicator said...

sayang banget, masih jarang orang yang sadar kalo plastik itu berbahaya buat lingkungan
padahal udah banyak pemberitaan dimana2 tentang bahaya plastik yah

adee04 said...

iya mbak
tapi masih mending juga di sana sudah ada kebijakan seperti itu

di aceh sih mana ada yang seperti itu mbak
mau warung,toko besar, toko kecil, smua masih menjadi produsen dan konsumen plastik yang tangguh

david said...

menurut saya jauh lebih mudah dan praktis dengan memakai kantong plastik, asalkan setelah dipakai dibuang dengan baik di tempat sampah.

sehingga bisa didaur luang kembali.

karena saya sampai detik ini belum menemukan inti permasalahan dari penggunaan kantong plastik.

kalau buruk untuk bumi, buruk dimananya?

kalau dibuang sembarangan memang akan menyebabkan got tersumbat dan banjir,
dan kalau dipendam di dalam tanah akan menyebabkan tanah yang kurang subur.
menurut saya GO GREEN hanyalah komoditas baru, tidak ada bedanya dengan VALENTINE'S DAY yang ingin jual cokelat.

AC, kulkas, mobil, dll yang ramah lingkungan cenderung mahal, bahkan beberapa sangat mahal.
ini 'mungkin' hanyalah trik pemasaran baru.
Who can fight Green Peace?
mereka terlalu kuat untuk dilawan, jadi daripada melawan mereka lebih baik menjadikan mereka teman.
Memanfaatkan mereka untuk menjual barang dengan harga lebih mahal, profit margin lebih tinggi,
dapat dukungan Green Peace pula.

saya malah menganjurakan memakai kantong plastik.

well, why not?

tapi yang perlu di ingat:
JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN

IMHO: yang merusak lingkungan bukan banyaknya sampah,
tapi lebih ke penanganan sampah tersebut.
CMIIW

-i love earth-

PS: dan mbak dee, kalau boleh saya ingin minta data akibat buruk dari penggunaan plastik yang berlebihan (pada lingkingan).
terimakasih sebelumnya.

T.A. said...

how are we going to save the planet when most of us are so occupied in saving ourselves? (most of the times we just don't get that saving our planet means saving ourselves!)
But... saving ourselves also means saving the planet :) (At least, that's what i'm hoping!)
So, it doesn't matter whether we save ourselves or save this planet, sooner or later all would be saved. (Or if we don't save ourselves nor the planet than all won't be saved.)
point is : at least save something and something hopefully would be saved. :)

sie a.k.a ncie said...

hm...plastik..plastik...

KoejaIdjo said...

Sebenernya semua itu harus berawal dari konsumen. saya setuju dengan penerapan konsumen harus bawa kantong sendiri.
Emang pada dasarnya SDM kita tuh cepat tanggap tapi enggan melaksanakan. Kadang sesuatu yang bagus malah jadi sebaliknya.

ea_12h34 said...

sy malah dapet kejadian gak enak di salah satu mini market di palembang, saat saya bilang gak usah pake kantong langsung masuk saja di tas saya, kasirnya bilang
"wah mbak gak boleh, sudah kewajiban dr atas dipakein kantong, mbak mau nanti di tuduh mencuri???"

saya nya cm bisa melongo..
ckckckck

Cheulie said...

Mba Dewi, boleh ga aku bertanya.
Sepertinya pernah dapat kantong belanja dari XSProject (atau mungkin beli juga).

Tasnya dipake ga? Atau sudah dikasi ke orang lain? Atau disimpan di rumah?

Aku tadi search ada pernah nulis web-nya salah, bukan xsproject.com tapi http://www.xsprojectgroup.com/


Many Thanks ^_^

Dewi Lestari said...

@David: Sepertinya kita tinggal pakai common sense aja. "dibuang dengan baik di tempat sampah" ibarat menutup bangkai dengan selimut dan berharap segala bau dan kebusukannya hilang. Of course it doesn't work that way. Pertama, prosentase plastik yang bisa didaur ulang kecil sekali, lebih banyak plastik2 yang non-recycled. Kedua, menurut saya pendekatan tsb adalah pendekatan yang malas, karena kita menutup mata dari masalah pengolahan sampah yang dilakukan oleh instansi pemerintah di lapangan. Kita buang dengan baik di tempat sampah kita di rumah tidak berarti sampah itu lalu terolah dan terurai dengan baik sesudahnya di TPS.

Dugaan buruk kita terhadap Greenpeace atau organisasi lingkungan lainnya pun menurut saya tidak membantu. Kalau go-green menjadi komoditas, tapi kita sendiri tidak melakukan apa-apa, lantas perubahan apa yang bisa kita harapkan terjadi?

Anjuran Anda untuk terus menggunakan kantong plastik menurut saya adalah anjuran yang berbahaya dan, mohon maaf, tidak masuk akal sehat saya.

@Cheulie:
Iya, saya masih punya dan masih menggunakan.

~ D ~

iae said...

mBak dEWI, Love ur write, light ..jd g bosen bacanya
Mohon Ijin saya link ya.
Salam
-irma-

Oggy said...

sebisa mungkin saya minta kardus :)

ParisParis said...

setuju!!kurangi plastik.buat mahasiswa seperti saya, I'm trying to use my own shopping bag i.e. my backpack :D. It's simple, practical and you can put a lot of things inside. I mean a lot!!

david said...

@dee: terimakasih untuk tanggapannya.

Tapi saya memang belum mendapatkan apa yang mbak dee bilang sebagai 'common sense'

Yang saya tanyakan bukan tentang menutup bangkai dengan selimut, tetapi tentang 'mengapa bangkai disebut bangkai?'

memang pertanyaan yang aneh dan lucu.

tapi kita sudah menggunakan plastik selama ratusan tahun.
dan banyak yang bilang berbahaya.

tapi penggunaan plastik terus bertambah, industri plastik terus berkembang.

Menurut common sense saya, hal ini perlu dipertanyakan.

Dan karena data pasti tentang kerusakan lingkungan/bumi dari penggunaan plastik sama sekali 'blur', saya sama sekali tidak menemukan 'common sense' untuk tidak menggunakan plastik.

mungkin common sense saya tidak terlalu 'common'.

masalah green peace, bagaimana common sense teman-teman semua tentang ini?

Mungkin video berjudul 'global warming swindle' bisa jadi referensi.
(dan hanya sebagai referensi, karena menurut common sense saya, isinya tidak semua benar, tapi bisa jadi bahan pemikiran)


best regards.
-never stop questioning common sense-

aang86 said...

nice article,
sebenarnya ga kantong plastik aja mbak. Botol air mineral dalam kemasan plastik dan juga sedotan menjadi sumber sampah juga. bayangkan setiap hari orang selalu membeli air mineral dalam kemasan botol/gelas plastik. Di rumah makan juga, sedotan dipakai sebentar saja lalu dibuang begitu saja.
kalau saya sedang menerapkan diri untuk selalu membawa botol minum saat ke kantor, ke gym, maupun jalan-jalan. setidaknya saya mengurangi sampah plastik wlopun ga 100 persen. juga kalau pesan minuman saya bilang ke pelayannya untuk tidak memberi sedotan.
pada akhirnya, menjaga bumi ini adalah tanggung jawab semua individu karena kita sama-sama hidup di bumi ini.

Dewi Lestari said...

@David:
Baru2 ini pembantu saya mengeluh krn ayahnya yang sakit2an susah sekali disuruh berhenti merokok, alasan ayahnya: "Kalau memang rokok itu racun dan bikin penyakit, kenapa bisa sampai laku dan ada pabriknya?"
Hello? Something that is massively produced and used for generations doesn't necessarily mean it's good :) But that is his common sense. So what can we do?
Plastic is not all bad, but certainly not all good. I never say stop using plastic, it won't be realistic. I say, reduce it, and use it responsibly. Lebih dari sekadar dibuang rapi di tong sampah.
Thn 80-an saat isu global warming diembuskan, banyak ilmuwan menganggap itu hoax. But the reality of today: the polar is melting anyway, millions of species are exctincting anyway. Terlepas kita setuju global warming ada atau tidak, hoax atau bukan, Green Peace itu baik atau buruk. Terlepas pula dari debat kusir ttg common sense mana yang sensible.

~ D ~

david said...

i was just asking you politely about 'why plastic is bad/not all good', and you can't give me a straight answer?

are you really know what you're talking about?

maaf kalau terdengar kasar, tapi saya tidak bermaksud demikian.

hanya saja ada perbedaan yang sangat besar antara rokok dan plastik.
penelitian tentang pengaruh rokok ada banyak sekali.
ada berapa banyak kandungan kimia, berapa persennya yang berbahaya, apa pengaruhnya pada tubuh, pengaruhnya pada organ tertentu, dsb.dsb.

sedangkan plastik?

-just looking the truth, bukan debat kusir-

Gend Ratri said...

Dear Mbak Dee,

saya Ratri

saya baru aja alamat blog mbak dee..
saya suka baca tulisan mbak dan dengerin lagunya mbak...

bisa berbagi bagaimana bisa menulis sebagus ini??

terimakasih

Vita Masli said...

knp yah kebanyakan org indonesia itu suka banget ikut2an aja, sesuai tren, tapi gak bener2 mengetahui esensinya apa. COntoh skrg lagi trend "save the earth" " Go Green" ato apalah yg ada hubungannya dgn global warming. Rame2 nanam pohon tapi jg gak segan2 menebangi yang udah rindang dan lupa menyiram yg baru di tanam. Ribut ttg sampah tapi kok masih sering buang sampah di jalan ya, pdhl mobilnya sdh diatas 100jt *masa sih gak mampu beli t4 sampah*?
Nah skrg soal plastik belanjaan..mo bawa tas belanjaan sendiri gak boleh, harus beli punya swalayan yg bersangkutan. Harganya jg mahal pula.. kalo mmg mo mendukung gerakan no-plastic, knp gak di murahkan saja harga tas belanja ramah lingkungannya ata biarkan pelanggan bawa tas belanjanya sendiri..

Maria said...

Setuju mbak,edukasi tentang bahaya plastik memang perlu lebih dicanangkan lagi.
Research untuk menganti synthetic non-biodegradable plastic dengan biodegradable plastic (seperti polyhydroxyalkanoat yang jauh lebih mudah untuk didegradasi oleh microorganism) sendiri sudah berjalan pesat sejak tahun '80 an. Kualitasnya tidak inferior dibanding synthetic plastic namun sayangnya metode produksi yang cukup sulit dengan biaya sekitar 7x lipat dari plastik biasa membuat produk ini agak kalah bersaing. Mudah2an 10 tahun ke depan kita sudah bisa melihat implementasi dari produk2 biodegradable plastic ini...meanwhile just do our part by reducing, re-using,and recycling :)

science said...

ada perkembangan menarik akhir2 ini: ketika saya beli keperluan di salahsatu toko waralaba tas plastiknya tidak seperti biasanya tapi sudah menggunakan yang ramah lingkungan khas dengan warna yg berelasi dengan keramahan, hijau klorofil bertuliskan"tas ini dapat hancur dengan sendirinya"...


nice improvement!

worth to read as our new horizon:state of fear-michael crichton!is kinda trigger!!we'll learn more, and muse more, more and more about current issue that is so....

;D

iN The Ra said...

Cerita Seorang Pendiam


Melalui mulutnya yang fasih terbungkam,
Untaian kata tertancap kokoh di jiwa.
Walaupun tidak terdengar,
Tapi sangat jelas sekali maknanya.

Dengan tatapan matanya yang dingin,
Dia hangatkan suasana yang bimbang.
Dengan pancaran keheningan,
Dia ceriakan tiap sudut hati.
Dan melalui keangkuhan sikapnya,
Dia coba menyapa setiap insan.

Tutur katanya lembut,
Tapi mampu menggores hati.

Dia ajarkan bagaimana berbicara yang benar,
Melalui isyarat yang hanya terbaca dengan merasakan….
Cukup dengan merasakan.

Melalui tampang harunya,
Dia coba hibur semua manusia,
Dengan leluconnya yang membuat setiap pasang mata menangis.

Ia lalu bercerita….
Ceritanya singkat, namun tiada mengenal habis,
Karena telinga kita tak sanggup menangkapnya.
Hanya dengan hati saja kita memahami ceritanya.


Ia berkata tentang hidupnya….
Hidupnya yang sendiri, tapi ditemani banyak kenangan.
Ia perlakukan nyawa titipan Tuhan ini dengan penuh hati-hati.
Ia coba lewati kegelapan dengan lilin yang tak pernah redup.
Ia susuri setiap penderitaan dengan senyum menawan.
Ia cari kebenaran diantara fitnah dan kebohongan.
Ia jaga amanah-Nya hingga bumi menelan seluruh raganya.

Itulah ceritanya….
Ceritanya memeng telah usai,
Namun kisahnya takkan pernah selesai.
Walaupun mulutnya tidak bisa berkata, tapi hatinya akan terus bercerita.
Meskipun ia menderita, tapi jiwanya merasa amat bahagia.
Bersediakah kita meneruskan ceritanya…?
Salam manis buat seorang pendiam,
Ceritanya tak akan pernah bungkam.

Johan Bhimo Sukoco said...

Hidup Mbak Dee! Rasa-rasanya sudah saatnya kita membawa kantong beras sendiri dari rumah saat hedak ke supermarket. Kantong dari kain. Atau kantong doraemon sekalian, ya? -JBS-

riza said...

Mbak..,uda baca buku nya michael crichton "state of fear" belum..?
semua orang ribut dg pemanasan global...tapi kalo baca buku ini, setidaknya pengetahuan dan wawasan kita lebih open..

nYam said...

aku bikin grocery bag sendiri, pas dipake belanja, malah kasirnya bengong. lha aku campur aja pasta gigi, minyak goreng, susu UHT. waktu belanja bulanan, minta kardus juga diliatin aneh sama orang yang ikutan antri. belanja sayur bawa tas sendiri, malah diledekin sama tukang sayur. hadooooh

M Mushthafa said...

Semakin tersebarnya informasi ttg pemanasan global memang punya dampak positif: orang lebih melek informasi. Tapi tulisan Dee ini sekali lagi mengingatkan kita bahwa hal semacam itu belum menjamin bagi berubahnya gaya hidup kita. Mengubah diri sendiri, sekecil apa pun, butuh upaya keras. Apalagi terkait kebiasaan.
Dee, tulisan ini sama sekali tak basi. Inspiratif!
Oya, pamit ya, saya mau menautkan blog ini di blog saya.
Terima kasih.

anjinktanah said...

Yeah
sangat kompleks, pemerintah tak mau ambil resiko dengan mengambil kejbijakan untuk segera melarang penggunaan plastik. Karna mungkin memang tidak bisa menyediakan nafkah untuk karyawan industri plastik. Begitu juga supermarket yang mungkin punya hubungan moril (mungkin).
Yang saya tau sampah plastik yang berwarna buram memang hasil daur ulang terakhir, maka harganya relatif murah dan ekonomis.
Solusi ada pada kita masing2, dengan membuang sampah pada tempatnya, mengurangi pemborosan plastik, memisahkan antara sampah plastik, fero, dan alamiah. Tapi itu bukan hal mudah tp tak terlalu sulit pula.

Dan bila harus menyangkut isu pemanasan global maka hal termudah adalah mematikan AC dan segera menikmati hidup di alam tropis.
Thx , salam perubahan.

hanya hujan-pigsy just Bi said...

di beberapa negara maju,kyk seoul dkk,,konsumen emang harus bayar plastiknya,,ya kalo di rupiahin 1 plastik=seribuan gitu,,
kalo untuk indonesia yg masyarakatnya lagi gila infotainmet dan tergila2 reality show yang unreality,mending artis2 atau figuran2 itu pada pake nunjukin gaya belanja dgn tidak menggunakan plastik,,yakin deh,,sampe bantul pasti pada notice dan ikutan.walaupun awalnya cuma gaya,niscaya nanti2 pasti jadi kebiasaan

onlyoneearth said...

David, berikut salah satu info bahaya plastik semoga bisa jadi masukan ya
entah sudah berapa jumlah burung Albatros Laysan yang mati 'kekenyangan' plastik. Lihat gambar berikut, adalah isi perut bayi Albatros Laysan yang ditemukan mati 'kekenyangan': bayi burung Albatros Laysan mati 'kekenyangan' plastik, seratus lebih item yang diidentifikasi adalah benda yang berbahan baku PLASTIK. Mengapa? karena plastik sangat-sangat awet, 500an tahun barulah dapat terurai oleh mikroorganisme. Sukunan, sebuah wilayah pedesaan di Yogya, telah belajar banyak mengapa tanaman mereka tak kunjung besar, alias cebol-cebol. Ternyata setelah mereka menggali lebih dalam, berlapis-lapis plastik memadati tanah, hingga cacing tanah tak punya ruang, mereka tak bisa eksis dalam desakan tumpukan plastik, pantas saja tanah jadi kehilangan kesuburannya. Belajar dari sinilah wilayah Sukunan, sangat ketat menerapkan aturan pemilahan sampah dan pengelolaan sampah organik pun digalakkan. Singkatnya, salah satu bahaya plastik adalah karena tidak mudah terurai hingga bisa numpuk di mana-mana, memenuhi tanah, memenuhi sungai dan lautan. Banyaklah browsing cari info di internet, seribu satu fakta akan David temukan ya...

Chindy Tan

reinvandiritto said...

mungkin suatu hari
akan ada bumi dari plastik

SiWulaNi-GejoraHati said...

saya berterimakasih, tulisan ini warning buat kesadaran saya yang kumat-kumatan. Kalo pemerintah tegas dan banyak himbauan-himbauan yang jelas di tengah masyarakat, pasti masyarakat kita oke-oke aja kok, menggunakan plastik sesuai kebutuhan. Karena saya bukan pemerintah, saya cuma bisa ngeblog tentang plastik atau bikin status tentang plastik di FB atau Twitter. Dan juga dalam kehidupan sehari-hari, mengurangi pemakaian plastik. Seperti adik saya yang sudah lebih dulu sadar akan hal tersebut. Makasih Kak Dee.

cipu said...

Mbak Dee, saya juga megamati hal yang sama di toko-toko kecil seperti Indo Mart yang tersebar di seluruh pelosok Jakarta. Banyak pengunjungnya yang cuman membeli satu atau dua jenis barang seperti roti tawar atau body cologne tapi tetap tidak menolak saat disodori kresekan. Mungkin memang perlu campaign yang lebih massive khususnya di TV tentang bahaya plastik.
Thanks for the article, it's really inspiring

gibthi ihda said...

Terima kasih untuk telah dan akan terus menjadikan Super Indo sebagai tempat pilihan anda dalam berbelanja.

Terima kasih kami sampaikan atas apresiasi yang Ibu Dewi Lestari berikan atas program Lindungi Lingkungan Kita.

Perlu kami sampaikan bahwa sejak awal mula digagas, Program Lindungi Lingkungan Kita bukan hanya sekedar sebagai sebuah kampanye dengan konsep komersial yang ditawarkan kepada masyarakat, tetapi secara terpadu merupakan wujud kepedulian sosial dimana Super Indo memilih memulai langkah kecil ini untuk mengenalkan, mengajak dan menyebarkan kesadaran atas peran penting setiap individu pada kelestarian lingkungan melalui pengurangan penggunaan kantong plastik.

Untuk itu Super Indo memberikan beberapa alternatif solusi kepada para pelanggan dalam upaya mengurangi penggunaan kantong plastik saat berbelanja, yaitu dengan cara :
1. Paling utama: menyediakan dan menawarkan kardus bekas sebagai pengganti kantong plastik.
2. Menyediakan Tas Belanja Pakai Ulang (Reuseable Bag) Super Indo berbahan Woven Poly Propilene dengan pertimbangan bahan tersebut memiliki kekuatan untuk dipakai berulang kali, bermuatan besar, dan dapat digunakan untuk membawa produk dingin atau basah saat berbelanja.

Adapun pemberian poin yang dilakukan merupakan bentuk apresiasi Super Indo kepada pelanggan yang telah berupaya untuk tidak menggunakan kantong plastik. Poin dapat dikumpulkan. Dengan seringnya berbelanja ke Super Indo serta tidak menggunakan kantong plastik, maka dengan mudah juga reusable bag atau voucher belanja didapatkan secara cuma–cuma. Upaya ini bagian dari mengedukasi diri dalam mengurangi sampah plastik.

Kegiatan ini memang tidak dapat secara langsung merubah kebiasaan masyarakat. Hingga kini pun masih merupakan tantangan bagi kami untuk secara berkesinambungan mengedukasi para pelanggan. Namun kini telah banyak pelanggan di gerai kami sudah memiliki kesadaran dengan tidak mau menggunakan kantong plastik tapi membawa tas pakai ulang ataupun menggunakan kardus bekas yang kami sediakan. Hal ini menjadi indikasi bahwa perlahan tapi pasti jika terus kita kampanyekan bersama akan memberikan dampak yang signifikan. Dan apa yang telah Ibu Dewi Lestari lakukan dengan mengajak anggota keluarga dan teman untuk berpartisipasi pada kelestarian lingkungan merupakan awal yang sangat baik bagi generasi mendatang. Jika saja ada banyak orang memiliki pandangan, ide dan idealisme seperti Ibu tentunya bersama kita dapat menciptakan masa depan yang lebih baik lagi.

Super Indo percaya bahwa kontribusi kecil yang digalang bersama akan membawa perubahan yang positif.

Salam,
Gibthi Ihda Suryani
Coordinator Corporate Communication and Customer Management
PT Lion Super Indo

Cassablanca Ressidence said...

Mbak memang benar, namun di Makro, walaupun mereka tidak menyediakan tas plastik untuk mengangkut belanjaan, namun, bila diperhatikan, tetap saja banyak kantong plastik yang digunakan untuk membungkus belanjaan, seperti sayur, buah, ikan, dll (barang yg harus ditimbang dulu, yang bebas diambil semaunya oleh pengunjung, bahkan saya lihat banyak dari pengunjung yang mengambil banyak2, yang sebagian ternyata hanya digunakan sebagai "sarung tangan" untuk mengambil, produk-produk ikan dan daging-dagingan, bahkan untuk produk-produk lain yang sebenarnya tidak kotor (mungkin baru dari perawatan kuku kali ya...:D ). Jadi tetap saja di sana banyak plastik yang terkonsumsi sia-sia...

~ jessie ~ said...

Kak Dee, soal penggunaan plastik di Indo nih sepertinya jadi salah satu masalah rumit juga ya. Soalnya kalo kita bicara plastik, enggak cuma kantong plastik belanjaan yg biasa dipake di supermarket, tapi semua produk kebanyakan bungkusnya pake plastik. Beli pampers, bungkusnya juga bahan plastik tuh. Beli tissue isi ulang, bungkusnya juga plastik. Beli sabun cuci ato pewangi, juga bungkusnya plastik. Beli sabun mandi juga gitu. Belum lagi yang lain-lain. Semuanya kebanyakan pake bahan plastik ga sih? Yg artinya jg ga ramah lingkungan. It's true kalo yg bisa kita lakukan itu mengurangi pemakaian plastik atau pemakaian ulang apa yg sudah ada, tapi yang lain-lain semua terus bertambah. Jadi susah juga mikirnya.

dustysneakers said...

Thanks dee atas tulisannya yang eyeopener! solusi untuk pengenaan harga 2000-5000/kantong plastik itu bagus banget, both feasible and effetive!

beingck said...

halo Dee...
pernah terpikir nggak nulis tentang "sumbangan" orang-orang dibulan puasa ini terhadap lingkungan? Mungkin ini hanya terjadi disekitar saya saja, tapi sepertinya makin kesini, makin 'brutal' saja kelakuan orang-orang dibulan puasa. semisal, saat menjelang berbuka (antara jam 17.30 wib sampai menjelang adzan, kalau saya perhatikan dijalan-jalan.. itu, ya sepeda motor, ya mobil, ya angkutan umum, ya kendaraan bermotor lainnya, semua berseliweran ngebut dan berjejal dalam satu waktu, tidak terbayang bagaimana penuhnya saat mencapai H-5 sampai H+5 yang nota bene merupakan hari terpenuh entah itu menuju kampung halaman ataupun menuju tempat-tempat wisata, yang saya baca sedikitsedikit dikoran, setiap tahun selalu saja ada kenaikan yang cukup besar dari penggunaan kendaraan bermotor menjelang dan setelah lebaran. Begitu juga dengan permintaan akan daging-dagingan yang melonjak drastis..berapa banyak hewan yang 'dibantai' demi pemenuhan perut orang-orang (ini curcolnya saya saja yang vegetarian hehehehe...) belum lagi angkutan untuk membawa makanan tersebut entah daging entah sayur entah yang lainnya... aduuuuuuhhh pokoknya pusying deh... saya juga seorang muslim, namun saya makin kesini makin heran dengan tabiat orang yang sedang berpuasa sebab keliatannya (mudah-mudahan memang keliatannya saja) kayak mahasiswa yang datang kekelas untuk absen saja, masalah kemudian apakah didalam kelas ngobrol, tidur, sms-an, atau bacabaca yang lain bukan masalah yang penting hadir. masalah kemudian apakah menyumbangkan kerusakan lingkungan itu masalah nanti yang penting nahan lapar dan haus dari subuh sampai maghrib (belum lagi belanjabelanji yang makin menggila... fuhhhhhhhh). Sekali lagi ini cuma curcol saya saja barangkali... Terimakasih Dee.

Faye said...

Setuju sekali dengan mbak Dee. Lebih mirisnya orang Indo kalau nggak pakai plastik masih dianggap aneh.
Seringkali saya menolak plastik dari supermarket dan memilih memasukan belanjaan ke dalam tas, tapi kasirnya memandang saya dengan aneh.

Huff, kalau kita masih mempedulikan pandangan aneh orang-orang, Indonesia susah berubah ya :(

henry said...

Setuju. Mari tingkatkan penggunaan kardus untuk barang belanjaan daripada kantung plastik.

alzemendi said...

miris apa itu miris, sebuah makan kah, atw sebuah sifat?

citraningrum said...

di sini (Taipei-red) kantong plastik harus membayar. Jadi banyak yang belanja dengan membawa kantong sendiri.
kantong plastik untuk payung basah di setiap stasiun metro (kereta api bawah tanah-red) juga dari plastik daur ulang.
bagaimana jika pemerintah juga mengadakan kebijakan seperti itu?

Adji Waluyo Pariyatno said...

@Penulis...nice sharing, sayangnya kebijakan pemerintah kita parsial2...so pasti go green hanya sebatas wacana dan implementasi sekedarnya.
@Citra---wah usul bagus tuuuh, tapi pasti banyak yang menentang (pada awalnya)---urusan pemerintah banyak yg lebih urgent ketimbangan ngurusin plastik, kemiskinan aja gak bisa diberantas2..heheheheheheheh

akbarsadarpo said...

sedikit kita merubah dunia, berarti kita sudah merubah keseluruhannya :D

karikaturindonesia said...

salut......
sudah saatnya kita peduli lingkungan.
mari selamatkan bumi dengan tangan kita,

Elvira said...

Aku sekeluarga selalu isi (dan 'edit') kantong plastik yang dipake si kasir. Kebanyakan kita mengeliminasi itu kantong plastik. Dipenuhin aja kantong yg masih cukup gt

DiXiE said...

...emang benar2 perlu kesadaran dari pribadi masing-masing buat masalah Go Green ini. Masyarakat cenderung harus dipaksa dulu baru 'mau'. Jadi sebenarnya kalo emang bener-bener mau serius,pemerintah harus ikutan ambil bagian tentang sampah plastik ini. Mungkin dengan cara rada maksa yah tapi khan buat masa depan bumi juga. Kalo dari gw sendiri, sekarang lebih sering bawa tas daur ulang sendiri yang gw dapet gratisan dari event-event ato kalo belanjanya cuma dikit dijubelin ajah ke tas. hehehe . Lumayan lah . Tapi emang gak bisa buat belanja banyak.
Tulisan mbak Dee ini baru satu dari sekitar jutaan tulisan yang ada, semoga bisa ikut menyadarkan banyak orang.

handywhite said...

mmmm...
emank kudu pake slaen plastik yak,,

klu pendapat saya mah plastik daur ulang kayaknya yang lebih efisien, slain dapat dimanfaatkan kembali, pembuangannya pun ada dimana-mana..

zyngox said...

saat ini manusia perlu mengubah gaya hidup diawali dari diri sendiri jangan gunakan plastik dan apabila anda terpaksa menggunakan jangan dibuang dulu karena plastik anda dapat digunakan unruk keperluan anda yang lain. Kalo ingin membuang seharusnya pisahkan antara sampah kering dan sampah basah

zainuri said...

ya, semua perubahan itu pasti ada tantangan, bahkan penentangnya. Pada mulanya hal yang dilakukan seperti di Makro memang merepotkan, tapi lama kelamaan sudah paham dan biasa. kalo mau ke Makro yang memang harus siap "tas" dari rumah.

Menanti BintangKU said...

untuk go green memang "sedikit" merepotkan.

yg paling simple dr usaha untuk menjaga lingkungan ya.......dengan mengurangi penggunaan kantongplastik saat berbelanja.
saya udah memulai kebiasaan ini sejak kuliah semester 6 (which means, it has 4 years \(^-^)/ yippiiiyyyy...!!!)
kadang saya jd dianggap aneh sama orang2 di sekitar saya...krn slalu pergi dgn tas yg besar (and when i said big...it's BIG!!!), blm lg dgn tambahan tas kain tambahan (yg jumlahnya bisa smp 3pcs), yg saya gunakan untuk membawa barang belanjaan. saya sll menolak untuk menggunakan kantong plastik tiap belanja. sedikit menyebalkan melihat reaksi dr kasir supermarket saat saya menolak menggunakan kantong plastik. mereka malah melihat dgn tampang aneh dan sedikit menyindir, atau malah senyam senyum ga jelas.
temen2 saya pun bilang klo kebiasaan ini bikin repot???
YUPZZZ...memang merepotkan, tp kalau melihat dampaknya untuk lingkungan......well, saya BANGGA!!! repot pun terbayar.

"untuk bisa merubah lingkungan jd yg lebih baik....harus dimulai dr diri sendiri"

\(^-^)/

Ovie A. Win said...

di tempat saya juga lagi marak Go Green, dan meski dengan tertatih-tatih kami terus mengadakan sosialisasi juga sebisa mungkin mendaur ulang sampah,

makasih buat pencerahannya
KEREN!

Yoedhis said...

toko-toko kecil seperti indomaret sudah memulai usahah ini, biasanya dengan ramah mereka akan menawari menggunakan kantong plastik atau tidak pada pengunjung yang membawa tas dan belanjaannya sedikit

bintang langit said...

Sagat setuju ! Pemerintah seharusnya juga lebihcepat bergerak menyadarkan masyarakatnya .
dikota saya ( Padang ) malah belum ditemukan adanya kesadaran dr produsen . Mereka dengan santai membungkus belanjaan dengan plastik tanpa penawaran apapun . Hanya kita sebagai konsumen harus mengatakan "tidak usah pakai plastik itu" . Sangat miris .

Fairy said...

Sangat setuju sekali dengan tulisan Mba. Sekedar sharing, ketika saya masih tinggal di Korea Selatan 3 tahun yang lalu, semua supermarket mengharuskan pembelinya untuk membayar sejumlah uang jika ingin memakai kresek. Tetapi kotak-kotak bekas banyak disediakan, dan free. Ada meja tersendiri tempat pelanggan bisa mengatur belanjaannya dalam kotak, dan meng-seal-nya sendiri dengan isolasi yang tersedia. Juga disediakan tempat sampah ukuran besar, jika pelanggan ini menghemat kemasan, misalnya pasta gigi yang ada kotaknya, supaya hemat tempat, kotaknya dibuang di situ. Jadi ketika dibawa pulang ke rumah juga tidak terlalu besar. Sekarang jika saya belanja di mini market di Jakarta, ketika saya mengeluarkan plastik atau kantong bawaan dari rumah, beberapa orang melihat dengan aneh. Dikira saya pelit amat kali yah. Hihihihihi...

Mendukung pola hidup ramah lingkungan. Walaupun lingkupnya masih kecil.

Greeneration said...

Haloo mbak Dewi Lestari..apa kabar? :)

melihat bahaya2 yang ditimbulkannya, sudah saatnya kita mengurangi penggunaan kantong plastik.

sudah punya tas baGoes? baGoes adalah solusi nyata untuk membantu mengurangi penggunaan kantong plastik. Selain bisa dilipat menjadi gantungan kunci, baGoes dapat mengganti hingga 1000 kantong plastik.

info lebih lanjut mengenai tas baGoes bisa dilihat di http://shop.greeneration.org

yuk sebarkan pengurangan penggunaan kantong plastik ini, untuk mendukung terwujudnya Indonesia tuntaskan sampah! :)

Salam,

Reta Yudistyana
Greeneration Indonesia

--
Greeneration Indonesia
green attitude green environment
Kanayakan D 35 . Bandung 40135
Jawa Barat - Indonesia
Telp/Fax: +62-22-2500 189
Email: info@greeneration.org
Web: www.greeneration.org

Belajar Blogging said...

ikut eksis saja mba hehe,maaf ya

StefaniBrenda said...

betul banget mbak Dee.. entah mengapa masih banyak orang yg gak peduli hal-hal kayak gitu..
yg penting buat mereka adalah mereka gampang bawanya.. hmm.. sepertinya tindakan meminimalisasi penggunaan kantong plastik harus diadakan serentak oleh semua minimarket, supermarket, dan hypermarket deh..
semoga para penggemar mbak Dee yg jg follower blog mbak bisa sadar dan terdorong untuk meminimalisasi penggunaan plastik..
dan masyarakat juga harusnya mengurangi keegoisan mereka deh... jangan cuma mikirin kepraktisan mereka aja..

AllOf said...

fotonya itu lho mbak >.<

blog sains epayana said...

setuju mbak dewi lestari pemerintah semestinya tegas terhadap masalah lingkungan dan memberi sanksi yang sangat berat terhadap orang yang telah merusak lingkungan

nasrul chair said...

Setuju Mba Dee. Memang selama ini kampanye2 goes green lebih banyak ditujukan utk sekedar pencitraan saja baik di tingkat pemerintah maupun perusahan2. Masih belum ada keseriusan dan program kerja yg komprehensif utk mengatasi bahaya global warming tersebut.. Maju terus Mba utk kampanye2 spt ini...

Salam
Nasrul Chair
http://nasrulchair.wordpress.com/

Melodhiny said...

Peran perempuan tidak lepas dari masalah ini. Hal ini di tunjukkan dengan kegiatan para perempuan seperti berbelanja, kantong plastik selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan. Mulai dari jajan panganan di pinggir jalan, hingga berbelanja keperluan rumah tangga di mal-mal besar. Padahal, kita bukannya tidak tahu masalah yang timbul akibat kantong plastik.

Kalau kita membawa makanan panas dalam kantong plastik, panas makanan tersebut dapat melarutkan zat-zat tertentu dari plastik yang mengakibatkan makanan tersebut tercemar zat yang justru tidak layak dikonsumsi. Atau, jika sampah plastik dibakar, asap yang terhirup oleh manusia pun mengandung zat-zat berbahaya. Padahal, kita sering memanfaatkan plastik sebagai kantong sampah yang entah bagaimana penanganannya kelak, entah dibakar atau dikubur dalam tanah.

Dipendam di tanah pun ternyata tak menyelesaikan masalah karena sampah plastik membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk dapat hancur. Hewan pun tak luput dari dampak buruk kantong plastik. Tampaknya kantong plastik sudah menjadi bagian dari gaya hidup sehingga begitu sulit untuk melepaskan diri dari kantong plastik.

Haura said...

Sebelumnya,,,, salam kenaL mbak Dee,,,

Ini akibat kurangnya kesadaran pemerintah dan masyarakat ttg betapa sulitnya (hampir tidak mungkin) untuk mengurai sampah plastik secara alami,, aku juga miris ngeliat oRg yg buang sampah (contoh gelas plastik air mineral) secara sembarangan,,, keq gag punya dosa... Untungnya dari kecil aku sudah terbiasa membudayakan malu utk membuang sampah sembarangan,, sekecil apapun itu (keq bungkus permen)...