Monday, December 21, 2009

Luna Bukan Kopaja

Luna Bukan Kopaja



Peluru ditembakkan ke udara. Asbak melayang. Dan sekarang, sebaris sumpah serapah di Twitter.

Relasi media hiburan dengan komoditas tunggalnya—yakni para penghibur, atau yang lebih sering disebut “artis”—adalah hubungan yang berwarna-warni. Kadang-kadang keduanya menempel manis bagai semut yang memeluk gula, tapi kadang-kadang keduanya saling sengit bagai kucing dan anjing.

Dan kini, dalam mangkok besar industri hiburan, kita pun punya apa yang disebut: infotainment—hadir dalam bentuk program teve yang laku ditonton dan diproduksi dengan biaya tak besar. Berbeda dengan sinetron yang menuntut puluhan kru serta puluhan pemain dengan honor yang tak kecil, infotainment melenggang ringan dengan satu-dua kamera, dua-tiga kru, dan segenggam mikrofon yang ditodongkan ke para artis yang tak dibayar* untuk membuka ruang privat kehidupan mereka. Simbiosa? Sudah pasti. Saling membutuhkan? Tidak setiap saat. Saling menguntungkan? Belum tentu.

Berikut beberapa anggapan umum, yang saking mapannya bersarang di benak masyarakat, sudah jarang kita pertanyakan atau cek kebenarannya, antara lain:

1. “Media hiburan dan artis saling membutuhkan.”

Bagi saya, kalimat itu terdengar manis dan bijak tapi juga menjebak dan menjerat. Menjebak hingga artis dipaksa untuk melonggarkan bahkan merobohkan garis privasi di luar keinginannya, dan menjerat masyarakat untuk terus mewajarkan tindakan-tindakan intimidatif infotainment dengan alasan “itu kan risiko jadi orang terkenal.”

Agar karya saya menggaung di masyarakat luas, saya membutuhkan media sebagai amplifier-nya, termasuk media hiburan (meski ada juga karya yang jadi besar dan laris bahkan sebelum media sempat menyentuhnya). Namun tidak semua jenis pemberitaan mendukung karya ataupun pamor saya. Bahkan ada pemberitaan yang mengganggu hidup saya. Bukan “saling membutuhkan” namanya jika saya menolak diliput dan malah terus dikuntit, rumah saya ditongkrongi dan dimata-matai. Bukan “saling membutuhkan” namanya jika kalimat saya diputar-balikkan untuk memenuhi opini subjektif tertentu melalui gambar dan narasi yang lantas dibagi ke jutaan pemirsa. Dalam situasi seperti itu, saya menolak keras generalisasi bahwa artis selalu membutuhkan media hiburan.

Media dan seorang artis hanya layak disebut saling membutuhkan jika memang keduanya sedang merasa ada kebutuhan, yang artinya: situasional. Tidak terus-menerus dan berubah-ubah.

2. “Hubungan antara artis dan infotainment bersifat mutualisme.”

Mengatakan, atau mengharapkan, bahwa hubungan antara artis dan infotainment selalu bersimbiosa mutualisme, menurut saya, adalah pernyataan yang buta. Simbiosa yang terjadi di lapangan bisa beragam:

• Mutualisme : Saat si artis mengizinkan dengan sukarela untuk si infotainment masuk ke dalam ruang privatnya, dari mulai meliput bisnis sampingan, meliput ulang tahun anak, bahkan untuk membantu posisi tawarnya dalam industri. Infotainment pun kadang sengaja dilibatkan ketika si artis hendak memenangkan sebuah konflik. Dalam relasi ini, kedua pihak sama-sama diuntungkan.

• Komensalisme : Dengan izin atau tanpa izin, disengaja atau tidak, infotainment mewawancarai artis dan diladeni secara netral-netral saja. Misalnya, untuk memberi komentar ringan, atau meminta klarifikasi atas berita-berita remeh (baca: bukan skandal). Dalam pengamatan saya, relasi macam inilah yang paling banyak terjadi; si artis bisa berjalan lalu sambil berkata “Ah. Biasalah, infotainment,” dan si reporter bisa permisi pergi dengan muka lurus tanpa harus mengejar dan mencecar. Dalam jenis relasi ini, artis tidak merasa diuntungkan, tapi juga tidak merasa dirugikan.

• Parasitisme : Ketika si artis tidak memberikan persetujuan, kerelaan, atau keinginan untuk meladeni infotainment, tapi terus didesak, dipaksa, bahkan diintimidasi. Dan kemudian berita tetap ditayangkan dengan memakai perspektif satu pihak saja. Dalam pengemasannya, beberapa infotainment bahkan sampai melakukan teknik wawancara imajiner, pemalsuan suara, memutar balik kejadian sebenarnya, dan cara-cara lain yang sudah menjurus ke arah fitnah.** Dalam relasi ini, jelas yang diuntungkan hanyalah pihak infotainment, sementara pihak artis dirugikan, bahkan dicurangi.

3. “Kalau beritanya aib pasti artisnya menghindar, kalau berita baik infotainment-nya dibaik-baikin.”

Lagi-lagi, buat saya itu adalah opini yang malas dan tak jeli. Tak sedikit area yang disebut “baik-baik” oleh banyak orang, tapi bagi beberapa artis tertentu merupakan ruang privat yang tidak ingin dibagi ke infotainment, seperti kelahiran anak, acara pernikahan, dst. Dan banyak juga konflik/isu berbau skandal yang secara sengaja justru melibatkan infotainment atas undangan/persetujuan/kerelaan artisnya. Jadi, fakta di lapangan lagi-lagi tidak mendukung opini umum tersebut. Setiap artis punya preferensi dan garis batasnya masing-masing.

4. “Seorang figur publik wajib membuka dirinya terhadap publik karena ia sudah jadi milik publik.”

Sewaktu kecil, saya tidak pernah bercita-cita jadi figur publik. Yang saya ingat, saya ingin jadi penulis dan musisi profesional. Itu saja. Saat saya berkarya, saya mempertanggungjawabkannya dengan cara-cara yang sederhana: menjamin bahwa karya saya asli dan mencintainya sepenuh hati.

Namun karya dan citra melangkah seiring sejalan ketika sudah masuk ke dalam industri. Di sana, karya menjadi besar, citra pun ikut membesar, dan saya yang manusia biasa kadang-kadang tenggelam oleh keduanya. “Figur publik” akhirnya menjadi efek samping yang mengiringi profesi artis, walaupun berkarya dan terkenal sebetulnya adalah dua hal yang berbeda.

Sialnya, pengertian “figur publik” selalu ditempelkan dengan konotasi “milik publik”. Kita amat sering terpeleset dengan menganggap keduanya identik, padahal secara esensi keduanya berbeda. Dalil itulah yang kemudian digunakan infotainment untuk menuntut artis buka mulut. Sering sekali mereka mengatasnamakan “masyarakat” dengan mengatakan “Masyarakat berhak untuk tahu!”

Bagi saya, yang menjadi milik publik adalah karya saya. Masyarakat bisa membeli buku saya, CD album saya, mengundang saya untuk diskusi buku dalam kapasitas saya sebagai penulis, atau mengundang saya bernyanyi dalam kapasitas saya sebagai penyanyi. Namun saya punya hak penuh atas kehidupan pribadi saya. Hidup saya bukan milik publik. Adalah hak saya sepenuhnya untuk menentukan seberapa banyak potongan kehidupan pribadi yang ingin saya bagi dan mana saja yang ingin saya simpan.

Artis adalah manusia yang berkarya. Bukan telepon umum.

5. “Seorang artis harus selalu bertutur laku baik dan sopan.”

Ini barangkali anggapan umum yang paling naif tentang artis. Pertama-tama, bukan hanya artis, seorang tukang becak pun dituntut untuk bertutur laku baik dan sopan pada penumpangnya. Ketika sudah hidup bermasyarakat, sikap baik dan sopan melancarkan interaksi kita dengan satu sama lain. Namun kita juga manusia yang punya dua sisi. Kita pun bisa marah dan kehilangan kendali. Lantas apa yang membedakan Luna Maya dengan Mang Jeje—tukang becak langganan saya di Bandung?

Sebuah pepatah bijak berkata: “Semakin tinggi pohon, semakin keras angin menerpa.” Saya setuju. Tapi tidak berarti bahwa seseorang yang dianggap bintang lantas di-dehumanisasi-kan. Menuntut seorang bintang untuk selalu sempurna, bukan saja berarti penyangkalan atas kemanusiawian, tapi juga mustahil bisa dipenuhi. Jadi, jika kesempurnaan adalah kemustahilan, mengapa sebagian dari kita begitu sulit berempati?

Seorang Luna Maya, yang sudah minta pengertian secara baik-baik, tapi malah terus didesak hingga kamera membentur kepala anak yang sedang ia gendong, lantas meledakkan emosinya di Twitter—sebegitu irasionalkah tindakannya itu? Atau justru manusiawi? Apa yang kira-kira akan kita lakukan jika kita menjadi Luna? Tetap bermanis-manis hanya karena status artisnya, hanya karena konon ia “milik publik”? Sekali lagi, seingat saya, Luna adalah model dan presenter. Bukan Kopaja. Apa hak kita untuk mengklaim agar Luna bertutur laku sebagaimana keinginan kita? Kita bisa menyimpan fotonya, menyimpan RBT lagu Luna di telepon genggam kita, tapi kita tidak bisa mengontrol manusianya seperti kita mengoperasikan AC dan remote-nya.

6. “Tanpa media, artis tidak akan jadi siapa-siapa.”

Ini barangkali sihir terkuat yang merasuk di kalangan artis. Kita tahu, betapa besar peran media dalam perkembangan karier seorang artis—entah itu karier musik, sinetron, film, model, dsb. Tapi, mari kita lihat skala yang sesungguhnya: Media bukan cuma satu. Media hiburan merupakan salah satu bagian, bukan keseluruhan. Infotainment juga cuma sebagian dari media hiburan, bukan keseluruhan.

Infotainment memang powerful. Terbukti ada orang-orang yang disulap dari bukan siapa-siapa dan tahu-tahu menjadi artis papan atas setelah diekspos habis-habisan di infotainment. Dan ada juga artis yang hidupnya ditelanjangi habis-habisan sampai harus menghilang bertahun-tahun dari panggung hiburan.

Tapi, jangan kita balik logikanya. Saya tidak melihat infotainment dan artis seperti logika ayam dan telur. Apalagi kalau infotainment disebut sebagai “induk” dari eksistensi seorang artis. Infotainment adalah fenomena yang muncul tahun ’90-an, sementara saya tumbuh besar menyaksikan artis-artis yang mampu eksis berdasarkan bakat dan karyanya jauh sebelum ada infotainment. Dan jangan kita lupa, tanpa artis, infotainment hanya corong kosong tanpa isi. Corong itu boleh nyaring. Tapi kalau tidak ada yang disuarakan, ia pun senyap dan hampa.


Bangun Dari Ilusi

Sayangnya, selama ini dari kalangan artis sendiri lebih banyak memilih diam atau bersungut-sungut di belakang. Padahal pihak artislah yang paling banyak dirugikan. Entah karena terlena, merasa bakal sia-sia saja, atau kita masih dihantui image infotainment yang terasa begitu besar dan berkuasa hingga kita percaya buta bahwa jatuh-bangun karier kita ditentukan mereka. Dan sama seperti semua manusia, tidak ada artis yang ingin kehilangan rezekinya atau dihukum di layar kaca dengan pemberitaan negatif.

Jika ada pepatah bijak yang bisa berguna, maka inilah dia: “Rezeki diatur oleh Tuhan. Bukan oleh infotainment.”

Saya tidak mengajak siapa pun untuk memusuhi infotainment. Permusuhan bukanlah tujuan saya menulis sebegini panjang lebar. Tapi kiranya para artis bisa melihat relasinya dengan media hiburan secara proporsional.

Mari kita bangun dari ilusi bahwa cuma ada satu tangan besar yang menentukan mati-hidupnya karier kita. Keberhasilan seorang artis ditentukan oleh banyak faktor, frekuensi pemunculannya di infotainment hanyalah satu faktor, bukan segalanya.

Berikut beberapa hal sederhana yang sekiranya bisa seorang artis lakukan untuk perimbangan berita:

1. Ungkapkanlah sisi cerita kita. Menulis di blog/situs pribadi, atau lakukan wawancara dengan media cetak yang bersahabat untuk menulis sisi cerita kita. Jangan kecil hati jika cerita kita kalah jumlah pembacanya dengan pemirsa teve yang jutaan. Adanya sebuah sumber cerita langsung dari yang bersangkutan jauh lebih berarti ketimbang bungkam sama sekali.

2. Jika memungkinkan, bawalah alat perekam/kamera saat infotainment meliput kita. Semua artis yang pernah berurusan dengan infotainment tentunya tahu betapa banyak kejadian asli yang terdiskon ketika muncul di layar teve, belum lagi narasi yang merajut potongan adegan agar muat di kerangka opini tertentu saja. Lalu kemanakah rekaman dari sisi kita itu kita tayangkan? YouTube. Promosinya? Believe me, with a tweet or two, we can have thousands of viewers before we know it. Maybe even more if it got spread. Kalau tidak mau repot sampai menayangkan pun tidak masalah, dengan membawa perekam tandingan saja sudah cukup mengubah percaturan psikologis saat kita sedang diliput. Catatan: Reza pernah merekam balik juru kamera infotainment yang menguntitnya. Dan ketika dia bertanya: “Buat apa Mas Reza pakai kamera segala?” Reza menjawab, “Ya sama kayak kamu, ngambil gambar tanpa izin.” Hasilnya? Yang bersangkutan pun akhirnya gerah sendiri dan kabur ke toilet pria. And yes. Reza followed him all the way there.

3. Tegas berkata ‘tidak’ dan berikan batas dari awal. Tidak jarang, artis diundang ke satu acara atau dikontrak oleh pihak yang memang secara resmi mengundang infotainment. Kita bisa mensyaratkan sejak awal pada pihak penyelenggara bahwa wawancara hanya sebatas materi yang mendukung acara dan tidak melenceng ke hal-hal pribadi, dan untuk itu kita bisa meminta panitia untuk ikut menggawangi jalannya wawancara. Tegas bilang ‘tidak’ atau diam ketika pertanyaan mulai melenceng. And when things start to get out of hand, just do what every Miss Universe is known best at: smile and wave.


Penderitaan Sebagai Candu

Di luar dari itu semua, sebagian besar masyarakat pun punya problem adiksinya sendiri. Infotainment telah memanjakan tendensi manusiawi kita untuk merasakan kepuasan saat melihat ada orang lain yang tidak lebih baik, bahkan lebih menderita, ketimbang kita. Schadenfreude. Apalagi kalau orang-orang itu adalah kaum yang kita anggap super, yang punya segalanya. Kita semua menyimpan tendensi itu, sadar atau tak sadar, sama halnya kita punya potensi untuk membunuh dan merusak. Namun kita punya pilihan untuk tidak melakukannya, tidak memeliharanya.

Kita bisa menjadi penonton yang lebih mawas dan melek. Tontonan infotainment seharusnya ditujukan untuk menghibur dan memberi informasi. Ketika sudah menjadi ajang penghakiman, berarti ada yang tidak beres. Ada yang melenceng.

Sebagai penonton yang memilih tidak suka, saya sarankan untuk bersuara dengan konstruktif, entah lewat jaringan sosial di internet atau apa pun sesuai kapasitas kita. Dengan menyuarakan sikap, mudah-mudahan pihak produser infotainment maupun teve sudi instrospeksi dan membuat konten programnya lebih bermutu dan berimbang.

Cara paling sederhana? Matikan teve. Atau ganti saluran.



Berempati Tidak Perlu Polisi

It takes one to know one. Sampai kita mengalami apa rasanya dicecar dan dikepung kamera, kita tidak bisa sepenuhnya mengerti apa yang membuat Parto menembakkan pistol ke udara, apa yang membuat Sarah Azhari melempar asbak, dan apa yang membuat Luna Maya mengumpat di Twitter-nya. Di lain sisi, sampai kita tahu apa rasanya berpeluh dan bersusah payah mengejar sekalimat-dua kalimat demi mengejar setoran berita, kita pun tidak bisa sepenuhnya memahami mengapa mereka, para wartawan infotainment yang awalnya bisa sangat manis dan sopan, tahu-tahu bisa berubah seperti preman tak tahu aturan.

Saya tidak berpendapat bahwa yang ditulis Luna di Twitter-nya itu manis dan terpuji. Ia memang mengumpat dan memaki. Tapi dengan mengetahui sebab yang melatari aksi Luna, segalanya sangatlah sederhana. Kita manusia. Kita menangis. Kita tertawa. Kita marah. Kita khilaf. Sesuatu yang bisa diselesaikan dengan satu musyawarah di kedai kopi. Tanpa perlu mengadu ke polisi. Tanpa perlu UU ITE. Jadi, untuk apa membunuh nyamuk dengan bom atom?


Menghindari Bumerang Dengan Nurani

Mengadukan Luna hingga ke polisi, dan di sisi lain TIDAK memberikan berita berimbang tentang MENGAPA Luna sampai bersumpah serapah di Twitter, dan bukannya MINTA MAAF karena nyaris membuat seorang anak cedera, menurut saya adalah langkah yang tidak strategis bahkan berbahaya. Infotainment jelas bukan figur bercitra innocent yang mengundang simpati. Saat ini, infotainment tengah diuji. Artis pun sedang diuji. Dan masyarakat menyoroti. Pembelaan terhadap Luna terus mengalir.

Ironisnya, kamera pun terus berputar. Semakin panjang dan heboh masalah ini, kembali infotainment diuntungkan. Sensasi adalah uang. Jadi, jika keuntungan finansial sudah di kantong, tidakkah kehormatan juga layak dikantongi? Andai saja pihak infotainment sudi menelan ludahnya lalu melucuti label-label “pers”, “artis”, dst, kembali menjadi individu, kembali menjadi manusia biasa, ia justru bisa memperoleh respek. Namun jalur yang dipilihnya kini justru berpotensi menjadi bumerang. Pers hiburan memang besar. Tapi masyarakat jauh lebih besar.

Kasus ini bukan saja memancing reaksi dari masyarakat yang selama ini jengah bahkan muak dengan kualitas tayangan infotainment, tapi juga mengundang potensi ‘pengadilan rakyat’ yang berbasis nurani umum, seperti halnya kasus Prita vs RS. Omni. Tapi jika tujuan akhir pihak infotainment yang dinaungi PWI tersebut ternyata hanyalah sensasi (baca: rating)? Maka biarlah kecerdasan dan nurani rakyat yang akhirnya menilai sendiri.

Suara saya ini mungkin tidak punya arti. Setelah kasus ini berlalu, mungkin tetap tidak terjadi perubahan apa-apa dalam praktek infotainment, pada kegandrungan masyarakat luas akan kehidupan pribadi para artis, maupun pada sikap kebanyakan artis yang masih cenderung permisif dan bermain aman ketika berhadapan dengan kuasa kamera infotainment. Saya menghargai pilihan setiap orang. Bersimbiosa mutualisme dengan infotainment bukanlah hal yang salah. Bekerja bagi industri infotainment pun bukan hal yang salah—baik itu sebagai kru maupun presenter. Menjadi artis yang memilih untuk menutup diri dari infotainment pun bukan hal yang salah. Ini memang bukan masalah benar atau salah, melainkan preferensi. Dan ketika kita menghargai pilihan masing-masing, batas privasi masing-masing, niscaya tidak perlu lagi ada peluru menembak ke udara atau caci maki di jagat maya.

Hukum, dan praktek hukum di lapangan, tidak selalu berbasiskan nurani, melainkan permainan kelihaian di dalam kotak sistem. Jadi bukannya tidak mungkin pihak infotainment/PWI akan menjadi pemenang di jalur hukum. Jujur, saya tidak terlalu menganggapnya penting. Nurani tidak bisa dikelabui. Dan, sekali nurani terusik, masyarakat—Anda dan saya—tak akan pernah lupa.


* Ada kalanya artis dibayar. Berita-berita ringan lucu yang tahu-tahu memunculkan kemasan odol, obat penurun panas, suplemen, dsb, itu? Berita demikian namanya “insertion”. Dan artis yang berpartisipasi mendapat imbalan dari produsen yang bekerja sama dengan infotainment.

** Semua contoh metode memutar balik fakta tersebut sudah pernah saya alami langsung. Detailnya bisa dibaca di sini dan di sono.

455 comments:

1 – 200 of 455   Newer›   Newest»
Ivan Kavalera said...

Apa kabar, mbak Dewi Lestari? Jadi kangen dengan postingan blognya nih. Baca-baca dulu ah.

Shinta said...

Ketika terbangun dari tidur,masih belum ada matahari,kemudian bercakap2 melalui telpon dengan belahan jiwa saya,mata ini tidak mudah untuk kembali merapat dan terpejam. Secara tidak sengaja,ya saya mampir dan menemukan postingan ini.
Mba Dee...
Saya jadi terkejut.Sudah sangat lama saya tidak menonton infotaiment,dalam hati. Ternyata lagi ada hot-hot ya,hehe..Sampai Mba menulis ini.
Sebagai orang yg 'buta',saya akan bilang,saya ini bukan wartawan,saya juga bukan artis,saya juga tidak mau dibilang penonton (penikmat berita gosip)...Yang saya tau,wartawan,artis,adalah saudara.Jadi bila 2 saudara lagi bertengkar,itu biasa.Nanti akur lagi..!!
Nah,biasanya menjelang akurnya ini yang paling sliweran.Pemberitaan ini itu,klarifikasi ini itu,pokoknya ini itulah.Ga kebayang,pas pencet on tipi,itu lagi..Itu lagi..(ketik Ce spasi De..cape dehh)..Tapi ya,sangat dibutuhkan pendewasaan.Ga tau siapa yg mau dewasa duluan.
Kalo ada tempat pengaduan,mungkin saya mau bertamu kesana.Saya ingin bilang,Maaf,acara tipi sekarang kenapa ya ga penting jadinya buat ditonton? "Saya ga merasa penting untuk tau,Si A lagi pacaran dg siapa,ga penting juga,Si B lagi gugat cerai siapa.." Karya mereka ajalah yang dipublikasikan,jadi biar saya tau..Ooo,Ternyata Dia ya pengarang buku itu..Ooo..ternyata Dia ya yang nulis lagu itu..Hebat ya! Diluar itu,Stop! Saya ga merasa itu penting,dan yg tidak penting jangan dibahas nanti jadi 'ngalur-ngidul',hehe...
Yaa..Semoga semua pihak tidak saling ingin menang sendiri sajalah.Malah kalo perlu,nanti penayangannya di tipi pas sudah rujuk saja,enakan ngilihat endingnya aja,hehe..(bosan)
Buat Mba Dee...
Tentunya Mba punya pengalaman akan hal ini,makanya merasa perlu cuap-cuap juga.Hehe..Semoga akur-akur lah semua makhluk di Dunia ini,dalam menikmati hidup.Jangan mengganggu bila tidak mau diganggu...

-asd-

M Mushthafa said...

Saya sudah tak ingat kapan terakhir nonton infotainment di televisi. Males. Mungkin benar, itu bukan jenis jurnalisme.

Dee, tulisan ini menguak secara cukup detail topeng infotainment sehingga kita tau seperti apa wajah yang sesungguhnya. Two thumbs up!

Adi said...

setujuh :)

Rusa Bawean™ said...

benar sekali
saya setuju dengan Dee

Luna Maya kan gak harus bermanis-manis karena dia artis

apa yg dilakukan Luna Maya manusiawi

Guntur Sarwohadi said...

setuju banget. terutama soal kecanduan masyarakat kita terhadap penderitaan figur2 yang 'di atas sana'.

menanggapi #4, kayaknya ada beberapa jenis artis yang memang sulit untuk lepas dari paradigma itu, terutama yang tidak memiliki karya yang berbentuk lain dari dirinya sendiri seperti para presenter, cmiiw. dan karena mereka juga disorot kamera akhirnya terjadi generalisasi.. gitu kali ya? (unsure) :)

Ivan@mobii said...

Nice post mbk. Artis bukan milik publik, tp milik dirix sendiri. Mrka berkerja dgn tenaganya sendiri, bukan tenaga pihak media. Infotaiment hanya pencuri yg tak bisa kerja dgn hati.

Aku harap mereka bisa lbh bijaksana dlm berkerja. Jgn mau d kalahkan dgn 'uang' ! Karena uang bukan segalax...

syara said...

Matikan tv, atau ganti saluran!!...^^

Riesna Zasly said...

amat mengagumi kamu... masih menanti karya-karyamu dipasar di sini... agar bisa mengatasi ngetop andrea hirata skrg...

slmt maju jaya

Bintang Kiany said...

couldn't agree more ... nice posting anyway ... maybe we & they must learn how to be in other shoes ...

Seiri Hanako said...

"• Parasitisme : Ketika si artis tidak memberikan persetujuan, kerelaan, atau keinginan untuk meladeni infotainment, tapi terus didesak, dipaksa, bahkan diintimidasi. Dan kemudian berita tetap ditayangkan dengan memakai perspektif satu pihak saja. Dalam pengemasannya, beberapa infotainment bahkan sampai melakukan teknik wawancara imajiner, pemalsuan suara, memutar balik kejadian sebenarnya, dan cara-cara lain yang sudah menjurus ke arah fitnah.** Dalam relasi ini, jelas yang diuntungkan hanyalah pihak infotainment, sementara pihak artis dirugikan, bahkan dicurangi"


kasian banget ya... padahal sebagai konsumen sering pemirsa di rumah nggak tahu apa2...
pembohongan publik itu jahat biar cuman 1% dari kontent

mbak dan said...

nice mbak dee :)

rizka hany said...

mbak.. dengan penjelasan yg panjang lebar, aku makin mengerti posisi 'figur publik' menghadapi infotainment. aku setuju dgn semua isinya pendapat yg ditulis di posting ini... ;)

Juliana said...

infotainment semakin "memilukan".
memang mereka bekerja sesuai dengan tuntutan pekerjaan, tapi ternyata rating lebih mengambil peran daripada kebenaran dan nurani..
thanks mbak dee,, postingnya menarik ^_^

DESFIRAWITA said...

wah...penjabaran yang briliant
ungkapan yang masuk akal

good post, mbak.

okke 'sepatumerah' said...

Ya jelaslah Luna beda dengan Mang Jeje. Luna adalah public figure, apa yang dilakukannya ya pasti terpapar oleh infotainment. Pebisnis dan penggemar infotainment pastinya lebih tertarik dengan kehidupan Luna daripada Mang Jeje. Ga bisa dipungkiri. I feel sorry for all celebrities, I mean it.

BTW, cuma untuk kasus Luna, gw msh ga abis pikir, reaksi wartawan berlebihan dan GR aja,Luna bilang (pebisnis) 'INFOTEMNT'kenapa wartawan yang kebakaran jenggot? CMIIW, setau gw, bahkan wartawan sendiri ga menganggap pemburu berita infotainment sebagai wartawan. Lagian, aren't we all pelacur? Menjual 'modal' kita buat dapet duit. ;-)

Anyway, 'INFOTEMNT'emang ga sehat (plus sinetron,so called reality show program, dan acara2 cari jodoh ga penting itu), bahkan untuk dijadikan guilty pleasure sekali pun. And i still don't get people who get pleasure from watching them:D

Haviz ituu... said...

setuju sekali dengan tulisan teh dee ini. saluuuut !!!

AKU SI MELANKOLIS SEMPURNAKAH? said...

Siapa yang benar maka dia akan jadi pemenangnya..... Masyarakat tdk buta dan tuli, apa lagi Tuhan... Salam.

minie said...

setuju sama tulisan teh dewi..

Audi Toruan said...

Horas.

Sependapat dengan Nantulang untuk opini yang berkaitan dengan kasus Luna Maya.

Sejauh pendapat saya, artis pun harus dapat mengkontrol ucapan dan pendapatnya melalui media komunikasi massal sehingga tidak menjadi korban para wartawan yang mencari berita.

Sukses Nantulang untuk karir dan buku2nya, saya keponakan dari Ompung. Sepupu Yolanda Sitorus.

dystopis said...

gagal pertamax gan!!

wew.. lets dont get over react with this case guys.. kasus ga penting dan jangan di bikin penting...

lets talk about else...

hehehe..

iMonika said...

"Artis adalah manusia yang berkarya. Bukan telepon umum."- my favorite sentence! :)
postingannya bagus sekali mbak dee, membuka mata atas hal2 yg sebelumnya enggak disadari. memacu untuk berpikir kritis, dan semoga logis. heheh. .

roroputeri said...

artist came from 'art'. actor/actress came from 'act'. do we have 'infotainmenist'?

Supreme said...

Well said. Yang menjadi milik publik adalah karya si artis. Dan sudah saatnya para artis berani bungkam. Karena saat ini infotainment lebih banyak simbiosis komensalisme dan parasitisme ketimbang mutualisme.

Ibeth said...

Dan bahkan sekarang ini total infotainment seminggu = 89.5 jam menurut sebuah tulisan di http://www.politikana.com yang jauh lebih banyak porsinya dari jam belajar anak SD 1 minggu :(

Thanks for your writings, it's an eye opener for me.

melodia said...

betul mbak dee, setuju..
infotainment sekrang cenderung bikin iklim nggak sehat aja di dunia artis..

kutubusuk said...

setuju.

di rumah sedang saya usahakan menjadi daerah steril sinetron dan infotainment. staff rumah tangga sudah bisa lepas dari sinetron, namun untuk infotainment masih perlu waktu.

sinetron, infotainment = a waste of everybody's time.

in_this_diary said...

MEMBUNUH NYAMUK TDK PERLU MENGGUNAKAN BOM ATOM..right?

inspiratif..teruskan kak dewi

Liana said...

it's really nice post:) two thumb up!

Semoga membuka mata semua orang, bahwa Luna juga manusia, bukan Dewa:)

andi said...

sangat mewakili isi hati saya sebagai rakyat biasa, jadi teringat di era 90'an para artis yang sangat bisa berakting di layar lebar dan diliput hanya oleh bbrp tabloid salah satunya FILM, dan kemunculan "Dunia Bintang" pelopor liputan artis dengan sajian yg ekslusif membuat kita bersantai menontonnya,dan para tetua bs bilang "kamu bs contoh mereka" , tdk seperti skr dgn eksploitasi berlebihan pada figur. membuat kita yg menjadi tetua skr tdk bs bilang apa2 pada yg muda..
*semogainfotnmntpadainsaf,thisisindonesianothollywood

AMANDA MEIRINI SUCAHYO said...

thank GOD i never watch infotaintment. i think they're a bunch of crap.

sica said...

mbak dewi, saya sendiri enggak nyaman dengan pekerja infotainment, apalagi jika harus berbagi wilayah liputan.
Trus, tanggapan artisnya juga enggak ngenakin banget. dikira wartawan dan infotainment sama aja.

dulu, saya sampai bingung ketika seorang artis memandang saya dengan pandangan "mau ngapain sih lu".
padahal saya cuma bilang, "mbak, habis acara nanti wawancara mengenai perawatan rambut, bisa enggak?"
saat itu dia sedang menjadi moderator acara di salon.

enek banget. sialan. dan saya paham kenapa dia begitu karena saat itu banyak sekali infotainment mau wwcr seputar hub nya dengan artis lain yang kandas.

sampai acara habis, saya masih disitu. mbak artis itu ngeliatin saya aja. trus manajernya mendekati saya, "bukannya mau wawancara?"

saat itu lempeng saja saya bilang, "enggak deh. enggak perlu kok".

setelah itu saya pulang. jujur saja, dalam hati kecil saya bilang "emang siapa elu?"

mbak, kalo nongkrongin juru bicara KPK, atau ada kasus di MA, atau jenis jenis begitu lah, saya bersedia tongkrongin sampai semalam suntuk. karena ada kepentingan publik disitu. sedangkan artis ialah jenis pekerjaan, seperti halnya pengusaha.

point nya ialah, bukan saya 'ngentengin' si artis. ini cuma gambaran bahwa saya sepakat dengan mbak dewi, 'publik' nya si artis ialah karyanya, bukan ruang pribadinya.

untuk kasus luna, saya sempat mencari motif kenapa sampai anak itu terantuk kamera.
saya belum punya anak, mungkin enggak sensitif. maaf ya jika apa yang terbersit dalam otak saya jadi mengganggu.

mungkin kalau saya yang lum punya naluri ibu ini, dalam kondisi itu justru si anak itu bisa jadi malah menolong saya menghindari pekerja infotainment. jika malah terantuk kamera, saya akan bersalah dengan diri saya sendiri. jadi saya akan memilih untuk memberikan si anak kepada manajer, misalnya. trus saya jawab brat bret brot si infotainment.

kalau luna, memiliki naluri melindungi, (bagaimanapun anak itu putrinya ariel), jadi anak itu ia dekap erat. saat terantuk, marahlah ia. wajar banget. manusiawi sekali.

yang sekarang jadi persoalan, bodoh sekali kan kalau maki-makinya di twitter ditanggapi dengan pengaduan PWI ke polisi. terlalu erlebihan dan konyol. Jika merasa terganggu dengan celotehan Luna di twitter, kudunya memakai media sama untuk menjawab, bukan penjara. aneh sekali.

dalam hal ini saya satu suara dengan AJI, bukan PWI.

indonesian literature said...

love this post mbak.mohon izin untuk share ma yg lain.sy jg nulis ttg ini di fb saya.rahmanindra@yahoo.com.tq so much

ima said...

saya suka sekali tulisan ini.

Aulia said...

mengutip tulisan mbak dee

"Seorang artis harus selalu bertutur laku baik dan sopan"

kalau dibilang artis tidak harus bertutur laku baik dan sopan menurut saya salah juga sih mbak. Kenapa dinamakan figur publik karena memang pada kenyataannya artis terus diperhatikan publik. Artis sering kali merepresentasikan (bahkan mengendalikan?) batas-batas nilai yang berlaku di masyarakat

Menurut saya, menjaga sikap itu tanggung jawab moral si artis. Kalau ada fans artis tsb yang umurnya 8 tahun gmn? dia pasti akan mempertanyakan setiap tingkah laku sang artis, terlebih lagi akan menjiplaknya, jadi klo ngomong normatif memang bener, tapi kan ada yang namanya tanggung jawab moral.

Cho_Pa said...

Yupz. . .
Salut sama Teh Dee. . .
Artis emang ga seharus'nya berubah hanya karna tuntutan untuk tampak sempurna di depan publik. . . Infotainment juga seharusnya ngerti dan menghargai privasi seorang artis. . .
2 thumbs up to Teh Dee. . .

Irni Irmayani said...

nice post... :)

setuju banget kalau semua masalah gak harus sampe berurusan dengan polisi..

acropolix said...

Good typography!
Nice article!
What a Beautiful Mind :)

Adik Tejo said...

Yah..setuju sekali, dan sekarang untuk menjatuhkan luna, infotainment itu mewawancarai "artis" yang membela wartawan saja, karena "artis" itu butuh sekali wartawan. "artis" yang kita tidak tahu apa produk seni dia.

hammer said...

down with corporate journalism and power to public journalism!

tikabanget said...

hahaha..
satu contoh kalimat paling mengganggu di infotainment itu misalnya :
"Kebenaran harus diungkap pada publik.. Publik berhak tau apa yang sesungguhnya terjadi..."


*tips : ucapkan dengan nada penyiar SILET*

The_ApRiL said...

edaaannnnnnn postingannya mba dee...

cerah cerah cerah...

berita dengan pengertian yg kaya gini niyh yg harusnya masyarakat tau...

"publik figur adalah efek samping"
yg penting karya nya!

corduroygroove said...

like this mba Dewi.

semua untuk rating. dan semua kembali ke bagaimana para bintang menyikapi infotainment. saya suka cara mba Dewi, Marcell dan Reza bisa tegas ke mereka dan cara bersikap melalui tulisan2 yang smart ini

Luna memang sedikit kelepasan. karena setau saya memang di twitter-nya Luna pun tidak begitu pintar bermain dengan kata-kata. sehingga twitter-nya cukup tidak menarik buat saya pribadi. hehe.

mungkinkah ada UU untuk ngatur mereka para 'wartawan' jadi2an itu?

saya jd penasaran, apakah di luar negeri sana etika dan UU pekerja infotainment nya juga sebebas di sini ya?

djant.multiply.com

Mohammad said...

mb dee..saya terpinkal baca link di sini dan di sono...mb dee saya follow twitternya..thx..kagum banget sama tulisan anda sejak filosofi kopi (saya dapat as a gift birth day)

Indra Aziz said...

Terima kasih udah menulis ini. Bikin saya ngangguk2. :-))

Anonymous said...

I watch infotainment, to be frankly just for fun,, and sometimes play around with the content,,, it was all funny,, and u know,, LEBAYYY,,,
i do agree with u Dee, since the first time i heard bout LUna's case. Luna is only human,,, I - maybe- will act the same if my beloved son was accidentally attacked by camera,,, keep up the good work Dee, - psst i dont think they are a journalist,,

super said...

saya menikmati musik... dan saya hanya tertarik pada kehebatan karya musisi nya, tidak pada kehidupan pribadinya...

annie said...

saya tak pernah bosan mencerna pemikiran2 mbak Dewi. Apa kabar si kecil?

suryaden said...

penderitaan adalah candu, karena perubahan DNA jiwa masyarakat ataukah karena memang trauma sudah tak bisa menertawakan diri sendiri

Anonymous said...

kalo menurutq sebaiknya diterima aja kenyataan ini tetapi ada baiknya di omongin baik baik masalah yang telah terjadi antara artis dengan infotaintment pastinya membutuhkan artis ama infotaintment pasti saling membutuhkan gak ada kata terlambat untuk mengucapkan maaf sesama pekerja seni dan manusia di dunia gak ada yang sempurna semua pasti punya salah tapi sebaiknya mengambil kesempurnaan masing masing agar mendapat hadiah yang terbaik buat makhluknya di saat waktu di akhirat nanti karena semua manusia itu saudara walalupun blum kenal semua keturunan nabi adam jadi tingkatkanlah persaudaraan

GaL said...

Seneng banget bisa baca tulisan mba Dee yang melihat kasus ini dari sudut pandang yang beda, dengan penyajian yang menarik juga.

Meski saya kerja di media, saya juga melihat kasus ini berlebihan sekali penyelesaiannya...:(

artis juga manusia ya?:)

thx u buat tulisannya

Anonymous said...

mungkin bisa dicoba jika anggota infotainment tersebut diberitakan privasinya dari bangun tidur sampe tidur lagi, sedetil mungkin... kalo perlu sampe (maaf) ke toliet direkam gayanya, selama sebulan di koran, radio, tv, dll media...halahh...

Epat said...

pagi sarapan gosip, siang makan berita kriminal, malam dinner dengan sinetron...
sampah memang masih menjadi menu hidangan yang nikmat untuk dihidangkan, ternyata!

Anonymous said...

Mbak Dee... puas aku baca postingan ini.
Secara aku juga eneg banget sama infotainmt. Belakangan tambah yg enggak2 aja yang diekspos.
Aku malah mendukung Luna yang berani menunjukkan sikap gitu. Berani menolak, berani ngomong blak-blakan.

Catleya said...

what a great postingan! betul, setuju, analisa yang sungguh2 cerdas, cermat, pokoknya two tumbs up buat postingan mba'deeLestari..

scofield said...

Nice post agan Dee, gureitoooo :D

Lina said...

cara mengupas permasalahan ini keren mbak. melihat dari berbagai sisi.
membuka mata dan hati saya....

Hanya Di Samarinda said...

Hmmm...kebebasan yang sudah terlalu menurut saya, moga-moga rakyat Indonesia lebih sadar infotainment g bermanfaat banget. Lebih memilih acara yang lebih edukatif, dan dengan sendirinya ketergantungan akan infotaintment berkurang he he he.

Anonymous said...

apakah infotaiment itu seorang wartawan ??? sekelompok pencari berita yang tetap menayangkan beritanya meskipun data yang diperoleh hanyalah sebatas rumor belaka ??? atau sebuah gambar dan kata yang dinarasikan sebaliknya ???
Seorang wartawan maju ke medan perang , naik ke puncak menara , menlintasi benua dan sudut kota untuk mencari berita , untuk menyiarkan kebenaran kepada khalayak ramai...

VINODII NGANOO said...

Nice... harusnya artis dan infotainment sama2 mengetahui hal ini..

martha said...

salute!!!!

Ali Sabilullah said...

Aswrwb. salam kenal. mbak yg baek, gmn sih ingin jd orang berkarya spt mbak. sy jg pingin jdi penulis tapi tulisn sy masih kaku mbak. salh stu cra sy ltihan nulis adalah di blog ini. thaks banyak bak, sapa bliknya sy harapkan. suksesselalu.wassalm.

trieand said...

Nice post mbak Dee....
Tak selamanya infotainment itu "menguntungkan" kadang juga "menyengsarakan"
Sekarang aja aku dah agak males liat infotainment... gak tau kenapa... bosan bgt liatnya...

dian paramitha said...

gue setuju banget sama kak luna. yaa gue pikir,kak luna itu public figure iya. tapii bukan unutk membenarkan infotement untuk memsuki daerah pribadinya kak luna. dan itu udah sangat mengganggu ketenangan diri seseorang dan kehidupannya. dan itu bisa menimbulkan sebuah konflik antar kelompok yang berkepanjangan.

A. G. Edy said...

Semua sudah diuraikan dengan gamblang melalui posting Mbak Dewi di sini.

Mbak Dewi, bila berkenan menjawab, kapan lanjutan petir akan dirilis???
Terus terang saya penasaran dengan kelanjutannya.

Terima kasih.

dari salah seorang pengagum supernova.

Audi said...

Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga. Ketemu apa yang mau gue ungkapkan. Semua ada ditulisannya Mbak Dee ini.

Bisa buat saya uring-uringan ketika yang ada dikepala saya susah sekali diterjemahkan kedalam kata-kata.

Beberapa kali yang keluar dari saya malah hanya berisi umpatan-umpatan kepada infotainment. Ha ha ha.

Tulisan yang BAGUS SEKALI!

armeyn sinaga said...

setuju sekali mbak dee.. :)

bukankah wartawan infotainment bukan jurnalis? lantas kenapa PWI ikut2an melaporkan Luna?

Tanya kenapa.

http://news.okezone.com/read/2009/12/19/337/286464/aji-infotainment-bukan-jurnalis

anggra.maniezt said...

spokat ech spakat buangget dech mba' dee,.,.mmg disini adlh hubungan sebab-akibat dimana luna tidak akan pernah menyatakan sumpah serapahnya itu di twitter apabila alea jg tdk terbentur oleh kamera wartawan..so menurutku it manusiawi krn setiap orang memiliki tingkat emosional yg berbeda..jadi saling mengharagai satu sama lain sajalah..

ELGI said...

waaahh bagusnya!!

penuturan yang baik..

Restyani Rany said...

hai mba,,

bagus bgt, pastinya masyarakat yg mendukung luna adl masyarakat yg mengerti betul bahwa "artis juga manusia", sy sempet aneh juga ttg pemberitaan luna kmarin, infotainment lewat juru bicaranya bilang klo "infotainment tdk akan lagi memberitakan apapun ttg luna" tp knapa sampai beberapa hr smua infotainment memberitakan soal luna yah?? apa pemberitaan kemarin2 adl salam terakhir infotainment utk memberitakan luna?? atau menaikan rating dulu baru berpisah??

Dodi Iswandi Mauliawan said...

dan bagian yang paling menarik, tidak ada hakim dalam kasus ini. masyarakat dididik menjadi penonton, dengan segala akses untuk berpartisipasi telah ditunggangi oleh wartawan dan media.

Anonymous said...

Couldn't agree more,mbak Dee..

Masalah yang ada skrg terlalu diblow up.Hal ini malah menurut saya pribadi membuat PWI terlihat seperti anak kecil yang dikatain langsung marah dan ngambek trus mengadu cari perlindungan ke emaknya..
Saya tidak mendukung apa yang Luna Maya lakukan tapi saya memakluminya..Seterkenal-kenalnya seorang public figure,dia tetap manusia biasa yg punya hati dan emosi yang tidak bisa dipendam terus menerus serta bisa khilaf.
Semoga kedua belah pihak bisa lebih berbesar hati dengan saling meminta maaf dan memaafkan..

Great job mbak d(^0^)b

anf_euy said...

numpang share

Anonymous said...

infotaintment itu salah juga knp mesti artis yang lagi ada masalah itu dikejar trus harusnya gak pake infotaintment aja banyak yang bisa ngasih jawaban yang penting memang artis gak punya teman apa?kalo pas berita baik ok aq setuju di liput tp kalo masalah pribadi knp mesti harus di liput sih kasian artisnya kalo aq bilang memang artis juga gak butuh kebesan apa itu masalahnya yang terjadi sebenarnya aq yakin itu keterlaluan harusnya infotaintment bisa jaga jarak atau menghargai artis keadaanya saat mau diliput itu yang penting bagiq

Ery said...

ada batasan hak privacy dan publik....yang mana batasan batasan tersebut harusnya dapat di mengerti oleh semua orang.....
keren tulisannya mba dee....

gamal etnomusikologi said...

itu td yang penting yang harus dipelajari bagi setiap manusia harus mempelajari ilmu ikhlas lebih dalam jd itu semua wajar dilakukan setiap manusia atas petunjuk tuhan pasti dikasih ama tuhan yang terbaik amin

Anonymous said...

As usual, selalu cemerlang.

Maskoko's World of Words said...

salam mbak dee...
postingannya panjang jd perlu waktu bacanya, tapi yg saya heran, kenapa berita2 di infotainment kok sering benar adanya ya? dapat angin kabar dari mana mereka...??? hehe.. pusing juga baca yg beginian

geblek said...

seandainya infotaimen pemikiran sma kayak anda oh indahnya :D

astrid said...

"utk apa membunuh nyamuk dg bom atom"

stuju bngt mbak..kan ksian org2 yg jual obat nyamuk jd g laku..
sukses slalu y mbk dee..!

Efiastuti said...

setuju.... :)
artis kan juga manusia biasa,begitu juga dengan para "kuli tinta" ya...sedikit tenggang rasa lah.

melontropis said...

tulisan yg mediatif dan keren mbak..btw skripsi saya jg ttg infotainment dan hubungannya dgn budaya pop. it's kind of interesting topic to analyse :)

Citra said...

nice post =)

Jenny Jusuf said...

Okke:

"... gw msh ga abis pikir, reaksi wartawan berlebihan dan GR aja,Luna bilang (pebisnis) 'INFOTEMNT'kenapa wartawan yang kebakaran jenggot?"

Gue mah sepakat dengan ilustrasi 'monyet-pisang'-nya Maya. Kalo situ merasa dikatain monyet karena situ mamam pisang dan ada yang bilang pisang itu makanan monyet, salah sendiri toh.

"... aren't we all pelacur? Menjual 'modal' kita buat dapet duit. ;-)"

*LMAO*

mcngdgn said...

Mungkin semua artis baiknya punya blog. jadi klo liputan infotainment yg ngaco, bisa diklarifikasi.

baru dimaki2 di twitter aja udah nuntut. lah coba klo semua artis menuntut ke pengadilan ketika hasil wawancara dipelintir, ketika memasukkan wawancara imajiner (penipuan, pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan), mengganggu privasi artis... wahh, bisa2 infotainment gulung tikar mungkin?

rasanya ironis, artis emosi lgsg dijelek2an, dituntut ke pengadilan. sementara mereka melakukan pembohongan publik, melanggar privasi, memuat info yang berat sebelah, memberi opini yang dikemas sedemikian hingga seakan-akan merupakan fakta... tp mereka masih menganggap diri mereka baik dan lebih tinggi derajatnya drpd artis yang emosi ketika diwawancara?

jurnalis spt itu merusak image jurnalis berita dll yang bekerja dengan memperhatikan kode etik jurnalis.

jangan2 kasus luna nanti malah jadi bumerang buat infotainment. jangan2 habis ini akan muncul UU yang mengkebiri ruang kerja jurnalistik. jangan-jangan...

well, semoga semua artis tidak takut untuk menyuarakan kekecewaan dan protes mereka terhadap perilaku kerja (sebagian) wartawan infotainment.

Anonymous said...

setuju mbak Dee.

saya bukan artis maupun jurnalis. saya cuma pemirsa TV biasa dan saya juga gerah dengan pemberitaan infotainment akhir-akhir ini. kalau menurut saya, bahasa mereka terlalu 'LEBAY'

tindakan Luna menurut saya manusiawi.

Helloilmare said...

Mba dewi,I have to say, your article is amazing!!!very enlightning!
ijin untuk re-post di FB dan blog saya yaa mba..! trims

tya said...

like this!
hehehe..d share ya mbak..
:)

just gues said...

tulisan yg bagus banget...

moga moga ini bisa jadi awal suatu gerakan masif dari masyarakat (artis non artis) untuk melawan arogansi wartawan infotainment.



/just gues,
yggapunyafriendsterfacebooktwitterblogetc

Anonymous said...

Itulah kehidupan ada baik dan buruk ada hitam dan putih ada tawa dan tangis dan sterusnya semua terjadi agar hanya tercipta dinamika dan keseimbangan hidup karna tanpa itu kita hanya bagaikan patung.

sari amaliah said...

wow.. u have look one each perspective and wrote it down as well.. hope they (singer, actress, musician, etc) could see as much as u do..

Baban Sarbana said...

Seleb nganalisis seleb memang beda isinya.. thx Dee untuk ulasan yang mencerahkan..
oh ya.. sy link ya...
sekalian saya juga buat tulisan ttg Luna Maya dan Prita Mulyasari...

http://lebahcerdas.blogdetik.com/index.php/2009/12/21/mellowship-sby-prita-mulyasari-dan-luna-maya/

Salam

Andre Saputra said...

Semakin jelas orang2 yg take advantage atas kejadian luna,

Dari dulu memang infotainment selalu hipersensitif dan over reaktif !
Tidak mencerdaskan.

Batasi ruang gerak mereka !
Mungkin tidak solutif tapi lebih rasanya.

BunDuD said...

setuju banget mbak dee selama ini masyarakat memang salah kaprah tentang hubungan selebritis dan infotainment,,good post dan mudah2an bisa sedikit ngerubah pandangan terhadap masalah ini,its about humanity.not commerciality.

ramawee said...

Tulisan yang sangat bagus sekali, sedikit orang yang bisa berpikiran seperti ini. That's why TV todays are called "The Idiot Box"...

andien said...

teh dewi, aku stuju bgt sm diatas.
aku bukan artis, bukan wartawan..
jd ga pernah jg berada di posisi mereka. tp tanpa perlu berada di posisi mereka, hanya dgn melihat dan dgn logika memang akhir2 ini bbrp wartawan gossip udah keterlaluan.

jgn sampe deh perkembangan wartawan gossip di indonesia sampe kaya paparazzi di luar negeri, yg gara2 ulahnya mengejar2 artis sampe mebuat artis depresi, stres, bahkan kematian pd artis itu sendiri. spt lady diana, britney spears, sinead o connor..

sebaiknya para wartawan gossip bebenah diri dalam segi kode etik jurnalisme, bukannya melebih2kan berita untuk mendongkrak rating ...

Nizma said...

setuju sama mbak dee..gak habis pikir sama infotnmnt itu...padahal menurut saya kehidupan Luna itu biasa2 aja kok...banyak yang lebih heboh dari dia, gk percaya?baca aja LAMPU MERAH
tapi karena dia itu terkenal, jadi ya semuanya jadi menarik

little miss k said...

walah saya baca dari masih 0 comment sampai sudah segini banyak
powerful emang blognya mbak dee...

saya setuju
mereka telah menyalahgunakan kebebasan pers yang mereka punya
kebebasan pers bukan berarti menggali privasi seseorang baik seorang public figur sekalipun

ranggasudisman said...

"keprok nangtung" buat dee...yup saya setuju sama tulisan ini.

mirinda said...

Setuju banget mbak Dee..!
Para "pekerja infotainment" itu memang sudah keterlaluan dan tidak manusiawi, dan lucunya mereka tidak sadar akan hal itu.

GO LUNAAA...!!
I definitely vote for you..!

LovedDesign said...

keren bgt tulisannya..
setuju sama dee..

sekali lagi "rejeki dari Tuhan bukan dari infotainment"

tse-full said...

benar2 keren penjabarannya,ga sengaja iseng nemu blognya mbak dee,mantap deh...
saya setuju banget.....
kadang gw juga paling ga suka nonton infotainment karena lebih banyak menampilkan kejelekan pablic figure dari pada kebaikannya,karya2 pablik figure itu lah yang punya publik bukan public figurenya tapi selalu saja kata2 itu di pelintirkan sedemikian rupa.apalagi yang sekarang menimpa luna maya adalah luapan seorang manusia yang khilaf,dan itu terjadi pada banyak orang,jadi untuk menjerat luna maya dengan UU ITE sangatlah kejam,yang seharusnya dengan jalan perdamaian melalui juru damai.apakah wartawan infotainment lupa bahwa UU ITE di tentang oleh banyak kalangan tidak terkecuali oleh wartawan itu sendiri.jadi kalo menggunakan UU ITE untuk menjerat luna maya sama saja seperti memungut makanan yang sudah di buang lalu dimakan yang bisa menyebabkan terkena penyakit karena makanan tersebut telah terkontaminasi.

tiia said...

hey ! nice post :)

Anonymous said...

Betul sekali mbak,mungkin masyarakat perlu menyadari,ngapain sih ngurusin kehidupan orang lain.kayak hidup sendiri udah beres aja

little miss k said...

mereka menyalahgunakan kebebasan pers
kebebasan pers kan bukan berarti kebebasan mengorek privasi seseorang

Anonymous said...

Ya, tak perlu ada infotainment kalau perlu...

BuL said...

ulasan yang bagus mbak dewi..
thx ya.. mohon izin untuk disebarkan..

mirinda said...

Setuju banget mbak Dee..!
Para "pekerja infotainment" itu memang sudah keterlaluan dan tidak manusiawi, dan lucunya mereka tidak sadar akan hal itu.

GO LUNAAA...!!
I definitely vote for you..!

indrahuazumenggonggong said...

benar-benar tulisan yang menakjubkan. Saya sendiri yang notabene jarang nonton tv (karena memang tidak mempunyai tv) merasa agak risih dengan pemberitaan-pemberitaan yang saya tidak tonton sendiri secara langsung.

nice post dengan sudut pandang anda mba dee...

lintang said...

nice post..
aku setuju... =D

Arif said...

nice review, more people should read it...

Ibu Didin said...

mba dewi, terima kasih, tulisannya bagus :)
sepakat mba, infotainment kudu mawas diri, tp mereka jg bagian dr industry, maximizing profit in the name of 'membesarkan nama artis'.

Kalau infoainment berlebihan, mungkin memang social media/penggalangan aksi publik baru bisa kena ke mereka.

artis kudunya dikenal dr manfaatnya, bukan sensasinya.

athiesya said...

What a very nice and detailed article.This is very helpful and I really love it!!!

I think if all the people who'd already talked nonsenses and negatives towards Luna before, I am sure that they will think "rasanya aku udah salah nih menilai Luna," and they might even want to say sorry to her.

Luna is a human. She's not an angel..For me, her respond is acceptable.It's normal..

Hope that this article will clear all the mess of this case...To Luna, just ignore what people saying bad about you...and to you Dewi Lestari,thanks for this great article!

TWO THUMBS UP!

rio said...

There's two rights that exists in every human being, rights of privacy and rights to be left alone..
Just give some respect to others..

Mantoel Toeink said...

Terlepas dari fakta bahwa memang ada aturan bernama RFC ttg netiket (kurasa calon pengguna internet hrs dijejali RFC sekian2 ttg netiket itu dulu biar gak terjebak oleh UU ITE) ada juga yang namanya khilaf di dlm manusia.

Jujur, saya sendiri cenderung membela Luna kalau dalam kasus ini. Selalu ada alasan di balik tindakan emosional seseorang dan kalau memang ada yg peduli, sebenarnya kasus tweet Luna ini bisa dicegah terekspos (in this case, teguran yg dilayangkan seseorg pd lunmay tdk saya hitung krn saya anggap teguran itu cuma "woi, lu ngomong kasar amat" tanpa setidaknya ada usaha utk tahu apa yg terjadi, memaklumi, dan mencerahkan pikiran seorang manusia yg baru saja melimpahkan emosi di ruang terbuka)

That's it.

Ngomong2, dgn semua jejaring sosial, blog ini bisa sekasus dgn Joko Anwar dan follower Twitter-nya, saya rasa. :D :D Mendadak tersebar luas seperti wabah. :D

Anonymous said...

yaps....setuju... semuanya adalah manusia. :P
ada tingkat emosi tinggi dan rendah. jika emosi sudah memuncak, hal kecilpun akan membuat sesuatu yang meledak....

saling intropeksilah,, khususnya buat para wartawan infotainment: coba buatlah peraturan ata tata krama dalam pengambilan data yang tidak saling merugikan ujungnya....
para artis: lebih bertindak tegas, dan legowo... semangat.

Zendy Hidayat said...

setuju dengan mbak dewi harusnya wartawan juga harus tahu gimana rasanya kalo dia memberikan gosip yg gak baik kepada artis tersebut,
apa si artis gak merasa risih?
ya pasti,
si artis aja gak sampai tuh melaporkan ke polisi kalo wartawan semena-mena sama mereka.

mengenai apa yg dilakukan luna maya juga udah bener tapi salah tempat.

GUAVA said...

Nice post mba dewi.. keep post n share

Anonymous said...

mungkin gra" seorang luna maya yg ngtweet ky gtu jd d laporin ke polisi,,
kalo cuma masyarakat yang gk terkenal ngetweet kya gt pastii adem ayem aja..
lagipula hak stiap orang bwat ungkapin prasaannya..

infotaiment skrg sdikit" lapor polisi,,
gmn kalo seandainya si artis lapor balik atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan, ato lainnya,
pasti org infotaiment minta jalan damai..

allfiesa said...

saya sangat setuju apa yg mbak tuturkan... bahwa sebenarnya kita semua adalah manusia belaka.saya mungkin "Perfeksionis" tp itu semua kan hanya sebutan.tapi fitrah nya manusia yang tidak luput dari kekhilafan.Luna Maya pun sama. sebuatannya artis, tp dia juga manusia biasa. yang tidak mau diganggu privasinya...saya suka artikelnya mbak.

fandhie said...

salut mbak Dee..
tulisan ini seperti jawaban suatu 'kerinduan' gw...
mohon kalau sempat ajak para artis join di group http://www.facebook.com/group.php?gid=203063308037 karena group ini membawa semangat yang sama apa yg mbak Dee tulis...

echa said...

sepakat mbak. :)

hirany said...

Bila saya diposisi LM, dan bertemu dengan jurnalis yg dia hadapi sekarang, i choose to behave like LM did.

Jurnalis pun tidak sempurna, seperti halnya LM, yang [dalam pengungkapannya mungkin] tidak bermaksud menyebutkan inisial asal inpotemen itu dan mgunakan kalimat general menjadi bumerang buat dia.

Stay cool LM.
Nothing wrong with this.

pangnanggro said...

mbak, dee...ijin kopas ya buat temen2 di kaskus....

makasih

zon said...

yup

artis juga manusia
wartawan? manusia juga
penonton manusia juga lo ;)

ya sudah, mari saling berinteraksi layaknya sesama manusia ;)

.

you-DHA said...

Dee,,,, saya link page ini ke profile saya ya, biar banyak yang baca:)
Gerah juga ma infotainment soalnya..
Keep blogging (and writing)

Anonymous said...

good post.. :)

tapi for luna's case buat saya tetap ada kesalahan, as a human being and also a woman kata2 sumpah serapahnya itu sangat2 tidak sepantasnya dan sorry to say justru dari tulisan dia (luna) sendiri image jelek di masyarakat itu terbentuk.....

Winy said...

memang benar siapa saja terlepas dari profesi apapun, dituntut untuk mempunyai sikap dan perilaku yang baik.Tapi artis yg disebut public figure dituntut untuk lebih berhati hati dalam bersikap dan berperilaku karena mereka selalu dilihat bahkan cenderung ditiru oleh orang biasa. contohnya: banyak sekali siswa sy yg berusaha meniru penampilan agnes monika yg dalam sinetronnya berperan sebagai anak sma. Mulai dari rok abu2nya yg pendek, seragam putihnya yg ngepas dibadan sampai dengan gaya rambut pendeknya yg dikucir. Dari situ kita bisa lihat bahwa memang masyarakat cenderung meniru perilaku artis atau public figure. oleh karena memang sudah konsekwensi artis untuk lebih memperhatikan sikap dan perilakunya lebih baik dibandingkan orang biasa.

morin said...

Very nicely said Dee. Kalau semua orang bisa bijak melihat semua perkara, dan saling menghormati pastinya kedamaian bisa selalu terjaga. Mudah2an semua pihak bisa mengambil hikmahnya dari kejadian ini.

Peace... :)

Yodhia Antariksa said...

Sebuah risalah yang sangat ekspansif, tajam, dan menggugah.

A really brilliant analysis.

Sepakat dengan isinya.

catthink said...

i heart luna
semoga mbak luna tabah

Anonymous said...

Mbak Dee...daku penggemar mu...SUPERNOVA 1 kuw hilang dipinjam teman dan tidak kembali...aku udh nyari di gramed buat beli lagi tpai bukunya udh ga ada...bisa ga ya aku dibantu ..di toko buku mana yg masih ada ??? pleaseeee

khairunisa said...

I Like Your Post,
mba dee, ijin copas ya di link FBku..
Makasih

Anonymous said...

bukankah memang setiap FITNAH itu lebih kejam dari PEMBUNUHAN,so tolong ide seperti dee idea inilah yang muncul di TV.

ade said...

Dee...
Saya bukan penggemar Luna dan saya buta infotainment Saya setuju dan alasan tsb diatas mungkin penyebab saya kuper gosip. Sorry to say, isi TV kita kurang berbobot. Mendingan nonton acara masak atau kartun anak-anak.

Powerrangga said...

Betul banget,infotainment merasa kalau mereka berkuasa akan kehidupan para artis.Padahal mereka ada itu karena artisnya.Jadi lebih baik mereka jangan bilang "Kacang Lupa Kulit?" karena kacangnya dan kulitnya ajah mereka gak tau siapa.

Anonymous said...

Aku tidak nonton infotainment malah. Karena hanya menumpuk dosa nanti di neraka. Baru sekatrang tahu mengenai kejadian Luna Maya ini.

yaya said...

Dalam satu industri, termasuk industri hiburan, selalu berlaku prinsip 'pasar/market', supply-demand, dimana selalu terjadi hubungan yang bolak-balik, supply menyesuaikan demand, dan demand menyesuaikan supply. Ketika suatu karya seni dikomersialkan, maka dia akan menjadi produk. Dan ketika dia menjadi produk, maka dia akan mengikuti hukum supply-demand. Bukan hanya karya seninya, artisnya pun, suka atau tidak suka, akan menjadi produk dari industri hiburan. Dan layaknya dalam industri di sistem yg kapitalis, ekspansi menjadi sutau keniscayaan.

Nah, infotainment adalah salah satu contoh ekspansi produk dari industri hiburan. Awalnya masyarakat tidak membutuhkan adanya infotainment. Namun kebutuhan/demand atas infotainment itu kan diciptakan, melalui suatu proses yang intensif dan menghegemoni, yang notabene juga melibatkan artis/selebriti. Publik/masyarakat kemudian berubah menjadi "pasar" dalam industri hiburan ini. Mungkin awalnya relasi selebriti-infotainment adalah mutualisma, namun karena brengseknya command and control di negara kita (di semua lini dan sektor) dan rendahnya penegakan etika, semuanya jadi kebablasan. Dan seperti orang bilang, the honeymoon is over.

Kalau saya sih simple aja. Karena kita berada dalam konteks industri, ikuti aja hukum supply-demand. Mau menghilangkan infotainment? Gampang, hilangkan saja supply-nya. Artinya mulai sekarang, semua artis/selebriti jangan mau diwawancara oleh media apapun secara impromptu. Kalau supply hilang, maka demand pun akan hilang dengan sendirinya, karena pada dasarnya market (baca: publik) itu bersifat adaptif. Untuk yang menyangkut hajat hidup sehari2 macam sandang, pangan, papan aja publik kita adaptif, apalagi cuma infotainment. Nggak ada infotainment juga nggak mati kok..

Pertanyaannya sekarang, mau nggak artis/seleb melakukan hal di atas? Kalau mau, saya sebagai anggota publik akan berterima kasih banyak2, karena dengan demikian artis/selebriti ikut membantu mengurangi/memperlambat proses pembodohan kepada publik yang selama ini dilakukan oleh infotainment. Salam :)

Anonymous said...

mba dee... saya suka sekali sama kata2 mba dee yg bilang
"Artis adalah manusia yang berkarya. Bukan telepon umum."
hehehehhe....

ebr.home said...

teu rame ah.. tutup we inpotaiment mah

Bung Jay said...

Super duper agree...

Infotaintment, mencari "sesuap nasi" dengan memperkosa hak-hak dan privacy public figure.

Jangan sampe ada Coin for Luna.

Sadarlah para jurnalist infotaintment, masyarakat tidak buta. Mungkin kami menonton tayangan anda di TV, tp kami juga menilai. karna kami punya hati nurani, bukan hanya punya rekaman yg bisa diedit!!!

Anonymous said...

semua infotainment di tutup aja, biar gak ada berita-berita artis lagi... pusing berantem mulu...

ardibhironx said...

satu kata yang terlontar ketika membaca tuLisan mbak dee ini: WOW!!!!

harusnya haL ini yang harus dipahami n diketahui oLeh semua seLebriti n semua wartawan (infotainment khususnya) yang ada di Indonesia..

Gw sempet emosi juga pas nonton infotainment yang minta pendapat ma seleb juga.. Tapi yang diwawancara itu seleb yang ga punya "NILAI JUAL" yang emang teramat sangat membutuhkan infotainment buat ngedongkrak namanya.. beda sama LUNA MAYA yang emang MultitaLent!! Artis Serba Bisa!!!

MaLah ada dibiLang ma infotainment bahwa ini akan menjadi akhir dari karir seorang LUNA MAYA..??? Hah,, kaga saLah tuh??!!

Kita Liat aja nanti!!!!

Anonymous said...

saya setuju ma tulisannya mbak dee. .
selain itu,rekan rekan "wartawan infotainment" ini sebaiknya mengkaji ulang profesinya yang mereka akui sebagai wartawan.

setiap profesi memiliki kode etik sendiri.maka dari itu,kode etik jurnalistik yang telah ada hendaknya dibaca dan diamalkan [lagi]oleh rekan rekan "wartawan infotainment"kita ini.

artis juga manusia,
jangan hanya karena seorang luna maya artis / publik figur,lantas dia tidak boleh mengekspresikan perasaannya dalam konteks yang masuk akal. .

Jay Nugraha said...

STICK UP FOR LUNA!!!

ima said...

mba dee..numpang copaste ya tulisannya,like this bgt,berbobot.

misZpuRpLe said...

stuju bgt mbak..
artis kan jg manusia,yg pnya kehidupan pribadi dan sisi2 yg ingin dlindungi.. jgn kan artis,jika mrk sndiri diperlakukan sprti itu saja psti akan gerah dan merasa risih...
dan qta sbg org awam saja tw,knp luna berbuat sprti itu.. knp bkn itu yg diekspos di media?knp justru kata2 tdk pantas itu yg dsiarkan berulang2 x..?
dan knp hrs membawa2 hukum dlm hal ini?kl luna mw dy jg bs melaporkan hal ini..
saya rasa,hrs dbuat atau diadakan sekolah,pendidikan ato yg sejenis'y utk menjelaskan dan menjernihkan apa sbnr'y yg menjadi tujuan atau maksud dr 'profesi' itu.. krn smkin lama sdh semakin tdk jls mksd dan aturan main'y.. semua profesi ada bkn untuk memberatkan atau merugikan org lain..dan qta sbg makhluk sosial hrs saling menghormati dan menjaga batas2 perilaku dan norma2 yg ada..

Anonymous said...

Makanya kami sekeluarga lebih memilih menonton "Discovery Channel" di 'Cable TV' daripada TV lokal yang tayangan-tayangannya semakin tidak mendidik....

Nice post mbak Dee....

Anonymous said...

saya penggemar teh dewi tapi kali ini saya agak tidak setuju... saya masih melihat apa yang teh dewi sampaikan mewakili sisi pribadi teh dewi yang artis... sehingga terlihat seperti pembenaran atas segala sikap artis karena teh dewi juga adalah seorang artis. sehingga pendapat teh dewi terdengar tidak independen... tidak berimbang karena tidak menuliskan sisi positif wartawan inftment. karena ibarat seburuk buruknya kotoran binatang pun masih memiliki manfaat (untuk pupuk).
punten mohon maap atas pendapat saya ini.

dini said...

setuju banget sama mba dewi.. kasihan luna.. sapa yg ga marah kalo diperlakukan begitu...

icha said...

menurut saya...wartawan infotaintmentlah yg justru perlu introspeksi...artis dan wartawan kan hubungannya simbiosis mutualisme...jd ya saling menghormati dong...

Kekanakan sekali klo mereka bilang artis besar krn mereka...lha wong mereka jg bs hidup dr artis

Ben said...

posting yg bagus dan menohok! :)

btw, ada apa dengan kopaja? kita bisa mengklaim agar kopaja "bertutur laku sebagaimana keinginan kita"? hmmm... :D

ema said...

love this,,a lot!!

Anonymous said...

Mengambil sudut pandang yang berbeda dalam masalah yang menimpa Luna Maya, saya melihat kata2 yang digunakan oleh Luna Maya dalam statusnya di twitter sendiri tidak jelas. Apakah infotainment adalah subjek yang haknya dirugikan akibat tulisan tersebut? Saya rasa bukan. Hal ini juga dinyatakan oleh Dosen saya sewaktu kuliah dulu, yaitu Dosen Aspek Hukum Pidana dalam Media Massa. Beliau mengatakan dalam suatu tayangan televisi bahwa pencemaran nama baik dan penghinaan yang dituduhkan itu tidak menunjuk suatu subjek tertentu. Infotainment bukanlah merupakan suatu subjek.

Apabila saya analogikan pernyataan Luna Maya, misalnya ada seseorang yang mengatakan "majalah derajatnya lebih rendah daripada pelacur dan pembunuh", apakah kemudian wartawan media cetak bisa menuntut orang itu? Atas dasar apa? Kemudian seandainya ada orang yang mengatakan "kursi derajatnya lebih rendah daripada pelacur dan pembunuh",apakah persatuan tukang kursi se-Indonesia bisa melaporkan orang tersebut dengan dalil UU ITE? Atas dasar apa laporan itu diajukan?

Untuk Luna Maya,jangan takut untuk membela hak pribadi anda. Yang mereka tuduhkan juga belum tentu benar di mata hukum. Keadilan akan datang bagi siapapun yang benar. Untuk masyarakat Indonesia ini nerupakan sarana suatu pembelajaran, tidak semua hal bisa kita laporkan dengan dalil UU ITE. Harus jelas siapa subjek penghinaan dan pencemaran nama baiknya. Belajar dari kasus Prita, jangan sampai laporan tersebut menjadi boomerang bagi sang pelapor.

iamsita said...

Good Post. Coba artis yang lain bisa eloquent seperti mbak Dee.

Semua artis berhak atas privacy(inget saat Tom Cruise telepon ke CNN waktu Putri Di meninggal?). Sayangnya, untuk Luna, the unfortunate incident berlangsung di sebuah public event. A very public event, karena premiere Sang Pemimpi sudah sangat ditunggu-tunggu. Jadi sudah pasti ada ribuan wartawan. Mungkin bukan keputusan yang bijak membiarkan Luna menggendong Allea(?) karena, Luna sudah pasti akan diserbu. Wartawan mana yang mau tanggung jawab dimarahi editor karena melepas "money shot" Luna Maya???

Jangan salah. Tetap tidak ada excuse buat tingkah laku para wartawan infotainment yang memang suka (sering!) cross the line. Kalau Luna merasa menjadi korban, she should only look at Elin Woods (istri Tiger Woods) saat ini. Infotainment Indonesia masih "gak ada apa-apanya" dalam soal kurang ajar.

Luna berhak marah? Luna berhak marah di Twitter? Pastilah. Tapi ya kalau terus ada yang t'singgung dan kemudian diadukan ke Polisi ya resiko juga. Tapi ngapain juga sih PWI??? Is it a slow news day or something sehingga perlu mengadukan Luna Maya?

BTW mbak Dee, menurut say parasitisme bukan simbiosa yang tepat karena dalam parasitisme si parasit tergantung pada inang utk makan. Begitu lepas dari inang, matilah dia. Interaksi negatif yang lebih tepat mungkin antagonisme atau sekalian predatorisme.

Anonymous said...

lah trus maskudnya Luna Bukan Kopaja di tulisan iniapa yah??di alinea yg mana yah kopaja dideskripsikan sehingga Luna bukan Kopaja??...

jlnawan said...

thanks Dee ... wonderful post. barangkali ada hal yang lebih dalam yang harus kita sadari, bahwa sesungguhnya kita ini manusia biasa. luna sbg manusia biasa juga punya naluri berikut emosi dlsb jadi wajarlah apabila dia bersikap seperti itu, mungkin hanya bahasanya saja yang perlu koreksi (tanpa ada siapa2 saja kalau sedang kesal kita juga sering bersumpah serapah kan?) reporter infotainment juga mungkin dikejar oleh deadline, target pemberitaan dlsb sehingga kadang kala keluar jalur. both are human. coba respect satu terhadap yang lain, mungkin kita semua bisa hidup lebih rukun. respect, tidak arogan, tidak ingin menguasai dan mengatur, hidup berdampingan saling mengisi, mungkin lebih nyaman ... life is actually very easy if we can manage it properly (not perfectly), keep moving forward Dee

N the duckess said...

seperti biasa mbak.. pemikiranmu benar benar pas..
heheh

jadi mentri mau ga??

cinta tulisan anda
XoXo

gesaf said...

saya suka artikel mbak dee

smoga semuanya lebih jelas

dan wartawan infotainmen yang ngaku2 pers itu bisa berlapang dada

selamatkan privasi selebritis dari eksploitsi tak sepihak dari infotainmen

Juan Tuvano said...

Menurut gue, saatnya pemerintah membuat differensiasi antara tayangan infotainment dengan tayangan siar lainnya. Infotainment tidak boleh bergabung dalam sebuah naungan lembaga siar publik dan harus ada dalam satu lembaga siar sendiri atau saluran tersendiri yang menyajikan segalanya khusus infotainment. Hal ini sudah direalisasikan (lagi-lagi) diluar negeri seperti contoh E! yang bisa kita tonton di saluran TV kabel.

Ketika terjadi hal seperti ini, masyarakat dapat dengan mudah melakukan pemisahan visual jika tidak suka dengan infotainment sehingga secara tidak langsung hal itu dapat membuktikan kualitas infotainment yang dihitung dari berapa banyak pemirsa yang menonton channel tersebut, dan diharapkan semoga infotainment sadar bahwa sebagian besar penonton infotainment lebih karena tak ada pilihan lain dan mau nggak mau harus mnyaksikan tayangan tsb, bukan karena mereka niat!

Anonymous said...

setuju mba dee! really nice posting!

tapi saya lebih setuju lagi klo Luna ga bisa dibilang bener juga. emang manusiawi ketika orang udah terpojok dengan tekanan dari luar kemudian dia menjadi marah dan murka.

tapi... sebaiknya Luna bisa mengontrol amarahnya itu dengan kata2 yang lebih enak dibaca. karena-tetep-Luna seorang wanita dan figur yang punya fans.yang bisa jadi fansnya itu ABG2 labil yang sukanya copas attitude dari orang yang dikaguminya.

sukses terus buat mba Dee :)

Evan Go Mad said...

haruskah kita menunggu lady Diana ke 2?

Anonymous said...

"Rezeki diatur oleh Tuhan, bukan oleh infotainment"; setuju banget kak Dee....

Kalo masalah knp kasus ini sampe dibawa2 ke polisi sgala, "knp ga ngasih hak jawab ke Luna"; salah besar tuu..krn dihari yg sama Luna post di twitternya, mereka (pekerja infotainment, media cetak & online) sudah berusaha minta penjelasan Luna di lokasi shootingnya, dan Luna bilang 'besok ya..', dan besoknya ditemuin di studio rcti Luna sama sekali tidak mau ngomong apapun, managernya Vita bilang Luna mau menenangkan diri & intropeksi diri.

Kalo masalah tindakan Luna itu 'manusiawi', kenapa kita gak bisa bilang hal yg sama utk para pekerja infotainment, yg tidak sengaja mengenai kepala Alea dgn kamera & langsung meminta maaf ke Luna sampai berkali-kali???

"Infotainment tidak diakui sbg wartawan"; kalo saya pribadi gak ambil pusing...

Dan ujung2nya, kalo emang gak suka nonton infotainment, kita punya senjata ampuh kok; remote tv! Gak perlulah menjelek2kan profesi orang lain, krn itu kan oknum (dlm artian, gak semua pekerja infotainment seperti yg digambarin kak Dee...)

Mengutip slogan infotainment, "Gosip adalah FAKTA yg tertunda"...so, we'll see who's the real bitch n killer, or back again, push u'r remote tv... :-)

Didiet Hidayat said...

Hmmm ... Kalo enggak mau di kejar infotaiment mending dagang lontong aja di paaar sumber artha, engga usah jadi artis ...

Pigimana seh ...

Duitnya mau, ngetopnya mau, tapi giliran kepentok infotaiment langsung pake alasan privasi ...

Pelaku seni yang aneh....

MASTOK said...

Salut mbak Dee... Postingnya mnyentuh dan memberi semangat public yg ga tau apa apa seperti saya. Salut juga buat mba Shinta commentnya. Yg terpenting karyanya, bukan kehidupan pribadinya.. Untung saya sepintas saja nonton infotainmen, Ga penting banget. Maju terus mba Dee, salut juga mba Shinta... two thumb up 4 U.

Olanatics said...

i agree with u..
nice post mba dee.. saya sukaaaa... ^^

Althesia said...

Wow...sepertinya para artis harus mulai mengumandangkan suaranya masing-masing...jangan hanya berdiri dibelakang pemikiran dan tindakan orang lain...
Ayo perjuangankan kehidupan pribadi kalian yang konon tidak lagi belongs to u...

Bravo Mba Dee...

Anonymous said...

Agree with u Dee..egoisme Infotainment terlihat dari kasus ini..sangat wajar dan manusiawi Luna Maya bersikap seperti itu, mengingat waktu kejadian kan hampir tengah malam, kondisi tubuh ngedrop, diberondong pertanyaan, berat gendong anak (upps..it's only my imagination) plus anaknya kepentok..hmmm kayanya manusiawi banget kalo dia kesal..binatang aja sensitif kalo ada yang ganggu anak-nya, apalagi Luna Maya, yang memiliki naluri ibu dan manusia..entah infotainment punya naluri yang sama atau tidak..

cheers,
~aYi~

Anonymous said...

naif....

Maria said...

Bener teh Dee, dari kemarin pemberitaan ttg status luna di twitter nya jadi berlebihan. Yah walau artis tetap manusia punya emosi, masa harus kaya barbie yg selalu terlihat sempurna.

Gugun Tu7uh said...

Kopajanya itu yang ngliput kayaknya, seenaknya sendiri. bahaya pengancam terbesar. Biarkan Nurani.....

elly The Freshmaker said...

ya setuju banget mba dee ^_^
tapi menurutku kasusnya Luna Vs Wartawan itu ga ada yg bener dan ga ada yang salah jadi sebenernya mereka membesar2kan masalah biar rame aja tu pengadailan,acara gosip,padahal dari semua gosip2 di TV jadi bikin kita males nonton TV soalnya beritanya itu2 aja kayak ga ada yg lain....

Anonymous said...

SINETRON DAN INFOTAINMENT SEHARUSNYA UDAH LAMA DILARANG MASUK RUMAH SETIAP ORANG..
banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya

guekiller said...

Luar biasa mbak Dewi!
Ini baru komentar cerdas dn membangun!

An66er said...

Salam sejahtera buat mbak Dee...dan Saluut.
Sebagai orang biasa ketika nonton Infotainment rasanya seperti menonton "maaf" hal-hal buruk setiap hari, hingga saya berfikir ada kekhawatiran anak-anak kita meniru-niru tayangan berita di Infotainment dan termasuk kini yang lagi hot adalah reality-reality show.
Maka kini saatnya para pencari berita khususnya Infotainment dibekali oleh aturan, norma, hukum yang lebih memanusiawikan rekan-rekan artis atau "public figure" lain. Untuk para penari berita ( saya yakin anda pun nggak akan mau "diobok-obok" kehidupan pribadinya)
Oleh karenanya saya berharap adanya "sensor" yang kuat dari pemerintah untuk infotainment termasuk stasiun2 TV yang menayangkannya.
maaf ni nambah dikit lagi.....
untuk para artis ada sedikit pesan dari penikmat karyamu,yaitu : Terkadang artis membuat sensai2 yang ingin di ketahui publik juga Artispun juga dibayar sebagai host acara-acara infotainment
dlm hal ini maka perlu kiranya ARTIS untuk lebih memanusiawikan dirinya sendiri dan akhirnya sadarlah.....wahai manusia-manusia ciptaan TUHAN.

Pimen Blog said...

wedeew,,setuju ka,,kdng2 emang wartawan terlalu brlebihan,,orng lg ga mood juga teruss d paksa bwt ngasih info,,waduuh -.-

Irvan said...

Nice...

Sudah seharusnya kita berkaca pada dirikita sendiri, istilahnya jangan menyakiti jika tidak mau disakiti, jangan mengejar jika tidak mau dikejar :)

Anonymous said...

Dear Dee,

Tulisanmu bagus sekali, menyuarakan apa yang saya yakin orang banyak juga punya suara yang sama dalam hati dan kepala mereka (termasuk saya).

Saya sendiri paling sebel dengan kata-kata "Artis itu milik publik, jadi publik berhak tahu. Kalau artis nggak mau bicara sama saja membohongi publik." Helloo??? Situ OK??? Sejak kapan artis punya kewajiban membuka persoalan pribadnya ke ranah publik? Siapa yang mengharuskan? Keterlaluan memang infotainment itu mengkondisikan artis sampai sebegitunya untuk kepentingan bisnis mereka.

Dalam kasus Luna Maya, saya bersimpati padanya. Buat saya Luna memang bukan tipe artis yang terlihat (karena saya tidak kenal tentunya) ramah dan supel, tapi reaksi dia seperti itu menurut saya sangat manusiawi. Mudah-mudahan kasus Luna Maya ini bisa menjadi titik balik evaluasi infotainment agar kembali ke jalur yang benar, yaitu seperti sebagaimana pers, mengedepankan etika.

Psst, by the way, saya pribadi tidak pernah menganggap infotainment itu pers sejati dan pekerjanyapun buat saya bukan bagian dari apa yang disebut sebagai 'wartawan'.

Lili said...

infotainment lupa "PEOPLE POWER", nanti masyarakat bela in Luna kek kasus Prita baru deh jiper..hihihihi..

zaki said...

wah mba, ini mah emang smua yg ada dipikiran saya.
pikiran kita emang sama nih, sayang kalo mba menggunakan bahasa yg santun kyk ini, saya cuman bisa kata kasar di kaskus, ehehehe
seharusnya sih abis baca ini orang tuh sadar,
"rejeki tuh di tangan Tuhan, bukan di tangan orang laen, yg bisa kita lakuin hanya berusaha, berdoa, dan tawakal"

Catatan TheRobot Gedek said...

Woow, ini sebuah kritikan tetapi dengan bahasa yang cerdas..
kak Dee HEBAT!! ^.^

Anonymous said...

wah bagus bener ni tulisanna,, bener2 membuka mata akan kerja and kinerja infotainment buat cari berita,,

@Didiet Hidayat :

dulu waktu belom ada tv swasta di Indonesia udah banyak artis2 kita yang sukses tanpa ada media infotainment, jd apakah infotainmet itu sebenernya perlu?
artis yg ngetop karena infotainment berarti artis ga mahir berkarya, cuman mahir wawancara :D


cmiiw

Anonymous said...

ya..jangan membunuh nyamuk dengan bom< setuju banget...jadi memang sebuah sia-sia jika ingin membunuh luna yang diumpamakan nyamuk dengan bom alias profesi wartawan infotainment...sudahlah, kalau memang sudah tidak membutuhkan media tidak apa-apa..coba tolong garis bawahi: JIKA MENGANGGAP MEDIA INFOTAINMENT LEBIH RENDAH DARI SEORANG PELACUR DAN PEMBUNUH, JANGAN PERNAH LAGI BERSENTUHAN DENGAN MEREKA YANG HANYA PROFESI NISTA MESKI ITU MENGUNTUNGKAN SANG ARTIS...BRAVO PARA ARTIS YANG SOMBONG DAN PERCAYA DIRI BAHWA MEREKA BISA MENJADI BESAR TANPA MEDIA..GUDLAK

diaNice said...

nice post, memandang masalah dari dua sisi.. tapi ttg kasus ini emang benar laporan ke polisi itu berlebihan.. "Jadi, untuk apa membunuh nyamuk dengan bom atom?" LIKE THIS :D

NETARISM said...

ya sudahlah...lupakan semuanya, mungkin semua ada hikmahnya, lupakan perseteruan infotainment dengan artis...memang kami tidak simbiosis mutualisme, memang infotainment itu hanya parasit untk artis..maka sepakatlah, bahwa artis tidak butuh media khususnya infotainment dalam mereka berekspresi, cukup kami hanya dimanfaatkan mereka yang mreka bilang untuk menjadi corong kegiatan mereka...cukup tahu saja, bahwa itulah arti infotainment bagi artis terutama dimanta mba dee, thanks mba, kini mata kami telah terbuka, bahwa sesungguhnya cukup kami menjadi partner kerja para artis..

hamam firdauz said...

thats what they called CIRCLE OF SATAN! yakin kalo dewi persik sama saiful jamil terganggu sama infotainment? ahaaaiii piss

andar said...

makanya aku dari dulu gak mau jadi artis..

takutnya bgini..hehehehe


salam kenal kak dee..
aku penggemar berat filosofi kopi..n sori telat baru skarang baca perahu kertas..

Dini Susanti said...

Setuju Dee, artis juga manusia, manusia bisa curhat, bisa nangis, bisa marah. Media curhat kita bisa dimana aja termasuk di internet, yang bila kita press publish maka semua orang di dunia akan baca. Dan bila perlu curhat (yg juga hak kita semua, bebas gratiss) apalagi di internet, sebaiknya di tutupi dengan tanda * disalah satu huruf si dia yg dimaki atau pake inisial (praduga tak bersalah).

Ikut prihatin dengan Luna semoga cepat beres kasusnya dan jadi pelajaran buat kita semua.

chiw said...

very great post, mba Dee...
andai seua berfikir kayak situ, what a nice world we will be in ;)

keep bloggin

toko online jepara said...

benar sekali,,kalo perlu ngga usah ada infotainment kali ya,,diganti berita yang lebih bermutu,,meliput seleb boleh2 aja sih,,tapi gag usah bahas kehidupan pribadinya napa..

abusyafiq said...

Infotainment sering menjadikan penderitaan dan aib orang sebagai komoditas bisnisnya...

JHONI said...

salam kenal mba Dee.......wah posting yg menarik.....artis juga manusia.....label publik figur td akan dapat mengubah itu.....marah sedih ceria tertawa adalah milik kita manusia.......jadi kenapa memangnya jika Luna memaki di tweeternya??????

Anonymous said...

saya sih setuju dengan tulisan mbak Dee ini..
saya memang bukan orang terkenal atau artis yang merasakan bagaimana dikejar-kejar para wartawan..
tapi jujur saja saya juga sudah merasa malas menonton infotainment.. terkesan memaksa dan sangat ingin tahu kehidupan pribadi seseorang..
seandainya mereka yang ada di posisi si artis.. apa mereka bisa menerima keadaan hanya dengan senyuman??
mereka juga pasti akan merasakan apa yang dirasakan para artis..
jadi heeyy.. cobalah berempati..

Anonymous said...

Mantabz sekali. Ijin forward.

Donny B.U. said...

sekedar sharing:

Prita Mulyasari dan Luna Maya: Opera van Internet Khas Indonesia

http://ictwatch.com/internetsehat/2009/12/21/prita-mulyasari-dan-luna-maya-opera-van-internet-khas-indonesia/

atau di

http://www.detikinet.com/read/2009/12/21/152926/1263719/398/prita-dan-luna-maya-opera-van-internet-khas-indonesia


mudah2an bermanfaat.

-dbu-

Anonymous said...

memang kenapa kalo suka nonton infotainment.., kok kesannya bagaimana gitu??
saya ibu rumah tangga biasa.., buat saya nonton infotainment biasa aja, sama seperti saya nonton berita politik, baca majalah tempo or koran kompas, atau seperti sekarang membaca blog mbak dee..
sekedar keseimbangan.., tp sukurlah saya anti sinetron..:D

untuk masalah luna vs infotainmen, saya hanya bisa bilang saya tidak suka dgn kata2 melecehkan dari luna.. toh mbak dee jg kalo seandainya marah kepada pekerja infotainmen, tidak akan setega n sebodoh itu mengeluarkan kata2 seperti itu di twitter kan..??

trims..^,^

septianw said...

satu yang saya suka dari setiap tulisan mbak dewi.

tata bahasa dan penggunaan kata.

nice post.

Ariff said...

nice post ^^

Anonymous said...

brilliant post!
izin utk share di fb saya yaa :)

Anonymous said...

Dee....Sepakat!!!Apa Yang dilakukan Luna Maya Sudah Seharusnya dilakukan semua orang yang diusik ruang Privasinya....

«Oldest ‹Older   1 – 200 of 455   Newer› Newest»