Friday, January 23, 2009

Pelajaran Winnie Sang Penyihir

Pelajaran Winnie Sang Penyihir



Sebagaimana ritual kami setiap malam, Keenan minta dibacakan dongeng sebelum tidur. Dan seperti biasanya, saya memberikan kebebasan bagi Keenan untuk memilih buku yang ingin ia baca. Malam itu, ia memilih dongeng serial “Winnie The Witch”—enam buku yang masih licin dan rapi karena belum pernah dibaca. Sebulan yang lalu, bundel dongeng itu dihadiahkan sahabat saya tercinta: Tri (atau ‘Tante Tree’, jika diucapkan oleh Keenan, seperti melafalkan ‘tree’ dalam bahasa Inggris). Tantenya yang satu ini tinggal di Dubai dan pulang ke Indonesia cuma satu-dua kali setahun.

Jika suka pada satu buku, Keenan biasanya mengulang-ulang buku yang sama. Butuh waktu panjang untuk akhirnya Keenan melirik materi baru. Saya, yang kebagian tugas membacakan, terpaksa bertahan dengan rasa bosan. Tak jarang saya jadi hafal isi buku-bukunya sampai kata per kata. Jadi, waktu dia memilih “Winnie The Witch” yang sudah sebulan nongkrong di rak, dalam hati saya bersorak-sorai (hore! bacaan baru! akhirnya!).

Dengan penuh semangat saya mulai membaca. Halaman pertama… wow! Saya takjub dengan ilustrasinya yang luar biasa detail. Kami bisa menghabiskan sepuluh menit sendiri hanya untuk membahas gambarnya yang begitu kaya. Proporsi antara panjang teks dan ilustrasi juga seimbang dalam tiap halamannya. Tidak membuat yang mendongeng belepotan atau napas kepayahan setelah habis satu buku. Belakangan saya tahu bahwa serial yang ditulis oleh Valerie Thomas dan diilustrasikan oleh Korky Paul ini adalah pemenang Children’s Book Award, dan sudah terjual dua juta eksemplar dari peluncuran pertamanya pada tahun 1987.

Kisah dimulai dengan Winnie yang tinggal di rumah serba hitam. Dari mulai dinding sampai seprai... semuanya hitam. Winnie hanya ditemani seekor kucing bernama Wilbur—yang juga hitam. Satu-satunya yang bisa membedakan Wilbur dari ruangan dan seluruh isinya adalah matanya yang hijau. Begitu Wilbur tidur dan kelopak matanya menutup, maka ia hilang menyatu dengan rumah. Berkali-kali Winnie menduduki Wilbur secara tak sengaja. Dan itulah awal dari segala permasalahan antara Winnie dan Wilbur.


Setelah terjungkal dari tangga karena menyandung Wilbur yang sedang terlelap, Winnie lalu memutuskan untuk menggunakan sihirnya, dan… ABRAKADABRA! Wilbur berubah menjadi kucing hijau. Sekarang, di mana pun Wilbur berada, ia selalu terlihat. Termasuk saat Wilbur mencuri-curi tidur di tempat peraduan Sang Penyihir. Karena tidak mengizinkan Wilbur tidur di kasur, akhirnya Winnie meletakkan Wilbur di pekarangan rumput.


Masalah baru timbul. Wilbur, yang sekarang berwarna hijau, kembali tak terlihat di tengah-tengah rumput. Bahkan saat ia membuka mata sekalipun, berhubung matanya juga hijau. Winnie, bangun dari tidurnya, lantas mencari Wilbur di pekarangan. Lagi-lagi, penyihir itu tersandung kucingnya sendiri, jumpalitan tiga kali di angkasa, dan tersuruk di tanah.

Kali ini, Winnie benar-benar kesal. Disambarnyalah tongkat sihir, dan… ABRAKADABRA! Wilbur berubah menjadi… warna-warni! Kepalanya merah, kupingnya kuning, kumisnya biru, badannya hijau, empat kakinya berwarna ungu, dan ekornya... pink! Winnie sangat puas. Sekarang, di mana pun Wilbur berada, baik di rumah maupun di pekarangan, ia pasti akan terlihat.


Namun, Wilbur tidak mau kembali ke rumah. Ia sangat malu dengan warna tubuhnya yang tidak karuan. Ia bahkan ditertawakan oleh binatang-binatang lain. Wilbur kabur ke puncak pohon tertinggi dan tidak mau turun-turun. Pagi sampai malam, Wilbur bertahan tidak pulang.


Melihat Wilbur yang menderita, Winnie pun merasa sedih. Wilbur adalah segalanya bagi Winnie. Tapi ia malah membuat Wilbur sengsara karena kehendaknya sendiri. Winnie akhirnya beringsut ke pohon tempat Wilbur bergantung, dan dengan tongkat sihirnya ia mengubah Wilbur kembali hitam. Perlahan, kucing itu kembali turun ke tanah. Bersama Wilbur yang kembali di sisinya, Winnie menghadap rumahnya yang serba hitam, mengayun tongkat sihirnya di udara, dan… ABRAKADABRA! Rumah hitamnya berubah kuning dengan atap merah menyala, sofanya berubah putih, karpetnya menjadi hijau, tempat tidurnya biru, selimutnya pink, dan kamar mandinya putih berkilau. Dengan perubahan baru ini, Wilbur dapat terlihat dengan mudah… tanpa perlu berubah.

Buku 32 halaman itu selesai didongengkan dalam sepuluh menit. Namun kesan yang tertinggal tak terukur oleh waktu. Winnie mengingatkan saya pada kita semua. Kita, yang seringkali bersikukuh untuk mengubah seseorang, memermaknya agar sempurna di mata kita, memaksanya agar muat dan tepat dalam ruang hidup kita, memangkas atau menambalnya agar bisa pas dengan kebutuhan kita, tanpa peduli bahwa apa yang kita perbuat sesungguhnya adalah siksaan bagi yang bersangkutan. Dalam penjara logika dan mental kita masing-masing, kita berpikir bahwa mengubah seseorang adalah solusi yang realistis dan humanis. Atas nama cinta dan apa pun, kita bahkan merasa bahwa kita sedang berbuat kebaikan.

Namun Winnie Sang Penyihir mengingatkan kita bahwa ada satu hal penting yang sering terlupa: diri kita sendiri. Perubahan tak pernah terjadi oleh hal lain di luar kita, meski faktor eksternal bisa jadi pemicunya. Yang mampu menggerakkan perubahan sejati hanyalah kita sendiri. Seperti halnya Winnie yang luput membenahi rumahnya dan malah sibuk mengutak-atik Wilbur tanpa sadar kalau aneka sihirnya malah membuat Wilbur terdera karena menjadi sesuatu yang bukan dirinya, kita pun acap kali terlena dalam ekspektasi serta upaya untuk mengubah orang lain, dan malah lupa dengan pembenahan yang paling penting dan realistis yakni, sekali lagi, diri kita sendiri. Dan ini adalah masalah yang amat sering kita alami. Dari waktu ke waktu.

Impian saya tertinggi adalah menulis buku anak-anak. Dan saya bahagia berhasil menemukan contoh yang luar biasa dari serial “Winnie The Witch”. Pesan yang begitu dalam dan bijaksana berhasil dikemas dengan indah dalam dongeng beralur sederhana dan gambar jenaka. Bukan cuma anak umur 4 tahun seperti Keenan yang belajar sesuatu. Kita yang dewasa pun dapat sejenak berkhayal menjadi Winnie, mengarahkan tongkat sihir ke diri kita, dan marilah kita utak-atik segala sesuatu yang perlu dibenahi, sebelum ada Wilbur lain yang terpaksa berubah jadi pelangi.


PS. Tri, Winnie is your best gift to Keenan so far. Honestly, I didn’t expect it, especially since Captain Underpants :) Thank you so much, sis.
Read More ..

Thursday, January 08, 2009

Merenungi Meditasi

Merenungi Meditasi
* Akan diterbitkan di majalah Intisari edisi khusus Mind, Body & Soul
minggu ke-3 Januari



Pada salah satu sesi meditasi mingguan yang rutin saya jalani, hadirlah beberapa orang baru yang belum pernah ikut meditasi sebelumnya. Mereka lantas diberi kesempatan untuk bertanya seputar praktek meditasi. Sebaliknya, para peserta lama juga berkesempatan untuk ikut berbagi pengalaman.

Lalu ada satu orang yang bertanya: “Apakah praktek meditasi bisa mengurangi masalah?” Mungkin ia berharap meditasi bisa menjadi semacam metode problem-solving untuk menghadapi aneka problem kehidupan. Sebuah ekspektasi yang wajar. Biasanya, manusia memang perlu dirundung sejuta masalah terlebih dulu untuk akhirnya melongok ke dalam batinnya sendiri. Dan sebagaimana kita terbiasa menganggap “solusi” sebagai tujuan akhir dari “problem”, maka meditasi pun seringkali diposisikan sebagai solution maker.

Pertanyaan itu membuat saya merenung dan mengingat-ingat, apa sesungguhnya manfaat terdalam dari praktek meditasi? Dan sepertinya jawaban saya menjadi kabar buruk bagi peserta yang bertanya tadi, karena bagi saya, masalah tidak jadi berkurang. Bahkan kadang-kadang rasanya malah “bertambah”. Mengapa?

Sama halnya ketika saya mulai mengenal pola makan vegetarian. Di luar dari tubuh yang terasa lebih fit dan penyakit berkurang, badan saya pun jadi sangat peka. Saya, yang biasanya minum kopi 1-2 cangkir sehari dan baik-baik saja, sekarang tidak bisa minum lebih dari setengah cangkir. Itu pun kopi decaf. Saya, yang suka bumbu tajam, sekarang terganggu dengan hadirnya bawang-bawangan dalam makanan saya. Dan toleransi saya pada asap rokok merosot sangat drastis hingga saya dijuluki “si plang no-smoking berjalan”. Saya lantas bertanya-tanya: ke mana kemampuan saya dulu, yang sanggup melahap apa saja, lebih toleran dengan rokok, dsb? Karena bukannya saya yang tidak ingin fleksibel, tapi tubuh saya benar-benar menolak dengan sendirinya.

Dalam perihal mental, saya pun sempat bangga dengan kemampuan saya untuk selalu bersikap tenang di segala situasi. Saya, yang anti-konfrontasi, bangga dengan kemampuan diplomatis yang membuat saya tampak senantiasa berkepala dingin. Tapi, setelah saya mulai bermeditasi, saya menyadari bahwa ketenangan dan kekaleman saya tidaklah otentik. Semua itu hanyalah tameng sosial yang saya pikir akan membawa saya keluar dari masalah. Kenyataannya, saya menabung setumpuk pe-er dalam batin. Di luar kelihatannya saya “baik-baik” tapi di dalam saya berperang hebat dengan diri saya sendiri.

Meditasi membawa saya ke jantung peperangan itu. Menghadapkan saya bukan dengan siapa-siapa di luar sana, melainkan dengan diri saya sendiri. Dalam meditasi, saya diajak untuk menghadapi masalah seada-adanya, bukan dilebihkan, bukan juga dikurangi. Dan, ini dia yang ajaib, ketika masalah kita sadari sepenuhnya, seada-adanya, masalah meluruh dengan sendirinya. Tanpa perlu kita cari solusi. Tanpa perlu kita temukan jalan keluar.

Suami saya, Reza, sering berkata: Masalah = Situasi + Perasaan. Masalah baru hadir ketika sebuah situasi kita bubuhkan justifikasi “tidak suka”, “sebal”, “benci”, “tidak benar”, dsb. Namun seringnya kita hanya fokus ke situasi dan mencari cara untuk mengubahnya, sementara kendali itu tidak selamanya ada di tangan kita. Inilah yang akhirnya membuat batin kita lelah, frustrasi, dan stres. Ketika kita mau menghadapi perasaan kita, menerimanya sebulat-bulatnya, atau dalam terminologi meditasi, mengamati sepenuhnya, maka situasi cuma jadi situasi tok. Netral.

Sekarang, saya lebih peka dengan segala emosi yang saya alami. Dan praktek meditasi membuat saya susah untuk “lari” dari masalah, meski saya kepingin, karena batin saya tidak lagi terbiasa menabung utang perasaan. Jika saya marah, saya akui sepenuhnya bahwa ada amarah. Jika saya sedih, saya terima seutuhnya bahwa ada kesedihan sedang datang. Tidak lagi lari, tidak juga mengikatkannya terus menerus dengan diri saya, cukup mengamati: ini amarah, ini sedih, ini kecewa, dsb.

Masalah hidup ini tidak berkurang. Sungguh. Tapi ia cenderung lebih sebentar hinggap. Tidak lagi terlalu membelit dan mengikat hati kita.

Bukannya tak mungkin saat bermeditasi kita mendapatkan ide, inspirasi, bahkan solusi. Namun bagi saya, bukan itu yang menjadi manfaat utama. Meditasi adalah lensa yang meneropong semesta di dalam, dan menyadarkan kita bahwa apa yang di luar sana tidak pernah terpisah dengan apa yang ada di dalam. Dan apa yang di dalam diri adalah tanggung jawab kita masing-masing untuk menemukan esensi sejatinya. Meditasi mengajarkan saya untuk bertanggung jawab atas hidup.

Saya tidak pernah tahu pasti apakah paparan saya bermanfaat bagi peserta tadi. Minggu depannya ia tidak kembali lagi. Namun, pertanyaannya telah memberi manfaat yang luar biasa bagi saya. Karena untuk pertama kalinya saya diajak merenungi dengan sungguh-sungguh manfaat meditasi. Untuk saya. Titik.
Read More ..