Wednesday, July 15, 2009

Dicekik Plastik

Dicekik Plastik


Sabtu pagi. Akhir pekan. Keramaian manusia di pusat perbelanjaan. Sungguh bukan pemandangan baru. Tapi saya baru tahu, mengantre di kasir supermarket di hari Sabtu pagi bisa menjadi pengalaman yang begitu miris dan mengiris.

Pagi itu saya belanja di Carrefour sendirian. Sambil menunggu pembelanja sebelum saya yang belanjaannya sampai dua troli, saya mengamati sesuatu. Lewat pengeras suara, beberapa kali terdengar imbauan untuk mengurangi sampah plastik, bahwa Bumi sedang mengalami pemanasan global, dan sudah tersedianya kantong belanja ramah lingkungan yang bisa dibeli dengan harga terjangkau (ada dua pilihan: dua ribu perak berbahan plastik daur ulang dan sepuluh ribu perak untuk yang berbahan polyethylene).

Lalu di dekat kasir, tertempel sebuah stiker yang bunyinya kira-kira begini: petugas kasir diharuskan untuk menawarkan isi ulang pulsa dan kantong belanja ramah lingkungan pada para pembeli. Saya memperhatikan kiri-kanan, termasuk pada saat giliran saya membayar tiba. Memang betul saya ditawari pulsa. Tapi tidak kantong belanja tadi.

Dan, berbarengan dengan pengumuman yang bergaung di seantero toko mengenai pemanasan global, saya mengamati bagaimana belanjaan demi belanjaan dimasukkan ke kantong-kantong kresek oleh tangan-tangan gesit yang sudah bergerak terampil bagai robot. Tak sampai penuh, bahkan kadang setengah pun tidak, mereka mengambili kantong plastik baru. Yang belanja pun tenang-tenang saja menyaksikan. Kenapa tidak? Berapa pun kantong plastik yang dipakai, itu sepenuhnya terserah pihak supermarket. Gratisan pula.

Sambil mengamati gerakan tangan gesit petugas, dalam hati saya bertanya: haruskah seboros itu? Barangkali memang kebijakan dari toko yang mengharuskan berbagai jenis barang untuk tidak digabung dalam satu kantong. Tapi kenyataannya, kantong-kantong plastik setengah penuh itu hanya berfungsi sebagai alat angkut dari kasir menuju troli, lalu dari troli menuju bagasi mobil, lalu dari mobil menuju rumah. Kalaupun beberapa barang beda kategori tersebut harus digabung, asal tidak terkocok-kocok di mesin pengaduk semen, seriously, what harm can possibly be done with those stuffs?

Saat saya harus maju, memang saya terlihat lebih repot dari yang lain. Saya mengeluarkan tiga kantong yang saya bawa dari rumah, lalu mengisinya sendiri. Bukan apa-apa. Kadang-kadang akibat pelatihan yang mengharuskan para petugas supermarket untuk memilah-milah barang membuat mereka seringkali tampak canggung dan melambat ketika harus menggabungkan santan kotak dengan kapas, atau piring dengan brokoli, atau pasta gigi dengan selai. Sementara bagi saya itu bukan masalah. Tiga kantong yang saya bawa dari rumah tampak gendut dan sesak. Beberapa barang besar seperti beras dan deterjen tiga kiloan saya biarkan di troli tanpa plastik.

Melajulah troli saya yang jadinya tampak aneh di tengah troli-troli lain yang didominasi tumpukan kresek putih. Rata-rata orang keluar dari sana membawa 4-6 kantong kresek. Belum termasuk plastik-plastik yang membungkusi buah dan sayur. Jika semua ini direkam dalam video, lalu satu demi satu gambar dihilangkan dan dibiarkan gambar plastiknya saja, niscaya kita akan melihat buntelan-buntelan putih licin yang mengalir bagai sungai dari supermarket menuju parkiran.

Superindo punya kebijakan yang selangkah lebih mending. Jika belanjaan kita cukup banyak maka petugas di kasir akan menawarkan pemakaian dus. Dan sudah ada dus-dus yang disediakan dalam jangkauan, hingga tak perlu tunggu lama untuk cari-cari ke gudang. Beberapa kali saya mengantre di kasir Superindo, saya menemukan banyak pembeli yang menolak pakai kardus meski belanjaan mereka banyak. Entah apa alasannya. Mungkin menurut mereka kurang praktis. Atau tidak terbiasa. Seperti Carrefour, Superindo juga menjual green bag, kantong belanja yang bisa dipakai berkali-kali. Green bag tersebut pun bisa didapat dengan gratis. Caranya? Mengumpulkan 70 stiker. Satu stiker didapat dengan belanja 10 ribu, dan stiker berikutnya di kelipatan 50 ribu. Jadi belanjalah dulu 10 ribu sebanyak 70 kali, atau belanja 3,5 juta untuk mendapatkan tas itu secara cuma-cuma. Wow.

Kasir di Ranch Market selalu bertanya pada pembeli: "Apakah struknya perlu dicetak?" dan ketika kita menjawab 'tidak' (karena seringnya memang tidak dilihat lagi juga), maka dia tidak akan mencetakkan struk yang berarti penghematan kertas.
Sedang dilaksanakan pula kegiatan adopsi pohon dengan biaya 95 ribu, di mana kita akan mendapatkan satu kantong belanja bahan kain goni yang ukurannya cukup besar dan satu pohon akan ditanam atas nama kita di Gunung Rinjani. 'Saudara'-nya Ranch Market, yakni Farmer's Market, secara rutin mengadakan hari "Belanja Tanpa Kantong Plastik", di mana setiap Selasa minggu ke-2 Farmer's tidak menyediakan kantong plastik sama sekali. Sama seperti Carrefour dan Superindo, jaringan ini juga menjual green bag dari bahan kain seharga 10 ribu-an.

Memang, dibandingkan beberapa tahun yang lalu, inisiatif dari pihak supermarket/hipermarket sudah jauh lebih baik dan kreatif. Namun, apakah tidak bisa kita bergerak lebih cepat, lebih tajam, dan lebih langsung? Dan, mungkinkah perspektif yang digunakan pun sebetulnya terbalik? Jika benar-benar ingin mengurangi sampah plastik, kenapa justru pembeli yang tidak ingin menggunakan kantong kresek malah menjadi pihak yang harus mengeluarkan biaya ekstra dan tidak mendapat insentif apa pun? Sementara yang pakai kantong kresek tetap melenggang kangkung tanpa sanksi apa-apa? Tidakkah ini jadi mengimplikasikan bahwa gerakan go-green itu 'lebih mahal' dan 'repot', sementara yang sebaliknya justru 'gratis' dan 'praktis'? Di mata saya, penjualan kantong-kantong ramah lingkungan tersebut pun, selama masih menggunakan bahan baku baru dan bukan hasil daur ulang, akhirnya cuma jadi komoditas biasa. Seperti halnya jualan sabun atau sayur. Sementara yang paling penting adalah BERHENTI memproduksi barang baru dan menggunakan ulang apa yang ada. Yang paling penting bukanlah mencetak tulisan "Selamatkan Bumi" di selembar kain kanvas atau di kain polyethylene lalu menjudulinya tas ramah lingkungan, melainkan membuat kebijakan yang benar-benar realistis dan berpihak pada lingkungan.

Dari data yang saya baca, di jaringan Superindo sendiri, penggunaan kantong kresek bisa mencapai 300.000 lembar per hari. 700 ton sampah plastik diproduksi hanya oleh Jakarta saja. Dan menurut Kementrian Lingkungan Hidup, komposisi sampah plastik di kota-kota besar seperti Surabaya dan Bandung meningkat sejak tahun 2000 dari 50% ke 70%. Kita benar-benar sudah dicekik plastik.

Pikiran saya terus berandai-andai: jika memang pemerintah tidak berbuat sesuatu untuk menekan produksi dan penggunaan kantong plastik, dan andai saya adalah pengambil keputusan di rantai supermarket tadi, maka saya akan menetapkan harga 2000-5000 rupiah untuk satu kantong kresek, yang barangkali akan lebih efektif untuk 'memaksa' orang membawa kantong sendiri ketimbang menjual kantong ramah lingkungan seharga 10 ribu. Dana dari 'sanksi' kantong kresek tersebut lalu disalurkan untuk kegiatan penghijauan dan aktivitas lingkungan hidup lainnya. Di sebagian negara di Eropa, ternyata pengenaan biaya pada kantong belanja telah berhasil menurunkan sampah kantong plastik hingga 90%.

Saya cukup salut dengan keberanian Makro. Barangkali cuma di Makro berlaku peraturan tegas di mana konsumen harus mengeluarkan uang 2000 rupiah untuk setiap kantong belanja. Setiap pembeli yang pergi ke sana mau tak mau harus siap mental untuk membawa kantong belanja sendiri atau berebut dus-dus kosong yang memang disiapkan di sana. Kebijakan seperti itu dapat dimaklumi karena Makro memang menjual barang-barang berukuran dan berkuantitas besar, jadi alasannya tidak melulu lingkungan. Namun bukannya tidak mungkin jaringan supermarket dan hipermarket lainnya mengikuti jejak Makro dengan mengusung alasan lingkungan, sebagaimana yang digaungkan lewat pengeras suaranya.

Saya keluar dari aliran sungai plastik tadi menuju mobil. Hati masih miris dan teriris. Sesekali bertanya, apakah khayalan saya ketinggian? Apakah realistis jika berharap pihak produsenlah yang berani muncul dengan kebijakan tegas, sementara para konsumennya sendiri tidak mau belajar mengedukasi dan melatih dirinya? Namun, sampai kapan kita bertahan di balik sekat-sekat kaku yang memisahkan pembeli dan penjual, pemerintah dan masyarakat? Sementara belitan plastik yang mencekik tanah dan air Indonesia sudah terlihat jelas di depan mata.


Read More ..

Wednesday, July 08, 2009

Dee's Essential List #3

Inilah daftar terakhir dari seri Essential List. Dalam daftar ketiga ini, saya mengulas produk yang beragam, dari mulai baju sampai bensin. Menuliskan Essential List ini membuat saya tersadar bahwa produk dan tempat layanan jasa yang baik bukanlah sekadar barang atau tempat yang punya elemen fungsional, tapi juga hati, seni, visi, dan passion. Dan itulah yang sekiranya menjadi benang merah dari penghuni daftar #1 sampai #3 ini.

Saya yakin daftar ini akan terus berkembang, so, nantikan saja kompilasi berikutnya. Dan perlu saya ulangi lagi, bahwa saya tidak dibayar maupun berafiliasi secara komersil dengan para produsen/tempat/penyedia jasa/produk yang ada di daftar ini. Ulasan saya murni berdasarkan pengalaman, dan murni dari hati yang tulus.

Semoga berguna!

Dee's Essential List #3

LOVING HUT (Restoran Vegetarian - Jakarta)


Bagi kaum vegetarian yang tinggal atau banyak berkecimpung di Jakarta Selatan, berita dibukanya restoran vegetarian di daerah ini bagaikan musafir bertemu oase di padang pasir. Selama ini restoran vegetarian enak didominasi Jakarta Utara atau Barat. So, simply put, this is officially our distance-friendly food haven.

Tempatnya yang serba putih dan apik, dengan gaya interior ala kafe, sekilas pintas tak membedakannya dengan tempat makan di Jakarta lainnya. But Loving Hut comes as a full package. Sebagai bagian dari franchise Loving Hut internasional yang memang punya visi dan misi yang kuat, tempat ini juga peduli terhadap gerakan lingkungan hidup dan gaya hidup sehat. Jadi, akan ada banyak brosur dan leaflet informasi yang bisa Anda bawa dengan cuma-cuma dari sana. Tayangan tevenya pun konstan menyiarkan acara dari Supreme Master TV yang isinya memang sangat positif dan gencar menyuarakan eco-friendly living.

Saya amati, banyak orang yang datang ke sana untuk rapat kantor atau arisan, di mana tampak banyak juga yang baru pertama kali mencoba menu vegetarian. Muka-muka yang tampak surprised karena ternyata makanan tak berdaging pun rasanya bisa enak. Cita rasa dan pilihan menu di Loving Hut memang cukup beragam, dari mulai menu Asia, Eropa, termasuk masakan Indonesia (nasi padang, nasi pepes, nasi timbel, dsb).

Menu favorit kami: Nasi Pepes Tropikal, yakni nasi bumbu kuning dibungkus dalam daun pisang bersama cabikan jamur, disajikan dengan kerupuk gendar, kering tempe, sambal, dan dendeng vegetarian yang dibuat dari kaki jamur. Sebetulnya banyak menu enak di Loving Hut. Tapi saya dan Reza benar-benar cinta mati sama Nasi Pepes Tropikal sampai-sampai 95% kedatangan kami ke sana hanya untuk memesan menu satu itu, despite the desperate effort from the owner and the servants who had tried to convince us to try other dishes.

Makanan di Loving Hut masuk ke dalam kategori makanan vegan, yang artinya bebas semua produk hewan termasuk susu, telur, kulit, dan madu. Meski Anda bukan seorang vegetarian atau pun vegan, tidak ada salahnya mencoba petualangan kuliner baru dengan mencicip makanan 'bebas kekerasan' di Loving Hut.

Lokasi:
The Plaza Semanggi, Lt. 3A, No. 3A
Kawasan Bisnis Granadha
Jl. Jend Sudirman Kav. 50
Jakarta - 12930
Tel. +62 - 21 - 2553 9369


DHARMA KITCHEN (Restoran Vegetarian - Jakarta)

Jika harus menyebut satu nama restoran vegetarian terbaik dan paling representatif se-Jakarta Raya ini, then our vote goes to Dharma Kitchen (d/h Cita Rasa).

Restoran yang baru saja renovasi dan berganti nama ini adalah salah satu restoran vegetarian 'senior'. Kelezatan makanannya sudah teruji. Konon, yang empunya restoran ini banting stir dari restoran steak menjadi restoran vegetarian karena wabah Mad Cow yang sempat memukul industri peternakan. Yang jelas, keputusannya itu membawa hoki, karena restoran ini malah melejit setelah beralih jadi restoran vegetarian.

Setelah renovasi, Dharma Kitchen kini terbagi menjadi tiga bagian. Lantai bawah ditempati kafe dan bakery. Lantai atas tetap menjadi restoran seperti biasa, di mana penataannya lebih sesuai pakem restoran Chinese konvensional; meja bundar besar, table-top yang bisa berputar, dsb. Kafe yang di bawah bergaya lebih modern dengan interior serba minimalis, pilihan menu yang lebih internasional, lengkap dengan minuman seperti cappuccino dan caffe latte. Bakery-nya dipenuhi aneka roti, kue tar, dan penganan kecil yang menggoda—terutama bagi para vegetarian yang sudah lama tidak bisa makan bacang, resoles, kroket, lemper, dsb. Di bakery ini, semua jajanan pasar tadi hadir dan bebas daging. Bagi yang vegan, bakery di sini juga menyediakan roti dan kue bebas telur yang, menariknya, ternyata lebih lembut dibandingkan roti yang mengandung telur. Dijual juga aneka bahan makanan vegetarian yang cukup lengkap.

Menu favorit kami: Jamur Cah Cincang yang dimakan dengan selada segar. Itu dia menu wajib yang PASTI kami pesan tiap kali datang. Coba juga Sate Manis Saus Kecap, 'Bebek' Peking, Tahu Saus Cabe, dan 'Ikan' Bumbu Bali, dan Pepes 'Ikan' Vegetarian. Well, anyhow, it's all good. Just go crazy.

Bagi saya dan Reza, Dharma Kitchen akan selalu punya tempat istimewa di hati, karena dari sinilah kami memesan katering untuk syukuran pernikahan kami. Informasi: pasca pesta, banyak laporan masuk bahwa orang-orang terkaget-kaget saat tahu bahwa makanan yang kami hidangkan sepenuhnya vegetarian. Termasuk tentang suami istri yang beradu debat karena si suami 100% yakin bahwa sate yang dia makan adalah daging betulan, meski istrinya berkali-kali bilang bahwa semua hidangan pesta kami adalah makanan vegetarian.

Lokasi:
Dharma Kitchen Vegetarian Resto & Café
Jl. Pluit Kencana Raya No. 106-110 Jakarta Utara
Telp. (021) 6621658, (021) 6694220


BLITZ MEGAPLEX (Bioskop)


Mungkin Anda pernah mengalami saat-saat menyebalkan ini, yakni ketika tiket nonton bioskop terbilang mahal, bahkan di salah satu mall di Jakarta harganya bisa sampai 50 ribu perak?

Saya tidak tahu persis apakah Blitz menjadi pemicu tunggal atau tidak, yang jelas ketika bioskop yang satu ini berdiri, tiket bioskop pun kembali menormal. Tradisi 'Senin nomat' pun tinggal kenangan, karena harga tiket dinaikkan hanya di akhir pekan tok. Either way, saya selalu merasa hadirnya kompetitor akan melonggarkan monopoli dan membuat iklim bisnis secara umum lebih sehat, plus menguntungkan bagi konsumen. At least, we have a choice, and a better price.

Di Blitz kita akan bertemu dengan para petugas berbaju modis dan trendi. Ada kafe keren tempat menunggu. Dan tempat duduk untuk menunggu tidaklah jadi barang langka yang sering menimbulkan persaingan sengit (pengalaman pahit bertahun-tahun nonton di Bandung Indah Plaza). Kursi yang nyaman, ruangan bioskop yang bersih, kualitas proyektor dan suara yang baik, adalah hal-hal standar perbioskopan yang saya harap bisa terus bertahan di Blitz. Bukan semata-mata karena usianya yang relatif baru.

Just be watchful for the movie schedule, and make sure you enter the theatre on time. Di sini tidak ada bunyi 'ting-tong' dan suara Maria Oentoe yang memanggil-manggil penonton.

Sejauh ini, Blitz baru buka di Bandung dan Jakarta (coming soon in Serpong! Yippee!).
Informasi lebih lanjut: http://www.blitzmegaplex.com/en/index.php




SHELL (SPBU)


Yep. Kali ini saya akan bicara soal bensin.

Sebelum Shell masuk ke Indonesia, saya sudah terbiasa dengan mengisi bensin di berbagai SBPU-nya Pertamina. Layanannya tentu beragam; dari mulai yang jujur sampai yang suka main-main dengan meteran, dari mulai yang fasilitasnya lumayan sampai yang busuk banget.

Atas anjuran Reza, saya mencoba mengisi bensin di Shell sejak tahun lalu. Sejak itu juga terbukalah cakrawala baru akan pengalaman isi bensin. SPBU Shell sangat rapi, bersih, tertata dengan baik. Stafnya ramah dan profesional. Banyak layanan tambahan cuma-cuma seperti pembersihan kaca jendela, pengisian air, dan pengisian angin ban. Semua SPBU Shell juga memiliki minimart kecil, lumayan untuk cari minum atau snack jika perlu.

Walau harganya di tengah-tengah antara Premium dan Pertamax, saya cukup puas dengan kualitas bensin Shell (saya pakai yang jenis Super). Reza bilang, sejak pakai Shell, mesin mobilnya jadi lebih halus, bertenaga, sekaligus irit.

Jujur, saya tidak terlalu peka soal mesin mobil. It's not really my cup of tea. Tapi untuk pengalaman isi bensin yang memuaskan, I vote for Shell any day. Informasi lebih lanjut: http://www.shell.com/home/content/id-en


VESPERINE (Fashion Line)


Bila Anda seorang perempuan pekerja, kemungkinan besar tidak asing dengan brand satu ini. Dari omongan mulut ke mulut yang saya dengar, banyak sekali perempuan karier yang mendamba koleksi Vesperine sebagai busana berkantornya. Meski demikian, tidak berarti baju-baju Vesperine cuma cocok dipakai untuk ke kantor saja. Saya sendiri cukup sering memakainya untuk berbagai kesempatan, termasuk untuk nyanyi dan pemotretan.

Vesperine punya karakteristik dan garis yang khas, yang cukup banyak mengundang pengekor (dan seringnya tidak berhasil). Kerah bergaya kimono Jepang, obi, dan trench coat, adalah desain yang paling sering muncul dari Vesperine. I've been a fan from day one, and it's so exciting to see their continuos growth and expansion.

Not only the name sounds international, their whole outlook does look international, too. Dari mulai detail outletnya sampai desain website, semuanya diperhitungkan dengan matang. Tapi jangan salah, Vesperine adalah brand lokal asli, berpusat di Bandung—believe it or not. And although the owner and designer is a very dear friend of mine, I believe in my objectivity when it comes to Vesperine's high quality and unique design.

Vesperine bisa didapatkan di departemen store terkemuka, seperti Metro, Sogo, dan Centro. Informasi lebih lanjut: http://vesperine.com/


WARUNG NASI PECEL SOLO


Ini tempat makan wajib kunjung setiap kali saya dan Reza pergi ke Yogyakarta. Berada tepat di sebelah Hotel Grand Hyatt, warung pecel ini memiliki dekorasi tradisional yang cukup indah. Padahal, biasanya pecel warungan ya tempatnya identik dengan 'kebersahajaan nyaris mengkhawatirkan'. Tidak dengan yang satu ini.

Memasuki warung ini seperti memasuki joglo besar, dengan tempat saji yang berada di sentral ruangan dan bangku-bangku kayu panjang yang mengitarinya. Persis seperti nongkrong di warung klasik. Sepanjang mata memandang, banyak aksesori dan furnitur antik seperti lampu dan toples kuno, gebyok, dingklik, dan lesung.

Disajikan di atas daun pisang, sayuran pecelnya segar berlimpah, ada pilihan nasi putih dan nasi merah, dan yang istimewa menurut saya adalah, pilihan bumbunya; ada bumbu kacang dan ada juga bumbu wijen hitam. Bumbu wijen hitam menjadi favorit saya. Selain cukup langka ada warung pecel yang menyediakan bumbu wijen, bumbu ini juga konon lebih sehat, dan rasanya segar. Pilihan minumannya juga cukup 'membingungkan'—karena selalu kepingin lebih dari satu: Es Beras Kencur, Es Temulawak, Es Kunir Asem Sirih, Jahe Pandan Gula Jawa, dan masih banyak lagi.

Jika harus menyimpulkan pengalaman makan di Warung Pecel Solo ini dalam satu kalimat, saya pun harus meminjam komentar Reza: the food here is so full of life. I couldn't agree more.

Lokasi:
Jl Tentara Pelajar No. 52
Palagan Sleman -Yogyakarta
Telp: 0274 - 866588
Jam buka: 08.00 – 16.00, 18.00 – 22.00

Kota SOLO:
Jl. Dr. Soepomo No. 55
Mangkubumen - Solo
Telp: 0271-737379


TOGAMAS (Toko Buku)


Pertama kali saya mengunjungi Togamas adalah ketika saya promo "Filosofi Kopi" di Yogyakarta, kota yang terkenal dengan persaingan toko buku yang ketat saking banyaknya.

Dari kunjungan pertama saya, tampak jelas bahwa Togamas memiliki eksistensi yang kokoh. Desainnya menarik dan serba terbuka, pilihan bukunya cukup komplet, dan ada kafe sastra yang jadi tempat nongkrong sekaligus tempat untuk menampung berbagai kegiatan perbukuan, salah satunya promo "Filosofi Kopi" saat itu.

Bagi yang tidak asing dengan Togamas, tentu yang paling menarik dari toko ini adalah diskonnya yang sangat bersahabat. Bisa 10-20% lebih murah dari jaringan toko buku lain. Tidak heran kalau Togamas menjadi tempat incaran para mahasiswa untuk berburu buku.

Namun, di luar dari kebijakan diskonnya, Togamas adalah salah satu dari sedikit toko buku yang, menurut saya, berbisnis buku dengan "hati". Apalagi setelah bercakap-cakap dengan yang empunya, Pak Johan, dan stafnya Mas Arief, saya semakin merasa toko ini tidak cuma sekadar jual buku. Yang jelas, dari pengalaman saya sebagai penerbit, Togamas adalah klien yang sangat menyenangkan karena pemesanannya selalu kontinu dan pembayarannya tepat waktu :)

Sekarang ini, Togamas sudah dibuka di beberapa kota, antara lain: Bandung, Denpasar, Surabaya, Jember, dan Malang. Informasi lebih lanjut: http://www.togamas.co.id/

* Sumber foto: Diambil dari masing-masing situs dan blog resmi tempat-tempat di atas.
Read More ..