<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542</id><updated>2012-01-29T17:27:04.353+07:00</updated><category term='Nostalgia'/><category term='On Mind and Self'/><category term='Personal Note'/><category term='Books That Tickle'/><category term='Guest Writer'/><category term='On Love and Loving'/><category term='Nature-Green-EcoLiving'/><category term='Published Articles'/><category term='God As I Experience'/><category term='Do-It-Yourself Infotainment'/><category term='Meditation Journal'/><category term='Keenan'/><category term='On Life and Living'/><category term='New Family Member'/><category term='Product Reviews'/><category term='On Writing and Writership'/><title type='text'>Dee Idea</title><subtitle type='html'>This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it's done, you're welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>56</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-8286527173852063933</id><published>2009-12-21T00:13:00.014+07:00</published><updated>2009-12-21T15:52:29.729+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Do-It-Yourself Infotainment'/><title type='text'>Luna Bukan Kopaja</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(153, 255, 153);"&gt;Luna Bukan Kopaja&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/Sy5btsY5g-I/AAAAAAAAAmw/bw8Go3echVw/s1600-h/iStock_000001376675XSmall.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 265px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/Sy5btsY5g-I/AAAAAAAAAmw/bw8Go3echVw/s400/iStock_000001376675XSmall.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5417368242341118946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Peluru ditembakkan ke udara. Asbak melayang. Dan sekarang, sebaris sumpah serapah di Twitter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relasi media hiburan dengan komoditas tunggalnya—yakni para penghibur, atau yang lebih sering disebut “artis”—adalah hubungan yang berwarna-warni. Kadang-kadang keduanya menempel manis bagai semut yang memeluk gula, tapi kadang-kadang keduanya saling sengit bagai kucing dan anjing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini, dalam mangkok besar industri hiburan, kita pun punya apa yang disebut: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;infotainment&lt;/span&gt;—hadir dalam bentuk program teve yang laku ditonton dan diproduksi dengan biaya tak besar. Berbeda dengan sinetron yang menuntut puluhan kru serta puluhan pemain dengan honor yang tak kecil, infotainment melenggang ringan dengan satu-dua kamera, dua-tiga kru, dan segenggam mikrofon yang ditodongkan ke para artis yang tak dibayar* untuk membuka ruang privat kehidupan mereka. Simbiosa? Sudah pasti. Saling membutuhkan? Tidak setiap saat. Saling menguntungkan? Belum tentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut beberapa anggapan umum, yang saking mapannya bersarang di benak masyarakat, sudah jarang kita pertanyakan atau cek kebenarannya, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 0);"&gt;1. “Media hiburan dan artis saling membutuhkan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, kalimat itu terdengar manis dan bijak tapi juga menjebak dan menjerat. Menjebak hingga artis dipaksa untuk melonggarkan bahkan merobohkan garis privasi di luar keinginannya, dan menjerat masyarakat untuk terus mewajarkan tindakan-tindakan intimidatif infotainment dengan alasan “itu kan risiko jadi orang terkenal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar karya saya menggaung di masyarakat luas, saya membutuhkan media sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;amplifier&lt;/span&gt;-nya, termasuk media hiburan (meski ada juga karya yang jadi besar dan laris bahkan sebelum media sempat menyentuhnya). Namun tidak semua jenis pemberitaan mendukung karya ataupun pamor saya. Bahkan ada pemberitaan yang mengganggu hidup saya. Bukan “saling membutuhkan” namanya jika saya menolak diliput dan malah terus dikuntit, rumah saya ditongkrongi dan dimata-matai. Bukan “saling membutuhkan” namanya jika kalimat saya diputar-balikkan untuk memenuhi opini subjektif tertentu melalui gambar dan narasi yang lantas dibagi ke jutaan pemirsa. Dalam situasi seperti itu, saya menolak keras generalisasi bahwa artis selalu membutuhkan media hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media dan seorang artis hanya layak disebut saling membutuhkan jika memang keduanya sedang merasa ada kebutuhan, yang artinya: situasional. Tidak terus-menerus dan berubah-ubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 0);"&gt;2. “Hubungan antara artis dan infotainment bersifat mutualisme.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengatakan, atau mengharapkan, bahwa hubungan antara artis dan infotainment selalu bersimbiosa mutualisme, menurut saya, adalah pernyataan yang buta. Simbiosa yang terjadi di lapangan bisa beragam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;• Mutualisme : &lt;/span&gt;Saat si artis mengizinkan dengan sukarela untuk si infotainment masuk ke dalam ruang privatnya, dari mulai meliput bisnis sampingan, meliput ulang tahun anak, bahkan untuk membantu posisi tawarnya dalam industri. Infotainment pun kadang sengaja dilibatkan ketika si artis hendak memenangkan sebuah konflik. Dalam relasi ini, kedua pihak sama-sama diuntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;• Komensalisme :&lt;/span&gt; Dengan izin atau tanpa izin, disengaja atau tidak, infotainment mewawancarai artis dan diladeni secara netral-netral saja. Misalnya, untuk memberi komentar ringan, atau meminta klarifikasi atas berita-berita remeh (baca: bukan skandal). Dalam pengamatan saya, relasi macam inilah yang paling banyak terjadi; si artis bisa berjalan lalu sambil berkata “Ah. Biasalah, infotainment,” dan si reporter bisa permisi pergi dengan muka lurus tanpa harus mengejar dan mencecar. Dalam jenis relasi ini, artis tidak merasa diuntungkan, tapi juga tidak merasa dirugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;• Parasitisme :&lt;/span&gt; Ketika si artis tidak memberikan persetujuan, kerelaan, atau keinginan untuk meladeni infotainment, tapi terus didesak, dipaksa, bahkan diintimidasi. Dan kemudian berita tetap ditayangkan dengan memakai perspektif satu pihak saja. Dalam pengemasannya, beberapa infotainment bahkan sampai melakukan teknik wawancara imajiner, pemalsuan suara, memutar balik kejadian sebenarnya, dan cara-cara lain yang sudah menjurus ke arah fitnah.** Dalam relasi ini, jelas yang diuntungkan hanyalah pihak infotainment, sementara pihak artis dirugikan, bahkan dicurangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 0);"&gt;3. “Kalau beritanya aib pasti artisnya menghindar, kalau berita baik       infotainment-nya dibaik-baikin.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, buat saya itu adalah opini yang malas dan tak jeli. Tak sedikit area yang disebut “baik-baik” oleh banyak orang, tapi bagi beberapa artis tertentu merupakan ruang privat yang tidak ingin dibagi ke infotainment, seperti kelahiran anak, acara pernikahan, dst. Dan banyak juga konflik/isu berbau skandal yang secara sengaja justru melibatkan infotainment atas undangan/persetujuan/kerelaan artisnya. Jadi, fakta di lapangan lagi-lagi tidak mendukung opini umum tersebut. Setiap artis punya preferensi dan garis batasnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 0);"&gt;4. “Seorang figur publik wajib membuka dirinya terhadap publik karena ia sudah jadi  milik publik.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu kecil, saya tidak pernah bercita-cita jadi figur publik. Yang saya ingat, saya ingin jadi penulis dan musisi profesional. Itu saja. Saat saya berkarya, saya mempertanggungjawabkannya dengan cara-cara yang sederhana: menjamin bahwa karya saya asli dan mencintainya sepenuh hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun karya dan citra melangkah seiring sejalan ketika sudah masuk ke dalam industri. Di sana, karya menjadi besar, citra pun ikut membesar, dan saya yang manusia biasa kadang-kadang tenggelam oleh keduanya. “Figur publik” akhirnya menjadi efek samping yang mengiringi profesi artis, walaupun berkarya dan terkenal sebetulnya adalah dua hal yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, pengertian “figur publik” selalu ditempelkan dengan konotasi “milik publik”. Kita amat sering terpeleset dengan menganggap keduanya identik, padahal secara esensi keduanya berbeda. Dalil itulah yang kemudian digunakan infotainment untuk menuntut artis buka mulut. Sering sekali mereka mengatasnamakan “masyarakat” dengan mengatakan “Masyarakat berhak untuk tahu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, yang menjadi milik publik adalah karya saya. Masyarakat bisa membeli buku saya, CD album saya, mengundang saya untuk diskusi buku dalam kapasitas saya sebagai penulis, atau mengundang saya bernyanyi dalam kapasitas saya sebagai penyanyi. Namun saya punya hak penuh atas kehidupan pribadi saya. Hidup saya bukan milik publik. Adalah hak saya sepenuhnya untuk menentukan seberapa banyak potongan kehidupan pribadi yang ingin saya bagi dan mana saja yang ingin saya simpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artis adalah manusia yang berkarya. Bukan telepon umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 0);"&gt;5. “Seorang artis harus selalu bertutur laku baik dan sopan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini barangkali anggapan umum yang paling naif tentang artis. Pertama-tama, bukan hanya artis, seorang tukang becak pun dituntut untuk bertutur laku baik dan sopan pada penumpangnya. Ketika sudah hidup bermasyarakat, sikap baik dan sopan melancarkan interaksi kita dengan satu sama lain. Namun kita juga manusia yang punya dua sisi. Kita pun bisa marah dan kehilangan kendali. Lantas apa yang membedakan Luna Maya dengan Mang Jeje—tukang becak langganan saya di Bandung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pepatah bijak berkata: “Semakin tinggi pohon, semakin keras angin menerpa.” Saya setuju. Tapi tidak berarti bahwa seseorang yang dianggap bintang lantas di-dehumanisasi-kan. Menuntut seorang bintang untuk selalu sempurna, bukan saja berarti penyangkalan atas kemanusiawian, tapi juga mustahil bisa dipenuhi. Jadi, jika kesempurnaan adalah kemustahilan, mengapa sebagian dari kita begitu sulit berempati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Luna Maya, yang sudah minta pengertian secara baik-baik, tapi malah terus didesak hingga kamera membentur kepala anak yang sedang ia gendong, lantas meledakkan emosinya di Twitter—sebegitu irasionalkah tindakannya itu? Atau justru manusiawi? Apa yang kira-kira akan kita lakukan jika kita menjadi Luna? Tetap bermanis-manis hanya karena status artisnya, hanya karena konon ia “milik publik”? Sekali lagi, seingat saya, Luna adalah model dan presenter. Bukan Kopaja. Apa hak kita untuk mengklaim agar Luna bertutur laku sebagaimana keinginan kita? Kita bisa menyimpan fotonya, menyimpan RBT lagu Luna di telepon genggam kita, tapi kita tidak bisa mengontrol manusianya seperti kita mengoperasikan AC dan remote-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 0);"&gt;6. “Tanpa media, artis tidak akan jadi siapa-siapa.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini barangkali sihir terkuat yang merasuk di kalangan artis. Kita tahu, betapa besar peran media dalam perkembangan karier seorang artis—entah itu karier musik, sinetron, film, model, dsb. Tapi, mari kita lihat skala yang sesungguhnya: Media bukan cuma satu. Media hiburan merupakan salah satu bagian, bukan keseluruhan. Infotainment juga cuma sebagian dari media hiburan, bukan keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infotainment memang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;powerful&lt;/span&gt;. Terbukti ada orang-orang yang disulap dari bukan siapa-siapa dan tahu-tahu menjadi artis papan atas setelah diekspos habis-habisan di infotainment. Dan ada juga artis yang hidupnya ditelanjangi habis-habisan sampai harus menghilang bertahun-tahun dari panggung hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, jangan kita balik logikanya. Saya tidak melihat infotainment dan artis seperti logika ayam dan telur.  Apalagi kalau infotainment disebut sebagai “induk” dari eksistensi seorang artis. Infotainment adalah fenomena yang muncul tahun ’90-an, sementara saya tumbuh besar menyaksikan artis-artis yang mampu eksis berdasarkan bakat dan karyanya jauh sebelum ada infotainment. Dan jangan kita lupa, tanpa artis, infotainment hanya corong kosong tanpa isi. Corong itu boleh nyaring. Tapi kalau tidak ada yang disuarakan, ia pun senyap dan hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0); font-weight: bold;"&gt;Bangun Dari Ilusi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, selama ini dari kalangan artis sendiri lebih banyak memilih diam atau bersungut-sungut di belakang. Padahal pihak artislah yang paling banyak dirugikan. Entah karena terlena, merasa bakal sia-sia saja, atau kita masih dihantui &lt;span style="font-style: italic;"&gt;image&lt;/span&gt; infotainment yang terasa begitu besar dan berkuasa hingga kita percaya buta bahwa jatuh-bangun karier kita ditentukan mereka. Dan sama seperti semua manusia, tidak ada artis yang ingin kehilangan rezekinya atau dihukum di layar kaca dengan pemberitaan negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada pepatah bijak yang bisa berguna, maka inilah dia: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Rezeki diatur oleh Tuhan. Bukan oleh infotainment.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mengajak siapa pun untuk memusuhi infotainment. Permusuhan bukanlah tujuan saya menulis sebegini panjang lebar. Tapi kiranya para artis bisa melihat relasinya dengan media hiburan secara proporsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita bangun dari ilusi bahwa cuma ada satu tangan besar yang menentukan mati-hidupnya karier kita. Keberhasilan seorang artis ditentukan oleh banyak faktor, frekuensi pemunculannya di infotainment hanyalah satu faktor, bukan segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut beberapa hal sederhana yang sekiranya bisa seorang artis lakukan untuk perimbangan berita:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;1. Ungkapkanlah sisi cerita kita.&lt;/span&gt; Menulis di blog/situs pribadi, atau lakukan wawancara dengan media cetak yang bersahabat untuk menulis sisi cerita kita. Jangan kecil hati jika cerita kita kalah jumlah pembacanya dengan pemirsa teve yang jutaan. Adanya sebuah sumber cerita langsung dari yang bersangkutan jauh lebih berarti ketimbang bungkam sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;2. Jika memungkinkan, bawalah alat perekam/kamera saat infotainment meliput kita.&lt;/span&gt; Semua artis yang pernah berurusan dengan infotainment tentunya tahu betapa banyak kejadian asli yang terdiskon ketika muncul di layar teve, belum lagi narasi yang merajut potongan adegan agar muat di kerangka opini tertentu saja. Lalu kemanakah rekaman dari sisi kita itu kita tayangkan? YouTube. Promosinya? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Believe me, with a tweet or two, we can have thousands of viewers before we know it. Maybe even more if it got spread. &lt;/span&gt;Kalau tidak mau repot sampai menayangkan pun tidak masalah, dengan membawa perekam tandingan saja sudah cukup mengubah percaturan psikologis saat kita sedang diliput. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan:&lt;/span&gt; Reza pernah merekam balik juru kamera infotainment yang menguntitnya. Dan ketika dia bertanya: “Buat apa Mas Reza pakai kamera segala?” Reza menjawab, “Ya sama kayak kamu, ngambil gambar tanpa izin.” Hasilnya? Yang bersangkutan pun akhirnya gerah sendiri dan kabur ke toilet pria. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;And yes. Reza followed him all the way there.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;3. Tegas berkata ‘tidak’ dan berikan batas dari awal.&lt;/span&gt; Tidak jarang, artis diundang ke satu acara atau dikontrak oleh pihak yang memang secara resmi mengundang infotainment. Kita bisa mensyaratkan sejak awal pada pihak penyelenggara bahwa wawancara hanya sebatas materi yang mendukung acara dan tidak melenceng ke hal-hal pribadi, dan untuk itu kita bisa meminta panitia untuk ikut menggawangi jalannya wawancara.  Tegas bilang ‘tidak’ atau diam ketika pertanyaan mulai melenceng. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;And when things start to get out of hand, just do what every Miss Universe is known best at: smile and wave.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 0);"&gt;Penderitaan Sebagai Candu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar dari itu semua, sebagian besar masyarakat pun punya problem adiksinya sendiri. Infotainment telah memanjakan tendensi manusiawi kita untuk merasakan kepuasan saat melihat ada orang lain yang tidak lebih baik, bahkan lebih menderita, ketimbang kita. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Schadenfreude&lt;/span&gt;. Apalagi kalau orang-orang itu adalah kaum yang kita anggap super, yang punya segalanya. Kita semua menyimpan tendensi itu, sadar atau tak sadar, sama halnya kita punya potensi untuk membunuh dan merusak. Namun kita punya pilihan untuk tidak melakukannya, tidak memeliharanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa menjadi penonton yang lebih mawas dan melek. Tontonan infotainment seharusnya ditujukan untuk menghibur dan memberi informasi. Ketika sudah menjadi ajang penghakiman, berarti ada yang tidak beres. Ada yang melenceng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penonton yang memilih tidak suka, saya sarankan untuk bersuara dengan konstruktif, entah lewat jaringan sosial di internet atau apa pun sesuai kapasitas kita. Dengan menyuarakan sikap, mudah-mudahan pihak produser infotainment maupun teve sudi instrospeksi dan membuat konten programnya lebih bermutu dan berimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara paling sederhana? Matikan teve. Atau ganti saluran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 0);"&gt;Berempati Tidak Perlu Polisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;It takes one to know one.&lt;/span&gt; Sampai kita mengalami apa rasanya dicecar dan dikepung kamera, kita tidak bisa sepenuhnya mengerti apa yang membuat Parto menembakkan pistol ke udara, apa yang membuat Sarah Azhari melempar asbak, dan apa yang membuat Luna Maya mengumpat di Twitter-nya. Di lain sisi, sampai kita tahu apa rasanya berpeluh dan bersusah payah mengejar sekalimat-dua kalimat demi mengejar setoran berita, kita pun tidak bisa sepenuhnya memahami mengapa mereka, para wartawan infotainment yang awalnya bisa sangat manis dan sopan, tahu-tahu bisa berubah seperti preman tak tahu aturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak berpendapat bahwa yang ditulis Luna di Twitter-nya itu manis dan terpuji. Ia memang mengumpat dan memaki. Tapi dengan mengetahui sebab yang melatari aksi Luna, segalanya sangatlah sederhana. Kita manusia. Kita menangis. Kita tertawa. Kita marah. Kita khilaf. Sesuatu yang bisa diselesaikan dengan satu musyawarah di kedai kopi. Tanpa perlu mengadu ke polisi. Tanpa perlu UU ITE. Jadi, untuk apa membunuh nyamuk dengan bom atom?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 0);"&gt;Menghindari Bumerang Dengan Nurani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengadukan Luna hingga ke polisi, dan di sisi lain TIDAK memberikan berita berimbang tentang MENGAPA Luna sampai bersumpah serapah di Twitter, dan bukannya MINTA MAAF karena nyaris membuat seorang anak cedera, menurut saya adalah langkah yang tidak strategis bahkan berbahaya. Infotainment jelas bukan figur bercitra &lt;span style="font-style: italic;"&gt;innocent&lt;/span&gt; yang mengundang simpati.  Saat ini, infotainment tengah diuji. Artis pun sedang diuji. Dan masyarakat menyoroti. Pembelaan terhadap Luna terus mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, kamera pun terus berputar. Semakin panjang dan heboh masalah ini, kembali infotainment diuntungkan. Sensasi adalah uang. Jadi, jika keuntungan finansial sudah di kantong, tidakkah kehormatan juga layak dikantongi? Andai saja pihak infotainment sudi menelan ludahnya lalu melucuti label-label “pers”, “artis”, dst, kembali menjadi individu, kembali menjadi manusia biasa, ia justru bisa memperoleh respek. Namun jalur yang dipilihnya kini justru berpotensi menjadi bumerang. Pers hiburan memang besar. Tapi masyarakat jauh lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus ini bukan saja memancing reaksi dari masyarakat yang selama ini jengah bahkan muak dengan kualitas tayangan infotainment, tapi juga mengundang potensi ‘pengadilan rakyat’ yang berbasis nurani umum, seperti halnya kasus Prita vs RS. Omni. Tapi jika tujuan akhir pihak infotainment yang dinaungi PWI tersebut ternyata hanyalah sensasi (baca: rating)? Maka biarlah kecerdasan dan nurani rakyat yang akhirnya menilai sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara saya ini mungkin tidak punya arti. Setelah kasus ini berlalu, mungkin tetap tidak terjadi perubahan apa-apa dalam praktek infotainment, pada kegandrungan masyarakat luas akan kehidupan pribadi para artis, maupun pada sikap kebanyakan artis yang masih cenderung permisif dan bermain aman ketika berhadapan dengan kuasa kamera infotainment.  Saya menghargai pilihan setiap orang. Bersimbiosa mutualisme dengan infotainment bukanlah hal yang salah. Bekerja bagi industri infotainment pun bukan hal yang salah—baik itu sebagai kru maupun presenter. Menjadi artis yang memilih untuk menutup diri dari infotainment pun bukan hal yang salah. Ini memang bukan masalah benar atau salah, melainkan preferensi. Dan ketika kita menghargai pilihan masing-masing, batas privasi masing-masing, niscaya tidak perlu lagi ada peluru menembak ke udara atau caci maki di jagat maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum, dan praktek hukum di lapangan, tidak selalu berbasiskan nurani, melainkan permainan kelihaian di dalam kotak sistem. Jadi bukannya tidak mungkin pihak infotainment/PWI akan menjadi pemenang di jalur hukum. Jujur, saya tidak terlalu menganggapnya penting. Nurani tidak bisa dikelabui. Dan, sekali nurani terusik, masyarakat—Anda dan saya—tak akan pernah lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;* Ada kalanya artis dibayar. Berita-berita ringan lucu yang tahu-tahu memunculkan kemasan odol, obat penurun panas, suplemen, dsb, itu? Berita demikian namanya “insertion”. Dan artis yang berpartisipasi mendapat imbalan dari produsen yang bekerja sama dengan infotainment. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;** Semua contoh metode memutar balik fakta tersebut sudah pernah saya alami langsung. Detailnya bisa dibaca di &lt;a style="color: rgb(255, 255, 0);" href="http://dee-idea.blogspot.com/2008/08/10-most-hillarious-humorous-and-hideous.html"&gt;sini&lt;/a&gt; dan di &lt;a style="color: rgb(255, 255, 0);" href="http://rezagunawan.blogspot.com/2008/12/media-gosip-secuil-fakta-berbumbu.html"&gt;sono&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-8286527173852063933?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/8286527173852063933/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=8286527173852063933&amp;isPopup=true' title='455 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/8286527173852063933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/8286527173852063933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2009/12/luna-bukan-kopaja.html' title='Luna Bukan Kopaja'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/Sy5btsY5g-I/AAAAAAAAAmw/bw8Go3echVw/s72-c/iStock_000001376675XSmall.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>455</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-718399415434681152</id><published>2009-08-31T12:49:00.006+07:00</published><updated>2009-08-31T13:13:36.228+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='New Family Member'/><title type='text'>Melajulah Perahu Kertasku...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(153, 255, 153); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Melajulah Perahu Kertasku...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SptkyFcktoI/AAAAAAAAAmA/MVeh_HwmkRE/s1600-h/PK_3d_small.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 304px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SptkyFcktoI/AAAAAAAAAmA/MVeh_HwmkRE/s400/PK_3d_small.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376001391815079554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah beristirahat selama 11 tahun, setelah ditulis ulang selama 55++ hari, setelah mewujud dalam versi digital selama 1 tahun, kini "Perahu Kertas" telah menuntaskan perjalanannya yang berliku dan hadir ke tangan Anda dalam bentuk kertas dan tinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 29 Agustus 2009, "Perahu Kertas resmi beredar di toko-toko buku, diterbitkan atas kerjasama antara Truedee Books dan Bentang Pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran "Perahu Kertas" didorong oleh kerinduan saya pada format cerita bersambung yang sempat menghilang dari majalah remaja, sesuatu yang saya gandrungi waktu kecil dulu, saat masih menumpang baca majalah kakak-kakak saya. Cerita ini mengisahkan perjalanan dua anak muda, Kugy dan Keenan, yang berjuang demi cita-cita dan cinta mereka di tengah segala tantangan dan ketidakmungkinan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang pernah saya bagi hari per hari di jurnal kelahirannya, proses menulis "Perahu Kertas" adalah pengalaman dan terobosan baru bagi saya. Begitu banyak pelajaran serta momen 'aha!' yang saya petik sebagai seorang penulis. Dan bagi Anda yang sudah berbagi komentar di jurnal "Perahu Kertas", terima kasih sedalam-dalamnya saya ucapkan. Sesuai janji, apa yang Anda bagi telah ikut tercetak di buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, saya ajak Anda untuk mengalir bersama, berlayar dalam kisah "Perahu Kertas". Selamat menikmati pengarungan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;~ D ~&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-718399415434681152?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/718399415434681152/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=718399415434681152&amp;isPopup=true' title='200 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/718399415434681152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/718399415434681152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2009/08/melajulah-perahu-kertasku.html' title='Melajulah Perahu Kertasku...'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SptkyFcktoI/AAAAAAAAAmA/MVeh_HwmkRE/s72-c/PK_3d_small.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>200</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-3178415069558994124</id><published>2009-08-11T15:18:00.016+07:00</published><updated>2009-08-11T23:23:04.738+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nostalgia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal Note'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On Life and Living'/><title type='text'>Manusia Bukan "Mama"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(153, 255, 153); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Manusia, Bukan Cuma “Mama”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SoGYvhjt2YI/AAAAAAAAAkQ/E-05KmRCsUw/s1600-h/mama-medium.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 267px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SoGYvhjt2YI/AAAAAAAAAkQ/E-05KmRCsUw/s400/mama-medium.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368740173031790978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dua malam sebelum jadwal siaran rutinnya setiap Selasa pagi di Cosmopolitan FM, Reza mendiskusikan topik siarannya dengan saya. Dia ingin membahas dinamika relasi anak yang sudah dewasa dengan orangtuanya. Saya langsung setuju. Jatuh-bangun dan pahit-manis dinamika tersebut adalah masalah universal yang harus dihadapi oleh semua orang. Cepat atau lambat. Suka tak suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lantas berdiskusi tentang banyak aspek, antara lain: pengondisian orangtua kita dulu yang akhirnya membentuk perilaku dan pola asuh mereka terhadap kita, hingga seringkali yang mereka terapkan bukanlah yang terbaik bagi anak melainkan sekadar meneruskan warisan dari orangtua mereka sebelumnya. Dan hal itu berlangsung dari generasi ke generasi, termasuk pada kita saat kebagian giliran jadi orangtua. Belum lagi kalau ternyata pola-pola tersebut meninggalkan trauma. Dalam pekerjaannya, Reza tak jarang menemukan belitan trauma akibat pola asuh masa kecil yang bisa mencengkeram seseorang meski umurnya sudah uzur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek lainnya lagi yang kami bahas adalah &lt;a href="http://www.rezagunawan.com/?p=136"&gt;kejujuran yang utuh dan lengkap&lt;/a&gt; dalam komunikasi antara anak dan orangtua. Seringkali, karena takut dibilang durhaka, tekanan normatif, dsb, kita memilih untuk tidak terbuka seratus persen pada orangtua kita. Akibatnya, anak tetap tidak bisa menunjukkan otentisitasnya sebagai individu, dan orangtua pun terus ‘terperangkap’ dalam ilusi bahwa anaknya, mau berapa pun usianya sekarang, tetaplah Si Upik dan Si Buyung yang harus terus menerus diawasi dan dikendalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun baru pada pagi inilah, saat saya mendengarkan siaran Reza secara langsung, mendarat hantaman yang juga langsung di batin saya. Pada segmen-segmen akhir, Reza berbicara mengenai transisi yang seringkali tak lancar—bahkan mungkin tak pernah terjadi—dalam perubahan peran “anak” dan peran “orangtua” menuju individu-individu yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;real&lt;/span&gt;, sejajar, dan apa adanya. Kita jarang atau bahkan tak pernah mengenal orangtua kita sebagai manusia—&lt;span style="font-style: italic;"&gt;titik&lt;/span&gt;—dan bukannya Sang Pemberi Kehidupan, Sang Pemberi Makan, Sang Pengayom, Sang Pelindung, atau Sang Pengasuh. Sebaliknya, orangtua kita pun jarang bahkan mungkin tak pernah mengenal anak-anaknya sebagai manusia—&lt;span style="font-style: italic;"&gt;saja&lt;/span&gt;—dan bukannya Si Buah Hati, Si Penerus Keturunan, Si Harapan Bangsa &amp;amp; Keluarga, dst. Semua “Sang” dan “Si” tadi memang terdengar luhur dan mulia, tapi juga membius dan melenakan jika kita terus terjebak di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izinkan saya berbagi sekelumit kisah pribadi. Tentang saya dan perempuan dalam foto di atas... Mama.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi ayah saya yang seorang perwira militer dan mengharuskannya untuk pindah-pindah tempat dinas, otomatis ibu sayalah yang lebih banyak di rumah untuk mengurusi anak-anak. Saya bertemu ayah saya hanya setiap akhir pekan. Dan dalam dua-tiga hari itu, ayah saya lebih sering menjelma menjadi Sinterklas yang selalu membawakan oleh-oleh, uang saku ekstra, dan kesenangan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dalam dinamika harian dari Senin hingga Jumat, Mama harus berperan ganda menjadi ibu sekaligus ayah bagi kami. Mama memasak dan mengatur rumah, juga menjadi “polisi” dan penegak kedisiplinan, ditambah lagi dengan aktivitasnya yang padat di gereja sebagai penatua, anggota kor, dan ibu asuh tak resmi bagi banyak pemuda perantauan Tanah Batak yang terdampar di Kota Bandung. Begitu banyak peran yang ia jalankan dan semuanya ia jalani dengan sangat baik. Mama adalah sosok yang luar biasa bagi lingkungannya. Dan sosok yang kompleks bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama meninggal karena kanker di ususnya pada tahun 1995. Saya masih 19 tahun saat itu. Baru kuliah tingkat dua, baru memulai karier bernyanyi. Baru saja berbangga karena bisa membiayai kuliah sendiri dan berhenti minta uang saku. Baru saja menyaksikan ibu saya berbangga melihat anaknya muncul di televisi. Dan baru saja pula saya berkhayal ingin menghadiahinya wisata ziarah ke tempat-tempat suci di Timur Tengah, sebagaimana yang selalu diimpikannya sebagai umat Kristiani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat orang-orang datang melayat, dan juga jauh sesudah itu, kerap saya mendengar berbagai kesan dan cerita orang-orang terhadap Mama. Mereka yang saya kenal, dan juga seringnya tak saya kenal, bercerita banyak hal yang asing di kuping saya tentang Mama. Tak jarang saya takjub bahkan terguncang, menyadari betapa saya tidak mengenal ibu saya sendiri. Dan sebaliknya. Saya merasa Mama pun tidak sempat mengenal saya. Anaknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ini anak yang besar di luar rumah,” begitu saya selalu berkata. Dan kurang lebih memang benar adanya. Sebagai anak yang dikenal paling cuek di antara lima bersaudara, justru sayalah yang ternyata paling kuat terkena dampak meninggalnya Mama. Saya memimpikannya setiap malam selama berbulan-bulan, dan untuk sekian lama saya tidak bisa membicarakan bahkan memikirkan Mama lebih dari tiga menit tanpa menitikkan air mata. Padahal, saat beliau masih hidup, sayalah yang paling berjarak dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama bertahun-tahun, banyak jawaban dan alasan yang sudah saya renungi. Namun khususnya setelah mendengarkan siaran Reza pagi ini, renungan itu menggenap. Kehilangan saya yang paling kuat bukan disebabkan karena saya belum sempat menghadiahinya wisata melihat Betlehem, bukan karena Mama tidak sempat melihat saya memberinya cucu, bukan karena banyaknya peristiwa penting dan bersejarah dalam hidup saya yang membutuhkan kehadirannya, tapi semata-mata karena saya belum mengenalnya sebagai manusia—&lt;span style="font-style: italic;"&gt;titik&lt;/span&gt;. Dan yang paling menyakitkan adalah, setiap saya ingin mengenang beliau, saya selalu berbenturan dengan tembok tebal yang diciptakan aneka peran yang Mama mainkan selama hidupnya. Ditambah lagi dengan tameng dari peran saya sendiri sebagai anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ia hidup, saya hanya mengenalnya sebagai ibu. Mama. Inang Mangunsong. Saya tidak kenal perempuan bernama Tiurlan Siagian. Dan sebaliknya, saya pun merindu dan meradang untuk ia kenali sebagai manusia—&lt;span style="font-style: italic;"&gt;saja&lt;/span&gt;. Bukan semata anak keempatnya yang hobi menulis dan menyanyi. Dalam sembilan belas tahun kami berinteraksi, kami belum sempat menanggalkan peran-peran kami sebagai ibu dan anak, berjabat tangan atau berpelukan atau sekadar menatap satu sama lain sebagai dua individu yang otentik, yang sejajar, yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;real&lt;/span&gt;. Ia pergi sebelum kami sempat bertransisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah saya kini berusia 71 tahun. Barangkali tak selamanya ia merasa beruntung hidup lebih lama, karena dengan demikian ia “terpaksa” menyaksikan segala tingkah-polah kelima anaknya yang bertransisi menjadi manusia dewasa, lengkap dengan segala konflik dan pertentangan batin yang turut menyertai proses tersebut. Namun, walaupun mungkin tidak terus-terusan, setidaknya saya sempat merasakan interaksi kami berdua bertransisi dari ayah dan anak menjadi manusia dan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini, saya memberanikan diri untuk berkata: sesungguhnya, itulah hadiah terbaik yang bisa kita berikan pada orangtua kita. Itu jugalah hadiah terbaik yang kelak bisa kita berikan bagi anak kita. Dan hanya itulah persembahan terbaik yang bisa kita tawarkan bagi sesama manusia di sekeliling kita. Meski secercah, meski tak selamanya berakibat indah, otentisitas dan kejujuran kita sebagai manusia adalah satu-satunya jabat tangan yang riil antarhati. Antarjiwa. Hanya dengan demikian kita benar-benar tahu rasanya “terhubung”. Dan sungguh, itu adalah pengalaman yang nyaris punah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kita bersembunyi dan terperangkap dalam peran-peran yang kita jalankan, selama itu pulalah interaksi yang terjadi hanya sebatas tameng. Sebatas pengondisian. Kita bahkan bisa berjalan sepanjang hayat dikandung badan di atas planet ini tanpa pernah menyadari topeng-topeng yang kita kenakan, yang meski dalam interaksinya kita bisa saja merasakan cinta, kedamaian, keindahan, dan hal-hal positif lainnya. Namun ada sesuatu yang lebih dari itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan itu sudah tidak ada lagi bagi Mama dan saya, setidaknya dalam kehidupan kali ini. Tapi kesempatan itu masih ada untuk saya gunakan dengan ayah saya, anak saya, suami saya, kakak-adik saya, dan semua orang dalam kehidupan saya. Begitu juga dengan Anda dan siapa pun yang masih ada dalam kehidupan Anda sekarang.  Semoga saja kita mau dan berani menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-3178415069558994124?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/3178415069558994124/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=3178415069558994124&amp;isPopup=true' title='89 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/3178415069558994124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/3178415069558994124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2009/08/manusia-bukan-mama.html' title='Manusia Bukan &quot;Mama&quot;'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SoGYvhjt2YI/AAAAAAAAAkQ/E-05KmRCsUw/s72-c/mama-medium.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>89</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-4119784717470600928</id><published>2009-07-15T11:25:00.007+07:00</published><updated>2009-07-16T16:18:43.216+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nature-Green-EcoLiving'/><title type='text'>Dicekik Plastik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 255, 153); font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Dicekik Plastik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/Sl1tMok4iOI/AAAAAAAAAhg/KYzN5md6O9Y/s1600-h/globe-in-plastic.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 363px; height: 331px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/Sl1tMok4iOI/AAAAAAAAAhg/KYzN5md6O9Y/s400/globe-in-plastic.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358559195458734306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sabtu pagi. Akhir pekan. Keramaian manusia di pusat perbelanjaan. Sungguh bukan pemandangan baru. Tapi saya baru tahu, mengantre di kasir supermarket di hari Sabtu pagi bisa menjadi pengalaman yang begitu miris dan mengiris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu saya belanja di Carrefour sendirian. Sambil menunggu pembelanja sebelum saya yang belanjaannya sampai dua troli, saya mengamati sesuatu. Lewat pengeras suara, beberapa kali terdengar imbauan untuk mengurangi sampah plastik, bahwa Bumi sedang mengalami pemanasan global, dan sudah tersedianya kantong belanja ramah lingkungan yang bisa dibeli dengan harga terjangkau (ada dua pilihan: dua ribu perak berbahan plastik daur ulang dan sepuluh ribu perak untuk yang berbahan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;polyethylene&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu di dekat kasir, tertempel sebuah stiker yang bunyinya kira-kira begini: petugas kasir diharuskan untuk menawarkan isi ulang pulsa dan kantong belanja ramah lingkungan pada para pembeli. Saya memperhatikan kiri-kanan, termasuk pada saat giliran saya membayar tiba. Memang betul saya ditawari pulsa. Tapi tidak kantong belanja tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, berbarengan dengan pengumuman yang bergaung di seantero toko mengenai pemanasan global, saya mengamati bagaimana belanjaan demi belanjaan dimasukkan ke kantong-kantong kresek oleh tangan-tangan gesit yang sudah bergerak terampil bagai robot. Tak sampai penuh, bahkan kadang setengah pun tidak, mereka mengambili kantong plastik baru. Yang belanja pun tenang-tenang saja menyaksikan. Kenapa tidak? Berapa pun kantong plastik yang dipakai, itu sepenuhnya terserah pihak supermarket. Gratisan pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengamati gerakan tangan gesit petugas, dalam hati saya bertanya: haruskah seboros itu? Barangkali memang kebijakan dari toko yang mengharuskan berbagai jenis barang untuk tidak digabung dalam satu kantong. Tapi kenyataannya, kantong-kantong plastik setengah penuh itu hanya berfungsi sebagai alat angkut dari kasir menuju troli, lalu dari troli menuju bagasi mobil, lalu dari mobil menuju rumah. Kalaupun beberapa barang beda kategori tersebut harus digabung, asal tidak terkocok-kocok di mesin pengaduk semen, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;seriously, what harm can possibly be done with those stuffs?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saat saya harus maju, memang saya terlihat lebih repot dari yang lain. Saya mengeluarkan tiga kantong yang saya bawa dari rumah, lalu mengisinya sendiri. Bukan apa-apa. Kadang-kadang akibat pelatihan yang mengharuskan para petugas supermarket untuk memilah-milah barang membuat mereka seringkali tampak canggung dan melambat ketika harus menggabungkan santan kotak dengan kapas, atau piring dengan brokoli, atau pasta gigi dengan selai. Sementara bagi saya itu bukan masalah. Tiga kantong yang saya bawa dari rumah tampak gendut dan sesak. Beberapa barang besar seperti beras dan deterjen tiga kiloan saya biarkan di troli tanpa plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melajulah troli saya yang jadinya tampak aneh di tengah troli-troli lain yang didominasi tumpukan kresek putih. Rata-rata orang keluar dari sana membawa 4-6 kantong kresek. Belum termasuk plastik-plastik yang membungkusi buah dan sayur. Jika semua ini direkam dalam video, lalu satu demi satu gambar dihilangkan dan dibiarkan gambar plastiknya saja, niscaya kita akan melihat buntelan-buntelan putih licin yang mengalir bagai sungai dari supermarket menuju parkiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Superindo punya kebijakan yang selangkah lebih mending. Jika belanjaan kita cukup banyak maka petugas di kasir akan menawarkan pemakaian dus. Dan sudah ada dus-dus yang disediakan dalam jangkauan, hingga tak perlu tunggu lama untuk cari-cari ke gudang. Beberapa kali saya mengantre di kasir Superindo, saya menemukan banyak pembeli yang menolak pakai kardus meski belanjaan mereka banyak. Entah apa alasannya. Mungkin menurut mereka kurang praktis. Atau tidak terbiasa. Seperti Carrefour, Superindo juga menjual &lt;span style="font-style: italic;"&gt;green bag&lt;/span&gt;, kantong belanja yang bisa dipakai berkali-kali.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Green bag &lt;/span&gt;tersebut pun bisa didapat dengan gratis. Caranya? Mengumpulkan 70 stiker. Satu stiker didapat dengan belanja 10 ribu, dan stiker berikutnya di kelipatan 50 ribu. Jadi belanjalah dulu 10 ribu sebanyak 70 kali, atau belanja 3,5 juta untuk mendapatkan tas itu secara cuma-cuma. Wow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasir di Ranch Market selalu bertanya pada pembeli: "Apakah struknya perlu dicetak?" dan ketika kita menjawab 'tidak' (karena seringnya memang tidak dilihat lagi juga), maka dia tidak akan mencetakkan struk yang berarti penghematan kertas. &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sedang dilaksanakan pula kegiatan adopsi pohon dengan biaya 95 ribu, di mana kita akan mendapatkan satu kantong belanja bahan kain goni yang ukurannya cukup besar dan satu pohon akan ditanam atas nama kita di Gunung Rinjani. &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;'Saudara'-nya Ranch Market, yakni Farmer's Market, secara rutin mengadakan hari "Belanja Tanpa Kantong Plastik", di mana setiap Selasa minggu ke-2 Farmer's tidak menyediakan kantong plastik sama sekali. Sama seperti Carrefour dan Superindo, jaringan ini juga menjual &lt;span style="font-style: italic;"&gt;green bag&lt;/span&gt; dari bahan kain seharga 10 ribu-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, dibandingkan beberapa tahun yang lalu, inisiatif dari pihak supermarket/hipermarket sudah jauh lebih baik dan kreatif. Namun, apakah tidak bisa kita bergerak lebih cepat, lebih tajam, dan lebih langsung? Dan, mungkinkah perspektif yang digunakan pun sebetulnya terbalik? Jika benar-benar ingin mengurangi sampah plastik, kenapa justru pembeli yang tidak ingin menggunakan kantong kresek malah menjadi pihak yang harus mengeluarkan biaya ekstra dan tidak mendapat insentif apa pun? Sementara yang pakai kantong kresek tetap melenggang kangkung tanpa sanksi apa-apa? Tidakkah ini jadi mengimplikasikan bahwa gerakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;go-green &lt;/span&gt;itu 'lebih mahal' dan 'repot', sementara yang sebaliknya justru 'gratis' dan 'praktis'? Di mata saya, penjualan kantong-kantong ramah lingkungan tersebut pun, selama masih menggunakan bahan baku baru dan bukan hasil daur ulang, akhirnya cuma jadi komoditas biasa. Seperti halnya jualan sabun atau sayur. Sementara yang paling penting adalah BERHENTI memproduksi barang baru dan menggunakan ulang apa yang ada. Yang paling penting bukanlah mencetak tulisan "Selamatkan Bumi" di selembar kain kanvas atau di kain &lt;span style="font-style: italic;"&gt;polyethylene&lt;/span&gt; lalu menjudulinya tas ramah lingkungan, melainkan membuat kebijakan yang benar-benar realistis dan berpihak pada lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data yang saya baca, di jaringan Superindo sendiri, penggunaan kantong kresek bisa mencapai 300.000 lembar per hari.  700 ton sampah plastik diproduksi hanya oleh Jakarta saja. Dan menurut Kementrian Lingkungan Hidup, komposisi sampah plastik di kota-kota besar seperti Surabaya dan Bandung meningkat sejak tahun 2000 dari 50% ke 70%. Kita benar-benar sudah dicekik plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran saya terus berandai-andai: jika memang pemerintah tidak berbuat sesuatu untuk menekan produksi dan penggunaan kantong plastik, dan andai saya adalah pengambil keputusan di rantai supermarket tadi, maka saya akan menetapkan harga 2000-5000 rupiah untuk satu kantong kresek, yang barangkali akan lebih efektif untuk 'memaksa' orang membawa kantong sendiri ketimbang menjual kantong ramah lingkungan seharga 10 ribu. Dana dari 'sanksi' kantong kresek tersebut lalu disalurkan untuk kegiatan penghijauan dan aktivitas lingkungan hidup lainnya. Di sebagian negara di Eropa, ternyata pengenaan biaya pada kantong belanja telah berhasil menurunkan sampah kantong plastik hingga 90%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cukup salut dengan keberanian Makro. Barangkali cuma di Makro berlaku peraturan tegas di mana konsumen harus mengeluarkan uang 2000 rupiah untuk setiap kantong belanja. Setiap pembeli yang pergi ke sana mau tak mau harus siap mental untuk membawa kantong belanja sendiri atau berebut dus-dus kosong yang memang disiapkan di sana. Kebijakan seperti itu dapat dimaklumi karena Makro memang menjual barang-barang berukuran dan berkuantitas besar, jadi alasannya tidak melulu lingkungan. Namun bukannya tidak mungkin jaringan supermarket dan hipermarket lainnya mengikuti jejak Makro dengan mengusung alasan lingkungan, sebagaimana yang digaungkan lewat pengeras suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya keluar dari aliran sungai plastik tadi menuju mobil. Hati masih miris dan teriris. Sesekali bertanya, apakah khayalan saya ketinggian? Apakah realistis jika berharap pihak produsenlah yang berani muncul dengan kebijakan tegas, sementara para konsumennya sendiri tidak mau belajar mengedukasi dan melatih dirinya? Namun, sampai kapan kita bertahan di balik sekat-sekat kaku yang memisahkan pembeli dan penjual, pemerintah dan masyarakat? Sementara belitan plastik yang mencekik tanah dan air Indonesia sudah terlihat jelas di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/Sl1tstLp_3I/AAAAAAAAAho/WfPuK43Hg0M/s1600-h/SeagullWithPlasticBag.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 333px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/Sl1tstLp_3I/AAAAAAAAAho/WfPuK43Hg0M/s400/SeagullWithPlasticBag.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358559746450915186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-4119784717470600928?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/4119784717470600928/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=4119784717470600928&amp;isPopup=true' title='107 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/4119784717470600928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/4119784717470600928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2009/07/dicekik-plastik.html' title='Dicekik Plastik'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/Sl1tMok4iOI/AAAAAAAAAhg/KYzN5md6O9Y/s72-c/globe-in-plastic.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>107</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-7460331474258669648</id><published>2009-07-08T23:20:00.017+07:00</published><updated>2009-07-09T19:56:42.584+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal Note'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Product Reviews'/><title type='text'>Dee's Essential List #3</title><content type='html'>Inilah daftar terakhir dari seri Essential List. Dalam daftar ketiga ini, saya mengulas produk yang beragam, dari mulai baju sampai bensin. Menuliskan Essential List ini membuat saya tersadar bahwa produk dan tempat layanan jasa yang baik bukanlah sekadar barang atau tempat yang punya elemen fungsional, tapi juga hati, seni, visi, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;passion&lt;/span&gt;. Dan itulah yang sekiranya menjadi benang merah dari penghuni daftar #1 sampai #3 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin daftar ini akan terus berkembang, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;so, &lt;/span&gt;nantikan saja kompilasi berikutnya. Dan perlu saya ulangi lagi, bahwa saya tidak dibayar maupun berafiliasi secara komersil dengan para produsen/tempat/penyedia jasa/produk yang ada di daftar ini. Ulasan saya murni berdasarkan pengalaman, dan murni dari hati yang tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga berguna!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);"&gt;Dee's Essential List #3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;LOVING HUT (Restoran Vegetarian - Jakarta)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SlXK7V5lz9I/AAAAAAAAAgg/_o7VDCrjtqI/s1600-h/lovinghut1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 269px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SlXK7V5lz9I/AAAAAAAAAgg/_o7VDCrjtqI/s400/lovinghut1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356410452666863570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bagi kaum vegetarian yang tinggal atau banyak berkecimpung di Jakarta Selatan, berita dibukanya restoran vegetarian di daerah ini bagaikan musafir bertemu oase di padang pasir. Selama ini restoran vegetarian enak didominasi Jakarta Utara atau Barat. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;So, simply put, this is officially our distance-friendly food haven. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempatnya yang serba putih dan apik, dengan gaya interior ala kafe, sekilas pintas tak membedakannya dengan tempat makan di Jakarta lainnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;But&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.lovinghut.co.id/tentang-kami.shtml"&gt;Loving Hut&lt;/a&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://www.lovinghut.co.id/tentang-kami.shtml"&gt; &lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;comes as a full package. &lt;/span&gt;Sebagai bagian dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;franchise&lt;/span&gt; Loving Hut internasional yang memang punya visi dan misi yang kuat, tempat ini juga peduli terhadap gerakan lingkungan hidup dan gaya hidup sehat. Jadi, akan ada banyak brosur dan leaflet informasi yang bisa Anda bawa dengan cuma-cuma dari sana. Tayangan tevenya pun konstan menyiarkan acara dari Supreme Master TV yang isinya memang sangat positif dan gencar menyuarakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;eco-friendly living. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya amati, banyak orang yang datang ke sana untuk rapat kantor atau arisan, di mana tampak banyak juga yang baru pertama kali mencoba menu vegetarian. Muka-muka yang tampak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;surprised&lt;/span&gt; karena ternyata makanan tak berdaging pun rasanya bisa enak. Cita rasa dan pilihan menu di &lt;a href="http://www.lovinghut.co.id/tentang-kami.shtml"&gt;Loving Hut&lt;/a&gt; memang cukup beragam, dari mulai menu Asia, Eropa, termasuk masakan Indonesia (nasi padang, nasi pepes, nasi timbel, dsb).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menu favorit kami: Nasi Pepes Tropikal, yakni nasi bumbu kuning dibungkus dalam daun pisang bersama cabikan jamur, disajikan dengan kerupuk gendar, kering tempe, sambal, dan dendeng vegetarian yang dibuat dari kaki jamur. Sebetulnya banyak menu enak di &lt;a href="http://www.lovinghut.co.id/tentang-kami.shtml"&gt;Loving Hut&lt;/a&gt;. Tapi saya dan Reza benar-benar cinta mati sama Nasi Pepes Tropikal sampai-sampai 95% kedatangan kami ke sana hanya untuk memesan menu satu itu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;despite the desperate effort from the owner and the servants who had tried to convince us to try other dishes. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan di &lt;a href="http://www.lovinghut.co.id/tentang-kami.shtml"&gt;Loving Hut &lt;/a&gt;masuk ke dalam kategori makanan vegan, yang artinya bebas semua produk hewan termasuk susu, telur, kulit, dan madu. Meski Anda bukan seorang vegetarian atau pun vegan, tidak ada salahnya mencoba petualangan kuliner baru dengan mencicip makanan 'bebas kekerasan' di &lt;a href="http://www.lovinghut.co.id/tentang-kami.shtml"&gt;Loving Hut. &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lokasi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Plaza Semanggi, Lt. 3A, No. 3A&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kawasan Bisnis Granadha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jl. Jend Sudirman Kav. 50&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jakarta - 12930&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tel. +62 - 21 - 2553 9369&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DHARMA KITCHEN (Restoran Vegetarian - Jakarta)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika harus menyebut satu nama restoran vegetarian terbaik dan paling representatif se-Jakarta Raya ini, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;then our vote goes to Dharma Kitchen (d/h Cita Rasa). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Restoran yang baru saja renovasi dan berganti nama ini adalah salah satu restoran vegetarian 'senior'. Kelezatan makanannya sudah teruji. Konon, yang empunya restoran ini banting stir dari restoran steak menjadi restoran vegetarian karena wabah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mad Cow&lt;/span&gt; yang sempat memukul industri peternakan. Yang jelas, keputusannya itu membawa hoki, karena restoran ini malah melejit setelah beralih jadi restoran vegetarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah renovasi, Dharma Kitchen kini terbagi menjadi tiga bagian. Lantai bawah ditempati kafe dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bakery&lt;/span&gt;. Lantai atas tetap menjadi restoran seperti biasa, di mana penataannya lebih sesuai pakem restoran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Chinese&lt;/span&gt; konvensional; meja bundar besar, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;table-top&lt;/span&gt; yang bisa berputar, dsb. Kafe yang di bawah bergaya lebih modern dengan interior serba minimalis, pilihan menu yang lebih internasional, lengkap dengan minuman seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cappuccino&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;caffe latte&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bakery&lt;/span&gt;-nya dipenuhi aneka roti, kue tar, dan penganan kecil yang menggoda—terutama bagi para vegetarian yang sudah lama tidak bisa makan bacang, resoles, kroket, lemper, dsb. Di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bakery&lt;/span&gt; ini, semua jajanan pasar tadi hadir dan bebas daging. Bagi yang vegan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bakery&lt;/span&gt; di sini juga menyediakan roti dan kue bebas telur yang, menariknya, ternyata lebih lembut dibandingkan roti yang mengandung telur. Dijual juga aneka bahan makanan vegetarian yang cukup lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menu favorit kami: Jamur Cah Cincang yang dimakan dengan selada segar. Itu dia menu wajib yang PASTI kami pesan tiap kali datang. Coba juga Sate Manis Saus Kecap, 'Bebek' Peking, Tahu Saus Cabe, dan 'Ikan' Bumbu Bali, dan Pepes 'Ikan' Vegetarian. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Well, anyhow, it's all good. Just go crazy. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya dan Reza, Dharma Kitchen akan selalu punya tempat istimewa di hati, karena dari sinilah kami memesan katering untuk syukuran pernikahan kami. Informasi: pasca pesta, banyak laporan masuk bahwa orang-orang terkaget-kaget saat tahu bahwa makanan yang kami hidangkan sepenuhnya vegetarian. Termasuk tentang suami istri yang beradu debat karena si suami 100% yakin bahwa sate yang dia makan adalah daging betulan, meski istrinya berkali-kali bilang bahwa semua hidangan pesta kami adalah makanan vegetarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lokasi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dharma Kitchen Vegetarian Resto &amp;amp; Café&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jl. Pluit Kencana Raya No. 106-110 Jakarta Utara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Telp. (021) 6621658, (021) 6694220&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BLITZ MEGAPLEX (Bioskop)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SlXLpEnauyI/AAAAAAAAAgw/DAwUTjpoyqc/s1600-h/blitz.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SlXLpEnauyI/AAAAAAAAAgw/DAwUTjpoyqc/s400/blitz.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356411238301219618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Anda pernah mengalami saat-saat menyebalkan ini, yakni ketika tiket nonton bioskop terbilang mahal, bahkan di salah satu mall di Jakarta harganya bisa sampai 50 ribu perak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu persis apakah &lt;a href="http://www.blitzmegaplex.com/en/index.php"&gt;Blitz &lt;/a&gt;menjadi pemicu tunggal atau tidak, yang jelas ketika bioskop yang satu ini berdiri, tiket bioskop pun kembali menormal. Tradisi 'Senin nomat' pun tinggal kenangan, karena harga tiket dinaikkan hanya di akhir pekan tok. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Either way,&lt;/span&gt; saya selalu merasa hadirnya kompetitor akan melonggarkan monopoli dan membuat iklim bisnis secara umum lebih sehat, plus menguntungkan bagi konsumen. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;At least, we have a choice, and a better price. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di &lt;a href="http://www.blitzmegaplex.com/en/index.php"&gt;Blitz&lt;/a&gt; kita akan bertemu dengan para petugas berbaju modis dan trendi. Ada kafe keren tempat menunggu. Dan tempat duduk untuk menunggu tidaklah jadi barang langka yang sering menimbulkan persaingan sengit (pengalaman pahit bertahun-tahun nonton di Bandung Indah Plaza). Kursi yang nyaman, ruangan bioskop yang bersih, kualitas proyektor dan suara yang baik, adalah hal-hal standar perbioskopan yang saya harap bisa terus bertahan di &lt;a href="http://www.blitzmegaplex.com/en/index.php"&gt;Blitz&lt;/a&gt;. Bukan semata-mata karena usianya yang relatif baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Just be watchful for the movie schedule, and make sure you enter the theatre on time.&lt;/span&gt; Di sini tidak ada bunyi 'ting-tong' dan suara Maria Oentoe yang memanggil-manggil penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini,&lt;a href="http://www.blitzmegaplex.com/en/index.php"&gt; Blitz&lt;/a&gt; baru buka di Bandung dan Jakarta &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(coming soon in Serpong! Yippee!).&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Informasi lebih lanjut: http://www.blitzmegaplex.com/en/index.php&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SlXL0OTb8WI/AAAAAAAAAg4/6ZLUz1n-3gY/s1600-h/blitzvelvet.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SlXL0OTb8WI/AAAAAAAAAg4/6ZLUz1n-3gY/s400/blitzvelvet.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356411429880328546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SHELL (SPBU)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SlXLbPL-9gI/AAAAAAAAAgo/bd4qdb_RZys/s1600-h/shell.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 166px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SlXLbPL-9gI/AAAAAAAAAgo/bd4qdb_RZys/s400/shell.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356411000620774914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yep.&lt;/span&gt; Kali ini saya akan bicara soal bensin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum &lt;a href="http://www.shell.com/home/content/id-en"&gt;Shell&lt;/a&gt; masuk ke Indonesia, saya sudah terbiasa dengan mengisi bensin di berbagai SBPU-nya Pertamina. Layanannya tentu beragam; dari mulai yang jujur sampai yang suka main-main dengan meteran, dari mulai yang fasilitasnya lumayan sampai yang busuk banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas anjuran Reza, saya mencoba mengisi bensin di &lt;a href="http://www.shell.com/home/content/id-en"&gt;Shell&lt;/a&gt; sejak tahun lalu. Sejak itu juga terbukalah cakrawala baru akan pengalaman isi bensin. SPBU &lt;a href="http://www.shell.com/home/content/id-en"&gt;Shell&lt;/a&gt; sangat rapi, bersih, tertata dengan baik. Stafnya ramah dan profesional. Banyak layanan tambahan cuma-cuma seperti pembersihan kaca jendela, pengisian air, dan pengisian angin ban. Semua SPBU Shell juga memiliki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;minimart&lt;/span&gt; kecil, lumayan untuk cari minum atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;snack&lt;/span&gt; jika perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau harganya di tengah-tengah antara Premium dan Pertamax, saya cukup puas dengan kualitas bensin &lt;a href="http://www.shell.com/home/content/id-en"&gt;Shell&lt;/a&gt; (saya pakai yang jenis Super). Reza bilang, sejak pakai &lt;a href="http://www.shell.com/home/content/id-en"&gt;Shell&lt;/a&gt;, mesin mobilnya jadi lebih halus, bertenaga, sekaligus irit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, saya tidak terlalu peka soal mesin mobil. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;It's not really my cup of tea. &lt;/span&gt;Tapi untuk pengalaman isi bensin yang memuaskan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;I vote for Shell any day. &lt;/span&gt;Informasi lebih lanjut: http://www.shell.com/home/content/id-en&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;VESPERINE&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Fashion Line)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SlXMHXzRX7I/AAAAAAAAAhA/3dxYddmn-cs/s1600-h/vesperine.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 309px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SlXMHXzRX7I/AAAAAAAAAhA/3dxYddmn-cs/s400/vesperine.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356411758847287218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda seorang perempuan pekerja, kemungkinan besar tidak asing dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;brand&lt;/span&gt; satu ini. Dari omongan mulut ke mulut yang saya dengar, banyak sekali perempuan karier yang mendamba koleksi &lt;a href="http://vesperine.com/"&gt;Vesperine&lt;/a&gt; sebagai busana berkantornya. Meski demikian, tidak berarti baju-baju &lt;a href="http://vesperine.com/"&gt;Vesperine&lt;/a&gt; cuma cocok dipakai untuk ke kantor saja. Saya sendiri cukup sering memakainya untuk berbagai kesempatan, termasuk untuk nyanyi dan pemotretan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://vesperine.com/"&gt;Vesperine&lt;/a&gt; punya karakteristik dan garis yang khas, yang cukup banyak mengundang pengekor (dan seringnya tidak berhasil).  Kerah bergaya kimono Jepang, obi, dan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; trench coat&lt;/span&gt;, adalah desain yang paling sering muncul dari &lt;a href="http://vesperine.com/"&gt;Vesperine&lt;/a&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;I've been a fan from day one, and it's so exciting to see their continuos growth and expansion. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Not only the name sounds international, their whole outlook does look international, too.&lt;/span&gt; Dari mulai detail outletnya sampai desain website, semuanya diperhitungkan dengan matang. Tapi jangan salah, &lt;a href="http://vesperine.com/"&gt;Vesperine&lt;/a&gt; adalah&lt;span style="font-style: italic;"&gt; brand&lt;/span&gt; lokal asli, berpusat di Bandung—&lt;span style="font-style: italic;"&gt;believe it or not. And although the owner and designer is a very dear friend of mine, I believe in my objectivity when it comes to Vesperine's high quality and unique design. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vesperine bisa didapatkan di departemen store terkemuka, seperti Metro, Sogo, dan Centro. Informasi lebih lanjut: http://vesperine.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;WARUNG NASI PECEL SOLO&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SlXMUvD39WI/AAAAAAAAAhI/r97r02KS2k0/s1600-h/pecelsolo2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SlXMUvD39WI/AAAAAAAAAhI/r97r02KS2k0/s400/pecelsolo2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356411988429239650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini tempat makan wajib kunjung setiap kali saya dan Reza pergi ke Yogyakarta. Berada tepat di sebelah Hotel Grand Hyatt, warung pecel ini memiliki dekorasi tradisional yang cukup indah. Padahal, biasanya pecel warungan ya tempatnya identik dengan 'kebersahajaan nyaris mengkhawatirkan'. Tidak dengan yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki warung ini seperti memasuki joglo besar, dengan tempat saji yang berada di sentral ruangan dan bangku-bangku kayu panjang yang mengitarinya. Persis seperti nongkrong di warung klasik. Sepanjang mata memandang, banyak aksesori dan furnitur antik seperti lampu dan toples kuno, gebyok, dingklik, dan lesung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disajikan di atas daun pisang, sayuran pecelnya segar berlimpah, ada pilihan nasi putih dan nasi merah, dan yang istimewa menurut saya adalah, pilihan bumbunya; ada bumbu kacang dan ada juga bumbu wijen hitam. Bumbu wijen hitam menjadi favorit saya. Selain cukup langka ada warung pecel yang menyediakan bumbu wijen, bumbu ini juga konon lebih sehat, dan rasanya segar. Pilihan minumannya juga cukup 'membingungkan'—karena selalu kepingin lebih dari satu: Es Beras Kencur, Es Temulawak, Es Kunir Asem Sirih, Jahe Pandan Gula Jawa, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika harus menyimpulkan pengalaman makan di &lt;a href="http://waroengpecelsolo.blogspot.com/"&gt;Warung Pecel Solo&lt;/a&gt; ini dalam satu kalimat, saya pun harus meminjam komentar Reza: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;the food here is so full of life. I couldn't agree more.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lokasi: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jl Tentara Pelajar No. 52&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Palagan Sleman -Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Telp: 0274 - 866588&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jam buka: 08.00 – 16.00, 18.00 – 22.00&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kota SOLO:  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jl. Dr. Soepomo No. 55 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mangkubumen - Solo &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Telp: 0271-737379&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TOGAMAS (Toko Buku)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SlXMf0idB2I/AAAAAAAAAhQ/0TEy9Qwtm-s/s1600-h/togamas.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 280px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SlXMf0idB2I/AAAAAAAAAhQ/0TEy9Qwtm-s/s400/togamas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356412178878236514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali saya mengunjungi &lt;a href="http://www.togamas.co.id/"&gt;Togamas&lt;/a&gt; adalah ketika saya promo "Filosofi Kopi" di Yogyakarta, kota yang terkenal dengan persaingan toko buku yang ketat saking banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kunjungan pertama saya, tampak jelas bahwa &lt;a href="http://www.togamas.co.id/"&gt;Togamas&lt;/a&gt; memiliki eksistensi yang kokoh. Desainnya menarik dan serba terbuka, pilihan bukunya cukup komplet, dan ada kafe sastra yang jadi tempat nongkrong sekaligus tempat untuk menampung berbagai kegiatan perbukuan, salah satunya promo "Filosofi Kopi" saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang tidak asing dengan&lt;a href="http://www.togamas.co.id/"&gt; Togamas&lt;/a&gt;, tentu yang paling menarik dari toko ini adalah diskonnya yang sangat bersahabat. Bisa 10-20% lebih murah dari jaringan toko buku lain. Tidak heran kalau &lt;a href="http://www.togamas.co.id/"&gt;Togamas&lt;/a&gt; menjadi tempat incaran para mahasiswa untuk berburu buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di luar dari kebijakan diskonnya, &lt;a href="http://www.togamas.co.id/"&gt;Togamas&lt;/a&gt; adalah salah satu dari sedikit toko buku yang, menurut saya, berbisnis buku dengan "hati". Apalagi setelah bercakap-cakap dengan yang empunya, Pak Johan, dan stafnya Mas Arief, saya semakin merasa toko ini tidak cuma sekadar jual buku. Yang jelas, dari pengalaman saya sebagai penerbit, &lt;a href="http://www.togamas.co.id/"&gt;Togamas &lt;/a&gt;adalah klien yang sangat menyenangkan karena pemesanannya selalu kontinu dan pembayarannya tepat waktu :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini, &lt;a href="http://www.togamas.co.id/"&gt;Togamas&lt;/a&gt; sudah dibuka di beberapa kota, antara lain: Bandung, Denpasar, Surabaya, Jember, dan Malang. Informasi lebih lanjut: http://www.togamas.co.id/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;* Sumber foto: Diambil dari masing-masing situs dan blog resmi tempat-tempat di atas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-7460331474258669648?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/7460331474258669648/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=7460331474258669648&amp;isPopup=true' title='40 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/7460331474258669648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/7460331474258669648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2009/07/dees-essential-list-3.html' title='Dee&apos;s Essential List #3'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SlXK7V5lz9I/AAAAAAAAAgg/_o7VDCrjtqI/s72-c/lovinghut1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>40</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-2642475600031391318</id><published>2009-06-29T13:27:00.016+07:00</published><updated>2009-06-29T20:23:37.320+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal Note'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Product Reviews'/><title type='text'>Dee's Essential List #2</title><content type='html'>Melanjutkan Essential List #1, inilah daftar saya berikutnya, yang kebetulan kali ini semua tempat berada di Bandung. Perlu saya ulangi lagi bahwa saya &lt;span&gt;tidak dibayar maupun berafiliasi secara komersil dengan para produsen/tempat/penyedia jasa/produk yang ada di daftar ini. Ulasan saya murni berdasarkan pengalaman pribadi, dan murni dari hati yang tulus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga berguna dan selamat ngiler! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; color: rgb(153, 255, 153); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Dee's Essential List #2&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PASAR CIHAPIT (Bandung)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkhiYWZhkOI/AAAAAAAAAfI/nd0XwNAzQGw/s1600-h/pasarcihapit2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 226px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkhiYWZhkOI/AAAAAAAAAfI/nd0XwNAzQGw/s400/pasarcihapit2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352636327598854370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Inilah pasar tempat saya 'dibesarkan'. Pasar Cihapit letaknya kurang lebih 1 km dari rumah keluarga saya di Bandung dulu. Saya biasa berjalan kaki atau naik becak ke sana. Dari pasar inilah ibu saya membeli bahan makanan untuk keluarga kami setiap harinya. Di sini pulalah saya banyak menghabiskan masa kecil saya, dari mulai menemani Mama belanja hingga akhirnya saya belanja sendiri untuk keluarga saya. Meski akhirnya pindah ke daerah Awiligar yang letaknya cukup jauh dari Cihapit, tetap saja pasar ini menjadi tempat favorit saya berbelanja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/Skhi870mKLI/AAAAAAAAAfQ/LNjDIvcHwrA/s1600-h/pasarcihapit.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/Skhi870mKLI/AAAAAAAAAfQ/LNjDIvcHwrA/s400/pasarcihapit.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352636956119804082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda jalan-jalan ke Bandung, sempatkan mampir ke Pasar Cihapit di pagi atau siang hari. Banyak kejutan spesial yang menanti Anda:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Warung Nasi Ibu Eha (di dalam pasar)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkhjSY4m7vI/AAAAAAAAAfY/YLFEVt3NF4Q/s1600-h/Mak+Eha.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkhjSY4m7vI/AAAAAAAAAfY/YLFEVt3NF4Q/s400/Mak+Eha.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352637324698513138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Warung nasi legendaris ini berada di dalam kompleks pasar. Jangan takut nyasar. Masuk saja dan tinggal tanya-tanya, para pedagang yang ramah akan dengan senang hati menunjukkan arah ke warung Ibu Eha. Ibu tua energik yang usianya sudah mendekati 80 tahun ini (hmm, atau sekarang sudah lebih, ya?) akan tampak terlihat sibuk mengatur stafnya yang hampir semua ibu-ibu separuh baya. Ibu Eha mewarisi bisnis warung ini dari ibunya, yang sudah berjualan sejak tahun 1940-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kita akan seperti terjebak di lorong waktu. Foto presiden yang terpajang adalah Soekarno, entah poster cetakan tahun berapa, yang jelas sudah terlihat menguning. Sebagian tempat duduk di sana adalah bangku-bangku kayu memanjang yang usianya juga sudah puluhan tahun. Di lokasinya yang lama (warung ini pindah ke bagian lain di pasar setelah Pasar Cihapit sempat direnovasi), bahkan batu bata di temboknya sudah hitam bagai jelaga karena asap masakan selama lebih dari empat dekade (Ibu Eha masuk ke Pasar Cihapit sejak tahun '60-an).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang hari adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;peak hour&lt;/span&gt; di warung ini karena banyak karyawan perkantoran yang makan siang. Pukul sebelas atau sedikit lewat dari jam makan siang adalah waktu kunjung yang ideal karena lebih sepi, kita bahkan bisa mengobrol-ngobrol dengan Ibu Eha yang ramah. Dan bagi saya, di sinilah daya tarik utama makan di Warung Ibu Eha. Bukan saja makanannya yang enak, tapi juga suasana yang lain daripada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan berharap kemewahan, tentunya. Makanan di sini sederhana saja, dengan piring-sendok-garpu yang juga sederhana, secangkir teh pahit, lalap dan sambal gratis, serta kobokan untuk cuci tangan. Tapi rasa silakan diadu. Bagi yang vegetarian, cobalah tempe bacemnya—yang menurut saya adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Best Tempe Bacem Ever&lt;/span&gt;, yang membuat daging terasa jadi biasa saja. Tahu gorengnya juga nikmat, Ibu Eha menggunakan tahu Lembang yang lembut dan gurih. Juara berikutnya adalah: sambal dadak. Jangan meninggalkan tempat itu sebelum mencoba sambalnya. Rasanya sangat pas dan segar. Apalagi kalau sedang musim buah Gandaria, karena akan terseliplah beberapa butir Gandaria yang membuat rasa sambalnya semakin semriwing. Buat saya, nasi panas plus tahu-tempe dan sedikit kuah rendang telur, sambal dadak dan lalap singkong, sudah membuat perut saya bahagia dunia-akherat (liur saya bahkan nyaris menetes menuliskannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda yang non-vegetarian, silakan mencoba Ibu Eha&lt;span style="font-style: italic;"&gt;'s most famous highlights:&lt;/span&gt; rendang, ayam goreng kuning, dan ikan bawal goreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkhooUzJniI/AAAAAAAAAgY/93uTGfxAktw/s1600-h/mak-eha-cihapit3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 298px; height: 225px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkhooUzJniI/AAAAAAAAAgY/93uTGfxAktw/s320/mak-eha-cihapit3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352643199117139490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah bertanya pada Ibu Eha tentang resepnya menjaga kesehatan. Dan sambil membersihkan babat sapi, ia menjawab: "Ibu nggak pernah makan beginian. Ibu makannya cuma nasi aja, sama lalap, sama tahu, sama sambel, atau ikan asin sedikit. Udah, cukup." &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Well, for someone that's surrounded everyday with delicious meat dishes that made her name famous, I really didn't expect that answer :)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Cincau Cihapit (di pintu masuk pasar)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengkapi pengalaman Cihapit Anda dengan segelas cincau hijau kondang ini. Dijual di gerobak dorong kecil, di depan mulut pasar, bisa dijual per gelas atau kemasan besar untuk dibawa pulang. Jika Anda menyambi dengan makan siang di Ibu Eha, bisa minta tolong juga untuk diantar ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dijual di gerobak sebesar gerobak es lilin, cincau ini sudah masuk ke supermarket juga saking santernya. Kalau nasib sedang sial dan tukang cincau ini sudah pulang, jangan kecil hati. Produknya dijual di Supermarket Yogya (Jalan Riau a.k.a Riau Junction). Tersedia dalam kemasan besar (cukup untuk 4 gelas), lengkap dengan santan dan gula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kebanyakan es cincau hijau lain yang memakai sirop merah, Cincau Cihapit hanya memakai santan dan gula cair. Cincaunya super lembut dan rasa daunnya terasa segar dan tidak langu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Again, this is THE BEST GREEN CINCAU ever! Trust me. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;One thing that really amazes me, though.&lt;/span&gt; Saya sudah beli cincau ini sejak kecil, dan meski belum pernah ngobrol panjang dengan tukangnya, kami sudah mengenali muka satu sama lain dengan akrab. Satu waktu, Mang Cincau ini bilang pada saya: "Kemarin saya lihat Neng di teve." Saya tertawa dan 'oh' saja, mengira bahwa ia mungkin melihat saya menyanyi di salah satu program teve. Lalu dia melanjutkan, "Mang senang nonton acara Neng. Salam ya buat Kang Juhana." Dahi saya pun mengernyit. Saya bertanya balik, "Maksud Mang, acara Tantangan – Indosiar?". Dia tertawa, "Iya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pan&lt;/span&gt; Neng yang bawain acaranya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung meralat, "Bukan, Mang. Saya bukan Tina Zakaria!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mang Cincau tertawa makin lebar, "Ah, si Neng &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mah sok&lt;/span&gt; pura-pura &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kitu.&lt;/span&gt; Mang juga bisa ngenalin!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali saya mencoba meyakinkan bahwa saya bukan Tina Zakaria. Dan tawanya malah makin keras. Akhirnya saya meninggalkan gerobak itu dan membiarkan Mang Cincau hidup damai dengan keyakinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Kupat Tahu Cihapit (di emper toko Jalan Cihapit)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkhkC11hksI/AAAAAAAAAfo/mo_pzmSaApg/s1600-h/kupattahucihapit.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkhkC11hksI/AAAAAAAAAfo/mo_pzmSaApg/s400/kupattahucihapit.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352638157103928002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di depan sebuah toko yang letaknya tepat di lengkungan jalan Cihapit, ada sebuah gerobak penjual kupat tahu. Penjual aslinya adalah bapak-bapak tua berkumis dan (seringkali) bertopi. Kadang-kadang, anaknya yang menggantikan. Jika Anda mampir ke Cihapit pada jam sarapan pagi, Kupat Tahu Cihapit adalah menu yang ideal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap piringnya diracik mendadak. Tahu digoreng baru dan sausnya pun dibuat di tempat. Lontong, tauge, irisan timun, tahu yang masih panas, serta saus kacang yang gurih akan tiba di hadapan Anda. Tak lupa, segenggam kerupuk aci ditaburkan di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak ada tempat duduk, kebanyakan orang beli untuk dibungkus pulang atau makan di mobil. Kalau kepepet ingin makan di tempat, di sebelah gerobak ada semacam peti kayu yang bisa jadi alas duduk. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Whatever the circumstances is, don't let it stop you from trying this fabulous dish! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Bakso Tahu Mandiri (di emper toko Jalan Cihapit)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering melihat para pedagang yang berdagang siomay di kota selain Bandung selalu membubuhkan embel-embel "Siomay Bandung" atau "Bakso Tahu Bandung". Sayangnya, walaupun sudah mengadopsi nama Bandung, seringkali yang mengklaim demikian masih jauh sekali kualitas rasanya dengan bakso tahu jalanan yang bisa ditemui di kota Bandung betulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakso tahu satu ini bukan bakso tahu restoran. Dijualnya di gerobak. Lebih banyak terlihat pada siang atau sore hari setelah pasar tidak terlalu padat. Di jalan raya Cihapit, tepatnya di emper-emper toko, beberapa gerobak bertuliskan Bakso Tahu Mandiri ini terparkir. Mampirlah, dan coba sepiring. Rasakan bakso tahu Bandung yang sebenarnya. Untuk kelas bakso tahu gerobak, menurut saya Mandiri punya cita rasa yang premium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung sekarang vegetarian, saya cuma bisa makan kol, kentang, dan telur (bakso tahunya juga bisa, tapi sedikit dibedah jadi tahunya tok). Bagi Anda yang punya keleluasaan lebih, silakan coba... semuanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Lotek dan Gado-gado Cihapit (di Jalan Cihapit)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Restoran kecil yang lebih menyerupai warung ini terletak di ujung jalan Cihapit, di dekat masjid. Mungkin karena letaknya agak jauh dari keramaian toko, saya jarang melirik tempat makan yang satu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri tadinya tidak menyadari bahwa lotek ini cukup kondang sampai akhirnya saya cukup sering mendengar orang-orang bercerita bahwa mereka sering ke Cihapit hanya untuk beli lotek atau gado-gadonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman pertama saya adalah waktu mencicip dari piring adik saya. Mata saya langsung membesar, "Enak banget! Beli di mana?" dan dia menjawab santai, "Di Cihapit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, restoran kecil di ujung jalan Cihapit tersebut punya tempat istimewa di hati saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Serabi Cihapit (di dekat pintu masuk pasar)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mulut pasar, tak jauh dari tukang cincau, ada gerobak bertuliskan Serabi Cihapit. Penjualnya seorang ibu-ibu. Kota Bandung memang cukup terkenal dengan serabinya yang kreatif  (strawberry, cokelat, keju, kornet, dll). Yang paling beken adalah warung serabi di Setiabudi (nama gaul: Serabi Enhaii). Tapi nggak usah jauh-jauh ke Setiabudi. Di Cihapit pun ada serabi enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya tren serabi masa kini, Serabi Cihapit juga menyediakan serabi modern seperti serabi strawberry, keju, dll. Tapi pilihan favorit saya tetap serabi klasik yakni: serabi oncom. Sebelum varian serabi menjadi sebanyak sekarang, serabi klasik hanya kenal tiga rasa: polos, asin, dan manis. Asin berarti dibumbui oncom sementara yang manis memakai kuah gula merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oncom Bandung memang tidak terkalahkan. Apalagi kalau sudah diramu dengan kacang dan bumbu-bumbu, lalu dimasak di atas serabi berwangi santan yang masih mengepul panas. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yummy. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu hati-hati saja tentang jam berjualan serabi ini. Karena Serabi Cihapit punya waktu jeda di siang hari (saya tidak tahu persis jam berapa) hingga akhirnya sore ia buka lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. Toko Tidar - Art Supplies&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun tidak persis di Jalan Cihapit, melainkan di Jalan Sabang (bersilangan dengan Cihapit, tapi jaraknya sangat dekat), toko ini bisa dibilang salah satu harta karunnya Cihapit. Di toko ini Anda bisa menemui banyak mahasiswa jurusan Seni Rupa atau Arsitektur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toko mungil ini menjual berbagai peralatan seni rupa, desain, prakarya, termasuk bahan-bahan membuat maket untuk jurusan Arsitektur. Koleksi kertas daur ulangnya juga lucu-lucu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fancy paper&lt;/span&gt;-nya lengkap. Dan sang empunya toko sering menjaga langsung (dikenal dengan panggilan 'Tante Tidar'), jadi kita bisa banyak bertanya-tanya pada beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ketika masih jadi anak sekolah, kunjungan ke Toko Tidar adalah salah satu hiburan menyenangkan bagi saya. Dan sampai sekarang, toko ini terus bertahan, bahkan makin eksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lokasi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jl. Sabang No. 71&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bandung 40114&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ph/Fax:  (022) 420 4841&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8. Taman Bacaan Hendra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkhkkF1LzAI/AAAAAAAAAfw/PpNnV9mVT9w/s1600-h/TB+Hendra.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkhkkF1LzAI/AAAAAAAAAfw/PpNnV9mVT9w/s400/TB+Hendra.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352638728333151234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Persis di seberang Toko Tidar, ada sebuah rumah besar dengan tulisan di temboknya: &lt;a href="http://tbhendra.blogspot.com/"&gt;TB Hendra.&lt;/a&gt; Berdiri sejak tahun 1967 dengan modal 100 buku, TB Hendra merupakan taman bacaan terlengkap di kota Bandung hingga kini. Jadi, Anda bisa bayangkan betapa dahsyat koleksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak komik serial klasik dan novel-novel '80-an bisa ditemui di sini. Dan tentunya TB Hendra terus menambah koleksi buku-buku dari era sekarang. Konon, sekarang koleksi TB Hendra sudah mencapai 500.000 judul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda penggemar buku cerita dan senang dengan konsep taman bacaan, TB Hendra-lah tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lokasi: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jl. Sabang 28 Bandung &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Telp. (022) 4238008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;READING LIGHTS (2nd Hand Bookstore &amp;amp; Coffee Corner, Bandung)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkhlkDlWlRI/AAAAAAAAAgI/Id0B9UiS_rw/s1600-h/ReadingLights.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkhlkDlWlRI/AAAAAAAAAgI/Id0B9UiS_rw/s400/ReadingLights.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352639827241506066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Toko buku bekas ini terletak di Jalan Siliwangi. Bergabung dengan Galeri Seni Bandung yang terletak di lantai atasnya. Isinya adalah buku-buku impor berbahasa Inggris (ada beberapa bahasa lain juga), dari mulai fiksi, non-fiksi, sampai buku anak-anak. Semuanya&lt;span style="font-style: italic;"&gt; second hand.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda beruntung, bisa saja mendapatkan buku-buku keluaran relatif baru yang masih dalam kondisi baik dengan harga yang tentunya miring. Di sudut ruangan ada bagian buku anak dengan semacam pojok baca beralas karpet dan bantal-bantal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa memesan minuman serba cokelatnya. Menurut saya, inilah yang istimewa dari tempat ini. &lt;a href="http://readinglights.blogspot.com/"&gt;Reading Lights&lt;/a&gt; menggunakan bahan cokelat berkualitas (bubuk cokelat pilihan dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dark chocolate&lt;/span&gt; batangan) serta aneka campuran yang kreatif, favorit saya: Yin Yang Chocolate (pakai campuran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;white chocolate&lt;/span&gt;) dan Chocoholic (khusus pencinta cokelat karena ramuan cokelatnya paling pekat). Kopinya, konon juga istimewa, menggunakan mesin kopi yang terawat baik serta biji kopi lokal yang terbaik. Sayangnya, saya bukan peminum kopi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;so I cannot say much about it. But for sure, the choco drinks are superb.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Reading Lights, Anda bebas membaca buku di tempat. Yang juga saya salut dari tempat ini adalah inisiatifnya untuk membangun komunitas baca dan forum diskusi budaya. Beberapa kali Reading Lights mengadakan diskusi sore hari di lantai atas, bekerja sama dengan berbagai komunitas dan LSM di kota Bandung. Suasananya akrab dan cerdas. Sungguh pilihan tempat nongkrong sore hari yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lokasi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jl. Siliwangi 16 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bandung - 40141&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ph. (022) 203-6515&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;RIAU JUNCTION &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/Skhk4k-uHuI/AAAAAAAAAf4/kPbJ9hUkahA/s1600-h/riaujunction.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 303px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/Skhk4k-uHuI/AAAAAAAAAf4/kPbJ9hUkahA/s400/riaujunction.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352639080292032226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kompleks supermarket dan department store ini dimiliki oleh jaringan Yogya (dikenal dengan sebutan 'Toko Yogya') yang memang sukses di Bandung dan Jawa Barat. Walaupun Toko Yogya ada di beberapa tempat, ini dialah outlet terbaiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantai 1 diisi oleh supermarket, lantai 2 dan 3 oleh department store, dan lantai paling atas diisi oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;food court&lt;/span&gt;.  Saya sangat senang belanja di Yogya karena harganya yang relatif lebih murah dibandingkan supermarket sejenis. Selain itu, Toko Yogya masih punya program &lt;span style="font-style: italic;"&gt;membership&lt;/span&gt; yang memberikan diskon langsung pada saat berbelanja, dan ada hari-hari tertentu di mana Yogya memberikan diskon 10% untuk produk segarnya. Staf di sana juga ramah dan sigap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk Riau Junction, menurut saya produknya secara umum lebih lengkap dan bervariasi dibanding cabang lain. Di sini (dan juga cabang Cihampelas) ada counter khusus makanan vegetarian. Produk impor seperti makanan jadi dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;beauty products&lt;/span&gt; lebih beragam dibandingkan cabang lain yang cuma menyediakan tipikal merk lokal tok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Food court&lt;/span&gt;-nya mendapat nilai plus dari saya. Selain penataannya yang apik dan rapi, banyak jajanan Bandung terkenal yang menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tenant&lt;/span&gt; di sini, seperti Mie Naripan, Es Pak Oyen, Tahu Talaga, dll. Bagi yang jalan-jalan bersama anak, di sini juga tersedia tempat main anak yang cukup besar. Tak heran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;food court ini&lt;/span&gt; selalu ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali pulang ke Bandung, Toko Yogya selalu menjadi persinggahan saya. Kadang-kadang yang saya beli adalah barang kelontong biasa yang di Jakarta pun ada, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;but there's something about the store that always warms my heart. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TOKO SETIABUDI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/Skhl3E0bRgI/AAAAAAAAAgQ/Cno1QiN_Ar0/s1600-h/tokosetiabudi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 224px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/Skhl3E0bRgI/AAAAAAAAAgQ/Cno1QiN_Ar0/s400/tokosetiabudi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352640153990678018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jika di daerah tengah ada Riau Junction, di daerah Bandung atas ada Toko Setiabudi. Tempat ini lebih 'internationally-oriented' ketimbang Yogya. Karena itulah banyak ekspatriat yang terlihat berseliweran di Toko Setiabudi. Walaupun secara umum harganya tidak semurah di Yogya, Toko Setiabudi memiliki variasi barang yang bahkan belum tentu bisa ditandingi oleh supermarket&lt;span style="font-style: italic;"&gt; upper class&lt;/span&gt; Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumbu-bumbu 'aneh', produk-produk organik, produk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;beauty &amp;amp; bath&lt;/span&gt; impor, koleksi sayur dan buahnya, membuat Toko Setiabudi tempat yang menarik dikunjungi meski cuma untuk lihat-lihat. Di toko ini saya bisa menemukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;maple syrup&lt;/span&gt; murni &lt;span style="font-style: italic;"&gt;grade A&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;baking soda&lt;/span&gt; Arm &amp;amp; Hammer, dan macam-macam kebutuhan spesifik lainnya (info tambahan: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;maple syrup&lt;/span&gt; asli adalah pemanis sehat yang bahkan lebih baik dari madu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;baking soda&lt;/span&gt; asli adalah bahan pembersih natural yang bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan—dari mulai membersihkan sayuran/buah dari sisa pestisida sampai menggosok lantai, dan Arm &amp;amp; Hammer adalah salah satu merk terbaik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lantai atasnya ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;food court&lt;/span&gt; bernama Kiosk Food Market yang dipenuhi oleh jajanan top Bandung. Tempatnya lebih simpel ketimbang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;food court&lt;/span&gt; di Riau Junction. Namun satu kali mampir di Kiosk dapat memangkas banyak perjalanan kuliner Anda. Di sini ada Kupat Tahu Gempol yang terkenal, Ketan Bakar Lembang, Gudeg Banda, Sate Hadori, Bakso Malang Cipaganti, Bubur Ayam Kasmin, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergabung dengan toko buku Periplus yang lumayan besar, Excelso Cafe, Setiabudi Living (khusus pernak-pernik interior dan alat-alat masak), serta beberapa toko fashion yang koleksinya lumayan, menjadikan Toko Setiabudi ini tempat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;one-stop shopping&lt;/span&gt; yang asyik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;* Sumber pinjaman foto:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.flickr.com/photos/dantje/2046602815/"&gt;Pasar Cihapit,&lt;/a&gt; &lt;a href="http://picasaweb.google.com/lh/photo/jWPX7t499TsOqD07ppN3rw"&gt;Warung Nasi Ibu Eha&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://dieny-yusuf.com/2008/09/17/mak-eha-dan-mbah-karto/"&gt;Ibu Eha&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://kalolagimood.blogspot.com/2007/12/wisata-kuliner-bandung.html"&gt;Kupat Tahu Cihapit&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://tbhendra.blogspot.com/"&gt;TB Hendra&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://readinglights.blogspot.com/"&gt;Reading Lights&lt;/a&gt;, &lt;a href="ttp://bandungtoday.com/?tag=riau"&gt;Riau Junction&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://leyehleyeh.multiply.com/reviews/item/4"&gt;Toko Setiabudi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-2642475600031391318?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/2642475600031391318/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=2642475600031391318&amp;isPopup=true' title='59 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/2642475600031391318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/2642475600031391318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2009/06/dees-essential-list-2.html' title='Dee&apos;s Essential List #2'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkhiYWZhkOI/AAAAAAAAAfI/nd0XwNAzQGw/s72-c/pasarcihapit2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>59</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-918435826040563187</id><published>2009-06-26T23:21:00.018+07:00</published><updated>2009-07-17T11:53:26.957+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal Note'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Product Reviews'/><title type='text'>Dee's Essential List #1</title><content type='html'>&lt;span&gt;Sudah cukup lama saya terpikir untuk menuliskan daftar ini, tapi baru terwujud sekarang setelah kompilasinya dirasa cukup 'matang'. Matang dalam arti saya punya cukup pengalaman langsung yang sudah teruji waktu. Ini adalah daftar apresiasi saya terhadap produk, produsen, tempat, dan penyedia jasa, yang menurut saya berhasil mewujudkan sesuatu yang spesial dan 'penuh hati'. Setidaknya dalam kehidupan pribadi saya, daftar berikut ini memegang peranan cukup esensial di level sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Catatan penting: saya tidak dibayar maupun berafiliasi secara komersil dengan para produsen/tempat/penyedia jasa/produk yang ada di daftar ini. Ulasan saya murni berdasarkan pengalaman pribadi, dan murni dari hati yang tulus. Semoga bisa jadi informasi yang berguna bagi yang membaca. Dan semoga para penghuni daftar ini tetap bisa mempertahankan kecemerlangannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Enjoy!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; color: rgb(153, 255, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dee's Essential List #1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AMANDA MONTESSORI SCHOOL (TK/Playgroup – Bintaro, Jakarta)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SmADojhkyFI/AAAAAAAAAiI/oaCniEaDIKw/s1600-h/montessori2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SmADojhkyFI/AAAAAAAAAiI/oaCniEaDIKw/s400/montessori2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359287551836604498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jangan terkecoh dengan tampilan bangunannya. Sekolah yang bentuknya seperti rumah ini memang berukuran mungil dan sekilas tampak sederhana; hanya terdiri dari dua ruangan kelas dan taman belakang yang berfungsi sebagai tempat bermain. Namun sekolah ini benar-benar dijalankan dengan hati dan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami harus pindah ke Jakarta, Keenan pun terpaksa meninggalkan sekolahnya di Bandung (Bandung Montessori School). Tanpa perlu banyak penyesuaian—karena pemilik, metode, dan fasilitas kelasnya sama persis—Keenan kembali menemukan keluarga baru di Amanda Montessori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah yang dikepalai oleh Ibu Dina Andayati ini memang setia dengan metode Montessori asli yang menurut saya cocok dengan karakter Keenan. Dalam satu kelasnya, usia anak bercampur antara 2-5 tahun hingga yang kecil bisa belajar dari yang besar, dan yang besar bisa belajar mendampingi yang kecil. Mereka juga melakukan pendekatan individual pada tiap anak dan tidak pernah memaksakan satu pelajaran. Hal-hal yang dipelajari meliputi banyak kegiatan praktis, bukan hanya pelajaran intelektual tapi juga belajar hal-hal sehari-hari dari mulai bersih-bersih sampai memelihara hewan.  Tiap pergantian trimester, orang tua diajak bertemu dan dilaporkan perkembangan anak dengan mendetail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahal? Sama sekali tidak. Dibandingkan dengan banyak TK/Playgroup kelas A-B di Jakarta, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tuition fee&lt;/span&gt; di Amanda Montessori sangat bersahabat. Dan tidak ada pungutan macam-macam di tengah jalan. Semua kegiatan ekstra seperti berenang dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;field trip&lt;/span&gt; dikenakan biaya yang masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tantangan berikutnya tentu adalah menemukan SD yang sama-sama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;heartful&lt;/span&gt;, kekeluargaan, dan masuk akal (dalam segi biaya). Tapi setidaknya Keenan masih punya setahun untuk menikmati masa-masa bahagianya di Amanda Montessori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lokasi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Amanda Montessori Pre-school&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jl. Cempaka Raya 44 Bintaro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jakarta Selatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(021) 736-3980&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;LAVIE (Toko Perlengkapan Bayi/Anak – Bandung) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkT5IRK1_eI/AAAAAAAAAeo/nQ8tXfeRY6g/s1600-h/lavie.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 144px; height: 108px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkT5IRK1_eI/AAAAAAAAAeo/nQ8tXfeRY6g/s400/lavie.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5351676177666145762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Waktu hamil Keenan 7 bulan, saya mulai cari-cari info untuk persiapan perlengkapan bayi. Banyak yang mengusulkan untuk pergi ke Mangga Dua (waktu itu saya masih tinggal di Bandung), karena katanya selain lengkap juga sangat murah. Akhirnya saya meluangkan waktu untuk PP ke Jakarta, berbelanja di ITC Mangga Dua yang sesak dan (lumayan) pengap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru setelah Keenan lahir, saya mengetahui keberadaan Toko Lavie ini, toko di jalan Imam Bonjol yang asri dan dipenuhi pohon rindang. Ternyata, selain tentunya lebih nyaman karena tak perlu berdesakan, lebih sejuk, dekat dari rumah, toko ini sama lengkapnya dan… LEBIH MURAH dari Mangga Dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;So,&lt;/span&gt; meski sekarang saya tinggal di Jakarta, saya tidak keberatan untuk melakukan perjalanan PP ke Bandung demi berbelanja perlengkapan anak kedua saya di Toko Lavie. Ketimbang harus kembali ke Mangga Dua. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Swear to God.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lokasi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lavie Baby Shop - Bandung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jl. Imam Bonjol no.9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bandung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(022) 250-4905&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SAMBARA (Restoran Sunda – Jakarta Selatan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkT5Wh8-jfI/AAAAAAAAAew/dYSd5WP2Bns/s1600-h/logo-sambara.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 118px; height: 49px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkT5Wh8-jfI/AAAAAAAAAew/dYSd5WP2Bns/s400/logo-sambara.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5351676422689558002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Orang Bandung pasti sudah tidak asing dengan restoran satu ini. Tapi betapa berbahagianya saya ketika Sambara akhirnya membuka cabang di Jakarta, tepatnya di Jalan Cipete Raya. Meski banyak restoran di Jakarta yang mengklaim dirinya bercita rasa Sunda asli, tidak banyak yang benar-benar memuaskan lidah orang Sunda. Rata-rata hanya sebatas mengadopsi kursi dan aksesoris serba bambu saja, tapi cita rasa mengecewakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambara jadi oase bagi saya—'Bandung-er' yang kini terdampar di Jakarta.  Selain tempatnya yang representatif, komitmen Sambara untuk menciptakan suasana asli Sunda memang tidak tanggung-tanggung. Tukang masak dan hampir semua pelayan mereka ‘impor’ dari Jawa Barat, makanya logat Sunda dan sapaan khas Sunda menyambut dari kiri-kanan begitu kita masuk ke sana. Menunya juga sangat beragam dengan cita rasa yang memuaskan. Saya pernah bertemu Mulan Jameela yang khusus datang ke Sambara hanya untuk makan dua tusuk Sate Jebred (sate kulit sapi), yang menurut Mulan di Jawa Barat saja susah dicari kalau bukan di kampung-kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang saya beri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stabillo&lt;/span&gt; pink: Sambara menyediakan lalapan, empat macam sambal, dan sayur asemnya secara GRATIS. Ini bukan semata-mata masalah penghematan, tapi yang saya dengar dari orang-orang Sunda asli adalah: begitulah seharusnya etika warung makan Sunda. Dan inilah yang menurut saya membedakan Sambara dengan banyak restoran Sunda &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wanna-be&lt;/span&gt; di Jakarta. Restoran-restoran itu men-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;charge&lt;/span&gt; lalap dan sambal (apalagi sayur asem!), karena mereka tidak menyadari bahwa kedua elemen itulah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;the heart of Sundanese food&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;It’s like charging for kimchi in Korean restaurant. A big no-no. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stabillo&lt;/span&gt; berikutnya adalah para pelayan bahkan staf parkir yang ramah, sigap, bersahabat, tanpa dibuat-buat. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Our vote goes to&lt;/span&gt; Asep, pelayan favorit saya dan Reza (kami bahkan sempat berpikir bagaimana cara mengadopsi Asep). Sambara juga merupakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;all- time-favorite&lt;/span&gt; keluarga besar kami, termasuk favoritnya Marcell dan Keenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga di sini sangat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;reasonable&lt;/span&gt;, apalagi untuk ukuran restoran Jakarta. Karena kami vegetarian, jika makan berdua saja total &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bill &lt;/span&gt;kami pasti di bawah 100 ribu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;And believe me, we eat A LOT!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menu favorit saya dan Reza: sayur asem, sambal oncom, nasi tutug tempe, tempe/tahu bacem, perkedel kentang, perkedel jagung, oseng-oseng jamur, sate telur puyuh, dan terong sambal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lokasi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sambara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jl. Cipete Raya No. 14&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jakarta Selatan 12410, Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tel: (62-21) 769 7913&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MACINTOSH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkT5oBf_0UI/AAAAAAAAAe4/eg7Za-qXPoY/s1600-h/macbookair.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 166px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkT5oBf_0UI/AAAAAAAAAe4/eg7Za-qXPoY/s400/macbookair.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5351676723215716674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akibat memperoleh laptop I-Book sebagai hadiah ulang tahun tiga tahun lalu, saya mulai kenal dengan produk-produk Mac. Dan berhubung saya cenderung ‘nrimo’ ketika sudah berhubungan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gadget&lt;/span&gt; (hp tergilas mobil pun selama belum mati total masih saya pakai), saya putuskan untuk mengatasi kecanggungan saya pindah sistem dari Windows ke Mac. Lama-lama, saya terbiasa. Lama-lama, saya suka. Lama-lama, saya jatuh cinta. Dan lama-lama, saya tidak ingin ke lain hati. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mac is my mate. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak ribet soal virus, nggak ribet navigasi di sistemnya, dan desain-desain produknya yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;oh-so-gorgeous&lt;/span&gt;, adalah daya tarik Mac yang utama buat saya. Pada dasarnya memang saya hanya membutuhkan 'mesin tik'. Program yang saya pakai hanya Word dan internet. Jadi saya tidak akan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rambling&lt;/span&gt; tentang kehebatan Mac dalam hal desain grafis dan bikin musik.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; I don't do any of those stuffs in my laptop. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya &lt;a href="http://www.apple.com/macbookair/"&gt;Macbook Air&lt;/a&gt; yang ringan dan tipis, kesempurnaan Mac dalam semesta pribadi saya terwujud sudah: mesin tik ringan, bebas virus, bodi cantik. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;What more can I ask?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Outlet Macintosh favorit:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;IBK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ratu Plaza Lt. 3 No 37&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jl Sudirman, Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tlp (021) 727-95279&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PAULA'S CHOICE&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkT53XIvq5I/AAAAAAAAAfA/b4faMgSpZnI/s1600-h/paulaschoice.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 290px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SkT53XIvq5I/AAAAAAAAAfA/b4faMgSpZnI/s400/paulaschoice.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5351676986721807250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari kebutuhan kulit muka saya yang enggan ditempeli pewangi dan pewarna (tapi juga malas pakai produk dokter karena harus bolak-balik tebus resep), akhirnya dalam satu pencarian di internet saya menemukan situs &lt;a href="http://www.cosmeticscop.com/"&gt;Paula Begoun&lt;/a&gt; yang dikenal dengan julukan &lt;a href="http://www.cosmeticscop.com/"&gt;Cosmetics Cop&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan satu ini terkenal vokal dan kritis terhadap industri kecantikan yang menurutnya lebih banyak menyesatkan ketimbang mengedukasi. Paula bolak-balik diundang di acara-acara teve nasional di Amerika, salah satunya Oprah. 'Kitab' wajib karya Paula adalah &lt;a href="http://www.paulaschoice.com/product/beauty-bible-3/books"&gt;The Beauty Bible&lt;/a&gt; (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;those of you who happen to be make-up and skin care junkies... this book is a must-have! &lt;/span&gt;Panduan komplet dan kritis yang bisa menghemat uang Anda dan membuat kita menjadi konsumen yang lebih pandai). Paula pun akhirnya terjun langsung menjadi produsen produk perawatan kulit dengan lini bernama &lt;a href="http://www.paulaschoice.com/"&gt;Paula's Choice&lt;/a&gt; yang hanya dijual on-line. Saya langsung blingsatan, ingin mencoba produknya yang tentu menganut semua paham Paula, yakni: bebas pewangi, bebas pewarna, kemasan rapat, ukuran besar (Paula mengkritisi kemasan-kemasan heboh tapi ceroboh yang sering diproduksi oleh industri kecantikan, karena selain membuat isinya gampang teroksidasi, produk tersebut jadi mahal karena konsumen akhirnya membeli kemasan mewah, sementara isinya cuma sedikit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencarian saya membuahkan hasil. Ternyata Paula's Choice memiliki distributor di Jakarta. Dengan semangat saya menghubungi pemiliknya, Valentina Winata. Dengan baik dan cepat pula Valentina merespon. Hingga kini saya adalah pelanggan setia &lt;a href="http://www.paulaschoice-indo.com/"&gt;Paula's Choice Indonesia&lt;/a&gt;. Semua pemesanan saya lakukan via sms atau e-mail, sementara pembayaran lewat transfer BCA. Staf Paula's Choice&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;/span&gt; selalu melayani dengan baik dan pengiriman mereka cukup cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal harga, jika dibandingkan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;luxury product&lt;/span&gt; yang biasanya Anda lihat di lantai dasar mall-mall besar, maka &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; rata-rata &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;harga produk Paula's Choice dua-tiga kali lipat lebih murah dengan kuantitas dua kali lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;My Paula's moment? When I finally met Paula in person in 2007. She was here to launch Paula's Choice Indonesia. For the first time in my life, I knew how it felt to be star-struck. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dee's favorite:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Skin Balancing Cleanser.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; So far&lt;/span&gt;, inilah sabun pembersih terbaik yang pernah saya temukan seumur hidup saya. Lembut, bersih tapi tidak kesat (rasa kesat artinya ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;build-up&lt;/span&gt; sabun tertinggal di kulit tapi sering disalahartikan sebagai sensasi 'bersih'), dan efektif untuk pengangkatan make-up. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Beautiful Body Butter: inilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;body butter&lt;/span&gt; dalam arti sebenarnya. Pekat seperti mentega dan melembapkan kulit kering dengan instan. Meski tanpa pewangi, aroma kakao aslinya yang lembut sangat lezat bagi indera penciuman.  &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Silky Start Sugar Scrub: ini juga&lt;span style="font-style: italic;"&gt; scrub&lt;/span&gt; gula yang mendekati &lt;span style="font-style: italic;"&gt;home-made scrub&lt;/span&gt; karena tidak mengandung unsur macam-macam. Kelembapan yang dihasilkannya sehabis mandi... &lt;span style="font-style: italic;"&gt;oh, so yummy!  &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Oil-absorbing Facial Mask: Sekarang ini saya lebih suka membuat sendiri masker wajah dari bahan-bahan alami. Tapi kalau Anda malas repot, masker ini adalah opsi yang tepat. Terbuat dari bahan dasar Milk of Magnesia, tinggal oleskan masker ini ke muka, tunggu sampai mengering, dan basuh... &lt;span style="font-style: italic;"&gt;voila! &lt;/span&gt;Wajah bersih, sejuk, lembap, dan tak berminyak. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;All Over Body &amp;amp; Hair Wash: Saya adalah pencinta sabun dan sampo wangi sampai akhirnya kulit saya terkena '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pregnancy itches'.&lt;/span&gt; Dan terpaksalah saya meninggalkan semua produk pewangi dari kulit tubuh saya. Sungguh sulit menemukan sabun cair dan sampo yang bebas pewangi. Untung saja Paula's Choice menyediakannya (sesuai dengan prinsip emas Paula: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"if you want to smell good, just light some scented candle or put perfume on your clothes, but not on your skin."&lt;/span&gt;). &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Barely There SPF 15: Jika dibutuhkan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;foundation&lt;/span&gt; ringan (yang sebenarnya lebih tepat diklasifikasikan sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'tinted moisturizer')&lt;/span&gt; ini bisa jadi alas bedak harian yang menyenangkan; tidak berlebihan, tidak berat di muka, sekaligus berfungsi sebagai tameng sinar matahari. Khusus bagi Anda yang senang dan terbiasa dengan alas bedak tebal, Barely There bukan pilihan yang memuaskan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cause it's really just... well, barely there. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lokasi/Kontak:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Paula's Choice Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jl. Raya Wolter Monginsidi No. 12B - Lt. 2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jakarta Selatan 12160&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ph. (021) 720 8543 / (021) 722 0986&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fax. (021) 722 3982&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-918435826040563187?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/918435826040563187/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=918435826040563187&amp;isPopup=true' title='46 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/918435826040563187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/918435826040563187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2009/06/dees-essential-list-1.html' title='Dee&apos;s Essential List #1'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SmADojhkyFI/AAAAAAAAAiI/oaCniEaDIKw/s72-c/montessori2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>46</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-1937109515686888453</id><published>2009-05-25T17:36:00.007+07:00</published><updated>2009-05-25T19:36:47.372+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Books That Tickle'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On Writing and Writership'/><title type='text'>Nge-blog: Perjalanan Panjang Dengan Hati</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(153, 255, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span&gt;Nge-blog: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Perjalanan Panjang Dengan Hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/Shp2jWzHm5I/AAAAAAAAAeI/Ht4pM3eFHQo/s1600-h/nge-blog-dengan-hati1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 205px; height: 299px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/Shp2jWzHm5I/AAAAAAAAAeI/Ht4pM3eFHQo/s400/nge-blog-dengan-hati1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339710657988631442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Awal bulan lalu, saya menerima e-mail permohonan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;endorsement&lt;/span&gt; dari Redaktur Gagas Media, &lt;a href="http://kandangwindy.blogspot.com/"&gt;Windy Ariestanty&lt;/a&gt;, yang kebetulan juga teman baik saya. Gagas berencana akan menerbitkan sebuah buku yang diambil dari blog seorang&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;blogger&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;senior bernama Pak Wicaksono. Di dunia maya, ia lebih dikenal dengan julukan &lt;a href="http://ndorokakung.com/"&gt;Ndoro Kakung&lt;/a&gt;. Setelah membaca beberapa tulisan beliau, tanpa ragu saya mengiyakan, bahkan mengirimkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;endorsement&lt;/span&gt; saya dalam waktu kurang dari sehari. Rekor tercepat saya dalam mengirimkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;endorsement&lt;/span&gt;. Bukan karena alasan kejar tayang atau asal-asalan, tapi memang sungguh tak sulit menuliskan kesan bagi tulisan yang memang berkesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu, saya dikirimi buku yang akhirnya terbit dengan judul &lt;a href="http://ndorokakung.com/2009/05/18/buku-pecas-ndahe/"&gt;“Nge-blog Dengan Hati”&lt;/a&gt; itu. Buku yang ringan (dalam arti sebenarnya—141 halaman dan ukurannya agak kecil). Namun isinya tidaklah sembarangan. Khususnya bagi para blogger atau minimal yang pernah merasakan nge-blog, banyak ketukan ‘aha!’ yang muncul dari kalimat-kalimat Ndoro Kakung yang lugas, humoris, sekaligus informatif tersebut, yang juga mengundang saya untuk kilas balik sejarah ‘karier’ nge-blog saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2006, saya membuat blog tanpa pengetahuan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;blogging&lt;/span&gt; sama sekali, bahkan tanpa ketertarikan untuk menseriusinya. Jujur, pada saat itu pun saya bahkan tak terlalu menyukai blog-blog lokal yang saya temui, yang kebanyakan isinya remeh-temeh, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;diary-ish&lt;/span&gt;, atau dalam istilah saya pribadi: ‘diare kata-kata’. Encer dan nggak penting. Beberapa rekan penulis juga mengatakan, “Alaah... nggak usah nge-blog! Langsung bikin buku saja.” Barangkali ada benarnya juga, karena saya cukup sering menemukan blogger yang memang menjadikan blog-nya semacam batu loncatan menuju target mereka sebenarnya, yakni menerbitkan buku. Namun, karena tak jua menemukan cara lain untuk berbagi tulisan-tulisan—yang sifatnya lebih menyerupai esai, puisi, tulisan spontan, dsb—akhirnya saya tetap nekat membuka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;account&lt;/span&gt; di Blogspot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah saya blogger seadanya, bergerak dengan kecepatan siput, dan tak pedulian. Saya menulis posting bisa dua bulan sekali, tidak mengulik fitur ini-itu, tidak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;blog walking&lt;/span&gt;, bahkan jarang berkomentar balik pada yang mampir. Baru setahun terakhir, pelan-pelan saya membuka diri dan mulai meneropong dunia blogger. Barulah saya melek dengan berbagai fenomena seputar nge-blog yang ternyata sangat menarik; dari mulai fenomena seleb-blog, cari uang lewat blog, berkarier lewat blog, sampai aneka tips untuk merawat dan mempopulerkan blog. Dengan kata lain, ternyata blog adalah sebuah ‘industri’ sendiri, yang menurut saya, tak kalah menarik dengan industri buku yang lebih dulu saya kenal.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penulis, lama kelamaan relasi saya dengan blog pun bertransformasi. Secara alami, saya merasa terpanggil untuk menulis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;khusus&lt;/span&gt; di Dee-Idea, dan tidak lagi melihatnya sebagai rak pajangan ‘alternatif’. Saya mulai meluangkan waktu secara teratur untuk merawat blog saya, membalasi komentar-komentar yang masuk, atau minimal mencari foto untuk artikel saya dengan lebih serius. Sungguh, bahkan saya merasa bahwa lewat media blog inilah saya bisa berinteraksi paling dekat dengan pembaca. Tanpa terasa, dan tanpa rencana, blog akhirnya memiliki tempat yang kurang lebih sejajar dengan buku-buku saya lainnya. Di hati saya, blog ini mulai bertransformasi menjadi ‘anak jiwa’, yang perlu dirawat dan dibesarkan dengan sama baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karier nge-blog Ndoro Kakung amat jauh lebih advans dibandingkan saya, tapi cukup banyak hal yang saya sepakati dengan beliau. Seperti Ndoro Kakung, sejak dulu saya percaya bahwa kekuatan blog sesungguhnya adalah konten. Isi. Kita bisa aktif gila-gilaan di beragam jejaring sosial internet demi memompa jumlah pengunjung, atau mendandani blog kita seindah dan secanggih mungkin, tapi—sebagaimana kunci semua relasi—akhirnya kita selalu kembali pada isi dan sentuhan hati. Persis sama dengan apa yang selalu saya ulang-ulang seperti kaset rusak ketika orang bertanya apa rahasia buku sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya, kenapa kok nge-blog harus pakai hati? Sementara sekarang orang bisa tinggal pasang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;plug-in&lt;/span&gt; dan isi blog terbarui secara otomatis tanpa repot. Ndoro Kakung lantas menjawab: “Dengan membuat sendiri setiap posting, mengumpulkan setiap remah ide menjadi bangunan utuh, kita bisa belajar banyak tentang proses. Proses memberi kita kesalahan, dan pelajaran. Ia menempa kita menjadi seorang blogger yang lebih baik, lebih baik lagi, dan lebih baik lagi.” Itu juga menjadi pengalaman saya. Walau dulunya sempat meremehkan, tak terkatakan jasa nge-blog bagi pengasahan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;skill&lt;/span&gt; saya menulis. Dalam berbagai forum saya selalu berkata bahwa menulis bagaikan otot yang perlu dilatih sedikit-sedikit tapi konstan. Bagi yang ingin badannya sebesar Ade Rai, jangan mimpi bisa minum ramuan ajaib dan ototnya membuncah dalam semalam. Dia harus sering-sering ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gym&lt;/span&gt; dan berlatih dengan tekun. Bagi saya, ibarat langganan nge-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;gym&lt;/span&gt;, blog adalah sasana berlatih menulis yang nyaman dan ideal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak kalah menarik adalah cuplikan di sampul belakang buku Ndoro Kakung: “Mengisi blog bukan seperti ikut lomba lari jarak pendek; melejit begitu bendera &lt;span style="font-style: italic;"&gt;start &lt;/span&gt;dikibaskan untuk berhenti segera dalam tempo singkat. Mengelola blog itu ibarat lari maraton, mungkin lebih jauh lagi. Begitu mulai, kita tak perlu bergegas. Atur kecepatan dan napas, juga irama. Perjalanan begitu panjang. Kita tak perlu buru-buru berhenti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninjau ulang sejarah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;blogging&lt;/span&gt; saya, mudah rasanya untuk berlindung di kalimat di atas, karena saya pun memulai nge-blog dengan amat, sangat perlahan. Tapi sulit dipungkiri juga kebenaran ucapan Ndoro Kakung. Setidaknya karena saya menemukan fenomena yang sama dalam dunia kepenulisan. Begitu banyak orang yang kesusu untuk buru-buru beken, buru-buru eksis, buru-buru laku, tanpa mempedulikan satu faktor penting: belajar menulis, dan berkarier menulis, adalah proses yang amat panjang. Inilah salah satu karier langka di dunia yang bisa dilakoni seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kata pengantarnya, Windy selaku penerbit menuliskan: “Saya kerap bertemu banyak blogger yang ingin menerbitkan buku. Atau bertemu penulis lain yang ingin mengupas sejuta teknik lain tentang nge-blog. Ujungnya, semua bermuara kepada kepentingan ekonomis atau keinginan untuk tenar.” Windy lalu menambahkan, bahwa tentu saja semua itu tidak keliru, tapi faktor ‘hati’—meski terkesan melankolis di tengah sifat kapitalis yang kian marak—adalah semangat yang justru akan membuat kita menghasilkan sesuatu yang berbeda. “Di antara ribuan buku yang terbit, atau blog yang dibuat setiap harinya, justru hati yang memiliki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;passion&lt;/span&gt;lah yang memberikan kekhasan pada karya kita.” Lagi-lagi, kepala saya mengangguk setuju. Apa yang ditulis Windy, terutama karena dia datang dari sudut pandang penerbit, menjadi salah satu mutiara yang patut kita renungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah melihat contoh-contoh blog yang sukses dengan fenomenal, salah satunya blog &lt;a href="http://radityadika.com/"&gt;Raditya Dika&lt;/a&gt;, yang tak hanya berhasil dibukukan, bahkan sekarang ia hadir dalam bentuk sinema. Suatu lompatan yang luar biasa. Dalam satu forum bedah buku di mana saya bertemu Dika dan mengobrol langsung dengannya, dia dengan tegas berkata, awal dia nge-blog pun semata-mata untuk kepuasan sendiri saja (dan itu memang tergambar cukup jelas dari blognya). Saat tren buku jadi blog belum populer, berbekal keyakinan akan otentisitasnya, Dika lalu nekat mendatangi kantor Gagas Media dan meyakinkan sendiri pada redakturnya bahwa blognya unik, menarik, dan layak terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua dari kita senekat Dika, atau sepiawai Ndoro Kakung. Tapi satu benang merah yang bisa kita lihat dengan jelas dari profil para blogger kawakan tersebut adalah: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;they write with passion. They write for a long run.&lt;/span&gt; Yang artinya, mereka menulis dengan semangat hati. Dan mereka tak berhenti. Formula sederhana itu dapat diaplikasikan pada kita semua. Tidak harus sering, tidak harus jadi posting yang populer, tidak harus bagus, tapi menulislah dari hati. Dan menulislah terus.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-1937109515686888453?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/1937109515686888453/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=1937109515686888453&amp;isPopup=true' title='110 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/1937109515686888453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/1937109515686888453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2009/05/nge-blog-perjalanan-panjang-dengan-hati.html' title='Nge-blog: Perjalanan Panjang Dengan Hati'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/Shp2jWzHm5I/AAAAAAAAAeI/Ht4pM3eFHQo/s72-c/nge-blog-dengan-hati1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>110</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-6898656430738663787</id><published>2009-05-10T12:15:00.008+07:00</published><updated>2009-05-12T12:34:15.821+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='God As I Experience'/><title type='text'>Ketuhanan Yang Ma[s]a Esa[?]</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(153, 255, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Ketuhanan Yang Ma[s]a Esa[?]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SgZlFhtAv5I/AAAAAAAAAdo/H7oTaGjbk38/s1600-h/numberone-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 154px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SgZlFhtAv5I/AAAAAAAAAdo/H7oTaGjbk38/s320/numberone-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5334061954287845266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Keyakinan pada Tuhan yang Esa adalah fondasi mendasar bagi bangsa kita. Saking elementalnya, dicantumkanlah prinsip tersebut sebagai sila pertama dari Pancasila. Buah-buah pengamalan yang ditumbuhkan dari sila tersebut antara lain adalah kerukunan umat beragama, tepa salira, toleransi, serta konsep-konsep cantik lainnya. Dalam percakapan sehari-hari kita dapat ‘membauinya’ pada kalimat-kalimat klasik seperti: “jalannya lain-lain tapi toh tujuannya satu” atau “cuma caranya saja yang beda-beda tapi Tuhannya satu”, dst. Namun, sama seringnya pula kita menemukan aneka kontradiksi yang menemani konsep-konsep cantik dan kalimat-kalimat bijak tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini saya diberi kesempatan untuk menonton pra-rilis satu film indie berjudul &lt;a href="http://godisadirector.com/"&gt;“Cin[T]a”&lt;/a&gt;. Sebuah film dengan premis dan tema yang menarik; bercerita tentang Tuhan, cinta, dan perbedaan. Di film itu kita menemui dilema yang banyak dialami orang-orang: hubungan cinta beda agama. Dilema yang akhirnya berujung pada pilihan: pilih pacar atau Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa banyak sudah hati manusia yang nelangsa akibat dilema klise itu; saat benang kusut itu mulai teraduk: mencintai pacar… tidak mau berpisah… tidak mau mengkhianati Tuhan… tapi kenapa harus ada cinta… bukannya cinta juga diciptakan Tuhan… tapi agama bilang tidak boleh menomorduakan Tuhan… tapi kan, katanya cara saja yang beda-beda tapi Tuhannya satu… dan benang itu terus mengusut. Belum lagi Tuhan jarang berdiri sendiri, Ia membawa institusi agama, orang tua, keluarga besar, adat istiadat, bahkan aturan pemerintah Indonesia yang melarang pernikahan beda agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru persoalan asmara. Ketuhanan Yang Maha Esa pun masih harus menempuh berbagai tantangan ketika bersinggungan dengan isu politik, kekuasaan, uang, dan fanatisme. Seringnya, dalam naungan payung konsep mulia tentang keesaan Tuhan, manusia tetap harus memilih untuk mempertahankan perbedaan. Tak jarang sampai berdarah-darah. Kontradiksi yang sempurna digambarkan oleh sebuah dialog dalam film &lt;a href="http://godisadirector.com/"&gt;“Cin[T]a”&lt;/a&gt;, ketika salah satu tokoh utamanya berkata: “Tuhan memang satu, tapi tetap saja Tuhanku yang paling benar.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika kita benar-benar jujur, hampir semua dari kita sama seperti tokoh film tadi; oke, di mulut kita setuju Tuhan itu satu, tapi nyatanya selalu ada Tuhan yang paling benar. Jadi, sebetulnya, Tuhan mana yang kita bicarakan? Jangan-jangan, selama ini ada dua Tuhan; yang Esa dan Tidak Esa. Jangan-jangan, selama ini kita keseleo lidah, menggunakan terminologi “Tuhan” padahal yang kita maksud adalah “agama”. Atau, jangan-jangan, Tuhan memang tidak Esa. Keesaan hanyalah ilusi yang kita ciptakan sebagai obat penawar dari perbedaan yang terkadang begitu menyakitkan dan merepotkan jika bergesek. Intinya, dari mana kita tahu secara langsung dan absolut bahwa Tuhan itu benar-benar Esa? Kata orang? Kata pemuka agama? Kata kitab? Kata pemerintah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tuhan yang malang, &lt;/span&gt;pikir saya. Ia begitu terdistorsi dan terasing, meski begitu banyak orang mengaku telah mengenal-Nya, bahkan secara kolektif menggunakan keberadaan-Nya sebagai dasar bernegara. Tidak heran kata “toleransi” begitu populer dalam konsep keagamaan kita, karena dengan kontradiksi yang kita pegang tentang Tuhan, hanya sampai toleransilah kita mampu berjalan. Dan kembali saya ingat perkataan Romo Mangun, bahwa seharusnya kita berlandaskan “apresiasi” beragama, bukan “toleransi”. Toleransi berarti ‘silakan berbeda selama tidak mengganggu saya’. Artinya, toleransi punya batas. Toleransi punya syarat. Dan karena itu jugalah ia cocok dengan lidah kita yang bercabang, yang sepakat dengan keesaan Tuhan tapi siap membacok teman jika berani macam-macam dengan Tuhan-“ku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi tergelitik untuk bertanya: tidakkah lebih baik—dalam arti: lebih rileks dan realistis—jika kita menerima kenyataan bahwa Tuhan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;belum tentu&lt;/span&gt; Esa? Mengapa kita harus memaksakan diri dengan keesaan Tuhan jika pengalaman spiritual kita pribadi belum membuktikannya? Untuk apa jadi munafik, jika membedakan Tuhan dan agama saja kita masih tersandung-sandung; membedakan isi dan bungkus saja masih tertukar-tukar? Daripada menjadikannya sebagai dalil tak tergoyahkan, teori yang mati, tidakkah lebih baik—dalam arti: lebih adil dan sahih—jika keesaan Tuhan dijadikan sebuah pengalaman yang hidup? Biarlah mereka, yang memang sudah lahir-batin-luar-dalam mengalami keesaan Tuhan, yang kemudian berkata bahwa Tuhan itu ternyata satu adanya. Bagi mereka yang belum mengalami, biarlah Tuhan tidak perlu esa. Biarkan saja Tuhan berbeda-beda. Biarlah masih ada Tuhan-“ku” dan Tuhan-“mu”. Termasuk, biarkan juga mereka yang mengalami tidak adanya Tuhan. Bahkan Tuhan tidak perlu dipaksakan ada, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru spiritual terkenal, Osho, berkata: ada perbedaan besar antara percaya dan tahu. Percaya senantiasa dibarengi oleh asumsi dan pengharapan, sementara tahu senantiasa dibarengi oleh pengalaman. Kita tak perlu percaya bahwa matahari bersinar, kita TAHU bahwa ada matahari di langit yang menyinari Bumi terus-menerus. Kita mengalaminya secara langsung. Jika kita berani kritis: seberapa banyak pengalaman langsung kita tentang Tuhan hingga kita berani mengatakan bahwa Ia cuma SATU? Bahwa Ia sama dan seragam bagi semua orang, layaknya matahari bagi Bumi? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Percayakah&lt;/span&gt; kita bahwa Tuhan itu esa atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tahukah&lt;/span&gt; kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1999, untuk pertama kalinya saya memberanikan diri untuk mempertanyakan ulang semua yang saya percayai tentang Tuhan, termasuk sejauh mana saya telah menyalahgunakan konsep iman selama ini. Karena, tanpa mengecilkan arti kata “iman” yang didefinisikan sebagai 'percaya sebelum melihat', mudah sekali kita berlindung di balik keimanan untuk mengklaim berbagai hal yang tak kita alami langsung. Hal-hal yang sebenarnya cuma asumsi berkarat dan berkerak tapi kita anggap sebagai kebenaran mutlak. Dan baru saat itulah, saat saya berani melonggarkan cengkeraman saya atas konsep kebenaran, untuk pertama kalinya pula secara tulus saya melihat perbedaan dan keberagaman sebagai sebuah perayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beranikah kita meninjau iman kita, asumsi kita, kepercayaan kita, keyakinan kita—dan menerimanya sebagai sebuah bentuk keterbatasan dan ‘kemalasan’ kita untuk mengenal-Nya langsung. Sudah berapa lamakah kita berpangku tangan dan membiarkan orang lain atau sebuah institusi merumuskan kebenaran dan Tuhan bagi kita? Mereka yang juga belum tentu mengalaminya langsung, melainkan mewarisi pengetahuan secara turun-temurun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan adalah sesuatu yang mati, kata Osho lagi. Hanya pengalamanlah yang hidup. Dan saya teringat pertemuan saya dengan seorang bhikku, bernama Bhante Wongsin, di Lembang tahun 2005. Pada akhir pembicaraan kami, beliau berkata: “Jangan percaya semua omongan saya. Anda harus membuktikannya sendiri.” Saya tersentak waktu itu, dan kalimat beliau terus membekas hingga kini.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Jangan percaya. Buktikan sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beranikah kita untuk mencantumkan tanda tanya di ujung semua yang kita yakini dan percayai? Dan mencantumkan tanda titik hanya jika kita telah mengalaminya langsung, membuktikannya sendiri; saat perjalanan kita dari mempercayai akhirnya tiba di mengetahui.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-6898656430738663787?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/6898656430738663787/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=6898656430738663787&amp;isPopup=true' title='156 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/6898656430738663787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/6898656430738663787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2009/05/keyakinan-pada-tuhan-yang-esa-adalah.html' title='Ketuhanan Yang Ma[s]a Esa[?]'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SgZlFhtAv5I/AAAAAAAAAdo/H7oTaGjbk38/s72-c/numberone-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>156</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-4282241723176195687</id><published>2009-04-12T17:15:00.005+07:00</published><updated>2009-04-15T11:07:56.301+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nostalgia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal Note'/><title type='text'>Seratus Bagiku</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(153, 255, 153); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Seratus Bagiku&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya saya akan bercerita tentang sejarah “Seratus” dalam hidup saya. Bukan karena cerita itu teramat penting dan besar, tapi justru karena keremehannya yang luar biasa. Dan remehnya itulah yang menarik bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah pembicaraan iseng dengan Reza, dia berceletuk tentang satu jajanan legendaris tahun ’80-an bernama “Es Jolly”. Otak saya langsung berputar dan menggali kenangan tentang Es Jolly. Siapa yang (dulu) tidak kenal Es Jolly? Seperti Oreo di masa sekarang yang terkenal dengan kredo “diputar, dijilat, dan dicelup”-nya, maka Es Jolly pada masa itu terkenal dengan gerakan mematahkan batang es menjadi dua, lalu menyeruput dengan hebohnya sampai pipi kempot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Es Jolly begitu kencang didagangkan dan diiklankan. Saya, yang pada saat itu masih SD, juga jadi korban iklan. Saya hafal mati ritual mematahkan dan menyeruput batang esnya, saya tahu bahwa rasa yang paling difavoritkan khalayak adalah Orange dan Grape, tapi saya pun tersadar akan sesuatu yang aneh… kok, rasa-rasanya saya sendiri belum pernah mencicipi Es Jolly. Reza melongo tak percaya, “Masa belum pernah?” serunya. Saya mengingat-ingat lebih keras. Melintaslah kenangan Dewi kecil yang berpura-pura mematahkan es lalu menyeruput udara hampa dalam kepalan tangannya, air liur yang mengumpul saat membayangkan sensasi rasa Es Jolly yang ramai dibicarakan orang… dan, ternyata memang benar: saya hanya sering berkhayal menikmati Es Jolly, tapi pada kenyataannya saya belum pernah mengecapnya sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lalu iseng menelusuri misteri tadi: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mengapa? &lt;/span&gt;Mengapa saya tak pernah mencicip Es Jolly?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelusuran itu lantas mempertemukan saya dengan sekeping logam. Seratus perak. Angka keramat yang menghiasi ribuan hari-hari saya sewaktu kecil.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya empat tahun terakhir masa bersekolah saya di SD, ibu saya dengan setia memberikan uang jajan yang sama: seratus perak. Mungkin karena pada masa itu inflasi tidak meroket dengan kecepatan menggila seperti sekarang, saya bisa bertahan empat tahun dengan jumlah uang jajan yang tetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak SD bertubuh ceking, dengan logam 100 perak di kantong, haruslah pintar-pintar menata energi tubuhnya dalam enam jam bersekolah dengan dua kali slot istirahat. Setiap bel istirahat berbunyi saya punya jatah 50 perak untuk menuntaskan dahaga serta mengenyangkan perut. 25 perak untuk satu jenis makanan. 25 perak untuk satu jenis minuman. Demikian seperti itu setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saya ngiler pada satu makanan atau minuman yang harganya di atas 25 perak, maka neraca keseimbangan saya bubar. Terpaksa memilih satu: menahan haus atau menahan lapar. Jika beberapa dagangan favorit tertentu baru muncul pada jam bubar sekolah, saya pun harus rela gigit jari sewaktu istirahat karena 50 perak saya terpaksa ditahan pemanfaatannya sampai jam 12 siang nanti. Tanpa terasa, hidup saya bergravitasi di angka “selawe” (istilah nasional: 25 perak). Apa pun yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;selawe&lt;/span&gt; berarti di dalam jangkauan, sementara apa pun yang di atas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;selawe&lt;/span&gt; berarti pengorbanan atau cuma jadi khayalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut daftar menu standar saya saat bersekolah:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bala-bala&lt;/span&gt; (istilah nasional: bakwan) dan 1 limun (sirup kuning dalam plastik dengan sedotan berdiameter super kecil yang elastis)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cilok&lt;/span&gt; (singkatan dari: aci dicolok) ukuran besar dan 1 es lilin yoghurt&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1 pisang goreng dan 1 es nangka&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1 bungkus kerupuk (atau dua bungkus, karena kadang-kadang masih ada yang harganya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;selawe&lt;/span&gt; dua) dan 1 buah iris&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1 kue &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bandros&lt;/span&gt; (istilah nasional: tidak tahu) dan 1 es teh&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;… dan aneka kombinasi makanan berharga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;selawe&lt;/span&gt; lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Misteri Es Jolly terungkap sudah. Meski saya tidak ingat persis berapa harganya, bisa dipastikan bahwa Es Jolly berada di luar jangkauan”orbit” seratus perak saya. Terjawab jugalah mengapa saya baru mencicip rasa Teh Botol di bangku SMP: karena Teh Botol dulu harganya 75 perak. Benar-benar mengacaukan neraca ekonomi. Saya hanya sanggup melirik teman yang menyeruput Teh Botol berbongkah es dalam plastik sambil menerka-nerka: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kayak apa sih rasanya?&lt;/span&gt; Terjawab pula mengapa saya baru mencicip Coca Cola—juga—waktu SMP. Karena harganya seratus perak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga saya bukan tergolong keluarga miskin. Walaupun cenderung sederhana, kami termasuk keluarga ekonomi menengah yang masih sanggup menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi, punya satu mobil, rumah yang cukup luas, dan makanan bergizi setiap hari. Namun saya tidak pernah tahu alasan pasti kenapa ibu saya selama empat tahun hanya memberikan uang saku 100 perak. Barangkali itulah yang akan tetap bertahan menjadi sebuah misteri. Karena ketika beranjak besar barulah saya sadar perbedaan pengalaman kuliner masa kecil saya dengan hampir semua orang yang saya temui. Rata-rata mereka mencicip jajanan yang saya cicip, tapi saya tidak mencicip apa yang kebanyakan dari mereka cicip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selingkar koin seratus menjadi tempat saya berputar selama bertahun-tahun. Sekali lagi, saya tidak tahu pasti manfaat penelusuruan iseng ini. Namun sejenak saya tercengang bagaimana kekuatan jumlah uang saku dan ruang yang dimungkinkannya dapat membentuk semesta pengalaman seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan pengalaman yang dihadirkan uang saku Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;EPILOG&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Barangkali akibat pengalaman masa kecil tersebut, inilah satu kebiasaan yang (entah kenapa dan entah bagaimana) bertahan hingga hari ini saat usia saya sudah kepala tiga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SeG_tp8rwBI/AAAAAAAAAco/50IbH92FTGA/s1600-h/image002.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SeG_tp8rwBI/AAAAAAAAAco/50IbH92FTGA/s400/image002.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323747025604034578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PS-1. Ide epilog ini dicetuskan oleh Reza, yang tadinya saya mintai tolong untuk mengambil gambar tangan saya memegang sekeping uang 100 perak, tapi setelah dia melihat “koleksi” saya, dia merasa bahwa kantong tersebut lebih menarik dijadikan objek gambar sekaligus kesimpulan tulisan ini (sambil dia tertawa terbahak-bahak, tentunya). &lt;span style="font-style: italic;"&gt;And… yeah… I think he’s right. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS-2. Isi kantong itu sudah berkurang tiga perempatnya karena koin 500-an sudah dipakai untuk bayar parkir dan tol, sementara sebagian besar koin lainnya sudah saya “recycle” untuk Keenan berlatih menabung di celengan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-4282241723176195687?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/4282241723176195687/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=4282241723176195687&amp;isPopup=true' title='72 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/4282241723176195687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/4282241723176195687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2009/04/seratus-bagiku.html' title='Seratus Bagiku'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SeG_tp8rwBI/AAAAAAAAAco/50IbH92FTGA/s72-c/image002.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>72</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-3241209572532423161</id><published>2009-03-29T17:05:00.005+07:00</published><updated>2009-03-30T18:09:35.646+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nature-Green-EcoLiving'/><title type='text'>Padamkah Lampumu Semalam?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(153, 255, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Padamkah Lampumu Semalam?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SdCn0h-8Z9I/AAAAAAAAAcQ/m6g6w35xFbM/s1600-h/Earth+Hour+Tree.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SdCn0h-8Z9I/AAAAAAAAAcQ/m6g6w35xFbM/s400/Earth+Hour+Tree.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5318935680841967570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam sebelum pukul 20.30, saya dan Reza mulai makan malam. Kebetulan kami hanya berdua di rumah. Pembantu saya, setelah tahu kami akan mematikan listrik selama sejam nanti, minta izin main keluar. Setelah makan malam selesai, kami berdua duduk di ruang teve, menghadap kotak listrik hitam yang sudah padam itu. Reza mengambil bantal meditasinya. Saya mengambil posisi di sofa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 20.30 tepat. Pembantu saya keluar rumah seraya mematikan sakelar utama di luar. Ruangan gelap total. Tak ada lilin. Tak ada deru AC. Tak ada bunyi getar kulkas atau dispenser. Kami mengandalkan sisa terang dari jalanan dan embusan angin dari dua daun jendela yang terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat puluh menit dari sejam yang digaungkan dan didengungkan seluruh dunia sebagai Earth Hour, kami duduk dalam kesunyian. Kegelapan. Sesekali terdengar suara-suara dari luar: satpam yang mengobrol dengan tetangga dan membicarakan bahwa banyak rumah di kompleks yang memadamkan listrik malam itu, anak tetangga mengobrol dengan ibunya sambil membunuh waktu sejam tak berlampu, bola basket beradu dengan aspal, suara kaki berlari-lari. Cukup banyak kegiatan di luar sana, yang hanya bisa kami nikmati dan amati lewat meditasi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejak beberapa hari yang lalu, beberapa teman sudah mengumumkan partisipasi mereka di Earth Hour lewat status Blackberry atau Facebook atau e-mail. National Geographic bahkan berkomitmen untuk mematikan siarannya selama sejam. Earth Hour dibahas di teve, di radio, di majalah, di internet. Iklan “Vote for Earth” berkumandang di setiap jeda iklan teve Star World. Luar biasa, pikir saya. Sebegitu terhubungnya dunia hingga gerakan sederhana seperti mematikan lampu ternyata bisa dimobilisasi di satu muka Bumi ini. Bukan lagi utopi, melainkan sungguhan terjadi. Selama sejam kita ditantang untuk mengorbankan ketergantungan kita terhadap listrik dan memberi sehela napas pada Bumi. Entah berapa orang yang berpartisipasi, dan apakah bisa dihitung pasti? Namun, dengan melihat beberapa tetangga saya ikut berpartisipasi, saya tersenyum dalam hati. Ternyata masih ada yang peduli. Ternyata harapan itu tak terlalu tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh menit tersisa. Kami berdua hanya ngobrol ngalor-ngidul, membicarakan hal-hal kecil sambil berbaring meregangkan tubuh. Meresapi sisa kegelapan dan malam yang berangsur sejuk. Sambil bangkit berdiri, Reza berkata bahwa ia tidak keberatan jika harus mengulang ritual sejam tanpa listrik ini dalam skala bulanan atau dua mingguan. Saya pun berpikir hal yang sama. Berapa jam lagi yang sudi kita persembahkan? Selagi kita masih bisa menyerahkannya sebagai persembahan, bukan karena keterpaksaan, atau karena keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakelar kembali dinyalakan. Listrik kembali mengaliri rumah kami; menghidupkan kembali lampu, AC, kulkas, dispenser; mendentingkan kembali keyboard dan kami pun bernyanyi-nyanyi. Semua kenyamanan ini… kemudahan ini… telah diberikan alam pada kita semua selama bergenerasi-generasi. Cuma-cuma. Jika sejam berpuasa dari itu semua dapat menolong alam untuk bertahan, tidakkah itu menjadi hadiah yang mudah, murah, sekaligus tak ternilai harganya?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-3241209572532423161?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/3241209572532423161/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=3241209572532423161&amp;isPopup=true' title='54 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/3241209572532423161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/3241209572532423161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2009/03/padamkah-lampumu-semalam.html' title='Padamkah Lampumu Semalam?'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SdCn0h-8Z9I/AAAAAAAAAcQ/m6g6w35xFbM/s72-c/Earth+Hour+Tree.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>54</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-1849542581154958761</id><published>2009-02-19T12:28:00.004+07:00</published><updated>2009-02-19T12:43:25.105+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On Writing and Writership'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On Life and Living'/><title type='text'>Merindu Dunia Mungil</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(153, 255, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Merindu Dunia Mungil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SZzwJWWIN3I/AAAAAAAAAaI/AClrWPoeHBQ/s1600-h/miniworld-2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 225px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SZzwJWWIN3I/AAAAAAAAAaI/AClrWPoeHBQ/s400/miniworld-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304378504543483762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Memasuki bulan kedelapan saya pindah ke Jakarta, untuk pertama kalinya saya melakukan kegiatan ini: jalan sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari yang pas; tidak terik, angin berembus kadang semilir kadang kencang, awan di langit berserak membentuk formasi yang indah di mata. Saya berjalan di setapak khusus pejalan kaki yang disediakan kompleks tempat saya tinggal, yang dibuat sedemikian rupa di tengah taman, pasir, dan gerimbun bambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiupan angin membuat bambu di sekeliling saya bergesek dan menari. Terdengar suara serangga bersahutan, kawanan burung berkicauan, dan tampak seekor kucing menggeliat di atas rumput. Saya memerhatikan kontur tanah di kiri-kanan yang kadang membukit kadang melembah, rumput yang tumbuh pendek-pendek karena rajin dipotong oleh petugas taman kompleks. Dan saya melihat aliran sungai kecil di sebelah kiri, yang ketika saya ikuti ternyata berujung pada sungai yang lebih besar lagi, yang suaranya mampu menahan kaki saya diam berlama-lama di pinggirannya. Lalu saya masuk ke dalam fasilitas umum di mana saya temukan kolam dangkal berisi ikan beraneka ukuran. Riak air di atas kolam berkilau lembut diterpa matahari senja. Ada sekelompok ilalang yang bergoyang di sudut kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan kaki sore itu, satu hal yang terus bergaung di kepala: kemana saja saya selama ini? Delapan bulan saya tinggal di kompleks tersebut, kompleks sama yang menyimpan nyanyian bambu, kicauan burung, kor serangga, dan aliran sungai, tapi sore ini saya menemukan semua itu bagai harta karun terpendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat masa kecil dulu, saat kendaraan utama saya adalah tungkai kaki saya sendiri, paling banter roda sepeda. Saya juga ingat permainan masa kecil yang masih terus saya mainkan bahkan sampai SMP, yakni: main “orang-orangan”. Jujur, saya tidak tahu apakah istilah itu universal atau sebetulnya hanya istilah intern yang hanya berlaku di lingkup keluarga saya saja. Yang saya maksudkan adalah, permainan menggunakan benda-benda kecil yang dianggap sebagai “orang”, dan kita mainkan orang-orangan tersebut layaknya kehidupan manusia sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu kami kecil, orang tua kami jarang sekali membelikan mainan. Mereka dengan senang hati membiayai kami kursus piano, atau membelikan pensil warna, atau buku cerita, tapi tidak setahun sekali saya dibelikan mainan baru. Mainan adalah benda mahal dan amat sangat langka dalam hidup saya saat itu. Karena itulah, kami terpaksa menciptakan mainan sendiri. Menggunakan apa pun yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya ingat, kakak-kakak saya mengukir styrofoam menjadi aneka makanan, dan kami main ‘restoran-restoranan’. Pada satu masa, kami juga membuat aneka kue dari lilin malam, dan kami main jualan kue. Ada juga masanya kami bermain menggunakan white board, yang kami bagi jadi empat bagian, dan di masing-masing petak kami menggambar ‘koran-koranan’ buatan masing-masing. Lengkap dengan artikel dan iklan. Ada juga masanya kami membuat kartu-kartu ucapan, lalu saling kirim kartu ke satu sama lain. Namun dari semua permainan ciptaan sendiri itu, orang-oranganlah yang bertahan paling lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orangan favorit kami adalah bidak catur, terutama yang berbahan plastik. Kalau bidak catur tidak ada, pilihan berikutnya jatuh pada batu baterai (ukuran AA). Berhubung bentuk pion catur semua sama, cara membedakannya adalah dengan mengikatkan karet rambut di leher bidak tersebut. Ada yang pink, hitam, putih, biru, hijau, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orangan kami punya nama, punya pekerjaan, dan punya rumah. Rumah mereka dibangun dari buku-buku tebal yang berfungsi menjadi lantai, mereka juga punya tempat tidur yang dibuat dari kapas, punya mobil dari kotak korek api, punya meja makan dari balok kayu bekas, dst. Bahkan, karena kami biasa main berempat (saya, adik, dan dua kakak perempuan saya), kami bisa membangun satu kota sendiri untuk orang-orangan kami. Ada fasilitas sekolah, toko, dsb. Kami bisa main berjam-jam. Kami bisa main seharian. Satu-satunya agenda di kepala saya menjelang bubar sekolah adalah buru-buru pulang ke dunia mungil itu. Secepat-cepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun memainkan permainan yang sama, mata saya mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda. Seperti muncul sepasang mata alternatif yang memandang dunia dari ukuran pion catur. Dunia sehari-hari kita ini menjadi dunia raksasa. Dan justru di hal-hal yang mungil dan kecil, saya menemukan normalitas. Ketika saya melihat pohon melati yang tingginya hanya sebetis, pada saat yang bersamaan saya melihatnya laksana pohon beringin besar tempat orang-orangan saya bisa bermain, bernaung, bahkan tinggal di rumah pohon. Ketika saya melihat genangan air yang hanya sebesar telapak kaki, pada saat yang bersamaan saya menemukan kolam renang bagi orang-orangan saya. Dan akhirnya saya punya dua dunia sekaligus, yang sama-sama normal, yang sama-sama sahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata saya menjadi terlatih untuk mengamati hal remeh, hal mungil, hal kecil. Didukung oleh keterbatasan seorang anak yang baru mampu mengeksplorasi lingkungan dengan berjalan kaki, saya pun menemukan aneka keajaiban dalam hal-hal yang biasa. Hal-hal yang niscaya luput dari seorang dewasa yang mengamati dunia dari jendela mobil dengan kecepatan laju sekian tenaga kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah jalan kaki sore pertama di kompleks, esok harinya saya mulai berjalan pagi. Terkadang, jika pagi atau sore tak sempat, sebelum masuk rumah, saya dan Reza berjalan kaki malam-malam. Memandangi gerimbun bambu yang kini menyerupai bayang-bayang, menikmati bebunyian yang kini didominasi suara jangkerik. Satu hari, kembali kami beruntung dan mendapati malam yang indah. Sebagian besar langit tampak jernih. Bintang bersembulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu titik, kami berhenti dan duduk. Seperti dua bocah polos yang masih gampang tercengang, kami terlongo-longo melihat bintang-bintang yang sepertinya semakin dilihat malah muncul tambah banyak. Dalam waktu lima menit, langit di atas kepala kami mendadak padat oleh titik-titik cahaya. Kami lalu berdoa, bergantian, mengucap syukur atas apa pun yang melintas di kepala. Dan yang pertama kali menyeruak di hati saya adalah ucapan syukur bahwa saya diingatkan untuk menikmati keindahan dalam hal-hal kecil. Keluarbiasaan dalam hal-hal biasa. ‘Kebesaran’ dalam ‘kemungilan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersadar betapa saya merindukan dunia mungil itu. Dunia yang bisa diteropong hanya kalau menggunakan mata ‘orang-orangan’. Mata yang sempat begitu terlatih. Mata yang mengajarkan saya untuk menjadi seorang pengamat. Mata yang mengajarkan saya untuk menjadi seorang penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini, di acara pertemuan klub pembaca di Toko Buku Aksara, seorang pengunjung yang mengaku menyukai detail dalam salah satu cerita pendek saya bertanya: kok bisa, sih? Bagaimana caranya? Dan saya harus kembali pada jawaban ini lagi: mengamati. Seorang penulis harus memiliki mata seorang pengamat. Dalam hati saya, kisah panjang permainan ‘orang-orangan’ kembali bertutur tanpa bisa dibendung. Kisah yang barangkali terlalu panjang untuk dicerna dalam sebuah diskusi buku. Tapi tidak cukup panjang untuk direnungkan dalam satu sesi jalan kaki.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-1849542581154958761?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/1849542581154958761/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=1849542581154958761&amp;isPopup=true' title='37 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/1849542581154958761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/1849542581154958761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2009/02/merindu-dunia-mungil.html' title='Merindu Dunia Mungil'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SZzwJWWIN3I/AAAAAAAAAaI/AClrWPoeHBQ/s72-c/miniworld-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>37</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-6060925960315598902</id><published>2009-02-02T17:34:00.015+07:00</published><updated>2009-02-06T21:12:15.480+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal Note'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On Life and Living'/><title type='text'>Dee Manifesto: Lesser Living For A Fuller Life</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 255, 153); font-weight: bold;"&gt;Dee Manifesto: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 255, 153); font-weight: bold;"&gt;Lesser Living For A Fuller Life&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Own less. Create more.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Buy less. Share more.&lt;br /&gt;Work less. Play more.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Less media gazing. More sky gazing.&lt;br /&gt;Less cellphone time. More reading time.&lt;br /&gt;Less noise. More silence.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Less impulsive shopping. More frugal consuming.&lt;br /&gt;Less wanting. More gratitude.&lt;br /&gt;Less needing. More contentment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Explain less. Act more.&lt;br /&gt;Stress less. Laugh more.&lt;br /&gt;Think less. Feel more.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Less promises. More surprises.&lt;br /&gt;Less performances. More inquiries.&lt;br /&gt;Less concepts. More experiments.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Answer less. Question more.&lt;br /&gt;Comply less. Question more.&lt;br /&gt;Believe less. Question more.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Less known. More unknown.&lt;br /&gt;Less handed-down beliefs. More self-discoveries.&lt;br /&gt;Less fixation. More freedom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Talk less. Listen more.&lt;br /&gt;Analyze less. Experience more.&lt;br /&gt;Judge less. Observe more.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Less concrete. More soil.&lt;br /&gt;Less tabloids. More trees.&lt;br /&gt;Less smoking sections. More fresh air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Criticize less. Appreciate more.&lt;br /&gt;Object less. Understand more.&lt;br /&gt;Exclude less. Include more.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Less knowledgeable. More innocence.&lt;br /&gt;Less target. More acceptance.&lt;br /&gt;Less doing something. More doing nothing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Attach less. Release more.&lt;br /&gt;Ignore less. Meditate more.&lt;br /&gt;Fear less. Breathe more.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Less addiction. More awareness.&lt;br /&gt;Less norms. More conscience.&lt;br /&gt;Less mindless. More mindfulness.&lt;br /&gt;. . .&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-6060925960315598902?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/6060925960315598902/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=6060925960315598902&amp;isPopup=true' title='56 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/6060925960315598902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/6060925960315598902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2009/02/dee-manifesto-lesser-living-for-fuller.html' title='Dee Manifesto: Lesser Living For A Fuller Life'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><thr:total>56</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-8139401245451317290</id><published>2009-01-23T22:54:00.016+07:00</published><updated>2009-01-25T16:49:20.894+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On Love and Loving'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keenan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Books That Tickle'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On Life and Living'/><title type='text'>Pelajaran Winnie Sang Penyihir</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(153, 255, 153); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Pelajaran Winnie Sang Penyihir&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SXnpUgrbGwI/AAAAAAAAAVg/DWNjWp9AgfQ/s1600-h/winniethewitch1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 247px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SXnpUgrbGwI/AAAAAAAAAVg/DWNjWp9AgfQ/s320/winniethewitch1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294519375529450242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana ritual kami setiap malam, Keenan minta dibacakan dongeng sebelum tidur. Dan seperti biasanya, saya memberikan kebebasan bagi Keenan untuk memilih buku yang ingin ia baca. Malam itu, ia memilih dongeng serial &lt;a href="http://www.oup.com/uk/minisites/winniethewitch/#"&gt;“Winnie The Witch”&lt;/a&gt;—enam buku yang masih licin dan rapi karena belum pernah dibaca. Sebulan yang lalu, bundel dongeng itu dihadiahkan sahabat saya tercinta: Tri (atau ‘Tante Tree’, jika diucapkan oleh Keenan, seperti melafalkan ‘tree’ dalam bahasa Inggris). Tantenya yang satu ini tinggal di Dubai dan pulang ke Indonesia cuma satu-dua kali setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika suka pada satu buku, Keenan biasanya mengulang-ulang buku yang sama. Butuh waktu panjang untuk akhirnya Keenan melirik materi baru. Saya, yang kebagian tugas membacakan, terpaksa bertahan dengan rasa bosan. Tak jarang saya jadi hafal isi buku-bukunya sampai kata per kata. Jadi, waktu dia memilih “Winnie The Witch” yang sudah sebulan nongkrong di rak, dalam hati saya bersorak-sorai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(hore! bacaan baru! akhirnya!)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuh semangat saya mulai membaca. Halaman pertama… &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wow!&lt;/span&gt; Saya takjub dengan ilustrasinya yang luar biasa detail. Kami bisa menghabiskan sepuluh menit sendiri hanya untuk membahas gambarnya yang begitu kaya. Proporsi antara panjang teks dan ilustrasi juga seimbang dalam tiap halamannya. Tidak membuat yang mendongeng belepotan atau napas kepayahan setelah habis satu buku. Belakangan saya tahu bahwa serial yang ditulis oleh Valerie Thomas dan diilustrasikan oleh Korky Paul ini adalah pemenang Children’s Book Award, dan sudah terjual dua juta eksemplar dari peluncuran pertamanya pada tahun 1987.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah dimulai dengan Winnie yang tinggal di rumah serba hitam. &lt;span class="fullpost"&gt;Dari mulai dinding sampai seprai... semuanya hitam. Winnie hanya ditemani seekor kucing bernama Wilbur—yang juga hitam. Satu-satunya yang bisa membedakan Wilbur dari ruangan dan seluruh isinya adalah matanya yang hijau. Begitu Wilbur tidur dan kelopak matanya menutup, maka ia hilang menyatu dengan rumah. Berkali-kali Winnie menduduki Wilbur secara tak sengaja. Dan itulah awal dari segala permasalahan antara Winnie dan Wilbur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SXnp3qeZM3I/AAAAAAAAAVo/HmPOWcVUDpw/s1600-h/WINNIE3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SXnp3qeZM3I/AAAAAAAAAVo/HmPOWcVUDpw/s320/WINNIE3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294519979454575474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah terjungkal dari tangga karena menyandung Wilbur yang sedang terlelap, Winnie lalu memutuskan untuk menggunakan sihirnya, dan… ABRAKADABRA! Wilbur berubah menjadi kucing hijau. Sekarang, di mana pun Wilbur berada, ia selalu terlihat. Termasuk saat Wilbur mencuri-curi tidur di tempat peraduan Sang Penyihir. Karena tidak mengizinkan Wilbur tidur di kasur, akhirnya Winnie meletakkan Wilbur di pekarangan rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SXnqaQ5oe6I/AAAAAAAAAVw/J_3Pw9FHVak/s1600-h/winnie4.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 147px; height: 101px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SXnqaQ5oe6I/AAAAAAAAAVw/J_3Pw9FHVak/s200/winnie4.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294520573884922786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Masalah baru timbul. Wilbur, yang sekarang berwarna hijau, kembali tak terlihat di tengah-tengah rumput. Bahkan saat ia membuka mata sekalipun, berhubung matanya juga hijau. Winnie, bangun dari tidurnya, lantas mencari Wilbur di pekarangan. Lagi-lagi, penyihir itu tersandung kucingnya sendiri, jumpalitan tiga kali di angkasa, dan tersuruk di tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, Winnie benar-benar kesal. Disambarnyalah tongkat sihir, dan… ABRAKADABRA! Wilbur berubah menjadi… warna-warni! Kepalanya merah, kupingnya kuning, kumisnya biru, badannya hijau, empat kakinya berwarna ungu, dan ekornya... pink! Winnie sangat puas. Sekarang, di mana pun Wilbur berada, baik di rumah maupun di pekarangan, ia pasti akan terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SXnquPnTRyI/AAAAAAAAAV4/jc0-RoqeIhA/s1600-h/winnie2.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 147px; height: 101px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SXnquPnTRyI/AAAAAAAAAV4/jc0-RoqeIhA/s200/winnie2.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294520917136983842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Namun, Wilbur tidak mau kembali ke rumah. Ia sangat malu dengan warna tubuhnya yang tidak karuan. Ia bahkan ditertawakan oleh binatang-binatang lain. Wilbur kabur ke puncak pohon tertinggi dan tidak mau turun-turun. Pagi sampai malam, Wilbur bertahan tidak pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SXoA5ngVgUI/AAAAAAAAAWY/8bPcUeEp0eo/s1600-h/winnie-house.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 147px; height: 101px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SXoA5ngVgUI/AAAAAAAAAWY/8bPcUeEp0eo/s320/winnie-house.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294545301784592706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Melihat Wilbur yang menderita, Winnie pun merasa sedih. Wilbur adalah segalanya bagi Winnie. Tapi ia malah membuat Wilbur sengsara karena kehendaknya sendiri. Winnie akhirnya beringsut ke pohon tempat Wilbur bergantung, dan dengan tongkat sihirnya ia mengubah Wilbur kembali hitam. Perlahan, kucing itu kembali turun ke tanah. Bersama Wilbur yang kembali di sisinya, Winnie menghadap rumahnya yang serba hitam, mengayun tongkat sihirnya di udara, dan… ABRAKADABRA! Rumah hitamnya berubah kuning dengan atap merah menyala, sofanya berubah putih, karpetnya menjadi hijau, tempat tidurnya biru, selimutnya pink, dan kamar mandinya putih berkilau. Dengan perubahan baru ini, Wilbur dapat terlihat dengan mudah… tanpa perlu berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku 32 halaman itu selesai didongengkan dalam sepuluh menit. Namun kesan yang tertinggal  tak terukur oleh waktu. Winnie mengingatkan saya pada kita semua. Kita, yang seringkali bersikukuh untuk mengubah seseorang, memermaknya agar sempurna di mata kita, memaksanya agar muat dan tepat dalam ruang hidup kita, memangkas atau menambalnya agar bisa pas dengan kebutuhan kita, tanpa peduli bahwa apa yang kita perbuat sesungguhnya adalah siksaan bagi yang bersangkutan. Dalam penjara logika dan mental kita masing-masing, kita berpikir bahwa mengubah seseorang adalah solusi yang realistis dan humanis. Atas nama cinta dan apa pun, kita bahkan merasa bahwa kita sedang berbuat kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Winnie Sang Penyihir mengingatkan kita bahwa ada satu hal penting yang sering terlupa: diri kita sendiri. Perubahan tak pernah terjadi oleh hal lain di luar kita, meski faktor eksternal bisa jadi pemicunya. Yang mampu menggerakkan perubahan sejati hanyalah kita sendiri. Seperti halnya Winnie yang luput membenahi rumahnya dan malah sibuk mengutak-atik Wilbur tanpa sadar kalau aneka sihirnya malah membuat Wilbur terdera karena menjadi sesuatu yang bukan dirinya, kita pun acap kali terlena dalam ekspektasi serta upaya untuk mengubah orang lain, dan malah lupa dengan pembenahan yang paling penting dan realistis yakni, sekali lagi, diri kita sendiri. Dan ini adalah masalah yang amat sering kita alami. Dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impian saya tertinggi adalah menulis buku anak-anak. Dan saya bahagia berhasil menemukan contoh yang luar biasa dari serial “Winnie The Witch”. Pesan yang begitu dalam dan bijaksana berhasil dikemas dengan indah dalam dongeng beralur sederhana dan gambar jenaka. Bukan cuma anak umur 4 tahun seperti Keenan yang belajar sesuatu. Kita yang dewasa pun dapat sejenak berkhayal menjadi Winnie, mengarahkan tongkat sihir ke diri kita, dan marilah kita utak-atik segala sesuatu yang perlu dibenahi, sebelum ada Wilbur lain yang terpaksa berubah jadi pelangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;PS. Tri, Winnie is your best gift to Keenan so far. Honestly, I didn’t expect it, especially since Captain Underpants  :) Thank you so much, sis. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-8139401245451317290?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/8139401245451317290/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=8139401245451317290&amp;isPopup=true' title='54 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/8139401245451317290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/8139401245451317290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2009/01/pelajaran-winnie-sang-penyihir.html' title='Pelajaran Winnie Sang Penyihir'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SXnpUgrbGwI/AAAAAAAAAVg/DWNjWp9AgfQ/s72-c/winniethewitch1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>54</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-7840088449101903061</id><published>2009-01-08T11:55:00.007+07:00</published><updated>2009-01-25T13:14:39.583+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditation Journal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Published Articles'/><title type='text'>Merenungi Meditasi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);font-size:180%;" &gt;Merenungi Meditasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;* Akan diterbitkan di majalah Intisari edisi khusus Mind, Body &amp;amp; Soul&lt;br /&gt;minggu ke-3 Januari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada salah satu sesi meditasi mingguan yang rutin saya jalani, hadirlah beberapa orang baru yang belum pernah ikut meditasi sebelumnya. Mereka lantas diberi kesempatan untuk bertanya seputar praktek meditasi. Sebaliknya, para peserta lama juga berkesempatan untuk ikut berbagi pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada satu orang yang bertanya: “Apakah praktek meditasi bisa mengurangi masalah?” Mungkin ia berharap meditasi bisa menjadi semacam metode &lt;span style="font-style: italic;"&gt;problem-solving&lt;/span&gt; untuk menghadapi aneka problem kehidupan. Sebuah ekspektasi yang wajar. Biasanya, manusia memang perlu dirundung sejuta masalah terlebih dulu untuk akhirnya melongok ke dalam batinnya sendiri. Dan sebagaimana kita terbiasa menganggap “solusi” sebagai tujuan akhir dari “problem”, maka meditasi pun seringkali diposisikan sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;solution maker. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu membuat saya merenung dan mengingat-ingat, apa sesungguhnya manfaat terdalam dari praktek meditasi? Dan sepertinya jawaban saya menjadi kabar buruk bagi peserta yang bertanya tadi, karena bagi saya, masalah tidak jadi berkurang. Bahkan kadang-kadang rasanya malah “bertambah”. Mengapa?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya ketika saya mulai mengenal pola makan vegetarian. Di luar dari tubuh yang terasa lebih fit dan penyakit berkurang, badan saya pun jadi sangat peka. Saya, yang biasanya minum kopi 1-2 cangkir sehari dan baik-baik saja, sekarang tidak bisa minum lebih dari setengah cangkir. Itu pun kopi decaf. Saya, yang suka bumbu tajam, sekarang terganggu dengan hadirnya bawang-bawangan dalam makanan saya. Dan toleransi saya pada asap rokok merosot sangat drastis hingga saya dijuluki “si plang no-smoking berjalan”. Saya lantas bertanya-tanya: ke mana kemampuan saya dulu, yang sanggup melahap apa saja, lebih toleran dengan rokok, dsb? Karena bukannya saya yang tidak ingin fleksibel, tapi tubuh saya benar-benar menolak dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perihal mental, saya pun sempat bangga dengan kemampuan saya untuk selalu bersikap tenang di segala situasi. Saya, yang anti-konfrontasi, bangga dengan kemampuan diplomatis yang membuat saya tampak senantiasa berkepala dingin. Tapi, setelah saya mulai bermeditasi, saya menyadari bahwa ketenangan dan kekaleman saya tidaklah otentik. Semua itu hanyalah tameng sosial yang saya pikir akan membawa saya keluar dari masalah. Kenyataannya, saya menabung setumpuk pe-er dalam batin. Di luar kelihatannya saya “baik-baik” tapi di dalam saya berperang hebat dengan diri saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meditasi membawa saya ke jantung peperangan itu. Menghadapkan saya bukan dengan siapa-siapa di luar sana, melainkan dengan diri saya sendiri. Dalam meditasi, saya diajak untuk menghadapi masalah seada-adanya, bukan dilebihkan, bukan juga dikurangi. Dan, ini dia yang ajaib, ketika masalah kita sadari sepenuhnya, seada-adanya, masalah meluruh dengan sendirinya. Tanpa perlu kita cari solusi. Tanpa perlu kita temukan jalan keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami saya, Reza, sering berkata: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Masalah = Situasi + Perasaan.&lt;/span&gt; Masalah baru hadir ketika sebuah situasi kita bubuhkan justifikasi “tidak suka”, “sebal”, “benci”, “tidak benar”, dsb. Namun seringnya kita hanya fokus ke situasi dan mencari cara untuk mengubahnya, sementara kendali itu tidak selamanya ada di tangan kita. Inilah yang akhirnya membuat batin kita lelah, frustrasi, dan stres. Ketika kita mau menghadapi perasaan kita, menerimanya sebulat-bulatnya, atau dalam terminologi meditasi, mengamati sepenuhnya, maka situasi cuma jadi situasi tok. Netral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, saya lebih peka dengan segala emosi yang saya alami. Dan praktek meditasi membuat saya susah untuk “lari” dari masalah, meski saya kepingin, karena batin saya tidak lagi terbiasa menabung utang perasaan. Jika saya marah, saya akui sepenuhnya bahwa ada amarah. Jika saya sedih, saya terima seutuhnya bahwa ada kesedihan sedang datang. Tidak lagi lari, tidak juga mengikatkannya terus menerus dengan diri saya, cukup mengamati: ini amarah, ini sedih, ini kecewa, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah hidup ini tidak berkurang. Sungguh. Tapi ia cenderung lebih sebentar hinggap. Tidak lagi terlalu membelit dan mengikat hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya tak mungkin saat bermeditasi kita mendapatkan ide, inspirasi, bahkan solusi. Namun bagi saya, bukan itu yang menjadi manfaat utama. Meditasi adalah lensa yang meneropong semesta di dalam, dan menyadarkan kita bahwa apa yang di luar sana tidak pernah terpisah dengan apa yang ada di dalam. Dan apa yang di dalam diri adalah tanggung jawab kita masing-masing untuk menemukan esensi sejatinya. Meditasi mengajarkan saya untuk bertanggung jawab atas hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak pernah tahu pasti apakah paparan saya bermanfaat bagi peserta tadi. Minggu depannya ia tidak kembali lagi. Namun, pertanyaannya telah memberi manfaat yang luar biasa bagi saya. Karena untuk pertama kalinya saya diajak merenungi dengan sungguh-sungguh manfaat meditasi. Untuk saya. Titik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-7840088449101903061?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/7840088449101903061/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=7840088449101903061&amp;isPopup=true' title='46 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/7840088449101903061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/7840088449101903061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2009/01/merenungi-meditasi-akan-diterbitkan-di.html' title='Merenungi Meditasi'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><thr:total>46</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-3525571457112629875</id><published>2008-12-31T16:21:00.009+07:00</published><updated>2009-01-25T13:28:50.884+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditation Journal'/><title type='text'>Menyantap "Mini M&amp;M" Setiap Rabu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);font-size:180%;" &gt;Menyantap “Mini M&amp;amp;M”&lt;br /&gt;Setiap Rabu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SVs8df2qqjI/AAAAAAAAATQ/hgejBdFH7B8/s1600-h/colormyworld_mm.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 225px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SVs8df2qqjI/AAAAAAAAATQ/hgejBdFH7B8/s400/colormyworld_mm.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5285885065114069554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil, saya punya masalah dengan rutinitas. Semasa bersekolah, saya sering bertanya-tanya sendiri: kenapa saya harus berada di tempat yang sama, pada waktu yang sama, dan pada hari-hari yang sama, terus menerus? Akibatnya, saya sering membuat “variasi” sendiri, misalnya dengan bolos, mabal, datang terlambat (didukung lagi oleh penyakit malas bangun pagi yang kronis). Itulah salah satu alasan utama saya memilih profesi yang saya jalankan sekarang. Profesi dalam bidang seni memang cenderung berskema lebih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;chaotic&lt;/span&gt;, dengan pola waktu dan aktivitas yang berubah-ubah. Meski kadang bermusik dan menulis pun butuh rutinitas, tapi biasanya tidak berlangsung dalam waktu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sekarang ada satu rutinitas baru yang tengah saya jalankan. Tentunya ini jadi fenomena langka. Sepanjang ingatan saya, tidak banyak rutinitas yang saya pilih melalui inisiatif sendiri, lebih banyak karena terpaksa (mis. sekolah). Rutinitas baru ini tak punya judul resmi. Berlangsung setiap hari Rabu selama dua jam di Citrus Café, Jakarta Selatan. Ada yang menyebutnya Arisan Rabu Hening, ada juga yang menamainya Meditasi Rabu, atau, dengan konotasi bercanda, Sekte Rabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan meditasi Rabu itu sendiri sudah berlangsung sejak Mei tahun lalu. Dan, penyelenggaranya sendiri, Reza Gunawan, sudah saya kenal cukup lama, dari mulai kami berteman sampai sekarang menjadi suami. Namun baru enam bulan terakhirlah saya muncul rutin di sana, tepatnya setelah mulai pindah ke Jakarta, mengikuti satu setengah jam kegiatan meditasi yang bentuknya bisa macam-macam, dari mulai duduk diam sampai obrol-obrol biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa, pengalaman di satu Rabu bulan September terasa ekstra berkesan, sampai-sampai menggerakkan saya untuk menuliskan artikel ini. Malam itu, kami hadir bersepuluh. Duduk bersila membentuk lingkaran di atas lantai kayu dengan lampu temaram. Kaca besar yang mengelilingi kami sesekali memantulkan lampu kendaraan yang lalu-lalang, terkadang mengantarkan bunyi knalpot sayup-sayup. Reza lalu mengajak kami untuk melakukan semacam meditasi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;vocal toning&lt;/span&gt;, yakni membunyikan bunyi “a” selama lima menit. Bunyi “a” merupakan satu-satunya bunyi yang resonansinya menyentuh otak dan seluruh ujung saraf tubuh. Pusat utama bunyi ini terletak di chakra jantung (anahata), yang berhubungan dengan rasa syukur, ikhlas, dan kasih sayang. Dalam kehidupan sehari-hari, secara alamiah kita pun memproduksi bunyi ini untuk mengekspresikan kelegaan, pelepasan emosi, atau puncak pengalaman rasa.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kami menyuarakan bunyi “a” dengan mata terpejam, saya merasa ketegangan batin maupun fisik mulai dikendurkan. Seakan lewat bunyi tersebut, tubuh dan batin saya menumpangkan “sampah-sampah”-nya untuk dialirkan keluar. Bunyi sederhana itu pun terdengar sakral dan penuh kekuatan. Sekalipun hanya bersepuluh, rasanya kekuatan suara yang keluar berlipat dari jumlah peserta yang hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit berlalu, ditandai dengan bunyi bel. Kami pun serempak berhenti. Lima menit berikut kami lalui dengan keheningan. Dan hening singkat ini terasa dalam. Berkualitas. Rasanya seperti meditasi setengah jam. Terbersit rasa tidak rela ketika bel berbunyi karena inginnya memejamkan mata lebih lama lagi. Kesan serupa ternyata juga muncul bagi banyak peserta lain. Semuanya sama-sama merasa lima menit terlalu singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak selanjutnya dimulai. Kali ini kami melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gibberish&lt;/span&gt; selama lima menit. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gibberish&lt;/span&gt; adalah bebunyian acak yang kita keluarkan secara spontan. Seperti celoteh bebas yang kerap dilontarkan anak-anak. Yang penting dalam ber-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;gibberish&lt;/span&gt; adalah kontinuitas (tidak boleh berhenti) dan tidak menggunakan kata atau kalimat yang bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan pengalaman pertama saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gibberish&lt;/span&gt; berkelompok. Ternyata efeknya sangat dahsyat. Saya merasa kekuatan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gibberish&lt;/span&gt; untuk mengeruk “sampah” berkali lipat lagi dibandingkan lima menit membunyikan “a” tadi. Segala bebunyian aneh yang seringkali mengocok perut sudah pasti kita dapatkan selama ber-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;gibberish&lt;/span&gt;. Anehnya, meski terdengar seperti kendurian pasien RSJ, kor ceracau tak beraturan dan menggelikan itu pun terasa sakral. Bahkan pada saat tengah-tengah melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gibberish&lt;/span&gt;, saya merasa sangat rileks dan damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit berikut kembali hening. Dan lagi, lima menit ini terasa dalam. Jauh lebih dalam. Seusai babak kedua ini, saya sempat termenung. Menyadari betapa rindunya saya pada retreat meditasi, berhari-hari menyelam dalam sunyi, dan berefleksi ke dalam diri. Satu kesempatan yang sudah lama tidak saya cicip karena kepungan aktivitas dan tuntutan keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak terakhir adalah kombinasi antara gumam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(humming)&lt;/span&gt; dan hening. Sama-sama lima menit. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Humming&lt;/span&gt; di sini artinya menggumamkan bunyi “mmm” secara bersambung, bebas, dan spontan. Bumi ini sendiri diyakini mengeluarkan bunyi yang berupa gumaman, sehingga ketika kita melakukannnya, kita pun beresonansi kita dengan frekuensi Bumi. Dan saat dilakukan dengan berkelompok, bunyi ini memiliki efek sinkronisasi, mempersatukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total kami bermeditasi tiga puluh menit. Malam ditutup dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sharing&lt;/span&gt; mengenai kesan dan pengalaman kami selama berlatih. Saat saya berbagi, barulah saya menyadari betapa cemerlangnya rangkaian latihan sederhana tadi, dan betapa dalam manfaatnya bagi orang-orang produk zaman modern—termasuk saya—yang hidup dalam irama cepat dan pikiran yang terus menerus dibuat gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering saya mengamati orang-orang di sekitar saya; mulut yang balapan antara makan siang sambil bicara di ponsel, tak-tik-tuk jari jempol yang berpacu mengirim pesan singkat, teve yang terus-terusan berpendar dan bergaung. Tak terhitung banyaknya saya mendengar ungkapan: ‘gue kalo nggak kerja malah pusing’, ‘mendingan ketinggalan dompet daripada ketinggalan hape’, dan seolah seiring sejalan, ungkapan-ungkapan lainnya adalah: ‘pikiran gue kok nggak bisa diam, ya?’, ‘dikasih libur gue malah nggak bisa nikmatin,’ dsb. Jika kita dengan mudahnya menggandengkan diri dengan rutinitas bekerja dan berpikir, mengapa kita begitu sukar bergandengan dengan rutinitas diam dan stop berpikir? Mungkinkah kita sudah lupa caranya? Mungkinkah kita sudah lupa rasanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat kejadian sebelum meditasi malam itu. Saya pergi belanja, dan anak saya, Keenan, menyambar sesuatu sesaat sebelum saya membayar di kasir. Kecepatan tangan si kasir tidak memberikan kesempatan pada saya untuk melihat dulu, bahkan menyetujui apa yang Keenan beli. Baru setelah sampai di rumah saya mengetahui bahwa dia membeli setabung permen cokelat “M&amp;amp;M”. Tapi kemasan “M&amp;amp;M” ini lebih kecil dari yang biasa saya lihat. Ketika saya buka isinya, menghamburlah warna-warni cokelat bersalut khas “M&amp;amp;M”, tapi kali ini dengan ukuran mini. Tidak ada catatan khusus dalam hati saya ketika melihat permen itu, cuma komentar pendek “lucu, ada ukuran sekecil ini” sambil mengunyah beberapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kalanya, saking mendambanya retreat meditasi ke luar kota, saya cenderung melupakan atau mengecilkan makna latihan-latihan harian. Saking kepinginnya pergi ke tempat-tempat sunyi dan inspiratif seperti vihara di Mendut atau resort meditasi di Ubud, saya tidak memperhitungkan bahwa Jakarta pun bisa jadi oase bagi jiwa yang mendamba keheningan. Keinginan bermeditasi berjam-jam kadang membuat kita abai bahwa dalam sepuluh menit pun sebuah keajaiban bisa terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika retreat ke luar kota adalah sebalok besar cokelat, maka Meditasi Rabu ini ibarat permen cokelat “M&amp;amp;M”. Kesempatan mingguan bagi penghuni kota metropolitan Jakarta untuk menguras sampah batin dan sejenak berpulang ke ke kamar batin yang hening. Tapi khusus hari Rabu ini, saya berkesempatan mencicipi “M&amp;amp;M” mini, seri meditasi sepuluh menit yang ternyata mampu menghadirkan pengalaman luar biasa, yang tak kalah ampuh dengan porsi meditasi yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah indahnya jika kita, masyarakat urban, selalu punya kesempatan untuk menarik diri dari aneka rutinitas dan kebisingan kota besar. Sayangnya, kesempatan itu tak selalu ada. Alangkah indahnya jika kita selalu berkesempatan dan berdisiplin untuk meluangkan sejam setiap harinya untuk duduk diam dalam hening. Sayangnya, kesempatan dan disiplin itu pun tak selalu hadir. Sepuluh menit yang saya cicip hari ini menjadi pilihan oase yang rileks dan realistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski terkenal punya masalah dengan rutinitas, saya harus mengakui yang satu ini: keheningan adalah rutinitas yang saya anggap esensial bagi kewarasan dan keselarasan diri saya. Dan Meditasi Rabu menjadi setabung cokelat M&amp;amp;M yang senantiasa ingin saya hadirkan di kantong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;* Informasi Meditasi Rabu bisa disimak di situs &lt;a href="http://www.truenaturehealing.net/"&gt;True Nature&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Terbuka untuk umum. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;** Ilustrasi M&amp;amp;M diambil dari &lt;a href="http://www.sallys-place.com/food/single-articles/colormyworld_mm.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-3525571457112629875?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/3525571457112629875/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=3525571457112629875&amp;isPopup=true' title='40 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/3525571457112629875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/3525571457112629875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2008/12/menyantap-mini-m-setiap-rabu-sejak.html' title='Menyantap &quot;Mini M&amp;M&quot; Setiap Rabu'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SVs8df2qqjI/AAAAAAAAATQ/hgejBdFH7B8/s72-c/colormyworld_mm.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>40</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-4238744736775325637</id><published>2008-12-13T15:20:00.005+07:00</published><updated>2009-01-25T14:14:00.480+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On Writing and Writership'/><title type='text'>Membangunkan Pujangga Tidur</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(153, 255, 153);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Membangunkan Pujangga Tidur&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ide membakar pikiran saya berhari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa gerangan yang membuat seseorang menulis? Apa yang sesungguhnya terjadi ketika seseorang memutuskan ingin jadi penulis? Apa yang ingin dicari seorang penulis? Dinamika apa yang sebenarnya terjadi antara penulis, pembaca, dirinya dan semesta raya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah cukup sering saya menjadi juri berbagai lomba penulisan. Ratusan naskah dari orang-orang yang ingin suaranya didengar, ingin suaranya menjadi pemenang… apakah hadiah yang mereka cari? Ataukah ada yang lebih dari sekadar piagam dan uang? Sudah cukup sering juga saya dimintai pendapat atas naskah seseorang. Dari mulai yang meminta endorsement sampai yang cuma ingin dibaca saja. Kepuasan apakah yang sebetulnya didapat dari menuliskan puluhan bahkan ratusan lembar itu? Apa yang memotori para penulis itu merangkai kata? Apa yang sebetulnya mereka ingin bisikkan, teriakkan, dan tangiskan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terhitung juga banyaknya pertanyaan yang terlontar pada saya, menanyakan tips menjadi penulis, cara menulis yang baik, cara menuangkan ide ke dalam tulisan, bahkan sampai tips mencari judul dan nama tokoh. Beberapa kali saya memang pernah memberikan pelatihan penulisan, tapi hanya untuk beberapa jam saja. Yang paling intensif pernah saya lakukan untuk UNAIDS, mentoring selama dua hari, dan hasilnya menjadi sebuah buku (“Kartini Bernyawa Sembilan”). Dan dalam proses relatif singkat itu, tetap saja saya terusik, termenung, bahkan terpukau melihat transformasi yang bisa diperagakan seseorang ketika ia berhasil “disentuh” oleh kekuatan ilham. Dan saya pun bertanya-tanya, adakah caranya agar seseorang bisa menyiapkan dirinya untuk disentil dan disengat inspirasi?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak pernah punya latar belakang sastra secara formal. Nilai di rapor saya untuk pelajaran Bahasa Indonesia selalu biasa-biasa saja. Tapi sejak balita, saya senang berkhayal dan melamun. Saya bisa melamun berjam-jam sebelum terlelap. Waktu kanak-kanak, saya bukan seorang kutu buku. Urat baca saya masih kalah dibandingkan kakak-kakak saya yang lain.Tapi saya amat senang membuat cerita. Saat itu dorongan menulis buat saya lebih kuat ketimbang membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga pemerhati hal-hal remeh. Waktu kecil, saya sangat suka kelereng. Bukan untuk dimainkan, melainkan untuk diamati. Saya bisa menghabiskan waktu panjang hanya untuk mengamati sebola kelereng di terang lampu. Rasanya ada galaksi ajaib di dalam bola itu. Kilau yang dipantulkan kaca dalam kelereng seolah membentuk labirin dan bintang-bintang, dan saya terlongo-longo dipukau keindahannya. Saya juga kecanduan mengamati langit. Mencari bentuk dan wajah di awan, menghayati warna-warni senja sampai dada saya sesak oleh haru. Sebuah kebiasaan yang terus berlanjut hingga dewasa: mengamati angkasa hingga menunggu ia “berbicara” pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa, hal-hal kecil yang susah didefinisikan itulah yang justru terasa kokoh dan masif saat saya mengamati ke dalam diri untuk mencari pilar-pilar apa yang menjadi penyangga saya sebagai penulis. Bukan hadiah, ketenaran, piagam, atau uang, meskipun semua itu bisa jadi efek samping yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, pilar-pilar itu justru sering luput diamati. Kita malah lebih tertarik pada “kabut” yang menyelimuti seorang penulis ketimbang bara api yang membakarnya. Tidak heran ketika saya iseng survei “pelatihan penulisan” di internet, yang muncul adalah workshop untuk jadi penulis best-seller, workshop untuk jadi penulis profesional, workshop how-to menerbitkan buku, bahkan ada yang menjadikan nama saya sebagai iming-iming (“ingin menjadi penulis best-seller seperti Dee?”). Tidak ada yang salah atau buruk dari workshop semacam itu, bahkan pada level kebutuhan tertentu bisa jadi malah sangat berguna. Tapi perlu kita sadari bahwa penjelajahan superfisial otomatis akan membawa kita ke tempat-tempat yang superfisial, sementara penjelajahan yang sifatnya esensial tentunya akan membawa kita menelusuri gorong-gorong yang lebih dalam. Tergantung pada apa yang kita masing-masing butuhkan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditanya, apa rahasianya agar bisa jadi penulis best-seller? Saya akan jujur menjawab: tidak tahu. Jadi, kalau satu saat nanti saya berkoar tentang bagaimana cara menulis buku laku, jangan pernah percaya. Saya sungguh-sungguh tidak tahu. Jika ditanya, apa rahasianya agar naskah kita diterima penerbit? Jujur, saya pun tidak tahu. Seperti jodoh, kita bisa punya sederet kriteria ideal, tapi pada akhirnya misterilah yang menautkan kita dengan seseorang. Begitu juga hubungan antara penerbit dan penulis. Sudah jadi cerita klasik bagaimana sebuah naskah ditolak sejumlah penerbit sampai akhirnya ada satu pintu yang membuka dan tahu-tahu naskah itu meledak menjadi best-seller. JK. Rowling mengalaminya, John Grisham mengalaminya, Sitta Karina mengalaminya, dan masih banyak lagi. Dan kalau ada yang bertanya, bagaimana sih caranya menulis? Jawaban saya pun tetap sama: tidak ada cara lain untuk menulis selain menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang sederhana yang kerap lolos dari pengamatan kita. Saya akan mengambil diri saya sendiri sebagai contoh. Ketika ditanya: bagaimana caranya agar tulisan kita dibaca orang? Hati saya tidak bereaksi. Datar dan hambar. Yang sibuk berputar untuk menjawab adalah kepala saya. Sementara ketika ditanya: apa motor yang menggerakkan saya berkarya, yang bisa membuat saya menggelepar seperti cacing kena garam, yang mampu membuat rahang saya kejang karena gemas, yang bisa melesatkan saya menembus atmosfer bahasa? Hati saya seketika tergetar. Ada sesuatu yang hidup, yang dahsyat, yang langsung mengaliri tubuh saya. Sementara kepala saya cuma bisa kelimpungan mencari penjelasan yang memang di luar kesanggupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu itu, teman-teman, adalah sesuatu yang paling penting untuk ditemukan. Sisanya bonus. Kepala Anda tidak bisa menjawabnya. Hanya hati yang tahu. Di titik pertemuan antara Anda dan bara api yang membakar jiwa Anda itulah kabut kepenulisan akan meluruh dengan sendirinya. Anda seketika bisa membedakan mana yang penting dan tidak penting. Mana yang esensi dan mana yang aksesoris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Anda mungkin tergerak untuk bertanya, bagaimana caranya mengalami pertemuan itu? Saya pun harus jujur menjawab: tidak tahu pasti. Namun kali ini saya tertarik ingin mencari tahu, bersama-sama dengan Anda. Sama halnya kita tidak tahu kapan petir akan menyambar, tapi kita bisa mempersiapkan diri untuk disambar petir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah ide yang sekarang tengah membakar saya, yang mudah-mudahan bisa saya laksanakan pada awal tahun depan: membuat sebuah workshop penulisan intensif, bukan untuk menjadi penulis best-seller, bukan juga untuk memenangkan lomba, bukan untuk karyanya diterima penerbit, melainkan untuk membangunkan sang pujangga yang tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda melihat kandang macan di siang hari? Binatang yang sangat indah, tapi cenderung membosankan berhubung kerjanya cuma tidur. Sekarang bayangkan macan itu adalah pujangga dalam diri kita. Sekalipun kita sudah banyak menciptakan kalimat-kalimat indah, belum tentu kita menyuarakan kejujuran kita yang terdalam. Saat kita melihat seekor macan tertidur di kandang, yang mengaum di kepala kita adalah cerita-cerita orang tentang macan, atau pengetahuan kita tentang macan yang didapat dari brosur, buku, atau teve. Tapi selama macan itu belum mengaum langsung, sesungguhnya kita tidak pernah mendengar suara dia yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mendengar macan itu mengaum dan merobekkan cakarnya. Bahkan lebih dari itu, saya ingin macan itu merdeka dari kandangnya kemudian berlari bebas dan kembali jadi raja hutan. Pujangga dalam diri kita kini terkurung dan tertidur pulas. Terbius oleh aturan dan kata-kata orang. Bahkan kebanyakan dari kita tak menyadari sang pujangga itu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah saya menemukan titik temu antara menulis dan meditasi. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Writing and Zen.&lt;/span&gt; Di luar embel-embel gemerlap profesi penulis, kegiatan menulis adalah samurai tajam yang mampu mengupas lapis demi lapis diri kita. Siapa dan apa yang sesungguhnya bersembunyi di balik tabir pikiran dan baju kata-kata? Dari mana datangnya itu semua? Menulis juga mampu membantu kita berjarak dari kemelut ego, dari “aku” yang mengira dirinya pusat segala hal. Jarak tersebut memampukan kita untuk melihat sesuatu dengan lebih jernih, netral, tidak menghakimi. Itulah kepekaan yang ingin kita asah melalui meditasi. Dan kepekaan itu jugalah yang bisa kita asah melalui aktivitas menulis dalam konteks meditatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan “pengetahuan” yang diturunkan secara estafet, Zen bagi saya adalah pengalaman langsung. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;A path of direct knowing.&lt;/span&gt; Sesuatu yang universal dan bisa diakses oleh siapa saja terlepas dari ragam latar belakang dan kepercayaannya. Pada hakikatnya “pengetahuan” sudah mati, sementara “mengetahui langsung” adalah aktivitas hidup yang terjadi secara spontan. Itu jugalah yang membedakan antara “menulis dari hati” dengan “menulis berpikir”. Meski kita sering mengklaim bahwa tulisan kita adalah tulisan dari hati, seringkali yang terjadi adalah tulisan yang kita “pikir” dari hati. Sebaliknya, menulis dari hati juga bukan berarti tanpa proses berpikir sama sekali. Tapi dalam hal ini pikiran kita ditempatkan sebagai gerbong yang ditarik, bukan lokomotif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya ini akan menjadi perjalanan yang membutuhkan banyak keberanian. Berani menghadapi diri sendiri dan bertarung dengan ketidakpastian. Tidak hanya bagi pesertanya tapi juga bagi fasilitatornya. Kita sama-sama tidak tahu macan jenis apa yang menunggu Anda di bawah sana. Bahkan kita tidak tahu akan menemukannya atau tidak. Tapi, tidakkah perjalanan ini menjadi sesuatu yang layak dicoba? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Workshop tersebut akan memiliki sebuah bunyi: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ZWAMP!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Zen Writing Camp.&lt;/span&gt; Dua malam tiga hari. Hanya Anda, aksara, dan misteri. Sama-sama kita bersafari, membangunkan pujangga di dalam kandang, dan mendengarnya mengaumkan apa yang paling sejati.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-4238744736775325637?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/4238744736775325637/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=4238744736775325637&amp;isPopup=true' title='68 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/4238744736775325637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/4238744736775325637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2008/12/membangunkan-pujangga-tidur-sebuah-ide.html' title='Membangunkan Pujangga Tidur'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><thr:total>68</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-1726533703136919491</id><published>2008-11-28T18:00:00.010+07:00</published><updated>2009-01-25T14:27:18.963+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On Writing and Writership'/><title type='text'>Hail, All Ye Writers!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(153, 255, 153);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Hail, All Ye Writers!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Februari 2001. Percetakan Dian Rakyat. Napas saya tertahan. Mata mengerjap takjub. Benda itu merembeskan hangatnya ke telapak tangan saya. Rasanya bagai menarik keluar seloyang bolu dari oven, mengepul dan harum. Kue Valentine terindah yang pernah saya lihat. Biru, berbinar seperti batu safir, dan ada segaris nama saya tercantum di sana, tercetak dengan warna putih. Pikiran saya seketika bergeliat dan menggali setumpuk kenangan masa kecil, merunut remah-remah roti yang menjadi penunjuk setapak menuju momen Valentine di percetakan besar di Pulogadung itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur 9 tahun, menulis di buku tulis bersampul foto artis Dian Pisesha dengan pulpen merk Le Pen bertinta biru, cerita berjudul “Rumahku Indah Sekali”, sedari kecil saya memang tidak peduli dengan tulisan pendek, atau artikel jurnalistik, saya cuma ingin menulis buku… lalu, setumpuk jurnal yang saya tulis sejak kelas 1 SMP dalam beraneka bentuk agenda dan kini saya simpan rapi dalam peti berwarna perak, agar kalau rumah saya kebakaran tidak perlu repot lagi geledah sana-sini, saya tinggal melempar peti itu keluar jendela demi menyelamatkan log perjalanan seorang pelayar kehidupan bernama Dewi Lestari… lalu, laptop pertama saya, merk Digital, tahun 1996, perkakas andal yang amat saya banggakan, yang sering membuat orang melirik iri karena waktu itu belum banyak orang ber-laptop, apalagi cewek belasan tahun yang tidak kelihatan seperti eksekutif atau dosen, bersamanya saya melahirkan “Filosofi Kopi”, “Perahu Kertas”, dan masih banyak lagi cerita pendek-panjang, tamat-gantung… semangat itu tidak pernah mati sekalipun tulisan saya lebih banyak dibaca diri sendiri atau oleh segelintir penghuni rumah Patrakomala 57 beserta anak-anak kosnya… dan akhirnya, pada hari cinta tahun 2001, saya rampungkan setapak itu. Berujung pada sebuah kitab biru berjudul “Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh” (KPBJ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang dari dunia hiburan di mana promosi agresif dan persuasif menjadi sebuah kelaziman, tanpa banyak berpikir saya langsung menyusun rangkaian aktivitas untuk mempromosikan buku saya. Dari mulai launching, promo radio, bedah buku, booksigning, dsb. Tanpa bermaksud narsis, memang tidak berlebihan kalau Taufik Ismail berkata bahwa Supernova membawa kesegaran baru pada dunia sastra Indonesia. Bukan cuma masalah kontennya. Jika saya kilas balik ke belakang, salah satu kontribusi terbesar Supernova adalah perubahan paradigma pemasaran buku Indonesia yang dipicunya saat itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, promosi buku tidak jauh-jauh dari mencetak poster atau resensi di majalah. Talkshow, booksigning, dan launching, merupakan peristiwa langka yang hanya dicicip segelintir penulis beruntung. Baru setelah Supernovalah industri perbukuan bergerak ke arah marketing yang lebih ekspansif. Menjemput pembaca ketimbang menunggu pembaca yang datang ke rak buku. Promosi buku kini menjadi perihal yang wajib ditagih penulis pada penerbitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, semua orang bilang saya gila ketika tahu saya mencetak 7000 buku sekaligus. Sebetulnya, saya bukan gila, melainkan polos dan goblok. Saya tidak tahu apa-apa soal pakem perbukuan, bahwa yang namanya best-seller saat itu adalah laku 3000 eksemplar dalam satu tahun, sehingga mencetak 7000 buku untuk cetakan pertama bisa dibilang perbuatan bunuh diri atau malah ultra PD. Sekarang buku saya dicetak dalam satuan 10.000 eksemplar. Paling ekstrem bahkan pernah diterobos oleh “Supernova: Akar”, yakni dicetak 40.000 buku sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh dibilang saya memang nekat karena berani menguras semua tabungan pribadi saya untuk memproduksi Supernova KPBJ pertama kali, tapi saya tidak menganggap itu gila. Bagi saya, itu justru harga yang teramat murah untuk terwujudnya sebuah mimpi. 16 tahun saya menanti. Saya merasa berutang pada Dewi Lestari umur 9 tahun. Saya ingin buku tulisnya bermetamorfosa menjadi sebuah buku betulan. Dari tulis tangan tinta biru menjadi buku cetak bersampul biru. Dari sampul foto artis ’80-an pelantun lagu-lagu sendu menjadi foto dirinya sendiri yang tercetak mungil di sampul belakang. Saya tidak peduli uang saya kembali atau tidak. Saya bahkan tidak peduli ada orang yang baca Supernova atau tidak. Saya melakukan itu semua untuk diri saya, untuk si Dewi kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian aktivitas Supernova KPBJ lantas bergulir seperti bola salju yang makin besar. Saya bahkan tidak pernah merancang apa-apa lagi, tinggal mengatakan ‘ya’ pada semua pihak yang menawarkan untuk berpromo, dari mulai toko buku, radio, kampus, sampai mall. Seorang sahabat bahkan pernah membuatkan roadshow tiga hari di Yogya, lengkap dengan kru teve, tanpa saya mengeluarkan biaya sepeser pun. Sekurang-kurangnya saya bedah buku 40 kali dalam tiga bulan, belum ditambah interview media, dsb. Seumur hidup, belum pernah saya harus menghadapi publik dan media seintens itu. Sesering itu. Sampai pada satu titik… &lt;span style="font-style: italic;"&gt;saya muak&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hari, seusai bedah buku di Gramedia di kota Yogya, saya lari ke ruang karyawan, mengunci diri, hanya untuk menangis sejadi-jadinya. Mengulang-ulang hal serupa, mendengar pertanyaan yang itu-itu lagi, membuat saya merasa seperti kaset soak. Ingin bungkam. Ingin masuk gua dan kembali hibernasi. Promosi Supernova KPBJ memakan waktu saya selama 1,5 tahun. Saya nyaris tidak punya kesempatan untuk menulis episode berikutnya. Energi saya terkuras habis. Semangat saya meredup. Saya cinta berkarya tapi mempromosikan karya ternyata adalah hal yang sama sekali berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun setiap karya membawa pengalaman dan pelajaran yang selalu unik dan berbeda. Tujuh tahun sejak penerbitan Supernova, sudah enam judul buku yang saya rilis. Angka yang cukup bagus dan terbilang produktif. Masa-masa sukar dalam setiap proses kreatif maupun fase pemasaran berhasil saya lalui dan semua itu terus memperdalam pemahaman saya akan menulis, industri perbukuan, dan juga akan diri saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin berbagi sesuatu dengan Anda semua, penulis atau bukan, sekelumit perenungan dari perjalanan saya menjadi seorang penulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, menulis adalah hal yang sangat mendasar, sama seperti berbicara. Ini adalah keistimewaan manusia yang tidak dimiliki spesies lain. Jangan pernah tenggelam dalam asumsi bahwa hanya mereka yang berbakatlah yang bisa jadi penulis. Selama Anda berteguh hati untuk menggali ke dalam diri, niscaya Anda akan menemukan sebuah “sumber air abadi”. Semacam sungai bawah tanah yang selamanya mengalir dan berair. Inilah tempat para pujangga mereguk inspirasi untuk kemudian dibawa kembali ke permukaan dalam kemasan berlabelkan nama mereka. Namun, di sumbernya, air itu tidak bernama dan bisa dimiliki siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hadir fase yang disebut-sebut “nggak ada inspirasi”, atau “habis ide”, sesungguhnya bukan inspirasi atau ide yang tahu-tahu minggat dan menguap. Sumber air itu tidak pernah kering. Pipa kitalah yang seret, kotor, atau tersumbat. Inspirasi mengaliri Anda saat saluran Anda memang sudah disiapkan dan dijernihkan. Ia tidak ke mana-mana. Tinggal menunggu Anda menangkap dan mendengar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, “Menulis” dan “Penulis” adalah dua hal yang sangat berbeda. Jangan sampai terkecoh, karena dalam perjalanannya kelak, keduanya bisa tertukar atau terselamur. Menulis adalah aktivitas yang hidup; kendaraan Anda untuk menggali dan menemukan sumber ilham di bawah sana. Penulis adalah titel yang disandangkan orang lain bagi Anda. Semacam trofi yang dihadiahkan publik atas penggalian Anda ke dalam. Namun trofi itu hanyalah pajangan mati, dan ilusi yang dihadirkannya berkekuatan luar biasa dan dapat membius Anda. Menyelimuti Anda dengan kabut yang pada akhirnya mengecoh semua, termasuk diri Anda sendiri. Seseorang bisa disebut Penulis meskipun ia berhenti menggali. Dan seseorang yang selalu menggali belum tentu punya predikat Penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tetap menulis, terkadang kita harus berani mengorbankan predikat kepenulisan kita. Meninggalkan permukaan, benderangnya lampu sorot dan elu-eluan massa, kembali menyelam, melebur dalam kegelapan gua, kembali bertarung dengan halaman kosong tanpa peduli apa yang terjadi di atas sana. Hanya dengan menulis Anda bisa kembali mereguk air itu. Sebaliknya, titel penulis mengeringkan kerongkongan dan berisiko membuat Anda mati kehausan. Jadi, jangan salah membedakan mana menulis dan mana “kabut”-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, dan terpenting. Sampai Anda merasakan sendiri, jangan percaya kata-kata saya ini: menulis adalah meditasi. Dalam satu percakapan, Reza pernah berkata: jika membaca adalah proses untuk mencari kebenaran, maka menulis adalah proses di mana kita menemukan kebenaran kita sendiri. Saya amat sepakat. Bukan karena kalimatnya indah, tapi karena sungguh-sungguh saya alami. Otentisitas hanya lahir jika Anda mau bertarung dengan diri sendiri. Bukan dengan sekadar berlindung di balik tameng kebenaran warisan, kata orang, atau segunung kitab. Jika religi dimaknai sebagai sesuatu yang hidup, empiris, otentik, dan bukan sebaris huruf di KTP, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;then writing IS (one of) my religion(s). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sekarang, saya masih terus belajar, menggali, bergelut dan bergulat. Khususnya pada masa saya aktif memasarkan buku, pada saat itulah kabut kepenulisan terasa sangat menyesakkan. Dan ironisnya, pada saat itu jugalah paling sering terjadi kesalahpahaman antara saya dengan orang-orang di sekitar saya. Inilah masa yang paling penuh cobaan dari berkarya. Ketika saya tak lagi berduaan dengan karya saya layaknya pasangan dimabuk cinta yang merasa dunia cuma milik berdua. Begitu karya dilahirkan ke dunia materi, dibungkus dalam kemasan, yang terjadi adalah hubungan ramai-ramai. Ribut dan pengap. Tarik-tarikan kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sukar untuk membahasakan apa yang terjadi dalam diri saya tanpa digeneralisasi secara terburu-buru sebagai ‘rumit’, ‘tidak kooperatif’, ‘terlalu seniman’, ‘tidak jelas’, ‘suka ngilang’, ‘susah dihubungi’, dsb. Sungguh sukar untuk berjalan seimbang di atas tali tipis dengan dua lusin bola yang harus terus berputar di udara. Dan lebih sukar lagi untuk tiba pada pemahaman ini dan menerimanya dengan ikhlas. Menulis dan menjadi penulis; berkarya seni dan menjadi seniman, pada akhirnya adalah paduan magis antara surga dan neraka yang di dalamnya kita bertumbuh kembang untuk menjadi bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Kedua gerbang itu harus dilalui untuk akhirnya bebas dari jerat keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman semua, hanya itulah yang patut diingat dari perjalanan saya berkarya. Sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Anda bisa memetik manfaat dari tiga renungan sederhana ini. Penulis atau bukan. Seniman atau tidak. Pada dasarnya, kita semua sama sekaligus berbeda. Kedua gerbang yang harus diterabas batasnya agar jiwa kita bebas seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-1726533703136919491?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/1726533703136919491/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=1726533703136919491&amp;isPopup=true' title='57 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/1726533703136919491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/1726533703136919491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2008/11/hail-all-ye-writers-februari-2001.html' title='Hail, All Ye Writers!'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><thr:total>57</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-7970280182394944414</id><published>2008-11-09T19:05:00.009+07:00</published><updated>2009-01-25T15:23:28.542+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Books That Tickle'/><title type='text'>Fahd In My Eyes</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SRbUql2ivxI/AAAAAAAAAS4/kYbcBUctgoA/s1600-h/cat.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 137px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SRbUql2ivxI/AAAAAAAAAS4/kYbcBUctgoA/s400/cat.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266630642436849426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);font-size:180%;" &gt;Fahd In My Eyes&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amplop cokelat berisi sebuah buku tiba di rumah saya. Walaupun judulnya berbahasa Inggris, isi dan penulisnya asli Indonesia: &lt;a href="http://fahd-isme.blogspot.com/2008/10/cat-in-my-eyes-sebab-bertanya-tak.html"&gt;“A Cat In My Eyes” oleh Fahd Djibran&lt;/a&gt;, terbitan Gagas Media. Sebuah racikan baru dari buku lama Fahd berjudul “Kucing” yang pernah saya baca bertahun-tahun yang lalu. Saat itu Fahd masih SMA, di kota Garut. Saat itu saya masih tinggal di Bandung, baru saja menerbitkan “Supernova: Petir”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desainer sampul buku-buku saya, Fahmi, adalah orang yang berjasa memperkenalkan karya Fahd. Begitu selesai membaca, saya langsung memesan sepuluh eksemplar “Kucing” untuk dibagi-bagikan ke teman-teman penulis di Jakarta. Saya begitu terpukau. Terpana. Bersemangat menyala-nyala. Rasanya seperti pendulang yang menemukan sebongkah batu mulia dalam tumpukan batu kali. Seorang remaja belasan tahun bisa memiliki kemampuan merangkai kata selugas dan secerdas itu, memiliki kepekaan bahasa di atas rata-rata, dan terlebih lagi, pada usianya yang begitu belia, Fahd sudah menunjukkan kehausannya yang mendalam pada makna hidup, cinta, dan Tuhan. Buku Fahd adalah temuan langka. Satu di antara sejuta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Fahd sudah berkuliah di Yogyakarta. Dan di kota itulah saya pertama kali bertemu langsung dengannya. Buku “Kucing” pun sudah berganti rupa menjadi “A Cat In My Eyes”, ditangani oleh salah satu penerbit terbesar di Indonesia. Namun Fahd tetap seorang Fahd. Seorang pencari, pengelana makna, dan penjelajah spiritual. Entah sudah sampai di mana dia. Ada yang bilang, perjalanan spiritual bukanlah perjalanan linier, melainkan perjalanan kuantum yang bisa melompat dan berakrobat tanpa bisa ditebak.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, di buku keduanya ini kemampuan Fahd berkata dan berbahasa tampak semakin halus dan dewasa. Dari prosa-prosa pendeknya, Fahd pun tampak lebih lapang dada untuk menghormati ranah ketidakpastian dengan kerap membubuhkan “barangkali” dan “tidak tahu” saat tulisannya sudah berada di ujung sebuah kesimpulan. Ada yang bilang, semakin dewasa jiwa seseorang, ia lebih banyak menyatakan “tidak tahu” ketimbang menjaminkan sebuah kepastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari buku “A Cat In My Eyes”, saya paling suka prosanya yang berjudul “Skizofrenia”. Entah mengapa, saya merasa prosa itulah yang paling mewakili penelusuran seorang Fahd. Namun sepanjang perjalanan 176 halaman buku tersebut masih banyak lagi cerita dan metaforanya yang bersinar gemilang, yang sekiranya bisa memuaskan hati para pembaca. Jujur, yang agak menjadi ganjalan bagi saya hanyalah judul bukunya. Menurut saya pribadi, masih banyak pilihan judul lain yang lebih representatif, bahkan lebih strategis, untuk mewakili buku ini secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, banyak harapan yang melambung dalam hati ketika menemukan karya Fahd—sejak awal hingga kini. Saya berharap dia terus bertambah lihai dan cemerlang dalam menulis. Saya berharap dia terus bertambah jernih dan jeli dalam mengobservasi. Singkatnya, saya berharap dia menjadi seorang penulis yang monumental. Dan saya pun cukup yakin Fahd Djibran punya segala bekal untuk mencapai itu semua. Tapi, harapan saya yang lebih dalam sesungguhnya lebih sederhana dan tak ada sangkut-pautnya dengan menulis, yakni harapan untuk Fahd bertubrukan dengan “sesuatu” yang ia cari. Karena meski secicip dan sebentar saja, pengalaman semacam itu akan mendaratkannya dalam dimensi sepenuhnya kalbu dan bukan lagi akal. Sekembalinya dari dimensi tersebut, saya yakin kedahsyatan tulisannya akan berbeda citarasa. Lebih empiris ketimbang filosofis. Atau barangkali, ia malah berhenti menulis sama sekali. Kita tidak pernah tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang, saya masih penasaran akan satu hal. Ada apa dalam dodol Garut atau domba Garut yang mampu menghasilkan seorang Fahd Djibran? Ada apa dengan Kawah Papandayan hingga seseorang yang tinggal di kaki lerengnya bisa berkata-kata: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Aku ingin tetap berada di udara jika hidup adalah sebuah koin yang dilempar ke udara dan menjadikan kita sebagai salah satu sisi dari dua mata koin itu. Aku ingin berada di dunia antara, abu-abu, dunia fusi sinergis yang harmonis.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali Fahd adalah kesimpulan hidup bahwa letak geografis dan tingkat modernitas sebuah tempat bukanlah penentu mutlak untuk menciptakan manusia bermutu, melainkan: adakah manusia itu “terusik” jiwanya? Adakah ia “mendengar”? Sudikah ia menyimak dan menelusuri satu tanda tanya besar yang bersemayam dalam setiap batin? Fahd memilih untuk bergelut dengan tanda tanya itu. Ia telah merelakan dirinya untuk diusik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika “Kucing” sempat tenggelam dalam percaturan sastra Indonesia, sudah saatnya “A Cat In My Eyes” mengeluarkan cakarnya. Melewatkan buku ini, dan juga jejak seorang Fahd Djibran, merupakan kehilangan besar bagi penggemar sastra Indonesia. Meski tidak percaya pada kepastian, tetap ingin saya jaminkan yang satu itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-7970280182394944414?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/7970280182394944414/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=7970280182394944414&amp;isPopup=true' title='54 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/7970280182394944414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/7970280182394944414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2008/11/fahd-in-my-eyes-amplop-cokelat-berisi.html' title='Fahd In My Eyes'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SRbUql2ivxI/AAAAAAAAAS4/kYbcBUctgoA/s72-c/cat.gif' height='72' width='72'/><thr:total>54</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-1138722662871934654</id><published>2008-10-21T10:35:00.010+07:00</published><updated>2009-01-25T15:29:21.341+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On Writing and Writership'/><title type='text'>A Night With Vikram</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(153, 255, 153);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;A Night With Vikram&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu lalu (14/10) saya mendapatkan kesempatan langka. Sebuah jamuan makan malam di bilangan Darmawangsa bersama seorang penulis dunia yang sangat sohor: &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Vikram_Seth"&gt;Vikram Seth&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya dan Reza tiba, sudah ada beberapa teman penulis yang berkumpul: Djenar Maesa Ayu, Richard Oh, Nirwan Arsuka, sang tuan rumah Rayya Makarim, dan teman-teman lainnya. Saya kangen mereka. Ada citarasa khusus yang selalu tercicip tiap teman-teman penulis ini berkumpul. Saya tidak bisa mengartikulasikannya. Yang jelas atmosfer ini sangat khas, terasa baik dalam topik obrolan maupun lelucon yang terlontar. Dan saya rindu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vikram datang bersama Janet DeNeefe, pemrakarsa sekaligus direktur dari Ubud Writer’s Festival yang mendatangkan Vikram ke Indonesia untuk pertama kalinya. Tak lama kemudian, Goenawan Mohammad pun muncul di pintu sambil melambaikan tangan. Lengkaplah sudah tamu undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan malam diadakan di halaman belakang. Kombinasi indah antara langit dan siluet pepohonan menaungi kami. Namun berhubung ketersediaan waktu saya malam itu terbatas, terpaksa saya buru-buru ikut menyodok giliran bersama Richard untuk meminta tanda tangan Vikram di buku-bukunya. Richard membawa setumpuk koleksi novel Vikram miliknya. Saya cuma punya satu: “An Equal Music”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;* Vikram &amp;amp; Richard Oh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SP1SXVTdRnI/AAAAAAAAARg/8q3NuOqfllo/s1600-h/image002.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SP1SXVTdRnI/AAAAAAAAARg/8q3NuOqfllo/s320/image002.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259450500647831154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;* Vikram &amp;amp; Me&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SP1S2dO-nNI/AAAAAAAAARo/615GrmiNH00/s1600-h/image002.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SP1S2dO-nNI/AAAAAAAAARo/615GrmiNH00/s320/image002.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259451035352472786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan sureal pun terjadi. Vikram dan Richard bercakap-cakap lancar dalam bahasa Mandarin. Bergantian secara frantik, Vikram bicara dengan bahasa Inggris yang sempurna. Belakangan saya tahu dia pun bisa berbahasa Arab. Dan, tentu saja, Hindi. Vikram bahkan menuliskan nama saya dalam bahasa Hindi di atas tanda tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembicaraan yang terbilang cukup singkat, hanya sekitar sejam, saya merasakan kesan yang mendalam. &lt;span class="fullpost"&gt;Anehnya, kesan ini tidak jelas tentang apa dan bagaimana. Pembicaraan kami terbilang ringan-ringan saja, bahkan konyol. Kami ngobrol seputar kebiasaan orang Batak yang gemar memberi nama “ajaib”, sekilas tentang kisah pewayangan, dan sekelumit aneka pengalaman Vikram sebagai seorang penulis kelas dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bagi saya ada satu hal yang mencuat dari sosok Vikram Seth: rasa ingin tahu. Saya mengamati bagaimana ia begitu fokus sekaligus luwes saat bercengkerama dengan kami satu per satu, berusaha menghafal nama kami dan menelusuri maknanya, bagaimana ia lebih suka bepergian sendiri karena itu membuatnya lebih leluasa berinteraksi dengan orang-orang, bagaimana ia tahu bahwa ada budaya Minang yang bertetangga cukup dekat dengan budaya Batak—dan hal ini ia ketahui hanya lewat obrolan dengan sopir taksi yang mengantarnya ke Darmawangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa ingin tahu seperti itulah yang selalu berusaha saya artikulasikan saat ditanya: apakah modal terbaik seorang penulis? Seorang penulis adalah petualang. Ia berjalan menuju tempat-tempat dalam dirinya dengan lebih rajin dan lebih eksploratif ketimbang turis biasa. Ia tidak mengambil “paket wisata” bersama serombongan orang banyak lainnya. Ia pergi sendiri, berbekal intuisi dan rasa ingin tahu, siap dengan risiko tersasar, gagal, dan jadi gembel. Ia mengamati, bergelut dan bergulat dengan pengamatannya, kemudian meramu dan menyajikannya bak seorang koki menyuguhkan hidangan terbaiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penulis tidak mutlak memiliki kehidupan dan pengalaman pribadi yang serba luar biasa. Namun seorang penulis harus memiliki hasrat menggali yang luar biasa, yang menjadikan hal kecil sekalipun menjadi istimewa dan bermakna. Ia mampu menemukan mutiara dalam setiap pengamatan, dalam setiap penelusuran. Dan yang lebih penting, ia mampu menyampaikannya dengan jernih. Bukan untuk siapa-siapa. Tapi untuk dirinya sendiri. Seorang penulis berkata-kata bukan untuk melayani orang lain, melainkan untuk menuntaskan keingintahuannya sendiri terlebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amitav Gosh, salah satu penulis dunia yang juga pernah hadir di Ubud, pada salah satu sesinya berkata: “Pada dasarnya saya hanya menuliskan buku yang ingin saya baca.” Saat mendengar kalimat itu saya pun terpana. Dalam hati saya berseru: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;itu dia!&lt;/span&gt; Itulah yang selalu saya rasakan sejak pertama kali menyadari hobi satu ini. Seorang penulis selalu mengawali perjalanannya dari meniti diri sendiri. Jadi, tidaklah berlebihan jika dibilang bahwa menulis adalah perjalanan menemukan diri. Dan dalam perjalanannya, kita bisa tersesat, bahkan terpaksa merelakan kewarasan, citra diri, dan aneka bungkus “masuk akal” yang kita dapat dari lingkungan eksternal.  Tersesat atau tidak, pada akhirnya perjalanan yang ditempuh seorang penulis adalah perjalanan tanpa tujuan. Apa yang kita temui dalam perjalanan itulah yang bermakna. Berisiko. Berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk di bawah pepohonan dan langit malam yang jernih, bersama para “petualang” lain, membuat saya sejenak menghela napas. Vikram berkata, salah satu kendala para penulis adalah mereka tak sempat lagi membaca. Saya sendiri mengakui itu. Membaca terkadang menjadi kemewahan atau sekadar bagian dari fantasi hari tua. Namun terkadang, membaca tidaklah terbatas pada teks di atas kertas. Udara ini, atmosfer ini, obrolan-obrolan ringan ini, gelas-gelas kosong yang minta kembali diisi… menjadi salah satu buku yang paling mengesankan yang pernah saya baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelebat hadirnya seorang petualang bernama Vikram Seth, bersama sekumpulan petualang lain yang berceletuk dan terbahak bersama, sungguh membuat saya merasa perjalanan ini tidak sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga atas hadirnya Anda semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SP1TVH-ztHI/AAAAAAAAARw/TXcnN3LpEe8/s1600-h/image002.png"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SP1TVH-ztHI/AAAAAAAAARw/TXcnN3LpEe8/s400/image002.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259451562223449202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-1138722662871934654?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/1138722662871934654/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=1138722662871934654&amp;isPopup=true' title='29 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/1138722662871934654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/1138722662871934654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2008/10/night-with-vikram-minggu-lalu-1410-saya.html' title='A Night With Vikram'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SP1SXVTdRnI/AAAAAAAAARg/8q3NuOqfllo/s72-c/image002.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>29</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-2541128307011570094</id><published>2008-10-14T12:41:00.005+07:00</published><updated>2009-01-25T15:30:49.368+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On Life and Living'/><title type='text'>The Age of Ignorance</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);font-size:180%;" &gt;The Age of Ignorance&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan tahun yang lalu, saya menulis manuskrip “Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh” dengan sebuah harapan. Harapan yang lahir dari rasa sedih, amarah, dan frustrasi. Saat Ambon luluh lantak akibat perang berisukan agama pada tahun 1999, hati saya ikut remuk redam. Entah kenapa, konflik yang mengatasnamakan kebenaran dan Tuhan selalu membuat saya gerah. Terlepas dari isu politik apa di baliknya, sungguh menyakitkan bagi saya ketika seseorang mampu meneriakkan nama Tuhan saat menggorok leher sesamanya, ketika seseorang dirajam secara gotong royong atas nama agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1999 juga merupakan tahun bersejarah bagi saya. Pada bulan Desember, untuk pertama kalinya saya “terbangun” dari mimpi panjang saya akan Tuhan dan segala kebenaran warisan. Untuk pertama kalinya, saya menemukan otentisitas yang selama ini saya cari-cari bagai ikan di laut yang bertanya-tanya keberadaan air. “Sesuatu” itu ada di bawah hidung saya, bersemayam dalam diri tanpa pernah saya sadari saking sibuknya menggapai ke luar. Malam pada tanggal 17 Desember, tabir itu terangkat dan “sesuatu” itu menunjukkan dirinya pada saya. Tak ada lagi keterpisahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan pernah lupa momen tersebut. 27 jam berada dalam ekstase. Dan dunia berubah total bagi saya sejak saat itu. Segalanya tak lagi sama. Termasuk arti Tuhan dan kebenaran. Seusai titik puncak itu, saya pun kembali merenung dan bertanya: apa yang bisa saya lakukan? Apa yang bisa saya bagi? Dan pada tahun 2000, saya mulai menulis. Terbakar oleh harapan bahwa perubahan besar itu pasti akan datang, mengakhiri Kali Yuga yang merupakan zaman kegelapan batin, dan membangunkan semua jiwa yang sudah siap lepas landas. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The great shift. The new age of consciousness.&lt;/span&gt; Gelombang kesadaran baru yang membawa dunia menuju pencerahan spiritual. Saya ingin menyumbang secercah riak, meskipun kecil dan lemah jika dibandingkan deru gelombang di samudera kesadaran yang tak berbatas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan tahun berlalu. Harapan itu masih saya simpan bagaikan mengantongi berlian mungil. Sesekali saya intip untuk melihat kilau cahayanya. Meski kadang mengusam dan menciut, saya tahu berlian tersebut masih tersimpan aman di kantong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu yang lalu, saya menerima sebuah sms dari nomor tak dikenal.&lt;span class="fullpost"&gt; Isinya sebaris singkat caci maki. Sejenak saya bertanya dalam hati, apakah ini salah sambung? Atau ada teman saya yang iseng? Akhirnya saya menelepon nomor itu. Seorang laki-laki yang mengaku bernama Andi menjawab panggilan saya. Lalu saya bertanya, apa maksud dari sms-nya. Lantas mengalirlah keluh kesah kekecewaan dan kecaman dari orang yang saya tak kenal itu. Ia mengecam pilihan saya dan berdalih bahwa ia kasihan pada anak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertegun. Dan akhirnya saya berkata padanya, keras: “Anda tidak mengenal saya, dan Anda berani menghakimi saya berdasarkan kesimpulan Anda sendiri yang bersumber dari berita yang Anda pikir benar padahal tidak, dan Anda bisa-bisanya beralasan kasihan pada seorang anak yang tidak pernah Anda temui dan kenali? Menurut saya, di sini yang terganggu adalah Anda. Bukan saya atau anak saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, ia meminta maaf, sejenak bahkan berbasa-basi menanyakan buku baru, dan pembicaraan kami pun usai. Saya menutup telepon dan seketika menyadari sesuatu: tangan saya gemetar. Saya marah. Saya murka. Merasa privasi saya diterjang dan diobrak-abrik. Orang itu datang ke teritori pribadi saya, berbekal asumsi yang ia rakit dari info sepotong, kemudian dengan gagah berani mengusung panji kebenarannya sendiri. Persis prinsip orang main hakim sendiri, tanpa ba-bi-bu merajam sang tersangka tanpa perlu memproses lebih lanjut. Senjatanya bukan batu, melainkan kata-kata. Merenungi itu semua dada saya pun sesak. Sesuatu bergolak sangat hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama beberapa bulan terakhir, keadaan memaksa saya untuk menerima aneka justifikasi dari orang-orang yang tidak saya kenal. Mereka datang ke blog ini, atau bersuara dalam ruang mereka sendiri, tentang kehidupan dan pilihan saya—orang yang mereka pun tidak kenal. Dengan semangat berkobar mereka mengusung panji-panji kebenaran mereka, menyatakan perang atas “ketidakbenaran” yang mereka lihat, bahkan sampai mencuri foto pribadi lalu menyebarkannya seperti virus. Masih dengan perilaku serupa, institusi-institusi media nasional pun tak ketinggalan mengadopsi virus itu dengan segala keterbatasan dan kebelepotan mereka, hingga nilai akurasi dan faktualitas yang seharusnya menjadi kode etik media pun diabaikan. Beberapa bahkan sudah sampai ambang batas idiot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena ini bukanlah barang baru. Ini adalah drama kemanusiaan yang terjadi di seluruh muka bumi. Dan jika kita sama-sama jujur dan berani bertanya: mengapa kita gemar infotainment? Mengapa kita menyukai koran merah? Mengapa kita begitu candu pada gosip dan tragedi? Mengapa kita diam-diam merasakan kepuasan saat orang bernasib lebih buruk dari kita? Mengapa kita merasa terganggu saat orang-orang yang kita pikir harusnya lempar-lemparan piring malah duduk semeja dengan manis dan tawa lebar? Jika kita berani bertanya dengan cukup dalam, barangkali kita menyadari bahwa kita ternyata kecanduan perang. Konflik adalah penjara yang membuat kita nyaman. Dengan alasan yang sama, manusia lantas menciptakan surga. Kita yang terbiasa hidup bak di neraka dan berbagi apinya bagai mengedarkan tongkat estafet, membutuhkan surga untuk jadi asuransi bersama. Kita perlu sebuah fantasi muskil yang baru bisa dicapai kalau kita mati. Tapi tidak sekarang. Surga bukan untuk dikonsumsi hari ini, bukan untuk dibangun di bumi. Di sini kita tidak boleh damai dan bahagia. Meski mulut kita selalu berkata sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita jujur, dapatkah Anda menyadari secercah kepuasan yang muncul saat Anda terbukti lebih bermoral daripada orang lain? Terbukti lebih normal dan sesuai kaidah orang banyak? Ada rasa aman di sana. Rasa nyaman, dan… rasa benar. Seumur hidup kita cari kebenaran itu. Dan kita berusaha mendapatkannya dari konsensus orang  banyak, dari normalitas. Namun kita sering lupa bahwa konsensus itu pun dibentuk oleh orang-orang yang sama-sama mencari. Mereka yang menemukan tidak akan repot lagi menggalang massa demi mencari persetujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari saya seperti orang patah hati. Percakapan telepon itu menjadi puncak kumulasi dari rasa frustrasi global saya atas kemanusiaan. Ia berhasil merenggut sebutir mungil berlian yang saya simpan selama ini. Dan saya dipaksa melihat kenyataan pahit bahwa perang itu ternyata masih berlangsung. Perang Salib atau kerusuhan Ambon, hanya masalah skala dan tempat. Esensinya tetap sama. Kita berperang setiap hari mengatasnamakan kebenaran, agama, dan Tuhan. Padahal apa yang kita perangkan hanyalah konsep kita sendiri, isu pribadi kita sendiri, yang tak berani kita selesaikan di dalam hingga kita harus memproyeksikannya keluar, ke orang-orang yang tidak kita kenal. Hanya karena kita pengecut. Kita tidak berani meninjau peperangan di dalam diri. Menggapai keluar lebih mudah. Menilai dan menghakimi orang lain lebih memuaskan daripada mengevaluasi ke dalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata saya dipaksa untuk melihat bahwa bandul kemanusiaan dari zaman batu sampai hari ini hanya bergerak dari kanan ke kiri dan tak ke mana-mana lagi. Era kesadaran baru… kebangkitan spiritual… semua rasanya hambar dan ilusif. Perang ini terus berlangsung dan tak akan pernah selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The greatest enemy is not evil, but ignorance. And as far I as can see, we’re not living in the age of new consciousness. Not even close. We’re living in the age of ignorance, as we’ve always been, and will always be. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duka cita yang mendalam ini barangkali hanya untuk sementara. Namun hari ini saya ingin mengucapkan selamat tinggal pada berlian mungil itu, yang meski juga sementara, cahayanya sempat menggerakkan saya untuk berharap dan berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini izinkan saya pamit dan berduka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-2541128307011570094?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/2541128307011570094/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=2541128307011570094&amp;isPopup=true' title='89 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/2541128307011570094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/2541128307011570094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2008/10/age-of-ignorance-delapan-tahun-yang.html' title='The Age of Ignorance'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><thr:total>89</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-6986650802942542239</id><published>2008-09-16T10:49:00.016+07:00</published><updated>2009-01-25T15:33:00.020+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='New Family Member'/><title type='text'>Birth of "Rectoverso"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SM8t4nuVmxI/AAAAAAAAANM/5gwiKH2S7XA/s1600-h/GENERAL+.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SM8t4nuVmxI/AAAAAAAAANM/5gwiKH2S7XA/s400/GENERAL+.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5246462541669178130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setiap karya adalah anak jiwa. Dan pada tanggal 3 September 2008 lalu, saya baru saja resmi “melahirkan” sepasang “bayi kembar” bernama &lt;a href="http://www.dee-rectoverso.com/"&gt;RECTOVERSO&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah karya pertama saya yang mampu menghadirkan kedua wajah saya sekaligus: musik dan fiksi, album dan buku, Dee yang menulis dan Dewi Lestari yang bermusik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.dee-rectoverso.com/"&gt;Rectoverso&lt;/a&gt; juga merupakan karya hibrida pertama di Indonesia yang memadukan kedua dunia tadi menjadi satu karya yang utuh meski terpisah secara wujud.  Karena itulah, &lt;a href="http://www.dee-rectoverso.com/"&gt;Rectoverso&lt;/a&gt; bukan sekadar karya, melainkan sebuah pengalaman. Dalam pengalaman &lt;a href="http://www.dee-rectoverso.com/"&gt;Rectoverso&lt;/a&gt;, fiksi dan musik saling bercermin, melengkapi, dan menggenapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke tangan Anda, saya persembahkan: 11 Lagu. 11 Kisah. 11 langkah untuk menelusuri lorong hati lebih jauh lagi. Saya ajak Anda untuk melangkah bersama. Alami &lt;a href="http://www.dee-rectoverso.com/"&gt;Rectoverso&lt;/a&gt;. Dan sesudah itu, kiranya Anda sudi berbagi catatan pendek tentang perjalanan Anda menyelami karya ini. Terima kasih saya dari hati yang terdalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut beberapa sharing pengalaman dari sahabat-sahabat saya yang sudah mencicipi &lt;a href="http://www.dee-rectoverso.com/"&gt;Rectoverso&lt;/a&gt;. Saya undang Anda untuk turut berbagi. Dan sekali lagi, terima kasih atas kata, air mata, dan izinnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Andrea Hirata (Penulis):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Daya tarik unik tulisan Dee adalah ia selalu menghormati intelektualitas pembaca.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sitta Karina Rachmidiharja (Penulis):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Memaknai Rectoverso (melalui mata dan telinga) adalah kegiatan menggugah nurani sekaligus meneduhkan jiwa. Ilustrasi rintikan hujan, kilauan cahaya, tunas-tunas muda yang baru tumbuh, dan pucuk dandelion yang beterbangan... kesemua itu bukannya tanpa arti, karena Dee mengajak kita mengolah otak dan hati secara bersamaan dengan kemampuannya yang masif dalam mengurai kata, kiasan, serta metafora yang tidak hanya indah dan cerkas namun juga intim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Riry Silalahi (Gitaris “She”):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sekarang dua lagu dari Rectoverso menjadi RBT gue, hehe. Sejak dengar album itu, gue nulis lagu yang gue mau, yang menurut gue indah. Nggak melulu industri. So, thank you for that.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Goenawan Mohamad (Penulis, Kolumnis):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di balik bentuk dan desain buku ini yang mungkin teramat “ngepop”, Dee bercerita dengan kejernihan dan kelembutan yang memukau. Kisah-kisahnya (“Malaikat Juga Tahu”, “Firasat”) adalah empati yang, tanpa berlebihan, menjangkau ke dalam hidup mereka yang mencintai dan tak berdaya. Bagi saya, cerita-cerita ini karya Dee yang terbaik: matang tapi tetap dengan rasa yang murni, sederhana tapi menampilkan apa yang luar biasa dari permukaan yang biasa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Richard Oh (Penulis):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dari buku ke buku, Dee membuktikan diri sebagai penulis yang semakin mapan dalam eksplorasi gaya bahasa dan memancangkan penguasaannya di wilayah kisah-kisah bermakna spiritualitas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Seno Gumira Ajidarma (Penulis):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rectoverso seperti puisi dalam sebelas bagian, ketika bukan alur maupun cerita yang penting melainkan nuansa bahasa dan suasana hati penuturnya berbicara. Menurut pengamatan sekilas saya, Rectoverso adalah lompatan dari buku-buku Dee sebelumnya. Karya ini membuat kita menghargai, menghormati, dan menikmati dunia personal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Titi DJ (Penyanyi):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ada sensasi baru! Saya nikmati benar sensasinya, karena pada saat yang bersamaan mata saya – yang membaca novelnya, dan kuping saya – yang mendengar albumnya, berkolaborasi dengan manisnya untuk mengenyangkan “lapar dan haus” saya akan karya Dee. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Melaney Ricardo (Penyiar Trax FM, Presenter, MC):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ibarat shampoo, Rectoverso is 2 in 1. So you really got to have it both. Sebagai orang yang awam akan kesusastraan, buku “Rectoverso” menurut gua adalah karya Dee yang lebih ‘manusiawi’. Meaning, lebih ringan terutama buat orang yang nggak betah baca sesuatu yang terlalu tebal kayak gue. Isinya cerpen-cerpen singkat tapi tetap sarat makna. And that happens to be SOOO DEEE, hehehe. Dan albumnya, hmm, what can I say… she is the jargon maker after Rihanaa with that ‘ela-ela’ thingy. Coz suddenly everybody start saying ‘malaikat juga tahu aku yang jadi juaranya’ either for their status in Facebook or even put it in their daily conversation (lol). It’s really a hit!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Ninit Yunita (Penulis, Blogger):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rectoverso, karya yang indah dari Dee. Membuat saya ketagihan untuk berulang membacanya. Indah dan begitu mudah menyentuh jiwa. Demikian juga ketika mendengar musiknya. Dee selalu, secara natural, dengan mudah membuat pembaca jatuh cinta dengan karya-karyanya. I love Rectoverso!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Deddy Nur (Sutradara, Artist Manager):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku selalu angkat topi buat seorang Dewi Lestari yang menciptakan maha karya yang begitu indah. Seakan kita hanyut dalam buaian kata yang seolah kita sendiri yang mengalami lembar demi lembar, apalagi Dewi Lestari tak berhenti sampai di sana. Ia menginspirasikannya lagi dengan lagu-lagu bersyair dan bermelodi yang indah. Aku sebagai teman hanya bisa berucap: “Kamu yang jadi juaranya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Calvin Michel (Blogger):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Agak sulit mendeskripsikan warna musik pada album ini selain “menenangkan”, karena ada campuran pop, jazz, elektronika, ambient, orkestra, etc. Yang pasti semuanya dikemas dengan rapi dan membuat musik-musik di album ini sangat cocok bagi mereka yang menyukai musik santai dan melepas lelah. Album ini mirip seperti musik-musik lounge yang memberikan efek relaks bagi pendengarnya.&lt;br /&gt;Lima track yang paling saya sukai dalam album ini adalah “Curhat Untuk Sahabat”, “Malaikat Juga Tahu”, “Aku Ada”, “Cicak di Dinding” dan “Tidur”.&lt;br /&gt;Akhir kata, saya mengucapkan selamat kepada mbak Dewi Lestari dengan perilisan karya artistik ini, yang bisa berdiri sendiri namun merupakan satu kesatuan. Anda bisa menyentuh orang lain melalui tulisan, nyanyian dan kedua-duanya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;* See &lt;a href="http://republikbabi.com/dewi-lestari-ingin-jadi-cicak-di-dinding/"&gt;Republik Babi&lt;/a&gt; for a complete review.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fahd Jibran (Penulis, Blogger):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rectoverso mungkin hanya menuliskan kisah-kisah sederhana, tapi kesederhanaan itulah yang membuatnya tidak berjarak dengan para pembacanya. Seperti saya yang menikmati “Selamat Ulang Tahun” sebagai refleksi dari kisah malam ulang tahun saya sendiri—yang benar-benar pernah saya alami dalam kenyataan. Benar-benar terasa, benar-benar dekat. Setelah menyelesaikan kisahnya, saya mendengarkan lagunya, dan: gelombang itu datang, seperti ombak yang memeluk erat mata kaki kita, mengajak kita berlepas dari gigir pantai, menuju laut untuk menyelami kedalaman maknanya, mabuk laut kata-katanya.&lt;br /&gt;Hibridasi lagu dan kisahnya telah benar-benar menjadi Rectoverso yang me-rectoverso. Lagu dan kisahnya tidak hanya saling bercermin dalam kedalaman maknanya, tapi juga saling bercermin bahkan di wajah terluar mereka. Rectoverso dalam komposisi 11:11, membuat saya tahu bahwa berkomunikasi dengannya adalah menghilangkan pembatasnya, melebur dengannya: satu-satu bacalah kisahnya, satu-satu resapilah maknanya.&lt;br /&gt;Kritik saya sederhana saja, untuk buku yang masuk jadwal beli saya di akhir bulan menjelang Lebaran. Harganya membuat saya kesulitan mencarikan budget yang tepat dan memadai. Apalagi, untuk mahasiswa yang harus mudik seperti saya, harganya agak mengganggu kenyamanan dompet saya. :) Soal bukunya, ada beberapa gambar/image dan foto yang bagi saya kurang ‘berbunyi’… Entah kenapa…&lt;br /&gt;Akhirnya, kali ini aku mengucapkannya tidak seperti perpisahan, bukan juga perjumpaan, melainkan sebuah kesadaran (Aku Ada, hal. 36). Di atas semua itu, saya mesti mengucapkan banyak-banyak terima kasih untuk kehadiran Rectoverso di ruang baca saya, dan tentu saja, angkat topi untuk ibu yang melahirkannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;* See &lt;a href="http://fahdisme.blogspot.com/2008/09/rectoverso.html"&gt;Ruang Tengah&lt;/a&gt; for a complete review.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Saraswaty (Blogger):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cerita-cerita di Rectoverso bisa  diibaratkan seperti sosok-sosok sekitar kita  yang biasa dimunculkan di film.  Ibu, Pecinta, Pemurung, Pekerja, Gadis Biasa, Orang-orang yang Kehilangan.&lt;br /&gt;Tapi, pemeran yang menghidupkan sosok-sosok ini melakukan PR-nya dengan sangat baik. Pemeran utama ini seperti telah melakukan observasinya selama beberapa tahun. Dia mengerti perasaan Ibu yang memiliki cinta yang luar biasa, kemudian berpindah menjadi seorang pecinta akut di beberapa kisah, kemudian kembali menghayati perasaan gadis biasa yang menolak untuk menjadi luar biasa. Kemudian, saya sadar… bukankah itu semua cerita yang ada di sekitar kita? Bukankah itu kita?&lt;br /&gt;11 Lagu 11 Kisah. Saya membaca Rectoverso seperti cara makan Oreo, diputer (mendengarkan intro lagu), dijilat (mulai membaca cerita + pause lagunya), trus dicelupin (setelah dibaca setengahnya, lagu baru dimulai lagi). Hehe, 11 kali juga saya mengalami perasaan “pertama ga ngerti liriknya soal apa, lalu tiba-tiba senyum-senyum sendiri karena akhirnya merasa menemukan arti dan kaitan lirik dan cerita.”&lt;br /&gt;Jadi, buat yang belum mengenal Rectoverso… dengar fiksinya, baca musiknya, dan rangkullah keduanya dengan hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;* See &lt;a href="http://www.blogger.com/%20http://saraswaty.com/2008/09/22/rectoverso/#content"&gt;Saraswaty&lt;/a&gt; for a complete review.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jay Subiyakto (Seniman):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kombinasi indah antara literatur dan musik yang merangsang visual. Tapi liriknya membuat saya sedih. Selamat, Dee!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Happy Salma (Aktris, Penulis):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lagu-lagunya nempel di kepala dan… mmm… ceritanya membuat kita lebih dekat secara emosional dengan sang penulis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jo Priastana (Jurnalis):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Peluk” – Rectoverso: Adakah kebahagiaan dan ketidakbahagiaan itu satu adanya? Dan hanya ilusi waktu yang memisahkannya karena rasa bahagia itu nyatanya hanya bentukan dari identifikasi dengan kondisi yang rentan perubahan. Mungkin dengan terhubungkan diri kepada yang tak terwujudkan dan mengizinkan pudarnya apa yang telah terbentuk di situlah terdapat ketenteraman dan kedamaian. Rectoverso is Dewi’s celebration of life!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daniel Ziv (Penulis):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menikmati alunan musik Rectoverso seketika membangkitkan keindahan, kecerdasan, dan kesejukan. Orisinalitas karya ini begitu mencuat di tengah lansekap musik Indonesia yang tertebak dan cenderung ‘ikut-ikutan’. Rectoverso adalah kombinasi dari visi yang konsisten, bakat yang unik, dan kerja keras. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Nanda (Senior Marketing):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jika diizinkan aku pingin kasih opini dari 2 sisi, selaras dengan Rectoverso sendiri (hehe, ikut-ikutan). Opini pertama adalah dari keseluruhan paket yang kuterima. ‘Love the design, colors, and drawings. Especially the photographs of rain in “Firasat”. It succesfully touches my heart through my eyes. I like most of the stories, esp. “Curhat Buat Sahabat”, “Aku Ada”, dan “Back To Heaven’s Light”. Basically, semua cerita ini bagaikan alter ego Dee. Berbeda tapi satu nyawa. Dan tiap membaca suatu cerita, aku selalu mencium aroma Dee di mana-mana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jenny Jusuf (Penulis, Blogger):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rectoverso berulangkali membuat saya jatuh cinta. Menangis. Tertawa. Merenung. Terdiam dalam hening. Terhanyut di dalamnya hingga kata-kata kehilangan makna. Sebelas kisah di dalamnya tak membosankan untuk dibaca berulang-ulang, dan sebelas lagunya telah sukses menjadikan saya pecandu dalam beberapa hari saja. Merasa hidup tak lengkap jika tak menyetelnya begitu bangun tidur dan mendengarkannya hingga mata siap menutup. Mungkin ilustrasi yang cukup pas untuk menggambarkan sensasi yang muncul dari pengalaman membaca dan mendengarkan Rectoverso adalah bagai menaiki rollercoaster yang bergerak lambat. Merasakan energi dan adrenalin terstimulasi, terpompa dan termanifestasi dalam berbagai wujud. Terus bergerak naik-turun tanpa perlu membangkitkan bulu roma. Atau seperti mengonsumsi narkoba dalam jumlah sedikit namun rutin. Rasa yang diberikannya membuat hati terus menagih untuk menikmati lebih dan lebih lagi. Jika Supernova adalah virus, maka Rectoverso bagi saya adalah zat adiktif. Candu bagi jiwa. Racun yang tak butuh penawar. Suplemen hati yang bebas dikonsumsi sepuasnya tanpa khawatir overdosis. Selamat, Mbak Dee. Sayang saya hanya punya empat jempol. :-)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;* See &lt;a href="http://jennyjusuf.blogspot.com/2008/09/rectoverso-sentuh-hati-dari-dua-sisi.html"&gt;Simple Pieces&lt;/a&gt; for a complete review.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Larasati Silalahi (Penyiar Hard Rock FM):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kalau boleh memberi pendapat pribadi, “Rectoverso” bisa jadi obat untuk orang-orang yang selalu mengklaim dirinya ‘logis’, bahkan dalam urusan yang menyangkut perasaan, seperti cinta. Kadang-kadang, tidak ada gunanya menjadi sok kuat dan tidak memakai hati. Kadang-kadang memang firasat kita harus lebih main daripada logika. Kadang-kadang kita lebih baik mempercayai apa yang tidak bisa dilihat. Kadang-kadang kita memang harus berhenti mencari kalau semata hanya ingin mengerti. Buat apa memakai (hanya) logika kalau tubuh, jiwa, dan roh tidak sinkron? Keindahan “Rectoverso” juga terletak pada fakta hibrida-nya, karya ini lebih baik dinikmati bersamaan. Karena kalau tidak, kita bisa tersesat dalam pemikiran atau asumsi sendiri. Sebut saja lagu “Malaikat Juga Tahu”, setelah single-nya diputar di banyak radio ibukota (termasuk di Hard Rock FM :-)), banyak penikmat musik Dewi Dee Lestari yang sibuk menerka cerita di balik lirik yang sangat jujur itu, tidak sedikit juga yang mengirimkan e-mail dan sms ke gw untuk berdiskusi. Namun gw yakin, ketika kita membaca bukunya, semua imajinasi pribadi langsung luntur sesaat. Gw suka kutipan kalimat Dewi Dee Lestari pada cerita “Grow A Day Older”, “A perfect chocolate bar should be bitter sweet, not all sweet, and certainly not all bitter, for then you lose all the fun.” Itulah kehidupan, itulah cinta. Ada pahit dan manis, gelap dan terang, siang dan malam, hidup dan mati, dan seterusnya. Itulah “Rectoverso”, bukan untuk dimengerti, tapi untuk dinikmati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;* See &lt;a href="http://larasatisilalahi.com/rectoverso-the-review/"&gt;Larasati Silalahi&lt;/a&gt; for a complete review.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Stella (Blogger):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Membaca sebelas cerita tersebut memberikan saya pengalaman emosional yang beragam dalam satu trip. Terkadang membawa saya membumbung setinggi awan, terkadang menghempaskan saya ke bawah dengan cepat. Buku ini di genggaman saya terasa seperti bar pengaman yang masih menghubungkan saya dengan dunia nyata. Jika harus memilih, saya akan memilih 'Peluk' sebagai cerita favorit. Saya cukup yakin cerita itu berbicara mewakili banyak insan. Menakjubkan bagaimana Dee berhasil merangkum jeritan dan tangisan hati dalam simfoni kata-kata, yang indah namun tidak picisan. Every word fits one another perfectly. Dan efek gambar serta foto yang mengikuti di akhir cerita, telah berhasil membunuh saya detik itu. Memaksa saya untuk melepas genggaman tangan dari bar pengaman dan ikut menghilang sejenak. Mempersiapkan hati untuk menghadapi kenyataan. Even if all my fingers are thumbs, i still need to borrow another thumbs.&lt;br /&gt;Thanks Dee! Congratulations!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;* See &lt;a href="http://konnyaku.blogspot.com/2008/09/about-rectoverso.html"&gt;Konnyaku&lt;/a&gt; for a complete review&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Riko (Musisi, Gitaris "Mocca")&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Merasakan (membaca dan mendengar) Rectoverso seperti bercermin. Banyak potongan puzzle saya yang bertaburan di dalamnya. Sedikit nggak percaya ternyata embrio Rectoverso ini dari lagu "Hanya Isyarat", yang dulu kita olah dengan penuh keterbatasan. Saat melihat semuanya tumbuh dengan sempurna menjadi satu "gift" yang besar buat saya pribadi. Satu paket sempurna yang harus dibagi dan dirasakan for your loved ones.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sitok Srengenge (Sastrawan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kisah-kisah dalam Rectoverso ini semakin meneguhkan keyakinanku: Dee adalah seorang di antara sedikit penulis Indonesia yang tak hanya cerdas, tapi juga piawai bercerita dengan tema-tema unik serta bahasa yang segar, energik, dan otentik. Setiap karya yang dihasilkannya memberi sumbangan berharga bagi khazanah sastra kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sarah Sechan (MC, Presenter)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Brilliant piece of work! Love it! Mau nangis baca cerita "Malaikat Juga Tahu", maybe because I'm a mother. Ngebayangin si Abang itu kehilangan, pilu bangeeeeet! Gue juga suka cerita "Peluk". Gue ngebayangin pada satu saat nanti harus pisah dengan seseorang, apakah gue punya kekuatan seperti itu; menyampaikan perasaan gue tanpa banyak omong, cukup dengan pelukan... edan. "Firasat" is also a favourite. Ah, semuanya, deh... gua suka semuaaaaa!!! Kau heibaaaaat!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alex Sriewijono (Psikolog, Presenter TV):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Halaman terakhir Rectoverso baru saja kutuntaskan. Melihat orang yang lalu lalang dengan kacamata Rectoverso; kisah di belakang langkah yang bergegas, harapan di antara lontaran gumaman, dan isyarat di dalam rongga retina mata yang menatap. Bukumu tak berujung dan juga tak berakhir, seperti mengalirnya hidup bersiklus. Bukumu bisa terasa dengan dan tanpa penokohan, karena siapa pun bisa menjadi tokoh dan “people behind the screen” untuk setiap penggalan episode cerita kehidupan. “Punggung ayam” dan “air hujan” tetap tak beranjak dari ruang pikirku walau sampul belakang tidak menyisakan kata lagi untuk dinikmati.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gery (Penyiar Female FM, MC):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Terima kasih aku dikasih kesempatan untuk bisa dengar setiap huruf di dalamnya, membaca setiap melodi senandungnya, juga melihat bau birnya. Karena kamu betul, akhirnya yang tertinggal pada kita adalah bahasa rasa. Sunyi tapi ramai, diam tapi bergerak, harum tapi terang, jatuh tapi melambung. Selamat buat Hidup yang ada di tiada. That is you, Dee!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Iwet (Penyiar Hardrock FM, MC):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suka gaya penulisannya, suka cerita-ceritanya, dan menurutku, memang harus beli dua-duanya. Lengkap banget rasa yang ada di dalam Rectoverso itu. Aku ibaratkan, Rectoverso ini kopi susu. Ada yang suka kopi aja, ada yang suka susu aja, tapi kalo mau ngerasain yang pol, campurin deh dua-duanya. Rasanya jadi sangat kaya sekali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sulung (Manajer Artis):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dee… gila ya loooo, bikin gua nangis mulai kemarin. Menangkap esensinya Rectoverso nggak boleh pakai otak tapi harus pakai hati. Ada keindahan di balik penderitaan, ada kegembiraan di balik penderitaan, semuanya ada dua sisi. Menurut gua, Rectoverso ini one the best albums and books this year. Dee nulisnya dari hati yang terdalam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Temi (Penyiar Sky FM):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Rectoverso membuat saya bisa lebih mengapresiasi cinta, menghargai perbedaan dan menerima kenyataan, dengan begitu kita lebih bisa memaknai hidup."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Shanty (Penyanyi):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cuma satu kata: JUARA!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Andi Rianto (Musisi):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hiks… aku menitikkan air mata mendengarkan Rectoverso… Thank you so much for letting me be a part of this. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;* Entry ini akan terus diperbarui seiring dengan komentar/review yang masuk.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-6986650802942542239?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/6986650802942542239/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=6986650802942542239&amp;isPopup=true' title='153 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/6986650802942542239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/6986650802942542239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2008/09/setiap-karya-adalah-anak-jiwa.html' title='Birth of &quot;Rectoverso&quot;'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SM8t4nuVmxI/AAAAAAAAANM/5gwiKH2S7XA/s72-c/GENERAL+.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>153</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-1881175514219914515</id><published>2008-09-01T00:08:00.004+07:00</published><updated>2009-01-25T15:34:40.612+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On Life and Living'/><title type='text'>Warna-Warni Kacamata-Kacahati</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(153, 255, 153);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Warna-Warni Kacamata-Kacahati&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dua bulan terakhir, begitu banyak eksperimen dan fenomena sosial yang saya jalani, baik sengaja maupun tidak sengaja. Begitu banyak pula pelajaran dan perenungan berharga yang saya peroleh dari rangkaian pengalaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya menuliskan artikel “Catatan Tentang Perpisahan”, respons yang saya terima sungguh di luar dugaan. Sejauh ini, itulah artikel yang memecahkan rekor komentar terbanyak di blog ini. Hampir semua artikel di blog ini berbasiskan pengalaman saya pribadi, tapi “Catatan Tentang Perpisahan” sepertinya begitu mengusik ‘dawai’ banyak orang. Entah karena kisahnya yang aktual, faktual, dan mengandung unsur sensasi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;but it seems we all have our own saying when it comes to love, relationship, and God.&lt;/span&gt; Tiga topik itulah yang menjadi benang merah hampir semua komentar yang terlontar. Dalam boks putih itu, kita mengadu persepsi dan pengalaman kita atas ketiganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan berbagi dengan jujur tentang pengalaman saya pada posisi sebagai si penerima reaksi. Sampai komentar ke-60 sekian, saya masih amat peduli dengan apa yang dikatakan orang. Ketika saya merasa disalahmengerti, dihakimi, dianggap melakukan pembenaran atau bagi-bagi teori, saya masih merasakan kecewa, gemas, bahkan terkadang amarah. Padahal pengunjung blog ini, menurut saya, terbilang orang-orang yang intelektual dan masih santun dalam penyampaian opininya. Sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan forum-forum gosip di luar sana, di mana kesantunan atau intelektualitas sama sekali tidak dijunjung, bahkan jadi bahan tertawaan. Namun, tak urung hati saya terkadang masih bereaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu komentar sudah bergerak ke angka 100, saya mulai menyadari sesuatu. Hati saya melentur. Bukan berarti komentar yang masuk tidak lagi bermakna, tapi mulai menjadi “nggak penting”. &lt;span class="fullpost"&gt;Dan ketika angka itu terus bergerak… 150, 180, 200… saya mulai menyadari sesuatu lagi. Saya tidak lagi peduli. Sekali lagi, bukan berarti komentar itu kehilangan makna, tapi ia kehilangan rasa. Tak lagi manis, pahit, tak juga asam, atau asin. Tawar. Berlalu seperti angin tipis di atas air, hanya meninggalkan riak kecil lalu pergi tanpa bekas. Tidak lagi ada ombak atau debur yang menggebu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu titik tolak yang akhirnya membawa saya ke fase ini, yakni ketika saya menyadari—secara empiris—bahwa kita sesungguhnya tidak bisa mengubah siapa pun. Ini bukan kali pertama saya tiba pada pemahaman tersebut. Namun setiap kali ada pengalaman segar yang kembali mengingatkan saya, rasanya ada kedalaman baru untuk menghayati kenyataan satu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, kita percaya bahwa kita bisa mengubah pandangan orang lain tentang kita, kita percaya bahwa dengan upaya yang maksimal kita bisa membuat diri kita dimengerti secara utuh, kita juga percaya bahwa kebenaran yang kita miliki—jika dikomunikasikan dengan sebaik mungkin—bisa menjadi kebenaran bagi orang lain. Rasa percaya itu sedemikian umum dan menjadi pegangan hampir semua orang, hingga ketika kita masuk ke dalam sebuah relasi, dengan siapa pun dan apa pun itu, dari mulai dengan manusia lain hingga Tuhan, kita menganggap bahwa kita punya kendali tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apa yang saya amati dari pengalaman saya sendiri—dan yang bisa Anda telusuri pula lewat kedua posting terakhir saya dan aneka komentar yang dilontarkan—setiap orang hadir dengan kacamata dan kacahatinya sendiri. Apa pun yang saya ungkap tidak pernah bisa utuh tertangkap sebagaimana yang saya mau. Seolah ada filter, pembatas, penyaring, yang mendiskon cerita saya secara otomatis di kepala pembaca. Sebaliknya, seolah juga ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;amplifier, marker,&lt;/span&gt; kaca pembesar, yang tahu-tahu membengkakkan beberapa bagian tertentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lantas membayangkan ilustrasi sebagai berikut: seseorang mencoba menceritakan sebuah alam yang hijau, lalu seorang lain berteriak protes, bilang bahwa alam hijau cuma bualan. Lalu ada yang membela, bilang ‘betul, kok, alamnya memang hijau.’ Tapi ada lagi yang menimpali, sebenarnya alam ini setengah hijau dan setengah ungu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, seorang lain datang dan berkata pada mereka: orang yang menceritakan alam itu hijau memang benar, karena dia memakai kacamata berlensa hijau. Yang protes juga tidak salah, karena kacamatanya kuning. Yang sepakat hijau, ketika dicek, ternyata warna lensanya hijau muda. Jadi walau sama-sama hijau, tetap tidak persis sama. Yang bilang setengah hijau setengah ungu juga tidak salah, karena lensanya memang dua warna. Tersadarlah orang-orang yang ribut tadi bahwa selama ini, realitas yang mereka lihat termediasi selapis lensa. Dan orang terakhir tadi pun berkata bijak pada semua, sesungguhnya realitas yang sejati berwarna pink. Dan sepasang lensa pink bertengger di depan matanya, tanpa bisa ia sadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas yang kita jalani amat bergantung dengan kacamata dan kacahati yang kita kenakan. Persepsi kita tentang Tuhan, misalnya. Seseorang yang percaya bahwa Tuhan punya kehendak, akan selalu mereferensikan kehendak Tuhan dalam setiap tindakannya maupun dalam menilai tindakan orang lain. Seseorang yang percaya Tuhan tidak ada, akan bicara lain lagi. Seseorang yang percaya bahwa hubungan cinta adalah perjuangan abadi menuju keabadian, akan selalu melihat cinta sebagai sasana perjuangan dan pengorbanan, hingga mereka yang menyerah dianggap kalah. Seseorang yang percaya pada absolutisme janji sehidup dan semati, akan selalu melihat akhirat sebagai plafon keberhasilan sebuah pernikahan. Dalam variasi pemahaman seperti itu, di manakah kebenaran sesungguhnya bersemayam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lensa semata-mata adalah lapisan persepsi yang kita tumpuk, rangkai, dan timbun melalui pengondisian, proses evolusi, dan perubahan yang kita alami sepanjang hidup. Lensa kita sangat mungkin berubah, bahkan terus berubah. Yang dulu berkacamata hijau sekarang bisa jadi merah, dan sepuluh tahun lagi berubah jadi putih. Namun, di mana letaknya kendali perubahan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Law of Attraction, dikatakan bahwa hidup kita baru berubah jika kita mau melihatnya berubah. Law of Attraction bukan satu-satunya hukum dalam kehidupan, tapi untuk perihal satu ini, bisa disimpulkan bahwa kunci perubahan hanya ada pada diri sendiri. Saya tidak bisa mengubah pandangan Anda, hanya Anda yang bisa. Begitu juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama lensa kita berbeda, kita hanya bisa mengomunikasikan persepsi kita, menyaksikan bagaimana perbedaan kita bertumbuh dan berdinamika. Sayangnya, seringkali dalam kehidupan nyata, kita tidak puas dengan sekadar “menyampaikan”. Kita ingin mengubah seseorang agar sepaham dengan diri kita. Dan kita percaya dengan berkomunikasi yang baik dan benar (baca: baik dan benar MENURUT kita) maka kita mampu melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah yang saya amati: sesungguhnya kita tidak terlalu peduli pada kebenaran, kita bahkan tidak mengerti apa itu komunikasi sejati, kita hanya peduli pada lensa kita. Bukan apa yang ada di baliknya. Barangkali itulah yang menjadikan “pemahaman benar” sebagai gerbang akhir pencarian Gautama, bukan kebahagiaan. Bukan surga. Bukan juga neraka. Melainkan pembebasan dari keduanya. Dalam memahami secara “benar”, yang menjadi tujuan bukan lagi perihal benar atau salah, tapi memahami bagaimana keduanya bermula dan bagaimana kita bisa bebas dari jerat keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua menginginkan kebahagiaan, bahkan keabadian. Namun sesempurna apa pun lensa yang kita kenakan, seindah dan seadiluhung apa pun realitas yang kita lihat, lensa hanyalah lensa. Lensa tetap menjadi lapisan yang membatasi kenyataan yang kita pikir dan kebenaran yang sesungguhnya. Yang dilakukan oleh sosok seperti Buddha Gautama dan para pencari kebenaran lainnya adalah, mereka tak berhenti mengupas lensa mata dan hati hingga menemukan kebenaran sejati. Kebenaran tanpa lapis apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kita berada dalam tatanan realitas berlensa, selama kita masih bergantung pada kacamata dan kacahati kita untuk mengungkap kebenaran, saya dan Anda hanya bertukar kebenaran relatif. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;No winner, no loser. It’s always a zero sum game.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat pengalaman setahun lalu saat mengikuti retreat Dyad di Ubud. Bagaimana bisa dua orang yang saling berhadapan lalu membicarakan sampah dan kerak hatinya bisa menjadi momen pencerahan dan penyembuhan? Bagaimana hal itu dimungkinkan? Dyad semata-mata mengajarkan komunikasi yang sejati. Saat seseorang berbicara, partnernya tidak menanggapi, menyela, menilai, dan menjustifikasi. Ia hanya memberikan perhatian, hadir dengan kesadaran penuh bagi lawan bicaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin utamanya adalah, kedua pihak belajar memahami bahwa jika ada kesenjangan lensa antara mereka, perbedaan tersebut memang sudah demikian adanya. Bukan untuk disamakan, dipas-paskan, atau dikoreksi. Dan yang terjadi justru adalah keajaiban komunikasi: sebuah pengertian dan koneksitas yang mendalam, bahkan mencerahkan. Karena hanya melalui komunikasi sejati, lapis demi lapis lensa kita bisa terkikis, dan jika kita beruntung, kita mampu mengintip secercah-dua cercah indahnya kebenaran tanpa kacamata. Indahnya hati tanpa kacahati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sadar, komunikasi semacam itu sukar terjadi dalam forum seperti ini. Semua pengalaman dalam dua bulan terakhir ini hanya akan menjadi pengingat bagi saya untuk terus berevolusi dan bergulir dengan arus kehidupan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;So, let’s move on with our life, our love, and our lenses. And for once, may we appreciate not only the beauty of our own spectacles, but also the differences around us all.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-1881175514219914515?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/1881175514219914515/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=1881175514219914515&amp;isPopup=true' title='101 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/1881175514219914515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/1881175514219914515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2008/09/warna-warni-kacamata-kacahati-dalam-dua.html' title='Warna-Warni Kacamata-Kacahati'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><thr:total>101</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-1598908393168613933</id><published>2008-08-04T01:29:00.039+07:00</published><updated>2009-01-25T15:39:16.983+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Do-It-Yourself Infotainment'/><title type='text'>10 Most Hillarious, Humorous, and Hideous Gossips I Found</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);font-size:180%;" &gt;10 Most Hillarious, Humorous, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);font-size:180%;" &gt;and Hideous Gossips I Found &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just for the fun of it (and not so fun of it), I’ve highlighted some of the most intriguing news (read: gossip) out there, written by the media or shared by the public through discussion forums. Some were disturbing, but some were absurdly funny. And here they are in random order:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;#1: The Titanic Sinks Us (Again)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Ada sekelumit kisah di balik gugatan cerai Dewi Lestari pada suaminya, penyanyi Marcell. Rupanya sebelum memutuskan bercerai, pasangan dengan satu anak itu mendengarkan album soundtrack film Titanic. 'Ketika kami memutuskan, kami memasang lagu Titanic dan kita saling curhat,' jelas Marcell.”&lt;/span&gt; [InfoGue.Com]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fact:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saat kami konferensi pers, seorang wartawan yang masih belum puas dengan jawaban yang sudah kami berikan lantas meminta keterangan lebih lanjut mengenai alasan perpisahan kami berdua, dan Marcell menjawab “Kalau mau diceritain semuanya ya panjang banget, kita harus ngobrol semalam suntuk…” dan dengan bercanda Marcell menambahkan, “sambil pasang lilin, dengerin lagu Titanic…”. My dear friends of the media, that’s called hyperbolism. And it was meant to be a joke.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Dee’s Comment:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;You gotta be kidding me. Titanic soundtrack? TITANIC? Look, if there’s a song we would choose for such an important and dramatic moment, it would definitely be “Kemesraan” from Iwan Fals and Rafika Duri! Why? Cause we support our local music! And if someone’s still taking my statement seriously, then God have mercy on your humorless soul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;#2: Too Much Information&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Istana Baru Sang Supernova: Dewi Lestari seolah ingin mengubur kisah masa lalunya bersama Marcell dengan berpindah rumah... Dewi membeli rumah yang kini ia tempati bersama buah hatinya, Keenan Avalokita Kirana Siahaan itu, dari pemilik pertama dengan harga mendekati Rp 1 miliar."&lt;/span&gt; [Tabloid C&amp;amp;R].&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Fact:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Well, terkecuali bumbu “mengubur kisah masa lalu” dan masalah teknis mengenai kepemilikan rumah, harga, dsb, saya memang sekarang berdomisili di Jakarta. That's the single fact in the whole story (oh, they also mentioned about Keenan's four-wheeled bike. I don't know how the heck they knew about it, but it's actually true. However trivial and unimportant the detail is).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Dee’s Comment:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sadly, I found this news as the most unethical and impolite one. Why? Belum pernah seumur hidup saya berkarier, sebuah media dengan tanpa izin mencantumkan alamat rumah saya. Tidak tanggung-tanggung, bahkan sang wartawan (Fitriawan Ginting) memotretnya tanpa sepengetahuan dan seizin saya. Hal ini, selain tidak etis, juga sudah menyinggung masalah keamanan bagi saya dan keluarga. Fyi, I didn't purchase the house, it was rented.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;#3: Lost In Time&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Mediasi dipimpin oleh Baslin Sinaga dari PN Bale Endah. Mediasi itu tampaknya berlangsung alot, karena memakan waktu sekitar 1,5 jam.”&lt;/span&gt; [Tabloid Nova]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fact:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mediasi berlangsung 30 menit saja. Bahkan kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dee’s Comment:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu wartawan yang menuliskan ini menunggu di lorong waktu mana. Entah dia juga memasukkan waktu perjalanannya menuju PN Bale Endah yang memang terletak di wilayah Bandung coret. Tapi inilah bukti bahwa begitu banyak informasi yang ditulis secara resmi, nyatanya tidak ditulis dengan akurasi dan ketelitian, sekalipun terdengar meyakinkan. Dengan “memuainya” waktu dari 30 menit ke 90 menit, tentu bumbu “mediasi berjalan alot” menjadi pas. Namun sesungguhnya, yang faktual terjadi tidak selalu pas dengan bumbu yang diramu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;#4: The Ghastly &amp;amp; Ghostly Interview&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Isu adanya orang ketiga memang menyeruak, seiring retaknya rumah tangga Dewi Lestari dan Marcell Siahaan. 'Saya sama sekali tidak ada hubungan spesial dengan pakar holistik yang Anda sebutkan itu. Hubungan saya dan Marcell dengan dia, hanya sebagai teman,' bantah perempuan ini mengawali pembicaraannya dengan sejumlah wartawan, termasuk Edy Suherli, dari C&amp;amp;R. Berikut petikannya:&lt;br /&gt;C&amp;amp;R: Benarkah karena kehadiran orang ketiga?&lt;br /&gt;D: Tidak ada orang ketiga ataupun persoalan KDRT. Semua murni persoalan intern kami, yang sudah tidak bisa disatukan lagi.&lt;br /&gt;C&amp;amp;R: Bukankah Anda dekat dengan seorang pakar holistik yang bernama Reza Gunawan?&lt;br /&gt;D: Kalau dengan dia, saya hanya berteman biasa. Marcell juga berteman dengan dia. Jadi tidak ada hubungan yang spesial antara saya dengan dia.”&lt;/span&gt; [Tabloid C&amp;amp;R by Edy Suherli]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fact:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dialogis di atas sama sekali tidak pernah terjadi. Pertanyaan tersebut tidak pernah diajukan, apalagi jawabannya. Pada saat konferensi pers, kami tidak melayani wawancara individual dengan media mana pun. Semua media kami jawab dan layani secara kolektif. Sampai saat ini, kami pun masih belum bersedia melakukan wawancara eksklusif dengan pihak mana pun. Semua berita yang beredar mengenai masalah ini secara resmi ditanggapi hanya lewat satu kali konferensi pers itu saja, jika ada yang diberitakan di luar daripada itu, berarti diambil dari sumber lain atau cuma materi olahan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dee’s Comment: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu persis maksud dan tujuan tabloid C&amp;amp;R dengan wawancara imajinernya. Karena jika pertanyaan tersebut benar-benar diajukan, jawaban saya akan sangat lain. Reza Gunawan has been one of our dearest friends for years, and this is what I must say: there’s nothing unspecial about our relating. Everything about it, is special. He is one of the very few trusted friends that has been supporting us all this time. However, he had nothing to do with our decision to separate in the first place.&lt;br /&gt;So, let me get this chronology straight: keputusan saya dan Marcell untuk pelan-pelan berpisah terjadi pada akhir tahun 2006. Kesiapan kami untuk berpisah secara legal dibulatkan pada akhir tahun 2007. Awal 2008, kami mulai menjajaki masalah teknis (pengacara, proses peradilan, dsb).&lt;br /&gt;From the time of NOW, if there’s someone that is very close (or some of you may call it ‘extra-special’) with me at the moment, that person would definitely be Reza Gunawan, and no one else. We began to allow our relating to evolve to the stage we're now at, which was quite recently, only after me and Marcell had confirmed our legal separation. Tapi dengan menyeruaknya kabar perceraian ini di media, dan tentu saja, tidak ada orang yang mengharapkan kabar yang "biasa-biasa", nama Reza dan institusi yang didirikannya sempat diseret dan dikaitkan sebagai penyebab perpisahan kami. Semoga penjelasan ini dapat menjadi acuan lebih baik untuk penyusunan berita gosip Anda, sekalipun saya yakin, penjelasan ini pun masih bisa diinterpretasikan dengan 'miring', tergantung daya tangkap dan niat dari pihak yang membaca. Dan jika kronologi waktu yang saya jelaskan di atas masih juga dikacaukan, baik karena memang belum tahu atau sengaja, then it's entirely your own problem.&lt;br /&gt;Mudah-mudahan saya salah, tapi sukar untuk tidak mengasumsikan bahwa wawancara imajiner di atas didesain sebagai “bumerang” bagi saya di kemudian hari, yang barangkali diharapkan menjadi gosip panas berikutnya. Well, let me ruin that genious plan of yours. I’ll say this again: there’s NOTHING UN-SPECIAL about me and Reza. We've always loved each other as best friends, and now we love each other as companions. Oh, by the way, don’t bother to sneak this info to Marcell… cause, guess what? Not only that he knows, we also hang out together! The three of us! Especially that now we're shamelessly endorsing Blackberry for free! &lt;span style="font-style: italic;"&gt;*Photo taken on August 5th, 2008, while celebrating Keenan's 4th birthday.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJrtkFiHJ9I/AAAAAAAAALw/-nqSF7eXpJc/s1600-h/P1030218.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJrtkFiHJ9I/AAAAAAAAALw/-nqSF7eXpJc/s400/P1030218.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231755121360578514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;#5: The Desperate Attempt to Rewrite History&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Jadi… ketidakcocokan Marcell dan Dewi Lestari memang udah terjadi dari taun lalu. Marcell ini ibaratnya baru melek sama pergaulan Jakarta, karena dulunya tinggal di Bandung sebelum ngetop nyanyi dengan Shanty. Awalnya dia kan dulu drummernya Puppen band underground gitu, tiba-tiba kok nyanyi lagu pop? (gak punya pendirian bener). Trus setelah ngetop dengan "Hanya Memuji" dia kawin dengan Dewi. Trus, sekarang ini dianya kayak 'culture shock' gimana gitu deh. Tiap gue clubbing di mana, sering banget ada Marcell. No Dewi. Dewi kan emang gak suka clubbing, sukanya meditasi sama nulis di komputer. Sedangkan Marcell kerjanya keluar mulu, gaul sama cewe-cewe cakep, model-model, sampe akhirnya nyangkut dengan model "ISABEL JAHJA" (Abel). Pokoknya social climber bener deh, jadi kesannya norak dan kampung menurut gue. Aduh capek deh pasangan ini, gak di mana-mana ciuman dan grepe2 (enek liatnya), terutama di tempat clubbing dan kesian dalam hati karena Dewinya gak tau apa-apa. Tapi akhirnya Dewinya tau juga. Katanya sih sempet menangkap basah Marcell dan Abel sedang... yah you know lah. Akhir cerita Dewinya mau cerai, dan kabarnya sih udah mau proses. Kesian ya Dewi, padahal orangnya baik, pinter, spiritual pula. Marcell-nya emang masih rada anak kecil gitu sih. Yah maklumlah baru melek pergaulan Jakarta (dasar norak).”&lt;/span&gt; [Thread from Forum Detik.com. Posted by: Lollypopsicle]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika ada komentator yang meragukan keabsahan kisahnya, dengan yakinnya ia menambahkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yah, liat aja entar. Orangnya yang curhat langsung kok, Bos.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fact:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Abel is a dear friend of mine. Those horrific incidences—‘menangkap basah’, ‘menangkap kering’, and everything in between—never happened. She had nothing to do with our decision to separate.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Dee’s Comment: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Whoever you are, I appreciate your ‘positive’ review on me. But just between you and me, do you think I will be stupid enough to actually ‘curhat langsung’ to you, an obvious person who doesn’t know what she/he is talking about, and who doesn’t know anything about me? Let me make this clear. Once and for all. Berikut adalah kategori orang-orang yang TIDAK MUNGKIN menjadi teman curhat saya:&lt;br /&gt;• Mereka yang menyangka pekerjaan saya hanya meditasi dan nulis di komputer.&lt;br /&gt;• Mereka yang menyangka Marcell &lt;span style="font-style: italic;"&gt;doyan&lt;/span&gt; clubbing. He went to club mostly for work, because he once had a trio with a DJ (DJ Romy) and a drummer (Tyo Nugros), where all of their gigs were performed at clubs. Marcell is a vegetarian, he practices Taichi and Brazilian Jiu-jitsu, and he doesn't smoke or drink alcohol or do drugs. How fun can that be for a clubber? Go figure.&lt;br /&gt;• Mereka yang menyangka seorang Marcell bisa culture shock hanya karena pindah  dari Bandung ke Jakarta, I mean, get real. Bandung is 2 hours away from Jakarta, and he had a music career since junior high. And if later you become a recording artist plus a professional actor like him, no matter where you live, you’ll be working a lot in the heart of Jakarta from day one of your career. Unless you’ve been living in Lembah Baliem for your whole life, nothing can be TOO shocking about clubbing life in Jakarta. Social climber? Hello? No ladder that we can see from up here! Nor we care!&lt;br /&gt;• Mereka yang masih mempermasalahkan keluarnya Marcell dari Puppen. It’s so 90’s. Get the hell out of your broken time machine and start live in the now.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#6: The Timeless Underground War&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Karma kali, gara2 Marcell keluar dari Puppen dan malah jadi penyanyi pop.&lt;br /&gt;Pernah tuh Puppen tahun 2002 apa 2003 gitu tampil di acara sma gw, mereka bawain lagu baru yang ceritanya tentang pengkhianat band metal yang beralih jadi lagu cengeng (Marcell)... [2] Mereka susah payah berjalan dengan idealisme mereka, tau2 ada anggotanya yang keluar demi suatu yang mereka mati2an tolak, tau nggak rasanya?” &lt;/span&gt;[Thread from Forum Kafegaul.com. Posted by: BU33]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Fact: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;That is taken from the thread that’s supposedly discussing our divorce issue. Seriously.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Dee’s Comment: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Marcell keluar dari band bernama Puppen pada tahun 1998. Saat dia masih mahasiswa tingkat dua. Baru empat tahun kemudian, tahun 2002, Marcell berkarier menjadi penyanyi. Dan sukses. I don’t know which part of his career path that was taken so hard by so many people. But I tell you this: it’s been TEN FRIKKIN’ YEARS, people! Get over it! Gosh.&lt;br /&gt;When he plays drum like a rocker and has a voice of a pop singer, do we really need to make him scream and growl? Just so he stays ROCK, UNDERGROUND, and INDIE? And in order to avoid that mortal betrayal, do we need to ban him from singing and forever stick him to his Pro-Mark sticks (though I know he would love to stick to his huge set of Tama Starclassic EFX Performer forever)?&lt;br /&gt;And the funniest part is: within his five years career, Marcell has created three best-selling albums, a movie, a couple of tv series, and hundreds of gigs all over the country, while most of his critics have created… &lt;span style="font-style: italic;"&gt;none&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;#7: The Sekong Lekong's Wishful Fantasy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Katanya si Marcell ketahuan yah lagi pegang2an ama salah satu finalis L-Men 2008? Trus di sini dibilangnya Dewi selingkuh? Jadinya dicere'in. Nah karna itu, mereka nggak mau ngasih tau apa penyebab perceraiannya… [2] Iya, si Marcell kan waktu itu dikabarin lagi deket sama salah satu pria L-men... dan lagi Marcell sempet nyanyi pas di acara L-Men itu sendiri... dia dikabarin lagi rangkul2an gt trus ketahuan ama temen deketnya si Dewi, alias managernya... yah si Dewi nggak terima dong suaminya lekong gitu jadi putus deeh… [3] gue juga kaget waktu dengernya... Dewi aja nangis2 pas managernya ngomong gitu! lagian  ****** banget managernya rada2 comel juga sih, masa suaminya kaya gitu dilaporin ke Dewi. Harusnya dilaporinnya ke publik.”&lt;/span&gt; [Thread from Forum Detik.com. Originally posted by: Vermouth]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fact: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Marcell is as straight as an arrow, and has no interest whatsoever in L-Men, X-Men or A-Men. Sorry to disappoint some of you.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Dee’s Comment:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;For me, this is the most hillarious finding. I just couldn’t believe how imaginative, creative, and yet delusional people can be.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;#8: The New Religion and The Food Status&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Oh, dulu yang katanya pasangan celebrities yang pindah agama dari Kristen ke Buddha itu ya? Apa mungkin mereka pindah ke Buddha supaya cerainya gampang ya? Kirain dulu mereka pindah Buddha karena ajarannya... (2) Menurut saya ya, kalau seorang Dewi Lestari (dan juga Marcell) jika ingin bercerai pindah agama dulu ke Buddhist merupakan langkah yang tepat. Sebab kalau mereka tetap Katholik, perceraian mereka nggak bakal bisa dilaksanakan." &lt;/span&gt;[Thread from Milis Spiritual-Group, Posted by: Bung DK]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Fact:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah bercerai, Dewi dan Marcell kini berpikir-pikir untuk menjadi penyembah Dewa Tapir. Sebuah aliran berhala zaman baru. Para penyembah Dewa Tapir ini percaya akan datangnya hari kiamat bernama The Armagedillo, di mana semua makhluk akan musnah kecuali hewan tapir dan para manusia penyembah Dewa Tapir. Kelak, tapir dan manusia akan kawin silang dan menghasilkan spesies baru bernama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Homo Ayanugello&lt;/span&gt;. Spesies baru ini akan menggantikan Homo Sapiens sebagai penguasa Bumi. Di bawah dominasi spesies Homo Ayanugello, kehidupan di Bumi akan berubah total. Dijamin akan ada kemudahan untuk segalanya. Baik itu kawin, cerai, tidak kawin, bikin KTP, bikin SIM, bayar pajak, dsb. And if someone's still taking this statement seriously as fact, this time I don’t think even God Almighty will ever have mercy on your soul.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Dee’s Comment:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari hati yang paling dalam, jujur saya mengatakan: agama hanya cangkang bagi saya. Esensi terdalam dari sebuah agamalah yang menarik. Bukan kulit luarnya. Namun cangkang ini kadang memudahkan kita untuk aspek sosial dan bermasyarakat. Aturan pernikahan dan perceraian, menurut saya, ada di kulit luar. Jadi saya mengerti logika Bung DK. Tapi jika untuk bercerai saja saya perlu pindah agama, itu ibarat seseorang yang tertarik pada tusuk gigi di sebuah restoran, dan akhirnya memutuskan untuk membeli seluruh restoran. So inefficient, and so redundant. Out of the question.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih dari forum yang sama:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;"Inti dari tulisan si Dewi tentang perceraiannya: Hubungan yang kadaluarsa. Ditulis dia sendiri pada paragraf ke 3, 4 dan 5. Bicara kadaluarsa, seperti sebuah produk maka tanggal pacaran mereka adalah tanggal produksi. Dan tanggal pernikahan mereka adalah tanggal pergantian kemasan barang dan peningkatan kandungan/ingredients dalam produk… Ada atau tidak ada kadaluarsa adalah pembicaraan yg mengarah sebuah penipuan. Penipuan atas kedok rasa bosan, eksplorasi dan pencarian sensasi. Kalau mau lebih enak ya undang si Dewi masuk milis ini."&lt;/span&gt; [Posted by: David Silalahi]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Fact: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;You’ll die. I’ll die. Amoeba will die. Even Earth is dying.&lt;br /&gt;I wish we were all born with an expiry-date tag stapled to our butts so we know how much time left for us to talk all this nonsense. Unfortunately, we weren’t. Maybe that’s why so many of us waste our precious time on Earth scrutinizing and judging somebody else’s business.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Dee’s Comment:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Don’t bother to invite me in, David. Though I cannot see my expiry-date tag, I can feel that my time is not enough to discuss your issue with the word “kadaluarsa”. Dari observasi saya, sepertinya banyak sekali orang yang “korslet” dengan kata itu. Dan karena jerat bahasa dan kata ini, pengamatan kita sering dibuat melenceng. I don’t know what’s the real issue, tapi agaknya kata “kadaluarsa” dianggap menurunkan derajat kita menjadi makanan atau produk pabrik. Dan kita, manusia serba luhur ini, yang mengenal konsep agung semacam Cinta dan Tuhan, tidak layak dituduh punya jadwal kadaluarsa. Kita begitu terobsesi jadi abadi, atau setidaknya “memiliki” sesuatu yang abadi. Padahal jika kita jeli, segala kondisi dan fenomena akan berakhir. Tidak ada yang tetap. I don’t even think we *own* anything in the first place, even though we’d like to believe otherwise. Dan sejauh yang saya tahu, di liang lahat nanti kita betulan akan jadi makanan cacing. We’re food. We’re so edible. Ask Sumanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;#9: The Mysterious Mid-Age Woman Revealed&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Marcell mendirikan rumah tangga dengan Dewi Lestari, pada 12 September 2003 dan mereka dikurniakan cahaya mata, Keenan Avalokita Kirana, 3. Tup! Tup! Baru-baru ini SS dikhabarkan mereka sudah berpisah. Disebalik cerita mengejut itu, SS tambah terkejut apabila dimaklumkan perceraian mereka angkara orang ketiga.&lt;br /&gt;Khabarnya, wartawan Indonesia sibuk mencari siapakah kekasih baru Marcell hingga sanggup meninggalkan isterinya. Hebat sangatkah yang empunya diri sehingga berjaya merobohkan mahligai yang sudah bertahun dibina atas rasa cinta.&lt;br /&gt;Hasil siasatan wartawan Indonesia itu lebih mengejutkan SS apabila dikatakan wanita yang bertanggungjawab menjadi punca keruntuhan rumah tangga Marcell ialah artis tapi bukan senegara sebaliknya dari seberang tambak Johor.&lt;br /&gt;Artis itu dikatakan cukup terkenal di negaranya dan difahamkan janda anak satu. Bagaimanapun, SS kurang pasti sejauh mana hubungan Marcell dengan artis itu.&lt;br /&gt;Sehingga kini, wartawan Indonesia belum tahu siapa artis wanita itu. Mungkin perkembangan artis di Singapura tidak sehebat artis di Malaysia.&lt;br /&gt;Tapi selepas SS selidik sendiri, rupanya artis itu sedang berusaha membina nama di negara ini. Kalau tak salah SS, drama lakonannya sedang ditayangkan."&lt;/span&gt; [MyMetro.Com – Soseh Soseh, Malaysia]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Fact:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Amazing, isn’t it? Bahkan negara tetangga kita, Malaysia, sudah mulai terinfeksi virus gosip “orang ketiga” dari jaringan media Indonesia. Walaupun kalau dibandingkan, media Malaysia yang satu ini lebih sportif karena masih mengakui bahwa dia tidak tahu pasti. Dan bagi rekan media se-tanah air, yang selalu tahu pasti akan segalanya, hentikan penyelidikan Anda sekarang juga. Saya akan memudahkan pekerjaan kalian semua dengan memberikan update terkini, sekaligus membuka tabir misteri, siapakah artis misterius yang sempat disebut sebagai “wanita paruh baya” di beberapa media Indonesia tanpa mengatakan “tidak tahu pasti” itu? Are you ready?&lt;br /&gt;Her name is &lt;a href="http://www.lusciouscupcakes.blogspot.com/"&gt;Rima Adams&lt;/a&gt; (this given link is under her permission). I’ve met her in person, and she’s such a sweet woman, and nowhere near half of century old. She’s a Singaporean actress who’s currently working on Malaysian TV series. Dan dia memang sedang dekat dengan Marcell sekarang ini. Kedekatan mereka baru dimulai setelah saya dan Marcell dengan mantap memutuskan untuk berpisah. I’m sincerely happy for them and wish them all the best for now and for the future.&lt;br /&gt;Dan jika Anda sungguh-sungguh menyimak kronologi di atas, sebetulnya ada fakta yang lebih penting, yang (sayangnya) menurut feeling saya, akan kembali diabaikan oleh beberapa pihak demi kesenangan dan kepicikan berpikir mereka, but I’m just gonna say it: she IS NOT the cause of our separation (subtitle Melayu: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dia TAK bertanggungjawab atas punca keruntuhan rumah tangga Marcell. Tup! Tup!&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Dee’s Comment: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;By announcing this news to both medias, Malaysia and Indonesia, I feel so international (at least, regional). Cool. Totally.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;#10: The Hands That Will Rock Your Cradle… and Grave.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dee – Reza Gunawan Takashimaya Singapore / 30 July 2008: Gw barusan (1.10 pm SIN) liat Dewi Lestari ama Reza Gunawan gandengan tangan di Takashimaya B2. I took back what I said earlier bahwa gw ngga percaya Reza Gunawan jalan bareng Dewi. Ternyata oh ternyata... Semuanya bull****. Mau Dewi dengan segala justifikasinya dan Reza dengan klarifikasinya... [2] Gw dah mau foto, tapi batere hp gw abis. Pas gw mau klik, dia udah ngga bisa buat moto. Tapi gw ngga mungkin salah karena gw pernah contact dia beberapa waktu yang lalu... Bullsh1t semua, coba deh baca blognya dewi, di situ ada link ke blognya Reza. Apa yang ditulis ngga sama dengan kenyataan… Gw liat dengan mata kepala gw sendiri mereka jalan berdua, gandengan tangan, terus makan vegetarian food. Masa iya kaya gitu cuman SAHABAT? Ke Singapore bareng? Please deh.” &lt;/span&gt;[Thread from Forum Detik.com. Posted by: Chocolate]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Fact:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Damn right we eat vegetarian food. We’re vegetarians! The only place where we’d be hanging out in the midst of Takashimaya food court must be a vegetarian food stall. Yes, it was us, all right. Saya dan Reza baru-baru ini memang pergi ke Singapura untuk mengikuti sebuah pelatihan penyembuhan. So, by all means, be proud of your 'mata kepala sendiri'. Be very proud. But use them more carefully when you read our blogs next time. We never mentioned anything that contradicts what you saw with those eagle-sharp eyes of yours, darling. Tsk, tsk.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Dee’s Comment:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Poor baby. Hp-nya habis baterai saat ingin menangkap adegan yang dikiranya akan menjadi skandal nasional tahun ini. Jadi, daripada satu arwah terkena risiko mati penasaran di kemudian hari, akan saya tuntaskan cita-cita mulianya yang ingin mengabadikan adegan kami bergandeng tangan di Singapura:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJX-BCIYWJI/AAAAAAAAAKw/7klsVgGlqGU/s1600-h/P1030146_2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJX-BCIYWJI/AAAAAAAAAKw/7klsVgGlqGU/s400/P1030146_2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230365835966044306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya agar arwahnya terbebas dari kemungkinan gentayangan, saya pun ingin membuat ia kelak mati tersenyum, bahkan hidup bahagia, detik ini, dengan memberikan beberapa bonus foto lagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJX-870N3yI/AAAAAAAAAK4/TfO1hWJrTxU/s1600-h/P1030150_2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJX-870N3yI/AAAAAAAAAK4/TfO1hWJrTxU/s400/P1030150_2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230366865063010082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJX_Q_tB-pI/AAAAAAAAALA/AoPyizFRhXI/s1600-h/P1030154_2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJX_Q_tB-pI/AAAAAAAAALA/AoPyizFRhXI/s400/P1030154_2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230367209703996050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJX_g1HooKI/AAAAAAAAALI/OYdp3N0qLIs/s1600-h/P1030156_2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJX_g1HooKI/AAAAAAAAALI/OYdp3N0qLIs/s400/P1030156_2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230367481740697762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJX_9EHIKDI/AAAAAAAAALQ/WSH4Xgiyupg/s1600-h/P1030155_2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJX_9EHIKDI/AAAAAAAAALQ/WSH4Xgiyupg/s400/P1030155_2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230367966801438770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah bagaimana kedua tangan kami bermain aneka adu ketangkasan, dari mulai panco sampai injit-injit semut, bahkan melakukan pose balerina yang sedang akrobat. Semuanya khusus untuk Anda! Tak lupa, kami pun mempersembahkan sebuah karya seni, berjudul "American Eagle" by Dewi &amp;amp; Reza:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJYA1hqh8zI/AAAAAAAAALY/nP9D5fw2JwA/s1600-h/P1030151_2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJYA1hqh8zI/AAAAAAAAALY/nP9D5fw2JwA/s400/P1030151_2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230368936807232306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oh... sebentar... tampaknya masih banyak dari teman-teman di Forum yang belum merasa puas. Baiklah. Spare your batu bata and head-hammering emoticon. Kami akan menyiapkan foto adegan yang paling Anda tunggu-tunggu... sebuah aksi panas yang pastinya mampu membakar Forum diskusi Anda...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJYBU8QzDUI/AAAAAAAAALg/_GLamasCg90/s1600-h/P1030153_2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJYBU8QzDUI/AAAAAAAAALg/_GLamasCg90/s400/P1030153_2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230369476523003202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;So, rest in peace, my friend. May these small tokens from Singapore will make your days merrier. And don't worry, all pictures were actually taken in Singapore, in Changi Airport (you can match the carpet's pattern in our photo through some lab analysis). When it comes to factuality, hey, we're the guys you can count on.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJYCXxe6hHI/AAAAAAAAALo/laNfiEGHAv4/s1600-h/P1030158_2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJYCXxe6hHI/AAAAAAAAALo/laNfiEGHAv4/s400/P1030158_2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230370624680658034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hang loose! Ciao!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali akan ada yang bertanya: untuk apa saya menuliskan semua ini (aside from a good laugh)? Simple. I'd rather speak for myself than having bunch of infotainments or gossipheads do it for me. It's so much fun to create our own infotainment. And sure, they may still do what they need to do, but I'm not gonna miss all the fun. Heheh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah ulasan iseng-iseng tidak iseng saya. Selama kurang lebih sebulan berita tentang perpisahan saya dan Marcell bergulir, begitu banyak hal yang bisa saya renungkan dan pelajari hanya dengan mengamati berbagai reaksi dan komentar yang dilontarkan media, publik, termasuk dari orang-orang yang kami kenal secara pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, reaksi bungkam sering diartikan sebagai tindakan terbijak, karena itu membuktikan bahwa kita kebal dan tidak terpancing emosinya. Kita bahkan punya semboyan: diam berarti emas. Namun seringkali “bungkam” yang terjadi adalah menyumpal mulut setengah mati, sementara hati panas terbakar seperti neraka. Kondisi itu, dalam istilah saya, menjadi: diam berarti emas imitasi. Jadi, dalam diam kita, sesungguhnya kita bisa sangat terpengaruh dan bereaksi. Dan di balik sikap tidak bungkam, seseorang bisa jadi betulan kebal dan tak terpengaruh. Ia hanya semata-mata ikut bermain dengan arus tanpa tenggelam di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menuliskan kedua posting terakhir ini, Anda bisa melihat bahwa saya tidak memilih sikap seratus persen bungkam. Tapi jangan salah. Tujuan saya menulis ini juga bukan untuk membuktikan bahwa saya sama sekali imun dari reaksi emosi atas gelombang gosip (bahkan menjurus fitnah—as you can see) yang terjadi seputar isu perpisahan saya. Saya sangat punya reaksi emosi, yang juga berwarna-warni. Namun inilah puncaknya: life is so darn funny. It’s the best comedy ever. And I choose to laugh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan kedua saya, semakin seseorang tidak mengenal kita, semakin banyak ia berkomentar. Semakin seseorang mengenal atau memahami kita (tanpa perlu kenal), semakin sedikit dan berhati-hati ia berkomentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another “bullshit theory” of mine? Yeah. You wish.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-1598908393168613933?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/1598908393168613933/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=1598908393168613933&amp;isPopup=true' title='230 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/1598908393168613933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/1598908393168613933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2008/08/10-most-hillarious-humorous-and-hideous.html' title='10 Most Hillarious, Humorous, and Hideous Gossips I Found'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJrtkFiHJ9I/AAAAAAAAALw/-nqSF7eXpJc/s72-c/P1030218.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>230</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-6798442348263858949</id><published>2008-07-16T19:44:00.006+07:00</published><updated>2009-01-25T15:41:02.194+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On Life and Living'/><title type='text'>Catatan Tentang Perpisahan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(153, 255, 153);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Catatan Tentang Perpisahan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia. Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat termenung melihat salah satu adegan dalam film “Earth” di mana seekor kijang berlari sekuat tenaganya hingga pada satu titik dia begitu berpasrah saat digigit oleh harimau, menghadapi kematiannya dengan alami. Adegan yang tadinya begitu mencekam akhirnya bisa berubah indah saat kita mampu mengapresiasi kepasrahan sang kijang terhadap kekuatan yang lebih besar darinya. Persis bagaikan kijang yang berlari, manusia dengan segala macam cara juga menghindari kematian. Orang yang sudah tidak berfungsi pun masih ditopang oleh segala macam mesin agar bisa hidup. Perpisahan tak terkecuali. Kita pasti akan berjuang habis-habisan untuk bertahan terlebih dahulu. Namun, sebagaimana kijang yang akhirnya berlutut pasrah, sekeras-kerasnya kita menolak kematian dan perpisahan, setiap makhluk bisa merasakan jika ajal siap menjemput, jika ucapan selamat tinggal siap terlontar. Dan pada titik itu, segala perjuangan berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan yang kita anggap sebab sebuah perpisahan. Namun saya percaya, penyebab yang paling mendasar selalu sederhana dan alami: memang sudah waktunya. Hidup punya masa kadaluarsa, hubungan pun sama. Jika tidak, semua orang tidak akan pernah mati dan semua orang tidak pernah ganti pacar dari pacar pertamanya. Kita bisa bilang, putusnya hubungan A karena dia selingkuh, karena bosan, karena ketemu orang lain yang lebih menarik, belum jodoh, dan masih banyak lagi. Padahal intinya satu, jika memang sudah waktunya, perpisahan akan menjemput secara alamiah bagaikan ajal. Bungkus dan caranya bermacam-macam, tapi kekuatan yang menggerakkannya satu dan serupa. Tentu dalam prosesnya kita berontak, protes, menyalahkan ini-itu, dan seterusnya. Namun hanya dengan terus berproses dalam aliran kehidupan, kita baru menyadari hikmah di baliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai penyebab perpisahan (orang ketiga, KDRT, tidak dinafkahi, dan lain-lain) menurut saya sebenarnya adalah gejala yang terlihat, bukan penyebab. &lt;span class="fullpost"&gt;Sama halnya batuk sebagai gejala penyakit flu. Batuk bukan penyebab, tapi gejala penyakit yang terlihat. Kita sendiri tidak bisa melihat virusnya, cuma merasakan akibatnya, yakni batuk atau beringus. Tapi seringkali kita tertukar memilah mana efek dan mana sebab, hanya karena efek yang terlihat lebih mudah dijelaskan. Alasan sesederhana “memang sudah waktunya” dirasa abstrak, teoritis, filosofis, dan mengada-ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;September 2006 adalah momen penyadaran saya dengan Marcell, saat kami merasa bahwa hubungan kami sudah kadaluarsa. Susah sekali kalau disuruh menjelaskan: kok bisa tahu? Tapi kami sama-sama merasakan hal yang sama. Dan pada saat itulah kami memutuskan untuk belajar berpisah, saling melepaskan. Jadi, masalah intinya bukan memaafkan dan memaklumi efek apa yang terlihat, tapi menerima bahwa inilah adanya. Hubungan yang kadaluarsa. Perkembangan yang akhirnya membawa kami ke titik perpisahan. Dan, untuk sampai pada penerimaan ini, dua tahun saya jalani dengan berbagai macam cara: meditasi, penyembuhan diri, dan sebagainya, hingga kami bisa saling melepaskan dengan lapang dada, dengan baik-baik, dengan pengertian, dengan kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaafkan bagi saya adalah menerima. Menerima kondisi kami apa adanya. Segala penyebab mengapa sebuah kondisi tercipta, barangkali kita cuma bisa tahu sekian persennya aja. Tidak mungkin diketahui semua. Apalagi dimengerti. Sama halnya saya tidak tahu persis kenapa dulu bisa bertemu dengan Marcell, menikah, dan seterusnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fate,&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;destiny,&lt;/span&gt; menjadi cara manusia menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan. Perpisahan pun sama hukumnya. Meski sepertinya keputusan berpisah ada “di tangan kita”, tapi ada sesuatu kekuatan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seringkali konsep “memaafkan” yang kita kehendaki adalah kemampuan untuk mengembalikan situasi ke saat sebelum ada masalah. Alias rujuk lagi seperti dulu. Dan keinginan kami untuk berpisah dianggap sebagai ketidakmampuan kami untuk saling memaafkan. Menurut saya, pemaafan yang sejati hanya bisa diukur oleh masing-masing pribadi, di dalam hatinya sendiri. Dan bagi kami, dalam masalah ini, “memaafkan” tidaklah identik dengan “pengembalian situasi ke kondisi semula”. Dalam proses pemaafan ini, kami pun bertumbuh. Dan di sinilah saya menyadari, juga Marcell, dinamika kami sebagai suami-istri lebih baik disudahi sampai di sini. Kami menemukan wadah yang lebih kondusif untuk menopang dinamika kami sebagai dua manusia, yakni sahabat tanpa wadah pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, orang-orang pun berargumen: semua suami-istri juga pada ujungnya jadi sahabat! Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Bahkan ada suami-istri yang menjadi musuh bagi satu sama lain meski mereka tetap menikah. Ketika sepasang suami-istri menjadi sahabat, mereka tentu bisa merasakan wadah apa yang paling tepat untuk menopang dinamika mereka. Jika pernikahan masih dirasakan sebagai wadah yang pas, maka mereka akan meneruskan persahabatan dalam cangkang pernikahan. Evolusi saya dan Marcell ada di kompartemen yang lain lagi. Cangkang pernikahan tidak lagi kami rasakan sebagai wadah yang “pas”. Jika dijalankan pun, cuma jadi kompensasi sosial yang alasannya bukan lagi kebahagiaan kami, melainkan kebahagiaan masyarakat, keluarga, sahabat, dan seterusnya. Satu opsi yang menurut saya sangat tidak sehat, membunuh pelan-pelan, dan kepalsuan berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana dengan Keenan? Apakah kebahagiaannya juga tidak kami perhitungkan? Analogi yang barangkali bisa membantu menggambarkan ini adalah petunjuk emergensi di pesawat. Dulu, saya sering bingung, kenapa orang tua disuruh memakai masker oksigen duluan sebelum anaknya. Sekarang saya mengerti, dan setidaknya ini adalah kebenaran bagi saya: kita tidak bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri bahagia. Satu buku yang sangat terkenal, “Celestine’s Prophecy”, juga bicara soal ini. Kita harus “penuh” dulu sebelum bisa “memenuhi” orang lain. Cinta bukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menikah bukan karena Keenan, dan kalaupun saya bertahan menikah, seharusnya juga bukan karena Keenan. Karena kalau cuma karena Keenan, dengan demikian saya menaruh beban yang luar biasa besar dan bukan porsinya Keenan, bahkan saya menjadi seseorang yang tidak bertanggungjawab, dengan meletakkan fondasi pernikahan saya pada seorang anak. Ini barangkali bukan pandangan yang umum. Kita tahu betapa banyak orang di luar sana yang bicara bahwa anak harusnya menjadi pengikat, bahkan dasar. Bagi saya, Keenan bukan tali atau fondasi. Dia adalah anak panah yang akan melesat sendiri satu saat nanti. Kewajiban utama saya adalah menjadi manusia yang utuh agar saya bisa membagi keutuhan saya dengan dia. Dan keutuhan jiwa saya tidak saya letakkan dalam pernikahan, tidak juga pada siapa-siapa, melainkan pada diri saya sendiri. Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri. Kalau ada yang lain merasa kecipratan, ya, syukur. Kalau tidak pun bukan urusan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia di mana seorang martir selalu memperoleh citra istimewa, apa yang saya ungkap barangkali terdengar egois. Sama seperti narasi yang kerap digaungkan infotainment, yang berbicara soal kebahagiaan anak bernama Keenan dan “hatinya yang terkoyak karena keegoisan ayah-bundanya”, seorang anak yang tidak mereka kenal sama sekali tapi mereka berbicara seolah bisa menembus ke dalam hatinya. Padahal, kalau direnungi dalam-dalam, sesungguhnya kita tidak pernah berbuat sesuatu untuk orang lain, meski kita berpikir demikian. Kita berbuat sesuatu karena itulah yang kita anggap benar bagi diri kita sendiri. Dan kebenaran ini sangatlah relatif. Jika ada 6,5 miliar manusia di dunia, maka ada 6,5 miliar kebenaran dan ukuran kebahagiaan. Norma berubah, agama berubah, sains berubah, segalanya berubah dan tidak pernah sama. Kebahagiaan pun sesuatu yang hidup, berubah, dan tidak statis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membahagiakan Keenan, keluarga, para penggemar, masyarakat, juga menjadi keinginan saya. Tapi saya pun tidak bisa selamanya mencegah mereka semua dari ketidakbahagiaan. Karena apa? Seseorang berbahagia karena dirinya sendiri. Kebahagiaan bukan mekanisme eksternal, tapi internal. Ilustrasinya begini, dua orang sama-sama dikasih apel, yang satu bahagia karena memang suka apel, yang lain kecewa karena sukanya durian. Berarti bukan apelnya yang bisa bikin bahagia, tapi reaksi hati seseoranglah yang menentukan. Yang tidak suka apel baru bisa bahagia kalau akhirnya dia bisa menerima bahwa yang diberikan kepadanya adalah apel dan bukan durian—sebagaimana yang dia inginkan. Alias menerima kenyataan. Saya tidak bisa membuat siapa pun berbahagia, sekalipun saya ingin berpikir demikian. Kenyatannya, hanya dirinya sendirilah yang bisa. Saya hanya bisa menolong dan memberikan apa yang orang tersebut butuhkan, SEJAUH yang saya bisa. Namun saya tidak memegang kendali apa pun atas kebahagiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang lantas mampir ke blog ini dan bertanya: Tuhan seperti apa yang saya anut? Karena kasih Tuhan seharusnya mengingatkan saya untuk terus bersatu, sebab tidak ada Tuhan yang menyukai perpisahan. Bagi saya, Tuhan berada di luar ranah suka dan tak suka. Jika dunia ini berjalan hanya berdasarkan kesukaan Tuhan, dan Tuhan hanya suka yang baik-baik saja, mengapa kita dibiarkan hidup dengan peperangan, dengan air mata, dengan patah hati, dengan ketidakadilan, dengan kejahatan? Mengapa harus ada hitam bersanding dengan putih? Lantas, kalau ada orang yang kemudian berargumen bahwa bagian hitam bukan jatahnya Tuhan tapi Setan, maka jelas Tuhan yang demikian bukan Yang Maha Kuasa. Ia menjadi terbatas, kerdil, dan sempit. Bagi saya, Tuhan ada di atas hitam dan putih, sekaligus terjalin di dalam keduanya. Tidak ada yang bukan Tuhan. Ia tak mengenal konsep “kecuali”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama beberapa hari terakhir, begitu banyak pesan dan komentar yang dilayangkan pada kami. Dari mulai bertanya, kecewa, prihatin, sedih, kaget, bahkan bak seorang Nabi bernubuat, ada yang meramalkan ini-itu sebagai konsekuensi keputusan kami. Tak sedikit juga yang memilih tidak berkomentar dan bertanya, hanya memberi dukungan. Kami berterima kasih untuk semua. Kami pun tak meminta banyak, hanya satu hal: hargai keputusan kami. Yang kami selamatkan di sini bukan “keutuhan keluarga” melainkan keutuhan hati dan jiwa masing-masing. Karena buat kami, itu lebih penting daripada keluarga utuh tapi dalamnya rapuh. Maaf jika itu membuat beberapa dari Anda kecewa. Saya juga mengerti begitu banyak yang berupaya mendorong kami untuk terus berusaha, mempertanyakan usaha kami, dan bereaksi seolah-olah kami memutuskan keputusan ini dalam semalam. Sungguh, ini bukan keputusan “kemarin sore”. Kita semua tahu keputusan bercerai adalah keputusan yang besar. Intinya, terima kasih atas perhatiannya, dan mari kita kembali urus diri masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan penonton infotainment dan juga bukan pembaca tabloid, tapi dari beberapa info yang kebetulan sampai ke pengamatan saya, bisa disimpulkan bahwa manusia begitu haus drama. Mungkin karena itulah kita begitu rajin membuat sinetron dengan akting-akting berlebihan dan cerita-cerita ekstrem, karena hanya dengan cara demikianlah kita bisa menerima realitas. Kita begitu terbiasa dengan drama dan tragedi. Kondisi di mana saya dan Marcell bisa duduk berdampingan, berpisah dengan baik-baik, seolah-olah terlewatkan sebagai buah upaya kami yang nyata karena semua orang sibuk mengedepankan pertunjukan teater versinya masing-masing. Apa pun yang saya katakan, pada akhirnya selalu dibingkai narasi, entah lisan atau tulisan, yang merupakan ramuan opini si penulis naskah. Itulah yang akhirnya membuat saya dan Marcell lebih banyak tertawa sendiri, pers hiburan rasanya seperti servis sosial di mana kami mengumpankan dongeng untuk kepentingan hajat hidup mereka, bukan lagi berbagi kebenaran. Dengan info-info sepotong yang mungkin lebih banyak asumsinya ketimbang faktanya, mereka bisa merangkai pertunjukan teater apa pun yang mereka mau. Dan itulah yang menghibur. Sisanya? Kenyataan yang membosankan. Nyata, tapi tidak seru. Dan bukan itu yang orang mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, saya ditunjukkan tabloid C&amp;amp;R yang terbaru. Kami berdua menjadi sampul depan, dengan laporan empat halaman. Saya sempat tercengang karena mereka mengutip hal yang tidak pernah saya lontarkan, menuliskan pertanyaan yang tidak pernah mereka tanyakan, tapi ditulis sedemikian rupa seolah terjadi dialog langsung antara saya dan penulis/wartawan (Fitriawan Ginting - RED). Bahkan, mereka menuliskan alamat rumah saya dengan lengkap, tanpa izin terlebih dahulu. Plus, ditambah unsur-unsur dramatis bahwa kepindahan saya adalah untuk “mengubur masa lalu”. Padahal saya berencana pindah sejak tahun lalu karena semata-mata alasan pekerjaan. Tidak hanya mereka menulis sesuai dengan bingkai yang mereka mau, bahkan untuk mengepas “gambar realitas” ke bingkai tersebut, mereka melakukan hal yang tidak etis. Saya tidak tahu fungsi dari alamat lengkap saya untuk bumbu berita mereka, tapi mereka menuliskannya seolah tidak berpikir bahwa hal tersebut menyangkut isu sekuritas, dan juga privasi. Media seharusnya tidak memberikan alamat seseorang begitu saja. Sejauh saya berkarier, pihak media selalu meminta izin jika ingin memberikan alamat. Entah zaman yang sudah berubah, atau privasi sudah jadi kata-kata kosong dalam realm pers hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa debat dan diskusi di internet pun merebak, bahkan terkadang menjadi pengadilan tak resmi. Ada banyak nama yang disebut, dispekulasikan, dan sampai didiskreditkan. Orang-orang yang juga punya kehidupan, keluarga, karier, dan privasi. Sekalipun dengan tegas saya dan Marcell mengatakan bahwa alasan kami berpisah bukan karena pihak ketiga atau ketujuhbelas, tapi seperti angin lalu, mereka tak jemu mengorek sana-sini, termasuk ke sahabat-sahabat terdekat saya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;So, seriously, they don’t have any concern for the truth. They have concern on “stories”.&lt;/span&gt; Lucu. Yang menjalani saja santai-santai, yang kebakaran jenggot malah orang-orang lain. Jika dilihat secara keseluruhan, sesungguhnya inilah dagelan kita bersama. Barangkali demikian juga halnya nasib semua berita hiburan (bahkan non-hiburan) yang beredar selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, hendak ke mana setelah ini? Saya tidak tahu. Apakah akan ada penyesalan? Saya tidak tahu. Apa pun yang menanti saya sesudah ini, itulah konsekuensi, tanggung jawab, dan karma saya. Pahit atau manis. Tak seorang pun yang tahu. Namun inilah pelajaran hidup yang menjadi jatah saya, dan saya menerimanya dengan senang hati. Saya tidak berdagang dengan Tuhan. Setiap detik dalam hidup adalah hadiah. Setiap momen adalah perkembangan baru. Bagi saya, itu sudah cukup. Bagi saya, itulah bentuk kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau pertanyaan emas itu kembali dilontarkan: apa penyebab Dewi dan Marcell bercerai? Mereka sadar, menerima, dan memaafkan… bahwa hidup telah membawa mereka ke titik perpisahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstrak? Filosofis? Teoritis? Utopis? Saya sangat mengerti mengapa label-label itu muncul. Kebenaran kadang memang sukar dipahami. Hanya bisa dirasakan. Sama gagapnya kita berusaha mendefinisikan Cinta. Pada akhirnya, kita cuma bisa merasakan akibatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~ D ~&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-6798442348263858949?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/6798442348263858949/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=6798442348263858949&amp;isPopup=true' title='324 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/6798442348263858949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/6798442348263858949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2008/07/catatan-tentang-perpisahan-perpisahan.html' title='Catatan Tentang Perpisahan'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><thr:total>324</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-715496744253653712</id><published>2008-06-04T20:02:00.009+07:00</published><updated>2009-01-25T15:42:12.616+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nature-Green-EcoLiving'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Published Articles'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On Life and Living'/><title type='text'>Biyukukung: Saat Alam Menghamili Padi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 255, 153);"&gt;Biyukukung: &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 255, 153);"&gt;&lt;br /&gt;Saat Alam Menghamili Padi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 255, 153); font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;(Published - Pikiran Rakyat)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SEdO2BVnDZI/AAAAAAAAAJQ/1VaycQc5a34/s1600-h/ubud_bali_ricefield.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SEdO2BVnDZI/AAAAAAAAAJQ/1VaycQc5a34/s400/ubud_bali_ricefield.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208218184056245650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Minggu ini saya akan pergi ke Bali—ke Ubud, tepatnya. Tempat di mana sawah menjadi bagian inheren dari pariwisata. Penginapan tempat saya biasa menginap juga dikelilingi sawah, yang jaraknya hanya sekian langkah dari teras kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir kali ke sana, saya sempat menontoni seorang bapak tua membajak sawah dengan bajakan sederhana yang harus ia tarik mengelilingi sawah. Jangankan mesin, pakai bantuan kerbau pun tidak. Sesekali, ia menggemburkan tanah dengan kakinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil sarapan pagi, saya membatin dalam hati: “Kapan pertanian Indonesia bisa maju kalau begini caranya?” Sementara pertanian di Amerika sudah hampir seluruhnya dioperasikan mesin, bapak tua itu masih membajak tanah dengan cara yang barangkali sama dengan para petani seratus tahun lalu. Memandangnya bergerak lamban menyusuri lumpur seolah menyaksikan artefak kuno diarak di Silicon Valley. Sungguh ironis, pikir saya waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;check-out&lt;/span&gt;, perhatian saya tiba-tiba tertumbuk pada satu kata yang tak pernah saya perhatikan, meski saya melihatnya setiap hari, yakni nama hotel tempat saya menginap: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Biyukukung”&lt;/span&gt;. Dan saya tergerak untuk bertanya pada sopir hotel, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Beli,&lt;/span&gt; Biyukukung artinya apa?” Dia lantas menjelaskan, Biyukukung adalah nama upacara yang dilakukan saat padi “hamil”. Saya spontan tertawa geli. Baru kali itu saya mendengar kata “hamil” diperuntukkan buat padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, entah kenapa, konsep padi hamil itu terus mengusik pikiran saya. Setibanya di rumah, saya melakukan riset kecil-kecilan. &lt;span class="fullpost"&gt;Dalam sebuah jurnal tentang sistem Subak, yang waktu zaman sekolah dulu saya kenal sebagai sistem irigasi sawah di Bali, saya terhanyut dan tercengang melihat begitu sakralnya sistem pertanian tradisional Bali. Subak bukan semata-mata mekanisme irigasi, bukan sekadar alat tekno-sosial, melainkan pemahaman dasar para petani Bali bahwa pertanian merupakan satu entitas tersendiri yang terajut dengan ekosistem dan spiritualitas. Petani di daerah tertentu akan menyesuaikan perilaku bertaninya bukan hanya berdasarkan kondisi tanah dan air di tempat itu saja, tapi dengan seluruh elemen alam, termasuk nilai religi masyarakat setempat dan para Dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekurangnya ada 27 nama upacara yang saya temukan, dari mulai untuk penyemaian benih, menyiangi, pengangkutan, penyimpanan, sampai pengeringan. Setiap upacara berkorespondensi dengan Dewa tertentu yang disesuaikan dengan tujuan dan keberhasilan fase demi fase. Pada fase Biyukukung, misalnya, para petani berdoa kepada Bhatara Surya untuk restu dan perlindungan. Pada fase pengeringan, atau Nedunang Pari, mereka minta restu pada Bhatari Sri untuk proses akhir dari padi mereka. Sebelum dikenal pestisida dan insektisida, hama diusir hanya dengan mantra dan sesajen. Setiap hama memiliki mantra dan sesajennya sendiri; mantra penanganan hama tikus lain dengan mantra mengusir monyet, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan tentang Subak membuat saya berpikir ulang tentang kesimpulan saya saat menontoni bapak tua di sawah itu. Selama ini kita begitu mengagungkan pertanian modern karena kecepatan dan keberlimpahannya dalam memenuhi kebutuhan manusia. Namun dalam kecepatan itu, kita memutus hubungan sakral kita dengan alam. Tanah hanya tanah. Bibit ya cuma bibit. Padi ya hanya padi. Semuanya adalah alat yang melayani kebutuhan manusia, yang bisa dikendalikan dengan teknis dan mekanis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kita berbicara soal intensifikasi pertanian, yang kita bicarakan adalah seberapa besar lahan gambut yang bisa disulap jadi subur, seberapa besar volume panen bisa kita genjot, seberapa banyak padi yang bisa kita timbun. Dan dalam prosesnya, entah berapa juta ton racun yang kita kirim ke tanah, dari mulai pupuk kimia hingga pestisida, demi kemakmuran umat manusia. Saat pertanian menjadi masalah mekanis, kita lupa bersimpuh pada alam yang melimpahkan begitu banyak bagi kita secara cuma-cuma. Kita tidak lagi memaknai makanan di piring kita sebagai wujud karya persetubuhan matahari dan air, yang benihnya kemudian bersemayam dalam rahim tanah, tumbuh dan mengandung, untuk kelak kembali ke tanah, menunggu persetubuhan berikutnya antara matahari dan air. Kita lupa bahwa padi pun “hamil”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku Indian di Benua Amerika sangat sohor karena hubungan mereka yang luar biasa dengan alam. Mereka begitu peka, tak cuma pada binatang, tapi juga tumbuhan. Seorang shaman akan pergi hutan untuk mencari obat. Ia tak tahu persis tanaman mana yang bisa berguna untuk kebutuhannya. Ia hanya menunggu tanaman tertentu “berbicara” padanya. Dan sebelum ia petik tanaman tersebut, ia masih menunggu tanaman itu memberi tanda terlebih dulu, mengungkapkan kesiapannya untuk dicabut. Dan sesudah itu, ia berterima kasih pada roh yang bersemayam dalam tanaman itu atas kerelaannya menolong manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita-cerita semacam itu menjadi dongeng bagi manusia modern. Termasuk 27 upacara menanam padi. Petani semi modern di Bali sudah tidak lagi mengandalkan mantra dan sesajen secara eksklusif untuk mengusir hama, mereka kini sudah mencampurnya dengan obat-obatan kimia. Yang bukan petani lebih-lebih lagi, kita bahkan tak tahu betapa beras merupakan bahan makanan pokok yang paling repot untuk diproduksi. Saat kita pergi ke pasar, melihat berkarung-karung beras siap ditimbang dan dibawa pulang… saat kita masak, melihat nasi putih panas yang masih mengepul dalam dandang… saat kita makan, mencampurkan nasi dengan berbagai macam lauk… semua ini menjadi adegan-adegan biasa yang kita jalani setiap harinya tanpa pernah ingat lagi perjalanan Sang Padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat itu semua, saya kembali berpikir ulang. Apakah intensifikasi pertanian satu-satunya jawaban dari kemelut pangan? Mungkinkah kita bergerak lebih dalam dari itu dan melihat bahwa ada yang hilang dalam relasi manusia dengan alam? Dan jika kita pulihkan harmoni itu, mungkinkah kita melihat hidup dengan cara yang sama sekali berbeda? Kita akan berpikir ulang sebelum membuang nasi, sebelum menyajikan makanan secara berlebihan, sebelum makan demi pemuasan dan bukan lagi kebutuhan. Dan upaya kita bukan lagi berdasarkan takut kurang, atau takut dimarahi pihak tertentu, melainkan karena kita memahami dan menghargai alam selayaknya sebuah entitas, bukan alat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua dari kita tahu dan mau tahu soal mantra dan sesajen. Namun saya percaya, alam punya intelijensi luar biasa yang mampu memahami niat dan isi hati kita tanpa batasan bahasa dan cara. Maukah kita mencoba, mensyukuri berkah yang kita lupakan ini, bukan dengan doa yang diucap sembarang karena refleks, tapi dengan setiap kata yang dihayati? Memandang nasi yang kita makan hari ini bak kumpulan mutiara—putih, dan berharga. Memandang mereka sebagai anak-anak hasil perkawinan alam yang telah dilimpahkan pada piring kita, sehingga menjadi gugus-gugus yang membangun tubuh dan jiwa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan kembali ke Ubud dan melihat sawah di depan teras kamar saya nanti dengan pandangan yang berbeda. Dengan kata dan cara saya sendiri, saya ingin menyempatkan berdoa sederhana: untuk semua padi yang telah hamil demi saya makan, sejak saya di kandungan hingga saya kelak kembali menjadi abu, saya ucapkan terima kasih. Kalian telah menjadi bagian hidup saya, sebagaimana saya pun bagian dari kalian. Maafkan jika saya sering lupa kebenaran itu. Tapi saya percaya, dengan kata dan cara kalian sendiri, kalian tak pernah lelah mengingatkan saya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;* Foto sawah Ubud diambil dari highwaybali.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-715496744253653712?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/715496744253653712/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=715496744253653712&amp;isPopup=true' title='47 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/715496744253653712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/715496744253653712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2008/06/biyukukung-saat-alam-menghamili-padi.html' title='Biyukukung: Saat Alam Menghamili Padi'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SEdO2BVnDZI/AAAAAAAAAJQ/1VaycQc5a34/s72-c/ubud_bali_ricefield.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>47</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-2402175451063988016</id><published>2008-05-20T17:01:00.005+07:00</published><updated>2009-01-25T15:43:00.603+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nature-Green-EcoLiving'/><title type='text'>Dua Pertanyaan Yang Berarti</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(153, 255, 153);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Dua Pertanyaan Yang Berarti&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan berikut terlahir dari komentar yang dilontarkan dalam forum blog ini. Untuk itu, saya sangat berterima kasih pada Heikal, yang dalam pertanyaannya telah memberikan ruang bagi satu perenungan penting bagi kita semua. Heikal mengungkapkan sesuatu, yang menurut saya, juga kerap terlintas dalam benak kita semua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Tidakkah penghentian konsumsi protein hewani akan menghasilkan masalah baru? Misalnya konsumsi telur dihilangkan. Entah berapa pekerja yang ikut kehilangan pekerjaan seiring dengan menghilangnya telur. Pekerja di peternakan, buruh pabrik pakan ternak, dan lingkungan tempat pabrik itu berada kehilangan potensi ekonominya. Dan hal ini akan berlangsung di seluruh dunia… Belum daging, ayam, ikan (tawar &amp;amp; laut), dan produk hewani lainnya. Berarti semua peternakan penghasil daging, juga nelayan, pasar ikan, dan semua mata rantai jaringan distribusinya, dan semua pekerja sampai lini terakhir, akan berpotensi kehilangan pekerjaannya. Mereka semua akan jadi korban kebijakan vegetarian. Terbayang di benak saya kerusuhan massal yang sekiranya mungkin terjadi… Ketika harga solar naik, pemerintah sulit membantu para nelayan karena mereka adalah nelayan! Mereka tidak mampu beralih profesi menjadi petani, misalnya… Pola vegetarian bisa diterapkan, tapi tidak dalam waktu singkat. Mungkin, sekali lagi mungkin, harus melalui proses, katakanlah, kerusuhan, harga-harga produk pertanian yang meningkat, kemiskinan bertambah, dan tetap terjadi pertempuran kepentingan antara penggunaan lahan untuk pertanian sebagai konversi dari industri hewani, dengan kebutuhan manusia akan lahan untuk tempat tinggal.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita renungkan perlahan dan mendalam. Sekalipun pertanyaan dan pernyataan di atas sangat menarik dan mengusik, menurut saya semua itu bersifat spekulatif, dan jika ada yang tergerak untuk menjawab, maka jawaban yang diberikan pun otomatis juga cuma spekulasi belaka. Bagaimana jadinya jika satu dunia serempak sim-salabim jadi vegetarian? &lt;span class="fullpost"&gt;Saya tidak tahu. Saya tidak yakin ada yang tahu. Saya bisa saja berfantasi demi menjawabnya, tapi tentu tidak akan banyak berguna. Jadi, pertama, mari kita pilah mana fantasi, mana fakta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, gaya hidup termasuk pola makan kita memiliki jejak gas rumah kaca yang tidak kecil. Hal itu bisa dihitung secara matematis, dan sudah diungkap di mana-mana. Jika masing-masing dari kita menghapus jejak tersebut, sedikit atau sekaligus, secara matematis tentunya terjadi perubahan pada wajah Bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tolong, sekali lagi kita renungkan pelan-pelan. Pola mental kita dapat menciptakan trik yang amat halus. Alih-alih berubah, kita malah asyik berspekulasi, membayangkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;chaos&lt;/span&gt; yang terjadi kalau orang sedunia mengubah pola makannya, atau gaya hidupnya. Dan lagi-lagi, kita menunda perubahan demi penelusuran spekulasi. Mari kita pilah sekali lagi, mana fakta di depan mata, mana fantasi di kepala. Saya bisa saja berfantasi: apa yang terjadi kalau semua orang berhenti mengonsumsi BBM? Apa yang akan terjadi dengan seluruh pembangkit listrik di dunia, seluruh mesin-mesin yang digerakkan oleh BBM? Apakah mereka akan jadi onggokan besi tua tak berguna? Bagaimana nasib karyawan tambang minyak di seluruh dunia, Pertamina dan seluruh perusahaan minyak di dunia, tukang isi bensin, dll? Bukankah ini akan mengakibatkan pengangguran gila-gilaan? Kemiskinan, kerusuhan, bahkan perang? Satu penelusuran yang sangat fantastis dan menarik, tentunya. Kita bisa membayangkan apa pun, tapi bayangan Anda dan saya belum tentu benar. Mengapa? Karena semua itu adalah khayalan masa depan yang belum terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini yang terjadi: dunia memasuki krisis energi. BBM adalah sumber energi yang punya umur karena tidak bisa diperbaharui, jadi satu saat pasti habis. Semua itu adalah fakta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya dengan vegetarian. Teman saya bahkan pernah berfantasi, kalau semua orang jadi vegetarian, rantai makanan di Bumi jadi kacau, karena populasi singa dan binatang buas lainnya jadi meledak akibat ketersediaan makanan mereka yang tahu-tahu membludak berhubung ternak-ternak itu dianggurkan manusia. Fantastis, bukan? Mata kita justru tertutup dari fakta bahwa kondisi sekaranglah yang tidak beres, karena manusia mengadakan intervensi alam dengan industri peternakan dan mengadakan miliaran hewan ternak. Kenapa tidak terjadi ledakan populasi kecoak atau cicak di dunia? Karena manusia tidak beternak kecoak atau cicak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, disebutkan pula:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Intinya, menurut saya, dari rantai kehidupan yang kita jalani sekarang, vegetarian bukanlah solusinya. Jika industri ternak sebagai penyumbang pemanasan global terbesar dihentikan, bukan berarti faktor pencetus pemanasan global berhenti… Logikanya begini, industri ternak &amp;amp; populasi hewan besar karena kebutuhan manusia akan ternak yang besar. Kebutuhan ternak yang besar karena populasi manusia di dunia ini juga besar. Jadi, seharusnya LAJU POPULASI MANUSIA-lah yang harus dikendalikan. Jadikan pertumbuhan populasinya 0% di seluruh dunia. Ini mustahil juga kan? Jadi kampanye Penanggulangan Pemanasan Global saat ini sudah sangat terlambat. Tak ada kata terlambat, kita harus mengakui keterlambatan itu…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari cermati pelan-pelan, benarkah industri ternak berkembang karena “kebutuhan” manusia? Jika benar isunya adalah butuh, bahwa manusia di Bumi ini “membutuhkan” hewan ternak sekian banyak demi memenuhi “kebutuhan” mereka, mengapa 3,6 miliar manusia mengalami kelaparan kronis? Mengapa 40 ribu orang mati setiap harinya karena kelaparan? Ke mana larinya enam miliar hewan ternak yang diadakan demi kebutuhan umat manusia? Ada 12 Mitos seputar isu “World Hunger”, dan mitos nomor tiga disebutkan: jumlah manusia yang terlalu banyak (www.worldhunger.org). Kita kerap berpikir, Bumi tak cukup memberi makan 6,5 miliar jiwa. Nyatanya, pertanian dunia masa kini mampu memberi makan semua manusia 2720 kalori per hari. Artinya, jumlah manusia bukanlah determinan mengapa kelaparan ada. Telah disebutkan, pakan ternak di Amerika tok sudah bisa memberi makan 1,3 miliar orang. Jadi, benarkah industri hewan ternak tumbuh karena manusia butuh? Menurut saya, industri ternak tumbuh karena nurani kita lumpuh. Demi profit, satu penelitian atas tikus setengah abad yang lampau menjadi acuan bagi kita untuk mengisi perut. Demi sepotong lidah panjang 10 senti, kita jadikan lambung kita kuburan bagi ratusan hewan, yang dalam kaca mata besarnya juga menjadi kuburan bagi saudara-saudara kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu catatan penting mengenai laju populasi manusia. Sesungguhnya, sejak tahun 1987, laju populasi manusia di dunia menurun dengan rata-rata pengurangan 2,1 juta manusia per tahun. Jika kecepatan ini bertahan, kita akan mencapai titik zero population growth dalam waktu dua puluh tahun (www.overpopulation.net). Dan kecenderungan dalam enam tahun terakhir bahkan menunjukkan penurunan yang berangsur lebih besar lagi. Jadi, apakah mungkin terjadi pertumbuhan populasi nol? Sangat mungkin. Kita bahkan sedang berproses menuju ke arah sana. Di atas kertas, kita bisa menganggap hal ini sebagai kabar baik. Namun, penurunan laju penduduk tidak selalu berarti “baik”, karena dalam penurunannya, yang terjadi adalah kelaparan meningkat, penyebaran penyakit bersifat epidemis, dan sebagainya. Dua faktor yang paling berperan adalah krisis pangan dan air, yang lagi-lagi bermuara pada faktor eksploitasi lingkungan yang tidak berpihak pada kelestarian alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, mohon direnungkan dalam-dalam. Mengapa kita susah sekali mencerna fakta-fakta ini? Mengapa kita lebih mudah berspekulasi ketimbang bertindak? Mungkinkah karena ini adalah pembiasaan sistemik yang sudah begitu merasuki sistem berpikir kita, yang kemudian membentuk cara pandang kita terhadap hidup dan dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya, kunci spesies manusia bisa bertahan dan berevolusi hingga detik ini adalah karena kemampuannya beradaptasi. Itulah satu-satunya modal sejati kita untuk bertahan hidup. Perubahan menuju zaman baru tidak terelakkan, dan mereka yang bertahan adalah mereka yang mampu beradaptasi. Dari detik kehidupan bermula, demikianlah rumusnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Like it or not.&lt;/span&gt; Semua pemain dalam industri energi harus beradaptasi, mau tak mau. Para petani dan peternak, sama halnya dengan para pekerja lain di dunia yang terus berubah ini, harus beradaptasi, tanpa kecuali. Semua makhluk hidup harus beradaptasi dengan perubahan iklim, tanpa bisa menolak. Ada yang masih bertahan, ada juga ribuan spesies lainnya yang sudah punah, dan akan punah. Di akhir abad ini, beruang kutub diperkirakan akan punah. Bisakah Anda bayangkan, jika kita berpikir dari sudut pandang beruang kutub? Bagi mereka, mencairnya kutub adalah kiamat total. Sementara kita, manusia, masih bisa asyik berspekulasi ini-itu. Begitu banyak makhluk dipaksa beradaptasi di ujung batas hidup dan mati selagi saya dan Anda berkorespondensi lewat blog ini. Dalam hitungan detik, eskalasi kepunahan berbagai spesies terus meroket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ambil pusing tentang spekulasi skenario perubahan pola makan dunia bukan karena tidak peduli. Tapi karena hal itu tidak sanggup saya kendalikan. Lalu untuk apa saya membuang waktu? Kadang-kadang, kita terus berlarut memikirkan orang lain dan situasi yang tidak bisa kita kendalikan, dan lagi-lagi, melupakan kendali yang paling riil dan bisa kita pakai segera: kendali pada diri kita sendiri. Sejenak, lupakan nelayan, lupakan peternak, lupakan pemerintah, lupakan siapa pun yang ada di luar diri Anda. Termasuk saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, mari bertanya: siapa Anda? Apa yang Anda bisa lakukan? Menurut saya, dua pertanyaan itulah yang paling berarti. Sisanya fana.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-2402175451063988016?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/2402175451063988016/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=2402175451063988016&amp;isPopup=true' title='44 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/2402175451063988016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/2402175451063988016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2008/05/dua-pertanyaan-yang-berarti-tulisan.html' title='Dua Pertanyaan Yang Berarti'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><thr:total>44</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-7775238352730854127</id><published>2008-05-19T20:51:00.007+07:00</published><updated>2009-01-25T15:44:53.157+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nature-Green-EcoLiving'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Guest Writer'/><title type='text'>Daging Makanan Bergizi Kelas Satu, Benarkah?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);font-size:180%;" &gt;Daging Makanan Bergizi Kelas Satu,&lt;br /&gt;Benarkah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;By: Chindy Tan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SEdZ88xooLI/AAAAAAAAAJ4/34JWRgiKSmE/s1600-h/meat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SEdZ88xooLI/AAAAAAAAAJ4/34JWRgiKSmE/s320/meat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208230397718601906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;”Bukankah daging tetap dibutuhkan tubuh untuk kesehatan?” Demikianlah kepercayaan yang sangat mengakar hingga detik ini, yakni daging sebagai sumber  protein kelas satu, sumber kalsium, sumber lemak, sumber vitamin B12 dan sumber zat besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu akar kepercayaan ini bersumber dari sebuah studi antara tahun 1929-1950 dengan menggunakan asam amino yang dimurnikan (padahal makanan yang kita makan bukanlah asam amino yang dimurnikan). Kemudian, penelitian lanjutnya dilakukan pada tikus, yang ternyata tingkat kebutuhan proteinnya paling tinggi dari semua mamalia. Sebagai patokan, jumlah kalori protein yang terkandung dalam air susu tikus adalah 49%, sedangkan pada manusia jumlah kalori protein yang terdapat pada ASI hanyalah 5%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengapa Jadi Berlebih?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut dicermati bahwa kebutuhan tertinggi tubuh manusia akan protein seumur hidupnya adalah masa usia 0-5 tahun. Pada masa paling krusial 0-6 bln di mana ASI secara eksklusif diberikan, ASI sendiri ‘hanya’ mengandung 5% kalori protein, Terkecuali masa menyusui, American Journal of Clinical Nutrition mematok rata-rata asupan 2,5% kalori protein per hari, dan banyak populasi yang hidup dengan baik-baik saja pada angka ini. Logis saja, karena pada masa kebutuhan tertingginya pun tubuh kita hanya dipasok 5% kalori protein dari ASI. Tentunya setelah lewat masa pertumbuhan, tubuh kita tidak membutuhkan sebanyak  itu lagi, atau cukup di bawah 5% kalori protein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah hal yang janggal bila National Egg Board, National Dairy Council, National Livestock, dan Meat Board Amerika menambah 30% dari angka yang harusnya kurang dari 6% (“Diet For A New America”)? &lt;span class="fullpost"&gt;Batas aman atau RDA 30% inilah yang disoroti sebagai dasar propaganda industri ternak. Kebijakan tersebut lantas dituangkan ke dalam kurikulum pendidikan. Bermula di Amerika, propaganda daging, telur, susu sebagai sumber protein utama ini pun mendunia, termasuk di Indonesia. Bangku sekolah kita tak luput dari jangkauan propaganda ini. Konsep yang  sudah sangat akrab sampai ke sumsum kita, bahwa daging adalah sumber terbaik untuk protein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejanggalan ini terjawab pada uraian Dr. David Reuben yang mempertanyakan: siapakah yang sesungguhnya memperoleh manfaat ekstra 30% batas aman tersebut? Beliau menjawab, “Mereka yang menjual daging, ikan, keju, telur, ayam dan semua sumber-sumber protein yang bergengsi dan mahal lainnya. Jika Anda adalah keluarga Amerika umumnya, Anda harus mengeluarkan uang 40 USD per bulan untuk memompa asupan protein yang sebenarnya tidak Anda perlukan. Pengeluaran ini, memberikan 36 miliar USD per tahun ke kantong penjual.” (Diet For A New America – John Robbins)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Business As Usual&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era globalisasi memberi jalan lapang bagi negara-negara industri yang kuat modal dan kuat teknologi untuk menguasai harkat hidup di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Mari lebih jeli menganalisa benang merah tiap fakta berikut:  Makanan merupakan 11% dari keseluruhan komoditi perdagangan global, proporsi yang berada di atas perdagangan minyak bumi (Globalization and Human Nutrition, 2001). Produk makanan yang dihasilkan dari produksi pangan yang berlebihan di negara-negara industri mau tak mau harus dipasarkan. Namun karena ‘demand’-nya yang sudah statis (baca: jenuh) atau inelastik di negara industri, maka pilihan pasarnya adalah negara-negara berkembang yang produk pangannya masih ‘tradisional’ dan ‘terbatas’. Untuk ini industri makanan di Amerika Serikat mengeluarkan dana 30 miliar dolar setiap tahunnya untuk promosi (Bulletin of the World Health Organization, 2002). Strategi promosi yang digunakan memberi citra daging sebagai makanan bergengsi, modern dan gaul. Rumus ”Tiga P” digunakan: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;placing, pricing dan promotion.&lt;/span&gt; Hasilnya, menjamur dan mengguritanya bisnis makanan cepat saji hampir di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Dampak Terhadap Kesehatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof.dr.Siti Fatimah Muis, M.Sc, SpGK dalam kajiannya,”Globalisasi Pangan: Dampaknya Terhadap Gizi dan Kesehatan” menuliskan bahwa setelah Perang Dunia II, negara berkembang mengalami transisi epidemiologi yakni, menurunnya penyakit infeksi seperti TBC, tifus, diare, lepra dan mulai munculnya penyakit degeneratif seperti penyempitan pembuluh darah jantung atau otak, penyakit gangguan metabolisme dan keganasan. Dan sekarang telah memasuki masa transisi berikutnya adalah transisi gizi atau munculnya masalah gizi ganda. Artinya, masalah gizi berlebih pada saat yang bersamaan muncul dengan masalah gizi kurang. Kelebihan asupan energi pada anak-anak dan remaja, utamanya dari makanan berlemak jenuh tinggi (daging, telur, dan susu) di atas 30% dari keseluruhan asupan energi sehari-hari ternyata juga dapat mengakibatkan kenaikan kolesterol, penebalan/pengerasan dinding pembuluh darah (atherosklerosis) dan diabetes tipe-2 seperti yang dialami usia paruh baya (Rapid Westernization of children’s blood cholesterol in 3 countries, 2000). Pada abad ke-20 diabetes tipe 2 (non-insuline dependent) hanya terjadi pada usia paruh baya dan tua. Namun, tren sekarang menunjukkan penyakit tersebut mulai banyak diderita oleh anak maupun remaja. Terjadi peningkatan empat kali lipat kejadian diabetes tipe 2 pada anak usia anak 6-15 tahun yang terbukti berkorelasi dengan kelebihan berat badan (Type 2 diabetes in young, 2004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali saat membesuk rekan yang sakit di RS, cobalah adakan survei kecil. Berapa banyak pasien penderita  stroke, serangan jantung, hipertensi, diabetes dan kanker dan yakinlah, sepuluh dari sepuluh penderita tersebut dianjurkan oleh dokter untuk mengurangi atau berpantang daging. Begitu sederhana pesan yang bisa diamati dari sekeliling kita tanpa perlu studi atau riset untuk sampai pada pemahaman bahwa: sederet penyakit inilah yang sebenar-benarnya ’diberikan’ oleh daging kepada tubuh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;* Lagi, satu sumbangan dari Chindy Tan yang dikerjakan dengan begitu sigap untuk kita semua yang masih penasaran soal isu gizi daging dan kesehatan. Saya pribadi merekomendasikan buku "New Diet For A New America" bagi yang ingin mengulik lebih lanjut dan lebih mendalam. Thank you, Chindy, untuk sumbangannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;* Gambar diambil dari pump.tuthill.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-7775238352730854127?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/7775238352730854127/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=7775238352730854127&amp;isPopup=true' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/7775238352730854127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/7775238352730854127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2008/05/daging-makanan-bergizi-kelas-satu.html' title='Daging Makanan Bergizi Kelas Satu, Benarkah?'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SEdZ88xooLI/AAAAAAAAAJ4/34JWRgiKSmE/s72-c/meat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-1972198813517429188</id><published>2008-05-16T17:45:00.010+07:00</published><updated>2009-01-25T15:46:13.372+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nature-Green-EcoLiving'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Guest Writer'/><title type='text'>Bumi Kita Butuh Langkah Cepat, Please Go Veggie!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);font-size:180%;" &gt;Bumi Kita Butuh Langkah Cepat, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);font-size:180%;" &gt;Please Go Veggie!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;by: Chindy Tan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SEdbMS7RgfI/AAAAAAAAAKI/Id-u9yTk69U/s1600-h/EarthBlueMarbleWestTerra.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SEdbMS7RgfI/AAAAAAAAAKI/Id-u9yTk69U/s200/EarthBlueMarbleWestTerra.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208231760874275314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Alarm tanda bahaya dampak pemanasan global berbunyi semakin nyaring. Pola pencairan es di Arktika merupakan salah satu indikatornya. Perubahan demi perubahan melaju dalam hitungan bulan. Tanggal 18 Maret 2008, Jay Zwally, ahli iklim NASA, memprediksi es di Arktika hampir semua akan mencair pada akhir musim panas 2012. Hanya dalam waktu dua bulan prediksi itu bergeser. Tanggal 1 Mei 2008 lalu, prediksi terbaru dilansir NASA: mencairnya semua es di Arktika bisa terjadi di akhir tahun 2008 ini. Sederet tanda-tanda bahaya yang telah terjadi sebelumnya adalah volume es di Arktika pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari empat tahun sebelumnya. Es di Greenland yang telah mencair mencapai 19 juta ton. Fenomena terbaru lainnya, pada tanggal 8 Maret 2008 beting es Wilkins di Antartika yang berusia 1500 tahun pecah dan runtuh seluas 414 kilometer persegi (hampir 1,5 kali luas kota Surabaya atau sepertiga luas Jakarta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek domino apa yang membayang bila es di Arktika mencair semua? Mencairnya es di Arktika tidak akan menaikkan level permukaan air laut, melainkan akan mempercepat siklus pemanasan global itu sendiri. Bila es di Arktika mencair semua, 80% sinar matahari yang sebelumnya dipantulkan akan diserap 95% oleh air laut. Konsekuensi lanjut adalah potensi terlepasnya 400 miliar ton gas metana atau 3000 kali dari jumlah gas metana di atmosfer. Gas metana dapat terlepas akibat mencairnya bekuan gas metana yang stabil pada suhu di bawah dua derajat celcius. Seperti diketahui, gas metana memiliki efek rumah kaca 25 kali lebih besar dari gas CO2. Salah satu skenario  yang mungkin terjadi adalah terulangnya bencana kepunahan massal  yang pernah terjadi pada 55 juta tahun yang lalu dikenal dengan masa PETM (Paleocene-Eocene Thermal Maximum). Saat itu, gas metana yang terlepas ke atmosfer mengakibatkan percepatan pemanasan global hingga mengakibatkan kepunahan massal. Bukti geologi lain menunjukkan kepunahan massal juga pernah terjadi 251 juta tahun lalu, pada akhir periode Permian. Akibat terlepasnya gas metana, lebih dari 94% spesies mengalami kepunahan massal. Kematian massal terjadi mendadak karena turunnya level oksigen secara ekstrem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca fakta-fakta di atas, satu hal yang patut digarisbawahi adalah tenggat waktu yang semakin sempit. &lt;span class="fullpost"&gt;Dr. Rajendra K. Pachauri, Ketua IPCC, menekankan bahwa dua tahun ke depan merupakan masa tenggat penting untuk menghambat laju pemanasan global yang bergerak dengan sangat cepat. James Hansen, ahli iklim NASA, mengatakan bahwa kita telah berada di titik sepuluh persen di atas batas ambang kemampuan Bumi mencerna CO2. Artinya, kita telah melampaui titik balik. Pada level saat ini, tindakan yang harus diambil bukan lagi mengurangi, melainkan menghentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita butuh kecepatan dan ketepatan membaca masalah hingga dapat memilih solusi yang efektif. Solusi yang mampu berpacu dengan waktu untuk memperlambat laju pemanasan global. Berkaitan dengan ini, dalam konferensi persnya di Paris, 15 Januari 2008, Pachauri mengimbau masyarakat dunia dalam tingkat individu untuk: pertama, jangan makan daging. Kedua, kendarai sepeda. Ketiga, jadilah konsumen yang hemat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa ”jangan makan daging” berada pada urutan pertama? Fakta berbicara, seperti laporan yang dirilis  Badan Pangan Dunia – FAO (2006) dalam Livestock’s Long Shadow – Environmental Issues and Options, daging merupakan komoditas penghasil emisi karbon paling intensif (18%), bahkan melebihi kontribusi emisi karbon gabungan seluruh kendaraan bermotor (motor, mobil, truk, pesawat, kapal, kereta api, helikopter) di dunia (13,5%). Peternakan juga adalah penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan 70% persen bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Setiap tahunnya, penebangan hutan untuk pembukaan lahan peternakan berkontribusi emisi 2,4 miliar ton CO2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memelihara ternak membutuhkan energi listrik untuk lampu-lampu dan peralatan pendukung peternakan, mulai dari penghangat ruangan, mesin pemotong, mesin pendingin untuk penyimpanan daging. Mesin pendingin merupakan mata rantai paling tidak efisien energi listrik. Hitung saja mesin pendingin mulai dari rumah jagal, distributor, pengecer, rumah makan, pasar hingga sampai pada konsumen. Mata rantai inefisiensi berikutnya adalah alat transportasi untuk mengangkut ternak, makanan ternak, sampai dengan elemen pendukung lain dalam peternakan intensif seperti obat-obatan, hormon dan vitamin.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Mata rantai lain yang sangat tidak efisien tapi telah berlaku demikian kronis adalah pemanfaatan hasil pertanian untuk peternakan. Dua pertiga lahan pertanian di muka Bumi ini digunakan untuk peternakan. Sebagai contoh, Eropa mengimpor 70% protein (kedelai, jagung dan gandum) dari pertanian untuk peternakan. Indonesia sendiri pada tahun 2006 mengimpor jagung untuk pakan ternak 1,77 juta ton. Prediksi produksi pakan ternak naik dari 7,2 juta ton menjadi 7,7 juta ton, kata Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas-Paulus Setiabudi (Kompas, 8 November 2007). Sementara itu, menurut data Indonesian Nutrition Network (INN), setengah dari penduduk Indonesia mengalami kelaparan tersembunyi (16 Sept 2005), sebagaimana yang dikemukakan oleh Menteri Kesehatan DR. dr. Fadillah Supari, SPJP(K).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 30 April 2008 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak segenap bangsa ini untuk bersama saling membahu menghadapi krisis pangan dunia. Akar masalah kelangkaan pangan jika dicermati salah satunya adalah krisis manajemen lahan itu sendiri. Secara matematis, inefisiensi pemakaian lahan pertanian untuk pakan ternak tercermin dari perhitungan kalori yang “terbuang” untuk membesarkan ternak cukup. Pakan yang selama ini diberikan kepada ternak dapat memenuhi kebutuhan kalori 8,7 miliar orang! Berarti masih ada kelebihan kalori untuk 2,1 miliar orang. Sebenarnya tidaklah sulit untuk memahami mendesaknya perubahan pola makan ini, yakni perubahan ke pola makan yang mata rantainya pendek. Perut manusia bisa langsung mencerna kedelai, jagung dan gandum tanpa harus melalui perut ternak terlebih dahulu. Tidakkah beralih ke pola makan bebas daging justru dapat menjadi solusi ketimpangan akses pangan seluruh dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanian untuk pakan ternak itu sendiri merupakan penyumbang 9% CO2 (karbondioksida), 65% N2O (dinitrooksida) dan 37% CH4 (metana). Perlu diketahui efek rumah kaca N2O adalah 296 kali CO2, sedangkan CH4 adalah 25 kali CO2. Satu lagi masalah industri peternakan yang sangat krusial yakni, inefisiensi air. Sekian triliun galon air diperuntukkan untuk irigasinya saja. Sebagai gambaran sederhana, untuk mendapatkan satu kilogram daging sapi mulai dari pemeliharaan, pemberian pakan ternak, hingga penyembelihan seekor sapi  membutuhkan  satu juta liter air! Data yang dihimpun Lester R. Brown, Presiden Earth Policy Institute dan Worldwatch Institute, memaparkan dalam bukunya ”Plan B 3.0 Mobilizing to Save Civilization” (2008) bahwa karena untuk memproduksi satu ton biji-bijian membutuhkan seribu ton air, tidak heran bila 70% persediaan air di dunia digunakan untuk irigasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak emisi gas rumah kaca daging terukur jelas. Dr Rajendra memberi ilustrasi konversi energi untuk memelihara sampai menghasilkan sepotong daging sapi, domba atau babi sama besar dengan energi yang dibutuhkan untuk menyalakan lampu 100 watt selama 3 minggu. Satu kilogram daging menyumbang 36,4 kg CO2, tidak heran bila data dari film dokumenter ”Meat The Truth” menyebutkan emisi CO2 seekor sapi selama setahun sama dengan mengendarai kendaraan sejauh 70.000 km. Penelitian di Belanda  (www.partijvourdedie.en.el) mengungkapkan, seminggu sekali saja membebaskan piring makan dari daging masih 7,6 kali lebih cepat dibandingkan gerakan hemat energi skala rumah tangga dalam setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian paling gres yang dilakukan Prof. Gidon Eshel dan Pamela A. Martin (”Diet, Energy and Global Warming”) merunut kontribusi setiap potongan daging terhadap emisi karbon. Penelitian ini diakui secara ilmiah dan dipublikasikan dalam jurnal bergengsi para ilmuwan Earth Interaction Vol. 10 (Maret 2006).  Jumlah gas rumah kaca yang diemisikan oleh daging merah, ikan, unggas, susu dan telur jika dibandingkan dengan diet murni nabati/vegan,  ternyata jika satu orang dalam setahun mau mengganti diet hewani mereka ke diet nabati murni/vegan akan mencegah emisi CO2 sebesar 1,5 ton. Lima puluh persen lebih efektif daripada upaya mengganti mobil Toyota Camry ke mobil Toyota Prius &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hybrid&lt;/span&gt; sekalipun yang ternyata hanya mampu mencegah 1 ton emisi CO2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Objektivitas akan menuntun kita untuk mengakui pola konsumsi daging sebagai kontributor terbesar emisi gas rumah kaca. Pilihan kita tidak banyak, mengingat tenggat waktu yang demikian sempit. Mengutip tulisan Senator Queensland, Andrew Bartlett, bahwa seluruh dunia tidak mesti menjadi vegetarian atau vegan untuk menyelamatkan planet kita, tapi kita harus mengakui fakta-fakta ilmiah ini, bahwa jika kita tidak mengurangi konsumsi produk hewani, kesempatan kita untuk menghentikan perubahan iklim adalah nihil. Menurut Bartlett, tidak ada langkah yang lebih murah, lebih mudah dan lebih cepat untuk dilakukan yang dapat mengurangi kontribusi tiap individu terhadap emisi gas rumah kaca selain memangkas jumlah konsumsi daging dan produk susu dan olahannya.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Aksi untuk hemat bahan bakar kita masih banyak bergantung pada fasilitas umum. Upaya yang paling bisa kita lakukan adalah menggunakan kendaraan umum. Namun, sudah menjadi rahasia umum, tidak mudah untuk menggunakan kendaraan umum jika berhadapan dengan kepentingan keamanan, dan untuk ini kita masih bergantung pada kebijakan pemerintah. Aksi hemat energi dalam konteks yang paling ideal bergantung pada teknologi. Sumber energi paling ramah lingkungan yakni tenaga angin, air, dan matahari, masih jauh membutuhkan teknologi dan biaya yang tidak kecil. Butuh waktu yang panjang dan upaya ekstra untuk menggerakkan kesadaran massal untuk hemat energi, hemat listrik, hemat bahan bakar karena harus berhadapan dengan kebiasaan dan perilaku yang telah mengakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengubah pola makan juga berhadapan dengan kebiasaan yang telah mengakar. Namun, memegang sendok dan akhirnya menjatuhkan pilihan apa yang akan dimasukkan ke mulut kita, sepenuhnya berada di kendali kita. Langsung bisa dilakukan! Jarak antara piring dan mulut kita mungkin hanya sejarak panjang sendok, membalikkan isi sendoknya hanya butuh waktu sekedipan mata, tapi kendalinya ada pada mindset tiap kita. Sejenak, biarkan kepala dingin hadir. Mari dengan mata jernih melihat realitas, mengakui fakta betapa tekanan pola konsumsi daging sedemikian hebatnya pada daya dukung Bumi. Sejenak merasakan beban berat Bumi ini mungkin akan menggeser pilihan kita ke pola konsumsi tanpa daging, pola yang jauh lebih ramah Bumi.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PS 1.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penulis adalah Koordinator Indonesia Vegetarian Society Regional Yogyakarta - Jateng.&lt;br /&gt;PS 2. Ini sesuatu yang tidak biasanya saya lakukan, yakni memuat posting karya orang lain. Tapi, artikel Chindy ini menyimpan begitu banyak informasi yang terlalu penting untuk dilewatkan. Dan menurut saya bisa membantu kita semua untuk lebih bijak bersikap, sekaligus juga menerangkan banyak hal yang melatarbelakangi tulisan-tulisan saya di Dee-Idea selama ini. Hope you guys can enjoy this article as much as I do.&lt;br /&gt;PS 3. Gambar Bumi diambil dari spacetoday.org &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-1972198813517429188?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/1972198813517429188/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=1972198813517429188&amp;isPopup=true' title='38 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/1972198813517429188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/1972198813517429188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2008/05/bumi-kita-butuh-langkah-cepat-please-go.html' title='Bumi Kita Butuh Langkah Cepat, Please Go Veggie!'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SEdbMS7RgfI/AAAAAAAAAKI/Id-u9yTk69U/s72-c/EarthBlueMarbleWestTerra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>38</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-188633730431118535</id><published>2008-05-14T02:32:00.005+07:00</published><updated>2009-01-25T15:47:52.855+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On Life and Living'/><title type='text'>Satu Halaman - Satu Jam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);font-size:180%;" &gt;Satu Halaman – Satu Jam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf sebelumnya. Kali ini tulisan saya lebih bersifat pelepasan unek-unek. Curhat, barangkali istilah yang cukup pas. Dan untuk itu, saya akan menulis relatif singkat dan tanpa banyak mikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini (13/5), sambil menunggu siaran di Trax FM – Jakarta, saya membuka koran Kompas. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Headline&lt;/span&gt; halaman depan tentang BBM. Sisa isinya bervariasi. Seperti halnya koran-koran lain, lebih banyak kabar buruk ketimbang kabar baik. Entah karena memang kabar buruk lebih menjual, atau kita lebih senang berkubang dalam keburukan, atau memang kabar buruklah yang lebih banyak mengepung kehidupan kita. Pagi ini, saya punya niatan iseng ingin menghitung proporsi kabar buruk, kabar baik, dan kabar netral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niatan iseng itu berhenti seketika ketika saya menemukan artikel berjudul “Es di Arktik Akan Lenyap Tahun 2008” (maaf kalau tidak identik sama, berhubung korannya milik ruang tunggu radio jadi tidak saya bawa pulang, akibatnya penyebutan judul itu berdasarkan ingatan semata). Artikel tersebut dimuat di halaman berita Internasional. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sorry, but I have to say, it was poorly written.&lt;/span&gt; Apa yang ditulis di judul tidak diterangkan di dalam artikelnya. Dan isi artikel itu sendiri hanyalah potongan-potongan informasi tanpa ada satu tujuan atau pesan yang koheren. Yang juga membuat saya miris adalah, bagaimana berita itu—dari masalah penempatan, besarnya kolom, dan kualitas tulisan—seolah menunjukkan level urgensi yang diusung oleh media nasional dalam memberitakan masalah lingkungan global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi ini cuma pendapat saya seorang, tapi sungguh saya merasa media kita terlena dalam infomasi nggak penting yang dipikirnya penting, dan informasi penting yang diperlakukan tidak/kurang penting. &lt;span class="fullpost"&gt;Saya bahkan belum bicara soal televisi—media paling &lt;span style="font-style: italic;"&gt;powerful&lt;/span&gt; dengan penetrasi hingga bilik kita yang paling pribadi sekaligus media yang paling sesak oleh sampah dan kedunguan kronis yang dipelihara atas nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rating&lt;/span&gt; dan iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu lalu, saya diminta menjadi bintang tamu/narasumber oleh sebuah acara pagi salah satu teve swasta. Saya diminta untuk ngomong soal pembatasan kantong plastik, vegetarian sebagai gaya hidup ramah lingkungan, pengolahan kompos, dsb. Tentunya saya bersemangat. Saya membaca skrip dan mempersiapkan aneka jawaban untuk sederet pertanyaan tsb. Ketika kamera berjalan, yang terjadi adalah balap lari antara informasi, durasi, dan jeda iklan. Saya cuma punya lima menit untuk menjelaskan hal-hal yang seharusnya bisa diseminarkan satu minggu. Itu pun bercampur lagi dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gimmick&lt;/span&gt; soal jajanan khas Betawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya mengeluhkan waktu bicara yang terlalu singkat, semua orang di tim produksi menyambut dengan kor keluhan serupa. Iklannya saja bisa enam menit, kata mereka. Lebih panjang dari jatah saya bicara. Durasi singkat + materi padat + iklan banyak = informasi encer. Dan demikianlah formula kebanyakan program &lt;span style="font-style: italic;"&gt;talkshow&lt;/span&gt; teve kita, yang padahal secara konsep tampak menarik dan (berusaha) mencerdaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya termenung panjang sesudah penampilan supersingkat tadi. Bagaimana caranya kita bisa terjaga jika media nasional kita malah terus meninabobokan kita semua? Tidak berarti informasi yang tajam dan edukatif tidak bisa menghibur, tapi kalau kita hanya meluangkan sesuatu sekritis masalah lingkungan dalam satu segmen di sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;talkshow &lt;/span&gt;empat segmen plus dipepet kiri kanan oleh info kuliner dan tetek bengek lain, atau menempatkan berita cairnya Arktik dalam satu kolom kecil di surat kabar paling tebal se-Indonesia, tidakkah ini yang menggelikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat sampai lima jam teve kita bisa manteng menampilkan penyanyi-penyanyi didampingi ibunya atau seseorang yang dianggap belahan jiwanya, atau seleb-seleb yang kurang bisa nyanyi berlomba menjadi penyanyi top pilihan pemirsa. Saya tidak menafikan kenyataan kalau acara yang demikian menghibur, ditambah ungkapan-ungkapan standar semisal “hidup sudah susah, jangan bikin tambah susah”, “yang begitulah yang disukai rakyat”, dan seterusnya. Namun jika kita hanya terpaku di sana, maka kita lupa betapa tajam dan berkuasanya alat bernama media. Dan kita seperti anak kecil bermain dengan bom atom. Tidak sadar betapa dahsyatnya “mainan” di tangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita bisa berteriak "rakyat kita bodoh", "rakyat kita maunya dibohongi", "rakyat  memang senangnya acara yang nggak mutu", lalu terus menyuapi mereka dengan “makanan pikiran” yang tak bermutu (baca: nggak penting) hanya supaya mereka terpuaskan, lalu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rating&lt;/span&gt; naik, lalu iklan naik, lalu untung naik, dan terakhir kedua tangan kita naik ke atas sambil berkata “yah, itulah kenyataan media,”… menurut saya, itulah kebodohan yang paling ultimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sadar, ada banyak isu penting lain di luar sana. Ada banyak informasi edukatif yang bisa dibagi. Dan, sekali lagi, boleh jadi ini hanya pendapat saya seorang, tapi menurut saya, dalam periode ini tidak ada isu yang paling urgen selain penyelamatan Bumi. Bukan cuma sekadar gembar-gembor soal pemanasan global, melainkan bagaimana kita bisa menyajikan dan membantu transformasi kesadaran manusia untuk kembali bersahabat dengan lingkungan, meniti pulang ke jantung alam, dan terakhir, meniti pulang ke jantung jatidirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini saya berdoa, di tengah hiruk-pikuk informasi di media yang menggempur panca indra kita, akan ada satu acara yang dikhususkan untuk meningkatkan kesadaran tentang kondisi lingkungan. Dari mulai perbaikan relasi manusia dengan alam di level pemahaman sampai tips-tips praktis yang bisa dilakukan di setiap rumah. Akan ada saatnya bagi media cetak untuk sudi meluangkan satu halaman mereka khusus untuk menyiarkan hal-hal yang dapat membantu Bumi dan peradaban agar bisa hidup berdampingan secara harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu halaman. Satu jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berdoa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-188633730431118535?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/188633730431118535/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=188633730431118535&amp;isPopup=true' title='45 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/188633730431118535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/188633730431118535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2008/05/satu-halaman-satu-jam-mohon-maaf.html' title='Satu Halaman - Satu Jam'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><thr:total>45</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-3793974419816210333</id><published>2008-05-07T20:26:00.010+07:00</published><updated>2009-01-25T16:47:41.185+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nature-Green-EcoLiving'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Published Articles'/><title type='text'>Pertempuran Tiga Perut</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(102, 255, 153);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Pertempuran Tiga Perut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini, kita resmi memasuki krisis global baru. Krisis pangan dan energi. Meminjam istilah teman saya, Chindy, sekarang ini sedang terjadi persaingan antara tiga macam “perut”: perut manusia, perut ternak, dan perut mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita bahas dulu mengenai perut mobil. Selayak kodratnya sebagai energi yang tak bisa diperbarui, cadangan minyak dunia kian menipis. Belum lagi dengan tudingan konspirasi ekonomi di balik itu semua. Berbagai macam teori dilontarkan untuk menjelaskan kenaikan harga minyak. Situasi ini lantas memunculkan primadona baru, yakni biofuel. Permintaan dan popularitas biofuel meningkat drastis akibat kepanikan dunia akan menipisnya bahan bakar fosil. Biofuel pun dipandang sebagai substitusi yang lebih ramah lingkungan. Benarkah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pemenang Nobel, Paul. J. Crutzen, biofuel justru penyumbang besar pemanasan global, karena asas bekerja dan hasilnya sama-sama saja: pembakaran dan karbondioksida. Belum lagi dengan jumlah permintaan besar dan tuntutan waktu yang cepat, biofuel yang dibuat dengan bahan dasar jagung, kanola, tebu, atau sawit akan memaksa produsennya untuk menggunakan pupuk sintetis yang menyumbang nitro-oksida – salah satu gas rumah kaca yang berbahaya. Nitro-oksida punya efek insulasi 300 kali lipat dibandingkan karbondioksida. Menurut Krutzen, ditinjau dari emisi nitro-oksidanya saja, semua kebaikan biofuel bisa jadi nihil. Bahkan tekor. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demam biofuel tak pelak menyeret para petani seluruh dunia dalam arus hukum ekonomi: menjual kepada yang memberi untung lebih. Akibatnya, mereka berlomba-lomba menjual pada produsen biofuel hingga naiklah harga kedelai, sawit, dan jagung, dibarengi kelangkaan makanan pokok dan minyak goreng di pasar. Beberapa bulan lalu, pengusaha tempe-tahu kita menjerit. Ibu-ibu menjerit. Bukti bahwa perut manusia akhirnya tergusur. Kalah oleh perut mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian (IFAD) memperkirakan, kenaikan penderita kelaparan di dunia mencapai 16 juta orang dari setiap satu persen saja kenaikan harga bahan pangan pokok dunia. Dengan laju kenaikan sebesar itu, IFAD memperkirakan terdapat 1,2 miliar orang yang akan mengalami krisis pangan kronis di seluruh dunia pada tahun 2025.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada bulan April 2008, harga satu ton beras di pasar dunia sudah di atas 1.000 dolar AS atau naik sebesar 47 persen sejak Maret 2008. Di Amerika, penjualan beras kini sudah dibatasi. Di Asia, negara-negara eksportir beras mulai mengunci lumbung-lumbungnya. Takut rakyatnya kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan perut ternak? Saya teringat satu karikatur yang menggambarkan bagaimana hewan tergeli-geli melihat manusia. Sesama hewan tidak memakan spesiesnya, tapi manusia sibuk memberi makan hewan sampai lupa memberi makan spesiesnya sendiri. Di atas puncak piramida makanan, tak ada lagi predator yang menghabisi kita. Hanya kitalah yang bisa membunuh saudara-saudara kita sendiri. Tak melulu dengan peluru atau belati, kita mengosongkan lambung miliaran manusia karena sibuk mengisi lambung hewan ternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia saat ini jumlah seluruh hewan ternak berkaki empat mencapai angka enam miliar. Beda tipis dengan populasi manusia yang sudah mencapai 6,5 miliar jiwa. Enam miliar ternak itu tidak dicapai semata-mata oleh alam, manusialah yang secara sengaja mewujudkannya atas nama pemenuhan kebutuhan hidup. Namun, kenyataannya 40.000 manusia mati setiap hari karena kelaparan. Padahal hasil pertanian yang digunakan untuk pakan ternak di negara Amerika saja bisa memberi makan 1,3 miliar manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kita mulai merasakan efek perang ketiga perut tersebut. Presiden belum lama ini akhirnya mengeluarkan inpres untuk penghematan energi. Petani-petani mulai mengaktifkan sistem lumbung untuk menjaga stok beras. Dan negara-negara Asia, produsen beras dunia, berkumpul untuk berhitung dan berstrategi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah seliweran analisa dan solusi atas situasi tersebut, saya merasa bahwa pertempuran tiga perut ini juga terjadi di level terkecil dan terprivat: rumah kita sendiri. Antara perut manusia, perut kendaraan, dan perut ternak, ketiganya melangsungkan dinamika di daftar prioritas kita, di daftar belanjaan, dalam pilihan-pilihan yang kita buat sehari-hari. Dari tiga perut tadi, mana yang ingin kita dahulukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara instan dan refleks, seharusnya sangat mudah bagi kita untuk menjawab. Namun kenyataannya tak semudah itu. Kita telah dijerat gaya hidup, kebiasaan, misinformasi, hingga meski itikad kita adalah membela perut manusia, pilihan-pilihan kita tak selalu konsisten dengan itu. Tanpa kita sadari dan ingini, seringkali kita “membunuhi” saudara-saudara kita. Bahkan diri kita sendiri. Contoh singkatnya, untuk memproduksi satu kilo daging sapi dibutuhkan enam belas kilo tanaman biji-bijian yang merupakan makanan pokok manusia. Jadi, bisa dibilang, saat kita mengonsumsi satu kilo daging, kita telah mengambil jatah enam belas porsi makan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips-tips berikut ini sederhana dan barangkali sudah sering kita dengar. Namun, tanpa niat yang kuat, belum tentu mudah untuk dilaksanakan. Apalagi kalau gaya hidup dan pandangan kita dibelit berbagai jeratan yang saya sebutkan tadi. Tapi, bisakah kita mencoba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susunlah rute kepergian Anda per hari sebaik mungkin supaya penggunaan BBM kita efektif. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Go in a bundle, as best as we can.&lt;/span&gt; Sekarang ini, saya memilih pergi dengan travel untuk setiap trip saya ke Jakarta, ketimbang berkendara sendiri dalam mobil pribadi. Cek setiap lampu, alat elektronik, dan titik-titik listrik. Pergunakan secermat dan sebijak mungkin. Matikan yang tak perlu. Pilih perangkat yang paling hemat energi. Jika Anda punya lebih dari satu mobil, gunakan yang paling hemat bensin lebih sering. Beli produk lokal sebisa mungkin, dari mulai makanan hingga barang, karena ini berarti kita menghemat energi yang dipakai untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shipping&lt;/span&gt; dan perjalanan benda-benda itu. Bagi yang ingin mengulik lebih serius dan detail aneka tips penghematan energi, bisa kunjungi &lt;a href="http://wwfgroup.multiply.com/journal/item/7/LEMBAR_FAKTA_-_Tips_hemat_listrik_gaya_hidup_hijau"&gt;tips hemat dari WWF&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berikut adalah tips yang tak terlalu populer, barangkali karena melibatkan kepentingan industri besar dan faktor pembiasaan yang sangat kuat, tapi saya belum jera menyuarakan: bervegetarianlah sesering mungkin. Bisa dimulai dengan pola “vegetarian weekend” alias 5:2 per minggunya, berangsur menjadi 3:3, berangsur lagi menjadi “omnivarian weekend” &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(or “carnivorian weekend” for some people)&lt;/span&gt; alias 2:5, hingga 1:6. Atau, bagi yang sanggup dan mau, bisa langsung total menjadi vegetarian setiap harinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ilustrasi jika kita mau &lt;a href="http://www.wannaveg.com/"&gt;bervegetarian satu hari saja dalam satu minggu&lt;/a&gt;. Dalam satu tahun kita telah membantu Bumi berhemat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• 317.520 liter air&lt;br /&gt;• 111 kilogram tanaman biji-bijian&lt;br /&gt;• 693 m2 lahan&lt;br /&gt;• 58 liter bensin&lt;br /&gt;• 183 kg kotoran ternak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertempuran ini, di manakah kita berdiri? Bagaimana kita menata ketiga bidak tersebut dalam peta percaturan krisis global ini? Mari, pelan-pelan, amati daftar belanja, daftar kegiatan, rute perjalanan, isi meja makan, penunjuk bensin, setiap tombol on/off… barangkali di sana kita, manusia peradaban modern, bisa mengibarkan bendera perdamaian. Antara manusia dan Bumi. Untuk pertama kali.&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;* Tulisan ini diterbitkan di Harian Pikiran Rakyat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SEdWtpEv2kI/AAAAAAAAAJw/jAw60yLh22I/s1600-h/thumb_define_necessity.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SEdWtpEv2kI/AAAAAAAAAJw/jAw60yLh22I/s400/thumb_define_necessity.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208226836197136962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-3793974419816210333?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/3793974419816210333/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=3793974419816210333&amp;isPopup=true' title='29 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/3793974419816210333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/3793974419816210333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2008/05/pertempuran-tiga-perut-belum-lama-ini.html' title='Pertempuran Tiga Perut'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SEdWtpEv2kI/AAAAAAAAAJw/jAw60yLh22I/s72-c/thumb_define_necessity.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>29</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-7119367454349524592</id><published>2008-05-06T10:04:00.007+07:00</published><updated>2009-01-25T15:53:11.938+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nature-Green-EcoLiving'/><title type='text'>Tarian Paradoks di Pentas Bumi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);font-size:180%;" &gt;Tarian Paradoks di Pentas Bumi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu, saya membaca beberapa berita sekaligus, yang entah bagaimana persisnya, menciptakan kombinasi unik yang paradoksikal dalam benak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama-sama di bulan April, diperingati Hari Kesehatan Dunia dan Hari Bumi. Di berbagai belahan dunia, ramai-ramai orang-orang memperingati kedua hari itu dengan beraneka macam cara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta, diselenggarakan Green Fest yang merupakan hajatan edukasi seputar pemanasan global, hasil kolaborasi berbagai perusahaan besar semisal Unilever, Kompas, dsb. Bodyshop dan karyawan-karyawannya menanam seribu pohon. Yayasan Jantung Indonesia (YJI) bahkan mengolaborasikan kedua peringatan tersebut. Bersama Gubernur DKI dan seribu orang lainnya, mereka senam sekaligus menanam pohon di lingkungan Monas. Tema acara ini adalah gerakan hidup sehat untuk menghadapi pemanasan global. Apa hubungannya? Ternyata perubahan iklim dan gelombang panas sebagai efek sampingnya telah meningkatkan penyakit kardiovaskular dan gangguan pernapasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan yang sama, di belahan dunia lain dipecahkanlah sebuah rekor Guiness. Di Montevidio – Uruguay, diselenggarakan World’s Biggest Barbecue. Sekurangnya 1,250 orang dan berton-ton arang dikerahkan untuk membakar 12 ton daging sapi. Bersama-sama dengan Argentina dan Brazil, Uruguay adalah salah satu importir daging sapi terbesar dan pemilik industri peternakan yang gigantis. Dan pesan yang ingin disampaikan pada upaya pemecahan rekor tersebut adalah: meski Uruguay hanya negara kecil, mereka memiliki daging sapi terbaik di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya terbaik, Uruguay juga memiliki angka ternak per kapita tertinggi di dunia. Di Uruguay saja, ada 12 juta sapi diternakkan, dan setiap tahunnya 2,5 juta sapi baru yang lahir. Tak tanggung-tanggung, negara ini mendedikasikan 82% lahannya untuk industri peternakan. Sementara rekor eksportir tertinggi masih dipegang Brazil. Bayangkan, seperempat daging sapi yang beredar di pasaran dunia berasal dari satu negara itu tok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di balik potret kesuksesan negara-negara Amerika Selatan tersebut, menguak juga sebuah potret mengenaskan. &lt;span class="fullpost"&gt;Berada di sabuk Amazon, hutan yang begitu kaya, deforestation gila-gilaan menjadi harga yang harus dibayar demi menggemukkan industri peternakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin saya tidak sendirian. Saya yakin kita semua bisa memahami, atau setidaknya merasakan, mata rantai sebab-akibat yang tergambarkan dalam berbagai situasi paradoksikal di atas. Ketika kedua ujung mata rantai bersatu, seperti ular yang melingkar dan akhirnya menelan mulutnya sendiri, kita tiba di lingkaran setan. Tak ada lagi ujung. Tak ada pangkal. Semua yang kita pikir jalan keluar malah mentok dan saling memakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lantas teringat ilustrasi terkenal buatan M.C. Escher berjudul “Drawing Hands”. Dalam gambar ini, bisakah kita memutuskan: tangan mana yang menggambar mana? Kiri duluan atau kanan duluan? Pikiran kita, yang juga instrumen dualitas, akan terjebak dalam permainan logika tiada henti jika dihadapkan pada gambar semacam ini. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tangled hierarchy,&lt;/span&gt; adalah istilah yang kerap digunakan untuk menamai fenomena jalinan hierarkis nonlinear. Jalan keluarnya adalah dengan lompatan kuantum. Keluar dari jebakan logika. Mentransendensi dualitas dan melihat keduanya secara holistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SB_LRsIiOxI/AAAAAAAAAJI/WgHc8L_CW3Y/s1600-h/DrawingHands.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SB_LRsIiOxI/AAAAAAAAAJI/WgHc8L_CW3Y/s400/DrawingHands.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197095999774014226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Izinkan saya mengangkat satu pertanyaan dari Cy yang mampir ke blog ini: Kenapa kita tidak menghentikan saja segala kampanye global warming ini, karena bila mengacu pada Law Of Attraction atau buku “The Secret”-nya Rhonda Byrne, apa yang kita tidak inginkan jangan dikoar-koarkan, karena justru malah membawa kita ke realitas yang kita hindari, alias: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;what you resist, persists?&lt;/span&gt; Selain itu Cy menekankan lebih pentingnya persiapan menghadapi kematian. Yang dimaksud di sini adalah kematian spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita berhasil keluar dari perangkap dualitas pikiran, segalanya memang menjadi tiada. Tak ada lagi sebab akibat. Tiada kamu. Tiada saya. Tiada benar. Tiada salah. Tiada hitam. Tiada putih. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;There are no dancers, only the dance,&lt;/span&gt; kata guru saya. Tak ada pelaku. Dewi Lestari tidak pernah berbuat apa-apa. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;There is no doer. &lt;/span&gt;Saya dan Anda hanyalah topeng-topeng yang ‘dipinjamkan’ supaya semesta ini menari. Yang sejati adalah tariannya. Kita semua fana. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Global warming&lt;/span&gt; barangkali hanya drama. Gerakan untuk melawannya pun juga drama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, ketika kita berhasil sampai pada pemahaman itu, adakah itu berarti kita diam, tidak bertindak, tidak bersikap (baca: memihak)? Silakan dicoba. Saat Anda memutuskan untuk diam, diam itu jugalah drama. Satu drama di tengah lautan drama tak terhingga. Semua artikel saya hanya drama. Menanam pohon atau menebangi hutan pada esensinya pun cuma drama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Buddha, setelah puncak pencerahannya, konon berkata: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;There’s nothing to change.&lt;/span&gt; Tidak ada yang perlu diubah dari hidup ini. Beliau bahkan sempat menolak untuk mengajar. Namun, akhirnya, Sang Buddha memutuskan untuk menjadi guru. Mengajarkan dharma pada banyak orang hingga akhir hidupnya. Sang Buddha mengambil perannya sebagai seorang guru dan menjalankannya dengan sadar dan tekun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya interpretasi pribadi atas kisah itu. Ketika Buddha mengatakan bahwa tidak ada yang perlu diubah, bukan berarti perubahan tak ada. Yang tidak ada adalah ‘aku’ sebagai pelaku. Namun selama kesadaran kita masih melekat pada jasad, tak satu pun dari kita luput dari peran-peran yang perlu kita jalankan. Bertapa sampai mati adalah peran. Jadi perusak hutan juga peran. Yang membedakan hanyalah tingkat kesadaran dalam menjalankan peran-peran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia boleh berbangga dalam ilusinya sebagai Sang Penguasa. Berada di ujung spektrum evolusi, manusia disebut sebagai makhluk autopoietik karena sistem inteligensinya yang sangat kompleks dan canggih. Namun makhluk autopoietik ini adalah biangnya paradoks. Dalam sosoknya yang serba canggih, sistem makhluk autopoietik sangat rentan dan interdependen pada lingkungannya. Hanya masalah kita menyadari atau tidak. Dalam pikiran kita, boleh jadi kita berilusi ini itu. Kenyataannya, semakin modern dan canggih kita berevolusi, semakin rentan dan rapuh tumpuan peradaban ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua berada di tengah dinamika agung ini. Tanpa kecuali, segalanya terikat dengan sifat dualitas. Yin dan Yang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Chaos&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;order.&lt;/span&gt; Dunia kita yang unik dan paradoksikal ini secara konstan bertumpu pada benang tipis rapuh bernama ekuilibrium. Tak lama lagi, titik bifurkasi baru bagi peradaban manusia akan tiba. Ke mana kita akan mendarat? Tidak ada yang tahu pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan ini semua, kita punya peran-peran untuk dimainkan. Saya memilih peran menjadi penulis. Dan saya hanya menulis apa yang saya suka. Dalam Bumi yang kian memanas, saya memilih peran sebagai berikut: saya berbuat apa yang menurut saya pas dengan kata hati saya. Dan saya menyuarakannya sebisa saya. Saya berbagi apa yang bisa saya lihat dan racik melalui filter pemahaman saya. Demikian juga dengan Anda semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala upaya kita tak pernah lepas dari paradoks. Saat seseorang mengambil posisi ‘berhenti menyuarakan isu global warming’, ia pun menjadi resistor bagi upaya saya dan semua orang lain yang memilih bersuara. Dan hukum “what you resist, persists” kembali berlaku baginya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;It’s a zero sum game no matter how we want to play it,&lt;/span&gt; sahabat saya berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah pentingnya kesadaran, keelingan. Lakon apa pun yang kita pilih, lakukan dengan sepenuh-penuhnya hati. Jalankan dengan kesadaran sebisa-bisanya. Pada akhirnya, semua topeng ini lenyap, terdaur ulang oleh kehidupan. Cepat atau lambat. Lewat usia tua atau lewat kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kenakan topeng ini, cangkang ini, selagi hidup masih mengizinkan. Dan akan saya tarikan tarian di pentas paradoks ini segemulai mungkin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-7119367454349524592?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/7119367454349524592/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=7119367454349524592&amp;isPopup=true' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/7119367454349524592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/7119367454349524592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2008/05/tarian-paradoks-di-pentas-bumi-beberapa.html' title='Tarian Paradoks di Pentas Bumi'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SB_LRsIiOxI/AAAAAAAAAJI/WgHc8L_CW3Y/s72-c/DrawingHands.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-4165976260267396788</id><published>2008-04-28T10:13:00.009+07:00</published><updated>2009-01-25T16:45:35.208+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nature-Green-EcoLiving'/><title type='text'>Pesan Dalam Jawaban</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);font-size:180%;" &gt;Pesan Dalam Jawaban&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya apa yang saya tulis di sini hanyalah jawaban dari beberapa pertanyaan yang mampir ke posting “Diam di Bumi”. Namun, bagi saya, pertanyaan tersebut cukup penting untuk diulas dalam sebuah posting terpisah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;So, here it is…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pertanyaan dari Roi: adakah gunanya menunda? Jika dianalogikan ke dokter gigi, pilih dokter gigi yang bekeja cepat? Atau lambat? Ia bertanya. Karena barangkali sakitnya sama. Bagi saya, pemikiran tersebut merupakan sebuah ‘jebakan klasik’, persis dengan contoh logika perokok yang saya tulis dalam posting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;In a way,&lt;/span&gt; saya selalu merasa beresonansi kuat dengan pepatah setengah serius setengah bercanda yang berkata: "Man plans, God laughs". Manusia boleh berencana, Tuhan tertawa. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;But the same divine power had supplied us with survival instinct and also awareness to evolve. So what do we do?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti penyelidikan dan pengamatan Graham Hancock dalam bukunya, saya pun tak luput ikut berpikir: hadirnya monumen misterius seperti Sphinx dan Macchu Picchu, akankah kita mengabaikannya begitu saja? Sudikah kita untuk berkontemplasi sejenak dan merasakan pesan yang dibawanya? &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah peradaban manusia yang sangat maju diindikasikan pernah hadir di muka Bumi, lantas menghilang nyaris tanpa bekas, tanpa warisan, tanpa sejarah, tanpa catatan. Manusia lalu bergulat dalam amnesia panjang, merangkak kembali dari masa primitif. Kehilangan hubungan dengan sejarahnya sendiri. Akankah kita mengulang hal yang sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa, di sanalah barangkali gunanya "penundaan". Karena dalam usaha tersebut, kita berbuat jauh lebih dari sekadar menunda, tapi kita semua berusaha eling, sadar, menyadari apa yang kita telah perbuat dan apa yang kita bisa lakukan bagi Bumi. Bagi saya, itulah makna evolusi. Itulah maknanya menjadi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, merespons komentar Daus, saya sepakat bahwa setiap orang punya cara masing-masing untuk menyelamatkan Bumi, dan sebaiknya kita bergerak bersama, dari berbagai lini. Namun upaya "garis keras" jika tidak disokong oleh perubahan fundamental dari masing-masing individu, menurut saya, akan superfisial dan bagaikan percik kembang api. Menyala tapi tak 'panas'. Meriah tapi tak 'berisi'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak aktivis yang saya amati, mereka berteriak-teriak untuk konservasi lingkungan dan pengubahan kebijakan, tapi dalam hidup keseharian, mereka tidak memilah sampah, tidak mengurangi plastik, tidak mengurangi konsumsi daging, tidak berhemat, dsb. Tenggelam dalam payung besar bahwa negara majulah yang patut dipersalahkan. Penghematan adalah jatah mereka, bukan jatahnya negara berkembang atau negara miskin. Namun tidakkah ini jebakan klasik berikutnya? Kembali  kita melepaskan kekuatan perubahan dari tangan kita sendiri dan kembali menunjuk pihak lain untuk berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memikirkan emisi Amerika, Jepang, Cina, India, dan aneka negara industri lainnya… memikirkan pemerintah kita yang seolah tak berdaya menghadapi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;illegal logging,&lt;/span&gt; pembakaran hutan, perusakan lingkungan… bukanlah hal yang tak berguna. Namun jika kita hanya berhenti sampai di sana, dan tak mengubah diri kita sendiri, maka sampai kapan pun kita seperti kawanan tikus putih yang sibuk berlari dalam roda. Sibuk, tapi tak ke mana-mana. Perubahan yang paling nyata adalah perubahan yang bisa kita lakukan pada diri kita sendiri. Suarakanlah perubahan, tapi jangan lupa bersuara untuk diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rajendra K. Pachauri dan IPCC telah melansir tiga poin penting untuk mengurangi pemanasan Bumi: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stop eating meat. Be a frugal shopper. Ride a bicycle.&lt;/span&gt; Tiga hal yang tampak sederhana. Namun jika kita melakukannya, individu demi individu, maka segala kebijakan dan roda industri akan beradaptasi dan mengikuti. Inilah yang kerap kita lupakan. Kita berperang melawan organisasi besar dan pemerintah, tapi seringkali kita lupa bahwa jika organisasi dan institusi besar itu dilucuti, yang ada hanyalah individu-individu. Sama dengan Anda dan saya. Sama-sama bernapas. Sama-sama makan. Sama-sama bagian tak terpisahkan dari Bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pesan utama dari blog ini sejak hari pertama peluncurannya. Sungguh. Hanya itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-4165976260267396788?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/4165976260267396788/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=4165976260267396788&amp;isPopup=true' title='18 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/4165976260267396788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/4165976260267396788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2008/04/pesan-dalam-jawaban-sesungguhnya-apa.html' title='Pesan Dalam Jawaban'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><thr:total>18</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-3315923070875574715</id><published>2008-04-24T08:56:00.007+07:00</published><updated>2009-01-25T16:46:58.836+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nature-Green-EcoLiving'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Published Articles'/><title type='text'>Diam di Bumi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(102, 255, 153);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);font-size:180%;" &gt;Diam Di Bumi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan saya ke Jogjakarta minggu lalu dalam rangka menjadi pembicara dalam tiga talkshow bertemakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;global warming&lt;/span&gt;, saya menemukan sesuatu yang menarik di pesawat. Dalam majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;inflight&lt;/span&gt; Garuda bulan April 2008, perhatian saya tertumbuk pada satu artikel yang ditulis oleh teman saya, seorang penulis kuliner bernama Janet deNeefe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rubrik tetap yang mengisahkan kesehariannya di Bali itu, kali ini Janet menceritakan tentang Hari Raya Nyepi. Entah bagaimana, beberapa poin dalam artikel itu membuat saya teringat sebuah buku berjudul “The Coming Global Superstorm” karya Art Bell dan Whitley Strieber (yang kemudian diangkat menjadi film dengan judul “The Day After Tomorrow”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan bercerita dulu tentang konteks dari rangkaian “train of thought” ini. Hampir semua fakta sains mengungkap bahwa zaman es telah dialami Bumi kita berulang kali. Bagaikan sebuah siklus, Bumi kita memasuki periode dingin dan periode panas secara bergantian. Salah satu buku menarik lain yang pernah saya baca, “The Fingerprints of the Gods”, bahkan mendeteksi adanya peradaban modern—yang diduga bahkan lebih maju dan canggih ketimbang kita—pernah hidup di muka Bumi dan meninggalkan banyak “monumen” misterius, antara lain Sphinx di Mesir dan Poompuhar di bawah laut India. Lalu ke mana perginya peradaban itu? &lt;span class="fullpost"&gt;Jika mereka luar biasa canggih, bagaimana mungkin peradaban mereka hilang nyaris tanpa bekas? Spekulasi yang paling masuk akal adalah: zaman es—sebuah hasil akhir dari bencana mahadahsyat yang menghapus hampir seluruh kehidupan di Bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman es terakhir diperkirakan terjadi 10.000 tahun yang lalu. Setelah itu, Bumi perlahan-lahan kembali memasuki “periode panas”. Bagi Anda yang sudah pernah melihat presentasi Al Gore, tentu tahu bahwa Bumi kita hari ini telah memecahkan rekor sebagai Bumi terpanas sepanjang sejarahnya. Jadi, bisa dibilang, Bumi kita kini bukan lagi “panas”, melainkan “PUANAS”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuturan yang unik, buku “The Coming Global Superstorm” memaparkan bahwa fenomena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;superstorm&lt;/span&gt; terjadi karena salinitas (kadar keasinan) air laut yang terus menurun akibat gelontoran air tawar yang berasal dari cairnya es kutub. Salinitas air laut sesungguhnya berperan esensial dalam regulasi arus laut dunia. Kombinasi kompleks antara air asin dan air tawarlah yang menciptakan arus Atlantik Utara atau North Atlantic Current (NAC). Ketika es di Kutub Utara mencair, maka jumlah air tawar yang tak terperi banyaknya itu akan mengganggu keseimbangan kombinasi air asin dan air tawar di perairan laut dunia. Dan ketika NAC berhenti mengarus karena rendahnya salinitas air laut, maka udara beku dari Arktik terloloskan dan bertubrukan dengan udara hangat dari Selatan. Tubrukan inilah yang akan mengakibatkan sebuah badai mahadahsyat, dan berakhir dengan zaman es baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat satu artikel yang saya tulis awal-awal di blog ini, judulnya “Kiamat Sudah Dekat”. Tahun 2006, saya mengirimkan artikel tersebut ke Kompas dan Tempo. Artikel itu ditolak untuk dimuat. Pada artikel itu saya menuliskan perlunya tindakan global yang penuh kesadaran dengan urgensi seolah-olah hari kiamat memang akan tiba. Terlepas dari aneka mitos yang membungkus konsep kiamat itu sendiri. Intinya: mari bertindak. Segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun kemudian, tepatnya bulan Februari 2008 ini, dunia dikejutkan oleh runtuhnya bongkahan es Wilkins di Arktik seluas sepertiga kota Jakarta. Dan es sebesar ini tidaklah patah, melainkan hancur berkeping-keping, mengindikasikan adanya deposit gas metana yang ikut meledak keluar. Ini memunculkan skenario yang lebih fatal lagi, karena dengan demikian meluruhnya es di Arktik dapat disertai ledakan mahadestruktif. Terlepasnya gas metana dalam jumlah besar ini akan memanggang Bumi dan ikut mempercepat cairnya es di Kutub Selatan. Demikianlah serangkaian mata rantai kehancuran yang saling kait-mengait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringnya berbicara di forum-forum &lt;span style="font-style: italic;"&gt;global warming&lt;/span&gt; membuat saya akrab dengan fakta-fakta terbaru ini. Dan tetap saja, setiap kali saya masih saja kaget dengan perubahan wajah Bumi yang begitu cepat. Ketua IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), Rajendra K. Pachauri, mengatakan bahwa dua atau tiga tahun ke depan ini menjadi penentu masa depan Bumi yang paling kritis. Jay Zwally, ilmuwan iklim dari NASA memperkirakan es di Arktik akan habis pada musim panas tahun 2012. Waktu kita sungguh tak banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tentunya memancing pemikiran lain: jika memang Bumi ditakdirkan untuk bersiklus, dan zaman es merupakan harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi, jadi untuk apa bertindak? Persis seperti argumentasi favorit para perokok: nggak merokok pasti mati, merokok juga mati, jadi buat apa berhenti merokok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi sepakat bahwa Bumi pasti memiliki mekanisme alamiah sendiri untuk menjaga keseimbangannya. Manusia boleh saja merasa berkuasa atasnya, tapi Bumi akan bergerak ke arah yang memang harus ditujunya, terserah kita berkata dan bertindak apa. Namun itu tidak berarti relasi Bumi dan manusia merupakan relasi yang terpisah. Barangkali kita tidak bisa mencegah, tapi kita bisa menunda. Dan demikianlah pendekatan paling realistis yang disepakati para ilmuwan sekarang ini, sebagaimana tanda bahaya bencana alam seperti tsunami atau puting beliung yang diperjuangkan agar bisa mendeteksi bencana lebih awal. Kalaupun bencana itu tidak bisa dicegah, tapi dengan tanda bahaya yang lebih awal, maka tenggat waktu pun lebih panjang untuk kita menyelamatkan diri. Jika umat manusia bisa memberi cadangan napas satu-dua pada Bumi, barangkali kita pun punya cadangan waktu untuk lebih bersiap dan menyelamatkan peradaban ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke buku Art Bell dan Whitley Strieber, ada sebuah skenario yang ditawarkan di sana. Pilihan terakhir umat manusia untuk sama-sama menahan eskalasi temperatur dunia yang terus meroket. Caranya? Sebuah tindakan dramatis dan serempak dalam skala dunia, yakni menghentikan segala aktivitas pembakaran karbon di muka Bumi selama beberapa hari. Yang artinya, berhenti berlistrik, berhenti berkendara, berhenti berasap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya… diam. Ya. Diam. Pernahkah kita membayangkan, bahwa untuk menyelamatkan Bumi, yang perlu kita perbuat adalah… "tidak berbuat apa-apa"? Sekilas, konsep itu terdengar sangat radikal, bahkan mungkin irasional. Namun sebuah pulau di Indonesia bernama Bali, yang mahsyur sebagai tempat bermukimnya para dewa, telah menjalankan konsep hari "tak berbuat apa-apa" secara rutin, selama ratusan bahkan ribuan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Raya Nyepi merupakan prosesi menyambut tahun baru yang sungguh tidak biasa jika disandingkan dengan cara sebagian besar umat manusia di zaman modern ini merayakan tahun barunya. Satu pulau dengan serempak tenggelam dalam keheningan dan kontemplasi. Hidup sehari tanpa menyalakan lampu, tanpa suara, tanpa keluar ke mana-mana. Secara tradisi, keheningan dan gulita ini dimaksudkan agar segala bentuk kekuatan jahat terkecoh, mengira Pulau Bali telah ditinggalkan oleh penghuninya, sehingga mereka pergi ke tempat lain yang lebih bising (Pulau Jawa barangkali?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika alasan tradisi ini dilepaskan, menghentikan kesibukan satu pulau untuk satu hari saja adalah tindakan yang sangat-sangat berani. Terutama dalam kehidupan modern kita yang begitu tergantung pada kebisingan dan gebyar cahaya. Bisakah kita membayangkan satu hari berbisik-bisik, tak keluar rumah, tak bekerja, tak berkendara, membiarkan malam bergulir tanpa menyambutnya dengan terang lampu? Nyepi juga menjadi momen keluarga. Dalam gelap mereka berkumpul, dengan bisik saling mengobrol dan bercerita. Bayangkan jika ini terjadi dalam skala satu pulau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sungguh tergoda membayangkan hari semacam Nyepi terjadi dalam skala satu negara, bahkan satu Bumi. Dan poin yang perlu digarisbawahi adalah, gulita dan hening itu bukan dilakukan karena terpaksa, karena bencana, melainkan dengan sadar dalam rangka mencegah sebuah bencana. Apakah mungkin? Pulau Bali telah menjadi laboratorium nyata yang membuktikan bahwa itu mungkin. Pada saat saya menuliskan artikel ini dan melakukan beberapa riset, saya menemukan bahwa ide tersebut ternyata sudah diusulkan dalam konferensi Climate Change di Bali akhir tahun lalu, disuarakan oleh seorang aktivis bernama Hira Jhamtani dengan judul “World Silent Day”. Lebih lanjut, Hira mengatakan bahwa dengan satu hari Nyepi, Pulau Bali menghentikan emisi sekurangnya 20,000 ton CO2. Kontribusi yang cukup besar. Namun, masihkah hal tersebut dipandang sebagai kontribusi dari sudut pandang umum?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, jika ada saja satu pabrik yang buruhnya mogok kerja sehari, langsung keluar sekian angka kerugian puluhan hingga ratusan juta. Satu hari tanpa menggulirkan roda ekonomi berarti padamnya argo profit, sesuatu yang begitu ditakutkan oleh kebanyakan umat manusia. Akan tetapi, jika pada saatnya nanti, masih adakah arti julangan monumen ekonomi kita bila Bumi tak lagi sanggup menyokongnya? Akankah gedung tinggi dan mall besar kita akan berakhir seperti Tiahuanaco di Bolivia, Nazca di Peru, atau kompleks piramida di Giza? Tak lebih dari sekadar petunjuk teka-teki yang akan menghantui peradaban berikut, saat mereka menemukan monumen-monumen tersebut dalam timbunan pasir, lapisan es, atau di bawah laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Sunda, ‘bumi’ berarti rumah. Jadi, ‘diam di bumi’ sama dengan diam di rumah. Entah kapan proposal “World Silent Day” bergerak dari fase embrio menuju tindakan matang dan nyata. Yang jelas, saya mendukungnya. Membayangkan malam yang khidmat dan luar biasa tenang, pagi hari yang luar biasa segar, dan yang lebih penting lagi, bagaimana manusia satu Bumi akhirnya dipersatukan, bergerak dengan satu semangat untuk menyelamatkan rumahnya. Menolong Bumi dengan diam di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bumi&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belum pernah mencicipi Hari Raya Nyepi, meski beberapa kali tergoda ingin tahu. Dalam artikelnya, Janet mengatakan bahwa malam Nyepi merupakan malam paling tenang dengan langit paling jernih, dan keesokan hari sesudah Nyepi adalah hari tersegar karena udara yang begitu bersih. Mudah-mudahan, tahun depan saya berkesempatan untuk mencoba. Bergabung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;* Tulisan ini diterbitkan di Harian Pikiran Rakyat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-3315923070875574715?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/3315923070875574715/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=3315923070875574715&amp;isPopup=true' title='22 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/3315923070875574715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/3315923070875574715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2008/04/diam-di-bumi-dalam-perjalanan-saya-ke.html' title='Diam di Bumi'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><thr:total>22</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-4631719223444634409</id><published>2008-01-01T19:35:00.003+07:00</published><updated>2009-01-25T15:50:54.316+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keenan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On Life and Living'/><title type='text'>2008 di Pinggir Selokan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(153, 255, 153);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;2008 di Pinggir Selokan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi menjelang siang tadi, anak laki-laki saya, Keenan, tiba-tiba menarik tangan saya dan menggiring saya menuju sendal capit yang terparkir di teras depan. Saya sudah hafal aktivitas yang dia maksud, sekaligus rute perjalanan yang menanti kami. Inilah acara jalan kaki yang kerap ia tagih, yakni satu kali putaran ke jalan belakang di mana tidak ada rumah di sana, hanya tanah kosong berilalang tinggi. Jalan itu menurun dan curam, berbatu-batu besar dan banyak dahan berduri di pinggir kiri-kanan. Terakhir kami berjalan ke sana, kaki Keenan sempat luka karena tersobek duri, tapi entah mengapa ia selalu memilih jalur yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak sebelum kami berjalan kaki, saya sudah mengamati pagi pertama tahun 2008 ini. Langit yang berawan, angin yang bertiup kencang, dan meski matahari bersinar cukup terang dan terlihat angkasa biru di balik timbunan awan, saya tak bisa mengatakan bahwa ini pagi yang cerah. Masih terasa jejak mendung peninggalan hujan semalam. Kendati demikian, pagi ini pun tak bisa disebut pagi yang mendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berjalan, saya merenungi kesan-kesan saya mengenai pergantian tahun kali ini. Ada keinginan kuat untuk menuliskan sesuatu, semacam refleksi dan sejenisnya. Tapi saya tak tahu harus memulai dari mana, harus menulis apa. Yang ada hanyalah keinginan menulis, tapi tanpa konten. Sejujurnya, alam pagi hari ini cukup mewakili apa yang saya rasakan. Saya melewati pergantian tahun ini dengan ‘abu-abu’. Tak melulu berspiritkan optimisme dan positivitas, tak juga melulu pesimistis dan negativitas. Semuanya hadir bersamaan dengan kadar yang kurang lebih seimbang, sehingga rasa yang tertinggal di batin saya adalah… netral dan datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kebiasaan saya, terutama di usia 20-an, yang selalu rajin bahkan mensakralkan kebiasaan menulis resolusi, evaluasi, pengharapan dan impian, kali ini saya tak berbekalkan apa-apa. &lt;span class="fullpost"&gt;Tak ada resolusi, tak ingin mengevaluasi. Harapan dan impian, yang biasanya kita bawa layaknya tongkat estafet dalam pacuan panjang bernama hidup ini, kali ini bahkan absen dari tangan saya. Cengkeraman jemari saya rasanya tak cukup kuat untuk itu. Bukannya kedua hal itu tak ada, tapi malas rasanya menggenggam. Yang ada hanyalah langkah demi langkah kaki di jalanan berbatu, bertemankan suara gesekan ilalang dan terik matahari yang kian menggigit tengkuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenan pun menolak digenggam. Dengan semangat, ia berjalan dengan gagah berani tanpa mau saya gandeng. Ia sibuk mengumpulkan batu-batu yang pada akhir perjalanan kami akan dicemplungkannya satu demi satu ke selokan. Dengan kedua tangan penuh bongkah batu, ia berjalan sedikit di depan saya. Tepat di turunan curam, tiba-tiba ia tergelincir dan jatuh menengadah. Seketika ia menangis, kaget bukan main. Semua batu di genggamannya lepas. Cepat-cepat saya meraih dan memeluknya. Saya melihat sekeliling, betapa banyak batu besar yang bisa saja menjadi landasan kepalanya saat jatuh tadi. Saya pun menyadari perjalanan kecil ini bisa jadi perjalanan yang berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil terisak, Keenan mengucap sendiri, “Tidak apa-apa… Keenan tidak apa-apa.” Dan entah mengapa, respons saya padanya adalah, “Ya, tidak apa-apa. Keenan sekali-sekali harus tahu rasanya jatuh.” Lalu kami berdua meneruskan perjalanan. Tak sampai tiga langkah, ia sudah minta turun lagi dari gendongan saya. Kembali berjalan sendiri, memunguti batu-batu baru, yang pada akhir perjalanan kami dicemplungkannya satu demi satu ke selokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menunggui Keenan berupacara di pinggir selokan sambil merenungi perjalanan kami pada pagi hari pertama tahun 2008 ini. Akhirnya saya mendapatkan sebuah ‘pesan’. Terlepas dari kepercayaan kita pada sosok Tuhan personal maupun impersonal, semua dari kita setidaknya pernah merasakan hadirnya sebuah kekuatan, energi agung, atau apapun itu, yang tak luput menemani setiap langkah perjalanan hidup kita. Saat kita asyik berjalan, mengumpulkan segala sesuatu yang kita ingin raih, kita tak terlalu menghiraukan kehadiran ‘sesuatu’ itu. Namun saat kita tergelincir dan terenyak luar biasa, segala sesuatu yang kita cengkeram pun lepas. Tangan kita kembali kosong. ‘Sesuatu’ itu akhirnya punya kesempatan untuk muncul dan menyeruak, meraih tangan kita yang sedari tadi sibuk menggenggam. Lama atau sekejap kita didekap, selama perjalanan ini belum usai, tak urung kita akan kembali melangkah. Mengumpulkan kembali pengalaman demi pengalaman yang kita perlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berjongkok di pinggir selokan, saya merenungi ‘batu-batu’ yang selama ini saya genggam. Besar-kecil, jelek-bagus, semua itu saya kumpulkan karena itulah yang saya perlukan. Jika hidup adalah siklus berputar dalam satu pusaran, cukup relevan jika saya menganalogikannya dengan trayek yang saya tempuh hampir setiap hari bersama Keenan itu. Jalanan berselimut batu, yang meski begitu sering saya jalani, tak pernah saya tahu batu mana yang akan saya genggam berikutnya, dan batu mana yang akan saya lepas sesudah ini. Tak pernah juga saya tahu, kapan saya akan tergelincir dan terpaksa melepaskan semua yang selama ini erat digenggam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun tahun baru ini saya songsong tanpa resolusi dan evaluasi, ada satu keyakinan yang mengiringi langkah saya pulang ke rumah pagi ini. Jika batu dalam genggaman tangan saya lepas, berarti sudah saatnyalah ia lepas. Jika perjalanan ini belum usai, maka kaki ini—meski lelah dan penat—akan kembali terus melangkah. Jika saya tergelincir nanti, maka sesuatu akan menyeruak muncul dari kekosongan, meraih tangan saya yang hampa dan kembali membawa saya bangkit berdiri. Saya tak ingin memberinya nama. Saya tak ingin menjeratnya dalam sebuah identitas. Yang saya tahu, saya bersisian dengannya. Seperti partikel dengan gelombang. Seperti alam material dan imaterial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit batu atau banyak batu, melangkah cepat atau lambat, tergelincir atau terjerembap, ia berjalan seiring dengan napas dan denyut saya. Ia membutuhkan saya sama halnya dengan saya membutuhkannya. Dan hanya dalam keheningan, kami berdua hilang. Dalam keheningan, kami bersatu dalam ketiadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak, adanya resolusi atau tidak, bukan lagi satu hal signifikan. Mendadak, hari ini menjadi hari yang sama berharganya sekaligus sama biasanya dengan hari-hari lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat tahun baru 2008.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-4631719223444634409?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/4631719223444634409/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=4631719223444634409&amp;isPopup=true' title='74 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/4631719223444634409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/4631719223444634409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2008/01/2008-di-pinggir-selokan-pagi-menjelang.html' title='2008 di Pinggir Selokan'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><thr:total>74</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-1688186464847076879</id><published>2007-12-04T21:05:00.003+07:00</published><updated>2009-01-25T15:52:12.178+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On Mind and Self'/><title type='text'>"Mirror, Mirror On The Wall..."</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(102, 255, 153);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);font-size:180%;" &gt;“Mirror, Mirror On The Wall…”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SEdUm9IExOI/AAAAAAAAAJg/JaKoha8-HsM/s1600-h/ks124414.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SEdUm9IExOI/AAAAAAAAAJg/JaKoha8-HsM/s400/ks124414.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208224522297459938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya teringat awal tahun ’90-an ketika produk pemutih wajah pertama kali diperkenalkan. Saya baru mulai kuliah saat itu. Saya tak ingat persis yang mana, tapi saya pernah mencoba memakai salah satu produk tersebut, tidak lama-lama karena kurang cocok. Dan dari masa itu hingga sekarang, tak terhitung lagi banyaknya aneka produk pemutih kulit yang ditawarkan berbagai produsen. Cara mereka beriklan pun semakin luar biasa cerdik. Putihnya kulit dihubungkan dengan peluangnya menemukan cinta, dengan putihnya hati nurani, dengan kebahagiaan, hingga perebutan jodoh dalam tujuh hari. Gosong akibat kebanyakan beraktivitas di bawah terik matahari tidak lagi menjadi alasan yang spesial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang kurang putih digambarkan murung, tak mendapat perhatian cukup, selalu dilewatkan oleh sang pujaan, alias tak bahagia. Sementara mereka yang sudah putih atau akhirnya berhasil putih menjadi lebih semringah, diperhatikan orang-orang, dan mendapatkan cinta. Singkat kata, lebih bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat iklan-iklan itu, saya jadi bertanya-tanya, mengorek-ngorek ingatan saya: pernahkah saya bertemu kasus di mana seseorang ditinggalkan karena kurang putih? Atau pernahkah saya sendiri, ketika harus menentukan pasangan, mendasarkan penilaian saya atas kadar melanin kulit mereka? Jujur, saya belum pernah. Pada akhirnya, yang membuat saya betah bersama dengan seseorang adalah kecocokan, ketersambungan sinapsis, hati, dan jiwa. Sesuatu yang tak bisa diverbalkan atau bahkan divisualisasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibutuhkan waktu sepuluhan tahun, dan beberapa kali menjadi duta produk perawatan kulit, hingga akhirnya saya memahami bahwa kata ‘memutihkan’ cenderung menyesatkan (beberapa perusahaan lantas memilih kata ‘mencerahkan’ karena dianggap lebih realistis). &lt;span class="fullpost"&gt;Dibutuhkan pengalaman hidup untuk akhirnya mampu menyimpulkan bahwa tampilan fisik—termasuk di dalamnya: warna kulit—bukanlah penentu dalam menghadirkan cinta dan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibutuhkan pula obrol-obrol dengan para insan periklanan dan perfilman untuk tahu bahwa bintang iklan pemutih kulit memang sudah putih dari sananya. Kalaupun kurang putih, masih ada lampu, bedak, dan sulap digital yang mampu menghadirkan citra apa saja yang dimau sang pengiklan. Dibutuhkan juga buku genetika dan memetika untuk akhirnya memahami mengapa para perempuan tak hentinya berlomba-lomba mengikuti standar cantik masyarakat, dan para pria tak usainya bepacu menjadi yang paling kaya dan sukses, di luar dari batas logika mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu, saya terlibat diskusi dengan beberapa teman pria saya. Mereka mempertanyakan, kenapa kok pasangan-pasangan mereka, tak henti-hentinya menyoalkan berat badan, gaya busana, kecantikan kulit, dan sebagainya. Saya berceletuk, karena kompetisi genetika. Mereka yang lebih cantik akan punya peluang lebih besar untuk mendapatkan pasangan. Argumen saya dibalas lagi: tapi kan mereka sudah memperoleh pasangan—yakni, teman-teman saya tadi. Lalu, kok masih terus-terusan repot? Mereka repot berdandan untuk siapa, dan untuk apa? Padahal teman-teman saya tidak merasa memberikan aneka tuntutan atas penampilan mereka. Kalau sudah cinta, ya, cinta saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kaum perempuan mendengar pernyataan itu, pastilah mereka bilang bahwa teman-teman saya itu spesies langka, atau mungkin cuma munafik. Tidak ada pria di muka Bumi ini yang tidak menginginkan pasangannya cantik dan menarik. Namun saya tidak terburu-buru melempar komentar senada. Apa yang dibilang teman-teman saya cukup logis, memang. Kalau pasangannya sudah dapat, jadi buat apa lagi repot?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya berceletuk lagi, bahwa selama perempuan itu masih subur, dan selama pasangannya pun masih sanggup bereproduksi, kompetisi genetika tidak akan pernah selesai. Baik perempuan, maupun laki-laki, akan selalu berada di bawah bayang-bayang kendali primordial mereka: prokreasi. Agenda genetika hanya satu: kelangsungan hidup dan replikasi diri. Bagi kaum hawa, kebutuhan itu lantas diterjemahkan menjadi kompetisi keamanan dan kepastian bagi dirinya serta keturunannya. Bagi kaum adam, penerjemahannya adalah kompetisi menjadi yang terkuat agar berpeluang besar untuk meneruskan keturunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan peradaban, tentu konsep ini pun semakin canggih dan berlapis-lapis, walau jika dikupas isinya sama-sama saja. ‘Kuat’ pada zaman batu berarti cerdik dan tangguh hingga mampu menghadapi ancaman predator. ‘Cantik’ pada zaman itu artinya subur hingga mampu beranak banyak. Sekarang, ‘kuat’ berarti aset finansial, ‘cantik’ berarti dada-pinggul besar, berdandan seksi, cerdas, dan seterusnya. Silakan dikupas, dan kita akan menemukan inti yang sama: keamanan dan jaminan prokreasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seumpama jerapah yang berevolusi hingga lehernya panjang, otak manusia pun berkembang sedemikian rupa hingga kita bisa berkomunikasi dengan akurat sampai akhirnya menjadi spesies penguasa. Dilihat dari proporsi tubuh kita, para hewan akan melihat bayi manusia sebagai makhluk aneh dengan otak yang terlampau besar. Dan itulah hadiah evolusi untuk manusia. Sebagai makhluk tak bercakar, tak bertaring, dan kulit yang terlampau halus, manusia berhasil menjadi spesies dominan karena kecanggihan otaknya dan keterampilan jemarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia bukan pula semata-mata budak genetika. Evolusi spesies kita menghadirkan satu elemen lain, yang dikenal dengan istilah: akal budi. Lewat akal budi pulalah lantas tercipta ‘aku’ atau ‘ego’. Binatang tak memiliki ini. ‘Aku’ otomatis menciptakan ‘kamu’, ‘kita’, ‘mereka’, ‘dia’. ‘Aku’ menciptakan keterpisahan. Dan ‘aku’ jugalah yang mendambakan penyatuan. Inilah dualitas mendasar, harga yang harus dibayar untuk menjalankan kehidupan sebagai spesies bernama manusia. ‘Aku’ adalah sarana vital agar kita semua mampu melangsungkan hidup, tapi ‘aku’ juga bisa menjadi sumber segala bencana—jika kita hanyut dalam ilusi yang dihadirkannya. Hadiah evolusi ini menjadi pedang bermata ganda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, kita melihat dan menuai hasilnya. Di satu sisi, dibungkus dengan konsep cantik seperti ‘asmara’ atau ‘gaya hidup’, manusia bisa mengeruk habis isi bumi dan kecanduan sensasi indrawi. Di sisi lain, dibungkus dengan konsep adiluhung seperti ‘cinta’ dan ‘ilahi’, manusia pun bisa menjadi malaikat pelindung bagi makhluk lain, berpuasa, bahkan hidup selibat. Hewan, yang sepenuhnya dikuasai agenda genetika, tidak akan mengenal konsep berpuasa demi kesucian. Instingnya akan selalu mengatakan ‘makan!’ jika lapar, ‘kawin!” jika musimnya kawin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mulai riset untuk Supernova “Partikel”, saya menemukan banyak fakta menarik. Kesenjangan DNA antara simpanse dengan gorila ternyata lebih jauh tiga kali lipat dibandingkan dengan kesenjangan DNA antara simpanse dengan manusia. Yang artinya, manusia lebih mirip simpanse, ketimbang simpanse dengan gorila—yang padahal di mata kita sama-sama monyet. Konon, Carolus Linnaeus memisahkan manusia dari bangsa hewan hanya karena takut dimarahi pihak gereja. Pada kenyataannya, kita bertetangga lebih dekat dengan binatang, ketimbang antar binatang itu sendiri. Tidakkah ini lucu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tergeli-geli ketika tahu fakta itu. Betapa dahsyatnya aparatus bernama ‘aku’ sehingga kita dimampukan untuk mengabaikan fakta dan lantas menyebut diri makhluk mulia. Pernahkah kita renungi, bahwa terlepas dari kemampuan manusia untuk menjadi sungguhan mulia, tapi atas nama kemuliaan, kita sering terlena dalam ilusi kolektif kita sebagai representatif agung yang ditunjuk Tuhan untuk menjadi penguasa langit dan bumi hingga tak sadar bahwa kita pun sedang membunuhnya perlahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang menjadikan manusia makhluk paradoks yang luar biasa. Kita adalah arena pertempuran antara gen dan mem yang pada dasarnya hanya ingin mereplikasi diri, tapi isi agendanya tak selalu sejalan. Kita adalah konflik yang berjalan di atas dua kaki, dari mulai kita bangun pagi hingga kembali tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada obrolan saya dengan teman-teman saya. Mungkin sama seperti Anda, pada titik ini mereka pun garuk-garuk kepala, mengapa pembahasan soal iklan pemutih bisa berkembang liar menjadi urusan taksonomi, genetika, dan memetika? Saya pun berkata, bahwa gelinya saya ketika tahu segitiga DNA manusia-simpanse-gorila sama dengan gelinya saya waktu menonton iklan pemutih wajah itu. Apa yang mereka reklamekan sesungguhnya bukanlah perlombaan menuju bahagia, melainkan perlombaan genetika yang tak ada hubungannya dengan kebahagiaan, putihnya hati, atau cinta sejati. Sebaliknya, kita berpotensi besar untuk berpacu menuju ketidakbahagiaan, karena agenda genetika tak mungkin dipuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muncullah pertanyaan kami bersama: apa gunanya tahu tentang perbudakan gen dan mem ini kalau memang tidak bisa dilawan? Saya pun kembali merenung. Mungkinkah itu dilawan? Tidakkah hal tersebut menjadi konflik baru? Mungkinkah, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah menyadarinya? Dan mungkin saja, dari penyadaran itu, kita lebih awas dan hati-hati dalam bertindak, dalam memilih, dalam memilah? Hingga kita bisa lebih bijak dan menahan diri untuk mengonsumsi sesuatu? Hingga pedang bermata ganda ini dapat dipakai dengan konstruktif, bukannya destruktif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui sesuatu tak selalu berujung pada perlawanan. Karena perlawanan tanpa kebijaksanaan akan berujung pada perang reaksioner yang sia-sia. Tak selamanya tombol primordial itu ‘buruk’, bagaimanapun tombol-tombol itu ada untuk pertahanan diri dan merupakan paket dari eksistensi kita. Namun tak selamanya pula tombol-tombol itu harus terus dipenuhi dan diberi reaksi. Dengan laju peradaban dan kapasitas manusia yang kini begitu luar biasa, seringkali kita memang harus lebih banyak menahan diri—bukan atas nama penyangkalan, tapi justru untuk kelangsungan kehidupan bersama, koeksistensi dengan semua makhluk, termasuk spesies kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, kita lebih bisa memusatkan fokus dan energi kita untuk hal-hal yang esensial. Jika yang dicari putihnya hati, seberapa relevankah lagi zat seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hydroquinone&lt;/span&gt; atau vitamin B3? Jika yang dicari adalah ketenangan batin, seberapa relevankah lagi papan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sit-up&lt;/span&gt;, ikat pinggang penghancur lemak, pil pelangsing, sumpalan silikon, hidung lebih bangir, dan seterusnya? Dan seperti buta, kita justru melewatkan hal-hal yang membuat diri kita lebih tenteram dan mawas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, di dalam toilet saya bercermin, lalu bertanya pada diri sendiri: akankah saya bertambah bahagia jika kulit saya lebih putih, mulus tanpa cacat cela? Mungkin iya, mungkin tidak. Namun sanggupkah saya mentransendensi apa yang saya lihat di cermin, dan menyadari bahwa bahkan yang namanya kebahagiaan pun tak lekang, bahwa terbebasnya kita dari konflik—meski hanya semenit-dua menit—adalah kedamaian sejati, yang hanya bisa dilakukan bukan dengan menahan melanin atau menghapus keriput, tapi menyadari dan menerima keadaan kita apa adanya sekarang ini, fisik dan juga mental?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa, itulah pertanyaan yang sesungguhnya. Dan saya pun tahu, pertanyaan semacam itu tak akan laku jika diiklankan. Namun saya juga yakin, pertanyaan itulah yang menggantungi setiap dari kita, spesies manusia, dan menggetok kepala kita satu hari, pada satu momen yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;* Gambar dipinjam dari fotosearch.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-1688186464847076879?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/1688186464847076879/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=1688186464847076879&amp;isPopup=true' title='50 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/1688186464847076879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/1688186464847076879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2007/12/mirror-mirror-on-wall-saya-teringat.html' title='&quot;Mirror, Mirror On The Wall...&quot;'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SEdUm9IExOI/AAAAAAAAAJg/JaKoha8-HsM/s72-c/ks124414.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>50</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-160582363881400453</id><published>2007-11-03T12:15:00.004+07:00</published><updated>2009-01-25T15:54:59.931+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nature-Green-EcoLiving'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Published Articles'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On Life and Living'/><title type='text'>A Thank You Note</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);font-size:180%;" &gt;A Thank You Note&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu, seorang wartawan dari majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lifestyle&lt;/span&gt; keluaran baru dari Group Tempo menghubungi asisten saya. Dia ingin mewawancarai saya untuk edisi perdananya yang akan terbit Desember nanti. Kemarin, wartawan dan dua fotografer dari majalah tersebut datang ke rumah saya di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan itu lantas bercerita asal muasal mengapa saya kemudian dipilih menjadi “Story of the Month” untuk edisi perdananya. Sehubungan dengan konferensi di Bali tentang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;global warming&lt;/span&gt; bulan Desember nanti, mereka pun tertarik untuk mengangkat topik lingkungan hidup. Wartawan itu lantas bercerita, bahwa ia menerima tulisan “Harta Karun Untuk Semua” lewat e-mail, dan bukan hanya dari satu sumber, melainkan beberapa. “Setahu saya, tulisan itu juga menyebar di banyak milis,” katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, saya agak kaget mendengarnya. Namun saya juga teringat, beberapa komentar yang masuk untuk posting itu juga menyebutkan bahwa mereka membaca tulisan itu di milis, atau dikirim via e-mail. Seminggu lalu, saya juga mendapat telepon dari seorang guru piano di Solo, yang ingin mengadakan konser di sekolahnya bertemakan lingkungan, dan ia terinspirasi karena artikel “Harta Karun Untuk Semua”. Setelah membaca artikel yang sama, seorang teman sempat menawari saya menjadi tamu untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;talk show&lt;/span&gt; di sekolah anaknya yang juga sedang menggalakkan gerakan sadar lingkungan. Lalu beberapa teman saya pun pernah memberi tahu selewat-dua lewat bahwa mereka membaca artikel itu lewat e-mail yang dikirim massal ke inbox mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pertanyaan yang diajukan saat wawancara siang itu adalah, “Apa sih arti perbuatan kita kalau kita hanya seorang diri memisah sampah, membuat kompos, hemat listrik, hemat air, mengurangi makan daging, mengurangi konsumerisme, sementara jutaan orang di luar sana tidak peduli dan terus menjalankan hidupnya seperti biasa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban spontan saya adalah: tidak tahu. Saya tidak tahu apakah perbuatan kecil ini akan menurunkan pemanasan global, tidak tahu apakah kompos di rumah saya punya arti dalam menurunkan debit sampah dunia, tidak tahu apakah dengan saya bervegetarian akan punya dampak untuk kesejahteraan makhluk di Bumi ini. &lt;span class="fullpost"&gt;Jika optimis, saya akan mengatakan: iya, saya yakin perbuatan saya akan berarti dan bisa mengubah dunia. Jika pesimis, saya akan mengatakan: tidak, perbuatan saya sangat renik dampaknya, semikron debu di tengah padang pasir, dan bukan tandingan dari kondisi global yang dibentuk oleh miliaran manusia plus aneka faktor lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, pertanyaan plus dua jenis jawaban tadi adalah hal yang pernah terlintas dalam benak kita semua. Dan apa pun kecenderungan sikap kita—pesimis atau optimis—siang itu, saya dan juga wartawan tadi, sesungguhnya melihat sebuah bukti nyata. Artikel yang saya tulis spontan beberapa bulan lalu telah beredar tanpa saya tahu, tanpa bisa saya pantau, dan kembali lagi pada saya suatu hari, dalam bentuk wawancara, inspirasi, pengembangan ide, undangan, dan sebagainya. Artikel itu telah bergulir bak bola salju, menjadi sesuatu yang lebih besar dari ukuran aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat prosesi rutin setiap kebaktian malam Natal, di mana semua jemaat masing-masing memegang sebuah lilin. Berawal dari nyala lilin di mimbar, beberapa lilin lain dinyalakan lalu menyebar ke seluruh penjuru ruangan, hingga setiap lilin akhirnya menyala tanpa kecuali. Saya membayangkan, prosesi yang sama sesungguhnya sedang terjadi. Di mana-mana. Di seluruh muka Bumi. Artikel “Harta Karun Untuk Semua” hanyalah satu contoh kecil dari sekian banyak upaya dari umat manusia.  Saya tidak memasang alat penghitung di blog ini. Saya tidak tahu ada berapa orang yang berkunjung, selain mereka yang memberi komentar. Namun saya ingin berterima kasih pada semua, yang dengan caranya masing-masing telah membuat sebuah prosesi tak terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih belum tahu apakah perbuatan kecil skala rumahan saya punya dampak terhadap dunia. Tapi pertanyaannya, apakah perlu kita menagih bukti? Apakah ada alat atau metode yang secara pasti bisa mengukurnya? Dan jika tidak ada, haruskah kita berhenti? Saya tidak yakin saya bisa mengubah dunia, sebagaimana tulisan tersebut tidak ditujukan untuk mengubah dunia, atau siapa-siapa. Namun saya tahu, yang bisa diubah pada akhirnya hanyalah diri saya sendiri. Itulah lilin kecil yang kita pegang. Nyalanya mungkin tak seberapa, hanya menerangi jemari yang menggenggamnya. Namun jika lilin kecil itu menyala di setiap genggaman orang, tanpa terasa… ruangan gelap itu menjadi benderang. Bukan oleh upaya satu orang, melainkan beramai-ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya sebuah pembatas buku, berbentuk bulan sabit berwarna perak. Saya beli tujuh tahun yang lalu di sebuah toko buku. Apa yang tertera di pembatas buku itu menggerakkan hati saya, hingga saya putuskan untuk membelinya. Sesekali saya suka mengeluarkannya dari laci, hanya untuk sekadar membaca tulisan yang begitu indah dan bermakna. Sebagai tanda terima kasih saya bagi teman-teman semua, izinkan saya memetik tulisan di pembatas buku itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                       &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“There are two ways of spreading light: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                  to be the candle or the mirror that reflects it” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                                  – Edith Wharton –&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Semoga hadiah kecil ini mampu menjadi harta karun bagi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;* Tulisan ini diterbitkan di Harian Pikiran Rakyat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-160582363881400453?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/160582363881400453/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=160582363881400453&amp;isPopup=true' title='32 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/160582363881400453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/160582363881400453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2007/11/thank-you-note-beberapa-hari-yang-lalu.html' title='A Thank You Note'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><thr:total>32</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-7895344571435615170</id><published>2007-10-09T22:21:00.002+07:00</published><updated>2009-01-25T15:56:12.148+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On Mind and Self'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Published Articles'/><title type='text'>Dicari: Pahlawan Sejati</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);font-size:180%;" &gt;Dicari: Pahlawan Sejati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 255, 153);font-size:85%;" &gt;(Published, Eve Magazine, November 2007)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara soal makna pahlawan dan kedaulatan kadang menjadi kegiatan nostalgia belaka. Kita sudah tak perlu lagi mengusung bambu runcing dan meneriakkan pekik “Merdeka!” sambil mengacungkan kepal ke udara. “Pahlawan” dan “perang” cuma kita asosiasikan dengan kematian fisik, peperangan fisik, dan sesosok musuh bersama. Sesuatu yang rasanya tak lagi relevan dengan kondisi kita sekarang, dan juga banyak tempat di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan ribu pahlawan telah mati untuk bangsa ini, dan ada jutaan orang di seluruh dunia yang menyandang status pahlawan karena mereka telah mati untuk membela sesuatu. Namun, jika kita benar-benar jujur, pernahkah perdamaian sejati terwujud di muka Bumi? Pada level intelektual, kita mampu merumuskan perdamaian, menyusun klasifikasi seorang pahlawan, bahkan mempabrikasi konsep kemerdekaan. Namun pada level mental, jika kita benar-benar jujur, pernahkah perdamaian sejati terwujud dalam batin kita? Ada satu perang yang sudah ada sejak manusia ada, Bharatayuda yang sesungguhnya, yakni perang melawan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap saat kita memasuki ajang pertempuran. Saat kita membuka majalah atau nonton teve, kita digempur dengan berbagai potensi perang batin. Waktu kita melihat sesuatu yang kita suka atau tak suka, kita berkonflik antara mengejar dan menolak. Perempuan yang merasa terancam oleh keriput lantas berperang melawan penuaan dengan serum dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;botox&lt;/span&gt;. Perempuan yang percaya bahwa lebih putih berarti lebih cantik akan berperang melawan melaninnya dengan krim pemutih. Melihat mereka yang lebih sukses dan lebih berpengaruh, kita lantas bertempur dengan keinginan dan hasrat untuk ikut lebih. Setiap hari kita dijajah oleh keinginan baru, harapan baru, dan timbullah konflik baru. Lalu, siapakah pahlawan yang kita harapkan untuk perang tak berkesudahan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak film-film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;superhero&lt;/span&gt;, saya memperhatikan bahwa masyarakat dalam film-film itu digambarkan menaruh harapan tunggal mereka pada sang pahlawan, entah itu Batman, Superman, atau Spiderman. Begitu ada kejahatan merangsak, mendadak polisi lemah, tentara terlambat datang, dan semua orang pun berharap cemas menanti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;superhero&lt;/span&gt; muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan nyata, cerminan itu pun tak jauh berbeda. Tak heran konsep seperti Ratu Adil atau Ksatria Piningit selalu laku, karena kita cenderung berharap ada tangan lain yang menyelesaikan masalah kita. &lt;span class="fullpost"&gt;Kita menaruh harap pada PBB, pemerintah, parpol, dan tokoh-tokoh besar untuk menyelesaikan problem dunia. Dalam interaksi pribadi pun demikian, kita berharap kitalah yang dimengerti, dipahami, agar problem selesai dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pernahkah kita merenungi, bahwa di jantung sebuah konsep besar bernama bangsa, suku, ras, agama, yang bersemayam sesungguhnya adalah individu-individu? Dan pada seorang individu, jika dilucuti satu per satu, kita akan bertemu dengan motor penggerak bernama ego? Ketika terjadi peperangan di mana pun, atas nama apa pun, sesungguhnya kita tengah menyaksikan peperangan antar ego, antar ‘aku’ yang masing-masing merasa paling penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan tahun sudah manusia diatur oleh aneka sistem moralitas, tapi perdamaian sejati—baik di muka Bumi maupun di dalam batin—tak pernah terwujud. Sejak kecil saya diberi tahu bahwa bangsa Indonesia terkenal rukun karena toleransi. Namun jika kita tilik ulang, toleransi yang kita kenal adalah: aku menghargai kamu selama kamu tidak mengganggu aku. Kita tidak dibiasakan untuk apresiasi, yakni: aku menghargai kamu apa adanya. Perdamaian yang kita kenal adalah perdamaian yang berbasiskan toleransi, bukan apreasiasi. Perdamaian toleransi adalah perdamaian yang rapuh, karena diberlakukan syarat di sana. Saat syarat itu disinggung, si ‘aku’ disinggung, perdamaian pun luruh seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu jugalah kita kerap memberlakukan diri kita sendiri. Menerima diri apa adanya merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Kita memberlakukan banyak syarat bagi diri kita: ‘saya baru menyukai diri saya kalau ukuran tubuh saya sekian’, ‘saya baru pede kalau saya naik mobil merk anu’ dan daftar syarat ini seolah tak ada ujungnya. Setiap hari kita menambah daftar baru. Setiap hari kita berperang dan bersitegang. Dan dalam perang yang satu ini, tak ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;superhero&lt;/span&gt; yang akan datang dari balik awan untuk menyelesaikan konflik kita. Tidak ada siapa-siapa di sana, selain diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah perang paling relevan dan selalu relevan dari ke zaman ke zaman. Inilah ibu dari segala konflik yang ada di muka Bumi. Namun seringkali kita luput melihat hubungan antar ‘aku’ yang di dalam dengan ‘aku’ yang ada di luar, sehingga kita cenderung berpangku tangan dan terbuai dalam ketidakberdayaan kita.  Kita sibuk mengutak-atik ‘aku’ yang di luar tanpa membereskan ‘aku’ yang di dalam—sumber konflik yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pahlawan sejati dibutuhkan di sini. Seorang pahlawan yang berani masuk ke dalam batin untuk menyingkap egonya sendiri. Seorang pahlawan yang berani ‘mati’ demi perdamaian sejati. Seorang pahlawan yang mau sejenak melangkah mundur dari jerat konflik eksternal dan memasuki arena pertempuran yang sesungguhnya. Dan pahlawan ini akan bertempur tanpa imbalan jasa dan pengakuan apa-apa. Tidak ada siapa-siapa di sana. Namun inilah pertempuran yang paling riil, tepat di bawah hidung kita sendiri tanpa disadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Hari Pahlawan, selalu kita diimbau untuk sejenak mengheningkan cipta. Pada hari ini, maukah kita sejenak duduk diam, mengheningkan cipta, dan melihat peperangan di dalam batin? Maukah kita turun tangan dan menjadi pahlawan bagi diri kita sendiri? Ataukah kita kembali melihat ke balik awan, menunggu sang pahlawan yang tak kunjung tiba…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-7895344571435615170?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/7895344571435615170/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=7895344571435615170&amp;isPopup=true' title='27 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/7895344571435615170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/7895344571435615170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2007/10/dicari-pahlawan-sejati-will-be.html' title='Dicari: Pahlawan Sejati'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><thr:total>27</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-6803980013917789238</id><published>2007-09-03T13:16:00.003+07:00</published><updated>2009-01-25T16:00:10.366+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditation Journal'/><title type='text'>Menyibak Aku Melalui Kamu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(153, 255, 153);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Menyibak Aku Melalui Kamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.casafree.com/modules/xcgal/albums/userpics/10024/normal_Lucky%20Luke.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://www.casafree.com/modules/xcgal/albums/userpics/10024/normal_Lucky%20Luke.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Lebih dari setahun yang lalu, saya pernah membuat sebuah tulisan berjudul “Brunch and Lunch With God” di blog ini. Di sana, saya menggunakan personifikasi Lucky Luke, tokoh komik berprofesi koboi pengelana, yang tak pernah menetap di satu tempat, dan tak mengikatkan diri pada apa pun. Dalam penelusuran spiritual, seringkali (jika tidak selalu) saya merasa seperti Lucky Luke, Sang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lonesome Cowboy&lt;/span&gt;, berkuda sendirian menghadap matahari terbenam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika akhirnya memutuskan ikut retreat Enlightenment Intensive yang diadakan di Ubud tanggal 3-5 Agustus 2007, saya pun melenggang seperti seorang Lucky Luke, sendirian dan tanpa pengharapan. Dalam tiga hari ke depan, 16 peserta akan menjalankan satu metode bernama Dyad (berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘dua’). Fasilitator kami, &lt;a href="http://www.selffoundation.com"&gt;Jack Wexler (Zyoah)&lt;/a&gt;, sudah berpuluh tahun menjalankan metode ini, dan bahkan mengembangkannya ke berbagai format. Metode yang pertama kali digagas oleh seorang spiritualis bernama Charles Berner ini pada dasarnya adalah kontemplasi mendalam terhadap koan Zen yang didesain sedemikian rupa agar jerat logika pikiran dapat tertransendensi. Bedanya, jika seseorang lazimnya memecahkan koan Zen dengan bermeditasi diam berhari-hari, dalam Dyad koan tersebut digarap oleh dua orang sekaligus dalam bentuk mendengar dan mengungkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar dan mengungkap berbeda dengan bertanya dan menjawab. Dyad bukanlah percakapan. Meski pertanyaan tetap digunakan sebagai pancing, si penanya tidak mengharap jawaban, ia berperan sebagai cermin bagi pasangan Dyad-nya. Cermin sempurna tidaklah bereaksi, tidak mengevaluasi, tidak menjustifikasi, tapi hanya menawarkan keberadaannya secara total. Demikian pula dengan yang ditanya, ia tidak diharap memberi jawaban, melainkan mengungkap apa pun dalam medan kesadarannya yang terpancing oleh koan tersebut, baik dalam bentuk verbal maupun non-verbal. Berbekal kail tunggal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“tell me who you are”&lt;/span&gt;, satu putaran Dyad berlangsung selama 40 menit. Dalam satu putarannya, seseorang mendapat giliran empat kali menjadi pendengar, dan empat kali menjadi pengungkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, awalnya saya tidak bisa membayangkan bagaimana momen pencerahan atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;satori&lt;/span&gt; dapat terjadi dengan ‘kebisingan’ komunikasi ini. &lt;span class="fullpost"&gt;Belum lagi luberan audio dari kanan-kiri, karena kami melakukan Dyad ini bersama-sama dalam satu ruangan. Sekilas pintas, saya melihatnya seperti ajang curhat massal, di mana terdapat enam belas orang psikiater dadakan yang merelakan kupingnya selama tiga hari ke depan untuk menampung curhat dan sampah batin orang lain, sekaligus mengambil giliran jadi pasien sekaligus.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ketika dijalankan, saya mulai menemukan banyak pengalaman menarik. Setiap pasangan ternyata menghadirkan dinamika yang berbeda-beda dan tak terduga-duga. Terkadang kami tertawa bersama, bahkan bernyanyi bersama, atau malah bisu bersama. Dan jika kita membuka diri secara total pada keberadaan seseorang, ternyata setiap dari kita memancarkan kecantikan dan keindahan yang luar biasa, terlepas dari penilaian fisik yang berlaku umum di masyarakat. Selama Dyad, tak jarang saya hanya menangis, mengagumi kesempurnaan yang terhampar melalui partner saya, dan membuat saya merenung: jangan-jangan di dunia ini tidak ada yang sesungguhnya tidak indah, hanya kita yang tak pernah memberikan perhatian penuh sehingga keindahan itu kerap luput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses Dyad juga bisa menjadi perjuangan yang melelahkan. Saat pikiran dan batin kita benar-benar dikuras, saat kita jenuh setengah mati dengan kegiatan mengungkap dan mendengar, durasi lima menit bisa serasa lima jam. Jangan tanya berapa kali saya berkeinginan untuk mencelat keluar ruangan, atau berencana membuat perhitungan dengan sahabat saya yang menawarkan retreat ini. Kalimat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“tell me who you are”&lt;/span&gt; bisa terdengar seperti hukuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari terakhir. Retreat akan selesai beberapa jam lagi. Seusai istirahat siang, saya berjalan kembali ke ruangan dengan satu kegelisahan: dalam tiga hari ini, saya menyadari begitu banyak mutiara yang telah saya dapat, tapi si ‘itu’ yang saya cari sepertinya belum ketemu, sementara batin dan benak ini rasanya sudah kehabisan bahan. Kosong. Tak ada lagi yang ingin diungkap. Tak ada lagi yang ingin dibagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduklah saya di hadapan partner saya siang itu. Sungguh tak tahu harus beraksi apa lagi. Tiga dari empat kali lima menit saya habiskan dengan tertawa terpingkal-pingkal. Sejadi-jadinya. ‘Kekosongan’ itu mendadak terasa lucu luar biasa. Pada giliran terakhir, tawa saya mereda dan sesuatu merambat naik ke medan kesadaran, bertepatan dengan suara kokok ayam jantan dari kejauhan. Dan terjadilah… pada saat yang paling tak diduga, pada momen yang sungguh tak ditunggu, kokok ayam itu membangunkan saya dari mimpi; dari belitan realitas yang disusun oleh pikiran dan interior mental saya. Dengan mata terbuka, saya menyadari apa yang selama ini ada bersama dengan saya tapi tak disadari keberadaannya. Dan saya mencari ‘itu’ persis seperti ikan dalam akuarium yang mencari-cari air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya dengan hampir semua pengalaman meditasi, bahwa kata-kata hanyalah penunjuk dan bukan realitas yang sesungguhnya, maka deskripsi atas pengalaman tadi amat sangat susah diungkapkan, jika memang tak mungkin. Barangkali kalau saya bercerita bahwa sesudah momen itu saya jadi melihat warna-warni aura, atau terbang menembus awan, kisah ini akan lebih dramatis dan meyakinkan. Sayangnya bukan itu yang terjadi. Yang terjadi adalah sejenak lepasnya ego, yakni konsep ‘aku’ yang dibentuk oleh persepsi, ruang, dan waktu. Sejenak, ‘Dewi Lestari’ berhenti menjadi pusat, melainkan objek dalam medan kesadaran itu sendiri. Segala perasaan, kenangan, dan buah pikiran tidak lagi menjadi properti eksklusif si ‘aku’. Yang tercipta adalah sebuah kesadaran egaliter, inklusif, dan bukan semata-mata kesadaran versinya ‘Dewi Lestari’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalam semua Dyad sebelumnya saya masih ‘bercerita’, pada momen itu saya berhenti ‘menceritakan’, berhenti ‘mendeskripsikan’, melainkan berintegrasi langsung dengan kenyataan yang berjalan momen demi momen. Koan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“tell me who you are”&lt;/span&gt; kali ini dijawab bukan oleh saya, melainkan oleh kokok ayam, kicau burung, kepak kupu-kupu yang melintas, desir angin, dan apa pun yang melintas dalam medan kesadaran… apa adanya. Si ‘aku’ tak lagi menjadi perintang, dan tak lagi mencoba menjembatani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada dua kali Dyad sore itu. Dan dalam sesi Dyad yang terakhir, barulah saya temukan cara paling mendekati untuk mengungkap ‘itu’. Saya memohon izin pada pasangan saya untuk menggenggam tangannya, lalu meletakkannya di atas degup jantung saya. Kapankah jantung kita berada di masa lalu atau di masa depan? Satu kali pun tak pernah. Ia bahkan takkan sanggup untuk itu. Jantung kita mendegupkan hidupnya selalu di saat ini. Kita tak mampu memutar balik degup jantung kita yang lewat, atau memproyeksikan degup jantung kita di waktu yang akan datang. Dan di sanalah ‘itu’ ada. Dalam saat ini. Tak satu pun kata mampu meringkusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyad selama tiga hari dua malam di Ubud menjadi pengalaman yang unik, karena tidak hanya saya mengalami momen &lt;span style="font-style: italic;"&gt;satori&lt;/span&gt; tersebut dalam kondisi mata terbuka, tapi juga dengan seorang pasangan. Bukan dalam gelap dan kesendirian. Dan barangkali itu jugalah satu sisi yang saya luput dari profil Lucky Luke. Selama ini saya melihat dia sendirian, padahal tidak. Lucky Luke berkelana di atas pelana Jolly Jumper. Dan dibutuhkan kesadaran yang egaliter dan inklusif untuk mampu melihat signifikansi peran Jolly Jumper dalam perjalanan koboi soliter itu. Lucky Luke dalam analogi ini melambangkan figur ‘aku’ sebagai pusat yang eksklusif, dan semua selain ‘aku’ menjadi fenomena sekunder. Namun ketika dominasi ‘aku’ mereda, kesadaran pun mengembang, merangkul semua, dan tak ada lagi hierarki primer-sekunder. Jolly Jumper bertransendensi sebagai pasangan yang bergandeng tangan dengan sang koboi, bukan lagi figuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan pula semata kebetulan jika salah satu sahabat yang saya profilkan dalam artikel “Brunch and Lunch with God” menjadi pasangan Dyad saya terakhir di Ubud. Kehadirannya melengkapkan kesimpulan saya bahwa penelusuran spiritual ini tidak sesendirian yang saya duga. Dalam dinamika kehidupan kita, semua manusia dan makhluk berperan sebagai kail pancing untuk menemukan kesejatian itu, tak terkecuali ayam jago yang kokoknya ikut ‘membangunkan’ saya—yang sampai retreat selesai pun tidak bisa saya alokasi keberadaannya, namun sungguh saya rasakan kehadirannya. Andai ayam itu bisa saya temukan, saya ingin membungkuk, berterima kasih dan berkata: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;melalui kamu, aku menyibak ‘aku’&lt;/span&gt;. Sebagaimana saya membungkuk dan berterima kasih pada semua partner Dyad saya, Zyoah, dan langit biru Ubud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;PS. Mohon maaf jika analogi Lucky Luke dan Jolly Jumper menimbulkan kesan bahwa saya mengasosiasikan pasangan-pasangan Dyad saya dengan seekor kuda. Dengan segala rasa cinta dan humor, saya (mungkin) tidak bermaksud demikian&lt;/span&gt; ☺&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;* Info tentang Zyoah dan Enlightenment Intensive Retreat&lt;br /&gt;bisa didapat di www.selffoundation.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-6803980013917789238?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/6803980013917789238/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=6803980013917789238&amp;isPopup=true' title='30 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/6803980013917789238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/6803980013917789238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2007/09/menyibak-aku-melalui-kamu-lebih-dari.html' title='Menyibak Aku Melalui Kamu'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><thr:total>30</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-6781169015253773759</id><published>2007-07-08T21:58:00.005+07:00</published><updated>2009-01-25T16:01:33.257+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nature-Green-EcoLiving'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Published Articles'/><title type='text'>Harta Karun Untuk Semua</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(153, 255, 153);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Harta Karun Untuk Semua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(Published - Pikiran Rakyat)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini kiriman buku yang saya pesan dari Amazon.com datang. Ada satu buku yang langsung saya sambar dan baca seketika. Judulnya: “Stuff – The Secret Lives of Everyday Things”. Buku itu tipis, hanya 86 halaman, tapi informasi di dalamnya bercerita tentang perjalanan ribuan mil dari mana barang-barang kita berasal dan ke mana barang-barang kita berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakan waktu ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung: orang gila mana yang mencipta sesuatu yang tak musnah ratusan tahun tapi masa penggunaannya hanya dalam skala jam—bahkan detik? Bungkus permen yang hanya bertahan sepuluh detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baru hancur setelah si pemakan permen menjadi fosil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukar membayangkan apa jadinya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat, tanpa deterjen, tanpa karet, tanpa mesin, tanpa bensin, tanpa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fashion&lt;/span&gt;. Dan sebagai konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir rantai pengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang kita konsumsi telah diputus. Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahu ke mana kemasan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;styrofoam&lt;/span&gt; yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyak pohon yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah jam saja, beban polutan yang diemban baju-baju semusim yang kita beli membabi-buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam kita bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kita sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air. Untuk mencuci secangkir kopi, kita butuh air sebaskom. Untuk memproduksi satu lapis daging burger yang mengenyangkan perut setengah hari dibutuhkan sekitar 2,400 liter air. &lt;span class="fullpost"&gt;Produksi satu set PC seberat 24 kg yang parkir di atas meja kerja kita menghasilkan 62 kg limbah, memakai 27,594 liter air, dan mengonsumsi listrik 2,300 kwh. Bagaimana dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;chip&lt;/span&gt; kecil yang bekerja di dalamnya? Limbah yang dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih berat daripada berat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;chip&lt;/span&gt; itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui mata rantai tersembunyi ini bisa menimbulkan berbagai reaksi. Kita bisa frustrasi karena terjepit dalam ketergantungan gaya hidup yang tak bisa dikompromi, kita bisa juga semakin apatis karena tidak mau pusing. Yang jelas, sesungguhnya ini adalah pengetahuan yang sudah saatnya dibuka. Pelajaran Ilmu Alam, selain belajar penampang daun dan membedah jantung katak, dapat dibuat lebih empiris dengan mempelajari hulu dan hilir dari benda-benda yang kita konsumsi, sehingga tanggung jawab akan alam ini telah disosialisasikan sejak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO empat lantai, Pasar Baru, atau berjalan-jalan ke Gasibu pada hari Minggu di mana ada lautan PKL: tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupan penduduk satu kota? Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnya diproduksi? Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru yang menggelontori pasar. Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki hypermarket dan melihat ratusan macam biskuit, ratusan varian mie instan, dan ratusan merk sabun: haruskah kita memiliki pilihan sebanyak itu? Pernahkah kita merenung, apa yang kita inginkan sesungguhnya jauh melebihi apa yang kita butuhkan? Atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalam setahun, bahkan lebih. Atas nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fashion&lt;/span&gt;, jumlah itu menjadi tidak berbatas. Atas nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan beberapa pilihan panganan dalam sehari. Atas nama selera dan nafsu, seisi Bumi tidak akan sanggup memenuhi keinginan satu manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata. Seorang ekonom mungkin akan menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi. Seorang sosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan pemerataan. Tapi jika kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan negara, negara adalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah kumpulan individu, permasalahan ini akan kembali ke pangkuan kita. Dan kesadaran serta kemauan kitalah yang pada akhirnya akan memungkinkan sebuah perubahan sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menjadi sangat menentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati protokol Kyoto, tidak perlu juga menunggu penjarah hutan tertangkap, setiap langkah kita—memilih merk, kuantitas, tempat, gaya hidup—adalah pilihan politis dan ekologis yang menentukan masa depan seisi Bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belum bisa mengorbankan komputer karena itulah instrumen saya bekerja, tapi saya bisa lebih awas dengan jam penggunaan dan mematikannya jika tidak perlu. Saya belum bisa mengorbankan kebutuhan akan informasi, tapi saya bisa memilih membaca berita lewat internet atau membaca koran di tempat publik ketimbang berlangganan langsung. Bagaimana dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fashion&lt;/span&gt;? Di dunia citra ini, dengan profesi yang mengharuskan banyak tampil di muka publik, saya pun belum bisa mengorbankan keperluan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fashion&lt;/span&gt; (baca: membeli busana lebih sering dari yang dibutuhkan), tapi saya bisa membuat komitmen dengan lemari pakaian, yakni baju yang saya miliki tidak boleh melebihi kapasitas lemari saya. Jika lebih, maka harus ada yang keluar. Dan setiap beberapa bulan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ada baju yang tidak saya pakai setahun lebih atau baju yang cuma sekali dipakai dan tak pernah lagi. Bukan cuma baju, ada juga buku, pernik rumah, alat dapur, bahkan sabun dan sampo yang utuh tak disentuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, dalam rumah saya ada semacam peti-peti ‘harta karun’, yang berisikan barang-barang yang harus keluar dari peredaran, karena jika dipertahankan hanya menjadi kelebihan tanpa lagi unsur manfaat. Harta karun ini lantas harus dicarikan lagi outlet untuk penyaluran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan bazaar. Para warga menyewa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stand&lt;/span&gt; untuk berjualan. Saya ikut berpartisipasi, dan sayalah satu-satunya penjual barang bekas di antara penjual barang-baru baru. Karena bukan demi cari untung, barang-barang itu saya lepas dengan harga sangat murah. Yang membeli bukan cuma warga kompleks, tapi juga dari kampung sekitar. Hari pertama, saya sudah kehabisan dagangan. Terpaksa saya mengontak saudara-saudara saya yang barangkali juga punya barang bekas untuk disalurkan. Sama dengan saya, mereka pun punya timbunan harta karun yang entah harus diapakan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stand&lt;/span&gt; saya menjadi salah satu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stand&lt;/span&gt; paling laris selama bazaar berlangsung. Dan kakak saya terkaget-kaget dengan penghasilan yang ia dapat dari tumpukan barang yang sudah dianggap sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara kreatif lain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga disumbangkan. Namun yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen-komitmen pembatasan diri. Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan rak kamar mandi, dengan laci dapur, dan pada intinya… dengan diri sendiri. Siapkah kita menentukan batasan dan berjalan dalam koridor itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, yang lebih susah lagi, adalah pengendalian diri dari awal bersua aneka pilihan yang membombardir kita setiap hari, lalu sadar dan mawas akan rantai sebab-akibat yang menyertai pilihan kita. Membuka diri untuk info dan pengetahuan ekologi adalah salah satu cara pembekalan yang baik. Walaupun sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong kresek yang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan hamburger yang kita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang menyertai barang-barang itu tidak akan hilang hanya karena kita menolak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang berkomentar pada saya, “Aduh, Wi. Kamu bikin hidup tambah susah saja.” Dan mereka benar. Hidup ini tak mudah. Untuk itu kita justru harus belajar menghargai setiap jengkalnya. Memilih hidup yang lebih sederhana, hidup dengan tempo yang lebih pelan, hidup dengan pengasahan kesadaran, tak hanya membantu kita lebih eling dan terkendali, tapi juga membantu Bumi ini dan jutaan manusia yang dijadikan alas kaki oleh industri demi pemenuhan nafsu konsumsi kita sendiri. Lingkaran setan? Ya. Tapi tidak berarti kita tak sanggup berubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi kita bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya kita cari. Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29554542-6781169015253773759?l=dee-idea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dee-idea.blogspot.com/feeds/6781169015253773759/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29554542&amp;postID=6781169015253773759&amp;isPopup=true' title='79 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/6781169015253773759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29554542/posts/default/6781169015253773759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dee-idea.blogspot.com/2007/07/harta-karun-untuk-semua-hari-ini.html' title='Harta Karun Untuk Semua'/><author><name>Dewi Lestari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17996003125823678102</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SMAPPg8PDXI/AAAAAAAAAM0/2JCgLmVjJ7k/S220/image002.jpg'/></author><thr:total>79</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29554542.post-4792230996833534025</id><published>2007-06-21T15:58:00.003+07:00</published><updated>2009-01-25T16:03:39.429+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditation Journal'/><title type='text'>Tujuh Tahun Menuju Mendut</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);font-size:180%;" &gt;Tujuh Tahun Menuju Mendut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/Rn-RFAxNUsI/AAAAAAAAADw/8jQMHyIi2-Y/s1600-h/image002.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/Rn-RFAxNUsI/AAAAAAAAADw/8jQMHyIi2-Y/s200/image002.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5079938419988976322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Barangkali inilah artikel dengan tingkat kesulitan paling tinggi yang pernah saya tulis, karena saya akan mencoba menuliskan sesuatu yang sudah pasti tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Semua yang saya tulis berikut ini ibarat setetes air laut mencoba menjelaskan samudera. Kendati terdengar sia-sia, mudah-mudahan upaya ini masih punya makna. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama tiga hari, berlokasikan di Vihara Mendut – Magelang, saya mengikuti Meditasi Mengenal Diri (MMD) di bawah bimbingan Pak Hudoyo Hupudio. Beliau, MMD, dan milis spiritualnya, sudah saya kenal sejak tujuh tahun yang lalu lewat internet, bahkan beliau pernah saya “todong” untuk membuat pengantar buku pertama saya “Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh”. Namun baru tahun inilah saya berkenalan langsung dengan Pak Hudoyo. Pertama, ketika kami sama-sama menjadi pembicara dalam diskusi tentang meditasi di Bandung bulan Februari lalu, dan kedua ketika saya menjadi peserta MMD angkatan ke-99 di Mendut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski berbasiskan meditasi vipassana, MMD sendiri merupakan meditasi lintas agama, terbukti dari komposisi peserta yang beragam. Angkatan ke-99 yang berjumlah total 31 orang ini, mayoritas peserta beragama Katolik dan Islam, disusul Buddhis sebanyak lima orang, dan yang beragama Protestan sebanyak empat orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun sudah delapan tahun menggeluti dan merenungi masalah spiritualitas, saya bukanlah meditator yang disiplin. Kegiatan bermeditasi saya lakukan dengan frekuensi dan intensitas yang acak. Saya tidak asing dengan konsep vipassana, tapi baru di Mendutlah saya secara fokus menyelami pengalaman mengamati diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama dimulai dengan pengarahan. Pak Hudoyo berpesan agar kami meninggalkan semua pemahaman, pengetahuan, harapan, dan segala teknik yang kami ketahui. Tidak ada doa. Tidak bicara. Tidak ada apa-apa. Tugas kami hanya menjadi pengamat pasif. Total. Dan beliau mengingatkan, “Kalian akan memasuki neraka.” &lt;span class="fullpost"&gt;Neraka yang dimaksud adalah segala sakit yang akan dimuntahkan oleh badan, segala resah dan bimbang yang akan dimuntahkan oleh batin, dan sekali lagi, tugas kami hanya mengamati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bermeditasi kurang lebih dua belas jam sehari, diselingi tiga kali diskusi, satu kali istirahat, dan dua kali makan. Neraka itu saya alami dalam tiga sesi pertama. Perjuangan berat untuk sekadar duduk diam satu jam, dan perjuangan lebih berat lagi untuk mengalami apa artinya “mengamati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai dengan tidak menjustifikasi dan bereaksi, tapi hanya memberi label pada segala fenomena batin yang terungkap: “perasaan”, “memori”, “gambar”, “bosan”, “pegal”, dan seterusnya. Hingga pada satu titik saya kelelahan sendiri dengan proses memberi label itu. Fenomena fisik seperti rasa pegal dan kesemutan pun enggan hilang, bahkan ketika saya pikir saya sudah “mengamati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat meditasi pagi hari ke-2, saya mulai mengalami sesuatu. Selagi pikiran saya lepaskan mengembara tanpa label, tiba-tiba saya seperti terjatuh. Tepatnya, seperti dibangunkan. Bukan oleh kehendak, melainkan terjadi tiba-tiba di luar kendali sang “aku”. Dan deskripsi paling mendekati dari kondisi terbangun itu adalah… hening. Tak lama, pikiran kembali lolos seperti belut licin dan mulai berkata “Barangkali ini hening yang dimaksud. Bagaimana caranya bisa kembali ke sini?” Seketika, hening itu hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merenungi pengalaman sekian detik itu dan menyadari bahwa manusia menghabiskan hidupnya dalam bermimpi. Kita hidup dalam kuasa pikiran yang tak pernah dibiarkan berhenti. Tak henti-hentinya tertarik ke masa lalu dan terdorong ke masa depan. Dan kita menyangka kita sungguhan hidup. Guru saya pernah berkata: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mind is always delayed. Evaluating is the job description of the mind. That’s why, the mind is always slightly behind, and at the same time always trying to be slightly forward so it can protect.&lt;/span&gt; Hal itu juga dikonfirmasi oleh penjelasan Pak Hudoyo saat diskusi, pikiran adalah alat manusia untuk bertahan hidup, tapi ketika pikiran dijadikan penuntun maka selamanya kita terseret-seret ke masa lalu yang sudah tidak ada dan masa depan yang belum terjadi. Kita bermimpi sekalipun kita terjaga. Kita bermimpi tentang cinta, tentang hidup, dan tentang Tuhan. Tanpa menghentikan pikiran, tak sekalipun kita mengalami cinta, hidup, dan Tuhan yang sesungguhnya. Yang ada hanyalah konsep dan upaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat meditasi sore hari ke-2, entah bagaimana awalnya, tapi saya sebagai subjek mendadak melemah, dan saya tersadar bahwa selama ini saya hanya terpusat pada fenomena yang terjadi pada diri saya—pikiran, perasaan, kenangan, fisik—tapi tidak sekalipun saya memperhitungkan fenomena di sekitar saya seperti suara burung, suara mobil di kejauhan, atau bunyi gesekan karpet. Pengamatan saya yang tadinya berbatas seperti sorot senter, mendadak meluas seperti lampu ruangan. Dan saya menyadari bahwa hal-hal kecil yang saya lewatkan ternyata fenomena yang sama rata dengan pegal kaki atau celotehan benak saya. Setelah diberi perhatian yang serupa, mendadak tak ada yang menetap. Label lenyap, hanya murni mengamati. Dan pengamatan ini menghentikan 
