Tuesday, December 04, 2007

"Mirror, Mirror On The Wall..."

“Mirror, Mirror On The Wall…”


Saya teringat awal tahun ’90-an ketika produk pemutih wajah pertama kali diperkenalkan. Saya baru mulai kuliah saat itu. Saya tak ingat persis yang mana, tapi saya pernah mencoba memakai salah satu produk tersebut, tidak lama-lama karena kurang cocok. Dan dari masa itu hingga sekarang, tak terhitung lagi banyaknya aneka produk pemutih kulit yang ditawarkan berbagai produsen. Cara mereka beriklan pun semakin luar biasa cerdik. Putihnya kulit dihubungkan dengan peluangnya menemukan cinta, dengan putihnya hati nurani, dengan kebahagiaan, hingga perebutan jodoh dalam tujuh hari. Gosong akibat kebanyakan beraktivitas di bawah terik matahari tidak lagi menjadi alasan yang spesial.

Mereka yang kurang putih digambarkan murung, tak mendapat perhatian cukup, selalu dilewatkan oleh sang pujaan, alias tak bahagia. Sementara mereka yang sudah putih atau akhirnya berhasil putih menjadi lebih semringah, diperhatikan orang-orang, dan mendapatkan cinta. Singkat kata, lebih bahagia.

Melihat iklan-iklan itu, saya jadi bertanya-tanya, mengorek-ngorek ingatan saya: pernahkah saya bertemu kasus di mana seseorang ditinggalkan karena kurang putih? Atau pernahkah saya sendiri, ketika harus menentukan pasangan, mendasarkan penilaian saya atas kadar melanin kulit mereka? Jujur, saya belum pernah. Pada akhirnya, yang membuat saya betah bersama dengan seseorang adalah kecocokan, ketersambungan sinapsis, hati, dan jiwa. Sesuatu yang tak bisa diverbalkan atau bahkan divisualisasikan.

Dibutuhkan waktu sepuluhan tahun, dan beberapa kali menjadi duta produk perawatan kulit, hingga akhirnya saya memahami bahwa kata ‘memutihkan’ cenderung menyesatkan (beberapa perusahaan lantas memilih kata ‘mencerahkan’ karena dianggap lebih realistis). Dibutuhkan pengalaman hidup untuk akhirnya mampu menyimpulkan bahwa tampilan fisik—termasuk di dalamnya: warna kulit—bukanlah penentu dalam menghadirkan cinta dan kebahagiaan.

Dibutuhkan pula obrol-obrol dengan para insan periklanan dan perfilman untuk tahu bahwa bintang iklan pemutih kulit memang sudah putih dari sananya. Kalaupun kurang putih, masih ada lampu, bedak, dan sulap digital yang mampu menghadirkan citra apa saja yang dimau sang pengiklan. Dibutuhkan juga buku genetika dan memetika untuk akhirnya memahami mengapa para perempuan tak hentinya berlomba-lomba mengikuti standar cantik masyarakat, dan para pria tak usainya bepacu menjadi yang paling kaya dan sukses, di luar dari batas logika mereka.

Beberapa hari yang lalu, saya terlibat diskusi dengan beberapa teman pria saya. Mereka mempertanyakan, kenapa kok pasangan-pasangan mereka, tak henti-hentinya menyoalkan berat badan, gaya busana, kecantikan kulit, dan sebagainya. Saya berceletuk, karena kompetisi genetika. Mereka yang lebih cantik akan punya peluang lebih besar untuk mendapatkan pasangan. Argumen saya dibalas lagi: tapi kan mereka sudah memperoleh pasangan—yakni, teman-teman saya tadi. Lalu, kok masih terus-terusan repot? Mereka repot berdandan untuk siapa, dan untuk apa? Padahal teman-teman saya tidak merasa memberikan aneka tuntutan atas penampilan mereka. Kalau sudah cinta, ya, cinta saja.

Jika kaum perempuan mendengar pernyataan itu, pastilah mereka bilang bahwa teman-teman saya itu spesies langka, atau mungkin cuma munafik. Tidak ada pria di muka Bumi ini yang tidak menginginkan pasangannya cantik dan menarik. Namun saya tidak terburu-buru melempar komentar senada. Apa yang dibilang teman-teman saya cukup logis, memang. Kalau pasangannya sudah dapat, jadi buat apa lagi repot?

Lalu saya berceletuk lagi, bahwa selama perempuan itu masih subur, dan selama pasangannya pun masih sanggup bereproduksi, kompetisi genetika tidak akan pernah selesai. Baik perempuan, maupun laki-laki, akan selalu berada di bawah bayang-bayang kendali primordial mereka: prokreasi. Agenda genetika hanya satu: kelangsungan hidup dan replikasi diri. Bagi kaum hawa, kebutuhan itu lantas diterjemahkan menjadi kompetisi keamanan dan kepastian bagi dirinya serta keturunannya. Bagi kaum adam, penerjemahannya adalah kompetisi menjadi yang terkuat agar berpeluang besar untuk meneruskan keturunan.

Dalam perkembangan peradaban, tentu konsep ini pun semakin canggih dan berlapis-lapis, walau jika dikupas isinya sama-sama saja. ‘Kuat’ pada zaman batu berarti cerdik dan tangguh hingga mampu menghadapi ancaman predator. ‘Cantik’ pada zaman itu artinya subur hingga mampu beranak banyak. Sekarang, ‘kuat’ berarti aset finansial, ‘cantik’ berarti dada-pinggul besar, berdandan seksi, cerdas, dan seterusnya. Silakan dikupas, dan kita akan menemukan inti yang sama: keamanan dan jaminan prokreasi.

Seumpama jerapah yang berevolusi hingga lehernya panjang, otak manusia pun berkembang sedemikian rupa hingga kita bisa berkomunikasi dengan akurat sampai akhirnya menjadi spesies penguasa. Dilihat dari proporsi tubuh kita, para hewan akan melihat bayi manusia sebagai makhluk aneh dengan otak yang terlampau besar. Dan itulah hadiah evolusi untuk manusia. Sebagai makhluk tak bercakar, tak bertaring, dan kulit yang terlampau halus, manusia berhasil menjadi spesies dominan karena kecanggihan otaknya dan keterampilan jemarinya.

Manusia bukan pula semata-mata budak genetika. Evolusi spesies kita menghadirkan satu elemen lain, yang dikenal dengan istilah: akal budi. Lewat akal budi pulalah lantas tercipta ‘aku’ atau ‘ego’. Binatang tak memiliki ini. ‘Aku’ otomatis menciptakan ‘kamu’, ‘kita’, ‘mereka’, ‘dia’. ‘Aku’ menciptakan keterpisahan. Dan ‘aku’ jugalah yang mendambakan penyatuan. Inilah dualitas mendasar, harga yang harus dibayar untuk menjalankan kehidupan sebagai spesies bernama manusia. ‘Aku’ adalah sarana vital agar kita semua mampu melangsungkan hidup, tapi ‘aku’ juga bisa menjadi sumber segala bencana—jika kita hanyut dalam ilusi yang dihadirkannya. Hadiah evolusi ini menjadi pedang bermata ganda.

Kini, kita melihat dan menuai hasilnya. Di satu sisi, dibungkus dengan konsep cantik seperti ‘asmara’ atau ‘gaya hidup’, manusia bisa mengeruk habis isi bumi dan kecanduan sensasi indrawi. Di sisi lain, dibungkus dengan konsep adiluhung seperti ‘cinta’ dan ‘ilahi’, manusia pun bisa menjadi malaikat pelindung bagi makhluk lain, berpuasa, bahkan hidup selibat. Hewan, yang sepenuhnya dikuasai agenda genetika, tidak akan mengenal konsep berpuasa demi kesucian. Instingnya akan selalu mengatakan ‘makan!’ jika lapar, ‘kawin!” jika musimnya kawin.

Saat mulai riset untuk Supernova “Partikel”, saya menemukan banyak fakta menarik. Kesenjangan DNA antara simpanse dengan gorila ternyata lebih jauh tiga kali lipat dibandingkan dengan kesenjangan DNA antara simpanse dengan manusia. Yang artinya, manusia lebih mirip simpanse, ketimbang simpanse dengan gorila—yang padahal di mata kita sama-sama monyet. Konon, Carolus Linnaeus memisahkan manusia dari bangsa hewan hanya karena takut dimarahi pihak gereja. Pada kenyataannya, kita bertetangga lebih dekat dengan binatang, ketimbang antar binatang itu sendiri. Tidakkah ini lucu?

Saya tergeli-geli ketika tahu fakta itu. Betapa dahsyatnya aparatus bernama ‘aku’ sehingga kita dimampukan untuk mengabaikan fakta dan lantas menyebut diri makhluk mulia. Pernahkah kita renungi, bahwa terlepas dari kemampuan manusia untuk menjadi sungguhan mulia, tapi atas nama kemuliaan, kita sering terlena dalam ilusi kolektif kita sebagai representatif agung yang ditunjuk Tuhan untuk menjadi penguasa langit dan bumi hingga tak sadar bahwa kita pun sedang membunuhnya perlahan?

Inilah yang menjadikan manusia makhluk paradoks yang luar biasa. Kita adalah arena pertempuran antara gen dan mem yang pada dasarnya hanya ingin mereplikasi diri, tapi isi agendanya tak selalu sejalan. Kita adalah konflik yang berjalan di atas dua kaki, dari mulai kita bangun pagi hingga kembali tidur.

Kembali pada obrolan saya dengan teman-teman saya. Mungkin sama seperti Anda, pada titik ini mereka pun garuk-garuk kepala, mengapa pembahasan soal iklan pemutih bisa berkembang liar menjadi urusan taksonomi, genetika, dan memetika? Saya pun berkata, bahwa gelinya saya ketika tahu segitiga DNA manusia-simpanse-gorila sama dengan gelinya saya waktu menonton iklan pemutih wajah itu. Apa yang mereka reklamekan sesungguhnya bukanlah perlombaan menuju bahagia, melainkan perlombaan genetika yang tak ada hubungannya dengan kebahagiaan, putihnya hati, atau cinta sejati. Sebaliknya, kita berpotensi besar untuk berpacu menuju ketidakbahagiaan, karena agenda genetika tak mungkin dipuaskan.

Muncullah pertanyaan kami bersama: apa gunanya tahu tentang perbudakan gen dan mem ini kalau memang tidak bisa dilawan? Saya pun kembali merenung. Mungkinkah itu dilawan? Tidakkah hal tersebut menjadi konflik baru? Mungkinkah, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah menyadarinya? Dan mungkin saja, dari penyadaran itu, kita lebih awas dan hati-hati dalam bertindak, dalam memilih, dalam memilah? Hingga kita bisa lebih bijak dan menahan diri untuk mengonsumsi sesuatu? Hingga pedang bermata ganda ini dapat dipakai dengan konstruktif, bukannya destruktif?

Mengetahui sesuatu tak selalu berujung pada perlawanan. Karena perlawanan tanpa kebijaksanaan akan berujung pada perang reaksioner yang sia-sia. Tak selamanya tombol primordial itu ‘buruk’, bagaimanapun tombol-tombol itu ada untuk pertahanan diri dan merupakan paket dari eksistensi kita. Namun tak selamanya pula tombol-tombol itu harus terus dipenuhi dan diberi reaksi. Dengan laju peradaban dan kapasitas manusia yang kini begitu luar biasa, seringkali kita memang harus lebih banyak menahan diri—bukan atas nama penyangkalan, tapi justru untuk kelangsungan kehidupan bersama, koeksistensi dengan semua makhluk, termasuk spesies kita sendiri.

Dengan demikian, kita lebih bisa memusatkan fokus dan energi kita untuk hal-hal yang esensial. Jika yang dicari putihnya hati, seberapa relevankah lagi zat seperti hydroquinone atau vitamin B3? Jika yang dicari adalah ketenangan batin, seberapa relevankah lagi papan sit-up, ikat pinggang penghancur lemak, pil pelangsing, sumpalan silikon, hidung lebih bangir, dan seterusnya? Dan seperti buta, kita justru melewatkan hal-hal yang membuat diri kita lebih tenteram dan mawas.

Sore itu, di dalam toilet saya bercermin, lalu bertanya pada diri sendiri: akankah saya bertambah bahagia jika kulit saya lebih putih, mulus tanpa cacat cela? Mungkin iya, mungkin tidak. Namun sanggupkah saya mentransendensi apa yang saya lihat di cermin, dan menyadari bahwa bahkan yang namanya kebahagiaan pun tak lekang, bahwa terbebasnya kita dari konflik—meski hanya semenit-dua menit—adalah kedamaian sejati, yang hanya bisa dilakukan bukan dengan menahan melanin atau menghapus keriput, tapi menyadari dan menerima keadaan kita apa adanya sekarang ini, fisik dan juga mental?

Saya rasa, itulah pertanyaan yang sesungguhnya. Dan saya pun tahu, pertanyaan semacam itu tak akan laku jika diiklankan. Namun saya juga yakin, pertanyaan itulah yang menggantungi setiap dari kita, spesies manusia, dan menggetok kepala kita satu hari, pada satu momen yang sempurna.

* Gambar dipinjam dari fotosearch.com

50 komentar:

bedh said...

saya rasa ketika kebahagian sejati menjadi suatu impian yang terasa sangat sulit dijangkau maka kebahagian ilusi menjadi pilihan yang logis. huhuhuhu menyedihkan memang.

daus said...

kalau diminta menjadi bintang iklan produk2 itu, mau nggak?

Dewi Lestari said...

Tergantung konsepnya apa. Pada intinya hampir semua iklan menjual ilusi. Saya pernah membintangi iklan kopi, dan di situ direlasikan antara minum kopi dan mendapatkan inspirasi. Pada kenyataannya, kita bisa terinspirasi sambil minum apa saja, atau tidak sedang sambil minum pun bisa.

Namun selama konsep yang disajikan tidak bertentangan dengan logika, dan yang terutama, nurani, saya tidak keberatan menjadi jubir atau bintang iklan produk. Selama saya pun menyadari bahwa semua ini adalah pada dasarnya adalah permainan industri 'berjualan citra' dan perdagangan citra ini punya aturan mainnya sendiri. Saya pun punya 'citra' sebagai barang dagangan saya. Syukur2 matching sehingga bisa bermitra, kalau tidak buat apa dipaksakan?

Jika konsep produk yang ditawarkan pada saya adalah berpacu menjadi lebih putih demi cinta dan kebahagiaan, kemungkinan besar saya tidak bersedia atau minta konsepnya dirombak. Dan kemungkinan besar pula, pengiklan yang memang menginginkan konsep tsb juga tidak akan terpikir untuk mengontak saya. They must have dozens of other candidates, and I won't be in the list. Simply, perdagangan citra ini hanya soal siapa yang matching dengan siapa. There's no right or wrong.

Jooliet said...

supernova partikel kapan release?

nice story... especially, perbandingan genetika simpanse-manusia-gorilla nya.
Makes me wonder gmana klo semua specimen tersebut memakai produk pencipta citra tadi. apa jadinya ya?
(a silly question... strongly advised to not think about it)

Ollie said...

Bukan 'putih'-nya yang sumber kebahagiaan tapi feeling confident dan 'pengakuan' dari orang lain itu yang membahagiakan.

I guess :D

dodski said...

saya merasa bahagia dengan warna kulit saya yang eksotis ini... halah :-D



http://dodymania.blogspot.com

anggunpribadi said...

Laki-laki juga menjadi korban loh mbak. Melalui iklan di media terbentuk konsep pemikiran di kepala mereka bahwa wanita yang harus dipilih adalah yang masuk kriteria Lux dan Sunsilk.

Harapan agar manusia lebih banyak membaca dan membuka pemikirannya tentang konsep cantik semoga akan lebih terbuka dimasa yang akan datang. Amien..

Edja said...

Dear Dee and friends,

When I read the post, I started to memorize how I evolved through times.
As a high school kid, I did care about what I'm gonna wear every weekends, is my hair spike enough or tuff enough to be seen in the crowds. Am I hanging out with the best crowd or not. It's true that people do care about what they think other people might think about them.
Now, as I evolved. Those thing still matters, but not so much. There are bigger things in life that I value more than just my mere self. And it is love that puts aside those things. Physical appearance, ego, selfishness, competition, and such, it doesn't really matter. Love yourself for who you are. With that humbleness, we all could be a better person for a better society. We just need to sharpen the saw.

If you care, please take a look of this video called Sunscreen in youtube. Here's the link:
http://www.youtube.com/watch?v=xfq_A8nXMsQ

Visit anthonyreza.nomadlife.org

Djo said...

mbak tulisannya bagus :) percaya bener yak.. sama "Selfish Gene"..hehe, tapi ternyata apapun based theory-nya, finalnya ternyata tetap kata "sadar", sayangnya tidak semua orang bisa menemukan moment yang membuat jadi "sadar"...because it seems sangat tergantung pada konsep pribadi sesorang, yang dibentuk sepanjang hidupnya dan atau kemauan untuk berusaha keras belajar hal-hal yang penting, yang akhir-akhir ini tidaklah banyak dimiliki oleh makluk-makluk yang paling sempurna ini..ah maaf komentar saya cenderung pesimistic..

-Djo-
penggemar Dee juga

Jenny Jusuf said...

Seorang teman pernah mengeluh pada saya, anak perempuannya yang berusia 5 tahun mendadak jadi rajin cuci muka -nggak pagi, siang, sore, malam- setelah nonton iklan produk pencerah kulit yang menampilkan perempuan2 cantik berkulit putih. Si kecil ngotot cuci muka setiap saat -- walau hanya membasuh muka dengan air, pokoknya cuci muka. Dan setiap habis cuci muka, ia selalu bertanya, "Fanya udah putih belum, Mi?", berkali-kali.
Saya mendengar cerita itu dan mendadak jadi 'sebal' sendiri. Fanya seorang bocah manis berambut ikal dan bermata bulat besar, tapi kulitnya agak gelap. Buat saya, dia adalah gadis kecil yang 'sempurna'. Manis, sangat sayang dan ngayomi pada adiknya, rajin belajar, taat pada orangtua, dan banyak lagi. Sayangnya, di usia sekecil itu, ia sudah 'belajar' merasa tidak percaya diri oleh warna kulit, jauh di atas semua hal positif yang dimilikinya sebagai seorang bocah.

rini said...

aduh, aduh, saya setuju sekali sama posting ini!

mbak dee rox!

Ahmad Simanjuntak said...

Postingannya panjang banget, tapi mencerahkan :)

ade said...

Sepakat, mbak dee!!!
saya contohnya. tanpa bermaksud membanggakan, saya adalah perempuan berkulit coklat tua dan bangga akan itu. tetapi saya di terima dimana pun saya berada, bukan karena kulit saya. saya dihargai bukan karena saya putih atau tidak. dan bahkan, lelaki yg pernah jadi pacar2 saya, umumnya berkulit cerah dan bertampang di atas rata2, sampe2 ada teman yg bercanda, jampinya apaan?
intinya, berfikirlah di luar kotak. bahwa cantik itu relatif dan standarnya berubah di setiap zaman. saatnya sekarang kita merubah standar itu.

caca said...

saya setuju dan merasa agak aneh dengan perkataan beberapa orang yang saya kenal. Ketika seoran teman berkata lebih senang kepantai karena bisa berpanas-panas ria tanpa merasa perlu menjadi bahan tertawaan, tetap saja ada yang berkomentar bahwa teman saya kebarat-baratan. Sementara ketika ada teman wanita saya yang setiap bulan selalu sibuk memperkenalkan produk pemutih yang tengah dipakai tak ada yang berkomentar malah cenderung ingin mencoba dan tak merasa terkesan kebarat-baratan.
sepengetahuan saya, bukankah kita yang tinggal dikawasan tropis sebenarnya membutuhkan melanin lebih banyak sebagai usaha untuk menyesuaikan diri dengan iklim yang ada? rieut lah!

mitora in life said...

bener2 nih mba dee, tulisannya gigit.. ^_^

snydez said...

lho? koq ironis ya?
marcel malah mendukung produk kosmetik tersebut (dengan jadi pengisi acara)

Madé Harimbawa said...

mungkin di antara sebab-sebab lain, ketakutan terbesar kita adalah kesepian, ditinggalkan kelompok, keluarga dan orang-orang lain.

(domba) yg hitam di antara kerumunan yg (putih) mungkin menjadi sendiri, eksklusif, dan rentan (diserang).

yg unik menjadi terlalu 'menantang', dan yg tak serupa sering dianggap 'aneh'. Lalu, (seperti domba) kita rela tergiring oleh ide-ide semacam ini (kulit putih, otot gedhe, atau menjadi sekurus model) demi merasa aman dan menjadi nyaman.

Dewi Lestari said...

Hai semuanya... interesting comments from you all.

To Snydez: jangankan Marcell, saya pun pengisi acara kok untuk acara itu. For me, as a professional, tidak ada masalah kok kami berpartisipasi. Dan ini juga yang sepertinya harus digarisbawahi, posting saya tidak ditujukan untuk anti atau pemboikotan produk tertentu. Bagi saya pribadi, as long as we work our parts proportionally, professionally, there shouldn't be any problem at all.

Yang saya tekankan dalam posting ini adalah penyadaran kita untuk mentransendensi berbagai 'ilusi' yang ditawarkan pada kita setiap harinya. Tak jarang, pada akhirnya kita memilih untuk memakai produk tertentu, terlepas dari betapa ilusif dan muskilnya cara produk itu diiklankan. But we all have our reasons.

Dalam dunia periklanan, yang lazimnya terjadi adalah 'perkawinan citra'. Setiap pertimbangan pemilihan duta atau bintang iklan didasarkan atas citra yang dianggap sesuai. Namun untuk pengisi acara lepasan, hubungan yang terjadi tidak 'seintim' itu.

Saya pernah jadi bintang iklan optik, padahal saya tidak berkaca mata. Saya jadi bintang iklan kopi saat dosis ngopi saya sudah tinggal secangkir sehari, sekarang bahkan sudah berkurang jadi cuma dua teguk. Namun selama perkawinan citra yang terjadi selaras dan proporsional, saya merasa baik2 saja. Begitu juga dengan pihak yang mengontrak saya.

Yang perlu kita waspadai hanyalah pemaknaan yang kemudian bisa menggiring pemahaman kita jauh dari tujuan sebenarnya.

tan_intan said...

http://youtube.com/watch?v=5XF66Ku4a9U
a must watch! mungin banyak yang udah pernah nonton kali, bagi yang belum.. worth trying!

Celoteh Riang Duniaku said...

buat saya sih ga ngaruh putih apa engga, yang penting dianya cakep |^_^|V trus saya dan dia sama-sama ngerasa cocok satu sama laen, thats all. btw ada ga sih iklan yang engga hiperbolis?? iklan layanan masyarakat aja kadang suka berlebihan

caca said...

Saya kadang heran, saat ada orang kita (Indonesia maksudnya)bangga dengan kulit coklat malah disebut kebarat-baratan, sementara orang-orang yang berebut untuk putih - meski hanya diwajah saja, sehingga perbedaan warna antara kulit wajah dan leher begitu signifikan, malah dianggap biasa saja....

Sherlie Yulvianti said...

Geez mbak.. Reading this title really knock me in the head! Selama ini kita hanya terpaku atas kecantikan semu belaka. But still i love my dark skin. Anyway, kapan lanjutan supernova terbit? I can't wait to read. I have all ur books! Keep up the good work! Regards to ur fams!

Anonymous said...

"Jika konsep produk yang ditawarkan pada saya adalah berpacu menjadi lebih putih demi cinta dan kebahagiaan, kemungkinan besar saya tidak bersedia atau minta konsepnya dirombak"

boleh tau ga, mbak dewi... kira2 konsep apa yg Anda persiapkan, kalau2 tiba2 ada agecy yg siap berganti konsep demi Anda agar bisa menjadi endorser nya...

thx :)

Anonymous said...

setiap membaca atau habis membaca tulisan/postingan mbak D , tetep ngerasain goosebumps :). selalu keren abis dan mengena banget.

salut mbak
cisca

dyanitsa said...

PUTIH.....adalah obsesi sebagian besar wanita Indonesia, termasuk saya *dulu*

paradigma PUTIH = CANTIK diciptakan oleh pihak-pihak komersil yang punya tujuan mulia untuk mencapai target penjualan tahunan, di sebuah negara yang mayoritas Rakyatnya sudah pasti lebih memiliki kulit coklat indah...

dan saya sangat setuju dari komentar yang dikatakan edja, bahwa sebagai manusia terutama hisup di Indonesia yang sangat "kekeluargaan" pendapat orang lain koq selalu sangat penting....

PUTIH bisa jadi alat untuk "mencuri" cinta lama (ingat iklan dengan konsep sinetron yang sedang tayang di TV2 Swasta Indonesia)membuat kita jadi berpikir "simple" atau "picik?" bahwa kalau kita lebih PUTIH mungkin kita bisa mendapatkan "cinta lama" yang sudah 5 thn tidak bertemu dan bahkan akan terikat pernikahan 7 hari lagi....

Apa iya, hal semacam itu bisa terjadi hanya karena PUTIH??

http://dyanitsa.multiply.com/
i am just 1 of dee admirer

boim said...

once again thanks dee...:P you speak up my "monkey mind"...

to me its kinda frustating to live among "mind what other said bout me" comunnity!! :(
n trying hard everyday to living in moments, seeing everthing as what they are, but mostly i keep falling into " the illusion world" n what i hate most... I enjoy it :(

Iman Brotoseno said...

sebenarnya ini khan permainan dari lembaga riset juga..dan dilain pihak juga menunjukan aspirasi masyarakat Indonesia. Yang melihat kecantikan dari rambut lurus, kulit puutih, padahal saya pengen juga buat film iklan shamppo yang rambutnya ikal keriting..

Merry Magdalena said...

Dee, saya pernah juga membahas hal yg mirip di blog saya: http://revolusihidup.blogspot.com/2005/11/katakan-tidak-pada-mode-keparat.html

venus, http://venus-to-mars.com said...

saya melihat konsep dan definisi 'cantik' itu kok cuma akal2an media dan para kapitalis pemilik modal dan owner dari pabrik2 kosmetik ya, mbak? :D

Pipit said...

tapi ya mba2 dan mas2, ada lho teman cowo saya yg mengejek pacar saya. Soalnya dia ngga dapat cewek yg putih dan berambut panjang (saya jauh dari standar bintang iklan pemutih dan iklan shampoo). Teman saya itu kalo menilai cewe yang penting putih dan berambut panjang lurus. Korban banget ya? Kalo masalah otak nomer sejuta. Untung cowo saya bilang dia ngga mau pacaran sama kuntilanak.

Ladies n gentlemen, ingat ya bahwa setiap bunga itu cantik dengan caranya sendiri-sendiri.
Love,
www.puspitaindahlestari.wordpress.com

brokenstairs.blogspot.com said...

saya membayangkan seorang dewi lestari yang menjadi pengisi acara sebuah produk pemutih kulit, seorang teman saya yang cukup idealis yang bekerja di sebuah stasiun televisi yang begitu kapitalis, atau seorang aktor hebat yang bermain dalam sinetron kejar tayang... they put a big smile on my face :)

saya harus belajar lebih banyak tentang 'work our parts proportionally and profesionlly'...

sukses ya 'teh..

Anang, yb said...

Saya sih tak pernah pakai whitening... tapi tak bakal menolak andai diminta jadi bintang iklan.
(tapi ini juga mustahil. Lha aku kan cowok).

Kita emang hidup di dunia citra, Dee.
Dan beruntunglah cewek yang semirip Barbie, citra paling sempurna yang dibuat industrialis.

Tak ada tempat bagi wanita berkulit gelap, rambut keriting, pendek, berlemak disana-sini, kaki pecah-pecah...

Itu kali ya konsep bibit-bobot-bebet di mata calon pengantin pria saat ini?

Entahlah. Aku udah nikah nyaris sepuluh tahun lalu...

el said...

euh..
kitu pisan.
aing!


sebutlah aku adalah orang yang "semi anti tivi". mau ga mau, mengaku tv hater juga mesti menjadi tv watcher.

barang asing yang diijinkan ini merupakan debu pertama yang terhirup dan bercokol dalam jantung pemikiran.

terbukti, maniak tv hanya mengedepankan trend dan blagu eksistensi.
beda dengan simpanse yang diajarkan mengurutkan angka, dan mampu mengalahkan mahasiswa dalam uji kekuatan memori.

ekstremnya; aku lebih baik jadi simpanse daripada harus mendewakan tv.
thanxlovesorry.embrace..
el
virusvipe.blogspot.com

Unee said...

One question.. " supernova - partikel " kapan keluarnya ?..

memet said...

graet!!!!!1

meity said...

Sore itu, di dalam toilet saya bercermin, lalu bertanya pada diri sendiri: akankah saya bertambah bahagia jika kulit saya lebih putih, mulus tanpa cacat cela?

Mungkin yang terbaik adalah, bertanya pada nurani kita dan menemukan jawaban yang sejujur-jujurnya bahwa sebenarnya kita sudah bahagia dengan keadaan sekarang atau akan merasa bahagia ketika kulit kita lebih putih mulus tanpa cacat cela atau ketika itu terjadi kebahagiaan itu belum bisa kita rasakan atau sama sekali kita tidak akan merasa bahagia.

setra said...

"asalnya memang tidak ada apa2 jadi ilusi apa yang harus dibersihkan?"

:)

pencapaian tertinggi yang sampai saat ini belum terealisasi

setra
http://gitarprinsip.com

Enna said...

Dee.. it's really great article..!!
Could I forward to my friends ?
Knock their head..!!

Vahn said...

Aritikel yang menarik.
Tapi... pertanyaan saya sama seperti yang lain. Supernova-nya kapan keluar lagi? Kangen nih...
Oya, "Filosofi Kopi" keren loh, Mbak.

nengDJ said...

putiih..nggak akan selamanya..yang alami, nggak ada yang kekal sampai kapanpun..meski mau pakai berbagai macam jenis kosmetik, kalau sudah waktunya, ya sudaah..
yang keriput akan tetap keriput..
lalu yang botox, tidak akan selalu membotox-in dirinya seumur hidup, bukan?
yah..nggak bisa dipungkiri..kita wanita butu cantik! ^_^

dan memang mba dee, cinta itu nggak cukup dengan cinta saja, lelaki betapa tidak mengertinya, bahwa kita sebagai wanita, memiliki tingkat was-was yang jauh lebih tinggi akan keberpalingan pasangan..
kadang betapa tidak mengertinya mereka, kita ini jauh lebih menerima apa adanya mereka, ya kn ya??:)

salam kenal mba dee, menyenangkan baca tulisannya..terus berkarya yaaa dudu.

wysmedia said...

sad emang ... tp woman will be look beautifull when she think she is beautifull and she think she would be usefull for others.

Anonymous said...

hi, it has been a long time 4 me not to write or say something...

but today is a very special day and i just would like to say:

happy new year 2008

4 u all

may u all always be happy
and find happiness within urself

may all beings be happy

hansen_zinck @ yogya
31 des 07 (waiting 4 the last minutes of this year)
peace...

tamara said...

=) entah mengapa, saya makin mengagumi kulit cokelat saya setelah membaca posting ini =)
happy new year, mbak dee! ^o^/

Anonymous said...

Tak terasa,sungguh sekedipan mata tahun 07 kini berlalu..
Waktu,laksana panggung virtual terbentang entah mana awalnya dan entah pula kan berakhir diujung mana...
Tek..tek..tek..satu detik melangkah meninggalkan detik lainnya. Ketika manusia mencoba mengurai guratan-guratan yang telah dilukiskannya di atas kanvas waktu, takjub kita mendapati. Peradaban materil melesat sedemikian dahsyat. Pencapaian kemajuan dunia benda telah sampai pada level nano teknologi. sebutir pasir dapat disalin rupa menjadi nanokomposit yang lebih keras dari intan sekalipun. Kualitasnya dapat diupgrade 1000x dari sifat dasarnya. Namun ketika manusia mencoba merefleksi, sudah sampai titik manakah peradaban spiritualitasnya?
Evolusi sense of truth hati manusia seolah tidak tidak bergerak kemana-mana. Hati dibiarkan kosong karena betah berkutat pada segala rupa tetek bengek superfisial. Apa yang menjadi penting sekarang adalah APA YANG ANDA PUNYAI bukan SIAPA ANDA?
Apakah Anda punya kulit menawan? Putih, kinclong, bebas keriput? Seperti yang pernah dikeluhkan seorang rekan saya,hal yang paling ditakutkannya adalah menjadi tua. Tak ayal,ajakan suntik vitamin c pun disambut. Demi menghambat penuaan dalihnya.
Demikianlah sahabat, manusia-manusia sekarang ramai yang memilih mengisi kepala dan hatinya dengan superfisial, artifisial matter. Ramai pulalah manusia bertopeng yang ditelorkan dari berhala ujud ini. Manusia yang rela disiksa oleh cemas dan khawatir ketika waktu menggerogoti elastisitas kulitnya. Rela dikuasai oleh minder jika kulit tak cukup putih,hidung tak cukup mancung,mata tak cukup belo',hidup guncang oleh segala masalah rupa ini. Tak heran bila di Korea trend bedah plastik tak tanggung2. Bukan sekali dua kali, bisa sampai puluhan kali! Make over kata orang2
Sekali lagi, wajah peradaban kini lebih banyak menelorkan spesies manusia topeng! Manusia yang memilih menggadaikan hidup dan hatinya pada segala bentuk kepemilikan...
Regards,
Chindy Tan-Jogja, 1 Januari 2008

Anonymous said...

Gw baru baca Blognya Dee, yang gw baca cuma Mirror...i like it..
Jujur gw suka gaya nulis Dee, dari Supernova tapi yang terbaru belum baca.
Saya jatuh cinta pada Bodhi, kok bisa?
Bodhi hidup Dee..Sumpah..Cerita tentang penginapan kumuhnya, cerita tentang perjalanan unintended tapi sebenarnya intended..tentang ladang ganja yang aku sampai sekarang masih berpikir itu real apa imajiner?
Tau gak Supernova akar kuceritakan ulang pada Uwa-ku yang tinggal di Purwekerto.
Aku kisahkan pengalaman spiritualisnya dengan guru Liong, karena Uwa ku concern juga pada masalah spiritual, dia salah satu aktivis aliran kebatinan...yang non religi, maksudnya tanapa pandang religi.
Dia terkagum..dan entah aku merasa senang dengan kekagumannya itu.
Sayangnya ketika itu tak sempat kuberi pinjam bukunya. Bukuku di Bandung, aku sedang di Purwokerto waktu itu..
Ok, itu review aku tentang karya Dee, yang cukup spektakuler, dan gw bangga Indonesia punya Dee..

Tentang pemutih itu...
Aku sering dipusingkan dengan iklan-iklannya yang gaet advertiser dan bintang mahal...
jujur...mana sih iklan yang bagus selain produk komunal yang dijual laris manis bagai Surabi NHI di masa kejayaanya...
Ya..kognisi masyarakat telah dibutakan dengan iklan itu..
Gw menyayangkan, sebagai alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi, kok temen-temen praktisi iklan dengan komunikasinya yang luar biasa itu..,nggak adil juga jika harus mengklaim iklan itu sebagai "pembodohan" , tapi tak bisa juga dibilang pencerdasan masyarakat.
Masyarakat harus mencerdaskan diri jika tak ingin dibodohi!
Atau bisakah jika mengekang jor-jorannya iklan itu, sedangkan UU Periklanan setahu gw tak membahas itu.
Iklan pemutih biasanya pake tanda bintang..sebagai syarat
untuk kondisi tertentu..cerdas mereka..
Tapi jikapun menyoal pengiklan, Media tak dapat hidup dalam iklan.
ini polemik Dee....
Hal mudah..kampanye aja tentang pencerdasan Konsumen
Apa tuh namanya Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Jika pun Dee mau meneruskan ini. Rasanmya kompetensimu itu cukup untuk menyoal ini.
Terus kampanyekan hal yang dirasa keliru, dan keep fightingt for ur literate...i like ur write style...
Ann Serendipity, Tenggarong, Kaltim

sunzhuo said...

Setelah baca artikel ini, saya lalu coba bertanya ke ibu saya.. "ma, motif mama berdandan dan pakai kosmetik apa? Apa benar karena ingin dilirik cowok lain? ingin dipuji? atau.. buat menunjukkan kalau mama lebih cantik dari ibu2 lain?

Seketika otot wajah ibu meregang, terbentuk simpul senyum di wajahnya.. campuran ekspresi lucu, heran, bengong, dan mungkin tersanjung [karena pertanyaan saya secara tak langsung mengakui kalau ibu saya memang awet dan ayu]

"Aneh aneh aja! Ga mungkin dong mama mau cari suami baru! Dan ga pernah tuh ada maksud menyombongkan diri!"

"Lalu ngapain dong habisin duit buat permak diri?"

"kalau kita mampu tapi pakai baju compang-camping, tampang lusuh, dll, itu namanya mengundang kemiskinan. Orang lain juga segan mau berbisnis dengan kita. Lagipula menjaga kebersihan diri menunjukkan kalau kita menghargai diri sendiri kan? Kalau kita sibuk menghargai orang lain tanpa pernah memperhatikan diri, kebahagiaan akan terasa hambar loh. Trus sebagai makhluk Tuhan, kan lebih baik kalau kita memperbagus apa yang diberikan sewajarnya.."

Begitulah rangkuman pernyataan yang menggantung yang mengakhiri diskusi kami seperti telepon yang digantung, sementara di ujung gagang lain terdengar bunyi tut tut tut ga nyambung.

Bodo ah. Mending mikirkan hal lain yang lebih esensial. :)

dhodotes said...

notulasi (*apaan lagi tuh) Carik'e di paragaraf terakhir.

produk apapun, Yu, apalagi 'barang' ginian, kalo cuma diiklankan 99,99% gak akan laku. yang dibutuhkan adalah sales bibir monyong yang jago. calon konsumen harus didatangi door2door, gimana caranya bibir itu ngowozzz, so -then-next konsumennya beli deh tuh 'barang'. Jelas tidak akan laku 'barang' gituan cuma diiklankan. katakanlah kita sendiri sebagai calon konsumen, lebih sering kita butuh ditemani, dituturi, dirangkul, akan lebih mudah nyadari parameter bahagia daripada ngelihat si X, ooo gitu tho cara si X nyikapi hidup shg dia bhgia, tapi kalo nyukapi sendiri hanya dengan lihat iklan gitu ya lebih banyak yang kesulitan daripada yang bisa nerapin.

butuh sales bibir monyong dah. pertanyaannya, kalo satu waktu kondisi nuntut kita jadi sales, bisa gak ya?

uLan aQua said...

i like this post, mbak..

yati said...

ah, pemutih menipu. kalo udah putih, brambut lurus, tinggi, ramping, trus nyambung kalo ngomong? rasanya, jaraaaanggg...malah nyaris ga ada.
saya lebih tertarik ma bukunya. terbit kapan mbak?

Arman said...

hmmm... tetap memperhatikan penampilan walaupun udah punya pasangan tidak selalu karena ingin membahagiakan pasangan. tapi mungkin lebih karena ingin membahagiakan diri sendiri.

dengan penampilan ok, jadi lebih pede, akhirnya juga akan memberikan energi positif buat diri sendiri.

kalo saya sih ngeliatnya begitu. dan itu adalah hal yang positif (untuk tetap memperhatikan penampilan sendiri baik untuk cewek maupun cowok). karena toh kita diberi raga untuk dipelihara kan?

tinggal caranya aja yang bagaimana. ada yang merasa perlu pake make up, ada yang perlu pake pemutih. ada yang memilih untuk berolahraga supaya bentuk badan tetap terjaga atau jaga makanan.

yang penting hasilnya adalah... hati ini rasanya senang! :)