Tuesday, September 16, 2008

Birth of "Rectoverso"


Setiap karya adalah anak jiwa. Dan pada tanggal 3 September 2008 lalu, saya baru saja resmi “melahirkan” sepasang “bayi kembar” bernama RECTOVERSO.

Inilah karya pertama saya yang mampu menghadirkan kedua wajah saya sekaligus: musik dan fiksi, album dan buku, Dee yang menulis dan Dewi Lestari yang bermusik.

Rectoverso juga merupakan karya hibrida pertama di Indonesia yang memadukan kedua dunia tadi menjadi satu karya yang utuh meski terpisah secara wujud. Karena itulah, Rectoverso bukan sekadar karya, melainkan sebuah pengalaman. Dalam pengalaman Rectoverso, fiksi dan musik saling bercermin, melengkapi, dan menggenapkan.

Ke tangan Anda, saya persembahkan: 11 Lagu. 11 Kisah. 11 langkah untuk menelusuri lorong hati lebih jauh lagi. Saya ajak Anda untuk melangkah bersama. Alami Rectoverso. Dan sesudah itu, kiranya Anda sudi berbagi catatan pendek tentang perjalanan Anda menyelami karya ini. Terima kasih saya dari hati yang terdalam.

Berikut beberapa sharing pengalaman dari sahabat-sahabat saya yang sudah mencicipi Rectoverso. Saya undang Anda untuk turut berbagi. Dan sekali lagi, terima kasih atas kata, air mata, dan izinnya.

Andrea Hirata (Penulis):

Daya tarik unik tulisan Dee adalah ia selalu menghormati intelektualitas pembaca.

Sitta Karina Rachmidiharja (Penulis):
Memaknai Rectoverso (melalui mata dan telinga) adalah kegiatan menggugah nurani sekaligus meneduhkan jiwa. Ilustrasi rintikan hujan, kilauan cahaya, tunas-tunas muda yang baru tumbuh, dan pucuk dandelion yang beterbangan... kesemua itu bukannya tanpa arti, karena Dee mengajak kita mengolah otak dan hati secara bersamaan dengan kemampuannya yang masif dalam mengurai kata, kiasan, serta metafora yang tidak hanya indah dan cerkas namun juga intim.

Riry Silalahi (Gitaris “She”):

Sekarang dua lagu dari Rectoverso menjadi RBT gue, hehe. Sejak dengar album itu, gue nulis lagu yang gue mau, yang menurut gue indah. Nggak melulu industri. So, thank you for that.

Goenawan Mohamad (Penulis, Kolumnis):
Di balik bentuk dan desain buku ini yang mungkin teramat “ngepop”, Dee bercerita dengan kejernihan dan kelembutan yang memukau. Kisah-kisahnya (“Malaikat Juga Tahu”, “Firasat”) adalah empati yang, tanpa berlebihan, menjangkau ke dalam hidup mereka yang mencintai dan tak berdaya. Bagi saya, cerita-cerita ini karya Dee yang terbaik: matang tapi tetap dengan rasa yang murni, sederhana tapi menampilkan apa yang luar biasa dari permukaan yang biasa.


Richard Oh (Penulis):

Dari buku ke buku, Dee membuktikan diri sebagai penulis yang semakin mapan dalam eksplorasi gaya bahasa dan memancangkan penguasaannya di wilayah kisah-kisah bermakna spiritualitas.

Seno Gumira Ajidarma (Penulis):

Rectoverso seperti puisi dalam sebelas bagian, ketika bukan alur maupun cerita yang penting melainkan nuansa bahasa dan suasana hati penuturnya berbicara. Menurut pengamatan sekilas saya, Rectoverso adalah lompatan dari buku-buku Dee sebelumnya. Karya ini membuat kita menghargai, menghormati, dan menikmati dunia personal.

Titi DJ (Penyanyi):

Ada sensasi baru! Saya nikmati benar sensasinya, karena pada saat yang bersamaan mata saya – yang membaca novelnya, dan kuping saya – yang mendengar albumnya, berkolaborasi dengan manisnya untuk mengenyangkan “lapar dan haus” saya akan karya Dee.

Melaney Ricardo (Penyiar Trax FM, Presenter, MC):
Ibarat shampoo, Rectoverso is 2 in 1. So you really got to have it both. Sebagai orang yang awam akan kesusastraan, buku “Rectoverso” menurut gua adalah karya Dee yang lebih ‘manusiawi’. Meaning, lebih ringan terutama buat orang yang nggak betah baca sesuatu yang terlalu tebal kayak gue. Isinya cerpen-cerpen singkat tapi tetap sarat makna. And that happens to be SOOO DEEE, hehehe. Dan albumnya, hmm, what can I say… she is the jargon maker after Rihanaa with that ‘ela-ela’ thingy. Coz suddenly everybody start saying ‘malaikat juga tahu aku yang jadi juaranya’ either for their status in Facebook or even put it in their daily conversation (lol). It’s really a hit!

Ninit Yunita (Penulis, Blogger):

Rectoverso, karya yang indah dari Dee. Membuat saya ketagihan untuk berulang membacanya. Indah dan begitu mudah menyentuh jiwa. Demikian juga ketika mendengar musiknya. Dee selalu, secara natural, dengan mudah membuat pembaca jatuh cinta dengan karya-karyanya. I love Rectoverso!

Deddy Nur (Sutradara, Artist Manager):
Aku selalu angkat topi buat seorang Dewi Lestari yang menciptakan maha karya yang begitu indah. Seakan kita hanyut dalam buaian kata yang seolah kita sendiri yang mengalami lembar demi lembar, apalagi Dewi Lestari tak berhenti sampai di sana. Ia menginspirasikannya lagi dengan lagu-lagu bersyair dan bermelodi yang indah. Aku sebagai teman hanya bisa berucap: “Kamu yang jadi juaranya.”

Calvin Michel (Blogger):
Agak sulit mendeskripsikan warna musik pada album ini selain “menenangkan”, karena ada campuran pop, jazz, elektronika, ambient, orkestra, etc. Yang pasti semuanya dikemas dengan rapi dan membuat musik-musik di album ini sangat cocok bagi mereka yang menyukai musik santai dan melepas lelah. Album ini mirip seperti musik-musik lounge yang memberikan efek relaks bagi pendengarnya.
Lima track yang paling saya sukai dalam album ini adalah “Curhat Untuk Sahabat”, “Malaikat Juga Tahu”, “Aku Ada”, “Cicak di Dinding” dan “Tidur”.
Akhir kata, saya mengucapkan selamat kepada mbak Dewi Lestari dengan perilisan karya artistik ini, yang bisa berdiri sendiri namun merupakan satu kesatuan. Anda bisa menyentuh orang lain melalui tulisan, nyanyian dan kedua-duanya.

* See Republik Babi for a complete review.

Fahd Jibran (Penulis, Blogger):
Rectoverso mungkin hanya menuliskan kisah-kisah sederhana, tapi kesederhanaan itulah yang membuatnya tidak berjarak dengan para pembacanya. Seperti saya yang menikmati “Selamat Ulang Tahun” sebagai refleksi dari kisah malam ulang tahun saya sendiri—yang benar-benar pernah saya alami dalam kenyataan. Benar-benar terasa, benar-benar dekat. Setelah menyelesaikan kisahnya, saya mendengarkan lagunya, dan: gelombang itu datang, seperti ombak yang memeluk erat mata kaki kita, mengajak kita berlepas dari gigir pantai, menuju laut untuk menyelami kedalaman maknanya, mabuk laut kata-katanya.
Hibridasi lagu dan kisahnya telah benar-benar menjadi Rectoverso yang me-rectoverso. Lagu dan kisahnya tidak hanya saling bercermin dalam kedalaman maknanya, tapi juga saling bercermin bahkan di wajah terluar mereka. Rectoverso dalam komposisi 11:11, membuat saya tahu bahwa berkomunikasi dengannya adalah menghilangkan pembatasnya, melebur dengannya: satu-satu bacalah kisahnya, satu-satu resapilah maknanya.
Kritik saya sederhana saja, untuk buku yang masuk jadwal beli saya di akhir bulan menjelang Lebaran. Harganya membuat saya kesulitan mencarikan budget yang tepat dan memadai. Apalagi, untuk mahasiswa yang harus mudik seperti saya, harganya agak mengganggu kenyamanan dompet saya. :) Soal bukunya, ada beberapa gambar/image dan foto yang bagi saya kurang ‘berbunyi’… Entah kenapa…
Akhirnya, kali ini aku mengucapkannya tidak seperti perpisahan, bukan juga perjumpaan, melainkan sebuah kesadaran (Aku Ada, hal. 36). Di atas semua itu, saya mesti mengucapkan banyak-banyak terima kasih untuk kehadiran Rectoverso di ruang baca saya, dan tentu saja, angkat topi untuk ibu yang melahirkannya.

* See Ruang Tengah for a complete review.

Saraswaty (Blogger):

Cerita-cerita di Rectoverso bisa diibaratkan seperti sosok-sosok sekitar kita yang biasa dimunculkan di film. Ibu, Pecinta, Pemurung, Pekerja, Gadis Biasa, Orang-orang yang Kehilangan.
Tapi, pemeran yang menghidupkan sosok-sosok ini melakukan PR-nya dengan sangat baik. Pemeran utama ini seperti telah melakukan observasinya selama beberapa tahun. Dia mengerti perasaan Ibu yang memiliki cinta yang luar biasa, kemudian berpindah menjadi seorang pecinta akut di beberapa kisah, kemudian kembali menghayati perasaan gadis biasa yang menolak untuk menjadi luar biasa. Kemudian, saya sadar… bukankah itu semua cerita yang ada di sekitar kita? Bukankah itu kita?
11 Lagu 11 Kisah. Saya membaca Rectoverso seperti cara makan Oreo, diputer (mendengarkan intro lagu), dijilat (mulai membaca cerita + pause lagunya), trus dicelupin (setelah dibaca setengahnya, lagu baru dimulai lagi). Hehe, 11 kali juga saya mengalami perasaan “pertama ga ngerti liriknya soal apa, lalu tiba-tiba senyum-senyum sendiri karena akhirnya merasa menemukan arti dan kaitan lirik dan cerita.”
Jadi, buat yang belum mengenal Rectoverso… dengar fiksinya, baca musiknya, dan rangkullah keduanya dengan hati.

* See Saraswaty for a complete review.

Jay Subiyakto (Seniman):
Kombinasi indah antara literatur dan musik yang merangsang visual. Tapi liriknya membuat saya sedih. Selamat, Dee!

Happy Salma (Aktris, Penulis):
Lagu-lagunya nempel di kepala dan… mmm… ceritanya membuat kita lebih dekat secara emosional dengan sang penulis.

Jo Priastana (Jurnalis):
“Peluk” – Rectoverso: Adakah kebahagiaan dan ketidakbahagiaan itu satu adanya? Dan hanya ilusi waktu yang memisahkannya karena rasa bahagia itu nyatanya hanya bentukan dari identifikasi dengan kondisi yang rentan perubahan. Mungkin dengan terhubungkan diri kepada yang tak terwujudkan dan mengizinkan pudarnya apa yang telah terbentuk di situlah terdapat ketenteraman dan kedamaian. Rectoverso is Dewi’s celebration of life!

Daniel Ziv (Penulis):
Menikmati alunan musik Rectoverso seketika membangkitkan keindahan, kecerdasan, dan kesejukan. Orisinalitas karya ini begitu mencuat di tengah lansekap musik Indonesia yang tertebak dan cenderung ‘ikut-ikutan’. Rectoverso adalah kombinasi dari visi yang konsisten, bakat yang unik, dan kerja keras.

Nanda (Senior Marketing):

Jika diizinkan aku pingin kasih opini dari 2 sisi, selaras dengan Rectoverso sendiri (hehe, ikut-ikutan). Opini pertama adalah dari keseluruhan paket yang kuterima. ‘Love the design, colors, and drawings. Especially the photographs of rain in “Firasat”. It succesfully touches my heart through my eyes. I like most of the stories, esp. “Curhat Buat Sahabat”, “Aku Ada”, dan “Back To Heaven’s Light”. Basically, semua cerita ini bagaikan alter ego Dee. Berbeda tapi satu nyawa. Dan tiap membaca suatu cerita, aku selalu mencium aroma Dee di mana-mana.

Jenny Jusuf (Penulis, Blogger):
Rectoverso berulangkali membuat saya jatuh cinta. Menangis. Tertawa. Merenung. Terdiam dalam hening. Terhanyut di dalamnya hingga kata-kata kehilangan makna. Sebelas kisah di dalamnya tak membosankan untuk dibaca berulang-ulang, dan sebelas lagunya telah sukses menjadikan saya pecandu dalam beberapa hari saja. Merasa hidup tak lengkap jika tak menyetelnya begitu bangun tidur dan mendengarkannya hingga mata siap menutup. Mungkin ilustrasi yang cukup pas untuk menggambarkan sensasi yang muncul dari pengalaman membaca dan mendengarkan Rectoverso adalah bagai menaiki rollercoaster yang bergerak lambat. Merasakan energi dan adrenalin terstimulasi, terpompa dan termanifestasi dalam berbagai wujud. Terus bergerak naik-turun tanpa perlu membangkitkan bulu roma. Atau seperti mengonsumsi narkoba dalam jumlah sedikit namun rutin. Rasa yang diberikannya membuat hati terus menagih untuk menikmati lebih dan lebih lagi. Jika Supernova adalah virus, maka Rectoverso bagi saya adalah zat adiktif. Candu bagi jiwa. Racun yang tak butuh penawar. Suplemen hati yang bebas dikonsumsi sepuasnya tanpa khawatir overdosis. Selamat, Mbak Dee. Sayang saya hanya punya empat jempol. :-)
* See Simple Pieces for a complete review.

Larasati Silalahi (Penyiar Hard Rock FM):

Kalau boleh memberi pendapat pribadi, “Rectoverso” bisa jadi obat untuk orang-orang yang selalu mengklaim dirinya ‘logis’, bahkan dalam urusan yang menyangkut perasaan, seperti cinta. Kadang-kadang, tidak ada gunanya menjadi sok kuat dan tidak memakai hati. Kadang-kadang memang firasat kita harus lebih main daripada logika. Kadang-kadang kita lebih baik mempercayai apa yang tidak bisa dilihat. Kadang-kadang kita memang harus berhenti mencari kalau semata hanya ingin mengerti. Buat apa memakai (hanya) logika kalau tubuh, jiwa, dan roh tidak sinkron? Keindahan “Rectoverso” juga terletak pada fakta hibrida-nya, karya ini lebih baik dinikmati bersamaan. Karena kalau tidak, kita bisa tersesat dalam pemikiran atau asumsi sendiri. Sebut saja lagu “Malaikat Juga Tahu”, setelah single-nya diputar di banyak radio ibukota (termasuk di Hard Rock FM :-)), banyak penikmat musik Dewi Dee Lestari yang sibuk menerka cerita di balik lirik yang sangat jujur itu, tidak sedikit juga yang mengirimkan e-mail dan sms ke gw untuk berdiskusi. Namun gw yakin, ketika kita membaca bukunya, semua imajinasi pribadi langsung luntur sesaat. Gw suka kutipan kalimat Dewi Dee Lestari pada cerita “Grow A Day Older”, “A perfect chocolate bar should be bitter sweet, not all sweet, and certainly not all bitter, for then you lose all the fun.” Itulah kehidupan, itulah cinta. Ada pahit dan manis, gelap dan terang, siang dan malam, hidup dan mati, dan seterusnya. Itulah “Rectoverso”, bukan untuk dimengerti, tapi untuk dinikmati.
* See Larasati Silalahi for a complete review.

Stella (Blogger):

Membaca sebelas cerita tersebut memberikan saya pengalaman emosional yang beragam dalam satu trip. Terkadang membawa saya membumbung setinggi awan, terkadang menghempaskan saya ke bawah dengan cepat. Buku ini di genggaman saya terasa seperti bar pengaman yang masih menghubungkan saya dengan dunia nyata. Jika harus memilih, saya akan memilih 'Peluk' sebagai cerita favorit. Saya cukup yakin cerita itu berbicara mewakili banyak insan. Menakjubkan bagaimana Dee berhasil merangkum jeritan dan tangisan hati dalam simfoni kata-kata, yang indah namun tidak picisan. Every word fits one another perfectly. Dan efek gambar serta foto yang mengikuti di akhir cerita, telah berhasil membunuh saya detik itu. Memaksa saya untuk melepas genggaman tangan dari bar pengaman dan ikut menghilang sejenak. Mempersiapkan hati untuk menghadapi kenyataan. Even if all my fingers are thumbs, i still need to borrow another thumbs.
Thanks Dee! Congratulations!

* See Konnyaku for a complete review

Riko (Musisi, Gitaris "Mocca")
Merasakan (membaca dan mendengar) Rectoverso seperti bercermin. Banyak potongan puzzle saya yang bertaburan di dalamnya. Sedikit nggak percaya ternyata embrio Rectoverso ini dari lagu "Hanya Isyarat", yang dulu kita olah dengan penuh keterbatasan. Saat melihat semuanya tumbuh dengan sempurna menjadi satu "gift" yang besar buat saya pribadi. Satu paket sempurna yang harus dibagi dan dirasakan for your loved ones.

Sitok Srengenge (Sastrawan)

Kisah-kisah dalam Rectoverso ini semakin meneguhkan keyakinanku: Dee adalah seorang di antara sedikit penulis Indonesia yang tak hanya cerdas, tapi juga piawai bercerita dengan tema-tema unik serta bahasa yang segar, energik, dan otentik. Setiap karya yang dihasilkannya memberi sumbangan berharga bagi khazanah sastra kita.

Sarah Sechan (MC, Presenter)

Brilliant piece of work! Love it! Mau nangis baca cerita "Malaikat Juga Tahu", maybe because I'm a mother. Ngebayangin si Abang itu kehilangan, pilu bangeeeeet! Gue juga suka cerita "Peluk". Gue ngebayangin pada satu saat nanti harus pisah dengan seseorang, apakah gue punya kekuatan seperti itu; menyampaikan perasaan gue tanpa banyak omong, cukup dengan pelukan... edan. "Firasat" is also a favourite. Ah, semuanya, deh... gua suka semuaaaaa!!! Kau heibaaaaat!!!

Alex Sriewijono (Psikolog, Presenter TV):
Halaman terakhir Rectoverso baru saja kutuntaskan. Melihat orang yang lalu lalang dengan kacamata Rectoverso; kisah di belakang langkah yang bergegas, harapan di antara lontaran gumaman, dan isyarat di dalam rongga retina mata yang menatap. Bukumu tak berujung dan juga tak berakhir, seperti mengalirnya hidup bersiklus. Bukumu bisa terasa dengan dan tanpa penokohan, karena siapa pun bisa menjadi tokoh dan “people behind the screen” untuk setiap penggalan episode cerita kehidupan. “Punggung ayam” dan “air hujan” tetap tak beranjak dari ruang pikirku walau sampul belakang tidak menyisakan kata lagi untuk dinikmati.

Gery (Penyiar Female FM, MC):
Terima kasih aku dikasih kesempatan untuk bisa dengar setiap huruf di dalamnya, membaca setiap melodi senandungnya, juga melihat bau birnya. Karena kamu betul, akhirnya yang tertinggal pada kita adalah bahasa rasa. Sunyi tapi ramai, diam tapi bergerak, harum tapi terang, jatuh tapi melambung. Selamat buat Hidup yang ada di tiada. That is you, Dee!

Iwet (Penyiar Hardrock FM, MC):

Suka gaya penulisannya, suka cerita-ceritanya, dan menurutku, memang harus beli dua-duanya. Lengkap banget rasa yang ada di dalam Rectoverso itu. Aku ibaratkan, Rectoverso ini kopi susu. Ada yang suka kopi aja, ada yang suka susu aja, tapi kalo mau ngerasain yang pol, campurin deh dua-duanya. Rasanya jadi sangat kaya sekali.

Sulung (Manajer Artis):
Dee… gila ya loooo, bikin gua nangis mulai kemarin. Menangkap esensinya Rectoverso nggak boleh pakai otak tapi harus pakai hati. Ada keindahan di balik penderitaan, ada kegembiraan di balik penderitaan, semuanya ada dua sisi. Menurut gua, Rectoverso ini one the best albums and books this year. Dee nulisnya dari hati yang terdalam.

Temi (Penyiar Sky FM):

"Rectoverso membuat saya bisa lebih mengapresiasi cinta, menghargai perbedaan dan menerima kenyataan, dengan begitu kita lebih bisa memaknai hidup."

Shanty (Penyanyi):

Cuma satu kata: JUARA!!

Andi Rianto (Musisi):

Hiks… aku menitikkan air mata mendengarkan Rectoverso… Thank you so much for letting me be a part of this.

* Entry ini akan terus diperbarui seiring dengan komentar/review yang masuk.

Read More ..

Monday, September 01, 2008

Warna-Warni Kacamata-Kacahati

Warna-Warni Kacamata-Kacahati


Dalam dua bulan terakhir, begitu banyak eksperimen dan fenomena sosial yang saya jalani, baik sengaja maupun tidak sengaja. Begitu banyak pula pelajaran dan perenungan berharga yang saya peroleh dari rangkaian pengalaman ini.

Saat saya menuliskan artikel “Catatan Tentang Perpisahan”, respons yang saya terima sungguh di luar dugaan. Sejauh ini, itulah artikel yang memecahkan rekor komentar terbanyak di blog ini. Hampir semua artikel di blog ini berbasiskan pengalaman saya pribadi, tapi “Catatan Tentang Perpisahan” sepertinya begitu mengusik ‘dawai’ banyak orang. Entah karena kisahnya yang aktual, faktual, dan mengandung unsur sensasi, but it seems we all have our own saying when it comes to love, relationship, and God. Tiga topik itulah yang menjadi benang merah hampir semua komentar yang terlontar. Dalam boks putih itu, kita mengadu persepsi dan pengalaman kita atas ketiganya.

Saya akan berbagi dengan jujur tentang pengalaman saya pada posisi sebagai si penerima reaksi. Sampai komentar ke-60 sekian, saya masih amat peduli dengan apa yang dikatakan orang. Ketika saya merasa disalahmengerti, dihakimi, dianggap melakukan pembenaran atau bagi-bagi teori, saya masih merasakan kecewa, gemas, bahkan terkadang amarah. Padahal pengunjung blog ini, menurut saya, terbilang orang-orang yang intelektual dan masih santun dalam penyampaian opininya. Sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan forum-forum gosip di luar sana, di mana kesantunan atau intelektualitas sama sekali tidak dijunjung, bahkan jadi bahan tertawaan. Namun, tak urung hati saya terkadang masih bereaksi.

Begitu komentar sudah bergerak ke angka 100, saya mulai menyadari sesuatu. Hati saya melentur. Bukan berarti komentar yang masuk tidak lagi bermakna, tapi mulai menjadi “nggak penting”. Dan ketika angka itu terus bergerak… 150, 180, 200… saya mulai menyadari sesuatu lagi. Saya tidak lagi peduli. Sekali lagi, bukan berarti komentar itu kehilangan makna, tapi ia kehilangan rasa. Tak lagi manis, pahit, tak juga asam, atau asin. Tawar. Berlalu seperti angin tipis di atas air, hanya meninggalkan riak kecil lalu pergi tanpa bekas. Tidak lagi ada ombak atau debur yang menggebu.

Ada satu titik tolak yang akhirnya membawa saya ke fase ini, yakni ketika saya menyadari—secara empiris—bahwa kita sesungguhnya tidak bisa mengubah siapa pun. Ini bukan kali pertama saya tiba pada pemahaman tersebut. Namun setiap kali ada pengalaman segar yang kembali mengingatkan saya, rasanya ada kedalaman baru untuk menghayati kenyataan satu itu.

Selama ini, kita percaya bahwa kita bisa mengubah pandangan orang lain tentang kita, kita percaya bahwa dengan upaya yang maksimal kita bisa membuat diri kita dimengerti secara utuh, kita juga percaya bahwa kebenaran yang kita miliki—jika dikomunikasikan dengan sebaik mungkin—bisa menjadi kebenaran bagi orang lain. Rasa percaya itu sedemikian umum dan menjadi pegangan hampir semua orang, hingga ketika kita masuk ke dalam sebuah relasi, dengan siapa pun dan apa pun itu, dari mulai dengan manusia lain hingga Tuhan, kita menganggap bahwa kita punya kendali tersebut.

Namun, apa yang saya amati dari pengalaman saya sendiri—dan yang bisa Anda telusuri pula lewat kedua posting terakhir saya dan aneka komentar yang dilontarkan—setiap orang hadir dengan kacamata dan kacahatinya sendiri. Apa pun yang saya ungkap tidak pernah bisa utuh tertangkap sebagaimana yang saya mau. Seolah ada filter, pembatas, penyaring, yang mendiskon cerita saya secara otomatis di kepala pembaca. Sebaliknya, seolah juga ada amplifier, marker, kaca pembesar, yang tahu-tahu membengkakkan beberapa bagian tertentu saja.

Saya lantas membayangkan ilustrasi sebagai berikut: seseorang mencoba menceritakan sebuah alam yang hijau, lalu seorang lain berteriak protes, bilang bahwa alam hijau cuma bualan. Lalu ada yang membela, bilang ‘betul, kok, alamnya memang hijau.’ Tapi ada lagi yang menimpali, sebenarnya alam ini setengah hijau dan setengah ungu.

Lalu, seorang lain datang dan berkata pada mereka: orang yang menceritakan alam itu hijau memang benar, karena dia memakai kacamata berlensa hijau. Yang protes juga tidak salah, karena kacamatanya kuning. Yang sepakat hijau, ketika dicek, ternyata warna lensanya hijau muda. Jadi walau sama-sama hijau, tetap tidak persis sama. Yang bilang setengah hijau setengah ungu juga tidak salah, karena lensanya memang dua warna. Tersadarlah orang-orang yang ribut tadi bahwa selama ini, realitas yang mereka lihat termediasi selapis lensa. Dan orang terakhir tadi pun berkata bijak pada semua, sesungguhnya realitas yang sejati berwarna pink. Dan sepasang lensa pink bertengger di depan matanya, tanpa bisa ia sadari.

Realitas yang kita jalani amat bergantung dengan kacamata dan kacahati yang kita kenakan. Persepsi kita tentang Tuhan, misalnya. Seseorang yang percaya bahwa Tuhan punya kehendak, akan selalu mereferensikan kehendak Tuhan dalam setiap tindakannya maupun dalam menilai tindakan orang lain. Seseorang yang percaya Tuhan tidak ada, akan bicara lain lagi. Seseorang yang percaya bahwa hubungan cinta adalah perjuangan abadi menuju keabadian, akan selalu melihat cinta sebagai sasana perjuangan dan pengorbanan, hingga mereka yang menyerah dianggap kalah. Seseorang yang percaya pada absolutisme janji sehidup dan semati, akan selalu melihat akhirat sebagai plafon keberhasilan sebuah pernikahan. Dalam variasi pemahaman seperti itu, di manakah kebenaran sesungguhnya bersemayam?

Lensa semata-mata adalah lapisan persepsi yang kita tumpuk, rangkai, dan timbun melalui pengondisian, proses evolusi, dan perubahan yang kita alami sepanjang hidup. Lensa kita sangat mungkin berubah, bahkan terus berubah. Yang dulu berkacamata hijau sekarang bisa jadi merah, dan sepuluh tahun lagi berubah jadi putih. Namun, di mana letaknya kendali perubahan ini?

Dalam Law of Attraction, dikatakan bahwa hidup kita baru berubah jika kita mau melihatnya berubah. Law of Attraction bukan satu-satunya hukum dalam kehidupan, tapi untuk perihal satu ini, bisa disimpulkan bahwa kunci perubahan hanya ada pada diri sendiri. Saya tidak bisa mengubah pandangan Anda, hanya Anda yang bisa. Begitu juga sebaliknya.

Selama lensa kita berbeda, kita hanya bisa mengomunikasikan persepsi kita, menyaksikan bagaimana perbedaan kita bertumbuh dan berdinamika. Sayangnya, seringkali dalam kehidupan nyata, kita tidak puas dengan sekadar “menyampaikan”. Kita ingin mengubah seseorang agar sepaham dengan diri kita. Dan kita percaya dengan berkomunikasi yang baik dan benar (baca: baik dan benar MENURUT kita) maka kita mampu melakukannya.

Dan inilah yang saya amati: sesungguhnya kita tidak terlalu peduli pada kebenaran, kita bahkan tidak mengerti apa itu komunikasi sejati, kita hanya peduli pada lensa kita. Bukan apa yang ada di baliknya. Barangkali itulah yang menjadikan “pemahaman benar” sebagai gerbang akhir pencarian Gautama, bukan kebahagiaan. Bukan surga. Bukan juga neraka. Melainkan pembebasan dari keduanya. Dalam memahami secara “benar”, yang menjadi tujuan bukan lagi perihal benar atau salah, tapi memahami bagaimana keduanya bermula dan bagaimana kita bisa bebas dari jerat keduanya.

Kita semua menginginkan kebahagiaan, bahkan keabadian. Namun sesempurna apa pun lensa yang kita kenakan, seindah dan seadiluhung apa pun realitas yang kita lihat, lensa hanyalah lensa. Lensa tetap menjadi lapisan yang membatasi kenyataan yang kita pikir dan kebenaran yang sesungguhnya. Yang dilakukan oleh sosok seperti Buddha Gautama dan para pencari kebenaran lainnya adalah, mereka tak berhenti mengupas lensa mata dan hati hingga menemukan kebenaran sejati. Kebenaran tanpa lapis apa-apa.

Selama kita berada dalam tatanan realitas berlensa, selama kita masih bergantung pada kacamata dan kacahati kita untuk mengungkap kebenaran, saya dan Anda hanya bertukar kebenaran relatif. No winner, no loser. It’s always a zero sum game.

Saya teringat pengalaman setahun lalu saat mengikuti retreat Dyad di Ubud. Bagaimana bisa dua orang yang saling berhadapan lalu membicarakan sampah dan kerak hatinya bisa menjadi momen pencerahan dan penyembuhan? Bagaimana hal itu dimungkinkan? Dyad semata-mata mengajarkan komunikasi yang sejati. Saat seseorang berbicara, partnernya tidak menanggapi, menyela, menilai, dan menjustifikasi. Ia hanya memberikan perhatian, hadir dengan kesadaran penuh bagi lawan bicaranya.

Poin utamanya adalah, kedua pihak belajar memahami bahwa jika ada kesenjangan lensa antara mereka, perbedaan tersebut memang sudah demikian adanya. Bukan untuk disamakan, dipas-paskan, atau dikoreksi. Dan yang terjadi justru adalah keajaiban komunikasi: sebuah pengertian dan koneksitas yang mendalam, bahkan mencerahkan. Karena hanya melalui komunikasi sejati, lapis demi lapis lensa kita bisa terkikis, dan jika kita beruntung, kita mampu mengintip secercah-dua cercah indahnya kebenaran tanpa kacamata. Indahnya hati tanpa kacahati.

Saya sadar, komunikasi semacam itu sukar terjadi dalam forum seperti ini. Semua pengalaman dalam dua bulan terakhir ini hanya akan menjadi pengingat bagi saya untuk terus berevolusi dan bergulir dengan arus kehidupan. So, let’s move on with our life, our love, and our lenses. And for once, may we appreciate not only the beauty of our own spectacles, but also the differences around us all.
Read More ..