Showing posts with label Nature-Green-EcoLiving. Show all posts
Showing posts with label Nature-Green-EcoLiving. Show all posts

Wednesday, July 15, 2009

Dicekik Plastik

Dicekik Plastik


Sabtu pagi. Akhir pekan. Keramaian manusia di pusat perbelanjaan. Sungguh bukan pemandangan baru. Tapi saya baru tahu, mengantre di kasir supermarket di hari Sabtu pagi bisa menjadi pengalaman yang begitu miris dan mengiris.

Pagi itu saya belanja di Carrefour sendirian. Sambil menunggu pembelanja sebelum saya yang belanjaannya sampai dua troli, saya mengamati sesuatu. Lewat pengeras suara, beberapa kali terdengar imbauan untuk mengurangi sampah plastik, bahwa Bumi sedang mengalami pemanasan global, dan sudah tersedianya kantong belanja ramah lingkungan yang bisa dibeli dengan harga terjangkau (ada dua pilihan: dua ribu perak berbahan plastik daur ulang dan sepuluh ribu perak untuk yang berbahan polyethylene).

Lalu di dekat kasir, tertempel sebuah stiker yang bunyinya kira-kira begini: petugas kasir diharuskan untuk menawarkan isi ulang pulsa dan kantong belanja ramah lingkungan pada para pembeli. Saya memperhatikan kiri-kanan, termasuk pada saat giliran saya membayar tiba. Memang betul saya ditawari pulsa. Tapi tidak kantong belanja tadi.

Dan, berbarengan dengan pengumuman yang bergaung di seantero toko mengenai pemanasan global, saya mengamati bagaimana belanjaan demi belanjaan dimasukkan ke kantong-kantong kresek oleh tangan-tangan gesit yang sudah bergerak terampil bagai robot. Tak sampai penuh, bahkan kadang setengah pun tidak, mereka mengambili kantong plastik baru. Yang belanja pun tenang-tenang saja menyaksikan. Kenapa tidak? Berapa pun kantong plastik yang dipakai, itu sepenuhnya terserah pihak supermarket. Gratisan pula.

Sambil mengamati gerakan tangan gesit petugas, dalam hati saya bertanya: haruskah seboros itu? Barangkali memang kebijakan dari toko yang mengharuskan berbagai jenis barang untuk tidak digabung dalam satu kantong. Tapi kenyataannya, kantong-kantong plastik setengah penuh itu hanya berfungsi sebagai alat angkut dari kasir menuju troli, lalu dari troli menuju bagasi mobil, lalu dari mobil menuju rumah. Kalaupun beberapa barang beda kategori tersebut harus digabung, asal tidak terkocok-kocok di mesin pengaduk semen, seriously, what harm can possibly be done with those stuffs?

Saat saya harus maju, memang saya terlihat lebih repot dari yang lain. Saya mengeluarkan tiga kantong yang saya bawa dari rumah, lalu mengisinya sendiri. Bukan apa-apa. Kadang-kadang akibat pelatihan yang mengharuskan para petugas supermarket untuk memilah-milah barang membuat mereka seringkali tampak canggung dan melambat ketika harus menggabungkan santan kotak dengan kapas, atau piring dengan brokoli, atau pasta gigi dengan selai. Sementara bagi saya itu bukan masalah. Tiga kantong yang saya bawa dari rumah tampak gendut dan sesak. Beberapa barang besar seperti beras dan deterjen tiga kiloan saya biarkan di troli tanpa plastik.

Melajulah troli saya yang jadinya tampak aneh di tengah troli-troli lain yang didominasi tumpukan kresek putih. Rata-rata orang keluar dari sana membawa 4-6 kantong kresek. Belum termasuk plastik-plastik yang membungkusi buah dan sayur. Jika semua ini direkam dalam video, lalu satu demi satu gambar dihilangkan dan dibiarkan gambar plastiknya saja, niscaya kita akan melihat buntelan-buntelan putih licin yang mengalir bagai sungai dari supermarket menuju parkiran.

Superindo punya kebijakan yang selangkah lebih mending. Jika belanjaan kita cukup banyak maka petugas di kasir akan menawarkan pemakaian dus. Dan sudah ada dus-dus yang disediakan dalam jangkauan, hingga tak perlu tunggu lama untuk cari-cari ke gudang. Beberapa kali saya mengantre di kasir Superindo, saya menemukan banyak pembeli yang menolak pakai kardus meski belanjaan mereka banyak. Entah apa alasannya. Mungkin menurut mereka kurang praktis. Atau tidak terbiasa. Seperti Carrefour, Superindo juga menjual green bag, kantong belanja yang bisa dipakai berkali-kali. Green bag tersebut pun bisa didapat dengan gratis. Caranya? Mengumpulkan 70 stiker. Satu stiker didapat dengan belanja 10 ribu, dan stiker berikutnya di kelipatan 50 ribu. Jadi belanjalah dulu 10 ribu sebanyak 70 kali, atau belanja 3,5 juta untuk mendapatkan tas itu secara cuma-cuma. Wow.

Kasir di Ranch Market selalu bertanya pada pembeli: "Apakah struknya perlu dicetak?" dan ketika kita menjawab 'tidak' (karena seringnya memang tidak dilihat lagi juga), maka dia tidak akan mencetakkan struk yang berarti penghematan kertas.
Sedang dilaksanakan pula kegiatan adopsi pohon dengan biaya 95 ribu, di mana kita akan mendapatkan satu kantong belanja bahan kain goni yang ukurannya cukup besar dan satu pohon akan ditanam atas nama kita di Gunung Rinjani. 'Saudara'-nya Ranch Market, yakni Farmer's Market, secara rutin mengadakan hari "Belanja Tanpa Kantong Plastik", di mana setiap Selasa minggu ke-2 Farmer's tidak menyediakan kantong plastik sama sekali. Sama seperti Carrefour dan Superindo, jaringan ini juga menjual green bag dari bahan kain seharga 10 ribu-an.

Memang, dibandingkan beberapa tahun yang lalu, inisiatif dari pihak supermarket/hipermarket sudah jauh lebih baik dan kreatif. Namun, apakah tidak bisa kita bergerak lebih cepat, lebih tajam, dan lebih langsung? Dan, mungkinkah perspektif yang digunakan pun sebetulnya terbalik? Jika benar-benar ingin mengurangi sampah plastik, kenapa justru pembeli yang tidak ingin menggunakan kantong kresek malah menjadi pihak yang harus mengeluarkan biaya ekstra dan tidak mendapat insentif apa pun? Sementara yang pakai kantong kresek tetap melenggang kangkung tanpa sanksi apa-apa? Tidakkah ini jadi mengimplikasikan bahwa gerakan go-green itu 'lebih mahal' dan 'repot', sementara yang sebaliknya justru 'gratis' dan 'praktis'? Di mata saya, penjualan kantong-kantong ramah lingkungan tersebut pun, selama masih menggunakan bahan baku baru dan bukan hasil daur ulang, akhirnya cuma jadi komoditas biasa. Seperti halnya jualan sabun atau sayur. Sementara yang paling penting adalah BERHENTI memproduksi barang baru dan menggunakan ulang apa yang ada. Yang paling penting bukanlah mencetak tulisan "Selamatkan Bumi" di selembar kain kanvas atau di kain polyethylene lalu menjudulinya tas ramah lingkungan, melainkan membuat kebijakan yang benar-benar realistis dan berpihak pada lingkungan.

Dari data yang saya baca, di jaringan Superindo sendiri, penggunaan kantong kresek bisa mencapai 300.000 lembar per hari. 700 ton sampah plastik diproduksi hanya oleh Jakarta saja. Dan menurut Kementrian Lingkungan Hidup, komposisi sampah plastik di kota-kota besar seperti Surabaya dan Bandung meningkat sejak tahun 2000 dari 50% ke 70%. Kita benar-benar sudah dicekik plastik.

Pikiran saya terus berandai-andai: jika memang pemerintah tidak berbuat sesuatu untuk menekan produksi dan penggunaan kantong plastik, dan andai saya adalah pengambil keputusan di rantai supermarket tadi, maka saya akan menetapkan harga 2000-5000 rupiah untuk satu kantong kresek, yang barangkali akan lebih efektif untuk 'memaksa' orang membawa kantong sendiri ketimbang menjual kantong ramah lingkungan seharga 10 ribu. Dana dari 'sanksi' kantong kresek tersebut lalu disalurkan untuk kegiatan penghijauan dan aktivitas lingkungan hidup lainnya. Di sebagian negara di Eropa, ternyata pengenaan biaya pada kantong belanja telah berhasil menurunkan sampah kantong plastik hingga 90%.

Saya cukup salut dengan keberanian Makro. Barangkali cuma di Makro berlaku peraturan tegas di mana konsumen harus mengeluarkan uang 2000 rupiah untuk setiap kantong belanja. Setiap pembeli yang pergi ke sana mau tak mau harus siap mental untuk membawa kantong belanja sendiri atau berebut dus-dus kosong yang memang disiapkan di sana. Kebijakan seperti itu dapat dimaklumi karena Makro memang menjual barang-barang berukuran dan berkuantitas besar, jadi alasannya tidak melulu lingkungan. Namun bukannya tidak mungkin jaringan supermarket dan hipermarket lainnya mengikuti jejak Makro dengan mengusung alasan lingkungan, sebagaimana yang digaungkan lewat pengeras suaranya.

Saya keluar dari aliran sungai plastik tadi menuju mobil. Hati masih miris dan teriris. Sesekali bertanya, apakah khayalan saya ketinggian? Apakah realistis jika berharap pihak produsenlah yang berani muncul dengan kebijakan tegas, sementara para konsumennya sendiri tidak mau belajar mengedukasi dan melatih dirinya? Namun, sampai kapan kita bertahan di balik sekat-sekat kaku yang memisahkan pembeli dan penjual, pemerintah dan masyarakat? Sementara belitan plastik yang mencekik tanah dan air Indonesia sudah terlihat jelas di depan mata.


Read More ..

Sunday, March 29, 2009

Padamkah Lampumu Semalam?

Padamkah Lampumu Semalam?



Setengah jam sebelum pukul 20.30, saya dan Reza mulai makan malam. Kebetulan kami hanya berdua di rumah. Pembantu saya, setelah tahu kami akan mematikan listrik selama sejam nanti, minta izin main keluar. Setelah makan malam selesai, kami berdua duduk di ruang teve, menghadap kotak listrik hitam yang sudah padam itu. Reza mengambil bantal meditasinya. Saya mengambil posisi di sofa.

Pukul 20.30 tepat. Pembantu saya keluar rumah seraya mematikan sakelar utama di luar. Ruangan gelap total. Tak ada lilin. Tak ada deru AC. Tak ada bunyi getar kulkas atau dispenser. Kami mengandalkan sisa terang dari jalanan dan embusan angin dari dua daun jendela yang terbuka.

Empat puluh menit dari sejam yang digaungkan dan didengungkan seluruh dunia sebagai Earth Hour, kami duduk dalam kesunyian. Kegelapan. Sesekali terdengar suara-suara dari luar: satpam yang mengobrol dengan tetangga dan membicarakan bahwa banyak rumah di kompleks yang memadamkan listrik malam itu, anak tetangga mengobrol dengan ibunya sambil membunuh waktu sejam tak berlampu, bola basket beradu dengan aspal, suara kaki berlari-lari. Cukup banyak kegiatan di luar sana, yang hanya bisa kami nikmati dan amati lewat meditasi.

Sejak beberapa hari yang lalu, beberapa teman sudah mengumumkan partisipasi mereka di Earth Hour lewat status Blackberry atau Facebook atau e-mail. National Geographic bahkan berkomitmen untuk mematikan siarannya selama sejam. Earth Hour dibahas di teve, di radio, di majalah, di internet. Iklan “Vote for Earth” berkumandang di setiap jeda iklan teve Star World. Luar biasa, pikir saya. Sebegitu terhubungnya dunia hingga gerakan sederhana seperti mematikan lampu ternyata bisa dimobilisasi di satu muka Bumi ini. Bukan lagi utopi, melainkan sungguhan terjadi. Selama sejam kita ditantang untuk mengorbankan ketergantungan kita terhadap listrik dan memberi sehela napas pada Bumi. Entah berapa orang yang berpartisipasi, dan apakah bisa dihitung pasti? Namun, dengan melihat beberapa tetangga saya ikut berpartisipasi, saya tersenyum dalam hati. Ternyata masih ada yang peduli. Ternyata harapan itu tak terlalu tinggi.

Dua puluh menit tersisa. Kami berdua hanya ngobrol ngalor-ngidul, membicarakan hal-hal kecil sambil berbaring meregangkan tubuh. Meresapi sisa kegelapan dan malam yang berangsur sejuk. Sambil bangkit berdiri, Reza berkata bahwa ia tidak keberatan jika harus mengulang ritual sejam tanpa listrik ini dalam skala bulanan atau dua mingguan. Saya pun berpikir hal yang sama. Berapa jam lagi yang sudi kita persembahkan? Selagi kita masih bisa menyerahkannya sebagai persembahan, bukan karena keterpaksaan, atau karena keadaan.

Sakelar kembali dinyalakan. Listrik kembali mengaliri rumah kami; menghidupkan kembali lampu, AC, kulkas, dispenser; mendentingkan kembali keyboard dan kami pun bernyanyi-nyanyi. Semua kenyamanan ini… kemudahan ini… telah diberikan alam pada kita semua selama bergenerasi-generasi. Cuma-cuma. Jika sejam berpuasa dari itu semua dapat menolong alam untuk bertahan, tidakkah itu menjadi hadiah yang mudah, murah, sekaligus tak ternilai harganya?
Read More ..

Wednesday, June 04, 2008

Biyukukung: Saat Alam Menghamili Padi

Biyukukung:
Saat Alam Menghamili Padi

(Published - Pikiran Rakyat)



Minggu ini saya akan pergi ke Bali—ke Ubud, tepatnya. Tempat di mana sawah menjadi bagian inheren dari pariwisata. Penginapan tempat saya biasa menginap juga dikelilingi sawah, yang jaraknya hanya sekian langkah dari teras kamar.

Terakhir kali ke sana, saya sempat menontoni seorang bapak tua membajak sawah dengan bajakan sederhana yang harus ia tarik mengelilingi sawah. Jangankan mesin, pakai bantuan kerbau pun tidak. Sesekali, ia menggemburkan tanah dengan kakinya sendiri.

Sambil sarapan pagi, saya membatin dalam hati: “Kapan pertanian Indonesia bisa maju kalau begini caranya?” Sementara pertanian di Amerika sudah hampir seluruhnya dioperasikan mesin, bapak tua itu masih membajak tanah dengan cara yang barangkali sama dengan para petani seratus tahun lalu. Memandangnya bergerak lamban menyusuri lumpur seolah menyaksikan artefak kuno diarak di Silicon Valley. Sungguh ironis, pikir saya waktu itu.

Saat check-out, perhatian saya tiba-tiba tertumbuk pada satu kata yang tak pernah saya perhatikan, meski saya melihatnya setiap hari, yakni nama hotel tempat saya menginap: “Biyukukung”. Dan saya tergerak untuk bertanya pada sopir hotel, “Beli, Biyukukung artinya apa?” Dia lantas menjelaskan, Biyukukung adalah nama upacara yang dilakukan saat padi “hamil”. Saya spontan tertawa geli. Baru kali itu saya mendengar kata “hamil” diperuntukkan buat padi.

Namun, entah kenapa, konsep padi hamil itu terus mengusik pikiran saya. Setibanya di rumah, saya melakukan riset kecil-kecilan. Dalam sebuah jurnal tentang sistem Subak, yang waktu zaman sekolah dulu saya kenal sebagai sistem irigasi sawah di Bali, saya terhanyut dan tercengang melihat begitu sakralnya sistem pertanian tradisional Bali. Subak bukan semata-mata mekanisme irigasi, bukan sekadar alat tekno-sosial, melainkan pemahaman dasar para petani Bali bahwa pertanian merupakan satu entitas tersendiri yang terajut dengan ekosistem dan spiritualitas. Petani di daerah tertentu akan menyesuaikan perilaku bertaninya bukan hanya berdasarkan kondisi tanah dan air di tempat itu saja, tapi dengan seluruh elemen alam, termasuk nilai religi masyarakat setempat dan para Dewa.

Sekurangnya ada 27 nama upacara yang saya temukan, dari mulai untuk penyemaian benih, menyiangi, pengangkutan, penyimpanan, sampai pengeringan. Setiap upacara berkorespondensi dengan Dewa tertentu yang disesuaikan dengan tujuan dan keberhasilan fase demi fase. Pada fase Biyukukung, misalnya, para petani berdoa kepada Bhatara Surya untuk restu dan perlindungan. Pada fase pengeringan, atau Nedunang Pari, mereka minta restu pada Bhatari Sri untuk proses akhir dari padi mereka. Sebelum dikenal pestisida dan insektisida, hama diusir hanya dengan mantra dan sesajen. Setiap hama memiliki mantra dan sesajennya sendiri; mantra penanganan hama tikus lain dengan mantra mengusir monyet, dan seterusnya.

Penjelasan tentang Subak membuat saya berpikir ulang tentang kesimpulan saya saat menontoni bapak tua di sawah itu. Selama ini kita begitu mengagungkan pertanian modern karena kecepatan dan keberlimpahannya dalam memenuhi kebutuhan manusia. Namun dalam kecepatan itu, kita memutus hubungan sakral kita dengan alam. Tanah hanya tanah. Bibit ya cuma bibit. Padi ya hanya padi. Semuanya adalah alat yang melayani kebutuhan manusia, yang bisa dikendalikan dengan teknis dan mekanis.

Saat kita berbicara soal intensifikasi pertanian, yang kita bicarakan adalah seberapa besar lahan gambut yang bisa disulap jadi subur, seberapa besar volume panen bisa kita genjot, seberapa banyak padi yang bisa kita timbun. Dan dalam prosesnya, entah berapa juta ton racun yang kita kirim ke tanah, dari mulai pupuk kimia hingga pestisida, demi kemakmuran umat manusia. Saat pertanian menjadi masalah mekanis, kita lupa bersimpuh pada alam yang melimpahkan begitu banyak bagi kita secara cuma-cuma. Kita tidak lagi memaknai makanan di piring kita sebagai wujud karya persetubuhan matahari dan air, yang benihnya kemudian bersemayam dalam rahim tanah, tumbuh dan mengandung, untuk kelak kembali ke tanah, menunggu persetubuhan berikutnya antara matahari dan air. Kita lupa bahwa padi pun “hamil”.

Suku Indian di Benua Amerika sangat sohor karena hubungan mereka yang luar biasa dengan alam. Mereka begitu peka, tak cuma pada binatang, tapi juga tumbuhan. Seorang shaman akan pergi hutan untuk mencari obat. Ia tak tahu persis tanaman mana yang bisa berguna untuk kebutuhannya. Ia hanya menunggu tanaman tertentu “berbicara” padanya. Dan sebelum ia petik tanaman tersebut, ia masih menunggu tanaman itu memberi tanda terlebih dulu, mengungkapkan kesiapannya untuk dicabut. Dan sesudah itu, ia berterima kasih pada roh yang bersemayam dalam tanaman itu atas kerelaannya menolong manusia.

Cerita-cerita semacam itu menjadi dongeng bagi manusia modern. Termasuk 27 upacara menanam padi. Petani semi modern di Bali sudah tidak lagi mengandalkan mantra dan sesajen secara eksklusif untuk mengusir hama, mereka kini sudah mencampurnya dengan obat-obatan kimia. Yang bukan petani lebih-lebih lagi, kita bahkan tak tahu betapa beras merupakan bahan makanan pokok yang paling repot untuk diproduksi. Saat kita pergi ke pasar, melihat berkarung-karung beras siap ditimbang dan dibawa pulang… saat kita masak, melihat nasi putih panas yang masih mengepul dalam dandang… saat kita makan, mencampurkan nasi dengan berbagai macam lauk… semua ini menjadi adegan-adegan biasa yang kita jalani setiap harinya tanpa pernah ingat lagi perjalanan Sang Padi.

Mengingat itu semua, saya kembali berpikir ulang. Apakah intensifikasi pertanian satu-satunya jawaban dari kemelut pangan? Mungkinkah kita bergerak lebih dalam dari itu dan melihat bahwa ada yang hilang dalam relasi manusia dengan alam? Dan jika kita pulihkan harmoni itu, mungkinkah kita melihat hidup dengan cara yang sama sekali berbeda? Kita akan berpikir ulang sebelum membuang nasi, sebelum menyajikan makanan secara berlebihan, sebelum makan demi pemuasan dan bukan lagi kebutuhan. Dan upaya kita bukan lagi berdasarkan takut kurang, atau takut dimarahi pihak tertentu, melainkan karena kita memahami dan menghargai alam selayaknya sebuah entitas, bukan alat.

Tidak semua dari kita tahu dan mau tahu soal mantra dan sesajen. Namun saya percaya, alam punya intelijensi luar biasa yang mampu memahami niat dan isi hati kita tanpa batasan bahasa dan cara. Maukah kita mencoba, mensyukuri berkah yang kita lupakan ini, bukan dengan doa yang diucap sembarang karena refleks, tapi dengan setiap kata yang dihayati? Memandang nasi yang kita makan hari ini bak kumpulan mutiara—putih, dan berharga. Memandang mereka sebagai anak-anak hasil perkawinan alam yang telah dilimpahkan pada piring kita, sehingga menjadi gugus-gugus yang membangun tubuh dan jiwa kita.

Saya akan kembali ke Ubud dan melihat sawah di depan teras kamar saya nanti dengan pandangan yang berbeda. Dengan kata dan cara saya sendiri, saya ingin menyempatkan berdoa sederhana: untuk semua padi yang telah hamil demi saya makan, sejak saya di kandungan hingga saya kelak kembali menjadi abu, saya ucapkan terima kasih. Kalian telah menjadi bagian hidup saya, sebagaimana saya pun bagian dari kalian. Maafkan jika saya sering lupa kebenaran itu. Tapi saya percaya, dengan kata dan cara kalian sendiri, kalian tak pernah lelah mengingatkan saya.


* Foto sawah Ubud diambil dari highwaybali.com

Read More ..

Tuesday, May 20, 2008

Dua Pertanyaan Yang Berarti

Dua Pertanyaan Yang Berarti


Tulisan berikut terlahir dari komentar yang dilontarkan dalam forum blog ini. Untuk itu, saya sangat berterima kasih pada Heikal, yang dalam pertanyaannya telah memberikan ruang bagi satu perenungan penting bagi kita semua. Heikal mengungkapkan sesuatu, yang menurut saya, juga kerap terlintas dalam benak kita semua:

“Tidakkah penghentian konsumsi protein hewani akan menghasilkan masalah baru? Misalnya konsumsi telur dihilangkan. Entah berapa pekerja yang ikut kehilangan pekerjaan seiring dengan menghilangnya telur. Pekerja di peternakan, buruh pabrik pakan ternak, dan lingkungan tempat pabrik itu berada kehilangan potensi ekonominya. Dan hal ini akan berlangsung di seluruh dunia… Belum daging, ayam, ikan (tawar & laut), dan produk hewani lainnya. Berarti semua peternakan penghasil daging, juga nelayan, pasar ikan, dan semua mata rantai jaringan distribusinya, dan semua pekerja sampai lini terakhir, akan berpotensi kehilangan pekerjaannya. Mereka semua akan jadi korban kebijakan vegetarian. Terbayang di benak saya kerusuhan massal yang sekiranya mungkin terjadi… Ketika harga solar naik, pemerintah sulit membantu para nelayan karena mereka adalah nelayan! Mereka tidak mampu beralih profesi menjadi petani, misalnya… Pola vegetarian bisa diterapkan, tapi tidak dalam waktu singkat. Mungkin, sekali lagi mungkin, harus melalui proses, katakanlah, kerusuhan, harga-harga produk pertanian yang meningkat, kemiskinan bertambah, dan tetap terjadi pertempuran kepentingan antara penggunaan lahan untuk pertanian sebagai konversi dari industri hewani, dengan kebutuhan manusia akan lahan untuk tempat tinggal.”

Mari kita renungkan perlahan dan mendalam. Sekalipun pertanyaan dan pernyataan di atas sangat menarik dan mengusik, menurut saya semua itu bersifat spekulatif, dan jika ada yang tergerak untuk menjawab, maka jawaban yang diberikan pun otomatis juga cuma spekulasi belaka. Bagaimana jadinya jika satu dunia serempak sim-salabim jadi vegetarian? Saya tidak tahu. Saya tidak yakin ada yang tahu. Saya bisa saja berfantasi demi menjawabnya, tapi tentu tidak akan banyak berguna. Jadi, pertama, mari kita pilah mana fantasi, mana fakta.

Faktanya, gaya hidup termasuk pola makan kita memiliki jejak gas rumah kaca yang tidak kecil. Hal itu bisa dihitung secara matematis, dan sudah diungkap di mana-mana. Jika masing-masing dari kita menghapus jejak tersebut, sedikit atau sekaligus, secara matematis tentunya terjadi perubahan pada wajah Bumi.

Namun, tolong, sekali lagi kita renungkan pelan-pelan. Pola mental kita dapat menciptakan trik yang amat halus. Alih-alih berubah, kita malah asyik berspekulasi, membayangkan chaos yang terjadi kalau orang sedunia mengubah pola makannya, atau gaya hidupnya. Dan lagi-lagi, kita menunda perubahan demi penelusuran spekulasi. Mari kita pilah sekali lagi, mana fakta di depan mata, mana fantasi di kepala. Saya bisa saja berfantasi: apa yang terjadi kalau semua orang berhenti mengonsumsi BBM? Apa yang akan terjadi dengan seluruh pembangkit listrik di dunia, seluruh mesin-mesin yang digerakkan oleh BBM? Apakah mereka akan jadi onggokan besi tua tak berguna? Bagaimana nasib karyawan tambang minyak di seluruh dunia, Pertamina dan seluruh perusahaan minyak di dunia, tukang isi bensin, dll? Bukankah ini akan mengakibatkan pengangguran gila-gilaan? Kemiskinan, kerusuhan, bahkan perang? Satu penelusuran yang sangat fantastis dan menarik, tentunya. Kita bisa membayangkan apa pun, tapi bayangan Anda dan saya belum tentu benar. Mengapa? Karena semua itu adalah khayalan masa depan yang belum terjadi.

Tapi ini yang terjadi: dunia memasuki krisis energi. BBM adalah sumber energi yang punya umur karena tidak bisa diperbaharui, jadi satu saat pasti habis. Semua itu adalah fakta.

Sama halnya dengan vegetarian. Teman saya bahkan pernah berfantasi, kalau semua orang jadi vegetarian, rantai makanan di Bumi jadi kacau, karena populasi singa dan binatang buas lainnya jadi meledak akibat ketersediaan makanan mereka yang tahu-tahu membludak berhubung ternak-ternak itu dianggurkan manusia. Fantastis, bukan? Mata kita justru tertutup dari fakta bahwa kondisi sekaranglah yang tidak beres, karena manusia mengadakan intervensi alam dengan industri peternakan dan mengadakan miliaran hewan ternak. Kenapa tidak terjadi ledakan populasi kecoak atau cicak di dunia? Karena manusia tidak beternak kecoak atau cicak.

Lebih lanjut, disebutkan pula:

“Intinya, menurut saya, dari rantai kehidupan yang kita jalani sekarang, vegetarian bukanlah solusinya. Jika industri ternak sebagai penyumbang pemanasan global terbesar dihentikan, bukan berarti faktor pencetus pemanasan global berhenti… Logikanya begini, industri ternak & populasi hewan besar karena kebutuhan manusia akan ternak yang besar. Kebutuhan ternak yang besar karena populasi manusia di dunia ini juga besar. Jadi, seharusnya LAJU POPULASI MANUSIA-lah yang harus dikendalikan. Jadikan pertumbuhan populasinya 0% di seluruh dunia. Ini mustahil juga kan? Jadi kampanye Penanggulangan Pemanasan Global saat ini sudah sangat terlambat. Tak ada kata terlambat, kita harus mengakui keterlambatan itu…”

Mari cermati pelan-pelan, benarkah industri ternak berkembang karena “kebutuhan” manusia? Jika benar isunya adalah butuh, bahwa manusia di Bumi ini “membutuhkan” hewan ternak sekian banyak demi memenuhi “kebutuhan” mereka, mengapa 3,6 miliar manusia mengalami kelaparan kronis? Mengapa 40 ribu orang mati setiap harinya karena kelaparan? Ke mana larinya enam miliar hewan ternak yang diadakan demi kebutuhan umat manusia? Ada 12 Mitos seputar isu “World Hunger”, dan mitos nomor tiga disebutkan: jumlah manusia yang terlalu banyak (www.worldhunger.org). Kita kerap berpikir, Bumi tak cukup memberi makan 6,5 miliar jiwa. Nyatanya, pertanian dunia masa kini mampu memberi makan semua manusia 2720 kalori per hari. Artinya, jumlah manusia bukanlah determinan mengapa kelaparan ada. Telah disebutkan, pakan ternak di Amerika tok sudah bisa memberi makan 1,3 miliar orang. Jadi, benarkah industri hewan ternak tumbuh karena manusia butuh? Menurut saya, industri ternak tumbuh karena nurani kita lumpuh. Demi profit, satu penelitian atas tikus setengah abad yang lampau menjadi acuan bagi kita untuk mengisi perut. Demi sepotong lidah panjang 10 senti, kita jadikan lambung kita kuburan bagi ratusan hewan, yang dalam kaca mata besarnya juga menjadi kuburan bagi saudara-saudara kita.

Satu catatan penting mengenai laju populasi manusia. Sesungguhnya, sejak tahun 1987, laju populasi manusia di dunia menurun dengan rata-rata pengurangan 2,1 juta manusia per tahun. Jika kecepatan ini bertahan, kita akan mencapai titik zero population growth dalam waktu dua puluh tahun (www.overpopulation.net). Dan kecenderungan dalam enam tahun terakhir bahkan menunjukkan penurunan yang berangsur lebih besar lagi. Jadi, apakah mungkin terjadi pertumbuhan populasi nol? Sangat mungkin. Kita bahkan sedang berproses menuju ke arah sana. Di atas kertas, kita bisa menganggap hal ini sebagai kabar baik. Namun, penurunan laju penduduk tidak selalu berarti “baik”, karena dalam penurunannya, yang terjadi adalah kelaparan meningkat, penyebaran penyakit bersifat epidemis, dan sebagainya. Dua faktor yang paling berperan adalah krisis pangan dan air, yang lagi-lagi bermuara pada faktor eksploitasi lingkungan yang tidak berpihak pada kelestarian alam.

Sekali lagi, mohon direnungkan dalam-dalam. Mengapa kita susah sekali mencerna fakta-fakta ini? Mengapa kita lebih mudah berspekulasi ketimbang bertindak? Mungkinkah karena ini adalah pembiasaan sistemik yang sudah begitu merasuki sistem berpikir kita, yang kemudian membentuk cara pandang kita terhadap hidup dan dunia?

Saya percaya, kunci spesies manusia bisa bertahan dan berevolusi hingga detik ini adalah karena kemampuannya beradaptasi. Itulah satu-satunya modal sejati kita untuk bertahan hidup. Perubahan menuju zaman baru tidak terelakkan, dan mereka yang bertahan adalah mereka yang mampu beradaptasi. Dari detik kehidupan bermula, demikianlah rumusnya. Like it or not. Semua pemain dalam industri energi harus beradaptasi, mau tak mau. Para petani dan peternak, sama halnya dengan para pekerja lain di dunia yang terus berubah ini, harus beradaptasi, tanpa kecuali. Semua makhluk hidup harus beradaptasi dengan perubahan iklim, tanpa bisa menolak. Ada yang masih bertahan, ada juga ribuan spesies lainnya yang sudah punah, dan akan punah. Di akhir abad ini, beruang kutub diperkirakan akan punah. Bisakah Anda bayangkan, jika kita berpikir dari sudut pandang beruang kutub? Bagi mereka, mencairnya kutub adalah kiamat total. Sementara kita, manusia, masih bisa asyik berspekulasi ini-itu. Begitu banyak makhluk dipaksa beradaptasi di ujung batas hidup dan mati selagi saya dan Anda berkorespondensi lewat blog ini. Dalam hitungan detik, eskalasi kepunahan berbagai spesies terus meroket.

Saya tidak ambil pusing tentang spekulasi skenario perubahan pola makan dunia bukan karena tidak peduli. Tapi karena hal itu tidak sanggup saya kendalikan. Lalu untuk apa saya membuang waktu? Kadang-kadang, kita terus berlarut memikirkan orang lain dan situasi yang tidak bisa kita kendalikan, dan lagi-lagi, melupakan kendali yang paling riil dan bisa kita pakai segera: kendali pada diri kita sendiri. Sejenak, lupakan nelayan, lupakan peternak, lupakan pemerintah, lupakan siapa pun yang ada di luar diri Anda. Termasuk saya.

Sekarang, mari bertanya: siapa Anda? Apa yang Anda bisa lakukan? Menurut saya, dua pertanyaan itulah yang paling berarti. Sisanya fana.
Read More ..

Monday, May 19, 2008

Daging Makanan Bergizi Kelas Satu, Benarkah?

Daging Makanan Bergizi Kelas Satu,
Benarkah?

By: Chindy Tan



”Bukankah daging tetap dibutuhkan tubuh untuk kesehatan?” Demikianlah kepercayaan yang sangat mengakar hingga detik ini, yakni daging sebagai sumber protein kelas satu, sumber kalsium, sumber lemak, sumber vitamin B12 dan sumber zat besi.

Salah satu akar kepercayaan ini bersumber dari sebuah studi antara tahun 1929-1950 dengan menggunakan asam amino yang dimurnikan (padahal makanan yang kita makan bukanlah asam amino yang dimurnikan). Kemudian, penelitian lanjutnya dilakukan pada tikus, yang ternyata tingkat kebutuhan proteinnya paling tinggi dari semua mamalia. Sebagai patokan, jumlah kalori protein yang terkandung dalam air susu tikus adalah 49%, sedangkan pada manusia jumlah kalori protein yang terdapat pada ASI hanyalah 5%.

Mengapa Jadi Berlebih?

Patut dicermati bahwa kebutuhan tertinggi tubuh manusia akan protein seumur hidupnya adalah masa usia 0-5 tahun. Pada masa paling krusial 0-6 bln di mana ASI secara eksklusif diberikan, ASI sendiri ‘hanya’ mengandung 5% kalori protein, Terkecuali masa menyusui, American Journal of Clinical Nutrition mematok rata-rata asupan 2,5% kalori protein per hari, dan banyak populasi yang hidup dengan baik-baik saja pada angka ini. Logis saja, karena pada masa kebutuhan tertingginya pun tubuh kita hanya dipasok 5% kalori protein dari ASI. Tentunya setelah lewat masa pertumbuhan, tubuh kita tidak membutuhkan sebanyak itu lagi, atau cukup di bawah 5% kalori protein.

Bukankah hal yang janggal bila National Egg Board, National Dairy Council, National Livestock, dan Meat Board Amerika menambah 30% dari angka yang harusnya kurang dari 6% (“Diet For A New America”)? Batas aman atau RDA 30% inilah yang disoroti sebagai dasar propaganda industri ternak. Kebijakan tersebut lantas dituangkan ke dalam kurikulum pendidikan. Bermula di Amerika, propaganda daging, telur, susu sebagai sumber protein utama ini pun mendunia, termasuk di Indonesia. Bangku sekolah kita tak luput dari jangkauan propaganda ini. Konsep yang sudah sangat akrab sampai ke sumsum kita, bahwa daging adalah sumber terbaik untuk protein.

Kejanggalan ini terjawab pada uraian Dr. David Reuben yang mempertanyakan: siapakah yang sesungguhnya memperoleh manfaat ekstra 30% batas aman tersebut? Beliau menjawab, “Mereka yang menjual daging, ikan, keju, telur, ayam dan semua sumber-sumber protein yang bergengsi dan mahal lainnya. Jika Anda adalah keluarga Amerika umumnya, Anda harus mengeluarkan uang 40 USD per bulan untuk memompa asupan protein yang sebenarnya tidak Anda perlukan. Pengeluaran ini, memberikan 36 miliar USD per tahun ke kantong penjual.” (Diet For A New America – John Robbins)

Business As Usual

Era globalisasi memberi jalan lapang bagi negara-negara industri yang kuat modal dan kuat teknologi untuk menguasai harkat hidup di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Mari lebih jeli menganalisa benang merah tiap fakta berikut: Makanan merupakan 11% dari keseluruhan komoditi perdagangan global, proporsi yang berada di atas perdagangan minyak bumi (Globalization and Human Nutrition, 2001). Produk makanan yang dihasilkan dari produksi pangan yang berlebihan di negara-negara industri mau tak mau harus dipasarkan. Namun karena ‘demand’-nya yang sudah statis (baca: jenuh) atau inelastik di negara industri, maka pilihan pasarnya adalah negara-negara berkembang yang produk pangannya masih ‘tradisional’ dan ‘terbatas’. Untuk ini industri makanan di Amerika Serikat mengeluarkan dana 30 miliar dolar setiap tahunnya untuk promosi (Bulletin of the World Health Organization, 2002). Strategi promosi yang digunakan memberi citra daging sebagai makanan bergengsi, modern dan gaul. Rumus ”Tiga P” digunakan: placing, pricing dan promotion. Hasilnya, menjamur dan mengguritanya bisnis makanan cepat saji hampir di seluruh dunia.

Dampak Terhadap Kesehatan


Prof.dr.Siti Fatimah Muis, M.Sc, SpGK dalam kajiannya,”Globalisasi Pangan: Dampaknya Terhadap Gizi dan Kesehatan” menuliskan bahwa setelah Perang Dunia II, negara berkembang mengalami transisi epidemiologi yakni, menurunnya penyakit infeksi seperti TBC, tifus, diare, lepra dan mulai munculnya penyakit degeneratif seperti penyempitan pembuluh darah jantung atau otak, penyakit gangguan metabolisme dan keganasan. Dan sekarang telah memasuki masa transisi berikutnya adalah transisi gizi atau munculnya masalah gizi ganda. Artinya, masalah gizi berlebih pada saat yang bersamaan muncul dengan masalah gizi kurang. Kelebihan asupan energi pada anak-anak dan remaja, utamanya dari makanan berlemak jenuh tinggi (daging, telur, dan susu) di atas 30% dari keseluruhan asupan energi sehari-hari ternyata juga dapat mengakibatkan kenaikan kolesterol, penebalan/pengerasan dinding pembuluh darah (atherosklerosis) dan diabetes tipe-2 seperti yang dialami usia paruh baya (Rapid Westernization of children’s blood cholesterol in 3 countries, 2000). Pada abad ke-20 diabetes tipe 2 (non-insuline dependent) hanya terjadi pada usia paruh baya dan tua. Namun, tren sekarang menunjukkan penyakit tersebut mulai banyak diderita oleh anak maupun remaja. Terjadi peningkatan empat kali lipat kejadian diabetes tipe 2 pada anak usia anak 6-15 tahun yang terbukti berkorelasi dengan kelebihan berat badan (Type 2 diabetes in young, 2004)

Sesekali saat membesuk rekan yang sakit di RS, cobalah adakan survei kecil. Berapa banyak pasien penderita stroke, serangan jantung, hipertensi, diabetes dan kanker dan yakinlah, sepuluh dari sepuluh penderita tersebut dianjurkan oleh dokter untuk mengurangi atau berpantang daging. Begitu sederhana pesan yang bisa diamati dari sekeliling kita tanpa perlu studi atau riset untuk sampai pada pemahaman bahwa: sederet penyakit inilah yang sebenar-benarnya ’diberikan’ oleh daging kepada tubuh manusia.


* Lagi, satu sumbangan dari Chindy Tan yang dikerjakan dengan begitu sigap untuk kita semua yang masih penasaran soal isu gizi daging dan kesehatan. Saya pribadi merekomendasikan buku "New Diet For A New America" bagi yang ingin mengulik lebih lanjut dan lebih mendalam. Thank you, Chindy, untuk sumbangannya.

* Gambar diambil dari pump.tuthill.com

Read More ..

Friday, May 16, 2008

Bumi Kita Butuh Langkah Cepat, Please Go Veggie!

Bumi Kita Butuh Langkah Cepat,
Please Go Veggie!
by: Chindy Tan



Alarm tanda bahaya dampak pemanasan global berbunyi semakin nyaring. Pola pencairan es di Arktika merupakan salah satu indikatornya. Perubahan demi perubahan melaju dalam hitungan bulan. Tanggal 18 Maret 2008, Jay Zwally, ahli iklim NASA, memprediksi es di Arktika hampir semua akan mencair pada akhir musim panas 2012. Hanya dalam waktu dua bulan prediksi itu bergeser. Tanggal 1 Mei 2008 lalu, prediksi terbaru dilansir NASA: mencairnya semua es di Arktika bisa terjadi di akhir tahun 2008 ini. Sederet tanda-tanda bahaya yang telah terjadi sebelumnya adalah volume es di Arktika pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari empat tahun sebelumnya. Es di Greenland yang telah mencair mencapai 19 juta ton. Fenomena terbaru lainnya, pada tanggal 8 Maret 2008 beting es Wilkins di Antartika yang berusia 1500 tahun pecah dan runtuh seluas 414 kilometer persegi (hampir 1,5 kali luas kota Surabaya atau sepertiga luas Jakarta).

Efek domino apa yang membayang bila es di Arktika mencair semua? Mencairnya es di Arktika tidak akan menaikkan level permukaan air laut, melainkan akan mempercepat siklus pemanasan global itu sendiri. Bila es di Arktika mencair semua, 80% sinar matahari yang sebelumnya dipantulkan akan diserap 95% oleh air laut. Konsekuensi lanjut adalah potensi terlepasnya 400 miliar ton gas metana atau 3000 kali dari jumlah gas metana di atmosfer. Gas metana dapat terlepas akibat mencairnya bekuan gas metana yang stabil pada suhu di bawah dua derajat celcius. Seperti diketahui, gas metana memiliki efek rumah kaca 25 kali lebih besar dari gas CO2. Salah satu skenario yang mungkin terjadi adalah terulangnya bencana kepunahan massal yang pernah terjadi pada 55 juta tahun yang lalu dikenal dengan masa PETM (Paleocene-Eocene Thermal Maximum). Saat itu, gas metana yang terlepas ke atmosfer mengakibatkan percepatan pemanasan global hingga mengakibatkan kepunahan massal. Bukti geologi lain menunjukkan kepunahan massal juga pernah terjadi 251 juta tahun lalu, pada akhir periode Permian. Akibat terlepasnya gas metana, lebih dari 94% spesies mengalami kepunahan massal. Kematian massal terjadi mendadak karena turunnya level oksigen secara ekstrem.

Membaca fakta-fakta di atas, satu hal yang patut digarisbawahi adalah tenggat waktu yang semakin sempit. Dr. Rajendra K. Pachauri, Ketua IPCC, menekankan bahwa dua tahun ke depan merupakan masa tenggat penting untuk menghambat laju pemanasan global yang bergerak dengan sangat cepat. James Hansen, ahli iklim NASA, mengatakan bahwa kita telah berada di titik sepuluh persen di atas batas ambang kemampuan Bumi mencerna CO2. Artinya, kita telah melampaui titik balik. Pada level saat ini, tindakan yang harus diambil bukan lagi mengurangi, melainkan menghentikan.

Kita butuh kecepatan dan ketepatan membaca masalah hingga dapat memilih solusi yang efektif. Solusi yang mampu berpacu dengan waktu untuk memperlambat laju pemanasan global. Berkaitan dengan ini, dalam konferensi persnya di Paris, 15 Januari 2008, Pachauri mengimbau masyarakat dunia dalam tingkat individu untuk: pertama, jangan makan daging. Kedua, kendarai sepeda. Ketiga, jadilah konsumen yang hemat.

Mengapa ”jangan makan daging” berada pada urutan pertama? Fakta berbicara, seperti laporan yang dirilis Badan Pangan Dunia – FAO (2006) dalam Livestock’s Long Shadow – Environmental Issues and Options, daging merupakan komoditas penghasil emisi karbon paling intensif (18%), bahkan melebihi kontribusi emisi karbon gabungan seluruh kendaraan bermotor (motor, mobil, truk, pesawat, kapal, kereta api, helikopter) di dunia (13,5%). Peternakan juga adalah penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan 70% persen bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Setiap tahunnya, penebangan hutan untuk pembukaan lahan peternakan berkontribusi emisi 2,4 miliar ton CO2.

Memelihara ternak membutuhkan energi listrik untuk lampu-lampu dan peralatan pendukung peternakan, mulai dari penghangat ruangan, mesin pemotong, mesin pendingin untuk penyimpanan daging. Mesin pendingin merupakan mata rantai paling tidak efisien energi listrik. Hitung saja mesin pendingin mulai dari rumah jagal, distributor, pengecer, rumah makan, pasar hingga sampai pada konsumen. Mata rantai inefisiensi berikutnya adalah alat transportasi untuk mengangkut ternak, makanan ternak, sampai dengan elemen pendukung lain dalam peternakan intensif seperti obat-obatan, hormon dan vitamin.

Mata rantai lain yang sangat tidak efisien tapi telah berlaku demikian kronis adalah pemanfaatan hasil pertanian untuk peternakan. Dua pertiga lahan pertanian di muka Bumi ini digunakan untuk peternakan. Sebagai contoh, Eropa mengimpor 70% protein (kedelai, jagung dan gandum) dari pertanian untuk peternakan. Indonesia sendiri pada tahun 2006 mengimpor jagung untuk pakan ternak 1,77 juta ton. Prediksi produksi pakan ternak naik dari 7,2 juta ton menjadi 7,7 juta ton, kata Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas-Paulus Setiabudi (Kompas, 8 November 2007). Sementara itu, menurut data Indonesian Nutrition Network (INN), setengah dari penduduk Indonesia mengalami kelaparan tersembunyi (16 Sept 2005), sebagaimana yang dikemukakan oleh Menteri Kesehatan DR. dr. Fadillah Supari, SPJP(K).

Tanggal 30 April 2008 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak segenap bangsa ini untuk bersama saling membahu menghadapi krisis pangan dunia. Akar masalah kelangkaan pangan jika dicermati salah satunya adalah krisis manajemen lahan itu sendiri. Secara matematis, inefisiensi pemakaian lahan pertanian untuk pakan ternak tercermin dari perhitungan kalori yang “terbuang” untuk membesarkan ternak cukup. Pakan yang selama ini diberikan kepada ternak dapat memenuhi kebutuhan kalori 8,7 miliar orang! Berarti masih ada kelebihan kalori untuk 2,1 miliar orang. Sebenarnya tidaklah sulit untuk memahami mendesaknya perubahan pola makan ini, yakni perubahan ke pola makan yang mata rantainya pendek. Perut manusia bisa langsung mencerna kedelai, jagung dan gandum tanpa harus melalui perut ternak terlebih dahulu. Tidakkah beralih ke pola makan bebas daging justru dapat menjadi solusi ketimpangan akses pangan seluruh dunia?

Pertanian untuk pakan ternak itu sendiri merupakan penyumbang 9% CO2 (karbondioksida), 65% N2O (dinitrooksida) dan 37% CH4 (metana). Perlu diketahui efek rumah kaca N2O adalah 296 kali CO2, sedangkan CH4 adalah 25 kali CO2. Satu lagi masalah industri peternakan yang sangat krusial yakni, inefisiensi air. Sekian triliun galon air diperuntukkan untuk irigasinya saja. Sebagai gambaran sederhana, untuk mendapatkan satu kilogram daging sapi mulai dari pemeliharaan, pemberian pakan ternak, hingga penyembelihan seekor sapi membutuhkan satu juta liter air! Data yang dihimpun Lester R. Brown, Presiden Earth Policy Institute dan Worldwatch Institute, memaparkan dalam bukunya ”Plan B 3.0 Mobilizing to Save Civilization” (2008) bahwa karena untuk memproduksi satu ton biji-bijian membutuhkan seribu ton air, tidak heran bila 70% persediaan air di dunia digunakan untuk irigasi.

Jejak emisi gas rumah kaca daging terukur jelas. Dr Rajendra memberi ilustrasi konversi energi untuk memelihara sampai menghasilkan sepotong daging sapi, domba atau babi sama besar dengan energi yang dibutuhkan untuk menyalakan lampu 100 watt selama 3 minggu. Satu kilogram daging menyumbang 36,4 kg CO2, tidak heran bila data dari film dokumenter ”Meat The Truth” menyebutkan emisi CO2 seekor sapi selama setahun sama dengan mengendarai kendaraan sejauh 70.000 km. Penelitian di Belanda (www.partijvourdedie.en.el) mengungkapkan, seminggu sekali saja membebaskan piring makan dari daging masih 7,6 kali lebih cepat dibandingkan gerakan hemat energi skala rumah tangga dalam setahun.

Penelitian paling gres yang dilakukan Prof. Gidon Eshel dan Pamela A. Martin (”Diet, Energy and Global Warming”) merunut kontribusi setiap potongan daging terhadap emisi karbon. Penelitian ini diakui secara ilmiah dan dipublikasikan dalam jurnal bergengsi para ilmuwan Earth Interaction Vol. 10 (Maret 2006). Jumlah gas rumah kaca yang diemisikan oleh daging merah, ikan, unggas, susu dan telur jika dibandingkan dengan diet murni nabati/vegan, ternyata jika satu orang dalam setahun mau mengganti diet hewani mereka ke diet nabati murni/vegan akan mencegah emisi CO2 sebesar 1,5 ton. Lima puluh persen lebih efektif daripada upaya mengganti mobil Toyota Camry ke mobil Toyota Prius hybrid sekalipun yang ternyata hanya mampu mencegah 1 ton emisi CO2.

Objektivitas akan menuntun kita untuk mengakui pola konsumsi daging sebagai kontributor terbesar emisi gas rumah kaca. Pilihan kita tidak banyak, mengingat tenggat waktu yang demikian sempit. Mengutip tulisan Senator Queensland, Andrew Bartlett, bahwa seluruh dunia tidak mesti menjadi vegetarian atau vegan untuk menyelamatkan planet kita, tapi kita harus mengakui fakta-fakta ilmiah ini, bahwa jika kita tidak mengurangi konsumsi produk hewani, kesempatan kita untuk menghentikan perubahan iklim adalah nihil. Menurut Bartlett, tidak ada langkah yang lebih murah, lebih mudah dan lebih cepat untuk dilakukan yang dapat mengurangi kontribusi tiap individu terhadap emisi gas rumah kaca selain memangkas jumlah konsumsi daging dan produk susu dan olahannya.

Aksi untuk hemat bahan bakar kita masih banyak bergantung pada fasilitas umum. Upaya yang paling bisa kita lakukan adalah menggunakan kendaraan umum. Namun, sudah menjadi rahasia umum, tidak mudah untuk menggunakan kendaraan umum jika berhadapan dengan kepentingan keamanan, dan untuk ini kita masih bergantung pada kebijakan pemerintah. Aksi hemat energi dalam konteks yang paling ideal bergantung pada teknologi. Sumber energi paling ramah lingkungan yakni tenaga angin, air, dan matahari, masih jauh membutuhkan teknologi dan biaya yang tidak kecil. Butuh waktu yang panjang dan upaya ekstra untuk menggerakkan kesadaran massal untuk hemat energi, hemat listrik, hemat bahan bakar karena harus berhadapan dengan kebiasaan dan perilaku yang telah mengakar.

Mengubah pola makan juga berhadapan dengan kebiasaan yang telah mengakar. Namun, memegang sendok dan akhirnya menjatuhkan pilihan apa yang akan dimasukkan ke mulut kita, sepenuhnya berada di kendali kita. Langsung bisa dilakukan! Jarak antara piring dan mulut kita mungkin hanya sejarak panjang sendok, membalikkan isi sendoknya hanya butuh waktu sekedipan mata, tapi kendalinya ada pada mindset tiap kita. Sejenak, biarkan kepala dingin hadir. Mari dengan mata jernih melihat realitas, mengakui fakta betapa tekanan pola konsumsi daging sedemikian hebatnya pada daya dukung Bumi. Sejenak merasakan beban berat Bumi ini mungkin akan menggeser pilihan kita ke pola konsumsi tanpa daging, pola yang jauh lebih ramah Bumi.


PS 1.Penulis adalah Koordinator Indonesia Vegetarian Society Regional Yogyakarta - Jateng.
PS 2. Ini sesuatu yang tidak biasanya saya lakukan, yakni memuat posting karya orang lain. Tapi, artikel Chindy ini menyimpan begitu banyak informasi yang terlalu penting untuk dilewatkan. Dan menurut saya bisa membantu kita semua untuk lebih bijak bersikap, sekaligus juga menerangkan banyak hal yang melatarbelakangi tulisan-tulisan saya di Dee-Idea selama ini. Hope you guys can enjoy this article as much as I do.
PS 3. Gambar Bumi diambil dari spacetoday.org

Read More ..

Wednesday, May 07, 2008

Pertempuran Tiga Perut

Pertempuran Tiga Perut


Belum lama ini, kita resmi memasuki krisis global baru. Krisis pangan dan energi. Meminjam istilah teman saya, Chindy, sekarang ini sedang terjadi persaingan antara tiga macam “perut”: perut manusia, perut ternak, dan perut mobil.

Mari kita bahas dulu mengenai perut mobil. Selayak kodratnya sebagai energi yang tak bisa diperbarui, cadangan minyak dunia kian menipis. Belum lagi dengan tudingan konspirasi ekonomi di balik itu semua. Berbagai macam teori dilontarkan untuk menjelaskan kenaikan harga minyak. Situasi ini lantas memunculkan primadona baru, yakni biofuel. Permintaan dan popularitas biofuel meningkat drastis akibat kepanikan dunia akan menipisnya bahan bakar fosil. Biofuel pun dipandang sebagai substitusi yang lebih ramah lingkungan. Benarkah demikian?

Menurut pemenang Nobel, Paul. J. Crutzen, biofuel justru penyumbang besar pemanasan global, karena asas bekerja dan hasilnya sama-sama saja: pembakaran dan karbondioksida. Belum lagi dengan jumlah permintaan besar dan tuntutan waktu yang cepat, biofuel yang dibuat dengan bahan dasar jagung, kanola, tebu, atau sawit akan memaksa produsennya untuk menggunakan pupuk sintetis yang menyumbang nitro-oksida – salah satu gas rumah kaca yang berbahaya. Nitro-oksida punya efek insulasi 300 kali lipat dibandingkan karbondioksida. Menurut Krutzen, ditinjau dari emisi nitro-oksidanya saja, semua kebaikan biofuel bisa jadi nihil. Bahkan tekor.

Namun demam biofuel tak pelak menyeret para petani seluruh dunia dalam arus hukum ekonomi: menjual kepada yang memberi untung lebih. Akibatnya, mereka berlomba-lomba menjual pada produsen biofuel hingga naiklah harga kedelai, sawit, dan jagung, dibarengi kelangkaan makanan pokok dan minyak goreng di pasar. Beberapa bulan lalu, pengusaha tempe-tahu kita menjerit. Ibu-ibu menjerit. Bukti bahwa perut manusia akhirnya tergusur. Kalah oleh perut mobil.

Laporan Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian (IFAD) memperkirakan, kenaikan penderita kelaparan di dunia mencapai 16 juta orang dari setiap satu persen saja kenaikan harga bahan pangan pokok dunia. Dengan laju kenaikan sebesar itu, IFAD memperkirakan terdapat 1,2 miliar orang yang akan mengalami krisis pangan kronis di seluruh dunia pada tahun 2025.

Namun, pada bulan April 2008, harga satu ton beras di pasar dunia sudah di atas 1.000 dolar AS atau naik sebesar 47 persen sejak Maret 2008. Di Amerika, penjualan beras kini sudah dibatasi. Di Asia, negara-negara eksportir beras mulai mengunci lumbung-lumbungnya. Takut rakyatnya kelaparan.

Bagaimana dengan perut ternak? Saya teringat satu karikatur yang menggambarkan bagaimana hewan tergeli-geli melihat manusia. Sesama hewan tidak memakan spesiesnya, tapi manusia sibuk memberi makan hewan sampai lupa memberi makan spesiesnya sendiri. Di atas puncak piramida makanan, tak ada lagi predator yang menghabisi kita. Hanya kitalah yang bisa membunuh saudara-saudara kita sendiri. Tak melulu dengan peluru atau belati, kita mengosongkan lambung miliaran manusia karena sibuk mengisi lambung hewan ternak.

Di dunia saat ini jumlah seluruh hewan ternak berkaki empat mencapai angka enam miliar. Beda tipis dengan populasi manusia yang sudah mencapai 6,5 miliar jiwa. Enam miliar ternak itu tidak dicapai semata-mata oleh alam, manusialah yang secara sengaja mewujudkannya atas nama pemenuhan kebutuhan hidup. Namun, kenyataannya 40.000 manusia mati setiap hari karena kelaparan. Padahal hasil pertanian yang digunakan untuk pakan ternak di negara Amerika saja bisa memberi makan 1,3 miliar manusia.

Kini kita mulai merasakan efek perang ketiga perut tersebut. Presiden belum lama ini akhirnya mengeluarkan inpres untuk penghematan energi. Petani-petani mulai mengaktifkan sistem lumbung untuk menjaga stok beras. Dan negara-negara Asia, produsen beras dunia, berkumpul untuk berhitung dan berstrategi.

Di tengah seliweran analisa dan solusi atas situasi tersebut, saya merasa bahwa pertempuran tiga perut ini juga terjadi di level terkecil dan terprivat: rumah kita sendiri. Antara perut manusia, perut kendaraan, dan perut ternak, ketiganya melangsungkan dinamika di daftar prioritas kita, di daftar belanjaan, dalam pilihan-pilihan yang kita buat sehari-hari. Dari tiga perut tadi, mana yang ingin kita dahulukan?

Secara instan dan refleks, seharusnya sangat mudah bagi kita untuk menjawab. Namun kenyataannya tak semudah itu. Kita telah dijerat gaya hidup, kebiasaan, misinformasi, hingga meski itikad kita adalah membela perut manusia, pilihan-pilihan kita tak selalu konsisten dengan itu. Tanpa kita sadari dan ingini, seringkali kita “membunuhi” saudara-saudara kita. Bahkan diri kita sendiri. Contoh singkatnya, untuk memproduksi satu kilo daging sapi dibutuhkan enam belas kilo tanaman biji-bijian yang merupakan makanan pokok manusia. Jadi, bisa dibilang, saat kita mengonsumsi satu kilo daging, kita telah mengambil jatah enam belas porsi makan manusia.

Tips-tips berikut ini sederhana dan barangkali sudah sering kita dengar. Namun, tanpa niat yang kuat, belum tentu mudah untuk dilaksanakan. Apalagi kalau gaya hidup dan pandangan kita dibelit berbagai jeratan yang saya sebutkan tadi. Tapi, bisakah kita mencoba?

Susunlah rute kepergian Anda per hari sebaik mungkin supaya penggunaan BBM kita efektif. Go in a bundle, as best as we can. Sekarang ini, saya memilih pergi dengan travel untuk setiap trip saya ke Jakarta, ketimbang berkendara sendiri dalam mobil pribadi. Cek setiap lampu, alat elektronik, dan titik-titik listrik. Pergunakan secermat dan sebijak mungkin. Matikan yang tak perlu. Pilih perangkat yang paling hemat energi. Jika Anda punya lebih dari satu mobil, gunakan yang paling hemat bensin lebih sering. Beli produk lokal sebisa mungkin, dari mulai makanan hingga barang, karena ini berarti kita menghemat energi yang dipakai untuk shipping dan perjalanan benda-benda itu. Bagi yang ingin mengulik lebih serius dan detail aneka tips penghematan energi, bisa kunjungi tips hemat dari WWF.

Yang berikut adalah tips yang tak terlalu populer, barangkali karena melibatkan kepentingan industri besar dan faktor pembiasaan yang sangat kuat, tapi saya belum jera menyuarakan: bervegetarianlah sesering mungkin. Bisa dimulai dengan pola “vegetarian weekend” alias 5:2 per minggunya, berangsur menjadi 3:3, berangsur lagi menjadi “omnivarian weekend” (or “carnivorian weekend” for some people) alias 2:5, hingga 1:6. Atau, bagi yang sanggup dan mau, bisa langsung total menjadi vegetarian setiap harinya.

Berikut ilustrasi jika kita mau bervegetarian satu hari saja dalam satu minggu. Dalam satu tahun kita telah membantu Bumi berhemat…

• 317.520 liter air
• 111 kilogram tanaman biji-bijian
• 693 m2 lahan
• 58 liter bensin
• 183 kg kotoran ternak

Dalam pertempuran ini, di manakah kita berdiri? Bagaimana kita menata ketiga bidak tersebut dalam peta percaturan krisis global ini? Mari, pelan-pelan, amati daftar belanja, daftar kegiatan, rute perjalanan, isi meja makan, penunjuk bensin, setiap tombol on/off… barangkali di sana kita, manusia peradaban modern, bisa mengibarkan bendera perdamaian. Antara manusia dan Bumi. Untuk pertama kali.

* Tulisan ini diterbitkan di Harian Pikiran Rakyat.


Read More ..

Tuesday, May 06, 2008

Tarian Paradoks di Pentas Bumi

Tarian Paradoks di Pentas Bumi


Beberapa hari yang lalu, saya membaca beberapa berita sekaligus, yang entah bagaimana persisnya, menciptakan kombinasi unik yang paradoksikal dalam benak saya.

Sama-sama di bulan April, diperingati Hari Kesehatan Dunia dan Hari Bumi. Di berbagai belahan dunia, ramai-ramai orang-orang memperingati kedua hari itu dengan beraneka macam cara.

Di Jakarta, diselenggarakan Green Fest yang merupakan hajatan edukasi seputar pemanasan global, hasil kolaborasi berbagai perusahaan besar semisal Unilever, Kompas, dsb. Bodyshop dan karyawan-karyawannya menanam seribu pohon. Yayasan Jantung Indonesia (YJI) bahkan mengolaborasikan kedua peringatan tersebut. Bersama Gubernur DKI dan seribu orang lainnya, mereka senam sekaligus menanam pohon di lingkungan Monas. Tema acara ini adalah gerakan hidup sehat untuk menghadapi pemanasan global. Apa hubungannya? Ternyata perubahan iklim dan gelombang panas sebagai efek sampingnya telah meningkatkan penyakit kardiovaskular dan gangguan pernapasan.

Pada bulan yang sama, di belahan dunia lain dipecahkanlah sebuah rekor Guiness. Di Montevidio – Uruguay, diselenggarakan World’s Biggest Barbecue. Sekurangnya 1,250 orang dan berton-ton arang dikerahkan untuk membakar 12 ton daging sapi. Bersama-sama dengan Argentina dan Brazil, Uruguay adalah salah satu importir daging sapi terbesar dan pemilik industri peternakan yang gigantis. Dan pesan yang ingin disampaikan pada upaya pemecahan rekor tersebut adalah: meski Uruguay hanya negara kecil, mereka memiliki daging sapi terbaik di dunia.

Tak hanya terbaik, Uruguay juga memiliki angka ternak per kapita tertinggi di dunia. Di Uruguay saja, ada 12 juta sapi diternakkan, dan setiap tahunnya 2,5 juta sapi baru yang lahir. Tak tanggung-tanggung, negara ini mendedikasikan 82% lahannya untuk industri peternakan. Sementara rekor eksportir tertinggi masih dipegang Brazil. Bayangkan, seperempat daging sapi yang beredar di pasaran dunia berasal dari satu negara itu tok.

Namun di balik potret kesuksesan negara-negara Amerika Selatan tersebut, menguak juga sebuah potret mengenaskan. Berada di sabuk Amazon, hutan yang begitu kaya, deforestation gila-gilaan menjadi harga yang harus dibayar demi menggemukkan industri peternakan.

Saya yakin saya tidak sendirian. Saya yakin kita semua bisa memahami, atau setidaknya merasakan, mata rantai sebab-akibat yang tergambarkan dalam berbagai situasi paradoksikal di atas. Ketika kedua ujung mata rantai bersatu, seperti ular yang melingkar dan akhirnya menelan mulutnya sendiri, kita tiba di lingkaran setan. Tak ada lagi ujung. Tak ada pangkal. Semua yang kita pikir jalan keluar malah mentok dan saling memakan.

Saya lantas teringat ilustrasi terkenal buatan M.C. Escher berjudul “Drawing Hands”. Dalam gambar ini, bisakah kita memutuskan: tangan mana yang menggambar mana? Kiri duluan atau kanan duluan? Pikiran kita, yang juga instrumen dualitas, akan terjebak dalam permainan logika tiada henti jika dihadapkan pada gambar semacam ini. Tangled hierarchy, adalah istilah yang kerap digunakan untuk menamai fenomena jalinan hierarkis nonlinear. Jalan keluarnya adalah dengan lompatan kuantum. Keluar dari jebakan logika. Mentransendensi dualitas dan melihat keduanya secara holistik.


Izinkan saya mengangkat satu pertanyaan dari Cy yang mampir ke blog ini: Kenapa kita tidak menghentikan saja segala kampanye global warming ini, karena bila mengacu pada Law Of Attraction atau buku “The Secret”-nya Rhonda Byrne, apa yang kita tidak inginkan jangan dikoar-koarkan, karena justru malah membawa kita ke realitas yang kita hindari, alias: what you resist, persists? Selain itu Cy menekankan lebih pentingnya persiapan menghadapi kematian. Yang dimaksud di sini adalah kematian spiritual.

Jika kita berhasil keluar dari perangkap dualitas pikiran, segalanya memang menjadi tiada. Tak ada lagi sebab akibat. Tiada kamu. Tiada saya. Tiada benar. Tiada salah. Tiada hitam. Tiada putih. There are no dancers, only the dance, kata guru saya. Tak ada pelaku. Dewi Lestari tidak pernah berbuat apa-apa. There is no doer. Saya dan Anda hanyalah topeng-topeng yang ‘dipinjamkan’ supaya semesta ini menari. Yang sejati adalah tariannya. Kita semua fana. Global warming barangkali hanya drama. Gerakan untuk melawannya pun juga drama.

Lantas, ketika kita berhasil sampai pada pemahaman itu, adakah itu berarti kita diam, tidak bertindak, tidak bersikap (baca: memihak)? Silakan dicoba. Saat Anda memutuskan untuk diam, diam itu jugalah drama. Satu drama di tengah lautan drama tak terhingga. Semua artikel saya hanya drama. Menanam pohon atau menebangi hutan pada esensinya pun cuma drama.

Sang Buddha, setelah puncak pencerahannya, konon berkata: There’s nothing to change. Tidak ada yang perlu diubah dari hidup ini. Beliau bahkan sempat menolak untuk mengajar. Namun, akhirnya, Sang Buddha memutuskan untuk menjadi guru. Mengajarkan dharma pada banyak orang hingga akhir hidupnya. Sang Buddha mengambil perannya sebagai seorang guru dan menjalankannya dengan sadar dan tekun.

Saya punya interpretasi pribadi atas kisah itu. Ketika Buddha mengatakan bahwa tidak ada yang perlu diubah, bukan berarti perubahan tak ada. Yang tidak ada adalah ‘aku’ sebagai pelaku. Namun selama kesadaran kita masih melekat pada jasad, tak satu pun dari kita luput dari peran-peran yang perlu kita jalankan. Bertapa sampai mati adalah peran. Jadi perusak hutan juga peran. Yang membedakan hanyalah tingkat kesadaran dalam menjalankan peran-peran tersebut.

Manusia boleh berbangga dalam ilusinya sebagai Sang Penguasa. Berada di ujung spektrum evolusi, manusia disebut sebagai makhluk autopoietik karena sistem inteligensinya yang sangat kompleks dan canggih. Namun makhluk autopoietik ini adalah biangnya paradoks. Dalam sosoknya yang serba canggih, sistem makhluk autopoietik sangat rentan dan interdependen pada lingkungannya. Hanya masalah kita menyadari atau tidak. Dalam pikiran kita, boleh jadi kita berilusi ini itu. Kenyataannya, semakin modern dan canggih kita berevolusi, semakin rentan dan rapuh tumpuan peradaban ini.

Kita semua berada di tengah dinamika agung ini. Tanpa kecuali, segalanya terikat dengan sifat dualitas. Yin dan Yang. Chaos dan order. Dunia kita yang unik dan paradoksikal ini secara konstan bertumpu pada benang tipis rapuh bernama ekuilibrium. Tak lama lagi, titik bifurkasi baru bagi peradaban manusia akan tiba. Ke mana kita akan mendarat? Tidak ada yang tahu pasti.

Dalam perjalanan ini semua, kita punya peran-peran untuk dimainkan. Saya memilih peran menjadi penulis. Dan saya hanya menulis apa yang saya suka. Dalam Bumi yang kian memanas, saya memilih peran sebagai berikut: saya berbuat apa yang menurut saya pas dengan kata hati saya. Dan saya menyuarakannya sebisa saya. Saya berbagi apa yang bisa saya lihat dan racik melalui filter pemahaman saya. Demikian juga dengan Anda semua.

Segala upaya kita tak pernah lepas dari paradoks. Saat seseorang mengambil posisi ‘berhenti menyuarakan isu global warming’, ia pun menjadi resistor bagi upaya saya dan semua orang lain yang memilih bersuara. Dan hukum “what you resist, persists” kembali berlaku baginya. It’s a zero sum game no matter how we want to play it, sahabat saya berkata.

Di sinilah pentingnya kesadaran, keelingan. Lakon apa pun yang kita pilih, lakukan dengan sepenuh-penuhnya hati. Jalankan dengan kesadaran sebisa-bisanya. Pada akhirnya, semua topeng ini lenyap, terdaur ulang oleh kehidupan. Cepat atau lambat. Lewat usia tua atau lewat kiamat.

Saya kenakan topeng ini, cangkang ini, selagi hidup masih mengizinkan. Dan akan saya tarikan tarian di pentas paradoks ini segemulai mungkin.
Read More ..

Monday, April 28, 2008

Pesan Dalam Jawaban

Pesan Dalam Jawaban


Sesungguhnya apa yang saya tulis di sini hanyalah jawaban dari beberapa pertanyaan yang mampir ke posting “Diam di Bumi”. Namun, bagi saya, pertanyaan tersebut cukup penting untuk diulas dalam sebuah posting terpisah. So, here it is…

Sebuah pertanyaan dari Roi: adakah gunanya menunda? Jika dianalogikan ke dokter gigi, pilih dokter gigi yang bekeja cepat? Atau lambat? Ia bertanya. Karena barangkali sakitnya sama. Bagi saya, pemikiran tersebut merupakan sebuah ‘jebakan klasik’, persis dengan contoh logika perokok yang saya tulis dalam posting.

In a way, saya selalu merasa beresonansi kuat dengan pepatah setengah serius setengah bercanda yang berkata: "Man plans, God laughs". Manusia boleh berencana, Tuhan tertawa. But the same divine power had supplied us with survival instinct and also awareness to evolve. So what do we do?

Mengikuti penyelidikan dan pengamatan Graham Hancock dalam bukunya, saya pun tak luput ikut berpikir: hadirnya monumen misterius seperti Sphinx dan Macchu Picchu, akankah kita mengabaikannya begitu saja? Sudikah kita untuk berkontemplasi sejenak dan merasakan pesan yang dibawanya?

Sebuah peradaban manusia yang sangat maju diindikasikan pernah hadir di muka Bumi, lantas menghilang nyaris tanpa bekas, tanpa warisan, tanpa sejarah, tanpa catatan. Manusia lalu bergulat dalam amnesia panjang, merangkak kembali dari masa primitif. Kehilangan hubungan dengan sejarahnya sendiri. Akankah kita mengulang hal yang sama?

Saya merasa, di sanalah barangkali gunanya "penundaan". Karena dalam usaha tersebut, kita berbuat jauh lebih dari sekadar menunda, tapi kita semua berusaha eling, sadar, menyadari apa yang kita telah perbuat dan apa yang kita bisa lakukan bagi Bumi. Bagi saya, itulah makna evolusi. Itulah maknanya menjadi manusia.

Lalu, merespons komentar Daus, saya sepakat bahwa setiap orang punya cara masing-masing untuk menyelamatkan Bumi, dan sebaiknya kita bergerak bersama, dari berbagai lini. Namun upaya "garis keras" jika tidak disokong oleh perubahan fundamental dari masing-masing individu, menurut saya, akan superfisial dan bagaikan percik kembang api. Menyala tapi tak 'panas'. Meriah tapi tak 'berisi'.

Banyak aktivis yang saya amati, mereka berteriak-teriak untuk konservasi lingkungan dan pengubahan kebijakan, tapi dalam hidup keseharian, mereka tidak memilah sampah, tidak mengurangi plastik, tidak mengurangi konsumsi daging, tidak berhemat, dsb. Tenggelam dalam payung besar bahwa negara majulah yang patut dipersalahkan. Penghematan adalah jatah mereka, bukan jatahnya negara berkembang atau negara miskin. Namun tidakkah ini jebakan klasik berikutnya? Kembali kita melepaskan kekuatan perubahan dari tangan kita sendiri dan kembali menunjuk pihak lain untuk berubah.

Memikirkan emisi Amerika, Jepang, Cina, India, dan aneka negara industri lainnya… memikirkan pemerintah kita yang seolah tak berdaya menghadapi illegal logging, pembakaran hutan, perusakan lingkungan… bukanlah hal yang tak berguna. Namun jika kita hanya berhenti sampai di sana, dan tak mengubah diri kita sendiri, maka sampai kapan pun kita seperti kawanan tikus putih yang sibuk berlari dalam roda. Sibuk, tapi tak ke mana-mana. Perubahan yang paling nyata adalah perubahan yang bisa kita lakukan pada diri kita sendiri. Suarakanlah perubahan, tapi jangan lupa bersuara untuk diri kita sendiri.

Rajendra K. Pachauri dan IPCC telah melansir tiga poin penting untuk mengurangi pemanasan Bumi: Stop eating meat. Be a frugal shopper. Ride a bicycle. Tiga hal yang tampak sederhana. Namun jika kita melakukannya, individu demi individu, maka segala kebijakan dan roda industri akan beradaptasi dan mengikuti. Inilah yang kerap kita lupakan. Kita berperang melawan organisasi besar dan pemerintah, tapi seringkali kita lupa bahwa jika organisasi dan institusi besar itu dilucuti, yang ada hanyalah individu-individu. Sama dengan Anda dan saya. Sama-sama bernapas. Sama-sama makan. Sama-sama bagian tak terpisahkan dari Bumi ini.

Itulah pesan utama dari blog ini sejak hari pertama peluncurannya. Sungguh. Hanya itu.
Read More ..

Thursday, April 24, 2008

Diam di Bumi

Diam Di Bumi


Dalam perjalanan saya ke Jogjakarta minggu lalu dalam rangka menjadi pembicara dalam tiga talkshow bertemakan global warming, saya menemukan sesuatu yang menarik di pesawat. Dalam majalah inflight Garuda bulan April 2008, perhatian saya tertumbuk pada satu artikel yang ditulis oleh teman saya, seorang penulis kuliner bernama Janet deNeefe.

Dalam rubrik tetap yang mengisahkan kesehariannya di Bali itu, kali ini Janet menceritakan tentang Hari Raya Nyepi. Entah bagaimana, beberapa poin dalam artikel itu membuat saya teringat sebuah buku berjudul “The Coming Global Superstorm” karya Art Bell dan Whitley Strieber (yang kemudian diangkat menjadi film dengan judul “The Day After Tomorrow”).

Saya akan bercerita dulu tentang konteks dari rangkaian “train of thought” ini. Hampir semua fakta sains mengungkap bahwa zaman es telah dialami Bumi kita berulang kali. Bagaikan sebuah siklus, Bumi kita memasuki periode dingin dan periode panas secara bergantian. Salah satu buku menarik lain yang pernah saya baca, “The Fingerprints of the Gods”, bahkan mendeteksi adanya peradaban modern—yang diduga bahkan lebih maju dan canggih ketimbang kita—pernah hidup di muka Bumi dan meninggalkan banyak “monumen” misterius, antara lain Sphinx di Mesir dan Poompuhar di bawah laut India. Lalu ke mana perginya peradaban itu? Jika mereka luar biasa canggih, bagaimana mungkin peradaban mereka hilang nyaris tanpa bekas? Spekulasi yang paling masuk akal adalah: zaman es—sebuah hasil akhir dari bencana mahadahsyat yang menghapus hampir seluruh kehidupan di Bumi.

Zaman es terakhir diperkirakan terjadi 10.000 tahun yang lalu. Setelah itu, Bumi perlahan-lahan kembali memasuki “periode panas”. Bagi Anda yang sudah pernah melihat presentasi Al Gore, tentu tahu bahwa Bumi kita hari ini telah memecahkan rekor sebagai Bumi terpanas sepanjang sejarahnya. Jadi, bisa dibilang, Bumi kita kini bukan lagi “panas”, melainkan “PUANAS”.

Dengan penuturan yang unik, buku “The Coming Global Superstorm” memaparkan bahwa fenomena superstorm terjadi karena salinitas (kadar keasinan) air laut yang terus menurun akibat gelontoran air tawar yang berasal dari cairnya es kutub. Salinitas air laut sesungguhnya berperan esensial dalam regulasi arus laut dunia. Kombinasi kompleks antara air asin dan air tawarlah yang menciptakan arus Atlantik Utara atau North Atlantic Current (NAC). Ketika es di Kutub Utara mencair, maka jumlah air tawar yang tak terperi banyaknya itu akan mengganggu keseimbangan kombinasi air asin dan air tawar di perairan laut dunia. Dan ketika NAC berhenti mengarus karena rendahnya salinitas air laut, maka udara beku dari Arktik terloloskan dan bertubrukan dengan udara hangat dari Selatan. Tubrukan inilah yang akan mengakibatkan sebuah badai mahadahsyat, dan berakhir dengan zaman es baru.

Saya teringat satu artikel yang saya tulis awal-awal di blog ini, judulnya “Kiamat Sudah Dekat”. Tahun 2006, saya mengirimkan artikel tersebut ke Kompas dan Tempo. Artikel itu ditolak untuk dimuat. Pada artikel itu saya menuliskan perlunya tindakan global yang penuh kesadaran dengan urgensi seolah-olah hari kiamat memang akan tiba. Terlepas dari aneka mitos yang membungkus konsep kiamat itu sendiri. Intinya: mari bertindak. Segera.

Dua tahun kemudian, tepatnya bulan Februari 2008 ini, dunia dikejutkan oleh runtuhnya bongkahan es Wilkins di Arktik seluas sepertiga kota Jakarta. Dan es sebesar ini tidaklah patah, melainkan hancur berkeping-keping, mengindikasikan adanya deposit gas metana yang ikut meledak keluar. Ini memunculkan skenario yang lebih fatal lagi, karena dengan demikian meluruhnya es di Arktik dapat disertai ledakan mahadestruktif. Terlepasnya gas metana dalam jumlah besar ini akan memanggang Bumi dan ikut mempercepat cairnya es di Kutub Selatan. Demikianlah serangkaian mata rantai kehancuran yang saling kait-mengait.

Seringnya berbicara di forum-forum global warming membuat saya akrab dengan fakta-fakta terbaru ini. Dan tetap saja, setiap kali saya masih saja kaget dengan perubahan wajah Bumi yang begitu cepat. Ketua IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), Rajendra K. Pachauri, mengatakan bahwa dua atau tiga tahun ke depan ini menjadi penentu masa depan Bumi yang paling kritis. Jay Zwally, ilmuwan iklim dari NASA memperkirakan es di Arktik akan habis pada musim panas tahun 2012. Waktu kita sungguh tak banyak lagi.

Hal ini tentunya memancing pemikiran lain: jika memang Bumi ditakdirkan untuk bersiklus, dan zaman es merupakan harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi, jadi untuk apa bertindak? Persis seperti argumentasi favorit para perokok: nggak merokok pasti mati, merokok juga mati, jadi buat apa berhenti merokok?

Saya pribadi sepakat bahwa Bumi pasti memiliki mekanisme alamiah sendiri untuk menjaga keseimbangannya. Manusia boleh saja merasa berkuasa atasnya, tapi Bumi akan bergerak ke arah yang memang harus ditujunya, terserah kita berkata dan bertindak apa. Namun itu tidak berarti relasi Bumi dan manusia merupakan relasi yang terpisah. Barangkali kita tidak bisa mencegah, tapi kita bisa menunda. Dan demikianlah pendekatan paling realistis yang disepakati para ilmuwan sekarang ini, sebagaimana tanda bahaya bencana alam seperti tsunami atau puting beliung yang diperjuangkan agar bisa mendeteksi bencana lebih awal. Kalaupun bencana itu tidak bisa dicegah, tapi dengan tanda bahaya yang lebih awal, maka tenggat waktu pun lebih panjang untuk kita menyelamatkan diri. Jika umat manusia bisa memberi cadangan napas satu-dua pada Bumi, barangkali kita pun punya cadangan waktu untuk lebih bersiap dan menyelamatkan peradaban ini.

Kembali ke buku Art Bell dan Whitley Strieber, ada sebuah skenario yang ditawarkan di sana. Pilihan terakhir umat manusia untuk sama-sama menahan eskalasi temperatur dunia yang terus meroket. Caranya? Sebuah tindakan dramatis dan serempak dalam skala dunia, yakni menghentikan segala aktivitas pembakaran karbon di muka Bumi selama beberapa hari. Yang artinya, berhenti berlistrik, berhenti berkendara, berhenti berasap.

Singkatnya… diam. Ya. Diam. Pernahkah kita membayangkan, bahwa untuk menyelamatkan Bumi, yang perlu kita perbuat adalah… "tidak berbuat apa-apa"? Sekilas, konsep itu terdengar sangat radikal, bahkan mungkin irasional. Namun sebuah pulau di Indonesia bernama Bali, yang mahsyur sebagai tempat bermukimnya para dewa, telah menjalankan konsep hari "tak berbuat apa-apa" secara rutin, selama ratusan bahkan ribuan tahun.

Hari Raya Nyepi merupakan prosesi menyambut tahun baru yang sungguh tidak biasa jika disandingkan dengan cara sebagian besar umat manusia di zaman modern ini merayakan tahun barunya. Satu pulau dengan serempak tenggelam dalam keheningan dan kontemplasi. Hidup sehari tanpa menyalakan lampu, tanpa suara, tanpa keluar ke mana-mana. Secara tradisi, keheningan dan gulita ini dimaksudkan agar segala bentuk kekuatan jahat terkecoh, mengira Pulau Bali telah ditinggalkan oleh penghuninya, sehingga mereka pergi ke tempat lain yang lebih bising (Pulau Jawa barangkali?).

Jika alasan tradisi ini dilepaskan, menghentikan kesibukan satu pulau untuk satu hari saja adalah tindakan yang sangat-sangat berani. Terutama dalam kehidupan modern kita yang begitu tergantung pada kebisingan dan gebyar cahaya. Bisakah kita membayangkan satu hari berbisik-bisik, tak keluar rumah, tak bekerja, tak berkendara, membiarkan malam bergulir tanpa menyambutnya dengan terang lampu? Nyepi juga menjadi momen keluarga. Dalam gelap mereka berkumpul, dengan bisik saling mengobrol dan bercerita. Bayangkan jika ini terjadi dalam skala satu pulau.

Saya sungguh tergoda membayangkan hari semacam Nyepi terjadi dalam skala satu negara, bahkan satu Bumi. Dan poin yang perlu digarisbawahi adalah, gulita dan hening itu bukan dilakukan karena terpaksa, karena bencana, melainkan dengan sadar dalam rangka mencegah sebuah bencana. Apakah mungkin? Pulau Bali telah menjadi laboratorium nyata yang membuktikan bahwa itu mungkin. Pada saat saya menuliskan artikel ini dan melakukan beberapa riset, saya menemukan bahwa ide tersebut ternyata sudah diusulkan dalam konferensi Climate Change di Bali akhir tahun lalu, disuarakan oleh seorang aktivis bernama Hira Jhamtani dengan judul “World Silent Day”. Lebih lanjut, Hira mengatakan bahwa dengan satu hari Nyepi, Pulau Bali menghentikan emisi sekurangnya 20,000 ton CO2. Kontribusi yang cukup besar. Namun, masihkah hal tersebut dipandang sebagai kontribusi dari sudut pandang umum?

Kenyataannya, jika ada saja satu pabrik yang buruhnya mogok kerja sehari, langsung keluar sekian angka kerugian puluhan hingga ratusan juta. Satu hari tanpa menggulirkan roda ekonomi berarti padamnya argo profit, sesuatu yang begitu ditakutkan oleh kebanyakan umat manusia. Akan tetapi, jika pada saatnya nanti, masih adakah arti julangan monumen ekonomi kita bila Bumi tak lagi sanggup menyokongnya? Akankah gedung tinggi dan mall besar kita akan berakhir seperti Tiahuanaco di Bolivia, Nazca di Peru, atau kompleks piramida di Giza? Tak lebih dari sekadar petunjuk teka-teki yang akan menghantui peradaban berikut, saat mereka menemukan monumen-monumen tersebut dalam timbunan pasir, lapisan es, atau di bawah laut.

Dalam bahasa Sunda, ‘bumi’ berarti rumah. Jadi, ‘diam di bumi’ sama dengan diam di rumah. Entah kapan proposal “World Silent Day” bergerak dari fase embrio menuju tindakan matang dan nyata. Yang jelas, saya mendukungnya. Membayangkan malam yang khidmat dan luar biasa tenang, pagi hari yang luar biasa segar, dan yang lebih penting lagi, bagaimana manusia satu Bumi akhirnya dipersatukan, bergerak dengan satu semangat untuk menyelamatkan rumahnya. Menolong Bumi dengan diam di bumi.

Saya belum pernah mencicipi Hari Raya Nyepi, meski beberapa kali tergoda ingin tahu. Dalam artikelnya, Janet mengatakan bahwa malam Nyepi merupakan malam paling tenang dengan langit paling jernih, dan keesokan hari sesudah Nyepi adalah hari tersegar karena udara yang begitu bersih. Mudah-mudahan, tahun depan saya berkesempatan untuk mencoba. Bergabung?


* Tulisan ini diterbitkan di Harian Pikiran Rakyat
Read More ..

Saturday, November 03, 2007

A Thank You Note

A Thank You Note


Beberapa hari yang lalu, seorang wartawan dari majalah lifestyle keluaran baru dari Group Tempo menghubungi asisten saya. Dia ingin mewawancarai saya untuk edisi perdananya yang akan terbit Desember nanti. Kemarin, wartawan dan dua fotografer dari majalah tersebut datang ke rumah saya di Bandung.

Wartawan itu lantas bercerita asal muasal mengapa saya kemudian dipilih menjadi “Story of the Month” untuk edisi perdananya. Sehubungan dengan konferensi di Bali tentang global warming bulan Desember nanti, mereka pun tertarik untuk mengangkat topik lingkungan hidup. Wartawan itu lantas bercerita, bahwa ia menerima tulisan “Harta Karun Untuk Semua” lewat e-mail, dan bukan hanya dari satu sumber, melainkan beberapa. “Setahu saya, tulisan itu juga menyebar di banyak milis,” katanya lagi.

Jujur, saya agak kaget mendengarnya. Namun saya juga teringat, beberapa komentar yang masuk untuk posting itu juga menyebutkan bahwa mereka membaca tulisan itu di milis, atau dikirim via e-mail. Seminggu lalu, saya juga mendapat telepon dari seorang guru piano di Solo, yang ingin mengadakan konser di sekolahnya bertemakan lingkungan, dan ia terinspirasi karena artikel “Harta Karun Untuk Semua”. Setelah membaca artikel yang sama, seorang teman sempat menawari saya menjadi tamu untuk talk show di sekolah anaknya yang juga sedang menggalakkan gerakan sadar lingkungan. Lalu beberapa teman saya pun pernah memberi tahu selewat-dua lewat bahwa mereka membaca artikel itu lewat e-mail yang dikirim massal ke inbox mereka.

Salah satu pertanyaan yang diajukan saat wawancara siang itu adalah, “Apa sih arti perbuatan kita kalau kita hanya seorang diri memisah sampah, membuat kompos, hemat listrik, hemat air, mengurangi makan daging, mengurangi konsumerisme, sementara jutaan orang di luar sana tidak peduli dan terus menjalankan hidupnya seperti biasa?”

Jawaban spontan saya adalah: tidak tahu. Saya tidak tahu apakah perbuatan kecil ini akan menurunkan pemanasan global, tidak tahu apakah kompos di rumah saya punya arti dalam menurunkan debit sampah dunia, tidak tahu apakah dengan saya bervegetarian akan punya dampak untuk kesejahteraan makhluk di Bumi ini. Jika optimis, saya akan mengatakan: iya, saya yakin perbuatan saya akan berarti dan bisa mengubah dunia. Jika pesimis, saya akan mengatakan: tidak, perbuatan saya sangat renik dampaknya, semikron debu di tengah padang pasir, dan bukan tandingan dari kondisi global yang dibentuk oleh miliaran manusia plus aneka faktor lainnya.

Saya yakin, pertanyaan plus dua jenis jawaban tadi adalah hal yang pernah terlintas dalam benak kita semua. Dan apa pun kecenderungan sikap kita—pesimis atau optimis—siang itu, saya dan juga wartawan tadi, sesungguhnya melihat sebuah bukti nyata. Artikel yang saya tulis spontan beberapa bulan lalu telah beredar tanpa saya tahu, tanpa bisa saya pantau, dan kembali lagi pada saya suatu hari, dalam bentuk wawancara, inspirasi, pengembangan ide, undangan, dan sebagainya. Artikel itu telah bergulir bak bola salju, menjadi sesuatu yang lebih besar dari ukuran aslinya.

Saya teringat prosesi rutin setiap kebaktian malam Natal, di mana semua jemaat masing-masing memegang sebuah lilin. Berawal dari nyala lilin di mimbar, beberapa lilin lain dinyalakan lalu menyebar ke seluruh penjuru ruangan, hingga setiap lilin akhirnya menyala tanpa kecuali. Saya membayangkan, prosesi yang sama sesungguhnya sedang terjadi. Di mana-mana. Di seluruh muka Bumi. Artikel “Harta Karun Untuk Semua” hanyalah satu contoh kecil dari sekian banyak upaya dari umat manusia. Saya tidak memasang alat penghitung di blog ini. Saya tidak tahu ada berapa orang yang berkunjung, selain mereka yang memberi komentar. Namun saya ingin berterima kasih pada semua, yang dengan caranya masing-masing telah membuat sebuah prosesi tak terlihat.

Saya masih belum tahu apakah perbuatan kecil skala rumahan saya punya dampak terhadap dunia. Tapi pertanyaannya, apakah perlu kita menagih bukti? Apakah ada alat atau metode yang secara pasti bisa mengukurnya? Dan jika tidak ada, haruskah kita berhenti? Saya tidak yakin saya bisa mengubah dunia, sebagaimana tulisan tersebut tidak ditujukan untuk mengubah dunia, atau siapa-siapa. Namun saya tahu, yang bisa diubah pada akhirnya hanyalah diri saya sendiri. Itulah lilin kecil yang kita pegang. Nyalanya mungkin tak seberapa, hanya menerangi jemari yang menggenggamnya. Namun jika lilin kecil itu menyala di setiap genggaman orang, tanpa terasa… ruangan gelap itu menjadi benderang. Bukan oleh upaya satu orang, melainkan beramai-ramai.

Saya punya sebuah pembatas buku, berbentuk bulan sabit berwarna perak. Saya beli tujuh tahun yang lalu di sebuah toko buku. Apa yang tertera di pembatas buku itu menggerakkan hati saya, hingga saya putuskan untuk membelinya. Sesekali saya suka mengeluarkannya dari laci, hanya untuk sekadar membaca tulisan yang begitu indah dan bermakna. Sebagai tanda terima kasih saya bagi teman-teman semua, izinkan saya memetik tulisan di pembatas buku itu:

“There are two ways of spreading light:
to be the candle or the mirror that reflects it”
– Edith Wharton –

Semoga hadiah kecil ini mampu menjadi harta karun bagi kita semua.


* Tulisan ini diterbitkan di Harian Pikiran Rakyat

Read More ..

Sunday, July 08, 2007

Harta Karun Untuk Semua

Harta Karun Untuk Semua
(Published - Pikiran Rakyat)


Hari ini kiriman buku yang saya pesan dari Amazon.com datang. Ada satu buku yang langsung saya sambar dan baca seketika. Judulnya: “Stuff – The Secret Lives of Everyday Things”. Buku itu tipis, hanya 86 halaman, tapi informasi di dalamnya bercerita tentang perjalanan ribuan mil dari mana barang-barang kita berasal dan ke mana barang-barang kita berakhir.

Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakan waktu ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung: orang gila mana yang mencipta sesuatu yang tak musnah ratusan tahun tapi masa penggunaannya hanya dalam skala jam—bahkan detik? Bungkus permen yang hanya bertahan sepuluh detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baru hancur setelah si pemakan permen menjadi fosil.

Sukar membayangkan apa jadinya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat, tanpa deterjen, tanpa karet, tanpa mesin, tanpa bensin, tanpa fashion. Dan sebagai konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir rantai pengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang kita konsumsi telah diputus. Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahu ke mana kemasan styrofoam yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyak pohon yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah jam saja, beban polutan yang diemban baju-baju semusim yang kita beli membabi-buta.

Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam kita bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kita sendiri?

Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air. Untuk mencuci secangkir kopi, kita butuh air sebaskom. Untuk memproduksi satu lapis daging burger yang mengenyangkan perut setengah hari dibutuhkan sekitar 2,400 liter air. Produksi satu set PC seberat 24 kg yang parkir di atas meja kerja kita menghasilkan 62 kg limbah, memakai 27,594 liter air, dan mengonsumsi listrik 2,300 kwh. Bagaimana dengan chip kecil yang bekerja di dalamnya? Limbah yang dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih berat daripada berat chip itu sendiri.

Mengetahui mata rantai tersembunyi ini bisa menimbulkan berbagai reaksi. Kita bisa frustrasi karena terjepit dalam ketergantungan gaya hidup yang tak bisa dikompromi, kita bisa juga semakin apatis karena tidak mau pusing. Yang jelas, sesungguhnya ini adalah pengetahuan yang sudah saatnya dibuka. Pelajaran Ilmu Alam, selain belajar penampang daun dan membedah jantung katak, dapat dibuat lebih empiris dengan mempelajari hulu dan hilir dari benda-benda yang kita konsumsi, sehingga tanggung jawab akan alam ini telah disosialisasikan sejak kecil.

Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO empat lantai, Pasar Baru, atau berjalan-jalan ke Gasibu pada hari Minggu di mana ada lautan PKL: tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupan penduduk satu kota? Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnya diproduksi? Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru yang menggelontori pasar. Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki hypermarket dan melihat ratusan macam biskuit, ratusan varian mie instan, dan ratusan merk sabun: haruskah kita memiliki pilihan sebanyak itu? Pernahkah kita merenung, apa yang kita inginkan sesungguhnya jauh melebihi apa yang kita butuhkan? Atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalam setahun, bahkan lebih. Atas nama fashion, jumlah itu menjadi tidak berbatas. Atas nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan beberapa pilihan panganan dalam sehari. Atas nama selera dan nafsu, seisi Bumi tidak akan sanggup memenuhi keinginan satu manusia.

Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata. Seorang ekonom mungkin akan menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi. Seorang sosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan pemerataan. Tapi jika kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan negara, negara adalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah kumpulan individu, permasalahan ini akan kembali ke pangkuan kita. Dan kesadaran serta kemauan kitalah yang pada akhirnya akan memungkinkan sebuah perubahan sejati.

Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menjadi sangat menentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati protokol Kyoto, tidak perlu juga menunggu penjarah hutan tertangkap, setiap langkah kita—memilih merk, kuantitas, tempat, gaya hidup—adalah pilihan politis dan ekologis yang menentukan masa depan seisi Bumi.

Saya belum bisa mengorbankan komputer karena itulah instrumen saya bekerja, tapi saya bisa lebih awas dengan jam penggunaan dan mematikannya jika tidak perlu. Saya belum bisa mengorbankan kebutuhan akan informasi, tapi saya bisa memilih membaca berita lewat internet atau membaca koran di tempat publik ketimbang berlangganan langsung. Bagaimana dengan fashion? Di dunia citra ini, dengan profesi yang mengharuskan banyak tampil di muka publik, saya pun belum bisa mengorbankan keperluan fashion (baca: membeli busana lebih sering dari yang dibutuhkan), tapi saya bisa membuat komitmen dengan lemari pakaian, yakni baju yang saya miliki tidak boleh melebihi kapasitas lemari saya. Jika lebih, maka harus ada yang keluar. Dan setiap beberapa bulan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ada baju yang tidak saya pakai setahun lebih atau baju yang cuma sekali dipakai dan tak pernah lagi. Bukan cuma baju, ada juga buku, pernik rumah, alat dapur, bahkan sabun dan sampo yang utuh tak disentuh.

Alhasil, dalam rumah saya ada semacam peti-peti ‘harta karun’, yang berisikan barang-barang yang harus keluar dari peredaran, karena jika dipertahankan hanya menjadi kelebihan tanpa lagi unsur manfaat. Harta karun ini lantas harus dicarikan lagi outlet untuk penyaluran.

Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan bazaar. Para warga menyewa stand untuk berjualan. Saya ikut berpartisipasi, dan sayalah satu-satunya penjual barang bekas di antara penjual barang-baru baru. Karena bukan demi cari untung, barang-barang itu saya lepas dengan harga sangat murah. Yang membeli bukan cuma warga kompleks, tapi juga dari kampung sekitar. Hari pertama, saya sudah kehabisan dagangan. Terpaksa saya mengontak saudara-saudara saya yang barangkali juga punya barang bekas untuk disalurkan. Sama dengan saya, mereka pun punya timbunan harta karun yang entah harus diapakan. Stand saya menjadi salah satu stand paling laris selama bazaar berlangsung. Dan kakak saya terkaget-kaget dengan penghasilan yang ia dapat dari tumpukan barang yang sudah dianggap sampah.

Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara kreatif lain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga disumbangkan. Namun yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen-komitmen pembatasan diri. Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan rak kamar mandi, dengan laci dapur, dan pada intinya… dengan diri sendiri. Siapkah kita menentukan batasan dan berjalan dalam koridor itu?

Dan, yang lebih susah lagi, adalah pengendalian diri dari awal bersua aneka pilihan yang membombardir kita setiap hari, lalu sadar dan mawas akan rantai sebab-akibat yang menyertai pilihan kita. Membuka diri untuk info dan pengetahuan ekologi adalah salah satu cara pembekalan yang baik. Walaupun sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong kresek yang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan hamburger yang kita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang menyertai barang-barang itu tidak akan hilang hanya karena kita menolak tahu.

Banyak orang yang berkomentar pada saya, “Aduh, Wi. Kamu bikin hidup tambah susah saja.” Dan mereka benar. Hidup ini tak mudah. Untuk itu kita justru harus belajar menghargai setiap jengkalnya. Memilih hidup yang lebih sederhana, hidup dengan tempo yang lebih pelan, hidup dengan pengasahan kesadaran, tak hanya membantu kita lebih eling dan terkendali, tapi juga membantu Bumi ini dan jutaan manusia yang dijadikan alas kaki oleh industri demi pemenuhan nafsu konsumsi kita sendiri. Lingkaran setan? Ya. Tapi tidak berarti kita tak sanggup berubah.

Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi kita bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya kita cari. Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan.
Read More ..