Wednesday, December 31, 2008

Menyantap "Mini M&M" Setiap Rabu

Menyantap “Mini M&M”
Setiap Rabu




Sejak kecil, saya punya masalah dengan rutinitas. Semasa bersekolah, saya sering bertanya-tanya sendiri: kenapa saya harus berada di tempat yang sama, pada waktu yang sama, dan pada hari-hari yang sama, terus menerus? Akibatnya, saya sering membuat “variasi” sendiri, misalnya dengan bolos, mabal, datang terlambat (didukung lagi oleh penyakit malas bangun pagi yang kronis). Itulah salah satu alasan utama saya memilih profesi yang saya jalankan sekarang. Profesi dalam bidang seni memang cenderung berskema lebih chaotic, dengan pola waktu dan aktivitas yang berubah-ubah. Meski kadang bermusik dan menulis pun butuh rutinitas, tapi biasanya tidak berlangsung dalam waktu lama.

Namun, sekarang ada satu rutinitas baru yang tengah saya jalankan. Tentunya ini jadi fenomena langka. Sepanjang ingatan saya, tidak banyak rutinitas yang saya pilih melalui inisiatif sendiri, lebih banyak karena terpaksa (mis. sekolah). Rutinitas baru ini tak punya judul resmi. Berlangsung setiap hari Rabu selama dua jam di Citrus Café, Jakarta Selatan. Ada yang menyebutnya Arisan Rabu Hening, ada juga yang menamainya Meditasi Rabu, atau, dengan konotasi bercanda, Sekte Rabu.

Kegiatan meditasi Rabu itu sendiri sudah berlangsung sejak Mei tahun lalu. Dan, penyelenggaranya sendiri, Reza Gunawan, sudah saya kenal cukup lama, dari mulai kami berteman sampai sekarang menjadi suami. Namun baru enam bulan terakhirlah saya muncul rutin di sana, tepatnya setelah mulai pindah ke Jakarta, mengikuti satu setengah jam kegiatan meditasi yang bentuknya bisa macam-macam, dari mulai duduk diam sampai obrol-obrol biasa.

Entah mengapa, pengalaman di satu Rabu bulan September terasa ekstra berkesan, sampai-sampai menggerakkan saya untuk menuliskan artikel ini. Malam itu, kami hadir bersepuluh. Duduk bersila membentuk lingkaran di atas lantai kayu dengan lampu temaram. Kaca besar yang mengelilingi kami sesekali memantulkan lampu kendaraan yang lalu-lalang, terkadang mengantarkan bunyi knalpot sayup-sayup. Reza lalu mengajak kami untuk melakukan semacam meditasi vocal toning, yakni membunyikan bunyi “a” selama lima menit. Bunyi “a” merupakan satu-satunya bunyi yang resonansinya menyentuh otak dan seluruh ujung saraf tubuh. Pusat utama bunyi ini terletak di chakra jantung (anahata), yang berhubungan dengan rasa syukur, ikhlas, dan kasih sayang. Dalam kehidupan sehari-hari, secara alamiah kita pun memproduksi bunyi ini untuk mengekspresikan kelegaan, pelepasan emosi, atau puncak pengalaman rasa.

Selama kami menyuarakan bunyi “a” dengan mata terpejam, saya merasa ketegangan batin maupun fisik mulai dikendurkan. Seakan lewat bunyi tersebut, tubuh dan batin saya menumpangkan “sampah-sampah”-nya untuk dialirkan keluar. Bunyi sederhana itu pun terdengar sakral dan penuh kekuatan. Sekalipun hanya bersepuluh, rasanya kekuatan suara yang keluar berlipat dari jumlah peserta yang hadir.

Lima menit berlalu, ditandai dengan bunyi bel. Kami pun serempak berhenti. Lima menit berikut kami lalui dengan keheningan. Dan hening singkat ini terasa dalam. Berkualitas. Rasanya seperti meditasi setengah jam. Terbersit rasa tidak rela ketika bel berbunyi karena inginnya memejamkan mata lebih lama lagi. Kesan serupa ternyata juga muncul bagi banyak peserta lain. Semuanya sama-sama merasa lima menit terlalu singkat.

Babak selanjutnya dimulai. Kali ini kami melakukan gibberish selama lima menit. Gibberish adalah bebunyian acak yang kita keluarkan secara spontan. Seperti celoteh bebas yang kerap dilontarkan anak-anak. Yang penting dalam ber-gibberish adalah kontinuitas (tidak boleh berhenti) dan tidak menggunakan kata atau kalimat yang bermakna.

Ini merupakan pengalaman pertama saya gibberish berkelompok. Ternyata efeknya sangat dahsyat. Saya merasa kekuatan gibberish untuk mengeruk “sampah” berkali lipat lagi dibandingkan lima menit membunyikan “a” tadi. Segala bebunyian aneh yang seringkali mengocok perut sudah pasti kita dapatkan selama ber-gibberish. Anehnya, meski terdengar seperti kendurian pasien RSJ, kor ceracau tak beraturan dan menggelikan itu pun terasa sakral. Bahkan pada saat tengah-tengah melakukan gibberish, saya merasa sangat rileks dan damai.

Lima menit berikut kembali hening. Dan lagi, lima menit ini terasa dalam. Jauh lebih dalam. Seusai babak kedua ini, saya sempat termenung. Menyadari betapa rindunya saya pada retreat meditasi, berhari-hari menyelam dalam sunyi, dan berefleksi ke dalam diri. Satu kesempatan yang sudah lama tidak saya cicip karena kepungan aktivitas dan tuntutan keseharian.

Babak terakhir adalah kombinasi antara gumam (humming) dan hening. Sama-sama lima menit. Humming di sini artinya menggumamkan bunyi “mmm” secara bersambung, bebas, dan spontan. Bumi ini sendiri diyakini mengeluarkan bunyi yang berupa gumaman, sehingga ketika kita melakukannnya, kita pun beresonansi kita dengan frekuensi Bumi. Dan saat dilakukan dengan berkelompok, bunyi ini memiliki efek sinkronisasi, mempersatukan.

Total kami bermeditasi tiga puluh menit. Malam ditutup dengan sharing mengenai kesan dan pengalaman kami selama berlatih. Saat saya berbagi, barulah saya menyadari betapa cemerlangnya rangkaian latihan sederhana tadi, dan betapa dalam manfaatnya bagi orang-orang produk zaman modern—termasuk saya—yang hidup dalam irama cepat dan pikiran yang terus menerus dibuat gelisah.

Sering saya mengamati orang-orang di sekitar saya; mulut yang balapan antara makan siang sambil bicara di ponsel, tak-tik-tuk jari jempol yang berpacu mengirim pesan singkat, teve yang terus-terusan berpendar dan bergaung. Tak terhitung banyaknya saya mendengar ungkapan: ‘gue kalo nggak kerja malah pusing’, ‘mendingan ketinggalan dompet daripada ketinggalan hape’, dan seolah seiring sejalan, ungkapan-ungkapan lainnya adalah: ‘pikiran gue kok nggak bisa diam, ya?’, ‘dikasih libur gue malah nggak bisa nikmatin,’ dsb. Jika kita dengan mudahnya menggandengkan diri dengan rutinitas bekerja dan berpikir, mengapa kita begitu sukar bergandengan dengan rutinitas diam dan stop berpikir? Mungkinkah kita sudah lupa caranya? Mungkinkah kita sudah lupa rasanya?

Saya teringat kejadian sebelum meditasi malam itu. Saya pergi belanja, dan anak saya, Keenan, menyambar sesuatu sesaat sebelum saya membayar di kasir. Kecepatan tangan si kasir tidak memberikan kesempatan pada saya untuk melihat dulu, bahkan menyetujui apa yang Keenan beli. Baru setelah sampai di rumah saya mengetahui bahwa dia membeli setabung permen cokelat “M&M”. Tapi kemasan “M&M” ini lebih kecil dari yang biasa saya lihat. Ketika saya buka isinya, menghamburlah warna-warni cokelat bersalut khas “M&M”, tapi kali ini dengan ukuran mini. Tidak ada catatan khusus dalam hati saya ketika melihat permen itu, cuma komentar pendek “lucu, ada ukuran sekecil ini” sambil mengunyah beberapa.

Ada kalanya, saking mendambanya retreat meditasi ke luar kota, saya cenderung melupakan atau mengecilkan makna latihan-latihan harian. Saking kepinginnya pergi ke tempat-tempat sunyi dan inspiratif seperti vihara di Mendut atau resort meditasi di Ubud, saya tidak memperhitungkan bahwa Jakarta pun bisa jadi oase bagi jiwa yang mendamba keheningan. Keinginan bermeditasi berjam-jam kadang membuat kita abai bahwa dalam sepuluh menit pun sebuah keajaiban bisa terjadi.

Jika retreat ke luar kota adalah sebalok besar cokelat, maka Meditasi Rabu ini ibarat permen cokelat “M&M”. Kesempatan mingguan bagi penghuni kota metropolitan Jakarta untuk menguras sampah batin dan sejenak berpulang ke ke kamar batin yang hening. Tapi khusus hari Rabu ini, saya berkesempatan mencicipi “M&M” mini, seri meditasi sepuluh menit yang ternyata mampu menghadirkan pengalaman luar biasa, yang tak kalah ampuh dengan porsi meditasi yang lebih besar.

Alangkah indahnya jika kita, masyarakat urban, selalu punya kesempatan untuk menarik diri dari aneka rutinitas dan kebisingan kota besar. Sayangnya, kesempatan itu tak selalu ada. Alangkah indahnya jika kita selalu berkesempatan dan berdisiplin untuk meluangkan sejam setiap harinya untuk duduk diam dalam hening. Sayangnya, kesempatan dan disiplin itu pun tak selalu hadir. Sepuluh menit yang saya cicip hari ini menjadi pilihan oase yang rileks dan realistis.

Meski terkenal punya masalah dengan rutinitas, saya harus mengakui yang satu ini: keheningan adalah rutinitas yang saya anggap esensial bagi kewarasan dan keselarasan diri saya. Dan Meditasi Rabu menjadi setabung cokelat M&M yang senantiasa ingin saya hadirkan di kantong.


* Informasi Meditasi Rabu bisa disimak di situs True Nature.
Terbuka untuk umum.

** Ilustrasi M&M diambil dari sini

Read More ..

Saturday, December 13, 2008

Membangunkan Pujangga Tidur

Membangunkan Pujangga Tidur


Sebuah ide membakar pikiran saya berhari-hari.

Apa gerangan yang membuat seseorang menulis? Apa yang sesungguhnya terjadi ketika seseorang memutuskan ingin jadi penulis? Apa yang ingin dicari seorang penulis? Dinamika apa yang sebenarnya terjadi antara penulis, pembaca, dirinya dan semesta raya?

Sudah cukup sering saya menjadi juri berbagai lomba penulisan. Ratusan naskah dari orang-orang yang ingin suaranya didengar, ingin suaranya menjadi pemenang… apakah hadiah yang mereka cari? Ataukah ada yang lebih dari sekadar piagam dan uang? Sudah cukup sering juga saya dimintai pendapat atas naskah seseorang. Dari mulai yang meminta endorsement sampai yang cuma ingin dibaca saja. Kepuasan apakah yang sebetulnya didapat dari menuliskan puluhan bahkan ratusan lembar itu? Apa yang memotori para penulis itu merangkai kata? Apa yang sebetulnya mereka ingin bisikkan, teriakkan, dan tangiskan?

Tak terhitung juga banyaknya pertanyaan yang terlontar pada saya, menanyakan tips menjadi penulis, cara menulis yang baik, cara menuangkan ide ke dalam tulisan, bahkan sampai tips mencari judul dan nama tokoh. Beberapa kali saya memang pernah memberikan pelatihan penulisan, tapi hanya untuk beberapa jam saja. Yang paling intensif pernah saya lakukan untuk UNAIDS, mentoring selama dua hari, dan hasilnya menjadi sebuah buku (“Kartini Bernyawa Sembilan”). Dan dalam proses relatif singkat itu, tetap saja saya terusik, termenung, bahkan terpukau melihat transformasi yang bisa diperagakan seseorang ketika ia berhasil “disentuh” oleh kekuatan ilham. Dan saya pun bertanya-tanya, adakah caranya agar seseorang bisa menyiapkan dirinya untuk disentil dan disengat inspirasi?

Saya tidak pernah punya latar belakang sastra secara formal. Nilai di rapor saya untuk pelajaran Bahasa Indonesia selalu biasa-biasa saja. Tapi sejak balita, saya senang berkhayal dan melamun. Saya bisa melamun berjam-jam sebelum terlelap. Waktu kanak-kanak, saya bukan seorang kutu buku. Urat baca saya masih kalah dibandingkan kakak-kakak saya yang lain.Tapi saya amat senang membuat cerita. Saat itu dorongan menulis buat saya lebih kuat ketimbang membaca.

Saya juga pemerhati hal-hal remeh. Waktu kecil, saya sangat suka kelereng. Bukan untuk dimainkan, melainkan untuk diamati. Saya bisa menghabiskan waktu panjang hanya untuk mengamati sebola kelereng di terang lampu. Rasanya ada galaksi ajaib di dalam bola itu. Kilau yang dipantulkan kaca dalam kelereng seolah membentuk labirin dan bintang-bintang, dan saya terlongo-longo dipukau keindahannya. Saya juga kecanduan mengamati langit. Mencari bentuk dan wajah di awan, menghayati warna-warni senja sampai dada saya sesak oleh haru. Sebuah kebiasaan yang terus berlanjut hingga dewasa: mengamati angkasa hingga menunggu ia “berbicara” pada saya.

Entah mengapa, hal-hal kecil yang susah didefinisikan itulah yang justru terasa kokoh dan masif saat saya mengamati ke dalam diri untuk mencari pilar-pilar apa yang menjadi penyangga saya sebagai penulis. Bukan hadiah, ketenaran, piagam, atau uang, meskipun semua itu bisa jadi efek samping yang menyenangkan.

Sayangnya, pilar-pilar itu justru sering luput diamati. Kita malah lebih tertarik pada “kabut” yang menyelimuti seorang penulis ketimbang bara api yang membakarnya. Tidak heran ketika saya iseng survei “pelatihan penulisan” di internet, yang muncul adalah workshop untuk jadi penulis best-seller, workshop untuk jadi penulis profesional, workshop how-to menerbitkan buku, bahkan ada yang menjadikan nama saya sebagai iming-iming (“ingin menjadi penulis best-seller seperti Dee?”). Tidak ada yang salah atau buruk dari workshop semacam itu, bahkan pada level kebutuhan tertentu bisa jadi malah sangat berguna. Tapi perlu kita sadari bahwa penjelajahan superfisial otomatis akan membawa kita ke tempat-tempat yang superfisial, sementara penjelajahan yang sifatnya esensial tentunya akan membawa kita menelusuri gorong-gorong yang lebih dalam. Tergantung pada apa yang kita masing-masing butuhkan saat ini.

Jika ditanya, apa rahasianya agar bisa jadi penulis best-seller? Saya akan jujur menjawab: tidak tahu. Jadi, kalau satu saat nanti saya berkoar tentang bagaimana cara menulis buku laku, jangan pernah percaya. Saya sungguh-sungguh tidak tahu. Jika ditanya, apa rahasianya agar naskah kita diterima penerbit? Jujur, saya pun tidak tahu. Seperti jodoh, kita bisa punya sederet kriteria ideal, tapi pada akhirnya misterilah yang menautkan kita dengan seseorang. Begitu juga hubungan antara penerbit dan penulis. Sudah jadi cerita klasik bagaimana sebuah naskah ditolak sejumlah penerbit sampai akhirnya ada satu pintu yang membuka dan tahu-tahu naskah itu meledak menjadi best-seller. JK. Rowling mengalaminya, John Grisham mengalaminya, Sitta Karina mengalaminya, dan masih banyak lagi. Dan kalau ada yang bertanya, bagaimana sih caranya menulis? Jawaban saya pun tetap sama: tidak ada cara lain untuk menulis selain menulis.

Ada sesuatu yang sederhana yang kerap lolos dari pengamatan kita. Saya akan mengambil diri saya sendiri sebagai contoh. Ketika ditanya: bagaimana caranya agar tulisan kita dibaca orang? Hati saya tidak bereaksi. Datar dan hambar. Yang sibuk berputar untuk menjawab adalah kepala saya. Sementara ketika ditanya: apa motor yang menggerakkan saya berkarya, yang bisa membuat saya menggelepar seperti cacing kena garam, yang mampu membuat rahang saya kejang karena gemas, yang bisa melesatkan saya menembus atmosfer bahasa? Hati saya seketika tergetar. Ada sesuatu yang hidup, yang dahsyat, yang langsung mengaliri tubuh saya. Sementara kepala saya cuma bisa kelimpungan mencari penjelasan yang memang di luar kesanggupannya.

Sesuatu itu, teman-teman, adalah sesuatu yang paling penting untuk ditemukan. Sisanya bonus. Kepala Anda tidak bisa menjawabnya. Hanya hati yang tahu. Di titik pertemuan antara Anda dan bara api yang membakar jiwa Anda itulah kabut kepenulisan akan meluruh dengan sendirinya. Anda seketika bisa membedakan mana yang penting dan tidak penting. Mana yang esensi dan mana yang aksesoris.

Sekarang Anda mungkin tergerak untuk bertanya, bagaimana caranya mengalami pertemuan itu? Saya pun harus jujur menjawab: tidak tahu pasti. Namun kali ini saya tertarik ingin mencari tahu, bersama-sama dengan Anda. Sama halnya kita tidak tahu kapan petir akan menyambar, tapi kita bisa mempersiapkan diri untuk disambar petir.

Inilah ide yang sekarang tengah membakar saya, yang mudah-mudahan bisa saya laksanakan pada awal tahun depan: membuat sebuah workshop penulisan intensif, bukan untuk menjadi penulis best-seller, bukan juga untuk memenangkan lomba, bukan untuk karyanya diterima penerbit, melainkan untuk membangunkan sang pujangga yang tertidur.

Pernahkah Anda melihat kandang macan di siang hari? Binatang yang sangat indah, tapi cenderung membosankan berhubung kerjanya cuma tidur. Sekarang bayangkan macan itu adalah pujangga dalam diri kita. Sekalipun kita sudah banyak menciptakan kalimat-kalimat indah, belum tentu kita menyuarakan kejujuran kita yang terdalam. Saat kita melihat seekor macan tertidur di kandang, yang mengaum di kepala kita adalah cerita-cerita orang tentang macan, atau pengetahuan kita tentang macan yang didapat dari brosur, buku, atau teve. Tapi selama macan itu belum mengaum langsung, sesungguhnya kita tidak pernah mendengar suara dia yang sebenarnya.

Saya ingin mendengar macan itu mengaum dan merobekkan cakarnya. Bahkan lebih dari itu, saya ingin macan itu merdeka dari kandangnya kemudian berlari bebas dan kembali jadi raja hutan. Pujangga dalam diri kita kini terkurung dan tertidur pulas. Terbius oleh aturan dan kata-kata orang. Bahkan kebanyakan dari kita tak menyadari sang pujangga itu ada.

Di sinilah saya menemukan titik temu antara menulis dan meditasi. Writing and Zen. Di luar embel-embel gemerlap profesi penulis, kegiatan menulis adalah samurai tajam yang mampu mengupas lapis demi lapis diri kita. Siapa dan apa yang sesungguhnya bersembunyi di balik tabir pikiran dan baju kata-kata? Dari mana datangnya itu semua? Menulis juga mampu membantu kita berjarak dari kemelut ego, dari “aku” yang mengira dirinya pusat segala hal. Jarak tersebut memampukan kita untuk melihat sesuatu dengan lebih jernih, netral, tidak menghakimi. Itulah kepekaan yang ingin kita asah melalui meditasi. Dan kepekaan itu jugalah yang bisa kita asah melalui aktivitas menulis dalam konteks meditatif.

Berbeda dengan “pengetahuan” yang diturunkan secara estafet, Zen bagi saya adalah pengalaman langsung. A path of direct knowing. Sesuatu yang universal dan bisa diakses oleh siapa saja terlepas dari ragam latar belakang dan kepercayaannya. Pada hakikatnya “pengetahuan” sudah mati, sementara “mengetahui langsung” adalah aktivitas hidup yang terjadi secara spontan. Itu jugalah yang membedakan antara “menulis dari hati” dengan “menulis berpikir”. Meski kita sering mengklaim bahwa tulisan kita adalah tulisan dari hati, seringkali yang terjadi adalah tulisan yang kita “pikir” dari hati. Sebaliknya, menulis dari hati juga bukan berarti tanpa proses berpikir sama sekali. Tapi dalam hal ini pikiran kita ditempatkan sebagai gerbong yang ditarik, bukan lokomotif.

Tentunya ini akan menjadi perjalanan yang membutuhkan banyak keberanian. Berani menghadapi diri sendiri dan bertarung dengan ketidakpastian. Tidak hanya bagi pesertanya tapi juga bagi fasilitatornya. Kita sama-sama tidak tahu macan jenis apa yang menunggu Anda di bawah sana. Bahkan kita tidak tahu akan menemukannya atau tidak. Tapi, tidakkah perjalanan ini menjadi sesuatu yang layak dicoba?

Workshop tersebut akan memiliki sebuah bunyi: ZWAMP!

Zen Writing Camp. Dua malam tiga hari. Hanya Anda, aksara, dan misteri. Sama-sama kita bersafari, membangunkan pujangga di dalam kandang, dan mendengarnya mengaumkan apa yang paling sejati.
Read More ..

Friday, November 28, 2008

Hail, All Ye Writers!

Hail, All Ye Writers!


Februari 2001. Percetakan Dian Rakyat. Napas saya tertahan. Mata mengerjap takjub. Benda itu merembeskan hangatnya ke telapak tangan saya. Rasanya bagai menarik keluar seloyang bolu dari oven, mengepul dan harum. Kue Valentine terindah yang pernah saya lihat. Biru, berbinar seperti batu safir, dan ada segaris nama saya tercantum di sana, tercetak dengan warna putih. Pikiran saya seketika bergeliat dan menggali setumpuk kenangan masa kecil, merunut remah-remah roti yang menjadi penunjuk setapak menuju momen Valentine di percetakan besar di Pulogadung itu:

Umur 9 tahun, menulis di buku tulis bersampul foto artis Dian Pisesha dengan pulpen merk Le Pen bertinta biru, cerita berjudul “Rumahku Indah Sekali”, sedari kecil saya memang tidak peduli dengan tulisan pendek, atau artikel jurnalistik, saya cuma ingin menulis buku… lalu, setumpuk jurnal yang saya tulis sejak kelas 1 SMP dalam beraneka bentuk agenda dan kini saya simpan rapi dalam peti berwarna perak, agar kalau rumah saya kebakaran tidak perlu repot lagi geledah sana-sini, saya tinggal melempar peti itu keluar jendela demi menyelamatkan log perjalanan seorang pelayar kehidupan bernama Dewi Lestari… lalu, laptop pertama saya, merk Digital, tahun 1996, perkakas andal yang amat saya banggakan, yang sering membuat orang melirik iri karena waktu itu belum banyak orang ber-laptop, apalagi cewek belasan tahun yang tidak kelihatan seperti eksekutif atau dosen, bersamanya saya melahirkan “Filosofi Kopi”, “Perahu Kertas”, dan masih banyak lagi cerita pendek-panjang, tamat-gantung… semangat itu tidak pernah mati sekalipun tulisan saya lebih banyak dibaca diri sendiri atau oleh segelintir penghuni rumah Patrakomala 57 beserta anak-anak kosnya… dan akhirnya, pada hari cinta tahun 2001, saya rampungkan setapak itu. Berujung pada sebuah kitab biru berjudul “Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh” (KPBJ).

Datang dari dunia hiburan di mana promosi agresif dan persuasif menjadi sebuah kelaziman, tanpa banyak berpikir saya langsung menyusun rangkaian aktivitas untuk mempromosikan buku saya. Dari mulai launching, promo radio, bedah buku, booksigning, dsb. Tanpa bermaksud narsis, memang tidak berlebihan kalau Taufik Ismail berkata bahwa Supernova membawa kesegaran baru pada dunia sastra Indonesia. Bukan cuma masalah kontennya. Jika saya kilas balik ke belakang, salah satu kontribusi terbesar Supernova adalah perubahan paradigma pemasaran buku Indonesia yang dipicunya saat itu.

Dulu, promosi buku tidak jauh-jauh dari mencetak poster atau resensi di majalah. Talkshow, booksigning, dan launching, merupakan peristiwa langka yang hanya dicicip segelintir penulis beruntung. Baru setelah Supernovalah industri perbukuan bergerak ke arah marketing yang lebih ekspansif. Menjemput pembaca ketimbang menunggu pembaca yang datang ke rak buku. Promosi buku kini menjadi perihal yang wajib ditagih penulis pada penerbitnya.

Dulu, semua orang bilang saya gila ketika tahu saya mencetak 7000 buku sekaligus. Sebetulnya, saya bukan gila, melainkan polos dan goblok. Saya tidak tahu apa-apa soal pakem perbukuan, bahwa yang namanya best-seller saat itu adalah laku 3000 eksemplar dalam satu tahun, sehingga mencetak 7000 buku untuk cetakan pertama bisa dibilang perbuatan bunuh diri atau malah ultra PD. Sekarang buku saya dicetak dalam satuan 10.000 eksemplar. Paling ekstrem bahkan pernah diterobos oleh “Supernova: Akar”, yakni dicetak 40.000 buku sekaligus.

Boleh dibilang saya memang nekat karena berani menguras semua tabungan pribadi saya untuk memproduksi Supernova KPBJ pertama kali, tapi saya tidak menganggap itu gila. Bagi saya, itu justru harga yang teramat murah untuk terwujudnya sebuah mimpi. 16 tahun saya menanti. Saya merasa berutang pada Dewi Lestari umur 9 tahun. Saya ingin buku tulisnya bermetamorfosa menjadi sebuah buku betulan. Dari tulis tangan tinta biru menjadi buku cetak bersampul biru. Dari sampul foto artis ’80-an pelantun lagu-lagu sendu menjadi foto dirinya sendiri yang tercetak mungil di sampul belakang. Saya tidak peduli uang saya kembali atau tidak. Saya bahkan tidak peduli ada orang yang baca Supernova atau tidak. Saya melakukan itu semua untuk diri saya, untuk si Dewi kecil.

Rangkaian aktivitas Supernova KPBJ lantas bergulir seperti bola salju yang makin besar. Saya bahkan tidak pernah merancang apa-apa lagi, tinggal mengatakan ‘ya’ pada semua pihak yang menawarkan untuk berpromo, dari mulai toko buku, radio, kampus, sampai mall. Seorang sahabat bahkan pernah membuatkan roadshow tiga hari di Yogya, lengkap dengan kru teve, tanpa saya mengeluarkan biaya sepeser pun. Sekurang-kurangnya saya bedah buku 40 kali dalam tiga bulan, belum ditambah interview media, dsb. Seumur hidup, belum pernah saya harus menghadapi publik dan media seintens itu. Sesering itu. Sampai pada satu titik… saya muak.

Satu hari, seusai bedah buku di Gramedia di kota Yogya, saya lari ke ruang karyawan, mengunci diri, hanya untuk menangis sejadi-jadinya. Mengulang-ulang hal serupa, mendengar pertanyaan yang itu-itu lagi, membuat saya merasa seperti kaset soak. Ingin bungkam. Ingin masuk gua dan kembali hibernasi. Promosi Supernova KPBJ memakan waktu saya selama 1,5 tahun. Saya nyaris tidak punya kesempatan untuk menulis episode berikutnya. Energi saya terkuras habis. Semangat saya meredup. Saya cinta berkarya tapi mempromosikan karya ternyata adalah hal yang sama sekali berbeda.

Namun setiap karya membawa pengalaman dan pelajaran yang selalu unik dan berbeda. Tujuh tahun sejak penerbitan Supernova, sudah enam judul buku yang saya rilis. Angka yang cukup bagus dan terbilang produktif. Masa-masa sukar dalam setiap proses kreatif maupun fase pemasaran berhasil saya lalui dan semua itu terus memperdalam pemahaman saya akan menulis, industri perbukuan, dan juga akan diri saya sendiri.

Saya ingin berbagi sesuatu dengan Anda semua, penulis atau bukan, sekelumit perenungan dari perjalanan saya menjadi seorang penulis:

Pertama, menulis adalah hal yang sangat mendasar, sama seperti berbicara. Ini adalah keistimewaan manusia yang tidak dimiliki spesies lain. Jangan pernah tenggelam dalam asumsi bahwa hanya mereka yang berbakatlah yang bisa jadi penulis. Selama Anda berteguh hati untuk menggali ke dalam diri, niscaya Anda akan menemukan sebuah “sumber air abadi”. Semacam sungai bawah tanah yang selamanya mengalir dan berair. Inilah tempat para pujangga mereguk inspirasi untuk kemudian dibawa kembali ke permukaan dalam kemasan berlabelkan nama mereka. Namun, di sumbernya, air itu tidak bernama dan bisa dimiliki siapa saja.

Ketika hadir fase yang disebut-sebut “nggak ada inspirasi”, atau “habis ide”, sesungguhnya bukan inspirasi atau ide yang tahu-tahu minggat dan menguap. Sumber air itu tidak pernah kering. Pipa kitalah yang seret, kotor, atau tersumbat. Inspirasi mengaliri Anda saat saluran Anda memang sudah disiapkan dan dijernihkan. Ia tidak ke mana-mana. Tinggal menunggu Anda menangkap dan mendengar saja.

Kedua, “Menulis” dan “Penulis” adalah dua hal yang sangat berbeda. Jangan sampai terkecoh, karena dalam perjalanannya kelak, keduanya bisa tertukar atau terselamur. Menulis adalah aktivitas yang hidup; kendaraan Anda untuk menggali dan menemukan sumber ilham di bawah sana. Penulis adalah titel yang disandangkan orang lain bagi Anda. Semacam trofi yang dihadiahkan publik atas penggalian Anda ke dalam. Namun trofi itu hanyalah pajangan mati, dan ilusi yang dihadirkannya berkekuatan luar biasa dan dapat membius Anda. Menyelimuti Anda dengan kabut yang pada akhirnya mengecoh semua, termasuk diri Anda sendiri. Seseorang bisa disebut Penulis meskipun ia berhenti menggali. Dan seseorang yang selalu menggali belum tentu punya predikat Penulis.

Untuk tetap menulis, terkadang kita harus berani mengorbankan predikat kepenulisan kita. Meninggalkan permukaan, benderangnya lampu sorot dan elu-eluan massa, kembali menyelam, melebur dalam kegelapan gua, kembali bertarung dengan halaman kosong tanpa peduli apa yang terjadi di atas sana. Hanya dengan menulis Anda bisa kembali mereguk air itu. Sebaliknya, titel penulis mengeringkan kerongkongan dan berisiko membuat Anda mati kehausan. Jadi, jangan salah membedakan mana menulis dan mana “kabut”-nya.

Terakhir, dan terpenting. Sampai Anda merasakan sendiri, jangan percaya kata-kata saya ini: menulis adalah meditasi. Dalam satu percakapan, Reza pernah berkata: jika membaca adalah proses untuk mencari kebenaran, maka menulis adalah proses di mana kita menemukan kebenaran kita sendiri. Saya amat sepakat. Bukan karena kalimatnya indah, tapi karena sungguh-sungguh saya alami. Otentisitas hanya lahir jika Anda mau bertarung dengan diri sendiri. Bukan dengan sekadar berlindung di balik tameng kebenaran warisan, kata orang, atau segunung kitab. Jika religi dimaknai sebagai sesuatu yang hidup, empiris, otentik, dan bukan sebaris huruf di KTP, then writing IS (one of) my religion(s).

Hingga sekarang, saya masih terus belajar, menggali, bergelut dan bergulat. Khususnya pada masa saya aktif memasarkan buku, pada saat itulah kabut kepenulisan terasa sangat menyesakkan. Dan ironisnya, pada saat itu jugalah paling sering terjadi kesalahpahaman antara saya dengan orang-orang di sekitar saya. Inilah masa yang paling penuh cobaan dari berkarya. Ketika saya tak lagi berduaan dengan karya saya layaknya pasangan dimabuk cinta yang merasa dunia cuma milik berdua. Begitu karya dilahirkan ke dunia materi, dibungkus dalam kemasan, yang terjadi adalah hubungan ramai-ramai. Ribut dan pengap. Tarik-tarikan kepentingan.

Sungguh sukar untuk membahasakan apa yang terjadi dalam diri saya tanpa digeneralisasi secara terburu-buru sebagai ‘rumit’, ‘tidak kooperatif’, ‘terlalu seniman’, ‘tidak jelas’, ‘suka ngilang’, ‘susah dihubungi’, dsb. Sungguh sukar untuk berjalan seimbang di atas tali tipis dengan dua lusin bola yang harus terus berputar di udara. Dan lebih sukar lagi untuk tiba pada pemahaman ini dan menerimanya dengan ikhlas. Menulis dan menjadi penulis; berkarya seni dan menjadi seniman, pada akhirnya adalah paduan magis antara surga dan neraka yang di dalamnya kita bertumbuh kembang untuk menjadi bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Kedua gerbang itu harus dilalui untuk akhirnya bebas dari jerat keduanya.

Teman-teman semua, hanya itulah yang patut diingat dari perjalanan saya berkarya. Sungguh.

Semoga Anda bisa memetik manfaat dari tiga renungan sederhana ini. Penulis atau bukan. Seniman atau tidak. Pada dasarnya, kita semua sama sekaligus berbeda. Kedua gerbang yang harus diterabas batasnya agar jiwa kita bebas seutuhnya.
Read More ..

Sunday, November 09, 2008

Fahd In My Eyes


Fahd In My Eyes

Amplop cokelat berisi sebuah buku tiba di rumah saya. Walaupun judulnya berbahasa Inggris, isi dan penulisnya asli Indonesia: “A Cat In My Eyes” oleh Fahd Djibran, terbitan Gagas Media. Sebuah racikan baru dari buku lama Fahd berjudul “Kucing” yang pernah saya baca bertahun-tahun yang lalu. Saat itu Fahd masih SMA, di kota Garut. Saat itu saya masih tinggal di Bandung, baru saja menerbitkan “Supernova: Petir”.

Desainer sampul buku-buku saya, Fahmi, adalah orang yang berjasa memperkenalkan karya Fahd. Begitu selesai membaca, saya langsung memesan sepuluh eksemplar “Kucing” untuk dibagi-bagikan ke teman-teman penulis di Jakarta. Saya begitu terpukau. Terpana. Bersemangat menyala-nyala. Rasanya seperti pendulang yang menemukan sebongkah batu mulia dalam tumpukan batu kali. Seorang remaja belasan tahun bisa memiliki kemampuan merangkai kata selugas dan secerdas itu, memiliki kepekaan bahasa di atas rata-rata, dan terlebih lagi, pada usianya yang begitu belia, Fahd sudah menunjukkan kehausannya yang mendalam pada makna hidup, cinta, dan Tuhan. Buku Fahd adalah temuan langka. Satu di antara sejuta.

Kini, Fahd sudah berkuliah di Yogyakarta. Dan di kota itulah saya pertama kali bertemu langsung dengannya. Buku “Kucing” pun sudah berganti rupa menjadi “A Cat In My Eyes”, ditangani oleh salah satu penerbit terbesar di Indonesia. Namun Fahd tetap seorang Fahd. Seorang pencari, pengelana makna, dan penjelajah spiritual. Entah sudah sampai di mana dia. Ada yang bilang, perjalanan spiritual bukanlah perjalanan linier, melainkan perjalanan kuantum yang bisa melompat dan berakrobat tanpa bisa ditebak.

Yang jelas, di buku keduanya ini kemampuan Fahd berkata dan berbahasa tampak semakin halus dan dewasa. Dari prosa-prosa pendeknya, Fahd pun tampak lebih lapang dada untuk menghormati ranah ketidakpastian dengan kerap membubuhkan “barangkali” dan “tidak tahu” saat tulisannya sudah berada di ujung sebuah kesimpulan. Ada yang bilang, semakin dewasa jiwa seseorang, ia lebih banyak menyatakan “tidak tahu” ketimbang menjaminkan sebuah kepastian.

Dari buku “A Cat In My Eyes”, saya paling suka prosanya yang berjudul “Skizofrenia”. Entah mengapa, saya merasa prosa itulah yang paling mewakili penelusuran seorang Fahd. Namun sepanjang perjalanan 176 halaman buku tersebut masih banyak lagi cerita dan metaforanya yang bersinar gemilang, yang sekiranya bisa memuaskan hati para pembaca. Jujur, yang agak menjadi ganjalan bagi saya hanyalah judul bukunya. Menurut saya pribadi, masih banyak pilihan judul lain yang lebih representatif, bahkan lebih strategis, untuk mewakili buku ini secara keseluruhan.

Terus terang, banyak harapan yang melambung dalam hati ketika menemukan karya Fahd—sejak awal hingga kini. Saya berharap dia terus bertambah lihai dan cemerlang dalam menulis. Saya berharap dia terus bertambah jernih dan jeli dalam mengobservasi. Singkatnya, saya berharap dia menjadi seorang penulis yang monumental. Dan saya pun cukup yakin Fahd Djibran punya segala bekal untuk mencapai itu semua. Tapi, harapan saya yang lebih dalam sesungguhnya lebih sederhana dan tak ada sangkut-pautnya dengan menulis, yakni harapan untuk Fahd bertubrukan dengan “sesuatu” yang ia cari. Karena meski secicip dan sebentar saja, pengalaman semacam itu akan mendaratkannya dalam dimensi sepenuhnya kalbu dan bukan lagi akal. Sekembalinya dari dimensi tersebut, saya yakin kedahsyatan tulisannya akan berbeda citarasa. Lebih empiris ketimbang filosofis. Atau barangkali, ia malah berhenti menulis sama sekali. Kita tidak pernah tahu.

Sampai sekarang, saya masih penasaran akan satu hal. Ada apa dalam dodol Garut atau domba Garut yang mampu menghasilkan seorang Fahd Djibran? Ada apa dengan Kawah Papandayan hingga seseorang yang tinggal di kaki lerengnya bisa berkata-kata: “Aku ingin tetap berada di udara jika hidup adalah sebuah koin yang dilempar ke udara dan menjadikan kita sebagai salah satu sisi dari dua mata koin itu. Aku ingin berada di dunia antara, abu-abu, dunia fusi sinergis yang harmonis.”

Barangkali Fahd adalah kesimpulan hidup bahwa letak geografis dan tingkat modernitas sebuah tempat bukanlah penentu mutlak untuk menciptakan manusia bermutu, melainkan: adakah manusia itu “terusik” jiwanya? Adakah ia “mendengar”? Sudikah ia menyimak dan menelusuri satu tanda tanya besar yang bersemayam dalam setiap batin? Fahd memilih untuk bergelut dengan tanda tanya itu. Ia telah merelakan dirinya untuk diusik.

Jika “Kucing” sempat tenggelam dalam percaturan sastra Indonesia, sudah saatnya “A Cat In My Eyes” mengeluarkan cakarnya. Melewatkan buku ini, dan juga jejak seorang Fahd Djibran, merupakan kehilangan besar bagi penggemar sastra Indonesia. Meski tidak percaya pada kepastian, tetap ingin saya jaminkan yang satu itu.
Read More ..

Tuesday, October 21, 2008

A Night With Vikram

A Night With Vikram


Minggu lalu (14/10) saya mendapatkan kesempatan langka. Sebuah jamuan makan malam di bilangan Darmawangsa bersama seorang penulis dunia yang sangat sohor: Vikram Seth.

Saat saya dan Reza tiba, sudah ada beberapa teman penulis yang berkumpul: Djenar Maesa Ayu, Richard Oh, Nirwan Arsuka, sang tuan rumah Rayya Makarim, dan teman-teman lainnya. Saya kangen mereka. Ada citarasa khusus yang selalu tercicip tiap teman-teman penulis ini berkumpul. Saya tidak bisa mengartikulasikannya. Yang jelas atmosfer ini sangat khas, terasa baik dalam topik obrolan maupun lelucon yang terlontar. Dan saya rindu itu.

Vikram datang bersama Janet DeNeefe, pemrakarsa sekaligus direktur dari Ubud Writer’s Festival yang mendatangkan Vikram ke Indonesia untuk pertama kalinya. Tak lama kemudian, Goenawan Mohammad pun muncul di pintu sambil melambaikan tangan. Lengkaplah sudah tamu undangan.

Makan malam diadakan di halaman belakang. Kombinasi indah antara langit dan siluet pepohonan menaungi kami. Namun berhubung ketersediaan waktu saya malam itu terbatas, terpaksa saya buru-buru ikut menyodok giliran bersama Richard untuk meminta tanda tangan Vikram di buku-bukunya. Richard membawa setumpuk koleksi novel Vikram miliknya. Saya cuma punya satu: “An Equal Music”.

* Vikram & Richard Oh


* Vikram & Me

Pemandangan sureal pun terjadi. Vikram dan Richard bercakap-cakap lancar dalam bahasa Mandarin. Bergantian secara frantik, Vikram bicara dengan bahasa Inggris yang sempurna. Belakangan saya tahu dia pun bisa berbahasa Arab. Dan, tentu saja, Hindi. Vikram bahkan menuliskan nama saya dalam bahasa Hindi di atas tanda tangannya.

Dalam pembicaraan yang terbilang cukup singkat, hanya sekitar sejam, saya merasakan kesan yang mendalam. Anehnya, kesan ini tidak jelas tentang apa dan bagaimana. Pembicaraan kami terbilang ringan-ringan saja, bahkan konyol. Kami ngobrol seputar kebiasaan orang Batak yang gemar memberi nama “ajaib”, sekilas tentang kisah pewayangan, dan sekelumit aneka pengalaman Vikram sebagai seorang penulis kelas dunia.

Namun, bagi saya ada satu hal yang mencuat dari sosok Vikram Seth: rasa ingin tahu. Saya mengamati bagaimana ia begitu fokus sekaligus luwes saat bercengkerama dengan kami satu per satu, berusaha menghafal nama kami dan menelusuri maknanya, bagaimana ia lebih suka bepergian sendiri karena itu membuatnya lebih leluasa berinteraksi dengan orang-orang, bagaimana ia tahu bahwa ada budaya Minang yang bertetangga cukup dekat dengan budaya Batak—dan hal ini ia ketahui hanya lewat obrolan dengan sopir taksi yang mengantarnya ke Darmawangsa.

Rasa ingin tahu seperti itulah yang selalu berusaha saya artikulasikan saat ditanya: apakah modal terbaik seorang penulis? Seorang penulis adalah petualang. Ia berjalan menuju tempat-tempat dalam dirinya dengan lebih rajin dan lebih eksploratif ketimbang turis biasa. Ia tidak mengambil “paket wisata” bersama serombongan orang banyak lainnya. Ia pergi sendiri, berbekal intuisi dan rasa ingin tahu, siap dengan risiko tersasar, gagal, dan jadi gembel. Ia mengamati, bergelut dan bergulat dengan pengamatannya, kemudian meramu dan menyajikannya bak seorang koki menyuguhkan hidangan terbaiknya.

Seorang penulis tidak mutlak memiliki kehidupan dan pengalaman pribadi yang serba luar biasa. Namun seorang penulis harus memiliki hasrat menggali yang luar biasa, yang menjadikan hal kecil sekalipun menjadi istimewa dan bermakna. Ia mampu menemukan mutiara dalam setiap pengamatan, dalam setiap penelusuran. Dan yang lebih penting, ia mampu menyampaikannya dengan jernih. Bukan untuk siapa-siapa. Tapi untuk dirinya sendiri. Seorang penulis berkata-kata bukan untuk melayani orang lain, melainkan untuk menuntaskan keingintahuannya sendiri terlebih dulu.

Amitav Gosh, salah satu penulis dunia yang juga pernah hadir di Ubud, pada salah satu sesinya berkata: “Pada dasarnya saya hanya menuliskan buku yang ingin saya baca.” Saat mendengar kalimat itu saya pun terpana. Dalam hati saya berseru: itu dia! Itulah yang selalu saya rasakan sejak pertama kali menyadari hobi satu ini. Seorang penulis selalu mengawali perjalanannya dari meniti diri sendiri. Jadi, tidaklah berlebihan jika dibilang bahwa menulis adalah perjalanan menemukan diri. Dan dalam perjalanannya, kita bisa tersesat, bahkan terpaksa merelakan kewarasan, citra diri, dan aneka bungkus “masuk akal” yang kita dapat dari lingkungan eksternal. Tersesat atau tidak, pada akhirnya perjalanan yang ditempuh seorang penulis adalah perjalanan tanpa tujuan. Apa yang kita temui dalam perjalanan itulah yang bermakna. Berisiko. Berharga.

Duduk di bawah pepohonan dan langit malam yang jernih, bersama para “petualang” lain, membuat saya sejenak menghela napas. Vikram berkata, salah satu kendala para penulis adalah mereka tak sempat lagi membaca. Saya sendiri mengakui itu. Membaca terkadang menjadi kemewahan atau sekadar bagian dari fantasi hari tua. Namun terkadang, membaca tidaklah terbatas pada teks di atas kertas. Udara ini, atmosfer ini, obrolan-obrolan ringan ini, gelas-gelas kosong yang minta kembali diisi… menjadi salah satu buku yang paling mengesankan yang pernah saya baca.

Sekelebat hadirnya seorang petualang bernama Vikram Seth, bersama sekumpulan petualang lain yang berceletuk dan terbahak bersama, sungguh membuat saya merasa perjalanan ini tidak sia-sia.

Begitu juga atas hadirnya Anda semua.


Read More ..

Tuesday, October 14, 2008

The Age of Ignorance

The Age of Ignorance


Delapan tahun yang lalu, saya menulis manuskrip “Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh” dengan sebuah harapan. Harapan yang lahir dari rasa sedih, amarah, dan frustrasi. Saat Ambon luluh lantak akibat perang berisukan agama pada tahun 1999, hati saya ikut remuk redam. Entah kenapa, konflik yang mengatasnamakan kebenaran dan Tuhan selalu membuat saya gerah. Terlepas dari isu politik apa di baliknya, sungguh menyakitkan bagi saya ketika seseorang mampu meneriakkan nama Tuhan saat menggorok leher sesamanya, ketika seseorang dirajam secara gotong royong atas nama agama.

Tahun 1999 juga merupakan tahun bersejarah bagi saya. Pada bulan Desember, untuk pertama kalinya saya “terbangun” dari mimpi panjang saya akan Tuhan dan segala kebenaran warisan. Untuk pertama kalinya, saya menemukan otentisitas yang selama ini saya cari-cari bagai ikan di laut yang bertanya-tanya keberadaan air. “Sesuatu” itu ada di bawah hidung saya, bersemayam dalam diri tanpa pernah saya sadari saking sibuknya menggapai ke luar. Malam pada tanggal 17 Desember, tabir itu terangkat dan “sesuatu” itu menunjukkan dirinya pada saya. Tak ada lagi keterpisahan.

Saya tidak akan pernah lupa momen tersebut. 27 jam berada dalam ekstase. Dan dunia berubah total bagi saya sejak saat itu. Segalanya tak lagi sama. Termasuk arti Tuhan dan kebenaran. Seusai titik puncak itu, saya pun kembali merenung dan bertanya: apa yang bisa saya lakukan? Apa yang bisa saya bagi? Dan pada tahun 2000, saya mulai menulis. Terbakar oleh harapan bahwa perubahan besar itu pasti akan datang, mengakhiri Kali Yuga yang merupakan zaman kegelapan batin, dan membangunkan semua jiwa yang sudah siap lepas landas. The great shift. The new age of consciousness. Gelombang kesadaran baru yang membawa dunia menuju pencerahan spiritual. Saya ingin menyumbang secercah riak, meskipun kecil dan lemah jika dibandingkan deru gelombang di samudera kesadaran yang tak berbatas ini.

Delapan tahun berlalu. Harapan itu masih saya simpan bagaikan mengantongi berlian mungil. Sesekali saya intip untuk melihat kilau cahayanya. Meski kadang mengusam dan menciut, saya tahu berlian tersebut masih tersimpan aman di kantong.

Seminggu yang lalu, saya menerima sebuah sms dari nomor tak dikenal. Isinya sebaris singkat caci maki. Sejenak saya bertanya dalam hati, apakah ini salah sambung? Atau ada teman saya yang iseng? Akhirnya saya menelepon nomor itu. Seorang laki-laki yang mengaku bernama Andi menjawab panggilan saya. Lalu saya bertanya, apa maksud dari sms-nya. Lantas mengalirlah keluh kesah kekecewaan dan kecaman dari orang yang saya tak kenal itu. Ia mengecam pilihan saya dan berdalih bahwa ia kasihan pada anak saya.

Saya tertegun. Dan akhirnya saya berkata padanya, keras: “Anda tidak mengenal saya, dan Anda berani menghakimi saya berdasarkan kesimpulan Anda sendiri yang bersumber dari berita yang Anda pikir benar padahal tidak, dan Anda bisa-bisanya beralasan kasihan pada seorang anak yang tidak pernah Anda temui dan kenali? Menurut saya, di sini yang terganggu adalah Anda. Bukan saya atau anak saya.”

Tak lama, ia meminta maaf, sejenak bahkan berbasa-basi menanyakan buku baru, dan pembicaraan kami pun usai. Saya menutup telepon dan seketika menyadari sesuatu: tangan saya gemetar. Saya marah. Saya murka. Merasa privasi saya diterjang dan diobrak-abrik. Orang itu datang ke teritori pribadi saya, berbekal asumsi yang ia rakit dari info sepotong, kemudian dengan gagah berani mengusung panji kebenarannya sendiri. Persis prinsip orang main hakim sendiri, tanpa ba-bi-bu merajam sang tersangka tanpa perlu memproses lebih lanjut. Senjatanya bukan batu, melainkan kata-kata. Merenungi itu semua dada saya pun sesak. Sesuatu bergolak sangat hebat.

Selama beberapa bulan terakhir, keadaan memaksa saya untuk menerima aneka justifikasi dari orang-orang yang tidak saya kenal. Mereka datang ke blog ini, atau bersuara dalam ruang mereka sendiri, tentang kehidupan dan pilihan saya—orang yang mereka pun tidak kenal. Dengan semangat berkobar mereka mengusung panji-panji kebenaran mereka, menyatakan perang atas “ketidakbenaran” yang mereka lihat, bahkan sampai mencuri foto pribadi lalu menyebarkannya seperti virus. Masih dengan perilaku serupa, institusi-institusi media nasional pun tak ketinggalan mengadopsi virus itu dengan segala keterbatasan dan kebelepotan mereka, hingga nilai akurasi dan faktualitas yang seharusnya menjadi kode etik media pun diabaikan. Beberapa bahkan sudah sampai ambang batas idiot.

Fenomena ini bukanlah barang baru. Ini adalah drama kemanusiaan yang terjadi di seluruh muka bumi. Dan jika kita sama-sama jujur dan berani bertanya: mengapa kita gemar infotainment? Mengapa kita menyukai koran merah? Mengapa kita begitu candu pada gosip dan tragedi? Mengapa kita diam-diam merasakan kepuasan saat orang bernasib lebih buruk dari kita? Mengapa kita merasa terganggu saat orang-orang yang kita pikir harusnya lempar-lemparan piring malah duduk semeja dengan manis dan tawa lebar? Jika kita berani bertanya dengan cukup dalam, barangkali kita menyadari bahwa kita ternyata kecanduan perang. Konflik adalah penjara yang membuat kita nyaman. Dengan alasan yang sama, manusia lantas menciptakan surga. Kita yang terbiasa hidup bak di neraka dan berbagi apinya bagai mengedarkan tongkat estafet, membutuhkan surga untuk jadi asuransi bersama. Kita perlu sebuah fantasi muskil yang baru bisa dicapai kalau kita mati. Tapi tidak sekarang. Surga bukan untuk dikonsumsi hari ini, bukan untuk dibangun di bumi. Di sini kita tidak boleh damai dan bahagia. Meski mulut kita selalu berkata sebaliknya.

Jika kita jujur, dapatkah Anda menyadari secercah kepuasan yang muncul saat Anda terbukti lebih bermoral daripada orang lain? Terbukti lebih normal dan sesuai kaidah orang banyak? Ada rasa aman di sana. Rasa nyaman, dan… rasa benar. Seumur hidup kita cari kebenaran itu. Dan kita berusaha mendapatkannya dari konsensus orang banyak, dari normalitas. Namun kita sering lupa bahwa konsensus itu pun dibentuk oleh orang-orang yang sama-sama mencari. Mereka yang menemukan tidak akan repot lagi menggalang massa demi mencari persetujuan.

Dua hari saya seperti orang patah hati. Percakapan telepon itu menjadi puncak kumulasi dari rasa frustrasi global saya atas kemanusiaan. Ia berhasil merenggut sebutir mungil berlian yang saya simpan selama ini. Dan saya dipaksa melihat kenyataan pahit bahwa perang itu ternyata masih berlangsung. Perang Salib atau kerusuhan Ambon, hanya masalah skala dan tempat. Esensinya tetap sama. Kita berperang setiap hari mengatasnamakan kebenaran, agama, dan Tuhan. Padahal apa yang kita perangkan hanyalah konsep kita sendiri, isu pribadi kita sendiri, yang tak berani kita selesaikan di dalam hingga kita harus memproyeksikannya keluar, ke orang-orang yang tidak kita kenal. Hanya karena kita pengecut. Kita tidak berani meninjau peperangan di dalam diri. Menggapai keluar lebih mudah. Menilai dan menghakimi orang lain lebih memuaskan daripada mengevaluasi ke dalam.

Mata saya dipaksa untuk melihat bahwa bandul kemanusiaan dari zaman batu sampai hari ini hanya bergerak dari kanan ke kiri dan tak ke mana-mana lagi. Era kesadaran baru… kebangkitan spiritual… semua rasanya hambar dan ilusif. Perang ini terus berlangsung dan tak akan pernah selesai.

The greatest enemy is not evil, but ignorance. And as far I as can see, we’re not living in the age of new consciousness. Not even close. We’re living in the age of ignorance, as we’ve always been, and will always be.

Duka cita yang mendalam ini barangkali hanya untuk sementara. Namun hari ini saya ingin mengucapkan selamat tinggal pada berlian mungil itu, yang meski juga sementara, cahayanya sempat menggerakkan saya untuk berharap dan berkarya.

Kini izinkan saya pamit dan berduka.
Read More ..

Tuesday, September 16, 2008

Birth of "Rectoverso"


Setiap karya adalah anak jiwa. Dan pada tanggal 3 September 2008 lalu, saya baru saja resmi “melahirkan” sepasang “bayi kembar” bernama RECTOVERSO.

Inilah karya pertama saya yang mampu menghadirkan kedua wajah saya sekaligus: musik dan fiksi, album dan buku, Dee yang menulis dan Dewi Lestari yang bermusik.

Rectoverso juga merupakan karya hibrida pertama di Indonesia yang memadukan kedua dunia tadi menjadi satu karya yang utuh meski terpisah secara wujud. Karena itulah, Rectoverso bukan sekadar karya, melainkan sebuah pengalaman. Dalam pengalaman Rectoverso, fiksi dan musik saling bercermin, melengkapi, dan menggenapkan.

Ke tangan Anda, saya persembahkan: 11 Lagu. 11 Kisah. 11 langkah untuk menelusuri lorong hati lebih jauh lagi. Saya ajak Anda untuk melangkah bersama. Alami Rectoverso. Dan sesudah itu, kiranya Anda sudi berbagi catatan pendek tentang perjalanan Anda menyelami karya ini. Terima kasih saya dari hati yang terdalam.

Berikut beberapa sharing pengalaman dari sahabat-sahabat saya yang sudah mencicipi Rectoverso. Saya undang Anda untuk turut berbagi. Dan sekali lagi, terima kasih atas kata, air mata, dan izinnya.

Andrea Hirata (Penulis):

Daya tarik unik tulisan Dee adalah ia selalu menghormati intelektualitas pembaca.

Sitta Karina Rachmidiharja (Penulis):
Memaknai Rectoverso (melalui mata dan telinga) adalah kegiatan menggugah nurani sekaligus meneduhkan jiwa. Ilustrasi rintikan hujan, kilauan cahaya, tunas-tunas muda yang baru tumbuh, dan pucuk dandelion yang beterbangan... kesemua itu bukannya tanpa arti, karena Dee mengajak kita mengolah otak dan hati secara bersamaan dengan kemampuannya yang masif dalam mengurai kata, kiasan, serta metafora yang tidak hanya indah dan cerkas namun juga intim.

Riry Silalahi (Gitaris “She”):

Sekarang dua lagu dari Rectoverso menjadi RBT gue, hehe. Sejak dengar album itu, gue nulis lagu yang gue mau, yang menurut gue indah. Nggak melulu industri. So, thank you for that.

Goenawan Mohamad (Penulis, Kolumnis):
Di balik bentuk dan desain buku ini yang mungkin teramat “ngepop”, Dee bercerita dengan kejernihan dan kelembutan yang memukau. Kisah-kisahnya (“Malaikat Juga Tahu”, “Firasat”) adalah empati yang, tanpa berlebihan, menjangkau ke dalam hidup mereka yang mencintai dan tak berdaya. Bagi saya, cerita-cerita ini karya Dee yang terbaik: matang tapi tetap dengan rasa yang murni, sederhana tapi menampilkan apa yang luar biasa dari permukaan yang biasa.


Richard Oh (Penulis):

Dari buku ke buku, Dee membuktikan diri sebagai penulis yang semakin mapan dalam eksplorasi gaya bahasa dan memancangkan penguasaannya di wilayah kisah-kisah bermakna spiritualitas.

Seno Gumira Ajidarma (Penulis):

Rectoverso seperti puisi dalam sebelas bagian, ketika bukan alur maupun cerita yang penting melainkan nuansa bahasa dan suasana hati penuturnya berbicara. Menurut pengamatan sekilas saya, Rectoverso adalah lompatan dari buku-buku Dee sebelumnya. Karya ini membuat kita menghargai, menghormati, dan menikmati dunia personal.

Titi DJ (Penyanyi):

Ada sensasi baru! Saya nikmati benar sensasinya, karena pada saat yang bersamaan mata saya – yang membaca novelnya, dan kuping saya – yang mendengar albumnya, berkolaborasi dengan manisnya untuk mengenyangkan “lapar dan haus” saya akan karya Dee.

Melaney Ricardo (Penyiar Trax FM, Presenter, MC):
Ibarat shampoo, Rectoverso is 2 in 1. So you really got to have it both. Sebagai orang yang awam akan kesusastraan, buku “Rectoverso” menurut gua adalah karya Dee yang lebih ‘manusiawi’. Meaning, lebih ringan terutama buat orang yang nggak betah baca sesuatu yang terlalu tebal kayak gue. Isinya cerpen-cerpen singkat tapi tetap sarat makna. And that happens to be SOOO DEEE, hehehe. Dan albumnya, hmm, what can I say… she is the jargon maker after Rihanaa with that ‘ela-ela’ thingy. Coz suddenly everybody start saying ‘malaikat juga tahu aku yang jadi juaranya’ either for their status in Facebook or even put it in their daily conversation (lol). It’s really a hit!

Ninit Yunita (Penulis, Blogger):

Rectoverso, karya yang indah dari Dee. Membuat saya ketagihan untuk berulang membacanya. Indah dan begitu mudah menyentuh jiwa. Demikian juga ketika mendengar musiknya. Dee selalu, secara natural, dengan mudah membuat pembaca jatuh cinta dengan karya-karyanya. I love Rectoverso!

Deddy Nur (Sutradara, Artist Manager):
Aku selalu angkat topi buat seorang Dewi Lestari yang menciptakan maha karya yang begitu indah. Seakan kita hanyut dalam buaian kata yang seolah kita sendiri yang mengalami lembar demi lembar, apalagi Dewi Lestari tak berhenti sampai di sana. Ia menginspirasikannya lagi dengan lagu-lagu bersyair dan bermelodi yang indah. Aku sebagai teman hanya bisa berucap: “Kamu yang jadi juaranya.”

Calvin Michel (Blogger):
Agak sulit mendeskripsikan warna musik pada album ini selain “menenangkan”, karena ada campuran pop, jazz, elektronika, ambient, orkestra, etc. Yang pasti semuanya dikemas dengan rapi dan membuat musik-musik di album ini sangat cocok bagi mereka yang menyukai musik santai dan melepas lelah. Album ini mirip seperti musik-musik lounge yang memberikan efek relaks bagi pendengarnya.
Lima track yang paling saya sukai dalam album ini adalah “Curhat Untuk Sahabat”, “Malaikat Juga Tahu”, “Aku Ada”, “Cicak di Dinding” dan “Tidur”.
Akhir kata, saya mengucapkan selamat kepada mbak Dewi Lestari dengan perilisan karya artistik ini, yang bisa berdiri sendiri namun merupakan satu kesatuan. Anda bisa menyentuh orang lain melalui tulisan, nyanyian dan kedua-duanya.

* See Republik Babi for a complete review.

Fahd Jibran (Penulis, Blogger):
Rectoverso mungkin hanya menuliskan kisah-kisah sederhana, tapi kesederhanaan itulah yang membuatnya tidak berjarak dengan para pembacanya. Seperti saya yang menikmati “Selamat Ulang Tahun” sebagai refleksi dari kisah malam ulang tahun saya sendiri—yang benar-benar pernah saya alami dalam kenyataan. Benar-benar terasa, benar-benar dekat. Setelah menyelesaikan kisahnya, saya mendengarkan lagunya, dan: gelombang itu datang, seperti ombak yang memeluk erat mata kaki kita, mengajak kita berlepas dari gigir pantai, menuju laut untuk menyelami kedalaman maknanya, mabuk laut kata-katanya.
Hibridasi lagu dan kisahnya telah benar-benar menjadi Rectoverso yang me-rectoverso. Lagu dan kisahnya tidak hanya saling bercermin dalam kedalaman maknanya, tapi juga saling bercermin bahkan di wajah terluar mereka. Rectoverso dalam komposisi 11:11, membuat saya tahu bahwa berkomunikasi dengannya adalah menghilangkan pembatasnya, melebur dengannya: satu-satu bacalah kisahnya, satu-satu resapilah maknanya.
Kritik saya sederhana saja, untuk buku yang masuk jadwal beli saya di akhir bulan menjelang Lebaran. Harganya membuat saya kesulitan mencarikan budget yang tepat dan memadai. Apalagi, untuk mahasiswa yang harus mudik seperti saya, harganya agak mengganggu kenyamanan dompet saya. :) Soal bukunya, ada beberapa gambar/image dan foto yang bagi saya kurang ‘berbunyi’… Entah kenapa…
Akhirnya, kali ini aku mengucapkannya tidak seperti perpisahan, bukan juga perjumpaan, melainkan sebuah kesadaran (Aku Ada, hal. 36). Di atas semua itu, saya mesti mengucapkan banyak-banyak terima kasih untuk kehadiran Rectoverso di ruang baca saya, dan tentu saja, angkat topi untuk ibu yang melahirkannya.

* See Ruang Tengah for a complete review.

Saraswaty (Blogger):

Cerita-cerita di Rectoverso bisa diibaratkan seperti sosok-sosok sekitar kita yang biasa dimunculkan di film. Ibu, Pecinta, Pemurung, Pekerja, Gadis Biasa, Orang-orang yang Kehilangan.
Tapi, pemeran yang menghidupkan sosok-sosok ini melakukan PR-nya dengan sangat baik. Pemeran utama ini seperti telah melakukan observasinya selama beberapa tahun. Dia mengerti perasaan Ibu yang memiliki cinta yang luar biasa, kemudian berpindah menjadi seorang pecinta akut di beberapa kisah, kemudian kembali menghayati perasaan gadis biasa yang menolak untuk menjadi luar biasa. Kemudian, saya sadar… bukankah itu semua cerita yang ada di sekitar kita? Bukankah itu kita?
11 Lagu 11 Kisah. Saya membaca Rectoverso seperti cara makan Oreo, diputer (mendengarkan intro lagu), dijilat (mulai membaca cerita + pause lagunya), trus dicelupin (setelah dibaca setengahnya, lagu baru dimulai lagi). Hehe, 11 kali juga saya mengalami perasaan “pertama ga ngerti liriknya soal apa, lalu tiba-tiba senyum-senyum sendiri karena akhirnya merasa menemukan arti dan kaitan lirik dan cerita.”
Jadi, buat yang belum mengenal Rectoverso… dengar fiksinya, baca musiknya, dan rangkullah keduanya dengan hati.

* See Saraswaty for a complete review.

Jay Subiyakto (Seniman):
Kombinasi indah antara literatur dan musik yang merangsang visual. Tapi liriknya membuat saya sedih. Selamat, Dee!

Happy Salma (Aktris, Penulis):
Lagu-lagunya nempel di kepala dan… mmm… ceritanya membuat kita lebih dekat secara emosional dengan sang penulis.

Jo Priastana (Jurnalis):
“Peluk” – Rectoverso: Adakah kebahagiaan dan ketidakbahagiaan itu satu adanya? Dan hanya ilusi waktu yang memisahkannya karena rasa bahagia itu nyatanya hanya bentukan dari identifikasi dengan kondisi yang rentan perubahan. Mungkin dengan terhubungkan diri kepada yang tak terwujudkan dan mengizinkan pudarnya apa yang telah terbentuk di situlah terdapat ketenteraman dan kedamaian. Rectoverso is Dewi’s celebration of life!

Daniel Ziv (Penulis):
Menikmati alunan musik Rectoverso seketika membangkitkan keindahan, kecerdasan, dan kesejukan. Orisinalitas karya ini begitu mencuat di tengah lansekap musik Indonesia yang tertebak dan cenderung ‘ikut-ikutan’. Rectoverso adalah kombinasi dari visi yang konsisten, bakat yang unik, dan kerja keras.

Nanda (Senior Marketing):

Jika diizinkan aku pingin kasih opini dari 2 sisi, selaras dengan Rectoverso sendiri (hehe, ikut-ikutan). Opini pertama adalah dari keseluruhan paket yang kuterima. ‘Love the design, colors, and drawings. Especially the photographs of rain in “Firasat”. It succesfully touches my heart through my eyes. I like most of the stories, esp. “Curhat Buat Sahabat”, “Aku Ada”, dan “Back To Heaven’s Light”. Basically, semua cerita ini bagaikan alter ego Dee. Berbeda tapi satu nyawa. Dan tiap membaca suatu cerita, aku selalu mencium aroma Dee di mana-mana.

Jenny Jusuf (Penulis, Blogger):
Rectoverso berulangkali membuat saya jatuh cinta. Menangis. Tertawa. Merenung. Terdiam dalam hening. Terhanyut di dalamnya hingga kata-kata kehilangan makna. Sebelas kisah di dalamnya tak membosankan untuk dibaca berulang-ulang, dan sebelas lagunya telah sukses menjadikan saya pecandu dalam beberapa hari saja. Merasa hidup tak lengkap jika tak menyetelnya begitu bangun tidur dan mendengarkannya hingga mata siap menutup. Mungkin ilustrasi yang cukup pas untuk menggambarkan sensasi yang muncul dari pengalaman membaca dan mendengarkan Rectoverso adalah bagai menaiki rollercoaster yang bergerak lambat. Merasakan energi dan adrenalin terstimulasi, terpompa dan termanifestasi dalam berbagai wujud. Terus bergerak naik-turun tanpa perlu membangkitkan bulu roma. Atau seperti mengonsumsi narkoba dalam jumlah sedikit namun rutin. Rasa yang diberikannya membuat hati terus menagih untuk menikmati lebih dan lebih lagi. Jika Supernova adalah virus, maka Rectoverso bagi saya adalah zat adiktif. Candu bagi jiwa. Racun yang tak butuh penawar. Suplemen hati yang bebas dikonsumsi sepuasnya tanpa khawatir overdosis. Selamat, Mbak Dee. Sayang saya hanya punya empat jempol. :-)
* See Simple Pieces for a complete review.

Larasati Silalahi (Penyiar Hard Rock FM):

Kalau boleh memberi pendapat pribadi, “Rectoverso” bisa jadi obat untuk orang-orang yang selalu mengklaim dirinya ‘logis’, bahkan dalam urusan yang menyangkut perasaan, seperti cinta. Kadang-kadang, tidak ada gunanya menjadi sok kuat dan tidak memakai hati. Kadang-kadang memang firasat kita harus lebih main daripada logika. Kadang-kadang kita lebih baik mempercayai apa yang tidak bisa dilihat. Kadang-kadang kita memang harus berhenti mencari kalau semata hanya ingin mengerti. Buat apa memakai (hanya) logika kalau tubuh, jiwa, dan roh tidak sinkron? Keindahan “Rectoverso” juga terletak pada fakta hibrida-nya, karya ini lebih baik dinikmati bersamaan. Karena kalau tidak, kita bisa tersesat dalam pemikiran atau asumsi sendiri. Sebut saja lagu “Malaikat Juga Tahu”, setelah single-nya diputar di banyak radio ibukota (termasuk di Hard Rock FM :-)), banyak penikmat musik Dewi Dee Lestari yang sibuk menerka cerita di balik lirik yang sangat jujur itu, tidak sedikit juga yang mengirimkan e-mail dan sms ke gw untuk berdiskusi. Namun gw yakin, ketika kita membaca bukunya, semua imajinasi pribadi langsung luntur sesaat. Gw suka kutipan kalimat Dewi Dee Lestari pada cerita “Grow A Day Older”, “A perfect chocolate bar should be bitter sweet, not all sweet, and certainly not all bitter, for then you lose all the fun.” Itulah kehidupan, itulah cinta. Ada pahit dan manis, gelap dan terang, siang dan malam, hidup dan mati, dan seterusnya. Itulah “Rectoverso”, bukan untuk dimengerti, tapi untuk dinikmati.
* See Larasati Silalahi for a complete review.

Stella (Blogger):

Membaca sebelas cerita tersebut memberikan saya pengalaman emosional yang beragam dalam satu trip. Terkadang membawa saya membumbung setinggi awan, terkadang menghempaskan saya ke bawah dengan cepat. Buku ini di genggaman saya terasa seperti bar pengaman yang masih menghubungkan saya dengan dunia nyata. Jika harus memilih, saya akan memilih 'Peluk' sebagai cerita favorit. Saya cukup yakin cerita itu berbicara mewakili banyak insan. Menakjubkan bagaimana Dee berhasil merangkum jeritan dan tangisan hati dalam simfoni kata-kata, yang indah namun tidak picisan. Every word fits one another perfectly. Dan efek gambar serta foto yang mengikuti di akhir cerita, telah berhasil membunuh saya detik itu. Memaksa saya untuk melepas genggaman tangan dari bar pengaman dan ikut menghilang sejenak. Mempersiapkan hati untuk menghadapi kenyataan. Even if all my fingers are thumbs, i still need to borrow another thumbs.
Thanks Dee! Congratulations!

* See Konnyaku for a complete review

Riko (Musisi, Gitaris "Mocca")
Merasakan (membaca dan mendengar) Rectoverso seperti bercermin. Banyak potongan puzzle saya yang bertaburan di dalamnya. Sedikit nggak percaya ternyata embrio Rectoverso ini dari lagu "Hanya Isyarat", yang dulu kita olah dengan penuh keterbatasan. Saat melihat semuanya tumbuh dengan sempurna menjadi satu "gift" yang besar buat saya pribadi. Satu paket sempurna yang harus dibagi dan dirasakan for your loved ones.

Sitok Srengenge (Sastrawan)

Kisah-kisah dalam Rectoverso ini semakin meneguhkan keyakinanku: Dee adalah seorang di antara sedikit penulis Indonesia yang tak hanya cerdas, tapi juga piawai bercerita dengan tema-tema unik serta bahasa yang segar, energik, dan otentik. Setiap karya yang dihasilkannya memberi sumbangan berharga bagi khazanah sastra kita.

Sarah Sechan (MC, Presenter)

Brilliant piece of work! Love it! Mau nangis baca cerita "Malaikat Juga Tahu", maybe because I'm a mother. Ngebayangin si Abang itu kehilangan, pilu bangeeeeet! Gue juga suka cerita "Peluk". Gue ngebayangin pada satu saat nanti harus pisah dengan seseorang, apakah gue punya kekuatan seperti itu; menyampaikan perasaan gue tanpa banyak omong, cukup dengan pelukan... edan. "Firasat" is also a favourite. Ah, semuanya, deh... gua suka semuaaaaa!!! Kau heibaaaaat!!!

Alex Sriewijono (Psikolog, Presenter TV):
Halaman terakhir Rectoverso baru saja kutuntaskan. Melihat orang yang lalu lalang dengan kacamata Rectoverso; kisah di belakang langkah yang bergegas, harapan di antara lontaran gumaman, dan isyarat di dalam rongga retina mata yang menatap. Bukumu tak berujung dan juga tak berakhir, seperti mengalirnya hidup bersiklus. Bukumu bisa terasa dengan dan tanpa penokohan, karena siapa pun bisa menjadi tokoh dan “people behind the screen” untuk setiap penggalan episode cerita kehidupan. “Punggung ayam” dan “air hujan” tetap tak beranjak dari ruang pikirku walau sampul belakang tidak menyisakan kata lagi untuk dinikmati.

Gery (Penyiar Female FM, MC):
Terima kasih aku dikasih kesempatan untuk bisa dengar setiap huruf di dalamnya, membaca setiap melodi senandungnya, juga melihat bau birnya. Karena kamu betul, akhirnya yang tertinggal pada kita adalah bahasa rasa. Sunyi tapi ramai, diam tapi bergerak, harum tapi terang, jatuh tapi melambung. Selamat buat Hidup yang ada di tiada. That is you, Dee!

Iwet (Penyiar Hardrock FM, MC):

Suka gaya penulisannya, suka cerita-ceritanya, dan menurutku, memang harus beli dua-duanya. Lengkap banget rasa yang ada di dalam Rectoverso itu. Aku ibaratkan, Rectoverso ini kopi susu. Ada yang suka kopi aja, ada yang suka susu aja, tapi kalo mau ngerasain yang pol, campurin deh dua-duanya. Rasanya jadi sangat kaya sekali.

Sulung (Manajer Artis):
Dee… gila ya loooo, bikin gua nangis mulai kemarin. Menangkap esensinya Rectoverso nggak boleh pakai otak tapi harus pakai hati. Ada keindahan di balik penderitaan, ada kegembiraan di balik penderitaan, semuanya ada dua sisi. Menurut gua, Rectoverso ini one the best albums and books this year. Dee nulisnya dari hati yang terdalam.

Temi (Penyiar Sky FM):

"Rectoverso membuat saya bisa lebih mengapresiasi cinta, menghargai perbedaan dan menerima kenyataan, dengan begitu kita lebih bisa memaknai hidup."

Shanty (Penyanyi):

Cuma satu kata: JUARA!!

Andi Rianto (Musisi):

Hiks… aku menitikkan air mata mendengarkan Rectoverso… Thank you so much for letting me be a part of this.

* Entry ini akan terus diperbarui seiring dengan komentar/review yang masuk.

Read More ..

Monday, September 01, 2008

Warna-Warni Kacamata-Kacahati

Warna-Warni Kacamata-Kacahati


Dalam dua bulan terakhir, begitu banyak eksperimen dan fenomena sosial yang saya jalani, baik sengaja maupun tidak sengaja. Begitu banyak pula pelajaran dan perenungan berharga yang saya peroleh dari rangkaian pengalaman ini.

Saat saya menuliskan artikel “Catatan Tentang Perpisahan”, respons yang saya terima sungguh di luar dugaan. Sejauh ini, itulah artikel yang memecahkan rekor komentar terbanyak di blog ini. Hampir semua artikel di blog ini berbasiskan pengalaman saya pribadi, tapi “Catatan Tentang Perpisahan” sepertinya begitu mengusik ‘dawai’ banyak orang. Entah karena kisahnya yang aktual, faktual, dan mengandung unsur sensasi, but it seems we all have our own saying when it comes to love, relationship, and God. Tiga topik itulah yang menjadi benang merah hampir semua komentar yang terlontar. Dalam boks putih itu, kita mengadu persepsi dan pengalaman kita atas ketiganya.

Saya akan berbagi dengan jujur tentang pengalaman saya pada posisi sebagai si penerima reaksi. Sampai komentar ke-60 sekian, saya masih amat peduli dengan apa yang dikatakan orang. Ketika saya merasa disalahmengerti, dihakimi, dianggap melakukan pembenaran atau bagi-bagi teori, saya masih merasakan kecewa, gemas, bahkan terkadang amarah. Padahal pengunjung blog ini, menurut saya, terbilang orang-orang yang intelektual dan masih santun dalam penyampaian opininya. Sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan forum-forum gosip di luar sana, di mana kesantunan atau intelektualitas sama sekali tidak dijunjung, bahkan jadi bahan tertawaan. Namun, tak urung hati saya terkadang masih bereaksi.

Begitu komentar sudah bergerak ke angka 100, saya mulai menyadari sesuatu. Hati saya melentur. Bukan berarti komentar yang masuk tidak lagi bermakna, tapi mulai menjadi “nggak penting”. Dan ketika angka itu terus bergerak… 150, 180, 200… saya mulai menyadari sesuatu lagi. Saya tidak lagi peduli. Sekali lagi, bukan berarti komentar itu kehilangan makna, tapi ia kehilangan rasa. Tak lagi manis, pahit, tak juga asam, atau asin. Tawar. Berlalu seperti angin tipis di atas air, hanya meninggalkan riak kecil lalu pergi tanpa bekas. Tidak lagi ada ombak atau debur yang menggebu.

Ada satu titik tolak yang akhirnya membawa saya ke fase ini, yakni ketika saya menyadari—secara empiris—bahwa kita sesungguhnya tidak bisa mengubah siapa pun. Ini bukan kali pertama saya tiba pada pemahaman tersebut. Namun setiap kali ada pengalaman segar yang kembali mengingatkan saya, rasanya ada kedalaman baru untuk menghayati kenyataan satu itu.

Selama ini, kita percaya bahwa kita bisa mengubah pandangan orang lain tentang kita, kita percaya bahwa dengan upaya yang maksimal kita bisa membuat diri kita dimengerti secara utuh, kita juga percaya bahwa kebenaran yang kita miliki—jika dikomunikasikan dengan sebaik mungkin—bisa menjadi kebenaran bagi orang lain. Rasa percaya itu sedemikian umum dan menjadi pegangan hampir semua orang, hingga ketika kita masuk ke dalam sebuah relasi, dengan siapa pun dan apa pun itu, dari mulai dengan manusia lain hingga Tuhan, kita menganggap bahwa kita punya kendali tersebut.

Namun, apa yang saya amati dari pengalaman saya sendiri—dan yang bisa Anda telusuri pula lewat kedua posting terakhir saya dan aneka komentar yang dilontarkan—setiap orang hadir dengan kacamata dan kacahatinya sendiri. Apa pun yang saya ungkap tidak pernah bisa utuh tertangkap sebagaimana yang saya mau. Seolah ada filter, pembatas, penyaring, yang mendiskon cerita saya secara otomatis di kepala pembaca. Sebaliknya, seolah juga ada amplifier, marker, kaca pembesar, yang tahu-tahu membengkakkan beberapa bagian tertentu saja.

Saya lantas membayangkan ilustrasi sebagai berikut: seseorang mencoba menceritakan sebuah alam yang hijau, lalu seorang lain berteriak protes, bilang bahwa alam hijau cuma bualan. Lalu ada yang membela, bilang ‘betul, kok, alamnya memang hijau.’ Tapi ada lagi yang menimpali, sebenarnya alam ini setengah hijau dan setengah ungu.

Lalu, seorang lain datang dan berkata pada mereka: orang yang menceritakan alam itu hijau memang benar, karena dia memakai kacamata berlensa hijau. Yang protes juga tidak salah, karena kacamatanya kuning. Yang sepakat hijau, ketika dicek, ternyata warna lensanya hijau muda. Jadi walau sama-sama hijau, tetap tidak persis sama. Yang bilang setengah hijau setengah ungu juga tidak salah, karena lensanya memang dua warna. Tersadarlah orang-orang yang ribut tadi bahwa selama ini, realitas yang mereka lihat termediasi selapis lensa. Dan orang terakhir tadi pun berkata bijak pada semua, sesungguhnya realitas yang sejati berwarna pink. Dan sepasang lensa pink bertengger di depan matanya, tanpa bisa ia sadari.

Realitas yang kita jalani amat bergantung dengan kacamata dan kacahati yang kita kenakan. Persepsi kita tentang Tuhan, misalnya. Seseorang yang percaya bahwa Tuhan punya kehendak, akan selalu mereferensikan kehendak Tuhan dalam setiap tindakannya maupun dalam menilai tindakan orang lain. Seseorang yang percaya Tuhan tidak ada, akan bicara lain lagi. Seseorang yang percaya bahwa hubungan cinta adalah perjuangan abadi menuju keabadian, akan selalu melihat cinta sebagai sasana perjuangan dan pengorbanan, hingga mereka yang menyerah dianggap kalah. Seseorang yang percaya pada absolutisme janji sehidup dan semati, akan selalu melihat akhirat sebagai plafon keberhasilan sebuah pernikahan. Dalam variasi pemahaman seperti itu, di manakah kebenaran sesungguhnya bersemayam?

Lensa semata-mata adalah lapisan persepsi yang kita tumpuk, rangkai, dan timbun melalui pengondisian, proses evolusi, dan perubahan yang kita alami sepanjang hidup. Lensa kita sangat mungkin berubah, bahkan terus berubah. Yang dulu berkacamata hijau sekarang bisa jadi merah, dan sepuluh tahun lagi berubah jadi putih. Namun, di mana letaknya kendali perubahan ini?

Dalam Law of Attraction, dikatakan bahwa hidup kita baru berubah jika kita mau melihatnya berubah. Law of Attraction bukan satu-satunya hukum dalam kehidupan, tapi untuk perihal satu ini, bisa disimpulkan bahwa kunci perubahan hanya ada pada diri sendiri. Saya tidak bisa mengubah pandangan Anda, hanya Anda yang bisa. Begitu juga sebaliknya.

Selama lensa kita berbeda, kita hanya bisa mengomunikasikan persepsi kita, menyaksikan bagaimana perbedaan kita bertumbuh dan berdinamika. Sayangnya, seringkali dalam kehidupan nyata, kita tidak puas dengan sekadar “menyampaikan”. Kita ingin mengubah seseorang agar sepaham dengan diri kita. Dan kita percaya dengan berkomunikasi yang baik dan benar (baca: baik dan benar MENURUT kita) maka kita mampu melakukannya.

Dan inilah yang saya amati: sesungguhnya kita tidak terlalu peduli pada kebenaran, kita bahkan tidak mengerti apa itu komunikasi sejati, kita hanya peduli pada lensa kita. Bukan apa yang ada di baliknya. Barangkali itulah yang menjadikan “pemahaman benar” sebagai gerbang akhir pencarian Gautama, bukan kebahagiaan. Bukan surga. Bukan juga neraka. Melainkan pembebasan dari keduanya. Dalam memahami secara “benar”, yang menjadi tujuan bukan lagi perihal benar atau salah, tapi memahami bagaimana keduanya bermula dan bagaimana kita bisa bebas dari jerat keduanya.

Kita semua menginginkan kebahagiaan, bahkan keabadian. Namun sesempurna apa pun lensa yang kita kenakan, seindah dan seadiluhung apa pun realitas yang kita lihat, lensa hanyalah lensa. Lensa tetap menjadi lapisan yang membatasi kenyataan yang kita pikir dan kebenaran yang sesungguhnya. Yang dilakukan oleh sosok seperti Buddha Gautama dan para pencari kebenaran lainnya adalah, mereka tak berhenti mengupas lensa mata dan hati hingga menemukan kebenaran sejati. Kebenaran tanpa lapis apa-apa.

Selama kita berada dalam tatanan realitas berlensa, selama kita masih bergantung pada kacamata dan kacahati kita untuk mengungkap kebenaran, saya dan Anda hanya bertukar kebenaran relatif. No winner, no loser. It’s always a zero sum game.

Saya teringat pengalaman setahun lalu saat mengikuti retreat Dyad di Ubud. Bagaimana bisa dua orang yang saling berhadapan lalu membicarakan sampah dan kerak hatinya bisa menjadi momen pencerahan dan penyembuhan? Bagaimana hal itu dimungkinkan? Dyad semata-mata mengajarkan komunikasi yang sejati. Saat seseorang berbicara, partnernya tidak menanggapi, menyela, menilai, dan menjustifikasi. Ia hanya memberikan perhatian, hadir dengan kesadaran penuh bagi lawan bicaranya.

Poin utamanya adalah, kedua pihak belajar memahami bahwa jika ada kesenjangan lensa antara mereka, perbedaan tersebut memang sudah demikian adanya. Bukan untuk disamakan, dipas-paskan, atau dikoreksi. Dan yang terjadi justru adalah keajaiban komunikasi: sebuah pengertian dan koneksitas yang mendalam, bahkan mencerahkan. Karena hanya melalui komunikasi sejati, lapis demi lapis lensa kita bisa terkikis, dan jika kita beruntung, kita mampu mengintip secercah-dua cercah indahnya kebenaran tanpa kacamata. Indahnya hati tanpa kacahati.

Saya sadar, komunikasi semacam itu sukar terjadi dalam forum seperti ini. Semua pengalaman dalam dua bulan terakhir ini hanya akan menjadi pengingat bagi saya untuk terus berevolusi dan bergulir dengan arus kehidupan. So, let’s move on with our life, our love, and our lenses. And for once, may we appreciate not only the beauty of our own spectacles, but also the differences around us all.
Read More ..

Monday, August 04, 2008

10 Most Hillarious, Humorous, and Hideous Gossips I Found

10 Most Hillarious, Humorous,
and Hideous Gossips I Found


Just for the fun of it (and not so fun of it), I’ve highlighted some of the most intriguing news (read: gossip) out there, written by the media or shared by the public through discussion forums. Some were disturbing, but some were absurdly funny. And here they are in random order:

#1: The Titanic Sinks Us (Again)

“Ada sekelumit kisah di balik gugatan cerai Dewi Lestari pada suaminya, penyanyi Marcell. Rupanya sebelum memutuskan bercerai, pasangan dengan satu anak itu mendengarkan album soundtrack film Titanic. 'Ketika kami memutuskan, kami memasang lagu Titanic dan kita saling curhat,' jelas Marcell.” [InfoGue.Com]

Fact:
Saat kami konferensi pers, seorang wartawan yang masih belum puas dengan jawaban yang sudah kami berikan lantas meminta keterangan lebih lanjut mengenai alasan perpisahan kami berdua, dan Marcell menjawab “Kalau mau diceritain semuanya ya panjang banget, kita harus ngobrol semalam suntuk…” dan dengan bercanda Marcell menambahkan, “sambil pasang lilin, dengerin lagu Titanic…”. My dear friends of the media, that’s called hyperbolism. And it was meant to be a joke.

Dee’s Comment:

You gotta be kidding me. Titanic soundtrack? TITANIC? Look, if there’s a song we would choose for such an important and dramatic moment, it would definitely be “Kemesraan” from Iwan Fals and Rafika Duri! Why? Cause we support our local music! And if someone’s still taking my statement seriously, then God have mercy on your humorless soul.


#2: Too Much Information
"Istana Baru Sang Supernova: Dewi Lestari seolah ingin mengubur kisah masa lalunya bersama Marcell dengan berpindah rumah... Dewi membeli rumah yang kini ia tempati bersama buah hatinya, Keenan Avalokita Kirana Siahaan itu, dari pemilik pertama dengan harga mendekati Rp 1 miliar." [Tabloid C&R].

Fact:

Well, terkecuali bumbu “mengubur kisah masa lalu” dan masalah teknis mengenai kepemilikan rumah, harga, dsb, saya memang sekarang berdomisili di Jakarta. That's the single fact in the whole story (oh, they also mentioned about Keenan's four-wheeled bike. I don't know how the heck they knew about it, but it's actually true. However trivial and unimportant the detail is).

Dee’s Comment:

Sadly, I found this news as the most unethical and impolite one. Why? Belum pernah seumur hidup saya berkarier, sebuah media dengan tanpa izin mencantumkan alamat rumah saya. Tidak tanggung-tanggung, bahkan sang wartawan (Fitriawan Ginting) memotretnya tanpa sepengetahuan dan seizin saya. Hal ini, selain tidak etis, juga sudah menyinggung masalah keamanan bagi saya dan keluarga. Fyi, I didn't purchase the house, it was rented.


#3: Lost In Time

“Mediasi dipimpin oleh Baslin Sinaga dari PN Bale Endah. Mediasi itu tampaknya berlangsung alot, karena memakan waktu sekitar 1,5 jam.” [Tabloid Nova]

Fact:
Mediasi berlangsung 30 menit saja. Bahkan kurang.

Dee’s Comment:
Saya tidak tahu wartawan yang menuliskan ini menunggu di lorong waktu mana. Entah dia juga memasukkan waktu perjalanannya menuju PN Bale Endah yang memang terletak di wilayah Bandung coret. Tapi inilah bukti bahwa begitu banyak informasi yang ditulis secara resmi, nyatanya tidak ditulis dengan akurasi dan ketelitian, sekalipun terdengar meyakinkan. Dengan “memuainya” waktu dari 30 menit ke 90 menit, tentu bumbu “mediasi berjalan alot” menjadi pas. Namun sesungguhnya, yang faktual terjadi tidak selalu pas dengan bumbu yang diramu.


#4: The Ghastly & Ghostly Interview
“Isu adanya orang ketiga memang menyeruak, seiring retaknya rumah tangga Dewi Lestari dan Marcell Siahaan. 'Saya sama sekali tidak ada hubungan spesial dengan pakar holistik yang Anda sebutkan itu. Hubungan saya dan Marcell dengan dia, hanya sebagai teman,' bantah perempuan ini mengawali pembicaraannya dengan sejumlah wartawan, termasuk Edy Suherli, dari C&R. Berikut petikannya:
C&R: Benarkah karena kehadiran orang ketiga?
D: Tidak ada orang ketiga ataupun persoalan KDRT. Semua murni persoalan intern kami, yang sudah tidak bisa disatukan lagi.
C&R: Bukankah Anda dekat dengan seorang pakar holistik yang bernama Reza Gunawan?
D: Kalau dengan dia, saya hanya berteman biasa. Marcell juga berteman dengan dia. Jadi tidak ada hubungan yang spesial antara saya dengan dia.”
[Tabloid C&R by Edy Suherli]

Fact:
Wawancara dialogis di atas sama sekali tidak pernah terjadi. Pertanyaan tersebut tidak pernah diajukan, apalagi jawabannya. Pada saat konferensi pers, kami tidak melayani wawancara individual dengan media mana pun. Semua media kami jawab dan layani secara kolektif. Sampai saat ini, kami pun masih belum bersedia melakukan wawancara eksklusif dengan pihak mana pun. Semua berita yang beredar mengenai masalah ini secara resmi ditanggapi hanya lewat satu kali konferensi pers itu saja, jika ada yang diberitakan di luar daripada itu, berarti diambil dari sumber lain atau cuma materi olahan sendiri.

Dee’s Comment:
Saya tidak tahu persis maksud dan tujuan tabloid C&R dengan wawancara imajinernya. Karena jika pertanyaan tersebut benar-benar diajukan, jawaban saya akan sangat lain. Reza Gunawan has been one of our dearest friends for years, and this is what I must say: there’s nothing unspecial about our relating. Everything about it, is special. He is one of the very few trusted friends that has been supporting us all this time. However, he had nothing to do with our decision to separate in the first place.
So, let me get this chronology straight: keputusan saya dan Marcell untuk pelan-pelan berpisah terjadi pada akhir tahun 2006. Kesiapan kami untuk berpisah secara legal dibulatkan pada akhir tahun 2007. Awal 2008, kami mulai menjajaki masalah teknis (pengacara, proses peradilan, dsb).
From the time of NOW, if there’s someone that is very close (or some of you may call it ‘extra-special’) with me at the moment, that person would definitely be Reza Gunawan, and no one else. We began to allow our relating to evolve to the stage we're now at, which was quite recently, only after me and Marcell had confirmed our legal separation. Tapi dengan menyeruaknya kabar perceraian ini di media, dan tentu saja, tidak ada orang yang mengharapkan kabar yang "biasa-biasa", nama Reza dan institusi yang didirikannya sempat diseret dan dikaitkan sebagai penyebab perpisahan kami. Semoga penjelasan ini dapat menjadi acuan lebih baik untuk penyusunan berita gosip Anda, sekalipun saya yakin, penjelasan ini pun masih bisa diinterpretasikan dengan 'miring', tergantung daya tangkap dan niat dari pihak yang membaca. Dan jika kronologi waktu yang saya jelaskan di atas masih juga dikacaukan, baik karena memang belum tahu atau sengaja, then it's entirely your own problem.
Mudah-mudahan saya salah, tapi sukar untuk tidak mengasumsikan bahwa wawancara imajiner di atas didesain sebagai “bumerang” bagi saya di kemudian hari, yang barangkali diharapkan menjadi gosip panas berikutnya. Well, let me ruin that genious plan of yours. I’ll say this again: there’s NOTHING UN-SPECIAL about me and Reza. We've always loved each other as best friends, and now we love each other as companions. Oh, by the way, don’t bother to sneak this info to Marcell… cause, guess what? Not only that he knows, we also hang out together! The three of us! Especially that now we're shamelessly endorsing Blackberry for free! *Photo taken on August 5th, 2008, while celebrating Keenan's 4th birthday.




#5: The Desperate Attempt to Rewrite History
“Jadi… ketidakcocokan Marcell dan Dewi Lestari memang udah terjadi dari taun lalu. Marcell ini ibaratnya baru melek sama pergaulan Jakarta, karena dulunya tinggal di Bandung sebelum ngetop nyanyi dengan Shanty. Awalnya dia kan dulu drummernya Puppen band underground gitu, tiba-tiba kok nyanyi lagu pop? (gak punya pendirian bener). Trus setelah ngetop dengan "Hanya Memuji" dia kawin dengan Dewi. Trus, sekarang ini dianya kayak 'culture shock' gimana gitu deh. Tiap gue clubbing di mana, sering banget ada Marcell. No Dewi. Dewi kan emang gak suka clubbing, sukanya meditasi sama nulis di komputer. Sedangkan Marcell kerjanya keluar mulu, gaul sama cewe-cewe cakep, model-model, sampe akhirnya nyangkut dengan model "ISABEL JAHJA" (Abel). Pokoknya social climber bener deh, jadi kesannya norak dan kampung menurut gue. Aduh capek deh pasangan ini, gak di mana-mana ciuman dan grepe2 (enek liatnya), terutama di tempat clubbing dan kesian dalam hati karena Dewinya gak tau apa-apa. Tapi akhirnya Dewinya tau juga. Katanya sih sempet menangkap basah Marcell dan Abel sedang... yah you know lah. Akhir cerita Dewinya mau cerai, dan kabarnya sih udah mau proses. Kesian ya Dewi, padahal orangnya baik, pinter, spiritual pula. Marcell-nya emang masih rada anak kecil gitu sih. Yah maklumlah baru melek pergaulan Jakarta (dasar norak).” [Thread from Forum Detik.com. Posted by: Lollypopsicle]

Dan ketika ada komentator yang meragukan keabsahan kisahnya, dengan yakinnya ia menambahkan:

Yah, liat aja entar. Orangnya yang curhat langsung kok, Bos.

Fact:
Abel is a dear friend of mine. Those horrific incidences—‘menangkap basah’, ‘menangkap kering’, and everything in between—never happened. She had nothing to do with our decision to separate.

Dee’s Comment:

Whoever you are, I appreciate your ‘positive’ review on me. But just between you and me, do you think I will be stupid enough to actually ‘curhat langsung’ to you, an obvious person who doesn’t know what she/he is talking about, and who doesn’t know anything about me? Let me make this clear. Once and for all. Berikut adalah kategori orang-orang yang TIDAK MUNGKIN menjadi teman curhat saya:
• Mereka yang menyangka pekerjaan saya hanya meditasi dan nulis di komputer.
• Mereka yang menyangka Marcell doyan clubbing. He went to club mostly for work, because he once had a trio with a DJ (DJ Romy) and a drummer (Tyo Nugros), where all of their gigs were performed at clubs. Marcell is a vegetarian, he practices Taichi and Brazilian Jiu-jitsu, and he doesn't smoke or drink alcohol or do drugs. How fun can that be for a clubber? Go figure.
• Mereka yang menyangka seorang Marcell bisa culture shock hanya karena pindah dari Bandung ke Jakarta, I mean, get real. Bandung is 2 hours away from Jakarta, and he had a music career since junior high. And if later you become a recording artist plus a professional actor like him, no matter where you live, you’ll be working a lot in the heart of Jakarta from day one of your career. Unless you’ve been living in Lembah Baliem for your whole life, nothing can be TOO shocking about clubbing life in Jakarta. Social climber? Hello? No ladder that we can see from up here! Nor we care!
• Mereka yang masih mempermasalahkan keluarnya Marcell dari Puppen. It’s so 90’s. Get the hell out of your broken time machine and start live in the now.


#6: The Timeless Underground War

“Karma kali, gara2 Marcell keluar dari Puppen dan malah jadi penyanyi pop.
Pernah tuh Puppen tahun 2002 apa 2003 gitu tampil di acara sma gw, mereka bawain lagu baru yang ceritanya tentang pengkhianat band metal yang beralih jadi lagu cengeng (Marcell)... [2] Mereka susah payah berjalan dengan idealisme mereka, tau2 ada anggotanya yang keluar demi suatu yang mereka mati2an tolak, tau nggak rasanya?”
[Thread from Forum Kafegaul.com. Posted by: BU33]

Fact:

That is taken from the thread that’s supposedly discussing our divorce issue. Seriously.

Dee’s Comment:

Marcell keluar dari band bernama Puppen pada tahun 1998. Saat dia masih mahasiswa tingkat dua. Baru empat tahun kemudian, tahun 2002, Marcell berkarier menjadi penyanyi. Dan sukses. I don’t know which part of his career path that was taken so hard by so many people. But I tell you this: it’s been TEN FRIKKIN’ YEARS, people! Get over it! Gosh.
When he plays drum like a rocker and has a voice of a pop singer, do we really need to make him scream and growl? Just so he stays ROCK, UNDERGROUND, and INDIE? And in order to avoid that mortal betrayal, do we need to ban him from singing and forever stick him to his Pro-Mark sticks (though I know he would love to stick to his huge set of Tama Starclassic EFX Performer forever)?
And the funniest part is: within his five years career, Marcell has created three best-selling albums, a movie, a couple of tv series, and hundreds of gigs all over the country, while most of his critics have created… none.


#7: The Sekong Lekong's Wishful Fantasy
“Katanya si Marcell ketahuan yah lagi pegang2an ama salah satu finalis L-Men 2008? Trus di sini dibilangnya Dewi selingkuh? Jadinya dicere'in. Nah karna itu, mereka nggak mau ngasih tau apa penyebab perceraiannya… [2] Iya, si Marcell kan waktu itu dikabarin lagi deket sama salah satu pria L-men... dan lagi Marcell sempet nyanyi pas di acara L-Men itu sendiri... dia dikabarin lagi rangkul2an gt trus ketahuan ama temen deketnya si Dewi, alias managernya... yah si Dewi nggak terima dong suaminya lekong gitu jadi putus deeh… [3] gue juga kaget waktu dengernya... Dewi aja nangis2 pas managernya ngomong gitu! lagian ****** banget managernya rada2 comel juga sih, masa suaminya kaya gitu dilaporin ke Dewi. Harusnya dilaporinnya ke publik.” [Thread from Forum Detik.com. Originally posted by: Vermouth]

Fact:
Marcell is as straight as an arrow, and has no interest whatsoever in L-Men, X-Men or A-Men. Sorry to disappoint some of you.

Dee’s Comment:

For me, this is the most hillarious finding. I just couldn’t believe how imaginative, creative, and yet delusional people can be.


#8: The New Religion and The Food Status

"Oh, dulu yang katanya pasangan celebrities yang pindah agama dari Kristen ke Buddha itu ya? Apa mungkin mereka pindah ke Buddha supaya cerainya gampang ya? Kirain dulu mereka pindah Buddha karena ajarannya... (2) Menurut saya ya, kalau seorang Dewi Lestari (dan juga Marcell) jika ingin bercerai pindah agama dulu ke Buddhist merupakan langkah yang tepat. Sebab kalau mereka tetap Katholik, perceraian mereka nggak bakal bisa dilaksanakan." [Thread from Milis Spiritual-Group, Posted by: Bung DK]

Fact:

Setelah bercerai, Dewi dan Marcell kini berpikir-pikir untuk menjadi penyembah Dewa Tapir. Sebuah aliran berhala zaman baru. Para penyembah Dewa Tapir ini percaya akan datangnya hari kiamat bernama The Armagedillo, di mana semua makhluk akan musnah kecuali hewan tapir dan para manusia penyembah Dewa Tapir. Kelak, tapir dan manusia akan kawin silang dan menghasilkan spesies baru bernama Homo Ayanugello. Spesies baru ini akan menggantikan Homo Sapiens sebagai penguasa Bumi. Di bawah dominasi spesies Homo Ayanugello, kehidupan di Bumi akan berubah total. Dijamin akan ada kemudahan untuk segalanya. Baik itu kawin, cerai, tidak kawin, bikin KTP, bikin SIM, bayar pajak, dsb. And if someone's still taking this statement seriously as fact, this time I don’t think even God Almighty will ever have mercy on your soul.

Dee’s Comment:

Dari hati yang paling dalam, jujur saya mengatakan: agama hanya cangkang bagi saya. Esensi terdalam dari sebuah agamalah yang menarik. Bukan kulit luarnya. Namun cangkang ini kadang memudahkan kita untuk aspek sosial dan bermasyarakat. Aturan pernikahan dan perceraian, menurut saya, ada di kulit luar. Jadi saya mengerti logika Bung DK. Tapi jika untuk bercerai saja saya perlu pindah agama, itu ibarat seseorang yang tertarik pada tusuk gigi di sebuah restoran, dan akhirnya memutuskan untuk membeli seluruh restoran. So inefficient, and so redundant. Out of the question.

Dan masih dari forum yang sama:

"Inti dari tulisan si Dewi tentang perceraiannya: Hubungan yang kadaluarsa. Ditulis dia sendiri pada paragraf ke 3, 4 dan 5. Bicara kadaluarsa, seperti sebuah produk maka tanggal pacaran mereka adalah tanggal produksi. Dan tanggal pernikahan mereka adalah tanggal pergantian kemasan barang dan peningkatan kandungan/ingredients dalam produk… Ada atau tidak ada kadaluarsa adalah pembicaraan yg mengarah sebuah penipuan. Penipuan atas kedok rasa bosan, eksplorasi dan pencarian sensasi. Kalau mau lebih enak ya undang si Dewi masuk milis ini."
[Posted by: David Silalahi]

Fact:

You’ll die. I’ll die. Amoeba will die. Even Earth is dying.
I wish we were all born with an expiry-date tag stapled to our butts so we know how much time left for us to talk all this nonsense. Unfortunately, we weren’t. Maybe that’s why so many of us waste our precious time on Earth scrutinizing and judging somebody else’s business.

Dee’s Comment:

Don’t bother to invite me in, David. Though I cannot see my expiry-date tag, I can feel that my time is not enough to discuss your issue with the word “kadaluarsa”. Dari observasi saya, sepertinya banyak sekali orang yang “korslet” dengan kata itu. Dan karena jerat bahasa dan kata ini, pengamatan kita sering dibuat melenceng. I don’t know what’s the real issue, tapi agaknya kata “kadaluarsa” dianggap menurunkan derajat kita menjadi makanan atau produk pabrik. Dan kita, manusia serba luhur ini, yang mengenal konsep agung semacam Cinta dan Tuhan, tidak layak dituduh punya jadwal kadaluarsa. Kita begitu terobsesi jadi abadi, atau setidaknya “memiliki” sesuatu yang abadi. Padahal jika kita jeli, segala kondisi dan fenomena akan berakhir. Tidak ada yang tetap. I don’t even think we *own* anything in the first place, even though we’d like to believe otherwise. Dan sejauh yang saya tahu, di liang lahat nanti kita betulan akan jadi makanan cacing. We’re food. We’re so edible. Ask Sumanto.


#9: The Mysterious Mid-Age Woman Revealed

"Marcell mendirikan rumah tangga dengan Dewi Lestari, pada 12 September 2003 dan mereka dikurniakan cahaya mata, Keenan Avalokita Kirana, 3. Tup! Tup! Baru-baru ini SS dikhabarkan mereka sudah berpisah. Disebalik cerita mengejut itu, SS tambah terkejut apabila dimaklumkan perceraian mereka angkara orang ketiga.
Khabarnya, wartawan Indonesia sibuk mencari siapakah kekasih baru Marcell hingga sanggup meninggalkan isterinya. Hebat sangatkah yang empunya diri sehingga berjaya merobohkan mahligai yang sudah bertahun dibina atas rasa cinta.
Hasil siasatan wartawan Indonesia itu lebih mengejutkan SS apabila dikatakan wanita yang bertanggungjawab menjadi punca keruntuhan rumah tangga Marcell ialah artis tapi bukan senegara sebaliknya dari seberang tambak Johor.
Artis itu dikatakan cukup terkenal di negaranya dan difahamkan janda anak satu. Bagaimanapun, SS kurang pasti sejauh mana hubungan Marcell dengan artis itu.
Sehingga kini, wartawan Indonesia belum tahu siapa artis wanita itu. Mungkin perkembangan artis di Singapura tidak sehebat artis di Malaysia.
Tapi selepas SS selidik sendiri, rupanya artis itu sedang berusaha membina nama di negara ini. Kalau tak salah SS, drama lakonannya sedang ditayangkan."
[MyMetro.Com – Soseh Soseh, Malaysia]

Fact:

Amazing, isn’t it? Bahkan negara tetangga kita, Malaysia, sudah mulai terinfeksi virus gosip “orang ketiga” dari jaringan media Indonesia. Walaupun kalau dibandingkan, media Malaysia yang satu ini lebih sportif karena masih mengakui bahwa dia tidak tahu pasti. Dan bagi rekan media se-tanah air, yang selalu tahu pasti akan segalanya, hentikan penyelidikan Anda sekarang juga. Saya akan memudahkan pekerjaan kalian semua dengan memberikan update terkini, sekaligus membuka tabir misteri, siapakah artis misterius yang sempat disebut sebagai “wanita paruh baya” di beberapa media Indonesia tanpa mengatakan “tidak tahu pasti” itu? Are you ready?
Her name is Rima Adams (this given link is under her permission). I’ve met her in person, and she’s such a sweet woman, and nowhere near half of century old. She’s a Singaporean actress who’s currently working on Malaysian TV series. Dan dia memang sedang dekat dengan Marcell sekarang ini. Kedekatan mereka baru dimulai setelah saya dan Marcell dengan mantap memutuskan untuk berpisah. I’m sincerely happy for them and wish them all the best for now and for the future.
Dan jika Anda sungguh-sungguh menyimak kronologi di atas, sebetulnya ada fakta yang lebih penting, yang (sayangnya) menurut feeling saya, akan kembali diabaikan oleh beberapa pihak demi kesenangan dan kepicikan berpikir mereka, but I’m just gonna say it: she IS NOT the cause of our separation (subtitle Melayu: dia TAK bertanggungjawab atas punca keruntuhan rumah tangga Marcell. Tup! Tup!).

Dee’s Comment:

By announcing this news to both medias, Malaysia and Indonesia, I feel so international (at least, regional). Cool. Totally.


#10: The Hands That Will Rock Your Cradle… and Grave.
“Dee – Reza Gunawan Takashimaya Singapore / 30 July 2008: Gw barusan (1.10 pm SIN) liat Dewi Lestari ama Reza Gunawan gandengan tangan di Takashimaya B2. I took back what I said earlier bahwa gw ngga percaya Reza Gunawan jalan bareng Dewi. Ternyata oh ternyata... Semuanya bull****. Mau Dewi dengan segala justifikasinya dan Reza dengan klarifikasinya... [2] Gw dah mau foto, tapi batere hp gw abis. Pas gw mau klik, dia udah ngga bisa buat moto. Tapi gw ngga mungkin salah karena gw pernah contact dia beberapa waktu yang lalu... Bullsh1t semua, coba deh baca blognya dewi, di situ ada link ke blognya Reza. Apa yang ditulis ngga sama dengan kenyataan… Gw liat dengan mata kepala gw sendiri mereka jalan berdua, gandengan tangan, terus makan vegetarian food. Masa iya kaya gitu cuman SAHABAT? Ke Singapore bareng? Please deh.” [Thread from Forum Detik.com. Posted by: Chocolate]

Fact:

Damn right we eat vegetarian food. We’re vegetarians! The only place where we’d be hanging out in the midst of Takashimaya food court must be a vegetarian food stall. Yes, it was us, all right. Saya dan Reza baru-baru ini memang pergi ke Singapura untuk mengikuti sebuah pelatihan penyembuhan. So, by all means, be proud of your 'mata kepala sendiri'. Be very proud. But use them more carefully when you read our blogs next time. We never mentioned anything that contradicts what you saw with those eagle-sharp eyes of yours, darling. Tsk, tsk.

Dee’s Comment:

Poor baby. Hp-nya habis baterai saat ingin menangkap adegan yang dikiranya akan menjadi skandal nasional tahun ini. Jadi, daripada satu arwah terkena risiko mati penasaran di kemudian hari, akan saya tuntaskan cita-cita mulianya yang ingin mengabadikan adegan kami bergandeng tangan di Singapura:


Tidak hanya agar arwahnya terbebas dari kemungkinan gentayangan, saya pun ingin membuat ia kelak mati tersenyum, bahkan hidup bahagia, detik ini, dengan memberikan beberapa bonus foto lagi:








Lihatlah bagaimana kedua tangan kami bermain aneka adu ketangkasan, dari mulai panco sampai injit-injit semut, bahkan melakukan pose balerina yang sedang akrobat. Semuanya khusus untuk Anda! Tak lupa, kami pun mempersembahkan sebuah karya seni, berjudul "American Eagle" by Dewi & Reza:


Oh... sebentar... tampaknya masih banyak dari teman-teman di Forum yang belum merasa puas. Baiklah. Spare your batu bata and head-hammering emoticon. Kami akan menyiapkan foto adegan yang paling Anda tunggu-tunggu... sebuah aksi panas yang pastinya mampu membakar Forum diskusi Anda...


So, rest in peace, my friend. May these small tokens from Singapore will make your days merrier. And don't worry, all pictures were actually taken in Singapore, in Changi Airport (you can match the carpet's pattern in our photo through some lab analysis). When it comes to factuality, hey, we're the guys you can count on.


Hang loose! Ciao!

Barangkali akan ada yang bertanya: untuk apa saya menuliskan semua ini (aside from a good laugh)? Simple. I'd rather speak for myself than having bunch of infotainments or gossipheads do it for me. It's so much fun to create our own infotainment. And sure, they may still do what they need to do, but I'm not gonna miss all the fun. Heheh.

Demikianlah ulasan iseng-iseng tidak iseng saya. Selama kurang lebih sebulan berita tentang perpisahan saya dan Marcell bergulir, begitu banyak hal yang bisa saya renungkan dan pelajari hanya dengan mengamati berbagai reaksi dan komentar yang dilontarkan media, publik, termasuk dari orang-orang yang kami kenal secara pribadi.

Pertama, reaksi bungkam sering diartikan sebagai tindakan terbijak, karena itu membuktikan bahwa kita kebal dan tidak terpancing emosinya. Kita bahkan punya semboyan: diam berarti emas. Namun seringkali “bungkam” yang terjadi adalah menyumpal mulut setengah mati, sementara hati panas terbakar seperti neraka. Kondisi itu, dalam istilah saya, menjadi: diam berarti emas imitasi. Jadi, dalam diam kita, sesungguhnya kita bisa sangat terpengaruh dan bereaksi. Dan di balik sikap tidak bungkam, seseorang bisa jadi betulan kebal dan tak terpengaruh. Ia hanya semata-mata ikut bermain dengan arus tanpa tenggelam di dalamnya.

Dengan menuliskan kedua posting terakhir ini, Anda bisa melihat bahwa saya tidak memilih sikap seratus persen bungkam. Tapi jangan salah. Tujuan saya menulis ini juga bukan untuk membuktikan bahwa saya sama sekali imun dari reaksi emosi atas gelombang gosip (bahkan menjurus fitnah—as you can see) yang terjadi seputar isu perpisahan saya. Saya sangat punya reaksi emosi, yang juga berwarna-warni. Namun inilah puncaknya: life is so darn funny. It’s the best comedy ever. And I choose to laugh.

Kesimpulan kedua saya, semakin seseorang tidak mengenal kita, semakin banyak ia berkomentar. Semakin seseorang mengenal atau memahami kita (tanpa perlu kenal), semakin sedikit dan berhati-hati ia berkomentar.

Another “bullshit theory” of mine? Yeah. You wish.
Read More ..