Membangunkan Pujangga Tidur
Sebuah ide membakar pikiran saya berhari-hari.
Apa gerangan yang membuat seseorang menulis? Apa yang sesungguhnya terjadi ketika seseorang memutuskan ingin jadi penulis? Apa yang ingin dicari seorang penulis? Dinamika apa yang sebenarnya terjadi antara penulis, pembaca, dirinya dan semesta raya?
Sudah cukup sering saya menjadi juri berbagai lomba penulisan. Ratusan naskah dari orang-orang yang ingin suaranya didengar, ingin suaranya menjadi pemenang… apakah hadiah yang mereka cari? Ataukah ada yang lebih dari sekadar piagam dan uang? Sudah cukup sering juga saya dimintai pendapat atas naskah seseorang. Dari mulai yang meminta endorsement sampai yang cuma ingin dibaca saja. Kepuasan apakah yang sebetulnya didapat dari menuliskan puluhan bahkan ratusan lembar itu? Apa yang memotori para penulis itu merangkai kata? Apa yang sebetulnya mereka ingin bisikkan, teriakkan, dan tangiskan?
Tak terhitung juga banyaknya pertanyaan yang terlontar pada saya, menanyakan tips menjadi penulis, cara menulis yang baik, cara menuangkan ide ke dalam tulisan, bahkan sampai tips mencari judul dan nama tokoh. Beberapa kali saya memang pernah memberikan pelatihan penulisan, tapi hanya untuk beberapa jam saja. Yang paling intensif pernah saya lakukan untuk UNAIDS, mentoring selama dua hari, dan hasilnya menjadi sebuah buku (“Kartini Bernyawa Sembilan”). Dan dalam proses relatif singkat itu, tetap saja saya terusik, termenung, bahkan terpukau melihat transformasi yang bisa diperagakan seseorang ketika ia berhasil “disentuh” oleh kekuatan ilham. Dan saya pun bertanya-tanya, adakah caranya agar seseorang bisa menyiapkan dirinya untuk disentil dan disengat inspirasi?
Saya tidak pernah punya latar belakang sastra secara formal. Nilai di rapor saya untuk pelajaran Bahasa Indonesia selalu biasa-biasa saja. Tapi sejak balita, saya senang berkhayal dan melamun. Saya bisa melamun berjam-jam sebelum terlelap. Waktu kanak-kanak, saya bukan seorang kutu buku. Urat baca saya masih kalah dibandingkan kakak-kakak saya yang lain.Tapi saya amat senang membuat cerita. Saat itu dorongan menulis buat saya lebih kuat ketimbang membaca.
Saya juga pemerhati hal-hal remeh. Waktu kecil, saya sangat suka kelereng. Bukan untuk dimainkan, melainkan untuk diamati. Saya bisa menghabiskan waktu panjang hanya untuk mengamati sebola kelereng di terang lampu. Rasanya ada galaksi ajaib di dalam bola itu. Kilau yang dipantulkan kaca dalam kelereng seolah membentuk labirin dan bintang-bintang, dan saya terlongo-longo dipukau keindahannya. Saya juga kecanduan mengamati langit. Mencari bentuk dan wajah di awan, menghayati warna-warni senja sampai dada saya sesak oleh haru. Sebuah kebiasaan yang terus berlanjut hingga dewasa: mengamati angkasa hingga menunggu ia “berbicara” pada saya.
Entah mengapa, hal-hal kecil yang susah didefinisikan itulah yang justru terasa kokoh dan masif saat saya mengamati ke dalam diri untuk mencari pilar-pilar apa yang menjadi penyangga saya sebagai penulis. Bukan hadiah, ketenaran, piagam, atau uang, meskipun semua itu bisa jadi efek samping yang menyenangkan.
Sayangnya, pilar-pilar itu justru sering luput diamati. Kita malah lebih tertarik pada “kabut” yang menyelimuti seorang penulis ketimbang bara api yang membakarnya. Tidak heran ketika saya iseng survei “pelatihan penulisan” di internet, yang muncul adalah workshop untuk jadi penulis best-seller, workshop untuk jadi penulis profesional, workshop how-to menerbitkan buku, bahkan ada yang menjadikan nama saya sebagai iming-iming (“ingin menjadi penulis best-seller seperti Dee?”). Tidak ada yang salah atau buruk dari workshop semacam itu, bahkan pada level kebutuhan tertentu bisa jadi malah sangat berguna. Tapi perlu kita sadari bahwa penjelajahan superfisial otomatis akan membawa kita ke tempat-tempat yang superfisial, sementara penjelajahan yang sifatnya esensial tentunya akan membawa kita menelusuri gorong-gorong yang lebih dalam. Tergantung pada apa yang kita masing-masing butuhkan saat ini.
Jika ditanya, apa rahasianya agar bisa jadi penulis best-seller? Saya akan jujur menjawab: tidak tahu. Jadi, kalau satu saat nanti saya berkoar tentang bagaimana cara menulis buku laku, jangan pernah percaya. Saya sungguh-sungguh tidak tahu. Jika ditanya, apa rahasianya agar naskah kita diterima penerbit? Jujur, saya pun tidak tahu. Seperti jodoh, kita bisa punya sederet kriteria ideal, tapi pada akhirnya misterilah yang menautkan kita dengan seseorang. Begitu juga hubungan antara penerbit dan penulis. Sudah jadi cerita klasik bagaimana sebuah naskah ditolak sejumlah penerbit sampai akhirnya ada satu pintu yang membuka dan tahu-tahu naskah itu meledak menjadi best-seller. JK. Rowling mengalaminya, John Grisham mengalaminya, Sitta Karina mengalaminya, dan masih banyak lagi. Dan kalau ada yang bertanya, bagaimana sih caranya menulis? Jawaban saya pun tetap sama: tidak ada cara lain untuk menulis selain menulis.
Ada sesuatu yang sederhana yang kerap lolos dari pengamatan kita. Saya akan mengambil diri saya sendiri sebagai contoh. Ketika ditanya: bagaimana caranya agar tulisan kita dibaca orang? Hati saya tidak bereaksi. Datar dan hambar. Yang sibuk berputar untuk menjawab adalah kepala saya. Sementara ketika ditanya: apa motor yang menggerakkan saya berkarya, yang bisa membuat saya menggelepar seperti cacing kena garam, yang mampu membuat rahang saya kejang karena gemas, yang bisa melesatkan saya menembus atmosfer bahasa? Hati saya seketika tergetar. Ada sesuatu yang hidup, yang dahsyat, yang langsung mengaliri tubuh saya. Sementara kepala saya cuma bisa kelimpungan mencari penjelasan yang memang di luar kesanggupannya.
Sesuatu itu, teman-teman, adalah sesuatu yang paling penting untuk ditemukan. Sisanya bonus. Kepala Anda tidak bisa menjawabnya. Hanya hati yang tahu. Di titik pertemuan antara Anda dan bara api yang membakar jiwa Anda itulah kabut kepenulisan akan meluruh dengan sendirinya. Anda seketika bisa membedakan mana yang penting dan tidak penting. Mana yang esensi dan mana yang aksesoris.
Sekarang Anda mungkin tergerak untuk bertanya, bagaimana caranya mengalami pertemuan itu? Saya pun harus jujur menjawab: tidak tahu pasti. Namun kali ini saya tertarik ingin mencari tahu, bersama-sama dengan Anda. Sama halnya kita tidak tahu kapan petir akan menyambar, tapi kita bisa mempersiapkan diri untuk disambar petir.
Inilah ide yang sekarang tengah membakar saya, yang mudah-mudahan bisa saya laksanakan pada awal tahun depan: membuat sebuah workshop penulisan intensif, bukan untuk menjadi penulis best-seller, bukan juga untuk memenangkan lomba, bukan untuk karyanya diterima penerbit, melainkan untuk membangunkan sang pujangga yang tertidur.
Pernahkah Anda melihat kandang macan di siang hari? Binatang yang sangat indah, tapi cenderung membosankan berhubung kerjanya cuma tidur. Sekarang bayangkan macan itu adalah pujangga dalam diri kita. Sekalipun kita sudah banyak menciptakan kalimat-kalimat indah, belum tentu kita menyuarakan kejujuran kita yang terdalam. Saat kita melihat seekor macan tertidur di kandang, yang mengaum di kepala kita adalah cerita-cerita orang tentang macan, atau pengetahuan kita tentang macan yang didapat dari brosur, buku, atau teve. Tapi selama macan itu belum mengaum langsung, sesungguhnya kita tidak pernah mendengar suara dia yang sebenarnya.
Saya ingin mendengar macan itu mengaum dan merobekkan cakarnya. Bahkan lebih dari itu, saya ingin macan itu merdeka dari kandangnya kemudian berlari bebas dan kembali jadi raja hutan. Pujangga dalam diri kita kini terkurung dan tertidur pulas. Terbius oleh aturan dan kata-kata orang. Bahkan kebanyakan dari kita tak menyadari sang pujangga itu ada.
Di sinilah saya menemukan titik temu antara menulis dan meditasi. Writing and Zen. Di luar embel-embel gemerlap profesi penulis, kegiatan menulis adalah samurai tajam yang mampu mengupas lapis demi lapis diri kita. Siapa dan apa yang sesungguhnya bersembunyi di balik tabir pikiran dan baju kata-kata? Dari mana datangnya itu semua? Menulis juga mampu membantu kita berjarak dari kemelut ego, dari “aku” yang mengira dirinya pusat segala hal. Jarak tersebut memampukan kita untuk melihat sesuatu dengan lebih jernih, netral, tidak menghakimi. Itulah kepekaan yang ingin kita asah melalui meditasi. Dan kepekaan itu jugalah yang bisa kita asah melalui aktivitas menulis dalam konteks meditatif.
Berbeda dengan “pengetahuan” yang diturunkan secara estafet, Zen bagi saya adalah pengalaman langsung. A path of direct knowing. Sesuatu yang universal dan bisa diakses oleh siapa saja terlepas dari ragam latar belakang dan kepercayaannya. Pada hakikatnya “pengetahuan” sudah mati, sementara “mengetahui langsung” adalah aktivitas hidup yang terjadi secara spontan. Itu jugalah yang membedakan antara “menulis dari hati” dengan “menulis berpikir”. Meski kita sering mengklaim bahwa tulisan kita adalah tulisan dari hati, seringkali yang terjadi adalah tulisan yang kita “pikir” dari hati. Sebaliknya, menulis dari hati juga bukan berarti tanpa proses berpikir sama sekali. Tapi dalam hal ini pikiran kita ditempatkan sebagai gerbong yang ditarik, bukan lokomotif.
Tentunya ini akan menjadi perjalanan yang membutuhkan banyak keberanian. Berani menghadapi diri sendiri dan bertarung dengan ketidakpastian. Tidak hanya bagi pesertanya tapi juga bagi fasilitatornya. Kita sama-sama tidak tahu macan jenis apa yang menunggu Anda di bawah sana. Bahkan kita tidak tahu akan menemukannya atau tidak. Tapi, tidakkah perjalanan ini menjadi sesuatu yang layak dicoba?
Workshop tersebut akan memiliki sebuah bunyi: ZWAMP!
Zen Writing Camp. Dua malam tiga hari. Hanya Anda, aksara, dan misteri. Sama-sama kita bersafari, membangunkan pujangga di dalam kandang, dan mendengarnya mengaumkan apa yang paling sejati.






67 komentar:
Kapan, Mbak?
pgn ikut nih..
mbak dee... thanks bgt tulisan2 nya.. thanks bgt sharingnya so inspiring me.. =D
"Saya juga pemerhati hal-hal remeh."
"Terbius oleh aturan dan kata-kata orang. Bahkan kebanyakan dari kita tak menyadari sang pujangga itu ada."
sy seneng baca bagian yg itu.. hehe.. setuju tepatnya. Ngalamin sih..jd berasa pas ngebacanya, hehe
anyway, sy pgn bgt ni ikut workshopnya.. boleh tau ga mbak rencana workshopnya dimana? hehe
soalnya sy ada rencana januari thn dpn ke bandung.
Klo workshopnya di bandung misalnya bln februari, mngkin sy bisa undur kpergian k bandung jadi bulan feb sesuai tanggal workshpnya biar hemat ongkos - ga usa bolak balik/dobel ongkos, hehe
thanks a lot ya mba =D
Membangunkan sang pujangga yang tidur?
Wow.... workshop yang menarik Dee..
Jadi pingin ikut..
To Lista:
Untuk lokasi kita akan pakai villa. Kemungkinan besar di daerah Puncak. Karena kan harus menginap. Jadi baik dari Bandung maupun Jakarta tetap harus melakukan perjalanan ke lokasi. Tapi masalah teknis semacam ini akan diperjelas lagi nanti kalau sudah ada fixed date.
To Shanti: kemungkinan paling dekat adalah akhir Februari. Ditunggu aja ya.
Just for general info, karena ini sifatnya intensif jadi jumlah peserta sangat terbatas. Kalau nggak terlalu intensif sih bisa dibikin dalam format yang lebih besar, tapi cuma jadi workshop sehari saja. We'll let you know kalau memang ada pengembangan format ke arah sana.
Thank you,
~ D ~
pujangga tidak kan tidur
Menulis itu seperti menyetting turbulensi otak yang berkejaran seperti ular untuk dicoba menyearahkan, memperlambat, dan menguraikannya jadi satu makna.
Seperti gelombang acak dan chaos yang dipaksakan melewati filter dan keluar sebagai ritme sehingga ia mengerti dan orang lainpun bisa memahami.
Kebutuhan untuk menulis lebih kepada kebutuhan penulis untuk menyearahkan gelombang otaknya.
Maka penulis yang paling produktif adalah orang yang otaknya paling gak harmonis, meletup-letup, acak, paling chaos, paling gak jelas, kebanyakan attractor, too much input, yang menerima gelombang dari seluruh alam semesta dan bingung mengartikannya tanpa harus ditulis dulu.
Jadi seperti orang buta yang baca pakai huruf Braille, penulis mencoba menterjemahkan keruwetan otaknya melalui kalimat-kalimat dan ritme.
Yang berbakat menyusun ritme sehingga enak dibaca jadi best seller. Yang gak berbakat menyusun ritme jadi blogger tukang komentar.
Halah, gak jelas..
Daftar kalo di Bandung workshopnya. BTW, I try to make a scene like Rectoverso dalam blog. Menggabungkan cerpen dengan fotografi, sketsa dan puisi. Sayangnya, I am not a singer. Asik juga ternyata. Hanya saja menghabiskan waktu.
Dan tentunya tidak bisa dijual :-)
dmana pun..saya ikutan mba!!!
meskipun pendaftaran blum dbuka..
saya bersedia deh baris dr sekarang..beneran!!
saran sy sih kalo bisa yg intensif aja ya mba, biar hasilnya maksimal - ga tanggung-tanggung, hehehe
kalo pesertanya terbatas sehingga kasian karena banyak yg ga kebagian, workshopnya diulang-ulang lagi aja.. dibikin semacem ZWAMP 2, ZWAMP 3, dst heheheh
"Bagaimana caranya mengalami pertemuan itu? "
Apakah dengan cara menyatukan hati dan pikiran dalam semesta?
Mbak Dewi... saya daftar!
kapan kira-kira bisa tahu fixed date-nya? mau ngatur waktu dan kalau perlu, cuti kerja. Hehehehe...
Sejak pertemuan kita di Matamu Ceritamu 2006 lalu, saya jadi makin semangat nulis (lagi). Sebagai katarsis, beberapa di antaranya terinspirasi dari tulisan-tulisan Mbak Dewi; Filosofi Kopi dan Rectoverso. Hehe.. saya orang yang percaya semesta dan tanda.
Mampir ke http://prita-dyah.blog.friendster.com, ya Mbak..
Terimakasih sebelumnya!
Salam, cinta, doa.
Prita
Wah, ternyata "urat baca kehidupan" Dee lebih kuat dan tajam daripada para kakak. "Urat tulisnya" apalagi. Perspektif yang bagus Mba. Buat aku yang awam (materi maupun nurani alias agak telat nangkep pengetahuan), kiranya tulisan-tulisan di blog ini pun dah merupakan pelatihan. Salam kenal dari orang awam (awamologi.wordpress.com).
MBAK DEWIIIIIIIII
OUYYYYY
Saya Pendaftar Ke tiga yah?
(Yaaa sapa tau dah ada pendaftar ke 1 ma ke 2)
mudah-mudahan bisa ikut, dan ada dana cukup bwt mendaftar. pengen bgt.
saya lebih asyik manggil punjangga yang tertidur: Niko kecil yang ngorok. hehehehe. kayak saya. ya emang saya.
saya juga punya pengalaman ngerasa dunia di sekeliling saya hambar rasanya. semua orang seperti serupa, meski mereka mengaku tak sama. saya pengen pake baju biru diantara billiunan orang yang make baju merah.
saya pengen lagi di'entup tawon inspirasi, dimana hati berdesir, nafas memburu semangat dan tangan gatel untuk menuntaskan menulis ide yang berdebur di hati. ini tentang kesadaran saya, yang siapa tahu saat saya bergerak efeknya juga bagus ke masyarakat.
saya pengen terinspirasi, untuk memaknai apa tujuan Hidup sebenarnya? kemana arah anak panah yang melesat kencang ini? (waduh nyambung gak yah ama acaranya ini? mangap asal nulis, curhat deh jadinya, hehehehe ^___^ Y )
pokoknya mudah-mudahan jalur Hidup kita bersingungan dan ketemu di momen yang diciptakan mbak Dewi, workshop ZWAMP ini. info selengkapnya saya tunggu mbak.
Wah, ternyata "urat baca kehidupan" Dee lebih kuat dan tajam daripada para kakak. "Urat tulisnya" apalagi. Perspektif yang bagus Mba. Buat aku yang awam (materi maupun nurani alias agak telat nangkep pengetahuan), kiranya tulisan-tulisan di blog ini pun dah merupakan pelatihan. Salam kenal dari orang awam (awamologi.wordpress.com).
OOT,
Sekedar usul, kalau nulisnya bisa title ga mba', jadi pas di title nya bisa di klik.
juzz usul ^^
mbak dee, saya sangat tertarik untuk mengikuti workshop nya. jika sudah ada tanggal fixnya, bisa kirim ke email saya atau upload di blog aja mbak. saya selalu ngikutin blog mbak. :)
sayangnya.. saya bukan orang yang mungkin mengusik mba dee karena motivasi menulis saya. saya menulis karena ingin mencurahkan segala pikiran dalam otak. mengurus dan memelihara seluruh inspirasi agar selalu berproduksi.
butuh keberanian untuk mulai menulis.. karena kita akan melepaskan "macan". seperti kata mba dee.
saya bukan tidak ingin ikut SWAMP. hanya saja, kayanya enggak mungkin deh..
Aku booking tempat ya mba dewi!!!
Mbak.... cuma tiga kata...
Ikut... Ikut.... IKUT.... ;p
Sebuah 'iklan' yang unik. Itu kesan saya begitu membaca tulisan ini. Saya lalu bertanya dalam hati, apakah calon pesertanya nanti akan diinvestigasi terlebih dahulu tentang motivasinya menulis atau ketertarikannya pada meditasi.
Mudah-mudahan saja, pesertanya bukan sejumlah pendaftar pertama, yang kemudian hasil tulisannya selama workshop akan dikumpulkan dalam bentuk buku kemudian diterbitkan dan menjadi bestseller di tahun 2009.
sumpah mba, dari dulu saya pingin banget bisa menuangkan semua khayalan saya kedalam sebuah tulisan dan dapat dinikmati oleh semua orang. tapi tiap kali ingin mulai menulis tiba-tiba aja gitu blank gak jelas.
tiab.tiba jaa langsung dapaet pencerahan setelah baca blog mba,
thks ya mba bagi.bagi elmunya
salam kenal mba =DD
"Pernahkah Anda melihat kandang macan di siang hari? Binatang yang sangat indah, tapi cenderung membosankan berhubung kerjanya cuma tidur."
Da best. Super-duper.
Thank you for such inspiring analogy!
Bagaimana kalau kita bikin satu sesi khusus untuk itu di ZWAMP nanti? Semacam... spleepytation gitchu ;-D
IKUUUUUUUT....!!!!
(*mulai packing n panicking. hehehe, lebai)
allo mba inten thanks yaa comment nya...trus comment yaa mbak...buat para blogger di Bali salam kenal...kunjungin blog ku terus yaa
Waktu Teh Dee sepertinya habis untuk berkhayal dan berimajinasi ketimbang membaca buku. Kalau baca buku terus-menerus, lha terus kapan nulisnya? Menggali ke dalam diri, menggali isi hati dan pikiran, mungkin itu kuncinya agar tangan ini tergerak untuk menulis. Guru yang paling banyak memberikan inspirasi atau ide untuk menulis mungkin lebih banyak dari dalam diri kita, apa betul begitu, Teh? Pertanyaan-pertanyaan di dalam diri yang menggelisahkan atau mengusik kita juga bisa mendorong kita untuk menulis. Menulis seperti mengembara menjelajah kedalaman hati dan mengunjungi satu per satu jalan pikiran kita yang ngejelimet, yang kemudian kita rapikan agar ide-ide yang 'jelimet' itu bisa bertemu pada satu titik dan titik itu lah yang membawa kita pada jawaban yang selama ini kita cari.
Hal-hal yang sepele atau kecil-kecil itu bisa memberikan inspirasi atau cerita, sepertinya halnya dalam cerita Pangeran kecoa yang jatuh cinta pada manusia pada buku Filosofi Kopi. Yang saya lihat pada karya Teh Dee, banyak hal-hal sepele yang dibahas, yang dijadikan subjek cerita, ataupun bumbu cerita itu sendiri.
Jadi workshopnya akan diadakan akhir Februari? Saya akan turut serta, Teh Dee.
Benar-benar konsep dan persuasi yang membumi.
Tapi ada paradoks dalam tulisan Anda, ketika "jalan ini" pun harus didapat dari sebuah workshop. Saya masih beranggapan, workshop hanya sekedar mengarahkan orang pada suatu konsep yang kita anggap fix. Kepala orang disetting untuk (setidak-tidaknya menjadi) seperti apa yang kita pikirkan. Padahal, seandainya tulisan Anda, Anda stop sampai paragraf Writing and Zen ---> A path of direct knowing, dan membiarkan pembaca mencari "jalannya" sendiri, itu adalah lebih baik. Output pemikiran kita akan pelangi. Plural.
Tapi, terlepas dari penilaian saya (yang pastinya timpang dan cenderung menggeneralisasi ini), saya angkat topi. Suatu kemajuan dalam paradigma dunia kepenulisan.
Salam hangat,
AS
Walau mba Dee tidak punya latar belakang sastra yg dalam tapi saya banyak belajar dari tulisan2 mba yg banyak kosa kata tidak umum serta kalimat yang exciting dari tulisan2 mba, sehingga saya betah bolak balik ke blog ini dan punya beberapa novel karya mba Dee :)
Sesekali mampir ke http://anny.blogdetik.com
Tinggalkan jejak disana ya mba :)
Mba Dewi, I'm in! Really love if I could participate. Dimana bisa dapet up date info nya, mba? Atau cukup rajin2 buka blog nya Mba Dewi aja? Hehehehe... Anw, I'll look forward for this up coming plan. Take care, mba...
Medan juga gak mo ketinggalan nih!
Bukan cuman pengin lagi. Tapi 'Benar-benar banget mau Ikut'
Cheers,
Jeny
mba,,
saya daftar sekarang!!
meskipun saya di jogja,,
saya akan tabung sebagian uang saku tiga bulan ini demi workshop itu mba,,
mudah-mudahan saya bisa ikut!!
Ketika meditasi diimplementasikan sebagai "mendengar" adalah "mendengar", "melihat" adalah "melihat","merasakan" adalah "merasakan", saya jadi bertanya2 bisakah menulis sambil bermeditasi ? apakah bisa "menulis" adalah "menulis" tanpa proses berpikir ? saya setuju sekali ketika anda menyebutkan bahwa disini pikiran diibaratkan sebagai gerbong yang ditarik,bukan lokomotifnya..sebuah ide yang sangat menarik dan orisinal..dikatakan meditasi yang baik itu harus kembali seperti anak kecil yang diajak orang tuanya ke sebuah pameran lukisan,anak kecil itu hanya melihat tanpa berpikir lukisan itu indah atau tidak..dalam menulis yang baik pun mungkin harusnya seperti seorang anak kecil yang senang menggambar,dia menggambar karena dia "ingin",bukan karena dia "berpikir" dia ingin menulis...salut untuk anda dee..=)
teh, sy mu ikutan yah..
*semangat edan nih*
hehehehe
Saya juga suka melamun dan menghayal tapi bukan seorang pemerhati hal-hal remeh dan lebih suka membaca daripada menulis.
Mungkin ga saya jadi penulis ya, mbak?
Karena kadang2 saya juga suka curhat melalui tulisan saya meski dari hasilnya membuat saya makin sadar merasa emang ga punya bakat menulis.hehehe
Workshop-nya jelas menarik banget, tapi takut mubazir bagi saya..:)
wah ...menarik nih kayaknya?
kapan itu?
pengumumannya ada di blog ya mbak?
mba, saya pengen ikut yaaaa..
terimakasih
Yahh jauhhh.......
mkalo virtual aja gimana?
Mba, Batagor.net (Bandung Kota Blogger) komunitas Blogger bandung, mengadakan acara Gardu Lantu tanggal 22 Des 08. Konsep nya jadi nanti disana bakal ada 1000 anak Yatim piatu yang akan kita ajak makan bareng...kalo tidak ada halangan, apa mba bisa hadir ? *sok kenal banget gw*...ahahaha.. keterangan lebih lanjut bisa di lihat di blog saya...Makasih banget ya mBa...
mbak....
bukan maksud ngikutin atau gimana, tapi ternyata ada beberapa hal yang sama dgn mbak yang sejak kecil saya lakukan juga, melihat bentuk awan, merhatiin isi kelereng, suka ngehayal smpe g sadar ngomong sendiri (aneh ga sey mbak yg ini?)
saya tertarik banget pengen ikut workshopnya, tolong dikabari ya?!
Bukan hanya menulis, namun apapun yang dikerjakan dengan hati, hasilnya akan luar biasa.
Saya dan anak gadis saya ikutan daftar ya, Dee.
mba dee...maaf nih mengesampingkan masalah workshop...
saya ni dari dulu suka menghayal dan kadang diotak saya ada satu cerita yg ingin saya tulis tapi saya bingung bgmn mnulisnya...
pernah saya tulis cerita ttg hidup pribadi saya namun seakan seperti biografi...padahal yg saya ingin tulisan itu mjd novel!
saya ingin jadi penulis bkn utk uang piagam atau apalah...tp hny ingin mengeluarkan imajinasi diotak yg mgk sudah byk dluar sana yg ceritanya sama! tp yg jd kendala adalah bagaimana cara menuangkannya...yang saat ini saya tulis seperti tulisan atau puisi dan curahan hati yg ga jelas...
saya ingin mnt tlg mba dee kasih saran dan masukan buat saya untuk mulai nulis sebuah cerita...
(duh..walaupun cuma lwt comments tp saya malu buat nulis ini mba!!! thx b4)
kak !!
thanks for the article .
kankan emang ga berusaha untuk jadi penulis.
kankan juga ga punyaa lingustik sense yang diatas rata2.
tapii, aku suka nulis, karena emang fun !
rasanya, semua perasaan kitaa, pendapaat kitaa, logikaa yang stuck , semuanyaa bisaa mendapatkan tempat yang tiada batas dalam tulisan.
menulis.
menulis.
menulis.
cape ?
emm .
sedikit sii .
tapii, kepuasaan nyaa .
unspeakable !!
hohohohoho .
selamat menulis .
sukses yaa, kak !! workshop nyaa ..
ada yang kelupaan :)
salaam sayangkuu buat keenan ya !!
cute lil boy ^^
saya mau ikut!
really!
bukan karena ingin membangunkan macan tidur...
tetapi karena ingin menikmati kesenangan dalam menulis ketika otak berpacu dengan cepat dan keterbatasan tangan dalam mengimbanginya :)
semoga bisa ikutan amien.
sukses ya!
kemarin saya dengerin lho di cosmopolitan..
wheww..
rasanya pengalaman saya dengan RECTOVERSO jadi bertambah...
:)
apalagi cerita yang Grow a day older itu cerita favorit saya hihi
wah blognya rame ya....
Belajar menjadi Ferre?
Dear Dee,
boleh ikut daftar workshopnya?(hmmm...saya yang keberapa ya...)
sangat-pengen-ikutan =)
thanx, Dee
Huiksss... kok nggak akhir Januari aja sih Mba' Dee... pas aku lagi mo ke jakarta...
Eh, tapi kalo bakal ada lanjutannya lagi, semisal ZWAMP2, adainnya di Bali yaaaaaahhhh... aku pasti ikut...
^__^
pujangga yang tertidur??
mungkin inilah yang saia alami selama hampir setahun ini : saia tidak menghasilkan satu karya pun. baik itu cerpen, puisi, atau pun novel (yang gak pernah selesai).
Sang pujangga dalam diri saia mungkin tertidur pulas karena saia yang memintanya untuk tidur dulu selagi saia bekerja keras untuk UAN dan SNMPTN bulan-bulan kemarin. tapi ketika semuanya telah berakhir (dan saia telah menjadi mahasiswa), sang pujangga SEPERTINYA keasyikan tidur . . . saia ingin membangunkan dia, tapi entah bagaimana caranya..
mbak dee... apa harus saia sendiri yang membangunkan sang pujangga itu??
maulizious.multiply.com
Emmmm...
Iya, saya juga pernah ngerasain bedanya nulis dr hati sama dr kepala. Waktu saya lg disentil, entah kenapa nulisnya bisa sangat lancar, ngalir begitu aja. Enak. Tapi mbak dee, masalah saya, kalau nulis dari hati, saya akan sangat sangat tidak produktif! Karena sentilan itu datangnya seenaknya, jarang2 pula. Biasanya datang saat saya lagi ngalamin perasaan2 negatif, saat benar2 sendiri dan terisolasi. Mungkin benar ada hubungannya dgn meditasi ya? Soalnya pd saat2 itu saya lbh peka ke dalam diri saya sendiri mungkin? Tp ya itu.. Apa saya harus dikelilingi perasaan2 negatif dulu utk jd kreatif? Apa mbak dee pernah merasa spt itu?
oia, postingan promosi yg menarik,hehe^^
(catatanmimpisaya.wordpress.com)
hi mbak dee,
saya juga mau membangunkan macan tidur di dalam diri saya (baca menggali lagi potensi diri saya) dan terus menulis (pake rumus AJI "tulislah apa anda tahu")
semoga auman saya juga terdengar nantinya.....
doakan,
mirah, bali
mbak,
sebagai blogger pemula,,
(baru aktif sejak September 2008),,
saya ingin tulisan-tulisan saya mendapat komentar, kritik, saran,,
kalau mbak dee nggak keberatan dan ada waktu, kunjungi blog saya yaa,,
saya tunggu kunjungan dan komentarnya,,
pilih artikel yang menarik saja mba,,
^_^
thx,,
Ikut!! Langsung nggak sabaran :)
mbak dewi, mau ikut yaaaaa!! tolong dikabar-kabarin lagi :D
mbak dee, dibikin di daerah juga dong (PAdang)
Benar ya kadang orang untuk memulai menulis saja takut, takut salah atau ditertawakan. Potensi pujangga ada pada setiap orang tinggal membangunkan saja dan diasah untuk mengeluarkan segala ide atau ungkapan pemberontakan terhadap segala situasi yang menghimpit kita.
Klo saya sih masih belajar merangkai kata mungkin butuh kursus. Mbak Dewi kursusnya jangan mahal2 yaaa....takut gak bisa bayar...takut lagi.
Sukses ...
Thanks
To: Shanty
"Bagaimana caranya mengalami pertemuan itu? "
Apakah dengan cara menyatukan hati dan pikiran dalam semesta?
Lalu, bagaimana CARANYA menyatukan hati dan pikiran dalam semesta?
Karena itulah saya membubuhkan kata “Zen” pada workshop ini, karena semua penjelasan atau argumentasi teoritis tidak akan banyak membantu kita untuk mengalami. Hanya dengan berpraktek langsung kita bisa punya kemungkinan untuk mengalami langsung.
To: Rampa Maega
“Mudah-mudahan saja, pesertanya bukan sejumlah pendaftar pertama, yang kemudian hasil tulisannya selama workshop akan dikumpulkan dalam bentuk buku kemudian diterbitkan dan menjadi bestseller di tahun 2009.”
Dalam ZWAMP tidak akan ada tugas akhir berbentuk karya tulis dan sejenisnya. Workshop ini adalah ajang untuk menggali ke dalam. Hasil temuannya akan dikembalikan ke masing-masing peserta. Buku best-seller tidak menjadi tujuan akhir dari workshop ini. Dan seharusnya juga tidak menjadi tujuan akhir dari segala macam bentuk kepenulisan apa pun.
To: AS
“Tapi ada paradoks dalam tulisan Anda, ketika "jalan ini" pun harus didapat dari sebuah workshop. Saya masih beranggapan, workshop hanya sekedar mengarahkan orang pada suatu konsep yang kita anggap fix. Kepala orang disetting untuk (setidak-tidaknya menjadi) seperti apa yang kita pikirkan.”
Pertama-tama, sepanjang posting tsb, saya tidak pernah mengatakan “jalan ini harus didapat dari sebuah workshop”. So, kemungkinan itu asumsi yang dihasilkan oleh filter Anda sendiri dalam mencerap teks yang saya tulis. Namun Anda benar, bahwa workshop hanya sekadar untuk mengarahkan seseorang, bukan penentu hasil akhir. Kunci terakhir akan berada di masing-masing individu, bukan di tangan mentor, dan bukan juga di tangan proses workshop-nya.
Bahkan di posting saya, saya mengatakan: “Sesuatu yang universal dan bisa diakses oleh siapa saja terlepas dari ragam latar belakang dan kepercayaannya.”
Saya mengartikan Zen sebagai pengalaman langsung. Peristiwa "mengalami langsung" adalah universal dan bisa menjadi hak siapa saja. Namun apa manifestasi pengalaman tsb tidak ada yang fix. 100 orang bisa ikut satu workshop meditasi yang sama, dan seratus-seratusnya mengalami fenomena yang sama sekali berbeda. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Setiap orang mengalami sesuai dengan kapasitas dan kesiapannya.
To Andreas:
“Mungkin benar ada hubungannya dgn meditasi ya? Soalnya pd saat2 itu saya lbh peka ke dalam diri saya sendiri mungkin? Tp ya itu.. Apa saya harus dikelilingi perasaan2 negatif dulu utk jd kreatif? Apa mbak dee pernah merasa spt itu?”
Pada akhirnya, meditasi adalah hidup secara eling. Bukan sebatas duduk diam seperti patung. Jadi, menulis pun bisa menjadi kegiatan meditatif. Kenapa perasaan negatif lebih kuat sebagai katalis dalam berkreativitas? Karena kita belajar dari yang pahit. Bukannya yang manis tidak mengandung pelajaran, tapi justru karena rasa manis itulah kita cenderung menghabiskannya dengan “mudah”. Sementara mencerna yang “pahit” jauh lebih sukar dan memunculkan banyak pelajaran2 hidup yang tertunda. Dan dalam proses belajar tsb, terkadang proses cerna kita dimudahkan saat kita menyalurkan kegalauan kita lewat seni.
Thank you untuk semua yang sudah mampir. Keterangan lebih lanjutnya pasti akan saya cantumkan di blog. Ada kemungkinan juga ZWAMP yang angkatan pertama ini akan menjadi hadiah yang diberikan secara gratis, jadi tidak langsung dijual. Baru angkatan2 berikutnya akan ada pricing, dsb. We’ll see how it goes ya…
~ D ~
D,
pengen banget join workshop-nya. masih menerima pendaftar, kah?
thank you
- ena
Waahh.. beberapa waktu lalu saya juga pernah menuliskan tentang membangunkan yang tertidur, tapi bukan macan sih melainkan singa, hahaha :D
http://tottilicious79.multiply.com/journal/item/124
Btw, Dee, seneng dhe baca gaya bercerita kamu, begitu mengalir and ngena di hati yang baca :D
saya hanya suka menulis. Saya menulis ya hanya untuk menulis, tidak ada embel-embel apa-apa. =)
Mohon di info ya mba,,kalau udah ada fix date nya..
Regards,
(ups long time no c)
jadi kebayang bagaimana nanti pelatihannya
Pasti dipenuhi peserta penuh antusias!
Apalagi kalo melibatkan Zen (apanya Lita Zein ya?) dan segala macam konsentrasi dalam menulis, pasti menyertakan 'meditasi' sebagai salah satu prosesi
Lalu terbayang malam yang dingin, ruang yang gelap dan aroma terapi serta kata2 renungan demi menumbuhkan 'naluri artifisial' untuk menuliskan isi hati.
Membangunkan singa yang tidur
umm
Kebayang (lagi) aja, andaikata aku ikut serta berada disana
Dengan tingkat konsentrasiku yang rendah dan daya khayal dibawah rata rata, yang tercipta bukanlah meditasi melainkan perut mulas karena duduk di lantai tanpa alas
tak ayal gas dalam perut mulai berkontraksi meminta dieksekusi
Walhasil tak lama
Ada sebuah bunyi minor tanpa nada dasar, disertai bau menyengat bikin gusar
"Siapa yang berkelakuan bar bar di ruang suci ini?!"
batin semua peserta sambil mata terarah tepat ke muka saya
Dengan segera, tanpa ba bi bu
aku tunjuk jari sambil senyum dan berkata
"ittt'ssss meee!!!!"
tapi
kataku lagi
bukankah gas ini adalah wujud kejujuran diri
yang sering ditutupi demi kehormatan dan status diri
bukankah gas ini mewakili kejujuran yang sering dinafikkan atas nama kohormatan dan kesopanan
Maka pelajaran pertama dalam menulis adalah :
KEJUJURAN!
Itulah pelajaran dari meditasi kali ini,
lebih dari sekedar duduk-duduk kedinginan mencoba konsentrasi sembari menahan kantuk tanpa kopi
Kataku sambil berdiri
Plak
plak
plak
(bukan suara tepuk tangan, tapi suara tamparan tangan semua peserta di pipi kanan pipi kiri)
menulis itu banyak dimensi
salah satunya adalah
'membercandai diri'
No need to b (always) serious dee
ga harus selalu 'nyastra' untuk dibilang penulis bagus
sukses untuk zwamp nya
(ummm....jadi inget serial tivi dulu yang judulnya 'zwamp thing'
hihi)
GO GREEN!
aku ikutan ya mba
Pertama, saya sebenarnya lebih sering nggak serius ketimbang serius. Kedua, tidak pernah ada pernyataan saya yang mengatakan bahwa "harus selalu 'nyastra' untuk dibilang penulis bagus". So, you also need to lighten up yourself (and perhaps read more carefully?) :)
Bagi yang menanyakan pendaftaran, saya belum membuka pendaftaran apa pun untuk ZWAMP. Jadi, proses ini masih dalam penggodokan. Tunggu tanggal mainnya saja, but I'll make sure the first announcement will be done in this blog.
~ D ~
OPPSS!!
I did it again
Tidak cuma membangunkan macan yg tidur,tapi sekaligus membuatnya marah
Domo Sumimatsen!
Pertama
Maybe perhaps probably could be
Mungkin kamu memang lebih sering ga serius daripada serius.
Tapi paling tidak di blog ini -yg sebenarnya bisa jadi tempat yg lebih ‘bebas’ menulis sesuka hati karena tidak ada tuntutan alur cerita dan gramatika seperti dalam menulis buku- tnyata kamu cenderung serius malah terkesan kaku
(sorry, setidaknya itu yg aku baca sekilas dari beberapa isian di blogmu ini.
Kecuali justru tanggapanmu ttg komentar2 di internet yang berkata miring ttg perceraianmu dulu, malah membuatku terkesan.
Lepas dari substansinya, tapi disitu seperti ada kemarahan yang selama ini kau pendam yang akhirnya diungkapkan dalam tulisan. Nice!)
Padahal aku tau, kau punya potensi menggelitik pikiran orang dengan cara yang juga menggelitik
(bukan sok tau, tapi aku menangkap itu di buku supernova terakhirmu, petir, yang dari sisi cerita memang terkesan mulur dan monoton, tapi aku suka gaya penulisannya yang cenderung lugas dan ‘enak’ dibaca.)
i.e.
dari blog ini aku sedikit berkesimpulan ada 2 hal yg u concerned yi :
global warming dan ‘tips’ penulisan
(assumption : divorce is OOT),
tapi dari bbrp tulisanmu tentang itu semuanya masih kaku dan lurus
Makanya sampe beberapa kali aku mencoba ‘menggelitik’ dengan komen panjang yang terkesan norak dan informal, tapi ternyata u masi bisa menjawab dg formal. Salut!
Padahal aku pikir dg bahasa yang lugas dan 'fun' mungkin justru substansi yang ingin kau sampaikan dapat dicerna dg lebih gampang...
Mungkin lho yes!
Ah yauda
Sorry, ga maksud mencampuri 'gaya penulisanmu' apalagi sok tau.
Cuma jujur aja aku cuma pengen membaca tulisanmu yg lebih segar dan menampar di blog ini.
atau kalo mungkin di bukumu nanti.
Kedua
Masalah ga harus ‘nyastra’, ada tiga hal yaitu
Dua titik Satu
Sorry
Dua titik dua
Itu sebnarnya cuma ‘statement’ bukan tuduhan.
Karena aku juga ga mengerahkan kata2 itu ke tulisanmu.
Cuma statement lamaku yi :
Kalo bisa jadi koka kola
Kenapa harus jadi vodka
Kalo bisa dinikmati siapa saja kapan saja dimana saja
Kenapa harus membuat pusing kepala
Ga tau,
entah mungkin karena aku yg ga paham sastra atau mimimnya daya imajinasi di kepala.
Tapi seringkali karya sastra hanya membuatku mengernyitkan dahi, terperangkap di rimba kata-kata, sampai lupa pada inti cerita.
Dua titik tiga
Iya u benar
I need to lighten up myself
Duuuh, thanx for a such attention u gave 2 me.
Memang akhir2 ini aku mulai kegemukan, jadi mungkin sudah saatnya bagiku untuk lighten (baca : meringankan red.) badanku
(tapi bagaimana u tau kalo aku mulai kegemukan ya
*garuk-garuk kepala*)
Aahhh! Kamu pasti ikutan ‘ketik reg spasi ramal’ ya, jadi bisa ngeramal kondisi orang hanya dengan id-nya saja.
Waaah ga ngira, dee superstitious juga!
(dee baca sambil garuk-garuk aspal)
Udah ah, kebanyakan nulis bisa2 nambah dosa
Sukses untuk Zwamp nyah!
Jadi inget serial tivi dulu yang judulnya zwamp thing…
(aaih, kok kayak déjà vu ya nulis kata2 ini…
berasa pernah nulis, tapi kaappaan?? Dimaannaa??)
*short memory deleted*
Wah jadi kepengen ikutan kapan dimulainya hehehehehe
Saya menulis hanya ingin menulis.... Saya sadar kalo saya pribadi yang tertutup, walaupun orang melihat saya sebagai kepribadian yang sebaliknya tapi sebenarnya tidak.
Klo menulis diary apakah itu termasuk ???
Menulis buat saya sebagai salah satu pelarian dimana ada kalanya saya tidak bisa diam saja dan mengamati tapi saya ingin memberikan pendapat tapi pendapat itu sendiri tidak bisa langsung begitu saja keluar karena tidak semua orang bisa mengerti.
Dengan menulis saya merasa bisa mengeluarkan semua yang saya ingin keluarkan tanpa khawatir judgement dari orang lain yang kadang selalu merasa bahwa mereka tau segalanya..
Ditunggu workshopnya heheheh :D
IKUTAN!! hehe..
Dee yang baik,
saya takjub sekali dengan semua yang kamu tulis di sini. Kamu memang "manusia cerdas", saya setuju bahwa menulis adalah membebaskan, bukan sekedar mencari popularitas dan kemewahan semata. setidaknya bagi saya, menulis merupakan upaya penyembuhan bagi diri saya yang "SAKIT".
saya tertarik dengan ide Zen yang terdapat di dalamnya. ditunggu info selanjutnya
salam hangat dari solo,
maya
Kadang-kadang kekuatan tulisan yang baik bisa sangat menakjubkan. Saya juga setuju bahwa menulis bisa menjadi pembebasan, istilah yang dipake Mas Remy Sylado adalah "mengalirkan frustasi" hehe...
Kebiasaan mengamati hal-hal remeh itu mungkin juga bagian dari meditasi ya, atau justru bagian dari berpikir?
Saya pernah ikut kelas meditasi juga, bagian yang paling aneh dan sulit menurut saya adalah bahwa kita "dilarang berpikir". Lalu bagaimana kaitan Meditasi dengan Menulis? Saya menunggu kabar selanjutnya. Salam.
Saya tertarik dengan kata-kata "kita harus bisa bedakan mana yang esensi, mana yang aksesories" bener....kebanyakan tulisan mengedepankan aksesories, esensi hilang, kita dibuat kagum dengan ekspresi, tapi ga dapet esensinya.Yang membuat jiwa dan pikrian kita berotot adalah esensi, ekspresi dan aksesories adalah bumbu supaya kita mau makan, tetapi hanya bumbu tidak bikin kita kuat, hanya gemuk tok. Kita antikan buku dan tulisan2 yang membuat bangsa ini berotot (jiwa dan pikiranya)
Mba Dewi, salam kenal! nama saya Diah dan terkadang dipanggil Dee juga (he..he..) saya ingin sekali ikut ZWAMP, saya juga seringkali merasakan sensasi menahan ledakan ide, sayangnya sampai sekarang saya belum bisa "meledakkannya". Tulisan saya masih terasa datar dan kurang mencerminkan apa yang sebenarnya saya rasakan. Tolong kabari saya kapan dan dimana pelatihannya ya... Terimakasih banyak atas perhatian dan kesediannya.
Post a Comment