Hail, All Ye Writers!
Februari 2001. Percetakan Dian Rakyat. Napas saya tertahan. Mata mengerjap takjub. Benda itu merembeskan hangatnya ke telapak tangan saya. Rasanya bagai menarik keluar seloyang bolu dari oven, mengepul dan harum. Kue Valentine terindah yang pernah saya lihat. Biru, berbinar seperti batu safir, dan ada segaris nama saya tercantum di sana, tercetak dengan warna putih. Pikiran saya seketika bergeliat dan menggali setumpuk kenangan masa kecil, merunut remah-remah roti yang menjadi penunjuk setapak menuju momen Valentine di percetakan besar di Pulogadung itu:
Umur 9 tahun, menulis di buku tulis bersampul foto artis Dian Pisesha dengan pulpen merk Le Pen bertinta biru, cerita berjudul “Rumahku Indah Sekali”, sedari kecil saya memang tidak peduli dengan tulisan pendek, atau artikel jurnalistik, saya cuma ingin menulis buku… lalu, setumpuk jurnal yang saya tulis sejak kelas 1 SMP dalam beraneka bentuk agenda dan kini saya simpan rapi dalam peti berwarna perak, agar kalau rumah saya kebakaran tidak perlu repot lagi geledah sana-sini, saya tinggal melempar peti itu keluar jendela demi menyelamatkan log perjalanan seorang pelayar kehidupan bernama Dewi Lestari… lalu, laptop pertama saya, merk Digital, tahun 1996, perkakas andal yang amat saya banggakan, yang sering membuat orang melirik iri karena waktu itu belum banyak orang ber-laptop, apalagi cewek belasan tahun yang tidak kelihatan seperti eksekutif atau dosen, bersamanya saya melahirkan “Filosofi Kopi”, “Perahu Kertas”, dan masih banyak lagi cerita pendek-panjang, tamat-gantung… semangat itu tidak pernah mati sekalipun tulisan saya lebih banyak dibaca diri sendiri atau oleh segelintir penghuni rumah Patrakomala 57 beserta anak-anak kosnya… dan akhirnya, pada hari cinta tahun 2001, saya rampungkan setapak itu. Berujung pada sebuah kitab biru berjudul “Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh” (KPBJ).
Datang dari dunia hiburan di mana promosi agresif dan persuasif menjadi sebuah kelaziman, tanpa banyak berpikir saya langsung menyusun rangkaian aktivitas untuk mempromosikan buku saya. Dari mulai launching, promo radio, bedah buku, booksigning, dsb. Tanpa bermaksud narsis, memang tidak berlebihan kalau Taufik Ismail berkata bahwa Supernova membawa kesegaran baru pada dunia sastra Indonesia. Bukan cuma masalah kontennya. Jika saya kilas balik ke belakang, salah satu kontribusi terbesar Supernova adalah perubahan paradigma pemasaran buku Indonesia yang dipicunya saat itu.
Dulu, promosi buku tidak jauh-jauh dari mencetak poster atau resensi di majalah. Talkshow, booksigning, dan launching, merupakan peristiwa langka yang hanya dicicip segelintir penulis beruntung. Baru setelah Supernovalah industri perbukuan bergerak ke arah marketing yang lebih ekspansif. Menjemput pembaca ketimbang menunggu pembaca yang datang ke rak buku. Promosi buku kini menjadi perihal yang wajib ditagih penulis pada penerbitnya.
Dulu, semua orang bilang saya gila ketika tahu saya mencetak 7000 buku sekaligus. Sebetulnya, saya bukan gila, melainkan polos dan goblok. Saya tidak tahu apa-apa soal pakem perbukuan, bahwa yang namanya best-seller saat itu adalah laku 3000 eksemplar dalam satu tahun, sehingga mencetak 7000 buku untuk cetakan pertama bisa dibilang perbuatan bunuh diri atau malah ultra PD. Sekarang buku saya dicetak dalam satuan 10.000 eksemplar. Paling ekstrem bahkan pernah diterobos oleh “Supernova: Akar”, yakni dicetak 40.000 buku sekaligus.
Boleh dibilang saya memang nekat karena berani menguras semua tabungan pribadi saya untuk memproduksi Supernova KPBJ pertama kali, tapi saya tidak menganggap itu gila. Bagi saya, itu justru harga yang teramat murah untuk terwujudnya sebuah mimpi. 16 tahun saya menanti. Saya merasa berutang pada Dewi Lestari umur 9 tahun. Saya ingin buku tulisnya bermetamorfosa menjadi sebuah buku betulan. Dari tulis tangan tinta biru menjadi buku cetak bersampul biru. Dari sampul foto artis ’80-an pelantun lagu-lagu sendu menjadi foto dirinya sendiri yang tercetak mungil di sampul belakang. Saya tidak peduli uang saya kembali atau tidak. Saya bahkan tidak peduli ada orang yang baca Supernova atau tidak. Saya melakukan itu semua untuk diri saya, untuk si Dewi kecil.
Rangkaian aktivitas Supernova KPBJ lantas bergulir seperti bola salju yang makin besar. Saya bahkan tidak pernah merancang apa-apa lagi, tinggal mengatakan ‘ya’ pada semua pihak yang menawarkan untuk berpromo, dari mulai toko buku, radio, kampus, sampai mall. Seorang sahabat bahkan pernah membuatkan roadshow tiga hari di Yogya, lengkap dengan kru teve, tanpa saya mengeluarkan biaya sepeser pun. Sekurang-kurangnya saya bedah buku 40 kali dalam tiga bulan, belum ditambah interview media, dsb. Seumur hidup, belum pernah saya harus menghadapi publik dan media seintens itu. Sesering itu. Sampai pada satu titik… saya muak.
Satu hari, seusai bedah buku di Gramedia di kota Yogya, saya lari ke ruang karyawan, mengunci diri, hanya untuk menangis sejadi-jadinya. Mengulang-ulang hal serupa, mendengar pertanyaan yang itu-itu lagi, membuat saya merasa seperti kaset soak. Ingin bungkam. Ingin masuk gua dan kembali hibernasi. Promosi Supernova KPBJ memakan waktu saya selama 1,5 tahun. Saya nyaris tidak punya kesempatan untuk menulis episode berikutnya. Energi saya terkuras habis. Semangat saya meredup. Saya cinta berkarya tapi mempromosikan karya ternyata adalah hal yang sama sekali berbeda.
Namun setiap karya membawa pengalaman dan pelajaran yang selalu unik dan berbeda. Tujuh tahun sejak penerbitan Supernova, sudah enam judul buku yang saya rilis. Angka yang cukup bagus dan terbilang produktif. Masa-masa sukar dalam setiap proses kreatif maupun fase pemasaran berhasil saya lalui dan semua itu terus memperdalam pemahaman saya akan menulis, industri perbukuan, dan juga akan diri saya sendiri.
Saya ingin berbagi sesuatu dengan Anda semua, penulis atau bukan, sekelumit perenungan dari perjalanan saya menjadi seorang penulis:
Pertama, menulis adalah hal yang sangat mendasar, sama seperti berbicara. Ini adalah keistimewaan manusia yang tidak dimiliki spesies lain. Jangan pernah tenggelam dalam asumsi bahwa hanya mereka yang berbakatlah yang bisa jadi penulis. Selama Anda berteguh hati untuk menggali ke dalam diri, niscaya Anda akan menemukan sebuah “sumber air abadi”. Semacam sungai bawah tanah yang selamanya mengalir dan berair. Inilah tempat para pujangga mereguk inspirasi untuk kemudian dibawa kembali ke permukaan dalam kemasan berlabelkan nama mereka. Namun, di sumbernya, air itu tidak bernama dan bisa dimiliki siapa saja.
Ketika hadir fase yang disebut-sebut “nggak ada inspirasi”, atau “habis ide”, sesungguhnya bukan inspirasi atau ide yang tahu-tahu minggat dan menguap. Sumber air itu tidak pernah kering. Pipa kitalah yang seret, kotor, atau tersumbat. Inspirasi mengaliri Anda saat saluran Anda memang sudah disiapkan dan dijernihkan. Ia tidak ke mana-mana. Tinggal menunggu Anda menangkap dan mendengar saja.
Kedua, “Menulis” dan “Penulis” adalah dua hal yang sangat berbeda. Jangan sampai terkecoh, karena dalam perjalanannya kelak, keduanya bisa tertukar atau terselamur. Menulis adalah aktivitas yang hidup; kendaraan Anda untuk menggali dan menemukan sumber ilham di bawah sana. Penulis adalah titel yang disandangkan orang lain bagi Anda. Semacam trofi yang dihadiahkan publik atas penggalian Anda ke dalam. Namun trofi itu hanyalah pajangan mati, dan ilusi yang dihadirkannya berkekuatan luar biasa dan dapat membius Anda. Menyelimuti Anda dengan kabut yang pada akhirnya mengecoh semua, termasuk diri Anda sendiri. Seseorang bisa disebut Penulis meskipun ia berhenti menggali. Dan seseorang yang selalu menggali belum tentu punya predikat Penulis.
Untuk tetap menulis, terkadang kita harus berani mengorbankan predikat kepenulisan kita. Meninggalkan permukaan, benderangnya lampu sorot dan elu-eluan massa, kembali menyelam, melebur dalam kegelapan gua, kembali bertarung dengan halaman kosong tanpa peduli apa yang terjadi di atas sana. Hanya dengan menulis Anda bisa kembali mereguk air itu. Sebaliknya, titel penulis mengeringkan kerongkongan dan berisiko membuat Anda mati kehausan. Jadi, jangan salah membedakan mana menulis dan mana “kabut”-nya.
Terakhir, dan terpenting. Sampai Anda merasakan sendiri, jangan percaya kata-kata saya ini: menulis adalah meditasi. Dalam satu percakapan, Reza pernah berkata: jika membaca adalah proses untuk mencari kebenaran, maka menulis adalah proses di mana kita menemukan kebenaran kita sendiri. Saya amat sepakat. Bukan karena kalimatnya indah, tapi karena sungguh-sungguh saya alami. Otentisitas hanya lahir jika Anda mau bertarung dengan diri sendiri. Bukan dengan sekadar berlindung di balik tameng kebenaran warisan, kata orang, atau segunung kitab. Jika religi dimaknai sebagai sesuatu yang hidup, empiris, otentik, dan bukan sebaris huruf di KTP, then writing IS (one of) my religion(s).
Hingga sekarang, saya masih terus belajar, menggali, bergelut dan bergulat. Khususnya pada masa saya aktif memasarkan buku, pada saat itulah kabut kepenulisan terasa sangat menyesakkan. Dan ironisnya, pada saat itu jugalah paling sering terjadi kesalahpahaman antara saya dengan orang-orang di sekitar saya. Inilah masa yang paling penuh cobaan dari berkarya. Ketika saya tak lagi berduaan dengan karya saya layaknya pasangan dimabuk cinta yang merasa dunia cuma milik berdua. Begitu karya dilahirkan ke dunia materi, dibungkus dalam kemasan, yang terjadi adalah hubungan ramai-ramai. Ribut dan pengap. Tarik-tarikan kepentingan.
Sungguh sukar untuk membahasakan apa yang terjadi dalam diri saya tanpa digeneralisasi secara terburu-buru sebagai ‘rumit’, ‘tidak kooperatif’, ‘terlalu seniman’, ‘tidak jelas’, ‘suka ngilang’, ‘susah dihubungi’, dsb. Sungguh sukar untuk berjalan seimbang di atas tali tipis dengan dua lusin bola yang harus terus berputar di udara. Dan lebih sukar lagi untuk tiba pada pemahaman ini dan menerimanya dengan ikhlas. Menulis dan menjadi penulis; berkarya seni dan menjadi seniman, pada akhirnya adalah paduan magis antara surga dan neraka yang di dalamnya kita bertumbuh kembang untuk menjadi bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Kedua gerbang itu harus dilalui untuk akhirnya bebas dari jerat keduanya.
Teman-teman semua, hanya itulah yang patut diingat dari perjalanan saya berkarya. Sungguh.
Semoga Anda bisa memetik manfaat dari tiga renungan sederhana ini. Penulis atau bukan. Seniman atau tidak. Pada dasarnya, kita semua sama sekaligus berbeda. Kedua gerbang yang harus diterabas batasnya agar jiwa kita bebas seutuhnya.






56 komentar:
terharu.. makasih atas posting renungannya mbak Dee. sukses selalu yaa :)
mbak dee, you're just simply inspiring. bagi saya, menulis itu merupakan perjalanan mencari. hidup kita ini ditakdirkan seperti potongan-potongan puzzle yang tercecer entah kemana. menulis adalah salah satu jurus paling jitu untuk mencari keping-keping itu dan menyusunnya, membentuk sesuatu yang utuh. yang menarik, bagi saya puzzle ini akan bertambah besar dan besar, tanpa akhir. kecuali jika kematian yang harus menjemput.
love your writings!
http://simplyiyo.com
kak Dee, terima kasih untuk posting renungannya. inspiratif sekali khususnya bagi saya pribadi yang sedang terus belajar menulis :)
Terima kasih sudah berbagi, Mbak. Dan terima kasih atas pemahaman baru yang mencerahkan. No, it's not about writing, it's about something else. :-) Tentang berjalan di atas tali tipis... satu harapan saya, mudah-mudahan saya bisa membantu menyeimbangkan langkah itu, dan mampu turut menjaga agar bola-bola itu dapat terus berputar sebagaimana mestinya, meski apa yang saya lakukan sejauh ini terbilang kecil artinya bila dibandingkan dengan segala akrobat ajaib yang sedang berlangsung. Sebuah kehormatan bisa berada dalam gelanggang itu bersamamu, Mbak. :-)
dan entah kenapa semakin tenarnya anda, semakin seringnya anda dibahas di media, semakin banyak orang yang mengelukan filosofi hidup anda, semakin pula aku merasa perlu mengernyitkan dahi sambil berkata :
hmm... is that u?
ada sedikit beda antara penulis dan pembaca
Penulis tak perlu pembaca untuk (tetap) menjadi penulis (seperti anda bilang 'tak peduli ada yg baca karya anda atau tidak')
Sedangkan pembaca tetap membutuhkan penulis untuk layak disebut pembaca (tentu 'pembaca pikiran orang' dikeluarkan dari kategori ini)
artinya, penulislah yg pegang kendali.
You r the (wo)man behind d gun
(mungkin (andai respon ini u baca) kamu berpikir, apa korelasi pembaca dan penulis dg entry blogmu?
hanya sekedar cuma just only renungan sederhana,
Pernahkah sebuah seorang penembak mempromosikan kemana peluru itu akan diarahkan?
Senjata hanya perlu dibidik, lalu biarkan peluru menghambur tepat sasaran(atau tidak tepat sasaran)
did u get it?)
ah, tapi kenapa masih saja aku selalu mengunjungi blogmu ya?
Sedangkan gema dari gua ini yang dulu aku harap memberi refleksi pada diri, tak lagi mempunyai ritme suara yang senada.
yauda,
maybe its my last comment
(u said : sigh... finally)
Karena aku tau juga 'laskar dee' akan siap membelamu jika aku berkata sedikit 'miring' disini.
So i'd kept my mouth shout
Sukses untuk road show dan segala macam promosi serta buku2mu
Sukses juga untuk pernikahanmu
(sesuatu yg ingin aku tulis panjang lebar tapi akhirnya hanya mentok pada kata : hhh...)
Sayang aku tak pernah ada di 'road show'mu.
Mungkin andaisaja saya ikut bertanya di promosi bukumu, kamu tak perlu lagi menangis dan masuk kamar mandi demi mendengar pertanyaan serupa dan itu2 saja, melainkan akan marah2 sambil banting pintu seraya berkata
"kenapa di dunia ini diciptakan orang ga penting yang nanya seperti itu?"
whhooooossshhaaaaaahhhh!!
(terapi penenangan diri sambil memilin daun telinga kanan dan kiri)
Sholat subuh yuukk...
6 ya mba ??
KPBJ, Akar, Petir, Filosofi Kopi, Rectoverso .. satu lagi apa ya ???
Berarti saya kurang satu nih ...
sukses mba ...
saya penggemar buku2 dan lagu2 anda..
kelanjutan supernova ny gimana ya ?
hmm...jd bikin sy dejavu!!!terutama sm buku KPBJ. buku ini yg membuat sy akhirnya sangat menyukai aktivitas membaca. buku yg udah bikin sy jd haus untuk semakin banyak membaca... thanks to Dee!!!
every writer has his/her own story, their own journey to make..
i like yours..^^
Mba' dewi sudah bertarung keras dengan kejujuran, teruslah "berproses" Mba'agar kami dapat lebih melihat kilau "jiwa yang bebas" dalam diri Dewi Lestari yang utuh.
To Iyo: I love your writings as well (I've visited your blog). Terus menulis ya!
To Ronitoxid: Si penulis terus berubah, si pembaca pun terus berubah. Nothing will ever stay the same. Siapa yang sebenarnya berubah di sini, pembaca atau penulis, tidaklah penting. Menurut saya metafora-mu tentang penembak perlu diperjelas. Promosi adalah variabel pendukung arah bidikan. Dan semua promosi bertujuan agar peluru tepat sasaran. Bahwa akhirnya tepat atau tidak menurut saya barulah itu faktor yang lain lagi ("Men plan God laughs").
Untuk Poedja, 6 judul buku: KPBJ, Akar, Petir, Filosofi Kopi, PERAHU KERTAS, dan Rectoverso. Tapi Perahu Kertas memang baru dilansir versi digitalnya saja.
Thank you all... :)
ah ya
akhirnya ditanggapi
ya semua berubah
sasaran perlu berubah
cara membidik perlu berubah
bahkan pelurupun perlu berubah
sampai akhirnya berdampak pada sang penembak yang juga 'perlu'berubah
disadari atau tidak
diinginkan atau tidak
Honestly aku cuma ingin sdikit kritis dg pemikiranmu selama ini.
Dengan indahnya logika yang dipuji banyak insan di dunia.
Sekedar memberi antitesis pada komentar2 yang selama ini cenderung menyanjungmu.
Menempatkanmu pada posisi tertinggi dengan predikat 'guru'
Termasuk bagaimana industri 'bersemangat' memasukkanmu sebagai bagian dari mesin promosi mereka
entah kamu suka atau tidak
Tapi mungkin sudut pandang kita beda
Kamu adalah 'positivity'
Aku mungkin lebih memahami kenapa Cobain memutuskan bunuh diri justru ketika dia berada pada puncak ketenaran, dielu2kan banyak orang, namun pada saat yg sama dia tidak bisa lagi 'menikmati' proses membuat musiknya sendiri.
Atau Hemingway yg memutuskan bunuh diri karena hancurnya daya ingat yang juga sekaligus 'mesin bisnisnya'
Seperti lagu Buggles
"Video Killed the Radio star..."
IYA
everybody changing!
tapi bagiku harus ada yang tetap tak berubah dalam inti setiap manusia
Sebagai tumpuan semua perubahan
Aku percaya dalam sebuah bulatan yang berputar, ada suatu titik (entah nyata atau imajiner -seperti angka 0 )yang berada tepat ditengah2 bulatan dan memutuskan untuk diam sebagai tumpuan semua putaran.
Karena tanpa dia sebuah perubahan takkan terjadi...
Semoga kata2 "everybody's changing" bukan sekedar pemeo yang kita agung2kan tanpa kita tahu (baca : sadar)apa perubahan itu sendiri.
Karena dalam banyak hal aku lebih memilih untuk tidak merasakan itu.
"So little time
Try to understand that I'm
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody's changing and I don't feel the same"
(everybody's changing - Keane)
terima kasi tanggapannya
its time to go now
-end of rntxd-
"Kamu adalah 'positivity'"
Ketertarikan saya pada positivity sama kuatnya dengan ketertarikan saya pada negativity. Dan pada saat yang sama, saya tidak tertarik pada kedua-duanya. Negatif atau positif seringnya cuma merupakan judgement. Hasil proyeksi pikiran kita belaka.
Yang tampak diam pun tidak berarti imun dari perubahan. Tumpuan perubahan, menurut saya, adalah perubahan itu sendiri. Karena dalam perubahan belum tentu ada sebuah "inti" yang diam dan statis. Sama halnya dengan upaya membedah atom hingga inti atom, dan pada akhirnya ternyata yang dianggap inti itu masih bisa dibelah lagi dan ditemukan "inti"-"inti" yang baru. Mencari yang diam barangkali sama seperti kucing mengejar ekor sendiri.
Tapi barangkali juga kita ternyata membicarakan hal yang berbeda dengan bungkus kata2 serupa.
~ D ~
ada 3
SATU
nha
ini yg akhirnya aku tunggu darimu
"Negatif atau positif seringnya cuma merupakan judgement. Hasil proyeksi pikiran kita belaka."
Pikiran, logika, atau nalar adalah 2 sisi mata uang
Sesuatu yang berkebalikan tapi terjebak dalam objek yang sama.
Maka dalam konsepnya tak ada lagi benar salah, negatif positif, semua semudah menyentil salah satu ujung koin hingga berputarlah kedua sisinya
Salah (bisa) jadi benar
Benar (bisa) jadi salah
Tergantung dari logika mana kita melihatnya
HANAMUN...
apabila keterbatasan logika itu dipakai (baca: dipaksakan) menguraikan sesuatu Sang 'Maha' diatas segalanya, beserta firman suciNya, yang terjadi adalah : overloaded lalu hang.
Ibarat komputer generasi tabung hampa dipaksa menjalankan program 3D Max generasi 9.0
Sorry dee, no offense
Tapi itu yg tersirat ketika aku bbrp kali membaca tulisanmu ttg 'kebenaran' terutama masalah Tuhan, termasuk bagaimana dulu kamu memandang sebuah perceraian dan pernikahan
Ah terlalu panjang untuk diceritakan
Aku takut aku terjebak pada penyakit Sok Tau Syndrome Akut stadium 5
Mungkin aku salah
dan memang aku harap aku salah
Karena logika itu candu
tidak cuma bagi diri sendiri tapi juga bagi orang disekitar kita
Dan kadang kita tanpa sadar telah menjadi addicted untuk me'logika'kan semua yg ada
Tuhan dan prinsip kebenaran agama (sebagai reliji bukan spiritualisme) dalam banyak hal memang memerlukan logika dalam pemahaman
Tapi adakala keimanan butuh keyakinan mutlak tanpa perlu penjelasan.
Itu knp ada batas dimana logika tidak diperkenankan disana
Ada batas dimana positif dan negatif nyata adanya
Ada batas benar dan salah adalah 2 hal yang tak bisa dianggap sama
relatifitas tak akan bisa menjelaskan absolutisme
DUA
tentang perubahan
Satu titik yang aku bilang imajiner adalah keniscayaan.
Mungkin kau lebih tau ttg fisika, bahwa suatu gaya yang melemparkan sebuah benda tinggi menuju angkasa sekalipun butuh benda diam sebagai pijakan
Aku percaya sebuah perubahan, sebuah perputaran memerlukan satu titik imajiner yang statis dan diam
Termasuk aku percaya pada satu saat atom, inti atim, intinya inti atom dst akan berakhir pada satu titik dimana dia ada tapi tak terdifinisikan dan tak bisa dibagi lagi.
Masif
Masalahnya bukan pada eksistensinya, melainkan karena hal itu belum ditemukan dan diberi nama.
TIGA
Mungkin benar barangkali juga kita ternyata membicarakan hal yang berbeda dengan bungkus kata2 serupa.
Atau hal yang sama dengan kata2 yang berbeda
karena kadang kita rancu membedakan kebenaran seberat apapun kita telah berusaha untuk mencobanya
Mungkin karena kita tak lagi se-innocent Adia
Adia I do believe I've failed you
Adia I know I've let you down
Don't you know I tried so hard
To love you in my way?
It's easy....let it go...
Adia, I'm empty since you left me
I try to find a way to carry on
I search myself and everyone
To see where we went wrong
There's no one left to finger
There's no one left to blame
There's no one left to talk to, honey
And there ain't no one to buy our innocence
'Cause we are born innocent
Believe me Adia
We are still innocent
It's easy, we all falter
Does it matter?
(Adia- Sarah McLachlan)
-rntxd signed out-
supernova KPBJ adalah best novel for me...thats all....bravo dee......
mbak dee, aq lom baca cm aq save dulu... tar ta baca d kosan... hee... but thank's atas semua karya mbak yg slalu menginspirasi buat aq...
dilansir itu maksudnya gimana ya ???
bisa di dapatkan dimana ya mba ??
penasaran ..
The third time as I concern, mbak rewind tentang kelahiran Supernova yang bikin label penulis jadi label tambahan selain penyanyi. And it seems started a bad post day..(sok tauk banget nih yang nulis comment)
But, is it that heavy??
Congrats for the marriage btw. Just take a leave, more honeymoon. Rectoverso will still be best seller, anyway :-)
OK,I won't ask about Supernova sequel again lah, let 2012 prophecy come ;-(
dee,
kapan PK versi cetak direlease??
Need it so much..
aku mengagumi karya-karya mbak Dee. aku baca lagi berkali-kali, aku terinspirasi lagi berkali-kali. thanks mbak.
oh, and about writing.. aku lagi berjibaku nih. sama mandeknya ide, sama rasa males, sama godaan buat malah surfing net, sama rasa gak percaya diri, dst. hehe.
doakan mbak. tolong kirimkan energi dan semangat mbak Dee via speedy. hehehe.
Hi, miss Dee :)
I love love love ur song "Malaikat Juga Tahu" and I use it as my blog's backsound...
I love ur writing, I support ur personal life :)
You Go, Darl!!
kiss <333,
Mira Maulia
blog.miramaulia.com
Sepertinya Mbak Dee sudah menjadi seorang putri dari kerajaan langit, dan banyak sekali ksatria yang tengah belajar terbang hanya untuk dapat bertemu dengan sang putri...
Hmmmm, saya jadi penasaran, adakah ksatria yang berhasil bertemu dengan putri? Ataukah jangan-jangan tidak ada ksatria yang berhasil karena selalu tertipu oleh si bintang jatuh?
Wow, ataukah si bintang jatuh itu adalah Mbak Dee, yang selalu mengajak ksatria menemui sang putri, tetapi ketika ksatria merasakan kehadiran sang putri, si bintang jatuh menghilang dan membiarkan ksatria jatuh dan menjelma menjadi aurora?
Who Are You?
Cuma ingin Anda tahu bahwa "Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh" adalah salah satu buku paling menarik yang pernah saya baca. Really!
dee i really want to know about story of punggung ayam . critakan di blog dnk !!!!
I just can say...yes I love writting, coz it's part of my self...Thanks mabk Dee, for sharing your thinking and being my inspiration ^_^
Saya juga berharap tidak keduluan oleh kiamat untuk menyelesaikan serial Supernova.
I guess, this whole series of contemplation is like my inner calling (and rambling) to get back to writing. Back in the creativity cave.
There are still things to be done, of course. Perahu Kertas dengan sangat menyesal memang harus tertunda karena waktu rilis yang terlalu dekat dengan Rectoverso. Efeknya malah bisa 'kanibal'. But rest assured it will be published, bahkan persiapan cetaknya sudah dimulai.
Kisah Punggung Ayam? Hmmm... ada di Rectoverso. Hehe :)
~ D ~
hanya ingin berbagi, saya menulis juga dari angka 10th banyaknya umur, tp kyknya sudah tercecer ga tau kemana. bukan cerpen, bukan fiksi,bukan juga diary. cuma ungkapan rasa, oblong-oblong, saya menyebutnya. saya ga peduli bhs indonesia yng baku,baik dan benar. perbendaharaan juga sangat terbatas, hanya kata sehari-hari dengan kemasan sedehana, smp sekarang. tapi intinya rasa hati dan buah pikiran yg keluar. ttg kebenaran diri..saya setuju. cuma itu, sesimple itu. menulis memang mengasikan. :)
btw mba dewi..aku suka semua supernova mu..my fave adalah akar..like i said before.
dan rico..de coro di filosofi kopi? aku suka juga itu, dan spasi dan lilin merah.. :) good!
hmm
ga sengaja baca lagi reply2ku
baru nyadar aku kayak alien disini
baru nyadar replyku begitu tak senada dengan semua
mungkin ada baiknya dihapus saja.
walopun aku percaya orang menunjukkan rasa 'peduli' dalam berbagai macam cara
ada yang menyanjung puji mengangkat sampai tinggi
ada yang kritis lagi sinis sekedar mengikat kakinya agar tak lepas landas meninggalkan bumi
Tapi tak semua orang berpendapat sama dng hal ini
Maka dengan segala hormat, dihapus saja reply2ku
Dan andaikata nanti2 saya masih saja tergoda melihat blogmu lagi, akan kukendalikan diri untuk tak mereply lagi
andai masih saja gatal tangan ini menulis disini, santai saja masih ada kalpanax dua biji di dalam laci...
*rnxd deleted*
Hallo Mbak,
Wow! Artikel yang bikin saya tahu bahwa seorang Dewi Lestari juga deg-degan waktu lihat buku pertamanya. Hehe
Menulis bagi saya adalah tanggung jawab sejarah, kesadaran sejarah. Dulu waktu sering kabur dari kelas dan bersembunyi di perpustakaan, saya selalu berpikir dan bertanya: kenapa saya lebih mengenal siapa Tagore, Einstein, Neruda, Pramoedya, atau Amir Hamzah yang bukan siapa-siapa saya daripada kakek saya sendiri yang jelas-jelas mewariskan gen kehidupan buat saya?
Ternyata jawabannya sepele: mereka semua menulis sementara kakek saya tidak sempat meninggalkan selembar tulisan pun buat saya. Saya tahu apa yang dipikirkan Soekarno muda, tapi saya tidak tahu apa yang dipikirkan kakek saya ketika dia berusia 28 tahun. Saya juga tak sempat mengobrol banyak dengannya, dan bukankah usia tidak pernah bisa menjamin kita untuk mengobrol banyak dengan siapa saja?
“Dendam” itulah yang membuat saya memutuskan untuk terus menulis. Menuliskan apa saja. Tersebab sebuah alasan: saya tidak mau cucu saya kelak lebih mengenal orang lain daripada kakeknya sendiri. Seperti misalnya, saya tidak mau cucu saya kelak lebih mengenal siapa Dewi Lestari—karena dia menulis—daripada kakeknya sendiri—yang tak sempat meninggalkan selembar tulisanpun buatnya. Sampai di sini, bagi saya, menulis adalah merefleksikan hidup, mengabarkan eksistensi hidup, dan menjadi seseorang yang berkesadaran sejarah.
Menulis, bagi saya, memang bukan untuk menjadi penulis. Tetapi jauh lebih mulia dari itu. Menulis adalah peroses mendokumentasikan diri, seperti mem-“pause” satu episode dalam kehidupan kita agar bisa kita putar ulang dan kita baca lagi kapan saja di waktu yang lain. Hidup ini hanya sekali, dan segalanya terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja.
Lalu soal jadi penulis? Ah, kamu benar, Mbak, kita harus pandai membedakan laut dari ombaknya, suara dengan gelombangnya. Tapi untuk memisahkan keduanya memang sulit, siapapun yang menulis akan jadi penulis. Sudah semacam “kutukan”, atau lebih halusnya, “peran”. Menjadi “penulis” adalah peran hidup, untuk menemukan kebenaran dan kehidupannya sendiri. Di sini, tentu saya setuju dengan Mas Reza.
Semoga menikmati peran ini. Semoga ikhlas dengan “kutukan” ini. Dan, tentu saja seorang “pemeran” kadang-kadang memang “harus” lelah. Santai saja, penulis juga butuh jalan-jalan. :)
Fahd
www.ruangtengah.co.nr
Halo mbak Dee, kmrn aku browsing nemu web nya mbak, www.dewilestari.com, masih dalam tahap "coming soon" sie, itu calon official web nya mbak Dee ya?
Oya, kalo emang bener, tolong mbak Dee tetep posting di sini ya , meski pun nanti udah ada official web nya, soalnya apa yg ditulis disini lebih orisinil, n qta semua masih bisa keepin' touch sama mbak Dee...!!! ^_^
Ok sekian dulu...
Sukses selalu...^_^
Menemukan Dee Idea seperti bertemu mentor. Karena aku masih pada tahapan exercise menuangkan "masakan ide" ke dalam sajian cantik. Menulis ibarat memasak, me-recharge energi dan memberi nutrisi. Menulis adalah kombinasi ekspresi intelektual dan jiwa seni, terapi diri yang bisa ditransfer untuk menyembuhkan self esteeem dan menyiram dahaga kebenaran. Menulis adalah mengabadikan ilmu. Menulis adalah "report" untuk Sang Pencipta, yang isinya adalah pertanggungjawaban atas nilai kehidupan.
Aku tunggu "air kehidupan" yang berhasil disedot Dee, aku memilih mentor bukan dari "sembarang pipa", tapi pipa yang memiliki kapasitas dengan kualitas terawat dan terasah!
Aku tunggu juga "air sedotan" dari pipa Dee saat "sedang kurang bisa bekerja"!
Tapi aku juga menunggu "air sedotsn" dari Dee saat sudah "di-regcleaner"!
Semoga "pipa Dee" kadaluarsanya masih lama, karena "spek-nya" termasuk tinggi!
Thanx a bunch Dee! Really inspiring. love2 it. jadi inget lagi cita2 menulis buku yang sudah lama 'terselip' entah di mana ;)
Dee,
Thanks for the blog, it is really inspiring..
masih inget aku ga? bark n tulodong mungkin bisa bantu inget :)
Kl bisa keep in touch via japri..
thanks
Yani Syahril
http://yanisyahril.multiply.com/
Weeks..
Mbak Dee, PK-nya jangan mundur terus.
bisa mati penasaran niy.
tolong..tolooong..
aku ga mw mati penasaran, ga mw kiamat sebelum baca PK n' Partikel.
go..go..
back to writing
Back to the creativity cave
n' start its with.. PARTIKEL! ;)
saya senang membaca.
saya senang menulis.
saya senang mencari "cermin".
Thanks God.. karena saya menemukan.. Anda ^_^
Kuke
http://kuke.wordpress.com
mba dee, you are my favorite writer, period!
you are a really big inspiration for me, especially that i love to write also (although my writings are nothing compared to yours lol)
your writings have electrified me, and inspired me to start writing again.
btw, mba dee alumni HI UNPAR kan? mau ada acara TAHI sabtu ini di bandung, (temu akrab hubungan internasional). hehe loh ko jadi promosi gini? :P
well anywho.
you are amazing.
and keep being one :)
www.rarasekar.tumblr.com
alow mbak dee....lam kenal yah? :)))
senang bisa baca blog artis hehehehehehe
Luaar biasa sekali, menyentuh...memberi semangat...sukses selalu mbak
Salam lili
www.newvegeplanet.co.cc
To Yani: Hai, hai... tentu aku ingat padamu! Kerja di mana sekarang? Anyway, nice to bump into you again :)
To Fahd: Thank you for sharing a glimpse of your creative engine. It's so fascinating! Bagaimana hal 'sederhana' seperti ingin dikenal cucu bisa mendorong kita untuk memperkenalkan pemikiran kita pada dunia. Hehe...
To Ronitoxid: Agaknya itulah perbedaan nyata antara kamu dan saya. Jika "percaya" berarti meyakini sebuah konsep (apa pun itu, termasuk Absolutisme) tanpa mengalaminya langsung, maka saya tidak percaya pada Absolutisme. Dan saya tidak melindungi "my lack of experience" di balik sebuah konsep lainnya yakni "percaya tanpa perlu penjelasan". Apakah itu artinya pengagungan logika? Saya rasa bukan. Menjunjung logika tanpa pengalaman langsung juga sama butanya dengan mengimani sesuatu tanpa pengalaman langsung. Jadi kalau kita bicara Absolutisme tapi kitanya sendiri masih berada di ranah relativitas, bagi saya itu sama saja dengan berbagi info dari brosur. Barangnya sendiri kita nggak pernah lihat :)
"You're right from your side
And I'm right from mine" - Bob Dylan
Thank you all!
~ D ~
kapan ya aku bisa jadi kayak Mbak...
Kadang jadi lebih termotivasi saat melihat karya2 org lain yg lebih bagus.
tapi nggak jarang jadi jatuh dan ngerasa ga bisa apa2 ketika melihat karya2 org lain yg lebih bagus.
Jangan di moderasi komennya ya Mbak, mgkn gr2 pengaruh hujan..jadi down gini moodnya. hehe...
nulis
ga
nulis
ga
nulis
ga?
(tokeek...)
Ah apa itu? seekor tokek bawa pensil??
Ah itu isyarat bahwa aku harus nulis, dikittt aja!
YUP
kita memang berbeda secara nyata
termasuk bagaimana kita memandang sebuah konsep absolutisme
Aku memang tak pernah berlajar filsafat dan semacamnya, tapi dalam pengertianku, absolutisme adalah sesuatu yang merengkuh semua.
Kalo kita bisa menghafal sampai 2 trilyun kata, maka absolutisme adalah "angka" itu sendiri.
Sesuatu yang kita tau 'sekaligus' yang kita tidak mungkin tau tapi kita percaya ada.
Percaya memang tak bisa dibeli
Tapi setidaknya Tuhan telah memberi 2 tools untuk kita mencoba merasakan 'percaya' yi :
LOGIKA dengan interface berupa panca indra
dan HATI
Proses mengalami (dalam konteks fisik) akan menstimulasi logika untuk percaya.
Tapi bagaimana dengan hati?
Benarkah kita harus mengalami untuk membuat hati percaya?
Atau sebaliknya, kita meletakkan segala konsep percaya hanya dalam logika?
Contoh simpel dan bodoh mungkin
Saya percaya ada kehidupan setelah mati, tanpa harus pernah mengalami mati.
Kenapa?
Karena ada brosur (kalo bole saya menggunakan analogimu) yang berisi tentang berbagai macam info mengenai kematian itu sendiri
(termasuk berapa suite yang disediakan disana, apa saja fasilitasnya, dan berapa malaikat yang akan menunggu kita)
Maka pertanyaannya bukan
'apakah logis jika kita membagi (atau mempercayai) info dari sebuah brosur?'
tetapi
'darimanakah brosur itu berasal?'
Dalam agama saya,
bahkan sebuah daun yang jatuh dari pohonnya di ujung berung sana tak lepas dari pengamatan yang Maha Kuasa?
Lalu logika sebelah mana yang bisa mempercayai kekuatan sedemikian tak hingga?
Tuhan itu absolut
dan absolut itu 'beyond' baik dari sisi logika maupun imajinasi
Dan sesuatu yg berasal darinya adalah sesuatu yg kita (baca : saya) percaya walopun kadang logika kita belum pernah mengalaminya.
Termasuk 'brosur' yang tadi kita (baca : saya) bicarakan.
Should you ever change your mind
Holding back the sunshine
Are you ever gonna be
Quite satisfied
Postcard from heaven
Go to where you belong
Never find the perfect situation
Untill you know where youre from
(postcard from heaven - Lighthouse Family.
Sayang...sayang sekali mereka tak menciptakan lagu ini dengan judul
Brosure from Heaven...)
NOTES
Maaf kalo ternyata aku salah mengartikan
Semoga kita bukan seperti legenda 2 orang buta yang meraba seekor gajah yang sama dari sisi yang berbeda.
RALAT
Brosur dalam basa english bukan brosure tapi brochure
Gini nih kalo TOEFL nilainya cuma 3,5 pada skala richter!
(^__^)
*tes...tes*
keringat malu mulai berjatuhan
hei dee,
nice to bump with you again also..
skg aku kerja di Arnotts, tp lagi unpaid leave sampai mid jan next year..aku lg short course di hawaii..
mimpi konser tunggal dulu udh jd kenyataan blm?? so make it happen :)
pls send your contact email to my email. tks
Yani Syahril
yanisyahril@yahoo.com
Hai mba dee
JJ bilang pengen bikin pelatihan menulis ya? saya tunggu!! daftaaarrr!!
ide adalah kerangka harapan dimana didalam nya terdapat bermiliar miliar filosopis hidup dengan segudang konsep implementasi yang tegas....salam kenal dari ..Manajemen AQU Presiden dan silahkan berkunjung ke blog AQU......Haris Zaky Mubarak
NB.....
Mba Dee, bagus banget postingnya, bagi orang-orang yang suka menulis atau belajar menulis, saran dari Mba Dee sungguh bagus... Apa boleh saya sebarkan posting Mba buat temen-temen yang belum sempat baca atau berkunjung ke blog ini.
Terima kasih BBU
Yes, please do :) Asal dicantumkan saja link ke blog ini. Thank you...
~ D ~
hei,pas aku baca postingan ini,aku kaya bangun dari tidur.selama hampir 3 tahun ini aku berhenti menulis dengan alesan "ngga ada ide".ternyata dee benar bukan ngga adanya sumber ide,tapi pipa2 yang mengalirkan ide2 itu yang mampet.aku sadar,selama ini aku yang ngga sadar kalo banyak ide diluar sana.
ya,aku mencoba berhibernasi lagi,semoga berhasil ya?hehehe.
fyi,i really love your supernova.kapan lanjutannya?
Kak Dee.Terima kasih sudah jadi orang sukses.Jadi saya tahu Kak Dee.
Saya juga ingin menjadi penulis,walaupun masih terkurung oleh kandang ayam.Dan saya laki-laki 17 tahun.Kadang saya ingin Kak Dee dilahirkan sebagai laki-laki saja,tidak tahu juga apa alasan jelasnya.Tulisan Kak Dee memang menyentuh...Saya juga jadi ingin bertemu Kak Dee Cilik.Yang mungkin udah tahu sudah besar menjadi penulis Rectoverso,yang nantinya salah satu pembacanya berlari kepada Kakaknya yang akan malam mingguan dan meminitip dibelikan Rectoverso.Hehe...Saya akan menjadi penulis.Yakin,dan nanti akan melihat kening Kak Dee ukuran asli.Mengobrol bersama penulis mohon bakat ini.Amin..
Susah sekali yah,hidup itu.haha..
Kak dee kalau mau buka blog saya ya,di www.powerrangga.worpress.com Belum banyak sih,habis ada yang dibuku dll.hehehe
Semua tulisan Anda punya pengaruh untuk saya, tapi tulisan inilah yang mengembalikan saya pada dunia yang pernah saya cumbui. Ternyata saya cuma bisa bangga dengan predikat penulis tanpa pernah melahirkan sebuah karya yang bisa dibanggakan.
Terima kasih mengembalikan saya
mbak salam kenal dari penggemarmu di jogaja..
galihrock.com
hehe Dee.. Anda seperti membaca pikiran saya saja. tanggal 27-29 november yang lalu saya baru saja "kabur" ke Bandung untuk "pacaran lagi" dengan tulisan. sendiri saja. saya sengaja ambil cuti dan kembali menulis for the sake of writing itself..bukan demi pekerjaan (saya editor di sebuah majalah).
senang rasanya bisa menulis lagi, berpindah-pindah dari Selasar Sunaryo Art Space, The Valley, Concordia di Bumi Sangkuriang (tempat ini pol banget buat nulis di bawah pohon2 besar), dan sampai ke kamar hotel.
mungkin kata kuncinya adalah "sendiri". orang-orang bilang saya gila, buat apa pergi ke bandung sendirian? mudah saja jawabannya, saya suka gunung..dan gunung yang bisa dicapai dari jakarta dengan mudah ya hanya di bandung (saya tidak bisa menyetir, kalau bisa saya sudah nyetir ke puncak bolak balik 3 hari sekali mungkin hehehe).
senang juga rasanya mengetahui bukan hanya saya yang merasa butuh untuk menyepi, menyendiri untuk berpacaran lagi dengan aksara. tulisan-tulisan yang saya dapatkan pun seperti yang saya harapkan: "tulisan-tulisan saya yang dulu". saya seolah menemukan jati diri saya kembali, menemukan esensi dari tulisan itu lagi, bergelut lagi dengan segala kerumitan kata-kata yang saya cintai. tulisan saya, yang saya temukan lagi di sejuk dan ramahnya kota bandung.
diselingi mie kocok, bitter ballen, blueberry cheese pie, sampai hanya segelas teh panas.. saya kembali melahirkan suatu karya. terima kasih sekali pada Dee yang menjadi sumber inspirasi, dan terima kasih juga pada Dee yang telah berbagi pemikirannya sehingga saya tahu bukan saya yang gila..kabur sendirian ke bandung hanya untuk honeymoon lagi dengan tulisan, karena ternyata seorang penulis sebesar Dee pun sama, kadang membutuhkan momen tersebut :)
cheers,
-Fe
apakah saya penulis?
atau saya menulis?
entahlah mbak, saya hanya merasa saya seorang manusia
yang ingin melarikan diri lewat kata2
lari dari apa saja yang harus saya lewati
dengan penulis, saya hampa
tidak perlu merasakan apa2
hanya kertas2 itu yang ternoda
saya tidakapakah saya penulis?
atau saya menulis?
entahlah mbak, saya hanya merasa saya seorang manusia
yang ingin melarikan diri lewat kata2
lari dari apa saja yang harus saya lewati
dengan penulis, saya hampa
tidak perlu merasakan apa2
hanya kertas2 itu yang ternoda
saya tidak
dan saya, menemukan jalan pada Tuhan dengan kata2 itu mbak
nah,apakah saya penulis atau menulis?
salm kenal mbak dee,, dari pengagum dirimu di bandung neh,,,,,,,,,
makasih atas posting renungannya mbak Dee
dan sungguh, renunganmu ini melahirkan isnprasi untukku. terima kasih
salam hangat,
may's
Post a Comment