Showing posts with label On Writing and Writership. Show all posts
Showing posts with label On Writing and Writership. Show all posts

Monday, May 25, 2009

Nge-blog: Perjalanan Panjang Dengan Hati

Nge-blog:
Perjalanan Panjang Dengan Hati


Awal bulan lalu, saya menerima e-mail permohonan endorsement dari Redaktur Gagas Media, Windy Ariestanty, yang kebetulan juga teman baik saya. Gagas berencana akan menerbitkan sebuah buku yang diambil dari blog seorang blogger senior bernama Pak Wicaksono. Di dunia maya, ia lebih dikenal dengan julukan Ndoro Kakung. Setelah membaca beberapa tulisan beliau, tanpa ragu saya mengiyakan, bahkan mengirimkan endorsement saya dalam waktu kurang dari sehari. Rekor tercepat saya dalam mengirimkan endorsement. Bukan karena alasan kejar tayang atau asal-asalan, tapi memang sungguh tak sulit menuliskan kesan bagi tulisan yang memang berkesan.

Beberapa hari lalu, saya dikirimi buku yang akhirnya terbit dengan judul “Nge-blog Dengan Hati” itu. Buku yang ringan (dalam arti sebenarnya—141 halaman dan ukurannya agak kecil). Namun isinya tidaklah sembarangan. Khususnya bagi para blogger atau minimal yang pernah merasakan nge-blog, banyak ketukan ‘aha!’ yang muncul dari kalimat-kalimat Ndoro Kakung yang lugas, humoris, sekaligus informatif tersebut, yang juga mengundang saya untuk kilas balik sejarah ‘karier’ nge-blog saya sendiri.

Tahun 2006, saya membuat blog tanpa pengetahuan blogging sama sekali, bahkan tanpa ketertarikan untuk menseriusinya. Jujur, pada saat itu pun saya bahkan tak terlalu menyukai blog-blog lokal yang saya temui, yang kebanyakan isinya remeh-temeh, diary-ish, atau dalam istilah saya pribadi: ‘diare kata-kata’. Encer dan nggak penting. Beberapa rekan penulis juga mengatakan, “Alaah... nggak usah nge-blog! Langsung bikin buku saja.” Barangkali ada benarnya juga, karena saya cukup sering menemukan blogger yang memang menjadikan blog-nya semacam batu loncatan menuju target mereka sebenarnya, yakni menerbitkan buku. Namun, karena tak jua menemukan cara lain untuk berbagi tulisan-tulisan—yang sifatnya lebih menyerupai esai, puisi, tulisan spontan, dsb—akhirnya saya tetap nekat membuka account di Blogspot.

Jadilah saya blogger seadanya, bergerak dengan kecepatan siput, dan tak pedulian. Saya menulis posting bisa dua bulan sekali, tidak mengulik fitur ini-itu, tidak blog walking, bahkan jarang berkomentar balik pada yang mampir. Baru setahun terakhir, pelan-pelan saya membuka diri dan mulai meneropong dunia blogger. Barulah saya melek dengan berbagai fenomena seputar nge-blog yang ternyata sangat menarik; dari mulai fenomena seleb-blog, cari uang lewat blog, berkarier lewat blog, sampai aneka tips untuk merawat dan mempopulerkan blog. Dengan kata lain, ternyata blog adalah sebuah ‘industri’ sendiri, yang menurut saya, tak kalah menarik dengan industri buku yang lebih dulu saya kenal.

Sebagai penulis, lama kelamaan relasi saya dengan blog pun bertransformasi. Secara alami, saya merasa terpanggil untuk menulis khusus di Dee-Idea, dan tidak lagi melihatnya sebagai rak pajangan ‘alternatif’. Saya mulai meluangkan waktu secara teratur untuk merawat blog saya, membalasi komentar-komentar yang masuk, atau minimal mencari foto untuk artikel saya dengan lebih serius. Sungguh, bahkan saya merasa bahwa lewat media blog inilah saya bisa berinteraksi paling dekat dengan pembaca. Tanpa terasa, dan tanpa rencana, blog akhirnya memiliki tempat yang kurang lebih sejajar dengan buku-buku saya lainnya. Di hati saya, blog ini mulai bertransformasi menjadi ‘anak jiwa’, yang perlu dirawat dan dibesarkan dengan sama baiknya.

Karier nge-blog Ndoro Kakung amat jauh lebih advans dibandingkan saya, tapi cukup banyak hal yang saya sepakati dengan beliau. Seperti Ndoro Kakung, sejak dulu saya percaya bahwa kekuatan blog sesungguhnya adalah konten. Isi. Kita bisa aktif gila-gilaan di beragam jejaring sosial internet demi memompa jumlah pengunjung, atau mendandani blog kita seindah dan secanggih mungkin, tapi—sebagaimana kunci semua relasi—akhirnya kita selalu kembali pada isi dan sentuhan hati. Persis sama dengan apa yang selalu saya ulang-ulang seperti kaset rusak ketika orang bertanya apa rahasia buku sukses.

Ketika ditanya, kenapa kok nge-blog harus pakai hati? Sementara sekarang orang bisa tinggal pasang plug-in dan isi blog terbarui secara otomatis tanpa repot. Ndoro Kakung lantas menjawab: “Dengan membuat sendiri setiap posting, mengumpulkan setiap remah ide menjadi bangunan utuh, kita bisa belajar banyak tentang proses. Proses memberi kita kesalahan, dan pelajaran. Ia menempa kita menjadi seorang blogger yang lebih baik, lebih baik lagi, dan lebih baik lagi.” Itu juga menjadi pengalaman saya. Walau dulunya sempat meremehkan, tak terkatakan jasa nge-blog bagi pengasahan skill saya menulis. Dalam berbagai forum saya selalu berkata bahwa menulis bagaikan otot yang perlu dilatih sedikit-sedikit tapi konstan. Bagi yang ingin badannya sebesar Ade Rai, jangan mimpi bisa minum ramuan ajaib dan ototnya membuncah dalam semalam. Dia harus sering-sering ke gym dan berlatih dengan tekun. Bagi saya, ibarat langganan nge-gym, blog adalah sasana berlatih menulis yang nyaman dan ideal.

Yang tak kalah menarik adalah cuplikan di sampul belakang buku Ndoro Kakung: “Mengisi blog bukan seperti ikut lomba lari jarak pendek; melejit begitu bendera start dikibaskan untuk berhenti segera dalam tempo singkat. Mengelola blog itu ibarat lari maraton, mungkin lebih jauh lagi. Begitu mulai, kita tak perlu bergegas. Atur kecepatan dan napas, juga irama. Perjalanan begitu panjang. Kita tak perlu buru-buru berhenti.”

Meninjau ulang sejarah blogging saya, mudah rasanya untuk berlindung di kalimat di atas, karena saya pun memulai nge-blog dengan amat, sangat perlahan. Tapi sulit dipungkiri juga kebenaran ucapan Ndoro Kakung. Setidaknya karena saya menemukan fenomena yang sama dalam dunia kepenulisan. Begitu banyak orang yang kesusu untuk buru-buru beken, buru-buru eksis, buru-buru laku, tanpa mempedulikan satu faktor penting: belajar menulis, dan berkarier menulis, adalah proses yang amat panjang. Inilah salah satu karier langka di dunia yang bisa dilakoni seumur hidup.

Dalam kata pengantarnya, Windy selaku penerbit menuliskan: “Saya kerap bertemu banyak blogger yang ingin menerbitkan buku. Atau bertemu penulis lain yang ingin mengupas sejuta teknik lain tentang nge-blog. Ujungnya, semua bermuara kepada kepentingan ekonomis atau keinginan untuk tenar.” Windy lalu menambahkan, bahwa tentu saja semua itu tidak keliru, tapi faktor ‘hati’—meski terkesan melankolis di tengah sifat kapitalis yang kian marak—adalah semangat yang justru akan membuat kita menghasilkan sesuatu yang berbeda. “Di antara ribuan buku yang terbit, atau blog yang dibuat setiap harinya, justru hati yang memiliki passionlah yang memberikan kekhasan pada karya kita.” Lagi-lagi, kepala saya mengangguk setuju. Apa yang ditulis Windy, terutama karena dia datang dari sudut pandang penerbit, menjadi salah satu mutiara yang patut kita renungkan.

Kita sudah melihat contoh-contoh blog yang sukses dengan fenomenal, salah satunya blog Raditya Dika, yang tak hanya berhasil dibukukan, bahkan sekarang ia hadir dalam bentuk sinema. Suatu lompatan yang luar biasa. Dalam satu forum bedah buku di mana saya bertemu Dika dan mengobrol langsung dengannya, dia dengan tegas berkata, awal dia nge-blog pun semata-mata untuk kepuasan sendiri saja (dan itu memang tergambar cukup jelas dari blognya). Saat tren buku jadi blog belum populer, berbekal keyakinan akan otentisitasnya, Dika lalu nekat mendatangi kantor Gagas Media dan meyakinkan sendiri pada redakturnya bahwa blognya unik, menarik, dan layak terbit.

Tidak semua dari kita senekat Dika, atau sepiawai Ndoro Kakung. Tapi satu benang merah yang bisa kita lihat dengan jelas dari profil para blogger kawakan tersebut adalah: they write with passion. They write for a long run. Yang artinya, mereka menulis dengan semangat hati. Dan mereka tak berhenti. Formula sederhana itu dapat diaplikasikan pada kita semua. Tidak harus sering, tidak harus jadi posting yang populer, tidak harus bagus, tapi menulislah dari hati. Dan menulislah terus.
Read More ..

Thursday, February 19, 2009

Merindu Dunia Mungil

Merindu Dunia Mungil


Memasuki bulan kedelapan saya pindah ke Jakarta, untuk pertama kalinya saya melakukan kegiatan ini: jalan sore.

Hari yang pas; tidak terik, angin berembus kadang semilir kadang kencang, awan di langit berserak membentuk formasi yang indah di mata. Saya berjalan di setapak khusus pejalan kaki yang disediakan kompleks tempat saya tinggal, yang dibuat sedemikian rupa di tengah taman, pasir, dan gerimbun bambu.

Tiupan angin membuat bambu di sekeliling saya bergesek dan menari. Terdengar suara serangga bersahutan, kawanan burung berkicauan, dan tampak seekor kucing menggeliat di atas rumput. Saya memerhatikan kontur tanah di kiri-kanan yang kadang membukit kadang melembah, rumput yang tumbuh pendek-pendek karena rajin dipotong oleh petugas taman kompleks. Dan saya melihat aliran sungai kecil di sebelah kiri, yang ketika saya ikuti ternyata berujung pada sungai yang lebih besar lagi, yang suaranya mampu menahan kaki saya diam berlama-lama di pinggirannya. Lalu saya masuk ke dalam fasilitas umum di mana saya temukan kolam dangkal berisi ikan beraneka ukuran. Riak air di atas kolam berkilau lembut diterpa matahari senja. Ada sekelompok ilalang yang bergoyang di sudut kolam.

Sepanjang perjalanan kaki sore itu, satu hal yang terus bergaung di kepala: kemana saja saya selama ini? Delapan bulan saya tinggal di kompleks tersebut, kompleks sama yang menyimpan nyanyian bambu, kicauan burung, kor serangga, dan aliran sungai, tapi sore ini saya menemukan semua itu bagai harta karun terpendam.

Saya teringat masa kecil dulu, saat kendaraan utama saya adalah tungkai kaki saya sendiri, paling banter roda sepeda. Saya juga ingat permainan masa kecil yang masih terus saya mainkan bahkan sampai SMP, yakni: main “orang-orangan”. Jujur, saya tidak tahu apakah istilah itu universal atau sebetulnya hanya istilah intern yang hanya berlaku di lingkup keluarga saya saja. Yang saya maksudkan adalah, permainan menggunakan benda-benda kecil yang dianggap sebagai “orang”, dan kita mainkan orang-orangan tersebut layaknya kehidupan manusia sehari-hari.

Waktu kami kecil, orang tua kami jarang sekali membelikan mainan. Mereka dengan senang hati membiayai kami kursus piano, atau membelikan pensil warna, atau buku cerita, tapi tidak setahun sekali saya dibelikan mainan baru. Mainan adalah benda mahal dan amat sangat langka dalam hidup saya saat itu. Karena itulah, kami terpaksa menciptakan mainan sendiri. Menggunakan apa pun yang ada.

Saya ingat, kakak-kakak saya mengukir styrofoam menjadi aneka makanan, dan kami main ‘restoran-restoranan’. Pada satu masa, kami juga membuat aneka kue dari lilin malam, dan kami main jualan kue. Ada juga masanya kami bermain menggunakan white board, yang kami bagi jadi empat bagian, dan di masing-masing petak kami menggambar ‘koran-koranan’ buatan masing-masing. Lengkap dengan artikel dan iklan. Ada juga masanya kami membuat kartu-kartu ucapan, lalu saling kirim kartu ke satu sama lain. Namun dari semua permainan ciptaan sendiri itu, orang-oranganlah yang bertahan paling lama.

Orang-orangan favorit kami adalah bidak catur, terutama yang berbahan plastik. Kalau bidak catur tidak ada, pilihan berikutnya jatuh pada batu baterai (ukuran AA). Berhubung bentuk pion catur semua sama, cara membedakannya adalah dengan mengikatkan karet rambut di leher bidak tersebut. Ada yang pink, hitam, putih, biru, hijau, dst.

Orang-orangan kami punya nama, punya pekerjaan, dan punya rumah. Rumah mereka dibangun dari buku-buku tebal yang berfungsi menjadi lantai, mereka juga punya tempat tidur yang dibuat dari kapas, punya mobil dari kotak korek api, punya meja makan dari balok kayu bekas, dst. Bahkan, karena kami biasa main berempat (saya, adik, dan dua kakak perempuan saya), kami bisa membangun satu kota sendiri untuk orang-orangan kami. Ada fasilitas sekolah, toko, dsb. Kami bisa main berjam-jam. Kami bisa main seharian. Satu-satunya agenda di kepala saya menjelang bubar sekolah adalah buru-buru pulang ke dunia mungil itu. Secepat-cepatnya.

Bertahun-tahun memainkan permainan yang sama, mata saya mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda. Seperti muncul sepasang mata alternatif yang memandang dunia dari ukuran pion catur. Dunia sehari-hari kita ini menjadi dunia raksasa. Dan justru di hal-hal yang mungil dan kecil, saya menemukan normalitas. Ketika saya melihat pohon melati yang tingginya hanya sebetis, pada saat yang bersamaan saya melihatnya laksana pohon beringin besar tempat orang-orangan saya bisa bermain, bernaung, bahkan tinggal di rumah pohon. Ketika saya melihat genangan air yang hanya sebesar telapak kaki, pada saat yang bersamaan saya menemukan kolam renang bagi orang-orangan saya. Dan akhirnya saya punya dua dunia sekaligus, yang sama-sama normal, yang sama-sama sahih.

Mata saya menjadi terlatih untuk mengamati hal remeh, hal mungil, hal kecil. Didukung oleh keterbatasan seorang anak yang baru mampu mengeksplorasi lingkungan dengan berjalan kaki, saya pun menemukan aneka keajaiban dalam hal-hal yang biasa. Hal-hal yang niscaya luput dari seorang dewasa yang mengamati dunia dari jendela mobil dengan kecepatan laju sekian tenaga kuda.

Setelah jalan kaki sore pertama di kompleks, esok harinya saya mulai berjalan pagi. Terkadang, jika pagi atau sore tak sempat, sebelum masuk rumah, saya dan Reza berjalan kaki malam-malam. Memandangi gerimbun bambu yang kini menyerupai bayang-bayang, menikmati bebunyian yang kini didominasi suara jangkerik. Satu hari, kembali kami beruntung dan mendapati malam yang indah. Sebagian besar langit tampak jernih. Bintang bersembulan.

Pada satu titik, kami berhenti dan duduk. Seperti dua bocah polos yang masih gampang tercengang, kami terlongo-longo melihat bintang-bintang yang sepertinya semakin dilihat malah muncul tambah banyak. Dalam waktu lima menit, langit di atas kepala kami mendadak padat oleh titik-titik cahaya. Kami lalu berdoa, bergantian, mengucap syukur atas apa pun yang melintas di kepala. Dan yang pertama kali menyeruak di hati saya adalah ucapan syukur bahwa saya diingatkan untuk menikmati keindahan dalam hal-hal kecil. Keluarbiasaan dalam hal-hal biasa. ‘Kebesaran’ dalam ‘kemungilan’.

Saya tersadar betapa saya merindukan dunia mungil itu. Dunia yang bisa diteropong hanya kalau menggunakan mata ‘orang-orangan’. Mata yang sempat begitu terlatih. Mata yang mengajarkan saya untuk menjadi seorang pengamat. Mata yang mengajarkan saya untuk menjadi seorang penulis.

Baru-baru ini, di acara pertemuan klub pembaca di Toko Buku Aksara, seorang pengunjung yang mengaku menyukai detail dalam salah satu cerita pendek saya bertanya: kok bisa, sih? Bagaimana caranya? Dan saya harus kembali pada jawaban ini lagi: mengamati. Seorang penulis harus memiliki mata seorang pengamat. Dalam hati saya, kisah panjang permainan ‘orang-orangan’ kembali bertutur tanpa bisa dibendung. Kisah yang barangkali terlalu panjang untuk dicerna dalam sebuah diskusi buku. Tapi tidak cukup panjang untuk direnungkan dalam satu sesi jalan kaki.
Read More ..

Saturday, December 13, 2008

Membangunkan Pujangga Tidur

Membangunkan Pujangga Tidur


Sebuah ide membakar pikiran saya berhari-hari.

Apa gerangan yang membuat seseorang menulis? Apa yang sesungguhnya terjadi ketika seseorang memutuskan ingin jadi penulis? Apa yang ingin dicari seorang penulis? Dinamika apa yang sebenarnya terjadi antara penulis, pembaca, dirinya dan semesta raya?

Sudah cukup sering saya menjadi juri berbagai lomba penulisan. Ratusan naskah dari orang-orang yang ingin suaranya didengar, ingin suaranya menjadi pemenang… apakah hadiah yang mereka cari? Ataukah ada yang lebih dari sekadar piagam dan uang? Sudah cukup sering juga saya dimintai pendapat atas naskah seseorang. Dari mulai yang meminta endorsement sampai yang cuma ingin dibaca saja. Kepuasan apakah yang sebetulnya didapat dari menuliskan puluhan bahkan ratusan lembar itu? Apa yang memotori para penulis itu merangkai kata? Apa yang sebetulnya mereka ingin bisikkan, teriakkan, dan tangiskan?

Tak terhitung juga banyaknya pertanyaan yang terlontar pada saya, menanyakan tips menjadi penulis, cara menulis yang baik, cara menuangkan ide ke dalam tulisan, bahkan sampai tips mencari judul dan nama tokoh. Beberapa kali saya memang pernah memberikan pelatihan penulisan, tapi hanya untuk beberapa jam saja. Yang paling intensif pernah saya lakukan untuk UNAIDS, mentoring selama dua hari, dan hasilnya menjadi sebuah buku (“Kartini Bernyawa Sembilan”). Dan dalam proses relatif singkat itu, tetap saja saya terusik, termenung, bahkan terpukau melihat transformasi yang bisa diperagakan seseorang ketika ia berhasil “disentuh” oleh kekuatan ilham. Dan saya pun bertanya-tanya, adakah caranya agar seseorang bisa menyiapkan dirinya untuk disentil dan disengat inspirasi?

Saya tidak pernah punya latar belakang sastra secara formal. Nilai di rapor saya untuk pelajaran Bahasa Indonesia selalu biasa-biasa saja. Tapi sejak balita, saya senang berkhayal dan melamun. Saya bisa melamun berjam-jam sebelum terlelap. Waktu kanak-kanak, saya bukan seorang kutu buku. Urat baca saya masih kalah dibandingkan kakak-kakak saya yang lain.Tapi saya amat senang membuat cerita. Saat itu dorongan menulis buat saya lebih kuat ketimbang membaca.

Saya juga pemerhati hal-hal remeh. Waktu kecil, saya sangat suka kelereng. Bukan untuk dimainkan, melainkan untuk diamati. Saya bisa menghabiskan waktu panjang hanya untuk mengamati sebola kelereng di terang lampu. Rasanya ada galaksi ajaib di dalam bola itu. Kilau yang dipantulkan kaca dalam kelereng seolah membentuk labirin dan bintang-bintang, dan saya terlongo-longo dipukau keindahannya. Saya juga kecanduan mengamati langit. Mencari bentuk dan wajah di awan, menghayati warna-warni senja sampai dada saya sesak oleh haru. Sebuah kebiasaan yang terus berlanjut hingga dewasa: mengamati angkasa hingga menunggu ia “berbicara” pada saya.

Entah mengapa, hal-hal kecil yang susah didefinisikan itulah yang justru terasa kokoh dan masif saat saya mengamati ke dalam diri untuk mencari pilar-pilar apa yang menjadi penyangga saya sebagai penulis. Bukan hadiah, ketenaran, piagam, atau uang, meskipun semua itu bisa jadi efek samping yang menyenangkan.

Sayangnya, pilar-pilar itu justru sering luput diamati. Kita malah lebih tertarik pada “kabut” yang menyelimuti seorang penulis ketimbang bara api yang membakarnya. Tidak heran ketika saya iseng survei “pelatihan penulisan” di internet, yang muncul adalah workshop untuk jadi penulis best-seller, workshop untuk jadi penulis profesional, workshop how-to menerbitkan buku, bahkan ada yang menjadikan nama saya sebagai iming-iming (“ingin menjadi penulis best-seller seperti Dee?”). Tidak ada yang salah atau buruk dari workshop semacam itu, bahkan pada level kebutuhan tertentu bisa jadi malah sangat berguna. Tapi perlu kita sadari bahwa penjelajahan superfisial otomatis akan membawa kita ke tempat-tempat yang superfisial, sementara penjelajahan yang sifatnya esensial tentunya akan membawa kita menelusuri gorong-gorong yang lebih dalam. Tergantung pada apa yang kita masing-masing butuhkan saat ini.

Jika ditanya, apa rahasianya agar bisa jadi penulis best-seller? Saya akan jujur menjawab: tidak tahu. Jadi, kalau satu saat nanti saya berkoar tentang bagaimana cara menulis buku laku, jangan pernah percaya. Saya sungguh-sungguh tidak tahu. Jika ditanya, apa rahasianya agar naskah kita diterima penerbit? Jujur, saya pun tidak tahu. Seperti jodoh, kita bisa punya sederet kriteria ideal, tapi pada akhirnya misterilah yang menautkan kita dengan seseorang. Begitu juga hubungan antara penerbit dan penulis. Sudah jadi cerita klasik bagaimana sebuah naskah ditolak sejumlah penerbit sampai akhirnya ada satu pintu yang membuka dan tahu-tahu naskah itu meledak menjadi best-seller. JK. Rowling mengalaminya, John Grisham mengalaminya, Sitta Karina mengalaminya, dan masih banyak lagi. Dan kalau ada yang bertanya, bagaimana sih caranya menulis? Jawaban saya pun tetap sama: tidak ada cara lain untuk menulis selain menulis.

Ada sesuatu yang sederhana yang kerap lolos dari pengamatan kita. Saya akan mengambil diri saya sendiri sebagai contoh. Ketika ditanya: bagaimana caranya agar tulisan kita dibaca orang? Hati saya tidak bereaksi. Datar dan hambar. Yang sibuk berputar untuk menjawab adalah kepala saya. Sementara ketika ditanya: apa motor yang menggerakkan saya berkarya, yang bisa membuat saya menggelepar seperti cacing kena garam, yang mampu membuat rahang saya kejang karena gemas, yang bisa melesatkan saya menembus atmosfer bahasa? Hati saya seketika tergetar. Ada sesuatu yang hidup, yang dahsyat, yang langsung mengaliri tubuh saya. Sementara kepala saya cuma bisa kelimpungan mencari penjelasan yang memang di luar kesanggupannya.

Sesuatu itu, teman-teman, adalah sesuatu yang paling penting untuk ditemukan. Sisanya bonus. Kepala Anda tidak bisa menjawabnya. Hanya hati yang tahu. Di titik pertemuan antara Anda dan bara api yang membakar jiwa Anda itulah kabut kepenulisan akan meluruh dengan sendirinya. Anda seketika bisa membedakan mana yang penting dan tidak penting. Mana yang esensi dan mana yang aksesoris.

Sekarang Anda mungkin tergerak untuk bertanya, bagaimana caranya mengalami pertemuan itu? Saya pun harus jujur menjawab: tidak tahu pasti. Namun kali ini saya tertarik ingin mencari tahu, bersama-sama dengan Anda. Sama halnya kita tidak tahu kapan petir akan menyambar, tapi kita bisa mempersiapkan diri untuk disambar petir.

Inilah ide yang sekarang tengah membakar saya, yang mudah-mudahan bisa saya laksanakan pada awal tahun depan: membuat sebuah workshop penulisan intensif, bukan untuk menjadi penulis best-seller, bukan juga untuk memenangkan lomba, bukan untuk karyanya diterima penerbit, melainkan untuk membangunkan sang pujangga yang tertidur.

Pernahkah Anda melihat kandang macan di siang hari? Binatang yang sangat indah, tapi cenderung membosankan berhubung kerjanya cuma tidur. Sekarang bayangkan macan itu adalah pujangga dalam diri kita. Sekalipun kita sudah banyak menciptakan kalimat-kalimat indah, belum tentu kita menyuarakan kejujuran kita yang terdalam. Saat kita melihat seekor macan tertidur di kandang, yang mengaum di kepala kita adalah cerita-cerita orang tentang macan, atau pengetahuan kita tentang macan yang didapat dari brosur, buku, atau teve. Tapi selama macan itu belum mengaum langsung, sesungguhnya kita tidak pernah mendengar suara dia yang sebenarnya.

Saya ingin mendengar macan itu mengaum dan merobekkan cakarnya. Bahkan lebih dari itu, saya ingin macan itu merdeka dari kandangnya kemudian berlari bebas dan kembali jadi raja hutan. Pujangga dalam diri kita kini terkurung dan tertidur pulas. Terbius oleh aturan dan kata-kata orang. Bahkan kebanyakan dari kita tak menyadari sang pujangga itu ada.

Di sinilah saya menemukan titik temu antara menulis dan meditasi. Writing and Zen. Di luar embel-embel gemerlap profesi penulis, kegiatan menulis adalah samurai tajam yang mampu mengupas lapis demi lapis diri kita. Siapa dan apa yang sesungguhnya bersembunyi di balik tabir pikiran dan baju kata-kata? Dari mana datangnya itu semua? Menulis juga mampu membantu kita berjarak dari kemelut ego, dari “aku” yang mengira dirinya pusat segala hal. Jarak tersebut memampukan kita untuk melihat sesuatu dengan lebih jernih, netral, tidak menghakimi. Itulah kepekaan yang ingin kita asah melalui meditasi. Dan kepekaan itu jugalah yang bisa kita asah melalui aktivitas menulis dalam konteks meditatif.

Berbeda dengan “pengetahuan” yang diturunkan secara estafet, Zen bagi saya adalah pengalaman langsung. A path of direct knowing. Sesuatu yang universal dan bisa diakses oleh siapa saja terlepas dari ragam latar belakang dan kepercayaannya. Pada hakikatnya “pengetahuan” sudah mati, sementara “mengetahui langsung” adalah aktivitas hidup yang terjadi secara spontan. Itu jugalah yang membedakan antara “menulis dari hati” dengan “menulis berpikir”. Meski kita sering mengklaim bahwa tulisan kita adalah tulisan dari hati, seringkali yang terjadi adalah tulisan yang kita “pikir” dari hati. Sebaliknya, menulis dari hati juga bukan berarti tanpa proses berpikir sama sekali. Tapi dalam hal ini pikiran kita ditempatkan sebagai gerbong yang ditarik, bukan lokomotif.

Tentunya ini akan menjadi perjalanan yang membutuhkan banyak keberanian. Berani menghadapi diri sendiri dan bertarung dengan ketidakpastian. Tidak hanya bagi pesertanya tapi juga bagi fasilitatornya. Kita sama-sama tidak tahu macan jenis apa yang menunggu Anda di bawah sana. Bahkan kita tidak tahu akan menemukannya atau tidak. Tapi, tidakkah perjalanan ini menjadi sesuatu yang layak dicoba?

Workshop tersebut akan memiliki sebuah bunyi: ZWAMP!

Zen Writing Camp. Dua malam tiga hari. Hanya Anda, aksara, dan misteri. Sama-sama kita bersafari, membangunkan pujangga di dalam kandang, dan mendengarnya mengaumkan apa yang paling sejati.
Read More ..

Friday, November 28, 2008

Hail, All Ye Writers!

Hail, All Ye Writers!


Februari 2001. Percetakan Dian Rakyat. Napas saya tertahan. Mata mengerjap takjub. Benda itu merembeskan hangatnya ke telapak tangan saya. Rasanya bagai menarik keluar seloyang bolu dari oven, mengepul dan harum. Kue Valentine terindah yang pernah saya lihat. Biru, berbinar seperti batu safir, dan ada segaris nama saya tercantum di sana, tercetak dengan warna putih. Pikiran saya seketika bergeliat dan menggali setumpuk kenangan masa kecil, merunut remah-remah roti yang menjadi penunjuk setapak menuju momen Valentine di percetakan besar di Pulogadung itu:

Umur 9 tahun, menulis di buku tulis bersampul foto artis Dian Pisesha dengan pulpen merk Le Pen bertinta biru, cerita berjudul “Rumahku Indah Sekali”, sedari kecil saya memang tidak peduli dengan tulisan pendek, atau artikel jurnalistik, saya cuma ingin menulis buku… lalu, setumpuk jurnal yang saya tulis sejak kelas 1 SMP dalam beraneka bentuk agenda dan kini saya simpan rapi dalam peti berwarna perak, agar kalau rumah saya kebakaran tidak perlu repot lagi geledah sana-sini, saya tinggal melempar peti itu keluar jendela demi menyelamatkan log perjalanan seorang pelayar kehidupan bernama Dewi Lestari… lalu, laptop pertama saya, merk Digital, tahun 1996, perkakas andal yang amat saya banggakan, yang sering membuat orang melirik iri karena waktu itu belum banyak orang ber-laptop, apalagi cewek belasan tahun yang tidak kelihatan seperti eksekutif atau dosen, bersamanya saya melahirkan “Filosofi Kopi”, “Perahu Kertas”, dan masih banyak lagi cerita pendek-panjang, tamat-gantung… semangat itu tidak pernah mati sekalipun tulisan saya lebih banyak dibaca diri sendiri atau oleh segelintir penghuni rumah Patrakomala 57 beserta anak-anak kosnya… dan akhirnya, pada hari cinta tahun 2001, saya rampungkan setapak itu. Berujung pada sebuah kitab biru berjudul “Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh” (KPBJ).

Datang dari dunia hiburan di mana promosi agresif dan persuasif menjadi sebuah kelaziman, tanpa banyak berpikir saya langsung menyusun rangkaian aktivitas untuk mempromosikan buku saya. Dari mulai launching, promo radio, bedah buku, booksigning, dsb. Tanpa bermaksud narsis, memang tidak berlebihan kalau Taufik Ismail berkata bahwa Supernova membawa kesegaran baru pada dunia sastra Indonesia. Bukan cuma masalah kontennya. Jika saya kilas balik ke belakang, salah satu kontribusi terbesar Supernova adalah perubahan paradigma pemasaran buku Indonesia yang dipicunya saat itu.

Dulu, promosi buku tidak jauh-jauh dari mencetak poster atau resensi di majalah. Talkshow, booksigning, dan launching, merupakan peristiwa langka yang hanya dicicip segelintir penulis beruntung. Baru setelah Supernovalah industri perbukuan bergerak ke arah marketing yang lebih ekspansif. Menjemput pembaca ketimbang menunggu pembaca yang datang ke rak buku. Promosi buku kini menjadi perihal yang wajib ditagih penulis pada penerbitnya.

Dulu, semua orang bilang saya gila ketika tahu saya mencetak 7000 buku sekaligus. Sebetulnya, saya bukan gila, melainkan polos dan goblok. Saya tidak tahu apa-apa soal pakem perbukuan, bahwa yang namanya best-seller saat itu adalah laku 3000 eksemplar dalam satu tahun, sehingga mencetak 7000 buku untuk cetakan pertama bisa dibilang perbuatan bunuh diri atau malah ultra PD. Sekarang buku saya dicetak dalam satuan 10.000 eksemplar. Paling ekstrem bahkan pernah diterobos oleh “Supernova: Akar”, yakni dicetak 40.000 buku sekaligus.

Boleh dibilang saya memang nekat karena berani menguras semua tabungan pribadi saya untuk memproduksi Supernova KPBJ pertama kali, tapi saya tidak menganggap itu gila. Bagi saya, itu justru harga yang teramat murah untuk terwujudnya sebuah mimpi. 16 tahun saya menanti. Saya merasa berutang pada Dewi Lestari umur 9 tahun. Saya ingin buku tulisnya bermetamorfosa menjadi sebuah buku betulan. Dari tulis tangan tinta biru menjadi buku cetak bersampul biru. Dari sampul foto artis ’80-an pelantun lagu-lagu sendu menjadi foto dirinya sendiri yang tercetak mungil di sampul belakang. Saya tidak peduli uang saya kembali atau tidak. Saya bahkan tidak peduli ada orang yang baca Supernova atau tidak. Saya melakukan itu semua untuk diri saya, untuk si Dewi kecil.

Rangkaian aktivitas Supernova KPBJ lantas bergulir seperti bola salju yang makin besar. Saya bahkan tidak pernah merancang apa-apa lagi, tinggal mengatakan ‘ya’ pada semua pihak yang menawarkan untuk berpromo, dari mulai toko buku, radio, kampus, sampai mall. Seorang sahabat bahkan pernah membuatkan roadshow tiga hari di Yogya, lengkap dengan kru teve, tanpa saya mengeluarkan biaya sepeser pun. Sekurang-kurangnya saya bedah buku 40 kali dalam tiga bulan, belum ditambah interview media, dsb. Seumur hidup, belum pernah saya harus menghadapi publik dan media seintens itu. Sesering itu. Sampai pada satu titik… saya muak.

Satu hari, seusai bedah buku di Gramedia di kota Yogya, saya lari ke ruang karyawan, mengunci diri, hanya untuk menangis sejadi-jadinya. Mengulang-ulang hal serupa, mendengar pertanyaan yang itu-itu lagi, membuat saya merasa seperti kaset soak. Ingin bungkam. Ingin masuk gua dan kembali hibernasi. Promosi Supernova KPBJ memakan waktu saya selama 1,5 tahun. Saya nyaris tidak punya kesempatan untuk menulis episode berikutnya. Energi saya terkuras habis. Semangat saya meredup. Saya cinta berkarya tapi mempromosikan karya ternyata adalah hal yang sama sekali berbeda.

Namun setiap karya membawa pengalaman dan pelajaran yang selalu unik dan berbeda. Tujuh tahun sejak penerbitan Supernova, sudah enam judul buku yang saya rilis. Angka yang cukup bagus dan terbilang produktif. Masa-masa sukar dalam setiap proses kreatif maupun fase pemasaran berhasil saya lalui dan semua itu terus memperdalam pemahaman saya akan menulis, industri perbukuan, dan juga akan diri saya sendiri.

Saya ingin berbagi sesuatu dengan Anda semua, penulis atau bukan, sekelumit perenungan dari perjalanan saya menjadi seorang penulis:

Pertama, menulis adalah hal yang sangat mendasar, sama seperti berbicara. Ini adalah keistimewaan manusia yang tidak dimiliki spesies lain. Jangan pernah tenggelam dalam asumsi bahwa hanya mereka yang berbakatlah yang bisa jadi penulis. Selama Anda berteguh hati untuk menggali ke dalam diri, niscaya Anda akan menemukan sebuah “sumber air abadi”. Semacam sungai bawah tanah yang selamanya mengalir dan berair. Inilah tempat para pujangga mereguk inspirasi untuk kemudian dibawa kembali ke permukaan dalam kemasan berlabelkan nama mereka. Namun, di sumbernya, air itu tidak bernama dan bisa dimiliki siapa saja.

Ketika hadir fase yang disebut-sebut “nggak ada inspirasi”, atau “habis ide”, sesungguhnya bukan inspirasi atau ide yang tahu-tahu minggat dan menguap. Sumber air itu tidak pernah kering. Pipa kitalah yang seret, kotor, atau tersumbat. Inspirasi mengaliri Anda saat saluran Anda memang sudah disiapkan dan dijernihkan. Ia tidak ke mana-mana. Tinggal menunggu Anda menangkap dan mendengar saja.

Kedua, “Menulis” dan “Penulis” adalah dua hal yang sangat berbeda. Jangan sampai terkecoh, karena dalam perjalanannya kelak, keduanya bisa tertukar atau terselamur. Menulis adalah aktivitas yang hidup; kendaraan Anda untuk menggali dan menemukan sumber ilham di bawah sana. Penulis adalah titel yang disandangkan orang lain bagi Anda. Semacam trofi yang dihadiahkan publik atas penggalian Anda ke dalam. Namun trofi itu hanyalah pajangan mati, dan ilusi yang dihadirkannya berkekuatan luar biasa dan dapat membius Anda. Menyelimuti Anda dengan kabut yang pada akhirnya mengecoh semua, termasuk diri Anda sendiri. Seseorang bisa disebut Penulis meskipun ia berhenti menggali. Dan seseorang yang selalu menggali belum tentu punya predikat Penulis.

Untuk tetap menulis, terkadang kita harus berani mengorbankan predikat kepenulisan kita. Meninggalkan permukaan, benderangnya lampu sorot dan elu-eluan massa, kembali menyelam, melebur dalam kegelapan gua, kembali bertarung dengan halaman kosong tanpa peduli apa yang terjadi di atas sana. Hanya dengan menulis Anda bisa kembali mereguk air itu. Sebaliknya, titel penulis mengeringkan kerongkongan dan berisiko membuat Anda mati kehausan. Jadi, jangan salah membedakan mana menulis dan mana “kabut”-nya.

Terakhir, dan terpenting. Sampai Anda merasakan sendiri, jangan percaya kata-kata saya ini: menulis adalah meditasi. Dalam satu percakapan, Reza pernah berkata: jika membaca adalah proses untuk mencari kebenaran, maka menulis adalah proses di mana kita menemukan kebenaran kita sendiri. Saya amat sepakat. Bukan karena kalimatnya indah, tapi karena sungguh-sungguh saya alami. Otentisitas hanya lahir jika Anda mau bertarung dengan diri sendiri. Bukan dengan sekadar berlindung di balik tameng kebenaran warisan, kata orang, atau segunung kitab. Jika religi dimaknai sebagai sesuatu yang hidup, empiris, otentik, dan bukan sebaris huruf di KTP, then writing IS (one of) my religion(s).

Hingga sekarang, saya masih terus belajar, menggali, bergelut dan bergulat. Khususnya pada masa saya aktif memasarkan buku, pada saat itulah kabut kepenulisan terasa sangat menyesakkan. Dan ironisnya, pada saat itu jugalah paling sering terjadi kesalahpahaman antara saya dengan orang-orang di sekitar saya. Inilah masa yang paling penuh cobaan dari berkarya. Ketika saya tak lagi berduaan dengan karya saya layaknya pasangan dimabuk cinta yang merasa dunia cuma milik berdua. Begitu karya dilahirkan ke dunia materi, dibungkus dalam kemasan, yang terjadi adalah hubungan ramai-ramai. Ribut dan pengap. Tarik-tarikan kepentingan.

Sungguh sukar untuk membahasakan apa yang terjadi dalam diri saya tanpa digeneralisasi secara terburu-buru sebagai ‘rumit’, ‘tidak kooperatif’, ‘terlalu seniman’, ‘tidak jelas’, ‘suka ngilang’, ‘susah dihubungi’, dsb. Sungguh sukar untuk berjalan seimbang di atas tali tipis dengan dua lusin bola yang harus terus berputar di udara. Dan lebih sukar lagi untuk tiba pada pemahaman ini dan menerimanya dengan ikhlas. Menulis dan menjadi penulis; berkarya seni dan menjadi seniman, pada akhirnya adalah paduan magis antara surga dan neraka yang di dalamnya kita bertumbuh kembang untuk menjadi bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Kedua gerbang itu harus dilalui untuk akhirnya bebas dari jerat keduanya.

Teman-teman semua, hanya itulah yang patut diingat dari perjalanan saya berkarya. Sungguh.

Semoga Anda bisa memetik manfaat dari tiga renungan sederhana ini. Penulis atau bukan. Seniman atau tidak. Pada dasarnya, kita semua sama sekaligus berbeda. Kedua gerbang yang harus diterabas batasnya agar jiwa kita bebas seutuhnya.
Read More ..

Tuesday, October 21, 2008

A Night With Vikram

A Night With Vikram


Minggu lalu (14/10) saya mendapatkan kesempatan langka. Sebuah jamuan makan malam di bilangan Darmawangsa bersama seorang penulis dunia yang sangat sohor: Vikram Seth.

Saat saya dan Reza tiba, sudah ada beberapa teman penulis yang berkumpul: Djenar Maesa Ayu, Richard Oh, Nirwan Arsuka, sang tuan rumah Rayya Makarim, dan teman-teman lainnya. Saya kangen mereka. Ada citarasa khusus yang selalu tercicip tiap teman-teman penulis ini berkumpul. Saya tidak bisa mengartikulasikannya. Yang jelas atmosfer ini sangat khas, terasa baik dalam topik obrolan maupun lelucon yang terlontar. Dan saya rindu itu.

Vikram datang bersama Janet DeNeefe, pemrakarsa sekaligus direktur dari Ubud Writer’s Festival yang mendatangkan Vikram ke Indonesia untuk pertama kalinya. Tak lama kemudian, Goenawan Mohammad pun muncul di pintu sambil melambaikan tangan. Lengkaplah sudah tamu undangan.

Makan malam diadakan di halaman belakang. Kombinasi indah antara langit dan siluet pepohonan menaungi kami. Namun berhubung ketersediaan waktu saya malam itu terbatas, terpaksa saya buru-buru ikut menyodok giliran bersama Richard untuk meminta tanda tangan Vikram di buku-bukunya. Richard membawa setumpuk koleksi novel Vikram miliknya. Saya cuma punya satu: “An Equal Music”.

* Vikram & Richard Oh


* Vikram & Me

Pemandangan sureal pun terjadi. Vikram dan Richard bercakap-cakap lancar dalam bahasa Mandarin. Bergantian secara frantik, Vikram bicara dengan bahasa Inggris yang sempurna. Belakangan saya tahu dia pun bisa berbahasa Arab. Dan, tentu saja, Hindi. Vikram bahkan menuliskan nama saya dalam bahasa Hindi di atas tanda tangannya.

Dalam pembicaraan yang terbilang cukup singkat, hanya sekitar sejam, saya merasakan kesan yang mendalam. Anehnya, kesan ini tidak jelas tentang apa dan bagaimana. Pembicaraan kami terbilang ringan-ringan saja, bahkan konyol. Kami ngobrol seputar kebiasaan orang Batak yang gemar memberi nama “ajaib”, sekilas tentang kisah pewayangan, dan sekelumit aneka pengalaman Vikram sebagai seorang penulis kelas dunia.

Namun, bagi saya ada satu hal yang mencuat dari sosok Vikram Seth: rasa ingin tahu. Saya mengamati bagaimana ia begitu fokus sekaligus luwes saat bercengkerama dengan kami satu per satu, berusaha menghafal nama kami dan menelusuri maknanya, bagaimana ia lebih suka bepergian sendiri karena itu membuatnya lebih leluasa berinteraksi dengan orang-orang, bagaimana ia tahu bahwa ada budaya Minang yang bertetangga cukup dekat dengan budaya Batak—dan hal ini ia ketahui hanya lewat obrolan dengan sopir taksi yang mengantarnya ke Darmawangsa.

Rasa ingin tahu seperti itulah yang selalu berusaha saya artikulasikan saat ditanya: apakah modal terbaik seorang penulis? Seorang penulis adalah petualang. Ia berjalan menuju tempat-tempat dalam dirinya dengan lebih rajin dan lebih eksploratif ketimbang turis biasa. Ia tidak mengambil “paket wisata” bersama serombongan orang banyak lainnya. Ia pergi sendiri, berbekal intuisi dan rasa ingin tahu, siap dengan risiko tersasar, gagal, dan jadi gembel. Ia mengamati, bergelut dan bergulat dengan pengamatannya, kemudian meramu dan menyajikannya bak seorang koki menyuguhkan hidangan terbaiknya.

Seorang penulis tidak mutlak memiliki kehidupan dan pengalaman pribadi yang serba luar biasa. Namun seorang penulis harus memiliki hasrat menggali yang luar biasa, yang menjadikan hal kecil sekalipun menjadi istimewa dan bermakna. Ia mampu menemukan mutiara dalam setiap pengamatan, dalam setiap penelusuran. Dan yang lebih penting, ia mampu menyampaikannya dengan jernih. Bukan untuk siapa-siapa. Tapi untuk dirinya sendiri. Seorang penulis berkata-kata bukan untuk melayani orang lain, melainkan untuk menuntaskan keingintahuannya sendiri terlebih dulu.

Amitav Gosh, salah satu penulis dunia yang juga pernah hadir di Ubud, pada salah satu sesinya berkata: “Pada dasarnya saya hanya menuliskan buku yang ingin saya baca.” Saat mendengar kalimat itu saya pun terpana. Dalam hati saya berseru: itu dia! Itulah yang selalu saya rasakan sejak pertama kali menyadari hobi satu ini. Seorang penulis selalu mengawali perjalanannya dari meniti diri sendiri. Jadi, tidaklah berlebihan jika dibilang bahwa menulis adalah perjalanan menemukan diri. Dan dalam perjalanannya, kita bisa tersesat, bahkan terpaksa merelakan kewarasan, citra diri, dan aneka bungkus “masuk akal” yang kita dapat dari lingkungan eksternal. Tersesat atau tidak, pada akhirnya perjalanan yang ditempuh seorang penulis adalah perjalanan tanpa tujuan. Apa yang kita temui dalam perjalanan itulah yang bermakna. Berisiko. Berharga.

Duduk di bawah pepohonan dan langit malam yang jernih, bersama para “petualang” lain, membuat saya sejenak menghela napas. Vikram berkata, salah satu kendala para penulis adalah mereka tak sempat lagi membaca. Saya sendiri mengakui itu. Membaca terkadang menjadi kemewahan atau sekadar bagian dari fantasi hari tua. Namun terkadang, membaca tidaklah terbatas pada teks di atas kertas. Udara ini, atmosfer ini, obrolan-obrolan ringan ini, gelas-gelas kosong yang minta kembali diisi… menjadi salah satu buku yang paling mengesankan yang pernah saya baca.

Sekelebat hadirnya seorang petualang bernama Vikram Seth, bersama sekumpulan petualang lain yang berceletuk dan terbahak bersama, sungguh membuat saya merasa perjalanan ini tidak sia-sia.

Begitu juga atas hadirnya Anda semua.


Read More ..