Showing posts with label Nostalgia. Show all posts
Showing posts with label Nostalgia. Show all posts

Tuesday, August 11, 2009

Manusia Bukan "Mama"

Manusia, Bukan Cuma “Mama”



Dua malam sebelum jadwal siaran rutinnya setiap Selasa pagi di Cosmopolitan FM, Reza mendiskusikan topik siarannya dengan saya. Dia ingin membahas dinamika relasi anak yang sudah dewasa dengan orangtuanya. Saya langsung setuju. Jatuh-bangun dan pahit-manis dinamika tersebut adalah masalah universal yang harus dihadapi oleh semua orang. Cepat atau lambat. Suka tak suka.

Kami lantas berdiskusi tentang banyak aspek, antara lain: pengondisian orangtua kita dulu yang akhirnya membentuk perilaku dan pola asuh mereka terhadap kita, hingga seringkali yang mereka terapkan bukanlah yang terbaik bagi anak melainkan sekadar meneruskan warisan dari orangtua mereka sebelumnya. Dan hal itu berlangsung dari generasi ke generasi, termasuk pada kita saat kebagian giliran jadi orangtua. Belum lagi kalau ternyata pola-pola tersebut meninggalkan trauma. Dalam pekerjaannya, Reza tak jarang menemukan belitan trauma akibat pola asuh masa kecil yang bisa mencengkeram seseorang meski umurnya sudah uzur.

Aspek lainnya lagi yang kami bahas adalah kejujuran yang utuh dan lengkap dalam komunikasi antara anak dan orangtua. Seringkali, karena takut dibilang durhaka, tekanan normatif, dsb, kita memilih untuk tidak terbuka seratus persen pada orangtua kita. Akibatnya, anak tetap tidak bisa menunjukkan otentisitasnya sebagai individu, dan orangtua pun terus ‘terperangkap’ dalam ilusi bahwa anaknya, mau berapa pun usianya sekarang, tetaplah Si Upik dan Si Buyung yang harus terus menerus diawasi dan dikendalikan.

Namun baru pada pagi inilah, saat saya mendengarkan siaran Reza secara langsung, mendarat hantaman yang juga langsung di batin saya. Pada segmen-segmen akhir, Reza berbicara mengenai transisi yang seringkali tak lancar—bahkan mungkin tak pernah terjadi—dalam perubahan peran “anak” dan peran “orangtua” menuju individu-individu yang real, sejajar, dan apa adanya. Kita jarang atau bahkan tak pernah mengenal orangtua kita sebagai manusia—titik—dan bukannya Sang Pemberi Kehidupan, Sang Pemberi Makan, Sang Pengayom, Sang Pelindung, atau Sang Pengasuh. Sebaliknya, orangtua kita pun jarang bahkan mungkin tak pernah mengenal anak-anaknya sebagai manusia—saja—dan bukannya Si Buah Hati, Si Penerus Keturunan, Si Harapan Bangsa & Keluarga, dst. Semua “Sang” dan “Si” tadi memang terdengar luhur dan mulia, tapi juga membius dan melenakan jika kita terus terjebak di dalamnya.

Izinkan saya berbagi sekelumit kisah pribadi. Tentang saya dan perempuan dalam foto di atas... Mama.

Dengan kondisi ayah saya yang seorang perwira militer dan mengharuskannya untuk pindah-pindah tempat dinas, otomatis ibu sayalah yang lebih banyak di rumah untuk mengurusi anak-anak. Saya bertemu ayah saya hanya setiap akhir pekan. Dan dalam dua-tiga hari itu, ayah saya lebih sering menjelma menjadi Sinterklas yang selalu membawakan oleh-oleh, uang saku ekstra, dan kesenangan lainnya.

Sementara itu, dalam dinamika harian dari Senin hingga Jumat, Mama harus berperan ganda menjadi ibu sekaligus ayah bagi kami. Mama memasak dan mengatur rumah, juga menjadi “polisi” dan penegak kedisiplinan, ditambah lagi dengan aktivitasnya yang padat di gereja sebagai penatua, anggota kor, dan ibu asuh tak resmi bagi banyak pemuda perantauan Tanah Batak yang terdampar di Kota Bandung. Begitu banyak peran yang ia jalankan dan semuanya ia jalani dengan sangat baik. Mama adalah sosok yang luar biasa bagi lingkungannya. Dan sosok yang kompleks bagi saya.

Mama meninggal karena kanker di ususnya pada tahun 1995. Saya masih 19 tahun saat itu. Baru kuliah tingkat dua, baru memulai karier bernyanyi. Baru saja berbangga karena bisa membiayai kuliah sendiri dan berhenti minta uang saku. Baru saja menyaksikan ibu saya berbangga melihat anaknya muncul di televisi. Dan baru saja pula saya berkhayal ingin menghadiahinya wisata ziarah ke tempat-tempat suci di Timur Tengah, sebagaimana yang selalu diimpikannya sebagai umat Kristiani.

Saat orang-orang datang melayat, dan juga jauh sesudah itu, kerap saya mendengar berbagai kesan dan cerita orang-orang terhadap Mama. Mereka yang saya kenal, dan juga seringnya tak saya kenal, bercerita banyak hal yang asing di kuping saya tentang Mama. Tak jarang saya takjub bahkan terguncang, menyadari betapa saya tidak mengenal ibu saya sendiri. Dan sebaliknya. Saya merasa Mama pun tidak sempat mengenal saya. Anaknya sendiri.

“Saya ini anak yang besar di luar rumah,” begitu saya selalu berkata. Dan kurang lebih memang benar adanya. Sebagai anak yang dikenal paling cuek di antara lima bersaudara, justru sayalah yang ternyata paling kuat terkena dampak meninggalnya Mama. Saya memimpikannya setiap malam selama berbulan-bulan, dan untuk sekian lama saya tidak bisa membicarakan bahkan memikirkan Mama lebih dari tiga menit tanpa menitikkan air mata. Padahal, saat beliau masih hidup, sayalah yang paling berjarak dengannya.

Selama bertahun-tahun, banyak jawaban dan alasan yang sudah saya renungi. Namun khususnya setelah mendengarkan siaran Reza pagi ini, renungan itu menggenap. Kehilangan saya yang paling kuat bukan disebabkan karena saya belum sempat menghadiahinya wisata melihat Betlehem, bukan karena Mama tidak sempat melihat saya memberinya cucu, bukan karena banyaknya peristiwa penting dan bersejarah dalam hidup saya yang membutuhkan kehadirannya, tapi semata-mata karena saya belum mengenalnya sebagai manusia—titik. Dan yang paling menyakitkan adalah, setiap saya ingin mengenang beliau, saya selalu berbenturan dengan tembok tebal yang diciptakan aneka peran yang Mama mainkan selama hidupnya. Ditambah lagi dengan tameng dari peran saya sendiri sebagai anaknya.

Selama ia hidup, saya hanya mengenalnya sebagai ibu. Mama. Inang Mangunsong. Saya tidak kenal perempuan bernama Tiurlan Siagian. Dan sebaliknya, saya pun merindu dan meradang untuk ia kenali sebagai manusia—saja. Bukan semata anak keempatnya yang hobi menulis dan menyanyi. Dalam sembilan belas tahun kami berinteraksi, kami belum sempat menanggalkan peran-peran kami sebagai ibu dan anak, berjabat tangan atau berpelukan atau sekadar menatap satu sama lain sebagai dua individu yang otentik, yang sejajar, yang real. Ia pergi sebelum kami sempat bertransisi.

Ayah saya kini berusia 71 tahun. Barangkali tak selamanya ia merasa beruntung hidup lebih lama, karena dengan demikian ia “terpaksa” menyaksikan segala tingkah-polah kelima anaknya yang bertransisi menjadi manusia dewasa, lengkap dengan segala konflik dan pertentangan batin yang turut menyertai proses tersebut. Namun, walaupun mungkin tidak terus-terusan, setidaknya saya sempat merasakan interaksi kami berdua bertransisi dari ayah dan anak menjadi manusia dan manusia.

Pagi ini, saya memberanikan diri untuk berkata: sesungguhnya, itulah hadiah terbaik yang bisa kita berikan pada orangtua kita. Itu jugalah hadiah terbaik yang kelak bisa kita berikan bagi anak kita. Dan hanya itulah persembahan terbaik yang bisa kita tawarkan bagi sesama manusia di sekeliling kita. Meski secercah, meski tak selamanya berakibat indah, otentisitas dan kejujuran kita sebagai manusia adalah satu-satunya jabat tangan yang riil antarhati. Antarjiwa. Hanya dengan demikian kita benar-benar tahu rasanya “terhubung”. Dan sungguh, itu adalah pengalaman yang nyaris punah.

Selama kita bersembunyi dan terperangkap dalam peran-peran yang kita jalankan, selama itu pulalah interaksi yang terjadi hanya sebatas tameng. Sebatas pengondisian. Kita bahkan bisa berjalan sepanjang hayat dikandung badan di atas planet ini tanpa pernah menyadari topeng-topeng yang kita kenakan, yang meski dalam interaksinya kita bisa saja merasakan cinta, kedamaian, keindahan, dan hal-hal positif lainnya. Namun ada sesuatu yang lebih dari itu semua.

Kesempatan itu sudah tidak ada lagi bagi Mama dan saya, setidaknya dalam kehidupan kali ini. Tapi kesempatan itu masih ada untuk saya gunakan dengan ayah saya, anak saya, suami saya, kakak-adik saya, dan semua orang dalam kehidupan saya. Begitu juga dengan Anda dan siapa pun yang masih ada dalam kehidupan Anda sekarang. Semoga saja kita mau dan berani menggunakannya.
Read More ..

Sunday, April 12, 2009

Seratus Bagiku

Seratus Bagiku


Untuk pertama kalinya saya akan bercerita tentang sejarah “Seratus” dalam hidup saya. Bukan karena cerita itu teramat penting dan besar, tapi justru karena keremehannya yang luar biasa. Dan remehnya itulah yang menarik bagi saya.

Dalam sebuah pembicaraan iseng dengan Reza, dia berceletuk tentang satu jajanan legendaris tahun ’80-an bernama “Es Jolly”. Otak saya langsung berputar dan menggali kenangan tentang Es Jolly. Siapa yang (dulu) tidak kenal Es Jolly? Seperti Oreo di masa sekarang yang terkenal dengan kredo “diputar, dijilat, dan dicelup”-nya, maka Es Jolly pada masa itu terkenal dengan gerakan mematahkan batang es menjadi dua, lalu menyeruput dengan hebohnya sampai pipi kempot.

Es Jolly begitu kencang didagangkan dan diiklankan. Saya, yang pada saat itu masih SD, juga jadi korban iklan. Saya hafal mati ritual mematahkan dan menyeruput batang esnya, saya tahu bahwa rasa yang paling difavoritkan khalayak adalah Orange dan Grape, tapi saya pun tersadar akan sesuatu yang aneh… kok, rasa-rasanya saya sendiri belum pernah mencicipi Es Jolly. Reza melongo tak percaya, “Masa belum pernah?” serunya. Saya mengingat-ingat lebih keras. Melintaslah kenangan Dewi kecil yang berpura-pura mematahkan es lalu menyeruput udara hampa dalam kepalan tangannya, air liur yang mengumpul saat membayangkan sensasi rasa Es Jolly yang ramai dibicarakan orang… dan, ternyata memang benar: saya hanya sering berkhayal menikmati Es Jolly, tapi pada kenyataannya saya belum pernah mengecapnya sekalipun.

Saya lalu iseng menelusuri misteri tadi: mengapa? Mengapa saya tak pernah mencicip Es Jolly?

Penelusuran itu lantas mempertemukan saya dengan sekeping logam. Seratus perak. Angka keramat yang menghiasi ribuan hari-hari saya sewaktu kecil.

Setidaknya empat tahun terakhir masa bersekolah saya di SD, ibu saya dengan setia memberikan uang jajan yang sama: seratus perak. Mungkin karena pada masa itu inflasi tidak meroket dengan kecepatan menggila seperti sekarang, saya bisa bertahan empat tahun dengan jumlah uang jajan yang tetap.

Seorang anak SD bertubuh ceking, dengan logam 100 perak di kantong, haruslah pintar-pintar menata energi tubuhnya dalam enam jam bersekolah dengan dua kali slot istirahat. Setiap bel istirahat berbunyi saya punya jatah 50 perak untuk menuntaskan dahaga serta mengenyangkan perut. 25 perak untuk satu jenis makanan. 25 perak untuk satu jenis minuman. Demikian seperti itu setiap hari.

Jika saya ngiler pada satu makanan atau minuman yang harganya di atas 25 perak, maka neraca keseimbangan saya bubar. Terpaksa memilih satu: menahan haus atau menahan lapar. Jika beberapa dagangan favorit tertentu baru muncul pada jam bubar sekolah, saya pun harus rela gigit jari sewaktu istirahat karena 50 perak saya terpaksa ditahan pemanfaatannya sampai jam 12 siang nanti. Tanpa terasa, hidup saya bergravitasi di angka “selawe” (istilah nasional: 25 perak). Apa pun yang selawe berarti di dalam jangkauan, sementara apa pun yang di atas selawe berarti pengorbanan atau cuma jadi khayalan.

Berikut daftar menu standar saya saat bersekolah:
  • 1 bala-bala (istilah nasional: bakwan) dan 1 limun (sirup kuning dalam plastik dengan sedotan berdiameter super kecil yang elastis)
  • 1 cilok (singkatan dari: aci dicolok) ukuran besar dan 1 es lilin yoghurt
  • 1 pisang goreng dan 1 es nangka
  • 1 bungkus kerupuk (atau dua bungkus, karena kadang-kadang masih ada yang harganya selawe dua) dan 1 buah iris
  • 1 kue bandros (istilah nasional: tidak tahu) dan 1 es teh
  • … dan aneka kombinasi makanan berharga selawe lainnya.
Misteri Es Jolly terungkap sudah. Meski saya tidak ingat persis berapa harganya, bisa dipastikan bahwa Es Jolly berada di luar jangkauan”orbit” seratus perak saya. Terjawab jugalah mengapa saya baru mencicip rasa Teh Botol di bangku SMP: karena Teh Botol dulu harganya 75 perak. Benar-benar mengacaukan neraca ekonomi. Saya hanya sanggup melirik teman yang menyeruput Teh Botol berbongkah es dalam plastik sambil menerka-nerka: kayak apa sih rasanya? Terjawab pula mengapa saya baru mencicip Coca Cola—juga—waktu SMP. Karena harganya seratus perak.

Keluarga saya bukan tergolong keluarga miskin. Walaupun cenderung sederhana, kami termasuk keluarga ekonomi menengah yang masih sanggup menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi, punya satu mobil, rumah yang cukup luas, dan makanan bergizi setiap hari. Namun saya tidak pernah tahu alasan pasti kenapa ibu saya selama empat tahun hanya memberikan uang saku 100 perak. Barangkali itulah yang akan tetap bertahan menjadi sebuah misteri. Karena ketika beranjak besar barulah saya sadar perbedaan pengalaman kuliner masa kecil saya dengan hampir semua orang yang saya temui. Rata-rata mereka mencicip jajanan yang saya cicip, tapi saya tidak mencicip apa yang kebanyakan dari mereka cicip.

Selingkar koin seratus menjadi tempat saya berputar selama bertahun-tahun. Sekali lagi, saya tidak tahu pasti manfaat penelusuruan iseng ini. Namun sejenak saya tercengang bagaimana kekuatan jumlah uang saku dan ruang yang dimungkinkannya dapat membentuk semesta pengalaman seseorang.

Bagaimana dengan pengalaman yang dihadirkan uang saku Anda?


EPILOG

Barangkali akibat pengalaman masa kecil tersebut, inilah satu kebiasaan yang (entah kenapa dan entah bagaimana) bertahan hingga hari ini saat usia saya sudah kepala tiga:



PS-1. Ide epilog ini dicetuskan oleh Reza, yang tadinya saya mintai tolong untuk mengambil gambar tangan saya memegang sekeping uang 100 perak, tapi setelah dia melihat “koleksi” saya, dia merasa bahwa kantong tersebut lebih menarik dijadikan objek gambar sekaligus kesimpulan tulisan ini (sambil dia tertawa terbahak-bahak, tentunya). And… yeah… I think he’s right.

PS-2. Isi kantong itu sudah berkurang tiga perempatnya karena koin 500-an sudah dipakai untuk bayar parkir dan tol, sementara sebagian besar koin lainnya sudah saya “recycle” untuk Keenan berlatih menabung di celengan.

Read More ..