Tuesday, August 11, 2009

Manusia Bukan "Mama"

Manusia, Bukan Cuma “Mama”



Dua malam sebelum jadwal siaran rutinnya setiap Selasa pagi di Cosmopolitan FM, Reza mendiskusikan topik siarannya dengan saya. Dia ingin membahas dinamika relasi anak yang sudah dewasa dengan orangtuanya. Saya langsung setuju. Jatuh-bangun dan pahit-manis dinamika tersebut adalah masalah universal yang harus dihadapi oleh semua orang. Cepat atau lambat. Suka tak suka.

Kami lantas berdiskusi tentang banyak aspek, antara lain: pengondisian orangtua kita dulu yang akhirnya membentuk perilaku dan pola asuh mereka terhadap kita, hingga seringkali yang mereka terapkan bukanlah yang terbaik bagi anak melainkan sekadar meneruskan warisan dari orangtua mereka sebelumnya. Dan hal itu berlangsung dari generasi ke generasi, termasuk pada kita saat kebagian giliran jadi orangtua. Belum lagi kalau ternyata pola-pola tersebut meninggalkan trauma. Dalam pekerjaannya, Reza tak jarang menemukan belitan trauma akibat pola asuh masa kecil yang bisa mencengkeram seseorang meski umurnya sudah uzur.

Aspek lainnya lagi yang kami bahas adalah kejujuran yang utuh dan lengkap dalam komunikasi antara anak dan orangtua. Seringkali, karena takut dibilang durhaka, tekanan normatif, dsb, kita memilih untuk tidak terbuka seratus persen pada orangtua kita. Akibatnya, anak tetap tidak bisa menunjukkan otentisitasnya sebagai individu, dan orangtua pun terus ‘terperangkap’ dalam ilusi bahwa anaknya, mau berapa pun usianya sekarang, tetaplah Si Upik dan Si Buyung yang harus terus menerus diawasi dan dikendalikan.

Namun baru pada pagi inilah, saat saya mendengarkan siaran Reza secara langsung, mendarat hantaman yang juga langsung di batin saya. Pada segmen-segmen akhir, Reza berbicara mengenai transisi yang seringkali tak lancar—bahkan mungkin tak pernah terjadi—dalam perubahan peran “anak” dan peran “orangtua” menuju individu-individu yang real, sejajar, dan apa adanya. Kita jarang atau bahkan tak pernah mengenal orangtua kita sebagai manusia—titik—dan bukannya Sang Pemberi Kehidupan, Sang Pemberi Makan, Sang Pengayom, Sang Pelindung, atau Sang Pengasuh. Sebaliknya, orangtua kita pun jarang bahkan mungkin tak pernah mengenal anak-anaknya sebagai manusia—saja—dan bukannya Si Buah Hati, Si Penerus Keturunan, Si Harapan Bangsa & Keluarga, dst. Semua “Sang” dan “Si” tadi memang terdengar luhur dan mulia, tapi juga membius dan melenakan jika kita terus terjebak di dalamnya.

Izinkan saya berbagi sekelumit kisah pribadi. Tentang saya dan perempuan dalam foto di atas... Mama.

Dengan kondisi ayah saya yang seorang perwira militer dan mengharuskannya untuk pindah-pindah tempat dinas, otomatis ibu sayalah yang lebih banyak di rumah untuk mengurusi anak-anak. Saya bertemu ayah saya hanya setiap akhir pekan. Dan dalam dua-tiga hari itu, ayah saya lebih sering menjelma menjadi Sinterklas yang selalu membawakan oleh-oleh, uang saku ekstra, dan kesenangan lainnya.

Sementara itu, dalam dinamika harian dari Senin hingga Jumat, Mama harus berperan ganda menjadi ibu sekaligus ayah bagi kami. Mama memasak dan mengatur rumah, juga menjadi “polisi” dan penegak kedisiplinan, ditambah lagi dengan aktivitasnya yang padat di gereja sebagai penatua, anggota kor, dan ibu asuh tak resmi bagi banyak pemuda perantauan Tanah Batak yang terdampar di Kota Bandung. Begitu banyak peran yang ia jalankan dan semuanya ia jalani dengan sangat baik. Mama adalah sosok yang luar biasa bagi lingkungannya. Dan sosok yang kompleks bagi saya.

Mama meninggal karena kanker di ususnya pada tahun 1995. Saya masih 19 tahun saat itu. Baru kuliah tingkat dua, baru memulai karier bernyanyi. Baru saja berbangga karena bisa membiayai kuliah sendiri dan berhenti minta uang saku. Baru saja menyaksikan ibu saya berbangga melihat anaknya muncul di televisi. Dan baru saja pula saya berkhayal ingin menghadiahinya wisata ziarah ke tempat-tempat suci di Timur Tengah, sebagaimana yang selalu diimpikannya sebagai umat Kristiani.

Saat orang-orang datang melayat, dan juga jauh sesudah itu, kerap saya mendengar berbagai kesan dan cerita orang-orang terhadap Mama. Mereka yang saya kenal, dan juga seringnya tak saya kenal, bercerita banyak hal yang asing di kuping saya tentang Mama. Tak jarang saya takjub bahkan terguncang, menyadari betapa saya tidak mengenal ibu saya sendiri. Dan sebaliknya. Saya merasa Mama pun tidak sempat mengenal saya. Anaknya sendiri.

“Saya ini anak yang besar di luar rumah,” begitu saya selalu berkata. Dan kurang lebih memang benar adanya. Sebagai anak yang dikenal paling cuek di antara lima bersaudara, justru sayalah yang ternyata paling kuat terkena dampak meninggalnya Mama. Saya memimpikannya setiap malam selama berbulan-bulan, dan untuk sekian lama saya tidak bisa membicarakan bahkan memikirkan Mama lebih dari tiga menit tanpa menitikkan air mata. Padahal, saat beliau masih hidup, sayalah yang paling berjarak dengannya.

Selama bertahun-tahun, banyak jawaban dan alasan yang sudah saya renungi. Namun khususnya setelah mendengarkan siaran Reza pagi ini, renungan itu menggenap. Kehilangan saya yang paling kuat bukan disebabkan karena saya belum sempat menghadiahinya wisata melihat Betlehem, bukan karena Mama tidak sempat melihat saya memberinya cucu, bukan karena banyaknya peristiwa penting dan bersejarah dalam hidup saya yang membutuhkan kehadirannya, tapi semata-mata karena saya belum mengenalnya sebagai manusia—titik. Dan yang paling menyakitkan adalah, setiap saya ingin mengenang beliau, saya selalu berbenturan dengan tembok tebal yang diciptakan aneka peran yang Mama mainkan selama hidupnya. Ditambah lagi dengan tameng dari peran saya sendiri sebagai anaknya.

Selama ia hidup, saya hanya mengenalnya sebagai ibu. Mama. Inang Mangunsong. Saya tidak kenal perempuan bernama Tiurlan Siagian. Dan sebaliknya, saya pun merindu dan meradang untuk ia kenali sebagai manusia—saja. Bukan semata anak keempatnya yang hobi menulis dan menyanyi. Dalam sembilan belas tahun kami berinteraksi, kami belum sempat menanggalkan peran-peran kami sebagai ibu dan anak, berjabat tangan atau berpelukan atau sekadar menatap satu sama lain sebagai dua individu yang otentik, yang sejajar, yang real. Ia pergi sebelum kami sempat bertransisi.

Ayah saya kini berusia 71 tahun. Barangkali tak selamanya ia merasa beruntung hidup lebih lama, karena dengan demikian ia “terpaksa” menyaksikan segala tingkah-polah kelima anaknya yang bertransisi menjadi manusia dewasa, lengkap dengan segala konflik dan pertentangan batin yang turut menyertai proses tersebut. Namun, walaupun mungkin tidak terus-terusan, setidaknya saya sempat merasakan interaksi kami berdua bertransisi dari ayah dan anak menjadi manusia dan manusia.

Pagi ini, saya memberanikan diri untuk berkata: sesungguhnya, itulah hadiah terbaik yang bisa kita berikan pada orangtua kita. Itu jugalah hadiah terbaik yang kelak bisa kita berikan bagi anak kita. Dan hanya itulah persembahan terbaik yang bisa kita tawarkan bagi sesama manusia di sekeliling kita. Meski secercah, meski tak selamanya berakibat indah, otentisitas dan kejujuran kita sebagai manusia adalah satu-satunya jabat tangan yang riil antarhati. Antarjiwa. Hanya dengan demikian kita benar-benar tahu rasanya “terhubung”. Dan sungguh, itu adalah pengalaman yang nyaris punah.

Selama kita bersembunyi dan terperangkap dalam peran-peran yang kita jalankan, selama itu pulalah interaksi yang terjadi hanya sebatas tameng. Sebatas pengondisian. Kita bahkan bisa berjalan sepanjang hayat dikandung badan di atas planet ini tanpa pernah menyadari topeng-topeng yang kita kenakan, yang meski dalam interaksinya kita bisa saja merasakan cinta, kedamaian, keindahan, dan hal-hal positif lainnya. Namun ada sesuatu yang lebih dari itu semua.

Kesempatan itu sudah tidak ada lagi bagi Mama dan saya, setidaknya dalam kehidupan kali ini. Tapi kesempatan itu masih ada untuk saya gunakan dengan ayah saya, anak saya, suami saya, kakak-adik saya, dan semua orang dalam kehidupan saya. Begitu juga dengan Anda dan siapa pun yang masih ada dalam kehidupan Anda sekarang. Semoga saja kita mau dan berani menggunakannya.

89 komentar:

Adi said...

thanks dee buat berbagi kontemplasinya :D ... BTW saya juga memikirkan hal yang sama ketika kehilangan ibu saya tahun 2004 kmrn, penyebabnya sama, apalagi saya tidak sempet menyaksikan beliau pergi karena msh ada di Jepang.

terlalu byk penyesalan, tetapi kita hanyalah manusia yang seringkali memang mempunyai keterbatasan :D

Have a nice night!!

http://blog.didut.net

de asmara said...

tepat sekali! ini yg selalu saya coba praktekkan dg manusia2 di sekeliling saya, khususnya manusia2 terdekat. tidak selalu sukses mungkin, tapi sebaiknya masing2 kita mencoba...

Bayu Probo said...

Terima kasih membagikan kisahmu. Saya pun jadi mengingat betapa ibuku pun manusia hebat. Jadi teringat istri juga, berharap tidak hanya istriku yang menjadi ibu hebat di mata anakku. Aku juga ingin menjadi ayah hebat bagi anakku.

Liris Kinasih said...

pagi dee.

aku suka dgn postingan ini. makasih ya udh ngingetin saya ttg hal ini. kdg memang saya ingin orangtua saya menganggap saya sbg manusia-saja. terimakasih ya...

leni said...

Pertamax..
kena bgt..

HitmanSystem.com said...

Well written, membuat saya juga mengenang mama. *mellow*

Salam revolusi romansa,
Lex dePraxis
Unlocked!

M Mushthafa said...

sering kali, relasi kita dengan orang berada dalam ketegangan ambiguitas (meminjam the ethics of ambiguity-nya beauvoir). refleksi dee dalam tulisannya ini buat saya adalah semacam upaya untuk menangkap keutuhan di antara ambiguitas itu. Sayangnya, sepertinya kita terus saja dilingkupi absurditas: keutuhan yang sedang dibangun dan direfleksikan itu baru muncul saat subjek penting dalam refleksi itu tak lagi hadir secara fisik.
tentu saja ini tidak lantas membuat upaya ini menjadi berkurang nilainya.
dee, terima kasih telah berbagi dan berefleksi..

dita said...

Dee..ini menyentuh sekali. Saya juga tidak terbuka dengan Mama Saya. Saya tidak pernah menunjukan rasa sayang saya kepadanya padahal saya menyayanginya. Tapi karena peran masing-masing: Mama sebagai penegak disiplin yang punya aturan dan ekspektasi kepada anaknya, sementara saya sebagai anak yang punya aktivitas macam2 dan mengalami kejadian macam2, tapi tidak berani untuk terbuka karena takut tidak sesuai dengan ekspektasi Beliau.

Mungkin sebelum terlambat, saya harus mencoba menghilangkan peran Mama-Anak dan menjadi Manusia-Manusia.

you're so inspiring

onlyoneearth said...

Dee,
kesadaran merajut interaksi 'ngewongke' sadar g sadar selama ini mungkin terhalang sekian lapis tembok. Tembok2 itu mungkin bernama ekspektasi. Ekspektasi saya terhadap alm.Papa, terhadap Mama, begitu juga sebaliknya. Saya pernah berpikir alangkah bahagianya jika alm. Papa saya seperti Paman Kedua. Terpenjara dalam ekspektasi inilah membuat saya tidak kunjung belajar menerima alm Papa, apa adanya. Kesadaran ini mungkin sudah telat untuk interaksi saya dengan alm.Papa, tapi semoga lembaran baru terbuka untuk interaksi saya dengan Mama, kakak, adik dan semua teman, sahabat yang setiap hari masih saling sapa, saling tepuk pundak, saling cipikacipiki, semoga ada kesadaran 'ngewongke'yang menghangatkan interaksi kami.
Terima kasih Dee,
Terima kasih Reza
atas inspirasinya

salam hangat;)
Chindy Tan

Dewi Lestari said...

@Chindy:
Iya, saya setuju. Salah satu "bahan baku" utama dari tembok itu adalah ekspektasi. Kadang ekspektasi ini muncul dengan kuat, tapi sering juga muncul dengan halus sehingga tak terasa. Tapi selalu ada. Rasanya memang muskil untuk tidak berekspektasi pada apa pun, karena kita begitu dibiasakan untuk selalu punya ekspektasi pada segala hal, pada siapa saja yang kita temui.
Saat ekspektasi ini berhasil terkuliti dan terseberangi, di situ jugalah kita sebagai sesama manusia kembali terhubung dengan murni. Semoga kita bisa mencicip pengalaman itu, ya.

~ D ~

sayid inayra said...

it trully is inspiring. i lost my dad 3 years ago and luckily i still have my mom. thank u for sharing this with us. :))

yupie's day care said...

sosok seorang ibu adalah sosok yang pertama dikenal oleh seorang anak. kadang aku bertanya kepada diriku sendiri 'kenapa aku merasa asing kehadiran seorang ayah dalam hidupku' dan kenyataannya bukan hanya aku yang merasakannya.
tapi dari secuil kisah anda aku baru tahu ada secuil kisah dan maksud hidup yang terlupakan oleh ku. yaitu peran seorang ayah yang sangat besar dalam keluarga,,,

andelumut said...

"Hmm...dua kata(transisi dan manusia)begitu lantang mengingatkan aku bukan sebagai anak, kakak,teman, saudara atau "peran"apapun yang aku dapatkan ketika aku berinteraksi dengan "sesamaku".
Sepertinya dua kata itu cukup sulit untuk diterapkan sampai level dimana kita bisa sejajar dengan sesama. . .
Tapi sungguh bijak jika mau mencobanya...
Makasih Kak

once_alifetime said...

Mungkin seorang mama yang jika harus menanggalkan ke'mama'annya takut tidak dihormati lagi...
Mungkin seorang anak jika harus bersikap orisinal takut tidak disayangi lagi...

Bener banget kita harus bisa jujur dan berdiri selaras dan sederajat, tanpa mendahulukan 'identitas' meski kadang terasa sulit tetap harus dicoba. Untuk saya pribadi hal ini berlangsung gradual, dari jaman pemberontakan saat remaja sampai sekarang setelah menjadi seorang mama juga, mama telah menjadi sahabat. Gak tahu pasti kapan gencatan senjata dimulai.. seperti sebuah transisi musim begitulah prosesnya.

Dodi Mulyana said...

Ah Dee, saia tidak lagi tertampar dengan kisah ini. Tapi seperti dipukul tepat di ulu hati saya. Karena sampai saat ini saya belum berhubungan antarmanusia kepada kedua orang tuanya.

A bunch thank you for this reminding. A lot!

Seni said...

seperti biasa, mbak dee, catatanmu selalu menyentuh pikir dan jiwaku, trims....
topik ini beberapa kali menjadi bahan diskusi saya dengan seseorang

Anna Elissa said...

Saya sangat bersyukur saya dan Mama bisa memandang satu sama lain seperti individu. Mama saya sepertinya punya pandangan yang mirip dengan Mbak Dee, bahwa seorang anak toh seperti sebatang anak panah yang nantinya akan melesat sendiri. Tulisan Mbak Dee mengingatkan saya betapa pentingnya menghargai individualitas seseorang, siapapun itu, terlepas dari hubungannya dengan kita sendiri.

Dark Chocolate said...

Hai Mbak Dee,

Terimakasih buat tulisannya. Saya sedang dalam proses memanusiakan diri saya dhadapan ortu dan memanusiakan mereka di mata saya. Masih suka bingung dan cukup tertekan . Love them so much,tp masih menyembunyikan diri sendiri.
Loh,jadi curhat...he5
Skali lagi,terimakasih.

Bang Del said...

Terima kasih telah berbagi Kak Dee. Waduh, ceritanya benar-benar mengingatkan daku akan almarhum ibu yang meninggal 2008. Ga sempat pula ngeliatnya. Hidup di perantauan, berpisah dengan orangtua pas usia masih 18 tahun. Berat-berat... Penyesalan tiada akhir, karena saya belum bisa mengenal ibu seutuh nya. Sungguh saya menyesal... Jika saja Tuhan mengijinkanku untuk menyusulnya secepat mungkin.

trimatra said...

saat ini masih banyak kita temui pola asuh yang salah dari orang tua, hingga anak akhirnya yang jadi korban.

nice post mbak...

Magdalena said...

ibu..
aku menyayanginya, sangat sayang sekali.
tapi bingung juga jika hampir semua yang kita pikirkan tidak sejalan. entah karena benturan jaman atau beda lingkungan.
akan menjadi sangat complicated saat membicarakan tentang seorang anak yang telah menjelma menjadi manusia dan seorang ibu yang memiliki si buyung yang telah dewasa itu.
belum lagi benturan-benturan dengan norma agama. atas nama orang tua aku akan mengorbankan cinta karena aku tidak mau menjadi durhaka sedikitpun.
walau aku harus layu selamanya
...tentu ini menjadi tidak adil...
thats a complicated relation between mom and me as a human.

Magdalena said...

akan menjadi sangat complicated..
saat berbicara tentang kata-kata durhaka, apalagi jika nanti di kaitkan dengan cinta.
mama
aku akan selalu menuruti kata-kataamu
hingga aku tidak merasa menjadi manusia dewasa
mama aku tersiksa dengan keadaan ini.

onlyoneearth said...

Terima kasih Dee,
mau nanya boleh ya..dalam praktek sehari-hari apa sih yang dimaksud dengan pikiran tidak bergerak, tidak melekat pada fenomena? sebuah ilustrasi yang cukup mengena tentang bagaimana spion hanya memantulkan apa yang ada ataupun lewat di depannya tanpa merekam dan menyimpan objek yang dipantulkannya. Apakah maksudnya dalam sehari-hari ketika kita berinteraksi dengan suatu objek atau keadaan,state'apa adanya' hanya akan tercapai bila momen kontak dengan objek/situasi tidak ada penilaian baik/buruk, tampan/jelek, wangi/busuk....bagaimana membedakan 'state' ini dengan keadaan mati rasa?

Chindy Tan

science said...

beliau itulah yang membuatku selalu bersemangat!
beliau juga yang membuatku selalu berbangga!
beliau juga yang membuatku harus bisa sukses!
beliau itu motivator terhandal!!!!"arsitek", "juru masak", ahli holistik, dokter keluarga!
tiap merenunginya, di malam hari yang sunyi selalu saja menangis...

syukurlah beliau sekarang masih disampingku!menanti putranya yang nakal ini berhasil!
beliau begitu luar biasa!

IBUKU!

"sebentar lagi bu..!"

the most inspiring posting!;D
thanks for inspiring...
for letting us muse deeper!

Dewi Lestari said...

@OnlyOneEarth:
Hehe, walau agak OOT, tapi saya coba jawab ya: kl sejauh pengalaman dan penghayatanku, jika yg dinamakan dg "tidak bergeraknya pikiran" adalah tiadanya aktivitas pikiran, maka saya sendiri belum pernah mengalaminya.

Yang pernah saya alami adalah saya TIDAK LAGI BEREAKSI atas aktivitas pikiran/batin, hanya murni mengamati. Dan dalam state tersebut, segalanya cuma sekadar lewat dan berubah, termasuk sensasi tubuh (yg mana juga sebetulnya jg merupakan aktivitas batin). Jadi berbeda dengan mati rasa. Kita masih bisa merasa tapi tidak hanyut di dalamnya. Ada jarak antara merasa dan perasaan itu sdr.

Analoginya, jika kita tidak dalam keadaan murni mengamati, kita seperti duduk di tepi sungai mengamati aliran yg berjalan yg membawa aneka benda dan sampah, lalu akhirnya tergeret dan terhanyut bersama benda2 tsb. Sementara saat kita cuma murni mengamati (atau ada yang menyebutnya kondisi eling/aware), kita bisa duduk diam di tepi sungai dan melihat bagaimana arus ini mengalir tanpa hanyut terseret objek2 yang lewat di hadapan.

Apakah arus tsb benar2 bisa diam? Saya tidak tahu pasti, karena belum mengalami. Yang saya tahu, selama aliran hidup ini berjalan, batin ini pun akan terus mengalir dan beraktivitas, bedanya kita punya pilihan untuk menjalaninya dengan lebih aware. Kita punya sudut pandang 'baru' yakni sebagai pengamat murni, dan bukan lagi 'victim' dari batin kita sendiri.

Hope this helps,

~ D ~

aQuaNda said...

Ma.. Anda kangen..
InsyaALLAH anda akan jadi dokter.
Tunggu keberhasilan anda..
Luph u so much mom

Vicky Laurentina said...

Banyak orang tua yang gagal dipercayai anaknya karena orang tua terlalu sibuk jadi polisi di rumah. Orang tua terlalu banyak ngomong "jangan" dan "tidak boleh", sampai-sampai anak melihat orang tua hanya sebagai sumber larangan semata. Mana tahu anak bahwa orang tua sibuk melarang-larang karena orang tua tidak mau anak jadi celaka? Padahal kalau orang tua mau menasehati dengan cara yang lebih bersahabat di kuping anak, mungkin maksud larangan akan bisa dimengerti lebih jelas. Ini problem komunikasi yang klasik, dan para orang tua masa depan harus belajar dari kesalahan orang tua mereka di masa lalu.

Mei said...

inspiring, as always!!

dewi said...

mbak dee..nice posting..sangat dalam makna nya..aq sgt dekat dengan mama q. stiap saat aq bisa curhat tanpa memandang dia mama q..aq mlihat mama q sbg teman.tapi aq tetap punya batas-batas sbagai seorang anak..tapi kebalikannya sama bapak aq, aq gak bisa sperti itu karena q rasa bapak aq yang nyiptain tembok dia antara qta dengan sikap diktatornya..kadang aq merasa kepengen dia anggap sbg manusia dewasa bukan anak balitanya. Mbak dee sabar ya, klo dulu gak terlalu dekat dng mama.. ada baiknya mulai skrg ciptakanlah kedekatan dng papa saudara..jangan smpai mnyesal untuk kdua kali lagi..slama qta amsih punya kesempatan u/ itu. makasih buat pencerahannya mbak

Ksatrio Wojo Ireng said...

Dee, touching indeed.. as we often taking things for granted even with the ones of whom cared the most towards ourselves.

It's been nice to have come back and visit your blog again.. hugs from West Africa..

onlyoneearth said...

Nuhuun Dee;)
such a great revealation, tiiing!
send my fondest regards to Keenan and count yourself lucky to have such a great husband-Reza;)

Chindy Tan

melandri said...

sometime i feel bad about my Mom..especially when she force me to do something that i don't like.Like yesterday when she force me to get married soon.C'mon Mom,,i'm still 24 turn 25..still have so many thing that i want to reach in my life,,,

But in the end ,She is my Mom,,,She is the one who let me born in this world,,,

allthesoccer said...

salam kenal semuanya. I LOVE YOU FULL BLOGER MANIA HA HA HA

babi ajaib said...

Dalam tembok budaya "kejawen" yang saya alami, memandang anak sebagai "manusia" sangatlah absurd, meski tak mungkin untuk terjadi. Ada sesuatu bernama "unggah ungguh" yang seringkali membentur upaya untuk lebih dekat kepada anak sebagai manusia.

Holly Golightly said...

Dee, love it.

And it was written on my birthday, this must be a sign =)

ea_12h34 said...

syukurlah sy sudah pernah mengalaminya, lewat kejadian yg juga tidka enak, ttptidak sampai harus kehilangan mrk. masih SMP waktu itu baru mau masuk SMU. tiba tiba mata sy terbuka, mereka Orang Tua itu juga Manusia biasa.. jadi lebih paham, jadi lebih bisa menghindari konflik. tapi membelajarkan untuk mereka juga melihat sy sebagai manusia juga butuh proses panjang.kadang memicu konflik juga. anyway mengutip JK Rawling dalam HP kurang lebih begini: "memaksa anak anak mengerti "kemauan" orang tua adalah hal mustahil. karena anak2 belum pernah menjadi orang tua, sedangkan orang tua tentunya sudah pernah mengalami menjadi anak anak.

salam dee

Renns Renny said...

very inspiring, dee...

sama seperti "jembatan zaman" di filosofi kopi-mu, sangat mengena...

sebagai anak yang juga lebih sering hidup di luar dan jatuh bangun sendirian, rasa marah dan ga terima sering sekali sy rasakan saat orang tua masih saja merasa punya kendali atas anak2 mereka. itu juga yang akhirnya membuat sy -entah secara sadar atau tidak- telah membuat dinding yang juga super tebal antara saya dan orang tua, terutama ibu. kami sama sekali tidak saling mengenal. terkadang saat berdua saja sy merasa seperti orang asing di matanya, begitupun sebaliknya

dan sekarang, saya baru saja jadi seorang ibu selama 29 hari, selama itu pula hati & pikiran saya bergejolak ttg apa2 saja yang bisa saya ajarkan dan terapkan pada anak saya kelak, karena saya sama sekali tidak mau hubungan saya dg ibu menurun lagi ke saya dg anak2 saya.

kenapa ya dee, hubunngan seperti itu lebih sering terjadi antara ibu dg anak2 perempuannya??...

solarcellphonecharger said...

nice blog

bondanisme said...

terima kasih mbak dee atas tulisannya
saya jadi kembali merenungi hubungan saya dengan orangtua, ayah dan ibu.
benar mbak saya merasakan ketika saya hanya terperangkap dalam peran sebagai anak dalam keluarga. relasi yang terjadi seperti, orangtua menafkahi anaknya,anak menuruti apa keinginan orang tua.
itu semua membuat saya tidak mengenali orangtua saya sebagai manusia, yang kadang2 hanya membuat saya menjadi keras kepala dan memunculkan ego pribadi dalam diri saya.
semoga saya bisa mengenal orangtua saya lebih jauh, dan mencobanya untuk anak2 saya kelak..aminn

SELMA & MAGGOT said...

sangatlah setuju sekali apa yang dikatakan (atau ditulis) oleh dee di artikel mengenai mama ini.
selama ini, mungkin emang begitulah peran saya sebagai anak kedua dari 3 bersaudara.
apa yang dipikirkan dee saat itu?
mengapa tembok selalu ada diantara saya dan ibu saya?
apakah salah memiliki tembok yang tebal dan kokoh diantara kita?
saya pun tidak tahu, mungkin saya belum bisa mengahncurkan atau membom tembok itu
.......three thumbs up for dee!

cheers,
maggot

Almarhum Damai said...

terima kasih untuk tetap menjadi inspirasi

onchatanchit said...

mama,..how are you today,..

missminnie said...

Mbak Dee, it really touched my heart,,... and has given me an inspiration, also spirit.

I find my self framed in a "wall" all this time, and that hurts me, then I realize, time will never went back. so I know it's the right time to start a change.

I experienced it too. Thanks for sharing! :)

Abi said...

tapi ada juga insan yang masih ada ibu tapi sanggup mengabaikannya..

roulinanotpaulina said...

haloo kak dewi..
mama saya dulu guru sekolah minggu kak dewi dan sempat mengenal mamanya kak dewi.
Mama saya kagum dengan inang mangunsong soalnya bisa mendidik anak2nya supaya kreatif. Kata mama, cara inang mangunsong mendidik anak2nya supaya kreatif adalah dengan tidak menetapkan waktu tidur siang seperti kebanyakan mama lainnya.

ihwan said...

Tulisan Mbak membuat saya jadi pengin mengenal ibu saya lebih dalam lagi.
Jujur, walopun saya merasa banyak kesamaan sifat dengan Ibu (padahal saya cowok he3, biasanya kan kan ngomong kayak gitu anak cewek ya Mbak) namun saya seringkali masih kesulitan memahami dan bagaimana membuat beliau bahagia.
Apalagi tinggal beliau seorang, orangtua yang masih saya milik. So...saya akan coba untuk memulainya sekarang. Doain ya Mbak.

priscilla said...

inilah yang saya kagumi dari ibu saya dan ibu mertua saya, kebesaran hati mereka membiarkan kami anak-anaknya "bertransisi"...

very nice piece, dee..i attempted to write about this months ago, but...just didn't come out as i wanted it to be.

de Mol said...

Kalo menelaah dari kata memanusiakan atau humanize .. sebenarnya bukan hanya ke seorang sosok IBu saja tetapi bisa ke Ayah atau adik dan kakak dan saudara...

Lebih luas lagi kalau untuk sesama manusia...,

Tapi memang ada baiknya kenapa kesalahan2 kecil atau pun besar yang pernah kita perbuat dimasa kita dulu masih bergantung pada orang tua itu terjadi, karena hanya sekumpulan kenakalan-kenakalan itu yang bisa mengantarkan, menyadarkan kita untuk kembali menyapa orang tua kita dan saudara kita.

Tanpa kenakalan2 itu kita akan tidak lebih mudah untuk mengembalikan kita pada individu yang kita sebut orang tua.

Sagara said...

Thanks de untuk pengalaman pribadinya, memang menajdi manusia dewasa membuat kita kadang-kadang kehilangan waktu untuk orang tua kita. Karena memang harus demikian adanya, aku juga bersyukur orang tua masih lengkap dan sebisa mungkin aku ingin menghabiskan waktu dengan mereka.

Walau kadang aktivitas yang kuhabiskan dengan orang tua cuma nonton tv bersama.

neng yona said...

waktu saya kecil, mama memainkan peran diktator. dia yang mengatur segalanya. apa yang kita pakai, harus sekolah kemana, harus masuk jurusan ipa, bahkan dia menentukan cita2 saya.
sekarang, ketika kami sudah dewasa dan makin keras kepala,mama malah seperti anak kecil, mencari perhatian dan respect anak2nya. saya rasa semacam Post Power Syndrome karena anak2nya lebih memilih mempertahankan apa yg mereka inginkan daripada mengikuti kemauannya.
tapi masih..kami belum bisa menemukan cara untuk bisa berkomunikasi yang baik dengannya. revolusi emosi dan cara berpikirnya sulit dimengerti.
dan tiap hari adalah perjuangan untuk mengerti mama, sebagai pribadi dan orangtua.

Scor said...

Pendidikan Awalnya Gratis ?.
Manusia- Manusia & *Some0ne* yang Ber*Cuap* :
* Lihatlah, Aku telah Menjadikan
Taman & Teman Buat Kalian , Bukan ? .*

All Basically Free ?.
When *It* Is First Started.

From : *Scor*,..@_-..
Menawarkan 'Kerja Sama' !.
Berdasarkan : Kepiawaian Mu dalam hal Menulis Mungkin juga mengedit maupun MengAdd agar tambah 'Asri'.
dalam Konteks Bisnis & Tidak Lebih !.
dimana 'Kamu' 'akan' *Scor* berikan 'Kuasa dalam Hal Edit / Add'
Naskah-naskah *Scor* Untuk 'Indonesia Regional Only'.
Dalam Artian di Jual Untuk Di Indonesia & Penjabaran Kata Maupun kalimat menurut Versi Mu / Versi Dee.

thegreenrecyclebin said...

Mbak Dee..

Artikel ini saya save dan saya baca berkali kali.. Artikel ini tentang sesuatu yang amat sederhana tapi mengena di hati.. Artikel yang membuat saya berharap, semoga suatu hari bunda dan saya bisa berhadapan sebagai manusia, bukan sebagai bunda-dan anak.

Anti Login said...

keren bgt nih artikel... ijin save di komputer :)

btw... salam kenal... saya sedang mengkampanyekan Blogspot Template 2010.
mohon dukunganya... terima kasih

Gerhard said...

Ii,
Membaca ini aku jadi teringat lagi selama dua tahun di Patrakomala. Inang sudah seperti ibu bagiku. Aku ingat suatu kali aku sakit, Inang sendiri yg menemaniku ke dokter.
Aku merasa dekat dengan Inang, karena beliau berpikiran terbuka dan enak diajak diskusi.
Kadang memang justru karena ada hubungan darahlah menjadikan terciptanya jarak tersebut.
Semoga Ii bisa menjadi Mama sekaligus 'manusia' bagi anak-anaknya...

Chubb's uhmzzzz.... said...

Aku suka sekali postingan ini, selama mama meninggalkan saya untuk mencari uang bertahun-tahun di negeri orang.
yang ada di pikiran saya selalu rindu uang mama. bukan rindu mengobrol atau saling mengenal...
sedih rasanya punya perasaan seperti ini....T.T

Flo Bertanya said...

artikel ini memang bahan kontemplasi yang baik.
Bagaimana menurutmu Dee, me-manusia-kan hubungan antara orangtua dan anak tersebut? Jika seandainya orang tua masih melekatkan pikiran bahwa Aku adalah Sang Orang Tua, dan Kau adalah si Anak.
It's so complicated i think...
Ada kiat??

Anonymous said...

Dee,
may I share on your blog?
mama ku bukanlah mama yang paling hebat di dunia..at least di mata ku dia punya banyak sekali kekurangan yang aku rasa sangat manusiawi..sifat-nya dia yang ceplas-ceplos (terkadang seringkali membuat orang sakit hati, bahkan aku sendiri pernah merasa sakit hati), dia bukan wanita yang modern, Tidak suka shopping di mall, kalau menawar di pasar suka bikin malu (saking nawarnya kemurahan :) ), dia tidak sekuat wanita-wanita lain di luar sana, dia tidak romantis terhadap bapak ku.. dan seringkali membuat marah bapak ku..NAMUN, dibalik semua kekurangannya tertutup oleh satu hal yang membuat aku merasa nyaman berada ketika ia di hidupku.. SHE'S MY MOTHER..mama yang selalu ada untuk anaknya, berdoa untuk anaknya, sakit untuk anakanya, menangis untuk anaknya..and YES, I'm proud of her, not because of her strength, but just because of her position who always take care of me..
thanks Dee.. Now I have a new another inspirator, besides my Mom..it's YOU..GBU..

Cheers,
~aYi~

Anonymous said...

Mba Dee,
I'm stunned.
Postingan ini sangat 'mengena'.
Untuk sejenak 'memaksa' saya untuk duduk diam dan mengevaluasi hubungan dengan kluarga.
Satu hal yang muncul dipikiran saya, 'Mengapa lebih mudah mengenal dan menjalin hubungan sbg pribadi manusia dengan sahabat daripada dgn kluarga kita sndiri?!'

Mauliate! ^^

_ullee_

masjudi said...

jujur saja interaksi dengan orang tua yang selama ini saya jalani lebih banyak berisi sandiwara. saya selalu takut jika mereka tahu kenyataan yang sebenarnya tentang anak mereka. kadang saya merasa mereka tahu yang sebenarnya. mereka juga berpura-pura karena kenyataan itu (kami pikir) akan terasa menyakitkan. terima kasih atas tulisannya. membacanya memberi saya keberanian. dan entah kenapa, saya merasa sandiwara diantara kami akan segera berakhir. walau saya belum bisa menebak endingnya. moga aja happy ending. ^^

delvi said...

Dulu...sewaktu tidak suka dengan segala keputusan,kebijakan, yg dibuat mamak, aku meradang, mengamuk, merajuk dan memaki dalam hati serta kumenangis.
Kini...setelah EGO terlepas dari 2 insan ini, dan ku tidak setuju dengan segala keputusan dan kebijakan dari mamak, aku merenung, memilah, menghela, mencari jawaban dari sudut pandang orang lain, berdiskusi dengannya, dan Mamakku juga tidak seperti DEWA yg dapat mencerna dengan cepat perubahan diriku. Dia pun merenung, terdiam, dan mecoba berdiskusi dengan caranya. Ah...Mamak dan Aku tetap 2 manusia yg berbeda, tp perbedaan itu media kami untuk semakin menjadi manusia.
Dedicated to "Mamak di rumah Tanjung Morawa"

Ade Gustian Noor said...

Mengharukan.. mengena banget.. semoga kita bisa lebih bersyukur atas kehidupan ini..

Just thinking.... said...

Mbak dee, saya pembaca baru blog anda, walau udah bertahun silam jatuh cinta sama supernova..
mirip, tingkat dua saat sudah mampu menggenggam uang dari peluh sendiri, dengan ayah angkatan darat. saya juga ditinggal mama, saya paling suka jika berduaan di rs bareng mama karena bisa ngobrol dan monopoli mama dari sodara yang lain. Iya, pada awalnya saya menesal banyak peristiwa penting tanpa didampinginya, belum sempat membahagiakannya, tapi penyesalan terdalam adalah belum benar2 mengenalnya. Makasih atas bacaan yang menyejukkan dan luar biasa..

Ranna Subhan said...

mbak, sy terharu baca postingan ini. jujur, sy gak pernah dekat sama mama dan sama sekali gak mengenal beliau. dipikir2 juga sy lebih sering marah samna beliau drpd berinteraksi layaknya ibu dan anaknya yg "gede di luar".

simplycious said...

mbak dee..
very nice posting..
setuju bgt dengan konsep ttg manusia-titik itu, tp dgn budaya dan kebiasaan yg sdh melekat disekitar qt, tdk mudah utk mewujudkannya krn ketika qt punya peran qt jg dituntut akibatnya qt sering tidak "merdeka" dalam mengambil keputusan.

Neng Isah said...

Mbak Dee, terimakasih atas semua tulisannya yang unbelievably inspirative.
Aku nangis baca yang ini hehe. I'm not very sure of this, but I hope from now on, Mama and I will see each other as ordinary humanbeings and hopefully - be friends :)
By the way aku baru baca Perahu Kertas akhir Maret dan kepikiran terus pas Ujian Nasional! Haha very nice work, Mbak.

veggiebond said...

Satu lagi:

http://buddhablog.tumblr.com/post/207282996/mothers-mountains

=)

veggiebond said...

Ada temuan lama yang relevan dengan topik ini:

http://buddhablog.tumblr.com/post/207283928/the-river-of-parenthood

hikmathidayah said...

bagus banget tulisannya mbak. boleh ngelink gak??????????

ni blog saya; mikaelpunyacerita.blogspot.com

AbrenK StaLker said...

mbak lam kenal ya..saya baru diblog..mohon petunjuk n saran nya ya..mohon kunjungi blog saya ya..^^
http://mahasiswagenius.blogspot.com/

blog-peternakan said...

bagus banget.....ceitany

Most Wanted Open Source said...

wah trima kasih tlah mau berbagi critanya...

salam deace

bungapapan said...

jadi kangen sama mama nih...




http://bungapapan-dinomflorist.blogspot.com/

LisaDidien said...

Wah, menyentuh sekali tulisan dari Mbak Dee...membuka kembali kesadaran saya dalam berinteraksi dengan sesama manusia...:)

Catatan Obo said...

Sangat inspiratif Teh,,,semoga bisa trus jd inspirasi buat sy semua tulisannya :)

Zeus Osiris said...

Nice Blog!

JDGLEGRA said...

Satu hari 3 post, sungguh narsis .. tapi Mbak Dee, saya sungguh sepaham dgn apa yg Mbak Dee tulis, krn kebetulan saya adalah anak yang orang tuanya bercerai(bkn bermaksud mengumbar atau minta dikasihani, hanya sekedar berbagi krn sy harus menuliskannya bila saya ingin mengemukakan opini saya disini)... saya tidak pernah bersyukur atas kondisi di atas, juga tidak tidak bersyukur atas kondisi di atas, pada awalnya waktu mrk bercerai (di usia saya 7 tahun) saya menyalahkan salah satu pihak, dan saya membenci mengapa mereka harus bercerai, lalu di kemudian hari saya mengerti bahwa itu salah 2 belah pihak, dan kemudian hari dikala saya mencapai satu titik, melihat lebih banyak hal, mendengar lebih banyak hal, saya mengerti bahwa saya tidak membenci perceraian mereka ... saya salah krn saya memandang mrk sebagai PAPA dan MAMA saya ... sy mengerti karena kemudian saya menyadari bahwa mereka pun adalah anak, mereka adalah manusia sama seperti sya yang bs melakukan kesalahan, bisa khilaf, bisa lemah ... pada saat itulah semua pikiran saya terbuka ... dan karena kebetulan saya adalah seorang pengajar les, saya sering membagikan kisah ini kepada murid2 saya yang terkadang mempunyai masalah dengan orang tuanya ... hanya 1 pesan saya bahwa sebagai orang tua kita ada kemungkinan bercerai tetapi tidak akan pernah boleh ada setitikpun kemungkinan untuk mengabaikan anak2 atau meninggalkan mereka ... sebagai anak marilah mulai memandang papa atau mama kita sebagai manusia dan juga anak ... thanks for sharing

syifaituafiys said...

really inspirated . .
thanks anyway

rangga said...

lama tak berkunjung ke sini (karena saya pikir sudah saya save semua tulisan kamu) ternyata ada yang terlewat, yang soal mama ini. Dan lama juga sejak saat terakhir saya ingat bahwa tulisan-tulisan dee memang selalu menginspirasi saya secara pribadi (sejak supernova 1), saya bilang lama karena sudah 6 tahun sejak petir dan lebih setahun sejak perahu kertas. Tapi lagi, ternyata tetap saja setiap membaca rangkaian kata-kata yang kamu pilih, ada style abadi yang pasti saya rasa mengena sekali, semacam efektifitas tingkat tinggi, atau gong peng-amin bagi banyak existing thoughts saya. saya pun mulai jadi pescetarian (sudah setahun lebih) berkat membaca tulisan-tulisanmu mengenai veggie. thanx dee, begitu banyak kamu berbagi, menyalakan api-api dalam tiap diri yang membaca, dan izinkan, terkadang saya jadi kurir sukarela yang menyampaikan api-api itu untuk orang-orang di lingkaran saya

p.s: we want diva and bodhi.. no, we NEED diva and bodhi.

Asha Ray said...

I knew it, Mbak Dee. Dari lukisan Jaka di buku sketsa saya, "Lilith". But I still love her, she is my mother. Please promise me that she wouldn't get hurt, I will take all the consequences.

Dari Mata Bunda said...

Pagi mba. Justru keadaan inilah yang sedang saya alami. Dan memang sangat sulit untuk lepas dari embel-embel si anak itu ya.

Tapi kalau bagian saya, cukuplah mama dan papa sebagai mama dan papa. Seseorang yang saya kagumi dengan perannya sebagai orang tua dan manusia tunggal. Walaupun untuk mereka dapat melihat saya bukan hanya sebagai anaknya saya perlu terlebih dahulu menempatkan diri sabagai selain anak.

Seperti yang mba katakan, transisi. Berapa lama ya mba prosesnya? (Sebenarnya saya sudah bisa jawab mba. Sepertinya itu selama kapan saya mau memulainya).
Anyway, thanks for this writing.

dini said...

thank you teh Dee buat postingannya....inspiratif, tidak terasa air mata saya menetes nih...:D Saya juga teringat akan alm Ibu saya dan hubungan kami yg diselimuti tameng serupa. Kadang sulit berdamai dgn keadaan mengingat betapa kerasnya saya pada Mamah dulu. Rasanya ingin memutar waktu utk menebus masa2 lalu itu...menyatakan cinta padanya setiap hari. Sekarang saya perlahan2 bisa menemukan 'jawaban' itu...dan terus mencari 'jawaban' lainnya yg bisa memerdekakan diri dari perasaan ini. Hidup adalah pembelajaran, dan saya belajar banyak dr hubungan saya dan alm. Ibu. RIP Mamah... I love you with all my hearts.. :)

Rose Garden said...

mbak dee....

tulisannya bagus banget... sangat mengena... baru baca.


rasanya susah sekali untuk mendapat predikat sebagai manusia, apalagi sebagai seorang gadis bali, seakan akan kelahiran kita kedunia itu menciptkan suatu kewajiban untuk menebusnya dan kelahiran kita kedunia juga menghadirkan ikatan. yang karenanya sangat sulit untuk lepas dari ikatan itu. dan ikatan itu pula yang membuat kita harus terus berperan sebagai anak, sebagai kakak, sebagai keponakan, sebagai tante, sebagai cucu, dan sebagai yang lainnya...


btw, nice post...

Rifai said...

bagus ya...cool da pokoknya

iZly Ronggowarsito said...

kondisi aku dgn mama kayaknya gak akan baik...
semua cara ku coba utk dekati dia tapi aku seolah tak pernah ada diantara kelaurganya...
entah apa yg salah dari skenario hidupku...
salut buat mbak dee...
slalu jadi inspirasiku...

nizar-modo said...

selalu itu

oq said...

benar sekali mbak.karena saya sedang mengalami sekarang

Evi Dewi said...

hi T'Dee,sy penggemarmu sejak supernova :) dan skr tergabung dgn @bgrberkebun..pgn ngundang teteh Dee :) email me di bgrberkebun@yahoo.com yah :) mo kirim invitation ka teteh.haturnuhun

seekin my happiness said...

thanks...

AandFix said...

setelah membaca artikel mba,cm satu kata yg bs ane tulis "mama................." :'(