Showing posts with label Do-It-Yourself Infotainment. Show all posts
Showing posts with label Do-It-Yourself Infotainment. Show all posts

Monday, December 21, 2009

Luna Bukan Kopaja

Luna Bukan Kopaja



Peluru ditembakkan ke udara. Asbak melayang. Dan sekarang, sebaris sumpah serapah di Twitter.

Relasi media hiburan dengan komoditas tunggalnya—yakni para penghibur, atau yang lebih sering disebut “artis”—adalah hubungan yang berwarna-warni. Kadang-kadang keduanya menempel manis bagai semut yang memeluk gula, tapi kadang-kadang keduanya saling sengit bagai kucing dan anjing.

Dan kini, dalam mangkok besar industri hiburan, kita pun punya apa yang disebut: infotainment—hadir dalam bentuk program teve yang laku ditonton dan diproduksi dengan biaya tak besar. Berbeda dengan sinetron yang menuntut puluhan kru serta puluhan pemain dengan honor yang tak kecil, infotainment melenggang ringan dengan satu-dua kamera, dua-tiga kru, dan segenggam mikrofon yang ditodongkan ke para artis yang tak dibayar* untuk membuka ruang privat kehidupan mereka. Simbiosa? Sudah pasti. Saling membutuhkan? Tidak setiap saat. Saling menguntungkan? Belum tentu.

Berikut beberapa anggapan umum, yang saking mapannya bersarang di benak masyarakat, sudah jarang kita pertanyakan atau cek kebenarannya, antara lain:

1. “Media hiburan dan artis saling membutuhkan.”

Bagi saya, kalimat itu terdengar manis dan bijak tapi juga menjebak dan menjerat. Menjebak hingga artis dipaksa untuk melonggarkan bahkan merobohkan garis privasi di luar keinginannya, dan menjerat masyarakat untuk terus mewajarkan tindakan-tindakan intimidatif infotainment dengan alasan “itu kan risiko jadi orang terkenal.”

Agar karya saya menggaung di masyarakat luas, saya membutuhkan media sebagai amplifier-nya, termasuk media hiburan (meski ada juga karya yang jadi besar dan laris bahkan sebelum media sempat menyentuhnya). Namun tidak semua jenis pemberitaan mendukung karya ataupun pamor saya. Bahkan ada pemberitaan yang mengganggu hidup saya. Bukan “saling membutuhkan” namanya jika saya menolak diliput dan malah terus dikuntit, rumah saya ditongkrongi dan dimata-matai. Bukan “saling membutuhkan” namanya jika kalimat saya diputar-balikkan untuk memenuhi opini subjektif tertentu melalui gambar dan narasi yang lantas dibagi ke jutaan pemirsa. Dalam situasi seperti itu, saya menolak keras generalisasi bahwa artis selalu membutuhkan media hiburan.

Media dan seorang artis hanya layak disebut saling membutuhkan jika memang keduanya sedang merasa ada kebutuhan, yang artinya: situasional. Tidak terus-menerus dan berubah-ubah.

2. “Hubungan antara artis dan infotainment bersifat mutualisme.”

Mengatakan, atau mengharapkan, bahwa hubungan antara artis dan infotainment selalu bersimbiosa mutualisme, menurut saya, adalah pernyataan yang buta. Simbiosa yang terjadi di lapangan bisa beragam:

• Mutualisme : Saat si artis mengizinkan dengan sukarela untuk si infotainment masuk ke dalam ruang privatnya, dari mulai meliput bisnis sampingan, meliput ulang tahun anak, bahkan untuk membantu posisi tawarnya dalam industri. Infotainment pun kadang sengaja dilibatkan ketika si artis hendak memenangkan sebuah konflik. Dalam relasi ini, kedua pihak sama-sama diuntungkan.

• Komensalisme : Dengan izin atau tanpa izin, disengaja atau tidak, infotainment mewawancarai artis dan diladeni secara netral-netral saja. Misalnya, untuk memberi komentar ringan, atau meminta klarifikasi atas berita-berita remeh (baca: bukan skandal). Dalam pengamatan saya, relasi macam inilah yang paling banyak terjadi; si artis bisa berjalan lalu sambil berkata “Ah. Biasalah, infotainment,” dan si reporter bisa permisi pergi dengan muka lurus tanpa harus mengejar dan mencecar. Dalam jenis relasi ini, artis tidak merasa diuntungkan, tapi juga tidak merasa dirugikan.

• Parasitisme : Ketika si artis tidak memberikan persetujuan, kerelaan, atau keinginan untuk meladeni infotainment, tapi terus didesak, dipaksa, bahkan diintimidasi. Dan kemudian berita tetap ditayangkan dengan memakai perspektif satu pihak saja. Dalam pengemasannya, beberapa infotainment bahkan sampai melakukan teknik wawancara imajiner, pemalsuan suara, memutar balik kejadian sebenarnya, dan cara-cara lain yang sudah menjurus ke arah fitnah.** Dalam relasi ini, jelas yang diuntungkan hanyalah pihak infotainment, sementara pihak artis dirugikan, bahkan dicurangi.

3. “Kalau beritanya aib pasti artisnya menghindar, kalau berita baik infotainment-nya dibaik-baikin.”

Lagi-lagi, buat saya itu adalah opini yang malas dan tak jeli. Tak sedikit area yang disebut “baik-baik” oleh banyak orang, tapi bagi beberapa artis tertentu merupakan ruang privat yang tidak ingin dibagi ke infotainment, seperti kelahiran anak, acara pernikahan, dst. Dan banyak juga konflik/isu berbau skandal yang secara sengaja justru melibatkan infotainment atas undangan/persetujuan/kerelaan artisnya. Jadi, fakta di lapangan lagi-lagi tidak mendukung opini umum tersebut. Setiap artis punya preferensi dan garis batasnya masing-masing.

4. “Seorang figur publik wajib membuka dirinya terhadap publik karena ia sudah jadi milik publik.”

Sewaktu kecil, saya tidak pernah bercita-cita jadi figur publik. Yang saya ingat, saya ingin jadi penulis dan musisi profesional. Itu saja. Saat saya berkarya, saya mempertanggungjawabkannya dengan cara-cara yang sederhana: menjamin bahwa karya saya asli dan mencintainya sepenuh hati.

Namun karya dan citra melangkah seiring sejalan ketika sudah masuk ke dalam industri. Di sana, karya menjadi besar, citra pun ikut membesar, dan saya yang manusia biasa kadang-kadang tenggelam oleh keduanya. “Figur publik” akhirnya menjadi efek samping yang mengiringi profesi artis, walaupun berkarya dan terkenal sebetulnya adalah dua hal yang berbeda.

Sialnya, pengertian “figur publik” selalu ditempelkan dengan konotasi “milik publik”. Kita amat sering terpeleset dengan menganggap keduanya identik, padahal secara esensi keduanya berbeda. Dalil itulah yang kemudian digunakan infotainment untuk menuntut artis buka mulut. Sering sekali mereka mengatasnamakan “masyarakat” dengan mengatakan “Masyarakat berhak untuk tahu!”

Bagi saya, yang menjadi milik publik adalah karya saya. Masyarakat bisa membeli buku saya, CD album saya, mengundang saya untuk diskusi buku dalam kapasitas saya sebagai penulis, atau mengundang saya bernyanyi dalam kapasitas saya sebagai penyanyi. Namun saya punya hak penuh atas kehidupan pribadi saya. Hidup saya bukan milik publik. Adalah hak saya sepenuhnya untuk menentukan seberapa banyak potongan kehidupan pribadi yang ingin saya bagi dan mana saja yang ingin saya simpan.

Artis adalah manusia yang berkarya. Bukan telepon umum.

5. “Seorang artis harus selalu bertutur laku baik dan sopan.”

Ini barangkali anggapan umum yang paling naif tentang artis. Pertama-tama, bukan hanya artis, seorang tukang becak pun dituntut untuk bertutur laku baik dan sopan pada penumpangnya. Ketika sudah hidup bermasyarakat, sikap baik dan sopan melancarkan interaksi kita dengan satu sama lain. Namun kita juga manusia yang punya dua sisi. Kita pun bisa marah dan kehilangan kendali. Lantas apa yang membedakan Luna Maya dengan Mang Jeje—tukang becak langganan saya di Bandung?

Sebuah pepatah bijak berkata: “Semakin tinggi pohon, semakin keras angin menerpa.” Saya setuju. Tapi tidak berarti bahwa seseorang yang dianggap bintang lantas di-dehumanisasi-kan. Menuntut seorang bintang untuk selalu sempurna, bukan saja berarti penyangkalan atas kemanusiawian, tapi juga mustahil bisa dipenuhi. Jadi, jika kesempurnaan adalah kemustahilan, mengapa sebagian dari kita begitu sulit berempati?

Seorang Luna Maya, yang sudah minta pengertian secara baik-baik, tapi malah terus didesak hingga kamera membentur kepala anak yang sedang ia gendong, lantas meledakkan emosinya di Twitter—sebegitu irasionalkah tindakannya itu? Atau justru manusiawi? Apa yang kira-kira akan kita lakukan jika kita menjadi Luna? Tetap bermanis-manis hanya karena status artisnya, hanya karena konon ia “milik publik”? Sekali lagi, seingat saya, Luna adalah model dan presenter. Bukan Kopaja. Apa hak kita untuk mengklaim agar Luna bertutur laku sebagaimana keinginan kita? Kita bisa menyimpan fotonya, menyimpan RBT lagu Luna di telepon genggam kita, tapi kita tidak bisa mengontrol manusianya seperti kita mengoperasikan AC dan remote-nya.

6. “Tanpa media, artis tidak akan jadi siapa-siapa.”

Ini barangkali sihir terkuat yang merasuk di kalangan artis. Kita tahu, betapa besar peran media dalam perkembangan karier seorang artis—entah itu karier musik, sinetron, film, model, dsb. Tapi, mari kita lihat skala yang sesungguhnya: Media bukan cuma satu. Media hiburan merupakan salah satu bagian, bukan keseluruhan. Infotainment juga cuma sebagian dari media hiburan, bukan keseluruhan.

Infotainment memang powerful. Terbukti ada orang-orang yang disulap dari bukan siapa-siapa dan tahu-tahu menjadi artis papan atas setelah diekspos habis-habisan di infotainment. Dan ada juga artis yang hidupnya ditelanjangi habis-habisan sampai harus menghilang bertahun-tahun dari panggung hiburan.

Tapi, jangan kita balik logikanya. Saya tidak melihat infotainment dan artis seperti logika ayam dan telur. Apalagi kalau infotainment disebut sebagai “induk” dari eksistensi seorang artis. Infotainment adalah fenomena yang muncul tahun ’90-an, sementara saya tumbuh besar menyaksikan artis-artis yang mampu eksis berdasarkan bakat dan karyanya jauh sebelum ada infotainment. Dan jangan kita lupa, tanpa artis, infotainment hanya corong kosong tanpa isi. Corong itu boleh nyaring. Tapi kalau tidak ada yang disuarakan, ia pun senyap dan hampa.


Bangun Dari Ilusi

Sayangnya, selama ini dari kalangan artis sendiri lebih banyak memilih diam atau bersungut-sungut di belakang. Padahal pihak artislah yang paling banyak dirugikan. Entah karena terlena, merasa bakal sia-sia saja, atau kita masih dihantui image infotainment yang terasa begitu besar dan berkuasa hingga kita percaya buta bahwa jatuh-bangun karier kita ditentukan mereka. Dan sama seperti semua manusia, tidak ada artis yang ingin kehilangan rezekinya atau dihukum di layar kaca dengan pemberitaan negatif.

Jika ada pepatah bijak yang bisa berguna, maka inilah dia: “Rezeki diatur oleh Tuhan. Bukan oleh infotainment.”

Saya tidak mengajak siapa pun untuk memusuhi infotainment. Permusuhan bukanlah tujuan saya menulis sebegini panjang lebar. Tapi kiranya para artis bisa melihat relasinya dengan media hiburan secara proporsional.

Mari kita bangun dari ilusi bahwa cuma ada satu tangan besar yang menentukan mati-hidupnya karier kita. Keberhasilan seorang artis ditentukan oleh banyak faktor, frekuensi pemunculannya di infotainment hanyalah satu faktor, bukan segalanya.

Berikut beberapa hal sederhana yang sekiranya bisa seorang artis lakukan untuk perimbangan berita:

1. Ungkapkanlah sisi cerita kita. Menulis di blog/situs pribadi, atau lakukan wawancara dengan media cetak yang bersahabat untuk menulis sisi cerita kita. Jangan kecil hati jika cerita kita kalah jumlah pembacanya dengan pemirsa teve yang jutaan. Adanya sebuah sumber cerita langsung dari yang bersangkutan jauh lebih berarti ketimbang bungkam sama sekali.

2. Jika memungkinkan, bawalah alat perekam/kamera saat infotainment meliput kita. Semua artis yang pernah berurusan dengan infotainment tentunya tahu betapa banyak kejadian asli yang terdiskon ketika muncul di layar teve, belum lagi narasi yang merajut potongan adegan agar muat di kerangka opini tertentu saja. Lalu kemanakah rekaman dari sisi kita itu kita tayangkan? YouTube. Promosinya? Believe me, with a tweet or two, we can have thousands of viewers before we know it. Maybe even more if it got spread. Kalau tidak mau repot sampai menayangkan pun tidak masalah, dengan membawa perekam tandingan saja sudah cukup mengubah percaturan psikologis saat kita sedang diliput. Catatan: Reza pernah merekam balik juru kamera infotainment yang menguntitnya. Dan ketika dia bertanya: “Buat apa Mas Reza pakai kamera segala?” Reza menjawab, “Ya sama kayak kamu, ngambil gambar tanpa izin.” Hasilnya? Yang bersangkutan pun akhirnya gerah sendiri dan kabur ke toilet pria. And yes. Reza followed him all the way there.

3. Tegas berkata ‘tidak’ dan berikan batas dari awal. Tidak jarang, artis diundang ke satu acara atau dikontrak oleh pihak yang memang secara resmi mengundang infotainment. Kita bisa mensyaratkan sejak awal pada pihak penyelenggara bahwa wawancara hanya sebatas materi yang mendukung acara dan tidak melenceng ke hal-hal pribadi, dan untuk itu kita bisa meminta panitia untuk ikut menggawangi jalannya wawancara. Tegas bilang ‘tidak’ atau diam ketika pertanyaan mulai melenceng. And when things start to get out of hand, just do what every Miss Universe is known best at: smile and wave.


Penderitaan Sebagai Candu

Di luar dari itu semua, sebagian besar masyarakat pun punya problem adiksinya sendiri. Infotainment telah memanjakan tendensi manusiawi kita untuk merasakan kepuasan saat melihat ada orang lain yang tidak lebih baik, bahkan lebih menderita, ketimbang kita. Schadenfreude. Apalagi kalau orang-orang itu adalah kaum yang kita anggap super, yang punya segalanya. Kita semua menyimpan tendensi itu, sadar atau tak sadar, sama halnya kita punya potensi untuk membunuh dan merusak. Namun kita punya pilihan untuk tidak melakukannya, tidak memeliharanya.

Kita bisa menjadi penonton yang lebih mawas dan melek. Tontonan infotainment seharusnya ditujukan untuk menghibur dan memberi informasi. Ketika sudah menjadi ajang penghakiman, berarti ada yang tidak beres. Ada yang melenceng.

Sebagai penonton yang memilih tidak suka, saya sarankan untuk bersuara dengan konstruktif, entah lewat jaringan sosial di internet atau apa pun sesuai kapasitas kita. Dengan menyuarakan sikap, mudah-mudahan pihak produser infotainment maupun teve sudi instrospeksi dan membuat konten programnya lebih bermutu dan berimbang.

Cara paling sederhana? Matikan teve. Atau ganti saluran.



Berempati Tidak Perlu Polisi

It takes one to know one. Sampai kita mengalami apa rasanya dicecar dan dikepung kamera, kita tidak bisa sepenuhnya mengerti apa yang membuat Parto menembakkan pistol ke udara, apa yang membuat Sarah Azhari melempar asbak, dan apa yang membuat Luna Maya mengumpat di Twitter-nya. Di lain sisi, sampai kita tahu apa rasanya berpeluh dan bersusah payah mengejar sekalimat-dua kalimat demi mengejar setoran berita, kita pun tidak bisa sepenuhnya memahami mengapa mereka, para wartawan infotainment yang awalnya bisa sangat manis dan sopan, tahu-tahu bisa berubah seperti preman tak tahu aturan.

Saya tidak berpendapat bahwa yang ditulis Luna di Twitter-nya itu manis dan terpuji. Ia memang mengumpat dan memaki. Tapi dengan mengetahui sebab yang melatari aksi Luna, segalanya sangatlah sederhana. Kita manusia. Kita menangis. Kita tertawa. Kita marah. Kita khilaf. Sesuatu yang bisa diselesaikan dengan satu musyawarah di kedai kopi. Tanpa perlu mengadu ke polisi. Tanpa perlu UU ITE. Jadi, untuk apa membunuh nyamuk dengan bom atom?


Menghindari Bumerang Dengan Nurani

Mengadukan Luna hingga ke polisi, dan di sisi lain TIDAK memberikan berita berimbang tentang MENGAPA Luna sampai bersumpah serapah di Twitter, dan bukannya MINTA MAAF karena nyaris membuat seorang anak cedera, menurut saya adalah langkah yang tidak strategis bahkan berbahaya. Infotainment jelas bukan figur bercitra innocent yang mengundang simpati. Saat ini, infotainment tengah diuji. Artis pun sedang diuji. Dan masyarakat menyoroti. Pembelaan terhadap Luna terus mengalir.

Ironisnya, kamera pun terus berputar. Semakin panjang dan heboh masalah ini, kembali infotainment diuntungkan. Sensasi adalah uang. Jadi, jika keuntungan finansial sudah di kantong, tidakkah kehormatan juga layak dikantongi? Andai saja pihak infotainment sudi menelan ludahnya lalu melucuti label-label “pers”, “artis”, dst, kembali menjadi individu, kembali menjadi manusia biasa, ia justru bisa memperoleh respek. Namun jalur yang dipilihnya kini justru berpotensi menjadi bumerang. Pers hiburan memang besar. Tapi masyarakat jauh lebih besar.

Kasus ini bukan saja memancing reaksi dari masyarakat yang selama ini jengah bahkan muak dengan kualitas tayangan infotainment, tapi juga mengundang potensi ‘pengadilan rakyat’ yang berbasis nurani umum, seperti halnya kasus Prita vs RS. Omni. Tapi jika tujuan akhir pihak infotainment yang dinaungi PWI tersebut ternyata hanyalah sensasi (baca: rating)? Maka biarlah kecerdasan dan nurani rakyat yang akhirnya menilai sendiri.

Suara saya ini mungkin tidak punya arti. Setelah kasus ini berlalu, mungkin tetap tidak terjadi perubahan apa-apa dalam praktek infotainment, pada kegandrungan masyarakat luas akan kehidupan pribadi para artis, maupun pada sikap kebanyakan artis yang masih cenderung permisif dan bermain aman ketika berhadapan dengan kuasa kamera infotainment. Saya menghargai pilihan setiap orang. Bersimbiosa mutualisme dengan infotainment bukanlah hal yang salah. Bekerja bagi industri infotainment pun bukan hal yang salah—baik itu sebagai kru maupun presenter. Menjadi artis yang memilih untuk menutup diri dari infotainment pun bukan hal yang salah. Ini memang bukan masalah benar atau salah, melainkan preferensi. Dan ketika kita menghargai pilihan masing-masing, batas privasi masing-masing, niscaya tidak perlu lagi ada peluru menembak ke udara atau caci maki di jagat maya.

Hukum, dan praktek hukum di lapangan, tidak selalu berbasiskan nurani, melainkan permainan kelihaian di dalam kotak sistem. Jadi bukannya tidak mungkin pihak infotainment/PWI akan menjadi pemenang di jalur hukum. Jujur, saya tidak terlalu menganggapnya penting. Nurani tidak bisa dikelabui. Dan, sekali nurani terusik, masyarakat—Anda dan saya—tak akan pernah lupa.


* Ada kalanya artis dibayar. Berita-berita ringan lucu yang tahu-tahu memunculkan kemasan odol, obat penurun panas, suplemen, dsb, itu? Berita demikian namanya “insertion”. Dan artis yang berpartisipasi mendapat imbalan dari produsen yang bekerja sama dengan infotainment.

** Semua contoh metode memutar balik fakta tersebut sudah pernah saya alami langsung. Detailnya bisa dibaca di sini dan di sono.
Read More ..

Monday, August 04, 2008

10 Most Hillarious, Humorous, and Hideous Gossips I Found

10 Most Hillarious, Humorous,
and Hideous Gossips I Found


Just for the fun of it (and not so fun of it), I’ve highlighted some of the most intriguing news (read: gossip) out there, written by the media or shared by the public through discussion forums. Some were disturbing, but some were absurdly funny. And here they are in random order:

#1: The Titanic Sinks Us (Again)

“Ada sekelumit kisah di balik gugatan cerai Dewi Lestari pada suaminya, penyanyi Marcell. Rupanya sebelum memutuskan bercerai, pasangan dengan satu anak itu mendengarkan album soundtrack film Titanic. 'Ketika kami memutuskan, kami memasang lagu Titanic dan kita saling curhat,' jelas Marcell.” [InfoGue.Com]

Fact:
Saat kami konferensi pers, seorang wartawan yang masih belum puas dengan jawaban yang sudah kami berikan lantas meminta keterangan lebih lanjut mengenai alasan perpisahan kami berdua, dan Marcell menjawab “Kalau mau diceritain semuanya ya panjang banget, kita harus ngobrol semalam suntuk…” dan dengan bercanda Marcell menambahkan, “sambil pasang lilin, dengerin lagu Titanic…”. My dear friends of the media, that’s called hyperbolism. And it was meant to be a joke.

Dee’s Comment:

You gotta be kidding me. Titanic soundtrack? TITANIC? Look, if there’s a song we would choose for such an important and dramatic moment, it would definitely be “Kemesraan” from Iwan Fals and Rafika Duri! Why? Cause we support our local music! And if someone’s still taking my statement seriously, then God have mercy on your humorless soul.


#2: Too Much Information
"Istana Baru Sang Supernova: Dewi Lestari seolah ingin mengubur kisah masa lalunya bersama Marcell dengan berpindah rumah... Dewi membeli rumah yang kini ia tempati bersama buah hatinya, Keenan Avalokita Kirana Siahaan itu, dari pemilik pertama dengan harga mendekati Rp 1 miliar." [Tabloid C&R].

Fact:

Well, terkecuali bumbu “mengubur kisah masa lalu” dan masalah teknis mengenai kepemilikan rumah, harga, dsb, saya memang sekarang berdomisili di Jakarta. That's the single fact in the whole story (oh, they also mentioned about Keenan's four-wheeled bike. I don't know how the heck they knew about it, but it's actually true. However trivial and unimportant the detail is).

Dee’s Comment:

Sadly, I found this news as the most unethical and impolite one. Why? Belum pernah seumur hidup saya berkarier, sebuah media dengan tanpa izin mencantumkan alamat rumah saya. Tidak tanggung-tanggung, bahkan sang wartawan (Fitriawan Ginting) memotretnya tanpa sepengetahuan dan seizin saya. Hal ini, selain tidak etis, juga sudah menyinggung masalah keamanan bagi saya dan keluarga. Fyi, I didn't purchase the house, it was rented.


#3: Lost In Time

“Mediasi dipimpin oleh Baslin Sinaga dari PN Bale Endah. Mediasi itu tampaknya berlangsung alot, karena memakan waktu sekitar 1,5 jam.” [Tabloid Nova]

Fact:
Mediasi berlangsung 30 menit saja. Bahkan kurang.

Dee’s Comment:
Saya tidak tahu wartawan yang menuliskan ini menunggu di lorong waktu mana. Entah dia juga memasukkan waktu perjalanannya menuju PN Bale Endah yang memang terletak di wilayah Bandung coret. Tapi inilah bukti bahwa begitu banyak informasi yang ditulis secara resmi, nyatanya tidak ditulis dengan akurasi dan ketelitian, sekalipun terdengar meyakinkan. Dengan “memuainya” waktu dari 30 menit ke 90 menit, tentu bumbu “mediasi berjalan alot” menjadi pas. Namun sesungguhnya, yang faktual terjadi tidak selalu pas dengan bumbu yang diramu.


#4: The Ghastly & Ghostly Interview
“Isu adanya orang ketiga memang menyeruak, seiring retaknya rumah tangga Dewi Lestari dan Marcell Siahaan. 'Saya sama sekali tidak ada hubungan spesial dengan pakar holistik yang Anda sebutkan itu. Hubungan saya dan Marcell dengan dia, hanya sebagai teman,' bantah perempuan ini mengawali pembicaraannya dengan sejumlah wartawan, termasuk Edy Suherli, dari C&R. Berikut petikannya:
C&R: Benarkah karena kehadiran orang ketiga?
D: Tidak ada orang ketiga ataupun persoalan KDRT. Semua murni persoalan intern kami, yang sudah tidak bisa disatukan lagi.
C&R: Bukankah Anda dekat dengan seorang pakar holistik yang bernama Reza Gunawan?
D: Kalau dengan dia, saya hanya berteman biasa. Marcell juga berteman dengan dia. Jadi tidak ada hubungan yang spesial antara saya dengan dia.”
[Tabloid C&R by Edy Suherli]

Fact:
Wawancara dialogis di atas sama sekali tidak pernah terjadi. Pertanyaan tersebut tidak pernah diajukan, apalagi jawabannya. Pada saat konferensi pers, kami tidak melayani wawancara individual dengan media mana pun. Semua media kami jawab dan layani secara kolektif. Sampai saat ini, kami pun masih belum bersedia melakukan wawancara eksklusif dengan pihak mana pun. Semua berita yang beredar mengenai masalah ini secara resmi ditanggapi hanya lewat satu kali konferensi pers itu saja, jika ada yang diberitakan di luar daripada itu, berarti diambil dari sumber lain atau cuma materi olahan sendiri.

Dee’s Comment:
Saya tidak tahu persis maksud dan tujuan tabloid C&R dengan wawancara imajinernya. Karena jika pertanyaan tersebut benar-benar diajukan, jawaban saya akan sangat lain. Reza Gunawan has been one of our dearest friends for years, and this is what I must say: there’s nothing unspecial about our relating. Everything about it, is special. He is one of the very few trusted friends that has been supporting us all this time. However, he had nothing to do with our decision to separate in the first place.
So, let me get this chronology straight: keputusan saya dan Marcell untuk pelan-pelan berpisah terjadi pada akhir tahun 2006. Kesiapan kami untuk berpisah secara legal dibulatkan pada akhir tahun 2007. Awal 2008, kami mulai menjajaki masalah teknis (pengacara, proses peradilan, dsb).
From the time of NOW, if there’s someone that is very close (or some of you may call it ‘extra-special’) with me at the moment, that person would definitely be Reza Gunawan, and no one else. We began to allow our relating to evolve to the stage we're now at, which was quite recently, only after me and Marcell had confirmed our legal separation. Tapi dengan menyeruaknya kabar perceraian ini di media, dan tentu saja, tidak ada orang yang mengharapkan kabar yang "biasa-biasa", nama Reza dan institusi yang didirikannya sempat diseret dan dikaitkan sebagai penyebab perpisahan kami. Semoga penjelasan ini dapat menjadi acuan lebih baik untuk penyusunan berita gosip Anda, sekalipun saya yakin, penjelasan ini pun masih bisa diinterpretasikan dengan 'miring', tergantung daya tangkap dan niat dari pihak yang membaca. Dan jika kronologi waktu yang saya jelaskan di atas masih juga dikacaukan, baik karena memang belum tahu atau sengaja, then it's entirely your own problem.
Mudah-mudahan saya salah, tapi sukar untuk tidak mengasumsikan bahwa wawancara imajiner di atas didesain sebagai “bumerang” bagi saya di kemudian hari, yang barangkali diharapkan menjadi gosip panas berikutnya. Well, let me ruin that genious plan of yours. I’ll say this again: there’s NOTHING UN-SPECIAL about me and Reza. We've always loved each other as best friends, and now we love each other as companions. Oh, by the way, don’t bother to sneak this info to Marcell… cause, guess what? Not only that he knows, we also hang out together! The three of us! Especially that now we're shamelessly endorsing Blackberry for free! *Photo taken on August 5th, 2008, while celebrating Keenan's 4th birthday.




#5: The Desperate Attempt to Rewrite History
“Jadi… ketidakcocokan Marcell dan Dewi Lestari memang udah terjadi dari taun lalu. Marcell ini ibaratnya baru melek sama pergaulan Jakarta, karena dulunya tinggal di Bandung sebelum ngetop nyanyi dengan Shanty. Awalnya dia kan dulu drummernya Puppen band underground gitu, tiba-tiba kok nyanyi lagu pop? (gak punya pendirian bener). Trus setelah ngetop dengan "Hanya Memuji" dia kawin dengan Dewi. Trus, sekarang ini dianya kayak 'culture shock' gimana gitu deh. Tiap gue clubbing di mana, sering banget ada Marcell. No Dewi. Dewi kan emang gak suka clubbing, sukanya meditasi sama nulis di komputer. Sedangkan Marcell kerjanya keluar mulu, gaul sama cewe-cewe cakep, model-model, sampe akhirnya nyangkut dengan model "ISABEL JAHJA" (Abel). Pokoknya social climber bener deh, jadi kesannya norak dan kampung menurut gue. Aduh capek deh pasangan ini, gak di mana-mana ciuman dan grepe2 (enek liatnya), terutama di tempat clubbing dan kesian dalam hati karena Dewinya gak tau apa-apa. Tapi akhirnya Dewinya tau juga. Katanya sih sempet menangkap basah Marcell dan Abel sedang... yah you know lah. Akhir cerita Dewinya mau cerai, dan kabarnya sih udah mau proses. Kesian ya Dewi, padahal orangnya baik, pinter, spiritual pula. Marcell-nya emang masih rada anak kecil gitu sih. Yah maklumlah baru melek pergaulan Jakarta (dasar norak).” [Thread from Forum Detik.com. Posted by: Lollypopsicle]

Dan ketika ada komentator yang meragukan keabsahan kisahnya, dengan yakinnya ia menambahkan:

Yah, liat aja entar. Orangnya yang curhat langsung kok, Bos.

Fact:
Abel is a dear friend of mine. Those horrific incidences—‘menangkap basah’, ‘menangkap kering’, and everything in between—never happened. She had nothing to do with our decision to separate.

Dee’s Comment:

Whoever you are, I appreciate your ‘positive’ review on me. But just between you and me, do you think I will be stupid enough to actually ‘curhat langsung’ to you, an obvious person who doesn’t know what she/he is talking about, and who doesn’t know anything about me? Let me make this clear. Once and for all. Berikut adalah kategori orang-orang yang TIDAK MUNGKIN menjadi teman curhat saya:
• Mereka yang menyangka pekerjaan saya hanya meditasi dan nulis di komputer.
• Mereka yang menyangka Marcell doyan clubbing. He went to club mostly for work, because he once had a trio with a DJ (DJ Romy) and a drummer (Tyo Nugros), where all of their gigs were performed at clubs. Marcell is a vegetarian, he practices Taichi and Brazilian Jiu-jitsu, and he doesn't smoke or drink alcohol or do drugs. How fun can that be for a clubber? Go figure.
• Mereka yang menyangka seorang Marcell bisa culture shock hanya karena pindah dari Bandung ke Jakarta, I mean, get real. Bandung is 2 hours away from Jakarta, and he had a music career since junior high. And if later you become a recording artist plus a professional actor like him, no matter where you live, you’ll be working a lot in the heart of Jakarta from day one of your career. Unless you’ve been living in Lembah Baliem for your whole life, nothing can be TOO shocking about clubbing life in Jakarta. Social climber? Hello? No ladder that we can see from up here! Nor we care!
• Mereka yang masih mempermasalahkan keluarnya Marcell dari Puppen. It’s so 90’s. Get the hell out of your broken time machine and start live in the now.


#6: The Timeless Underground War

“Karma kali, gara2 Marcell keluar dari Puppen dan malah jadi penyanyi pop.
Pernah tuh Puppen tahun 2002 apa 2003 gitu tampil di acara sma gw, mereka bawain lagu baru yang ceritanya tentang pengkhianat band metal yang beralih jadi lagu cengeng (Marcell)... [2] Mereka susah payah berjalan dengan idealisme mereka, tau2 ada anggotanya yang keluar demi suatu yang mereka mati2an tolak, tau nggak rasanya?”
[Thread from Forum Kafegaul.com. Posted by: BU33]

Fact:

That is taken from the thread that’s supposedly discussing our divorce issue. Seriously.

Dee’s Comment:

Marcell keluar dari band bernama Puppen pada tahun 1998. Saat dia masih mahasiswa tingkat dua. Baru empat tahun kemudian, tahun 2002, Marcell berkarier menjadi penyanyi. Dan sukses. I don’t know which part of his career path that was taken so hard by so many people. But I tell you this: it’s been TEN FRIKKIN’ YEARS, people! Get over it! Gosh.
When he plays drum like a rocker and has a voice of a pop singer, do we really need to make him scream and growl? Just so he stays ROCK, UNDERGROUND, and INDIE? And in order to avoid that mortal betrayal, do we need to ban him from singing and forever stick him to his Pro-Mark sticks (though I know he would love to stick to his huge set of Tama Starclassic EFX Performer forever)?
And the funniest part is: within his five years career, Marcell has created three best-selling albums, a movie, a couple of tv series, and hundreds of gigs all over the country, while most of his critics have created… none.


#7: The Sekong Lekong's Wishful Fantasy
“Katanya si Marcell ketahuan yah lagi pegang2an ama salah satu finalis L-Men 2008? Trus di sini dibilangnya Dewi selingkuh? Jadinya dicere'in. Nah karna itu, mereka nggak mau ngasih tau apa penyebab perceraiannya… [2] Iya, si Marcell kan waktu itu dikabarin lagi deket sama salah satu pria L-men... dan lagi Marcell sempet nyanyi pas di acara L-Men itu sendiri... dia dikabarin lagi rangkul2an gt trus ketahuan ama temen deketnya si Dewi, alias managernya... yah si Dewi nggak terima dong suaminya lekong gitu jadi putus deeh… [3] gue juga kaget waktu dengernya... Dewi aja nangis2 pas managernya ngomong gitu! lagian ****** banget managernya rada2 comel juga sih, masa suaminya kaya gitu dilaporin ke Dewi. Harusnya dilaporinnya ke publik.” [Thread from Forum Detik.com. Originally posted by: Vermouth]

Fact:
Marcell is as straight as an arrow, and has no interest whatsoever in L-Men, X-Men or A-Men. Sorry to disappoint some of you.

Dee’s Comment:

For me, this is the most hillarious finding. I just couldn’t believe how imaginative, creative, and yet delusional people can be.


#8: The New Religion and The Food Status

"Oh, dulu yang katanya pasangan celebrities yang pindah agama dari Kristen ke Buddha itu ya? Apa mungkin mereka pindah ke Buddha supaya cerainya gampang ya? Kirain dulu mereka pindah Buddha karena ajarannya... (2) Menurut saya ya, kalau seorang Dewi Lestari (dan juga Marcell) jika ingin bercerai pindah agama dulu ke Buddhist merupakan langkah yang tepat. Sebab kalau mereka tetap Katholik, perceraian mereka nggak bakal bisa dilaksanakan." [Thread from Milis Spiritual-Group, Posted by: Bung DK]

Fact:

Setelah bercerai, Dewi dan Marcell kini berpikir-pikir untuk menjadi penyembah Dewa Tapir. Sebuah aliran berhala zaman baru. Para penyembah Dewa Tapir ini percaya akan datangnya hari kiamat bernama The Armagedillo, di mana semua makhluk akan musnah kecuali hewan tapir dan para manusia penyembah Dewa Tapir. Kelak, tapir dan manusia akan kawin silang dan menghasilkan spesies baru bernama Homo Ayanugello. Spesies baru ini akan menggantikan Homo Sapiens sebagai penguasa Bumi. Di bawah dominasi spesies Homo Ayanugello, kehidupan di Bumi akan berubah total. Dijamin akan ada kemudahan untuk segalanya. Baik itu kawin, cerai, tidak kawin, bikin KTP, bikin SIM, bayar pajak, dsb. And if someone's still taking this statement seriously as fact, this time I don’t think even God Almighty will ever have mercy on your soul.

Dee’s Comment:

Dari hati yang paling dalam, jujur saya mengatakan: agama hanya cangkang bagi saya. Esensi terdalam dari sebuah agamalah yang menarik. Bukan kulit luarnya. Namun cangkang ini kadang memudahkan kita untuk aspek sosial dan bermasyarakat. Aturan pernikahan dan perceraian, menurut saya, ada di kulit luar. Jadi saya mengerti logika Bung DK. Tapi jika untuk bercerai saja saya perlu pindah agama, itu ibarat seseorang yang tertarik pada tusuk gigi di sebuah restoran, dan akhirnya memutuskan untuk membeli seluruh restoran. So inefficient, and so redundant. Out of the question.

Dan masih dari forum yang sama:

"Inti dari tulisan si Dewi tentang perceraiannya: Hubungan yang kadaluarsa. Ditulis dia sendiri pada paragraf ke 3, 4 dan 5. Bicara kadaluarsa, seperti sebuah produk maka tanggal pacaran mereka adalah tanggal produksi. Dan tanggal pernikahan mereka adalah tanggal pergantian kemasan barang dan peningkatan kandungan/ingredients dalam produk… Ada atau tidak ada kadaluarsa adalah pembicaraan yg mengarah sebuah penipuan. Penipuan atas kedok rasa bosan, eksplorasi dan pencarian sensasi. Kalau mau lebih enak ya undang si Dewi masuk milis ini."
[Posted by: David Silalahi]

Fact:

You’ll die. I’ll die. Amoeba will die. Even Earth is dying.
I wish we were all born with an expiry-date tag stapled to our butts so we know how much time left for us to talk all this nonsense. Unfortunately, we weren’t. Maybe that’s why so many of us waste our precious time on Earth scrutinizing and judging somebody else’s business.

Dee’s Comment:

Don’t bother to invite me in, David. Though I cannot see my expiry-date tag, I can feel that my time is not enough to discuss your issue with the word “kadaluarsa”. Dari observasi saya, sepertinya banyak sekali orang yang “korslet” dengan kata itu. Dan karena jerat bahasa dan kata ini, pengamatan kita sering dibuat melenceng. I don’t know what’s the real issue, tapi agaknya kata “kadaluarsa” dianggap menurunkan derajat kita menjadi makanan atau produk pabrik. Dan kita, manusia serba luhur ini, yang mengenal konsep agung semacam Cinta dan Tuhan, tidak layak dituduh punya jadwal kadaluarsa. Kita begitu terobsesi jadi abadi, atau setidaknya “memiliki” sesuatu yang abadi. Padahal jika kita jeli, segala kondisi dan fenomena akan berakhir. Tidak ada yang tetap. I don’t even think we *own* anything in the first place, even though we’d like to believe otherwise. Dan sejauh yang saya tahu, di liang lahat nanti kita betulan akan jadi makanan cacing. We’re food. We’re so edible. Ask Sumanto.


#9: The Mysterious Mid-Age Woman Revealed

"Marcell mendirikan rumah tangga dengan Dewi Lestari, pada 12 September 2003 dan mereka dikurniakan cahaya mata, Keenan Avalokita Kirana, 3. Tup! Tup! Baru-baru ini SS dikhabarkan mereka sudah berpisah. Disebalik cerita mengejut itu, SS tambah terkejut apabila dimaklumkan perceraian mereka angkara orang ketiga.
Khabarnya, wartawan Indonesia sibuk mencari siapakah kekasih baru Marcell hingga sanggup meninggalkan isterinya. Hebat sangatkah yang empunya diri sehingga berjaya merobohkan mahligai yang sudah bertahun dibina atas rasa cinta.
Hasil siasatan wartawan Indonesia itu lebih mengejutkan SS apabila dikatakan wanita yang bertanggungjawab menjadi punca keruntuhan rumah tangga Marcell ialah artis tapi bukan senegara sebaliknya dari seberang tambak Johor.
Artis itu dikatakan cukup terkenal di negaranya dan difahamkan janda anak satu. Bagaimanapun, SS kurang pasti sejauh mana hubungan Marcell dengan artis itu.
Sehingga kini, wartawan Indonesia belum tahu siapa artis wanita itu. Mungkin perkembangan artis di Singapura tidak sehebat artis di Malaysia.
Tapi selepas SS selidik sendiri, rupanya artis itu sedang berusaha membina nama di negara ini. Kalau tak salah SS, drama lakonannya sedang ditayangkan."
[MyMetro.Com – Soseh Soseh, Malaysia]

Fact:

Amazing, isn’t it? Bahkan negara tetangga kita, Malaysia, sudah mulai terinfeksi virus gosip “orang ketiga” dari jaringan media Indonesia. Walaupun kalau dibandingkan, media Malaysia yang satu ini lebih sportif karena masih mengakui bahwa dia tidak tahu pasti. Dan bagi rekan media se-tanah air, yang selalu tahu pasti akan segalanya, hentikan penyelidikan Anda sekarang juga. Saya akan memudahkan pekerjaan kalian semua dengan memberikan update terkini, sekaligus membuka tabir misteri, siapakah artis misterius yang sempat disebut sebagai “wanita paruh baya” di beberapa media Indonesia tanpa mengatakan “tidak tahu pasti” itu? Are you ready?
Her name is Rima Adams (this given link is under her permission). I’ve met her in person, and she’s such a sweet woman, and nowhere near half of century old. She’s a Singaporean actress who’s currently working on Malaysian TV series. Dan dia memang sedang dekat dengan Marcell sekarang ini. Kedekatan mereka baru dimulai setelah saya dan Marcell dengan mantap memutuskan untuk berpisah. I’m sincerely happy for them and wish them all the best for now and for the future.
Dan jika Anda sungguh-sungguh menyimak kronologi di atas, sebetulnya ada fakta yang lebih penting, yang (sayangnya) menurut feeling saya, akan kembali diabaikan oleh beberapa pihak demi kesenangan dan kepicikan berpikir mereka, but I’m just gonna say it: she IS NOT the cause of our separation (subtitle Melayu: dia TAK bertanggungjawab atas punca keruntuhan rumah tangga Marcell. Tup! Tup!).

Dee’s Comment:

By announcing this news to both medias, Malaysia and Indonesia, I feel so international (at least, regional). Cool. Totally.


#10: The Hands That Will Rock Your Cradle… and Grave.
“Dee – Reza Gunawan Takashimaya Singapore / 30 July 2008: Gw barusan (1.10 pm SIN) liat Dewi Lestari ama Reza Gunawan gandengan tangan di Takashimaya B2. I took back what I said earlier bahwa gw ngga percaya Reza Gunawan jalan bareng Dewi. Ternyata oh ternyata... Semuanya bull****. Mau Dewi dengan segala justifikasinya dan Reza dengan klarifikasinya... [2] Gw dah mau foto, tapi batere hp gw abis. Pas gw mau klik, dia udah ngga bisa buat moto. Tapi gw ngga mungkin salah karena gw pernah contact dia beberapa waktu yang lalu... Bullsh1t semua, coba deh baca blognya dewi, di situ ada link ke blognya Reza. Apa yang ditulis ngga sama dengan kenyataan… Gw liat dengan mata kepala gw sendiri mereka jalan berdua, gandengan tangan, terus makan vegetarian food. Masa iya kaya gitu cuman SAHABAT? Ke Singapore bareng? Please deh.” [Thread from Forum Detik.com. Posted by: Chocolate]

Fact:

Damn right we eat vegetarian food. We’re vegetarians! The only place where we’d be hanging out in the midst of Takashimaya food court must be a vegetarian food stall. Yes, it was us, all right. Saya dan Reza baru-baru ini memang pergi ke Singapura untuk mengikuti sebuah pelatihan penyembuhan. So, by all means, be proud of your 'mata kepala sendiri'. Be very proud. But use them more carefully when you read our blogs next time. We never mentioned anything that contradicts what you saw with those eagle-sharp eyes of yours, darling. Tsk, tsk.

Dee’s Comment:

Poor baby. Hp-nya habis baterai saat ingin menangkap adegan yang dikiranya akan menjadi skandal nasional tahun ini. Jadi, daripada satu arwah terkena risiko mati penasaran di kemudian hari, akan saya tuntaskan cita-cita mulianya yang ingin mengabadikan adegan kami bergandeng tangan di Singapura:


Tidak hanya agar arwahnya terbebas dari kemungkinan gentayangan, saya pun ingin membuat ia kelak mati tersenyum, bahkan hidup bahagia, detik ini, dengan memberikan beberapa bonus foto lagi:








Lihatlah bagaimana kedua tangan kami bermain aneka adu ketangkasan, dari mulai panco sampai injit-injit semut, bahkan melakukan pose balerina yang sedang akrobat. Semuanya khusus untuk Anda! Tak lupa, kami pun mempersembahkan sebuah karya seni, berjudul "American Eagle" by Dewi & Reza:


Oh... sebentar... tampaknya masih banyak dari teman-teman di Forum yang belum merasa puas. Baiklah. Spare your batu bata and head-hammering emoticon. Kami akan menyiapkan foto adegan yang paling Anda tunggu-tunggu... sebuah aksi panas yang pastinya mampu membakar Forum diskusi Anda...


So, rest in peace, my friend. May these small tokens from Singapore will make your days merrier. And don't worry, all pictures were actually taken in Singapore, in Changi Airport (you can match the carpet's pattern in our photo through some lab analysis). When it comes to factuality, hey, we're the guys you can count on.


Hang loose! Ciao!

Barangkali akan ada yang bertanya: untuk apa saya menuliskan semua ini (aside from a good laugh)? Simple. I'd rather speak for myself than having bunch of infotainments or gossipheads do it for me. It's so much fun to create our own infotainment. And sure, they may still do what they need to do, but I'm not gonna miss all the fun. Heheh.

Demikianlah ulasan iseng-iseng tidak iseng saya. Selama kurang lebih sebulan berita tentang perpisahan saya dan Marcell bergulir, begitu banyak hal yang bisa saya renungkan dan pelajari hanya dengan mengamati berbagai reaksi dan komentar yang dilontarkan media, publik, termasuk dari orang-orang yang kami kenal secara pribadi.

Pertama, reaksi bungkam sering diartikan sebagai tindakan terbijak, karena itu membuktikan bahwa kita kebal dan tidak terpancing emosinya. Kita bahkan punya semboyan: diam berarti emas. Namun seringkali “bungkam” yang terjadi adalah menyumpal mulut setengah mati, sementara hati panas terbakar seperti neraka. Kondisi itu, dalam istilah saya, menjadi: diam berarti emas imitasi. Jadi, dalam diam kita, sesungguhnya kita bisa sangat terpengaruh dan bereaksi. Dan di balik sikap tidak bungkam, seseorang bisa jadi betulan kebal dan tak terpengaruh. Ia hanya semata-mata ikut bermain dengan arus tanpa tenggelam di dalamnya.

Dengan menuliskan kedua posting terakhir ini, Anda bisa melihat bahwa saya tidak memilih sikap seratus persen bungkam. Tapi jangan salah. Tujuan saya menulis ini juga bukan untuk membuktikan bahwa saya sama sekali imun dari reaksi emosi atas gelombang gosip (bahkan menjurus fitnah—as you can see) yang terjadi seputar isu perpisahan saya. Saya sangat punya reaksi emosi, yang juga berwarna-warni. Namun inilah puncaknya: life is so darn funny. It’s the best comedy ever. And I choose to laugh.

Kesimpulan kedua saya, semakin seseorang tidak mengenal kita, semakin banyak ia berkomentar. Semakin seseorang mengenal atau memahami kita (tanpa perlu kenal), semakin sedikit dan berhati-hati ia berkomentar.

Another “bullshit theory” of mine? Yeah. You wish.
Read More ..