Showing posts with label On Life and Living. Show all posts
Showing posts with label On Life and Living. Show all posts

Tuesday, August 11, 2009

Manusia Bukan "Mama"

Manusia, Bukan Cuma “Mama”



Dua malam sebelum jadwal siaran rutinnya setiap Selasa pagi di Cosmopolitan FM, Reza mendiskusikan topik siarannya dengan saya. Dia ingin membahas dinamika relasi anak yang sudah dewasa dengan orangtuanya. Saya langsung setuju. Jatuh-bangun dan pahit-manis dinamika tersebut adalah masalah universal yang harus dihadapi oleh semua orang. Cepat atau lambat. Suka tak suka.

Kami lantas berdiskusi tentang banyak aspek, antara lain: pengondisian orangtua kita dulu yang akhirnya membentuk perilaku dan pola asuh mereka terhadap kita, hingga seringkali yang mereka terapkan bukanlah yang terbaik bagi anak melainkan sekadar meneruskan warisan dari orangtua mereka sebelumnya. Dan hal itu berlangsung dari generasi ke generasi, termasuk pada kita saat kebagian giliran jadi orangtua. Belum lagi kalau ternyata pola-pola tersebut meninggalkan trauma. Dalam pekerjaannya, Reza tak jarang menemukan belitan trauma akibat pola asuh masa kecil yang bisa mencengkeram seseorang meski umurnya sudah uzur.

Aspek lainnya lagi yang kami bahas adalah kejujuran yang utuh dan lengkap dalam komunikasi antara anak dan orangtua. Seringkali, karena takut dibilang durhaka, tekanan normatif, dsb, kita memilih untuk tidak terbuka seratus persen pada orangtua kita. Akibatnya, anak tetap tidak bisa menunjukkan otentisitasnya sebagai individu, dan orangtua pun terus ‘terperangkap’ dalam ilusi bahwa anaknya, mau berapa pun usianya sekarang, tetaplah Si Upik dan Si Buyung yang harus terus menerus diawasi dan dikendalikan.

Namun baru pada pagi inilah, saat saya mendengarkan siaran Reza secara langsung, mendarat hantaman yang juga langsung di batin saya. Pada segmen-segmen akhir, Reza berbicara mengenai transisi yang seringkali tak lancar—bahkan mungkin tak pernah terjadi—dalam perubahan peran “anak” dan peran “orangtua” menuju individu-individu yang real, sejajar, dan apa adanya. Kita jarang atau bahkan tak pernah mengenal orangtua kita sebagai manusia—titik—dan bukannya Sang Pemberi Kehidupan, Sang Pemberi Makan, Sang Pengayom, Sang Pelindung, atau Sang Pengasuh. Sebaliknya, orangtua kita pun jarang bahkan mungkin tak pernah mengenal anak-anaknya sebagai manusia—saja—dan bukannya Si Buah Hati, Si Penerus Keturunan, Si Harapan Bangsa & Keluarga, dst. Semua “Sang” dan “Si” tadi memang terdengar luhur dan mulia, tapi juga membius dan melenakan jika kita terus terjebak di dalamnya.

Izinkan saya berbagi sekelumit kisah pribadi. Tentang saya dan perempuan dalam foto di atas... Mama.

Dengan kondisi ayah saya yang seorang perwira militer dan mengharuskannya untuk pindah-pindah tempat dinas, otomatis ibu sayalah yang lebih banyak di rumah untuk mengurusi anak-anak. Saya bertemu ayah saya hanya setiap akhir pekan. Dan dalam dua-tiga hari itu, ayah saya lebih sering menjelma menjadi Sinterklas yang selalu membawakan oleh-oleh, uang saku ekstra, dan kesenangan lainnya.

Sementara itu, dalam dinamika harian dari Senin hingga Jumat, Mama harus berperan ganda menjadi ibu sekaligus ayah bagi kami. Mama memasak dan mengatur rumah, juga menjadi “polisi” dan penegak kedisiplinan, ditambah lagi dengan aktivitasnya yang padat di gereja sebagai penatua, anggota kor, dan ibu asuh tak resmi bagi banyak pemuda perantauan Tanah Batak yang terdampar di Kota Bandung. Begitu banyak peran yang ia jalankan dan semuanya ia jalani dengan sangat baik. Mama adalah sosok yang luar biasa bagi lingkungannya. Dan sosok yang kompleks bagi saya.

Mama meninggal karena kanker di ususnya pada tahun 1995. Saya masih 19 tahun saat itu. Baru kuliah tingkat dua, baru memulai karier bernyanyi. Baru saja berbangga karena bisa membiayai kuliah sendiri dan berhenti minta uang saku. Baru saja menyaksikan ibu saya berbangga melihat anaknya muncul di televisi. Dan baru saja pula saya berkhayal ingin menghadiahinya wisata ziarah ke tempat-tempat suci di Timur Tengah, sebagaimana yang selalu diimpikannya sebagai umat Kristiani.

Saat orang-orang datang melayat, dan juga jauh sesudah itu, kerap saya mendengar berbagai kesan dan cerita orang-orang terhadap Mama. Mereka yang saya kenal, dan juga seringnya tak saya kenal, bercerita banyak hal yang asing di kuping saya tentang Mama. Tak jarang saya takjub bahkan terguncang, menyadari betapa saya tidak mengenal ibu saya sendiri. Dan sebaliknya. Saya merasa Mama pun tidak sempat mengenal saya. Anaknya sendiri.

“Saya ini anak yang besar di luar rumah,” begitu saya selalu berkata. Dan kurang lebih memang benar adanya. Sebagai anak yang dikenal paling cuek di antara lima bersaudara, justru sayalah yang ternyata paling kuat terkena dampak meninggalnya Mama. Saya memimpikannya setiap malam selama berbulan-bulan, dan untuk sekian lama saya tidak bisa membicarakan bahkan memikirkan Mama lebih dari tiga menit tanpa menitikkan air mata. Padahal, saat beliau masih hidup, sayalah yang paling berjarak dengannya.

Selama bertahun-tahun, banyak jawaban dan alasan yang sudah saya renungi. Namun khususnya setelah mendengarkan siaran Reza pagi ini, renungan itu menggenap. Kehilangan saya yang paling kuat bukan disebabkan karena saya belum sempat menghadiahinya wisata melihat Betlehem, bukan karena Mama tidak sempat melihat saya memberinya cucu, bukan karena banyaknya peristiwa penting dan bersejarah dalam hidup saya yang membutuhkan kehadirannya, tapi semata-mata karena saya belum mengenalnya sebagai manusia—titik. Dan yang paling menyakitkan adalah, setiap saya ingin mengenang beliau, saya selalu berbenturan dengan tembok tebal yang diciptakan aneka peran yang Mama mainkan selama hidupnya. Ditambah lagi dengan tameng dari peran saya sendiri sebagai anaknya.

Selama ia hidup, saya hanya mengenalnya sebagai ibu. Mama. Inang Mangunsong. Saya tidak kenal perempuan bernama Tiurlan Siagian. Dan sebaliknya, saya pun merindu dan meradang untuk ia kenali sebagai manusia—saja. Bukan semata anak keempatnya yang hobi menulis dan menyanyi. Dalam sembilan belas tahun kami berinteraksi, kami belum sempat menanggalkan peran-peran kami sebagai ibu dan anak, berjabat tangan atau berpelukan atau sekadar menatap satu sama lain sebagai dua individu yang otentik, yang sejajar, yang real. Ia pergi sebelum kami sempat bertransisi.

Ayah saya kini berusia 71 tahun. Barangkali tak selamanya ia merasa beruntung hidup lebih lama, karena dengan demikian ia “terpaksa” menyaksikan segala tingkah-polah kelima anaknya yang bertransisi menjadi manusia dewasa, lengkap dengan segala konflik dan pertentangan batin yang turut menyertai proses tersebut. Namun, walaupun mungkin tidak terus-terusan, setidaknya saya sempat merasakan interaksi kami berdua bertransisi dari ayah dan anak menjadi manusia dan manusia.

Pagi ini, saya memberanikan diri untuk berkata: sesungguhnya, itulah hadiah terbaik yang bisa kita berikan pada orangtua kita. Itu jugalah hadiah terbaik yang kelak bisa kita berikan bagi anak kita. Dan hanya itulah persembahan terbaik yang bisa kita tawarkan bagi sesama manusia di sekeliling kita. Meski secercah, meski tak selamanya berakibat indah, otentisitas dan kejujuran kita sebagai manusia adalah satu-satunya jabat tangan yang riil antarhati. Antarjiwa. Hanya dengan demikian kita benar-benar tahu rasanya “terhubung”. Dan sungguh, itu adalah pengalaman yang nyaris punah.

Selama kita bersembunyi dan terperangkap dalam peran-peran yang kita jalankan, selama itu pulalah interaksi yang terjadi hanya sebatas tameng. Sebatas pengondisian. Kita bahkan bisa berjalan sepanjang hayat dikandung badan di atas planet ini tanpa pernah menyadari topeng-topeng yang kita kenakan, yang meski dalam interaksinya kita bisa saja merasakan cinta, kedamaian, keindahan, dan hal-hal positif lainnya. Namun ada sesuatu yang lebih dari itu semua.

Kesempatan itu sudah tidak ada lagi bagi Mama dan saya, setidaknya dalam kehidupan kali ini. Tapi kesempatan itu masih ada untuk saya gunakan dengan ayah saya, anak saya, suami saya, kakak-adik saya, dan semua orang dalam kehidupan saya. Begitu juga dengan Anda dan siapa pun yang masih ada dalam kehidupan Anda sekarang. Semoga saja kita mau dan berani menggunakannya.
Read More ..

Thursday, February 19, 2009

Merindu Dunia Mungil

Merindu Dunia Mungil


Memasuki bulan kedelapan saya pindah ke Jakarta, untuk pertama kalinya saya melakukan kegiatan ini: jalan sore.

Hari yang pas; tidak terik, angin berembus kadang semilir kadang kencang, awan di langit berserak membentuk formasi yang indah di mata. Saya berjalan di setapak khusus pejalan kaki yang disediakan kompleks tempat saya tinggal, yang dibuat sedemikian rupa di tengah taman, pasir, dan gerimbun bambu.

Tiupan angin membuat bambu di sekeliling saya bergesek dan menari. Terdengar suara serangga bersahutan, kawanan burung berkicauan, dan tampak seekor kucing menggeliat di atas rumput. Saya memerhatikan kontur tanah di kiri-kanan yang kadang membukit kadang melembah, rumput yang tumbuh pendek-pendek karena rajin dipotong oleh petugas taman kompleks. Dan saya melihat aliran sungai kecil di sebelah kiri, yang ketika saya ikuti ternyata berujung pada sungai yang lebih besar lagi, yang suaranya mampu menahan kaki saya diam berlama-lama di pinggirannya. Lalu saya masuk ke dalam fasilitas umum di mana saya temukan kolam dangkal berisi ikan beraneka ukuran. Riak air di atas kolam berkilau lembut diterpa matahari senja. Ada sekelompok ilalang yang bergoyang di sudut kolam.

Sepanjang perjalanan kaki sore itu, satu hal yang terus bergaung di kepala: kemana saja saya selama ini? Delapan bulan saya tinggal di kompleks tersebut, kompleks sama yang menyimpan nyanyian bambu, kicauan burung, kor serangga, dan aliran sungai, tapi sore ini saya menemukan semua itu bagai harta karun terpendam.

Saya teringat masa kecil dulu, saat kendaraan utama saya adalah tungkai kaki saya sendiri, paling banter roda sepeda. Saya juga ingat permainan masa kecil yang masih terus saya mainkan bahkan sampai SMP, yakni: main “orang-orangan”. Jujur, saya tidak tahu apakah istilah itu universal atau sebetulnya hanya istilah intern yang hanya berlaku di lingkup keluarga saya saja. Yang saya maksudkan adalah, permainan menggunakan benda-benda kecil yang dianggap sebagai “orang”, dan kita mainkan orang-orangan tersebut layaknya kehidupan manusia sehari-hari.

Waktu kami kecil, orang tua kami jarang sekali membelikan mainan. Mereka dengan senang hati membiayai kami kursus piano, atau membelikan pensil warna, atau buku cerita, tapi tidak setahun sekali saya dibelikan mainan baru. Mainan adalah benda mahal dan amat sangat langka dalam hidup saya saat itu. Karena itulah, kami terpaksa menciptakan mainan sendiri. Menggunakan apa pun yang ada.

Saya ingat, kakak-kakak saya mengukir styrofoam menjadi aneka makanan, dan kami main ‘restoran-restoranan’. Pada satu masa, kami juga membuat aneka kue dari lilin malam, dan kami main jualan kue. Ada juga masanya kami bermain menggunakan white board, yang kami bagi jadi empat bagian, dan di masing-masing petak kami menggambar ‘koran-koranan’ buatan masing-masing. Lengkap dengan artikel dan iklan. Ada juga masanya kami membuat kartu-kartu ucapan, lalu saling kirim kartu ke satu sama lain. Namun dari semua permainan ciptaan sendiri itu, orang-oranganlah yang bertahan paling lama.

Orang-orangan favorit kami adalah bidak catur, terutama yang berbahan plastik. Kalau bidak catur tidak ada, pilihan berikutnya jatuh pada batu baterai (ukuran AA). Berhubung bentuk pion catur semua sama, cara membedakannya adalah dengan mengikatkan karet rambut di leher bidak tersebut. Ada yang pink, hitam, putih, biru, hijau, dst.

Orang-orangan kami punya nama, punya pekerjaan, dan punya rumah. Rumah mereka dibangun dari buku-buku tebal yang berfungsi menjadi lantai, mereka juga punya tempat tidur yang dibuat dari kapas, punya mobil dari kotak korek api, punya meja makan dari balok kayu bekas, dst. Bahkan, karena kami biasa main berempat (saya, adik, dan dua kakak perempuan saya), kami bisa membangun satu kota sendiri untuk orang-orangan kami. Ada fasilitas sekolah, toko, dsb. Kami bisa main berjam-jam. Kami bisa main seharian. Satu-satunya agenda di kepala saya menjelang bubar sekolah adalah buru-buru pulang ke dunia mungil itu. Secepat-cepatnya.

Bertahun-tahun memainkan permainan yang sama, mata saya mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda. Seperti muncul sepasang mata alternatif yang memandang dunia dari ukuran pion catur. Dunia sehari-hari kita ini menjadi dunia raksasa. Dan justru di hal-hal yang mungil dan kecil, saya menemukan normalitas. Ketika saya melihat pohon melati yang tingginya hanya sebetis, pada saat yang bersamaan saya melihatnya laksana pohon beringin besar tempat orang-orangan saya bisa bermain, bernaung, bahkan tinggal di rumah pohon. Ketika saya melihat genangan air yang hanya sebesar telapak kaki, pada saat yang bersamaan saya menemukan kolam renang bagi orang-orangan saya. Dan akhirnya saya punya dua dunia sekaligus, yang sama-sama normal, yang sama-sama sahih.

Mata saya menjadi terlatih untuk mengamati hal remeh, hal mungil, hal kecil. Didukung oleh keterbatasan seorang anak yang baru mampu mengeksplorasi lingkungan dengan berjalan kaki, saya pun menemukan aneka keajaiban dalam hal-hal yang biasa. Hal-hal yang niscaya luput dari seorang dewasa yang mengamati dunia dari jendela mobil dengan kecepatan laju sekian tenaga kuda.

Setelah jalan kaki sore pertama di kompleks, esok harinya saya mulai berjalan pagi. Terkadang, jika pagi atau sore tak sempat, sebelum masuk rumah, saya dan Reza berjalan kaki malam-malam. Memandangi gerimbun bambu yang kini menyerupai bayang-bayang, menikmati bebunyian yang kini didominasi suara jangkerik. Satu hari, kembali kami beruntung dan mendapati malam yang indah. Sebagian besar langit tampak jernih. Bintang bersembulan.

Pada satu titik, kami berhenti dan duduk. Seperti dua bocah polos yang masih gampang tercengang, kami terlongo-longo melihat bintang-bintang yang sepertinya semakin dilihat malah muncul tambah banyak. Dalam waktu lima menit, langit di atas kepala kami mendadak padat oleh titik-titik cahaya. Kami lalu berdoa, bergantian, mengucap syukur atas apa pun yang melintas di kepala. Dan yang pertama kali menyeruak di hati saya adalah ucapan syukur bahwa saya diingatkan untuk menikmati keindahan dalam hal-hal kecil. Keluarbiasaan dalam hal-hal biasa. ‘Kebesaran’ dalam ‘kemungilan’.

Saya tersadar betapa saya merindukan dunia mungil itu. Dunia yang bisa diteropong hanya kalau menggunakan mata ‘orang-orangan’. Mata yang sempat begitu terlatih. Mata yang mengajarkan saya untuk menjadi seorang pengamat. Mata yang mengajarkan saya untuk menjadi seorang penulis.

Baru-baru ini, di acara pertemuan klub pembaca di Toko Buku Aksara, seorang pengunjung yang mengaku menyukai detail dalam salah satu cerita pendek saya bertanya: kok bisa, sih? Bagaimana caranya? Dan saya harus kembali pada jawaban ini lagi: mengamati. Seorang penulis harus memiliki mata seorang pengamat. Dalam hati saya, kisah panjang permainan ‘orang-orangan’ kembali bertutur tanpa bisa dibendung. Kisah yang barangkali terlalu panjang untuk dicerna dalam sebuah diskusi buku. Tapi tidak cukup panjang untuk direnungkan dalam satu sesi jalan kaki.
Read More ..

Monday, February 02, 2009

Dee Manifesto: Lesser Living For A Fuller Life

Dee Manifesto:
Lesser Living For A Fuller Life

Own less. Create more.
Buy less. Share more.
Work less. Play more.

Less media gazing. More sky gazing.
Less cellphone time. More reading time.
Less noise. More silence.

Less impulsive shopping. More frugal consuming.
Less wanting. More gratitude.
Less needing. More contentment.

Explain less. Act more.
Stress less. Laugh more.
Think less. Feel more.

Less promises. More surprises.
Less performances. More inquiries.
Less concepts. More experiments.

Answer less. Question more.
Comply less. Question more.
Believe less. Question more.

Less known. More unknown.
Less handed-down beliefs. More self-discoveries.
Less fixation. More freedom.

Talk less. Listen more.
Analyze less. Experience more.
Judge less. Observe more.

Less concrete. More soil.
Less tabloids. More trees.
Less smoking sections. More fresh air.

Criticize less. Appreciate more.
Object less. Understand more.
Exclude less. Include more.

Less knowledgeable. More innocence.
Less target. More acceptance.
Less doing something. More doing nothing.

Attach less. Release more.
Ignore less. Meditate more.
Fear less. Breathe more.

Less addiction. More awareness.
Less norms. More conscience.
Less mindless. More mindfulness.
. . .
Read More ..

Friday, January 23, 2009

Pelajaran Winnie Sang Penyihir

Pelajaran Winnie Sang Penyihir



Sebagaimana ritual kami setiap malam, Keenan minta dibacakan dongeng sebelum tidur. Dan seperti biasanya, saya memberikan kebebasan bagi Keenan untuk memilih buku yang ingin ia baca. Malam itu, ia memilih dongeng serial “Winnie The Witch”—enam buku yang masih licin dan rapi karena belum pernah dibaca. Sebulan yang lalu, bundel dongeng itu dihadiahkan sahabat saya tercinta: Tri (atau ‘Tante Tree’, jika diucapkan oleh Keenan, seperti melafalkan ‘tree’ dalam bahasa Inggris). Tantenya yang satu ini tinggal di Dubai dan pulang ke Indonesia cuma satu-dua kali setahun.

Jika suka pada satu buku, Keenan biasanya mengulang-ulang buku yang sama. Butuh waktu panjang untuk akhirnya Keenan melirik materi baru. Saya, yang kebagian tugas membacakan, terpaksa bertahan dengan rasa bosan. Tak jarang saya jadi hafal isi buku-bukunya sampai kata per kata. Jadi, waktu dia memilih “Winnie The Witch” yang sudah sebulan nongkrong di rak, dalam hati saya bersorak-sorai (hore! bacaan baru! akhirnya!).

Dengan penuh semangat saya mulai membaca. Halaman pertama… wow! Saya takjub dengan ilustrasinya yang luar biasa detail. Kami bisa menghabiskan sepuluh menit sendiri hanya untuk membahas gambarnya yang begitu kaya. Proporsi antara panjang teks dan ilustrasi juga seimbang dalam tiap halamannya. Tidak membuat yang mendongeng belepotan atau napas kepayahan setelah habis satu buku. Belakangan saya tahu bahwa serial yang ditulis oleh Valerie Thomas dan diilustrasikan oleh Korky Paul ini adalah pemenang Children’s Book Award, dan sudah terjual dua juta eksemplar dari peluncuran pertamanya pada tahun 1987.

Kisah dimulai dengan Winnie yang tinggal di rumah serba hitam. Dari mulai dinding sampai seprai... semuanya hitam. Winnie hanya ditemani seekor kucing bernama Wilbur—yang juga hitam. Satu-satunya yang bisa membedakan Wilbur dari ruangan dan seluruh isinya adalah matanya yang hijau. Begitu Wilbur tidur dan kelopak matanya menutup, maka ia hilang menyatu dengan rumah. Berkali-kali Winnie menduduki Wilbur secara tak sengaja. Dan itulah awal dari segala permasalahan antara Winnie dan Wilbur.


Setelah terjungkal dari tangga karena menyandung Wilbur yang sedang terlelap, Winnie lalu memutuskan untuk menggunakan sihirnya, dan… ABRAKADABRA! Wilbur berubah menjadi kucing hijau. Sekarang, di mana pun Wilbur berada, ia selalu terlihat. Termasuk saat Wilbur mencuri-curi tidur di tempat peraduan Sang Penyihir. Karena tidak mengizinkan Wilbur tidur di kasur, akhirnya Winnie meletakkan Wilbur di pekarangan rumput.


Masalah baru timbul. Wilbur, yang sekarang berwarna hijau, kembali tak terlihat di tengah-tengah rumput. Bahkan saat ia membuka mata sekalipun, berhubung matanya juga hijau. Winnie, bangun dari tidurnya, lantas mencari Wilbur di pekarangan. Lagi-lagi, penyihir itu tersandung kucingnya sendiri, jumpalitan tiga kali di angkasa, dan tersuruk di tanah.

Kali ini, Winnie benar-benar kesal. Disambarnyalah tongkat sihir, dan… ABRAKADABRA! Wilbur berubah menjadi… warna-warni! Kepalanya merah, kupingnya kuning, kumisnya biru, badannya hijau, empat kakinya berwarna ungu, dan ekornya... pink! Winnie sangat puas. Sekarang, di mana pun Wilbur berada, baik di rumah maupun di pekarangan, ia pasti akan terlihat.


Namun, Wilbur tidak mau kembali ke rumah. Ia sangat malu dengan warna tubuhnya yang tidak karuan. Ia bahkan ditertawakan oleh binatang-binatang lain. Wilbur kabur ke puncak pohon tertinggi dan tidak mau turun-turun. Pagi sampai malam, Wilbur bertahan tidak pulang.


Melihat Wilbur yang menderita, Winnie pun merasa sedih. Wilbur adalah segalanya bagi Winnie. Tapi ia malah membuat Wilbur sengsara karena kehendaknya sendiri. Winnie akhirnya beringsut ke pohon tempat Wilbur bergantung, dan dengan tongkat sihirnya ia mengubah Wilbur kembali hitam. Perlahan, kucing itu kembali turun ke tanah. Bersama Wilbur yang kembali di sisinya, Winnie menghadap rumahnya yang serba hitam, mengayun tongkat sihirnya di udara, dan… ABRAKADABRA! Rumah hitamnya berubah kuning dengan atap merah menyala, sofanya berubah putih, karpetnya menjadi hijau, tempat tidurnya biru, selimutnya pink, dan kamar mandinya putih berkilau. Dengan perubahan baru ini, Wilbur dapat terlihat dengan mudah… tanpa perlu berubah.

Buku 32 halaman itu selesai didongengkan dalam sepuluh menit. Namun kesan yang tertinggal tak terukur oleh waktu. Winnie mengingatkan saya pada kita semua. Kita, yang seringkali bersikukuh untuk mengubah seseorang, memermaknya agar sempurna di mata kita, memaksanya agar muat dan tepat dalam ruang hidup kita, memangkas atau menambalnya agar bisa pas dengan kebutuhan kita, tanpa peduli bahwa apa yang kita perbuat sesungguhnya adalah siksaan bagi yang bersangkutan. Dalam penjara logika dan mental kita masing-masing, kita berpikir bahwa mengubah seseorang adalah solusi yang realistis dan humanis. Atas nama cinta dan apa pun, kita bahkan merasa bahwa kita sedang berbuat kebaikan.

Namun Winnie Sang Penyihir mengingatkan kita bahwa ada satu hal penting yang sering terlupa: diri kita sendiri. Perubahan tak pernah terjadi oleh hal lain di luar kita, meski faktor eksternal bisa jadi pemicunya. Yang mampu menggerakkan perubahan sejati hanyalah kita sendiri. Seperti halnya Winnie yang luput membenahi rumahnya dan malah sibuk mengutak-atik Wilbur tanpa sadar kalau aneka sihirnya malah membuat Wilbur terdera karena menjadi sesuatu yang bukan dirinya, kita pun acap kali terlena dalam ekspektasi serta upaya untuk mengubah orang lain, dan malah lupa dengan pembenahan yang paling penting dan realistis yakni, sekali lagi, diri kita sendiri. Dan ini adalah masalah yang amat sering kita alami. Dari waktu ke waktu.

Impian saya tertinggi adalah menulis buku anak-anak. Dan saya bahagia berhasil menemukan contoh yang luar biasa dari serial “Winnie The Witch”. Pesan yang begitu dalam dan bijaksana berhasil dikemas dengan indah dalam dongeng beralur sederhana dan gambar jenaka. Bukan cuma anak umur 4 tahun seperti Keenan yang belajar sesuatu. Kita yang dewasa pun dapat sejenak berkhayal menjadi Winnie, mengarahkan tongkat sihir ke diri kita, dan marilah kita utak-atik segala sesuatu yang perlu dibenahi, sebelum ada Wilbur lain yang terpaksa berubah jadi pelangi.


PS. Tri, Winnie is your best gift to Keenan so far. Honestly, I didn’t expect it, especially since Captain Underpants :) Thank you so much, sis.
Read More ..

Tuesday, October 14, 2008

The Age of Ignorance

The Age of Ignorance


Delapan tahun yang lalu, saya menulis manuskrip “Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh” dengan sebuah harapan. Harapan yang lahir dari rasa sedih, amarah, dan frustrasi. Saat Ambon luluh lantak akibat perang berisukan agama pada tahun 1999, hati saya ikut remuk redam. Entah kenapa, konflik yang mengatasnamakan kebenaran dan Tuhan selalu membuat saya gerah. Terlepas dari isu politik apa di baliknya, sungguh menyakitkan bagi saya ketika seseorang mampu meneriakkan nama Tuhan saat menggorok leher sesamanya, ketika seseorang dirajam secara gotong royong atas nama agama.

Tahun 1999 juga merupakan tahun bersejarah bagi saya. Pada bulan Desember, untuk pertama kalinya saya “terbangun” dari mimpi panjang saya akan Tuhan dan segala kebenaran warisan. Untuk pertama kalinya, saya menemukan otentisitas yang selama ini saya cari-cari bagai ikan di laut yang bertanya-tanya keberadaan air. “Sesuatu” itu ada di bawah hidung saya, bersemayam dalam diri tanpa pernah saya sadari saking sibuknya menggapai ke luar. Malam pada tanggal 17 Desember, tabir itu terangkat dan “sesuatu” itu menunjukkan dirinya pada saya. Tak ada lagi keterpisahan.

Saya tidak akan pernah lupa momen tersebut. 27 jam berada dalam ekstase. Dan dunia berubah total bagi saya sejak saat itu. Segalanya tak lagi sama. Termasuk arti Tuhan dan kebenaran. Seusai titik puncak itu, saya pun kembali merenung dan bertanya: apa yang bisa saya lakukan? Apa yang bisa saya bagi? Dan pada tahun 2000, saya mulai menulis. Terbakar oleh harapan bahwa perubahan besar itu pasti akan datang, mengakhiri Kali Yuga yang merupakan zaman kegelapan batin, dan membangunkan semua jiwa yang sudah siap lepas landas. The great shift. The new age of consciousness. Gelombang kesadaran baru yang membawa dunia menuju pencerahan spiritual. Saya ingin menyumbang secercah riak, meskipun kecil dan lemah jika dibandingkan deru gelombang di samudera kesadaran yang tak berbatas ini.

Delapan tahun berlalu. Harapan itu masih saya simpan bagaikan mengantongi berlian mungil. Sesekali saya intip untuk melihat kilau cahayanya. Meski kadang mengusam dan menciut, saya tahu berlian tersebut masih tersimpan aman di kantong.

Seminggu yang lalu, saya menerima sebuah sms dari nomor tak dikenal. Isinya sebaris singkat caci maki. Sejenak saya bertanya dalam hati, apakah ini salah sambung? Atau ada teman saya yang iseng? Akhirnya saya menelepon nomor itu. Seorang laki-laki yang mengaku bernama Andi menjawab panggilan saya. Lalu saya bertanya, apa maksud dari sms-nya. Lantas mengalirlah keluh kesah kekecewaan dan kecaman dari orang yang saya tak kenal itu. Ia mengecam pilihan saya dan berdalih bahwa ia kasihan pada anak saya.

Saya tertegun. Dan akhirnya saya berkata padanya, keras: “Anda tidak mengenal saya, dan Anda berani menghakimi saya berdasarkan kesimpulan Anda sendiri yang bersumber dari berita yang Anda pikir benar padahal tidak, dan Anda bisa-bisanya beralasan kasihan pada seorang anak yang tidak pernah Anda temui dan kenali? Menurut saya, di sini yang terganggu adalah Anda. Bukan saya atau anak saya.”

Tak lama, ia meminta maaf, sejenak bahkan berbasa-basi menanyakan buku baru, dan pembicaraan kami pun usai. Saya menutup telepon dan seketika menyadari sesuatu: tangan saya gemetar. Saya marah. Saya murka. Merasa privasi saya diterjang dan diobrak-abrik. Orang itu datang ke teritori pribadi saya, berbekal asumsi yang ia rakit dari info sepotong, kemudian dengan gagah berani mengusung panji kebenarannya sendiri. Persis prinsip orang main hakim sendiri, tanpa ba-bi-bu merajam sang tersangka tanpa perlu memproses lebih lanjut. Senjatanya bukan batu, melainkan kata-kata. Merenungi itu semua dada saya pun sesak. Sesuatu bergolak sangat hebat.

Selama beberapa bulan terakhir, keadaan memaksa saya untuk menerima aneka justifikasi dari orang-orang yang tidak saya kenal. Mereka datang ke blog ini, atau bersuara dalam ruang mereka sendiri, tentang kehidupan dan pilihan saya—orang yang mereka pun tidak kenal. Dengan semangat berkobar mereka mengusung panji-panji kebenaran mereka, menyatakan perang atas “ketidakbenaran” yang mereka lihat, bahkan sampai mencuri foto pribadi lalu menyebarkannya seperti virus. Masih dengan perilaku serupa, institusi-institusi media nasional pun tak ketinggalan mengadopsi virus itu dengan segala keterbatasan dan kebelepotan mereka, hingga nilai akurasi dan faktualitas yang seharusnya menjadi kode etik media pun diabaikan. Beberapa bahkan sudah sampai ambang batas idiot.

Fenomena ini bukanlah barang baru. Ini adalah drama kemanusiaan yang terjadi di seluruh muka bumi. Dan jika kita sama-sama jujur dan berani bertanya: mengapa kita gemar infotainment? Mengapa kita menyukai koran merah? Mengapa kita begitu candu pada gosip dan tragedi? Mengapa kita diam-diam merasakan kepuasan saat orang bernasib lebih buruk dari kita? Mengapa kita merasa terganggu saat orang-orang yang kita pikir harusnya lempar-lemparan piring malah duduk semeja dengan manis dan tawa lebar? Jika kita berani bertanya dengan cukup dalam, barangkali kita menyadari bahwa kita ternyata kecanduan perang. Konflik adalah penjara yang membuat kita nyaman. Dengan alasan yang sama, manusia lantas menciptakan surga. Kita yang terbiasa hidup bak di neraka dan berbagi apinya bagai mengedarkan tongkat estafet, membutuhkan surga untuk jadi asuransi bersama. Kita perlu sebuah fantasi muskil yang baru bisa dicapai kalau kita mati. Tapi tidak sekarang. Surga bukan untuk dikonsumsi hari ini, bukan untuk dibangun di bumi. Di sini kita tidak boleh damai dan bahagia. Meski mulut kita selalu berkata sebaliknya.

Jika kita jujur, dapatkah Anda menyadari secercah kepuasan yang muncul saat Anda terbukti lebih bermoral daripada orang lain? Terbukti lebih normal dan sesuai kaidah orang banyak? Ada rasa aman di sana. Rasa nyaman, dan… rasa benar. Seumur hidup kita cari kebenaran itu. Dan kita berusaha mendapatkannya dari konsensus orang banyak, dari normalitas. Namun kita sering lupa bahwa konsensus itu pun dibentuk oleh orang-orang yang sama-sama mencari. Mereka yang menemukan tidak akan repot lagi menggalang massa demi mencari persetujuan.

Dua hari saya seperti orang patah hati. Percakapan telepon itu menjadi puncak kumulasi dari rasa frustrasi global saya atas kemanusiaan. Ia berhasil merenggut sebutir mungil berlian yang saya simpan selama ini. Dan saya dipaksa melihat kenyataan pahit bahwa perang itu ternyata masih berlangsung. Perang Salib atau kerusuhan Ambon, hanya masalah skala dan tempat. Esensinya tetap sama. Kita berperang setiap hari mengatasnamakan kebenaran, agama, dan Tuhan. Padahal apa yang kita perangkan hanyalah konsep kita sendiri, isu pribadi kita sendiri, yang tak berani kita selesaikan di dalam hingga kita harus memproyeksikannya keluar, ke orang-orang yang tidak kita kenal. Hanya karena kita pengecut. Kita tidak berani meninjau peperangan di dalam diri. Menggapai keluar lebih mudah. Menilai dan menghakimi orang lain lebih memuaskan daripada mengevaluasi ke dalam.

Mata saya dipaksa untuk melihat bahwa bandul kemanusiaan dari zaman batu sampai hari ini hanya bergerak dari kanan ke kiri dan tak ke mana-mana lagi. Era kesadaran baru… kebangkitan spiritual… semua rasanya hambar dan ilusif. Perang ini terus berlangsung dan tak akan pernah selesai.

The greatest enemy is not evil, but ignorance. And as far I as can see, we’re not living in the age of new consciousness. Not even close. We’re living in the age of ignorance, as we’ve always been, and will always be.

Duka cita yang mendalam ini barangkali hanya untuk sementara. Namun hari ini saya ingin mengucapkan selamat tinggal pada berlian mungil itu, yang meski juga sementara, cahayanya sempat menggerakkan saya untuk berharap dan berkarya.

Kini izinkan saya pamit dan berduka.
Read More ..

Monday, September 01, 2008

Warna-Warni Kacamata-Kacahati

Warna-Warni Kacamata-Kacahati


Dalam dua bulan terakhir, begitu banyak eksperimen dan fenomena sosial yang saya jalani, baik sengaja maupun tidak sengaja. Begitu banyak pula pelajaran dan perenungan berharga yang saya peroleh dari rangkaian pengalaman ini.

Saat saya menuliskan artikel “Catatan Tentang Perpisahan”, respons yang saya terima sungguh di luar dugaan. Sejauh ini, itulah artikel yang memecahkan rekor komentar terbanyak di blog ini. Hampir semua artikel di blog ini berbasiskan pengalaman saya pribadi, tapi “Catatan Tentang Perpisahan” sepertinya begitu mengusik ‘dawai’ banyak orang. Entah karena kisahnya yang aktual, faktual, dan mengandung unsur sensasi, but it seems we all have our own saying when it comes to love, relationship, and God. Tiga topik itulah yang menjadi benang merah hampir semua komentar yang terlontar. Dalam boks putih itu, kita mengadu persepsi dan pengalaman kita atas ketiganya.

Saya akan berbagi dengan jujur tentang pengalaman saya pada posisi sebagai si penerima reaksi. Sampai komentar ke-60 sekian, saya masih amat peduli dengan apa yang dikatakan orang. Ketika saya merasa disalahmengerti, dihakimi, dianggap melakukan pembenaran atau bagi-bagi teori, saya masih merasakan kecewa, gemas, bahkan terkadang amarah. Padahal pengunjung blog ini, menurut saya, terbilang orang-orang yang intelektual dan masih santun dalam penyampaian opininya. Sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan forum-forum gosip di luar sana, di mana kesantunan atau intelektualitas sama sekali tidak dijunjung, bahkan jadi bahan tertawaan. Namun, tak urung hati saya terkadang masih bereaksi.

Begitu komentar sudah bergerak ke angka 100, saya mulai menyadari sesuatu. Hati saya melentur. Bukan berarti komentar yang masuk tidak lagi bermakna, tapi mulai menjadi “nggak penting”. Dan ketika angka itu terus bergerak… 150, 180, 200… saya mulai menyadari sesuatu lagi. Saya tidak lagi peduli. Sekali lagi, bukan berarti komentar itu kehilangan makna, tapi ia kehilangan rasa. Tak lagi manis, pahit, tak juga asam, atau asin. Tawar. Berlalu seperti angin tipis di atas air, hanya meninggalkan riak kecil lalu pergi tanpa bekas. Tidak lagi ada ombak atau debur yang menggebu.

Ada satu titik tolak yang akhirnya membawa saya ke fase ini, yakni ketika saya menyadari—secara empiris—bahwa kita sesungguhnya tidak bisa mengubah siapa pun. Ini bukan kali pertama saya tiba pada pemahaman tersebut. Namun setiap kali ada pengalaman segar yang kembali mengingatkan saya, rasanya ada kedalaman baru untuk menghayati kenyataan satu itu.

Selama ini, kita percaya bahwa kita bisa mengubah pandangan orang lain tentang kita, kita percaya bahwa dengan upaya yang maksimal kita bisa membuat diri kita dimengerti secara utuh, kita juga percaya bahwa kebenaran yang kita miliki—jika dikomunikasikan dengan sebaik mungkin—bisa menjadi kebenaran bagi orang lain. Rasa percaya itu sedemikian umum dan menjadi pegangan hampir semua orang, hingga ketika kita masuk ke dalam sebuah relasi, dengan siapa pun dan apa pun itu, dari mulai dengan manusia lain hingga Tuhan, kita menganggap bahwa kita punya kendali tersebut.

Namun, apa yang saya amati dari pengalaman saya sendiri—dan yang bisa Anda telusuri pula lewat kedua posting terakhir saya dan aneka komentar yang dilontarkan—setiap orang hadir dengan kacamata dan kacahatinya sendiri. Apa pun yang saya ungkap tidak pernah bisa utuh tertangkap sebagaimana yang saya mau. Seolah ada filter, pembatas, penyaring, yang mendiskon cerita saya secara otomatis di kepala pembaca. Sebaliknya, seolah juga ada amplifier, marker, kaca pembesar, yang tahu-tahu membengkakkan beberapa bagian tertentu saja.

Saya lantas membayangkan ilustrasi sebagai berikut: seseorang mencoba menceritakan sebuah alam yang hijau, lalu seorang lain berteriak protes, bilang bahwa alam hijau cuma bualan. Lalu ada yang membela, bilang ‘betul, kok, alamnya memang hijau.’ Tapi ada lagi yang menimpali, sebenarnya alam ini setengah hijau dan setengah ungu.

Lalu, seorang lain datang dan berkata pada mereka: orang yang menceritakan alam itu hijau memang benar, karena dia memakai kacamata berlensa hijau. Yang protes juga tidak salah, karena kacamatanya kuning. Yang sepakat hijau, ketika dicek, ternyata warna lensanya hijau muda. Jadi walau sama-sama hijau, tetap tidak persis sama. Yang bilang setengah hijau setengah ungu juga tidak salah, karena lensanya memang dua warna. Tersadarlah orang-orang yang ribut tadi bahwa selama ini, realitas yang mereka lihat termediasi selapis lensa. Dan orang terakhir tadi pun berkata bijak pada semua, sesungguhnya realitas yang sejati berwarna pink. Dan sepasang lensa pink bertengger di depan matanya, tanpa bisa ia sadari.

Realitas yang kita jalani amat bergantung dengan kacamata dan kacahati yang kita kenakan. Persepsi kita tentang Tuhan, misalnya. Seseorang yang percaya bahwa Tuhan punya kehendak, akan selalu mereferensikan kehendak Tuhan dalam setiap tindakannya maupun dalam menilai tindakan orang lain. Seseorang yang percaya Tuhan tidak ada, akan bicara lain lagi. Seseorang yang percaya bahwa hubungan cinta adalah perjuangan abadi menuju keabadian, akan selalu melihat cinta sebagai sasana perjuangan dan pengorbanan, hingga mereka yang menyerah dianggap kalah. Seseorang yang percaya pada absolutisme janji sehidup dan semati, akan selalu melihat akhirat sebagai plafon keberhasilan sebuah pernikahan. Dalam variasi pemahaman seperti itu, di manakah kebenaran sesungguhnya bersemayam?

Lensa semata-mata adalah lapisan persepsi yang kita tumpuk, rangkai, dan timbun melalui pengondisian, proses evolusi, dan perubahan yang kita alami sepanjang hidup. Lensa kita sangat mungkin berubah, bahkan terus berubah. Yang dulu berkacamata hijau sekarang bisa jadi merah, dan sepuluh tahun lagi berubah jadi putih. Namun, di mana letaknya kendali perubahan ini?

Dalam Law of Attraction, dikatakan bahwa hidup kita baru berubah jika kita mau melihatnya berubah. Law of Attraction bukan satu-satunya hukum dalam kehidupan, tapi untuk perihal satu ini, bisa disimpulkan bahwa kunci perubahan hanya ada pada diri sendiri. Saya tidak bisa mengubah pandangan Anda, hanya Anda yang bisa. Begitu juga sebaliknya.

Selama lensa kita berbeda, kita hanya bisa mengomunikasikan persepsi kita, menyaksikan bagaimana perbedaan kita bertumbuh dan berdinamika. Sayangnya, seringkali dalam kehidupan nyata, kita tidak puas dengan sekadar “menyampaikan”. Kita ingin mengubah seseorang agar sepaham dengan diri kita. Dan kita percaya dengan berkomunikasi yang baik dan benar (baca: baik dan benar MENURUT kita) maka kita mampu melakukannya.

Dan inilah yang saya amati: sesungguhnya kita tidak terlalu peduli pada kebenaran, kita bahkan tidak mengerti apa itu komunikasi sejati, kita hanya peduli pada lensa kita. Bukan apa yang ada di baliknya. Barangkali itulah yang menjadikan “pemahaman benar” sebagai gerbang akhir pencarian Gautama, bukan kebahagiaan. Bukan surga. Bukan juga neraka. Melainkan pembebasan dari keduanya. Dalam memahami secara “benar”, yang menjadi tujuan bukan lagi perihal benar atau salah, tapi memahami bagaimana keduanya bermula dan bagaimana kita bisa bebas dari jerat keduanya.

Kita semua menginginkan kebahagiaan, bahkan keabadian. Namun sesempurna apa pun lensa yang kita kenakan, seindah dan seadiluhung apa pun realitas yang kita lihat, lensa hanyalah lensa. Lensa tetap menjadi lapisan yang membatasi kenyataan yang kita pikir dan kebenaran yang sesungguhnya. Yang dilakukan oleh sosok seperti Buddha Gautama dan para pencari kebenaran lainnya adalah, mereka tak berhenti mengupas lensa mata dan hati hingga menemukan kebenaran sejati. Kebenaran tanpa lapis apa-apa.

Selama kita berada dalam tatanan realitas berlensa, selama kita masih bergantung pada kacamata dan kacahati kita untuk mengungkap kebenaran, saya dan Anda hanya bertukar kebenaran relatif. No winner, no loser. It’s always a zero sum game.

Saya teringat pengalaman setahun lalu saat mengikuti retreat Dyad di Ubud. Bagaimana bisa dua orang yang saling berhadapan lalu membicarakan sampah dan kerak hatinya bisa menjadi momen pencerahan dan penyembuhan? Bagaimana hal itu dimungkinkan? Dyad semata-mata mengajarkan komunikasi yang sejati. Saat seseorang berbicara, partnernya tidak menanggapi, menyela, menilai, dan menjustifikasi. Ia hanya memberikan perhatian, hadir dengan kesadaran penuh bagi lawan bicaranya.

Poin utamanya adalah, kedua pihak belajar memahami bahwa jika ada kesenjangan lensa antara mereka, perbedaan tersebut memang sudah demikian adanya. Bukan untuk disamakan, dipas-paskan, atau dikoreksi. Dan yang terjadi justru adalah keajaiban komunikasi: sebuah pengertian dan koneksitas yang mendalam, bahkan mencerahkan. Karena hanya melalui komunikasi sejati, lapis demi lapis lensa kita bisa terkikis, dan jika kita beruntung, kita mampu mengintip secercah-dua cercah indahnya kebenaran tanpa kacamata. Indahnya hati tanpa kacahati.

Saya sadar, komunikasi semacam itu sukar terjadi dalam forum seperti ini. Semua pengalaman dalam dua bulan terakhir ini hanya akan menjadi pengingat bagi saya untuk terus berevolusi dan bergulir dengan arus kehidupan. So, let’s move on with our life, our love, and our lenses. And for once, may we appreciate not only the beauty of our own spectacles, but also the differences around us all.
Read More ..

Wednesday, July 16, 2008

Catatan Tentang Perpisahan

Catatan Tentang Perpisahan


Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia. Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati.

Saya sempat termenung melihat salah satu adegan dalam film “Earth” di mana seekor kijang berlari sekuat tenaganya hingga pada satu titik dia begitu berpasrah saat digigit oleh harimau, menghadapi kematiannya dengan alami. Adegan yang tadinya begitu mencekam akhirnya bisa berubah indah saat kita mampu mengapresiasi kepasrahan sang kijang terhadap kekuatan yang lebih besar darinya. Persis bagaikan kijang yang berlari, manusia dengan segala macam cara juga menghindari kematian. Orang yang sudah tidak berfungsi pun masih ditopang oleh segala macam mesin agar bisa hidup. Perpisahan tak terkecuali. Kita pasti akan berjuang habis-habisan untuk bertahan terlebih dahulu. Namun, sebagaimana kijang yang akhirnya berlutut pasrah, sekeras-kerasnya kita menolak kematian dan perpisahan, setiap makhluk bisa merasakan jika ajal siap menjemput, jika ucapan selamat tinggal siap terlontar. Dan pada titik itu, segala perjuangan berhenti.

Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan yang kita anggap sebab sebuah perpisahan. Namun saya percaya, penyebab yang paling mendasar selalu sederhana dan alami: memang sudah waktunya. Hidup punya masa kadaluarsa, hubungan pun sama. Jika tidak, semua orang tidak akan pernah mati dan semua orang tidak pernah ganti pacar dari pacar pertamanya. Kita bisa bilang, putusnya hubungan A karena dia selingkuh, karena bosan, karena ketemu orang lain yang lebih menarik, belum jodoh, dan masih banyak lagi. Padahal intinya satu, jika memang sudah waktunya, perpisahan akan menjemput secara alamiah bagaikan ajal. Bungkus dan caranya bermacam-macam, tapi kekuatan yang menggerakkannya satu dan serupa. Tentu dalam prosesnya kita berontak, protes, menyalahkan ini-itu, dan seterusnya. Namun hanya dengan terus berproses dalam aliran kehidupan, kita baru menyadari hikmah di baliknya.

Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai penyebab perpisahan (orang ketiga, KDRT, tidak dinafkahi, dan lain-lain) menurut saya sebenarnya adalah gejala yang terlihat, bukan penyebab. Sama halnya batuk sebagai gejala penyakit flu. Batuk bukan penyebab, tapi gejala penyakit yang terlihat. Kita sendiri tidak bisa melihat virusnya, cuma merasakan akibatnya, yakni batuk atau beringus. Tapi seringkali kita tertukar memilah mana efek dan mana sebab, hanya karena efek yang terlihat lebih mudah dijelaskan. Alasan sesederhana “memang sudah waktunya” dirasa abstrak, teoritis, filosofis, dan mengada-ada.

September 2006 adalah momen penyadaran saya dengan Marcell, saat kami merasa bahwa hubungan kami sudah kadaluarsa. Susah sekali kalau disuruh menjelaskan: kok bisa tahu? Tapi kami sama-sama merasakan hal yang sama. Dan pada saat itulah kami memutuskan untuk belajar berpisah, saling melepaskan. Jadi, masalah intinya bukan memaafkan dan memaklumi efek apa yang terlihat, tapi menerima bahwa inilah adanya. Hubungan yang kadaluarsa. Perkembangan yang akhirnya membawa kami ke titik perpisahan. Dan, untuk sampai pada penerimaan ini, dua tahun saya jalani dengan berbagai macam cara: meditasi, penyembuhan diri, dan sebagainya, hingga kami bisa saling melepaskan dengan lapang dada, dengan baik-baik, dengan pengertian, dengan kesadaran.

Memaafkan bagi saya adalah menerima. Menerima kondisi kami apa adanya. Segala penyebab mengapa sebuah kondisi tercipta, barangkali kita cuma bisa tahu sekian persennya aja. Tidak mungkin diketahui semua. Apalagi dimengerti. Sama halnya saya tidak tahu persis kenapa dulu bisa bertemu dengan Marcell, menikah, dan seterusnya. Fate, atau destiny, menjadi cara manusia menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan. Perpisahan pun sama hukumnya. Meski sepertinya keputusan berpisah ada “di tangan kita”, tapi ada sesuatu kekuatan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.

Namun seringkali konsep “memaafkan” yang kita kehendaki adalah kemampuan untuk mengembalikan situasi ke saat sebelum ada masalah. Alias rujuk lagi seperti dulu. Dan keinginan kami untuk berpisah dianggap sebagai ketidakmampuan kami untuk saling memaafkan. Menurut saya, pemaafan yang sejati hanya bisa diukur oleh masing-masing pribadi, di dalam hatinya sendiri. Dan bagi kami, dalam masalah ini, “memaafkan” tidaklah identik dengan “pengembalian situasi ke kondisi semula”. Dalam proses pemaafan ini, kami pun bertumbuh. Dan di sinilah saya menyadari, juga Marcell, dinamika kami sebagai suami-istri lebih baik disudahi sampai di sini. Kami menemukan wadah yang lebih kondusif untuk menopang dinamika kami sebagai dua manusia, yakni sahabat tanpa wadah pernikahan.

Lantas, orang-orang pun berargumen: semua suami-istri juga pada ujungnya jadi sahabat! Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Bahkan ada suami-istri yang menjadi musuh bagi satu sama lain meski mereka tetap menikah. Ketika sepasang suami-istri menjadi sahabat, mereka tentu bisa merasakan wadah apa yang paling tepat untuk menopang dinamika mereka. Jika pernikahan masih dirasakan sebagai wadah yang pas, maka mereka akan meneruskan persahabatan dalam cangkang pernikahan. Evolusi saya dan Marcell ada di kompartemen yang lain lagi. Cangkang pernikahan tidak lagi kami rasakan sebagai wadah yang “pas”. Jika dijalankan pun, cuma jadi kompensasi sosial yang alasannya bukan lagi kebahagiaan kami, melainkan kebahagiaan masyarakat, keluarga, sahabat, dan seterusnya. Satu opsi yang menurut saya sangat tidak sehat, membunuh pelan-pelan, dan kepalsuan berkepanjangan.

Lantas, bagaimana dengan Keenan? Apakah kebahagiaannya juga tidak kami perhitungkan? Analogi yang barangkali bisa membantu menggambarkan ini adalah petunjuk emergensi di pesawat. Dulu, saya sering bingung, kenapa orang tua disuruh memakai masker oksigen duluan sebelum anaknya. Sekarang saya mengerti, dan setidaknya ini adalah kebenaran bagi saya: kita tidak bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri bahagia. Satu buku yang sangat terkenal, “Celestine’s Prophecy”, juga bicara soal ini. Kita harus “penuh” dulu sebelum bisa “memenuhi” orang lain. Cinta bukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi.

Saya menikah bukan karena Keenan, dan kalaupun saya bertahan menikah, seharusnya juga bukan karena Keenan. Karena kalau cuma karena Keenan, dengan demikian saya menaruh beban yang luar biasa besar dan bukan porsinya Keenan, bahkan saya menjadi seseorang yang tidak bertanggungjawab, dengan meletakkan fondasi pernikahan saya pada seorang anak. Ini barangkali bukan pandangan yang umum. Kita tahu betapa banyak orang di luar sana yang bicara bahwa anak harusnya menjadi pengikat, bahkan dasar. Bagi saya, Keenan bukan tali atau fondasi. Dia adalah anak panah yang akan melesat sendiri satu saat nanti. Kewajiban utama saya adalah menjadi manusia yang utuh agar saya bisa membagi keutuhan saya dengan dia. Dan keutuhan jiwa saya tidak saya letakkan dalam pernikahan, tidak juga pada siapa-siapa, melainkan pada diri saya sendiri. Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri. Kalau ada yang lain merasa kecipratan, ya, syukur. Kalau tidak pun bukan urusan saya.

Di dunia di mana seorang martir selalu memperoleh citra istimewa, apa yang saya ungkap barangkali terdengar egois. Sama seperti narasi yang kerap digaungkan infotainment, yang berbicara soal kebahagiaan anak bernama Keenan dan “hatinya yang terkoyak karena keegoisan ayah-bundanya”, seorang anak yang tidak mereka kenal sama sekali tapi mereka berbicara seolah bisa menembus ke dalam hatinya. Padahal, kalau direnungi dalam-dalam, sesungguhnya kita tidak pernah berbuat sesuatu untuk orang lain, meski kita berpikir demikian. Kita berbuat sesuatu karena itulah yang kita anggap benar bagi diri kita sendiri. Dan kebenaran ini sangatlah relatif. Jika ada 6,5 miliar manusia di dunia, maka ada 6,5 miliar kebenaran dan ukuran kebahagiaan. Norma berubah, agama berubah, sains berubah, segalanya berubah dan tidak pernah sama. Kebahagiaan pun sesuatu yang hidup, berubah, dan tidak statis.

Membahagiakan Keenan, keluarga, para penggemar, masyarakat, juga menjadi keinginan saya. Tapi saya pun tidak bisa selamanya mencegah mereka semua dari ketidakbahagiaan. Karena apa? Seseorang berbahagia karena dirinya sendiri. Kebahagiaan bukan mekanisme eksternal, tapi internal. Ilustrasinya begini, dua orang sama-sama dikasih apel, yang satu bahagia karena memang suka apel, yang lain kecewa karena sukanya durian. Berarti bukan apelnya yang bisa bikin bahagia, tapi reaksi hati seseoranglah yang menentukan. Yang tidak suka apel baru bisa bahagia kalau akhirnya dia bisa menerima bahwa yang diberikan kepadanya adalah apel dan bukan durian—sebagaimana yang dia inginkan. Alias menerima kenyataan. Saya tidak bisa membuat siapa pun berbahagia, sekalipun saya ingin berpikir demikian. Kenyatannya, hanya dirinya sendirilah yang bisa. Saya hanya bisa menolong dan memberikan apa yang orang tersebut butuhkan, SEJAUH yang saya bisa. Namun saya tidak memegang kendali apa pun atas kebahagiaannya.

Seseorang lantas mampir ke blog ini dan bertanya: Tuhan seperti apa yang saya anut? Karena kasih Tuhan seharusnya mengingatkan saya untuk terus bersatu, sebab tidak ada Tuhan yang menyukai perpisahan. Bagi saya, Tuhan berada di luar ranah suka dan tak suka. Jika dunia ini berjalan hanya berdasarkan kesukaan Tuhan, dan Tuhan hanya suka yang baik-baik saja, mengapa kita dibiarkan hidup dengan peperangan, dengan air mata, dengan patah hati, dengan ketidakadilan, dengan kejahatan? Mengapa harus ada hitam bersanding dengan putih? Lantas, kalau ada orang yang kemudian berargumen bahwa bagian hitam bukan jatahnya Tuhan tapi Setan, maka jelas Tuhan yang demikian bukan Yang Maha Kuasa. Ia menjadi terbatas, kerdil, dan sempit. Bagi saya, Tuhan ada di atas hitam dan putih, sekaligus terjalin di dalam keduanya. Tidak ada yang bukan Tuhan. Ia tak mengenal konsep “kecuali”.

Selama beberapa hari terakhir, begitu banyak pesan dan komentar yang dilayangkan pada kami. Dari mulai bertanya, kecewa, prihatin, sedih, kaget, bahkan bak seorang Nabi bernubuat, ada yang meramalkan ini-itu sebagai konsekuensi keputusan kami. Tak sedikit juga yang memilih tidak berkomentar dan bertanya, hanya memberi dukungan. Kami berterima kasih untuk semua. Kami pun tak meminta banyak, hanya satu hal: hargai keputusan kami. Yang kami selamatkan di sini bukan “keutuhan keluarga” melainkan keutuhan hati dan jiwa masing-masing. Karena buat kami, itu lebih penting daripada keluarga utuh tapi dalamnya rapuh. Maaf jika itu membuat beberapa dari Anda kecewa. Saya juga mengerti begitu banyak yang berupaya mendorong kami untuk terus berusaha, mempertanyakan usaha kami, dan bereaksi seolah-olah kami memutuskan keputusan ini dalam semalam. Sungguh, ini bukan keputusan “kemarin sore”. Kita semua tahu keputusan bercerai adalah keputusan yang besar. Intinya, terima kasih atas perhatiannya, dan mari kita kembali urus diri masing-masing.

Saya bukan penonton infotainment dan juga bukan pembaca tabloid, tapi dari beberapa info yang kebetulan sampai ke pengamatan saya, bisa disimpulkan bahwa manusia begitu haus drama. Mungkin karena itulah kita begitu rajin membuat sinetron dengan akting-akting berlebihan dan cerita-cerita ekstrem, karena hanya dengan cara demikianlah kita bisa menerima realitas. Kita begitu terbiasa dengan drama dan tragedi. Kondisi di mana saya dan Marcell bisa duduk berdampingan, berpisah dengan baik-baik, seolah-olah terlewatkan sebagai buah upaya kami yang nyata karena semua orang sibuk mengedepankan pertunjukan teater versinya masing-masing. Apa pun yang saya katakan, pada akhirnya selalu dibingkai narasi, entah lisan atau tulisan, yang merupakan ramuan opini si penulis naskah. Itulah yang akhirnya membuat saya dan Marcell lebih banyak tertawa sendiri, pers hiburan rasanya seperti servis sosial di mana kami mengumpankan dongeng untuk kepentingan hajat hidup mereka, bukan lagi berbagi kebenaran. Dengan info-info sepotong yang mungkin lebih banyak asumsinya ketimbang faktanya, mereka bisa merangkai pertunjukan teater apa pun yang mereka mau. Dan itulah yang menghibur. Sisanya? Kenyataan yang membosankan. Nyata, tapi tidak seru. Dan bukan itu yang orang mau.

Hari ini, saya ditunjukkan tabloid C&R yang terbaru. Kami berdua menjadi sampul depan, dengan laporan empat halaman. Saya sempat tercengang karena mereka mengutip hal yang tidak pernah saya lontarkan, menuliskan pertanyaan yang tidak pernah mereka tanyakan, tapi ditulis sedemikian rupa seolah terjadi dialog langsung antara saya dan penulis/wartawan (Fitriawan Ginting - RED). Bahkan, mereka menuliskan alamat rumah saya dengan lengkap, tanpa izin terlebih dahulu. Plus, ditambah unsur-unsur dramatis bahwa kepindahan saya adalah untuk “mengubur masa lalu”. Padahal saya berencana pindah sejak tahun lalu karena semata-mata alasan pekerjaan. Tidak hanya mereka menulis sesuai dengan bingkai yang mereka mau, bahkan untuk mengepas “gambar realitas” ke bingkai tersebut, mereka melakukan hal yang tidak etis. Saya tidak tahu fungsi dari alamat lengkap saya untuk bumbu berita mereka, tapi mereka menuliskannya seolah tidak berpikir bahwa hal tersebut menyangkut isu sekuritas, dan juga privasi. Media seharusnya tidak memberikan alamat seseorang begitu saja. Sejauh saya berkarier, pihak media selalu meminta izin jika ingin memberikan alamat. Entah zaman yang sudah berubah, atau privasi sudah jadi kata-kata kosong dalam realm pers hiburan.

Beberapa debat dan diskusi di internet pun merebak, bahkan terkadang menjadi pengadilan tak resmi. Ada banyak nama yang disebut, dispekulasikan, dan sampai didiskreditkan. Orang-orang yang juga punya kehidupan, keluarga, karier, dan privasi. Sekalipun dengan tegas saya dan Marcell mengatakan bahwa alasan kami berpisah bukan karena pihak ketiga atau ketujuhbelas, tapi seperti angin lalu, mereka tak jemu mengorek sana-sini, termasuk ke sahabat-sahabat terdekat saya. So, seriously, they don’t have any concern for the truth. They have concern on “stories”. Lucu. Yang menjalani saja santai-santai, yang kebakaran jenggot malah orang-orang lain. Jika dilihat secara keseluruhan, sesungguhnya inilah dagelan kita bersama. Barangkali demikian juga halnya nasib semua berita hiburan (bahkan non-hiburan) yang beredar selama ini.

Lalu, hendak ke mana setelah ini? Saya tidak tahu. Apakah akan ada penyesalan? Saya tidak tahu. Apa pun yang menanti saya sesudah ini, itulah konsekuensi, tanggung jawab, dan karma saya. Pahit atau manis. Tak seorang pun yang tahu. Namun inilah pelajaran hidup yang menjadi jatah saya, dan saya menerimanya dengan senang hati. Saya tidak berdagang dengan Tuhan. Setiap detik dalam hidup adalah hadiah. Setiap momen adalah perkembangan baru. Bagi saya, itu sudah cukup. Bagi saya, itulah bentuk kesadaran.

Jadi, kalau pertanyaan emas itu kembali dilontarkan: apa penyebab Dewi dan Marcell bercerai? Mereka sadar, menerima, dan memaafkan… bahwa hidup telah membawa mereka ke titik perpisahan.

Abstrak? Filosofis? Teoritis? Utopis? Saya sangat mengerti mengapa label-label itu muncul. Kebenaran kadang memang sukar dipahami. Hanya bisa dirasakan. Sama gagapnya kita berusaha mendefinisikan Cinta. Pada akhirnya, kita cuma bisa merasakan akibatnya.


Salam,

~ D ~

Read More ..

Wednesday, June 04, 2008

Biyukukung: Saat Alam Menghamili Padi

Biyukukung:
Saat Alam Menghamili Padi

(Published - Pikiran Rakyat)



Minggu ini saya akan pergi ke Bali—ke Ubud, tepatnya. Tempat di mana sawah menjadi bagian inheren dari pariwisata. Penginapan tempat saya biasa menginap juga dikelilingi sawah, yang jaraknya hanya sekian langkah dari teras kamar.

Terakhir kali ke sana, saya sempat menontoni seorang bapak tua membajak sawah dengan bajakan sederhana yang harus ia tarik mengelilingi sawah. Jangankan mesin, pakai bantuan kerbau pun tidak. Sesekali, ia menggemburkan tanah dengan kakinya sendiri.

Sambil sarapan pagi, saya membatin dalam hati: “Kapan pertanian Indonesia bisa maju kalau begini caranya?” Sementara pertanian di Amerika sudah hampir seluruhnya dioperasikan mesin, bapak tua itu masih membajak tanah dengan cara yang barangkali sama dengan para petani seratus tahun lalu. Memandangnya bergerak lamban menyusuri lumpur seolah menyaksikan artefak kuno diarak di Silicon Valley. Sungguh ironis, pikir saya waktu itu.

Saat check-out, perhatian saya tiba-tiba tertumbuk pada satu kata yang tak pernah saya perhatikan, meski saya melihatnya setiap hari, yakni nama hotel tempat saya menginap: “Biyukukung”. Dan saya tergerak untuk bertanya pada sopir hotel, “Beli, Biyukukung artinya apa?” Dia lantas menjelaskan, Biyukukung adalah nama upacara yang dilakukan saat padi “hamil”. Saya spontan tertawa geli. Baru kali itu saya mendengar kata “hamil” diperuntukkan buat padi.

Namun, entah kenapa, konsep padi hamil itu terus mengusik pikiran saya. Setibanya di rumah, saya melakukan riset kecil-kecilan. Dalam sebuah jurnal tentang sistem Subak, yang waktu zaman sekolah dulu saya kenal sebagai sistem irigasi sawah di Bali, saya terhanyut dan tercengang melihat begitu sakralnya sistem pertanian tradisional Bali. Subak bukan semata-mata mekanisme irigasi, bukan sekadar alat tekno-sosial, melainkan pemahaman dasar para petani Bali bahwa pertanian merupakan satu entitas tersendiri yang terajut dengan ekosistem dan spiritualitas. Petani di daerah tertentu akan menyesuaikan perilaku bertaninya bukan hanya berdasarkan kondisi tanah dan air di tempat itu saja, tapi dengan seluruh elemen alam, termasuk nilai religi masyarakat setempat dan para Dewa.

Sekurangnya ada 27 nama upacara yang saya temukan, dari mulai untuk penyemaian benih, menyiangi, pengangkutan, penyimpanan, sampai pengeringan. Setiap upacara berkorespondensi dengan Dewa tertentu yang disesuaikan dengan tujuan dan keberhasilan fase demi fase. Pada fase Biyukukung, misalnya, para petani berdoa kepada Bhatara Surya untuk restu dan perlindungan. Pada fase pengeringan, atau Nedunang Pari, mereka minta restu pada Bhatari Sri untuk proses akhir dari padi mereka. Sebelum dikenal pestisida dan insektisida, hama diusir hanya dengan mantra dan sesajen. Setiap hama memiliki mantra dan sesajennya sendiri; mantra penanganan hama tikus lain dengan mantra mengusir monyet, dan seterusnya.

Penjelasan tentang Subak membuat saya berpikir ulang tentang kesimpulan saya saat menontoni bapak tua di sawah itu. Selama ini kita begitu mengagungkan pertanian modern karena kecepatan dan keberlimpahannya dalam memenuhi kebutuhan manusia. Namun dalam kecepatan itu, kita memutus hubungan sakral kita dengan alam. Tanah hanya tanah. Bibit ya cuma bibit. Padi ya hanya padi. Semuanya adalah alat yang melayani kebutuhan manusia, yang bisa dikendalikan dengan teknis dan mekanis.

Saat kita berbicara soal intensifikasi pertanian, yang kita bicarakan adalah seberapa besar lahan gambut yang bisa disulap jadi subur, seberapa besar volume panen bisa kita genjot, seberapa banyak padi yang bisa kita timbun. Dan dalam prosesnya, entah berapa juta ton racun yang kita kirim ke tanah, dari mulai pupuk kimia hingga pestisida, demi kemakmuran umat manusia. Saat pertanian menjadi masalah mekanis, kita lupa bersimpuh pada alam yang melimpahkan begitu banyak bagi kita secara cuma-cuma. Kita tidak lagi memaknai makanan di piring kita sebagai wujud karya persetubuhan matahari dan air, yang benihnya kemudian bersemayam dalam rahim tanah, tumbuh dan mengandung, untuk kelak kembali ke tanah, menunggu persetubuhan berikutnya antara matahari dan air. Kita lupa bahwa padi pun “hamil”.

Suku Indian di Benua Amerika sangat sohor karena hubungan mereka yang luar biasa dengan alam. Mereka begitu peka, tak cuma pada binatang, tapi juga tumbuhan. Seorang shaman akan pergi hutan untuk mencari obat. Ia tak tahu persis tanaman mana yang bisa berguna untuk kebutuhannya. Ia hanya menunggu tanaman tertentu “berbicara” padanya. Dan sebelum ia petik tanaman tersebut, ia masih menunggu tanaman itu memberi tanda terlebih dulu, mengungkapkan kesiapannya untuk dicabut. Dan sesudah itu, ia berterima kasih pada roh yang bersemayam dalam tanaman itu atas kerelaannya menolong manusia.

Cerita-cerita semacam itu menjadi dongeng bagi manusia modern. Termasuk 27 upacara menanam padi. Petani semi modern di Bali sudah tidak lagi mengandalkan mantra dan sesajen secara eksklusif untuk mengusir hama, mereka kini sudah mencampurnya dengan obat-obatan kimia. Yang bukan petani lebih-lebih lagi, kita bahkan tak tahu betapa beras merupakan bahan makanan pokok yang paling repot untuk diproduksi. Saat kita pergi ke pasar, melihat berkarung-karung beras siap ditimbang dan dibawa pulang… saat kita masak, melihat nasi putih panas yang masih mengepul dalam dandang… saat kita makan, mencampurkan nasi dengan berbagai macam lauk… semua ini menjadi adegan-adegan biasa yang kita jalani setiap harinya tanpa pernah ingat lagi perjalanan Sang Padi.

Mengingat itu semua, saya kembali berpikir ulang. Apakah intensifikasi pertanian satu-satunya jawaban dari kemelut pangan? Mungkinkah kita bergerak lebih dalam dari itu dan melihat bahwa ada yang hilang dalam relasi manusia dengan alam? Dan jika kita pulihkan harmoni itu, mungkinkah kita melihat hidup dengan cara yang sama sekali berbeda? Kita akan berpikir ulang sebelum membuang nasi, sebelum menyajikan makanan secara berlebihan, sebelum makan demi pemuasan dan bukan lagi kebutuhan. Dan upaya kita bukan lagi berdasarkan takut kurang, atau takut dimarahi pihak tertentu, melainkan karena kita memahami dan menghargai alam selayaknya sebuah entitas, bukan alat.

Tidak semua dari kita tahu dan mau tahu soal mantra dan sesajen. Namun saya percaya, alam punya intelijensi luar biasa yang mampu memahami niat dan isi hati kita tanpa batasan bahasa dan cara. Maukah kita mencoba, mensyukuri berkah yang kita lupakan ini, bukan dengan doa yang diucap sembarang karena refleks, tapi dengan setiap kata yang dihayati? Memandang nasi yang kita makan hari ini bak kumpulan mutiara—putih, dan berharga. Memandang mereka sebagai anak-anak hasil perkawinan alam yang telah dilimpahkan pada piring kita, sehingga menjadi gugus-gugus yang membangun tubuh dan jiwa kita.

Saya akan kembali ke Ubud dan melihat sawah di depan teras kamar saya nanti dengan pandangan yang berbeda. Dengan kata dan cara saya sendiri, saya ingin menyempatkan berdoa sederhana: untuk semua padi yang telah hamil demi saya makan, sejak saya di kandungan hingga saya kelak kembali menjadi abu, saya ucapkan terima kasih. Kalian telah menjadi bagian hidup saya, sebagaimana saya pun bagian dari kalian. Maafkan jika saya sering lupa kebenaran itu. Tapi saya percaya, dengan kata dan cara kalian sendiri, kalian tak pernah lelah mengingatkan saya.


* Foto sawah Ubud diambil dari highwaybali.com

Read More ..

Wednesday, May 14, 2008

Satu Halaman - Satu Jam

Satu Halaman – Satu Jam


Mohon maaf sebelumnya. Kali ini tulisan saya lebih bersifat pelepasan unek-unek. Curhat, barangkali istilah yang cukup pas. Dan untuk itu, saya akan menulis relatif singkat dan tanpa banyak mikir.

Pagi ini (13/5), sambil menunggu siaran di Trax FM – Jakarta, saya membuka koran Kompas. Headline halaman depan tentang BBM. Sisa isinya bervariasi. Seperti halnya koran-koran lain, lebih banyak kabar buruk ketimbang kabar baik. Entah karena memang kabar buruk lebih menjual, atau kita lebih senang berkubang dalam keburukan, atau memang kabar buruklah yang lebih banyak mengepung kehidupan kita. Pagi ini, saya punya niatan iseng ingin menghitung proporsi kabar buruk, kabar baik, dan kabar netral.

Niatan iseng itu berhenti seketika ketika saya menemukan artikel berjudul “Es di Arktik Akan Lenyap Tahun 2008” (maaf kalau tidak identik sama, berhubung korannya milik ruang tunggu radio jadi tidak saya bawa pulang, akibatnya penyebutan judul itu berdasarkan ingatan semata). Artikel tersebut dimuat di halaman berita Internasional. Sorry, but I have to say, it was poorly written. Apa yang ditulis di judul tidak diterangkan di dalam artikelnya. Dan isi artikel itu sendiri hanyalah potongan-potongan informasi tanpa ada satu tujuan atau pesan yang koheren. Yang juga membuat saya miris adalah, bagaimana berita itu—dari masalah penempatan, besarnya kolom, dan kualitas tulisan—seolah menunjukkan level urgensi yang diusung oleh media nasional dalam memberitakan masalah lingkungan global.

Boleh jadi ini cuma pendapat saya seorang, tapi sungguh saya merasa media kita terlena dalam infomasi nggak penting yang dipikirnya penting, dan informasi penting yang diperlakukan tidak/kurang penting. Saya bahkan belum bicara soal televisi—media paling powerful dengan penetrasi hingga bilik kita yang paling pribadi sekaligus media yang paling sesak oleh sampah dan kedunguan kronis yang dipelihara atas nama rating dan iklan.

Minggu lalu, saya diminta menjadi bintang tamu/narasumber oleh sebuah acara pagi salah satu teve swasta. Saya diminta untuk ngomong soal pembatasan kantong plastik, vegetarian sebagai gaya hidup ramah lingkungan, pengolahan kompos, dsb. Tentunya saya bersemangat. Saya membaca skrip dan mempersiapkan aneka jawaban untuk sederet pertanyaan tsb. Ketika kamera berjalan, yang terjadi adalah balap lari antara informasi, durasi, dan jeda iklan. Saya cuma punya lima menit untuk menjelaskan hal-hal yang seharusnya bisa diseminarkan satu minggu. Itu pun bercampur lagi dengan gimmick soal jajanan khas Betawi.

Saat saya mengeluhkan waktu bicara yang terlalu singkat, semua orang di tim produksi menyambut dengan kor keluhan serupa. Iklannya saja bisa enam menit, kata mereka. Lebih panjang dari jatah saya bicara. Durasi singkat + materi padat + iklan banyak = informasi encer. Dan demikianlah formula kebanyakan program talkshow teve kita, yang padahal secara konsep tampak menarik dan (berusaha) mencerdaskan.

Saya termenung panjang sesudah penampilan supersingkat tadi. Bagaimana caranya kita bisa terjaga jika media nasional kita malah terus meninabobokan kita semua? Tidak berarti informasi yang tajam dan edukatif tidak bisa menghibur, tapi kalau kita hanya meluangkan sesuatu sekritis masalah lingkungan dalam satu segmen di sebuah talkshow empat segmen plus dipepet kiri kanan oleh info kuliner dan tetek bengek lain, atau menempatkan berita cairnya Arktik dalam satu kolom kecil di surat kabar paling tebal se-Indonesia, tidakkah ini yang menggelikan?

Empat sampai lima jam teve kita bisa manteng menampilkan penyanyi-penyanyi didampingi ibunya atau seseorang yang dianggap belahan jiwanya, atau seleb-seleb yang kurang bisa nyanyi berlomba menjadi penyanyi top pilihan pemirsa. Saya tidak menafikan kenyataan kalau acara yang demikian menghibur, ditambah ungkapan-ungkapan standar semisal “hidup sudah susah, jangan bikin tambah susah”, “yang begitulah yang disukai rakyat”, dan seterusnya. Namun jika kita hanya terpaku di sana, maka kita lupa betapa tajam dan berkuasanya alat bernama media. Dan kita seperti anak kecil bermain dengan bom atom. Tidak sadar betapa dahsyatnya “mainan” di tangan kita.

Kalau kita bisa berteriak "rakyat kita bodoh", "rakyat kita maunya dibohongi", "rakyat memang senangnya acara yang nggak mutu", lalu terus menyuapi mereka dengan “makanan pikiran” yang tak bermutu (baca: nggak penting) hanya supaya mereka terpuaskan, lalu rating naik, lalu iklan naik, lalu untung naik, dan terakhir kedua tangan kita naik ke atas sambil berkata “yah, itulah kenyataan media,”… menurut saya, itulah kebodohan yang paling ultimat.

Saya sadar, ada banyak isu penting lain di luar sana. Ada banyak informasi edukatif yang bisa dibagi. Dan, sekali lagi, boleh jadi ini hanya pendapat saya seorang, tapi menurut saya, dalam periode ini tidak ada isu yang paling urgen selain penyelamatan Bumi. Bukan cuma sekadar gembar-gembor soal pemanasan global, melainkan bagaimana kita bisa menyajikan dan membantu transformasi kesadaran manusia untuk kembali bersahabat dengan lingkungan, meniti pulang ke jantung alam, dan terakhir, meniti pulang ke jantung jatidirinya.

Malam ini saya berdoa, di tengah hiruk-pikuk informasi di media yang menggempur panca indra kita, akan ada satu acara yang dikhususkan untuk meningkatkan kesadaran tentang kondisi lingkungan. Dari mulai perbaikan relasi manusia dengan alam di level pemahaman sampai tips-tips praktis yang bisa dilakukan di setiap rumah. Akan ada saatnya bagi media cetak untuk sudi meluangkan satu halaman mereka khusus untuk menyiarkan hal-hal yang dapat membantu Bumi dan peradaban agar bisa hidup berdampingan secara harmonis.

Satu halaman. Satu jam.

Saya berdoa.
Read More ..

Tuesday, January 01, 2008

2008 di Pinggir Selokan

2008 di Pinggir Selokan


Pagi menjelang siang tadi, anak laki-laki saya, Keenan, tiba-tiba menarik tangan saya dan menggiring saya menuju sendal capit yang terparkir di teras depan. Saya sudah hafal aktivitas yang dia maksud, sekaligus rute perjalanan yang menanti kami. Inilah acara jalan kaki yang kerap ia tagih, yakni satu kali putaran ke jalan belakang di mana tidak ada rumah di sana, hanya tanah kosong berilalang tinggi. Jalan itu menurun dan curam, berbatu-batu besar dan banyak dahan berduri di pinggir kiri-kanan. Terakhir kami berjalan ke sana, kaki Keenan sempat luka karena tersobek duri, tapi entah mengapa ia selalu memilih jalur yang sama.

Sejak sebelum kami berjalan kaki, saya sudah mengamati pagi pertama tahun 2008 ini. Langit yang berawan, angin yang bertiup kencang, dan meski matahari bersinar cukup terang dan terlihat angkasa biru di balik timbunan awan, saya tak bisa mengatakan bahwa ini pagi yang cerah. Masih terasa jejak mendung peninggalan hujan semalam. Kendati demikian, pagi ini pun tak bisa disebut pagi yang mendung.

Sambil berjalan, saya merenungi kesan-kesan saya mengenai pergantian tahun kali ini. Ada keinginan kuat untuk menuliskan sesuatu, semacam refleksi dan sejenisnya. Tapi saya tak tahu harus memulai dari mana, harus menulis apa. Yang ada hanyalah keinginan menulis, tapi tanpa konten. Sejujurnya, alam pagi hari ini cukup mewakili apa yang saya rasakan. Saya melewati pergantian tahun ini dengan ‘abu-abu’. Tak melulu berspiritkan optimisme dan positivitas, tak juga melulu pesimistis dan negativitas. Semuanya hadir bersamaan dengan kadar yang kurang lebih seimbang, sehingga rasa yang tertinggal di batin saya adalah… netral dan datar.

Berbeda dengan kebiasaan saya, terutama di usia 20-an, yang selalu rajin bahkan mensakralkan kebiasaan menulis resolusi, evaluasi, pengharapan dan impian, kali ini saya tak berbekalkan apa-apa. Tak ada resolusi, tak ingin mengevaluasi. Harapan dan impian, yang biasanya kita bawa layaknya tongkat estafet dalam pacuan panjang bernama hidup ini, kali ini bahkan absen dari tangan saya. Cengkeraman jemari saya rasanya tak cukup kuat untuk itu. Bukannya kedua hal itu tak ada, tapi malas rasanya menggenggam. Yang ada hanyalah langkah demi langkah kaki di jalanan berbatu, bertemankan suara gesekan ilalang dan terik matahari yang kian menggigit tengkuk.

Keenan pun menolak digenggam. Dengan semangat, ia berjalan dengan gagah berani tanpa mau saya gandeng. Ia sibuk mengumpulkan batu-batu yang pada akhir perjalanan kami akan dicemplungkannya satu demi satu ke selokan. Dengan kedua tangan penuh bongkah batu, ia berjalan sedikit di depan saya. Tepat di turunan curam, tiba-tiba ia tergelincir dan jatuh menengadah. Seketika ia menangis, kaget bukan main. Semua batu di genggamannya lepas. Cepat-cepat saya meraih dan memeluknya. Saya melihat sekeliling, betapa banyak batu besar yang bisa saja menjadi landasan kepalanya saat jatuh tadi. Saya pun menyadari perjalanan kecil ini bisa jadi perjalanan yang berbahaya.

Sambil terisak, Keenan mengucap sendiri, “Tidak apa-apa… Keenan tidak apa-apa.” Dan entah mengapa, respons saya padanya adalah, “Ya, tidak apa-apa. Keenan sekali-sekali harus tahu rasanya jatuh.” Lalu kami berdua meneruskan perjalanan. Tak sampai tiga langkah, ia sudah minta turun lagi dari gendongan saya. Kembali berjalan sendiri, memunguti batu-batu baru, yang pada akhir perjalanan kami dicemplungkannya satu demi satu ke selokan.

Saya menunggui Keenan berupacara di pinggir selokan sambil merenungi perjalanan kami pada pagi hari pertama tahun 2008 ini. Akhirnya saya mendapatkan sebuah ‘pesan’. Terlepas dari kepercayaan kita pada sosok Tuhan personal maupun impersonal, semua dari kita setidaknya pernah merasakan hadirnya sebuah kekuatan, energi agung, atau apapun itu, yang tak luput menemani setiap langkah perjalanan hidup kita. Saat kita asyik berjalan, mengumpulkan segala sesuatu yang kita ingin raih, kita tak terlalu menghiraukan kehadiran ‘sesuatu’ itu. Namun saat kita tergelincir dan terenyak luar biasa, segala sesuatu yang kita cengkeram pun lepas. Tangan kita kembali kosong. ‘Sesuatu’ itu akhirnya punya kesempatan untuk muncul dan menyeruak, meraih tangan kita yang sedari tadi sibuk menggenggam. Lama atau sekejap kita didekap, selama perjalanan ini belum usai, tak urung kita akan kembali melangkah. Mengumpulkan kembali pengalaman demi pengalaman yang kita perlukan.

Sambil berjongkok di pinggir selokan, saya merenungi ‘batu-batu’ yang selama ini saya genggam. Besar-kecil, jelek-bagus, semua itu saya kumpulkan karena itulah yang saya perlukan. Jika hidup adalah siklus berputar dalam satu pusaran, cukup relevan jika saya menganalogikannya dengan trayek yang saya tempuh hampir setiap hari bersama Keenan itu. Jalanan berselimut batu, yang meski begitu sering saya jalani, tak pernah saya tahu batu mana yang akan saya genggam berikutnya, dan batu mana yang akan saya lepas sesudah ini. Tak pernah juga saya tahu, kapan saya akan tergelincir dan terpaksa melepaskan semua yang selama ini erat digenggam.

Sekalipun tahun baru ini saya songsong tanpa resolusi dan evaluasi, ada satu keyakinan yang mengiringi langkah saya pulang ke rumah pagi ini. Jika batu dalam genggaman tangan saya lepas, berarti sudah saatnyalah ia lepas. Jika perjalanan ini belum usai, maka kaki ini—meski lelah dan penat—akan kembali terus melangkah. Jika saya tergelincir nanti, maka sesuatu akan menyeruak muncul dari kekosongan, meraih tangan saya yang hampa dan kembali membawa saya bangkit berdiri. Saya tak ingin memberinya nama. Saya tak ingin menjeratnya dalam sebuah identitas. Yang saya tahu, saya bersisian dengannya. Seperti partikel dengan gelombang. Seperti alam material dan imaterial.

Sedikit batu atau banyak batu, melangkah cepat atau lambat, tergelincir atau terjerembap, ia berjalan seiring dengan napas dan denyut saya. Ia membutuhkan saya sama halnya dengan saya membutuhkannya. Dan hanya dalam keheningan, kami berdua hilang. Dalam keheningan, kami bersatu dalam ketiadaan.

Mendadak, adanya resolusi atau tidak, bukan lagi satu hal signifikan. Mendadak, hari ini menjadi hari yang sama berharganya sekaligus sama biasanya dengan hari-hari lain.

Selamat tahun baru 2008.
Read More ..

Saturday, November 03, 2007

A Thank You Note

A Thank You Note


Beberapa hari yang lalu, seorang wartawan dari majalah lifestyle keluaran baru dari Group Tempo menghubungi asisten saya. Dia ingin mewawancarai saya untuk edisi perdananya yang akan terbit Desember nanti. Kemarin, wartawan dan dua fotografer dari majalah tersebut datang ke rumah saya di Bandung.

Wartawan itu lantas bercerita asal muasal mengapa saya kemudian dipilih menjadi “Story of the Month” untuk edisi perdananya. Sehubungan dengan konferensi di Bali tentang global warming bulan Desember nanti, mereka pun tertarik untuk mengangkat topik lingkungan hidup. Wartawan itu lantas bercerita, bahwa ia menerima tulisan “Harta Karun Untuk Semua” lewat e-mail, dan bukan hanya dari satu sumber, melainkan beberapa. “Setahu saya, tulisan itu juga menyebar di banyak milis,” katanya lagi.

Jujur, saya agak kaget mendengarnya. Namun saya juga teringat, beberapa komentar yang masuk untuk posting itu juga menyebutkan bahwa mereka membaca tulisan itu di milis, atau dikirim via e-mail. Seminggu lalu, saya juga mendapat telepon dari seorang guru piano di Solo, yang ingin mengadakan konser di sekolahnya bertemakan lingkungan, dan ia terinspirasi karena artikel “Harta Karun Untuk Semua”. Setelah membaca artikel yang sama, seorang teman sempat menawari saya menjadi tamu untuk talk show di sekolah anaknya yang juga sedang menggalakkan gerakan sadar lingkungan. Lalu beberapa teman saya pun pernah memberi tahu selewat-dua lewat bahwa mereka membaca artikel itu lewat e-mail yang dikirim massal ke inbox mereka.

Salah satu pertanyaan yang diajukan saat wawancara siang itu adalah, “Apa sih arti perbuatan kita kalau kita hanya seorang diri memisah sampah, membuat kompos, hemat listrik, hemat air, mengurangi makan daging, mengurangi konsumerisme, sementara jutaan orang di luar sana tidak peduli dan terus menjalankan hidupnya seperti biasa?”

Jawaban spontan saya adalah: tidak tahu. Saya tidak tahu apakah perbuatan kecil ini akan menurunkan pemanasan global, tidak tahu apakah kompos di rumah saya punya arti dalam menurunkan debit sampah dunia, tidak tahu apakah dengan saya bervegetarian akan punya dampak untuk kesejahteraan makhluk di Bumi ini. Jika optimis, saya akan mengatakan: iya, saya yakin perbuatan saya akan berarti dan bisa mengubah dunia. Jika pesimis, saya akan mengatakan: tidak, perbuatan saya sangat renik dampaknya, semikron debu di tengah padang pasir, dan bukan tandingan dari kondisi global yang dibentuk oleh miliaran manusia plus aneka faktor lainnya.

Saya yakin, pertanyaan plus dua jenis jawaban tadi adalah hal yang pernah terlintas dalam benak kita semua. Dan apa pun kecenderungan sikap kita—pesimis atau optimis—siang itu, saya dan juga wartawan tadi, sesungguhnya melihat sebuah bukti nyata. Artikel yang saya tulis spontan beberapa bulan lalu telah beredar tanpa saya tahu, tanpa bisa saya pantau, dan kembali lagi pada saya suatu hari, dalam bentuk wawancara, inspirasi, pengembangan ide, undangan, dan sebagainya. Artikel itu telah bergulir bak bola salju, menjadi sesuatu yang lebih besar dari ukuran aslinya.

Saya teringat prosesi rutin setiap kebaktian malam Natal, di mana semua jemaat masing-masing memegang sebuah lilin. Berawal dari nyala lilin di mimbar, beberapa lilin lain dinyalakan lalu menyebar ke seluruh penjuru ruangan, hingga setiap lilin akhirnya menyala tanpa kecuali. Saya membayangkan, prosesi yang sama sesungguhnya sedang terjadi. Di mana-mana. Di seluruh muka Bumi. Artikel “Harta Karun Untuk Semua” hanyalah satu contoh kecil dari sekian banyak upaya dari umat manusia. Saya tidak memasang alat penghitung di blog ini. Saya tidak tahu ada berapa orang yang berkunjung, selain mereka yang memberi komentar. Namun saya ingin berterima kasih pada semua, yang dengan caranya masing-masing telah membuat sebuah prosesi tak terlihat.

Saya masih belum tahu apakah perbuatan kecil skala rumahan saya punya dampak terhadap dunia. Tapi pertanyaannya, apakah perlu kita menagih bukti? Apakah ada alat atau metode yang secara pasti bisa mengukurnya? Dan jika tidak ada, haruskah kita berhenti? Saya tidak yakin saya bisa mengubah dunia, sebagaimana tulisan tersebut tidak ditujukan untuk mengubah dunia, atau siapa-siapa. Namun saya tahu, yang bisa diubah pada akhirnya hanyalah diri saya sendiri. Itulah lilin kecil yang kita pegang. Nyalanya mungkin tak seberapa, hanya menerangi jemari yang menggenggamnya. Namun jika lilin kecil itu menyala di setiap genggaman orang, tanpa terasa… ruangan gelap itu menjadi benderang. Bukan oleh upaya satu orang, melainkan beramai-ramai.

Saya punya sebuah pembatas buku, berbentuk bulan sabit berwarna perak. Saya beli tujuh tahun yang lalu di sebuah toko buku. Apa yang tertera di pembatas buku itu menggerakkan hati saya, hingga saya putuskan untuk membelinya. Sesekali saya suka mengeluarkannya dari laci, hanya untuk sekadar membaca tulisan yang begitu indah dan bermakna. Sebagai tanda terima kasih saya bagi teman-teman semua, izinkan saya memetik tulisan di pembatas buku itu:

“There are two ways of spreading light:
to be the candle or the mirror that reflects it”
– Edith Wharton –

Semoga hadiah kecil ini mampu menjadi harta karun bagi kita semua.


* Tulisan ini diterbitkan di Harian Pikiran Rakyat

Read More ..

Thursday, May 03, 2007

Pacarku Ada Lima

Pacarku Ada Lima


Merayap pelan di Jalan Katamso saat jam bubar sekolah merupakan pelatihan observasi yang baik. Seolah mengamati dunia dalam mikroskop, kecepatan lambat memungkinkan kita menangkap dengan detail jalanan yang berlubang, trotoar yang hancur, angkot yang mengulur waktu untuk menelan penumpang sebanyak-banyaknya, pedagang kaki lima yang bersesak memepet jalan aspal, dan manusia… lautan manusia.

Di balik kerumunan atap rumah, menyembul matahari yang membola sempurna. Oranye. Mata saya seketika melengak ke atas, sejenak meninggalkan pemandangan Jalan Katamso yang menguji kesabaran mental. Langit berwarna-warni khas senja. Campur aduk antara kelabu, biru, ungu, merah jambu, jingga. Seketika saya bersua dengan sebuah rasa tak bernama. Kemurnian, barangkali deskripsi paling mendekati.

Banyak hal yang membuat kita jatuh cinta pada hidup. Berkali-kali. Tak akan terukur dan tertakar akal mengapa kita jutaan kali mati dan lahir, seolah tak berakhir. Sesuatu dalam mortalitas ini mengundang kita untuk kembali, dan kembali lagi. Sesuatu dalam dunia materi, jasad, partikel, mengundang jiwa kita menjemput tubuh untuk ditumpangi dan kembali mengalami.

Dalam keadaan mabuk asmara, kita akan merasa lahir untuk seseorang yang kita cinta. Dalam keadaan terinspirasi, kita merasa lahir untuk berkarya dan mencipta. Seorang ibu, dalam puncak kebahagiaannya, akan merasa lahir untuk melahirkan buah hatinya. Untuk beragam alasan, kita jatuh hati pada hidup dan kehidupan. Cinta yang barangkali juga datang dan pergi sesuai dengan situasi yang terus berganti.

Langit senja di jalanan macet ini menggerakkan saya untuk menelusuri cinta yang nyaris tak terganti, yang meski hidup sedang busuk dan menyebalkan, saya tahu kemurnian ini selalu menyertai jiwa saya. Untuk hal-hal inilah jiwa saya tergoda untuk kembali, dan kembali. Atau, minimal, hal-hal ini menjadi jaminan penghiburan jiwa saya selagi menjalani berbagai peran dan ragam drama yang harus dimainkan dalam hidup. Dan inilah daftar tersebut, dalam susunan acak:

Langit senja. Tertawa. Minum air putih. Suara hujan. Bergandengan tangan.

Dalam kelima hal itu, ada kemurnian yang selalu menjemput jiwa saya untuk sejenak bersuaka. Riak dan gelombang boleh turun dan pasang, pasangan saya boleh berganti, sehat-sakit-susah-senang boleh bergilir ambil posisi, tapi ada keindahan yang bergeming saat saya masih diizinkan untuk menatap langit senja, untuk tertawa lepas, untuk mengalirkan air putih segar lewat tenggorokan, untuk mendengar derai hujan yang beradu dengan bumi, untuk merasakan hangat kulit manusia lain lewat genggaman. Sederhana memang, sama halnya dengan semua penelusuran pelik yang biasanya berakhir pada penjelasan sederhana.

Sungguh saya tergoda berkata, kelima hal itu adalah kekasih saya sesungguhnya. Pacar-pacar gelap tapi tetap, yang dicumbu jiwa saya saat menjalin kasih dengan dunia materi dan sensasi ini. Bahkan kemacetan bubar sekolah di Jalan Katamso yang sempit tak mampu membendung cinta ini.
Read More ..

Friday, March 16, 2007

Mengenang Sendok dan Sedotan

Mengenang Sendok dan Sedotan
(Published - Pikiran Rakyat, 18 Maret 2007)


Di tengah sawah dan hotel mewah di Ubud, saat saya dan beberapa rekan penulis diminta hadir oleh UNAIDS untuk program pengenalan HIV/AIDS, saya sempat bertanya dalam hati: adakah titik balik di mana virus mematikan itu dapat menjadi akselerator kehidupan? Dan ‘hidup’ dalam konteks ini artinya bukan berapa lama kita bernapas, melainkan seberapa bermakna kita mampu memanfaatkan hidup, mortalitas yang berbatas ini?

Momen serupa saya alami ketika menghadiri peluncuran buku almarhumah Suzanna Murni, seorang aktivis HIV/AIDS yang mendirikan Yayasan Spiritia. Saya terenyak dan terhanyut membaca buku Suzanna. Pertama, karena otentisitas dan kejujurannya. Kedua, karena Suzanna adalah seorang penulis yang sangat bagus. Dan kembali saya merenung, HIV bisa jadi hadiah terindah yang didapat oleh Suzanna Murni. Dengan mengetahui keberadaan bom waktu yang dapat menyudahi hidupnya setiap saat, Suzanna menggunakan energi dan waktunya untuk membangun, membantu, dan berkarya. Sementara kebanyakan dari kita menjalani hari-hari seperti mayat hidup yang bergerak tapi mati, ada dan tiada, tanpa makna dan tujuan, tanpa menghargai keindahan dan keajaiban proses bernama hidup.

Saya lalu kembali dihubungi oleh UNAIDS untuk menjadi mentor dalam program pelatihan menulis bagi para ODHA. Dan di sinilah untuk pertama kalinya saya berinteraksi dekat dengan teman-teman ODHA. Sejujurnya, saya merasa tidak perlu mencantumkan keterangan ‘ODHA’, yang seolah-olah memagari mereka dengan saya atau dengan orang-orang lain. Sama halnya seperti saya merasa tidak perlu mengatakan ‘teman-teman leukeumia’ atau ‘teman-teman hipertensi’. ODHA pasti mati, saya yang bukan ODHA juga pasti mati. Bom waktu itu ada di mana-mana. Kematian adalah jaminan, sebuah kepastian. Caranya saja yang bervariasi, hasil akhir toh sama.

Di sebuah penginapan di Karang Setra, saya berkenalan dengan empat peserta program mentoring. Saya mengamati mereka satu per satu, yang kebetulan semuanya perempuan. Satu bertubuh kecil mungil. Dua peserta lain posturnya jauh lebih berisi ketimbang saya. Satu sedang mengandung enam bulan.

Tugas demi tugas mereka lakukan dengan cemerlang, bahkan di luar dugaan. Hanya ada satu program yang kami terpaksa batalkan: menulis di kebun binatang. Pada saat itu isu flu burung sedang santer-santernya di kota Bandung, dan demi keamanan kondisi kesehatan mereka, kami memutuskan untuk tidak pergi. Barulah saya merasakan ada restriksi itu, kondisi-kondisi khusus yang membedakan ruang gerak kami. Selebihnya, tak terasa ada perbedaan sama sekali. Di luar dari isi tulisan mereka, tidak ada kesedihan atau keputusasaan yang terungkap. Tak seperti reklame tentang ODHA yang selama ini beredar dan mengeksploitasi ketidakberdayaan, terkapar kurus kering kerontang menunggu ajal.

Saya hanya berkenalan dengan pergumulan mereka lewat apa yang mereka tulis. Dari sanalah saya mencoba memahami beragam proses yang mereka lewati dengan HIV, terutama implikasinya terhadap semua yang mereka kenal—keluarga, teman-teman, kekasih, dan seterusnya. Saat kami mengobrol langsung, yang ada hanyalah tawa. Dan saya tersadar, kekuatan itu bisa hadir karena mereka tahu bahwa mereka tidak sendiri. Konseling, penerangan, aktivitas, dan kebersamaan, dapat menyalakan pelita dalam diri mereka untuk menjadi kekuatan dan bukan menjadi yang terbuang.

Pada malam terakhir pelatihan, salah satu fasilitator berulang tahun dan merayakannya di restoran di Dago Pakar. Sebagaimana hari-hari mentoring, kami asyik mengudap sambil menghadap ke lembah kota yang menyala pada malam hari. Sambil mengobrol dan ketawa-ketiwi, kami mencicip-cicip makanan dan minuman satu sama lain. Hingga kami berpisah, saya kembali ke rumah, dan tiba-tiba telepon genggam saya berbunyi. Sebuah pesan masuk:

Mbak, makasih ya buat malam ini. Kami terkesan sekali Mbak mau berbagi sendok dan sedotan dengan kami karena ortu saja belum tentu mau. Terima kasih sudah menambah kepercayaan diri kami.

Lama saya terdiam, memikirkan apa gerangan yang telah saya lakukan. Momen sepanjang di restoran itu rasanya berlalu wajar-wajar saja. Lama baru saya ingat, dalam acara saling coba-cobi tadi, saya telah menghirup minuman dari gelas memakai sedotan yang mereka pakai, lalu mencicip es krim dengan sendok yang mereka pakai.

Lama saya termenung, mengenang sedotan yang sekian detik mampir di bibir saya, mengingat sendok yang sekian detik menghampiri lidah saya. Betapa hal kecil yang saya lewatkan begitu saja ternyata menjadi perbuatan besar dan berkesan di mata mereka. Dan barangkali demikian pula halnya dengan rangkaian keajaiban dalam hidup ini. Sering kita berjalan mengikuti arus tanpa sempat lagi mengamati keindahan-keindahan besar yang tersembunyi dalam hal-hal kecil yang kita lewati. Kita menanti perbuatan-perbuatan agung yang tampak megah dan melupakan bahwa dalam setiap tapak langkah ada banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu yang bermakna.

Jika saja virus itu tidak ada dalam darah mereka, perbuatan spontan saya tidak akan berarti. Saya mungkin tidak akan dikirimi pesan itu, dan saya tidak akan merenungi hal ini.

Pertanyaan saya di Ubud terjawab dengan sebuah pengalaman. Pada satu titik, virus itu telah menyentuh hidup saya. Menjadi akselerator kehidupan saya. Bukan untuk memperlama denyut jantung, tapi mengajarkan saya bahwa hidup itu amat berharga dan selalu kaya makna, andai saja kita memilih untuk mengetahuinya. Suzanna Murni tahu hal itu. Demikian pula para peserta mentoring tadi. Saya hanya berharap mereka terus mengingatnya, demikian juga kita.

Pesan singkat itu dikirim tanggal 13 Mei 2006, dan masih saya simpan hingga hari ini.
Read More ..