Warna-Warni Kacamata-Kacahati
Dalam dua bulan terakhir, begitu banyak eksperimen dan fenomena sosial yang saya jalani, baik sengaja maupun tidak sengaja. Begitu banyak pula pelajaran dan perenungan berharga yang saya peroleh dari rangkaian pengalaman ini.
Saat saya menuliskan artikel “Catatan Tentang Perpisahan”, respons yang saya terima sungguh di luar dugaan. Sejauh ini, itulah artikel yang memecahkan rekor komentar terbanyak di blog ini. Hampir semua artikel di blog ini berbasiskan pengalaman saya pribadi, tapi “Catatan Tentang Perpisahan” sepertinya begitu mengusik ‘dawai’ banyak orang. Entah karena kisahnya yang aktual, faktual, dan mengandung unsur sensasi, but it seems we all have our own saying when it comes to love, relationship, and God. Tiga topik itulah yang menjadi benang merah hampir semua komentar yang terlontar. Dalam boks putih itu, kita mengadu persepsi dan pengalaman kita atas ketiganya.
Saya akan berbagi dengan jujur tentang pengalaman saya pada posisi sebagai si penerima reaksi. Sampai komentar ke-60 sekian, saya masih amat peduli dengan apa yang dikatakan orang. Ketika saya merasa disalahmengerti, dihakimi, dianggap melakukan pembenaran atau bagi-bagi teori, saya masih merasakan kecewa, gemas, bahkan terkadang amarah. Padahal pengunjung blog ini, menurut saya, terbilang orang-orang yang intelektual dan masih santun dalam penyampaian opininya. Sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan forum-forum gosip di luar sana, di mana kesantunan atau intelektualitas sama sekali tidak dijunjung, bahkan jadi bahan tertawaan. Namun, tak urung hati saya terkadang masih bereaksi.
Begitu komentar sudah bergerak ke angka 100, saya mulai menyadari sesuatu. Hati saya melentur. Bukan berarti komentar yang masuk tidak lagi bermakna, tapi mulai menjadi “nggak penting”. Dan ketika angka itu terus bergerak… 150, 180, 200… saya mulai menyadari sesuatu lagi. Saya tidak lagi peduli. Sekali lagi, bukan berarti komentar itu kehilangan makna, tapi ia kehilangan rasa. Tak lagi manis, pahit, tak juga asam, atau asin. Tawar. Berlalu seperti angin tipis di atas air, hanya meninggalkan riak kecil lalu pergi tanpa bekas. Tidak lagi ada ombak atau debur yang menggebu.
Ada satu titik tolak yang akhirnya membawa saya ke fase ini, yakni ketika saya menyadari—secara empiris—bahwa kita sesungguhnya tidak bisa mengubah siapa pun. Ini bukan kali pertama saya tiba pada pemahaman tersebut. Namun setiap kali ada pengalaman segar yang kembali mengingatkan saya, rasanya ada kedalaman baru untuk menghayati kenyataan satu itu.
Selama ini, kita percaya bahwa kita bisa mengubah pandangan orang lain tentang kita, kita percaya bahwa dengan upaya yang maksimal kita bisa membuat diri kita dimengerti secara utuh, kita juga percaya bahwa kebenaran yang kita miliki—jika dikomunikasikan dengan sebaik mungkin—bisa menjadi kebenaran bagi orang lain. Rasa percaya itu sedemikian umum dan menjadi pegangan hampir semua orang, hingga ketika kita masuk ke dalam sebuah relasi, dengan siapa pun dan apa pun itu, dari mulai dengan manusia lain hingga Tuhan, kita menganggap bahwa kita punya kendali tersebut.
Namun, apa yang saya amati dari pengalaman saya sendiri—dan yang bisa Anda telusuri pula lewat kedua posting terakhir saya dan aneka komentar yang dilontarkan—setiap orang hadir dengan kacamata dan kacahatinya sendiri. Apa pun yang saya ungkap tidak pernah bisa utuh tertangkap sebagaimana yang saya mau. Seolah ada filter, pembatas, penyaring, yang mendiskon cerita saya secara otomatis di kepala pembaca. Sebaliknya, seolah juga ada amplifier, marker, kaca pembesar, yang tahu-tahu membengkakkan beberapa bagian tertentu saja.
Saya lantas membayangkan ilustrasi sebagai berikut: seseorang mencoba menceritakan sebuah alam yang hijau, lalu seorang lain berteriak protes, bilang bahwa alam hijau cuma bualan. Lalu ada yang membela, bilang ‘betul, kok, alamnya memang hijau.’ Tapi ada lagi yang menimpali, sebenarnya alam ini setengah hijau dan setengah ungu.
Lalu, seorang lain datang dan berkata pada mereka: orang yang menceritakan alam itu hijau memang benar, karena dia memakai kacamata berlensa hijau. Yang protes juga tidak salah, karena kacamatanya kuning. Yang sepakat hijau, ketika dicek, ternyata warna lensanya hijau muda. Jadi walau sama-sama hijau, tetap tidak persis sama. Yang bilang setengah hijau setengah ungu juga tidak salah, karena lensanya memang dua warna. Tersadarlah orang-orang yang ribut tadi bahwa selama ini, realitas yang mereka lihat termediasi selapis lensa. Dan orang terakhir tadi pun berkata bijak pada semua, sesungguhnya realitas yang sejati berwarna pink. Dan sepasang lensa pink bertengger di depan matanya, tanpa bisa ia sadari.
Realitas yang kita jalani amat bergantung dengan kacamata dan kacahati yang kita kenakan. Persepsi kita tentang Tuhan, misalnya. Seseorang yang percaya bahwa Tuhan punya kehendak, akan selalu mereferensikan kehendak Tuhan dalam setiap tindakannya maupun dalam menilai tindakan orang lain. Seseorang yang percaya Tuhan tidak ada, akan bicara lain lagi. Seseorang yang percaya bahwa hubungan cinta adalah perjuangan abadi menuju keabadian, akan selalu melihat cinta sebagai sasana perjuangan dan pengorbanan, hingga mereka yang menyerah dianggap kalah. Seseorang yang percaya pada absolutisme janji sehidup dan semati, akan selalu melihat akhirat sebagai plafon keberhasilan sebuah pernikahan. Dalam variasi pemahaman seperti itu, di manakah kebenaran sesungguhnya bersemayam?
Lensa semata-mata adalah lapisan persepsi yang kita tumpuk, rangkai, dan timbun melalui pengondisian, proses evolusi, dan perubahan yang kita alami sepanjang hidup. Lensa kita sangat mungkin berubah, bahkan terus berubah. Yang dulu berkacamata hijau sekarang bisa jadi merah, dan sepuluh tahun lagi berubah jadi putih. Namun, di mana letaknya kendali perubahan ini?
Dalam Law of Attraction, dikatakan bahwa hidup kita baru berubah jika kita mau melihatnya berubah. Law of Attraction bukan satu-satunya hukum dalam kehidupan, tapi untuk perihal satu ini, bisa disimpulkan bahwa kunci perubahan hanya ada pada diri sendiri. Saya tidak bisa mengubah pandangan Anda, hanya Anda yang bisa. Begitu juga sebaliknya.
Selama lensa kita berbeda, kita hanya bisa mengomunikasikan persepsi kita, menyaksikan bagaimana perbedaan kita bertumbuh dan berdinamika. Sayangnya, seringkali dalam kehidupan nyata, kita tidak puas dengan sekadar “menyampaikan”. Kita ingin mengubah seseorang agar sepaham dengan diri kita. Dan kita percaya dengan berkomunikasi yang baik dan benar (baca: baik dan benar MENURUT kita) maka kita mampu melakukannya.
Dan inilah yang saya amati: sesungguhnya kita tidak terlalu peduli pada kebenaran, kita bahkan tidak mengerti apa itu komunikasi sejati, kita hanya peduli pada lensa kita. Bukan apa yang ada di baliknya. Barangkali itulah yang menjadikan “pemahaman benar” sebagai gerbang akhir pencarian Gautama, bukan kebahagiaan. Bukan surga. Bukan juga neraka. Melainkan pembebasan dari keduanya. Dalam memahami secara “benar”, yang menjadi tujuan bukan lagi perihal benar atau salah, tapi memahami bagaimana keduanya bermula dan bagaimana kita bisa bebas dari jerat keduanya.
Kita semua menginginkan kebahagiaan, bahkan keabadian. Namun sesempurna apa pun lensa yang kita kenakan, seindah dan seadiluhung apa pun realitas yang kita lihat, lensa hanyalah lensa. Lensa tetap menjadi lapisan yang membatasi kenyataan yang kita pikir dan kebenaran yang sesungguhnya. Yang dilakukan oleh sosok seperti Buddha Gautama dan para pencari kebenaran lainnya adalah, mereka tak berhenti mengupas lensa mata dan hati hingga menemukan kebenaran sejati. Kebenaran tanpa lapis apa-apa.
Selama kita berada dalam tatanan realitas berlensa, selama kita masih bergantung pada kacamata dan kacahati kita untuk mengungkap kebenaran, saya dan Anda hanya bertukar kebenaran relatif. No winner, no loser. It’s always a zero sum game.
Saya teringat pengalaman setahun lalu saat mengikuti retreat Dyad di Ubud. Bagaimana bisa dua orang yang saling berhadapan lalu membicarakan sampah dan kerak hatinya bisa menjadi momen pencerahan dan penyembuhan? Bagaimana hal itu dimungkinkan? Dyad semata-mata mengajarkan komunikasi yang sejati. Saat seseorang berbicara, partnernya tidak menanggapi, menyela, menilai, dan menjustifikasi. Ia hanya memberikan perhatian, hadir dengan kesadaran penuh bagi lawan bicaranya.
Poin utamanya adalah, kedua pihak belajar memahami bahwa jika ada kesenjangan lensa antara mereka, perbedaan tersebut memang sudah demikian adanya. Bukan untuk disamakan, dipas-paskan, atau dikoreksi. Dan yang terjadi justru adalah keajaiban komunikasi: sebuah pengertian dan koneksitas yang mendalam, bahkan mencerahkan. Karena hanya melalui komunikasi sejati, lapis demi lapis lensa kita bisa terkikis, dan jika kita beruntung, kita mampu mengintip secercah-dua cercah indahnya kebenaran tanpa kacamata. Indahnya hati tanpa kacahati.
Saya sadar, komunikasi semacam itu sukar terjadi dalam forum seperti ini. Semua pengalaman dalam dua bulan terakhir ini hanya akan menjadi pengingat bagi saya untuk terus berevolusi dan bergulir dengan arus kehidupan. So, let’s move on with our life, our love, and our lenses. And for once, may we appreciate not only the beauty of our own spectacles, but also the differences around us all.






100 komentar:
..dan,mungkin,terasa tak lagi bermakna karena, secara tidak sadar,kita juga sudah mulai bisa menerima. Entah itu keadaan atau juga reaksi orang lain terhadap keadaan itu.
Maybe....
:)
setiap kali membaca tulisan disini, selalu saja saya mendapat banyak 'tamparan' gratis. ada yang bisa dipilahpilah, diambil dan dipelajari untuk kemudian direnungkan lalu diaplikasikan dalam kehidupan seharihari :-)
sebaikbaiknya manusia, adalah yang bermanfaat bagi dirinya sendiri, sesamanya dan lingkungan sekitarnya, mudahmudahan saya tidak berlebihan ketika menggolongkan mbak Dewi ke dalam golongan orang yang seperti itu..
semangad mbak Dewi! sukses dengan pencariannya! dan semoga tak jera untuk tetap berbagi :-)
Mungkin kata yang cocok bukan "kebenaran", namun "ketidak-salahan". Zaman sekarang pertukaran informasi semakin cepat. Mungkin itu sebabnya makin sedikit orang yang benar-benar mendengarkan dalma-dalam. Kita terlalu sering dituntut memberikan balasan informasi hingga kita tidak diberikan waktu untuk berhenti sejenak dan berpikir. Saya suka dengan konsep "No winner, no loser. It’s always a zero sum game. "
Tapi itulah hidup. Kita mungkin kadang, tak suka dengan rencana-rencana-Nya (apapun bentuknya). Tapi (sekali lagi), itulah hidup. Atau kita ingin bisa men-skip semua bagian yang tidak mengenakkan dalam hidup kita, dan langsung menuju ke bagian-bagian yang enak, minimal yang masih bisa kita nikmati dengan senyum mengembang? Hidup seperti itu, menurut gw: hidup yang membosankan!
Ketika membaca artikel ini selintas ilham terlintas. Mungkin pencerahan itu adalah ketika kita sudah melihat sesuatu itu tanpa lensa yang menempel di mata. Tanpa persepsi.
memang seperti itu kan?
mungkin karena dee sudah mengerti diri,,keterasingan diri sudah ga ada di kamu lagi,,sehingga komentar gag lebih dari....ya komentar kan??
pada akhirnya mereka memang selalu menjadi monoton koq,,komentar2 ini,,komentar2 itu...
iya kan?
heheheh..comment dan (dgn bhs efes yang mendunia itu) testi gag lebih dari pembangkit tropeng lamvbang eksplisit keterasingan diri kita.. (marx bisa menangis di alam sana)
anyway..keep writing dee..we are behind you all the way,,and never are behind you..
but,,you already know that..
heheh..
-ABoyCaldRayth-
kuncinya mungkin menerima perbedaan dee :D
Masyarakat kita sudah terbiasa dengan 1 kata dan susah sekali untuk menerima perbedaan
PS: dee, BTW komen blogspotnya ada model yg lbh baru lagi loh yg lbh mudah untuk diakses untuk komen :D
Salah satu momen yang merubah hidup dan pola berfikir gue adalah, saat gue selesai membaca Supernova I, tahun 2002, saat jutaan tanda tanya udah sumpek menjejali kepala.
Telat sekitar 2 tahun dari orang2, tapi mungkin memang harus begitu adanya. Karena kalau bacanya tahun 2000, saat kepala masih enteng, ga akan menghasilkan efek terlalu signifikan.
Mungkin :)
Anyway, keep sharing ur thoughts & stories ya. And pls remember, despite all the colors one can choose (or given) for their lenses, there are people who actually have grown enough comfort wearing their clear glasses :)
Beautifully said Dee.
Ketika akhirnya kita menerima bahwa tidak semua orang menerima pendapat kita, terbukalah pengalaman baru, bahwa emosi kita menjadi tidak bereaksi untuk selalu berusaha menjelaskan pendapat kita.
Regards
Honey
wuih,, cerita yg ttg org berkata bijak skali lagi ngingetin sy ttg diri sy ndiri.. =.='
thx ya buat smua postingan..
kayaknya tiap kali baca, pasti deh ad sesuatu yg mbuat sy kembali sadar (baca: kembali diingetin).. dan ahirnya merenung..
"Ini bukan kali pertama saya tiba pada pemahaman tersebut. Namun setiap kali ada pengalaman segar yang kembali mengingatkan saya, rasanya ada kedalaman baru untuk menghayati kenyataan satu itu."
: )
dan juga mbak. tetep nunggu bukunya dengan setia, walau dah gak sabar..
c ya..
kerin
:D
saya pribadi juga mulai menerima perbedaan cara pandang. karena belakangan ini hal itu yang diperlukan dalam rangka mengurangi debat kusir yang kalo dirunut gak akan kelar walaupun sampai syaraf putus :)
Kalahkan amarah dengan cinta kasih; kalahkan kejahatan dengan kebajikan; kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati; kalahkan kebohongan dengan kejujuran. (Dhammapada 223)
--- saya rasa apa yang disampaikan oleh banyak orang dan mungkin termasuk mba dee sendiri adalah cerminan hati (kacahati) yang sayangnya (mungkin juga) tertutupi oleh debu-debu. mungkin di dalam forum inilah qt semua bisa belajar untuk menjadi jujur dan melihat kacahati qt melalui kacamata qt yang berbeda-beda..
hansen_zinck@jakarta
ah ah ah...
zero sum game thing...
i always love the sentense...
[and the theory]
remind me to college time...
poinnya mba...
tiap orang bersikap berlandaskan pengalaman mereka sendiri
sementara pengalaman hidup setiap manusia tentu saja berbeda, even 2 orang kembar sekali pun...
tapi repotnya ya itu, sepertinya mereka faham apa yang dialami orang lain berdasarkan pengalaman mereka, tanpa mereka sadari bahwa, keadaan yang mereka hadapi adalah berbeda satu sama lain...
selamat menjalani hidup saja mba...
saya pikir mba menuju tahap imun untuk komentar2 yang menyangkut diri mba dan keluarga... :)
teh, kangen supernova. gimana partikel ama rectoverso ny hehe, maav kl ga ap tu det.cheers
Tulisan tentang definisi suatu istilah: kebenaran, cinta, kebaikan, arti hidup dan banyak lagi yang dirangkai dengan kata yang ngejelimet. Semakin banyak saya membacanya semakin saya tidak mengerti dan merasa kata2 hanyalah kekosongan. I think now I understand why Buddha Gautama so silent. Sulit menjelaskan berbagai kebenaran melalui bahasa yang terbatas.
Pada akhirnya hanya jika saya mengalami apa yang Dewi alami baru saya mengerti. Tapi pengalaman yang sama belum tentu dipahami dengan cara sama, tergantung lensa kita seperti yang Dewi bilang.
Singkatnya mungkin no comment
Saya salut pada tulisa Dee. Kadang saya berharap bisa menulis sebagus Dee.
Yah... Semakin kita bisa melepas lensa-lensa yang ada, semakin jernih kita memandang kehidupan ini. Kemudian dunia menjadi tampak berbeda. Kita bisa memandang dari sudut pandang yang lain. Dan, menjadi lebih bijaksana. Akhirnya, kita semakin mengalir dalam hidup ini dan semakin bersahabat dengan kehidupan.
Salam
you're right. no winner, no loser. but is life a zero-sum game? if we believe life itself grows (and so do we when we fully live it), it can never be any 'zero-sum', can't it? terima kasih atas refleksi mendalam ini. salam, y.
waw...
Ada suatu titik dimana aku takut eksplorasi terhadap kehidupan bisa menyesatkan. Titik itu, beberapa saat setelah membaca blog ini, yang mampu menjelaskan perceraian dari sudut pandang protagonis. Yang menjadikan bahwa apapun – bahkan mungkin, pembunuhan – bisa menjadi hal yang benar apabila kita bisa membuat kacamata untuk membenarkan itu. Is it like that?
Note that this not judge you “divorce thing”, it just example. Just not to agree that other couple could use the same lenses to judge their marriage. It would be partial understanding.About your case, you explained enough, hope you find the happiness.
Semakin kita eksplorasi, semakin banyak kita pikir kita tahu, yang menurutku semakin banyak celah untuk kita tersesat. Aku takut jadi kamu mbak. Dalam seluruh kemengertianmu tentang hidup, ada void yang semakin besar yang aku rasakan (this is personal opinion, sorry). And it happens to us who sought to know about universe, tentang kebenaran absolute. Nietzche, Hawkins, Einstein, Tolstoy, Freud. The are not happy even they know more about life and universe. Seperti kata-katamu mbak, “matilah untuk semua yang kau tahu”.
The ability to think, to understand more, to deeply sought for absolute truth. It’s a gift, but also a curse.
Maka tidak seharusnya kita hanya menggunakan kacamata menurut hati masing-masing. Setiap orang akan berbeda-beda karena eksplorasi mereka terhadap kehidupan juga berbeda. Ada alasan yang kuat mengapa diciptakan nilai, norma, hukum, diajarkan agama dan kepercayaan. Itu yang memberikan kacamata universal bagi semua sehingga setiap orang bisa melihat dari sudut pandang yang setidaknya mempunyai garis besar yang sama.
-imamwahyudi.com-
Ya begitulah mbak
seperti kata Jimmy Lominto
setiap org itu seperti mengenakan sebuah "helm pandangan" yang selalu dipakai di kepala masing-masing dan juga selalu dibawa kemana-mana...
makanya di dlm agama Buddha kita selalu ditekankan untuk memiliki "pandangan benar" :)
cheers,
-SH-
keren dee tulisannya, saya pengen jg bisa mempunyai bakat menulis dng tata bahasa yg mengalir (deskriptif & menarik) seperti dee.. suatu hari nanti.. hehehe..
your blog is the best blog that i've read this far.. nice to read it dee.. thank you for that.
gimanapun, tetep ya mba kalo masalah pribadi, orang laen tuh 'rela' nengokin. terbukti terlihat didepan monitor (itung ajah), lebih banyak orang komen tentang masalah pribadi mba dee daripada pemikiran mba dee soal lainnya. walopun komen yg tertulis kebanyakan menyuport, tapi esensinya sama, 'rela' buat baca trus ikut ninggalin sepatah dua patah kata (halah jadul!). mungkin nih, untuk posting yg laen, agak ogah2an bacanya krn ga seseru soal pribadi. termasuk saya, heheh. sangat disayangkan.
(pembelaan : eh tp saya mah pertama nulis komen di go veggie by chindy than! ga mlulu soal pribadi)
udah ah nulis2 begininya mba. nanti malah mirip realty show termewek-mewek.
butuh tau tentang pemikiran dee tentang banyak dan semua hal nih! buat share.
dee menulis : Padahal pengunjung blog ini, menurut saya, terbilang orang-orang yang intelektual dan masih santun dalam penyampaian opininya
mba dee saya mau tanya, apakah mba dee menulis se-njelimetnya itu sebagai "kelas pemasaran" untuk karya-karya dee? sehingga orang2 tertentu (intelektual) saja yg mau menoleh dan mampu mencerna? (saya termasuk yg sulit untuk mencerna) trus apakah banyaknya penggunaan bahasa inggris pun dimaksudkan untuk itu?(terbesit berpikir demikian setelah baca komen PENGECUT di 10 Most Hillarious, Humorous, and Hideous Gossips I Found)
hemm, rasanya kecerdasan seseorang ga terasa papa kalo dia ga melakukan papun. Indonesia butuh orang seperti dee. Saya malah berharap banyak dee bisa berbuat lebih banyak dari pada sekarang. Ok ajah kalo dee butuh share pemikiran dg orang yg satu kelas. tapi sebagai penulis, saya menunggu karya mba dee yg lainnya yg ga cuma bisa dicerna orang tertentu saja tp tetep cerdas.
Ditunggu!
arrggggghhh... tulisannya udah pada kayak malekat smua. Kalo ngalamin sendiri juga pada nangis bombay kayak mandra waktu diputusin munaroh. jadi fans boleh2x aja lah, tapi nggak usah ekses. apalagi yang anonymous2x nih, tambah nggak jelas juntrungannya. takut ketauan ya, kalo ngomong soal awan putih, namun nyatanya pake ray ban item legam kayak kang ojek? semprul kaw...
udah dee... mendingan surfing di uluwatu, or nge'lenggang di orchard road, or buat album baru, or makan rujak mang sodikin sampe kepedesan (sapa pula itu sodikin), whatever lah.. forget it... :p
Lari dari kenyataankah saran gua ini? waks, kalo kenyataannya memang sudah berat, masa lo semua tega nambahin beban pikiran orang yang lagi berat sama nilai-nilai malaikat lo semua yang lebih berat dari masalah itu sendiri?
vanitas vanitatum mundi...
Mba... tulisannya menginspirasi. Thanks a lot :)
sekedar jejak, bahwa bahasamu, menyentuh dawai hatiku, mbak dee...
Salam
mereka yang bisa mengapresiasi perbedaan dengan hati damai dan penuh kasih adalah orang yang kaya raya... Dari setiap komentar yang masuk terlihat jelas betapa Sang Pencipta karena kasihnya memang sengaja membuat banyak hal berbeda dan tidak seragam untuk mewarnai hidup. Pelangi kalau nggak beda warna bukan pelangi namanya...
Dan tolong nyanyi lagi dong... aku lihat & mengalami sendir kalau musik yang datang dari hati itu bisa menjembatani perbedaan...
Mbak Dee,
Mungkin saya tidak memahaminya sebagai perbedaan kacamata dan kacahati yang kita miliki. Sebab, ternyata kita tidak sedang sama-sama berada dan melihat realitas yang “sama” lalu mendiskusikannya di sini. Kita masing-masing berada di realitas yang berbeda, tapi sedang berusaha membicarakannya sebagai sesuatu yang “sama” di sini. Itulah sebabnya mengapa kita selalu berjarak komunikasinya, cara pandangnya, persepsinya.
Sebab ternyata, kau dan aku, juga mereka semua, tidak berada dalam “ruangan” yang sama, dalam “realitas” yang sama. Kita “seolah” berada dalam sesi Cyber-Dyad yang sulit dimengerti. Sebab kau kira aku duduk dihadapanmu, memendang matamu, atau sama-sama menantikan bel pergantian peran berbunyi? Nyatanya tidak begitu. Kita berada di ruang dan realitas yang berbeda; saat kau menuliskannya dengan berkonsentrasi setengah mati, “dengan penuh perasaan”, seseorang mengomentarinya sambil melakukan multi-tasking “winamp-browser-corel draw-adobe photoshop” di komputernya, sambil sibuk dengan segelas jus mangga di tangannya. Tentu berbeda kulitasnya: yang satu berusaha menyambungkan, yang lain tak sadar sedang menceraikan. Di sini, “komunikasi yang baik”, tentu sulit terjadi. Sebab kita berada di “realitas” yang berbeda.
Saya jadi ingat alegori gua Plato tentang hierarki realitas. Di tengah sekumpulan orang yang terperangkap di sebuah gua gelap dengan kaki dan tangan terborgol, seseorag terlepas begitu saja dan berkesempatan “melihat” hal-hal yang tak bisa dilihat yang lainnya. Bila yang lain hanya sanggup melihat bayangan, seseorang yang bebas dari borgol tadi bisa melihat benda-benda—lalu dia lari ke luar, melihat gunung, melihat langit, melihat dunia yang ternyata terang benderang dan jauh lebih luas dari sekadar gua gelap yang pengap. “Hei, di luar sana terang, lho!” Ia berusaha memberi tahu teman-temannya tentang apa yang ia lihat “di luar sana”, tetapi yang lain tak memercayainya. Bahkan menganggapnya gila, terlalu banyak teori, dan lainnya. Bila ada seseorang di antara yang terikat itu memercaiayanya, pikirannya tentang “luar yang terang” sesungguhnya tak akan pernah se-“luar yang terang” milik lelaki yang lolos tadi. Inilah hierarki realitas. Seseorang yang melihat realitas di “ruang yang satu”, tentu berbeda dengan yang hanya sekadar mendengar atau memahaminya dari “ruang yang lain”.
Rumi mencontohkannya dengan lebih jenius. “Bila kau memberitahu pada bayi dalam rahim bahwa di luar sana ada gunung, langit, dan benda-benda, ia tak akan memercayainya.” Kata Rumi. “Sebab baginya ‘dunia’ adalah janin yang sedang ia tempati. Dunia adalah tempat yang diluputi darah.” Sekuat apapun seseorang memberitahunya, si bayi tak memercayainya. Maka, ketika si bayi terlahir ke dunia, ia menangis. Sesungguhnya si bayi sedang menyesal mengapa ia tak memercayainya dari dulu. Tapi itulah hierarki realitas, setiap orang memiliki ruang kesadaran masing-masing. Mungkin, ketika kita bicara ‘perpisahaan’ pada orang yang pernah merasakannya, akan lain rasanya bila kita membincangkannya dengan seseorang yang tak pernah melaluinya.
Ketika seorang teman memberi tahu saya bahwa ada soto ayam+nasi+krupuk+es teh seharga seribu lima ratus rupiah di pojokan Kasihan Bantul sana, setengah mati saya tak memercayainya. Lengkap dengan berbagai argumentasi saya soal harga sembako yang selangit, ekonomi liberal yang membuatnya tak mungkin, dan seterusnya. Tapi dasar saya “belum mengalaminya”, belum memasuki realitasnya, ketika si teman mengajak saya kesana, membuktikannya, seluruh argumentasi saya runtuh. Seluruh penolakan saya tak beralasan. Seluruh ketidakpercayaan saya ternyata sia-sia belaka. Di sisa-sisa kesia-siaan itu, saya menyesal, lalu setelah itu saban hari saya bolak-balik makan di sana—sambil menelan rasa malu yang tak sudah-sudah karena benar-benar ada paket lengkap soto ayam seharga 1500 rupiah.
Mbak Dee. Kau berada di mana, aku berada di mana, juga ternyata penting ketika membincarakan sesuatu. Bukan hanya soal persepsi. Benar katamu tadi, persepsi hanya soal kadar: yang kecil bisa menjadi besar, yang murah bisa terasa mahal, yang hijau terlihat merah, yang sedih terbaca kurang sedih; persepsilah yang bermain di sana. Tetapi ketika kita berada di ruangan yang berbeda, dalam realitas yang berbeda, dalam kesadaran yang berbeda, yang terjadi bukan [lagi] soal “kadar”, tetapi yang lain yang bisa jadi sangat menyimpang, betul-betul berbeda, jauh sama sekali.
Bila terlihat seperti ada filter, lensa yang berbeda, kesalahpahaman, persepsi memang begitu. Persepsi seperti punya kehendak sendiri di kepala masing-masing orang. Ketika kau katakan “Jangan pikirkan aku selingkuh!”, yang terjadi pada persepsi mereka justru lawannya. Ketika kuminta kepadamu, “Jangan pikirkan gajah!” Pasti seekor gajah tiba-tiba muncul di pikiranmu, bukan?
Bila kita berharap “komunikasi [yang baik]”, bila kita berharap orang bisa mengerti keaadan kita, berpikir seperti cara pikir kita, bertindak seperti tindaktanduk kita, lakukanlah seperti melakukan Dyad. Masuki diri partner kita, masuki relaitasnya, jadilah dia: maka kita akan mengerti. Jadi, teman-teman para komentators, jika ingin memahami apa yang sesungguhnya terjadi pada penulis postingnya: masukilah realitasnya, rasukilah dirinya.
Lho? Kok jadi ngelantur, ya? Hehehe. Saya pikir kita tetap bisa melakukan persuasi—atau negosiasi—untuk mengubah persepsi orang atas kita. Atau lebih tepatnya, kita bisa “mengajak” berubah, meskipun kita tidak bisa menjaminnya benar-benar berubah. Tetap ada nilainya. Tidak nihil. Tidak jadi zero sum game juga. Kita tetap bisa menawarkan “kacamata” atau “kacahati” tertentu untuk dipakai seseorang dalam menilai sesuatu seperti yang kita inginkan. Kita tetap bisa mengajak orang lain memasuki “ruangan” kita, memasuki “realitas” kita, agar mereka juga cukup mengerti. Meskipun pada level “mau atau tidak”, “berubah atau tidak”, keputusan tetap berada pada diri masing-masing (di sini saya setuju ‘tak ada yang bisa mengubah diri kecuali dirinya sendiri’).
Seperti pedagang kacamata hitam lima ribuan di pinggir jalan, mereka tetap menawarkan “lensa” untuk mengubah pandangan para pengendar motor yang merasa silau untuk [jadi] lebih redup. Mereka tetap boleh menawarkannya, dan soal ada yang mau beli atau tidak, bukan yang terpenting. Berjualan adalah bertindak dan berusaha. Dalam berusaha dan berupaya tidak ada nilai yang nihil, bukan? Setidaknya niatnya saja sudah ada nilainya. Maka, tidak ada zero sum game. Hehe.
Jadi, kalo penjual kacamata benar-benar gagal dan kacamatanya “nggak” laku, bukan soal upaya dia yang tak ada nilainya. Mungkin dia salah tempat berjualan. :) Mungkin ia menjual kacamata hitam di tengah hutan, mungkin ia menjual kacamata lima ribuan di kompleks elit yang gengsian. Inilah soal hierarki realitas: mungkin Mbak Dee menawarkan kacamata yang terlalu mahal, bermerek terkenal, buatan luar negeri, sementara para calon pembelinya terbiasa dengan kacamata hitam lima ribuan. :)
Salam,
Fahd
www.ruangtengah.co.nr
P.S. Maaf soal ketidaksetujuan. Maaf soal komentar [yang] panjang.:)
Membaca artikel ini, gambaran yang bermain di imajinasi saya justru bukan lensa berwarna, tapi kacamata kuda. Hehehe.
Kebenaran sejati terkadang hanya bisa ditemukan ketika seseorang bersedia melepaskan cangkang yang terdiri dari berbagai pengkondisian, konsep ideal dan kontruksi citra. Kesiapan dan kesediaan hati adalah salah dua kuncinya.
Ah.. jadi kangen Dyad. :-)
Malaikat Juga Tahu
Seringkali – sebab jiwa yang dangkal- kita memaknai hidup dari apa yang kita suka, dari apa yang kita cinta .
lewat "Malaikat Juga Tahu" telah memberikan pencerahan… untuk memahami sesungguhnya ada kekuatan kasih dan cinta dari apa yang kita tidak suka
Saya jadi ingat hubungan dengan isteri,kami beda banget tapi bisa menghargai perbedaan itu sendiri, contohnya soal agama, istri katholik, saya Buddhist, soal hoby: istri berkebun , saya nonton, dan begitu banyak perbedaan tetapi bukan untuk di bedabedakan, hari demi hari kami lalui dengan kemesraan dan juga pertengkaran , itu lah hidup, jalani aja apa adanya .biar beda saya tetap sayang sama dia.
memang hidup ini masalahnya hanya sudut pandang saja. sepuluh orang maka akan ada sepuluh sudut pandang. seribu orang juga akan ada seribu sudut pandang.
gak percaya? coba aja itu seribu orang disuruh bikin lingkaran. terus suruh pada nunjuk ke kanan semua tangannya. maka disitu akan ada seribu kanan (asal lingkarannya bagus ya;p) semuanya bilang kanan,tapi arahnya berbeda semua,dan itu kurang lebih sama dengan kehidupan kita sehari-hari. kita bisa aja ngomongin hal yg sama,tapi jadi beda karena melihat dari sudut pandang berbeda.
saya bilang tanjakan kamu bilang turunan, soalnya saya dari bawah kamu dari atas,coba kamu turun dulu,baru paham pastinya.
jadi gak usah dipikirin ,kebenaran itu relatif ,tergantung persepsi kita.
akhirnya kesimpulannya adalah :
kalo kamu cuma bisa melihat dari satu sudut pandang,kamu bisa milih,mau jadi orang dengan sudut pandang negatif atau positif.
tapi kalo kamu bisa melihat lebih dari satu saja (keduanya atau lebih) maka kamu udah bisa dibilang orang yg bijak.
makin banyak sudut pandangnya makin bijak jadinya.
semoga dee jadi tambah bijak ya setelah menghadapi semua ini:)
-didot-
saya beruntung comment saya dibaca.. hehehe... (masih di bawah angka 100 :p )
segala sesuatu adalah persepsi..
semua tergantung bagaimana ditempatkan dan disikapi
melepaskan kaca itu mungkin lebih damai.. melihat hanya dengan mata dan hati..
indahnya....
terima kasih, mbak dee..
lagi2 saya kagum dengan cara bertutur anda..
gosh, aku uda mikir kyk gitu dari dulu, tapi gak pernah bisa ngungkapin ke orang laen..
lagi2 terima kasih, mbak dee..
saya gak bisa berhenti senyum baca tulisan mbak dee..
heheheheeee..
ps : masih tetep penasaran, nunggu supernova.. kapan?
begitulah sejelas apapun pemaparan kita
tiap orang punya point of view yang beda...
itulah kenapa ada ilmu anthropologi dan sosiologi
barangkali... :)
mengomentari tulisan dee ini, aku kutip dari "A Collection of
Wisdom" Zen Buddhism, sbb:
Perfect Understanding
Disciple: “Tell me about a person who has a perfect understanding of
things?”
Master: “It is a great practice.”
Disciple: “It is unclear to me—do you practice?”
Master: “I wear clothes and I eat food.”
Disciple: “Those are standard behaviors. It is still unclear to me—do
you practice?”
Master: “Tell me this—what do I do everyday?”
What is Moving?
Two monks were arguing about a flag, and the Sixth Chan / Zen
Patriarch [Hui Neng] overheard them.
First monk: “The flag is moving.”
Second monk: “The wind is moving.”
The Sixth Patriarch: “Not the wind, not the flag. Mind is moving.”
kebenaran itu cumalah kesepakatan kolektif...
warna-warni yang memperkaya dan mendewasakan. "Little Monkey Drummer" bukan Palu
itu judul salah satu puisi saya. tetapi barangkali konteks lain tapi tak apalah semoga berguna
akankah aku membuka pintu
kepergian dengan kengerian
seratus tahun kesunyian
karena setelah palu
kamu palu godam
karena palu berkejaran dengan palu godam
tetapi aku akan setia
sebagai paku
bila godam,
maka aku akan jadi paku bumi
bila godam
maka akau akan jadi paku langit
dum dum dum
dan palu
keras menghantam paku
tidakkah indah
tidakkah sesungguhnya mereka
saling mencinta
karena hanya
karena hanya dum dum palu
paku bumi nancap dalam
mbuka jalan bagi minyak mentah
atau air menyembur
sedang paku langit nancap
njebol
sumbat hujan
dan tirai cahaya
setelah awan
kehilangan hitamnya
kehilangan bobotnya
tapi apakah aku dan mungkin kamu
setangguh itu.....
bukan dum dum palu paku
aku samar mendengar tersentak
dum dum 'little monkey drummer'
hadiah ulangtahun untuk adikku
yang tak kutahu penanggalannya
ia kini telah pergi
tapi tak akan mati-mati
hoo, jadi inget kuliahnya mas nur! hehe, dee dulu kebagian kan? kalo saya sih termasuk yg percaya kalo manusia itu punya keberdayaan utk membongkar pasang lensanya masing2, mau dituker2 lensa juga bisa, itu semua tergantung tujuan dan kemauannya masing2.
hii..mbak dewi..
kita tidak bisa menyenangkan banyak orang. dan orang lain belum tentu tahu kapasitas yang terjadi sebenarnya. masih banyak orang, walau intelektual sekalipun masih menjudge from its cover. Kita bisa mengubah hal negatif menjadi energi positif toh buat diri kita sendiri. Tenang bu, Indonesia memang terkenal komentatornya tohhh..:))..
sist...
tawa itu hilang...
pesta telah usai..
tapi matahari tetap hadir
dengan sinar yang masih sama..
berjalanlah lagi dengan langkah tegap
karena mimpimu masih yang sama..
untukmu yang akan selalu ada..
dengan segelas air disaat kau terbaring..
God bless u..
HAI SALAM KENAL KAK DEWI
SAYA BARU KALI INI BUKA BLOG2AN.. HEHE
SAYA JUGA BARU BUAT BLOG SENDIRI..
BY THE WAY.. MAY I KNOW UR EMAIL ADDRESS KAK DEWI?
" SEMOGA SEMUA MAKHLUK BERBAHAGIA "
salam kenal..kak dewi.. nama saya lidya..
saya pengen ngobrol banyak sama kak dewi via email.. boleh gak?
saya tertarik pengen jadi penulis..
selama ini sih pekerjaan saya penulis amatiran di kamar..hahah
maksudnya saya suka nlis2 diary gitu..:P
aku banyak pertanyaan untuk kak dewi..mm.. lebih tepatnya ingin meminta masukan atau bertanya pengalaman kak dewi..
aku juga punya impian pengen nulis buku
pengen buat cerita..
buanyaaak keinginan yang tak tersalurkan...hahaha
yah kalo memang jodoh mungkin saya dan kak dewi bisa berteman ya..:)
saya butuh teman untuk bertanya tentang tulis menulis..dan entah mengapa saya merasa kak dewi org yg tepat.yah itu juga kalo kak dewi gak keberatan..haha
saya merasa saya punya bakat.. dan saya yakin saya bisa menjadi apapun yang saya mau.. tapi saya memiliki banyak halangan.. dan salah satu penghalang saya adalah tiadanya orang yg membimbing atau untuk share..
duuhh,, saya jadi bingung kenapa saya jadi curhat gini ya? hahaha
kalo kak dewi mau berbaik hati meluangkan waktu untuk membalas comment saya.. waw... i will very happy..
l123cool@gmail.com
( nb: this secret comment .. just u and me..haha saya nulis panjang lebar gini saya pikir karena gak otomatis di publishing.. jadi ya.. maybe u will delete this comment)
thank u
semoga semua makhluk berbahagia..
Buddha bless us
Buddha bless all
situ lobang kunci
saia anak kunci
tapi saia anak kunci untuk membuka pintu yg lain
siapa yg salah siapa yg benar?
jalani path-nya sendiri2 aja dl
oneday
maybe
saia akan btemu dgn situ lbh dekat lagi (krn dia yg melengkapi situ merupakan teman d satu gantungan kunci)
^o^ berusaha bangetz bs nulis sbagus mba dee
wish u all d BEST mba
SEMANGATZ
Hai Dee..memang paling enak ngomentarin urusan pribadi orang lain. Abisnya dah stres sih mikirin hidup diri sendiri. Hi..hi... Yah, begitulah Dee. Komentar2 di blogmu sih tak seberapa pedas. Coba tengok di beberapa milis, mereka yang katanya kaum terpelajar dengan gelar sederet dan status bla..bla..bla...toh cara pandangnya jauh lebih picik dan sempit dibanding tetangga saya Pak Ahmad, yang cuma lulusan SMP. Ketidaksukaan mereka lampiaskan dengan mencaci maki agama orang lain padahal yang berbuat salah (mungkin) beberapa gelintir orang. Hidup Indonesia!
Jum'at akhir agustus lalu, saya dan sekitar 10 orang kawan juga sengaja membahas "Catatan Tentang Perpisahan" dalam forum diskusi kami "Orange Talk".
Yah pendapat orang emang macam-macam. Ternyata saya juga tidak bisa menyamakan hasil pembacaan saya dengan teman-teman saya..
Kembalikan ke hati nurani kita masing-masing, saat kejujuran yang paling fundamental dapat kita dengar. Tanpa keinginan untuk memaksa yang lain, maupun menipu diri sendiri. Di tempat itu kita yakin sudah tidak belaku lagi kacamata maupun kacahati sekalipun.
... aku baru saja alamin perpisahan, beberapa waktu lalu... gak pernah mudah untuk hadapin hidup yang bergulir cepat, dalam penilaian sepihak orang-orang sekitar kita... tapi, hidup selalu indah dalam catatan-Nya, hanya aku sadar manusia dalam seluruh keterbatasannya selalu terbata dalam pemahaman indah itu...
Dan sekarang, aku jalanin hidup apa adanya, bergulir dalam ketenangan yang harus aku dapatkan.. & uniknya, beberapa waktu terakhir aku temukan ketenangan dengan lagu 'Malaikat juga tahu'... Dee, thanks for enlight life with such a beautiful song... lagu yang bener-bener jujur... thanks for the song...
Setelah mencermati perjalan kalian ber empat (Dewi, Reza, Marcell dan Rima M. Adams), menurut saya bahwa kalian saat ini sudah memasuki tahap revolusi perilaku..yang sebelumnya sudah melakukan revolusi pemikiran.
Saya jadi inget diskusi dengan anda beberapa tahun lalu dimana anda memimpikan One Big Happy Family (OBHF) yang tidak terikat dengan ikatan pernikahan..anak-anak yang terlahir dari OBHF akan menjadi tanggung jawab bersama OBHF dan impian-impian lainnya.
Saat ini anda dan 3 orang lainya secara sadar ataupun tidak sadar mulai membentuk visi tersebut. Saya hanya khawatir apabila anda mulai mengkampanyekan visi tersebut, ternyata mendapat penentangan keras dari masyarakat dan menjerumuskan anda dan orang-orang di OBHF kedalam clash yang lebih parah dengan masyarakat, terutama masyarakat agamis.
Mungkin apa yang saya sampaikan terlalu jauh..tapi sejujurnya itulah yang saya khawatirkan..Anda dengan reputasi anda, Reza dengan segala kualifikasinya..Marcel dengan segala pencapaian dan Rima M. Adams dengan segala kelebihan yang dimilikinya..akan tergerus oleh kuatnya arus mainstream...sehingga menjadi seonggok batu tanpa nilai yang dicibir oleh masyarakat, sebagaimana AA Gym yang hancur hanya karena 1 perkara yang bertentangan dengan Mainstream.
Mungkin anda lupa dengan saya, tapi anggaplah ini sebuah triger untuk merekontruksi kembali visi anda..sehingga mendapatkan visi yang dikompromikan antara idealis dan realis. sehingga anda bisa menjadi orang-orang yang walking the path not only knowing the path
Salam Pencarian
Someone who walking his path
u always my fave write dee ...
just keep smiling n move ur life
sabar ya mba .. emang orang2 tuh gitu seneng liat orang susah, susah liat orang seneng .
peace
salam kenal
Saya bahagia jika manusia menyadari bahwa kebenaran ala manusia pasti tidak valid, karena setiap manusia mengikuti dan mengkukuhkan kebenaran yang berbeda-beda. Tetapi apakah hal ini berarti tidak ada kebenaran yang valid? Jika tidak ada kebenaran yang valid, bukankah berarti setiap manusia tidak akan boleh dihakimi telah berbuat salah?
To ReeeVaaa,
KeBENARan tidak ada yang absolut.
Kita sama-sama lihat bulir padi. Anda bisa sebut beras, kalau saya tinggal di negara Barat disebut rice, kalau di Jepang dibilang bahan Sushi, kalau di Bali buat bahan sesajen, kalau di Eropa dianggap makanan aneh.
Wujudnya serupa, tapi sungguh label dan penyikapannya tetap relatif. Bahkan kalau ahli fisika quantum lihat beras, dia tetap bersikeras bahwa sebenarnya beras pun merupakan ilusi panca indera yang esensinya ruang hampa.
Kalau beras saja bisa RELATIF dan VARIATIF begini sebutannya, penyikapannya, pemanfaatannya, terkadang dari siapa individu yang sedang menghayati... apalagi sesuatu yang tidak berwujud seperti Takdir, Cinta dan Tuhan?
Bahkan upaya Anda untuk tidak sependapat dengan Dewi, atau komentator lain dalam blog ini, bukankah itu justru membuktikan bahwa semua pemahaman kita bersama atas kebenaran adalah relatif? Kalau kebenaran itu absolut, kita sudah sama-sama diam, barangkali tersenyum aneh, karena pada saat itu mengeluarkan kata-kata apapun dari mulut pun sudah membuat kita keluar dari ke-Absolut-an, dan kecebur dalam ke-Relatif-an.
Kata Anda, manusia itu kosong hidupnya tanpa harapan? Saya punya pendapat berbeda (namanya juga kebenaran relatif). Justru ketika kita siap melepas semua harapan, dan semua ketakutan, barulah kita punya kesempatan langka. Kesempatan untuk mencicip CINTA yang sebenarnya, yang bukan konsep.
Selamat mencicip...
Reza
aku malah merasa komunikasi melalui forum ini cukup baik loh, karna ga bisa disela.. kita bebas ngomong apa aja dan terserah si pembacanya mau baca apa engga, ya ga?
dee, tadi pagi saya denger lagu terbaru dee. cuma ko? kayanya saya lebih suka RSD yah..?
beda beda beda.
kalau gag mau dapet komentar aneh yah blog nyah gag pake post komen.
atau gag usah bikin blog.
cukup diary pake gembok sajah.
Dear Mbak Dewi,
saya hanya ingin sedikit ikut komen sesuai dengan isi hati saya.
yang mbak Dewi rasakan sekarang ini adalah salah satu perasaan yg pernah saya rasakan. Mungkin mbak Dewi lebih bijak untuk menghadapinya, tp saya dulu menghadapi dengan kemarahan dan kehancuran.
Tetapi singkat kata, pada akhirnya saya menyadari ini adalah suatu proses hidup yg harus saya jalani. Apakah itu di anggap karma atau bukan, tetap ini adalah jalan/proses hidup yg sudah saya pilih. KArena saya percaya bahwa Tuhan selalu memberi kita 2 pilihan, tidak 3 atau 4, tetapi 2 ! kita akan memilih jalan mana yg harus kita lewati dan ketika kita sudah memilih, kita harus sadar dengan segala resikonya.
Kita harus jalanin pilihan itu, apapun yg terjadi sampai nantinya kita mendapatkan pilihan2 yg lainnya, sehingga kita akan mendapatkan pengertian mengenai hidup atau apa tujuan dan arti hidup kita.
Saya baru mulai mengerti hal2 ini yg mungkin mbak Dewi sudah melampaui tahap2 tersebut.
Terima kasih untuk tulisan mbak yg ini, telah membuka ingatan saya tentang ajaran Budha ataupun ajaran2 agama lain yg pernah saya baca dan saya percaya.
Mungkin ini hanyalah ocehan saya, seseorang yg tidak mengenal mbak Dewi.
Saya hanya mengharapkan Mbak tetap berkarya karena mbak adalah salah satu penduduk INdonesia yg penuh dengan talenta.
Apapun yg terjadi dengan pribadi mbak, biarlah itu menjadi pengalaman hidup yg berharga yg orang lain tidak perlu diberi penjelasan karena "lensa" mereka berbeda dengan mbak. Nanti ketika saatnya tiba, mereka akan mengerti dengan sendirinya.
Sudah terlalu banyak yg saya tulis, terima kasih mbak sudah membaca.
jack
saya cuma mau nambahin comment nggak penting, "duuuhh panjang banget sihhh nulisnya...". hehehe...
Walau manusia memandang dengan kacamata yang berbeda-beda tetapi esensi suatu objek tetap tidak berubah bukan ? Sebuah syal berwarna merah pada dirinya sendiri tetap merah walau ada manusia mengatakan dia ungu hanya karena ia berkacamata biru.
Maka kebenaran secara esensi adalah absolut, tetapi kebenaran menjadi kelihatan relatif karena manusia mendasarkan kebenaran pada dirinya masing-masing.... Jelas manusia tidak dapat dipercaya menjadi penentu kebenaran.
We can't please everybody.The most important thing in life is to be honest to yourself.That is to follow what you think is right, not what others dictate you.
And yet, keep writing. Keep exploring.
Dari tulisan Anda, terkadang saya menemukan satu persepsi baru yang selama ini bahkan tidak terpikirkan.
Salam.
*nonton orang2 yg pada ngeblog di blognya Dee* :)
"terus berevolusi dan bergulir dengan arus kehidupan.." ya..betul, setuju dee. By the way, Album barunya OK banget! Terutama lagu ke-2. Saya suka banget. Terus berkarya ya! Salam dari Yoshi, she just met you couple weeks or months ago isn't it?
maaf sptnya pemakaian zero sum game-nya menurut saya kurang kena.
zero sum game itu selalu ada 1 pemenang, 1 pecundang. makanya hasilnya zero.
saya menang (+) kamu kalah (-)
hasil akhirnya selalu nol.
kalau maksudnya mungkin tidak ada yg menang atau yg kalah. lebih cocok peribahasa 'kalah jadi abu menang jadi arang' kali yah.
ini menurut saya loh..
ibarat satu sachet nutrisari, tapi dilarutkan dengan air tiga gayung... hambar...
Kembalikan semua pada kejujuran hati nurani dan Sang Pemilik Kehidupan ini. Terlalu banyak mendengar apa kata orang terkadang membuat situasi tidak akan menjadi lebih baik.
Dan kalau boleh mengutip satu kalimat dari salah satu iklan yang ditayangkan di negara tetangga sana: always look at on the bright side of your life.
Tetap tersenyum, tetap menulis, tetap semangat!
mari kita btat postingan ini lbh ngetop dr 2 postingan sblmnya! Saya tambah satu comment! Huehe
kebenaran itu ada di kepala kita sendiri bukan di kepala orang lain,, so jangan terlalu dengerin orang lain,, kata kerennya mungkin "ini hidup loe bukan hidup orang lain".. ^_^.. oh iya, mba dewi kalo ada waktu dan kesedian, silahkan maen2 ke blogku. salam.
selama itu bertanggung jawab semua bebas mengartikan kebenaran lewat versinya. tapi kita ga perlu terlalu mengikuti kebenaran dari kepala orang lain. kata kerennya mungkin "ini hidup loe bukan hidup orang lain",. sukses ya mba.. o iya kalo ada waktu dan kesediaan maen2 ya ke blogku.. salam.
menurutku, berkomunikasi dengan kacata juga bagus, kan malah kita bisa liat masalah kita dari kacamata yang lain
jangan-jangan masalah yang kita hadapi ternyata adalah masalah ringan diluar sana, atau sebaliknya
Aku dapet link blog mba dee blm lama ini, dan setelah ngikutin baca tulisan2nya banyak hal yg membuat aku jd belajar dan merenung dr kisah dan pemikiran-pemikiran mba dee, thanks so much ya mba tanpa disengaja aku menemukan beberapa jawaban, btw apakah novel "PERAHU KERTASNYA" sudah bisa di cari di toko2 buku mba?
Saya menemukan blog mba dee belum lama ini, dan setelah baca tulisan2 nya aku banyak belajar dan merenung, thanks ya mba dee.
btw novel "Perahu Kertasnya" kapan sudah bisa di cari toko buku mba? ga sabar pengen baca :)
tiba2 saja saya tau,ada banyak hal dalam benakmu,yg saya tidak mengerti datangnya dari mana.
u must be have prabamandala,dee...
many word i want to said,but i could'n say anything.
sebenarnya saya ingin menyampaikan komentar mengenai rectoverso, tapi tidak menemukan posting yang relevan..mau tidak mau saya posting disini..(sorry kalau tidak appropriate)
saya baru membaca setengah dari rectoverso, belum mendengarkan cd nya. tapi saya kira lirik yang tercantum dalam buku bisa menjadi perwakilan.
pada saat melihat judulnya, rectoverso, terus terang saya tidak mengerti artinya. saya coba mencari tahu lewat kamus online, dan menemukan arti yang mungkin tidak terlalu relevan pada konteksnya. tapi setelah membaca setengah, saya melihat sebuah benang merah yang mungkin adalah arti dari rectoverso ini sendiri. keterbalikan, cerminan, dua hal yang berbeda tapi saling berkaitan. musik dan lirik mencerminkan kalimat dalam buku. tapi yang lebih penting lagi adalah perasaan yang ditumpahkan dalam cerita-cerita pendek tersebut. semua mengenai keinginan, gairah yang apakah dengan sengaja atau tidak sengaja tidak disampaikan, tidak tersampaikan, dibelenggu atau didiamkan. entah karena ketidakberdayaan, ketidakinginan atau ketakutan.
satu rasa yang tertinggal setiap saya tutup buku ini. getir.
kenapa, dee?
note : thanks to reza, through his facebook link i found your blog.
Dear Frinzy,
Terima kasih atas comment Rectoverso-nya. Jika berkenan, saya ingin mem-posting comment kamu di entry terakhir saya yang memang menjelaskan tentang Rectoverso.
Di sana, saya juga memuat aneka ragam impresi dan "pengalaman Rectoverso" dari pembaca/pendengarnya.
Thanks,
~ D ~
"orang-orang tidak peduli kebenaran", kata-kata yang menarik, karena memang pada dasarnya manusia hanya mempercayai apa yang mereka bisa perspesikan dalam panca indra.
Kita hanya ingin tahu apa yang kita tahu, walau kebenaran kita mungkin relatif.
Sama saja jika kita melihat berlian. Kita dan orang lain akan selalu melihatnya dari sudut berbeda walau kita melihat hal yang sama.
Ada hidup, pasti ada mati. Sebuah fenomena dasar yg harus diterima, tidak peduli kita mau(suka) atau tidak mau(tidak suka).
1 pertanyaan, hubungan apa yg memiliki kadaluarsa? apakah juga termasuk hubungan ibu dan anak?
Berbahagialah mereka yg dalam hidup ini bisa menemukan cinta. Pada saat cinta ditemukan, seharusnya 2 manusia ini menjalaninya dgn sepenuh hati, berjuang bersama, bertumbuh bersama.
Perjalanan hidup tidak pernah mulus. Alangkah mudahnya hidup bila setiap kali kita tersandung, maka kita menyerah dan mengatakan "Sudah waktunya, sudah kadaluarsa"
Apa yg dimaksud dgn kadaluarsa? Bila sudah tidak ada cinta lagi? Bila segala sesuatu terasa hambar? Atau bila kita menemukan cinta yg lain?
Bagi saya, bila kita menemukan cinta yang lain, teori kadaluarsa dlm suatu hubungan menjadi tidak benar. Teori ini malah hanya menjadi sebuah alasan. Contoh sederhana, bila kita sudah punya sepotong roti coklat dan kemudian kita membeli roti keju, apakah ini menjadikan roti coklat itu kadaluarsa???
Baru kali ini saya mendengar orang memakai alasan kadaluarsa utk kegagalan pernikahannya.
Perpisahan karena kegagalan dlm menjalani pernikahan tidak bisa disamakan dgn perpisahan karena maut.
ah! now i understand why i thought you didn't post my comment :) i did put it in this blog, because at that time you didn't have an entry for rectoverso..
i didn't understand what reza said waktu dia bilang i put it in your other blog..i thought he meant your other blog sites...sorry :)
Dee,
Ketika Sidharta membulatkan hati untuk meninggalkan istana, meninggalkan anak dan istrinya momentum apa yang berbicara di sana? Kaca mata tatanan massa menolaknya, di mana tanggung jawabnya sebagai suami? sebagai ayah dari Rahula? Abaikah dia? Benang-benang yang membentuk momentum tersebut adalah buah dari komitmen yang telah dipupuk kalpa-kalpa kelahiran sebelumnya. Putri Yasodhara bukan hanya satu kelahiran telah mendampingi Pangeran Sidharta. Ada panggilan yang mengikat mereka, panggilan untuk bersama berevolusi menuntaskan apa yang disebut 'diri' yang akhirnya selesai pada kelahiran beliau sebagai Sidharta. Detik ketika mengetahui sang Suami meninggalkan istana, Putri Yasodhara melakoni tapa prihatin, sebagai ujud dukungannya pada pilihan Sidharta. Jantung panggilan dalam diri Sidharta, tali pemahamannya dari Yasodhara dan Rahula telah terajut dari kelahiran-kelahiran lampau.
Bentuk ikatan sebabjodoh yang lain, pernikahan selibat yang dilakoni Kasyapa dan istrinya Subadha. Apakah mereka mengkhianati ikatan pernikahan? iya kata salah seorang teman saya. Setiap orang punya mulut untuk bicara dan silahkan bersuara apa saja. Tapi komitmen yang diikat Kasyapa dengan Subadha bukan buah dadakan, kalo tidak salah dalam 99 kelahiran lampau mereka adalah pasangan selibat. Dan momentum ikatan itu selesai ketika mereka akhirnya memutuskan untuk menjadi murid Sang Buddha, melangkah bersama Sang Bhagavan meniti jalan penuntasan 'diri'.
Dee, dan teman-teman lain...setiap realita adalah unik, dan tidak ada seorang pun yang dapat utuh memahami realita wilayah orang lain kecuali orang itu sendiri. Ada sebabjodoh yang mempertautkan Dee dan Marcell dan ada sebabjodoh juga yang mengantar ikatan itu selesai.
salam,
Chindy Tan
Salam kenal Mbak Dee,
Belakangan ini saya terlibat dalam sebuah forum keagamaan yang panas oleh perdebatan. Masing2 penghuni forum melihat sebuah fenomena dari sudut pandang mereka sendiri dan menganggap pandangan mereka-lah paling benar. Terjadi saling serang yang menyebabkan suasana forum menjadi tidak menyenangkan.
Saya berusaha muncul sebagai seorang middleman untuk mendamaikan suasana, tapi malah gagal dan banyak kritikan yang meluncur ke saya. Perdebatan semakin sengit. Melihat hal itu saya menjadi kecewa pada beberapa member yang selalu saya jadikan pedoman dalam hidup.
"Beginikah cara menjawab guru saya?", "Masih pantaskah dia aku jadikan sebagai panutan?", dsb.
Beruntunglah seorang teman mengirimkan email tentang warna warni kacamata kacahati ini.
Thanks to Mba Dee, sekarang saya mengerti bahwa perdebatan itu muncul hanya karena setiap mereka memakai kacamata dengan warna mereka sendiri. Bahkan saya sendiri juga mengenakan kacamata warna ungu saya dalam menengahi perdebatan. Kekecewaan saya hanya salah satu bentuk dari warna ungu kacamata saya.
Yang penting adalah bagaimana saya menyaring segala informasi yang masuk, terus belajar menerima perbedaan itu dan melatih diri untuk menyadari indahnya warna warni kacamata tersebut.
Thanks, Mba Dee. Semoga Mba Dee berbahagia ^^v.
Ps. Minta ijin Mba Dee untuk memposting tulisan Mba Dee di forum saya ya :)
dear mbak D
Membaca postingan ini saya jadi senyum-senyum sendiri. Entah mengapa perasaan ini membisikkan bahwa tulisan tersebut ditulis dalam sekali duduk dan dalam semangat yg menggebu. Mari mbak kita perhatikan bareng. Mungkin kali ini saya tidak akan mengomentari konten dari postingan ini, tapi tentang sesuatu yang menjadi karpet merah penulisan posting ini yaitu EJAAN, terutama berkaitan dengan tanda baca.
OK kita simak satu-satu ya mbak.
Paragraf 2.
Kata respons seharusnya respon --> tanpa huruf s
Paragraf 3.
* disalahmengerti --> seharusnya disalah mengerti, ada spasi antara keduanya
* amarah --> seharusnya kata 'marah', ini berkaitan dengan kontinuitas kata dalam sebuah kalimat. Kecewa, gemas adalah kata sifat maka kata yang disejajarkan dengannya adalah kata sifat sedangkan 'amarah' adalah kata benda.
* orang-orang yang intelektual dan masih santun --> seharusnya 'orang-orang intelek dan masih santun'. Intelektual adalah kata benda, jadi akan terkesan aneh kalau kata tersebut difungsikan untuk menjelaskan kata orang dan akan tidak pas lagi saat kata 'santun' mengikutinya di belakang.
Paragraf 4 dan 6.
ehm.. ehm.. betapa tidak efektifnya kalimat-kalimat dalam paragraf tersebut. Dalam paragraf 4, coba mbak D hitung, ada berapa kata 'lagi' yang digunakan. Trus di paragraf 6, berapa banyak kata 'kita' yang muncul dalam satu kalimat.
Paragraf 9.
* terdapat tanda koma yang tidak penting tapi ikut tampil sebelum kata 'karena' pada kalimat pertama, kedua, dan kelima.
Paragraf 11.
* tanda koma sebelum kata 'dan' pada kalimat ke-3 tidak perlu ikutan parade karena di situ hanya berfungsi untuk menghubungkan dua kalimat.
Paragraf 12.
* Law of attraction --> dicetak miring dan tidak perlu diikuti tanda koma.
Paragraf 15.
* tanda koma setelah kata "adalah' pada kalimat ke-4 tidak usah diajak show, ngrepotin aj mbak.
Paragraf 17.
* Retreat --> cetak miring.
Paragraf 18.
* tanda koma setelah kata "adalah" pada kalimat pertama patut dimusnahkan.
Saya mengenali tulisan-tulisan mbak D baik melalui buku, koran, maupun blog. Ciri khasnya adalah kerunutan dalam berkalimat sehingga membentuk sebuah ritme yang "khas D". Tapi perlu saya sarankan mbak, ritme yang bagus tidak selalu didapatkan dengan meletakkan 'koma' pada akhir sebuah frasa dalam sebuah kalimat. Misal, koma-koma yang mbak D tulis setelah kata 'adalah' tersebut merupakan (maaf) kecerobohan seorang D saat menulis demi mencapai suatu ritme yang pas atau jeda yang tepat bagi pembaca untuk bernafas tapi terasa dipas-paskan.
Pak Gorys Keraf dan Pak J.S. Badudu akan senyum-senyum sendiri jika berkesempatan membaca blog ini kalau tahu penulis andalannya (dan andalan Indonesia tentunya) harus tersandung masalah-masalah sepele seperti penggunaan tanda koma dan kesalahan ejaan. Pak Goenawan Mohamad (mungkin) akan kehilangan selera minum 'KOPI' saat membaca postingan ini setelah menulis prakata dalam FILOSOFI KOPI pada paragraf tiga kalimat ketiga: "Dee peduli ejaan dan mematuhi gramar ...."
Sebuah buku kecil, murah dan jarang dibaca namun sangat penting sekiranya perlu mbak D buka dan baca lagi. Buku itu adalah buku Ejaan Yang Disempurnakan. Begitu membosankan bukan kedengarannya tapi percayalah mbak, hal itu besar manfaatnya.
Soal pebedaan persepsi, pandangan dan pemikiran, resapi kata-katamu mbak: "keberagaman sesungguhnya adalah kesatuan hakiki yang tersembunyi". Termasuk dalam berkomentar di setiap postingan yang mbak D tulis.
OK mbak, maaf kalau terlalu panjang.
Nantikan koreksi untuk karya-karya yang lain, Insya Allah rectoverso yang paling dekat.
salam hangat.
ADIE RIYANTO
adieriyanto@yahoo.com
ide-adie.blogspot.com
(nama blognya mirip ya ma punya mbak D, biar ketularan jadi penulis yang punya karya beneran hehehe)
Hai Adie,
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menyimak entri ini dengan kejelian ekstra, bahkan sampai-sampai membuat daftar koreksi yang cukup panjang.
Semua buku saya, jika hendak diterbitkan, pastinya melalui proses editing. Namun, berbeda dengan 'nature' di blog ini, di mana tulisan2 saya sifatnya lebih spontan, santai, dan, menurut saya pribadi, tidak mutlak membutuhkan editing kelas editor handal macam Anda. Samalah halnya dengan komentar Anda yang juga memuat kata-kata seperti 'ngrepotin', dsb. Untuk konsumsi blog hal2 semacam itu tidak terlalu besar "dosa"-nya toh? Kecuali kalau memang si bloggernya punya standar tertentu yang mengharuskan kesempurnaan EYD dalam tiap entrinya. Kebetulan saya tidak.
Sekali lagi terima kasih. Saya tunggu juga karya Anda. Saya yakin, dengan intensitas semangat dan energi yang telah Anda tuangkan untuk mengoreksi EYD entri ini, Anda pasti bisa membuat banyak karya dan sukses menjadi penulis betulan.
~ D ~
PS. Khusus untuk kata 'respon', setahu saya (ini juga hasil pengalaman di-edit oleh editor) yang benar adalah 'respons'. Serapan dari bahasa Inggris yakni RESPONSE. Sementara 'respon', jika menggunakan rumus serapan yang sama, harusnya berasal dari kata 'respond' yang merupakan kata kerja. Bisa dicek di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Kecuali kalau ternyata pedoman Anda berbeda dengan KBBI yah nggak tahu juga :)
Untuk Empty,
Salam kenal juga. Entah kenapa, saya terharu membaca komentar Anda. Begitu banyak pertentangan yang terjadi dengan mengatasnamakan kebenaran dan Tuhan. Itu jugalah yang menggerakkan saya untuk menuliskan Supernova pertama kali. Begitu orang-orang merasa dirinya adalah extension dari kebenaran Tuhan, sepertinya susah sekali menerima perbedaan. Bahkan nyaris tidak mungkin.
Silakan jika ingin link ke blog ini atau memposting tulisan ini di forum Anda. Terima kasih.
~ D ~
'Tahu akan sesuatu' wilayah mana yang dianggap terlarang? tabu untuk diketahui? melanggar wilayah Sang Maha Tahu?
Kakek buyut saya dari pihak Nenek, sesaat sebelum meninggal, mengumpulkan anak-anaknya dan berpesan, "sebentar lagi saya akan dijemput"...
Alm.Ayah pak Wid, guru De britto juga seminggu sebelum meninggal memilih untuk berpuasa. Ada bacaan firasat di sana.
Binatang tertentu seminggu sebelum meninggal, akan berdiam di gua-gua.
Sesaat sebelum Papa saya menghembuskan nafas terakhir, saya sangat gelisah, tidak bisa tidur, saya bangun dan melihat keadaan Papa. Hanya berselang satu dua menit, ritme napas Papa berubah drastis, saya berusaha menghub paramedis namun tak keburu lagi, jodoh Papa dengan hidup selesai.
Apa saja yang'boleh' manusia ketahui tanpa dianggap melanggar batas 'rahasia' Sang Maha Tahu. Siapa yang dapat memastikan ini? Namun firasat nyata ada. Nyata bisa bekerja. Bukan sok tahu atau merasa paling tahu. Jika apa yang bekerja pada Dee dan Marcell adalah firasat, itu adalah wilayah individual mereka. Merekalah yang paling tahu pertumbuhan hati mereka masing-masing.
Mba Dee (boleh ga manggilnya gini :D), gw sedang mengalami hal yg sama dan bingung gimana cara ngadepinnya, bingung walaupun ntarnya gw ngomong ampe mulut berbusa ga akan ada yg ngerti. "In Need For Someone Who Look Me For Who I Am, Not For Whom They Want Me To Be" MODE : ON
Sampai akhirnya gw stagnan di satu titik dan gw ga akan peduli lagi karena semuanya udah diluar kendali gw untuk ngerubahnya apalagi ngontrol semua persepsi org2, gw hanyalah manusia biasa yg punya keterbatasan...
Makasih atas tulisannya, dimana Mba Dee lebih mendalaminya lagi dan membuat gw berpikir lebih jauh lagi ke depan :D
"When someone sees the same people everyday, they wind up becoming a part of that person's life. If someone isn't what others want them to be, the others become angry. Everyone seems to have a clear idea of how other people should lead their lives, but none about his or her own."
saya , setia baca blog dan tulisan Dee..
namun entah kenapa tidak pernah meninggalkan komentar..
tidak tau harus bilang apa, karena semuanya dimaknai di dalam hati.
jadi konsumsi pribadi. awet..
saya bisa sense dee merasa tak lagi ada riuh di komentar post sebelumnya, sigh..
saya pernah mengalami hal yang sama.. jadi malas berteori. jadi semuanya biar saja dialami hati, jiwa kita sendiri..dan ya, kita memang tak mungkin mengubah siapa-siapa. but i highly respect you dee for being such honest, walaupun kebenaran itu terus disunat maknanya oleh setiap orang lewat kacamata yg berbeda. nyatanya bukan tak mengerti, tapi belum pada waktunya mereka mengerti..kata dee.., ya seperti kita mampu mengerti sesuatu secara utuh kita harus melepaskan kacamata dan lensa itu..
anyway saya sudah baca rectoverso. hmm...karya yang tenang. menunjukkan semakin matangnya dee.. banyak favorit saya, tapi two thumbs up untuk kerjasamanya. sepertinya ini bukan karya biasa karena saya merasakan setiap kata dan gambarnya sangat bicara. bahkan entah kenapa saya jatuh cinta pada gambar-gambar itu! ajaib! isi cerita yang didukung visualisasi dengan proporsi yang pas, maksimal dan serius = kereeen!! salam untuk fotografer dan pelukisnya! saya belum punya albumnya karena musti pesan dulu -err, that means so complicated distribution for me- tapi saya memang cenderung menikmati di dalam hati, pribadi sekali. :)
cerita yang sederhana tapi menyentuh setiap sudut, berwarna dan apa adanya..
Tetap menulis, dee..
salam.
ooo...jadi perceraian ini bagian dr mencapai OBHF itu. ngerti saya sekarang
ya gak ada yg perlu disedihkan dong ya. media dan fans anda aja yg pada gak ngerti kali
salam
dee said: Dalam memahami secara “benar”, yang menjadi tujuan bukan lagi perihal benar atau salah, tapi memahami bagaimana keduanya bermula dan bagaimana kita bisa bebas dari jerat keduanya.
hmm.. terdengar seperti teori relativitas kebenaran. well, I'm just wondering this: "is that sentence of yours is absolute truth, or just a relative one?" :)
ketika anda meletakkan sikap pada satu titik, maka anda menjeratkan diri pada satu kutub, alias memilih untuk tak relatif.
ini adalah kontradiksi memerihkan yang dilakukan para pembela teori kebenaran relatif (yang mengharamkan kebenaran absolut).
sidharta gautama (yang anda kutip) tak sepenuhnya mendukung teori relativitas kebenaran. setidaknya, beliau memiliki hukum positif nan absolut: jangan membunuh.
anda baru berceloteh tentang tahapan 'memahami kebenaran', belum pada tahap 'memilih (atau tak memilih) kebenaran'.
namun, sayangnya, anda sudah menyalahkan konsekuensi para 'pemilih kebenaran' dengan menganggap "tujuan semua ini bukanlah mencari benar-salah".
padahal, dasar anda berkata demikian bisa jadi sebuah relativitas yang (juga) sedang anda absolutkan.
padahal, tak semua pemilih kebenaran melakukan tindakan salah untuk memanifestasikan pilihan (kebenaran) mereka.
dan padahal, dunia ini berjalan dari "sikap memilih (kebenaran)", dan bukannya "sikap tidak memilih".
"the world is a battle of choice" alias.. ujian memilih. (muhammad, 47:31).
Teori komunikasi massa yang harus dibimbing, mungkin. Massa cair, berkehendak turut campur urusan orang. Diresponlah, teruntuk orang yang menampakkan kegelisahan menjadi wacana umum.
Mbak dee, sy jadi ingin nanya, gimana rasanya banyak diperhatikan orang lain???
(dari pemurung)
".....Barangkali itulah yang menjadikan “pemahaman benar” sebagai gerbang akhir pencarian Gautama, bukan kebahagiaan....."
Kebahagiaan bukanlah tujuan, melainkan sebuah hasil dari tujuan yang BENAR...
GB ^^
Ah. Another entry. You know, just as history belongs to the winner, the truth itself belongs to the tongues of the speakers. On the other hand, fact is something that cannot be deterred. It stands absolute and in line with reality.
Are you familiar with The Twilight series? You know, that cheesy novella about the forbidden love story between some Mary Sue-ish girl with Ken-doll like vampire boy? Err not so much a boy actually because he’s like 100 years old. Duh! To me, the truth is Twilight will always be a sucky and overrated series that should not even be existed! Alas, but to others Twilight came as fresh breath of air, a blessings that was bestowed from heaven to enlighten all the young adult and preteen girls everywhere about how perfect Edward Cullen is and therefore you should try to find and marry a vampire because he’s so hot, so sexy, so dazzling and so not gay. Had Twilight been compared with Anne Rice’s vampire chronicle, it would never stand a chance. On the gayness perimeter, I mean.
I am ranting again, am I?
Despite everything, the fact remains that Twilight series is not that well written, however it is entertaining and fun if such stories is your cup of coffee. And it’s great for its own moment. Maybe the people who like it read the book through their own romantic lenses and that’s why they fell hard for the flowery and scintillating and dazzling words. As for me, I see them in my Mary Sueish-cynical lenses and I hate it. But will my truth become the collective truth? I guess not because there are millions of people who think that the truth is Twilight is such an awesome series. But on my private mind,the notion that Twilight is a waste of paper (and therefore it’s a significant contributor of Global warming) will remains as the truth. Who am I, a small gullible person to against the world?
However, should that one person to against Twilight phenomenon is Shakespeare or Wilde or Frost or even Oprah, maybe the collective truth with sway a little. You see it’s all about the messenger, you can’t send a fluffy bunny for a war threat. One’s expertise and influence must be count for something, you know. Just as it did by the media on your divorce issue.
The trick is to live with it, deal with it and be comfortable in your own skin. Whatever the case, the one thing that’s certain is the universal moral compass. Being good is good if you do it for the sake of becoming good itself, and not for the sake of someone else. If you are right and no other person gets injured by you, then chances are you are right (at least in a moralistic way). But if you are right yet someone was injured by you, then chances are you did something wrong. So which one are you?
That’s my two cents anyway. You can’t please everyone but you can always try to do what is right as a human being. Now off I go, there are other blogs to hop into!
P.S: About humility: "The only wisdom we can hope to acquire is the wisdom of humility. Humility is endless." It’s Eliot’s and not my words again. Well duh!
saya adalah anak kecil,
saya mencintai Diva, sangat mencintainya..
dengan cinta saya, yang mungkin orang2 tidak mengerti apa yang saya maksudkan.
salam kenal..
saya baru tadi mendapat alamat blog anda, dan ini adalah posting kedua anda yang saya baca setelah saya kepengin baca rectoverso, dua yang adalah satu tapi tetap dua dan tetap satu..
yang ini,
anda menyebutnya kacahati..
paulus menyebutnya iman,
iman yang membenarkan..
LoA menyebutnya kekuatan, kekuatan yang mewujudkan, yang menyetel frekuensi.. kearah manapun diarahkan, dan sebesar apapun kekuatannya.
boleh saya pinjam kacahati anda..
karena saya takut..
saya takut mengenakan kacahati yang sama seperti anda mbak,
sama seperti orang2 yg laen yg takut juga, sama seperti yg dimengerti para Diva bahwa kacamata ini terlalu lugas dan benar dan justru menakutkan bagi masyarakat yang nyaman dengan batasan mereka hingga mereka dengan mudah dapat merasa yakin akan mendapatkan surga, dan karena itu banyak Diva menyembunyikannya....
karena mereka tahu, sebagian besar dunia tidak sesiap beberapa pemberani pencari..
maka akan lama sebelum banyak kacahati belang-belang terlepas dan terganti..
dear deedee,
apapun yang dilihat dan dirasakan seorang anak manusia memang gak bisa sama satu dengan yang lain... mungkin bukan hanya karena lensa kaca mata-nya saja yang beda, tapi pakaian nya juga beda..... so karena itu jangan-lah kita dengan mudah menghakimi diri sendiri dan orang lain karena benar atau salahnya sesuatu hal hanya Allah yang Maha Tahu dan Maha Mengerti..... apapun keputusan yang dee ambil mudah-mudahan telah melalui sebuah perenungan yang dalam dengan memperhatikan perasaan orang lain selain dee sendiri yang nantinya akan ikut mewarnai hari-hari dee selanjutnya.. oh ya dee, untuk mengerti dan memahami orang lain, sekalipun dia adlah orang terdekat kita, walopun tiap hari dee selalu bersamanya, bahkan everytime deedee can kiss him/her, can touch him/her, siapapun dia (papi,mami, anak, suami, etc) takkan bisa dee tau apa yang sesungguhnya ada dalam hatinya... jadi gak perlulah kita capek-capek menginginkan orang lain menjadi pendengar setia keluh kesah kita, apalagi ngertiin kita karena itu mission imposible.. eventhough he is your husband or your son.... kalo dalam Dyad di Ubud mungkin berhasil, karena itu sifatnya sementara aja... tapi realitanya ya yang dee lakoni everyday, di mana dee gak mungkin setiap saat have a problem dee duduk berhadapan dengan seseorang yang dee inginkan dan melakukan ritual seperti di Ubud kaannn?
Iya, saya setuju kok. Dimengerti dengan sempurna, mengetahui isi hati seseorang dengan sempurna adalah kemustahilan. Karena jangankan oleh orang lain, diri kita sendiri pun belum tentu kita pahami dengan sempurna.
Yang tidak mustahil adalah mengomunikasikan perbedaan2 tadi dan memperoleh pemahaman yang relatif lebih jernih tentang perbedaan 'lensa' kita.
Efek dari Dyad tentunya bersifat sementara, karena setelah Dyad-nya selesai kita pun akan berubah lagi. Yang lebih penting lagi, realitas kita sehari-hari pun semuanya bersifat sementara. Jadi, mengotak2an antara komunikasi ala Dyad dan komunikasi ala hari-hari juga percuma. Mau jernih atau tidak, setiap detik dalam hidup ini kita senantiasa melakukan komunikasi, entah itu dengan orang lain atau dengan diri kita sendiri.
So, sekadar meluruskan opini Anda atas sikap saya dalam posting ini: sesungguhnya saya TIDAK BERHARAP untuk tiap kali saya punya masalah lantas saya punya kesempatan untuk ber-Dyad di Ubud. Saya juga TIDAK MENGINGINKAN adanya pendengar setia atas keluh kesah saya.
Satu hal yang jelas kita berdua sepakat adalah: janganlah kita mudah untuk menilai dan menghakimi orang lain.
Saya pikir komunikasi yang terjadi antara kita kali ini merefleksikan esensi artikel ini dengan cukup baik. Sekalipun sepertinya lensa kita sama2 "hijau"... "hijau"-nya pun tidak persis sama, bukan?
~ D ~
hhhmm..
presty jadi ingat satu nasihat dari kakak presty :
kita tidak akan pernah bisa merubah diri kita seperti yang semua orang mau, sama seperti kita yang tidak bisa mengubah orang lain seperti yang kita mau. bakal capek kali kalo hidup cuma untuk ndengerin n ngritik orang lain buat jadi sempurna..
bukankah kita semua diberi nurani oleh Allah? yang bila kita melakukan suatu kesalahan dia akan merasa tidak nyaman, dan bila kita benar maka dia akan merasakan nyaman?
daripada ngikutin kata2 orang, karena mba dee sendiri seorang publik figure yang banyak banget di-sirik-in orang2 g punya kerjaan yang suka melihat orang susah dan susah melihat orang senang, mendingan ikutin nurani aja... :D
seorang teman berkata tak lama setelah dia membaca blogmu tentang perpisahan
"mungkin aku ga ingin untuk berpisah, tapi akhirnya aku bisa 'memahami' orang yang mengambil keputusan itu"
Aku tersenyum kecut sambil mbatin, kau telah (atau tengah) menggunakan kacahati (baca : kacamata red) dee dalam memandang perpisahan.
Kenapa?
Karena aku tau orang itu -yang juga telah menikah- sebelumnya adalah seorang konservatif yang bagaimanapun ingin mepertahankan penihakan dan sampai berdarah2 akan mengharamkan perceraian.
Maaf
Bukan berniat menghakimi salah atau benar
Karna aku tau (sebatas yang aku tau) kau ga berniat sesumbar pembenaran atas perpisahanmu, atau ingin berbagi logika tentang bagaimana perpisahan harus dipandang.
Hanya saja, sadar atau tidak, inteletualitasmu dalam mengungkapkan ide secara logis dan manis (kalo saya boleh menggunakan 'rima' seperti sajak ibu angsa), telah banyak membuka wacana kaum muda tentang bagaimana memafhumi perceraian, laiknya teman saya tadi
Dan entah butuh berapa fase lagi untuk akhirnya dia memasukkan perceraian menjadi sebuah "opsi" dalam pemecahan masalah keluarga mereka.
Lagi2 bukan ingin menyalahkan keputusan membuka dapur perceraianmu dee, tapi kalo aku bole menggunakan analogimu -kacamata dan kacahati-,
memang setiap orang punya warna kacamata yang berbeda.
Tapi ingat, ditengah labilnya jiwa manusia kacahati bisa berubah dengan mudahnya.
Sesuatu yang tak terlihat bisa jadi terlihat jelas, atau sebaliknya.
Dan kau, selain karena seorang penulis dan selebritis, telah diberi talenta luar biasa untuk bisa mengubah warna kacahati orang lain.
Sengaja atau tidak
Disadari atau tidak
Diinginkan atau tidak
(sebagai contoh kasus, bagaimana kamu bisa menggerakkan orang bisa ber-vegetarian ria hanya dengan membaca tulisanmu yang menggelitik nurani banyak anak manusia yang (juga) ingin peduli pada alam-
Tapi apakah akhirnya para "pemujamu" juga akan ikut2an ber-freedom ria karena jiwa bebas mereka tergugah dari tidur panjang setelah membaca tulisanmu.
Last,
Kalo boleh bertanya
Apakah kebebasan itu dee?
Sejak kita lahir kita memang tak pernah bisa bebas.
Kita hanyalah satu serpih puzzle dalam milyaran puzzle yang membentuk sebuah gambar bertuliskan : MANUSIA.
Bentuk kita ada, karena sebelah atas, kanan, kiri, dan bawah kitalah yang membentuknya
Bukan keinginan kita sendiri
Bukan kebebasan kita sendri
Lalu apa yang kita cari?
Yauda.
aku cuma seorang penggemar (gak penting)mu
Atau mungkin lebih tepat diilang alter ego dari sisi gelapmu
Beberapa kali aku meminta email atau alamatmu untuk sekedar berbagi tulisan atau cerita, tapi ternyata NIHIL, kau tak pernah membalasnya.
Its ok.
Mungkin aku tidak termasuk kategori sahabat2 virtualmu -yang akhirnya saling ketemu- dan berbagi positifisme seperti yang kau tulisan dalam blogmu.
Aku lebih memilih sisi murung dan negative dalam memandang rancunya dunia.
Tapi entah kenapa kau masih saja menjadi salah satu referensi dari otakku.
Sorry kalo terlalu sinis memandangmu
Karena setauku, seorang menyayangi kita dalam dua cara :
Satu. Mengkritikmu
Dua. Menghujatmu
NO NEED TO PUBLISH, ITS TOO CYNICAL
NOTES
selamat atas recto verso (or something)mu
Tadi aku bela2in ke TIM untuk cari bukumu
dan ternyata angka yang 'similar' dengan harga 2 kardus susu anakku membuatku urung melengkapi koleksi buku2mu.
Abraham Maslow kurang tepat menempatkan 'Self Actualization' dalam puncak tertinggi hierarkhi kebutuhan manusia, karena bagiku masih ada
"family actualization" yang mungkin lebih punya arti.
Satu Kosong buatku wahai Abraham!!
Dear Ronitoxid,
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membahas komentar cerdas Anda yang ‘mengaku’ sebagai alter ego dari sisi gelap seorang Dewi Lestari.
(Maaf, bukan bermaksud menghina kecerdasan. Dari awal membaca komentar Anda, saya sudah beranggapan Anda orang yang cukup pintar… sampai kalimat tentang alter ego itu muncul. Pertama, pemahaman Anda tentang alter ego cukup jauh menyimpang dari definisi aslinya, yang saya rasa tak perlu dicantumkan di sini. Kedua, alter ego tidak membutuhkan ‘wadah’ dalam wujud orang lain, apalagi yang tidak dikenal dan (tampaknya) merasa sakit hati karena keinginannya bertukar alamat e-mail tidak terwujud ;-))
Kehadiran saya di sini hanya sekadar ingin memperoleh pencerahan dari pandangan Anda yang ‘mengkonfrontasi’ teori Maslow yang sangat terkenal itu. Saya sendiri tak pernah mempelajarinya secara mendalam, tapi saya punya salinan teorinya dalam bentuk tertulis, yang saya peroleh dari riset kecil-kecilan di internet.
Mengenai Self-Actualization, inilah sedikit teori (yang, by the way, bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya) yang ingin saya share dengan Anda, dan dikutip seutuh-utuhnya, tanpa diedit, tanpa diterjemahkan. Mohon dibaca, barangkali setelah itu kita bisa membahasnya bersama, karena saya sungguh butuh pencerahan dalam hal ini:
Maslow writes the following of self-actualizing people:
* They embrace the facts and realities of the world (including themselves) rather than denying or avoiding them.
* They are spontaneous in their ideas and actions.
* They are creative.
* They are interested in solving problems; this often includes the problems of others. Solving these problems is often a key focus in their lives.
* They feel a closeness to other people, and generally appreciate life.
* They have a system of morality that is fully internalized and independent of external authority.
* They have discernment and are able to view all things in an objective manner.
Sebagai orang yang berani mencanangkan satu-kosong atas Abraham Maslow, saya menganggap Anda cukup kredibel untuk dinilai telah melampaui tahap Self-Actualization, dan masuk ke tahap Family-Actualization (tidak ada yang bisa membuat teori kecuali telah mempraktekkannya, kan ?). Pertanyaan saya sederhana saja: mengapa dari ketujuh poin di atas (yang notabene baru sebagian kecil yang saya kutip dari hasil riset) saya tidak berhasil menemukan adanya kesinambungan antara teori tersebut dengan kalimat-kalimat cerdas yang Anda lontarkan di sepanjang komentar?
Pengakuan Anda tentang cara Anda memandang hidup, contohnya, amat jelas bertentangan dengan poin nomor lima . Itu baru satu. Perlukah saya berikan contoh-contoh lain? :-)
Sedikit teori lagi, yang barangkali bisa menjadi acuan tambahan untuk menjawab pertanyaan di atas:
According to Maslow, the tendencies of self-actualizing people are as follows:
1. Awareness
* efficient perception of reality
* freshness of appreciation
* peak experiences
* ethical awareness
2. Honesty
* philosophical sense of humour
* social interest
* deep interpersonal relationships
* democratic character structure
3. Freedom
* need for solitude
* autonomous, independent
* creativity, originality
* spontaneous
4. Trust
* problem centered
* acceptance of self, others, nature
* resistance to enculturation - identity with humanity
Pertanyaan kedua saya: sudahkah Anda bisa menjawab pertanyaan nomor satu? Dan mengapa saya tak juga bisa menemukan keserupaan antara teori-teori Maslow dengan attitude, tone & manner Anda dalam berkomentar di blog ini? Sederhananya, karena Anda sudah ‘khatam’ Self-Actualization dan masuk ke tahap Family-Actualization, seharusnya paling tidak ada kesamaan antara perilaku dan cara Anda bersikap dengan keempat poin di atas.
Mohon dijawab. Sebagai orang yang sudah (merasa) menang dari Maslow, tentunya Anda punya banyak teori lain yang bisa dikemukakan. Saya tunggu jawaban Anda di sini. Toh kita sudah sama-sama nyampah di blog ini. :-)
Pertanyaan ketiga (dan ini retoris, sumpah mati nggak perlu dijawab): kenapa saya bersusah-susah mengutipkan teori almarhum Maslow hanya demi menanggapi komentar Anda – yang bahkan tidak diresponi oleh si empunya blog?
Sederhana saja. Karena buat saya Maslow itu pinter, dan Anda tidak lebih baik dari dia.
hahaha pertama
karena
lama tak menilik blog ini
lalu ketika jam 2 malam disaat tugas menumpuk kayak kapuk, kenapa tangan ini 'refleksly' kembali mengunjunginya.
hahaha kedua
karena
aneh rasanya, ketika tulisan 'ngawur' saya ada yang menanggapi dengan hmm... bisa dibilang pedas ya mas/mbak.
Tapi makasih lho, asik juga pembahasan anda.
Detil
Ilmiah
dan sangat Literature base
Sedangkan saya yang "ngawur base" ini kemudian berpikir kenapa juga dee mengapprove tulisan saya, wong aku uda bilang
cewek genit ga punya alis
no need to publish
Tapi ternyata nongol dan dapet tanggapan lagi.
(sorry, aku ga bisa bilang ini nyampah. banyak orang tulus nulis comment disini ko)
hahaha ketiga
karena
refleks otakku langsung bekerja selepas saya membaca tanggapan anda.
Kata2 bergerak sendiri di pikiranku, saling silang, bergerak liar seperti punya seribu kaki demi menyusun teori pembelaan dan pembenaran untuk meng'counter' tanggapan dari anda.
Tapi semakin kompleks dan detil pembelaan itu dibuat, semua hanya membuat saya tersenyum seraya berkata :
Bukan, bukan ini!
Hingga akhirnya pembelaan sepanjang 4 alinea dengan 37 pasal ditambah 2 ayat aturan tambahan dan 4 pasal aturan peralihan itu berujung pada sebuah kata sederhana:
MAAF YA MAS/ MBAK, SAYA SALAH!!
Aduh,
leganya sudah mengaku salah.
Pembelaan kdg tak pernah memuaskan
Pembenaran kdg hanya memuaskan rasa penasaran
Tapi jujur mengakui kesalahan dan kekalahan, adalah orgasme tertinggi jiwa dan raga
NOTES
Mas atau mbak yang baik hati dan sehat body, apabila masih mau diskusi maka pintu ym, gtalk, skype, frenster, fesbuk, icq, plurk, mirc, tagged, blogspot, multiply, email, hp dan kontrakan saya terbuka lebar selama lebih kurang 4jam sehari.
(Karena maaf yg 20 jam premium buat keluarga dan imajinasi saya!)
Dan buat dee,
maaf uda mengacaukan blogmu
walopun kamu ga nanggapin tulisan saya, eh kok ya ada aja yang nanggepi saya
Ibarat tiada rotan, sedotan pun jadi
Tidak ada berlian, batu kali pun jadi
Selama kita mensugesti diri bahwa itu adalah berlian
Sadar ga kalo kita tidak pernah benar2 'hidup' kecuali hanya terlena dalam sebuah sugesti dunia, sampai satu saat mati menyadarkan kita kembali.
Anehnya aku sangat menikmati sugesti semu itu.
Entah bagaimana denganmu dan berlianmu
Las but also least
Makan Soto sambil keramas
Arigato Gozeimas!!
Great blog...
tulisan panjang plus sarat makna...
smoga, tulisan ini dibuat dengan kesadaran diri yang penuh... tidak ada rekayasa dan kebohongan publik unntuk sebuah nama 'image'
di batam rectoverso dapetinnya dimana ya....!!!!
Post a Comment