Tuesday, October 14, 2008

The Age of Ignorance

The Age of Ignorance


Delapan tahun yang lalu, saya menulis manuskrip “Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh” dengan sebuah harapan. Harapan yang lahir dari rasa sedih, amarah, dan frustrasi. Saat Ambon luluh lantak akibat perang berisukan agama pada tahun 1999, hati saya ikut remuk redam. Entah kenapa, konflik yang mengatasnamakan kebenaran dan Tuhan selalu membuat saya gerah. Terlepas dari isu politik apa di baliknya, sungguh menyakitkan bagi saya ketika seseorang mampu meneriakkan nama Tuhan saat menggorok leher sesamanya, ketika seseorang dirajam secara gotong royong atas nama agama.

Tahun 1999 juga merupakan tahun bersejarah bagi saya. Pada bulan Desember, untuk pertama kalinya saya “terbangun” dari mimpi panjang saya akan Tuhan dan segala kebenaran warisan. Untuk pertama kalinya, saya menemukan otentisitas yang selama ini saya cari-cari bagai ikan di laut yang bertanya-tanya keberadaan air. “Sesuatu” itu ada di bawah hidung saya, bersemayam dalam diri tanpa pernah saya sadari saking sibuknya menggapai ke luar. Malam pada tanggal 17 Desember, tabir itu terangkat dan “sesuatu” itu menunjukkan dirinya pada saya. Tak ada lagi keterpisahan.

Saya tidak akan pernah lupa momen tersebut. 27 jam berada dalam ekstase. Dan dunia berubah total bagi saya sejak saat itu. Segalanya tak lagi sama. Termasuk arti Tuhan dan kebenaran. Seusai titik puncak itu, saya pun kembali merenung dan bertanya: apa yang bisa saya lakukan? Apa yang bisa saya bagi? Dan pada tahun 2000, saya mulai menulis. Terbakar oleh harapan bahwa perubahan besar itu pasti akan datang, mengakhiri Kali Yuga yang merupakan zaman kegelapan batin, dan membangunkan semua jiwa yang sudah siap lepas landas. The great shift. The new age of consciousness. Gelombang kesadaran baru yang membawa dunia menuju pencerahan spiritual. Saya ingin menyumbang secercah riak, meskipun kecil dan lemah jika dibandingkan deru gelombang di samudera kesadaran yang tak berbatas ini.

Delapan tahun berlalu. Harapan itu masih saya simpan bagaikan mengantongi berlian mungil. Sesekali saya intip untuk melihat kilau cahayanya. Meski kadang mengusam dan menciut, saya tahu berlian tersebut masih tersimpan aman di kantong.

Seminggu yang lalu, saya menerima sebuah sms dari nomor tak dikenal. Isinya sebaris singkat caci maki. Sejenak saya bertanya dalam hati, apakah ini salah sambung? Atau ada teman saya yang iseng? Akhirnya saya menelepon nomor itu. Seorang laki-laki yang mengaku bernama Andi menjawab panggilan saya. Lalu saya bertanya, apa maksud dari sms-nya. Lantas mengalirlah keluh kesah kekecewaan dan kecaman dari orang yang saya tak kenal itu. Ia mengecam pilihan saya dan berdalih bahwa ia kasihan pada anak saya.

Saya tertegun. Dan akhirnya saya berkata padanya, keras: “Anda tidak mengenal saya, dan Anda berani menghakimi saya berdasarkan kesimpulan Anda sendiri yang bersumber dari berita yang Anda pikir benar padahal tidak, dan Anda bisa-bisanya beralasan kasihan pada seorang anak yang tidak pernah Anda temui dan kenali? Menurut saya, di sini yang terganggu adalah Anda. Bukan saya atau anak saya.”

Tak lama, ia meminta maaf, sejenak bahkan berbasa-basi menanyakan buku baru, dan pembicaraan kami pun usai. Saya menutup telepon dan seketika menyadari sesuatu: tangan saya gemetar. Saya marah. Saya murka. Merasa privasi saya diterjang dan diobrak-abrik. Orang itu datang ke teritori pribadi saya, berbekal asumsi yang ia rakit dari info sepotong, kemudian dengan gagah berani mengusung panji kebenarannya sendiri. Persis prinsip orang main hakim sendiri, tanpa ba-bi-bu merajam sang tersangka tanpa perlu memproses lebih lanjut. Senjatanya bukan batu, melainkan kata-kata. Merenungi itu semua dada saya pun sesak. Sesuatu bergolak sangat hebat.

Selama beberapa bulan terakhir, keadaan memaksa saya untuk menerima aneka justifikasi dari orang-orang yang tidak saya kenal. Mereka datang ke blog ini, atau bersuara dalam ruang mereka sendiri, tentang kehidupan dan pilihan saya—orang yang mereka pun tidak kenal. Dengan semangat berkobar mereka mengusung panji-panji kebenaran mereka, menyatakan perang atas “ketidakbenaran” yang mereka lihat, bahkan sampai mencuri foto pribadi lalu menyebarkannya seperti virus. Masih dengan perilaku serupa, institusi-institusi media nasional pun tak ketinggalan mengadopsi virus itu dengan segala keterbatasan dan kebelepotan mereka, hingga nilai akurasi dan faktualitas yang seharusnya menjadi kode etik media pun diabaikan. Beberapa bahkan sudah sampai ambang batas idiot.

Fenomena ini bukanlah barang baru. Ini adalah drama kemanusiaan yang terjadi di seluruh muka bumi. Dan jika kita sama-sama jujur dan berani bertanya: mengapa kita gemar infotainment? Mengapa kita menyukai koran merah? Mengapa kita begitu candu pada gosip dan tragedi? Mengapa kita diam-diam merasakan kepuasan saat orang bernasib lebih buruk dari kita? Mengapa kita merasa terganggu saat orang-orang yang kita pikir harusnya lempar-lemparan piring malah duduk semeja dengan manis dan tawa lebar? Jika kita berani bertanya dengan cukup dalam, barangkali kita menyadari bahwa kita ternyata kecanduan perang. Konflik adalah penjara yang membuat kita nyaman. Dengan alasan yang sama, manusia lantas menciptakan surga. Kita yang terbiasa hidup bak di neraka dan berbagi apinya bagai mengedarkan tongkat estafet, membutuhkan surga untuk jadi asuransi bersama. Kita perlu sebuah fantasi muskil yang baru bisa dicapai kalau kita mati. Tapi tidak sekarang. Surga bukan untuk dikonsumsi hari ini, bukan untuk dibangun di bumi. Di sini kita tidak boleh damai dan bahagia. Meski mulut kita selalu berkata sebaliknya.

Jika kita jujur, dapatkah Anda menyadari secercah kepuasan yang muncul saat Anda terbukti lebih bermoral daripada orang lain? Terbukti lebih normal dan sesuai kaidah orang banyak? Ada rasa aman di sana. Rasa nyaman, dan… rasa benar. Seumur hidup kita cari kebenaran itu. Dan kita berusaha mendapatkannya dari konsensus orang banyak, dari normalitas. Namun kita sering lupa bahwa konsensus itu pun dibentuk oleh orang-orang yang sama-sama mencari. Mereka yang menemukan tidak akan repot lagi menggalang massa demi mencari persetujuan.

Dua hari saya seperti orang patah hati. Percakapan telepon itu menjadi puncak kumulasi dari rasa frustrasi global saya atas kemanusiaan. Ia berhasil merenggut sebutir mungil berlian yang saya simpan selama ini. Dan saya dipaksa melihat kenyataan pahit bahwa perang itu ternyata masih berlangsung. Perang Salib atau kerusuhan Ambon, hanya masalah skala dan tempat. Esensinya tetap sama. Kita berperang setiap hari mengatasnamakan kebenaran, agama, dan Tuhan. Padahal apa yang kita perangkan hanyalah konsep kita sendiri, isu pribadi kita sendiri, yang tak berani kita selesaikan di dalam hingga kita harus memproyeksikannya keluar, ke orang-orang yang tidak kita kenal. Hanya karena kita pengecut. Kita tidak berani meninjau peperangan di dalam diri. Menggapai keluar lebih mudah. Menilai dan menghakimi orang lain lebih memuaskan daripada mengevaluasi ke dalam.

Mata saya dipaksa untuk melihat bahwa bandul kemanusiaan dari zaman batu sampai hari ini hanya bergerak dari kanan ke kiri dan tak ke mana-mana lagi. Era kesadaran baru… kebangkitan spiritual… semua rasanya hambar dan ilusif. Perang ini terus berlangsung dan tak akan pernah selesai.

The greatest enemy is not evil, but ignorance. And as far I as can see, we’re not living in the age of new consciousness. Not even close. We’re living in the age of ignorance, as we’ve always been, and will always be.

Duka cita yang mendalam ini barangkali hanya untuk sementara. Namun hari ini saya ingin mengucapkan selamat tinggal pada berlian mungil itu, yang meski juga sementara, cahayanya sempat menggerakkan saya untuk berharap dan berkarya.

Kini izinkan saya pamit dan berduka.

89 komentar:

reality bites said...

Ketika kepeduliaan menjadi topeng pemaksaan kehendak...
ya..ya..
Kadang Kita Tak Pernah SaDar
sudah Terlalu jauh melangkah
mencampuri urusan dan kepentingan org lain..

with all do respect mbak Dee...
u have all the right
to do whatever u wanted to do..
this is ur life...

narcistastrajingga said...

atau mungkin perang memang di ijinkanNya untuk tetap ada, sehingga kita bisa melihat dan ceritakan bahwa perang itu tidak baik.....
jangan larut dalam duka dee...
kadang berlian yang sesungguhnya ada di depan kita.

imansyah said...

.. and this post slapped my right in my face.

Ratie said...

Mbak, kok menyerah..? Mudah2an mbak ga benar-benar kehilangan berlian itu karena sebenarnya banyak orang yang memiliki 'berlian' yang sama dengan mbak. Mereka menunggu untuk bisa bersama-sama mengeluarkan berliannya sehingga seluruh sinar yang terakumulasi secara bersamaan itu bisa mengubah dunia.

Jenny Jusuf said...

Pada tanggal yang hanya berbeda sehari dengan kejadian telepon tersebut, saya mengalami sesuatu yang tak kalah dramatis, yang mengguncang seluruh sendi keyakinan saya. Pada diri sendiri. Pada apa yang (selama ini) saya anggap benar dan ideal. Bahkan pada apa yang saya anggap salah. Saya harus menerima bahwa semua batasan yang ada dalam diri ini, yang selalu saya anggap sebagai benteng perlindungan untuk menjagai kewarasan (meski makin lama saya makin sadar bahwa saya lebih cocok disebut orang gila, dan tak keberatan dengan fakta itu, hehehe) kini runtuh dalam sekejap mata, menyisakan 'prasasti' yang membuat orang bergidik, termasuk saya sendiri. Terguncang rasanya menyadari apa yang dulu saya pegang erat, saya yakini, saya jagai sepenuh hati, hancur begitu saja dalam sekejap mata, dan saya tak kuasa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.

Beruntung, dalam keputusasaan dan kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri, Semesta mempertemukan saya dengan dua orang yang (secara menakjubkan) tidak memandang pertempuran terbesar dalam sejarah Diri ini sebagai sesuatu yang pantas dipandang sebelah mata, tidak meremehkan, tidak mencela, tidak berkhotbah panjang-lebar, melainkan tersenyum dan meyakinkan bahwa apa yang sedang saya lalui adalah sesuatu yang normal (bahkan memberi Tips yang sangat antithesis -- HA! ;-D). Bahwa tidak ada yang salah dengan semua itu. Akhirnya, saya sampai pada sebuah kesimpulan (yang lucunya, amatlah sederhana) bahwa yang perlu saya lakukan hanya menerima. Menerima bahwa dalam diri ini masih terdapat pertempuran yang amat besar, meski ia tak tampak dari luar. Bahwa pergumulan yang tak ingin saya anggap eksis ternyata masih bercokol rapat. Bahwa di balik senyum yang saya suguhkan setiap hari, di balik tawa dan sikap normal-aman-sentosa-karena-semua-baik-baik-saja, masih ada monster yang bersembunyi jauh di dalam sana.

Penerimaan yang ditunjukkan kedua sahabat saya mendorong saya untuk menerima apa yang belum bisa saya ubah: kenyataan bahwa masih ada peperangan di dalam diri ini, yang entah kapan akan selesai.

Lucunya, ketika saya sampai pada momen penyadaran itu, semua resah, gelisah, susah, sedih, sakit, perih tiba-tiba menguap begitu saja. Saya sungguh tidak tahu dan tidak mampu mencerna apa yang terjadi. Mengapa sesuatu yang sebelumnya membuat saya tampak sebagai calon psikopat dan kandidat penghuni RSJ (I still remember your face, maaf ya sempat membuatmu shock berat Mbak :-D) bisa menghantarkan saya pada momen pencerahan yang demikian kuat dan membekas. Menit berikutnya, yang terasa hanya damai, bahagia, dan haru. Saat itu, yang terlintas dalam pikiran saya hanya: mungkin inilah rasanya berdamai dengan diri sendiri. Mungkin inilah yang terjadi ketika saya menerima dengan besar hati bahwa peperangan di dalam sana memang belum usai, dan sebagai dampaknya, pertempuran itu justru menyurut dengan sendirinya.

Saya setuju. Era kesadaran baru dan kebangkitan spiritual bisa jadi tak lebih dari ilusi semata. Mungkin segala sesuatu yang ada di dunia ini sebenarnya tak lebih dari ilusi. Mungkin kita pun sebenarnya hanyalah ilusi. Namun, selama Waktu masih mengijinkan saya bermain dan berdansa dalam semesta ini, akan saya hayati setiap detik di dalamnya, sebaik-baiknya. Menerima adalah langkah awal saya. Entah peperangan itu akan pernah berhenti atau tidak, entah kesadaran dan kebangkitan itu akan terwujud, atau menjadi ilusi selamanya. :-)

Kita adalah manusia-manusia kuat, karena kita mampu menerima setiap inci diri ini, apa adanya. Sepenuhnya. Seutuhnya. Lengkap dengan monster-monster di dalamnya. :-)

danalingga said...

Kadang rasanya sudah putus asa dengan masyarakat kita ini. Wong, saya mengajak bahwa ketikah dihina tidak usahlah memperturukan nafsu amarah. Eh, malah saya dikatakan gila dan layak masuk rumah sakit jiwa.

Lah, gimana nggak perang agama entarnya jika sikap umat beragamanya begitu?

T B said...

ya,
kadang orang merasa berhak berkomentar tentang sesuatu yang sama sekali tidak diketahuinya, merasa berhak menghakimi orang lain padahal sama sekali tidak mengenal orang itu.
how annoying they R!

cit said...

Saya ikut terkejut! Mohon setiap orang memiliki cara pendang yang berbeda dan jika selama ia memutuskan dan tidak membuat orang lain sengsara, itu juga merupakan kebajikan. Jangan dengan gampangnya menjustifikasi seseorang tanpa mengenalnya. Kebenaran yang sejati sebetulnya terletak pada diri sendiri dengan satu patok yaitu tidak menyengsarakan orang lain dan teruslah berbuat kebajikan. Dengan begitu kebahagiaan dapat dipetik.

Calvin Michel Sidjaja said...

Melihat tulisan ini, saya jadi teringat suatu kalimat "Kebaikan yang dipaksakan tidak lebih buruk daripada kejahatan", itu interpretasi saya terhadap penelpon tadi.

Saya bisa mengerti jika mbak Dee terganggu, siapapun pasti demikian, tapi sekali lagi mbak, itulah resiko sebagai seorang yang cukup tampil di publik dan hanya dikenal sebagai seseorang di layar kaca, bukannya sebagai seorang pribadi.

Kata-kata ini mungkin hanya akan menjadi bagian dari ratusan komen lain, tapi semoga dapat sedikit memberi kelegaan, bahwa tidak semua melihat mbak Dee seperti konstruksi yang ada di otak penelpon itu.

me in my me-time said...

Mbak Dee... biar aja orang ngomong apa...
Mbak punya hak untuk menjalani hidupmu dengan cara mbak sendiri, jangan pedulikan apa kata mereka.
Mereka tidak tau apa yang sudah mbak lalui, yang sudah mbak lewati...
Apapun yang mbak Dee putuskan akan menjadi pilihan hidup... Sudahlaaahh... bukan mereka yang ngejalanin! dan mbak... jangan sampai omongan orang bikin jadi mbak Dee 'layu'...
NO!! BIG NO!!!

Julian said...

Salam kenal mbak Dee..

Don't give up of it.
Berlian itu tidak hilang hanya karena hal itu. Warnanya cuma memudar oleh emosi manusia yang terpancing karena kondisi yang kurang baik. menurutku satu-satunya sebab bagaimana semua karakter manusia bisa berbeda semua adalah karena masing-masing hidup dalam latar belakang kondisi yang berbeda-beda juga. tidak ada yang persis sama. Jadi wajar bila ada hal yang benar menurut kita ditentang habis-habisan oleh orang lain. Hal ini baru saya sadari tahun lalu ketika teman sekos yang berbeda agama mengajak saya pindah agama (teman saya mengaku dulunya buddhis, tapi setelah setahun bersama, saya sadar bahwa dia penganut konghucu dulunya). Selama belasan kali tahun lalu, dia sering menguliahi saya akan kebenaran ajaran agamanya. Yang saya sedihkan, ekspresinya agak tidak enak dilihat bila saya menyebutkan bahwa banyak hal yang sama akan buddhis dan agamanya. dia hanya menekankan pada perbedaan dan hal ini benar-benar membuatku sakit..
Sampai sekarang saya masih beragama buddhis setelah malam terakhir diskusi tentang agama yang menyakitkan. Saya menyampaikan tentang latar belakang kami yang berbeda sehingga pasti akan tercipta pengalaman dan persepsi yang berbeda akan sesuatu. Untuk apa berdebat untuk hal yang tidak dapat diterima oleh kebijaksanaan kami masing2, it just wasting our time. Dia hanya bisa terdiam malam itu, padahal pertemuan sebelumnya cara bicaranya bisa membuatnya menjadi MC acara besar atau seorang penceramah yang baik. Tapi terima kasih untuk temanku ini, banyak hal yang baru kupahami selama setahun di bandung ini (kami berdua sama2 kuliah di itb angkatan 2007).

Andri said...

Tahu gak mbak..Banyak orang yg pengin setenar mbak Dee ini,termasuk saya..hehe..Tp kok kayaknya jd orang tenar gak enak jg ya..soale mesti ada saja orang yg gak suka.

Setelah kupikir2 lg..Biarlah aku jd orang yg gak setenar mbak Dee..toh bersahabat dg orang tenar aja dah cukup..hwaiyah..Opo maksude.. :D

Luluch The Cinnamon said...

Halo mbak... Menurutku, yang tahu apa yang terbaik buat kita adalah kita sendiri, bukan orang lain. Toh, mbak Dee sendiri yg menjalani kehidupan mbak Dee, bukan Andi, or Andi-Andi lainnya. So, keep go on!!

Meeya said...

Berliannya mungkin lagi menunggu buat ditemukan kembali karena ga ada yang ga mungkin di dunia ini kecuali makan kepala sendiri :)
Sehingga perang suatu saat akan berhenti walaupun mungkin kita sudah ada dimana. Lalu bisa juga orang2 akan berhenti bergosip dan mengurusi dirinya sendiri dan menggunakan sms buat hal2 yang lebih berguna. Kalau itu terjadi,ga ada lagi pengalaman seperti yang Mbak dapat ini..yaa,disyukuri saja mbak pernah dapat pengalaman itu :)

rimafauzi said...

kita, manusia, hanya bisa menunjuk dan mengejek tanpa menyadari saat kita menunjukkan satu jari ke orang yang kita anggap buruk, yang empat lagi menunjuk ke kita sendiri.

beautiful writing. i haven't enjoyed a writing in indonesian as much as i have enjoyed this.
My Blog

Rani said...

don't be sad, dee, you're few of enlightened people. but it's also the law of nature that there will only be few enlightened people, and that the most of the world will only be ignorants

surbakti said...

semakin jauh berjalan, semakin banyak yg dilihat,dirasa, dipelajari... dan akhirnya.. dikenang. hanya itu..

mungkinkah "bahasa" kita cukup mengungkapkan "kebenaran" akan "eksistensi" kita?

mungkinkan sesuatu yang "berumur" mengungkapkan sesuatu yg tidak "berumur"?

apa yg "manusia batu" tau ttg "quark"?,

u apa mereka tau?
tidak perlu mereka tau!, dizamannya.

jika hidup adalah "mencari"
tidak akan pernah ada kata "berakhir", kecuali "mati".

apakah ada "kebahagian" tanpa "penerimaan apa adanya"?

jika hidup adalah "pengabdian" bagi "kemanusiaan",
maka kita adalah "pemilik hidup kita"

gramedia-sun plaza

Muhamad Fauzi said...

hebat ya mas andi itu.. saya mau berguru sama dia,, bagaimana bisa menilai orang yang nggak dikenal,, dan men-judge bahwa dia itu salah,, 4 tumbs up buat dia ("ANDI")..
tidak ada yang salah mba dee.. pilihan tentang agama, cara hidup, atau apapun lainya,, itu adalah kebenaran individu,, saya meyakini apa yang saya yakin benar,, dan mba dee meyakini apa yang mba dee yakin benar,, tidak ada yang salah dari semua itu.. mengapa kita sebagai manusia harus menjadikan perbedaan itu sebagai musibah..
terbayang kah kalau semua bunga satu warna.. misal merah saja atau putih saja.. indah kah dunia ini??

jangan pernah menyerah mba dee..
mari kita semua berhenti sejenak dan berharap..
semoga populasi "ANDI-ANDI" berkurang di dunia ini...

thnx..

AMANDA MEIRINI SUCAHYO said...

hey dee.. just want u to know that i'm still ur friend n ur fan.. dr sejak buku2 lo terbit, sampe kita ber-"tamasya" ke minang, sampe sekarang :-)

gw kerja di LSM lingkungan hidup skrg.. n "rasa frustasi krn manusia kyknya udah bukan lagi manusia" is makanan gw sehari2.. it's so freakin' easy to get burnt out, feeling like my brain, my heart n my soul are all fried... but if i don't keep fighting, it's also so easy to lose faith on the precious "diamond" we had been so lucky to find..

so don't lose faith ya.. smua "judgement", no matter how ridiculously unfair (n gila banget krn langsung lewat hp pribadi lo), is actually proof of how "ngetop" you are.. hahaha.. a sarcastic yet quite effective way to be thankful for all the blessings u've been given :-p

ngumpul dooongggg..!!!

-Rini Sucahyo-
(riniuny1l@yahoo.com)

deka said...

Ketika saya membaca bahwa duka anda “barangkali hanya untuk sementara” dan mengucapkan selamat tinggal pada berlian mungil itu “yang meski juga sementara”…saya masih tersenyum, saya masih bisa mengatakan bahwa semua yang anda alami adalah bagian dari kehidupan yang akan memberikan “kekuatan” pada jiwa dan kesadaran spiritualitas anda…sebuah jeda dari tarikan nafas, semoga..

Bicara Kali Yuga (The Age of Ignorance), dalam terminologi Hindu, jaman Kali Yuga barulah berumur sekitar 7.000 tahun, dari rentang sekitar 432 ribuan tahun, jadi kalo ibarat hari, barulah dikaki ‘dini hari’, ‘subuh’ masih jauh apalagi ‘siang’ dan jangan katakan ‘malam’. Peperangan, dan ke-Ignorance masihlah akan mencapai puncaknya dimasa nanti jauuuuh dimasa depan..jadi, perang akan terus berlangsung, dan “tak akan pernah” selesai..ini bukan soal sikap pesimis, ibarat musim hujan, anda hanya bisa menanti pada masanyalah baru musim kemarau datang…

Pauline said...

mbak..berlian itu adalah mbak sendiri dengan segala kemampuan dan talenta yang mbak miliki..tidak ada yang bisa merenggutnya dari diri mbak...Never give up, sis...
ada banyak orang yang bisa memahami dirimu...

Julz said...

Dear Dee,

I don't know you personally, but at least I believe that I know, from your writings and the stories you conceived, that you ARE a great thinker. One of a kind. The book you write, especially Supernova, has changed people's lives. Many even without them knowing it. Yes, it is that powerful. Many start to "think" only after you thought. And coming from an Indonesian, this is such a bless I don't think can be easily found. To have such a brilliant philosopher, a shining beacon of intellect, you, is something I (and many many others) really treasure.

And I respect whatever belief and decision you make in life. It is your life, anyway.

But again, remember this, Dee, some people, like me; we crave for your writings, your stories. We need it, in fact so much we still constantly reading, re-reading your previous books, and never cease to learn few many things from them. We climb down the depth of your thoughts, and we try to understand what is it that you're thinking. Believe me, we are not your regular fancy fans.

So please, keep writing if you can, okay? For yourself and many of us.

Wira said...

like you said before :
Ada makna dibaliks ebuah pertanda / peristiwa

didut said...

*doh tadi komen kok gagal*

Mungkin Dee ditakdirkan buat jadi pendulum supaya orang lain lebih aware..jgn menyerah yah :D *HUGS*

BTW saya kangen berat loh ama kelanjutan supernovanya Dee...kapan yah dipublish?!? hehe~

a j e n g s i p e l a n g i said...

mbak dee.. jangan beneran pamit dan gak nulis blog lagi yahh..

never ever give up!

Herli Surjadjaja said...

Saya memahami perumpanaan ikan dan laut itu. Saya pun mengalami saat itu. Dari saat itu sampe detik ini, saya masih berjuang untuk menerima: "tidak akan ada terang bila tidak ada gelap"

Saya menolak untuk merelakan keharusan adanya sesuatu yang begitu negatif.

Tapi itu satu-satunya cara supaya mencapai keadaan seimbang.

Semoga membantu.

Maaf bila saya ada salah kata.

Akhirudin Fahmi said...

berbisik atau berteriak sama-sama bisa membuat sesak bisa juga membuat lega
diam dan bergerak sama-sama bisa membuat penat bisa juga membuat nyaman
dingin dan panas sama-sama bisa membunuh bisa juga memberikan kehidupan
saya pernah membaca buku Dee dan menyukainya walaupun saat ini tidak terbersit satu pun kisah dalam buku-buku tersebut dalam ingatan
Saya menyukai lagu-lagu Dee bersama RSD walaupun saat ini tidak terbersit satu baitpun dalam ingatan
dalam beberapa bulan terakhir saya sering mengunjungi blog ini untuk sekedar mendengar apa yang terjadi disini dan saat ini terbersit menuliskan barisan kata-kata ini untuk sekedar menyampaikan harapan untuk tetap sekedar menikmati karya dari seorang Dee di masa yang akan datang dari nafas yang tersisa untuk saya

Bestari said...

Dee, aku Erma dari Majalah Chic. Mencarimu untuk wawancara profil inspiratif (profil kecil) ttg suksesmu mengejar impian. Kapan aku bisa ngobrol & motret? Plz kabarin a.s.a.p yach di erma_dk@gramedia-majalah.com atau 0818 707483

renny .S. winarso said...

serupa tapi tak sama, dee...

5 taun yang lalu seorang sahabat mengatakan saya kafir ketika saya memutuskan menjalin kasih dg seorang katolik. saya setuju dee, Esensi terdalam dari sebuah agamalah yang menarik. Bukan kulit luarnya. tapi entah darimana datangnya perintah manusia bisa mengkotak2an manusia lain pada kekafiran dan kebaikan. saya tak tahu.

lalu tiba2 saya dimusuhi&dijauhi sahabat2 yang lain dg tuduhan selingkuh& pengkhianatan persahabatan, tanpa pernah mrk tanya sebabnya-akibatnya-ceritanya-kisahnya. dan waktu itu sya tll lelah utk membela diri.

saya pun tak suka kata salah. apa perlu ada yg salah dulu ya dee utk bisa "dilihat" dan dianggap penting di mata orang lain...

Dinda said...

hugs... from a stranger :)

oOMmaaaa,, said...

setiap orang, banyak dan bisa menjudge masalah orang lain, mereka bs aja, memberi komentar memberi solusi,.. tapi just remain you:
''peoples are easier to talk than do something!!!''

jadi, anggep aja. mereka sih ngomong gampang,, krn mereka gak ngerasain apa yg kita rasain,, Coba, klo mereka ngerasain masalah sm yg kya kita, blm tentu mereka se-Tough,dan se ''Cuek Bebek'' seorang Dee,,.

keep smile!
GBu!!

duca said...

titik., dan..

oPHy said...

Dee, apakah ini semacam surat wasiat untuk mati suri?

penerbit.juxtapose@yahoo.co.id said...

Khusus untuk posting ini, komentar saya akan lain. Saya menulis puisi.
Semoga lekas sembuh. :)


di tepian itu
rebahkanlah mimpimu
hingga leleh airmatamu
mengaliri tebing pipimu

di cermin itu
menarilah. Jangan kenang lagi
duka itu
hentakkan gerakmu,
hingga meraga semesta
sampai tak ada waktu
terpisah dari tubuhmu

lalu
ledakkan waktumu
sampai detikmu
berdetak

…tak

setelah detak itu,
dekaplah surgamu
sendiri


Fahd Djibran
www.ruangtengah.co.nr



P.S. Saya juga lagi sedih, nih. Akun blogger saya entah kenapa dinonaktifkan dan nggak bisa saya masuki. :(

putu widiyanta said...

Untuk Pertama kalinya dalam sejarah hidup saya..saya menemukan orang orang yang serupa dengan saya (dalam hal pendapat)...saya pikir saya hanya seorang diri yang berpendapat seperti Mbak Dee dan juga temen temen yang lain terutama Jenny Jusuf....dan kadang saya berangkapan saya gila karena hanya sendiri berpikir demikian...

kalau boleh sharing sedikit...dalam kesendirian saya selama ini saya menemukan sesuatu yang menurut saya adalah hal yang paling berharga dalam hidup saya yaitu kesadaran....

Walau ketika itu saya berpikir saya gila...paling tidak saya "sadar" saya gila...walau saya berpikir perang itu ada dan terus berlanjut...dan membuat saya gerah sendiri..lagi lagi paling tidak saya "sadar" saya tahu itu...itu yang membuat saya tetap hidup ..karena saya "sadar"...

Saya tidak memiliki pundi pundi ide yang banyak seperti Mbak dee atau kosa kata sehalus sutra seperti Jenny Jusuf...tapi saya "sadar" bahwa ide dan kosa kata itu sesuai dengan apa yang saya rasakan....dan akhirnya saya "sadar" juga kalau saya tidak sendiri..love u guys

Desiyanti said...

...separation is just an illusion.

Berlian itu tak hilang, sinarnya pun tak meredup. Hanya matamu yang terdistraksi melihat ke arah lain.

C'mon, D... You're stronger and smarter than this. Don't give up... Just don't give up...

Damn! Wish I could do more than writing this stupid comment! Fhhh...

aztea said...

yang membuat aku menyukai dee :
1. jujur
2. cerdas
3. open mind
4. bijak terhadap diri sendiri
dan itu merupakan hal yang tersulit

Yati said...

pamit bukan untuk selamanya kan? jangan lama2, dee... teruslah menulis. menurutku, menulis itu membebaskan. kalo ternyata ada manfaatnya buat yg baca, alhamdulillah

ig said...

kata tak akan pernah mampu merusak jiwa

akar yang kuat akan tumbuh kedalam tanah terpijak

let the moving cloud take the dance
let us watch the day

lepaskan bandulnya
biarkan berlian hilang
Now is all we have

LiLO said...

Kegelisahan yang sama ada di hati setiap orang yang "sudah memiliki pengertian".

Cukup lakukan dan diam.
Semua akan mengerti, suatu saat nanti.
Karena semua lagi dalam perjalanan mencari.

:)

putrioniel said...

hari ini gw jalan2 ke bip bandung .. ternyata ada dirimu disana .. lihat di agenda rectoverso.com gak ada .. makanya gak prepare bawa novel+cd nya untuk di ttd .. hiks sedih

Fandy said...

Dewi Lestari,

Tepat beberapa bulan yang lalu, saya juga berhenti berharap. Saya memutuskan berhenti untuk berharap bahwa seri Supernova akan selesai dalam waktu dekat. Sisa 4 buku dari 7 yang dijanjikan, yang dulu pernah luar biasa saya idam2kan, sekarang hadir seperti 'hadiah' yang mulai menjadi terlalu berat untuk ditunggu untuk Anda berikan.

Tapi anehnya, tidak ada kekecewaan disitu. Saya sadar bahwa segala sesuatunya akan selesai, hanya ketika mereka selesai. Satu rangkaian pemikiran Supernova yang utuh (7 buku, 99 bab) yang pernah saya fikir sangat saya butuhkan, seketika berubah menjadi hanya sekedar.... buku2 biasa. Just another books.

Ide apapun yang akan anda tulis akan selalu ada dalam kehidupan. All I have to do is find it in other things. Selama saya tetap membuka kepala dan dada, ide2 itu pasti akan sampai dengan sendirinya.

Supernova I pernah menjadi kitab suci saya. Serius :)

Dia juga, akan selalu jadi salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Karya Anda itu adalah pemicu 'titik bifurkasi' pertama yang saya alami. Ever since, I'm flying effortlessly, and I owe you for this priveledge.

On me, your mission has accomplished. Also to some of my best friends. And I believe, to so many other people who read it, walaupun mungkin prestasinya tidak pada level yang sama.

Kalau ternyata saat ini Anda sedang berduka, tidak ada yang bisa saya katakan kecuali: "Selamat Menikmati!"

Malam penting kok. Saat paling tepat untuk jeda dan menikmati jarak.

Have a nice sleep. Besok pagi kita akan bertemu lagi. Bukan lagi karena saya berusaha dan berharap dan menunggu itu terjadi.

Tapi lebih karena kita semua tau, selama kita masih tinggal di bumi, setelah malam adalah giliran pagi.

Pearl said...

Dear Mba Dee..

I'm a very beginner of this "blog" thing, so still trying to get use and loving it :)

Saya suka Blog Mba dan saya juga baca buku Mba, even the latest Rectoverso.

sebenernya saya udah baca blog Mba bbrp bulan, tapi "the age of ignorance" sebagian seperti menceritakan apa yang saya rasakan..

Kasus perpisahan Mba, yang bisa dijalani dengan damai oleh Mba Dee dan Marcel itu jauh lebih penting dan lebih beruntung dari sebagian orang. Karna ga semua pasangan bisa menyikapi masalah tersebut dengan ikhlas dan adil.

Berbanding terbalik dengan pengalaman Mba. Saya menikah dengan seorang duda, sampai hari ini mantan istrinya belum bisa ikhlas menerima perceraian mereka, yang sebenarnya adalah kesalahan mereka sendiri.

Bertaun2 yg lalu si mantan istri sudah melakukan aksi mogok atas segala kewajibannya dan meminta untuk berpisah terus menerus, tapi suami saya msh berusaha bertahan demi anak mereka sambil berusaha memperbaiki.[menurut suami saya :)]
dan setelah dicoba bbrp taun lagi ternyata tidak ada perbaikan, akhirnya suami saya setuju untuk bercerai.
namun hanya karna 1 sms yg si mantan temukan dari saya, yg menurut dia agak sedikit berlebihan dari sekedar sms kolega kerja, sebelum proses ceria mereka dimulai, membuat si mantan merasa punya alibi untuk melimpahkan seluruh alasan perceraian murni karna perselingkuhan kami.

saya menyatakan tuduhan itu salah. Anehnya pada saat si mantan masih punya kesempatan untuk mengklarifikasi langsung pada saya, dia tidak lakukan.. tapi setelah resmi bercerai si mantan malah berkoar2 tentang kami selingkuh dalam keadaan si mantan masih ingin memperbaiki rumah tangganya.
Akhirnya dia melarang saya untuk tidak pernah menyentuh anak mereka sampai kapanpun, dan dia memberi peraturan bahwa suami saya tidak bisa menemui ato membawa keluar anaknya tanpa si mantan.

in the end segala paitnya tuduhan2 itu yang membuat saya dan suami saya dekat dan bbrp taun kemudian kami menikah.
tapi menurut saya apa yg si mantan lakukan adalah contoh orang yg tidak mau berintrospeksi, tidak berani mengakui bahwa masalah yg sebenarnya ada dalam dirinya sendiri. malah dia selalu menuduh dan menghakimi saya & suami saya atas apa yg sebenarnya tidak kami lakukan.
sebenarnya sebagian orang dilingkukan mereka sudah tau karakter si mantan yang pendendam dan selalu merasa diri paling benar.

Si mantan tau anaknya butuh kemudahan bertemu ayahnya, tapi dia halangi itu demi sakit hatinya sendiri yang sengaja tidak mau dia sembuhkan. btw, peraturan bertemu anak itu berlaku untuk seluruh keluarga suami saya. dan dia lakukan itu atas nama jiwa anak.
dhooo...!!!

Saya kasian sama suami saya yang kadang suka menangis pada saat kangen sama anaknya, tapi dia juga tau bahwa ga bisa semua keinginan si mantan dipenuhi.
saya dan suami saya coba berulang2 untuk ikhlas dan merendah demi dapat kemudahan bertemu dgn anak, tapi nihil.

just want you to know Mba.. you're not alone.. being judge with people you dont know, why would you care.. as long as people surround believe, support and love you, that's only what matters :)

Madé Harimbawa said...

You're right mbak Dewi... 'perang' itu akan selalu ada supaya kita bisa menghargai 'berlian' mungil yang (pernah atau sedang) kita punya yang bernama Kesadaran.

Saya rasa setiap orang yang pernah 'mencicipi-Nya' cepat atau lambat akan 'didesak' oleh semesta untuk kembali meraih-Nya..

Nikmati saat-saat gelap, Dee.. sebelum terang datang. Karena Gelap sama pentingnya dengan Terang.

Saya teringat sebuah sajak berumur hampir dua ribu tahun: "Ketidaksadaran sungguh mencekam, namun Kesadaran sesungguhnya lebih mencekam lagi.." karena mereka yang sudah sadar tahu mana yang benar dan yang salah. Mengacuhkan Kesadaran yang pernah kita dapat—menurut saya—lebih pedih daripada menghadapi gempuran yang mahadahsyat sekalipun..

Senyum,

MH

dee said...

apa gunanya hidup jika tanpa hujatan dan makian? apakah hujatan itu sendiri memang senegatif itu? ntah apa yang terjadi dan sepenggal tulisanmu seyogyanya juga dianggep sebagai penggalan berita semata. hidup adalah pilihan...dan disetiap pilihan pastinya ada resiko. terimalah yang menjadi satu paket dengan pilihan itu entah itu baik atau buruk..toh baik buruk itu juga tidak universal nilainya.

~ jessie ~ said...

Bill Cosby pernah bilang kegagalan adalah saat kita berusaha menyenangkan hati semua orang. Jadi public figure, semua gerak, omongan dan ruang pribadi memang jadi tidak bebas. Tapi saya masih ingat betul dengan kata-kata Dee, bahwa apapun yang dikatakan orang lain entah itu caci maki, omelan, pujian, kata-kata tak sopan, bukan sesuatu yang bisa membuat kita jadi sedih, menangis, atau marah. Kita sendiri yang memutuskan apakah akan marah jika mendengar kata2 yang berbau menghakimi tapi yg ngomong sebenarnya tak tahu apa-apa. Tapi ketika menuangkan tulisan dalam blog *yang bisa dibaca oleh publik* memang kita harus siap terima komentar apapun. Kalau tidak siap terima komentar apapun *apalagi yang negatif* seperti kata seseorang yang saya kenal: say nothing, do nothing, be nothing.
Kalau ada komentar dari saya yang menurut Dee agak mengganggu ruang privasi Dee ya maaf ya, Dee.. saya pikir Dee toh sudah berani mempublikasikan pikirannya pada sebuah blog dan sadar bahwa siapapun bisa memberi komentar apapun pada sebuah blog. Karena memang tak selamanya kita akan dapat komentar positif.
Tapi saya tetap suka dengan gaya penulisan Dee. U're still one of the best for me.
Keep writing.

Anju Alletta said...

pembenaran diri again??

ups, sorry..

Jali said...

"ignorance is bliss" -Cypher from The Matrix

Kaka said...

saya suka tulisan nya...

conie said...

tiap orang punya ego...
tergantung gimana dia bisa mengaturnya...
dan kadang aku makin ngerasa gak jelas aja dengan orang2 sekrang...
terlalu banyak pembahasan yang kadang tetep di bahas walau sebenernya juga gak perlu...
semangat!!!!

Reza said...

Tragedies or unexpected and unwanted events that we experienced sometimes will let us down and ponder about our life. About our hopes. About our endless dream of heaven. About whether we are too naive or just too blind to see.

There are times when we think that life is cruel or people just never change. But don't let it leave us permanently hopeless and too bitter to keep your hopes up.
I believe that your are strong enough to keep believing in hopes and in dreams, as I believe that you believe it as well.

The way I see it, life is an awakening process. So let's wake each other up!

PS: check this link to put a smile upon your face
http://www.youtube.com/watch?v=ol2fN0bZCso

ari said...

Dee,
terlepas dari semua yang terjadi...please...tuangkan semua kreativitasmu dalam bentuk nyata.
Entah aku yang tertinggal atau apapun....tapi sejauh ini aku belum dengar ada lagi suatu bentuk tuangan dalam bentuk buku dari dee..... mungkin ini saat yang tepat....maaf kalau bagi dee ini bukan saat yang tepat...

Jan Phaiz said...

dear mbak dee,,,
salam kenal,,,
ternyata mbak adalah seorang pemikir yang tajam dan hebat,,,
sungguh,,,

kunjungi blog saya ya,,

inug said...

Sabar dan tabah aja mbak...
Nikmati kesedihan karena kesediahan pasti berlalu...
Saat itu terjadi, betapa bangganya qta karena telah melewati dan mengambil pengalaman dari kepedihan itu...

Aq yakin mbak punya alesan sangat kuat untuk membuat keputusan, termasuk keputusan besar itu.. Dan aq sepenuhnya percaya bahwa apa yang mbak ambil adalah setelah melalui pemikiran yang telah memperhitungkan semua konsekuensix..

Semangat mbak :)

the journey said...

jangan berlama-lama ya pamitnya :)

Maline said...

Hi Dee...
Sy terpaku sama isi seluruh uraian ini, mungkin terlalu telat utk comment :). Hmm..hmm...I believe God will always watch you with His love and He's smile at u:) Be patient..keep strength..u are a talented people.
Dee pasti akan menemukan berlian lain yang sudah disediakan untuk dee sebenarnya... :)

The Silenced One said...

Every good people said that we LEARNED prejudice,
that bigotry wouldn't exist if no one taught us.
I believe hating is something we were given to OVERCOME,
We just don't seem willing to admit that ourselves.
We seem to always concentrate on our UNCOMMON GROUND.
More puzzling, it's often our COMMONALITY that we choose as the borderline.
Two men can love God equally,
but if they worship DIFFERENTLY, they're enemies.
If devotion to a higher power turn neighbors into strangers,
how can loving each other be any less trouble.

Muhammad said...

jangan terpancing, tak berhak kita menilai orang lain dengan sudut pandang kita sendiri. saya tak tahu apa yang orang lain butuhkan, tapi mungkin kita bisa saling menghibur dalam pencarian kita masing-masing. sepertinya dengan begitu dunia ini bisa bergerak kearah yang lebih baik dari hari ini.

eyi said...

Dee
Memang banyak kampret2 di luar sana yang suka ngomong seenak udel dan jidat ;P Tapi please jangan berhenti ngeblog yaaa.. Karena lihatlah komen2 di posting ini. Begitu banyak orang yang menghormati, mendukung dan mengiringi langkahmu :)

Jia You Dee! :D

[googleholic] said...

i'll be waiting for you,...

NANNETTEISDITO said...

Dee....
Gw pernah ngalamin, divorce dan 'disesali' orang yang ga tahu apa yang sebenarnya terjadi: Kok cerai, kan belum setahun, kok pisah, nikah kan ibadah, kok ga bertahan, nikah kan adaptasi tiap hari... Awalnya marah, tapi aku coba untuk berdamai dengan hatiku sendiri, bahwa yang membuat kita marah kadang2 bukan orang lain atau kata2 mereka...melainkan gimana kita berpikir atau menyikapinya...
Kali Yuga masih akan lama lagi, seperti sebuah pembenaran, 'sah-sah' aja orang berbuat yang gak manusiawi atau nyeleneh pada jaman ini, tapi buat aku, jaman ini ga ada hubungannya sama pilihan kita untuk tetap menjadi baik bahkan enlightened seperti kamu....

Aku juga pernah dianggap aneh ketika convert jadi Hindu, sebelumnya Moslem, karena mereka lihat selama ini aku rajin shalat. Aku hanya merasa inilah jalan yang paling sesuai buat aku, baju yang paling nyaman, karena aku tahu kita semua menuju arah yang sama dengan cara yang berbeda.

Sedihlah untuk sesaat, kamu bukan malaikat, tapi segeralah tersenyum lagi...
Bukankah kamu juga tahu, hidup akan lebih ringan jika 'detached'???

MAY'S said...

Dee, hidup tak akan lepas dari seluruh hal tersebut. Bukan hanya karena kamu seorang seleb. Di kalangan awam pun hal semacam itu akan terjadi. Semoga sementaramu tak lama. Karena apalagi yang bisa kita berikan pada carut marutnya dunia, jika berlian itu kau tinggalkan...
Dee... kami masih haus karyamu...
*HUG*

MAY'S said...

Dee, bisa minta alamat emailnya? aku ingin kamu kasih comment di beberapa tulisanku. Boleh kan Kau bagi ilmumu?
jika bisa please contact me di mayssari@yahoo.com

Ranna Subhan said...

bused,, ntu orang koq berani banget nge-judge yang sama sekali dia gak kenal (Keenan),,

Dan saya jg setuju sama pernyataan yg kurang lebih "terkadang kita senang berada dalam konflik..". karena saya ngerasain banget Mbak,, terkadang kalo gak ada konflik suka gak sreg apa gimanaa gitu,,

Mbak Dewi,, saya belajar banyak lagi dari blog Mbak,,

Thx yag Mbak dah mau share sama kita-kita,, hehe,,

aswi said...

Jadi teringat dengan tulisan Bung Seno GA tentang bajing. Binatang ini ditempatkan pada sebuah kandang kecil yagn terbuat dari kawat, lalu diletakkan pada jalur roda. Ketika bajing itu berlari, roda itu pun berputar. Makin kencang bajing itu berlari, makin kencang pula roda itu berputar. Jangan-jangan, manusia pun seperti itu, hanya saja banyak yang tidak menyadarinya.

Tetap semangat Mbak Dee, masih banyak pelangi di seantero jagad ini. Salam kenal....

Prihandoko said...

ngga bisa ngomong karena oon...cuma bisa bilang keep smiling aja deh

Sapi_duduk said...

JAH! <== pake hurup gede biar dramatis! plus garuk2 kumis yang tak kunjung panjang...

makin lama dung nih lanjutannya petir.....
huhuhuhu....

MAY'S said...

Dee .....
ada hal yang lebih penting di atas semua itu. KARYA....
TERUSLAH BERKARYA,
tinggalkan jejak dalam tiap aksara yang kau rangkai menjadi kata.Mengalir indah menjadi kisah yang kau punya.
dengan itu KAU ADA

Enigma or Something.... said...

sudahkah kau jatuh dan teriris, wahai pencari cinta...

nikmatilah, dan aku tertawa..

lalu bangunlah, dan lihat..
berlianmu masih sedikit tersimpan dalam benak2 kecil yang besar..

tak ingatkah kau?????

rizal said...

hmm dee..kadang kita musti mendengar apa kata dunia ttg kita tanpa harus emosi...soalnya gue juga kayak gitu. orang lain dgn seenaknya masuk dan mengatur2 kehidupan pribadi dgn kata2 mereka...gue sih udah sering bgt dpt yg kayak gitu, krn di umur 35 gw masih lajang dan gue asyik2 aja jalaninnya..tp orang2 sekitar spt gak suka, dan mulai mendoktrin gue untuk merit..tp gue sampe sekarang santai aja nanggepinnya...kalau kita sudah 'berdamai' dgn diri sendiri, artinya kita juga harus siap berdamai dgn lingkungan sekitar bgmnpun keadaannya..jgn nyerah donk...dibawa santai aja deh..nikmati hidup yg cuma sekali..dan terus nulis ya..gue suka bgt sama tulisan elo :)

creasionbrand said...

Dear mbak dewi, hari ini merupakan hari yang spesial buat saya. Sudah beberapa hari ini hidup terasa sangat menjemukan buat saya, di sela kebosanan kantor, saya menemukan blog seorang Dewi Lestari, yang sudah lama saya kagumi karya-karyanya. Saya belum pernah melewatkan karya-karya Mbak Dewi sampai sekarang, dan ketertarikan saya membaca sekaligus mendengar karya terbarumu pun sama besar. Seperti cerita-cerita hidupku terdahulu, kembali saya diperciki air kegembiraan dan semangat dalam hidup setelah saya membaca tulisan singkat mu ini. Manusia memang terdiri dari jiwa dan kemunafikan, kadang mereka senang dan mengatai orang munafik di atas bangkai mereka sendiri. Tapi begitu juga dengan manusia lain, kita selalu berusaha untuk menjadi lebih baik lagi, dan kewajiban kitalah sebagai manusia untuk bertahan.. entah sampai kapan..

NikoTopia said...

Dear Mbak Dewi (saya harap jenengan baca Comment saya)

Jujur saja mbak, saya cuma segelintir orang yang juga merasa the new age of conciousness, apa bakal datang. seperti datangnya matahari yang selalu datang jam 5 pagi di ufuk timur sana.

saya malah sudah muntah melihat sekeliling saya. mungkin mbak dewi berduka, saya malah merasa sendiri. tapi, dulu, tahun 2002 saya tekena virus yang mbak dewi sebar, lewat SUPERNOVA. saya merasa tidak sendiri lagi. karena saya yakin perasaan yang saya rasakan ada temannya, mungkin ya mbak dewi, mungkin orang lain di belahan bumi entah.

jadi, mari mbak kita berjuang di jalur hidup masing-masing. biarin tv, gossip, atau apalah yang buat mbak dewi ngerasa itu busuk! terus berjalan, gagah, tegap, meski berdarah, nanti biar usaha dan waktu yang nyembuhin,

nyok berangkat bareng-bareng ma orang-orang yang merasa the age of conciousness harus datang, harus nongol, karena kita butuh itu.

biar hati yang menjadi kompas dan membimbing kita diperjalanan. Pun kata-kata ini lahir juga karena virus yang mbak dewi sebar. ini bukan pembelaan siap yang benar mbak, ini adalah semangat yang mbak dewi bagi, ke saya lewat Si Virus dan saya inject lagi ke mbak dewi yang pernah mbak dewi bagi.

ayo mbak kita hirup udara segar, kita nikmati saat matahari memandikan kita dengan kehangatannya. karena hanya itu yang buat kita jadi bahagia.

Nikotopia
lelaki yang terkena Virus Supernova

rayaa riyadi said...

Biarkan mereka berbicara, menghina dan mencela...
Persilahkan mereka untuk marah, kesal dan tidak terima...
Mungkin mereka kecewa,
Tak setuju dengan langkah yang dipilih oleh anda...
Merasa terkhianati karena anda yang diharapkan sebagai panutan justru berbuat tidak seperti yang mereka kira....
Dengarkan mereka dan mengertilah mereka....
Karena apapun wujudnya, itulah tanda cinta dari mereka untuk sang idola...

M.Y. Dian E. said...

Kontrak Mati.....
Cuma PERNIKAHAN yang bisa mengikat DUA ORANG dengan KEMATIAN. "Deathly Contract I Always Said. With delightful Sentence For Sure.....
Tapi Bagaimana jika akhirnya JANJI itu terlanggar atau malah dilanggar?
Salah seorang Kenalan saya berniat mengambil ISTRI KEDUA hanya lantaran istrinya kini telah menginjak usia MENOPAUSE... Bayangkan jika keriput juga dimasukan juga kedalam daftar. How ridicolous is that?
Sementara seorang teman lama yang telah berpacaran empat tahun bercerai sebelum PERNIKAHAN mereka menginjak usia SATU TAHUN...Alasannya? Tidak Ada kecocokan...Hmmm AS Simple as That?
SUNGGUH, Saya ingin mempercayai Lembaga Mulia bernama PERNIKAHAN dengan intensitas keyakinan yang mencapai 100% jumlahnya. Tapi Jika Kemudian PERNIKAHAN itu cuma dimaknai hingga usia MENOPAUSE, lalu apakah arti sebenarnya dari PERNIKAHAN?
Jika PERNIKAHAN hanya dihargai oleh Jumlah rupiah, berapakah lembaran Uang yang harus di tukarkan? SUMPAH itu kemudian Tak ubahnya seperti MATERAI diatas KERTAS, memiliki kekuatan HUKUM yang absolut bentuknya, namun tak berdaya kala disandingkan dengan HASRAT dan KEINGINAN seseorang untuk MELANGGARNYA.
Lantas apa yang dicari dari PERNIKAHAN?
Jika KEBAHAGIAAN adalah Jawabannya, Nyata, Absurd adalah kata yang tepat untuk mewakili. Interpretasi KEBAHAGIAAN tidaklah sama antara satu dengan yang lain. Ia ABSTRAK dan Menabrak BATASAN. Tapi jika kemudian dibenturkan dengan PERNIKAHAN, maka pendefinisian KEBAHAGIAAN seharusnya sama antara dua orang yang terikat dengan pernikahan itu. IT TAKES TWO TANGO. Maka seharusnya tak ada MENOPAUSE, KETIDAKCOCOKAN, hingga kejenuhan macam Apapun yang dapat memisahkan..Terlebih lagi KERIPUT.....
EVERY WRINKLE HAS ITS OWN STORY and HISTORY. Dan didalamnya ada perjalanan CINTA itu sendiri.
CINTA adalah Elemen dasar yang ada dalam setiap unsur kehidupan. Ia Roh yang bisa Menjiwai dan menghidupkan KEHIDUPAN. Andai saja setiap orang memaknainya DENGAN HATI...., Sungguh "TILL DEATH DO US PART" bukanlah sebuah KONTRAK MATI. Ia cuma AYAT CINTA dengan Tafsiran SEDERHANA, Tumbuh Tua dengan BELAHAN JIWA, menikmati setiap KERIPUT yang ada dan menjalani sebuah PERJALANAN sejarah KEHIDUPAN....
JUST THINK....."Andai Belahan Jiwa itu HILANG, maka akan ada rongga yang menganga di sudut Jiwa...yang kemudian hanya KEHAMPAAN yang di temukan.....
(From : Le - Mariage Magz, Script By : Esnoe Metha Wardhani)
SEMOGA BERMANFAAT....

DiMA said...

waktu saya baca tulisan ini, jujur saja saya sangat kaget..

oke,, bukan karena masalah sms nyasar itu,, tapi karena saya merasa diingatkan kembali tentang "sesuatu" yang seperti mbak dee bilang, saya selalu penasaran akan "sesuatu" itu tapi ngga pernah bisa menemukannya..
dan mbak menemukannya delapan tahun lalu di bawah hidung..

saat ini umur saya kuliah, dan sejak saya SD, ayah saya selalu bilang "kamu harus cari sesuatu itu, biasanya anak kecil lebih mudah menemukannya" dan kata beliau kembali "kalau kamu bisa menemukannnya kamu akan merasakan nikmat yang luar biasa dan tidak takut atau khawatir pada apapun"
caranya??? "diam dan perhatikan nafasmu.."

is it true mbak??
bagaimana cara menemukannya??
meditasi??

sesungguhnya saya tidak benar2 mengerti akan meditasi,,
terimakasih sebelumnya,,

Rayaa Riyadi said...

Mbak....
Jangan menjadi susah hanya karena satu suara. Coba hitung berapa eksemplar yang diproduksi setiap buku mbak naik cetak, kalikan dengan berapa cetakan yang dibuat untuk setiap buku dan kalikan lagi dengan jumlah buku karya mbak yang sudah beredar. Itulah jumlah suara yang mendukung mbak. Belum lagi kalo yang minjem dan memfotokopi dihitung juga.
Wah.. Seribu Andi mah putus mbak!! bahkan sejuta..
Ayo, jangan berduka terlalu dalam. Coba tengok lagi kantong celananya. Berlian kecil itu pasti masih ada disana.
TETAP SEMANGAT!!!!

evilwiththechildren said...

karena setiap orang selalu ingin merasa benar, karena setiap orang selalu sulit berkaca muka sendiri
maka biarkan saja manusia2 itu berkata apa dengan dalih peduli akan sesama.
benar sekali, mereka kadang tidak tahu seperti apa sebenarnya terjadi.
justifikasi merupakan tameng awal dari dalih saling memperdulikan.
biarkan saja , lewatkan saja toh nanti berkahir juga ;p

The Silenced One said...

@ Dima.....
Dunno how to contact you =) but hopefully u'll get back here to see this.
Log on to:
http://meditasi-mengenal-diri.org/
Maybe there's something that u look for there =)

Titis said...

Dear D,

Salam kenal ya....
Saya sebenarna tergugah sekali ingin mengenal D sampe sampe "curi waktu "untuk buka blog ini dan ketambahan pas saya liat quotenya "The greatest enemy is not evil, but ignorance".

saya makin cocok banget.

Thanks for putting there so I can see it.

Its very inspirational.



Ter

a Piece of me said...

U r a passionate thinker.. N I really appreciate of it..

Keep Moving Mba..

Ne-ti said...

begitulah dunia,selalu dualisme..ada benar ada salah,ada suka ada duka..sebenarnya semua yang diperjuangkan orang atas nama Tuhan dan agama itu smua sia2...kenapa kita tidak melihat dari kesamaan, kenapa kita selalu melihat perbedaan....sungguh indah dunia bila kita melihat dengan datar....tanpa kesibukan pikiran dan perasaan...maka semua akan slalu indah dan damai...

swedy said...

Dewi... Dewi... kok iso sampeyan nulis koyo ngono kuwi. Menthes....

^uchie^ said...

God Bless You Mba' Dee..

paulus budi said...

Seekor burung hantu duduk di atas pohon tua.
Semakin banyak dia melihat, semakin banyak pula dia mendengar. Semakin banyak dia mendengar, semakin sedikit dia bicara.
Mengapa kita tidak pernah bisa seperti burung hantu tersebut?

http://the-budhist.blogspot.com

Made Dwipa said...

Saya jadi teringat novel karya James Redfield "The Celestine Prophecy". Bahwa apa yang mbak alami adalah energi mbak diserap oleh orang2 yang membutuhkan energi dengan mengorbankan orang lain. Dan jika memang berlian itu cukup berharga, ia seharusnya menjadi sumber energi yang mampu membuat mbak Dee bertahan, sama halnya seperti alam semesta ini yang sesungguhnya menyediakan energi yang cukup jika manusia tidak terlalu egois untuk merebut energi dari manusia lainnya. Tan Hana Dharma Mangrwa, Tak Ada Kebenaran Yang Mendua

maryamgustisandi said...

comment-nya telat mungkin ya utk issue yg satu ini..kebetulan sy absen bbrp lama dr ranah maya ini ;p

anyway.waktu saya baca posting dee yg ini,well, my first honest respond was getting a bit upset towards your reaction. dee, how could you give up like that? how could you let the stupid b*****d take away something so precious from you? how could you?

lalu beberapa tarikan nafas dan saya mulai sadar. mungkin selama ini dee adalah seseorang yg tanpa sy sadari sy letakkan satu level dgn 'orang suci' lainnya, seseorang dgn kebijaksanaan tak terbatas yg mampu mengolah segala bentuk ketidakadilan dan kesedihan di dunia ini dan menghadirkannya kembali ke dalam pemahaman saya sebagai bentuk yg sama sekali lain.

dgn suatu cara, posting ini menyadarkan sy bahwa dee, dgn segala bakatnya yg luar biasa itu, adalah manusia biasa; bisa menyerah, dan bisa putus asa.

i like this side of yours.

and im offering you my full sympathy and support.

and as for the diamond,you know, a diamond will always be a diamond. diamond always shines, but sometimes the dust around it is just too thick.

*hug*

Jurnal Bahagia said...

mbak dee, saya hanya salah satu dari sekian banyak penggemar buku&tulisan anda. slama ini saya juga hanya mengenal anda lewat buku&tulisan, setiap kata dan kalimat yang anda tulis bagi saya seperti bulir-bulir mutiara yang mencerahkan hidup. saya berkali-kali membaca petir dan tak habis pikir dengan ide cerita dan kalimat anda yg selalu mengandung pencerahan. kadang jika sedang jenuh saya membuka-buka lembaran buku anda untuk menemukan "kalimat sakti", dan ajaib buku anda selalu menjawab 'kejenuhan' saya. mbak dee, saya hanya sedang merasa sedikit heran (dan barangkali jenuh) dengan apa yang anda lakukan belakangan ini yang banyak dipublikasi di media, saya membuka-buka blog ini utk menemukan jawaban atas heran&jenuh saya. tapi jujur saya ngga nemu jawabannya.

Dewi Lestari said...

Tidak perlu heran...
Barangkali memang bukan di sini jawabannya.
Tidak pernah ada yang permanen. Kalau dulu merasa ketemu jawaban di tulisan2 saya, apa pun itu, belum tentu ketemu lagi sekarang ini. Saya sendiri tidak pernah merasa memberikan jawaban apa-apa, selain berceloteh untuk diri saya sendiri.

Cheers,

~ D ~

david said...

IMHO:
kita semua,hanya manusia yang menghayalkan kehendak bebas.
free will?
there is no such thing!

kita merasa dikutuk menjadi bebas.
tapi tidak.

orang bisa menyebutnya "takdir"
tapi sebenarnya,
yang di sebut takdir,
menurutku tidak sesederhana itu....