Thursday, February 19, 2009

Merindu Dunia Mungil

Merindu Dunia Mungil


Memasuki bulan kedelapan saya pindah ke Jakarta, untuk pertama kalinya saya melakukan kegiatan ini: jalan sore.

Hari yang pas; tidak terik, angin berembus kadang semilir kadang kencang, awan di langit berserak membentuk formasi yang indah di mata. Saya berjalan di setapak khusus pejalan kaki yang disediakan kompleks tempat saya tinggal, yang dibuat sedemikian rupa di tengah taman, pasir, dan gerimbun bambu.

Tiupan angin membuat bambu di sekeliling saya bergesek dan menari. Terdengar suara serangga bersahutan, kawanan burung berkicauan, dan tampak seekor kucing menggeliat di atas rumput. Saya memerhatikan kontur tanah di kiri-kanan yang kadang membukit kadang melembah, rumput yang tumbuh pendek-pendek karena rajin dipotong oleh petugas taman kompleks. Dan saya melihat aliran sungai kecil di sebelah kiri, yang ketika saya ikuti ternyata berujung pada sungai yang lebih besar lagi, yang suaranya mampu menahan kaki saya diam berlama-lama di pinggirannya. Lalu saya masuk ke dalam fasilitas umum di mana saya temukan kolam dangkal berisi ikan beraneka ukuran. Riak air di atas kolam berkilau lembut diterpa matahari senja. Ada sekelompok ilalang yang bergoyang di sudut kolam.

Sepanjang perjalanan kaki sore itu, satu hal yang terus bergaung di kepala: kemana saja saya selama ini? Delapan bulan saya tinggal di kompleks tersebut, kompleks sama yang menyimpan nyanyian bambu, kicauan burung, kor serangga, dan aliran sungai, tapi sore ini saya menemukan semua itu bagai harta karun terpendam.

Saya teringat masa kecil dulu, saat kendaraan utama saya adalah tungkai kaki saya sendiri, paling banter roda sepeda. Saya juga ingat permainan masa kecil yang masih terus saya mainkan bahkan sampai SMP, yakni: main “orang-orangan”. Jujur, saya tidak tahu apakah istilah itu universal atau sebetulnya hanya istilah intern yang hanya berlaku di lingkup keluarga saya saja. Yang saya maksudkan adalah, permainan menggunakan benda-benda kecil yang dianggap sebagai “orang”, dan kita mainkan orang-orangan tersebut layaknya kehidupan manusia sehari-hari.

Waktu kami kecil, orang tua kami jarang sekali membelikan mainan. Mereka dengan senang hati membiayai kami kursus piano, atau membelikan pensil warna, atau buku cerita, tapi tidak setahun sekali saya dibelikan mainan baru. Mainan adalah benda mahal dan amat sangat langka dalam hidup saya saat itu. Karena itulah, kami terpaksa menciptakan mainan sendiri. Menggunakan apa pun yang ada.

Saya ingat, kakak-kakak saya mengukir styrofoam menjadi aneka makanan, dan kami main ‘restoran-restoranan’. Pada satu masa, kami juga membuat aneka kue dari lilin malam, dan kami main jualan kue. Ada juga masanya kami bermain menggunakan white board, yang kami bagi jadi empat bagian, dan di masing-masing petak kami menggambar ‘koran-koranan’ buatan masing-masing. Lengkap dengan artikel dan iklan. Ada juga masanya kami membuat kartu-kartu ucapan, lalu saling kirim kartu ke satu sama lain. Namun dari semua permainan ciptaan sendiri itu, orang-oranganlah yang bertahan paling lama.

Orang-orangan favorit kami adalah bidak catur, terutama yang berbahan plastik. Kalau bidak catur tidak ada, pilihan berikutnya jatuh pada batu baterai (ukuran AA). Berhubung bentuk pion catur semua sama, cara membedakannya adalah dengan mengikatkan karet rambut di leher bidak tersebut. Ada yang pink, hitam, putih, biru, hijau, dst.

Orang-orangan kami punya nama, punya pekerjaan, dan punya rumah. Rumah mereka dibangun dari buku-buku tebal yang berfungsi menjadi lantai, mereka juga punya tempat tidur yang dibuat dari kapas, punya mobil dari kotak korek api, punya meja makan dari balok kayu bekas, dst. Bahkan, karena kami biasa main berempat (saya, adik, dan dua kakak perempuan saya), kami bisa membangun satu kota sendiri untuk orang-orangan kami. Ada fasilitas sekolah, toko, dsb. Kami bisa main berjam-jam. Kami bisa main seharian. Satu-satunya agenda di kepala saya menjelang bubar sekolah adalah buru-buru pulang ke dunia mungil itu. Secepat-cepatnya.

Bertahun-tahun memainkan permainan yang sama, mata saya mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda. Seperti muncul sepasang mata alternatif yang memandang dunia dari ukuran pion catur. Dunia sehari-hari kita ini menjadi dunia raksasa. Dan justru di hal-hal yang mungil dan kecil, saya menemukan normalitas. Ketika saya melihat pohon melati yang tingginya hanya sebetis, pada saat yang bersamaan saya melihatnya laksana pohon beringin besar tempat orang-orangan saya bisa bermain, bernaung, bahkan tinggal di rumah pohon. Ketika saya melihat genangan air yang hanya sebesar telapak kaki, pada saat yang bersamaan saya menemukan kolam renang bagi orang-orangan saya. Dan akhirnya saya punya dua dunia sekaligus, yang sama-sama normal, yang sama-sama sahih.

Mata saya menjadi terlatih untuk mengamati hal remeh, hal mungil, hal kecil. Didukung oleh keterbatasan seorang anak yang baru mampu mengeksplorasi lingkungan dengan berjalan kaki, saya pun menemukan aneka keajaiban dalam hal-hal yang biasa. Hal-hal yang niscaya luput dari seorang dewasa yang mengamati dunia dari jendela mobil dengan kecepatan laju sekian tenaga kuda.

Setelah jalan kaki sore pertama di kompleks, esok harinya saya mulai berjalan pagi. Terkadang, jika pagi atau sore tak sempat, sebelum masuk rumah, saya dan Reza berjalan kaki malam-malam. Memandangi gerimbun bambu yang kini menyerupai bayang-bayang, menikmati bebunyian yang kini didominasi suara jangkerik. Satu hari, kembali kami beruntung dan mendapati malam yang indah. Sebagian besar langit tampak jernih. Bintang bersembulan.

Pada satu titik, kami berhenti dan duduk. Seperti dua bocah polos yang masih gampang tercengang, kami terlongo-longo melihat bintang-bintang yang sepertinya semakin dilihat malah muncul tambah banyak. Dalam waktu lima menit, langit di atas kepala kami mendadak padat oleh titik-titik cahaya. Kami lalu berdoa, bergantian, mengucap syukur atas apa pun yang melintas di kepala. Dan yang pertama kali menyeruak di hati saya adalah ucapan syukur bahwa saya diingatkan untuk menikmati keindahan dalam hal-hal kecil. Keluarbiasaan dalam hal-hal biasa. ‘Kebesaran’ dalam ‘kemungilan’.

Saya tersadar betapa saya merindukan dunia mungil itu. Dunia yang bisa diteropong hanya kalau menggunakan mata ‘orang-orangan’. Mata yang sempat begitu terlatih. Mata yang mengajarkan saya untuk menjadi seorang pengamat. Mata yang mengajarkan saya untuk menjadi seorang penulis.

Baru-baru ini, di acara pertemuan klub pembaca di Toko Buku Aksara, seorang pengunjung yang mengaku menyukai detail dalam salah satu cerita pendek saya bertanya: kok bisa, sih? Bagaimana caranya? Dan saya harus kembali pada jawaban ini lagi: mengamati. Seorang penulis harus memiliki mata seorang pengamat. Dalam hati saya, kisah panjang permainan ‘orang-orangan’ kembali bertutur tanpa bisa dibendung. Kisah yang barangkali terlalu panjang untuk dicerna dalam sebuah diskusi buku. Tapi tidak cukup panjang untuk direnungkan dalam satu sesi jalan kaki.

37 comments:

Kabasaran Soultan said...

wow ..daku disini mendecak kagum, menyusuri inchi demi inchi, loncatan demi loncatan dunia mungilmu ..... dunia yang aku dan orang lain juga pernah alami namun mata ini tidak setajam matamu dalam melihat "sesuatu" atau hikmah yang ada dibalik dunia itu ...

Salam takjub.

Bambu Buwono said...

Jangan berhenti menulis Wi..., Indonesia perlu kamu...dan tulisanmu.

Langit Amaravati said...

Mengamati; biasanya saya juga akan terkejut dengan apa yang bisa saya temukan dalam pengamatan. Ternyata begitu banyak hal renik yang terlepas, lalu kembali.Kemudian akan menghasilkan berbagai pertanyaan, apa yang dialami orang-orang itu sebenarnya? Kemana bintang-bintang itu menghilang jika kita tak ada di sana memandanginya? Itu sebabnya begitu menyenangkan bisa menuliskan itu semua. Ah, inspirasi...

scorvgirl said...

pertamaxxx

terus menulis ya...
cerpen kita

gelar gunadi putra said...

kalau saya ikut pertemuan pembaca itu, saya pasti menjadi orang kedua yg suka cerita km, wi ;D mantep

Eka Dyana said...

really nice :)

Jenny Jusuf said...

First off...

SELAMAT BERBUKA PUASA! ;-D

Waktu jaman saya dulu, permainan itu sudah lebih canggih dengan orang-orangan yang terbuat dari kertas dan bisa dibeli di pedagang keliling seharga 100 rupiah per lembar. Laki-laki, perempuan, sampai anak kecil, semua ada dalam berbagai ukuran. Lengkap dengan 'aksesori' seperti pakaian, tas, sepatu, bahkan perhiasan. Dan, ya, saya juga selalu menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain.

Memang tidak ada yang bisa mengalahkan serunya permainan yang merangsang imajinasi dan kreativitas. Tidak ada yang bisa mengalahkan pengalaman dan pembelajaran berharga yang bisa dipetik darinya, seperti pelajaran tentang mengamati yang dituliskan di entri ini. Dan (tanpa bermaksud 'menyerempet' siapa pun) salah satu hal yang terbaik menurut saya adalah: permainan ini mur-mer alias ramah kantong! HA! ;-D

Anonymous said...

Hmmm, inikah tulisan bambu, masa kecil, dan hal detil yang Dee ceritakan kemarin lusa? Terimakasih juga untuk Mata Kuliah Mengamati-nya.

Wah, Reza memenuhi janjinya untuk mempuasakan dirimu hanya sampai hari ini ya?

Thank you untuk pertemuan di Aksara. It means a lot, Dee...

Yayi said...

akhirnya saya mencoba belajar mengamati hal-hal kecil juga sekarang... ternyata memang banyak yang menarik... thx for sharing, dee... :D

Eclipse said...

salam kenal Dee..

oh!..

pantes, dengan 'mengamati' kebijaksanaan kt baru bisa muncul..

is it like looking out of the box?..

Anonymous said...

tetap saja saya spechless sama kemampuan kamu de... mengamati, menuliskannya dengan bahasa indah. saya bersyukur akan semua itu untukmu, dans aya bersyukur untuk segala kesempatan dan kemampuan saya menikmatinya.
teruslah "HIDUP" dalam arti yang seluasnya Dee...

kamu tahu tentang fenomena bocah, batu, petir, dan supranatural yang merebak pelakangan ini?? sungguh mengingatkan saya akan "PETIR"-mu
betapa saya makin takjub dan tak bisa berkata2 lagi...


salam hangat

may's

a piece of echa said...

Dear Mbak Dee..

Dunia pd saat kita msh belum mengerti tentang complicatednya dunia memang sangat mengasyikan bg aku.. kdg berfikir, mengapa kita tidak bisa menikmati hal tsb dlm jangka waktu yg lama, yg bisa kita tentukan sendiri tanpa harus dipenuhi dgn permasalahan yg ada pd masanya.

Umm.. mengamati dan mengingat yg baik mungkin tambahan Mbak Dee.. krn bagi aku org yg sangat2 pelupa apalagi hal2 yg detil kdg pengamatan itu menjadi sia2..

Thanks a bunch atas atensinya di Aksara kmrn..
precious moment for me..
echa

clairvoyant*ling said...

so great it is to finally read something in here again, dan benar2 sebuah tulisan yg hidup.. saya bs merasakan situasinya.. sgt menyenangkan ^o^

RAMPA' MAEGA said...

Tulisan ini menjawab sebuah pertanyaan yang kadang mampir di kepala saya. Apakah orang-orang yang tinggal di kota besar bisa menemukan suasana sejuk, tenang dan hijau di tengah himpitan aktivitas, gedung-gedung dan padatnya lalu lintas?

Mungkin, taman dan gerimbun bambu di kompleks tempat tinggal Dee belum seberapa dibandingkan dengan yang ada di desa-desa. Belum seberapa dalam artian bahwa di daerah pedesaan, suasana seperti itu dengan mudah biasanya bisa kita temukan, tanpa perlu diciptakan oleh manusia. Tapi, ketika nyanyian bambu, kicauan burung, kor serangga dan aliran sungai di kompleks itu menjadi sebuah harta karun terpendam bagi Dee, saat itulah Dee, menurut saya, mensyukuri hidup ini apa adanya. Tak perlu ke Puncak atau bahkan Ubud.

Namun, berapa banyak kah tempat di Jakarta yang seperti itu? Berapa orang kah yang sanggup membeli rumah di kompleks yang dilengkapi dengan taman? Adakah mereka yang setiap hari mendengar suara bising kereta api yang melintas di depan rumahnya mendengarnya seperti kicauan burung? Apakah mereka yang setiap hari naik turun angkot merasa seperti sedang menapaki setapak di sela-sela gerimbun bambu? Maka, beruntunglah mereka yang tinggal di kompleks bertaman.

Kalau boleh usul Dee, cobalah melakukan kegiatan jalan sore itu dengan rutin. Apakah feel ‘merindu dunia mungil’ itu masih sama ketika pertama kali? Ketika sesuatu yang awalnya menggairahkan mulai menjadi rutinitas, biasanya, gairahnya akan menurun dan akhirnya menjadi biasa aja.

PS. Sedikit koreksi buat kalimat terakhir di paragraph 11. Satuan tenaga kuda (HP) bukan untuk dimensi kelajuan mobil. HP adalah satuan daya, biasanya untuk mesin ber-daya besar. ‘Kecepatan laju’ juga agak bias, mungkin lebih pas kalau disebut ‘kelajuan’ saja.

Salam,
Ra_mA

tammi prasetyo said...

jadi inget waktu kecil suka main 'orang-orangan' juga, rasanya lucu dan polos membuat kehidupan yang normal saat itu.
sebenarnya yang dibutuhkan saat ini bukanlah kehidupan yang sempurnah tetapi kehidupan yang normal.. kayak waktu main 'orang-orangan' dulu itu..
'kebesaran' dalam 'kemungilan'

but, actually, saya juga suka banget sama hal-hal yang simple, detail, dan sederhana.
ternyata hal kaya gitu melatih dalam mengamati ya...
hm
sebuah langkah untuk menjadi seorang penulis yang baik adalah menjadi pengamat yang baik..

in the end, saya selalu suka apa yang dee tulis :)

Anonymous said...

:) God Bless U, Sist....

Nindy Hardjadinata said...

wah hampir mirip Kak Dee ama saya :]
saya juga doyan main orang2an (istilahnya rumah2an kalo saya) ama pensil biasanya hehe

well, meski Barbie dan mini home set juga uda dibeliin ortu tp tetep lebii enjoy pake pensil warna-warni jaman SD itu :D

and now, I guess it started a kid thinking in creative way. Ga cuma ngandalin mainan jadi tapi juga berusaha 'cari' cara buat bikin mainan baru dari apa yg dipunya. Bener ga sii ? :]]

Magoo said...

teh dee... ga ada niatan novelnya jadi film? kan keren-keren tuh... btw kapan ada acara meet n greet di bandung?

Dee Lestari said...

Hai-hai,

To Magoo: Untuk Bandung sepertinya akan ada di bulan Maret. Tunggu pengumumannya di Dee-Event ya.

To Sararocks: Yep, sepertinya usaha membuat mainan itulah yang bisa lebih seru daripada bermain-mainnya itu sendiri.

To Rampa: Makasih koreksinya. Nanti saya akan perbaiki di teks. Iya, saya juga lagi mengagendakan jalan sore/pagi sebagai kegiatan rutin harian. It's so wonderful.

To Echa & Sanggita: Makasih juga lho udah hadir di Aksara. Means a lot to me too :) Aku udah lihat foto2 yang diposting Sanggita btw... Cool!

Makasih semuanya...

~ D ~

Shinta Story's said...

Salam kenal buat mba Dee. Semenjak artikel 'catatan tentang perpisahan' mencuat, semenjak itu pula saya rajin berkunjung ke blog ini. Menurut saya, gaya tulisan mba sangat rapi dan indah, membuat saya terkagum-kagum setiap selesai membacanya, walau terkadang saya harus mengulang kembali untuk benar-benar mendapatkan inti dari artikel yang mba buat. Saya sangat senang bila mba mau sedikit berbagi ilmu tentang menulis, belakangan ini 'dunia' itu sangat saya gandrungi. Saya juga mengundang mba berkunjung ke blog saya, mungkin dari sana, mba bisa menilai tulisan saya. Salam hangat dari saya, shinta.

Anonymous said...

dari hati banget ya.....

Anonymous said...

hahaha..mengingatkan pada satu masa kecil saya, dipaksa saudara sepupu perempuan2 saya buat ikut main orang orangan!!bedanya kakak perempuan saya membeli orang orangan kertas di warung,sepaket lengkap dengan baju,aksesoris dan mobil2nya harga nya waktu itu masih 100 rupiah!!dan saya,paling seneng kalo diminta bikin model rumahnya..ternyata berguna waktu jaman kuliah arsitektur, jadi sudah terbiasa bikin maket rumah!!hehe..

nice posting dee..
salam kenal

Johan Bhimo said...

Ada comment yang terlambat nih.Memang menulis butuh kepekaan mata.Saya teringat dengan penulis kenamaan asal North Carolina,O.Henry,yang berkata,"Kau tak dapat menulis cerita tentang kehidupan dari balik meja dan berpikir.Kau harus turun ke jalan,masuk ke kerumunan,bicara dengan banyak orang,merasakan denyut nadi kehidupan nyata itulah stimulan bagi seorang penulis." -JBS-

White Horizon said...

Caught up with daily routines, waking up, going to work, going back home, getting a rest, watching TV, reading the news, having arguments, planning for the future, and so on... sometimes we just forget how to live in the moment and be thankful. I always like your writing, it's like having someone from the same frequency and it's rare.

nyamukfly said...

saya salut sama tulisan2 mbak yg sangat menarik dan menginspirasi. liat2 blog saya dong n kasi masukan plis.....

Nia Janiar said...

Halo, Mbak Dee.

Saya mau cerita, walaupun tidak berhubungan dengan post ini.

Kemarin saya dan teman-teman klab nulis membahas mengenai metafora. Moderator saat itu membawakan buku Rectoverso. Ia membacakan cerita Selamat Ulang Tahun dan Peluk dan memperlihatkan metafora-metafora yang dipakai Mbak Dee. Kami kagum karena Mbak Dee sepertinya menciptakan metafora sendiri misalnya jatuh cinta seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir dan jenuh seperti air yang terhenti mengalir. Selain itu Mbak Dee memakai istilah science seperti staklatit, varian, hibrida dan lainnya. Maksudnya metafora yang dikemukakan Mbak Dee enggak pasaran seperti hati yang berbunga-bunga dan lainnya.

Setelah itu kami latihan metafora, ternyata tidak mudah. Dibutuhkan pengamatan yang jeli untuk menghubungkan cerita dengan metafora alam yang biasanya dipakai. Mungkin kurangnya kami adalah kurang memperhatikan alam. Jadinya susah deh. Hehe.

Ya itu aja sih, Mbak Dee. Salam kenal :)

Merry Magdalena said...

Mbak Dee, aku waktu kecil juga suka mainain semua perlengkapan kantor di meja kerja kakekku. Semua kukhayalkan sebagai sebuah dunia dengan penduduknya yang terdiri dari klip kertas, apusan, peruncing pensil, paku payung, dsb. Sedangkan tempat pulpen, staples, tempat lem, adalah gedung2 tinggi. Kotak klip, kotak staples, adalah rumah-rumah.Indahnya dunia anak-anak!

Embun said...

Dear Mbak Dee...

Again.. Rasa kagum ini hanya bisa saya syukuri andai bisa cara lain yang jauh lebih dalam dari bersyukur...

Sangat sering, memont saya buka blog mbak dee.. lagi klik banget dengan apa yang sedang saya alami.. dan kali ini.. is about the past..
mungkin bukan tentang "bongkar pasang" sebutan kami di Aceh untuk mainan "orang-orangan"nya mbak dee.. tapi ini tentang kenyamanan masa lalu..

Perjalanan hidup membuat kita pribadi berubah agar tak ketinggalan zaman, dan kata orang2 bisa jadi dewasa seiring bertambahnya waktu, dan fake.. sometimes..

Namun ketika kembali ke masa lalu, membawa diri kembali ke kota kelahiran, kota kita dibesarkan, dan bersama orang2 yang mengenal kita jauuuh sebelum kita mengenal complicatednya kehidupan dunia yang truely ga sebesar daun kelor.. Ada nyaman yang tidak bisa dibayar dengan apapun kan?!

Mbak dee...
Will you share me your "out of the box" point of view??

Kapan2 main dong ke Camp Duri, kita juga punya Club Buku disini... =)

astrid reza said...

i'm relearning this too again through the eyes of my own child. it's funny to be remembered by the little things surrounding us.

salam kenal, dee. we meet once in yogya, but didn't had the chance to talk yet. hope to see you sometimes.

om mane padme hum.

SerasaSore said...

Mbak...salam kenal...OMG, saya suka bahasanya...
Inspiratif banget...
Huwwwwww melayang, mendayu gitu...
Jadi inget kapas...

Armstrong da Jimmy said...

Sebelumnya salam kenal mbak... :)

Saya jadi keingat sama film drama prancis yang berjudul "Amelie" (udah nonton?) waktu baca tulisannya mbak yang satu ini, yaitu mengamati segala macam hal yang terjadi di keseharian dan tidak pernah membeda bedakan antara ini hal kecil dan ini hal besar, kalo katanya bung Iwan Fals "Apalah bedanya besar dan kecil" kalo sama sama akan kita hadapi, yang jelas dijalani saja dengan baik. dan si Amelie itu kurang lebih begitu dalam kesehariannya, walaupun dengan pribadi yang pendiam namun dengan kelakuan yang ga mau diam (duduk bengong), selalu memperhatiin segala macam hal yg orang orang lain nganggap itu hal kecil, tapi dia berusaha membuat hal kecil itu sebagai acuan untuk menjadi lebih baik, contohnya memperhatiin bapak tua yg selalu berdiam diri dalam kamar yang sebelahan kamar dengannya di rumah susun, yang kalo orang lain liat ga bakalan di respon malah orang lain akan abaikan, tapi dengan si Amelie memperhatiin bapak tua itu dengan mengintip lewat selah jendela ke kamar bapak tua itu dan juga senantiasa mencoba tuk bertukar sapa kepada bapak tua yang selalu menghabiskan waktunya dengan berada di dalam kamar, akhirnya Amelie bisa tahu jikalau ternyata bapak tua itu sedang melukis di dalam kamarnya, menghabiskan hari harinya dengan melukis, dan ternyata lukisannya itu sangat luar biasa... dan bukan cuman itu yang dilakuin Amelie, ada juga dengan iseng jalan2 ke pasar melihat ekspressi orang2 di pasar dengan teliti, dll.

hehehe panjang amat yak?

sekedar salam kenal dari saya mbak, salah seorang penggemar "Kopi" dan sangat kagum sama novel mbak "Filosofi Kopi"...

eh iya yang, Supernova juga keren (yang kalo ngebacanya musti di ulang ulang) hehehe coz ribetnya dalam satu novel ada 4 cerita yang saling menceritakan, tapi thats amazing... trus yang Akar juga tentang seorang "Buddhist" yang kalo saya sendiri yang lain agama tetap mengagumi jalan pikiran dari seorang buddhist "yang melepaskan hasrat keduniawian" untuk menuju kehidupan yang sesungguhnya, dan Petir juga kerennnnn...

Dan terakhir yang Rectoverso cerita favorite-ku adalah "Cicak"...

Adhini Amaliafitri said...

tulisanmu menginspirasi aku untuk berceloteh tentang beribu kisah di waktu kecil :)

lovely!!

Ulin said...

Dee, salam kenal...
orang-orangan tampaknya, istilah yg umum, jk tidak bagi semua orang, pasti bagi anak2 kecil yang pernah bermain persis seperti yg Dee mainkan. Saya dulu juga memaikannya, dg cara yg berbeda dg yg org lain mainkan. Orang2an saya adalah 2 kertas yang dilipat memanjang, dilipat, lalu disilangkan dan diikat dg benang, persis seperti orang2an sawah. Kemudian kami membuat bajunya, sesuka kami, kami bisa berkreasi sebebas2nya. Entah apa sampai saat ini masih ada yg memainkan orang2an model begitu. Krn tampaknya orang2an itu telah berganti bentuk menjadi permainan yg semakin canggih spt 'the sims' misalnya. Tapi bagi saya tetap berbeda, permainan itu dulu ikut membangun imajinasi saya, membebaskan saya dari perasaan2 tak menyenangkan di dunia nyata, dan mengilhami kami semua cerita yg kami rangkai sendiri sesuai impian kami.

SCOUTING said...

'D' saya hadir disini hanya ingin utarakan satu pertanyaan dan jawaban dari seorang penulis 'D'. Apa yang mesti dilakukan ketika ke-Lestari-an 'D'unia ini setiap detik dicabik kata-kata.

cerpen-cerpen indah said...

wooowwwwwwwwwww
mbak dee keren

Deby Christi said...
This comment has been removed by the author.
Unknown said...

Dunia mungil,dunia yg mengagumkan.Berkunjung yach ke http://www.amijasmine.blogspot.com