Sunday, March 29, 2009

Padamkah Lampumu Semalam?

Padamkah Lampumu Semalam?



Setengah jam sebelum pukul 20.30, saya dan Reza mulai makan malam. Kebetulan kami hanya berdua di rumah. Pembantu saya, setelah tahu kami akan mematikan listrik selama sejam nanti, minta izin main keluar. Setelah makan malam selesai, kami berdua duduk di ruang teve, menghadap kotak listrik hitam yang sudah padam itu. Reza mengambil bantal meditasinya. Saya mengambil posisi di sofa.

Pukul 20.30 tepat. Pembantu saya keluar rumah seraya mematikan sakelar utama di luar. Ruangan gelap total. Tak ada lilin. Tak ada deru AC. Tak ada bunyi getar kulkas atau dispenser. Kami mengandalkan sisa terang dari jalanan dan embusan angin dari dua daun jendela yang terbuka.

Empat puluh menit dari sejam yang digaungkan dan didengungkan seluruh dunia sebagai Earth Hour, kami duduk dalam kesunyian. Kegelapan. Sesekali terdengar suara-suara dari luar: satpam yang mengobrol dengan tetangga dan membicarakan bahwa banyak rumah di kompleks yang memadamkan listrik malam itu, anak tetangga mengobrol dengan ibunya sambil membunuh waktu sejam tak berlampu, bola basket beradu dengan aspal, suara kaki berlari-lari. Cukup banyak kegiatan di luar sana, yang hanya bisa kami nikmati dan amati lewat meditasi.

Sejak beberapa hari yang lalu, beberapa teman sudah mengumumkan partisipasi mereka di Earth Hour lewat status Blackberry atau Facebook atau e-mail. National Geographic bahkan berkomitmen untuk mematikan siarannya selama sejam. Earth Hour dibahas di teve, di radio, di majalah, di internet. Iklan “Vote for Earth” berkumandang di setiap jeda iklan teve Star World. Luar biasa, pikir saya. Sebegitu terhubungnya dunia hingga gerakan sederhana seperti mematikan lampu ternyata bisa dimobilisasi di satu muka Bumi ini. Bukan lagi utopi, melainkan sungguhan terjadi. Selama sejam kita ditantang untuk mengorbankan ketergantungan kita terhadap listrik dan memberi sehela napas pada Bumi. Entah berapa orang yang berpartisipasi, dan apakah bisa dihitung pasti? Namun, dengan melihat beberapa tetangga saya ikut berpartisipasi, saya tersenyum dalam hati. Ternyata masih ada yang peduli. Ternyata harapan itu tak terlalu tinggi.

Dua puluh menit tersisa. Kami berdua hanya ngobrol ngalor-ngidul, membicarakan hal-hal kecil sambil berbaring meregangkan tubuh. Meresapi sisa kegelapan dan malam yang berangsur sejuk. Sambil bangkit berdiri, Reza berkata bahwa ia tidak keberatan jika harus mengulang ritual sejam tanpa listrik ini dalam skala bulanan atau dua mingguan. Saya pun berpikir hal yang sama. Berapa jam lagi yang sudi kita persembahkan? Selagi kita masih bisa menyerahkannya sebagai persembahan, bukan karena keterpaksaan, atau karena keadaan.

Sakelar kembali dinyalakan. Listrik kembali mengaliri rumah kami; menghidupkan kembali lampu, AC, kulkas, dispenser; mendentingkan kembali keyboard dan kami pun bernyanyi-nyanyi. Semua kenyamanan ini… kemudahan ini… telah diberikan alam pada kita semua selama bergenerasi-generasi. Cuma-cuma. Jika sejam berpuasa dari itu semua dapat menolong alam untuk bertahan, tidakkah itu menjadi hadiah yang mudah, murah, sekaligus tak ternilai harganya?

54 comments:

Echi said...

coba ngelewatin hari raya Nyepi di Bali deh mbak Dewi..
Tanpa listrik, tanpa api, Tanpa bepergian..
Gelap.. tenang... damai...

Ronald Ambatoho said...

selamat sore..

sebenernya kita beruntung Mbak, karena kita dimatiinnya pas malem2.

Bayangkan belahan bumi lain yang harus dimatikan di siang hari, dimana aktifitas umumnya dilakukan.

Salam bumi.

sararocks said...

i read an article about you on JEUNE magazine :]
it's pretty surprising finding you there actually .


I didn't turn off the light, I mean not all the lights in my home, I left my center room's light on because I hate when the cicaks walk around me without me seeing them :]

Ulin said...

Dee, minta ijin ya link blogmu ke blogku, tks b4...terus berkarya ya..

M Mushthafa said...

Kalau di tempat saya, di pedalaman Madura, PLN rupanya sangat cinta lingkungan, sehingga sering berinisiatif untuk memadamkan lampu--bahkan tanpa pemberitahuan.

Septi Sutrisna said...

bagaimana dengan nyamuk? apakah dia juga mau berpartisipasi untuk tidak bergerilya ketika hening menyerta. apakah dia mau berhenti mendengung -nguiiinggg- atau sekedar menurunkan volume-nya yang bising itu? ah namanya juga nyamuk, nggak ngerti apa yang kita mau.

septisutrisna.blogspot.com

Met-met said...

yaaayy!!! Earth hour kmaren bener2 luar biasa. Kegelapan, malah bikin aku sama keluarga bisa ngobrol lebih asik. Sayang, di perumahanku, cuma beberapa orang yang matiin lampu sampe rumahnya gelap total. Aku salah satunya. kayaknya satu jam sekali setahun terlalu sedikit. Ga kerasa banget. Mudah2an nanti earth hour bisa dilaksanakan sebulan sekali. amin...

Muzda said...

Di komplek saya, terang benderang.
Cuma satu rumah ini yang rela..

:D
Salam dari Jogja

Sebuah tempat seperti telaga, bernama safar.... said...

tentu saja mbak dee sudah pernah melewatinya, pada postingan "diam di bumi" http://dee-idea.blogspot.com/2008/04/diam-di-bumi-dalam-perjalanan-saya-ke.html sungguh melukiskan keadaan itu

Widey said...

kalau di daerah saya hanya rumah keluarga saya yg mematikan lampu. terlihat aneh diantara nyala lampu terang dr rmh sekitar tp akibatnya kami tidak terlalu merasa kegelapan dan adik saya pun tidak takut. salam kenal, mbak dee : )

chi2k_path_ni said...

Wah mba dee..
Di daerah saya kurang lebih dari tahun 2002 sudah memadamkan aliran listrik mba. 6 jam sehari, 3x seminggu. Mulai awal tahun ini aja jadi 3 jam sehari, 1x seminggu.
Jadi memadamkan aliran listrik selama 1 jam, terealisasikan tanpa kendala.
Hehehe.

phi said...

iya ternyata orang2 masi peduli :)
kmr keluar apartmen, diliat dr luar lampu2 pada mati..cm kaya bangunan persegi panjang dgn kotak2 hitam..rasanya bahagia ya, ngeliat org2 trnyata bisa dijadiin satu untuk misi bersama :)

Imam Wahyudi said...

But an hour is not enough
It suppose to raise concern for earth, for energy, to show how it will be if not using all the electricity consumers we daily use

Are they put it off for facebook post, email post, or to say that it's a lifestyle.

Or they would think then, 15 years from now, when Indonesia's oil deplenished, and we are not ready for our renewable system, our day will always be like that hours.

hganapati said...

Saya juga ikut berpartisipasi, mba Dee....tapi sayangnya ga semua rumah yang disekitar rumah saya ikut melakukan hal yang sama.....

Saya juga sering menyaksikan di NatGeo tentang diskusi-diskusi "sekarat"nya bumi kita ini...memilukan memang....

vie_three said...

ternyata lewat pemadaman lampu, hubungan kita juga bisa akrab..... dibalik semua itu ada hikmah yg sangat besar.....

salam kenal dari surabaya mbak....

Kabasaran Soultan said...

Setuju sekali. Apalagi hadiahnya bukan untuk siapa-siapa. Hadiah yang pantas untuk diri kita sendiri

intan bercerita said...

mbak dee, sepertinya di daerah rumah mbak dee banyak yang berpartisipasi ya, sayang sekali di sekitar rumah saya (di bandung) kurang begitu banyak yang peduli dan berpartisipas dalam kegiatan itu, semoga mereka lebih sadar ya

jan phaiz said...

saya di kost-kostan teman di jakarta saat earth hour,, untung dia sedang pergi keluar, jadi saya bisa turut bergelap-gelap ria sendiri di kamarnya (hingga tertidur ^_^)

sayangnya, hanya kamar yang saya diami yang turut berpartisipasi,, suara bising mesin dan teknologi berlistrik masih menghiasi malam minggu kemarin,, belum lagi puluhan tower apartemen yang gagah berdiri tepat di seberang komplek kos-kosan, masih terang benderang,,
T_T

labellavita said...

saya gagal, huhu...
tersisa dua lampu dan kulkas.

maaf ya, Bumi...

Ovi said...

saya pikir,
seandainya kita menyempatkan lima menit saja utk mematikan semua barang elektronik (secara total seperti ketika earth hour) di rumah setiap hari...

mungkin bencana alam tak akan menjadi berita bulanan di media massa. amin.

sejenaksaja said...

iya , bener mbak

keesokan haris etelah nyepi

langit sangat biru , cerah nan indah

;)

Wisanggeni kecil said...

Ya. . ,saya juga ikut bergelap gelapan. Sembari bernostalgia dengan masa kanak saya.Dulu pernah saya alami hampir empat tahun melewati panjang malam tanpa sumber penerangan.Cuma satu lampu minyak tanah untuk menerangi dua bilik keluarga yang cuma tersekat kelambu.Sekarang , saya melakukanya lagi,ditengah aktivitas kota yang serba wah, saya mendapati diri saya mendadak renta sebelum waktunya.Saya ingat bumi.Saya bersinggung memperkirakan usianya.Kalau bukan dalam momen seperti ini , kapan lagi kita sadar diri ?

eCHo CoLaTE said...

aku kemarin tidak bisa.

daerahku sendiri juga udah sering mati lampu makanya gak perlu matiin lampu juga.

seingetku sih hari sabtu kemarin malah mati lampu

PLN tahu earth hour en menerapkannya di daerahku rupanya

ezrasatya mayo said...

ya, lampu saya padam. saya jg mengajak orang2 terdekat saya untuk mlakukan hal yg sama. saya menyadari bahwa apa yg terjadi kemudian adalah dalam kuasa si pengguna listrik, namun saya merasa puas, setidaknya saya telah melakukan tugas saya. karena hanya sejauh itu yg dapat saya lakukan

Dewi Lestari said...

To Ronald:
Pukul 20.30 - 21.30 adalah konsensus waktu lokal di masing-masing negara yang berpartisipasi, jadi mau di manapun, semua memadamkan lampunya pada jam tsb. Nggak ada yang kebagian siang2, kok :)

To Sara:
Yep. Saya baru diwawancara Jeune, interesting interview. Akan diturunkan sebentar lagi di Dee-Interview.

To Imam Wahyudi:
Menurut saya, permasalahannya bukan soal cukup nggak cukup. Namun ini sebuah gerakan kepedulian global yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia. Kita nggak pernah tahu ukuran cukup itu seberapa. Dan barangkali nggak banyak berguna juga. Karena yang lebih penting menurut saya adalah kemauan dan tindakan nyata. Terlepas itu status FB atau sekadar lifestyle, Jakarta berhasil menghemat 50 Megawatt akibat Earth Hour, dan 180 MW untuk se-Jawa Bali. Belum lagi dengan ratusan kota lain di dunia. No matter how small, it's a gift to Earth nevertheless.

Dan untuk yang PLN-nya "peduli lingkungan", memang masih banyak tempat di Indonesia yang kekurangan pasokan listrik. Namun gerakan Earth Hour, menurut saya, ibarat berpuasa. Bagaimana kita mampu menahan nafsu makan/minum di tengah ketersediaan makanan dan minuman agak berbeda dengan tidak makan/minum karena memang keduanya tidak tersedia. Bagi saya, moral message dari Earth Hour adalah latihan menahan, dengan aktif dan sadar, bukan karena dipaksa keadaan.

Dan untuk Labellavita, nggak usah bersedih... karena dalam Earth Hour yang dianjurkan sebetulnya bukan total black out, melainkan mematikan lampu2/alat elektronik yang nggak perlu. Berhubung waktu itu saya dan Reza memang merasa cukup safe untuk memadamkan listrik rumah sekaligus, maka kita lakukan black out di rumah. Tapi tentunya belum tentu semua rumah bisa melakukan hal yang sama. Untuk Jan Phaiz yang kos-kosan juga, I think what truly matters is our active contribution, even though maybe it's only one light bulb :)


Salam,
~ D ~

Joe Dinatta said...

Turut mendukung program ini.
Go green!

andisays said...

menyenangkan tahu kalau banyak orang yang masih peduli dengan alam

deeyan said...

peduli global warming? jangan terhenti pada gerakan sejam pemadaman listrik itu. do more. bumi ini butuh lebih. kita gak bisa hanya menimpakan kesalahan pada Amerika karena emisi karbonnya yang tinggi. kalo es d kutub mencair akibat pemanasan global, bukan hanya benua amerika yang akan terendam. seluruh dinia terancam terendam karena perairan di bumi ini seluruhnya terhubung. so, plis do more. visit this blog:
http://www.jadilahsahabatbumi.blogspot.com/2009/01/blogger-indonesia-peduli-global-warming.html

titiw said...

Hi Mbak dee..
Bener tuh, menurut aku, gak peduli seberapa kecil, bumi akan sangat berterima kasih. Apapun agenda di balik itu. Mau dibilang lifestyle lah, mau dibilang ikut2an lah..
Sama aja kayak SBY nanem sejuta pohon, dibilang "Soo last year Mr. President!" ealah.. emang kenapa kalo baru mulai? drpd gak sama sekali?

Mungkin lebih ok juga kalau sosialisai earth hour ini dikumandangkan orang yang berwenang di Indonesia (baca: Presiden). Sehingga orang2 yang kurang mengerti juga ikutan.. :)

Eh kalimat terakhir mbak Dee bikin aku merinding disko nih.. hehe..

-Titiw- (yg gak bisa ikut ninggalin link krn gak pake blogspot..)

lediana said...

di daerah saya tak terlalu banyak orang yang mengikuti pemadaman lampu selama satu jam ini.
faktanya bukan bumi saja yang sedang sakit, kita semua juga sudah sakit.
apathis yang menjadi-jadi seakan-akan tak ada lagi kehidupan sesudah kita.
tak ada kehidupan selain diri kita sendiri.
jika ada yang berkata mulailah dari diri sendiri. lalu jika sudah, namun, ternyata hanya saya, kita. bisa berbuat apa.
nyatanya bukan bumi saja yang sakit. kita semua juga sedang sakit.

Neng Keke said...

Sayang banyak orang yang masih engga ngerti. Mungkin juga penyampaian pesannya kurang jelas. Kemaren pas Earth Hour, banyak yang nyangka ada pemadaman listrik bergilir. Pesan untuk mematikan listrik 60 menit, engga nyampe :(

Sayang ya...

lalabohang said...

mau sharing laporan situasi earth hour kemarin
http://www.boston.com/bigpicture/2009/03/earth_hour_2009.html

Inusa said...

Salute....masih ada orang peduli dg alam ini. yuk...sama2 kampanyekan ide utk melestarikan semesta ini.

Thanks

salam kenal Mbak Dewi

cherish said...

Hi mba Dee..

salam kenal, aku sudah lama ngikutin blog mba cuma baru skarang join hehe..

Senang kalo ternyata masih banyak org yang peduli sama bumi ini, walaupun banyak juga yang ga mau tau.
Banyak orang peduli bangat dengan kesehatannya, menjaga pola makan, olahraga secara teratur bla..bla..demi tubuh badani tempat nyawanya bernaung tetap sehat, tentunya dengan tujuan agar ga cepat mati.

Memelihara bumi, berarti memelihara nyawa, karna nyawa berdiam dalam tubuh badani, dan tubuh kita berdiam di bumi ini.
Bumi mati= tubuh juga mati

drexman said...

salam kenal mba dea...salut buat mu..

Rani Dewi Hapsari said...

Halo Mbak Dee, salam kenal.
Karena saya orang Bali sepertinya earth hour ini sudah diimplementasikan dari sejak dulu lewat Nyepi. Bahkan bukan sejam tapi 1 hari. Mungkin ide dasarnya bukan untuk kelestarian alam, tapi lebih ke keharmonisan jiwa dan raga. Waktu seharusnya manusia berkontemplasi dengan dirinya sendiri.
Sayangnya saya waktu itu sudah ketiduran dan lupa mematikan lampu depan dan ruang tengah....duh, jadi merasa bersalah.... Senang membaca tulisan Mbak. Takecare.

joe said...

faktanya adalah malah banyak dari kalangan kecil yang concern pada kampanye tersebut, sedangkan para pejabat yang seharusnya menjadi panutan bagi rakyat malah tidak pernah peduli...

MAY'S said...

Saya biasa mematikan lampu di malam menjelang.
saya dan suami biasa beraktivitas di luar rumah dari pagi sampai sore hari, pada saat itupun kami memadamkan listrik di rumah. Menyala hanya saat sore sampai sekitar pukul 12 malam, setelahnya mati lagi.

salam hangat

maya

gerrilya said...

mampir perdana mbak dee...kebetulan saya ke temapat saudara saya malam itu. semua lampu dimatikan, dan hampir semua peralatan listrik dimatikan, kecuali TV sebab tante saya mau nonton sinetron hehehe....

kok stasiun TV kita nggak ada yang ikut partisipasi ya? national geographic channel bisa jadi contoh tuh...

mo.za.rell.a said...

setuju dengan mas reza, saya juga tidak keberatan kalau harus memadamkan listrik seperti kmrn setiap bulan. pasti dampaknya bisa lebih besar

Tazkiyatunnafs said...

hehehe, perabotanx banyak y? gmn listrik klo g da momen gitu y?

aa'guh said...

iku padam mbak..
sampe aku tulis juga nih di sini

http://wicak.web.id/2009/03/28/selamatkan-bumi/

:D

salam kenal ya mbak dewi

mansunian said...

wah mau ikutan sharing juga dong...

kebetulan saya sedang menimba ilmu di negri sebrang nih, jadi banyak sekali perbedaan sudut pandang yang bisa saya bagi2 nih....

Di Melbourne sini, acara earth hour bakal dipusatkan di alun2 kota Melbourne (federation square), bakal ada panggung dan ada acara2 musik...

"Loh itu kan pake tenaga listrik juga, ngak earth hour dong namanya!"
Eh jangan salah, ternyata dari 2 minggu sebelumnya, sudah ada sebuah stand di sana yang terdiri dari 12 sepeda statis, yang mana siapa saja dapat mengayuh sepeda ini. Nah dengan prinsip lampu sepeda jaman dulu-yg kalo digowes menyala- energi yang didapat dari hasil kayuhan warga melbern itu disimpan, buat digunakan pas harinya.
hmmm, interesting.

Kira-kira jam 8.30 saya beserta teman2 se-kosan, berangkat menuju alunalun, kebetulan rumah tempat saya tinggal cukup dekat-hanya berjarak 20 menit jalan kaki (setelah mematikan semua listrik di rumah tentunya). Tapi sedikit kecewa, sebab sepanjang jalan suasana terlihat biasa2 saja, restoran buka seperti biasa, gedung2 tinggi juga menyala layaknya hari sabtu biasanya.

Yang berbeda, yah hanya dekat alunalun itu saja, misalnya: stasiun besar (yg jadi landmark kota melbern) yang lampunya luar gedungnya dimatikan-tapi dalamnya masih normal. Dalemnya sih tetep nyala dan beroperasi seperti biasa. Dan lagi-lagi toko2 di sekitar sana tetap normal seperti sedia kala.

Hmm, yah lagi-lagi earth hour cuma salah satu awareness campaign ttg isu climate change dan sustainable living. Jadi jangan berharap banyak kalau rekan2 di indo masih melihat banyak yang nga mau tergerak dengan acara semacam earth hour ini.
Sebab emang enggak semudah itu. Di sini aja, yg warganya yg selalu dibombardir dengan campaign ttg sustainable living di tivi, di trem, di koran, di tempat umum, di mana saja - masih cukup sulit!

jadi, saya sih optimis2 saja kita semua dapat berubah. Cuma masalah waktu saja, kalau semua orang sadarnya cepat cuma butuh 10 tahun, kalau lama yah... 100 tahun lagi! Dan kita bakal keduluan sama perubahan iklim itu sendiri!

DONdikr said...

:D saya malah matiin lampunya sejak jam 19.00-23.00, dan tertidur pulas. Abisnya, kerjanya jam 23.00 ya wez... nggak tau diluaran kayak gimana... cuman paz malemnya kayak e bulan terang benderang dienk dikota kecil saya... huhuhu...

Salam kenal Mbak Dee...
hehehehehehe...
Moga langgeng ma yang baru... :)
~Dr~

TaTa said...

Dee, mau tanya. Kalau mau beli novel perahu kertas dimana yah ? Saya sudah berulang kali tanya ke Gramedia kok selalu gk ada alias kosong. Thanks

ima said...

hi mba..
aku tau blog mba dari temen :)

sayang, tapi orang2 itu mau berpartisipasi..mematikan lampu...sepertinya krn bukan mereka peduli dunia...tapi karena.. itu adalah "world's event" yang digembor2kan..

yah smoga aja, partisipasi mereka berlanjut terus meski 'event' nya udah selesei..

Dewi Lestari said...

Terima kasih untuk semua teman2 yang sudah berbagi pengalaman Earth Hour-nya...

Untuk TaTa: Novel Perahu Kertas memang belum keluar versi cetaknya. Jadi pasti nggak ada kalau dicari ke toko buku :) will let you know when it's out. Akan saya umumkan di blog ini pastinya.

~ D ~

boyhidayat84 said...

sepi itu teman segala resah

thepenk said...

pada saat pemadaman, saya kecewa dengan beberapa warga di daerah saya tinggal, kok tidak mau memadamkan listrik/lampu mereka.. apalagi warnet dipinggir jalan itu, kayak "gak duwe duso ae"..

icha2paradise said...

hu uh, tante kos juga matiin lampu.
anak2 kos n tante kos juga om malah ngobrol2 di teras gelap2an.
lucu juga..tp sayangnya para tetangga ga banyak yg ikut matiin lampu..fiuuh..ga pa2 deh yg penting diri kita udah sadar dari..bukankah kl mau mengubah orang lain harus mulai dari diri sendiri??

AB.SatriaTataka said...

wah, klo masalah "matiin lampu" saya pernah tugas di luar jawa, dimana PLN di kabupaten itu cm ngandalkan diesel utk aliran listrik, jadi spy hemat, 2 hari sekali jatah mati lampu,jadi 2 hari nyala, 1 hari penuh mati lampu... 2 tahun sy merasakan hal kayak gitu,demikian juga ketika pindah tugas di daerah2 lain yg masih di luar jawa.kasihan mereka.earth houring every 2 day. ;-)

david said...

hidupkan listriknya!
tapi jangan buang sampah sembarangan.

science said...

pasti!
iam YOUTH AND IAM earth defender;D

Love Our OMEGA!! said...

setuju banget mbak masalh pemadamn tersebut, masing inget waktu 1 jam matiin lampu, sayangnya kok berlanjut iah, jadi pemadaman bergilir :(
kerjaan saya jadi sedikit terganggu