Sunday, April 12, 2009

Seratus Bagiku

Seratus Bagiku


Untuk pertama kalinya saya akan bercerita tentang sejarah “Seratus” dalam hidup saya. Bukan karena cerita itu teramat penting dan besar, tapi justru karena keremehannya yang luar biasa. Dan remehnya itulah yang menarik bagi saya.

Dalam sebuah pembicaraan iseng dengan Reza, dia berceletuk tentang satu jajanan legendaris tahun ’80-an bernama “Es Jolly”. Otak saya langsung berputar dan menggali kenangan tentang Es Jolly. Siapa yang (dulu) tidak kenal Es Jolly? Seperti Oreo di masa sekarang yang terkenal dengan kredo “diputar, dijilat, dan dicelup”-nya, maka Es Jolly pada masa itu terkenal dengan gerakan mematahkan batang es menjadi dua, lalu menyeruput dengan hebohnya sampai pipi kempot.

Es Jolly begitu kencang didagangkan dan diiklankan. Saya, yang pada saat itu masih SD, juga jadi korban iklan. Saya hafal mati ritual mematahkan dan menyeruput batang esnya, saya tahu bahwa rasa yang paling difavoritkan khalayak adalah Orange dan Grape, tapi saya pun tersadar akan sesuatu yang aneh… kok, rasa-rasanya saya sendiri belum pernah mencicipi Es Jolly. Reza melongo tak percaya, “Masa belum pernah?” serunya. Saya mengingat-ingat lebih keras. Melintaslah kenangan Dewi kecil yang berpura-pura mematahkan es lalu menyeruput udara hampa dalam kepalan tangannya, air liur yang mengumpul saat membayangkan sensasi rasa Es Jolly yang ramai dibicarakan orang… dan, ternyata memang benar: saya hanya sering berkhayal menikmati Es Jolly, tapi pada kenyataannya saya belum pernah mengecapnya sekalipun.

Saya lalu iseng menelusuri misteri tadi: mengapa? Mengapa saya tak pernah mencicip Es Jolly?

Penelusuran itu lantas mempertemukan saya dengan sekeping logam. Seratus perak. Angka keramat yang menghiasi ribuan hari-hari saya sewaktu kecil.

Setidaknya empat tahun terakhir masa bersekolah saya di SD, ibu saya dengan setia memberikan uang jajan yang sama: seratus perak. Mungkin karena pada masa itu inflasi tidak meroket dengan kecepatan menggila seperti sekarang, saya bisa bertahan empat tahun dengan jumlah uang jajan yang tetap.

Seorang anak SD bertubuh ceking, dengan logam 100 perak di kantong, haruslah pintar-pintar menata energi tubuhnya dalam enam jam bersekolah dengan dua kali slot istirahat. Setiap bel istirahat berbunyi saya punya jatah 50 perak untuk menuntaskan dahaga serta mengenyangkan perut. 25 perak untuk satu jenis makanan. 25 perak untuk satu jenis minuman. Demikian seperti itu setiap hari.

Jika saya ngiler pada satu makanan atau minuman yang harganya di atas 25 perak, maka neraca keseimbangan saya bubar. Terpaksa memilih satu: menahan haus atau menahan lapar. Jika beberapa dagangan favorit tertentu baru muncul pada jam bubar sekolah, saya pun harus rela gigit jari sewaktu istirahat karena 50 perak saya terpaksa ditahan pemanfaatannya sampai jam 12 siang nanti. Tanpa terasa, hidup saya bergravitasi di angka “selawe” (istilah nasional: 25 perak). Apa pun yang selawe berarti di dalam jangkauan, sementara apa pun yang di atas selawe berarti pengorbanan atau cuma jadi khayalan.

Berikut daftar menu standar saya saat bersekolah:
  • 1 bala-bala (istilah nasional: bakwan) dan 1 limun (sirup kuning dalam plastik dengan sedotan berdiameter super kecil yang elastis)
  • 1 cilok (singkatan dari: aci dicolok) ukuran besar dan 1 es lilin yoghurt
  • 1 pisang goreng dan 1 es nangka
  • 1 bungkus kerupuk (atau dua bungkus, karena kadang-kadang masih ada yang harganya selawe dua) dan 1 buah iris
  • 1 kue bandros (istilah nasional: tidak tahu) dan 1 es teh
  • … dan aneka kombinasi makanan berharga selawe lainnya.
Misteri Es Jolly terungkap sudah. Meski saya tidak ingat persis berapa harganya, bisa dipastikan bahwa Es Jolly berada di luar jangkauan”orbit” seratus perak saya. Terjawab jugalah mengapa saya baru mencicip rasa Teh Botol di bangku SMP: karena Teh Botol dulu harganya 75 perak. Benar-benar mengacaukan neraca ekonomi. Saya hanya sanggup melirik teman yang menyeruput Teh Botol berbongkah es dalam plastik sambil menerka-nerka: kayak apa sih rasanya? Terjawab pula mengapa saya baru mencicip Coca Cola—juga—waktu SMP. Karena harganya seratus perak.

Keluarga saya bukan tergolong keluarga miskin. Walaupun cenderung sederhana, kami termasuk keluarga ekonomi menengah yang masih sanggup menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi, punya satu mobil, rumah yang cukup luas, dan makanan bergizi setiap hari. Namun saya tidak pernah tahu alasan pasti kenapa ibu saya selama empat tahun hanya memberikan uang saku 100 perak. Barangkali itulah yang akan tetap bertahan menjadi sebuah misteri. Karena ketika beranjak besar barulah saya sadar perbedaan pengalaman kuliner masa kecil saya dengan hampir semua orang yang saya temui. Rata-rata mereka mencicip jajanan yang saya cicip, tapi saya tidak mencicip apa yang kebanyakan dari mereka cicip.

Selingkar koin seratus menjadi tempat saya berputar selama bertahun-tahun. Sekali lagi, saya tidak tahu pasti manfaat penelusuruan iseng ini. Namun sejenak saya tercengang bagaimana kekuatan jumlah uang saku dan ruang yang dimungkinkannya dapat membentuk semesta pengalaman seseorang.

Bagaimana dengan pengalaman yang dihadirkan uang saku Anda?


EPILOG

Barangkali akibat pengalaman masa kecil tersebut, inilah satu kebiasaan yang (entah kenapa dan entah bagaimana) bertahan hingga hari ini saat usia saya sudah kepala tiga:



PS-1. Ide epilog ini dicetuskan oleh Reza, yang tadinya saya mintai tolong untuk mengambil gambar tangan saya memegang sekeping uang 100 perak, tapi setelah dia melihat “koleksi” saya, dia merasa bahwa kantong tersebut lebih menarik dijadikan objek gambar sekaligus kesimpulan tulisan ini (sambil dia tertawa terbahak-bahak, tentunya). And… yeah… I think he’s right.

PS-2. Isi kantong itu sudah berkurang tiga perempatnya karena koin 500-an sudah dipakai untuk bayar parkir dan tol, sementara sebagian besar koin lainnya sudah saya “recycle” untuk Keenan berlatih menabung di celengan.

72 comments:

Kabasaran Soultan said...

Saya jadi teringat sebuah pepatah lama :
"Alah bisa karena biasa"
Bersering-sering bermain ular lama kelamaan bisanya ternyata bisa ngak working lagi di tubuh.
Atau bisa juga ;
Seperti yang si ibu lakukan dengan memberi uang jajan seratus perak ternyata kamu lama-lama bisa dengan cerdas menyiasati keadaan atau lebih tepatnya berdamai dengan kondisi yang ada.
Entahlah....

Pengalaman masa kecilku lain lagi. Kedua orang tuaku tidak pernah memberi aku jatah sejumlah tertentu, semuanya diserahkan kepada kami seberapa butuhnya dan uniknya lagi orang tuaku tidak pernah memberikannya secara langsung tetapi kamilah yang mengambilnya dari kotak penyimpanan uang.
Meskipun orang tua kami bukan berasal dari keluarga yang " kaya " dan "berpendidikan" namun satu hal yang luar biasa dari mereka adalah soal "keterbukaan" dan didalamnya termasuk bagaimana soal kemampuan financial mereka.
Pesan mereka kepada kami diawal-awal prosesi mengambil uang jajan dari kotak penyimpanan adalah " ambillah secukupnya dan terukur".
Hebatnya lagi ternyata tidak ada dari kami anak-anaknya yang nakal mengambil sesukanya.
Pelajaran luar biasa yang aku peroleh dari cara unik orang tuaku tersebut adalah : Terbuka ( dalam hal apa saja ) serta memberikan kepercayaan penuh adalah salah satu cara jitu untuk mengajarkan anak bertanggung jawab dan mengerti keadaan.

ViNa said...

wa..100 yah? hmm..waktu jaman ku sd, udah dikasih 500..cuma dapet seporsi bakso aja hoho

Henny Y.Caprestya said...

wah..aku yang pertama ya mbak dewi
:)

masa sekolah dasar tiap anak memang berbeda-beda. Ceritaku sendiri misalnya, kalau tidak salah hanya 1000 rupiah, tapi untung saja aku masih sempat mencicipi makanan-makanan yang lagi "in" pada saat itu.

Veridiana said...

Dee, salam kenal ya...

Tulisan kamu ttg uang seratus membangkitkan kenangan saya yg hampir mirip. Kita kira2 seumur. Saya juga alumni Unpar angkatan '95.
Saya juga dari keluarga yang sederhana di Bandar Lampung, minim dalam menikmati kesenangan materi, karena prioritas penghasilan ayah adalah untuk menyekolahkan 6 org anak di sekolah yang baik kualitasnya.

Saya tergoda utk meninggalkan komen di sini utk sedikit sharing mengenai nilai uang seratus di masa kecil saya. Ini menyangkut inflasi saat itu :)

Dulu uang saku saya waktu SD Rp.200,- selama kira-kira 4 tahun. Yang saya ingat, seringkali saya habiskan untuk Rp.100,- utk 1 bgks limun, Rp.100 untuk 1 potong donat meises. Atau donat meises diganti dengan 4 butir permen collin coklat, atau kue lainnya.

Sehingga saya agak bingung dengan nilai uang Rp.50,- yg Dee bilang bisa dapat 1 minuman dan 1 snack di masa itu, krn nilai dan jumlah jajanan kita kira2 setara kan?

Hehehe...gimana? Coba deh ingat2 lagi, apa betul pada masa itu uang selawe masih bisa beli sepotong snack atau sebungkus es nangka? Saya saat itu di luar Jakarta lho...

Ini cuma komen iseng, Dee. haha..
Enggak perlu dicantumkan di blog. Sekadar say hello & salam kenal. Saya sering baca blog Dee, saya suka tulisan2 Dee di sini :)

heRRu said...

Teteh beruntung. Uang jajan saya kelas 1 SD cuma salawe, kelas dua naek jadi limapuluh, terus tiap tahun naek salawe, hingga kelas enam dapet 150. Waktu SMP kelas 1 langsung dideflasi jadi 250. Terus mampet, karena bapak saya keburu gak ada. Jajan jadi suatu kemewahan buat saya saat itu.

Efeknya, sampai umur sudah kepala tiga, saya rindu jajanan masa lalu, yang tidak sempat saya cicipi. Tapi kemana harus dicari saat ini?

O iya, kalo gak salah bandros teh bahasa nasionalnya kue pancong.

Vicky Laurentina said...

Mbak Dewi, duit jajan saya dulu juga cuma 100 perak. Itu pun kalo saya minta. Kalo saya nggak minta, nyokap saya nggak ngasih. Dan saya nggak pernah minta duit jajan kalo saya nggak kepingin banget. Pelit? Atau irit?
Yang pasti, gara-gara pengalaman jajan saya yang minim itu, saya nggak pernah tau rasanya diare..

Jenny Jusuf said...

I feel bad about this, tapi sumpah gak bisa berhenti ketawa. Maap Mbak! Hyahahahah.

Tentang pengalaman saya dengan uang saku... well, yang paling saya ingat adalah Ibu saya selalu membekali saya dengan selembar lima ribuan ketika saya duduk di bangku sekolah menengah, yang meningkat menjadi enam ribu setahun berikutnya, di saat teman-teman saya yang lain mengantongi duapuluh ribu rupiah, atau minimal, sepuluh ribu. Dan apa pun jenis kegiatan saya di dalam dan di luar sekolah (olahraga, praktikum, les bahasa inggris, dsbnya), uang itu harus mencukupi sampai pulang sekolah. Hasilnya, saya jadi rajin bawa bekal sendiri dari rumah. Dan saya mengalami masa-masa penuh kenangan indah ketika saya dan seorang sahabat mengumpulkan logam demi logam yang tersisa di kantung demi patungan membeli beberapa gorengan, teh manis di pinggir jalan (bukan teh botol), naik angkot yang diseling dengan jalan kaki, dan banyak lagi. :-)

Ketika kelas 3 SMU, orangtua saya menerapkan sistem bulanan, dimana uang saku saya dibayarkan dua kali dalam sebulan. Agak mengingatkan pada tukang kredit memang. Uang saku saya waktu itu 280ribu, yang diberikan sebanyak 200 ribu pada awal bulan, dan sisanya menjelang akhir bulan, tanggal 20-an.

Jumlah itu harus mencukupi untuk beli pulsa (karena waktu itu sudah mulai bergaya dengan handphone), jajan, ongkos, online di warnet dua kali seminggu (sudah mulai banci chatting juga waktu itu -- untung belum kenal blog, thank God!), ongkos menelepon interlokal di wartel sekali seminggu (waktu itu ada seseorang yang harus saya hubungi secara rutin), dan itu belum termasuk perpuluhan serta persembahan untuk gereja. Belum lagi kalau mau jalan-jalan dengan teman-teman, walaupun saya tidak termasuk kategori anak gaul (wait... mungkin itu sebabnya saya nggak gaul, ahahaha).

Sejak remaja, saya sudah terbiasa melakukan budgeting setiap kali menerima uang. Dan sejak kelas 3 SMU saya sudah menyusun pembukuan kecil-kecilan untuk diri sendiri, layaknya ahli ekonomi tulen.

So that's WHY. Dan saya masih tidak tahu kenapa saya menuliskan ini semua DI SINI, dengan resiko diketawain habis2an oleh seseorang pada hari Rabu nanti. ;-D

Dewi Lestari said...

To Kabasaran:
Very nice sharing :) Saya suka konsep yang dijalankan orang tuamu.

To Vina & Henny & Veridiana:
Selain angkatan yang berbeda, barangkali lokasi yang berbeda juga menentukan. Saya lulus SD angkatan 86/87, dan pada zaman itu di Bandung masih banyak jajanan seharga 25 perak, termasuk sepotong pisang goreng. Saya malah kaget kalau limun dijual 100 perak. Karena bagi saya itu bisa beli Coca-Cola sebotol :) Baru akhir SMP harga gorengan melonjak jadi 50 perak per potong.

To Herru:
Wah. Ini lebih luar biasa lagi. Boleh tahu kamu angkatan berapa dan sekolah di kota apa? Karena kalau jajan harian 25, buat saya dulu, cuma bisa beli satu jajanan. Kecuali waktu saya masih kelas 1-2 SD, tahun 81-82'an gitu, masih lumayan banyak makanan seharga 5-10 perak atau 25 perak dapat dua. Dan benar sekali! Istilah nasional untuk "bandros" adalah kue pancong! Ha :)

To Vicky:
Mungkin karena saking sukanya jajan, hehe, dengan uang saku 100 perak, saya tetap sukses kena Tifus waktu kelas 4 SD :)

Thank you all,

~ D ~

didut said...

eh dee...udah tau gerakan ini belom?

http://coinachance.com/

maaf hanya komen spam kali ini :D

Fahd Djibran said...

bekel (saya menyebutnya begitu, bukan 'bekal' atau 'uang saku') saya waktu SD disesuaikan dengan grade saya:

Kelas 1 (1993):
100 perak, cukup untuk jajan cilok dan bala-bala (50), dan es teh (50). Kadang-kadang saya beli bandros. Saya selalu ngiri sama teman-teman yang bekelnya 500-1000 waktu kelas 1, mereka bisa mengembangkan variasi jajanan yang beragam. Saya naik mobil jemputan. Uang nabung di bu guru: 100.

Kelas 2 (1994):
200. Cukup untuk beberapa variasi makanan salawean: bala-bala, cilok, kurupuk lada, bandros, ciwel (silakan bertanya untuk keterangan lanjutan). Es teh (tetep), lima puluh. dan 50 lagi gambar tempel atau nyewa "game watch" selama istirahat. Saya naik mobil jemputan. Uang nabung: 100-150.

Kelas 3 (1995)
Tahun ini saya berhenti naik mobil jemputan alias mulai belajar naik angkot. Bekel: 400. Untuk angkot bolak-balik: 200. Jajan tak jauh berbeda dengan kelas 2. Hanya kadang-kadang saya beli "putu ayu". Uang nabung: 200-300. Di tahun ini saya mulai menulis puisi atau cerpen di PeeR Kecil: honornya lumayan, 15.000 - 25.000, saya jadi bisa beli mainan baru, sisanya ditabung.

Kelas 4 (1996):
Saya tertabrak motor di akhir kelas 3. Masuk rumah sakit dan tidak sekolah hampir sebulan. Naik mobil jemputan lagi di tahun ini. Bekel: 500. Jajan: kurupuk lada, bala-bala n gehu, cilok n ciwel, bandros n putu ayu, coklat ayam jago, wafer superman, dll yang harganya sama. Es teh. Nyewa game watch, gambar tempel, kartu, dll. Nabung di bu guru: 500.

Kelas 5 (1997):
Tahun ini krisis ekonomi, harga-harga naik. Bekel saya naik juga secara otomatis jadi 750, tapi variasi jajanan tak jauh berbeda. Banyak merek ciki baru: tic-tic, fuji mie, anak mas, mie remes, dll. Bala-bala, gehu, cilok, es teh, dll tetep. Nyewa game watch, main ding-dong, dll. Nabung di bu guru: 500-750. Di tahun ini saya mulai "bisnis" memfotokopi gambar saya untuk diwarnai. Dijual ke anak-anak kelas 1-3, nitip di adik saya yang cewek untuk dijual di kelasnya. Penghasilan: 500-1000. Penghasilan ditabung di bu guru.

Kelas 6 (1998):
Bekel: 1000. Karena saya berhenti naik jemputan lagi, sudah besar. Kali ini variasi jajan mulai banyak. Bubur ayam: 250. Mie ayam: 500. Es teh: naik jadi 150 (kelas 4 jadi 100). Masih berbisnis fotokopian gambar "jiplakan". Mulai merasakan Beng-beng dan limun campur soda (150)--sebelumnya limun aja: 75. Nabung: tidak nabung.

Itulah masa kecil saya. Thanks postingannya, Mbak Dewi. Jadi mengingatkan saya pada kenangan masa kecil. :) Saya anak kecil yang nakal, tapi menurut saya cukup kreatif untuk anak-anak seusianya--karena desakan ekonomi terutama, keluarga saya saat biasa-biasa saja secara ekonomi, menengah ke bawah. Ukurannya: tidak punya mobil. :)


Fahd

Fahd Djibran said...

Tambahan ya mbak: pada tahun-tahun seperti itu, jumlah uang bekel saya masuk di kategori "tidak lazim", lho. Sebab temen-temen saya sudah bekel 500an di kelas satu, dan di kelas 6 ada temen yang bekel sampe 8000. Tapi untunglah di bandung masih ada jajanan salawean dan lima puluhan yang cukup variatif. :)

Oh ya, Es Jolly tidak dikenal di era saya. Atau saya yang nggak gaul. yang terkenal makanan seperti "wafer superman" dan "anak mas". Kalo pereman: Jagoan Neon. :)

ray march syahadat said...

Ya,,, masa kecil penuh dengan hayalan. Indah. Saya ingin kembali di masa itu. Dulu saya ingin cepat dewasa agar tahu semuanya. Kini setelah mengetahui semuanya saya rasanya ingin tidak tahu. Indahnya hari-hari penuh kasih sayang, tanpa beban, bersama keluarga tercinta, keceriaan. Kini semua harus dijalani sendiri karena sudah mengetahui semua misteri dunia dewasa. Sebuah kesimpulan yang terkadang ingin diakhiri, "semua terasa sangat berat".

shinta-story said...

mbak dee..
jadi inget waktu jamannya aku dulu seratusnya mbak dee mungkin senilai dengan 500 jamanku, ya kira-kira segitulah.. namanya anak-anak berapapun dikasih kayaknya ga bakal cukup, semuanya pengen dibeli, selalu ada rasa iri kalo ada temen yg bisa jajan dengan seenaknya tanpa perlu mikir -mikir uang saku mereka.tapi kembali lagi dengan kondisi keuangan orangtua kita. dan keluargaku termasuk keluarga sederhana yang hanya mampu membekaliku dengan 500 perak itu.

salute buat mama-papa ku, mereka membesarkan aku dengan memberikan sedikit pelajaran tentang "Mulai dengan yang sulit, karena belajar sulit itu mudah-mudah susah..tapi kalo belajar senang mah gampang, kata mereka.

balik lagi dengan 500 tadi..
biasanya kami selalu membagi uang tersebut menjadi 300 untuk jajan disekolah dan 200 untuk jajan dirumah nanti sepulang sekolah.

dengan 500 saja aku sudah susah payah membelanjakannya disekolah, apalagi dengan 300 perak.
tapi ini memang cara yang paling jitu, komplek tempat aku tinggal sore hari adalah ajangnya anak-anak seumuranku jajan,jajanan waktu itu seperti goreng pisang, ubi, dan gorengan lainnya. bisa berabe kalo uang saku sekolah tadi hanya aku habiskan disekolah, bisa-bisa aku gigit jari sepulang sekolah. dengan alasan itu akhirnya aku menuruti ajakan kakak perempuanku untuk menimbun uang 200 tadi di halaman rumah kami,tidak ada tempat lain waktu itu yang kami pikir sangat strategis selain menguburnya di dalam tanah di halaman rumah...
kalau ingat masa-masa itu aku geli sendiri jadinya...

lucu juga ya kalau kita mengingat kembali masa kecil kita dulu...masa kecil yang indah, bila di ingat membuat kita tersenyum,..masa kecil yang kelabu menyisakan pelajaran hidup buat kita di masa depan



-asd-

ezrasatya mayo said...

Pada waktu SD, saya tidak pernah jajan. Walaupun ibu saya setiap hari sekolah selalu memberi 500 Rupiah. Saya tidak ingat apa tepatnya yang ada di pikiran saya ketika saya melihat teman-teman yang lain jajan. Saya hanya ingat waktu itu saya sarapan di rumah dan pulang sekolah pasti saya langsung pulang ke rumah untuk makan. Jadi bila nanti setelah sekolah saya mau bermain, setidaknya saya tidak pergi dengan perut lapar. Saya juga ingat waktu itu ibu membelikan celengan berbentuk apel. Ibu bilang itu untuk tempat menyimpan uang jajan bila ada sisa.

Seingat saya, saya mulai jajan sejak SMP. Itupun kalau ada aktivitas tambahan seperti les atau kegiatan ekstrakurikuler selepas sekolah hingga tidak memungkinkan bagi saya untuk pulang ke rumah dulu.

Saya ingat saya tidak pernah meminta dibelikan apapun kepada orangtua saya. Saya ingat saya pernah menciptakan permainan sendiri dengan bermodalkan kertas dan pensil. Melihat permainan itu, bapak saya menanyakan apakah saya mau dibelikan gamewatch. Tentu saja, kata saya dalam hati. hehe..

Saya tidak yakin pelajaran apa yang diberikan oleh orangtua saya dulu itu. Saya hanya ingat saya dan adik saya tidak pernah meminta. Tapi kalau diberi, ya kami berterimakasih. Mungkin itulah yang menyebabkan saya sekarang dianggap oleh teman-teman saya sebagai orang yang tidak ambisius. hehe.. Mungkinkah pesan moralnya adalah latihan menahan, dengan aktif dan sadar, bukan karena dipaksa keadaan, seperti tanggapan mbak terhadap salah satu komentar di post "Padamkah Lampumu Semalam"? Kalau itu memang benar, saya jadi bertanya-tanya dari mana kesadaran itu datang? Saya dan adik saya hanyalah siswa SD

Andri Journal said...

Sebentar lg kayaknya es jolly bakalan masuk infotainment nih. :D

vie_three said...

jadi inget semasa SD, saya yang selalu berdua bersama teman yang jugak anak dari teman akrab dan teman kerja ibu saya sehingga saya dan anaknya pulang dan pergi sekolah selalu bersama-sama, hanya saja saya dan dia beda ekonomi. Dia yang uang jajannya saat itu sudah mencapai 500 (yang pada saat itu 500 udah termasuk banyak bagi anak SD waktu saya sekolah) dan saya hanya dikasih uang saku 200 itupun kalau ada duit, kalau tidak ada ya 200 itu harus cukup untuk 2-3hari.

dan setiap istirahat untuk jajanpun, aku dan dia selalu bersama tapi jajan yang kami beli atas dasar uang jajan kami pastinya akan berbeda walaupun kami bersama-sama, dan yang lebih mengenaskan saat itu adalah temanku itu tidak pernah mau membagi sedikit jajannya hanya untuk saya, walaupun saya tidak menginginkannya toh namanya anak kecil.

Jadi ingat kenangan ituh, dan untuk es jolly pun aku jugak belum pernah sekalipun mencicipinya, hehehehehehe. Kita senasib mbak dalam hal es jolly.

Dewi Lestari said...

To Jenny:
Penjelasanmu mengungkap perbedaan generasi antara kita! Wakakak... Karena waktu saya kuliah (yang padahal kuliahnya di universitas swasta), SKS saya masih sempat harganya cuma 16 ribu. Jadi mendengar anak SMP pada zamanmu bisa dapat uang saku harian 20 ribu really sounds SO surreal for me! :)

To Fahd:
Canggih banget sih, dari SD udah dapat honor menulis :) Betul sekali, saya pun menggunakan istilah 'bekel'. Dan setuju, di Bandung (dan Jawa Barat sepertinya) masih banyak jajanan murah meriah di bawah 100 perak. Jadi, meski kualitas dipertanyakan, makanan-makanan itu mampu membantu anak2 berjajan 'tak lazim' untuk bertahan :) FYI, wafer Superman dari zamanku dulu sudah ada, juga cokelat ayam jago, cokelat Tulip, dan cokelat payung. Sementara Es Jolly, anehnya, meski heboh banget, tapi ternyata nggak bertahan lama. Banyak generasi yang tak sempat mencicipi kehebohannya, termasuk saya (karena alasan yang sudah diungkap dalam posting)...

To Shinta:
Ide mengubur uangnya keren juga. Kalau ditemukan kan rasanya seperti menemukan harta karun :)

To Ezra:
Salut karena tak pernah meminta dan sanggup bertahan di sekolah tanpa jajan! Waktu SD dulu, mata dan lidah saya sepertinya terlalu penasaran untuk nggak bertualang. Dan saya juga nggak gitu suka sarapan, hehe...

Makasih untuk semua yang udah sharing,

~ D ~

a piece of echa said...

Mbak Dee.. aku dpt 100 perak jaman TK dulu.. sekitar th 83-84.. itupun buat jajan orang2an.. mainan yg lagi hits pd masa itu.. kalo makanan lebih sering dibawakan mama dr rumah.

Sampe kuliah di tarq pun.. uang saku -ku hanya Rp. 5000,- plus ongkos.. tp kow kayana nikmat aja wlp sedikit.. hihihihi

Sekarang bingungnya.. kalo nanti anakku sekolah brp ya ngasih uang jajannya?? skrg apa2 serba mahal :)

Skylashtar said...

tempaan sama, tapi efek tidak serupa. karena dikasih uang jajan terbatas waktu sekolah dulu, sekarang, setelah bekerja dan punya uang sendiri. Eh, bukannya nabung atau hemat, malah 'balas dendam'; membeli dan memakan segala yang tidak pernah dijumpai dulu.

solitudetimes said...

mungkin kesadaran yang kakak tanyakan berasal dari sikap orang sekeliling yang berhasil menanamkannya. Baik melalui teladan maupun nasehat2 gitu. Karena kalau kita menasehati anak buat jangan boros atau apalah, tapi kelakuan kita juga masih ngga meyakinkan (boros, atau mulut berkata yang kotor2 atau sikap menunjukkan ketidakdisiplinan) si anak biasanya juga gitu secara sengaja maupun tidak.

Itu menurut pandangan saya sejauh ini si.. Jadi buat yg satu ini saya lebih suka dengan orangtua2 yg agak kolot; 'pelit' (tepatnya sederhana :-D) padahal maksudnya demi kebaikan di kedepannya, dan teratur.

heRRu said...

saya masuk kelas 1 SD tahun 79 di SD Cihaurgeulis, Cibeunying Kaler. Taun segitu mah uang salawe masih bisa gaya. Baso tahu aja 10 perak sebiji :-) Lagian SD jaman saya mah enggak seharian penuh seperti jaman sekarang. Jam 10/11 sudah pulang. Duitnya buat beli kumang atau langlayangan.

simplylee said...

Seingat saya, waktu SD dulu saya jarang dapat uang saku. Kalau pun dapat seingat saya cuma 100 rupiah juga. Ibu saya lebih suka membawakan bekal makanan kecil buat saya, yang dibuat bareng2 di rumah. Selain lebih irit, bapak saya termasuk orang yang "higienis", melarang anak2nya jajan sembarangan.

Kalau pun pengen punya uang jajan yang agak lebih, saya biasa cari "penghasilan" sendiri. Bisa dari jualan gelang, jualan makanan kecil bikinan ibu saya, atau menyewakan buku2 koleksi saya. Satu buku saya hargai 25 rupiah (selawe juga).

Jajanan favorit saya waktu itu Anak Mami (masih ada nggak ya sekarnag..?), sama wafer Superman, yang waktu itu termasuk jajanan mewah buat saya.

Pernah saking pengennya saya jajan, tapi nggak punya uang, saya nyuri recehan ibu saya untuk beli jenang gempol (saya nggak tau istilah Bahasa Indonesianya). Akibatnya, saya dimarahi habis2an dan nggak boleh masuk rumah sampai saya minta maaf. Habis itu kapok...!! Hehehe..

MAY'S said...

Wah... penelusuran yang membangkitkan minat saya...

sedari SD pengalaman saya yang ikut eyang tidak pernah membiasakan uang saku. dari rumah eyang selalu membawakan bekal, mie goreng, nasi goreng, roti isi, jadah, termos air putih itu pasti. sampai saya SMP kelas 2 itu tetap berlaku. Apa dan kenapanya itu juga misteri bagi saya.

Baru di kelas 3 SMP ketika eyang putri meninggal, saya diambil ibu dan ayah saya bisa merasakan menerima uang saku. 1000 rupiah dengan rincian 600 naik bis pulang pergi, sisanya kurang lebih 400 rupiah. Sewaktu ikut eyang, saya selalu ke sekolah naik sepeda. Namun ketika sama ayah, saya tidak boleh naik sepeda lagi, terlalu jauh katanya.

Tapi karena kebiasaan tidak jajan, saya bingung dengan uang yang saya terima. Maka ketika kakak-kakak lelaki yang baru saya akrabi memintanya, saya berikan saja semuanya...

salam hangat...

maya

sirojudinmursan said...

terima kasih, setiap kali anda menulis. tulisan anda sangat menginspirasi. saya menulis khusus tentang anda, kunjungi blog saya..

vincencia rininta e. said...

es jolly hmm ga pernah inget dengan es jolly mungkin krn kita berbeda era hehe..yang paling menarik dari tulisan mbak dee adalah soal ngumpulin duit receh hehe. saya juga punya kebiasaan yang sama sampe sekarang, ngumpulin uang logam 100,200,500 di dalam kaleng kosong bekas astor atau bekas wadah kopi :P soal uang jajan saya ga begitu ingat dapet uang berapa, yang saya inget waktu kecil sekolah ya bawa bekel nasi dari rumah, jarang banget jajan. mungkin itu yang kebawa sampe sekarang ga gitu doyan jajan snack senengnya makanan rumah...terima kasih sudah berbagi..

virarvianda said...

iya bangettt...
rasanya dulu semangkok baso atau semangkok bihun itu udah mewah banget.
lagipula dulu gak boleh jajan sembarangan sama ayah yang entah bagaimana caranya selalu tau kalo anaknya jajan es serut ato cakue yang dijual di luar gerbang sekolah..

jadi uang jajan 500 rupiah waktu tahun 90-an itu kurang lebih seharga dengan 100 rupiah jaman mbak dewi kali ya..hehehe..
bala-bala + limun emang udah paling bener.. :)

peni astiti said...

kalo saya pas SD (1983-1989), bekal saya dari kelas satu sampe kelas 6, tetep 50 rupiah, teh dewi...

soalnya, 50 rupiah itu juga, selain cukup buat beli sebuah bandros atau cilok atau cireng atau bala-bala, masih bisa beli permen yang 5 perak dapet 5 buah, trus kerupuk juga kan 5 perak gitu... hahaha...

SMP saya ga dapet uang saku sama sekali, soalnya, waktu itu saya prefer ngumpulin diary daripada jajan. kompensasinya, uang jajan saya ditahan buat beli diary, setiap sebulan sekali.

jaman SMA (tahun 1992-1995-SMAN2 Bandung), saya suka baso goreng yang di kantin A-Team itu, loh, teh... waktu itu harganya 350. mungkin ketika itu teh Dewi sudah mulai nangkring di McDonald-yang emang buka pas saya kelas 1 SMA-sambil menggagas F2WL, kayaknyah.. hehe...

kalo laper berat, uang jajan saya yang hanya 500 perak itu, saya beli bala-bala segede piring 2 buah yang disiram saus apa tuh, atau kadang-kadang duit 500 perak bisa buat beli nasi, tumis sawi ijo sama tahu goreng di kantin A Team... hahaha

soal es Joly, saya ngalamin juga, tapi kalo itu dapat ekstra uang saku dari bude/pakde atau bulik/paklik yang berkunjung ke rumah dengan catatan,"ini buat beli buku". oke, saya memang beli buku, kok, tapi pasti sisa 100-300 peraknya bisa saya beliin wafer superman, coklat ayam dan es joly yang dipotong dua. hehe...

haha, walau saya cuma berjarak 2 tahun sama teh dewi, tapi pengalaman jajan saya di masa kecil saya ternyata ga jauh beda dengan teh dewi... ^_^

Raditya Febbyandi said...

Pagi mbak...;)

saya sampai sekarang masih suka banget ama tulisan-tulisan mbak, baik yang remeh maupun tidak. saya sangat senang sekarang bisa membaca satu-persatu posting yang mbak tulis pada blog mbak dee.

satu yang saya kadang selalu jadi perhatian saya,setiap saya ingin memposting komentar buat berbaur dengan komentar yang lain selalu saya batalkan. Terkadang saya pikir kok pengalaman saya dengan mereka bisa jauh berbeda, begitu absurd dan terkadang membuat saya merasa enggak pantas untuk memberi komentar, padahal topiknya tetap sama, "bekel".

hha, mungkin cuma perasaan saya saja.., buktinya saya memberi komentar kini..:)

hanskoesmadi said...

inspitarif....saya seperti "kecemplung kali" yg memaksa saya untuk membiarkan kaki saya berlama-lama terendam di kali itu, ternyata airnya bening dan sejuk......

tammi prasetyo said...

ahh dee!
saya baca postingan ini jadi inget sama elektra.
apa kabar mereka semua? bong, mpret, gio, diva, dimas?? wawawa.. masih ada lanjutannya ga supernova?
hehe maaf kalo commentnya jadi ga nyambung sama topik, abis beda generasi.
jaman sd aku dapet uang jajan udah 5000 rupiah
:)


sukses selalu ya

Simplicity said...

Es Jolly.. jadi jajanan andalan sepulang sekolah walopun uang saku saya juga 100 rupiah saja. Lah kok bisa? BIsa dong.. itulah enaknya jadi anak bungsu.. selalu ada kakak dimintai membantu.. hehehe..

Btw,jumlah 100 perak pada jaman itu cukup besar untuk ukuran anak SD. Sy sdh bisa jajan bakso,singkong goreng segede gaban, es cendol, cilok, simping, cakue.. tapi tentu saja tdk dalam wkt yang bersamaan. digilir.. setiap hari dikombinasikan agar tidak bosan.
Sayangnya, skrg ini ortu jaman sekarang terlalu memanjakan anak2nya dengan uang saku yang banyak. Anak SD aja minimal 5000 perak. Katanya bisa beli Cheetos,minum dan crepes2-an. Belum lagi melihat fenomena anak2 SD dengan gadget yang melebihi kapasitas mereka sebagai pelajar. Pake Blackberry lah ** bold pula.. huh, gw aja kagak!!**, I-phone bawa I-pod.. ini lah itulah.. and makes me wonder, buat apa sih? Anak-anak itu jadi lebih manja dak gak tahu susahnya orang tua mencari duit. Entah nanti gedenya gimana mereka melihat arti uang itu..

Thanks God.. uang saku saya cepe doang..

Kusuma Dewiii said...

aku juga belum cobain es jolly mba dewii.. emang se hip apa sih es jolly waktu dulu? hehe :)
bdw, aku suka banget tulisan mba dewi, bikin aku ikut ngayal waktu sd juga. hihi :)
love u muahh!

n.o.v.r.i said...

Jadi inget wktu kecil..
aq suka nyoba2 makanan (ampe skrg sih sbnerny..hehe :D)..
makany jaman aq kelas 1 SD (klo g salah 93an deh), jajan aq 500..

cara aq dulu, sering2 pergi k rumah nenek biar pulang ny dksih duit jajan..hehe..
Tapi klo ktauan bunda, aq punya duit lebih langsung dminta wat msukin tabungan (blajar nabung kt bunda)

Beda ama uda (read:abang), dia ga kenal duit ampe kelas 5 SD..
pdhl qta cman bda 4taun,, qta sama2 1 sekula, sama2 naek jmputan.
Tapi uang jajan aq klas 1 SD sama ama uang jajan uda kelas 5 SD..

Makany klo d pkir2, aq nih boros bgt..
Uda dengan uang jajan yg lebih sedkit dr aq bisa nabung wat beli tamiya ato yg rakit2an gt deehh..
nah aq, nunggu ultah bru bisa minta ap yg aq pngen..

Jd kangen jajanan SD,
coklat payung/koin, lidi yg pedes, bakwan, ama ciki2 yg sukses buat aq amandel..

Es Jolly itu ap ya??
yg ad dua bagian itu yaa??klo g d msukin kulkas jdny cair yaa??
Klo yg itu, aq juga suka. tapi klo aq ikutan blanja ama bunda d HERO..

bdh said...

Jajanan kegemaran masa kecil rasanya banyak jenisnya tapi ya tidak semuanya bisa terbeli malahan jarang bisa beli karena uang saku tidak cukup untuk memuaskan setiap keinginanku waktu itu...

Malahan seringkali pada saat jam pulang sekolah aku harus berlari pulang untuk segera menuntaskan rasa dahaga...

Tapi sekarang aku sangat bersyukur walaupun orang tuaku serba terbatas tetapi mereka sudah membuktikan bahwa mereka adalah salah satu orang terkaya dimuka bumi ini, terutama kasih sayangnya... sehingga aku bisa tumbuh dan menjadi salah satu orang tua juga he he...

Terima kasih Ibuku dan Papi :-)

Maaf aku belum mampu membahagiakan kalian dan akupun belum mampu memecahkan rekor kalian dalam merawatku sampai aku siap untuk tumbuh sendiri seperti sekarang....

abdee said...

ahhh..dee,kau selalu bisa membuat aku tersenyum tiap kali membaca apa yg kau tulis. seperti penyegaran yg jadi kebutuhan. "selawe" membuatku sedikit mundur ke masa2 kecil SD ku. beda nya waktu SD dapeu uang jajan 200 perak plus 150 perak kalo udah tidur siang ( itupun kadang2 dengan sedikit berbohong ala anak2 kecil jaman itu, dgn 'mengucek-ngucek' mata biar merah terkesan baru bangun tidur ) hahahahaha...

presyprezl said...

wah..mba dee lulus sd aja saya belum lahir. jadi ga pernah dapet uang jajan 100 perak.. klo jajan zaman saya sd, 100 perak cuma bisa dapet es kue..

klo zaman sekarang,, 100 perak bisa berarti di coin a chance.. mba dee ikutan ??

Monyet Jambu said...

Dee.. Kamu berhasil menyentuh masa lalu termanis dari kebanyakkan orang, dari sebuah objek yang sangat sederhana. Hebat bu

ronierays said...

Dee... saya ronierays... berusaha untuk bisa contack anda... sudah lama sekali... telepon yang tercatat di superova... facebook... dan semua yang berhubungan dengan anda.
Saya punya novel yang selalu dikejar-kejar sama calo... naskah saya bagus... saya ingin anda bisa modalin saya untuk menerbitkan novel itu... atau minimal sekedar membaca BARA the novel... di www.ronierays.wordpress.com

supriyanto danurejo said...

Nilai bukan sesuatu yang diukur dengan angka, sebab angka bisa berganti dan imbasnya berpengaruh pada nilai. Nilai yang mba Dee angkat terlalu luas bila hanya diterjemahkan dengan hanya 100. Pada intinya membaca ini menyadarkanku bahwa aku melewati banyak hal bernilai dalam hidup dan sekaligus aku melewatkan banyak nilai juga dalam hidup

Jenny Jusuf said...

Dear Ronierays,

Meskipun topik ini tidak ada sangkut-pautnya dengan isi artikel, saya tertarik untuk menanggapi komentar Anda.

Saya kurang paham apa yang Anda maksud dengan calo, karena baru kali ini juga saya mendengar istilah calo dalam konteks penerbitan buku. Tapi, kalau kita berbicara mengenai menerbitkan buku, saya rasa ada beberapa alternatif yang bisa ditempuh selain menyerahkan naskah kepada calo ataupun 'minta dimodali'.

Salah satu cara konvensional yang paling banyak ditempuh adalah dengan menawarkan naskah Anda kepada penerbit. Di Indonesia sudah banyak sekali penerbit yang bersedia menampung segala jenis naskah. Yang Anda perlukan hanya meluangkan sedikit waktu untuk mencari informasi, memilah penerbit yang segmentasi dan 'karakteristik'nya kira-kira cocok dengan naskah Anda, lantas mengirimkan draft dan menjajal peruntungan. Kenapa peruntungan? Karena tidak semua draft bagus bisa diterbitkan, dan tidak semua draft busuk pasti ditolak.

Cara lainnya adalah dengan menerbitkan sendiri. Dana memang menjadi kendala utama di sini, dan saya sendiri tidak menganjurkan opsi kedua ini. Tapi ada sebuah pengalaman dari kawan baik teman saya (jauh ya? hehehe) yang menurut saya cukup menarik untuk disimak. Cerita tentang perjuangan dan proses panjang untuk menerbitkan novel sendiri. Silakan baca di http://blog.sepatumerah.net/2009/04/yelloveflies-mimpi-yang-kesampaian/

Saya sendiri belum pernah membaca novel tersebut, tapi saya salut dengan upaya dan kegigihan penulisnya. Pengalamannya membuat saya percaya bahwa memiliki naskah yang bagus saja tidak cukup. :-)

Semoga bisa membantu.

joe said...

jaman dulu uang 100 saja berharga banget, kini uang 100 gak dapat apa-apa...

seira 277 said...

Sekarang susah yah cari uang seratus rupiah...Di supermarket aja kembalian seratus rupiah sering di ganti sama permen, pdhl ga semua org suka permen...
Jadi inget ada blogger di US yg nulis ttg 2$ yg suka dianggap remeh oleh org US sehingga jarang dipakai....

Dwi Budi Priyanta said...

Puitis sekali...ya
Salam Sukses

Curly_t@uRus said...

halo kakak
nasib kita sama kak

aku suka baru tau rasanya teh botol waktu SMP

SMPku di smp 5 bandung kak,,,
smp kaum borju
betapa saya stress jika istirahat tiba,,,

aku hanya bisa jajan, kalo ga bakwan yah astor,,,pilih salah satu,,wadow,,itulsh hidup, banyak mengajarkan sesuATU SEKalipun yang sampai saat ini masih jadi misteri,,,'

Totonio Carlos da Cruz Pereira said...

Nice bangat contentnya,,

ludvy4life said...

Wah sebuah pengalaman unik waktu kecil yg tak terlupakan. Koinnya banyak ya Mbak Dewi, sumbangin aja di http://coinachance.com/ buat membantu adik2 kita utk sekolah lagi. Thakns n SUKSES selalu.

Let's share and leraning together said...

Nice story and great management Operasional...sepertinya sudah terbiasa disiplin dan mengatur segala sesuatunya sesuai dengan prosedur.

sepertinya perlu di tiru oleh petinggi dan pengurus negara ini.. biar terhindar dari KPK.

cheers
Dewi

iva dan hidup said...

Salam kenal dee..
Semalaman bca blog km,jd susah tidur,hehe
inget dulu pas SD,kelas 1-6 uang sakunya cuma 50.pdhl aku msuk SD tahun 92,dikit banget kan?biasanya brgkt&pulang dianter sopir (pake motor tapi,hehe),trus jam12siang ud pulang.jajanan yg biasa dibeli tu es lilin,permen suit2 (apa ya namanya?permen bolong tengah yang kalau disedot bisa bersiul),trus cilok.kadang pulangnya sopir ga bisa jemput,tp kesekolah jm10an buat ngnter kotak nasi dari ibu.makan siang yang ada selipan kertasnya.aku masih inget bget isinya gini:

ini ibu kirim uang 100,yang 50 buat jajan,yang 50 buat naek bus.

Hiks,sedih ya?
Kalau nekat dibuat jajan smua,alamat ga bisa pulang.cz skolahan ma rumah jaraknya 4km.
Pernah lg suatu hari,ada misteri 50 rupiah yang belum terpecahkan sampai sekarang.gni ceritanya (kok jd curhat ;) ),bapak memberi sangu 100sekaligus,tapi buat 2hr.benar,hari itu aku jajan 50,yang 50 lg aku simpan di kantung baju.aku kemudian brmain2 dgn teman2.ga tau dimana uang 50 itu raib.mungkin jatuh pas lari2.sesampainya dirumah,bapak menanyakan mana sisa uangnya?aku jawab hilang.tp bapak ga percaya,aku dikira bohong.aku dmarahi hbs2an&1 minggu kdepanya sekolah tanpa uang saku.
Entah pljaran apa itu yg ditanamkan ortuku,aku ga tau,..
Yang pasti masa SD ku sangat menyedihkan.paling menyedihkan mungkin,diantara teman2 smua.pdhl aku dr keluarga berada.tapi tetap sangunya pas (sedikit :( ),dibanding teman yang lain.hah,smoga kelak jika aku punya anak,dia ga merasakan menderita sepertiku.sekarang aku jd sosok yg penuh perhitungan,hutang 100rupiahpun bkal aku balikin.ya,mungkin efek masa kecil,hehe..

wara srikandhi said...

supernova, bagaimana jika hidup sudah terasa begitu hambar?sudah tidak ingin bahagia dan tidak lagi ingin menderita?

invasioninstng said...

kue bandros (istilah nasional: kue pancong)
waktu SD selama 6 tahun uang jajannya sama seratus

As if feeling ... said...

Ingat masa kecil selalu menyenangkan. 100 perak di masa sd juga selalu menyenangkan. apalagi waktu sd aku dapat jatah dari Mbah Iyem, pedagang jajanan di depan sekolahku, yang tak lain adalah istri dari saudara kandung simbah. Jatah 1 gelas dawet dan 1 timus, atau pisang goreng. kalau masih laper istirahat kedua aku lari pulang ke rumah. jadi uang seratus masih tetap utuh. tapi dikasih uang jajannya cuma 2 hari. pas senin karena ada upacara dan pada saat ada jadwal olahraga.

simplyvie said...

waks jd inget jaman sd.. uang jajan gue cuma 100, dari kelas 1 sd - kelas 6 sd. adang kalo nyokap lagi bbaik dikasih 500. itu paling mewah tuh.

tpai dengan 100 juga dah mewah. 1 es harga 25 rpiah, 1 kue 25 rupiah. 1 bks asinan... ma permen....

Pascalis P W said...

saya bukan orang kaya, dan hanya 200 rp uang saku saat SD. Yang paling penting saya ndak begitu 'spesial' mengingat es jolly atau es apolo (sebutan di kampung) tiap hari saya memaknnya.

ya...itu karena ibuku tukang es, produksi es jolly. Bahkan kadang ku mainkan plastiknya. Tarik sana sini hingga memanjang dan mengisinya dengan air lalu menunggunya hingga beku.[akupadatu.blogspot.com]

Deka Syaumpraninra said...

duh gwa kelahiran 84 sih...

gak tau es jolly...

udah generasi paddle pop.. hehe

Mirzal Dharmaputra said...

Wah, membaca tulisan mbak dewi ini membuat gue nostalgia akan masa-masa SD gue yang dikasih duit jajan cuma gopek (500) selama 6 tahun. Karena pulang sekolah paling lama jam 12, uang 500 itu dihabiskan untuk :

-Es Teh Manis 200 perak
-Gulali bentuk tentara 150
-Rental game boy 150 per 10 menit

sungguh boross.. hehee

azeez abd said...

Hai, Mbak dee...

Saya juga pernah mengalami peristiwa gigit jari karena tak bisa mencicipi apa yang enak-enak dulu pas sekolah.

Selain sekolah SD, saya juga sekolah mengaji sore-sore. JAdinya uang jajan yang tak seberapa mesti dibagi dua.

Saya tak hanya bisa membeli nasi goreng yang dibungkus kecil dan es teh beku. Kalau di tempat mengaji selalu bakwan yang harganya lebih mahal dari tempat lain.

Selain itu, saya nggak bisa beli mainan kayak teman2. Hehehe... Tapi itu bikin saya kreatif dengan memakai apapun di rumah sebagai mainan.

Rohdian said...

i think u're the same like me...

that story reminds me to my childhood..he..

very inspired!!

Sufren The Mars-Mellow said...

Cerita Mbak Dee, mengingatkan saya pula pada kenangan masa SD saya. Masih membekas di ingatan, pada waktu itu harga es teh manis sebungkus adalah 100 perak. Kemudian, harganya terus melonjak sampai 1000 perak. Itu baru teh tawar. Kalo mau yang manis bisa kena 1500 atau 2000 perak, tergantung siapa penjualnya.

Saya setuju pada pernyataan: kekuatan finansial kita berkorelasi dengan jumlah pengalaman yang kita dapatkan. Walau ini mungkin masih bisa dipengaruhi si individu tersebut. Ada individu yang kaya materi, namun pelit dalam menggunakannya. Sehingga pengalaman hidupnya menjadi sangat "sempit".

-maynot- said...

Kenapa nggak patungan aja? Satu es Jolly untuk berdua. Toh memang dipotong jadi dua.

Ada banyak cara toh untuk menyiasati? Tidak harus semuanya dibeli sendiri? Saya pun pernah merasakan masa2 sebotol Teh Botol dibagi bertiga, karena kurang uang saku. Sampai sekarang pun anak saya sering berbagi makanan/minuman dengan temannya - karena uang sakunya nggak berlimpah :)

So, sebenarnya tidak pernah merasakan Es Jolly karena keterbatasan angka 100, atau karena sebab lain? Karena terpaku pada satu penyelesaian saja misalnya (= sesuatu hanya bisa dibeli dengan uang sendiri), karena tidak ingin berbagi dengan teman, atau sebab2 lain ;)?

endry said...

Dee, denger- denger lagi hamil ya, Selamat Ya, Semoga dapat anak perempuan biar cantik dan smart kayak mama nya

supernova_blast said...

Es Jolly? waduh jadi terkenang masa lalu neh... Jingle iklan yg ditayangkan di TVRI-nya gw masih inget lho... Jolly Jolly Jolly... Mari Mari Mari... :) Rasanya sih ga istimewa, kaya es mambo biasa aja. tapi entah knp anak" jaman itu (termasuk gw) pada suka...

wara srikandhi said...

tolong, saya ingin merdeka

ersa.is.on.fire said...

teh dewi,dulu juga ada pas jaman aku kecil,ada kayak semacem judi gitu,jadi bayar 100 terus narik tali,kalo misalnya dapet tali yang panjang,tar kata tukang dagangnya dapet gimbot(game watch) tapi lum pernah ada yang menang,paling menang ager2 doangk,hahahaha,serasa jadi korban penipuan

Bang Del said...

Jadi ingat masa kecil dapat uang jajan 200 dari bapak setiap mau ke sekolah. Jadi rindu pulkam, sedih aku.

tan_intan said...

lucu yah masih pada inget sama pengalaman masa kecilnya, terutama Fahd kali ya yang jelasinnya detail banget! hahaahaha.. duh jagoan neon, permen beracun.. bisa bikin lidah biru2.. hahahahaha..

kalo aku memang waktu kecil jarang jajan karna aku terlalu pemalu buat ngomong sama penjualnya.. hahahaa..

Lumbunghati said...

uang seratus..celengan mengingatkan aku akan baju baru. karna waktu aku kecil, sebulan atau dua bulan sebelum lebaran kami sekelaurga diharuskan menabung, seratus atau lima puluh rupiah setiap hari, dan tabungan itu baru dibuka dua-tiga hari sebelum lebaran. Uangnya digunakan untuk membeli baju buat lebaran. Kalau tidak menabung, maka gigit jarilah lebaran tidak mempunyai baju baru

windy said...

hahaha. lucu. saya tahu ini sudah terlalu telat. tapi pengen ikutan cerita. ;D

SD
saya SD berpindah-pindah, dari sumatra, sulawesi sampai jawa. jadi dipastikan harga makanannya beda-beda. tapi uang saku saya tetap 50 rupiah. cukup buat beli minum dan satu jajanan yang harganya selawean itu tadi. kelas 3-4, saya di manado, makanannya lebih mahal. uang 50 cuman dapat 1 jajanan. nggak pake minum. kalau mau beli es, harus nambah 50 perak lagi. jadinya, tiap istirahat saya jagain es yang dijual guru. upahnya dapat satu es. ;p. jajanan favorit: gohu, pisang goreng colo denga dabu-dabu. pas di jawa berubah jadi cenil. harganya cuman selaweeee.

sistem uang jajannya bulanan. dibayar dimuka ama mama. kalau nggak bisa ngatur, ya alamat tekor.

SMP-SMA: juga pake sistem bulanan. kayaknya ini udah era centil. udah mulai suka nongkrong di kafe-kafe buat pelajar gitu. yang es campurnya dijual seharga 250an. ke mana-mana naik sepeda ontel. makanan favorit: es juice kelapa muda seharga 150, sisanya buat beli kue motor.

kuliah: saya cuman dikasih uang saku 100ribu, motor, plus buku tabungan dan deposito. buku tabungan dan deposito nggak boleh berkurang tapi harus bertambah karena sama papa akan diperiksa secara acak.

tapi karena zaman kuliah udah mulai kerja jadi wartawan di beberapa media sekaligus (online dan cetak) dan penulis lepas di beberapa media, gaji sebulan sekitar 500ribu-1juta. berasa kaya banget. ;p. tapi kayaknya pas kuliah ini saya mulai nggak suka jajan tapi doyan main, dan mulai pelan-pelan belajar jadi vegetarian.

dewicahaya said...

tadi waktu baca, cuma kepikiran elektra... elektra... elektra...

saya kok jadi ngerasa ini gambaran elektra banget ya(atau etra itu yang gambarannya mbak dee)?
apalagi cara mbak membagi uang jajan (atau dalam istilah mbak mengatur neraca keseimbangan)makin membawa saya memasuki kenangan waktu saya membaca supernova:petir beberapa tahun lalu.

bagi saya dan (alm) kekasih saya dulu, buku mbak dee banyak memberikan motifasi.


salud mbak...
tetap berkarya ya(supernova series bagaimana nasibnya mbak??)

dida said...

semua hal kecil berdampak besar.... pasti banyak hal kecil lain yang berdampak besar pada cara pandang seorang anak manusia....

sgharjono said...

wah aq kra orang sekelas "dewi lestari" uang jajan nya berlimpah, eh gak tahunya sama dengan uang jajan ku. Aq sendiri lulus SD tahun 84, tapi waktu itu masi ada jajan yang seharga Rp. 10,-hik...hik....hik.....:( Tapi mungkin sekarang uang jajan keenan bisa berlipat2 kali dari seratus :D.

Anna said...

Wah mba dewi sama nih saya juga mengalami kayak gitu, dulu ngiranya ibu pelit dan ngirit, ternyata memang mengajari saya untuk manage uang lebih baik. Saya SD th 90 dan kelas 1-3 uang saku nya 50 dan naik jadi 100 pas kelas 4-6.

Jajanan : Anak Mas dan krip krip :)
Minum : bawa toples isi teh dan air putih dari rumah

Callista gazelle said...

hehe.. saya teringat waktu SD,kelas 1 uang jajan saya 400 rupiah;bisa bwt beli : 1 Esteh (harga 100), 1 tempe goreng (harga 100),yang 200 disuruh ibu buat dimasukin di celengan.. ^^
uang jajan saya, selama 3 tahun, tetep Rp.400, bru pada kelas 4 SD,uang jajan saya naik seratus rupiah..hingga 2 tahun berikutnya, hahaha..
waktu SMP, kelas 1 naik drastis,jd 2000.
kelas 2, 4000,
kelas 3, 5000..
skarang saya sudah SMA kelas 2 dengan uang saku 7000 perhari sejak kelas 1 SMA ,wah..sangat berbeda jauh,ya.. tulisan anda mengingatkan akan masa2 SD dulu..^^