Sunday, May 10, 2009

Ketuhanan Yang Ma[s]a Esa[?]

Ketuhanan Yang Ma[s]a Esa[?]


Keyakinan pada Tuhan yang Esa adalah fondasi mendasar bagi bangsa kita. Saking elementalnya, dicantumkanlah prinsip tersebut sebagai sila pertama dari Pancasila. Buah-buah pengamalan yang ditumbuhkan dari sila tersebut antara lain adalah kerukunan umat beragama, tepa salira, toleransi, serta konsep-konsep cantik lainnya. Dalam percakapan sehari-hari kita dapat ‘membauinya’ pada kalimat-kalimat klasik seperti: “jalannya lain-lain tapi toh tujuannya satu” atau “cuma caranya saja yang beda-beda tapi Tuhannya satu”, dst. Namun, sama seringnya pula kita menemukan aneka kontradiksi yang menemani konsep-konsep cantik dan kalimat-kalimat bijak tadi.

Baru-baru ini saya diberi kesempatan untuk menonton pra-rilis satu film indie berjudul “Cin[T]a”. Sebuah film dengan premis dan tema yang menarik; bercerita tentang Tuhan, cinta, dan perbedaan. Di film itu kita menemui dilema yang banyak dialami orang-orang: hubungan cinta beda agama. Dilema yang akhirnya berujung pada pilihan: pilih pacar atau Tuhan?

Entah berapa banyak sudah hati manusia yang nelangsa akibat dilema klise itu; saat benang kusut itu mulai teraduk: mencintai pacar… tidak mau berpisah… tidak mau mengkhianati Tuhan… tapi kenapa harus ada cinta… bukannya cinta juga diciptakan Tuhan… tapi agama bilang tidak boleh menomorduakan Tuhan… tapi kan, katanya cara saja yang beda-beda tapi Tuhannya satu… dan benang itu terus mengusut. Belum lagi Tuhan jarang berdiri sendiri, Ia membawa institusi agama, orang tua, keluarga besar, adat istiadat, bahkan aturan pemerintah Indonesia yang melarang pernikahan beda agama.

Itu baru persoalan asmara. Ketuhanan Yang Maha Esa pun masih harus menempuh berbagai tantangan ketika bersinggungan dengan isu politik, kekuasaan, uang, dan fanatisme. Seringnya, dalam naungan payung konsep mulia tentang keesaan Tuhan, manusia tetap harus memilih untuk mempertahankan perbedaan. Tak jarang sampai berdarah-darah. Kontradiksi yang sempurna digambarkan oleh sebuah dialog dalam film “Cin[T]a”, ketika salah satu tokoh utamanya berkata: “Tuhan memang satu, tapi tetap saja Tuhanku yang paling benar.”

Jika kita benar-benar jujur, hampir semua dari kita sama seperti tokoh film tadi; oke, di mulut kita setuju Tuhan itu satu, tapi nyatanya selalu ada Tuhan yang paling benar. Jadi, sebetulnya, Tuhan mana yang kita bicarakan? Jangan-jangan, selama ini ada dua Tuhan; yang Esa dan Tidak Esa. Jangan-jangan, selama ini kita keseleo lidah, menggunakan terminologi “Tuhan” padahal yang kita maksud adalah “agama”. Atau, jangan-jangan, Tuhan memang tidak Esa. Keesaan hanyalah ilusi yang kita ciptakan sebagai obat penawar dari perbedaan yang terkadang begitu menyakitkan dan merepotkan jika bergesek. Intinya, dari mana kita tahu secara langsung dan absolut bahwa Tuhan itu benar-benar Esa? Kata orang? Kata pemuka agama? Kata kitab? Kata pemerintah?

Tuhan yang malang, pikir saya. Ia begitu terdistorsi dan terasing, meski begitu banyak orang mengaku telah mengenal-Nya, bahkan secara kolektif menggunakan keberadaan-Nya sebagai dasar bernegara. Tidak heran kata “toleransi” begitu populer dalam konsep keagamaan kita, karena dengan kontradiksi yang kita pegang tentang Tuhan, hanya sampai toleransilah kita mampu berjalan. Dan kembali saya ingat perkataan Romo Mangun, bahwa seharusnya kita berlandaskan “apresiasi” beragama, bukan “toleransi”. Toleransi berarti ‘silakan berbeda selama tidak mengganggu saya’. Artinya, toleransi punya batas. Toleransi punya syarat. Dan karena itu jugalah ia cocok dengan lidah kita yang bercabang, yang sepakat dengan keesaan Tuhan tapi siap membacok teman jika berani macam-macam dengan Tuhan-“ku”.

Saya jadi tergelitik untuk bertanya: tidakkah lebih baik—dalam arti: lebih rileks dan realistis—jika kita menerima kenyataan bahwa Tuhan belum tentu Esa? Mengapa kita harus memaksakan diri dengan keesaan Tuhan jika pengalaman spiritual kita pribadi belum membuktikannya? Untuk apa jadi munafik, jika membedakan Tuhan dan agama saja kita masih tersandung-sandung; membedakan isi dan bungkus saja masih tertukar-tukar? Daripada menjadikannya sebagai dalil tak tergoyahkan, teori yang mati, tidakkah lebih baik—dalam arti: lebih adil dan sahih—jika keesaan Tuhan dijadikan sebuah pengalaman yang hidup? Biarlah mereka, yang memang sudah lahir-batin-luar-dalam mengalami keesaan Tuhan, yang kemudian berkata bahwa Tuhan itu ternyata satu adanya. Bagi mereka yang belum mengalami, biarlah Tuhan tidak perlu esa. Biarkan saja Tuhan berbeda-beda. Biarlah masih ada Tuhan-“ku” dan Tuhan-“mu”. Termasuk, biarkan juga mereka yang mengalami tidak adanya Tuhan. Bahkan Tuhan tidak perlu dipaksakan ada, bukan?

Seorang guru spiritual terkenal, Osho, berkata: ada perbedaan besar antara percaya dan tahu. Percaya senantiasa dibarengi oleh asumsi dan pengharapan, sementara tahu senantiasa dibarengi oleh pengalaman. Kita tak perlu percaya bahwa matahari bersinar, kita TAHU bahwa ada matahari di langit yang menyinari Bumi terus-menerus. Kita mengalaminya secara langsung. Jika kita berani kritis: seberapa banyak pengalaman langsung kita tentang Tuhan hingga kita berani mengatakan bahwa Ia cuma SATU? Bahwa Ia sama dan seragam bagi semua orang, layaknya matahari bagi Bumi? Percayakah kita bahwa Tuhan itu esa atau tahukah kita?

Tahun 1999, untuk pertama kalinya saya memberanikan diri untuk mempertanyakan ulang semua yang saya percayai tentang Tuhan, termasuk sejauh mana saya telah menyalahgunakan konsep iman selama ini. Karena, tanpa mengecilkan arti kata “iman” yang didefinisikan sebagai 'percaya sebelum melihat', mudah sekali kita berlindung di balik keimanan untuk mengklaim berbagai hal yang tak kita alami langsung. Hal-hal yang sebenarnya cuma asumsi berkarat dan berkerak tapi kita anggap sebagai kebenaran mutlak. Dan baru saat itulah, saat saya berani melonggarkan cengkeraman saya atas konsep kebenaran, untuk pertama kalinya pula secara tulus saya melihat perbedaan dan keberagaman sebagai sebuah perayaan.

Beranikah kita meninjau iman kita, asumsi kita, kepercayaan kita, keyakinan kita—dan menerimanya sebagai sebuah bentuk keterbatasan dan ‘kemalasan’ kita untuk mengenal-Nya langsung. Sudah berapa lamakah kita berpangku tangan dan membiarkan orang lain atau sebuah institusi merumuskan kebenaran dan Tuhan bagi kita? Mereka yang juga belum tentu mengalaminya langsung, melainkan mewarisi pengetahuan secara turun-temurun?

Pengetahuan adalah sesuatu yang mati, kata Osho lagi. Hanya pengalamanlah yang hidup. Dan saya teringat pertemuan saya dengan seorang bhikku, bernama Bhante Wongsin, di Lembang tahun 2005. Pada akhir pembicaraan kami, beliau berkata: “Jangan percaya semua omongan saya. Anda harus membuktikannya sendiri.” Saya tersentak waktu itu, dan kalimat beliau terus membekas hingga kini. Jangan percaya. Buktikan sendiri.

Beranikah kita untuk mencantumkan tanda tanya di ujung semua yang kita yakini dan percayai? Dan mencantumkan tanda titik hanya jika kita telah mengalaminya langsung, membuktikannya sendiri; saat perjalanan kita dari mempercayai akhirnya tiba di mengetahui.

156 comments:

Amsi Zawjane said...

salam kenal teh dee...
saya pernah baca apa yang namanya teologi apofatik, yang lebih menekankan untuk mendingan TIDAK TAHu tentang Tuhan, sebab bila kita TAHU akan Tuhan, maka Tuhan lahir sebagai objek ciptaan pikiran kita...semua masih serba mungkin

Lukman Halim said...

Selamat Tri suci waisak ,mbak, renungan yang bagus, brain storming pada konsep yang sudah ada.
any way, thanks atas pandangannya.

Kabasaran Soultan said...

Barangkali sekedar sharing ... boleh juga dibaca " taruhan Blaise Pascal " berikut ini :


Ini tutur tentang logika
Anugerah utama sang pencipta
Buang jauh segala prasangka
Bebaskan pikir dari dogma
Ntuk mencari
Sejati-NYA



Hasil survey tentang keberagamaan warga Amerika Serikat tahun 2008 yang dilakukan oleh American Religious Identification antara lain mengungkap fakta berikut ini :
1. Lima belas persen responden menyatakan bahwa mereka tak beragama.
2. Dua belas persen responden menyatakan percaya terhadap adanya kekuatan tertinggi tetapi tak percaya kepada satu tuhan yang menjadi inti agama monoteis.
3. Satu koma enam persen responden menyatakan dirinya atheis atau agnostik.
4. Satu koma dua persen responden mengaku menjadi bagian dari agama baru seperti Scientologi, Wicca dan Santeria.
Yang paling mencengangkan dari hasil survey tersebut adalah meningkatnya responden yang menyatakan bahwa mereka tidak beragama.


Hasil survey yang dilakukan oleh American Religious Identification di atas sedikit menggelitik dan mengundang pikir untuk menuliskan hal berikut :


Homo sapiens adalah satu-satunya spesies religius di muka bumi ini. Tidak kurang dari seratus ribu agama telah diciptakan umat manusia dan agama-agama tersebut sangat berbeda dalam jumlah dan jenis tuhan yang diyakini dan disembah ; tuhan dalam satu kelompok agama bisa menjadi berhala yang tidak pantas disembah oleh kelompok agama lainnya dan begitu sebaliknya.


Saat ini agama yang berbasis monoteisme adalah agama-agama yang paling banyak pengikutnya di muka bumi dan dikenal dengan kelompok agama samawi. Sejarah mencatat meski terbilang baru namun agama-agama samawi secara demografis ternyata telah tumbuh dengan amat sangat cepat dan dalam perkembangannya sejarah juga mencatat tentang komflik dan perang yang tak habis-habisnya serta berbagai kekejaman yang dilakukan atas nama tuhan yang memakan korban luar biasa besarnya.


Kondisi di atas memicu benturan pemikiran yang tak kunjung selesai antara kelompok teisme dengan kelompok humanisme terutama dalam hal efek historis teisme terhadap kemaslahatan umat manusia.
Pandangan fundamentalis bahwa teisme mencegah terjatuhnya masyarakat madani kedalam perilaku amoral banyak ditentang oleh kelompok humanisme. Gore Vidal dalam ” The Great Unmentionable – Monoteism and its Discontents ” menyatakan bahwa kejahatan besar yang tidak boleh disebut –sebut di pusat budaya kita adalah monoteisme. Ia melukiskan bahwa tuhan monoteism adalah seorang pencemburu sehingga siapa saja yang belum mengakuinya harus diubah keyakinannya atau dibunuh demi kebaikannya sendiri.
Humanis Bertrand Russel juga menolak teisme sebagai kekuatan madani. Menurutnya semua agama adalah tugu menjijikkan yang dibangun dari rasa takut. Takut akan sesuatu yang misterius, takut dikalahkan, takut kematian sementara takut adalah induk kekejaman dan tak heran jika kekejaman dan agama adalah bagai dua sisi mata uang. Ia mengemukakan fakta sejarah bahwa tidak sedikit pembantaian atas nama agama yang dilakukan dengan perasaan suka cita.


Terlepas dari bagaimana benturan pemikiran dari para ” Pencari kebenaran ” tersebut di atas, dalam pikiran manusia pada umumnya kehidupan ini tampak sangat mempesona dan amat sukar untuk dipahami sehingga di ujung pikir sebagian besar manusia yakin dan percaya bahwa ada suatu kekuatan maha unggul yang mengendalikan kehidupan. Kepercayaan ini menuntun manusia pada keteraturan dan kestabilan, kenyamanan , pembenaran diri, kekuatan, kegembiraan dan harapan akan keabadian. Kesamaan kepercayaan dan ritual suci yang dilakukan suatu komunitas juga telah menjadi kekuatan pemersatu dalam kelompok , mendorong kerjasama dan tekad utuh dalam mewujudkan keberhasilan komunal. Seperti yang dikatakan oleh E.O Wilson bahwa ” kecenderungan terhadap keyakinan religius merupakan kekuatan paling rumit dan ampuh dalam pikiran manusia dan sangat mungkin merupakan bagian dari hakikat manusia yang tidak mungkin dihilangkan”.


Menarik juga untuk disimak apa yang dikemukakan oleh Matematikawan dan filsuf Blaise Pascal yang dikenal dengan ”taruhan” teistiknya. Ia mengemukakan bahwa kemampuan pikiran manusia dalam menciptakan citra tuhan tidaklah menjawab pertanyaan apakah keberadaan tuhan itu realitas tak terbantahkan atau bukan. Hanya dengan pikiran saja mustahil bagi manusia untuk memahami bahwa tuhan seharusnya ada atau bahwa tuhan seharusnya tidak ada. Nalar semata tidak bisa memberikan jawaban memuaskan atas persoalan-persoalan moralitas dan makna hakiki kehidupan. Ia harus digabungkan dengan keyakinan deistik ( keberadaan tuhan yang belum tentu bersifat campur tangan ) dan bagi orang ateis dan agnostik Blaise mengajukan argumen berikut ; Jika tuhan ternyata tidak ada , seseorang tidak akan dirugikan dengan meyakininya namun jika tuhan ada tentu keyakinan atasnya akan membawa manusia tersebut kepada kehidupan yang abadi jadi amat sangat sehat dan rasional kalau setiap orang harus memasang taruhan bahwa tuhan itu ada.


Mari pasang taruhan bahwa tuhan itu ada dan hal ini juga sejalan dengan falsafah dasar negara kita yaitu Panca Sila dan bagi mereka yang atheis atau agnostik ada baiknya taruhan teistiknya Blaise Pascal layak untuk menjadi pertimbangan.
Read more...

RainMe LeoBellicose said...

Ma[s]a Esa[?]

Apa maksud [?]
Tanda tanya, adakah Tuhan Esa?
Masih perlu dijelaskan lagi!

Ma[s]a
Masa?
Aku mula keliru

Kamu tulis semua ini..
sendiri?

Taofan said...

Dee! tulisan2mu selalu menyentuh sisi terdalam dari kehidupanku.. rasanya selalu seperti kamu mengikuti perjalanan hidupku dan menuliskannya dalam tulisan-tulisanmu.. terima kasih!
fans yang sebenarnya adalah fans yang hanya melihat dari jauh, karena takut mengganggu idolanya, maaf kalau aku mengganggumu dengan komentarku ini ya.. terima kasih banyak! terus menulis!

Luffy said...

menurut gw, yg dimaksudkan dengan sila pertama itu adalah..

setiap agama mempunyai 1 ketuhanan ato Tuhan...

dan bukannya Tuhan adalah 1 bagi setiap agama..

;D

Selama ada Tuhan maka ada peperangan antar pengikut Tuhan...

mungkin itu alasanna gw memilih agama gw yg tidak ber-tuhan ini..

;D

Jenny Jusuf said...

Salah satu kutipan favorit saya mengenai Tuhan diambil dari film 'Conversation with God' yang diangkat dari buku berjudul sama; ketika Neale ditanya oleh seorang audiens, yang kira-kira: jika Tuhan memiliki pesan untuk manusia yang disampaikan dalam sebuah kalimat yang terdiri 5 kata, kalimat apakah itu?

: "You've got Me all wrong."

:-)

BTW, buat saya Cin(T)a adalah film Indonesia pertama tahun ini yang nggak malesin dan 'bisa bikin mikir'.

Brian said...

Menurut pemikiran saya, ketika akhirnya kita tahu, setuju dan sadar bahwa kita harus menaruh tanda tanya di akhir semua verse yang kita percaya sebagai Tuhan sekian lama, kita menjadi terlalu takut kehilangan pegangan.

Ketakutan akan kesadaran bahwa sebenarnya yang Dee bilang benar, bahwa kepercayaan kita dirumuskan secara massal, bukan bersifat pribadi. Ketakutan untuk tahu bahwa kita mungkin salah.

Bisakah kita bertanya tanpa takut kehilangan pegangan?

Salam,
Brian

Anggita Aninditya said...

Selamat Malam Mba Dewi Lestari... ^.^

Saya Gita.

Saya sangat tertarik dengan tulisan dan karya Mba Dewi.

Ini alamat Blog saya, mohon saran untuk Blog saya agar bisa seperti mba Dewi.

www.princessprinciple.blogspot.com

Anggita Aninditya said...

Oh ya, Mba Dewi, saya ingin menanyakan bagaimana Mba memiliki banyak inspirasi-inspirasi dalam Blog?

Terima kasih ya Mba Dewi... :)

Imam Wahyudi said...

In God we trust, all others bring data.
(Deming, Process Excellence)

You want to change that lining dear?
^_^

prabubandit said...

hebat lanjutkan met kenal ak juga banyak inspirasi

prabubandit said...

bel ak di 081347644793. nanti ak mau cerita kutunggu

Sukma Nugraha said...

aku bersaksi tiada sesuatu selain Tuhan

Pertanyaannya adalah: Sudahkah?

Atau yg kita punya selama ini hanyalah kesaksian pinjaman dan bukan pengalaman pribadi??

Terima kasih Mba Dee untuk sebuah tulisan yg menggugah.

tan_intan said...

bener banget!, Sang Buddha juga selalu bilang kalo kita harus ehipassiko kan.. hehe.. Met Waisak ya mba Dewi.. semoga awal dari 2553 ini kita bisa membuang 'kemalasan' kita dan benar2 menemukan makna ketuhanan untuk kita sendiri :)

Dewi Lestari said...

Saya cukup surprised, ternyata banyak juga teman-teman yang merasa serupa :)

Semoga 'tanda tanya' ini menghadirkan lebih banyak kebijaksanaan bagi kita kita semua.

Terima kasih untuk sharingnya (khususnya untuk Kabasaran yang sudah berbagi dengan sangat komprehensif) dan salam kenal juga untuk yang baru pertama kali mampir atau baru pertama kali comment.

~ D ~

onlyoneearth said...

saya suka sekali dengan ajakan Romo Mangun dalam hal mencari pengetahuan akan Tuhan. Ceburkan diri dalam hasrat mendewasakan diri. Dewasa berarti tidak sok dan tidak suka semu yang berpura-pura, artinya serius dengan rendah hati mengakui dan mengolah perkara-perkara kehidupan seperti adanya. Tanpa mental burung unta, namun juga tanpa kekasaran singa yang tahunya hanya menerkam segala yang ia sukai. Manusia dewasa selalu mengakui bahwa hanya satu dua dalam hidup kita yang benar-benar hitam atau putih. Dan sadar bahwa kebenaran dan kebaikan itu tidak hanya terdapat di dalam rumah kita sendiri, namun di mana-mana.
(Romo Mangun: Manusia Pasca Modern, Semesta dan Tuhan, 1999)

salam,
Chindy

M. Akib Aryo U. said...

Salam kenal, Ms Dee yang mengagumkan.

Sebuah post yang sangat menarik sekali. Pertanyaan yang terkandung sangat mengusik benak saya, tapi bukan karena kata-katanya menyulut amarah. Tidak. Namun justru mengusik karena saya pernah berpikiran sama; bahkan jujur harus saya akui, kadang kala lebih ekstrem lagi.

Beberapa tahun lalu, sewaktu saya berusia dua belas tahun, saya sering bertanya pada diri saya sendiri. "Apakah Tuhan memang benar-benar ada?" adalah akar semua pertanyaan di benak, bercabang-cabang seperti dahan pohon apel dan membuahkan ribuan pertanyaan lainnya. Pohon apel keragu-raguan dan skeptisme itu tumbuh subur dalam benak saya, dan terus mengganggu.
Tapi akarnya makin lama menghunjam makin dalam.

Entah itu karena pemikiran filosofis saya sendiri, atau karena saya baru saja membaca sebuah novel yang amat kritis dan mencengangkan, The Golden Compass dan triloginya. Secara filosofis, saya rasa hal itu diakibatkan rasa kecewa saya: Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan dirinya diatasnamakan oleh mereka yang mengaku umat-Nya, demi tindakan brutal tanpa welas asih sedikit pun? Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Yahudi, Zoroaster, Pagan... semuanya pernah mengatasnamakan Tuhan demi tindakan-tindakan biadab. Tidak ada yang luput dari kesalahan mengerikan tersebut.

Dan lagi, karena benak saya sendiri ingin tahu jawaban atas pertanyaan, "Benarkah Tuhan ada? Bila ada, seperti apa sesungguhnya Ia? Apakah Ia mengagumkan, cantik? Apakah Ia welas asih dan rendah hati? Atauhkah Ia penuh amarah dan seorang pengutuk?"

Pertanyaan yang, sekarang saya sadari meski dengan enggan, meracuni saya.

Saya saat itu berusaha bersikap kritis dalam menghadapi iman saya; tapi justru mengubah perangai saya sepenuhnya. Saya menjadi seorang skeptis yang buruk sekali, sinis terhadap semua hal. Betapa mengerikan saya bagi orang lain! Dan saya sungguh sedih karenanya.

Hingga kemudian satu jawaban lahir.

"Ya, Tuhan bisa saja tidak ada," kata batin saya. "Bisa saja seorang Pencipta juga tidak pernah ada. Bisa saja dunia ini sebetulnya tercipta oleh tindakan-tindakan logis dan rasional. Bisa saja semua itu hanyalah bayangan-bayangan imajiner seorang manusia.

"Tapi bahkan bila semua itu imajinasi, Tuhan terbentuk--atau ditemukan--oleh suatu tujuan. Dan apa tujuan itu?"

Harapan.Kenyataan yang tidak bisa ditolak, adalah bahwa Tuhan memberikan harapan. Kita semua manusia selalu membutuhkan tempat untuk bergantung, sesuatu yang lebih tinggi untuk berharap. Dan untuk itulah, kesadaran akan Tuhan diperlukan; agar kita mempunyai sesuatu untuk berpegang bahkan ketika dunia kita runtuh di depan mata. Satu-satunya hal yang abadi adalah jiwa kita, dan dalam jiwa ada suatu keyakinan; dan keyakinan, faith, bagi beberapa orang adalah sesosok Tuhan.

Untuk itulah Tuhan diperlukan; untuk itulah saya memerlukan Tuhan. Saya butuh satu keyakinan untuk dijadikan tempat bertumpu. Saya butuh sesuatu untuk menjadi tempat berharap. Dan Tuhan memberikan semuanya kepada saya.

Lagipula, tidak penting Tuhan manakah yang paling benar. Satu kebenaran yang saya yakini dari semua pemikiran saya sekarang: tidak penting siapa kau menyebut Tuhanmu. Allah, Yesus, Sang Hyang Widhi, Ek, Shen, Bhagavan, Ahura Mazda ... tidak penting. Karena semua Tuhan yang dikenal manusia hanya mempunyai satu esensi:

Mereka mengajarkan dan membawa kebaikan.

Dan ini berarti hanya satu: Tidak penting apa agamamu. Yang perlu kau lakukan adalah melakukan tindakan baik; yang berarti tidak merugikan diri sendiri dan orang lain, bahkan memberi kebahagiaan dan perdamaian. Ritual-ritual, sampai batas tertentu, memang penting, tergantung apa yang kau percayai. Tapi percuma melakukan ritual keagamaan bila apa yang kita lakukan adalah kejahatan; sampai kapanpun kita tidak akan diampuni.

Tuhan hanya menerima kebaikan. Seorang Islam melakukan kebaikan, seorang Kristen melakukan kebaikan; dan keduanya akan masuk Surga bersama-sama. Seorang Islam lainnya melakukan kejahatan, begitupun Kristen lainnya; dan tentu saja, keduanya akan masuk Neraka. Karena Tuhan adil; ia memberi hukuman dan imbalan yang setimpal bagi semua umatNya, tanpa pandang bulu sedikitpun.

Itu adalah hal yang saya yakini karena Tuhan adalah sebuah keyakinan. Saya percaya Tuhan ada, dan memang saya tidak tahu apakah Tuhan memang ada; tapi selama keyakinan saya atas adanya Tuhan membawa saya menjadi orang yang baik, saya akan terus percaya. Bahkan seandainya tidak ada kehidupan setelah mati; itu tidak penting. Yang penting, saya bisa membahagiakan orang lain dan memberikan secuil perubahan baik kepada dunia.

Dan itu adalah dasar fundamental adanya agama: untuk memberikan perdamaian abadi.

Cupi said...

Saya juga sempat benci dengan Tuhan karena ia begitu rumit (poor choice of words) sementara kemampuan saya begitu sederhana.
Suatu saat akhirnya saya memutuskan untuk membatasi pengertian Tuhan dengan konteks yang saya mengerti dan saya cintai.
Sekarang, Tuhan untuk saya adalah kesenangan karena itulah Tuhan yang saya cintai dan saya .
Jadi saat ini, untuk saya Tuhan itu Esa karena saya berusaha untuk menyederhanakannya.
Dia untuk saya bukan lagi Tuhan untuk orang Islam, Kristen, Hindu, Budha atau agama apapun, tapi Dia adalah Tuhan saya pribadi.

SANTI said...

Menurut buku yang aku baca saat kuliah dulu, Anand krishnan, pernah bilang bahwa Tuhan=Aku dan aku setuju, dengan pemikiran Tuhan kan maha tahu, kalau aku bohong dia tahu, kalau berbuat baik dia tahu, berbuat jahat dia tahu, tentunya yang tahu apa yang telah aku perbuat adalah aku sendiri, jadi masuk akal juga kalo Tuhan=Aku. Temanku bertanya, kalau Tuhan adalah Aku, yang ciptain ini semua siapa dong??? Emang aku dan kamu bisa menciptakan ini semua...??? Entahlah, jawabku saat itu, rasanya tidak penting yang menciptakan itu siapa... mungkin juga ini terjadi begitu saja... kita nikmati saja... kita syukuri saja,kita jaga kelestariannya.... Emang penting untuk tahu siapa penciptanya? Kalau sudah tahu kita mau apa? Menurut aku lebih penting tahu tentang Karma... aku pernah membohongi orang dan tidak dalam waktu yang lama aku dibohong balik... Secara tidak sengaja menyakiti orang dan dengan cara yang sama juga aku disakiti orang... itu cuma contoh simpel saja...
Karena tidak percaya Tuhan, dulu aku beranggapan bahwa aku adalah Atheis...Aku terima saja ketika teman-temanku mencap aku seorang Atheis. Tapi awal tahun 2009 ini anggapan aku berubah... aku menemukan jalan... jalan Dhamma... bahwa Tuhan itu memang tidak ada.... Tapi aku bukan Atheis... Aku adalah Buddhis.

Kabasaran Soultan said...

Mencari ...

Tersengal – sengal
Nafasku
Mengejarmu

Terseok-seok
Langkahku
Mencarimu

Terparau-parau
Suaraku
Memanggilmu

Terkantuk-kantuk
Mataku
Menunggumu

Terbulak balik
Otakku
Memikirmu

Terguncang-guncang
Hatiku
Merenungmu

Terbuang-buang
Waktuku
Keranamu

Dikau
Tetap
Misteri
Nyata dalam rasa
Jauh dari logika

Ada ngak sih kamu ?
atau
Hanya orang iseng
Yang
Merekamu ?

THINKERBELLE said...

i'm always amazed that whenever i think of something i can't put down in words, i can (almost) always find you write about it! be it in your books, or in this blog!
:)

just wanna say that i've been contemplating (n still not yet done!) about this issue for such a long time that now i end up declaring myself as "currently not believing in any religions, but still believe in God". Is that called Agnostic, or not? :)

thanks very much for this posting...

supriyanto danurejo said...

Aku ada dimana?
Tak lagi kudengar panggilan-Nya di panjang waktu
Dalam persimpangan atau tersesat?

Betapa hening tanpa suara-Nya
Tak ada yang mendayu melantun menyayat-nyayat.
Tiada yang kuasa mengiris-ngiris hatiku.
Ataukah telingaku telah tuli?
Ataukah hatiku telah beku?

Nikmatnya mengabaikan
seolah semuanya berjalan lancar
padahal pada bagian terdasar
telah hilang
yang selama ini tempatku mengadu
yang selama hidup menjadi tempatku mencaci
yang menjadi tempatku meminta.


Aku mengabaikan-Mu, meragukan-Mu.
sang Maha Esa, yang sering kusanding-sanding.

Kurasai hina saat menghadap
Hanya ada ketika aku terjerambab
Hanya saat jurang luas aku jejaki
Hilang ketika aku menjejak permadani
Ketika hidupku serasa kekal.

a piece of echa said...

Mba dee,
positif yaa.. congrat yaa..
semoga calon penerus dapat mengintepretasikan TUHAN dalam arti kata sebenarnya.. :)

duca said...

Rwâneka dhâtu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

It is said that the well-known Buddha and Shiva are two different substances.
They are indeed different, yet how is it possible to recognise their difference in a glance,
since the truth of Jina (Buddha) and the truth of Shiva is one.
They are indeed different, but they are of the same kind, as there is no duality in Truth.

(wiki)

بوويل said...

Duuuuh gimana yak....
oiya salam kenal dulu dari buwel...hehehhehehe...
setahu saya tuhan itu harus esa....karena yang namanya tuhan adalah sesuatu yang semua dzat wajib atau harus butuh kepada dzat itu....dan tak pernah butuh kepada siapapun.....
lha gimana kalo nggak esa...repot kan jadinya, ntar ada namanya perang tuhan....
.Yang jelas esa di sini adalah esa dzatnya, esa sifatnya dan juga esa ciptaannya...
esa dzatnya adalah dzat tuhan tidak berbilang, tak bersusun susun ( matahari satu, tapi takkan bisa dikatakan esa, karena susun2) tak beruang tak berwaktu.
untuk esa di sifatnya dan penciptaannya ........
ntar lagi deh...hehehehhehe, udah capek....

Dewi Lestari said...

To Thinkerbelle:

Agnostik bisa dibilang semacam 'garis tengah' antara ateis dan teis, di mana isu Tuhan--pembuktian ada atau tidaknya--dianggap sebagai hal yang mustahil untuk diketahui. Tuhan berada di realm 'Unknown', untuk itu tidak perlu merasa terlalu terganggu dengan ada atau tidaknya Tuhan. Saya pribadi memaknai Agnostik sebagai gerakan cuek bebek terhadap entitas berjudul Tuhan, yang penting menjalankan hidup sebaik mungkin. Jadi kalau masih percaya Tuhan tapi tidak pada agama, hmm, barangkali namanya "non-religious believer". Barangkali :)


To Santi:

Saya cukup sepakat bahwa Tuhan = Aku. "Aku" sepertinya adalah salah satu aspek dari divinity. Kalau nggak ada "Aku", segala hal di hidup ini nggak ada yang memaknai. "Aku" dibutuhkan untuk memberi makna. Sejauh mana yang namanya "makna" itu bermanfaat? Cuma untuk si Aku. Makhluk tak ber-aku, seperti tumbuhan atau hewan, baik-baik saja juga sebetulnya. Mungkin karena itulah perenungan tentang Aku menjadi salah satu jalan pembebasan dalam Buddhism. Karena dengan mengetahui Aku maka kita bisa mengetahui bagaimana pikiran ini bekerja dan apa saja yang menjadi kreasinya, termasuk mencicipi keadaan saat pikiran kita berhenti dan Aku berhenti. Selama ada Aku, perdebatan tentang ada atau tak adanya Tuhan pasti masih berlangsung. Karena, kalau Aku-nya hilang, yang mau berdebat siapa lagi? :)

Cheers,

~ D ~

Bang Del said...

Ketuhanan yang ma[sa] esa ?!! Bisa benar bisa enggak tergantung negara dan warga yang menganutnya. Besar harapanku kalau berTuhan bukan menjadi pemecah di negeri tercinta ini. Semoga aja Ketuhan yang maha Esa benar-benar sesuai isinya.. Semoga.

ezrasatya mayo said...

perjalanan mengalami tuhan adalah sebuah laku. pengetahuan itu tidak tercetak dalam DNA kita.
saya ingin mengutip kata-kata Dalai Lama, "menjadi penganut suatu agama adalah baik, tapi lebih penting lagi untuk memiliki spiritualitas dasar, seperti welas asih dan cinta."
dengan spiritualitas dasar itu kita jadi terbuka terhadap kebenaran

rotten said...

Dee, I think this article is focused more on "our understanding of God" instead of "God as Himself/Herself". So, we need to differentiate between this two.

Let's first take an assumption that God exists & our definition of God is the creator of everything (or at least, the Law Giver).

God as Himself/Herself is impossible to know since we're living in an empirical world & because, by definition, God is unlimited.

What we have is our rationality & concepts of God that we know from various religions.

So, in some sense, we in fact can have different "God", or more specifically, different concepts of God. So, ironically as an Atheist asserts, God that we worship is the God that we know which is created by ourselves. For instance, I can worship a Just & Angry God while other people can worship a Benevolent & Loving God.

Same God, different concepts.

vegadorable said...

kaak dewi.. i'm such a big fans of you.
gak gampang buat mendisplay apa yg ada di otak kita kedalam kata-kata yg bisa dimengerti orang lain, tulisan ka dewi bisa bikin yang baca ngersasa dan menggunakan perspektif kakak ketika baca tulisan kakak.
baca tulisannya dari awal: seru..ketengah: masih seru.. udah mau abis: yahh kok abis masih seru nihh.

saya mulai kagum kepada Sang pencipta yg bisa menciptakan seorang dewi lestari.

saya bersyukur, saya gak perlu melakukan pencarian siapa DIA, apakah DIA Esa? apakah agama yg saya anut paling benar? apakah..apakah..apakah..*beruntung saya bukan seoarng jenius yg selalu berkutat dengan pencarian esensi dari sebuah konsep dlm dunia ini. hehe*
karena DIA sendiri yg sudah menyatakan diri dlm kehidupan pribadi saya :)

Dewi Lestari said...

To Rotten:

"God as Himself/Herself is impossible to know since we're living in an empirical world & because, by definition, God is unlimited."

This is exactly what I'm trying to address. How can we state that "God is unlimited" when "God as Himself/Herself is impossible to know since we're living in an empirical world"? So who gave that definition in the first place-- kalau bukan manusia juga, dengan segala keterbatasannya?

Paradoks yang persis dengan cerita horor masa kecil yang sering saya dengar, di mana semua orang yang terlibat katanya tewas. Nah, tapi kalau semua tewas dan tidak ada saksi mata, dari mana cerita horor dengan segala detailnya itu bisa menyebar? Who started it?

"Let's first take an assumption that God exists & our definition of God is the creator of everything (or at least, the Law Giver)."

So, lagi-lagi, kita berpijak pada asumsi. Dan semua asumsi adalah 'belum tentu'. Karena kalau sudah tentu, namanya bukan asumsi lagi. How can we easily assume that God exist to begin a dialogue with, sementara belum tentu platformnya serupa? Kalau orang yang diajak bicara memang tidak percaya Tuhan, aline tsb sudah langsung runtuh dan tak berlaku lagi.

"I think this article is focused more on 'our understanding of God' instead of 'God as Himself/Herself'. So, we need to differentiate between this two."

Again, how can God be separated from our understanding, while it is only through understanding we can start calling it 'something' in the first place?

Menerima keterbatasan kita dalam mengerti Tuhanlah yang jadi premis dalam artikel ini. Plus, tentunya, bahwa pengertian kita belum tentu yang paling benar. Termasuk upaya kita untuk mendefinisikan-Nya. That's all I wanna say.

Cheers,
~ D ~

guekiller said...

Jadi, Tuhan itu ttg meyakini atau bertanya??
Kalau dasarnya disebut keyakinan, kenapa sekarang dipertanyakan??

rotten said...

Dee, thanks for your reply & I really enjoy our discussion...

I agree with you on our limited capability in understanding God.
And I think, we need to highlight the difference between "God as Himself/Herself" & "our own concept of God" because so many people mix them up. What I mean "to differentiate" is not to say that our own concept of God is the same as God as Himself/Herself. Am I right to say that this is what you want to highlight in the article?

Salah 1 "jebakan" dalam pencarian Tuhan adalah pada saat kita menyamakan "konsep Tuhan" yang kita miliki dengan "Tuhan" itu sendiri sehingga sewaktu kita menemui orang lain yg memiliki konsep Tuhan yang berbeda, kita bisa terjebak utk melihatnya sbg penyembah "Tuhan yg lain" atau dgn kata lain "kafir", "heretic", & label2 lainnya.

Tuhan kita adalah Dia yang kita pahami. Jadi, kita memiliki Tuhan kita masing-masing yang bisa berbeda dgn Tuhan-nya orang lain. Kita melayani Tuhan yang kita definisikan sendiri. Konsekuensinya, kita bisa memilih Tuhan yang mau kita layani. Kita bisa buang Tuhan yang kadaluarsa & tidak lagi kita senangi & kita ganti dgn Tuhan baru yang lebih cool :)

Btw, some people berpendapat bahwa itulah fungsi para nabi, utk memperkecil deviasi antara pemahaman kita akan Tuhan & Tuhan itu sendiri karena Tuhan Si Maha Cinta tidak ingin membiarkan ciptaanNYA dalam kebingungan. Of course, some other people may not agree with this.

Oh ya, asumsi yang saya ambil just to simplify the discussion karena pemahaman kita yang sangat beragam tentang Tuhan. Ada yang mengartikan Tuhan sebagai Pencipta, ada yang mengartikannya sebagai "apa pun yang paling kita cintai & patuhi yang membentuk paradigma kita", dan berbagai macam pengertian lain. Diskusi tentang pengertian kedua mungkin akan jauh lebih menarik bagi seorang agnostik/atheis (of course, tanpa embel2 kata "Tuhan")
Demikian juga dgn agama. Selain pengertian lazim, ada yg mengartikannya sebagai "sistem atau way of life", jadi ya konsumerisme bisa jadi agama kita tuh :)

Dee...karena begitu beragamnya definisi Tuhan, boleh saya bertanya Tuhan yang mana yang kamu ingin cari, kenali, cintai, & cengkramai?

Joe_nathan said...

Wow...sebuah pemikiran yang begitu logis dan rumit. Saya mau menyampaikan pendapat saya saja

Kita kembali lagi kepada asal muasal dan arti agama. agama berasal dari a: tidak dan gama: tidak teratur. jadi agama berarti sesuatu yang tidak berantakan atau teratur. Dari sini kita bisa lihat agama bukanlah Tuhan. Agama hanya sebagai alat yang digunakan untuk membuat prilaku yang benar dalam hidup dan tentunya agama berasal dari manusia. Agama bukan saja Islam, Kristen, Katolik, Hindu, ataupun Buddha, tetapi agama adalah kepercayaan untuk memegang suatu keyakinan hidup dalam berpikir, berbicara, dan bertindak. Agama merupakan suatu keyakinan manusia dalam segala aspek kehidupan. Bukan saja rohani namun dari segi fisik pun juga agama berbicara. Lalu dari semua pengertian ini bisakah kita sebut agama mempresentasikan dan mewakilkan Tuhan?

Tuhan jelas hanya satu, dan tidak ada yang lain. Siapa yang menciptakan segala alam semesta ini? Siapa yang menciptakan kita manusia sebagai mahluk hidup yang sempurna? Dengan segala kekompleksan manusia yang sekalipun manusia sendiri tidak bisa membuatnya. Dapatkah manusia bisa menggantikan posisi Tuhan? Jelas logikapun tidak bisa menjawabnya. Maka dari itu kita harus punya "IMAN". Iman untuk memahami dan mengerti dari segi rohani kita, bukan segi logika saja. Iman untuk meyakini bahwa Tuhan itu satu dan yang dimaui Tuhan hanyalah kedamaian dunia. Bukan mencari kebenaran siapakah Tuhan itu. Kita tidak bisa mendiskripsikan Tuhan dan tidak ada keuntungan dari mendiskripsikan Tuhan. Untuk apa? Untuk membenarkan diri bahwa Tuhan"nya" lah yang benar. Itu sama saja membenarkan diri di atas segalanya. Padahal tidak ada satupun manusia di dunia ini yang benar, karena kebenaran itu hanyalah milik Tuhan semata.

Apa yang diungkapkan oleh film Cin(T)a bukan dimaksudkan untuk menmpertanyakan Tuhan ataupun agama. Walaupun saya belum menontonnya, tetapi saya mengerti bahwa terciptanya film ini oleh karena mereka yang sudah lelah mendengar manusia ribut membenarkan "Tuhan" mereka masing-masing. Menurut saya cinta disini untuk menyatukan hati dan iman manusia dalam menjalani hidup. Tidak ada satupun agama yang tidak bertujuan untuk kedamaian manusia. Hanya saja cara mereka saja yang berbeda-beda dalam menyembah Tuhan. Hal ini juga identik dengan kebudayaan

Bisakah orang batak memaksakan kebudayaannya dengan orang jawa? Atau bisakah orang manado menyatukan kebudayaannya dengan orang minang? Lalu untuk apa perbedaan tercipta jika kita sendiri tidak mau menerima perbedaan ini? Terlebih kita sendiri sebagai negara bhineka tunggal ika? Menurut saya perbedaan tercipta untuk membuka mata manusia lebih dalam lagi akan dunia sekaligus menyeragamkan hidup agar tidak ada kemonotan dalam kehidupan. Perbedaan ada agar manusia tidak menjadi sombong oleh karena dirinya sendiri. Coba pikir kalau semua manusia hanya bisa menguasai satu hal di dunia ini, akankah manusia bisa akur dalam persaingan tersebut?

Yang jelas bagi saya jangan sampai logika menghancurkan iman kita untuk menjalani hidup dengan baik. Orang bijak saya berkata bahwa manusia akan tenggelam dalam kegelapan jika dia mengatasnamakan logika di atas semuanya dan menenggelamkan imannya. Manusia jadi lupa untuk menolong sesamanya karena sibuk untuk membenarkan dirinya sendiri, tenggelam dalam individualitasnya dan pada akhirnya menjadi sosok yang paling egois. Akankah egoisme tersebiut mengalahkan iman kita untuk membuat dunia lebih baik? Karena itu ada agama. Agama ada untuk membantu manusia agar tidak menjadi sosok seperti itu, tetapi menjadi sosok yang lebih baik dan berguna bagi sesama. Yang diukur bukan agamanya, tetapi bagaimana perilaku manusia itu dalam hidupnya. Tuhan ada sebagai cahaya bagi kita untuk berharap, berserah, dan menyerahkan hidup kita sepenuhnya untuk dituntun dalam jalan kebenaran, yaitu kebenaran"Nya". Kebenaran"Nya" adalah kebenaran kekal yang manusia tidak akan bisa tentukan. Kebenaran untuk mempunyai iman yang kuat merubah dunia menjadi lebih baik.

Karena di setiap senyuman mereka, tersirat kedamaian jiwa untuk membuat dunia lebih baik

boimwang said...

kyk lima org buta yg ngeraba gajah yah 'bu ??
masing2 keukeuh bentuk gajah sesuai dgn bagian yg diraba...smpet senyum2 wkt baca , tp miris wkt sadar, diri sebuta mereka...

thanks atas tulisan2nya 'bu

Reza Gunawan said...

Ikutan dong..

Tahu karena percaya = iman
Tahu karena paham = logika/nalar
Tahu karena mengalami langsung = pengalaman

Saya merasa yang menjadi titik penting disini, adalah melampaui logika yang tentu berbeda, mengatasi iman yang tentu rumusnya tidak akan persis sama, menuju pengalaman langsung tentang Tuhan.

Dimana seandainya memang (Tuhan) benar-benar ada, ketika sudah tiba di titik mengalami langsung, semua perbedaan (dan segala debat yang lahir dari perbedaan tersebut) akan berhenti, dan barulah keEsaan dialami tanpa kata, tanpa pendapat, tanpa asumsi.

Sementara jika saja kita tiba di pengalaman langsung bahwa ternyata (Tuhan) sebenarnya tidak ada, maka kita pun berhenti juga berdebat karena menemukan keEsaan dari ketiadaan Tuhan.

Sayangnya, jebakan ilmu, baik itu ilmu agama dan maupun sains, sering menjebak kita dalam logika dan iman saja, tanpa melampauinya hingga tiba di kebenaran absolut.

Mari bergerak dari logika dan iman sebagai pijakan awal, dimana ke-Esa-an hanyalah konsep dan masih rentan untuk dijadikan bahan pertentangan, menuju pengalaman langsung.

Salam sayang dari Tuhan dalam diri kita masing-masing :)

Reza

Fahd Djibran said...

tuan
tuhan
bukan?

tuan
tuhan
ya
aku ingin
memanggilmu tanpa
namanama

tanpa
tandatanda

juga
tanda
tanya

*

tanya
tanda
juga

tandatanda
tanpa

namanama
memanggilmu tanpa
aku ingin
ya
tuhan
tuan

bukan?
tuhan
tuan


Fahd

P.S. Entah harus komen aja, eh kepikiran nulis itu tadi. Suatu saat mungkin kita ketemu lagi, Mbak. Berbincang-bincang lebih banyak lagi. Semoga.
Thanks udah komen di ruangtengah lagi, Mbak. :)

Dewi Lestari said...

Interesting sharing from all of you. And thank you Fahd, for such magnificent poem. I am deeply touched. Semoga perbedaan, persamaan, dan persinggungan, atas semua yang telah kita ungkapkan dari pengalaman dan pengertian kita masing-masing mengenai Tuhan dapat menjadi sebuah perayaan--dalam arti yang sebenarnya.

Sebagaimana yang ditanyakan oleh Guekiller: kalau yakin kenapa perlu dipertanyakan? Bagi saya, keyakinan yang sehat adalah keyakinan yang memberi ruang bagi pertanyaan dan perubahan. Ibarat kita setiap hari makan dan kadang2 berpuasa. Saat kita menghentikan ketergantungan kita terhadap makanan secara sadar, fisik dan batin kita menjadi lebih sehat dan eling. Keyakinan tanpa ruang bagi saya adalah bentuk lain dari gulita. Kita butuh celah dan keterbukaan untuk menyinari batin gelap kita sesekali.

Dan, menjawab pertanyaan Rotten, Tuhan seperti apa yang saya ingin cengkeramai? Saya tidak tahu pasti. Sejauh ini, pengalaman saya akan Tuhan selalu berubah. Bagi saya, dia adalah Yang Maha Cair. Yang terus berubah sesuai dengan bentuk cetakan yang kita sodorkan bagi-Nya.

~ D ~

Curly and Chubby said...

i believe in God
kadang mempertanyakan... tapi saya rasa pengalaman batin dan pribadi cukup mampu membuat saya percaya.
tapi saya tidak percaya agama dibuat oleh Tuhan...

semakin mempertanyakan tentang keberadaannya justru makin membuat saya yakin

yang bikin sedih sih... saat orang2 mulai membatasi hubungan antar manusia hanya gara2 agama.

saya jadi sering bertanya...
Kira-kira Tuhan sedih nggak ya kalau melihat manusia bertengkar atau tidak dapat saling mencintai... atau bahkan sampai saling membunuh hanya karena agama?

IRMA said...

Paling serem ngebahas yang ini, tapi Dee memang "piawai", ciamik deh!
Salutku padamu.

Namaste.

Ulin said...

Jika kita harus tahu dulu dan membutuhkan pengalaman untuk itu, lalu bgmn dg terbatasnya ingatan manusia? Siapa tahu kita pernah bertemu, tapi kemudian kita lupa?

Mungkin itu sebabnya Tuhan memerintahkan kita untuk memperhatikan tanda2 ciptaanNya, krn keterbatasan kita, bahkan untuk mengingatNya

M. Akib Aryo U. said...

Wow.

Sungguh, perbincangan yang sangat menyenangkan. Begitu merangsang alam pikiran saya dan menambah wawasan saya tentang seorang Tuhan.

Tapi juga membuat saya menemukan satu pertanyaan:

Apakah sebutan Anda bagi Tuhan?

Karena bagi saya, Tuhan adalah Sumber Segala Kebaikan.

dewinyamalam said...

beberapa tahun lalu, paradigma berpikir saya masih seperti itu, tuhan itu satu.. banyak jalan, satu tujuan..

tetapi ketika saya dihadapkan pada masalah, pernikahan beda agama, ternyata semua itu cuma tataran wacana.

seperti lembaga paramadina yang sering menikahkan pasangan beda agama, tetapi ketika salah seorang anak dari nurcholis madjid (yang notabene sering menjadi saksi nikah beda agama) mau menikahi pasangannya yang beda agama, tetap tidak boleh..

seperti saya, yang sampai sekarang masih maju mundur mau nikah karena beda agama.. :(

sampai kapanpun, akan ada pernyataan..
ini tuhan-ku, tuhan-mu mana?? :D

nice mbaaa...!!!

aan said...

"...karena Tuhan Si Maha Cinta tidak ingin membiarkan ciptaanNYA dalam kebingungan..." by rottennah yg ini saya setuja sekali...

Manusia itu ibarat sebuah mesin (hardware + software) maka Tuhan yg Maha Cerdas akan membekalinya serta sebuah manual book sehingga mesin tsb tdk rusak, sehingga mesin tsb dpt hidup dg benar sesuai grand design-nya.
Dan manual book tsb adalah Al-Qur'an.

"Tahu karena mengalami langsung = pengalaman" by mas RezaApabila sekarang Tuhan bersedia memberi pengalaman kpd kita semua ini, pengalaman spt apa yg mas harapkan?
Apakah pengalaman dg cara melihat, mendengar? Tp tentu saja hal tsb mjd tdk adil bg sebagian manusia, misalnya yg buta, tuli, gila, autis, dll.

Seandainya mbak Dewi diberi 'pengalaman' yg mbak Dewi harapkan, apakah mbak Dewi kemudian akan meyakini-Nya? Trus setelah jd yakin, mbak mo ngapain?
Karena bisa jd nanti suatu saat mbak Dewi akan ditanya sama Tuhan, "Kamu hidup di dunia untuk apa?"

Karena bagi saya pribadi, keyakinan itu memang ada tingkatannya, tp yg jelas keyakinan itu merupakan bagian dari keimanan seseorang. Seperti mengimani Hari Akhir.

Ibaratnya spt ini: saya yakin bahwa bu Megawati itu guendut, lebih gemuk drpd saya, ya saya yakin bgt, meskipun saya blm pernah membuktikannya di dunia ini maupun di dlm mimpi. Dan emang keyakinan saya tsb berdasarkan cukup pada informasi2 saja.

Jika mbak Dewi + mas Reza pengen benar2 mencari kebenaran absolut, maka itu butuh pengorbanan waktu, tenaga, pikiran yg buesarr... karena apa, karena semua sosok 'kebenaran' itu harus ditimbang2, dibanding2kan semuanya.
Trus timbangannya mo pake apa? Logika? Akal? Perasaan? Insting? Ego? Ahhh... kapasitas setiap manusia mah beda2.

Mesin yg cerdas mah yg bs menjalankan perintah dg benar, dan meninggalkan larangan2nya... berdasarkan apa? berdasarkan manual book yg bener, agar supaya tdk rusak/merusak.

Trus manual book manakah yg bener+cucok? Nah ini yg bs bikin lelah dlm pencarian. Tp justru dg begini hidup jd bermakna.
Ya silahkan, teruslah mencari ilmu mbak dan mas... jangan hanya meditasi / 'mengasingkan' diri... hehehehehe....

Selamat hari ini ^_^

ngelantur♀boy said...

kalau tuhan tidak esa, maka tuhan telah kehilangan identitasnya..
ia tak lagi bisa disebut tuhan, karena ada tuhan selain tuhan. padahal tuhan haruslah sesuatu yang tak bisa dibandingkan dengan apa pun. apalagi jika ada tuhan lain (baca: ia tak esa).

tuhan itu tak terbatas, ketika ia memanifestasikan diriNya, maka ia akan termanifestasi dengan tak terbatas...
di dunia ini ada banyak agama, namun ada satu hakikat yang mengikat agama2 tersebut...
cinta.

cinta??
jika ditanyakan tentang "bagaimana dengan peperangan"??
jawaban saya, itu hanya karena manusia keliru menafsirkan ajaran ajaranNYA...

ada banyak buku menarik tentang kesatuan agama-agama, diantarnya karangan fritchop schuon dan rene guenon..

kalau sedang luang, monggo dibaca deh mba..^_^

ocheholic said...

suka sama semua bukunya dee,,
suka banggggeeeddd,,

ngefan bangggeedd,,
hehehehhe,,

Yahshua said...

@Dee: thx 4 ur awesome idea …, brilliant!

@Fahd: puisinya bagus …!

Just 4 share, 4 all:

Tuhan memang Tuan. Tu[h]an maknanya beda dengan Allah. Tuhan Allah = Tuan Allah (bukan Allah Allah), Tuhan Yesus = Tuan Yesus (bukan Allah Yesus).

Tu[h]an = lord, sedangkan Allah = God.
Tu[h]an = kyrios, sedangkan Allah = theos
Tu[h]an = adon (adonay), sedangkan Allah = elohyim (eloah)

Tapi sayang, dalam perkembangan bahasa Indonesia, kata “Tuan” berubah menjadi “Tuhan”, dan menjadi rancu dengan kata “Allah” yang juga dianggap sama dengan “Tuhan”.

Saya ingin berbagi kutipan dari sebuah buku yang cerdas (Yesus Bukan Allah Tapi Tuhan, karya Ellen Kristi) mengatakan:

Kata Tuhan dalam Alkitab, bahasa aslinya adalah adon atau adonay (Ibrani), atau kurios (Yunani). Dalam bahasa Inggris adon atau kurios diterjemahkan lord. Dan ternyata, kata lord ini dalam bahasa Indonesia sehari-hari dipadankan dengan kata ... Tuan! Jadi Tuhan dan Tuan sama akar katanya. Mengacu pada NSECB, Webster, dan KBBI, arti kata tuan, lord, adon, dan kurios adalah:


Adon: from an unused root (mean, to rule); sovereign, i.e. controller (human or divine); - lord, master, owner.
[Adon: dari akar kata yang tidak dipakai (artinya, memerintah); berdaulat; yaitu pengendali (manusiawi ataupun ilahi); - tuan, majikan, pemilik.]

Kurios: from kuros (supremacy); supreme in authority, i.e. (as noun) controller; by impl. Mr (as a respectful title): - God, Lord, master, Sir.
[Kurios: dari kuros (keunggulan); unggul dalam otoritas, yaitu (sebagai kata benda) pengendali; diterapkan sebagai Tuan (sebagai sebutan hormat): - Allah, Tuan, majikan, Yang Terhormat.]

Lord: a master, a ruler, a king.
[Lord: majikan, penguasa, raja.]

Tuan: orang tempat mengabdi, sebagai lawan kata hamba, abdi, budak; orang yang memberi pekerjaan, majikan, kepala, pemilik atau yang empunya; orang laki-laki yang patut dihormati.

Keempat kata ini memperlihatkan arti keunggulan dalam kuasa (supreme in authority). Seseorang menyebut orang lain adon atau kurios kalau orang lain itu lebih berkuasa.
Semua ayat di bawah ini menggunakan adon atau kurios. Tetapi, perhatikanlah, ada yang diterjemahkan menjadi Tuan dan ada yang diterjemahkan menjadi Tuhan.

Menjelang pagi perempuan itu datang kembali, tetapi ia jatuh rebah di depan pintu rumah orang itu, tempat tuannya bermalam, dan ia tergeletak di sana sampai fajar (Hakim 19:26)

Tetapi Hana menjawab: “Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; …(1 Samuel 1:15)

… datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus, dan mereka berkata: “ Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit … (Matius 27:62,63)

Sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman (1 Petrus 3:6)

Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuhan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setianya. (Mazmur 136:3)

Kamu menyebut aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang akulah Guru dan Tuhan. (Yohanes 13:13)

Sama-sama berasal dari kata adon atau kurios, mengapa ada yang diterjemahkan menjadi Tuan dan ada yang diterjemahkan menjadi Tuhan?
Kata Tuhan ini unik, khas Alkitab bahasa Indonesia. Ahli bahasa Remy Silado pernah menulis panjang lebar tentang asal-usul kata Tuhan dalam artikel berjudul “Bapa jadi Bapak, Tuan jadi Tuhan, Bangsa jadi Bangsat” (Kompas, 11 September 2002). Ia menemukan dalam Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken, SJ bahwa “arti kata ‘Tuhan’ ada hubungannya dengan kata Melayu ‘tuan’ yang berarti atasan/penguasa/pemilik”. Selidik punya selidik, rupanya kata Tuhan ini pertama hadir dalam peta kepustakaan Melayu beraksara Latin lewat terjemahan kitab suci Nasrani. Berarti, orang Nasranilah “penemu” kata Tuhan!
Silado bilang, dalam kitab suci Melayu terjemahan Brouwerius tahun 1668, kata Yunani kurios - gelar bagi Yesus Kristus (Isa Almasih) - masih diterjemahkan tuan. Berhubung terjemahan Brouwerius ini sulit dipahami karena banyak menggunakan kata serapan dari bahasa Portugis, VOC menyuruh Pendeta Melchior Leijdecker menerjemahkan ulang seluruh Alkitab. Pada terjemahan Leijdecker inilah kita temukan perubahan harafiah dari Tuan menjadi Tuhan untuk padanan kata adon dan kurios.

Jelas, yang tadinya oleh Brouwerius diterjemahkan Tuan - sama dengan bahasa Portugis Senhor, Perancis Seigneur, Inggris Lord, Belanda Heere - melalui Leijdecker berubah menjadi Tuhan. Nanti pada abad-abad berikut, sepanjang 200 tahun, penerjemah Alkitab bahasa Melayu melanjutkan penemuan Leijdecker tersebut. Kini kata Tuhan yang mula-mula ditemukan Leijdecker untuk mewakili dua pengertian pelik insani dan ilahi dalam teologi Kristen atas sosok Isa Almasih - masalah rumit yang memang telah menyebabkan gereja bertikai dan setelah itu melahirkan kredo-kredo: Nicea, Constantinopel, Chalcedon - akhirnya menjadi lema khas dalam bahasa Indonesia. (Silado, 2002)

Mengapa Leijdecker melakukan perubahan itu? Ternyata, tujuannya agar bunyi “n” dapat dilafazkan dengan baik. Banyak orang yang baru belajar Melayu, bekas budak Portugis asal Goa, terpengaruh oleh bahasa Portugis melafaz “n” menjadi “ng”. Di Ambon, sampai sekarang, tuan dibaca tuang; Tuang Ala artinya Tuhan Allah. Leijdecker sendiri banyak melakukan kerancuan transliterasi (penerjemahan bunyi) atas kata-kata Melayu dari aksara Arab gundul ke Latin.
Hanya saja, di kemudian hari setelah Leijdecker “menciptakan” kata Tuhan, ada pergeseran makna terhadap kata ini. Dengan bergulirnya waktu, kata tuhan kini diterima oleh orang Indonesia sebagai kata yang berbeda dari tuan.

Namun, di antara sekian banyak revisi yang dikerjakan sepanjang abad ke-19 sampai abad ke-20, bahkan sampai bahasa Melayu menjadi bahasa kebangsaan Indonesia, terlihat dengan jelas bahwa lema yang digagas Leijdecker untuk menyebut Isa Almasih, Tuhan, telah terus terpakai. Penyusun kamus di abad ke-19 pun membakukannya sebagai lema tersendiri di luar Tuan.

Terjemahan kitab suci Nasrani yang dianggap tertib bahasa Melayunya adalah yang dikerjakan Klinkert. Ia membakukan Tuhan dalam kitab terjemahan itu menurut pengertian yang sama dengan bahasa sekarang. ...

Kini secara linguistik, tidak ada masalah bagi kata Tuhan yang muradif dengan pengertian ilahi. Nama ini pun sudah maktub dalam Pancasila.

Pemakai bahasa Indonesia semuanya mengerti bahwa perkataan tuan sifatnya insani, dan perkataan tuhan sifatnya ilahi. Artinya, walaupun dalam kata tuan diterangkan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan beberapa catatan, antara lain: satu, orang tempat mengabdi; dua, yang memberi pekerjaan; tiga, orang laki-laki yang patut dihormati, tetap saja dalamnya tidak mengandung pengertian ilahi. (Silado, 2002)

Memang kalau kita cermati, ada muatan teologis dalam kata Tuhan. Penerjemah Alkitab versi Indonesia memakainya untuk Allah dan Yesus Kristus, atau dewa-dewi, sedangkan untuk orang-orang selainnya akan dipakai kata Tuan. Pembedaan ini adalah murni inisiatif penerjemah Indonesia, karena tidak akan ditemukan padanannya dalam Alkitab bahasa asli.

Maka, memang akan membingungkan, jika orang membaca kitab suci Nasrani terjemahan Indonesia. Dalam kitab pertama, Perjanjian Lama yang aslinya berbahasa Ibrani, untuk kata-kata Adonai dan Yahweh semua diterjemahkan menjadi Tuhan, sementara dalam kitab kedua, Perjanjian Baru, untuk kata Kyrios [Kurios] juga diterjemahkan menjadi Tuhan. (Silado, 2002)

Berubahnya makna kata Tuhan, menjadi setara (sama kandungan maknanya) dengan Allah, adalah murni perkembangan teologis. Perubahan ini tidak ada hubungannya dengan teks Kitab Suci. Pada hakikatnya, kata Tuhan yang dipakai dalam Alkitab bahasa Indonesia sama maknanya dengan Tuan.

... pemakaian kata Tuhan merupakan sesuatu yang mudasir dalam agama Kristen, maka boleh dibilang hal itu sepenuhnya merupakan masalah teologi Kristen. Sesuai data yang kita punyai, istilah Tuhan berasal dari kata Tuan ... Perkataan ini dimaksudkan untuk mewakili sifat-sifat omnipresensi atas kata bahasa Yunani, kyrios [kurios]... (Silado, 2002)

Sekali lagi poin yang penting di sini: sekalipun Alkitab bahasa Indonesia menggunakan dua kata, Tuhan dan Tuan, di antara kedua kata itu sebetulnya tidak ada perbedaan arti, sama-sama berasal dari kata adon atau kurios. Konsekuensinya, Tuhan tidak boleh disamakan dengan Allah (elohim). Kata allah berarti makhluk ilahi atau sesembahan, sedangkan tuhan atau tuan berarti seseorang yang berkuasa atau terhormat. Allah pasti Tuhan, tetapi Tuhan belum tentu Allah. Sesembahan pasti dihormati, namun orang yang kita hormati belum tentu kita sembah.
..... :-)

Reza Gunawan said...

Dear Aan,

Saya senang dengan diskusi ini karena kita bisa saling bertumbuh dari sudut pandang yang tidak selalu (harus) sama. Jadi mohon membaca komentar saya, bukan sebagai kebenaran absolut tapi melatih kejernihan dengan cara melihat dari lebih dari satu sudut ya.

Pertama, "Manusia itu ibarat sebuah mesin (hardware + software)", bukanlah analogi yang tepat. Dan dari sinilah segala kesimpulan menjadi kurang tepat. Memang saya (dan juga Anda) punya tubuh yang diibaratkan hardware, dan pikiran yang diibaratkan software. Namun kita BUKANLAH si tubuh dan si pikiran itu sendiri. Kita hanya memiliki tubuh dan pikiran itu sebagai kendaraan untuk menjalani hidup. Jadi analogi yang lebih tepat, manusia adalah kesadaran (atau jiwa, atau ruh, atau apapun yang cocok sebutannya) yang memiliki mesin (hardware+software).

Hanya dari beda pemahaman yang sedikit tapi signifikan itu, kita disediakan ruang gerak dari latihan kesadaran Ilahi yang bersifat dualitas (melakukan perintah dan menjauhi larangan, demi mendapat tiket surgawi dan terbebas neraka), menuju latihan kesadaran Ilahi yang semakin non-dualitas. Di pengalaman non-dualitas inilah, kita memperoleh pengetahuan langsung tentang ke-Esa-an yang sebenarnya.

Di pengetahuan/pengalaman langsung ini, akan muncul pengertian bahwa tidak ada yang memberikan pengalaman, tidak ada yang mengalami, dan proses pengalaman tersebut pun tidak ada sebagai unit yang terpisah.

Di lain sisi, pendapat Anda bahwa "mesin yg CERDAS adalah yang bisa menjalankan perintah dg benar, dan meninggalkan larangan2nya, dengan mengacu pada manual booknya" juga terasa agak janggal di nalar saya.
Sebab, kalau sekadar menjalankan perintah dan menjauhi larangan di manual book, mesin tersebut sama sekali belum layak mendapat status CERDAS, dan sebenarnya baru mencapai status PATUH.

Sedangkan status CERDAS, menurut pendapat pribadi saya, adalah ketika kita sudah sadar bahwa kita bukanlah si mesin itu sendiri, namun kitalah operator mesin tersebut, dan kita hidup tidak untuk sebatas PATUH pada manual book saja, namun mengenal langsung si penulis manual book tersebut.

Dan terkadang (meskipun tidak selalu), untuk kenal dengan sosok penulis sesungguhnya (apakah itu buku tulisan manusia atau kitab Ilahi), kita perlu menunda sejenak segala persepsi dan pemahaman yang sudah kita punya tentang makna tulisan tersebut, dan bertemu serta tanya langsung sama yang nulis kan?

Bedah buku yang paling mencerahkan (dalam arti meluruskan segala salah paham, asumsi dan persepsi) adalah ketika yang menjernihkan pemahaman adalah si penulisnya langsung, bukan sesama pembaca buku.

Salam,
Reza

Rufina Anastasia Rosarini said...

really2..nice post..kalo ngomongin masalah Tuhan, mang ga ada habisnya..

SANTI said...

Saya setuju banget ama Reza, juga tentang bedah buku harus dengan penulisnya, bukan sesama pembaca... hehhee.. makanya aku pengen banget ikutan beda buku Rectoverso dengan Dee... sayang, belom ada kesempatan....
Suami saya juga sempat komentar nih waktu saya ceritain ttg diskusi di blog ini, dia setuju dengan Reza :
Tahu karena percaya = iman
Tahu karena paham = logika/nalar
Tahu karena mengalami langsung = pengalaman

Menurutnya arti tsb sangat dalam.

To Aan :
Apa sih meditasi? Apa sih tujuan meditasi? Apakah meditasi=mengasingkan diri? Bijaknya sih cari tahu dengan mengalami meditasi itu sendiri...

Thanks tuk Dewi en Reza... dan juga teman teman lain atas diskusi menarik ini.

SIWA BUDDHA said...

Dear Mbak Dewi Lestari ;)

Perkenalkan, saya Upasaka Ratana Kumaro dari Semarang... ;)

Seneng banget baca tulisan2 mbak Dee , dalem, inspiratif banget.. ;)

Saya juga punya blog mbak *promosi niy :D *, alamatnya = http://ratnakumara.wordpress.com BUat temen2 disini, mampir2 ya :)

Sukhi hottu,
Mettacittena,

fege said...

menarik membaca ulaan mba dewi.
sebenarnya kalau mau menilik asal muasal katanya, agama dan Tuhan adalah hal yang berbeda.

jadi sebenarnya bagi saya sangat memalukan kalau ada yang mengatakan bahwa agama dan Tuhan adalah hal yang saling terkait.

agama (asal kata a dan gama) adalah segala sesuatu yang bisa digunakan untuk mencegah kekacauan.

sedangkan pencarian Tuhan lebih kepada tentang siapa itu sosok Tuhan. apakah dia nyata atau hanya sosok semu yang sebenarnya tidak ada.

Yesus yang mengklaim dirinya sendiri sebagai Tuhan pun tidak pernah mengajarkan agama kristen. yang diajarkan adalah ajaran kasih. nah ajaran kasih inilah yang lebih cocok disebut sebagai agama.

salam kenal mbak dewi.. :)

ega said...

Hahahaaha... Klo bicara soal agama dan Tuhan, ga akan prnah habisnya.
Saya sering brtanya, bagaimana Tuhan tidak pernah mengorbankan dirinya disalib utk menebus dosa2 kita? Apa yg akan trjadi skrg?
Bagaimana klo sbnarnya Tuhan tdk ada dan semua ttg surga dan neraka hanya mitos? Apa iman kita ttp teguh?

Bbrp hal saya pelajari.
Jgn pernah memandang Tuhan sejauh persepsi kita krn Tuhan jauh dari itu semua dan yang membatasi manusia dan Tuhan adalh persepsi manusia ttg Tuhan.

Klo ngmgin agama, saya sgt tertarik.

Dan apa yg mba tau ttg agama? Mendalaminya? saya hanya ingin tau.

duca said...

ketuhanan maha esa, bukan maha eka

Victor Alexander Liem said...

Alm. Romo Mangun pernah mengatakan. Jika Sapibisa bicara, maka ketika dia ditanya: "Apa itu Tuhan?" Maka sapi itu akan menyebutkan bahwa Tuhannya itu bertanduk.

Kadang kita terlampau curiga dengan atheis, atau bahkan agama non samawi. Dianggapnya silsilah ketuhanannya gak jelas. Padahal tradisi mistik berpijak pada praktik, pengalaman, yang meniadakan sok tahu akan sesuatu --terutama yang belum dialami.

Terlampau naif dan berlebihan, jika orang yang belun "merasakan" Tuhan tapijustru fasih ngomong ttg Tuhan. Bahkan mengatasnamakan apa yang dilakukannya sbeagai kehendak Tuhan.

Bahkan SeorangGuru Zen pernah berujar: "Jika bertemu Buddha, bunuh Buddha"

Membunuh Tuhan, Buddha, atau atribut suci lainnya, hal itu justru cara memuliakan "Tuhan" yang harus dibedakan dengan hasrat manusia yang menjelma dalam keTuhanannya.

michan said...

Mba Dewi, ini Michan.
Tentang Tuhan, Michan ambil MKU Fenomenologi Agama di UNPAR. Menarik sekali postingan Mba Dewi tentang Tuhan.

The Silenced One said...

Two men can love God equally,
but if they worship DIFFERENTLY, they're enemies.
If devotion to a higher power turn neighbors into strangers,
how can loving each other be any less trouble.

Andreas said...

Pertanyaannya adalah: tuhan yang menciptakan kita, atau kita yang menciptakan tuhan?

perang dan ketidakdamaian, kotak-kotak yang menggolong-golongkan manusia, saya rasa itu bukan karena tuhan. Tp karena pemikiran manusia yang picik dan sok suci.

Kalau tuhan benar-benar ada, mungkin dia sekarang sedang ketawa miris melihat anak-anaknya yang sok tau dan sok kenal ini..

Catur Ratna Wulandari said...

Tuhan...
Sebelumnya tidak pernah saya pertanyakan tentang keberadaannya. Sejak kecil, saya diberitahu agar memiliki agama. Tidak ada pilihan, hanya menganut apa yang sudah dianut orang tua saya.
Tidak pernah bertanya, apakah ini yang paling benar?
Apakah mayoritas adalah yang paling benar?

Sampai suatu ketika, aku jatuh cinta pada laki-laki yang berbeda agama dengan saya...

Perbedaan yang membuat semua keluarga mengibarkan bendera perang pada kami.

Lalu saya berpikir...
kenapa agama justru membuat perang?
yang paling tajam, karena mereka menganggap berbeda agama berarti pendosa. Karena dianggap menghianati Tuhan mereka. Mereka pikir Tuhan nya yang paling benar...

Leher kami tercekat...
keyakinan turun temurun, yang dalam perjalanannya harus menyaksikan peperangan alasan perbedaan itu, membuat tak ada lagi ruang berfikir...

Apakah Tuhan begitu kejamnya?
Jangan-jangan Tuhan sesungguhnya Maha Baik...
Tidak seperti yang mereka gambarkan pada saya...

Saya sepakat.. perbincangan tentang agama dan tuhan pada akhirnya hanya menjadi wacana...
Karena sesungguhnya hati tidak cukup sanggup mendengarkan dan menerima orang lain mengimani agama lain, memilih jalan hidup lain, memilih pasangan yang berbeda agama...
semua kebaikan seorang manusia tiba-tiba tertutup jelaga saat tahu tidak seagama...

Aku harap Tuhan tidak seperti itu.. Aku harap Tuhan lebih lembut dari yang katakan....

Dewi Lestari said...

Hai Ratna,
Terima kasih untuk sharingnya. Friksi akan Tuhan dan agama memang baru terasa jika kehidupan kita dengan nyata mengungkapnya. Jika belum muncul friksi, maka kredo Tuhan Yang Maha Esa rasanya baik-baik saja.

Hai juga untuk Michan, kamu udah mahasiswa ya sekarang? :)

To: Victor, uraiannya sangat mengena. Salam kenal.

To: Yahshua, selama ini bisa jadi Tuhan terkena fenomena 'lost in translation' juga, ya? :) Terima kasih sekali untuk pemaparan yang memperkaya wawasan.

Salam kenal untuk semua yang baru pertama kali comment/mampir,

~ D ~

irvan mulyadie said...

ah...masalah klise ini. memang bagus buat diangkat sebagai upaya penggalian substansi logika vs iman. hanya saja aku miris membacanya...tentu, mungkin bagi sebagian orang (termasuk aku), sikap atau pernyataan seperti ini bukan hal yang luarbiasa. Entah bagi orang2 di luar sana yang nganggap ini sebagai sesuatu yang serius dan tak bisa ditolelir.

Negara ini masih merasa diri sebagai bangsa yang religius. Aku setuju itu 100%. Persetan dengan dalih serta wajah kenyataan yang bercokol di kota2 gede yang mengangggap agama dan tuhan sebagai umpan atau mainan kekuasaan saja.

Dogma2 ketuhanan selalu banyak dipertanyakan oleh orang-orang yang mencari celah kekuatan-kelemahannya untuk sesuatu yang lebih lagi. Entah untuk kebutuhan politik atau doktrinasi kalangan tertentu. Dan itu sudah terjadi sejak jaman sebelum Nuh membuat perahu.

tapi untuk saat ini, pertanyaan2 itu lebih seperti MENCIBIR ketimbang merenung ke arah filosofis keimanan. toh banyak orang di luar budaya kita yang sering bersorak untuk merespon hal seperti ini.

"PESAN YANG JERNIH" selalu menyisakan "sketsa kesimpulan" yang menguatkan keyakinan itu sendiri. Dan bukan sebaliknya..... Tapi, so what gt l......

SEE SRI READ said...

Tuhan tertawa ketika kita manusia berpikir

sam said...

salam kenal dee...

entahlah dee, saya dengan sengaja dan suka relah membiarkan pikiran saya 'mengalah' pada saat saya sudah tidak mampu lagi untuk menjawab tentang keberadaan tuhan yang mengalir terus menerus.

karena dengan menyerah aku tidak merasa rugi. :)

aulia said...

Hmm. Well everyone has their own beliefs and thoughts..:)

Pernah baca buku Jeffrey Lang? Judulnya "Aku Menggugat, maka Aku Kian Beriman". Menurut aku, setiap manusia berhak bertanya, berhak berpikir akan agama dan Tuhan mereka..

tapi kadang manusia sendiri TAKUT untuk bertanya dan berpikir, karena mereka takut mereka tidak lagi beriman..tdk lagi berTuhan. Mereka takut iman mereka akan goyah,,lalu mereka disebut sesat,, yaa, istilahnya, mereka takut keluar dari comfort zone mereka sendiri.

Anyway, makasih mbak buat posting-annya:) cukup membuat merenung..meski mungkin tiap orang merenung dalam jalan yang berbeda2:)

Fahd Djibran said...

Hallo Mbak Dee, saya komen lagi ah. Diskusi di boks komentar ini makin asyik aja. Oh ya, mbak--dan teman-teman lainnya, saya bikin esai tanggapan untuk tulisan ini di ruang tengah.

http://dee-idea.blogspot.com/2009/05/keyakinan-pada-tuhan-yang-esa-adalah.html

Selamat membaca. :)

Salam,
Fahd

Sidiq said...

Mba, saya kagum sama tulisan mba. Sangat tajam.
Saya mungkin lebih bisa mengerti kalau tulisan di atas dibuat seorang ateis atau agnotis, tapi buddhis?

Saya tahu buddhism itu termasuk non-teis, tapi apakah buddhism tidak mengandung doktrin juga, mba?
Maaf kalau saya bodoh soal agama mba. Saya tak terlalu ngerti ajaran yang lebih esensial seperti karma dan reinkarnasi, tapi sekadar yang fisik saja yang baru saya amati. Ada banyak rupang, dupa, dan sesaji. Pernahkah mba bertanya tentang hal-hal remeh seperti itu? Untuk apa? Siapa yang mulai membuatnya? Manfaatnya?
Atau kisah-kisah mukjizat buddha yang sering saya lihat di komik dan buku cerita. Mba percaya yang seperti itu? Ataukah juga mencantumkan tanda tanya?
Buddhism yang saya amati tampaknya agak berbeda dari pemikiran mba di atas. Sekali mohon maaf kalau pengetahuan saya dangkal.

Terima kasih.

Rudy Gunawan said...

"...matilah terhadap apa yang kau tahu..." (Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh.)

Ada yang bilang bahasa manusia terlalu terbatas untuk bisa melukiskan Tuhan, menurutnya Tuhan hanya bisa dirasakan. Juga sebenarnya "Cinta / Tuhan" hanyalah kata kata dari bahasa manusia, tapi manusia menambahkan perasaan terhadap kata itu. Perasaan nya akan beda kalo kita menyebut "Perang / Setan". Jadi mungkin manusia selama ini ribut cuma karena kata - kata yang diberi perasaan. Apakah Tuhan mengijinkan itu terjadi? kalo nggak diijinkan lalu kok bisa terjadi? Atau, kenapa diijinkan terjadi?

Katanya supaya manusia bisa belajar...kok lama banget ya? apa kita manusia semua bego - bego? mungkin emang kita nya 'malas' untuk mengerti esensi kehidupan, kita lebih asyik mengalir ikut arus. tapi mungkin dalam mengikuti arus itu, juga ada suatu pembelajaran.

Lalu kalo dah belajar mau apa? supaya bisa menerima / melupakan / memaafkan? ini kayanya bicara tentang ego...

well, jadi bingung sendiri...:) memang mungkin harus dialami aja, nggak usah dibahas panjang lebar...

salam,

Mira Kurniasari said...

tolong renung kisah ini tentang keberadaan TUHAN

APAKAH TUHAN MENCIPTAKAN KEJAHATAN ?
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".
"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.
" Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?".
"Tentu saja," jawab si Profesor,
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada.
Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada.
Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."
Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?" Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."
Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak.
Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak.
Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"
Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya.
Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak.
Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan.
Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya Cahaya Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."
Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.


mira
www.thegoodnoni.com

Poodeww said...

Mbak Dewi yang selalu saya kagumi..
Saya senang membaca tulisan mbak, dan jg comment2 yang masuk setelahnya. Saya belajar, banyak belajar tentang Tuhan dari sini..

Saya memang bukan seorang yang religius dibandingkan teman2 saya, sangat jauh dari kesan religius. Tapi saya percaya Tuhan itu ada. Mungkin banyak orang yg masih bingung apakah Tuhan ada atau tidak. Bagi saya, untuk segala sesuatu yang sulit kita pahami, cobalah sederhanakan itu, permudah agar kita dapat memahami, meski itu tergantung dari cara kita masing-masing.

Banyak pertanyaan tentang Tuhan yang sering saya dengar dan saya pikirkan, walau akhirnya saya tidak dapat menemukan jawabannya (maaf otak saya agak lemot), dan ujung-ujungnya saya berusaha menyederhanakan dalam pemahaman saya sendiri.

Saya tidak terlalu peduli tentang pernyataan2 yang sering beredar tentang ketiadaan Tuhan, agama2, penyalahgunaan maupun kesalahpahaman dlm beragama dan ber-Tuhan. Buat saya, agama hanyalah wadah, tempat, ruang yang menampung saya. Setiap orang diciptakan berbeda2, karena itu belum tentu setiap orang muat di wadah yang sama, dan karena itu pula muncul wadah2 yg lain untuk menampung ciptaan2 Tuhan yg lain.

Tentang Tuhan, saya percaya Dia ada, karena saya yakin semua hal yg ada di bumi ini, terkecil sampai terbesar pasti ada penciptanya, dan ada tujuannya. Saya memang tidak pernah merasakan mukjizat dari Tuhan, tapi saya percaya dengan saya yang sehat & berkecukupan seperti ini, apalagi namanya kalau bukan berkat dari Tuhan, energi yang paling kuat yg saya bisa rasakan dalam kehidupan saya setelah diri saya sendiri.

Saya menganggap Tuhan lebih seperti teman dan ayah. Saya punya masalah saya minta tolong, saya sedih saya curhat, saya bete saya cerita, saya senang saya bilang, saya merasa terpenuhi saya bersyukur, saya salah saya minta maaf. Sering saya ngomong sama Tuhan dan saya tahu Dia dengar semua yg saya katakan. As simple as it.

Buat saya, Tuhan itu sangat baik, dan kebaikan adalah inti dari segala wadah yg menampung kita. Sayang banyak orang yg salah mengartikan kebaikan itu dan pada akhirnya salah mengartikan maksud Tuhan.

Ada salah satu quotes dari Dalai Lama yg saya suka dan selalu saya ingat:
"This is my simple religion. There is no need for temples; no need for complicated philosophy. Our own brain, our own heart is our temple; the philosophy is kindness."

Terima kasih mbak Dewi atas tulisan yang membangunkan hati dan pikiran saya. Saya tunggu yg berikutnya :)

GBU mbak, salam kenal yah hihiii

rei_loh said...

malem...

pernah baca tentang Syehk Siti Djenar? terus terang gw lom pernah, tapi kalo ga salah intisari ajaran dia mengenai Tuhan kurang lebih gini,

setiap manusia yang dilahirkan memiliki sebagian kecil (bahkan teramat kecil) "dzat" Tuhan, dengan demikian sebenarnya telah terjalin sebuah hubungan yang mendalam antara Pencipta dengan makhluk yang diciptakannya... untuk itu apabila kita ingin lebih mengenal Sang Pencipta, kita perlu menggali sisi-sisi ketuhanan yang ada dalam diri kita... dengan cara bagaimana? tentu dengan cara yang kita yakini masing-masing, bukankah doa adalah sarana kita bercakap dengan Tuhan? dan agama adalah guide line-nya... dari post diatas tertulis saat ini ada lebih dari seribu agama dan kepercayaan, bukankah semua itu memiliki satu muara... mengajarkan kita untuk dekat dengan Tuhan melalui cara mereka masing-masing, namun apabila kita merasa kita sudah dekat dengan Tuhan maka apa kita tidak boleh "bercakap" dengan-Nya dengan cara kita sendiri tanpa mengikuti tata cara "bercakap" dari agama manapun?

dengan ajaran tersebut maka kemungkinan Syehk Siti Djenar untuk menjadi seorang yang "tidak beragama" (ingat bahwa dengan pengertian tujuan agama seperti diatas ini berbeda dengan "tidak ber-Tuhan", karena sesungguhnya ia juga sangat mempercayai Tuhan)menjadi sangat tinggi, hal inilah yang mengundang kegelisahan para Wali lain, karena dapat merusak tatanan agama yang mereka bawa, selain itu mereka juga berpendapat bahwa dengan ajaran itu taraf manusia dalam kedekatannya dengan Tuhan menjadi tidak terukur (walo dengan adanya agama juga belum tentu terukur, namun minimal setiap agama memiliki larangan dan kewajibannya masing2 sehingga lebih mudah dikontrol)...

Sebagai contoh, saya ambil dari Angel & Demon nya Dan Brown, bukankah membunuh sesama manusia itu dilarang? dosa hukumnya? tapi gimana kalo pembunuhan itu dilakukan dengan atas nama Tuhan? (begitu juga dengan perang panjang Moslem dan Nasrani memperebutkan Jerrusalem) bukankah pelakunya merupakan orang yang sebenarnya dekat dengan Tuhan?

Sorry kalo ngelantur, tapi saya jadi punya pertanyaan gara2 nulis ini... :)

Kalo emang kita punya dzat Tuhan dalam diri kita, apakah kita salah apabila kita berbuat yang bersifat "salah"? karena bukankah di semua ajaran (yang saya ketahui) Tuhan selalu memiliki sifat-sifat yang bertolak belakang, misal : Maha Pencipta namun juga Maha Penghancur, Maha Mengetahui dan Maha Tidak Mengetahui, Dewa yang bersifat kasih sayang dan Dewa yang bersifat murka... dll

semoga post saya dibaca dengan hati yang dingin dan jernih... Terima kasih sudah boleh numpang nulis...

Oiya sekalian tanya yah... bukannya buku Petir masih berhubungan dengan Akar? apa bukunya masi berlanjut lagi ke judul lain? soalnya kok kaya nggantung gitu, akhirnya kaya ada yang perlu penjelasan lebih lanjut...

salam

Dewi Lestari said...

To Sidiq:

Ajahn Brahm pernah berkata, pada akhirnya agama pun harus dilepaskan. Seperti analogi yang juga dipakai Fahd dalam posting terakhirnya mengenai Tuhan, agama dapat dilihat sebagai sampan atau rakit untuk mencapai sebuah daratan. Tapi jika memang sudah sampai di tujuan, rakit tsb harus dilepaskan, jika tidak, kita akan terikat selamanya di tepian dan tak bisa menginjakkan kaki di daratan--yang justru menjadi tujuan dari perjalanan tadi. Di daratan, rakit tak lagi berguna.

Semua agama memiliki lapisan dogma dan doktrin. Saya tidak punya masalah dengan keberadaan itu semua, pada tahap tertentu, semua itu memang berguna. Tapi pada satu tahap, "bekal" kita itu pun harus siap dilepaskan, karena jika tidak malah akan membuat kita terbelenggu. Saya tidak ada masalah dengan rupang, sesaji, dsb. Bukan itu juga yang menjadi poin dalam tulisan saya. Yang menjadi interest saya adalah sampai di mana kita mampu menerima apa yang kita anggap sebagai sebuah kebenaran yang mapan--dan belum kita alami langsung--sebagai sebuah keterbatasan, dan sanggupkah kita melepaskannya jika memang diperlukan? Dan bagi saya pribadi, justru itulah yang menjadi inspirasi terbesar dari ajaran Sang Buddha, saat beliau mengajak orang-orang untuk membuktikan sendiri, bukan menerima begitu saja. Tradisi 'pengalaman' juga bukan eksklusif milik Buddhis. Islam juga punya Sufisme, Kristen punya Mistikus, Yahudi punya Kabballah, dsb. Tapi tradisi pengalaman memang merupakan minoritas.

Dalam pengalaman saya mengikuti meditasi vipassana, instruktur saya bilang bahwa umat Buddhis selalu jadi yang paling sedikit dari segi jumlah, dan yang paling susah untuk 'menangkap' mutiara pengalaman meditasi. Kenapa? Saya bertanya. Dan beliau menjawab: karena sekalipun meditasi merupakan bagian inheren dari ajaran Sang Buddha, sedikit sekali umat yang mau nyemplung bermeditasi. Peminat meditasi tetap menjadi minoritas. Dan dari yang minoritas itu, banyak juga yang 'terhambat' karena lapisan teoritis mereka terlalu tebal sehingga menjadi penghalang saat meditasi.

Dan itu jugalah yang, menurut saya, menjadi penghalang utama saat kita ingin mengalami Tuhan, yakni tebalnya konsep dan pengetahuan kita akan-Nya. Dalam tradisi mengalami, semua itu berpotensi menjadi penghalang. Namun sekaligus juga dapat menjadi titik tolak jika kita sanggup mentransendensinya.

~ D ~

ima said...

Soul, God inside me...
Nature, God around me..
Inside n outside..
everywhere nowhere..
:)

Fahd Djibran said...

Makasih diskusinya, Mbak Dee. Soal hierarki-berbelit atau tangled-hierarchy anatara "pengetahuan dan pengalaman", pada dasarnya saya setuju. Tapi bagaimana kalau saya pahami sebagai lingkaran saja? Sesuatu yang semua titik pusatnya ada di semua sisinya. Semuanya menjadi titik awal sekaligus titik akhirnya. "~-alpha-omega-alpha-omega-~" dan bukan "alpha and omega" ("al-awwalu wa al-akhiru" dengan "waw lil mutlaq al-jam'i" atau "konjungsi keseluruhan"). Bagi saya tidak ada lingkaran yang mati, hanya ada lingkran yang terlihat mati. Sebab kalau kita dekati lingkaran itu sebagai keseluruhan dirinya, kita akan mendapati titik-titik yang terus bergerak.
Soalnya sederhana: saya mengalami pengetahuan, mengetahui pengalaman, dan akhirnya menyadari pengetahuan dan pengalaman. :) Seperti seorang pelaut mabuk yang sampai di tepian pantai setelah melayari ombak samudera, saya kehilangan batas anatara pengetahuan dan pengalaman. Kalau pake tafsir Jenar, mungkin itulah "menunggaling kawula-gusti" (bukan kawula lan gusti), saat seseorang tak lagi bisa membedakan pengetahuan dan pengalaman, tapi menyadari "tuhan dalam dirinya" dan “diri dalam tuhannya”.
Soal tanda tanya, saya setuju. Bahkan tanda tanya itu sudah jadi bagian dari diriKu, mbak. :)

Appreciate,
Fahd

Sidiq said...

'Mengalami'...
Unik sekali mba, ini pengetahuan baru buat saya.
Dulu saya berpikir bahwa hanya ada dua kutub dalam pola pemikiran manusia: kutub dogmatik yang diwakili mitos dan religi, serta kutub rasional yang diwakili oleh sains.
Tadinya saya pikir yang mba maksud dengan 'mengalami' itu adalah sejenis tradisi empirisme, tapi agaknya saya salah. Maklum saya mahasiswa yang setiap hari dijejali dengan jurnal penelitian dan kaidah ilmiah yang ketat. ;p

Saya sempat baca-baca sedikit tentang meditasi vipassana, tapi entah lah saya agak bingung. Istilahnya mirip dengan istilah-istilah ilmiah, tapi berbeda. Mungkin mba bisa bantu saya untuk mengerti lebih kongkrit apa yang dimaksud 'mengalami' itu? Karena sejujurnya saya kurang paham dan takut salah jika hanya menebak. Atau mungkin ada link website yang bisa saya baca?

Oh iya, di mana kira-kira saya bisa mendatangi kelas meditasi di jakarta? barangkali saya bisa mencoba.

Sekali lagi terima kasih. ;)

ade irra said...

hai, dee...
saya selalu mengikuti blog Anda tapi biasanya cuma membaca dan tidak pernah ikut berkomentar.

tapi kali ini saya ikut tergugah berkomentar karena saya memiliki pengalaman mirip dengan CIN[t]A.

perbedaanlah yang memaksa saya memilih antara dua cinta yang berbeda konteks tapi tidak bisa dipersaingkan, antara kekasih dan keluarga. perbedaanlah yang memisahkan kita untuk sementara tapi nyatanya di beberapa waktu kemudian 'entah kenapa' dipersatukan lagi oleh sang sutradara.

sampai saat ini saya masih selalu bertanya tentang perbedaan yang ada dan maksud Tuhan yang sebenarnya untuk manusia dan untuk saya.

belum ada jawaban tapi saya percaya, Tuhan tidak pernah beragama.

buat calon orangtua, ingatlah untuk tidak pernah meminta anak2 memilih di antara orangtua dan orang lain karena perbedaan padahal basisnya sama -cinta-, karena itu akan selalu menyiksa mereka di dalam hati.

selamat hari waisak, dee...

visit www.adeirra.com/blog

Kasim Benzema said...

sesuatu yang dipercayai tanpa dapat membuktikannya adalh percaya buta namanya. Tuhan tunggal dan disitulah letak kekkuasaannya, karena Dia tunggal makanya hanya Dia yang berkuasa. Tuhan tidak terbatas dan tidak dapat dibatasi. Ketika tuhan dibatasi, artinya tuhan terbatas. dengan demikian untuk apa menyembah sesuatu yang terbatas. Jadi, pikirkan kembali kenapa anda bertuhan.
Mungkin saja anda bertuhan karena orang tua anda yang menyuruh ataukah anda bertuhan karena anda orang indonesia, dimana di Indonesia tidak ada tempat untuk orang tak bertuhan...

Dewi Lestari said...

To Kasim:

"Sesuatu yang dipercayai tanpa dapat membuktikannya adalh percaya buta namanya. Tuhan tunggal dan disitulah letak kekuasaannya, karena Dia tunggal makanya hanya Dia yang berkuasa."

Saya kurang paham. Jadi, maksudnya, ketunggalan Tuhan yang Anda sebut2 adalah hasil percaya buta sebagaimana yang Anda tulis di kalimat sebelumnya, klaim yang Anda baca atau dapat dari tangan ketiga, atau Anda pribadi sudah membuktikannya?
Posting saya bukan mempertanyakan Tuhan ada atau tidak secara konsensus, melainkan keberadaan Tuhan sebagai pengalaman pribadi. Dan beranikah kita jujur akan status perkenalan kita dengan Tuhan. Pertanyaan yang Anda anjurkan sudah lama sekali saya ajukan bagi diri saya sendiri.

"Indonesia tidak ada tempat untuk orang tak bertuhan..."

Agama Buddha adalah agama non-teistik. Umatnya ada jutaan di Indonesia.

~ D ~

Kabasaran Soultan said...

DAUR ULANG

Tanah terhampar

Hujan menyiram

Batang menjulang

Dedaun merimbun

Mentari merekah

Angin mengelus

Dedaun gugur

Tanah memeluk



Dedaun mengurai

Tanah menggembur

Rerumput menari

Menghampar bumi

Cacing berbiak

Mata pancing menikam

Kail dilepas

Ikan menggelepar




Api menyala

Minyak mendesir

Ikan digoreng

Aroma mengalir

Selera terundang

Ikan dimakan

Perut kenyang

Kantuk datang.




Subuh terbangun

Dingin menusuk

Perut meradang

Minta kebelakang

Lari kekolam

Duduk semedi

Menguras perut

Yang penuh isi.



Perut terkuras

Lega di hati

Air menyibak

Ikan berdesak

Berenang garang

Berebut makan

Saudara sendiri.




Lonceng berbunyi

Hati mengeri

Berjalan diri

Ke rumah si mati

Tangis memecah

Tandu diusung

Mayat ditanam

Cacing menanti



Mayat terurai

Tanah memeluk

Lalu …..

Ada diri jadi pohon

Ada diri jadi rerumput

Ada diri jadi cacing

Ada diri jadi ....


Siapakah kita ?.
Dimanakah kita ?.

Siapakah DIA ?.
Dimanakah DIA ?.

rei_loh said...

malam...

mau sedikit comment lagi, "...Belum lagi Tuhan jarang berdiri sendiri, Ia membawa institusi agama, orang tua, keluarga besar, adat istiadat, bahkan aturan pemerintah Indonesia yang melarang pernikahan beda..." mba' dee, menurut saya pernyataan diatas kebalik deh... bukannya institusi agama, orang tua, keluarga besar, adat istiadat, bahkan aturan pemerintah Indonesia yang membawa-bawa nama Tuhan? jadi sebenernya Tuhan sudah berdiri sndiri kan???

"...seberapa banyak pengalaman langsung kita tentang Tuhan hingga kita berani mengatakan bahwa Ia cuma SATU? Bahwa Ia sama dan seragam bagi semua orang, layaknya matahari bagi Bumi? Percayakah kita bahwa Tuhan itu esa atau..." saya kira semua orang dengan pengalaman yang paling sedikitpun mengenai keberadaan Tuhan akan mengatakan tuhan itu cuma satu, termasuk saya, namun untuk mengatakan bahwa ia sama dan seragam bagi semua orang itu hal lain yang sulit terwujud... karena apa? mungkin karena dia tidak memiliki wujud, tidak dapat dibau, tidak dapat dilihat, didengar dan dirasakan, tapi kita tahu pasti Dia ada... beda dengan matahari yang dapat dilihat, dirasakan dan dipelajari secara ilmu pengetahuan, persepsi orang akan sama bahkan hingga ke masalah ilmiahnya (bahwa matahari adalah bintang dan memiliki umur,dll), ini berbeda dengan Tuhan.

Kenapa untuk mengatakan bahwa Ia sama dan seragam bagi semua orang itu hal lain yang sulit terwujud sekalipun ia sudah mengalami pengalaman langsung dengan Tuhan? karena ilmu mengenai Tuhan yang ditangkap dan diyakini tiap orang berbeda-beda. Saya ada beberapa contoh, yang pertama seorang teman saya "A", dia dulunya seorang Katholik "KTP", seorang rasionalis hingga bisa dibilang atheis, suatu saat dia mengalami kecelakaan mobil parah (parah banget, mobil nyaris kebelah 2) dan disaat menjelang kecelakaan dia tanpa sadar berucap "ya Tuhan selamatkanlah aku!" ajaibnya dia selamat tanpa luka satupun! (beneran lecet n pendarahan dalem aja nggak!), sekarang dia jadi Katholik yang paling taat, loyal dan royal yang saya kenal. Lain lagi dengan teman saya "B" yang untuk mempersingkat, kita anggap "B" memiliki kondisi yang sama namun dia adalah seorang Moslem, kedua orang tersebut akhirnya mengakui keberadaan Tuhan dan bagi mereka Tuhan cuma satu, namun Tuhan yang mereka anut berbeda dan mereka tidak mengakui Tuhan selain Tuhan mereka, semua itu lebih mengarah pada keyakinan apa yang mereka ketahui sebelumnya, dari mana "Tuhan" mereka diajarkan sebelumnya yang pada akhirnya agama apa yang mereka yakini saat itu... Tuhan tidak mungkin diseragamkan! bukan karena sudah ada beribu-ribu agama sebelumnya, namun lebih kepada persepsi masing-masing individu untuk mencari Tuhan yang paling tepat untuk mereka dan tentunya akan muncul persepsi yang tidak terbatas! Bahkan mungkin jika dapat dilakukan sebuah eksperimen, sekelompok anak yang belum mengenal agama kita beri kebebasan untuk mencari "suatu Tuhan" berdasarkan pengalaman maka akan muncul Tuhan yang berbeda-beda, namun saya yakin bahwa pilihan mereka pasti adalah yang paling kuat, yang paling sukar dijelaskan, yang paling menakutkan, dan yang "ter" lainnya, dan pada akhirnya akan menjadi seperti saat ini kan??

thanks mba' dee dah bole nulis lagi, bagi saya Tuhan itu satu tapi tiap orang akan memandang Tuhannya dengan caranya masing-masing, Nabi Muhammad SAW pernah mendapat wahyu dari Allah SWT "...janganlah engkau berdebat mengenaiku dengan ahli kitab terdahulu..." knapa? ya karena pada dasarnya ya Dia juga...

DONdikr said...

Sederhana aja se mbak?
Mbak mow kenal Tuhan kan?

Gampang
Cari aja di WEDA
Liat diInjil
Temukan di Al-Qur'an

Insyaallah
ketemu

Amiin

wara srikandhi said...
This comment has been removed by the author.
rfsinulingga said...

Stelah membaca post ini, ada dua pertanyaan yg langsung menohok aku...

"Seberapa kenalkah aku dgn Tuhan?"
"Seberapa kenalkah aku dgn agamaku?"

Aku rasa gak perlulah kita mempertanyakan tata cara pelaksanaan ibadah masing2 agama. Karena kita gak akan bisa mengerti atopun mampu menghayati maknanya klo kita bukan penganut agama tersebut.

Terima Kasih

guruiler said...

Salam...
Akhirnya ketemu juga blog pemilik Supernova, tapi maaf ya Mbak, bukan menghina cuma aku mau ketawa aja...
Hahahaha....
Begitulah Mbak... Bagian bicara tentang Keseluruhan, Ciptaan bicara tentang Penciptanya, Gak mungkin lah...
Hidup itu sederhana Mbak... jalani aja, yakini keyakinan, gak ada yang salah dengan tafsir kita kok Mbak...
Bahkan dinestapa yang terdalam kadang mengalir kasih sejati Tuhan yang tak mungkin terjamah oleh nikmat nafsu dunia atas nama apapun Bahkan Cinta itu sendiri, aku bahkan sudah ragu apa itu CINTA, aku lebih suka komeitmen rasional atas setiap tindakan.
Maaf bukan menggurui, temanya sangat diatas langit untuk awam seperti hamba ini. Bukan hanya Tuhan yang terdistorsi, bahkan semua yang kita Indrai sangat mungkin terdistorsi khan...?

Sekali lagi kebenaran tentang Dia, hanya Dia yang mutlak tahu, kita hanya bayangan pada layar dunia, tak tahu mana aslinya? Pada dunia bumi semua terjasadkan, pada dunia langit semua meruhani, pada dunia nur semua bercahaya, pada ....... Nya, Semua tak terkatakan, tak terbetik dalam hati sekalipun...

Selamat berjuang untuk lebih mengenalnya semoga diakhir hayat Mbak Dee menulis kesimpulan: Tiada Tuhan Selain Tuhan....

guruiler said...

Kalau bingung email aja ke rochmatsalim@yahoo.com

wiwioke said...

Bukan Tuhan yang ketawa, Setan Kaleee.. hehehe maaf, Udah Baca Tasuwuf Jawanya Simuh Mbak?

Coba kalau Tuhan sama, bisa jadi seperti ini... Kalau ada lima Tongkat panjangnya 5 meter mana yang panjang? Gak ada khan? gak ada tolok ukurnya siih...
Kalau semua agama baik, berarti gak ada agama yang baik khan?...

Tuhan jelas ESA, cuma yang dipertuhankan Mbak... Selama masih punya jasad, jangan hanya bermeditasi terus... itu ilusi lho... Aku berani Taruhan, yang suka meditasi apa suka membantu orang miskin? Nyatanya Indonesia yang punya Tuhan Esa saja kemiskinan dimana-mana, apalagi Gak berTuhan, Apa yang ditakuti Mbak... mendingan daripada berpikir Mbulet, tindakan nyata aja, seperti Bundha Teresa, Budha, Muhammad, merelakan dunia buat menyejahterakan sesama. Beranikah Mbak Dee meninggalkan semua ini, untuk manusia lain? Seperti lilin?

stereotheisme anak zaman said...

wah bingung juga klo kata ini aku balik
cinta tuhan ato tuhan cinta ya?

Dewi Lestari said...

To DONdikr:
Barangkali saja ada di dalam buku, sebagaimana yang Anda tuliskan. Yang jelas, saya tidak menemukan-Nya dalam buku atau kitab manapun. Pertemuan kami terjadi di:















… lebih sederhana lagi, bukan?

rei_loh said...

to wiwioke:

"Coba kalau Tuhan sama, bisa jadi seperti ini... Kalau ada lima Tongkat panjangnya 5 meter mana yang panjang? Gak ada khan? gak ada tolok ukurnya siih...
Kalau semua agama baik, berarti gak ada agama yang baik khan?..."

gw ga setuju!!
knapa? brati kalau anda berasumsi seperti itu maka asumsi anda Tuhan itu banyak? nggak kan...! Tuhan itu cuma satu tapi cara kita mengenal Tuhan, dalam hal ini agama dan kepercayaan, kita lah yang banyak! dan kalo semua agama baik bukan berarti ga ada agama yang baik! menurut saya tolong bedakan dulu pengertian anda antara Tuhan dan Agama, karena dari penjabaran anda diatas anda menganggap keduanya sama... that's totally different! (bener ga ni nulisnya?)

"...Selama masih punya jasad, jangan hanya bermeditasi terus... itu ilusi lho... Aku berani Taruhan, yang suka meditasi apa suka membantu orang miskin? Nyatanya Indonesia yang punya Tuhan Esa saja kemiskinan dimana-mana, apalagi Gak berTuhan, Apa yang ditakuti Mbak... mendingan daripada berpikir Mbulet, tindakan nyata aja, seperti Bundha Teresa, Budha, Muhammad, merelakan dunia buat menyejahterakan sesama. Beranikah Mbak Dee meninggalkan semua ini..."

gw ga setuju!!!
"inti" dari meditasi sebenarnya juga diperlukan untuk mendekatkan diri pada Tuhan! saya kira di semua agama dan kepercayaan memiliki cara mendekatkan diri pada Tuhan yang memiliki "inti" sama dengan meditasi, contohnya Shalat secara khusyuk (bener ga ni nulisnya?) pada Moslem!

dan menurut anda orang yang suka bermeditasi tidak suka membantu orang miskin sehingga kemiskinan di Indonesia ini merajalela?? saya justru berani bertaruh meditasi yang anda maksudkan disini anda samakan dengan bertapa! ...that's totally different! (bener ga ni nulisnya?), kemiskinan di Indonesia sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini! dan orang-orang yang anda sebutkan tadi khususnya Budha (mungkin Sidharta Gautama yang anda maksud dan maaf kalo salah tulis!) juga melakukan meditasi atau ibadah lain yang memiliki "inti" sama dengan bermeditasi?

dalam Moslem dikenal dengan ajaran "hablum min annas, hablum min allah, dan satu lagi ku lupa" yang berarti hubungan manusia dengan sesamanya, hubungan manusia dengan Allah, dan yang terakhir hubungan manusia dengan alam semesta/lingkungan hidupnya, dimana ketiga hubungan tersebut sebisa mungkin merata tingkatannya...

maaf bila ada tulisan yang salah yah... thanks!

rei_loh said...

to mba' dee

"...Barangkali saja ada di dalam buku, sebagaimana yang Anda tuliskan. Yang jelas, saya tidak menemukan-Nya dalam buku atau kitab manapun. Pertemuan kami terjadi..."

mba' nggak akan menemukan Tuhan dalam buku! semua kitab (yang juga berarti buku) hanya mengajarkan ajarannya! memberi tahu kita mengenai keberadaan-Nya, memberi pengetahuan pada kita mengenai ajaran-Nya, dan memberitahu kita bagaimana menemukannya-Nya... saya rasa itu ada di semua kitab suci setiap agama dan kepercayaan, dan bagaimana kita menemukan-Nya adalah tergantung dari pemahaman kita akan ajaran tersebut, bagaimana kita mencapai titik 0 dari semua ajaran tersebut...

dan uniknya kadang orang mendapatkan kesempatan langka untuk "menemukan" Tuhan tanpa melalui harus membaca kitab tersebut, masih ingat post saya terdahulu mengenai teman saya "A"? dia "menemukan" Tuhan justru ketika dia tidak mengenal Tuhannya, dan baru setelah pertemuan itulah dia menggali lebih dalam mengenai ajaran-Nya... dan seringkali manusia mendapatkan hal seperti ini ketika dia berada di titik "kritis" dalam kehidupannya, ya nggak mba'...?

thanks brat mba' dee... :)

DONdikr said...

Serius Mbak...?!
Tuhan ngomong apa...?!
Seperti apa Tuhan...?!
Gwa belum ketemu sama Tuhan...
Gwa cuman tau sifat-sifat-Nya...
Dari situ gwa tau kehadiran-Nya dalam idup gwa...



Bagi ceritanya donk Mbak...

ingin merdeka said...
This comment has been removed by the author.
nike sartika said...

pertanyaan saya untuk mbak dewi lestari dan semua yang memberikan comment untuk mbak dewi :

Jika Tuhan tidak ada , lalu siapa yang menciptakan kita , dan jagad raya ini...???

melur said...

wah tulisan yg cukup kontradiktif...musti lebih hati2 lagi kalau menulis tentang tema Tuhan, mungkin, mbak Dee... :)

Dewi Lestari said...

@Miaw (Ingin Merdeka):
Terima kasih untuk sharingnya yang sangat heartful. Kalau boleh tahu, Anda tinggal di kota apa? Siapa tahu saja saya bisa kasih informasi tempat untuk belajar atau latihan meditasi.

@Melur:
Kontradiksi itu kan pikiran saja yang menciptakan. Kenyataannya tapi memang seperti itu kan dalam realitas bangsa kita? Kalau tidak tragedi Ambon, pemboman gereja, dan semua konflik antar agama lain mungkin tidak akan terjadi. Saya hanya memaparkan apa yang ada saja. Bukan menciptakan kontradiksi.

@Nike Sartika (dan juga DONdikr):
Jika itu benar2 menjadi pertanyaan Anda, maka tanggung jawab Anda sendirilah untuk mencari jawabnya. Bertanya pada orang lain tentang sebuah pengalaman sama seperti nanya gimana rasa apel tanpa pernah mencoba memakannya, alias kurang berguna. Cuma jadi informasi pemuas pikiran aja.

Thank you.

~ D ~

Jogja Instan said...

@Mas Reza Gunawan & Mbak Dewi Lestari
Mengenai kesadaran Ilahi kita, betulkah itu sebuah dualitas? Menjauhi laranganNya, bukankah itu merupakan pelaksanaan perintah juga? Justru, jikalau seseorang menjalankan perintahNya dan menjalankan laranganNya, yang demikianlah masuk dalam definisi dualisme. Mungkinkah memang bukan Tuhan yang dua, tapi kita yang menduakan-Nya? Mungkinkah keinginan-keinginan kita, ide-ide yang kita kagumi, tokoh-tokoh yang kita puja, adalah 'tuhan-tuhan' hasil rekayasa kita sendiri?
Bila Anda menginginkan sebuah kebenaran, kebenaran seperti apa yang Anda harapkan?
Bila pengalaman Anda tidak sesuai keinginan Anda, apakah Anda akan menolak terjadinya pengalaman itu?
Apakah Anda akan menerima pengalaman itu sebagai sebuah kebenaran?
Berdasarkan apa yang telah saya alami, tidak mungkin kita menemukan sebuah sosok manusia yang menjadi pengejawantahan sebuah kebenaran, terutama jika sosok manusia itu sangat kita kenal kesalahannya (seperti diri kita sendiri, mungkin?). Karena manusia memiliki pengalaman yang berbeda dan pandangan yang berbeda pula.
Kebenaran itu mutlak. Manusia lah yang membuatnya menjadi relatif, dengan argumen dan pernyataan mereka.
Saat kita menyadari hal tersebut, hati kita akan tergerak untuk mencarinya, atau paling tidak kita berharap untuk ia datangi.
Dalam proses 'mencari atau menanti' tersebut, mungkin timbul rasa khawatir dalam diri kita, apakah kita SIAP dalam menyambut datangnya kebenaran tersebut? Apakah kita akan kuat menyatakan bahwa kebenaran tersebut benar adanya? Kalau kebenaran yang kita cari adalah wujud Tuhan yang Maha Sempurna, maka Dia tidak akan membiarkan para pencinta kebenaran bingung dan tersesat, karena menurut pengalaman saya, Dialah yang Paling Penyayang dari semua yang bisa menyayangi. Tanyakanlah seluruh pertanyaan pada-Nya, Dia akan menjawab dengan bahasa yang hanya kita dan Dia yang bisa memahaminya.

Wellsen said...

Sebuah perspektif yang sangat menarik,mbak..
Malah, sebenarnya saya sependapat dengan anda :)

Seandainya dunia bisa damai dan BENAR-BENAR menerapkan "apresiasi" beragama.. Semoga.. :)

Mohon bimbingannya untuk blogger pemula seperti saya, mbak :)

Sukses selalu..


p.s:
"Beranikah kita untuk mencantumkan tanda tanya di ujung semua yang kita yakini dan percayai? Dan mencantumkan tanda titik hanya jika kita telah mengalaminya langsung, membuktikannya sendiri; saat perjalanan kita dari mempercayai akhirnya tiba di mengetahui."

Saya berani... :)

nike sartika said...

dear mbak dewi , terima kasih untuk jawaban mbak atas comment saya, mungkin mbak telah salah menilai jika itu memang sebuah "pertanyaan" saya memang membuat suatu pertanyaan , tapi itu adalah sebuah pertanyaan "kiasan" , jika mbak memang tidak bisa "menjawab" memang , ternyata apa yang telah di tulis tidak berdasarkan fakta yang nyata, namun hanya sebuah pemikiran yang tidak berlandaskan apapun. terima kasih.

Reza Gunawan said...

@Nike Sartika:

Pertanyaan kiasan hanya layak mendapatkan jawaban kiasan juga.

Kalau Anda mencari keberadaan atau keesaan Tuhan, dengan pikiran dan fakta, maupun iman dan keyakinan, akan sangat sulit, karena bahasa dan kata-kata hanya bisa mewakili dunia dualitas (baik-buruk, benar-salah, indah-jelek, positif-negatif, dsb).

Supaya Anda lebih mudah mencerna kiasan dari jawaban Dewi, bolehkah saya menawarkan suatu pertanyaan kiasan juga?

Siapakah yang menciptakan film yang BERADA NYATA di layar bioskop?

Jawaban: tidak ada film yang BERADA NYATA di layar bioskop. Semua yang kita bisa tonton di layar, lengkap dengan semua rasa yang menyertainya hanyalah ilusi yang terpampang di depan. Film yang sebenarnya ada jauh di belakang, di dalam proyektor. Karena itu, ketika kita tiba di kesadaran bahwa sebenarnya tidak ada film yang BERADA NYATA di layar polos, maka otomatis TIDAK ADA juga pencipta film di layar polos tersebut.

Kehidupan ini nampak ada. Bisa kita sadari melalui panca indera, namun belum tentu diciptakan. Kalaupun diciptakan, yang tercipta adalah film di dalam proyektor di belakang ruangan, bukan ilusi 'asli tapi palsu' yang kita bisa lihat langsung di depan.

Sekarang, melanjutkan perenungan Anda, dimanakah letak proyektor Anda? Yang memancarkan cahaya dan suara, sehingga kehidupan ini (dan segala isi alam) menjadi terlihat seolah NYATA bagi Anda?

Ajakan Dewi untuk menjawab pertanyaan Anda sendiri, adalah ajakan untuk menemukan proyektornya, bukan meributkan film di layar depan (yang sebenarnya hanya tampaknya ada, padahal tidak pernah ada di depan).

Reza

ingin merdeka said...
This comment has been removed by the author.
aan said...

jujur awalnya saya pikir diskusi di sini bakalan dpt dialog2 yg asyik dari 2 arah, jg dari mbak dewi selaku host-nya, karena dg begitu saya bs dpt ilmu banyak deh. hehehehe...

saya mungkin awalnya terlalu over expected sama mbak dewi bakalan balesin semua komen2 di sini, krn saya pikir dg begitu dialog di sini jd bener2 hidup dan sehat.

tp toh ternyata tdk spt yg saya harapkan. ya udah gpp...
emang apa sih tujuannya mbak dewi nulis artikel dg tema ini? agar supaya kita bs diskusi kan? cmiiw.

membuktikan bentuk dan rupa aqal Andathe matrixkisah imani

Mochammad Ilham Putera said...

Memelihara pertanyaan akan membawa engkau kepada sebuah kegembiraan, menjuruskan proyeksi ke arah luar, dan mengakibatkan ketidakseimbangan. Otak dan keyakinan adalah hal yang jauh berbeda,
Ateis...!
Hai orang Ateis!!
apa yang kau cari?
Tuhan?
Atau
Ego yang puas?
Terjawab
Atau Tidak
Ateis tetap lah ateis...
Layaknya batu, Dihantam batu sampai hancurpun, mereka tetap batu...
Bersembunyi dibalik nama Ateis,
mereka memiliki pikiran yang kolot!
Pengetahuan dan ilmu yang diberikan oleh Sang pencipta hanya sedikit...
Tidak kah mereka Mengerti?
Karena Batu tetap lah batu...
Otak kita takan mampu untuk mencapai sesuatu yang melebihi kekuatan otak...
melihat malapetaka saja mereka berguman
"Tuhan jahat, Kejam,"
Seperti mereka tahu saja apa yang dipikirkan Tuhan,
Berkaca...
Wajah...
Postur Tubuh mu...
Seluruh Organ Tubuhmu...
Tak pernah bersyukur...
Cuma Menggrutu, ingin melebihi kekuatan Tuhan, mengkaitkan semuanya dengan logika...
Hiduplah didunia nyata....
mengapa selalu bertanya....
tidakah Engkau lihat (Ateis) jawaban ada didepan pelupuk matamu,
Namun Kau buta
Atau Tidak mau melihat...
Takut? Argumen yang kau selalu pertahankan ternyata memiliki banyak kekurangan?
Atau
Engkau ingin bebas?
Itulah manusia
Hiduplah bebas...
Ateis lah...
Bila Tidak ingin diatur...
Tak ada yang melarang...
Namun Satu hal...
Ada zat yang selalu menyayangi kita...
Memperhatikan kita....
walau kau tak percaya apa itu....
Biarlah...
pikiran bawah sadar yang sedikit demi sedikit berbicara...
berusaha berbicara namun engkau (ateis) bungkam.
Ikuti hati Anda yang tulus....

(Saya Sangat Menghargai tulisan anda, sudut pandang baru, yang luput namun sedikit meleset hingga menjadi tepat)

Jogja Instan said...

'Dan yang buta itu sebenarnya bukanlah mata, tetapi hati yang ada di dalam dada...'
Manusia yang buta mata hatinya seperti mayat hidup, hanya saja jasadnya masih melakukan metabolisme dan pancainderanya masih bekerja. Otaknya masih berpikir, tetapi hatinya telah tertutup dari kebenaran.
Sebenarnya, jauh di dalam hati kita...
yang benar telah jelas
yang salah telah jelas
hanya saja, maukah mata hati kita kita buka? Maukah kita menyadari kesalahan yang ada pada kita?
Selama kita hidup,
kita akan selalu menemukan percabangan jalan hidup ini...
ada banyak pilihan, tetapi hanya satu yang benar.
Serahkanlah semuanya pada-Nya, setulusnya. Seikhlasnya. Seperti halnya Dia telah menciptakan malam dan siang. Setelah gelapnya malam, akan terbit terangnya hari kita, jika kita mempercayai-Nya. Sesungguhnya keEsaan-Nya dan kemuliaan-Nya tergambar dalam perputaran kehidupan dan kematian ciptaan-Nya.
Bukan Dia yang beragam wujudnya. Tetapi makhluk-Nya lah yang beraneka ragam jenisnya. Satu sama lain tidak ada yang sama, tapi bila mereka semua tunduk kepada-Nya, mereka semua sama. Dia tidak membutuhkan kita. Kitalah yang membutuhkan-Nya.
Carilah kebenaran. Terimalah hidup kita apa adanya, maka hati kita akan semakin dilapangkan-Nya.
Banyaklah berbuat baik bukan untuk menyenangkan orang lain, tapi untuk menyenangkan-Nya. Dunia ini bukan segalanya. Kita hidup di dunia hanya sekejap saja. Kehidupan setelah kematianlah kehidupan yang selamanya. Di sanalah kita akan bertemu dengan-Nya. Bila kita mencintai kebenaran, kita akan sangat dicintai-Nya. Bila kita membenci kebenaran, kita akan disadarkan-Nya. Bila kita baru sadar setelah hidup kita berakhir, itu akan terlambat. Di sanalah alam kebenaran, di dunia inilah tempat kita mencarinya.

@ingin merdeka
Jangan dulu bosan hidup di dunia ini, tunggu sebentar. Tahan rasa sakit melahirkan, lalu lihatlah bayi Anda. Ia adalah kertas putih bersih tanpa cela. Jangan sampai Anda meninggalkannya begitu saja untuk dirusak oleh lingkungan sekarang yang sudah semakin tercela ini. Lihatlah dia sekali lagi. Lihatlah hakikat manusia yang ada di dalam dirinya. Dia baru saja pamit kepada Tuhan untuk melaksanakan tugasnya sebagai manusia di dunia. Tapi dia masih baru di dunia ini, banyak yang masih perlu dipelajari. Semuanya perlu proses. Dia perlu merangkak dahulu sebelum bisa berdiri. Dia perlu berlatih berjalan dulu sebelum bisa berlari. Demikian juga kita di dunia ini perlu melewati serangkaian proses. Keputusan tentang kematian bukanlah berada di tangan kita. Saat saya masih TK, saya pernah tertabrak oleh mobil dan terlindas oleh motor. Tapi dengan segala kasih sayang dan pertolongan-Nya, saya masih berusaha mencari-Nya dan masih hidup hingga sekarang. Memutuskan akhir hidup kita sendiri merupakan perbuatan yang tidak berterimakasih atas segala kebebasan yang telah Dia berikan kepada kita.
Mungkin hati kita yang sedemikian kotor, sehingga membuka mata hati untuk melihat kebenaran merupakan sesuatu yang menyakitkan. Tapi itulah yang harus kita mintakan kepada-Nya untuk diperbaiki, sehingga kita bisa memperbaiki hidup kita. Bila kita minta maaf kepada-Nya, sesungguhnya dia Paling Pemaaf dari semua yang bisa memaafkan.

DONdikr said...

@ Maz Reza Gunawan,

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-'Alaq 96:1-5)

Film, Layar Bioskop, Proyektor, Pencipta.


Film, Layar Bioskop, Proyektor merupakan cinptaan pencipta (manusia), namun ada juga ciptaanya yang lain kursi, Sandal, Baju, Celana dan lain-lain.

menurut saya Dunia itu bukan Layar Bioskopnya.

Pemahat nyiptain Patung.
Bisa gak patung itu nyembah pemahat ?
patung itu ngenali pemahat ?
Nggak bakalan. Brani gwa sumpah poocong. Sampek kiamat juga kagak bakalan.

Pemahat = Pencipta = Mausia

diantara semua ciptaan manusia, baru-baru ini banyak diciptakan patung yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan, hampir sama seperti manusia. Ada banyak mesin pintar (Robot) yang bisa mengenali penciptanya. Namun, jika tidak ada patung (Robot) apakah hidup kita berakhir, tentu tidak.

diantara semua ciptaan Tuhan diciptakanlah makhluk paling sempurna dimuka bumi yaitu manusia.

Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". (Al-Ikhlash 112:1-4)

ingin merdeka said...
This comment has been removed by the author.
Reza Gunawan said...

@DONdikr:

"menurut saya Dunia itu bukan Layar Bioskopnya."

- bisakah Anda perjelas pernyataan ini supaya diskusi kita lebih runut?

"Ada banyak mesin pintar (Robot) yang bisa mengenali penciptanya. Namun, jika tidak ada patung (Robot) apakah hidup kita berakhir, tentu tidak."

- bila tidak ada patung, hidup penciptanya sesuai konsep yang ada di kepala robot (sebagai ciptaannya) akan berakhir. Yang terus berlanjut, hanyalah keberadaan sejati kita sebagai pencipta robot tersebut.

Saya kira tulisan Dewi disini mengajak kita untuk mengenal secara langsung keberadaan sejati Sang Pencipta tersebut. Prasyaratnya: sisihkan dulu konsep keberadaan pencipta yang sudah ada di benak para ciptaan.

Reza

david said...

ternyata Einstein memang jenius.
Beliau pernah berkata:

"Only two things are infinite, the universe and human stupidity, and I'm not sure about the former."

nike sartika said...

@mas reza

terima kasih karena telah menjawab comment saya untuk mbak dewi..

jika benar mbak dewi mengajak kita untuk mengenal secara langsung keberadaan sejati sang pencipta ... lalu mengapa yang menjadi prasyaratnya adalah menyisihkan konsep keberadaan Tuhan..? sang pencipta sejati adalah Tuhan , itu bukan sebuah konsep, tapi kita sebagai manusia berakal yang di beri otak oleh TUHAN melebihi segala jenis kecanggihan di dunia ini harusnya dapat berpikir, siapa sang pencipta? tentang dimana sang pencipta tersebut,itu telah menjadi sebuah pertanyaan yang lumrah di tanyakan? dan banyak pertanyaan seperti itu, tapi saya ingin menjadi orang-orang yang berpikir, Menggunakan otak saya pemberian dari Tuhan untuk berpikir mengenai penciptaanNYA..dimana pun Tuhan berada , Tuhan lebih dekat bahkan lebih dari urat nadi kita sendiri..

nike sartika

david said...

kenapa harus ada Allah?
kenapa harus ada Surga?

IMHO:
jika tidak ada keduanya, kita akan lebih mencintai bumi, sebab tidak ada perhentian terakhir kecuali bumi.
tidak ada tempat lain kecuali bumi.


dan sedikit tambahan untuk menambah diskusi kecil ini.
ada sebuah pertanyaan yang diajukan salah seorang teman saya:

andaikan kalau kamu bertemu dengan Allah. dan benar Allah dapat melakukan segalanya, MAHA segalanya. dan kamu meminta kepada Allah untuk membuat/menciptakan sebuah pedang paling hebat/terkuat/tanpa tanding/sempurna didunia. dapatkah Allah menciptakan pedang itu?

jika jawabannya bisa. dan Allah menciptakan pedang itu, maka Allah menjadi tidak Maha lagi. karena Allah tidak akan dapat menciptakan lagi Pedang lain yang lebih sempurna.
Atau jika Allah menciptakan lagi pedang lain yang lebih sempurna (pedang kedua yang melebihi pedang pertama) , berarti Allah waktu pertama kali menciptakan pedang sempurna tidak menciptakan pedang yang paling sempurna di dunia, karena kenyataannya pedang yang lebih sempurna masih bisa diciptakan.

dan kalau jawabannya tidak bisa, kenapa kita memanggilnya Allah?

lalu.....
the BIG question is:
seberapa "MAHA" Allahmu?

Thomas Aquinas Dermawan said...

@Reza Gunawan:
Namaste , Reza..... Namaste...

Reza Gunawan said...

@Nike Sartika:

mengapa untuk mengenal Tuhan yang sejati, prasyaratnya adalah menyisihkan konsep keberadaan Tuhan..? Karena kalau kita berpikir dengan dasar "hasil cekokan" konsep tentang Tuhan yang selama ini kita peroleh dari orang lain saja, itu namanya sekedar membeo, bukan berpikir.

Inilah mengapa dalam kisah-kisah Zen suka diguraukan "Kalau kamu bertemu Buddha di jalan, bunuh sajalah si Buddha itu". Mengapa? Kita sudah begitu yakin bahwa konsep dan asumsi kita tentang realita pasti benar, sehingga tidak lagi ada ruang maupun kejernihan untuk mengalami kesejatian realita.

Jadi, kalau Anda benar-benar ingin tahu, bunuh dahulu konsep yang Anda sudah konstruksikan di pikiran, baru cari, kenal, ketahui langsung pengalaman Tuhan.

Dan, kalau itu rasanya terlalu ekstrim, minimal kita tidak perlu mengaku bahwa kita berpikir, cukup menyadari bahwa sebenarnya selama ini kita hanya "membeo" tentang Tuhan.

Semua sudut pandang bermanfaat, yang penting kita tidak terkunci di dalamnya. Melihat Tuhan ada, itu baik. Melihat Tuhan tidak ada, itu juga baik. Yang penting tidak terkunci di salah satu perspektif.

Reza

CHANGE said...

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu memperjuangkan suatu “ KEBEBASAN”, dan kita selalu mengklaim bahwa “kebebasan” telah tercapai berdasarkan sukjektif. Tentu selalu menjadi suatu pertanyaan apakah klaim “ kebebasan “ benar-benar telah anda capai ?

Dalam pengertian lebih sederhana adalah apakah kita menyadari bahwa kebebasan yang dicapai adalah berada dalam LINGKARAN KEBEBASAN ( PENJARA yang bernama KEBEBASAN ) contohnya doktrin yang terkonsep, konsep titipan, dll. Jika kita berada dalam lingkaran kebebasan, maka sebenarnya kita secara sengaja dan tidak sengaja telah menjauhi HAKIKAT KEBENARAN KEBEBASAN tersebut tanpa kita sadari.

Saya pribadi sangat suka gaya penulisan Dewi Lestari yang sangat meng INSPIRASI dan memberikan MOTIVASI dan SEMANGAT untuk memberanikan diri keluar dari LINGKARAN KEBEBASAN.

Cerita sederhana mengenai KUNCI KEBENARAN KEBEBASAN :

Ketika Patriat Chan (Zen) ke-4 Master Dao Xin pertama kali mengunjungi Chan Master Seng Can.

Master Dao Xin bertanya tentang jalan untuk menuju “KEBEBASAN”.
Chan Master Seng Can balik bertanya kemudian: “Siapa yang membatasi kamu?”

Master Dao Xin berfikir sejenak dan kemudian menjawab: “ TIDAK ADA ”.

“Jika tidak ada seseorangpun yang membatasi kamu kemudian mengapa kamu ingin bebas?” Kembali Chan Master Seng Can bertanya kemudian berlalu meninggalkan Master Dao Xin.

Akhirnya dimengertilah bahwa ternyata Pikirannya sendirilah yang membatasi dan mengikat diri kita sendiri.
Sehingga beliaupun mengerti dengan jelas sampai akhirnya ‘tercerahkan’


Ada sebuah cerita yang sangat mengena dari Ajahn Brahmavamso mengenai seorang bhikkhu yang mengajar di sebuah penjara di Australia.
Setelah mengajar meditasi beberapa lama di penjara tersebut, para napi
semakin dekat dengan sang bhikkhu.

Karena ingin memenuhi keingintahuannya, mereka bertanya,
" Bagaimana sih kehidupan seorang bhikkhu di viharanya ?"

Sang bhikkhu bercerita bahwa dia harus bangun pukul 04.00 subuh, baca
paritta, meditasi.
Menjelang tengah hari para bhikkhu makan siang, satu-satunya makanan di hari itu, dan mereka tidak bisa memilih.
Apa yang disuguhkan, itulah yang dimakan.

Tidak ada televisi, tidak ada hiburan musik.
Pakaian hanya berupa jubah.
Mereka harus bekerja.

Meditasi dan meditasi.
Tidur hanya dengan alas seadanya di lantai keras.

Mendengar itu, para napi terkejut.
Di penjara mereka dapat makan tiga kali sehari.

Ada televisi.
Ada olahraga, hiburan, musik.
Tidur di kasur empuk.
Sampai salah satu napi nyeletuk,
" That’s terrible ! Why don’t you just join us here ?"
(" Sungguh mengerikan ! Mengapa Anda tidak bergabung saja dengan kami di sini ?)"

Jadi apa yang membedakan vihara dengan penjara ?
Kenapa jatah retret di vihara tersebut penuh sampai tiga tahun mendatang tahun 2005 ? ( jadwal penuh, karena permintaan meditasi tinggi ).
Kenapa bhikkhu-bhikkhu lebih bahagia tinggal di sana ?

Di lain pihak, kenapa napi-napi tidak betah di penjara ?
Kenapa napi-napi banyak yang mencoba kabur dari penjara ?

It’s all about contentment.
( Ini adalah tentang rasa puas.)

Bhikkhu-bhikkhu bahagia karena mereka ingin berada di sana dan napi-napi tersiksa karena tidak ingin berada di penjara.
Dengan begitu definisi penjara bisa diperluas.

Kalau anda benci pada pekerjaan anda yang sekarang, berarti anda ada di penjara.
Kalau anda berada pada perkawinan yang berantakan, anda di penjara.
Kalau anda merasa gerah dengan dunia yang penuh dengan teroris, kekacauan, anda berada dalam penjara.
Kalau anda tidak menyukai tubuh anda yang sakit-sakitan, lemes, loyo, letih, lesu, lunglai, berarti anda berada dalam penjara.
Dan yang terakhir, kalau anda berada pada forum diskusi yang tidak anda sukai, tersiksa membaca posting-posting yang tidak enak, anda berada dalam penjara.

Pertanyaannya :
Siapakah pemegang KUNCI HAKIKAT KEBENARAN KEBEBASAN untuk membebaskan kita dari PENJARA ( LINGKARAN KEBEBASAN ) ?

PIKIRAN, PIKIRAN DAN PIKIRAN diri kita sendiri!

ingin merdeka said...
This comment has been removed by the author.
Jogja Instan said...

Dalam matematika yang disebut sebagai 'bahasa logika' pun ada pernyataan-pernyataan yang tidak benar. Seperti, berapakah akar kuadrat dari bilangan bulat negatif seratus (-100)? Hasilnya adalah bilangan tidak nyata.
Bisakah Tuhan menciptakan batu yang tidak bisa Dia angkat?
Bisakah Tuhan menciptakan pedang yang lebih sempurna dari pedang sempurna yang ia ciptakan?
Seperti halnya 'bisakah Anda mengatakan sesuatu yang tidak bisa Anda katakan?' Pertanyaan ini adalah pertanyaan dengan jawaban yang tidak nyata. Tidak mungkin dijawab, dengan kata lain, sebuah pertanyaan yang tidak logis, hanya sekedar mempermainkan kata-kata, tanpa keinginan untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya. Karena kebenaran itu nyata.
Seperti halnya pertanyaan: berapakah nilai b dalam persamaan b = a + 1 di mana a = bilangan tak terhingga? Jawabannya b = a = tak terhingga. Titik tak terhingga yang nyata itu ada, dan itulah SURGA. Di surga lah tempat segala ketakterhinggaan yang sanggup untuk kita bayangkan.Barangsiapa yang mengakui bahwa bilangan tidak terhingga itu tidak ada, maka dia mendukung ketidakbenaran. Orang-orang yang tidak benar memiliki kebebasan untuk hidup di alamnya, alam ketidakbenaran, yang pada akhirnya setelah dia menjadi tidak ada, ketidakbenarannya diakui dalam kebijakan Ilahi sebagai penentang kebenaran. Barangsiapa yang menentang kebenaran, maka dalam bahasa matematika, dia dinyatakan sebagai nol. Untuk membuat manusia tidak benar yang ada menjadi nol, dia harus dimusnahkan. Itulah neraka. Kekal di dalamnya, selamanya. (= tidak terhingga)
Seperti halnya dalam matematika kita mengakui bahwa bilangan tak terhingga itu ada, maka dalam logika kita mengakui bahwa Tuhan itu ada, Surga itu ada, dan Neraka itu ada. Kekal, abadi, selamanya. Tidak terhingga.

uchiha said...

saya mengirim komentar ini untuk anda salam kenal

ViS said...

Esa itu sebenarnya artinya MUTLAK, absolut, BUKAN SATU...jadi yang MUTLAK ini tidak dapat didefinisikan, begitu didefinisikan dengan maha penyayang, maha ini dan itu..artinya tidak mutlak lagi....

sinatra_universe said...

Namo Buddhaya, mbak Dewi.
Mungkin mbak lupa kt prna brtemu di Dharma Vimala Dago thn 2006 lalu.
Saya cuman numpang cuap-cuap dikit, moga ga tambah perkeruh suasana, tapi sedikit menambah perenungan.
"Tiap manusia berkutat pada pertanyaan yang tak pernah terjawab dg memuaskan. Adakah Tuhan? Apa peranannya? Mungkinkah ada suatu dzat absolut pengatur segala yang ada di semesta ini? Dengan sempurna, dari masa awal tiada terhingga, hingga suatu saat masa yang akan datang tiada terhingga ia telah "pandai" berencana dengan 'sempurna'? So, di mana keadilan dipertanyakan, kala perang berkobar mengatasnamakanNya? Pemerkosaan dimana-mana? Ratap tangis anak tanpa ayah, hasil korban perkosaan?

sinatra_universe said...

Sebagai manusia terkadang, bahkan sring kali, kita terlalu sibuk untuk melakukan hal yang mubazir. sedangkan yang urgent, spt berbuat kebajikan, minimize keburukan, serta memurnikan pikiran, demi kebenaran, kemanusiaan, kedamaian, kebahagiaan, baik saat ini maupun jauh di masa akan datang. Bukan hanya demi berharap surga, dan takut api neraka, tetapi demi kemaslahatan orang banyak dan kebahagiaan semua makhluk. Sehingga menjadikan dunia fana ini layaknya tanah suci Nirwana, dan menjadikan negeri2 di muka bumi ini sebagai Republik Cinta...
Sabbe satta bhavantu sukhitata
Namaste
Aldo Sinatra

david said...

Dibawah langit memang ada cacat.

Jika langit ada cacat apa bisa di sbt langit?

Jika belum melihat ujung langit, apa bisa bilang langit tanpa cacat?

Bukankah terlalu dini untuk bilang langit itu langit, Dan langit tanpa cacat?

Bagaimana kalau ternyata langit itu cacat, apa kita masih menyebutnya langit?

DONdikr said...

Salam...
Pagi Mbak Dee...

Mbak thanks atas postingannya...
Saya jadi banyak belajar...

Saya juga bersyukur...
Karena postingan ini semakin menguatkan keimanan saya pada Tuhan Yang Esa...

Akhirnya saya menemukan jawabannya...

"Meskipun kita akui pengaruh pengalaman, tetapi bukanlah itu yang terpenting, pengalaman adalah sebagai langkah yang pertama. Adapun pelajaran hidup yang kedua ialah memperhatikan alam. Alam adalah laksana sebuah kitab besar yang terhampar di muka kita, didalamnya tertulis perjuangan hayat yang telah ditempuh lebih dahulu oleh orang lain. Disitu dapat kita tilik bagaimana orang lain telah naik, telah mujur dan bahagia, dan dapat pula kita lihat mereka jatuh, tersungkur, ada yang tak bangun lagi, ada yang menyesal selama-lamanya. Kita dengar pekik orang yang kesakitan, maka kita tanyakan kepadanya apa sebab dia jatuh, setelah itu kita tidak tahu lagi dijalan yang pernah dilaluinya. Semuanya itu kita pelajari dengan seksama dari kitab yang terbentang itu."

qtop said...

I Like this article very much..

Mau coba comment saja: bagaimana mungkin manusia yang mempunyai kemampuan "TERBATAS" ingin mengetahui kemampuan Tuhan yang "TIDAK TERBATAS"...

Munurut saya,, smua hal yang ada di dunia ini adalah sementara,, begitu juga dengan "CINTA" jd untuk apa di pertahankan terlebih kita belum tahu pasti apakah "dia" bener2 yang "terbaik" untuk hidup kita,, bagaimana masa depannya nanti,, hey man,, wa are just human,, pikiran kita terbatas..

Adalah lebih baik bila kita mempercayai sebuah kemampuan yang tidak terbatas lebih dari segalanya,,, apalgi cuma cinta dan asmara yg semuanya berasal dari manusia itu sendiri,, yg dibuat-buat dari hatinya...
Sudahlah tetaplah percaya pada TUHAN dan jalan di sebuah jalan yg telah diberitahukan kepada kita...

Btw,, mau donk novel cin(T)a the movies ini,, ada ngga??

sanguines said...

Agama adalah sistem ketuhanan yang dibuat oleh manusia.
Tuhan adalah ide pribadi masing-masing individu.
Oleh karena itu, saya percaya bahwa agama adalah kultur dan jodoh dari setiap individu.
Dan berdebat mengenai agama mana yang paling baik oleh dua agamais yg berbeda sama seperti melihat dua anak kecil bertengkar mengenai mainan siapa yg lebih keren.

Cheers, Dee! Love your blogs and your books! :)

Tontaipur said...

Ini pertanyaan yg kurang lebih sama dengan novel bilangan fu Ayu utami.

Siapa yg paling tau tentang Realitas akhir?
Melelahkan pertanyaan-pertanyaan ini semua.

Hanna said...

salam kenal kak dewi lestari.. :)

saya cuma mau kasih pandangan saya aja.. boleh kan kak.. :D

agama adalah cara dan usaha yang ditempuh manusia untuk menemukan dan mencari keberadaan dirinya, termasuk asal usul diri. salah satunya, apakah ada yang menciptakan dia dan siapakah dia. karena ini adalah inisiatif manusia, maka manusia mencari, menelaah, dan mengolahnya dengan satu-satunya bagian tubuh yang paling diagung-agungkan: otak.

semesta, angkasa, cakrawala, udara, nafas, kehidupan -menurut saya- adalah contoh dari hal-hal yang tak dapat dijangkau otak manusia. tidak ada yang dapat merubah, merevolusi, dan bahkan menciptakannya.

oleh karena itu, semua ada yang menciptakan dan Dia ada.

Tuhan ada, kak Dewi..

Kejadian 1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

lalu jika Tuhan ada, banyak orang-orang mungkin bertanya: mengapa ada kejahatan? mengapa ada kemiskinan? mengapa di dalam banyak agama -yang diakui mereka adalah agama yang paling benar dan memiliki Tuhan- banyak mambuat perbuatan tercela?

sebab itulah agama.
agama adalah inisiatif manusia yang mencoba mencari Tuhan dengan otak dan kesadarannya yang kadang otaknya salah dan kesadarannya hilang.

karena otak dan kesadaran kita tidak mampu untuk menciptakan langit, dan bahkan nafas dalam hidup di dalam diri ini sendiri, maka Allah berinisiatif untuk turun ke dunia dan menjadi sama seperti kita yang terbatas; lalu memberitahu kepada manusia siapakah Sang Pencipta.

dan Dia sendiri adalah Sang Pencipta.

bayu said...

Bagi umat Islam menjawab hal seperti itu harus berdasarkan Al Quran dan Hadish. Jadi kita tidak perlu menggunakan pikiran kita ataupun pemikiran dari beberapa orang yang terkenal.Semua itu dapat "ditelaah" dengan iman ( apa itu iman ? Bacalah Al Quran dan Hadish ) Karena kita suka baca tulisan2 dari beberapa tokoh, tapi kita jarang membaca Al Quran dan Hadish untuk memahami keesaan Allah. Semoga ini dapat membantu.

Kinerja said...

kita banyak berprasangka (menduga-duga) karena keawaman kita, kita banyak berprasangka karena kebodohan kita, kita banyak berprasangka karena keangkuhan kita, tapi cobalah belajar kepada hati nurani, cobalah belajar kepada semakin tuanya kita, cobalah belajar saat kita diterpa malapetaka dan cobalah belajar pada kematian yang pasti akan datang......apa yang kita rasakan...sebuah perasaan, harapan dan rasa sesal. bisakah dibohongi?, mana logika pendek kita yang biasanya membangkang?. Itu adalah sifat keyakinan yang paling mendasar yang ditanamkan oleh sang Pencipta dan tersimpan didalam sanubari manusia yang paling dalam, maka jiwa manusia itu ibarat glas bening, ketika diisi air merah ia akan menjadi merah, ketika diisi air hitam ia akan berwarna hitam, ketika diisi air bening ia akan bening. Dan manusia itu ibarat orang buta ketika mencari Tuhannya, maka tak bisa berjalan sendiri, ada tuntunan dan butuh lingkungan agar nurani dasarnya kembali terasah.
keyakinan itu adalah sesuatu yang mutlaq dan tanpa dibarengi tanda tanya dan keraguan aliat bulat dan kokoh.
Renungkanlah....!! kita banyak berprasangka karena apa?, karena kebodohan, keangkuhan atau mungkin prustasi....

feri said...

Kita terkadang lupa kalau di ciptakan serba terbatas. Dan enggan mengakuinya hingga berbuat melampaui batas. Bahkan kita merasa mampu mendefinisikan segalanya hanya dengan kepala dan hati.

Ya, Tuhan, kami mohon ampunilah kami.
Amin.

yusimanfluthy said...

hmmm..topik beraaats!
thanks for sharing though..
-yusi-

woodwork said...

salam kenal mbak dewi

heru purwanto

http://www.herupurwanto.net

PahlawanBertopeng said...

mungkin diperlukan lebih banyak orang yang berpikiran seperti anda...

Tapi mungkin juga tidak...hehehe...keep goin'!

lukman said...

disclaimer : saya lebih bodoh kalau dibandingkan anda, cuman ingin mengeksplor kebodohan saja :)

aha menarik

otak manusia memang mengagumkan ya, variable2 dibandingkan, dimasukkan kedalam toples bernama "konsep", dikeringkan(?), baru dipelajari dengan menciptakan simulasi dalam otak.

lalu tahap selanjutnya adalah membuktikan simulasi tersebut dalam kehidupan.

wait
kenapa simulasi didahulukan?

yang saya lihat dari film, tulisan2 siapapun, hipotesa, itu tak lebih dari simulasi, pun itu hasil penelitiannya.

Bagaimana dengan rujukan kitab Suci? Bukankah lebih bijak dengan mereferensikan segala hal, tanpa tendensi apapun?

saya tidak ingin terjebak dalam pertanyaan "telur atau ayam yang duluan keluar" dalam hal ini, haha mudah2an saya beruntung :)

ah maafkan alur pikir bodoh ini, ya namanya juga manusia, butuh belajar.

salam kenal mbak Dee ^_^

Joe said...

like this. aku kira2 taon 2001 an baru mulai mencoba memikirkan bahwa mungkin tuhan itu tidak esa, bahkan mungkin tuhan belum tentu ada. at least aku terpaksa sampai pada kesimpulan bahwa tuhan harus ada, dan aku harus percaya padanya.

T.A. said...

my mom n dad always reminds me to live and learn. no matter what, how, when, and to/with whom. one of the most valuable lessons i got is to accept and appreciate. those two word often comes to our presence yet very few of us has the privilege of applying it in our learning lives.
jangankan menjawab esa tidaknya Tuhan, untuk mengetahui dan mendeskripsikan dengan akurat eksistensi Tuhan saja sudah sulit. jangankan untuk menjawab eksis tidaknya Tuhan, untuk menelusuri jejak semua akar agama yang kita kenal saja sulit. Dst...
but, as my parents taught me... LIVE n LEARN! coz, it never matter how, where, when, or even from/with whom, you will eventually get the answer to the questions which are haunting you.
cukup diingat, segala sesuatu butuh proses dan proses cenderung panjang dan menyakitkan... :)

dewo said...

Sayangnya tidak semua orang mampu & mau mengalaminya sendiri. Tidak semua orang mampu & mau menarik hikmah atas semua yg dialaminya.

ParisParis said...

saya berusaha memahami dan mencintai Tuhan sejauh hati dan otak saya mampu, sejauh pengalaman saya. dan itulah Tuhan saya, yang saya cintai dan saya hormati dan yang coba saya terapkan sifat2Nya dalam hidup saya.karena saya bukan Tuhan dan saya butuh Tuhan. thanks Dee buat diskusi di blog ini. memperkaya pengalaman saya ber"Tuhan".

Galih said...

Do We Ever Imagine Nothingness?

Thanks...^^

Ayu nan Aduhai said...

thanks for an inspiring words..
tapi saya secara pribadi tidak setuju dengan konsep yang mba dee sajikan..

entah mengapa.. pendekatannya begitu rasional, logis dan manusiawi. Sementara Tuhan adalah Tuhan..

Apabila semua didekati dengan konsep manusiawi, pengertian saya tentang Tuhan jadi begitu simple. dan saya tidak mau sang Tuhan yang Maha Agung, Maha Baik, Maha Pencipta, Maha Pemberi Rizki itu dikonsepkan secara sederhana sekali..

salam..

Dewi Lestari said...

@Ayu Nan Aduhai
Posting saya yang satu ini memang tulisan yang paling sering disalahtangkap. Kalau Ayu baca dengan teliti, justru saya tidak menawarkan KONSEP apa pun. Sebaliknya, saya justru mengajak kita semua untuk menanggalkan segala konsep saat kita ingin mengenal dan mengalami Tuhan atau Ketuhanan. Yang saya kritisi lewat tulisan ini bukanlah satu konsep tertentu, melainkan perilaku umat manusia yang memenjara Tuhan dalam aneka konsep dan kemudian mengadu konsep2 tersebut demi mencari siapa yang paling benar. Padahal selama cuma konsep, segalanya relatif. Bisa benar dan bisa salah. Yang jelas, kita tidak bisa saling memaksakan diri. Apa yang benar bagi kita, belum tentu bagi orang lain juga benar.
Kalau Ayu tidak menerima Tuhan dikonsepkan dg sederhana, itu adalah hak Anda sepenuhnya. Saya sendiri sudah lelah dengan segala konsep tentang Tuhan. Mau itu sederhana atau kompleks. Selama itu cuma konsep... kita tidak pernah membicarakan Tuhan. Karena menurut saya Tuhan hanya bisa dialami. Bukan dikonsepkan.

~ D ~

8760 dlm kesia2an said...

"Karena menurut saya Tuhan hanya bisa dialami. Bukan dikonsepkan."

Dee, can i cask you one quest?

How big is the universe?

Anggita Mahesa said...

mbak dee, maaf, saya cuma mau numpang ngasih pendapat aja.
kalau menurut saya, sah2 aja dengan tulisan mbak. saya malah kaguum banget. ga munafik ya, mba, pikiran kayak gitu pasti ada deh buat kita. saya juga sering banget kok tiba-tiba kepikiran kayak gitu. tentang ke-esa-an Tuhan. malah, kadang saya suka mikir apa bener Tuhan ada? apa bener nanti ada surga sama neraka?
tapi, kalau kebanyakan mikirin kayak gitu dengan pertanyaan-pertanyaan yang ngejelimet, yang ada malah mentok sendiri. dan sesuai dengan apa yang saya yakini, saya tingal membuka kitab suci yang saya yakini, dan saya akan mendapatkan jawabannya.
saya peraya kok, kalau kadang Tuhan ga bisa dideskrisikan dengan logika. karena logika manusia terbatas.
itu aja sih, yang saya mau komen. terimakasih, mbak dee.
:)

admincrazy said...

Saya sangat terispirasi dengan tulisan mbak dee, dan mungkin itulah ungkapan kebnyakan dari semua orang.:)

Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang | Business Blog SEO

steven said...

adik kelas saya ingin mengadakan hari penghayatan dhamma di bumi tridharma pada 2-4 januari 2010. pesertanya adalah para pelajar smp, sma dan mahasiswa. bila ada waktu, apa mba dee berminat untuk menjadi pengisi acara?

Tiffany~ said...

Mbax Dee, aku baru hari ini baca blognya mbak Dee, thanx to kasus luna maya, aku jadi bisa nemu blog ini.

And I just wanna say, u have such a great talent.. keanya mbak Dee emang lahir buat jadi penulis.. Bahasa yang Mbak pake bagus banget, kaya dan penuh makna, plus kosakata yang dipake variatif sekali.

Aku udah lama banget ga baca novel, dan buku-buku yang aku baca belakangan cuma buku kuliah hukum aku, yang isinya aku bahkan ga bisa ngerti. Kaidah EYD-nya amburadul banget, bahkan seringkali aku ngerasa kalo mereka suka pakai kata-kata sulit yang tidak pada tempatnya (atau mereka sendiri mungkin ga ngerti arti kata itu, tapi cuma ingin kelihatan keren dengan pakai kata-kata sulit).
Beda sama tulisannya mbak dee yang aku temuin rapi banget, padat banget..

Hehe, mungkin mbak dee uda sering denger orang muji begini, tapi aku pribadi tetep pingin nyampein juga, karena uda lama aku ga baca sesuatu yang bisa bikin aku berdebar-debar kayak begini :))

Eniwei, aku agnostik. Thanx buat tulisan ini, yang bisa melukiskan hal-hal yang ga bisa aku lukiskan dalam kata-kata.

:))

free area think... said...

tuhan itu satu,dan aku percaya itu.

walaupun banyak yang berdiskusi dan mepertanyakan tentang tuhan itu ada atau tidak ada,tuhan itu satu atau banyak,tuhan siapa yang benar,apa bukti tuhan itu ada,DLL.

ini bukan keterpaksaan tapi ini dari hati nuraniku.
tak pantas tuhan dipertaruhkan,tak pantas tuhan di komersialkan,tak pantas tuhan di gantungkan,dll.

manusia punya banyak keterbatasan,salah satunya yaitu keterbatasan berfikir tentang hal gaib dan tentang tuhan itu sendiri.

ada yang kita harus tau dan ada yang harus kita tidak tau,dan selebihnya hanya dialah yang tau(tuhan)

Thinkerlicious said...

Mbak Dee, thanks banget buat tulisannya, walaupun banyak yang memperdebatkan tulisan mbak, cuma buat aku tulisan mbak Dee adalah tulisan yang paling jujur mengenai Tuhan. Janganlah kita menciptakan dan terperangkap dalam konsep. Saya mungkin belum pernah punya pengalaman spiritual yang fenomenal, tapi saya tahu, kita bisa saling mencintai asal kita mengenalnya dengan baik.

yohan said...

Setuju sekali dengan tulisan ini. bukan bermaksud kita tidak mengimani apa yang telah ditentukan dalam masing-masing ajaran, tapi salahkah kalau kita bertanya???

saya yakin tingkat keimanan seseorang yang memperoleh keimanan tersebut melalui sebuah proses pencarian (nya sendiri)jauh lebih tinggi daripada tingkat keimanan seseorang yang hanya bisa menerima tanpa mengkritisi sedikitpun dogma yang mereka terima.

Tidak salah bersikap kritis karena hampir semua "rasul" dalam tiap-tiap agama atau kepercayaan memperoleh keyakinannya dari sikap kritis mereka.

Apalagi di jaman seperti ini, dimana agama sudah terlihat sangat kotor justru karena sikap dan perbuatan para pemeluknnya yang kadang paling merasa mengetahui apa yang dimaksud dengan kitab sucinya masing-masing, kekritisan akan sangat diperlukan.

tanpa merujuk pada satu ajaran apapun, tidak salah jika ada yang berpendapat saat ini di masyarakat kita ini Tuhan hanyalah sebuah kata yang bertanggung jawab atas segala hal yang tidak mampu dipecahkan atau dijawab oleh manusia.

Katedrarajawen said...

selama ini kita hanya terpersepsi tentang Tuhan dengan keyakinan kita..memang seharusnya kita berani un tuk mempertanyakan bukannya dengan kepercayaan buta

LAYANAN SERVICE said...

21 tahun aku beragama 'warisan' dari orangtuaku. Bapakku seorang militer yang pernah tertangkap 'musuh' dengan 3 temannya.
Sewaktu hukuman tembak dilaksanaakan,Bapak dibiarkan hidup karena 'cara' beliau berdoa sama dengan agama para penembak.(inikah yang dee maksud pengalaman pribadi?)
Walau kisah ini sudah kudengar sejak kecil namun tidak membuatku puas dengan agama yang Bapak anut.
Usia 21 tahun cukup buatku membuat pilihan lain dan klise tentangan muncul...biasakan kita sering tidak siap dengan perbedaan.
Saat inipun istriku berbeda agama...tidak (ku jadikan) masalah.
Dari pengalamannku...aku percaya Tuhan yang mencipta kehidupan.
Tapi agama...pengalamanku belum cukup untuk mepercayainya.
Salam hormat

harjono13 said...

Dee, thank you for opening my mind.

sakkra said...

Salam,
Seperti komentator sebelumnya, jika kita menelaah dari etimologi kata, kata “tuhan” berasal dari kata “tuan” (dalam bahasa Jawa: gusti), yaitu sesuatu atau seseorang yang ditinggikan atau dijadikan atasan. Ketika bangsa barat masuk dengan penyebaran Kekristenan-nya ke Nusantara, untuk menerjemahkan kata “lord” dalam bahasa Inggris maka digunakanlah kata “tuan” , namun karena kata “tuan” dianggap berbau duniawi, maka dimunculkan istilah baru yang berasal dari kata “tuan” yaitu “tuhan”. Oleh karena itu sampai sekarang dalam bahasa Jawa kita sering mendengar istilah : Gusti Allah.

Kemudian, kata “esa”, kita diajarkan di SD bahwa arti dari kata “esa” adalah satu. Sebenarnya pengertian tersebut tidak tepat. Kata “esa” bukan berasal dari bahasa Arab atau Jawa, tapi berasal dari bahasa Sanskerta dan Pali, kata “esa” berasal dari kata “etad” yang merupakan kata tunjuk yang berarti “ini” ,”di sini” (menunjukkan keberadaan). Jika ingin mengacu pada pengertian “satu” maka kata yang digunakan seharusnya adalah EKA bukan ESA. Eka, Dwi, Tri, Catur, Panca, dst adalah angka dalam bahasa Sanskerta, dan kita tidak menemukan kata ESA dalam urutan angka tersebut.

Kemudian, dalam bahasa Indonesia, kata dasar yang mendapatkan imbuhan akan mengalami perubahan makna. Dari kata dasar “serakah” jika ditambah awalan ke- dan akhiran-an , maka menjadi “keserakahan” yang memiliki makna yang berbeda dengan kata dasarnya “serakah”. Dalam penerapan pada kalimat, “keserakahan” bisa berarti hal-hal yang bersifat serakah. Begitu juga dengan kata “ketuhanan” ini berarti hal-hal yang bersifat tuhan, bukan berarti “individu” tuhan.


Jadi jika kita terjemahkan dari semua pengertian di atas, maka Ketuhanan Yang Maha Esa bukan berarti percaya kepada tuhan yang satu, tetapi berarti Hal-hal / Sifat-sifat Yang di Tinggikan (dari kata tuhan/tuan) Yang agung/besar/luhur (dari kata Maha) Yang Ada (dari kata Esa,keberadaan).


Dari sini kita bisa melihat, bukanlah lebih berharga meninggikan nilai-nilai yang agung/luhur dari pada meninggikan tuhan sebagai personal yang justru telah terbukti menimbulkan konflik? Bukankah lebih berharga meninggikan cinta kasih, belas kasih, simpati, dan sifat luhur lainnya daripada meninggikan “tuhan agama A lebih hebat karena hanya satu jumlahnya” atau” tuhan B lebih agung karena banyak” ?


Mengenai kebenaran. Sebuah kebenaran tidaklah selalu diukur dengan mayoritas suara. Dulu mayoritas orang mengatakan bumi itu datar, matahari mengelilingi bumi, sehingga Galileo Galilei yang menyatakan bumi mengelilingi matahari dipenggal kepalanya. Ini fakta sejarah bahwa mayoritas belum tentu benar, kita semua harus sadar akan hal ini.


Pernahkah kita berpikir: jika segala sesuatu itu ada yang menciptakannya lalu siapa pencipta si pencipta? Jika alam semesta ini diciptakan oleh tuhan lalu siapa yang menciptakan tuhan? Mungkin ada yang menjawab: “oh tuhan muncul dengan sendirinya”. Jika ada hal yang muncul dengan sendirinya seperti itu, maka tidak menutup kemungkinan juga ada hal lain yang muncul dengan sendirinya, dan tidak harus tuhan. Ini logika sehat sederhana.


Baru-baru ini Ilmuwan terkemuka, Stephen Hawking mengatakan bahwa tuhan tidak menciptakan alam semesta : http://news.yahoo.com/s/nm/20100902/lf_nm_life/us_britain_hawking


Sebuah hal yang lucu dan ironis. Sebelum Hawking menyatakan teori barunya, banyak yang berpaham kreasionisme berbondong-bondong mengatakan pernyataan Hawking mengenai teori awal semesta yang mengalami pengembangan adalah sesuai dengan apa yang tertulis dalam kitab suci mereka. Tapi setelah Hawking menyatakan teori bahwa Tuhan tidak menciptakan alam semesta, mereka mengkritik dan mengutuknya.


Kembali kita diingatkan oleh peristiwa Galileo Galilei, bahwa mayoritas dalam jumlah belum tentu benar.

Demikian
sabbe satta avera hontu

JDGLEGRA said...

Saya tidak rela mati demi agama, saya tidak rela mati demi Tuhan, tapi saya rela mati demi cinta dan sesama ... Karena agama yang saya kenal adalah Tuhan dan Tuhan yang saya kenal adalah cinta dan sesama ... dan karena Tuhan yang saya kenal tidak pernah meminta saya untuk mati untuk dia dan membunuh sesama ...

schizoprenic girl said...

kita semua bicara tentang CinTa, Tuhan dan Esa. Adakah yang "mengetahui" dan " memahami" apakah arti CinTa itu sesungguhnya?

Muhammad Faizullah said...

Buat semua yang tidak percaya keberadaan Tuhan, percaya atau tidak itu hak Anda. Mari kita bersama-sama mengisi hidup dan menunggu kematian kita, dan kita lihat apa yang terjadi setelahnya.

kay na said...

beginikah kita.."mentang2" punya akal..semuanya harus sesuai logika...
untuk perkara keimanan bukan saya memilih jadi pecundang yg tidak mau memberi tanda tanya pada setiap yg kita yakini kebenarannya. Tp saya tidak ingin mempengaruhi orang lain dalam hal ketuhanan. Mb.Dee, dalam hal ini saya berseberangan dengan anda.

edenia, said...

Mempertanyakan (Bertanya), Berpikir, Merasa, Mengalami, Memprotes, Marah, Berdiskusi, Menguraikan, dst...tentang Tuhan, buat saya justru membuktikan Tuhan itu ADA dan ESA. Karena terbukti semua orang memikirkanNya. Tapi, jangan terlalu ruwet soal DIA.

(Hehe) Sampai matinya saja, Musa masih "bingung" soal Tuhan. Musa bertanya kepada Tuhan, "Kalau orang Israel bertanya, siapa namaMu, bagaimana aku menjawabnya?"
Tuhan menjawab "Katakan saja, AKU adalah AKU"

Hehe, Tuhan emang suka humor kayaknya. Kerumitan kita berpikir tentang diriNya, membuat Dia tertawa. Emang, betapa bodohnya kita! :D

-Peace-

Adhi Prakosa said...

Kata esa berasal dari bahasa Sansekerta/Pali. Kata esa bukan berarti satu atau tunggal dalam jumlah. Kata esa berasal dari kata etad yang lebih mengacu pada pengertian keberadaan yang mutlak atau mengacu pada kata ini(this-Inggris). Sedangkan kata satu dalam pengertian jumlah dalam bahasa Sansekerta maupun bahasa Pali adalah kata eka. Jika yang dimaksud adalah jumlah Tuhan yang satu, maka kata yang seharusnya digunakan adalah eka, bukan kata esa.

Dari penjelasan yang telah disampaikan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa arti dari Ketuhanan Yang Maha Esa bukanlah berarti tuhan yang hanya satu, bukan mengacu pada suatu individual yang kita sebut tuhan yang jumlahnya satu. Tetapi sesungguhnya, Ketuhanan Yang Maha Esa berarti sifat-sifat luhur/mulia tuhan yang mutlak harus ada. Jadi yang ditekankan pada sila pertama dari Pancasila ini adalah sifat-sifat luhur/mulia, bukan tuhannya.