Nge-blog:
Perjalanan Panjang Dengan Hati
Perjalanan Panjang Dengan Hati

Awal bulan lalu, saya menerima e-mail permohonan endorsement dari Redaktur Gagas Media, Windy Ariestanty, yang kebetulan juga teman baik saya. Gagas berencana akan menerbitkan sebuah buku yang diambil dari blog seorang blogger senior bernama Pak Wicaksono. Di dunia maya, ia lebih dikenal dengan julukan Ndoro Kakung. Setelah membaca beberapa tulisan beliau, tanpa ragu saya mengiyakan, bahkan mengirimkan endorsement saya dalam waktu kurang dari sehari. Rekor tercepat saya dalam mengirimkan endorsement. Bukan karena alasan kejar tayang atau asal-asalan, tapi memang sungguh tak sulit menuliskan kesan bagi tulisan yang memang berkesan.
Beberapa hari lalu, saya dikirimi buku yang akhirnya terbit dengan judul “Nge-blog Dengan Hati” itu. Buku yang ringan (dalam arti sebenarnya—141 halaman dan ukurannya agak kecil). Namun isinya tidaklah sembarangan. Khususnya bagi para blogger atau minimal yang pernah merasakan nge-blog, banyak ketukan ‘aha!’ yang muncul dari kalimat-kalimat Ndoro Kakung yang lugas, humoris, sekaligus informatif tersebut, yang juga mengundang saya untuk kilas balik sejarah ‘karier’ nge-blog saya sendiri.
Tahun 2006, saya membuat blog tanpa pengetahuan blogging sama sekali, bahkan tanpa ketertarikan untuk menseriusinya. Jujur, pada saat itu pun saya bahkan tak terlalu menyukai blog-blog lokal yang saya temui, yang kebanyakan isinya remeh-temeh, diary-ish, atau dalam istilah saya pribadi: ‘diare kata-kata’. Encer dan nggak penting. Beberapa rekan penulis juga mengatakan, “Alaah... nggak usah nge-blog! Langsung bikin buku saja.” Barangkali ada benarnya juga, karena saya cukup sering menemukan blogger yang memang menjadikan blog-nya semacam batu loncatan menuju target mereka sebenarnya, yakni menerbitkan buku. Namun, karena tak jua menemukan cara lain untuk berbagi tulisan-tulisan—yang sifatnya lebih menyerupai esai, puisi, tulisan spontan, dsb—akhirnya saya tetap nekat membuka account di Blogspot.
Jadilah saya blogger seadanya, bergerak dengan kecepatan siput, dan tak pedulian. Saya menulis posting bisa dua bulan sekali, tidak mengulik fitur ini-itu, tidak blog walking, bahkan jarang berkomentar balik pada yang mampir. Baru setahun terakhir, pelan-pelan saya membuka diri dan mulai meneropong dunia blogger. Barulah saya melek dengan berbagai fenomena seputar nge-blog yang ternyata sangat menarik; dari mulai fenomena seleb-blog, cari uang lewat blog, berkarier lewat blog, sampai aneka tips untuk merawat dan mempopulerkan blog. Dengan kata lain, ternyata blog adalah sebuah ‘industri’ sendiri, yang menurut saya, tak kalah menarik dengan industri buku yang lebih dulu saya kenal.
Sebagai penulis, lama kelamaan relasi saya dengan blog pun bertransformasi. Secara alami, saya merasa terpanggil untuk menulis khusus di Dee-Idea, dan tidak lagi melihatnya sebagai rak pajangan ‘alternatif’. Saya mulai meluangkan waktu secara teratur untuk merawat blog saya, membalasi komentar-komentar yang masuk, atau minimal mencari foto untuk artikel saya dengan lebih serius. Sungguh, bahkan saya merasa bahwa lewat media blog inilah saya bisa berinteraksi paling dekat dengan pembaca. Tanpa terasa, dan tanpa rencana, blog akhirnya memiliki tempat yang kurang lebih sejajar dengan buku-buku saya lainnya. Di hati saya, blog ini mulai bertransformasi menjadi ‘anak jiwa’, yang perlu dirawat dan dibesarkan dengan sama baiknya.
Karier nge-blog Ndoro Kakung amat jauh lebih advans dibandingkan saya, tapi cukup banyak hal yang saya sepakati dengan beliau. Seperti Ndoro Kakung, sejak dulu saya percaya bahwa kekuatan blog sesungguhnya adalah konten. Isi. Kita bisa aktif gila-gilaan di beragam jejaring sosial internet demi memompa jumlah pengunjung, atau mendandani blog kita seindah dan secanggih mungkin, tapi—sebagaimana kunci semua relasi—akhirnya kita selalu kembali pada isi dan sentuhan hati. Persis sama dengan apa yang selalu saya ulang-ulang seperti kaset rusak ketika orang bertanya apa rahasia buku sukses.
Ketika ditanya, kenapa kok nge-blog harus pakai hati? Sementara sekarang orang bisa tinggal pasang plug-in dan isi blog terbarui secara otomatis tanpa repot. Ndoro Kakung lantas menjawab: “Dengan membuat sendiri setiap posting, mengumpulkan setiap remah ide menjadi bangunan utuh, kita bisa belajar banyak tentang proses. Proses memberi kita kesalahan, dan pelajaran. Ia menempa kita menjadi seorang blogger yang lebih baik, lebih baik lagi, dan lebih baik lagi.” Itu juga menjadi pengalaman saya. Walau dulunya sempat meremehkan, tak terkatakan jasa nge-blog bagi pengasahan skill saya menulis. Dalam berbagai forum saya selalu berkata bahwa menulis bagaikan otot yang perlu dilatih sedikit-sedikit tapi konstan. Bagi yang ingin badannya sebesar Ade Rai, jangan mimpi bisa minum ramuan ajaib dan ototnya membuncah dalam semalam. Dia harus sering-sering ke gym dan berlatih dengan tekun. Bagi saya, ibarat langganan nge-gym, blog adalah sasana berlatih menulis yang nyaman dan ideal.
Yang tak kalah menarik adalah cuplikan di sampul belakang buku Ndoro Kakung: “Mengisi blog bukan seperti ikut lomba lari jarak pendek; melejit begitu bendera start dikibaskan untuk berhenti segera dalam tempo singkat. Mengelola blog itu ibarat lari maraton, mungkin lebih jauh lagi. Begitu mulai, kita tak perlu bergegas. Atur kecepatan dan napas, juga irama. Perjalanan begitu panjang. Kita tak perlu buru-buru berhenti.”
Meninjau ulang sejarah blogging saya, mudah rasanya untuk berlindung di kalimat di atas, karena saya pun memulai nge-blog dengan amat, sangat perlahan. Tapi sulit dipungkiri juga kebenaran ucapan Ndoro Kakung. Setidaknya karena saya menemukan fenomena yang sama dalam dunia kepenulisan. Begitu banyak orang yang kesusu untuk buru-buru beken, buru-buru eksis, buru-buru laku, tanpa mempedulikan satu faktor penting: belajar menulis, dan berkarier menulis, adalah proses yang amat panjang. Inilah salah satu karier langka di dunia yang bisa dilakoni seumur hidup.
Dalam kata pengantarnya, Windy selaku penerbit menuliskan: “Saya kerap bertemu banyak blogger yang ingin menerbitkan buku. Atau bertemu penulis lain yang ingin mengupas sejuta teknik lain tentang nge-blog. Ujungnya, semua bermuara kepada kepentingan ekonomis atau keinginan untuk tenar.” Windy lalu menambahkan, bahwa tentu saja semua itu tidak keliru, tapi faktor ‘hati’—meski terkesan melankolis di tengah sifat kapitalis yang kian marak—adalah semangat yang justru akan membuat kita menghasilkan sesuatu yang berbeda. “Di antara ribuan buku yang terbit, atau blog yang dibuat setiap harinya, justru hati yang memiliki passionlah yang memberikan kekhasan pada karya kita.” Lagi-lagi, kepala saya mengangguk setuju. Apa yang ditulis Windy, terutama karena dia datang dari sudut pandang penerbit, menjadi salah satu mutiara yang patut kita renungkan.
Kita sudah melihat contoh-contoh blog yang sukses dengan fenomenal, salah satunya blog Raditya Dika, yang tak hanya berhasil dibukukan, bahkan sekarang ia hadir dalam bentuk sinema. Suatu lompatan yang luar biasa. Dalam satu forum bedah buku di mana saya bertemu Dika dan mengobrol langsung dengannya, dia dengan tegas berkata, awal dia nge-blog pun semata-mata untuk kepuasan sendiri saja (dan itu memang tergambar cukup jelas dari blognya). Saat tren buku jadi blog belum populer, berbekal keyakinan akan otentisitasnya, Dika lalu nekat mendatangi kantor Gagas Media dan meyakinkan sendiri pada redakturnya bahwa blognya unik, menarik, dan layak terbit.
Tidak semua dari kita senekat Dika, atau sepiawai Ndoro Kakung. Tapi satu benang merah yang bisa kita lihat dengan jelas dari profil para blogger kawakan tersebut adalah: they write with passion. They write for a long run. Yang artinya, mereka menulis dengan semangat hati. Dan mereka tak berhenti. Formula sederhana itu dapat diaplikasikan pada kita semua. Tidak harus sering, tidak harus jadi posting yang populer, tidak harus bagus, tapi menulislah dari hati. Dan menulislah terus.






105 komentar:
semua,kalo dilakukan dengan hati, bakalan sukses mbak...yang susah itu,,gimana mendapatkan 'hati'nya...
muhalim makassar
Pertama kali saya baca tentang buku ini di blog penulisnya dan Gagas Media, saya malah bingung: "Kok judulnya kayak disponsorin bank rakyat sih?Lepas dari judul, blognya NdoroKakung memang menarik untuk dibukukan. Yang juga membuat saya bertanya-tanya: Kalau sudah baca blognya, kenapa orang masih mau baca bukunya juga?
Masih lepas dari judulnya juga (sungguh!!), sebenarnya nulis dari hati siapa saja bisa. Malah lebih banyak orang menulis dengan hati daripada dengan tangan atau hidungnya.
Becanda. Mari kita ulangi lagi paragraf yang di atas.
Yang menulis dengan hati - hanya dengan hati - akan membuat tulisan tersebut tampak bertele-tele bak serial sinteron.
Mas Ndoro menulis tidak hanya dengan hati dan saya rasa pangsa pasar chick lit tidak terlalu menggebu menunggu terbit bukunya.
Menulis dengan otak, membuatnya kaku. Lagi, mas Ndoro tidak membuat kita kram dengan tulisannya.
[Sebenernya Hning ini komentar apa ngritikin judul bukunya orang sih?]Yang saya mau bilang, Kudos to Mas Ndoro for publishing a blog that contains both his warm heart and critical mind. Otherwise, Dee wouldn't have wanted to write her review for him, would she.
Dee,I don't know about the rest of your fans, but I thought you quit on us bloggers. Glad to have you back!
yap setuju kak,,,
nulis di blog harus pake hati
karena dengan kita menulis di blog tidak bisa dipungkiri, pastinya akan di baca orang, dengan atau tanpa sengaja.
beberapa blogger yang saya tau,mereka menulis dengan tujuan menarik minat pengunjung yang banyak,sehingga mereka menulis sesuatu berdasarkan pasar, kadang mengusung hal hal yang berbau kurang baik, tapi itu memang hak sang empunya blog.
hanya ya itu tadi, ayo menulis dari hati, menulis sesuatu yang bisa diambil makna dan nilainya bagi setiap pengunjung.
blog saya juga dibuat dengan tertatih tatih,,dan saya banyak belajar dari diksi diksi yang digunakan dee di blog ini,mmm kayaknya saya masih harus terus belajar biar blog saya juga bisa bertumbuh dan mmmm dikenal kalee yeee,,*ngiklan dikit hehehhe,,*
tetap ngeblog kak deee,,,,
GBU
Saya sudah berulangkali kehabisan nafas dalam marathon ini, hingga memutuskan untuk berhenti. Dan kerinduan berinteraksi dalam sebuah blog selalu berhasil memanggilku untuk meneruskan langkah kembali.
Saya tidak berani menyamakan diri dengan Dee.
Tetapi,
Saya termasuk salah satu yang dulu meremehkan blog.
Saya termasuk salah satu yang dulu iseng membuat blog hanya untuk mencari micro sen dollar (dan pernah juga dapat cek dari google untuk prestasi dari hasil copy paste hehehe...)
Saya termasuk salah satu yang juga malas ngeblog terus-terusan.
Padahal menulis adalah kesenangan yang tiada terhingga, tetapi kok saya malah jadi sesat di dunia saya sendiri?
Dan sekarang
(sekali lagi tetap tidak berani menyamakan diri dengan Dee)
saya sudah insyaf, tobat, dan kena batunya.
Saya mulai lagi blogging dengan karya sendiri, kepuasan hati sendiri, entah orang mau bilang kacangan tapi yang penting saya senang dulu untuk mengungkapkan semua imajinasi.
Saya mulai rajin melatih diri lagi sampai akhirnya saya sakau jika tidak menumpahkan pikiran dan pendapat dalam blog.
Saya tidak berani menyamakan diri dengan Dee, tetapi saya termasuk orang yang nekat. Nekat narsis dengan karya sendiri, mematut lama-lama tulisan sendiri, merenungkan tulisan sendiri, merasakan gaibnya tulisan sendiri dalam hidup sendiri. Nekat publish e-book sendiri, pemula yang terlalu inisiatif. Fiksi atau non fiksi hanya sekadar kategori, yang penting semua mengandung naluri dan nuansa kemurnian dari hati.
Kembali saya tidak berani menyamakan diri saya dengan Dee, tapi melihat blog ini saya semakin memacu diri agar suatu saat nanti saya akan sama dengan Dee :)
Fekhi
http://cerita-dari-fekhi.blogspot.com
Setuju 300% sama Ndoro Kakung dan Dee...
yang menarik adalah, passion yang membuat para blogger menjadi long runner, passion yang membuat para blogger "pusing" kalau sehari aja nggak menumpahkan isi kepala di blog namun tetap menjaga isinya tetap berkualitas, passion untuk menulis..
that's the way should blog works :)
blog tmpt saya mencurahkan segala isi hati...perasaan pengen populer macam Raditya Dika emang pernah hinggap dalam pikiran saya. Tapi lama kelamaan saya nyadar kalo blog itu lebih ke "diary" yang merekam setiap kegiatan kita..
Hehe
dan saya msh diare blog sampe skrg hahaha~
Saya kok ngerasa senang ya baca post mbak dee yg ini, tp ga tau bagian mananya yg bikin ngerasa senang, hehe.
bagi saya, blog saya adalah "tempat sampah" bagi pikiran2 di otak saya. Begitu rasa rasanya kepala penuh, perasaan gusar karena pikiran2 saya sendiri, blog saya bisa menjadi terapis yang bisa diandalkan :)
mungkin yg ngebuat saya merasa senang waktu baca post ini krn ngelihat hubungan yg ada antara mbak dee dan blognya :D
oia, kalau ada waktu silakan berkenalan dengan blog saya:
catatanmimpisaya.wordpress.com
maaf ya mbak krg sopan nitip alamat nih.. Hehe
saya sudah bacaaaaa... hehehe...
saya belum baca nih mbak, dan penasaran sama tulisannya ndoro kakung.
saya setuju mbak, klo menulis itu dari hati, berawal dari sebuah niat yang kemudian ditumpahkan dalam sbuah tulisan.
memang banyak, para blogger juga senantiasa menyelipkan komersialitas didalam blognya, yang akan mempengaruhi kualitas tulisan dari hati yang kita maksudkan..
so,,back to basic..
back to our heart..
saya mungkin secuil orang dari sekian banyak orang yang 'beda', blog untuk saya pribadi merupakan tempat untuk berbagi terutama dalam menyalurkan bentuk atau apapun perasaan yang dituangkan dalam cerita maupun artikel bahkan tempat saya untuk 'main-main' di rumbling arts :) hampir setiap hari pertanyaan muncul "FB-nya apa?" dan jawabannya saya "waduh ... saya gak punya FB tuh ... bis gak pengen sih, punya-nya Blog, wuih ... contentnya lebih asik loh daripada FB hahahaha". Sudah 2 tahun umur blog saya dan itu membuat saya beberapa langkah lebih maju dibanding teman-teman saya. Love blogging, especially write in blogging with heart.
betul apa kata ndoro kakung..
ngeblog itu mengasyikan koq..bukan karena sekedar curhat2an doang atau cari temen,,tapi juga belajar. pertama kali ngeblog pasti bahasanya kaku atau bahkan norak, tapi lama2 pasti berkembang cara penulisannya dan makin berkembang juga isi postingannya..
allow mbak dee..
pagi ini saya langsung membaca posting mbak, hmm...sejauh ini saya setuju dengan statement bahwa 'menulis itu harus dengan hati' tapi bukan malah curhat. tapi sebagai pemula di dunia blogging saya merasa bahwa saya termasuk kedalam kelompok blogger yg nulis pake hati tapi ternyata yang ada di hati ya itu seperti curahan hati..he..he..
tapi, mungkin iya, selalu ada kiblat mana yg kita ikuti dalam menulis..tapi kembali lagi semua itu adalah buah pikir dari masing-masing orang, masalah tulisan itu disukai atau tidak oleh oranglain, itu urusan lain.
seperti yang saya kutip dari tulisan khalil gibran, berikut..
"Kalian mungkin bisa memenjarakan aku, tapi kalian tidak bisa membiarkan pikiranku melayang bebas.." (kira-kira seperti itu).
terima kasih mba dee sharingnya hari ini...saya banyak belajar dari tulisan-tulisan mba.
sukses selalu..:)
-asd-
kadang saya termasuk orang yang kerasukan dalam menulis 'comments' di blog-blog yang saya kunjungi, kok bisa ya saya nulis serapi itu (rapi dalam ukuran saya mba', he..he..). padahal saya benar-benar ga punya kosakata yang banyak, hanya mengandalkan insting pengen ngasih comment aja. malah terkadang saya membaca kembali comment tersebut, bagus juga ya (ha..ha..muji sendiri akhirnya, nah gmna tu mba'..).
sejauh ini mengapa saya ngeblog, alasannya cuma satu..saya cuma pengen menceritakan kembali apa yang saya lihat, saya rasa, dan saya dengar..tidak ada motivasi lain apalagi ingin terkenal, wah itu mah jauh banget. walo semua yg saya lihat,rasa dan dengarkan, adalah sesuatu yang mempunyai makna dalam hidup saya, ya karena itu saya menulisnya.
Setuju sekali Dee. Bukan hanya ngeblog ..apapun itu harus dilakukan dengan hati.
satu lagi novel yang mengusung blog.
saya juga awalnya nggak ngerti apa-apa tentang blog, coba-coba aja. tetapi pada akhirnya setelah beberapa bulan "mencari jati diri" akhirnya saya menemukan cara yang tepat untuk mengapresiasikan diri saya. kata kuncinya adalah terus belajar.
semangat mbak dee!!
terima kasih untuk ulasan yang membuat saya begitu tersanjung. tiada ungkapan yang lebih layak selain menjura kepada dee. salam
hahaha blog...saya masih diaryish,
abis baca ini jadi semakin semangat ngblogs,maju perut pantat munduuuur
wahh...keren ulasannya, dee gitu !
:-)
cari bukunya ah..hunting !
Glad to have u back Dee! *_*
For me personally, blogging itu ajang narsis diri yg paling dalem, karena apa yg ada d blog isinya hampir pasti adalah sgala yg ga keucap di bibir tp ganggu isi kepala dan isi hati.
Biarpun bolak balik ngalamin episode gada ide mo nulis apa, ato malah keabisan kata2 untuk nggambarin sgala rasa, ttp aja ga bosen narsis di blog hahaha...
Betul, ini soal niat baik berbagi, eksistensi dan stamina prima.
http://handaru.light19.com
berasa di tampar dee
blog saya masih diare kata hehehe
satu yang paling bener
konsisten .. jadilah pelari maraton, sayangnya kita selalu ingin cepat-cepat, gak punya stok sabar yang berlebih :(
btw endorsement yang bagus buat buku ndoro ... saya suka
To NdoroKakung:
Wah, kedatangan sesepuh nih! :) Thank you udah mampir, Mas! It's an honor to be a part of your book (walaupun cuma nyumbang 1 alinea).
To Hning:
Iya, saya juga sepakat. Barangkali ungkapan yang lebih tepat adalah 'pas'. Seperti makanan yang cita rasa asin & manis & gurih & dsb-nya seimbang di lidah. Tapi sebetulnya yang saya maksud 'dengan hati' dalam konteks ini adalah 'passion' (agak susah memang cari padanan bahasa Indonesianya). Passion adalah kondisi hati, bukan sekadar 'hati' tok.
To Dony:
Sekalian buat semua yang membahas soal blog diare, hehe. Baru2 ini saya mendapat link blog-nya Steve Pavlina, seorang motivator, yang blognya dibaca 2 juta orang per bulan. Dan posting Pavlina ini nggak pernah pendek. Rata2 dia nulis 2000 kata. Hampir tiga kali lipat rata2 panjang posting saya di Dee Idea. Beliau memang punya prinsip, selalu buat yang terbaik. Buatlah posting yang tak lekang waktu, begitu katanya. Bagi saya, aplikasinya tak selalu harus berbentuk posting panjang, pendek pun tidak apa-apa--tapi selalu kondisikan bahwa itulah tulisan kita terbaik. Pavlina percaya, kualitas posting adalah umpan terkuat sebuah blog. Biarpun kita semua ini masih taraf latihan nge-blog, tapi saya cukup sepakat dengan apa yang dikatakan Pavlina. Sambil kita berlatih menulis--yang berarti menyediakan ruang bagi kesalahan, ketidaksempurnaan, dsb--tetap selalu sajikan yang terbaik. Dan barangkali termasuk di dalamnya: sampah terbaik :D
~ D ~
mba dewi, denger dari jj mau bikin pelatihan menulis ya? apakah sudah? jika belum, kapan ya? aku pengen ikutan
capek mbak baca ulasannya...dowo banget
saya pembaca setianya NdoroKakung.Com
memang bener banget si Ndoro ngeblognya pake hati
:)
ciri khas Ndoro lekat banget
:)
mba dewi,
terima kasih untuk ulasannya.
dan selalu terima kasih untuk semua dukungannya selama ini.
i do appreciate it. semoga gagas bisa tetap menjadi penerbit yang menerbitkan buku dengan hati.
salam,
aaaaaaaaaaah Gubrag... kena tendang gw.. merasa remeh .. soalnay punya gw diary blog :p
Berisik dalam kata diam tak terekam telinga tapi dalam menusuk jiwa, itulah yg puyak rasa ketika membc tulìsan Embak Dee,,,sudah tak terhitung anggukan dan seyum kecil terlengkung ktika membaca kata2 yg lahir dsini..sangat brani namun ttp sopan.,nice to meet u...salam blogger..pUyak Disini:-)
"Menulis dengan Hati"
Entah kebetulan saya juga memiliki istilah yang sama, sempat kepikir beberapa hari yg lalu.
Dengan hati kita belajar mengungkapkan opini secara tulus, bukan dgn berharap dihargai, dimuliakan, ataupun "dianggap" eksistensinya.
Menulis sekedar menulis, itu memberi kebahagiaan.
Jika menulis demi sesuatu, itu lebih banyak "derita" dari pada bahagia.
Apa memang begitu?
Menulis dengan hati, juga otak, juga tangan. Dan menulis itu menggabungkan berbagai indera yang kita miliki. Bukan begitu?
-JBS-
memang roh nya harus berbagi share...gak ada tendensi lain...
blogku termasuk yg remeh temeh dan 'diare kata2' tadi, mbak Dee. tapi aku menulisnya dg hati...
Tanpa bermaksud untuk memulai pertengkaran internal rumah tangga, hehehe, saya justru menemukan ketidaksepakatan dengan (sebagian) posting Dewi kali ini.
Diare kata-kata serta remeh temeh diary yang dituangkan di blog, barangkali saja bukanlah sesuatu yang diminati publik, sehingga memang secara general, menjadi tidak penting bagi orang banyak yang tidak mengenal penulis blog tersebut.
Namun saya juga merasakan bahwa 'remeh temeh keseharian' bisa jadi media ekspresi yang bermanfaat terapi bagi penulisnya, yang bisa jadi kendaraan untuk bertumbuhnya jiwa penulis itu sendiri, meskipun barangkali belum mencapai kontemplasi penulisan yang bisa membuka kesadaran pembaca lain, serta belum terasah ketajaman gaya menulisnya.
Entah karena saya belum terlalu banyak menjelajah dunia blog Indonesia, atau karena faktor lain, saya memang merasa blog bermutu (yang sesuai selera saya, yang mencari isi tulisan yang mencerahkan hidup), belum terlalu banyak dibuat oleh blogger Indonesia.
Sementara di beberapa blog berbahasa Inggris yang cukup sering saya kunjungi, baik dari kualitas menulis, kekuatan isi, serta kejernihan para komentator blog disana memang mencerminkan kecanggihan intelektual, kepekaan hati bahkan kematangan spiritual yang tampaknya sudah lebih terasa.
Selera kita sebagai pembaca blog bisa saja dijadikan sebagai ukuran kualits secara subjektif, namun dalam gambar yang lebih besar, barangkali inilah tahapan evolusi sebagian blogger, yang perlu dilewati setiap fasenya.
Semoga posting ini bisa menyemangati para blogger Indonesia untuk terus mengamati hidup, mengekspresikan diri, semakin jernih, semakin matang, dan semakin bermanfaat.
Reza
Eeeh... suami mau cari ribut, neh? :) Just kiddin'.
Sebetulnya timing-nya cukup coincidental, karena baru saja saya kepingin merespons banyaknya komentar yang masuk, yang nadanya kok jadi apologetik dengan blognya sendiri. Hehe.
Saya tidak ada masalah dengan diary, bahkan kalau saya kasih workshop penulisan, saya selalu menganjurkan orang berlatih lewat diary, karena seperti 'nge-gym' juga, diary adalah salah satu sasana ideal untuk melatih otot nulis kita.
Namun, kembali ke masalah selera dan pembiasaan. Saya, yang pada tahun 2006 sama sekali buta dengan blog, cukup terkaget2 dengan tradisi blog yang cukup jauh berbeda dengan buku. Blog yang saat itu saya temukan hampir semua nggak lebih dari tiga paragraf, bahkan ada yang cuma sekian baris kalimat. Saya bahkan sempat ciut hati, garuk-garuk kepala dan berpikir: 'wah, kalau begini yang namanya nge-blog, saya kayaknya nggak bakal sanggup.'
Berangkat dari tradisi nulis buku yang biasa makan waktu bulanan dan skalanya ratus halaman, tentu blog adalah fenomena mencengangkan buat saya. Belum lagi saya tidak terbiasa nulis pendek. Dalam frame berpikir saya, jika konten demikian ditemukan di diary atau jurnal pribadi, tentunya sangat lumrah. Tapi ketika konten tsb dipublikasikan ke khalayak--selayaknya kita menerbitkan buku untuk publik--sungguh suatu hal baru bagi saya.
Again, it's a matter of a choice. Teman2 yang merasa 'tergaplok' dengan istilah 'diary-ish blog', please don't take it as an offense lho. Jujur, sampai sekarang pun saya memang kurang selera, tapi sebagaimana yang dibilang Reza, hal itu bisa saja cuma fase atau bahkan pilihan yang dilakukan dengan sadar. Dan bukan berarti tidak bisa jadi blog yang baik.
Write your best and it becomes a good blog... at least from the perspective of the writer, rite? :)
@Reza,
Kita nyimpang deh kayaknya, tapi saya gemas.
Apa bedanya blog dengan buku harian? Apa bedanya diare verbal dengan sastra? Apa bedanya tulisan Ndoro Kakung dengan mereka yang tanpa tenggang rasa muntah kemana-mana?
Yang membedakan blogger biasa dengan blogger beneran (ga ngaruh dalam bahasa apa) adalah kesadaran untuk mengaktifkan otak mereka saat mencurahkan isi hati di ruang yang SANGAT PUBLIK.
Mengutip verbatim dari rumah sendiri, dengan judul: Why Freedom of Speech Makes You Look Stupid, "It doen't matter what language(s) you use in blogging, as long as you could use it (them) responsibly".
Just my silly 2 cents, man.
PS: Gaplok terus, Dee. Emang enak baca diare-ish dalam 2, 3 bahasa?
Tadinya nggak berniat komen, tapi jadi tergoda. Niat, oh niat. ;-D
Akhir 2006, saya memutuskan untuk nge-blog dengan tujuan memberi terapi pada diri sendiri, sekaligus latihan menulis (meski kebablasan sih kayaknya, jadi keseringan nge-blog daripada 'nulis beneran'). Blog bagi saya lebih dari sekadar diary, karena lewat blog saya bisa berbagi apa saja kepada siapa saja. Mulai dari pemikiran, curhat, lelucon, sampai foto2 gak penting. Diary memang bisa menampung semua unek2 saya, tapi tidak bisa menyuarakan isi kepala saya, sedangkan saya sedang butuh bersuara. Di satu sisi, dengan nge-blog, saya belajar memilah mana saja 'bagian dari hidup saya' yang ingin saya publikkan, mana yang tidak, karena bongkar-bongkar isi perut berbeda dengan 'telanjang di muka umum'. Hehe. Jadilah saya dengan niatnya bloghopping kemana-mana dan mendaftarkan diri ke banyak milis demi mempromosikan blog saya. Alasannya sederhana saja, saya ingin didengar. Saya ingin pemikiran2 saya bisa dibaca orang. Awalnya saya pesimis, apa bisa. Apa mungkin ada orang yang mau baca tulisan2 saya, insight saya. pengalaman2 pribadi saya; lha wong menerbitkan cerpen aja (yang notabene ada unsur menghibur) susahnya setengah mati. Ternyata memang bisa.
Saya setuju bahwa blogging memiliki tahapan evolusi. Saya sendiri mengalaminya, soalnya. Tengok aja blog saya, semua tergambar jelas di sana, ahahahaha.
Satu hal yang barusan bikin saya ngakak-ngakak, waktu saya membongkar kembali isi blog saya, ternyata ENTRI PERTAMA yang saya tulis di blog adalaaaaaah: ucapan terima kasih (acknowledgement) resmi ala novel/buku2 yang beredar di pasaran.
http://jennyjusuf.blogspot.com/2006/12/simple-thanks.html
Entri pertama, nol pembaca, and I already made it sounds like... well... go figure. Percaya diri itu emang bukan omong kosong. And dreams do come true. Hyahahahaha!
Blog with passion, people. You never know.
Thanks a lot mb' dewi...
Tulisan-tulisan jenengan, ndoro kakung dan raditya menjadi inspirasi bagi saya dan mungkin jutaan blogger pemula di sana.
Mohon bimbingan dan bantuaanya samapi kojeng bisa menulis dengan hati seperti yang mb' maksudkan...
:)
Halo Mba Dee...apa kabar?
Saya pengunjung setianya Ndoro Kakung...thanks reviewnya.
-Eviwidi-
Hai Eviwidi,
Terima kasih juga untuk ceritanya yang menghibur di commentmu @Ndroro :)
Semoga betah juga main di sini...
Dan Jenny... kamu juga sukses membuatku ngakak! (Simple Thanks-mu itu lhooo...)
~ D ~
Halo Mbak Dee salam kenal..
Saya juga berkali-kali berhenti dan berlari lagi... hehe..
Saya jadi pengen baca buku itu, karena sampai sekarang rasanya saya belum bisa menulis dengan hati walau sudah senang menulis cukup lama..
kadang memang yang dari hati lahirnya akan lebih indah, saya pengelola salah satu web suporter ww.suporter.info saat ini sedang dilematis, haruskah mencari berita dengan copy paste dan mendapatkan 7-8 berita setiap hari atau membuat kreasi sendiri dengan hanya dapat 2 artikel perhari,
dan aku mengcombine itu sebagian copi paste sebagian tulisan sendiri.. demi sebuah nama "traffic web"
tapi lama kelamaan aku berpikir,...... gak ada yang aku banggakan dengan menulis copas. dan dee + ndoro kakung mengajari ku bagaimana menggunakan hati dalam ngeblog....
thanks..... aku akan belajar mengumpulkan yang remah menajdi fondasi dan bangunan yang utuh
salam kenal...,
dalam komunitas kartunist yg jg ngblog..sy dipesenin gini..." pake Hati...tapi juga HATI-HATI"...
salam kenal mba Dewi Dee....saya pembaca setia blog anda..tentang ngeblog dengan hati setuju sekali...sampai2 kalau hati saya "mogok" maka "mogok" pulalah ngeblognya.....cuma blog saya masih yg seperti mba Dewi Dee bilang "diare kata2" ...cuma curhatan tentang anak2 saya dan jg kejadian sehari2....moga kedepannya bisa sebagus dan seindah blgonya mba Dewi....
jadi penasaran, kalo memang tahun 2006 saat mbak dewi mulai ngeblog, ngerasa bahwa blog itu 'ga penting', apa yang mendorong mbak dewi untuk buat blog?
tapi tahun 2006 emang lagi booming banget sih, ngeblog itu.
blognya bagus mba....seneng bisa mampir kemari...
http://dhila13.wordpress.com
hmm.. ma kasih ya mbaak.. pelajaran berharga.. apalagi buat saya comentator sejati nyang tiba tiba nyasar dibikinin blog sama teman teman blogger..
Salam Sayang
Membaca blog nya ndorokakung memang membuat tergelitik.....
Mesti beli bukunya nih
awal ngeblog juga karena saya ingin menulis, dan teringat ucapan seseorang yang melihat tulisan saya, menulislah dengan hati dan tulisan itu akan seperti punya nyawa atau soul, dia akan terasa lebih hidup. Jadi saya ngeblog tidak dengan target apa-apa, hanya berbagi, saling berinteraksi dan silaturahmi di jaman yang serba canggih ini. dan menjalin pertemanan dengan blog
kalo sempat kunjungi juga blog saya di
reallylife.info
kalo saya... ngga semua tulisan saya tulis pake hati. kadang saya nulis kalo lagi iseng ga ada kerjaan tanpa tau apa yang harus saya tulis.. tapi, kalo saya nulis bener2 dari hati... memang, temen2 saya selalu komentar kalo tulisan saya suka berasa 'jero'...
Indah banget kali ya kalo semua blogger di dunia ini bener2 menjadikan nge-blog sebagai perjalanan dengan hati. Jadi tiap kali kita masuk ke blog milik orang lain, seolah-olah kita lagi menyelami & menyalami hati orang itu.
Keep blogging ya semua!!!
kalo saya.. masih belajar nulis. tapi senangnya baca blog orang trus jadi commentator.. hehe..
WAKAKAKAKAKKAKAKKAKAK!!!
Nulis kok dibikin susah.
Ngeblog kok dibikin ribet
kalo nyari pencerahan cari aja senter pa teplok.
BWAKAKAKAKAKKAKAKAK!!!
wah.
baru tadi sore beli bukunya.
kereeen bukunya.
heheh :D
coba baca blog temen saya
lama dia ga nulis krn sibuk kuliah lg
tapi tulisan2 dia dulu, smpet mmbuat saya dan beberapa teman saya ketawa sekaligus tercengang
ronitoxid.multiply.com
ngeblog...
g pernah kepikir akan ngeblog, mulanya cuma buat arsipin jejak2 komentar saya di blog Dee, belakangan, ngeblog jadi kebutuhan hati, blog serupa ember yang siap nampung gejolak hati, keheranan hati akan hidup, begitu banyak yang senjang
makasih banyak Dee, sedikit banyak, langsung tak langsung telah memberi tau cara membuka keran hati, membiarkan isinya mengalir,
cieee....
mmmm....dengan HATI?!! tak sepenuhnya! Aku menyebutnya penulisan dengan 'intrepretasi' sehingga BERGAYA.
Memang kalau dengan hati itu - gak bisa dikalahin deh.. sukses buat Ndoro dengan bukunya..
1.Sebenarnya yang menjadi inti adalah "lakukan semua pekerjaan (yang baik) dengan sebaik-baiknya agar memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain"
2.Hal yang kedua adalah meluruskan niat kita.Untuk apa sih kita ngeblog ?Apakah untuk sebuah pelatihan agar kelak kita bisa menulis buku yang baik.Ataukah kita ngeblog untuk bisa menjadi terkenal,ataukah kita ngeblog untuk membagi ilmu pengetahuan kita kepada orang lain ?SAtau ngeblog sebagai pelampiasan untuk menjelek-jelekan orang,pemerintah,kelompok atau golongan lain ?
Dengan niat yang baik Insya Allah blog kita akan bermanfaat.
3.Sukses Dee.
4.saya link blog anda di blog saya yang sederhana.
5.Thanks
kata gw sih, menulis dengan hati/passion itu bagusnya 'cuma' untuk kepuasan pribadi. semacam terapi.
Kalo untuk jadi tulisan yang sukses dan fenomenal dan/atau digemari banyak orang, butuh formula-formula lain secara teknis/tambahan di luar tulisan sendiri.
BTW, gw masih ga ngerti, sebenarnya blog yang sukses dan fenomenal itu apaan sih parameternya? Ngeblog sih ngeblog aja.
-okke-
OOT, ini kenapa sih komen kudu dimoderasi udah gitu kudu log in. Ribet bener. Apa kabar yang ga punya akun blogger pribadi?
nulis dengan hati? sepertinya menarik...
Saya baru aja 5 menit yang lalu selesai membaca buku itu...
Bagus, bahasanya merakyat dan sangat setuju dengan content blog harus dengan hati...
Tapi ada beberapa part yang ganjel sih menurut saya, yaitu kurang penjelasan yang mendetail dalam tips2 yang disampaikan di beberapa bab tertentu
Dan itu berkaitan dengan aplikasi, how to, troubleshooter :)
Tinggal tunggu aja ni ndoro kakung bikin buku berikutnya...
Btw, saya baru mengikuti blog neng Dee setelah baca buku itu, ijin "ngegeratak" ya neng :D
@Chindy (OnlyOneEarth):
Iya, Jeng... ta' perhatiken, dirimu sekarang kuenceng banget ngeblognya. Mantap! :)
@Abdul Cholik:
Silakan dilink, Mas. Thank you.
@Okke (lajangdanmenikah):
Ukuran blog yang sukses dengan fenomenal, menurut saya pribadi, adalah blog yang mampu membuat lompatan-lompatan tertentu yang tak hanya sekadar membuatnya menjadi blog semata atau bertahan dalam satu format saja. Ada blog yang akhirnya menjadi basis komunitas. Ada blog yang akhirnya dibukukan, difilmkan. Ada blog--seperti blog Steve Pavlina atau Leo Babauta--memiliki jutaan subscriber dan para bloggernya sudah bisa cari makan lewat blognya tok, bahkan menjadi bisnis yang sangat profitable bagi pemiliknya. Tapi tentu itu bukan satu2nya parameter kesuksesan. Dalam konteks yang lebih sederhana namun mengena, menurut saya, saat sang blogger sudah merasa puas dan berbahagia dengan blognya, itu pun sebuah bentuk kesuksesan tersendiri.
Kenapa dimoderasi? Krn blog saya ini sering sekali kedapatan komentar yang sifatnya spamming, dari mulai iklan produk sampai iklan pribadi, ada juga yang entah karena salah ketik atau apa bisa mengirimkan komen yang sama 3-4 kali, dan ada juga yang super OOT sehingga harus difilter. Lagian yang ribet kan yang memoderasi ini :) Kebetulan juga saya nggak simpati sama para Anonymous. Filterisasi, yang mana saya pilih di sini adalah sistem moderasi, menurut saya bisa membuat para komentator jadi lebih bertanggung jawab.
Regards,
~ D ~
Absolutely agree
wah sudah terwakili sama ocehan2 diatas deh kayanya...
blog jadi sarana, segala2nya dech..
life syle baru pokonya...
mencari sahabat,
bagus sekali mba dee..
saya sangat setuju dengan pesan yang ingin disampaikan dalam tulisan mba kali ini.
PROSES & HATI.
Eh dibales. ;-)
Ya, emang kalo masang moderasi, risiko ribet ditanggung yang masang. hehehehe.
Maksud gw, ga semua orang (pembaca blogmu) pake akun blogger/gmail, ga adil buat non-blogger/gmail user, gitu.
coba deh, yang login-nya di lepas, tapi moderasi tetap, supaya kamu bisa tetap ngefilter.
Biar semua orang bisa komen --- tanpa harus register dulu, atau nebeng akun orang, berkomentar, tapi ga bisa ninggalin tautan ke blognya, karena blognya ga di blogger.
Sekedar saran aja, lho Bu. Boleh kan? ;-)
-okke!-
Halo Mba Dee
Yang paling aku suka dari dunia blog, penulis seperti berlomba-lomba untuk memberikan sesuatu, entah itu info, sharing pemikiran, pengalaman pribadi, download file, dlsb, terlepas dari apa motivasi di belakang itu. Jadinya, pembaca/pengunjung bisa mendapat banyak hal dari blog.
Saya sendiri ngeblog awalnya dari blogwalking alias sering liat2 blog dan banyak dapat sesuatu. Dari situ mulai mikir, kenapa aku nggak bikin blog juga ya?
Pertama sih sebenarnye niatnya mo dagang lewat blog, tapi aku bikin 2 jenis blog, 1 buat dagang, 1 buat blog yang isi lebih ke sharing pemikiran, semuanya baru mulai lebih kurang 2 minggu yang lalu. Ternyata walaupun baru, cukup banyak juga yg ngasih apresiasi terutama yg sharing pemikiran. Yang buat dagang sepertinya jarang banget diliat orang. Jadinya aku lebih senang dan aktif di blog sharing pemikiran itu. Blog yang satu lagi jadi nggak keurus, hehehe....
Mau ngomentari juga soal blog diarish. Kalo menurut aku ni, menarik juga, karena kadang bisa belajar banyak juga dari ungkapan-ungkapan yang sifatnya pribadi dari orang itu. Dan nggak heran juga, ternyata banyak juga peminatnya, terlihat dari banyaknya komentar, dan rasanya banyak juga silent reader-nya, kaya' aku yg lebih suka baca aja daripada komentar kalo soal pribadi.
Itu aja, salam.
-ZonS-
klo ga salah baru setahun q berkubang di dunia para blogger...
Awalnya hanya coba-coba.. pengetahuanku pun sangat minim tentang dunia ngeblog..
Tapi sekarang...sedikit demi sedikit q mulai belajar tentang blog, termasuk cara menulis dan kriteria isi blog yang baik. (emmm...baik itu tergantung yang menilai..hoohoho)
tanpa berniat ikut andil dalam maraknya dunia blog..q mulai postingan pertama q...
hehhe aneh ...sangat aneh ...( I think...)
.. Tapi dee- perlahan justru membuaktu melek dengan blog..thank's a lot dee
yang awalnya ga niat dan memandang remeh blog..Now. q justru lebih menghargai blog itu sendiri.. banyak hal yang bisa q lakukan dengan blog..termasuk memenuhi hasrat menulis q... yang ga mungkin untuk menjadi sebuah buku dalam waktu dekat..
chayooo......
wekwekwek...dadi isin karo awak'e dhewe, postingan'e uakeh copy paste ulasan2 ketoe anyar jebole lawas tapi isih relevan untuk diketahui, secara info vege masih agak langka;)
awak'e dhewe arep sinau, sinauu meneh piye karep'e ngemas tulisan, ben ceto maksud en isine,hehe....
--sang laskar penegak aksara hati--
chindy:))
hampir 4 tahun ngeblog. hampir 800 postingan. setelah semua itu, blog saya masih tetep dengan dengan gaya : 'diare kata-kata'.
But it's nice though....
rencananya mau saya print secara berkala, dan saya jadikan kenang2an masa tua kelak. bisa juga buat anak saya nanti.
kenapa di print? just in case wordpress dot com atau blogger dot com gulung tikar dan data2 saya gak bisa diselamatkan, hehehe...
mbak dewi... dah lama banget pingin kasih coment atu aja susah nya minta mapun.. susah apa aq yang gak bisa ya... mbak aq percaya banget kata2 mbak ini seratus peersen bener... menulis lah dengan hati, aq bikin blog karena aq mencintai seni terutama nulis.. thats all..tapi sangat wajar klo q punya cita2 jadi penulis... q masih blajar bgt mbak . bayi mungkin. q harap mbak klo s4 baca blog aq bntarr aja mbak.. namanya org sibuk.. ya klo gak lagi sibuk ya mbak. q butuh bnyak masukan. makasih mbak de....maturnuwun banget
Yup! Setuju banget kak Dewi! Ngeblog harus pakai hati dan kemauan. Kalau gak ada, walaupun hanya 1 komponen diatas, dijamin tidak akan menghasilkan karya-karya yang nendang! Setuju bapak-bapak, ibu-ibu, dan saudara-saudari?
Btw, kak Dewi, boleh tukeran link gak? Maklum, orang baru di blogosphere, masih belajar hehehe... :D
whwwaahhhhh .. ternyata eh ternyata.. kmana sajakah saya selama ini..???
dengan hati ya?
dengan atau dari hati?
di mana dan dari mana bisa dimulai?
memberikan suguhan
jamuan
hidangan
atau apalah namanya
aku bingung
bahkan aku lebih bingung lagi
dengan apa sebenarnya
yang membuat aku bingung
tulis
menulis
baca
membaca
atau
baca
membaca
tulis
menulis
bisa menulis
karena membaca?
atau
bisa membaca
karena menulis?
ada apa dengan hati?
begitu kuatkah "dia"
hingga semua yang dimulai darinya
menjadi begitu bermakna
apa yang ad di dalamnya?
hanya satu yang ku baca
"ikhlas"
mungkikah itu yang mendasari hati
sehingga ia menjadikan indah semuanya?
salam
hangat
buat mb dee...dan teman2nya
-joni-
salam kenala mbak dee
Saya robin di Bandung.
Nge-blog membuat saya bisa mencurahkan apa yang ada di pikiran, terutama tentang opini. awalnya isi blog saya, resensi buku yang baru saya baca, tapi makin ke sini resensi buku makin jarang.
Saya tidak tahu apakah tulisan saya bisa dibilang menulis dengan hati, tapi yang jelas, saya puas dengan tulisan saya..hehe
kadang ada banyak hal yang dipikirkan tidak mampu diungkapkan dengan ucapan, namun bisa dengan lancar diungkapkan dengan tulisan.
dan blog menjadi sangat berharaga sekali buat saya untuk menumpahkan semuanya.
entah akan dibaca, entah akan dikomentari, entah akan diikuti, entah akan dibagi infonya ke teman yang lain..
Mengikuti evolusi (tsaah bahasanya) blog-nya Dee dari 55 Days, rectoverso, unessentials, dan terakhir Dee-idea saya sangat sependapat dengan confession-nya tentang fungsi blog dan perkembangannya hehehe...
Untuk bukunya, saya udah baca dua kali dan sepakat bahwa buku ini bagus untuk dijadiin acuan buat para blogger mengenai bagaimana membangun sebuah blog yang baik.
Anyway, this is my very first comment, so lucky you! (or me? mmm hahaha)
jelas jika mengukur dari para blogger yang ada dan mampir di tempat ini, saiia masih sangat terseok-seok... tp gak apa-lah... katanya mba' dee aja, namanya juga sama-sama belajar :)
beli bukunya ah.. :)
kayaknya bagus tuh...
ntar deh aku liat2 ke bookstore.. mana tw ad, dan liat dompet dulu, klw ada uang baru beli... hehehehe...
sukse trs mbak...
Sudah lama juga saya tidak mampir kesini, dan ternyata baru tau juga klo Ndoro Kakung bikin buku. Terimakasih atas informasi ini. Membuat saya jadi tidak merasa HARUS menulis, karena memang makin kesini blog saya sepi, karena saya tidak mau menulis asal²an
Menulis dengan hati, saya sangat setuju sekali dengan judulnya. Karena kalau tidak pakai hati maka 'jiwa' tulisan juga tidak dapat dirasakan oleh pembacanya.
Terimakasih :)
spakat..
nulis di blog harus pake hati.. :)
Mbak, tulisanmu menyemangatiku untuk terus menulis blog.
Kak mau share ni. baru ini ketemu, kpingin skali saya bisa ngejumpain website/blog na kak dee.
begini kak..
sekarang aku lagi kpingin sekali bisa menulis novel.
tapi:
_gimana ya kak cara memanajemen waktu supaya bisa disiplin dalam menulis. dari pengalaman yang kak dee lakuin gimana ya Kak?
_trus, saya banyak ngebaca. Buku-buku kak dee banyak yang diterbitkan sendiri ya kak. dalam salah satu majalah di Medan saya pernah membaca penjelesan2 kak dee yang menarik sekali bagi saya. "Jangan takut untuk memulai menulis. Dan jangan takut pula kalau penerbit belum ada yang mau melirik, kita bisa menerbitkan sendiri dan sharing dengan penerbit" kira2 begitu kata kak dee. Sebenarnya bagaimana ya kak pengalaman kak dee sendiri tentang hal itu?
Atas jawaban dan keterangannya yang dapat membangun saya.
Saya ucapkan terimakasih banyak Kak Dee.
Halo,
Saya baru mulai nge-blog selama sebulan, terinspirasi blog seorang cewe bernama Alice. Biarpun suka nulis, selama ini saya menunda terus keinginan bikin blog karena saya pikir blog itu musti n kudu perfect dan berisi artikel2 seperti majalah. Setalah membaca blognya Alice, ternyata menulis dari hati biarpun simpel enak juga dibaca, hehehe. Tambah semangat lagi setelah membaca tulisan Anda ini. Yang penting curahan hati tersalurkan lewat menulis. Thanks ya.
Betul bgt mbak!
Nge blog bagaikan kita lg ngobrol curhat sama temen,berdoa dgn tuhan, dan sekaligus melamun berbicara pada diri sendiri.
Sangat puas rasanya bila hati sudah dituangkan menjadi sebuah tulisan.
sungguh enak melahap masakan sang koki yang satu ini. selalu ingin nambah dan nambah lagi ... jadi iri dan pengen bisa masak kayak si doi.
halah....blog gak seru aja
seru blogku!!!!!!!!!!!!
blogku itu blog terseru 2009!!!!!
Halah lagi...
Kalo emang beneran terseru sih ga usah repot pake pengumuman segala :) (di blog orang lain pula)
~ D ~
waduh artikelnya bagus banget nih...! menulis dengan hati membuat keputusan dengan hati nurani menjaga hati membuat pikiran kita jernih ...ketulusan yang datangnya dari hati memberikan sinar hidayah yang slalu bercahaya dengan begitu indahnya....thanks ya
Hati
yang diremehkan
yang dicari
Iya betul, saya juga akhir-akhir ini terpikat beli buku dari blog (blog book) karena ringan, menghibur, riil, dan informatif. Yang favorit tentu Kambing Jantan buku pertama, dan Miss Jinjing (lucu dan informatif loh). Kalo buku NdoroKakung ini belom baca, mungkin saya perlu 'ngintip' ke blog nya dulu untuk tahu apa yang ditulis di bukunya :)
Tapi saya cukup tertegun dengan kata-kata Dee bahwa kebanyakan blog lokal yang 'diary-ish' - encer dan gak penting. Membuat saya berinstropeksi atas tulisan saya selama ini. Kadang sulit untuk menentukan: menulis sesuatu yang berguna yang tentunya menaikkan jumlah pengunjung blog, atau menuliskan curahan hati (gak penting tapi teteppp dari hati). Selama ini saya menuliskan keduanya, tergantung mood saja.
Terimakasih untuk tulisan Dee yang DALAM dan membuat saya merenungkan perjalanan marathon blog saya :)
Udah baca buku-nya, Mantap banget
blog gw jadi lebih terawat
Oh ... begitu mbak ya, klo ngeblog itu bisa di analogikan seperti lari marathon 100 Km. klo begitu benar di blog ku aku masih ambil napas selama 3 bulan tidak aktif. :D
Btw postingan ini bisa membuat aku bersemangat lagi koq dalam ngeblog.
it's so inspiring. jadi dapet arahan mengenai bagaimana blog itu sebenarnya (saya masih nubie). thank you.
----saya setuju mbak...menulis itu buat saya adalah pelepas dahaga atau seperti mengandung, melahirkan dan membesarkan si anak...butuh kasih sayang yang sangatsangatsangat tulus :)
sampai saat ini pengetahuan saya sangat minim bagaimana mendandani blog. saya juga tidak punya pengetahuan yang lebih bagaimana tehnik menulis, tapi saya sangat suka menulis bahkan saat ini sudah menjadi kebutuhan. seperti saya butuh minum untuk melepas dahaga :)
mampir2 ke beranda saya
www.calonistrisetia.blogspot.com
akhirnya 'komunikasi' dua arah itu terjadi juga .. hehehe .. dulu2 emang gak pernah nanggepin komen yang masuk ya Dee ..
Sebagai orang yang bukan siapa-siapa, saya merasa sangat senang setiap kali saya menerima komen dari rekan blogger lain.
Saya sendiri memulai menulis blog dalam bahasa Inggris karena merasa writing skill saya kurang (bukan karena sok). Dan kemarin-kemarin, saya mencoba melihat tulisan-tulisan awal saya di tahun 2005, saya tersenyum sendiri. Blog benar-benar menjadi sarana pembelajaran untuk menulis, malah saran saya, anak-anak SMP sebaiknya diberi tugas untuk memiliki blog, agar mereka semua bisa memulai menulis. Konten nya tidak masalah, terserah isinya diary-ish atau mungkin ketertarikan mereka yang lain.
Karena merasa kurang bisa beraktualisasi dalam bahasa Inggris, saya akhirnya mmembuat blog Indonesia juga yang memiliki pengunjung lebih banyak dari blog English saya. Hehehe.
Thanks for the article, Dee. Sekarang siap-siap ke Gramedia, mau cari buku ini
salam kenal mba dewi...mba dewi kereeen abiz..
mbak Dee, blognya bagus banget :)
saya mau nanya deh, emang kalo blog yang isi nya tentang curhat2 / isi hati kita tu gak bagus ya?
blog yg bagus tu kayak gimana sih menurut mbak dewi? thnks before :)
oooo pkek hati ya?
Orang bebas berekspresi dalam blognya, entah itu nulis dari hati, copas, plugin ato apalagi bahasa kerenya.. Esentsial dari blog mnurut saya agar dapat didengar dan dikenal.dan nantinya akan kmbali lg pada audience yng menjadi customer dari blog itu sendiri. akankah mreka mau mendegarkan ato mengahargai dari blog itu. karna untuk didengar dan dihargai saat ini adalah suatu barang yang langka.. jadi bersukurlah seperti mbak Dewi yang suah banyak dikenal orang, dan saya yakin anda bekerja cukup lama untuk dapat dikenal.. hehehe.. lam kenal dari penggemar Diva di SUPERNOVA
ia. . .nge-blog kadang "memang harus" pake hati .. .klo cuma copy-paste rasanya kurang puas .. meskipun artikel yang kita keluarkan banyak yang merespon. .. tingkat kepuasan dan rasa bangga nya kurang deh , .teh dewi, artikelnya bagus2 .. pke hati jg nge-blog nya? hehehe . ..
Post a Comment