Satu Halaman – Satu Jam
Mohon maaf sebelumnya. Kali ini tulisan saya lebih bersifat pelepasan unek-unek. Curhat, barangkali istilah yang cukup pas. Dan untuk itu, saya akan menulis relatif singkat dan tanpa banyak mikir.
Pagi ini (13/5), sambil menunggu siaran di Trax FM – Jakarta, saya membuka koran Kompas. Headline halaman depan tentang BBM. Sisa isinya bervariasi. Seperti halnya koran-koran lain, lebih banyak kabar buruk ketimbang kabar baik. Entah karena memang kabar buruk lebih menjual, atau kita lebih senang berkubang dalam keburukan, atau memang kabar buruklah yang lebih banyak mengepung kehidupan kita. Pagi ini, saya punya niatan iseng ingin menghitung proporsi kabar buruk, kabar baik, dan kabar netral.
Niatan iseng itu berhenti seketika ketika saya menemukan artikel berjudul “Es di Arktik Akan Lenyap Tahun 2008” (maaf kalau tidak identik sama, berhubung korannya milik ruang tunggu radio jadi tidak saya bawa pulang, akibatnya penyebutan judul itu berdasarkan ingatan semata). Artikel tersebut dimuat di halaman berita Internasional. Sorry, but I have to say, it was poorly written. Apa yang ditulis di judul tidak diterangkan di dalam artikelnya. Dan isi artikel itu sendiri hanyalah potongan-potongan informasi tanpa ada satu tujuan atau pesan yang koheren. Yang juga membuat saya miris adalah, bagaimana berita itu—dari masalah penempatan, besarnya kolom, dan kualitas tulisan—seolah menunjukkan level urgensi yang diusung oleh media nasional dalam memberitakan masalah lingkungan global.
Boleh jadi ini cuma pendapat saya seorang, tapi sungguh saya merasa media kita terlena dalam infomasi nggak penting yang dipikirnya penting, dan informasi penting yang diperlakukan tidak/kurang penting. Saya bahkan belum bicara soal televisi—media paling powerful dengan penetrasi hingga bilik kita yang paling pribadi sekaligus media yang paling sesak oleh sampah dan kedunguan kronis yang dipelihara atas nama rating dan iklan.
Minggu lalu, saya diminta menjadi bintang tamu/narasumber oleh sebuah acara pagi salah satu teve swasta. Saya diminta untuk ngomong soal pembatasan kantong plastik, vegetarian sebagai gaya hidup ramah lingkungan, pengolahan kompos, dsb. Tentunya saya bersemangat. Saya membaca skrip dan mempersiapkan aneka jawaban untuk sederet pertanyaan tsb. Ketika kamera berjalan, yang terjadi adalah balap lari antara informasi, durasi, dan jeda iklan. Saya cuma punya lima menit untuk menjelaskan hal-hal yang seharusnya bisa diseminarkan satu minggu. Itu pun bercampur lagi dengan gimmick soal jajanan khas Betawi.
Saat saya mengeluhkan waktu bicara yang terlalu singkat, semua orang di tim produksi menyambut dengan kor keluhan serupa. Iklannya saja bisa enam menit, kata mereka. Lebih panjang dari jatah saya bicara. Durasi singkat + materi padat + iklan banyak = informasi encer. Dan demikianlah formula kebanyakan program talkshow teve kita, yang padahal secara konsep tampak menarik dan (berusaha) mencerdaskan.
Saya termenung panjang sesudah penampilan supersingkat tadi. Bagaimana caranya kita bisa terjaga jika media nasional kita malah terus meninabobokan kita semua? Tidak berarti informasi yang tajam dan edukatif tidak bisa menghibur, tapi kalau kita hanya meluangkan sesuatu sekritis masalah lingkungan dalam satu segmen di sebuah talkshow empat segmen plus dipepet kiri kanan oleh info kuliner dan tetek bengek lain, atau menempatkan berita cairnya Arktik dalam satu kolom kecil di surat kabar paling tebal se-Indonesia, tidakkah ini yang menggelikan?
Empat sampai lima jam teve kita bisa manteng menampilkan penyanyi-penyanyi didampingi ibunya atau seseorang yang dianggap belahan jiwanya, atau seleb-seleb yang kurang bisa nyanyi berlomba menjadi penyanyi top pilihan pemirsa. Saya tidak menafikan kenyataan kalau acara yang demikian menghibur, ditambah ungkapan-ungkapan standar semisal “hidup sudah susah, jangan bikin tambah susah”, “yang begitulah yang disukai rakyat”, dan seterusnya. Namun jika kita hanya terpaku di sana, maka kita lupa betapa tajam dan berkuasanya alat bernama media. Dan kita seperti anak kecil bermain dengan bom atom. Tidak sadar betapa dahsyatnya “mainan” di tangan kita.
Kalau kita bisa berteriak "rakyat kita bodoh", "rakyat kita maunya dibohongi", "rakyat memang senangnya acara yang nggak mutu", lalu terus menyuapi mereka dengan “makanan pikiran” yang tak bermutu (baca: nggak penting) hanya supaya mereka terpuaskan, lalu rating naik, lalu iklan naik, lalu untung naik, dan terakhir kedua tangan kita naik ke atas sambil berkata “yah, itulah kenyataan media,”… menurut saya, itulah kebodohan yang paling ultimat.
Saya sadar, ada banyak isu penting lain di luar sana. Ada banyak informasi edukatif yang bisa dibagi. Dan, sekali lagi, boleh jadi ini hanya pendapat saya seorang, tapi menurut saya, dalam periode ini tidak ada isu yang paling urgen selain penyelamatan Bumi. Bukan cuma sekadar gembar-gembor soal pemanasan global, melainkan bagaimana kita bisa menyajikan dan membantu transformasi kesadaran manusia untuk kembali bersahabat dengan lingkungan, meniti pulang ke jantung alam, dan terakhir, meniti pulang ke jantung jatidirinya.
Malam ini saya berdoa, di tengah hiruk-pikuk informasi di media yang menggempur panca indra kita, akan ada satu acara yang dikhususkan untuk meningkatkan kesadaran tentang kondisi lingkungan. Dari mulai perbaikan relasi manusia dengan alam di level pemahaman sampai tips-tips praktis yang bisa dilakukan di setiap rumah. Akan ada saatnya bagi media cetak untuk sudi meluangkan satu halaman mereka khusus untuk menyiarkan hal-hal yang dapat membantu Bumi dan peradaban agar bisa hidup berdampingan secara harmonis.
Satu halaman. Satu jam.
Saya berdoa.







45 komentar:
Well dee...
Mungkin sama dengan salah satu media berita online terbesar di indonesia yang isi halamannya sebagian besar iklan.
Isi berita bahkan terkadang terlalu singkat, bagaikan sebuah sms tanpa kata-kata singkatan, dan isi yang tidak berbobot sama sekali.
Entahlah bagaimana 10 tahun kedepan, jangan-jangan artikel/acara utama itu iklan, dan iklan itu porsi utamanya?
mbak...terkadang kita sadar tapi tak terjaga...seperti katamu di supernova :ksatria, putri, dan bintang jatuh....
mungkin saat ini kita mengalami kesadaran namun ketidak terjagaan kolektif...
gimana kalo dee bikin acara talk show sendiri...dgn branding dee yg skrg kayaknya bisa nih :P
namun bukankah begitu cara berpikir kaum "kapitalis" Indonesia ?
Itu lah kenyataan media-media di Indonesia saat ini. Lihat saja berapa banyak koran koran yang semacam , sorry , lampu merah.
Atau berapa sinetron sinetron , acara infotaiment, atau acara semacam buser , konser dangdut, kontes sms, dibanding acara pendidikan. Bahkan hingga TPI [televisi Pendidikan Indonesia] berganti nama. LOL.
Kalau dulu masih ingat ada cerdas cermat, battle of wits, indosat galileo, sekarang ntah kemana.
Pembodohan Nasional, dapat dikatakan begitu. Kalo jaman orde baru, cuma ada TVRI. Jaman sekarang ada banyak statiun TV , namun tidak bermutu.
Sorri , tidak dapat menyalahkan sepenuhnya kaum "kapitalis" indonesia ? Kalo di TV, tanpa iklan, mereka tidak ada penghasilan, tanpa penghasilan mereka tidak bisa bayar cost produksi, tidak bisa bayar cost produksi mereka bangkrut. Kalo di koran, tanpa berita menarik, tidak ada yang beli.
Jadi siapa yang salah ?
that's why i hate commercial break.
...
itulah gunanya blog sebagai media alternatif
...
(setuju banget sama pendapat kamu, salah satu alasan kenapa saya cabut dari wartawan...)
iyo yo, aku yo gumun..perasaan topik vege g keangkat tnyt kegusur ama jatah iklan ya.. padahal berita di luar udah berderu-deru seruin go veggie lo..berkut saya copy paste infonya. setunggal seko
Senator Queensland Andrew Barlett, setunggal liane seko kolumnis New York Times, Mark Bittman seorang non vege yang akhirnya mengakui dan menyuarakan beban ekologis sepotong daging untuk memuaskan lidah kita yang ukurannya tak sampai 10cm tetapi ternyata cukup untuk memakan planet kita.
btw teman2 nuwun ngapuro copy paste'e uakeeh bianget gpp, ya baca sisanlah...langka di media kita soale;)
Chindy Tan
Turn Lights off for an Hour, Then go Vegetarian for a Day
28 March, 2008http://andrewbartlett.com/media734.html
Queensland Senator Andrew Bartlett says that while tomorrow night’s Earth Hour is a welcome initiative, we could all make a bigger and more immediate difference by going without meat or dairy products for a day.
“Overall greenhouse emissions from livestock are greater than that from all forms of transport put together, yet the significant impact we can make from the simple action of changing our diets is still rarely talked about,” Senator Bartlett said.
“Earth Hour is a worthwhile way to raise awareness about the urgent need to significantly cut greenhouse emissions, but the lasting impact comes from permanent changes to our lifestyles which will make a meaningful difference to reducing greenhouse emissions.”
“There is no easier, cheaper and more immediate thing we can do to significantly reduce our personal contribution to greenhouse emissions than to cut the amount of meat and dairy products that we consume.
“It is something which has clearly verified health and environmental benefits that we can do straight away, rather than have to wait for new technology, better public transport services or renewable energy options to be provided, it saves money rather than costs it and it doesn’t cause any ongoing harm to our economy.
“We can’t keep kidding ourselves that major climate change can be prevented while we maintain our existing lifestyles. There needs to be actions from governments and widespread adoption of lower energy technologies, but we also need to change our individual behaviours in substantial ways.
“We can’t afford to keep sitting back and waiting for governments, technology or markets to fix things on their own. Consumers will drive change far more quickly than governments or business.
“Earth Hour is about reminding ourselves that small changes can make big improvements on the environment but it must only be a first step.
“The whole world doesn’t have to go vegetarian or vegan tomorrow to save the planet from climate change, but we also have to acknowledge the scientific facts that if we don’t substantially cut back on the consumption of animal products, our chances of stopping major climate change are almost nil,” Senator Bartlett concluded.
Mark Bittman,nonvegetarian food columnist for the New York Times and host of public television's menulis
Rethinking the Meat Guzzler
By Mark Bittman
The New York Times
Sunday 27 January 2008
A sea change in the consumption of a resource that Americans take for granted may be in store - something cheap, plentiful, widely enjoyed and a part of daily life. And it isn't oil.
It's meat.
The two commodities share a great deal: Like oil, meat is subsidized by the federal government. Like oil, meat is subject to accelerating demand as nations become wealthier, and this, in turn, sends prices higher. Finally - like oil - meat is something people are encouraged to consume less of, as the toll exacted by industrial production increases, and becomes increasingly visible.
Global demand for meat has multiplied in recent years, encouraged by growing affluence and nourished by the proliferation of huge, confined animal feeding operations. These assembly-line meat factories consume enormous amounts of energy, pollute water supplies, generate significant greenhouse gases and require ever-increasing amounts of corn, soy and other grains, a dependency that has led to the destruction of vast swaths of the world's tropical rain forests.
Just this week, the president of Brazil announced emergency measures to halt the burning and cutting of the country's rain forests for crop and grazing land. In the last five months alone, the government says, 1,250 square miles were lost.
The world's total meat supply was 71 million tons in 1961. In 2007, it was estimated to be 284 million tons. Per capita consumption has more than doubled over that period. (In the developing world, it rose twice as fast, doubling in the last 20 years.) World meat consumption is expected to double again by 2050, which one expert, Henning Steinfeld of the United Nations, says is resulting in a "relentless growth in livestock production."
Americans eat about the same amount of meat as we have for some time, about eight ounces a day, roughly twice the global average. At about 5 percent of the world's population, we "process" (that is, grow and kill) nearly 10 billion animals a year, more than 15 percent of the world's total.
Growing meat (it's hard to use the word "raising" when applied to animals in factory farms) uses so many resources that it's a challenge to enumerate them all. But consider: an estimated 30 percent of the earth's ice-free land is directly or indirectly involved in livestock production, according to the United Nation's Food and Agriculture Organization, which also estimates that livestock production generates nearly a fifth of the world's greenhouse gases - more than transportation.
To put the energy-using demand of meat production into easy-to-understand terms, Gidon Eshel, a geophysicist at the Bard Center, and Pamela A. Martin, an assistant professor of geophysics at the University of Chicago, calculated that if Americans were to reduce meat consumption by just 20 percent it would be as if we all switched from a standard sedan - a Camry, say - to the ultra-efficient Prius. Similarly, a study last year by the National Institute of Livestock and Grassland Science in Japan estimated that 2.2 pounds of beef is responsible for the equivalent amount of carbon dioxide emitted by the average European car every 155 miles, and burns enough energy to light a 100-watt bulb for nearly 20 days.
Grain, meat and even energy are roped together in a way that could have dire results. More meat means a corresponding increase in demand for feed, especially corn and soy, which some experts say will contribute to higher prices.
This will be inconvenient for citizens of wealthier nations, but it could have tragic consequences for those of poorer ones, especially if higher prices for feed divert production away from food crops. The demand for ethanol is already pushing up prices, and explains, in part, the 40 percent rise last year in the food price index calculated by the United Nations' Food and Agricultural Organization.
Though some 800 million people on the planet now suffer from hunger or malnutrition, the majority of corn and soy grown in the world feeds cattle, pigs and chickens. This despite the inherent inefficiencies: about two to five times more grain is required to produce the same amount of calories through livestock as through direct grain consumption, according to Rosamond Naylor, an associate professor of economics at Stanford University. It is as much as 10 times more in the case of grain-fed beef in the United States.
The environmental impact of growing so much grain for animal feed is profound. Agriculture in the United States - much of which now serves the demand for meat - contributes to nearly three-quarters of all water-quality problems in the nation's rivers and streams, according to the Environmental Protection Agency.
Because the stomachs of cattle are meant to digest grass, not grain, cattle raised industrially thrive only in the sense that they gain weight quickly. This diet made it possible to remove cattle from their natural environment and encourage the efficiency of mass confinement and slaughter. But it causes enough health problems that administration of antibiotics is routine, so much so that it can result in antibiotic-resistant bacteria that threaten the usefulness of medicines that treat people.
Those grain-fed animals, in turn, are contributing to health problems among the world's wealthier citizens - heart disease, some types of cancer, diabetes. The argument that meat provides useful protein makes sense, if the quantities are small. But the "you gotta eat meat" claim collapses at American levels. Even if the amount of meat we eat weren't harmful, it's way more than enough.
Americans are downing close to 200 pounds of meat, poultry and fish per capita per year (dairy and eggs are separate, and hardly insignificant), an increase of 50 pounds per person from 50 years ago. We each consume something like 110 grams of protein a day, about twice the federal government's recommended allowance; of that, about 75 grams come from animal protein. (The recommended level is itself considered by many dietary experts to be higher than it needs to be.) It's likely that most of us would do just fine on around 30 grams of protein a day, virtually all of it from plant sources.
What can be done? There's no simple answer. Better waste management, for one. Eliminating subsidies would also help; the United Nations estimates that they account for 31 percent of global farm income. Improved farming practices would help, too. Mark W. Rosegrant, director of environment and production technology at the nonprofit International Food Policy Research Institute, says, "There should be investment in livestock breeding and management, to reduce the footprint needed to produce any given level of meat."
Then there's technology. Israel and Korea are among the countries experimenting with using animal waste to generate electricity. Some of the biggest hog operations in the United States are working, with some success, to turn manure into fuel.
Longer term, it no longer seems lunacy to believe in the possibility of "meat without feet" - meat produced in vitro, by growing animal cells in a super-rich nutrient environment before being further manipulated into burgers and steaks.
Another suggestion is a return to grazing beef, a very real alternative as long as you accept the psychologically difficult and politically unpopular notion of eating less of it. That's because grazing could never produce as many cattle as feedlots do. Still, said Michael Pollan, author of the recent book "In Defense of Food," "In places where you can't grow grain, fattening cows on grass is always going to make more sense."
But pigs and chickens, which convert grain to meat far more efficiently than beef, are increasingly the meats of choice for producers, accounting for 70 percent of total meat production, with industrialized systems producing half that pork and three-quarters of the chicken.
Once, these animals were raised locally (even many New Yorkers remember the pigs of Secaucus), reducing transportation costs and allowing their manure to be spread on nearby fields. Now hog production facilities that resemble prisons more than farms are hundreds of miles from major population centers, and their manure "lagoons" pollute streams and groundwater. (In Iowa alone, hog factories and farms produce more than 50 million tons of excrement annually.)
These problems originated here, but are no longer limited to the United States. While the domestic demand for meat has leveled off, the industrial production of livestock is growing more than twice as fast as land-based methods, according to the United Nations.
Perhaps the best hope for change lies in consumers' becoming aware of the true costs of industrial meat production. "When you look at environmental problems in the U.S.," says Professor Eshel, "nearly all of them have their source in food production and in particular meat production. And factory farming is 'optimal' only as long as degrading waterways is free. If dumping this stuff becomes costly - even if it simply carries a non-zero price tag - the entire structure of food production will change dramatically."
Animal welfare may not yet be a major concern, but as the horrors of raising meat in confinement become known, more animal lovers may start to react. And would the world not be a better place were some of the grain we use to grow meat directed instead to feed our fellow human beings?
Real prices of beef, pork and poultry have held steady, perhaps even decreased, for 40 years or more (in part because of grain subsidies), though we're beginning to see them increase now. But many experts, including Tyler Cowen, a professor of economics at George Mason University, say they don't believe meat prices will rise high enough to affect demand in the United States.
"I just don't think we can count on market prices to reduce our meat consumption," he said. "There may be a temporary spike in food prices, but it will almost certainly be reversed and then some. But if all the burden is put on eaters, that's not a tragic state of affairs."
If price spikes don't change eating habits, perhaps the combination of deforestation, pollution, climate change, starvation, heart disease and animal cruelty will gradually encourage the simple daily act of eating more plants and fewer animals.
Mr. Rosegrant of the food policy research institute says he foresees "a stronger public relations campaign in the reduction of meat consumption - one like that around cigarettes - emphasizing personal health, compassion for animals, and doing good for the poor and the planet."
It wouldn't surprise Professor Eshel if all of this had a real impact. "The good of people's bodies and the good of the planet are more or less perfectly aligned," he said.
The United Nations' Food and Agriculture Organization, in its detailed 2006 study of the impact of meat consumption on the planet, "Livestock's Long Shadow," made a similar point: "There are reasons for optimism that the conflicting demands for animal products and environmental services can be reconciled. Both demands are exerted by the same group of people ... the relatively affluent, middle- to high-income class, which is no longer confined to industrialized countries.... This group of consumers is probably ready to use its growing voice to exert pressure for change and may be willing to absorb the inevitable price increases."
In fact, Americans are already buying more environmentally friendly products, choosing more sustainably produced meat, eggs and dairy. The number of farmers' markets has more than doubled in the last 10 years or so, and it has escaped no one's notice that the organic food market is growing fast. These all represent products that are more expensive but of higher quality.
If those trends continue, meat may become a treat rather than a routine. It won't be uncommon, but just as surely as the SUV will yield to the hybrid, the half-pound-a-day meat era will end.
Maybe that's not such a big deal. "Who said people had to eat meat three times a day?" asked Mr. Pollan.
--------------------------------------------------------------------------------
Mark Bittman, who writes the Minimalist column in the Dining In and Dining Out sections, is the author of "How to Cook Everything Vegetarian," which was published last year. He is not a vegetarian.
-------
halo mbak dewi, salam kenal dari adie,
gw setuju ma mbak masalah televisi kita yg mengusung kebodohan. sudah gerah kiranya dg acara2 g mutu yg membuat orang2 disekitar gw jd berpikiran dangkal gr2 jd lebih suka nonton sinetron drpd baca buku.
memang ada juga sih acara2 yg bagus n bermutu, tp iklannya lama
yah lagi2 gw teringat omongan temen gw bahwa klo kita terbiasa berpikiran standar maka hanya hal2 standar aj yg akan terjadi dalam hidup kita
sedikit radikal asal membawa hasil yg maksimal gw kira layak dilakukan. hal2 kecil yg gw lakukan semisal membawa kantong plastik sendiri setiap sarapan n belanja di minimarket dianggap hal aneh. tp dasar gw orangnya cuek bebek ma hal2 begituan yah jalan terus aj deh
OK, ditunggu blog selanjutnya
gw komen pertama ni...... anda orang paling beruntung hehehehehe (narsis dikit)
Mba, saya turut berduka cita dengan global warming yang menimpa planet Mba.
Mau ikut migrasi ke planet saya... Namec?
No News is Good News...
it means that all news are bad news
tanpa ada berita buruk maka tidak akan ada laba bagi perusahaan media tersebut. inilah ironinya...
padahal pada kenyataannya kita membutuhkan informasi/nasehat/berita mengenai hal-hal yang baik, atau bisa juga berita bagaimana memperbaiki keadaan yang sebelumnya menjadi berita buruk itu. sayangnya manusia tidak hanya dianugerahi sifat positif, tetapi juga sifat negatif (seperti serakah, kebodohan, cuek, terkadang senang melihat kesusahan orang lain,dlsb)..
mungkin kita harus mencontoh stasiun tv DAAI (artinya kalau tidak salah "Cinta Kasih Yang Besar"). saya pernah melihat stasiun tv ini yang berpusat di taiwan. walaupun saya tidak mengerti bahasanya (karena memakai bahasa mandarin), saya mengerti sepenuhnya bahwa semua tayangan DAAI TV bersifat tanpa kekerasan, tanpa pornografi, dan penuh edukasi. berita yang disiarkan pun berimbang, hampir memberikan solusi atas permasalahan yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari saat ini. siarannya berupa ceramah master bhiksuni pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi, ada pula kartun edukasi, berita dunia, kehidupan rakyat, dan hampir tanpa iklan yang konsumtif. DAAI TV juga sudah hadir di Indonesia, sayangnya tidak semua wilayah mendapatkan siaran DAAI TV Indonesia ini.
yah semoga saja, mainan canggih yang sudah ada di tangan kita, tidak meledak sewaktu-waktu karena ketidaksiapan kita menerima mainan canggih itu..
may u all be happy
hansen_zinck
may, 14th 2008
yogyakarta
dee...
bukan cuman kamu seorang yang berpendapat begitu..
sangat setuju dengan kamu
i agree with you.
ada banyak hal dimana masyarakat kita memang disuapi oleh informasi-informasi yang tidak berbobot.
tidak melatih otak berpikir.
hahaha..
oh iya,
saya me link ibu dee lho
:)
*big fans of you*
Itulah makanya ada teori hypodermic, dimana media dianggap sebagai jarum suntik yang dapat membius khalayak dalam waktu singkat, tak peduli dengan hal yang mencerdaskan atau membodohi.
Tapi ada teori tandingannya, yaitu Uses and Gratification, dimana khalayak lah yang memiliki kuasa penuh untuk menggunakan media. KIta semua bisa melakukan ini. Kalau merasa tidak mendidik, tinggalkan! jangan ditonton, jangan dibaca. Dengan semakin berkurangnya khalayak, maka berkurang pula pengiklan, dengan begitu acara maupun pemberitaan yang tidak bermutu dapat berkurang.
Sudah saatnya kita yang memegang kendali pada media. Bukan media yang mengendalikan kita
Ada yang sudah mencobanya?
Kak Dee jahat.
Kenapa diriku jadi addicted dengan dirimu huh?
--Maaf untuk kalimat - kalimat seronok diatas. Lagi kurang bisa berfikir jernih. Hanya sekedar permisi, konten blog nya dipakai sebagai inspirasi untuk maju besok. Pidato anak SMU pertama kali, nih..--
untuk apa menumpuk harta sebanyak-banyaknya... kalau toh semua yang kita tumpuk akan lenyap karena kebodohan kita...
untuk apa mati-matian kerja siang dan malam kalau toh apa yang kita hasilkan dan kerjakan hancur berantakan karena keegoisan dan ambisi pribadi kita...
untuk apa membanting tulang demi masa depan istri, anak, cucu...
kalau toh sebentar lagi mereka tidak punya masa depan?
Hi kak Dee,
Btw aku juga merasakan hal yang sama dengan kakak mengenai media, televisi khususnya,
Peran media yang demikian kuat seharusnya digunakan untuk meng-edukasi rakyat yang notabene masih rentan terhadap informasi mentah, berhubung mereka belum memiliki tingakt penyaringan informasi personal yang berkualitas rendah.
Setiap hari berita buruk antri untuk menghiasi media kita,,
aku harap kakak juga menulis tentang Optimisme Bangsa tentunya Kakak sangat tahu caranya,,mybe Expert in Some Ways...
Kak aku mau nanya , gimana cara Kakak mengembangkan tehknik penulisan yg baik pada awalnya hingga sampai sekarang???
Thank you before
Salam kenal Kak Dee
Saya juga merasakan hal yang sama dengan Dee. Setiap hari yang tersaji di media adalah berita keprihatinan akan bangsa dan dunia sekarang. Menyinggung soal isue penyelamatan lingkungan selalu menjadi point kesekian untuk dibahas oleh media saat ini. Hanya segelintir orang yang terkadang dianggap "aneh" (termasuk saya) mau concern untuk hal ini. Lebih sedihnya lagi, saudara saya sendiri juga menganggap saya termasuk orang yang kurang kerjaan mau mengurusi isue lingkungan ini. What a pity.....
waw,postingan ini mewakili uneg" berjuta-juta pemirsa yang sudah bosan dengan tayangan tv nasional kita..
salut buat mbak dee
hidup mbak dee....!!
Semoga...
Saya nonton pas Mbak Dewi jadi bintang tamu di talkshow pagi. Saya juga kecewa karena saya mengharap Mbak bicara lebih panjang dan bukannya seperti sedang terburu-buru bawa keranjang belanjaan seolah-olah mau pulang & segera masak hehehe...
Untuk isu global warming memang belum ada hal yang spesifik yg saya lakukan *malu*. Ingin, tapi belum. Mbak bisa post tulisan apa yg udah Mbak lakukan plus cara-caranya, supaya saya bisa contoh?
Soal program TV, saya SETUJU SERIBU PERSEN. Saya punya putri 9 bulan, no TV at all di kehidupannya dari sejak lahir. Dan rencananya saya gak akan sekolahin dia di sekolah negeri karena gak mau dia jadi korban Menteri Pendidikan mendatang yang merusak mental anak lewat UN. Mungkin Mbak Dewi setuju dengan saya.
dee... saya suka banget baca tulisanmu... langganan, hampir tiap ada posting baru saya baca.
Begini de... ttg lingkungan hidup, aku setuju banget ama kamu... kita harus udah mulai aware and action sekarang. Kalo ndak sekarang nunggu kapan lagi? Keburu terlambat deh.
Tapi dee, maafkan aku, kalo ini ndak sesuai sama pendapat dee dan vegetarian lainnya.
Gini, saya begitu menghargai dee dan teman-teman vegetarian lainnya, saya salut, mahal kalo mau jadi vegetarian beneran, harus cari daging sintetis di resto vegan dan sejenisnya lah...
Tapi kalo semua orang jadi vegetarian, apa nggak mengacaukan rantai makanan atau apalah namanya itu ya... Kalo semua orang makan produk tumbuhan semua, apa emang sapi-sapi, ayam-ayam, kambing-kambing dan yang lainnya emang ndak usah dimakan lagi ya, bukannya itu malah membuat tidakseimbangnya alam ini?
Saya rasa keberadaan vegetarian sangat dibutuhkan untuk mengimbangi mereka yang ndak suka sayur dan memanjakan mulut mereka dengan daging-dagingan saja.
Namun kalo semua umat manusia vegetarian...
Wah saya tidak bisa membayangkan...
Saya rasa harusnya kita bijaksana-lah, bisa menemukan keseimbangan sendiri...
Sayur dengan ikan/daging/tahu/tempe namun semuanya seimbang dan tidak berlebihan.
Mungkin begitu ya dee?
Atau......???? Saya salah?
Hai Nadya,
With all due respect, yang sekarang terjadi pada Bumi adalah bukti nyata ketidakseimbangan ekosistem dan rantai makanan.
Bayangkan, tiga per empat Bumi, yang harusnya jadi rumah miliaran-bahkan triliunan (kalau kita berhitung sampai hewan2 kecil dan renik)-makhluk lain, flora maupun fauna, akhirnya lenyap dan punah karena kita mengadakan dengan sengaja miliaran hewan ternak untuk kepentingan spesies kita semata.
Jika semua manusia vegetarian? Itu adalah spekulasi fantastis yang tidak akan saya jawab. Yang jelas, sapi akan cari makan sendiri, ayam juga, kambing juga, babi juga... seperti kodratnya semua hewan yang sudah dianugerahi insting untuk mencari makan dan bertahan hidup.
Adalah salah besar kalau kita berpikir kita menyayangi hewan lewat industri ternak. Kita justru menciptakan neraka bagi mereka dari mulai mereka lahir hingga mati. Inilah justru yang diperjuangkan oleh para aktivis penyayang hewan. We don't need to feed them. They can feed themselves if we allow them to, and if we let Nature to serve them, as Nature would serve us all.
Adalah salah besar jika menganggap rantai makanan yang terjadi sekarang adalah sesuatu yang "benar" atau "alamiah". Ini jauh berbeda dengan rantai makanan alamiah yang terjadi di alam, yang tertera dengan cantik di buku teks Biologi sekolahan. Kenyataannya, laut habis kita keruk, pohon habis kita tebang, dan itu semua atas nama pemenuhan kebutuhan manusia plus lambungnya.
Porsi daging yang seimbang? Semua orang akan punya versinya masing-masing soal pola makan "seimbang". Namun itu tidak mengurangi kenyataan bahwa, untuk menyelamatkan peradaban dan Bumi, pola makan nabati jauh lebih menolong daripada pola makan hewani. Atau lebih gamblang lagi: less meat, less heat. No meat, no heat. More meat... more heat. Pilih mana? :)
Saya pernah membaca di satu literatur. Evolusi kesadaran manusia juga tercerminkan dari pola konsumsinya. Dari omnivora, manusia akan bergerak menuju vegetarian, lalu frutarian, hingga akhirnya manusia sudah cukup dengan hanya mengonsumsi energi.
How was it possible? Science still gropes for an answer. Tapi bukan lagi rahasia bahwa beberapa meditator bisa bertahan bertahun-tahun tanpa makan.
Mindboggling? Perhaps. Bagi saya, "kegilaan" yang kita pikir wajar dan alamiah inilah yang lebih mindboggling dari apa pun.
~ D ~
ya ampun.. ternyata bukan saya saja yang berpikiran seperti ini..
i thought i was the only one...
wakakakakaka..
kenapa sih terlalu serius menanggapi hal ini?
bukannya memang begitu?
maksud saya, memang kita hidup dimana kompleksnya kebutuhan dan keinginan masing-masing pribadi?
sekarang tinggal gimana orang-orang yang "sadar" seperti mba dee melakukan sesuatu bukan hanya sekedar bicara atau menulis?
kita butuh orang seperti itu ko mba dee..
dan mengajak yg lain untuk terjaga tersadarkan..
pertanyaannya, kenapa pula mba dee saat ini lebih banyak membahas soal global warming, lingkungan hidup dan semacamnya?
mungkin nih, kalo hal tsb sedang tidak booming maka tidak akan ada pembahasan dalam acara seperti itu..
mba dee tidak akan diundang dalam talk show tentang pembahasan hal tersebut..
acara pembahasan tesebut ada karena sajian tersebut sedang booming sedang dicari sedang hot sedang dibutuhkan oleh kebanyakan orang seperti halnya acara reality show (jayus!)
wah ternyata komennya ga langsung di approved ya? apakah dipilah dipilih dulu bu? hanya yg sesuai hati yg di approved? semoga saja tidak,karna jadi ga asik dunkz..
gini, ngapain sih repot-repot jadi vegetarian kalo emang kita ga bisa jadi vegetarian?
asal semuanya tidak berlebihan, rasanya masih wajar..
toh kita bagian dari rantai makanan itu..
bagian dari ekosistem..
kehidupan manusia menjadi bagian didalamnya..
inget! asal masih wajar dan tidak berlebihan..
namun diakui memang para kaum vegetarian diperlukan untuk keragaman hayati, penyeimbang, atau apalah.. tapi bukan berarti jadi harga mati dimana kita semua harus menjadi vegetarian (minimalnya berusaha menjadi vegetarian)
ya engga gitu kan?
Semua komentar saya approve tanpa pilih2, alasan saya memilih modus di-approve dulu adalah karena kadang2 suka ada yang cuma numpang iklan -- dari mulai iklan viagra sampai MLM dsb. Seperti junkmail, lah. Dan yang seperti itu tentunya tidak ada relevansi, jadi saya tolak. Tapi untuk komentar yang memang berkaitan dengan posting, saya tidak memilah dan memilih, semuanya saya approve. Berhubung kadang2 saya tidak tiap hari log in, jadi suka ada delay waktunya. Mohon maklum.
Keputusan saya serius tentang masalah ini sama nilainya dengan keputusan Anda untuk tidak serius dengan masalah ini. Jadi ini masing2 hak pribadi. Saya sendiri tidak peduli apakah 'ajakan' (lebih tepatnya pemaparan, yang syukur2 efeknya mengajak, kalau tidak pun tidak apa2) saya berhasil atau enggak. Dan moga2 saya berharap Anda juga sama nggak pedulinya dengan ajakan Anda untuk tidak serius berhasil atau tidak. Like you said, kita semua hanya bicara apa yang kita mau, yang kita anggap menjadi sebuah urgensi, atau memiliki nilai kebenaran tertentu.
Segalanya selama memang masih wajar dan tidak berlebihan adalah tepat. Benarkah pernyataan itu? Mungkin. Saya tidak mau terlalu gegabah menjawan iya atau tidak. Mungkin ada orang yang merasa bahwa selama merokok dalam takaran "wajar dan tidak berlebihan" masih tidak merugikan kesehatan. Mungkin ada orang yang merasa bahwa nge-drugs selama dalam takaran "wajar dan tidak berlebihan" masih nggak papa. Saat masyarakat Indonesia masih belum punya industri peternakan, yang namanya makan daging secara "wajar dan tidak berlebihan" barangkali setahun sekali kalau Iedul Adha, atau kalau lagi ada syukuran besar. Sekarang, orang Indonesia modern barangkali sudah punya patokan baru. Yang namanya "wajar dan tidak berlebihan" bisa jadi adalah sehari sekali dengan porsi tertentu.
Poin saya adalah, apa yang kita pikir "wajar dan tidak berlebihan" pun seringkali bias dan subjektif. Tidak ada patokan khusus yang bisa sama rata bagi semua orang. Menurut saya yang cuma bisa ditanya hanya satu: diri kita sendiri. So, why don't we just ask ourselves? Jika dalam kasus ini adalah makan daging, definisikan dulu bagi diri kita sendiri: seberapakah porsi yang namanya "wajar dan tidak berlebihan"? Kalau sudah ketemu, tanyakahlah pertanyaan kedua, masih pada diri kita sendiri: apakah porsi makan daging saya sudah memenuhi definisi wajar dan tidak berlebihan tadi? Jika jawabannya iya, then congratulation! You have lived your life according to what you think as the best way to live. And nobody can change it. Only yourself, at your own time.
Mengenai tren global warming, iya, saya setuju. Biasanya gelombang perubahan baru terlihat bermakna jika sudah jadi tren. Tapi tren GW di Indonesia jelas masih kalah dibandingkan reality show. Concern saya mengenai lingkungan nggak harus nunggu tren kok. Kalaupun nggak diundang ngomong di teve, saya sih akan tetap bikin kompos, memisah sampah, dan jadi vegetarian. I don't do those things for TV, but for myself, and for what I think is right.
Salam,
~ D ~
Barangkali tepat demikian.
mungkin pesan perlu dikemas versi sinetron, sehingga meskipun diselingi iklan tapi bisa dipanjang2in teru-s. juga selalu ditunggu2 ibu rumah tangga (manager logistik; plastik makanan dll tiap RT)
Sayangnya, walau sudah banyak dari kita yang menyadari GW, mengerti bagaimana memperlambatnya, tahu segala macam cara untuk mengurangi percepatannya, toh, masih juga kita bertahan dengan pola hidup yang lama.
Susah memang keluar dari comfort zone. Gak cuma manusia, tapi juga media. *sigh
thx dee udh mw share dg komenku sblmnya..
sebenernya aku emang ngerti global warming sekarang..maksudnya dengan segala tetek bengek sebab akibat atau asal muasal atau cara mngatasinya..tapi aku udah ngerti tentang lingkungan hidup sejak dulu..bukan karna aku pandai dalam pelajaran sains, ngerti tentang kehidupan bumi manusia alam semesta 10 atau bahkan 100 tahun kedepan, tapi karna emang aku suka dengan sesuatu yg alamiah, natur, apa adanya, hijau, bersih dan lainnya..sebuah alasan yg simpel dan tak berbobot pengetahuan banyak..atau mungkin karna memang pembawaan orok yg suka alam ;)
anyway..tahun 96an dimana aku masih imut dan duduk dibangku skul, aku udh share soal lingkungan hidup dengan teman2..respon kebanyakan seperti biasanya..istilah sekarang mah DL ajah!kebanyakan cuek..kalo aku selipkan info2 tentang bagimana bumi manusia alam semesta nantinya, mereka blg "mungkin tahun segitu kita juga udh ga didunia, knpz repot?"
saat kul, aku biasa adu argumen dg pacar, responnya yah seperti yg lain.. saat aku blg kita jgn boros memakai plastik kresek dg alasan nt sampah makin menumpuk, dia blg "bgs kan? ambil positifnya aja! karna pengangguran klas bawah jadi pny kerjaan u/jd pemulung" aku blg "dengan sedikit atau banyak sampah, masih bisa buka lapangan kerja u/pemulung ko karna sampah ga akan pernah habis..kalo pun ga da seengganya lapangan pekerjaan tsb lbh menggunakan otak bkn otot..sampah yg sedikit saja sulit diatasi apalagi banyak dan ditambah trus?sampah akan slalu ada ko tiap harinya..ga mgkn pemulung ga dpt papa.."
maksud saya adalah..
terkadang nih..kita yg pny tujuan baik susah sekali diterima positif oleh org lain..
koreksi, apakah cara penyampaian kita memang sudah sesuai dengan siapa dimana bagaimana..
mungkin saja acara2 yg mengangkat tentang isue global warming terlalu serius u/disimak, "menakutkan", menjemukan, sulit dipahami..
dimana global warming adalah membutuhkan kepekaan kita sebagai makhluk hidup tanpa mengenal kelas, alangkah baiknya pembahasannya pun cukup familiar, simpel, bahasa keseharian, padat berisi..
lihat acara reality show (jayus!) sukses karna tampilannya sangat sederhana, karna itulah yg gampang diingat masyarakat kita..
pinter ga slalu harus 'njelimet bukan?
toh bukan orang2 yg mempunyai pendidikan tinggi saja kan yg ingin kita ajak?
bagaimana caranya kepekaan terhadap global warming ini bukan hanya mengajak semuanya peduli lalu mengangguk sekedar mengerti saja tapi reflek u/ melakukan sesuatu..
reflek u/membuang sampah pada tempatnya, reflek u/ga make spray, reflek u/penghijauan, dan lainnya..
itu sesungguhnya tujuan kampanye kita..!
Wah dee..
aku pengen belajar untuk sadar, tanggap dan kritis terhadap setiap keadaan...seperti mbak dee dan kawan-kawan lainnya...kadang2 saya terlalu sibuk dengan rutinitas saya, sehingga saya menjadi tidak peka..
oya cuma ingin berpendapat...daripada kita saling berdebat apakah menjadi veggie itu bagus atau tidak, bagaimana kalau kita masing2 memikirkan apa yang kita akan lakukan untuk mencegah global warming...
salah satunya menjadi veggie...that's good, at least mbak dee sudah MELAKUKAN SESUATU.
Apa yang akan kita lakukan??
Yang paling penting apa yang akan saya lakukan???
-Johanna-
Manusia yang sedang belajar
Yup, so agree with your writing. Saya juga pernah mengalami hal yang sama. Waktu itu saya diundang sebagai narasumber di sebuah stasiun swasta untuk talkshow tentang Past Lives Regression. Sebelum mulai acara, saya disuguhkan rentetan pertanyaan untuk saya siapkan jawabannya ketika on air nanti. Saya mempersiapkan berbagai jawaban di dalam benak saya, and I felt so ready that time to answer those questions! Tapi ketika acara dimulai, ternyata waktunya sangat sempit dan hanya beberapa pertanyaan saja yang bisa ditanyakan, jawaban yang saya lontarkan pun harus jawaban yang sangat singkat dan praktis. Hehehe bener-bener butuh mikir cepat, jadinya hanya jawaban kulitnya doang tuhh yang bisa saya sampaikan.
Hal yang sama juga terjadi ketika saya diundang di stasiun TV lokal di daerah. Waktu itu banyak penelfon yang bertanya, tapiii... waktu untuk menjawab sangat terbatas, 'ingat durasi' kata kru TV-nya. Jadinya saya tidak bisa memberikan jawaban yang maksimum.
Membicarakan stasiun TV tentang sadar lingkungan dan kemanusiaan, sudah ada DAAI TV yang semua program acaranya tentang cinta kasih, kemanusiaan dan sadar lingkungan. Hahaha... soalnya TV tersebut non komersil dan gak ada iklannya.
Yup... jika everything about is profit, then the TV station has to turn anything to become money... haha baik itu narasumbernya, topik pembicaraannya dll harus bisa dijual untuk mengumpulkan rating iklan.
Ciao!
tv, bisnis, pasar, iklan, profit, uang. penyadaran hanya ada di level teman ke teman, kawan ke kawan. itu pun kadang diselingi dengan sisipan, eh, ikut mlm yuk... eh.. ada barang nih, mau beli gak.. dll.
setuju sekali..
gimana masyarakat mau berpikir positif..klo kebanyakan bacanya berita negatif....
saya ada link..
isinya semua berita positif..dijaminn..
www.suprememastertv.com/ina
www.kontaktuhan.org
mg2 bisa memberi inspirasi...
Maaf, mungkin sedikit melenceng dari topik. Tapi pertanyaan ini muncul setelah membaca beberapa artikel kamu yang bicara tentang alam dan lingkungan.
Saya ingin tau apakah Dee turut aktif berperan serta dalam melestarikan lingkungan dengan benar-benar memilah sampah, membuat kompos sendiri dan menanam pohon/tanaman di rumahmu? Atau topik2 tersebut hanya muncul di bibir ketika bicara di tv atau ketika menjadi pembicara dalam seminar?
Untuk Mbak Retno, mohon maaf respon untuk Anda sempat nyasar ke posting saya yang lain. Anyway, akan saya copy paste di sini:
Silakan Mbak Retno telusuri archive blog ini. Saya resmi ikut pelatihan kompos dan memang membuat kompos. Pohon di rumah saya ada 10 lebih untuk rasio penghuni rumah yang sktr 5 orang. Jadi, satu orang dua pohon. Untuk ini saya memang tidak menanam sendiri, tapi dibantu oleh mertua dan tukang kebun.
I walk what I talk, as best as I can. I don't walk what I don't talk, as best as I can. Regarding the environment, menurut saya, daripada mempertanyakan apakah orang lain berbuat sesuatu atau betulan berbuat sesuatu, lebih baik gunakan waktu Anda untuk BENAR-BENAR berbuat sesuatu. Semampunya.
~ D ~
Terima kasih atas jawabannya. Saya salut sama Dee yg benar-benar melakukan apa yg dikatakan. Saya berharap banyak orang mengikuti jejakmu. Salam hangat dan sukses selalu.
-Retno-
Dee
Thanks a lot for concerning our beloved earth.
Saya dengan teman ada susun articel dari internet mengenai global warming. Dan dalam bentuk PDF, bisa didownload gratis.
hiduplebihmulia.wordpress.com
Apakah dee Bersedia jika memasukannya sebagai hyperlink dari blogspot dee?
REFLEK untuk melakukannya..
melakukannya dengan SADAR..
kalo udah reflek mah ga perlu diminta, disuruh, dihimbau lagi..
tapi melakukannya dengan sepenuh hati dan kesadaran..
itu yg sebaiknya ditanamkan dalam benak tiap orang..
dan orang-orang yg sudah TERSADARKAN, bagaimana caranya untuk mengajak orang lain menjadi SADAR..
believe it or not, the only things that's been concerned me is the fact that I'm still waiting for the next Supernova books:)
Dear Dee, a lot of people root for you ... we really hope the best in life for you. I'm not good with words, but there are more to you than just another infotainment gossips:)
Keep holding on! You're still my favourite Indonesian writer no matter what.
saya jarang nonton infotainment tetapi memang beritanya rasanya jauh dari kebenaran. Tetapi istri saya suka banget , hiks soalnya kalo disuruh nonton yang lain katanya mumet mikirin yang serius - serius.
Hi Dee..masih inget ga dulu di SMP 2 waktu elo nyanyi in satu jam nya Asti Asmodiwati pas lagi kelas ..apaan yah gw lupa, pokoknya pas lagi ngebahas WELLGROOM gitu lah...sampe sekarang neh gw masih kasuat2 ke elo bukan ke Astinya kalo denger lagu itu,emang sih comment gw ga nyambung, but endingnya tulisan ini(satu jam) ngingetin gw ke zaman SMP gitu
One more thing..Dee,to refress ur memory.. lo nyanyi nya sambil tiduran di meja, karena kebetulan emang kelas nya garing banget, jadi barangkali lo ga nyadar kalo lo yang mulanya bergumam jadi nyanyi beneran,nah dari situ gw tau kalo elo emang "laen"kaya buku2 yg elo tulis, yg selalu gw koleksi dan bikin nagih....
mbak dewi kapan dewilestari.com nya launching.... pengen liat.... nggak sabar....
Kami dari ormawa lembaga kajian mahasiswa universitas negeri jakarta bermaksud mengundang Mbak Dewi dalam talkshow penulisan fiksi ilmiah sekitar awal desember dalam satu wadah Education Expo 2008.
Bagaimana alur yang harus kami lakukan agar kami bisa mengundang Mbak Dewi?
Mohon penjelasan dan apa ada nomor telepon yang bisa kami hubungi?
Terima kasih, mohon balasan secepatnya.
Post a Comment