Sunday, November 09, 2008

Fahd In My Eyes


Fahd In My Eyes

Amplop cokelat berisi sebuah buku tiba di rumah saya. Walaupun judulnya berbahasa Inggris, isi dan penulisnya asli Indonesia: “A Cat In My Eyes” oleh Fahd Djibran, terbitan Gagas Media. Sebuah racikan baru dari buku lama Fahd berjudul “Kucing” yang pernah saya baca bertahun-tahun yang lalu. Saat itu Fahd masih SMA, di kota Garut. Saat itu saya masih tinggal di Bandung, baru saja menerbitkan “Supernova: Petir”.

Desainer sampul buku-buku saya, Fahmi, adalah orang yang berjasa memperkenalkan karya Fahd. Begitu selesai membaca, saya langsung memesan sepuluh eksemplar “Kucing” untuk dibagi-bagikan ke teman-teman penulis di Jakarta. Saya begitu terpukau. Terpana. Bersemangat menyala-nyala. Rasanya seperti pendulang yang menemukan sebongkah batu mulia dalam tumpukan batu kali. Seorang remaja belasan tahun bisa memiliki kemampuan merangkai kata selugas dan secerdas itu, memiliki kepekaan bahasa di atas rata-rata, dan terlebih lagi, pada usianya yang begitu belia, Fahd sudah menunjukkan kehausannya yang mendalam pada makna hidup, cinta, dan Tuhan. Buku Fahd adalah temuan langka. Satu di antara sejuta.

Kini, Fahd sudah berkuliah di Yogyakarta. Dan di kota itulah saya pertama kali bertemu langsung dengannya. Buku “Kucing” pun sudah berganti rupa menjadi “A Cat In My Eyes”, ditangani oleh salah satu penerbit terbesar di Indonesia. Namun Fahd tetap seorang Fahd. Seorang pencari, pengelana makna, dan penjelajah spiritual. Entah sudah sampai di mana dia. Ada yang bilang, perjalanan spiritual bukanlah perjalanan linier, melainkan perjalanan kuantum yang bisa melompat dan berakrobat tanpa bisa ditebak.

Yang jelas, di buku keduanya ini kemampuan Fahd berkata dan berbahasa tampak semakin halus dan dewasa. Dari prosa-prosa pendeknya, Fahd pun tampak lebih lapang dada untuk menghormati ranah ketidakpastian dengan kerap membubuhkan “barangkali” dan “tidak tahu” saat tulisannya sudah berada di ujung sebuah kesimpulan. Ada yang bilang, semakin dewasa jiwa seseorang, ia lebih banyak menyatakan “tidak tahu” ketimbang menjaminkan sebuah kepastian.

Dari buku “A Cat In My Eyes”, saya paling suka prosanya yang berjudul “Skizofrenia”. Entah mengapa, saya merasa prosa itulah yang paling mewakili penelusuran seorang Fahd. Namun sepanjang perjalanan 176 halaman buku tersebut masih banyak lagi cerita dan metaforanya yang bersinar gemilang, yang sekiranya bisa memuaskan hati para pembaca. Jujur, yang agak menjadi ganjalan bagi saya hanyalah judul bukunya. Menurut saya pribadi, masih banyak pilihan judul lain yang lebih representatif, bahkan lebih strategis, untuk mewakili buku ini secara keseluruhan.

Terus terang, banyak harapan yang melambung dalam hati ketika menemukan karya Fahd—sejak awal hingga kini. Saya berharap dia terus bertambah lihai dan cemerlang dalam menulis. Saya berharap dia terus bertambah jernih dan jeli dalam mengobservasi. Singkatnya, saya berharap dia menjadi seorang penulis yang monumental. Dan saya pun cukup yakin Fahd Djibran punya segala bekal untuk mencapai itu semua. Tapi, harapan saya yang lebih dalam sesungguhnya lebih sederhana dan tak ada sangkut-pautnya dengan menulis, yakni harapan untuk Fahd bertubrukan dengan “sesuatu” yang ia cari. Karena meski secicip dan sebentar saja, pengalaman semacam itu akan mendaratkannya dalam dimensi sepenuhnya kalbu dan bukan lagi akal. Sekembalinya dari dimensi tersebut, saya yakin kedahsyatan tulisannya akan berbeda citarasa. Lebih empiris ketimbang filosofis. Atau barangkali, ia malah berhenti menulis sama sekali. Kita tidak pernah tahu.

Sampai sekarang, saya masih penasaran akan satu hal. Ada apa dalam dodol Garut atau domba Garut yang mampu menghasilkan seorang Fahd Djibran? Ada apa dengan Kawah Papandayan hingga seseorang yang tinggal di kaki lerengnya bisa berkata-kata: “Aku ingin tetap berada di udara jika hidup adalah sebuah koin yang dilempar ke udara dan menjadikan kita sebagai salah satu sisi dari dua mata koin itu. Aku ingin berada di dunia antara, abu-abu, dunia fusi sinergis yang harmonis.”

Barangkali Fahd adalah kesimpulan hidup bahwa letak geografis dan tingkat modernitas sebuah tempat bukanlah penentu mutlak untuk menciptakan manusia bermutu, melainkan: adakah manusia itu “terusik” jiwanya? Adakah ia “mendengar”? Sudikah ia menyimak dan menelusuri satu tanda tanya besar yang bersemayam dalam setiap batin? Fahd memilih untuk bergelut dengan tanda tanya itu. Ia telah merelakan dirinya untuk diusik.

Jika “Kucing” sempat tenggelam dalam percaturan sastra Indonesia, sudah saatnya “A Cat In My Eyes” mengeluarkan cakarnya. Melewatkan buku ini, dan juga jejak seorang Fahd Djibran, merupakan kehilangan besar bagi penggemar sastra Indonesia. Meski tidak percaya pada kepastian, tetap ingin saya jaminkan yang satu itu.

51 komentar:

imamnic said...

Wondering, what kind of book amuse you like that, mbak...
Should be a must buy book, mudah-mudahan available di Gramed next week bersama dengan "buku belinya harus indent - Rectoverso"

Never give up asking, Supernova mbak. 2012 udah Kiamat, gak mau mati penasaran ;-p

imamwahyudi.com

Ade Basrah Candra said...

Jadi penasaran sama sosok Fahd dan tulisannya yg menurut rekomendasimu gilang gemilang. Harus hunting nih!!!

Rabindra'Sahara said...

Memang, proses kreatif seseorang itu ga bisa dibatasi oleh ranah teritori ya, Mbak Dee. Dan butuh kontinuitas serta komitmen.

Saya ini contoh orang yang punya diskontinuitas serta level komitmen yang tengkurap. Hingga saat ini, ada sekitar tujuh draft novel yang kesemuanya unfinished yet. Parahnya, ada dua judul yang sebenarnya tinggal finishing editing..

Ajari saya untuk menemukan makna kontinuitas, Mbak Dee..

Vendy said...

sekiranya dijaminkan, punggung ini akan menunggu hingga saatnya tiba untuk membaca kucing.

but, not today... ^^

.arshella. said...

Mbak Dewi..tulisan di blog ny selalu ditunggu lho..hehehe

Yati said...

cari ah...
yang KUCING terbit kapan ya?

mitora in life said...

ia mba, saya udah naksir ma buku ini kemarin, gara2 ada mba dee yg ngasih testimonialnya :D. Ntar deh, saya beli

nissa said...

yes yes yes,,,, must read books nya nambah satu.. terimakasihhhh...

Lady said...

waduh..senengnya jadi seorang Fahd! :)
pasti doi lagi melayang2 di udara, dipuji seorang Dee :D
Tapi Fahd memang istimewa, walau gw cuman bisa baca karya dia dr blognya..

Lady said...

sori ketinggalan,
Dee...dimana bisa gw dapat 'Perahu Kertas' ?

jan phaiz said...

kalo tulisan favoritku ada di dalam "when and sometimes", mbak,,
lebih tepatnya sajak "masa depan | ratu malamku"

...
masa depan ternyata hanyalah kursi di halaman belakang
di mana aku duduk sendiri di sana
merasa bukan siapa-siapa
merasa bukan apa-apa
(hal. 69)
pribadi, eh? ^_^


mbak, pengalaman macam apa yang dapat mendaratkan seseorang pada dimensi sepenuhnya kalbu, tanpa akal?
bolehkah jika seseorang justru memimpikan pengalaman semacam itu?
bagaimana untuk bisa membuka pikiran saat kita memejamkan mata?
kenapa selalu hampa saat kucoba?
hhh,,

eh,
salam kenal

Ranny Rachma Suci said...

jadi penasaran sama tuh buku..

Fahd Djibran said...

Wah, ini kejutan besar buat saya! Thanks, ya, mbak! :) Oya, saya juga lagi bikin t-shirtnya, lho! hehehe.

Semoga doa ini terkabul.
Fahd

P.S. Oya, teman-teman, blog saya www.fahdisme.blogspot.com sekarang sudah nggak aktif karena saya tidak bisa mengaksesnya lagi, blog saya sekarang pindah ke www.fahd-isme.blogspot.com atau www.ruang tengah.co.nr :)

a Piece of me said...

Sekali lagi hanya bisa kagum mba.. sibuk sekali tp masih bisa meluangkan waktu membaca buku..
Jia You mba..

Ryuzaki said...

Selamat siang Mbak Dewi, Mbak saya kan suka nulis-nulis juga, ya masih nulis-nulis puisi-puisi aja sih, tapi saya kepingin bisa nulis kayak mbak, mbak kalo nulis2 gitu nyari inspirasi atau dpt ide2nya dari mana?
mbak liat ya blog saya...saya harap mbak mau isi comment di tulisan2 saya, ya buat tambahan/ kritikan/ masukan buat saya juga..hehehe
makasi ya mbak...

Ivan Jenggot said...

memang itu salah satu buku yang bagus.

Kaka said...

Jadi penasaran juga nih,sama buku,sosok dan semua-nya.Maen atuh ke blog sayah.Heueheueheue

[kurni]Awan_cLIK3rz said...

PS: aku dapet alamat ny dr cerita senja
diliat dari antusiasme mba dee pasti keren tUh bukunya Fahd...
cari dech...tp yg A Cat itu sisinya jg indonesia ya mba...
tp buat mahasiswa pas2 an kaya akUh..wualah..kudu puasa dulu nih..hehe...
Yup !

iyaz said...

Begitulah rahasia 'talenta' yg dianugerahkan Ilahi...hingga 'usia' bukanlah menjadi penghalang seseorang untuk lebih cepat memahami kehidupan yg serba 'complicated'.

Sahabat Andalas said...

Tulisannya begitu hidup, membuat saya tak bosan untuk membacanya berulang-ulang.

ingin sekali belajar menulis dari tulisan ini.

Ken Dee NBL
Salam Aksara

Sahabat Andalas said...

Salam kenal dari saya

aiwulfric said...

Hmm.. aku dibuat benar2 penasaran sama postingan Mba Dee.. :)
Aku harus meluangkan waktu untuk hunting buku itu.. :D

rusakparah said...

Wah rupanya banyak2 buku lain yang fenomenal selain laskar pelangi ya???

Saya harus sering2 berkunjung ke mari. Sebagai bahan referensi bagus kayaknya blog ini.

Tapi apa ada toko buku di kota saya, untuk nyari buku2 ini. Selain gramedia ya? hmm.. andaikan...

tan_intan said...

dear Fahd, u're so lucky.

Lista said...

mba dee, sori nich ga nyambung ama postingannya..hehehhe..mo nanya blog mba koq ada dua ya? satunya lagi yg wordpress..isinya sama..cuma kyny uda ga diupdate lg yh? koq bisa ya? mba pas nulis artikel nerbitin sekaligus di dua blog ya? tq =)

MAZPRAM said...

hi dea....SALAM KENAL DULU DEH DARI MAZPRAM..OK SUKSES SELALU YAH

MAZPEAM FROM BINTAN ISLAND KEPULAUAN RIAU INDONESIA

Dewi Lestari said...

Sip, Fahd!
Link di entri ini sudah saya update sesuai dengan alamat blog-mu yang terbaru.

Untuk Jan Phaiz: yep, bagian itu juga salah satu bagian favorit saya. Untuk Rusakparah: well, "fenomenal" itu agak relatif menurut saya, hehe. Buku Fahd, walaupun terbilang baru dan nggak tahu apakah bakal selaris Laskar Pelangi atau enggak (tentunya didoakan demikian), merupakan buku yang fenomenal buat saya.

Terima kasih semua yang udah mampir!

Tenang aja... Supernova nggak akan nunggu sampai 2012 untuk tamat! :)
Dan bagi yang pingin tahu seluk beluk menulis, nantikan program Creative Writing Workshop yang insya allah akan saya adakan tahun depan.

Regards,

~ D ~

~ D ~

Jenny Jusuf said...

CWW jadinya tahun depan Mbak? Lah kemarin Teh Ummy baru SMS minta dijadwalin buat Desember *dibahas di sini*

Hihihi.

Imamnic: Emang iya gitu, 2012 kiamat? Aduh padahal belom ngerasain kawin..

Windy Kurniawan said...

Hi Dee,

jadi pengen baca dan hunting buku itu... just dimana bisa nemu yah....
thanks for share..

wind
http://windlit.blogspot.com

felicia said...

i just love your writing

yunia said...

pengen cari jg buku nyah..wah seneng nyah jd seorang Fahd..btw,kalo diliat dr fotonya kynya kamu lucu jg..hehehe..salam kenal ateuh lah...

MAY'S said...

Thanks Dee infonya...
tapi saya masih belum bisa ngedapetin Recto Verso nih...
Pesen di mana ya?
Gramed-nya kosong terus yang di Solo lho ya...

Vidy said...

Wah, aku jadi penasaran juga sama novelnya Mas Fahd, ni Mba...

getihbulao said...

saya juga pengagum fahd..

globalizacktion said...

Beberapa teman saya bilang aCiME--A Cat in My Eyes--adalah kucing versi dua yang dirubah, ditambah, dikurangi, diperhalus, bahkan diperkasar, dan tentu saja dipertajam. Tapi kesemuanya merupakan jumlah, akumulasi dari pertanyaan-pertanyaan yang sederhana. Ya, sederhana. Karena terlalu sederhana jarang orang yang mempertanyakannya. Bukan begitu Fahd? Hehe...(saya pinjem kata2nya).

Tapi untuk aCiME ini memang beda. Pertama diterbitkan lewat indie dan sekarang menjelma di penerbit besar. It was began from a small thing. Ya, sesuatu yang kecil, sesuatu yang sederhana, jika diakumulasi akan menjadi sesuatu yang besar. Ah, kenapa kita selalu melewatkan hal-hal kecil???

woropratiwi said...

hunting hunting hunting..!!

uWWi said...

baguss.. dalemm.. udah baca kemaren, sejujurnya, awalnya nyari rectoverso, whoaaa..keabisan..waiting list deh! liat a cat in my eyes, yg review mbak dee..mmmm..pasti bagus ni, beli deh! nn,,emang kerendd!
berhubung dikotaku ga da gramed, rectoversonya order via web deh..
menguatkan imamnic..mbak, supernova dongggg.. :p

siteruterubozu said...

wah, kemaren baru liat buku ini di gramedia. dan seperti besok buku ini akan ada di tangan saiiah :)

thanks ya :)

diandra said...

Salam kenal ya mbak Dee..
Aku suka karya-karya besarnya lho.
Mudah-mudahan Desember ini, bisa dapat Rectoverso.

tentang Fahd, thanks deh bwt rekomendasinya.
Buat yang dahaga ilmu, lebih dari sekedar penasaran!!

sleepyhead nindya said...

wow . gorgeous .
tp menurut aku masih bagusan recto verso ko . i'm so in love with all of your books !!

Windy Kurniawan said...

in the dull saturday noon, suddenly somebody knocked my door..
And the blessed guy delivered me : Rectoverso!!!
with your sign on it, Dee, that I believe that won't be there if I buy it in common store!!

Really thanks!! Warm up my day, bright up my car.. swinging me around with ideas, figures, and loves...

Thank you Dee..!!
wind
http://windlit.blogspot.com
http://windy13.blog.friendster.com/

chaotixschizoprenix said...

wew...maturnuwun sanget Bu!
kebetulan saia emang lagi menyasar2 -kan diri mencari resensi buku yang mo dibaca (Bil. Fu-nya AU,'ma Rhs Meede-dah direkomendasikan temen2),sekarang kesasar kesini dan ketambahan lagi resensinya...
maturnuwun,tak jajal dulu lah...
salam kenal !

*hyde marge* said...

yeah, now i've got to get that book.

PIKIRAN GUE said...

Dew, today after I received your sms, I try to reach your blog AGAIN (It’s difficult to find your blog, maybe because I’m so GAPTEK). And WOW that’s amazing, I find it ! And when I read all your blog start from May and I feel so sad, really sad. You know why?
Because I imagine what you have faced, how rude and brutal the gossip is and the damage that they made into you. But I pray and and keep hope that you could pass it and still can stand firm.

Aku selalu takjub akan kemampuan manusia untuk menciptakan derita dan ketidakbahagiaan kepada manusia lain. Aku selalu bertanya mengapa ada orang yang bisa begitu senang dan gembira menciptakan masalah dan kepedihan bagi orang lain? Kenapa manusia suka menyakiti manusia lainnya? Mencabik – cabik orang lain dengan perkataan dan fitnah yang kejam? Untuk apa ? dan hasil apa yang mereka petik ? Dan apa hak kita sebagai manusia yang nota bene sama – sama tidak sempurna untuk mengadili dan menghakimi manusia lain ? Mungkin demi mendapatkan kebahagiaan semu karena merasa diri kita lebih benar dari manusia lain ? atau kepuasan sementara karena kita merasa jalan kita lebih lurus dari jalan yang orang lain tempuh? Atau iri hati karena hidup orang lain dapat lebih baik dari hidupnya?

Akupun tidak tau, dan aku masih terus mencari jawabannya Dew. Manusia adalah topik yang paling menarik untuk diobservasi dan dipelajari, tapi sangat pelik untuk di mengerti

But whatever I just want to say never give up, My oma said (do you still remember her ? She loves you very much, I thought that in her pray she always asked God what big sin that she have did that she got curse to had grand daughter like me and not you. She gave up with me long time ago before you coming. He he he. She passed away on 1989 and it was my darkest day) “ Semakin tinggi pohon semakin keras terpaan anginnya. Jangan pernah berusaha menyenangkan manusia, karena manusia adalah sesuatu yang paling susah dan sangat sulit untuk disenangkan. Yang perlu kita pikirkan dan pentingkan hanyalah apakah dalam hidup ini kita berbuat yang terbaik bagi Tuhan dan sesama, memastikan kita tidak menyakiti siapapun. That’s enough”

I’m so sorry because I cannot give you support at that time. I believe many of your real friend around and support you. Hold on Dew, You are stronger than they think. You’re one of best friend I ever have. I proud of you, May God bless you.

With love

Your childhood friend – Dude

Ps. I love your music in this blog, Congrat for Rectoverso. Good work!!!

sHeiLa is Here said...

emhhh,,,,bikin penasaran neh bukunya,,,

mynameisnia said...

Wah, kebetulan sekali. Kemarin saya baru baca buku ini dan hari ini saya baru buka blog Mbak dan ya... saya juga suka.

Saya paling suka cerita tentang anak kecil yang bertanya mengapa orang mesjid memanggil Tuhan melalui pengeras suara sementara Tuhan itu dekat dengan kita.

Polos.

woropratiwi said...

Dan bagi yang pingin tahu seluk beluk menulis, nantikan program Creative Writing Workshop yang insya allah akan saya adakan tahun depan.

insyaallah..?????

*binun mode ON*

ea_12h34 said...

yah saya juga sdah baca paling suka post membenci mu...

fahd mengingatkan saya pada seorang teman yang juga suka menulis dengan gaya yang sama

ah sampaikan salam saya pada fahd ya mbak belum sempat mampir ke rumah mayanya... bukunya bagus wlo mungkin bener kata kucing lebih cocok dari pada judul kebaratan...

btw sama seperti yang diatas

insya allah???

hm nice words dee hehehhe

emerald said...

"Aku ingin tetap berada di udara jika hidup adalah sebuah koin yang dilempar ke ....." As romantic as it sounds, i don't think anybody can stay like that, tossed, not landing, not knowing where it goes... caught in a limbo, like a lost soul.. (careful what you wish for :))

arinvsfayra said...

Mba...

Tukeran link yuk!
Arin link blog ini dari blog arin yah...

http://arinvsfayra.wordpress.com

makasi sebelumnya,
banyak sekali bahasa yang sangat inspiratif di blog ini.
Sering mampir boleh yah....

arin ^_~

NASAWEWE said...

lam knlya,nti bantu saya aku gi bikn skenario.
ochey.........