Melanjutkan Essential List #1, inilah daftar saya berikutnya, yang kebetulan kali ini semua tempat berada di Bandung. Perlu saya ulangi lagi bahwa saya tidak dibayar maupun berafiliasi secara komersil dengan para produsen/tempat/penyedia jasa/produk yang ada di daftar ini. Ulasan saya murni berdasarkan pengalaman pribadi, dan murni dari hati yang tulus.
Semoga berguna dan selamat ngiler! :)
PASAR CIHAPIT (Bandung)

Inilah pasar tempat saya 'dibesarkan'. Pasar Cihapit letaknya kurang lebih 1 km dari rumah keluarga saya di Bandung dulu. Saya biasa berjalan kaki atau naik becak ke sana. Dari pasar inilah ibu saya membeli bahan makanan untuk keluarga kami setiap harinya. Di sini pulalah saya banyak menghabiskan masa kecil saya, dari mulai menemani Mama belanja hingga akhirnya saya belanja sendiri untuk keluarga saya. Meski akhirnya pindah ke daerah Awiligar yang letaknya cukup jauh dari Cihapit, tetap saja pasar ini menjadi tempat favorit saya berbelanja.

Kalau Anda jalan-jalan ke Bandung, sempatkan mampir ke Pasar Cihapit di pagi atau siang hari. Banyak kejutan spesial yang menanti Anda:
1. Warung Nasi Ibu Eha (di dalam pasar)

Warung nasi legendaris ini berada di dalam kompleks pasar. Jangan takut nyasar. Masuk saja dan tinggal tanya-tanya, para pedagang yang ramah akan dengan senang hati menunjukkan arah ke warung Ibu Eha. Ibu tua energik yang usianya sudah mendekati 80 tahun ini (hmm, atau sekarang sudah lebih, ya?) akan tampak terlihat sibuk mengatur stafnya yang hampir semua ibu-ibu separuh baya. Ibu Eha mewarisi bisnis warung ini dari ibunya, yang sudah berjualan sejak tahun 1940-an.
Sejenak kita akan seperti terjebak di lorong waktu. Foto presiden yang terpajang adalah Soekarno, entah poster cetakan tahun berapa, yang jelas sudah terlihat menguning. Sebagian tempat duduk di sana adalah bangku-bangku kayu memanjang yang usianya juga sudah puluhan tahun. Di lokasinya yang lama (warung ini pindah ke bagian lain di pasar setelah Pasar Cihapit sempat direnovasi), bahkan batu bata di temboknya sudah hitam bagai jelaga karena asap masakan selama lebih dari empat dekade (Ibu Eha masuk ke Pasar Cihapit sejak tahun '60-an).
Siang hari adalah peak hour di warung ini karena banyak karyawan perkantoran yang makan siang. Pukul sebelas atau sedikit lewat dari jam makan siang adalah waktu kunjung yang ideal karena lebih sepi, kita bahkan bisa mengobrol-ngobrol dengan Ibu Eha yang ramah. Dan bagi saya, di sinilah daya tarik utama makan di Warung Ibu Eha. Bukan saja makanannya yang enak, tapi juga suasana yang lain daripada yang lain.
Jangan berharap kemewahan, tentunya. Makanan di sini sederhana saja, dengan piring-sendok-garpu yang juga sederhana, secangkir teh pahit, lalap dan sambal gratis, serta kobokan untuk cuci tangan. Tapi rasa silakan diadu. Bagi yang vegetarian, cobalah tempe bacemnya—yang menurut saya adalah The Best Tempe Bacem Ever, yang membuat daging terasa jadi biasa saja. Tahu gorengnya juga nikmat, Ibu Eha menggunakan tahu Lembang yang lembut dan gurih. Juara berikutnya adalah: sambal dadak. Jangan meninggalkan tempat itu sebelum mencoba sambalnya. Rasanya sangat pas dan segar. Apalagi kalau sedang musim buah Gandaria, karena akan terseliplah beberapa butir Gandaria yang membuat rasa sambalnya semakin semriwing. Buat saya, nasi panas plus tahu-tempe dan sedikit kuah rendang telur, sambal dadak dan lalap singkong, sudah membuat perut saya bahagia dunia-akherat (liur saya bahkan nyaris menetes menuliskannya).
Bagi Anda yang non-vegetarian, silakan mencoba Ibu Eha's most famous highlights: rendang, ayam goreng kuning, dan ikan bawal goreng.

Saya pernah bertanya pada Ibu Eha tentang resepnya menjaga kesehatan. Dan sambil membersihkan babat sapi, ia menjawab: "Ibu nggak pernah makan beginian. Ibu makannya cuma nasi aja, sama lalap, sama tahu, sama sambel, atau ikan asin sedikit. Udah, cukup." Well, for someone that's surrounded everyday with delicious meat dishes that made her name famous, I really didn't expect that answer :)
2. Cincau Cihapit (di pintu masuk pasar)
Lengkapi pengalaman Cihapit Anda dengan segelas cincau hijau kondang ini. Dijual di gerobak dorong kecil, di depan mulut pasar, bisa dijual per gelas atau kemasan besar untuk dibawa pulang. Jika Anda menyambi dengan makan siang di Ibu Eha, bisa minta tolong juga untuk diantar ke sana.
Meski dijual di gerobak sebesar gerobak es lilin, cincau ini sudah masuk ke supermarket juga saking santernya. Kalau nasib sedang sial dan tukang cincau ini sudah pulang, jangan kecil hati. Produknya dijual di Supermarket Yogya (Jalan Riau a.k.a Riau Junction). Tersedia dalam kemasan besar (cukup untuk 4 gelas), lengkap dengan santan dan gula.
Berbeda dengan kebanyakan es cincau hijau lain yang memakai sirop merah, Cincau Cihapit hanya memakai santan dan gula cair. Cincaunya super lembut dan rasa daunnya terasa segar dan tidak langu. Again, this is THE BEST GREEN CINCAU ever! Trust me.
One thing that really amazes me, though. Saya sudah beli cincau ini sejak kecil, dan meski belum pernah ngobrol panjang dengan tukangnya, kami sudah mengenali muka satu sama lain dengan akrab. Satu waktu, Mang Cincau ini bilang pada saya: "Kemarin saya lihat Neng di teve." Saya tertawa dan 'oh' saja, mengira bahwa ia mungkin melihat saya menyanyi di salah satu program teve. Lalu dia melanjutkan, "Mang senang nonton acara Neng. Salam ya buat Kang Juhana." Dahi saya pun mengernyit. Saya bertanya balik, "Maksud Mang, acara Tantangan – Indosiar?". Dia tertawa, "Iya, pan Neng yang bawain acaranya?"
Saya langsung meralat, "Bukan, Mang. Saya bukan Tina Zakaria!"
Mang Cincau tertawa makin lebar, "Ah, si Neng mah sok pura-pura kitu. Mang juga bisa ngenalin!"
Berkali-kali saya mencoba meyakinkan bahwa saya bukan Tina Zakaria. Dan tawanya malah makin keras. Akhirnya saya meninggalkan gerobak itu dan membiarkan Mang Cincau hidup damai dengan keyakinannya.
3. Kupat Tahu Cihapit (di emper toko Jalan Cihapit)
Di depan sebuah toko yang letaknya tepat di lengkungan jalan Cihapit, ada sebuah gerobak penjual kupat tahu. Penjual aslinya adalah bapak-bapak tua berkumis dan (seringkali) bertopi. Kadang-kadang, anaknya yang menggantikan. Jika Anda mampir ke Cihapit pada jam sarapan pagi, Kupat Tahu Cihapit adalah menu yang ideal.
Setiap piringnya diracik mendadak. Tahu digoreng baru dan sausnya pun dibuat di tempat. Lontong, tauge, irisan timun, tahu yang masih panas, serta saus kacang yang gurih akan tiba di hadapan Anda. Tak lupa, segenggam kerupuk aci ditaburkan di atasnya.
Karena tidak ada tempat duduk, kebanyakan orang beli untuk dibungkus pulang atau makan di mobil. Kalau kepepet ingin makan di tempat, di sebelah gerobak ada semacam peti kayu yang bisa jadi alas duduk. Whatever the circumstances is, don't let it stop you from trying this fabulous dish!
4. Bakso Tahu Mandiri (di emper toko Jalan Cihapit)
Kita sering melihat para pedagang yang berdagang siomay di kota selain Bandung selalu membubuhkan embel-embel "Siomay Bandung" atau "Bakso Tahu Bandung". Sayangnya, walaupun sudah mengadopsi nama Bandung, seringkali yang mengklaim demikian masih jauh sekali kualitas rasanya dengan bakso tahu jalanan yang bisa ditemui di kota Bandung betulan.
Bakso tahu satu ini bukan bakso tahu restoran. Dijualnya di gerobak. Lebih banyak terlihat pada siang atau sore hari setelah pasar tidak terlalu padat. Di jalan raya Cihapit, tepatnya di emper-emper toko, beberapa gerobak bertuliskan Bakso Tahu Mandiri ini terparkir. Mampirlah, dan coba sepiring. Rasakan bakso tahu Bandung yang sebenarnya. Untuk kelas bakso tahu gerobak, menurut saya Mandiri punya cita rasa yang premium.
Berhubung sekarang vegetarian, saya cuma bisa makan kol, kentang, dan telur (bakso tahunya juga bisa, tapi sedikit dibedah jadi tahunya tok). Bagi Anda yang punya keleluasaan lebih, silakan coba... semuanya!
5. Lotek dan Gado-gado Cihapit (di Jalan Cihapit)
Restoran kecil yang lebih menyerupai warung ini terletak di ujung jalan Cihapit, di dekat masjid. Mungkin karena letaknya agak jauh dari keramaian toko, saya jarang melirik tempat makan yang satu itu.
Saya sendiri tadinya tidak menyadari bahwa lotek ini cukup kondang sampai akhirnya saya cukup sering mendengar orang-orang bercerita bahwa mereka sering ke Cihapit hanya untuk beli lotek atau gado-gadonya.
Pengalaman pertama saya adalah waktu mencicip dari piring adik saya. Mata saya langsung membesar, "Enak banget! Beli di mana?" dan dia menjawab santai, "Di Cihapit."
Sejak saat itu, restoran kecil di ujung jalan Cihapit tersebut punya tempat istimewa di hati saya.
6. Serabi Cihapit (di dekat pintu masuk pasar)
Di mulut pasar, tak jauh dari tukang cincau, ada gerobak bertuliskan Serabi Cihapit. Penjualnya seorang ibu-ibu. Kota Bandung memang cukup terkenal dengan serabinya yang kreatif (strawberry, cokelat, keju, kornet, dll). Yang paling beken adalah warung serabi di Setiabudi (nama gaul: Serabi Enhaii). Tapi nggak usah jauh-jauh ke Setiabudi. Di Cihapit pun ada serabi enak.
Seperti halnya tren serabi masa kini, Serabi Cihapit juga menyediakan serabi modern seperti serabi strawberry, keju, dll. Tapi pilihan favorit saya tetap serabi klasik yakni: serabi oncom. Sebelum varian serabi menjadi sebanyak sekarang, serabi klasik hanya kenal tiga rasa: polos, asin, dan manis. Asin berarti dibumbui oncom sementara yang manis memakai kuah gula merah.
Oncom Bandung memang tidak terkalahkan. Apalagi kalau sudah diramu dengan kacang dan bumbu-bumbu, lalu dimasak di atas serabi berwangi santan yang masih mengepul panas. Yummy.
Perlu hati-hati saja tentang jam berjualan serabi ini. Karena Serabi Cihapit punya waktu jeda di siang hari (saya tidak tahu persis jam berapa) hingga akhirnya sore ia buka lagi.
7. Toko Tidar - Art Supplies
Walaupun tidak persis di Jalan Cihapit, melainkan di Jalan Sabang (bersilangan dengan Cihapit, tapi jaraknya sangat dekat), toko ini bisa dibilang salah satu harta karunnya Cihapit. Di toko ini Anda bisa menemui banyak mahasiswa jurusan Seni Rupa atau Arsitektur.
Toko mungil ini menjual berbagai peralatan seni rupa, desain, prakarya, termasuk bahan-bahan membuat maket untuk jurusan Arsitektur. Koleksi kertas daur ulangnya juga lucu-lucu. Fancy paper-nya lengkap. Dan sang empunya toko sering menjaga langsung (dikenal dengan panggilan 'Tante Tidar'), jadi kita bisa banyak bertanya-tanya pada beliau.
Dulu, ketika masih jadi anak sekolah, kunjungan ke Toko Tidar adalah salah satu hiburan menyenangkan bagi saya. Dan sampai sekarang, toko ini terus bertahan, bahkan makin eksis.
Lokasi:
Jl. Sabang No. 71
Bandung 40114
Ph/Fax: (022) 420 4841
8. Taman Bacaan Hendra

Persis di seberang Toko Tidar, ada sebuah rumah besar dengan tulisan di temboknya: TB Hendra. Berdiri sejak tahun 1967 dengan modal 100 buku, TB Hendra merupakan taman bacaan terlengkap di kota Bandung hingga kini. Jadi, Anda bisa bayangkan betapa dahsyat koleksinya.
Banyak komik serial klasik dan novel-novel '80-an bisa ditemui di sini. Dan tentunya TB Hendra terus menambah koleksi buku-buku dari era sekarang. Konon, sekarang koleksi TB Hendra sudah mencapai 500.000 judul.
Kalau Anda penggemar buku cerita dan senang dengan konsep taman bacaan, TB Hendra-lah tempatnya.
Lokasi:
Jl. Sabang 28 Bandung
Telp. (022) 4238008
READING LIGHTS (2nd Hand Bookstore & Coffee Corner, Bandung)

Toko buku bekas ini terletak di Jalan Siliwangi. Bergabung dengan Galeri Seni Bandung yang terletak di lantai atasnya. Isinya adalah buku-buku impor berbahasa Inggris (ada beberapa bahasa lain juga), dari mulai fiksi, non-fiksi, sampai buku anak-anak. Semuanya second hand.
Kalau Anda beruntung, bisa saja mendapatkan buku-buku keluaran relatif baru yang masih dalam kondisi baik dengan harga yang tentunya miring. Di sudut ruangan ada bagian buku anak dengan semacam pojok baca beralas karpet dan bantal-bantal.
Jangan lupa memesan minuman serba cokelatnya. Menurut saya, inilah yang istimewa dari tempat ini. Reading Lights menggunakan bahan cokelat berkualitas (bubuk cokelat pilihan dan dark chocolate batangan) serta aneka campuran yang kreatif, favorit saya: Yin Yang Chocolate (pakai campuran white chocolate) dan Chocoholic (khusus pencinta cokelat karena ramuan cokelatnya paling pekat). Kopinya, konon juga istimewa, menggunakan mesin kopi yang terawat baik serta biji kopi lokal yang terbaik. Sayangnya, saya bukan peminum kopi, so I cannot say much about it. But for sure, the choco drinks are superb.
Di Reading Lights, Anda bebas membaca buku di tempat. Yang juga saya salut dari tempat ini adalah inisiatifnya untuk membangun komunitas baca dan forum diskusi budaya. Beberapa kali Reading Lights mengadakan diskusi sore hari di lantai atas, bekerja sama dengan berbagai komunitas dan LSM di kota Bandung. Suasananya akrab dan cerdas. Sungguh pilihan tempat nongkrong sore hari yang menyenangkan.
Lokasi:
Jl. Siliwangi 16
Bandung - 40141
Ph. (022) 203-6515
RIAU JUNCTION

Kompleks supermarket dan department store ini dimiliki oleh jaringan Yogya (dikenal dengan sebutan 'Toko Yogya') yang memang sukses di Bandung dan Jawa Barat. Walaupun Toko Yogya ada di beberapa tempat, ini dialah outlet terbaiknya.
Lantai 1 diisi oleh supermarket, lantai 2 dan 3 oleh department store, dan lantai paling atas diisi oleh food court. Saya sangat senang belanja di Yogya karena harganya yang relatif lebih murah dibandingkan supermarket sejenis. Selain itu, Toko Yogya masih punya program membership yang memberikan diskon langsung pada saat berbelanja, dan ada hari-hari tertentu di mana Yogya memberikan diskon 10% untuk produk segarnya. Staf di sana juga ramah dan sigap.
Khusus untuk Riau Junction, menurut saya produknya secara umum lebih lengkap dan bervariasi dibanding cabang lain. Di sini (dan juga cabang Cihampelas) ada counter khusus makanan vegetarian. Produk impor seperti makanan jadi dan beauty products lebih beragam dibandingkan cabang lain yang cuma menyediakan tipikal merk lokal tok.
Food court-nya mendapat nilai plus dari saya. Selain penataannya yang apik dan rapi, banyak jajanan Bandung terkenal yang menjadi tenant di sini, seperti Mie Naripan, Es Pak Oyen, Tahu Talaga, dll. Bagi yang jalan-jalan bersama anak, di sini juga tersedia tempat main anak yang cukup besar. Tak heran food court ini selalu ramai.
Setiap kali pulang ke Bandung, Toko Yogya selalu menjadi persinggahan saya. Kadang-kadang yang saya beli adalah barang kelontong biasa yang di Jakarta pun ada, but there's something about the store that always warms my heart.
TOKO SETIABUDI

Jika di daerah tengah ada Riau Junction, di daerah Bandung atas ada Toko Setiabudi. Tempat ini lebih 'internationally-oriented' ketimbang Yogya. Karena itulah banyak ekspatriat yang terlihat berseliweran di Toko Setiabudi. Walaupun secara umum harganya tidak semurah di Yogya, Toko Setiabudi memiliki variasi barang yang bahkan belum tentu bisa ditandingi oleh supermarket upper class Jakarta.
Bumbu-bumbu 'aneh', produk-produk organik, produk beauty & bath impor, koleksi sayur dan buahnya, membuat Toko Setiabudi tempat yang menarik dikunjungi meski cuma untuk lihat-lihat. Di toko ini saya bisa menemukan maple syrup murni grade A, baking soda Arm & Hammer, dan macam-macam kebutuhan spesifik lainnya (info tambahan: maple syrup asli adalah pemanis sehat yang bahkan lebih baik dari madu, baking soda asli adalah bahan pembersih natural yang bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan—dari mulai membersihkan sayuran/buah dari sisa pestisida sampai menggosok lantai, dan Arm & Hammer adalah salah satu merk terbaik).
Di lantai atasnya ada food court bernama Kiosk Food Market yang dipenuhi oleh jajanan top Bandung. Tempatnya lebih simpel ketimbang food court di Riau Junction. Namun satu kali mampir di Kiosk dapat memangkas banyak perjalanan kuliner Anda. Di sini ada Kupat Tahu Gempol yang terkenal, Ketan Bakar Lembang, Gudeg Banda, Sate Hadori, Bakso Malang Cipaganti, Bubur Ayam Kasmin, dan masih banyak lagi.
Bergabung dengan toko buku Periplus yang lumayan besar, Excelso Cafe, Setiabudi Living (khusus pernak-pernik interior dan alat-alat masak), serta beberapa toko fashion yang koleksinya lumayan, menjadikan Toko Setiabudi ini tempat one-stop shopping yang asyik.
* Sumber pinjaman foto:
Pasar Cihapit, Warung Nasi Ibu Eha, Ibu Eha, Kupat Tahu Cihapit, TB Hendra, Reading Lights, Riau Junction, Toko Setiabudi






41 komentar:
Mbak, semuanya ada di Bandung yak? aku di Jogja, rada jauh nih hehehe, nice tips, kapan2 kalo ke Bandung, aku jabanin deh ;p
Pertama ga yaa...nyepam dulu ahhh...Maap ya Mbak Dee ;p
wah. TB. Hendra. kaya'nya buku apa aja ada disitu :D
RiauJunction? .. buset udah bertaon2 gak kebandung, banyak yang baru ya.
aku juga sering makan di warungnya Bu Eha, tp sumpah rame banget. makannya jadi buru2 deh. hu hu.
Tp asli, sambelnya tu enak banget. Pedesnya pas. kayanya Bu Eha bikinnya tu pake cabe deh...
that's why i love bandung so much..
i grow up with TB. Hendra, blanja kalap di Tidar..
jaman smp nongkrong di Yogya sunda, skrg jatuh cinta ama riau junction.
klo bete, menghibur diri mandangin benda2 di lorong supermaket Setiabudi
jajanan...? gak da ngalahin bandung lah
miss bandung all the time lah..
Bandung yah?kapan2 maen kesana ah...
teteh..
makasih ya infonya tb hendra-nya..
aku lahir,besar dan tinggal di bandung..
malahan pernah tinggal di jl menado,
dan sering ke daerah cihapit..
tapi baru tau ada tb hendra..
WOW! :D
wadduh 9 thn yg lalu tingal dibandung selama 3 thn kok g ada yg nyuruh ke cihapit ya? baru skrg yg ngomongin cihapit luar dalam, jd pingin kesana
Awesome...fout thumbs up (2 jempol tangan dan 2 jempol kaki)for TB Hendra. Kayanya kalo mau hunting di kota lain pun belum tentu selengkap itu kali...
Haduh...jadi pengen bikin taman bacaan sendiri, mesti keren...
kiraian bakalan ngomongin pasar smuaaa
ternyata makanan semuaa
disemua tempat ada makannya
heheh laperrrr:p
ah, padahal rencananya liburan ini saya mau ke bandung, sayangnya batal.
melihat postingan ini, jadi semakin ingin mampir ke sana
saya jd sempat kepikiran blauran di surabaya!tempatnya mirip degn postingan itu.ada jajanan pasar, toko buku bekas, buku baru, klo mau ke tempat yg adem2 di depannya psa ada bg junction..
sempet mau netes(air liurnya!), nama Eha unik, cocok buat jd merek,knp gak d franchise kn y?
ohya, ternyata mb dewi mirp juga sama tina zakariabr sadar..;D
SALAM!OH SO NICE POSTING!impresif sekali, menjual lah..
mbak dee, saya jadi pingin nyoba ke cihapit juga :) saya asli jambi, disana juga ada beberapa tempat yang udah jadi rumah kedua saya, ya semacam pasar juga, lengkap dengan kuliner dan tempat2 menarik lainnya.. sudah kenal banyak sama tukang2nya, mulai tkg parkir, potong ikan dll.. selalu jadi merasa pingin 'pulang'. nice post mbak dee :)
mbak dee, kira2 ada kemungkinan CURHAT BUAT SAHABAT dibikin vid-clip nya nggak? saya nunggu2 banget nih hihi
Cihapit???...bukannya cuma pasar loak???
Kok ada pasar bgtunya jg...lha ngapain aj sy 4 tahun dibandung.
thanks...info nya teh
nice info teh dee..
cocok buat pendatang baru bandung yang butuh jalan-jalan alternatif kayak gw nih..
hehe..
ah..setuju dengan semuanya, teh..kecuali riau junction karena parkirannya yang kecil..
Miss Bandung..
From 2 eh..From Medan w/ Love!
O good rindu Bandung, wah deket juga dong ke Mba Dee, aku sempat ngekos di jalan Sumbawa loch.
Nice posting mbak dewi..
sayangnya aq di medan ( jauh banget dari bandung ) Aq sangat tertarik dengan reading lights.. :)
cihapit emang kagak ada matinya. karena rumah bukan di daerah situ, gak kayak kamu yang bisa jalan kaki, aku biasa bawa mobil... dan tukang parkir di cihapit itu menjadi sobat si mami dalam banyak hal deh!
rindu bandung sekali.
Waah...saya pernah tuh ke daerah Cihapit. Tapi buat ke kantor polisi, karna kamar kost saya kemalingan..huhuu...
Tapi sayang sekali, ternyata polisi tidak membantu sama sekali :(
Jadi pengen ke Bandung lagi nih.
Bandung memang rajanya kalo cari kuliner. Aku baru dengar yang namanya Cihapit Kak Dee. Mantap juga tuh, lengkap kuliner dan toko buku. Udah lama ga ke Bandung, hampir 5 tahunan lebih. Kalo aku ke Bandung dan ke Cihapit berarti bisa mampir ke rumah Kakak ya? Eh, maap udah lama ga maen ke sini. Kak, facebook ku ntar di approve ya.
dee..
bakmi akung jalan lodaya koq gak diulas sih.. mie cekernya hemmm... mantabs tuh!
setuju dengan pepito.. menunggu vid-clip curhat buat sahabat plus selamat ulang tahun :)
aku juga suka banget mbak ke riau junction, pasti mupeng liat barang2 kosmetik impornya, rasanya pengen beli semuaaaa:P
the kiosk juga, tapi aku lebih suka yang di dago, soalnya ada iga bakarnya juga, di the kiosk setiabudi belum ada :( hehehe
semua nya di bandung yak.saya dari malaysia.slmt berkenalan.tq
hummmph.. cihapit y? ada yg kurang nii.. lumpia keringNya dcihapit tuu enak pisann, bumbunya itu loo yg bwt nagih.. pokoknya seru klo kuliner dsna.. :D
hidup cihapit, merdeka!
duuuhhh jadi kangen Pasar Cihapit nih...memang bener apa kata Dewi makanannya, suasananya, lengkap :)
mba....salam knal!
................woowww
review yang lengkap, satu yang saya alami..
memoar TB Hendra, masa kecil saya abis disitu, duh apa kabar si om dan tante ya....
yang selalu baik menyimpankan komik tiger wong kesukaanku, karya2 Ganes Th, dan ngasi tau bocoran komik yang ga bagus buat aku baca...ke ibuku.. hehehe (si tante selalu bilang..heehh..wiro sableng itu bacaan orang gedee...wakakakaka...)
hmm terakhir kali berkunjung ke sana sekitar es em pe...
hmm...thanx mbak dee..
tulisan ini mengundang memoar2 lama yang ada dalam hidup saya..
next time ke bandung...kaditu aaahhh hayang nyaho geus jiga kumaha..
yu ah mangga...
^__^
Keluarga saya dulu tinggal di Muararajeun. Kakek saya almarhum pernah jadi tukang loak di Pasar Cihapit. Tulisan Mbak Dee mengugah kenangan indah tentang masa kecil saya. Terima kasih.
Wahh..
PAss sekali Neng Dee, saya baru aja pindah kebandung untuk kuliah lagi...
sepertinya rekomendasi tempat buku second akan jadi tujuan pertama saya...
salam kenal mbak...aku salah satu penggemar mbak dee nich.. :)
jadi kangen bandung.. :)
makasih info nya...cihapit yang siiip
Akhirnya saya meninggalkan gerobak itu dan membiarkan Mang Cincau hidup damai dengan keyakinannya.
Hahahaha.. moga2 kalo besok ketemu Mang Cincau lagi, dia udah menyadari kekeliruannya :D
Btw, itu yang Reading Lights sepertinnya tempatnya asyik bener untuk dikunjungi, besok2 kalo ke Bandung mampir aahh ^o^
Thanks for sharing, Dee :)
wah mbak dee.. ternyata kita tetanggaan to mbak dulunya ^___^ saya sekarang masih tinggal di sekitar jalan aceh mbak, jadi masih sering ke cihapit. masih suka beli serabi. masih suka ke tidar (dan ngelewatin TB hendra.. hehe), ya pokoknya masih beredar di daerah situ deh mbak ^___^
maaf ya, saya kok ngak ngerti artinya supernova, dealova dan lainnya...jadi malu
Dee...semua yg Dee sebutin ttg area Cihapit bikin kangen. Menurutku, Cihapit the best traditional market in Bandung;) Jajanan enak, sayuran dan dagingnya pun pilihan. Ibuku sampe sekarang masih berteman baik dengan Bu Eha, pemilik warung makan langganannya hampir 20 th tahun ketika masih bekerja di salah satu kantor di dekat situ. Ibuku tetap berbelanja di sana meski sudah pensiun, dan rumahnya jauh dari Cihapit....
makasih banyak mbak dee..
saya udah dua tahun di bandung (aslinya dari padang), tapi kalo main ya paling ke BIP, CIwalk, dan PVJ. Saya baru tahu kalo ada yg namanya pasar Cihapit. Saya jadi pingin bgt nyobain makanannya Bu Eha, penasaran dengan sambal dadaknya.
Tapi, lebih dari itu, tulisan ini bikin saya jadi termotivasi utk mengenal bandung lebih dan lebih dalam lagi.. Saya yakin ada banyak interesting places di kota Bandung.
Well, Nice info..
Hatur Nuhun Pisan Teteh Dewi Lestari...
ha ha ha
teh dee menggambarkan suasana pasar cihapit yang familiar sekali. saya selalu senang jika mama saya mengajak untuk berbelanja di cihapit saat weekend atau saat menjelang buka puasa. yup..banyak jajanan! saya suka semua :D ada lagi teh, chuankie di sebelah gerobak tukang lumpia sama gorengan di sebelah tukang kerupuk hehe
waktu saya kecil sampai SD, kalau saya mogok makan, bapa saya suka beliin nasi tim ayam di enci-enci yang sekarang sih udah ga jualan lagi. sekarang tokonya udah jadi toko alat-alat listrik & bakso. eh..enak juga tuh yamiennya..hihi
tidar..ya, tidar..waktu smp saya pernah beli bahan-bahan untuk membuat kartu ucapan di sana. saya suka karena produknya daur ulang dan alami.
..tahu petis..sambel dadak ibu eha..gado-gado..lotek..soto bandung..pecel si mbok..awug dkk..cingcau..nasi uduk..chuankie..srluuuup membuat air liur menetes.. ;p
semoga kelak anak cucu saya masih bisa menikmati keramian cihapit yang membumi :)
halooo wah jadi pengin ke bandung nich
BANDUNG KOTA KENANGAN.
Post a Comment