Merenungi Meditasi
* Akan diterbitkan di majalah Intisari edisi khusus Mind, Body & Soul
minggu ke-3 Januari
minggu ke-3 Januari
Pada salah satu sesi meditasi mingguan yang rutin saya jalani, hadirlah beberapa orang baru yang belum pernah ikut meditasi sebelumnya. Mereka lantas diberi kesempatan untuk bertanya seputar praktek meditasi. Sebaliknya, para peserta lama juga berkesempatan untuk ikut berbagi pengalaman.
Lalu ada satu orang yang bertanya: “Apakah praktek meditasi bisa mengurangi masalah?” Mungkin ia berharap meditasi bisa menjadi semacam metode problem-solving untuk menghadapi aneka problem kehidupan. Sebuah ekspektasi yang wajar. Biasanya, manusia memang perlu dirundung sejuta masalah terlebih dulu untuk akhirnya melongok ke dalam batinnya sendiri. Dan sebagaimana kita terbiasa menganggap “solusi” sebagai tujuan akhir dari “problem”, maka meditasi pun seringkali diposisikan sebagai solution maker.
Pertanyaan itu membuat saya merenung dan mengingat-ingat, apa sesungguhnya manfaat terdalam dari praktek meditasi? Dan sepertinya jawaban saya menjadi kabar buruk bagi peserta yang bertanya tadi, karena bagi saya, masalah tidak jadi berkurang. Bahkan kadang-kadang rasanya malah “bertambah”. Mengapa?
Sama halnya ketika saya mulai mengenal pola makan vegetarian. Di luar dari tubuh yang terasa lebih fit dan penyakit berkurang, badan saya pun jadi sangat peka. Saya, yang biasanya minum kopi 1-2 cangkir sehari dan baik-baik saja, sekarang tidak bisa minum lebih dari setengah cangkir. Itu pun kopi decaf. Saya, yang suka bumbu tajam, sekarang terganggu dengan hadirnya bawang-bawangan dalam makanan saya. Dan toleransi saya pada asap rokok merosot sangat drastis hingga saya dijuluki “si plang no-smoking berjalan”. Saya lantas bertanya-tanya: ke mana kemampuan saya dulu, yang sanggup melahap apa saja, lebih toleran dengan rokok, dsb? Karena bukannya saya yang tidak ingin fleksibel, tapi tubuh saya benar-benar menolak dengan sendirinya.
Dalam perihal mental, saya pun sempat bangga dengan kemampuan saya untuk selalu bersikap tenang di segala situasi. Saya, yang anti-konfrontasi, bangga dengan kemampuan diplomatis yang membuat saya tampak senantiasa berkepala dingin. Tapi, setelah saya mulai bermeditasi, saya menyadari bahwa ketenangan dan kekaleman saya tidaklah otentik. Semua itu hanyalah tameng sosial yang saya pikir akan membawa saya keluar dari masalah. Kenyataannya, saya menabung setumpuk pe-er dalam batin. Di luar kelihatannya saya “baik-baik” tapi di dalam saya berperang hebat dengan diri saya sendiri.
Meditasi membawa saya ke jantung peperangan itu. Menghadapkan saya bukan dengan siapa-siapa di luar sana, melainkan dengan diri saya sendiri. Dalam meditasi, saya diajak untuk menghadapi masalah seada-adanya, bukan dilebihkan, bukan juga dikurangi. Dan, ini dia yang ajaib, ketika masalah kita sadari sepenuhnya, seada-adanya, masalah meluruh dengan sendirinya. Tanpa perlu kita cari solusi. Tanpa perlu kita temukan jalan keluar.
Suami saya, Reza, sering berkata: Masalah = Situasi + Perasaan. Masalah baru hadir ketika sebuah situasi kita bubuhkan justifikasi “tidak suka”, “sebal”, “benci”, “tidak benar”, dsb. Namun seringnya kita hanya fokus ke situasi dan mencari cara untuk mengubahnya, sementara kendali itu tidak selamanya ada di tangan kita. Inilah yang akhirnya membuat batin kita lelah, frustrasi, dan stres. Ketika kita mau menghadapi perasaan kita, menerimanya sebulat-bulatnya, atau dalam terminologi meditasi, mengamati sepenuhnya, maka situasi cuma jadi situasi tok. Netral.
Sekarang, saya lebih peka dengan segala emosi yang saya alami. Dan praktek meditasi membuat saya susah untuk “lari” dari masalah, meski saya kepingin, karena batin saya tidak lagi terbiasa menabung utang perasaan. Jika saya marah, saya akui sepenuhnya bahwa ada amarah. Jika saya sedih, saya terima seutuhnya bahwa ada kesedihan sedang datang. Tidak lagi lari, tidak juga mengikatkannya terus menerus dengan diri saya, cukup mengamati: ini amarah, ini sedih, ini kecewa, dsb.
Masalah hidup ini tidak berkurang. Sungguh. Tapi ia cenderung lebih sebentar hinggap. Tidak lagi terlalu membelit dan mengikat hati kita.
Bukannya tak mungkin saat bermeditasi kita mendapatkan ide, inspirasi, bahkan solusi. Namun bagi saya, bukan itu yang menjadi manfaat utama. Meditasi adalah lensa yang meneropong semesta di dalam, dan menyadarkan kita bahwa apa yang di luar sana tidak pernah terpisah dengan apa yang ada di dalam. Dan apa yang di dalam diri adalah tanggung jawab kita masing-masing untuk menemukan esensi sejatinya. Meditasi mengajarkan saya untuk bertanggung jawab atas hidup.
Saya tidak pernah tahu pasti apakah paparan saya bermanfaat bagi peserta tadi. Minggu depannya ia tidak kembali lagi. Namun, pertanyaannya telah memberi manfaat yang luar biasa bagi saya. Karena untuk pertama kalinya saya diajak merenungi dengan sungguh-sungguh manfaat meditasi. Untuk saya. Titik.





46 comments:
Wah...kayaknya aku harus banyak belajar dari orang hebat yang satu ini nih...
bolehkah?
dan bisakah kita berteman?
atau lebih-lebih bersahabat?
atau lebih nya lagi bersaudara?
semoga...
salam kenal dan terimakasih
dan kapan sebenarnya waktu meditasi yang paling efektif??
malam hari kah?? saat semua orang sudah tidur dan hanya kita yang terjaga,,
pagi hari,, saat nyanyian alam berkumandang merdu,, sementara hiruk pikuk aktivitas manusia belum terlalu padat,,
sore hari,, saat matahari berpulang ke haribaan langit barat?? dan manusia pun berpulang ke rumah mereka masing-masing,,
lalu di mana??
di tempat klum meditasi kah??
agar lantas bisa berbagi dengan peserta lain??
di kamar mandi,, ruang privasi paling privat??
di ruang khusus,, agar tiada apa pun yang mengganggu??
atau di alam terbuka??
...
mba, rectoverso week#7 belum ada winnernya?? kok tiba-tiba yang week#8??
Dewi,
Aku sangat senang baca postinganmu. So smart and bisa membuatku melihat permasalahan hidupku dari sisi lain ( yang positif tentunya).
By the way, aku juga senang bermeditasi, yoga and pokoknya yang berbau2 "mind, body and soul".Aku pengin banget ngobrol sama kamu, kapan nih ke semarang? Ku tunggu ya..jua kapan nih mas reza ngadain pelatihan di Semarang?
berita bagus dee: paparan itu bermanfaat buat saya juga!
Siapapun yang berkata bahwa praktek meditasi bisa mengurangi masalah, I will beat him up. Right in the face.
;-D
Meditasi tidak pernah mengurangi masalah saya, namun meditasi memampukan saya untuk mencecap 'kehidupan' seutuhnya. Dan itu sudah lebih dari cukup. Karena satu2nya yang saya inginkan, lebih dari apa pun, hanya 'hidup'.
Hai, salam kenal untuk Mena, Nenny, dan Fri. Dan thanks juga untuk Jenny atas sharingnya.
Untuk Jan, meditasi bisa dilakukan kapan saja sebetulnya. Pagi ok, malam ok, siang ok, dst. Yang penting kita punya waktu dan ruang untuk bisa tenang dan tidak diganggu selama meditasi, terutama untuk sitting meditation. Matikan hp dan gangguan eksternal lainnya, usahakan suasana hening. Tempatnya bisa outdoor, indoor, bahkan kamar mandi.
Karena itu meditasi di dalam suasana retreat sangat membantu karena memang kita semua sudah didukung oleh infrastruktur yang suportif agar kita bisa mencicipi keheningan secara optimal. Tapi itu tidak berarti kita tidak bisa melakukan meditasi harian di rumah, cuma yah ada challenge-nya aja.
Untuk latihan pertama, coba aja 5 menit dulu. Duduk diam, dalam posisi rileks, tulang punggung tegak, dan amati saja apa yang terjadi baik di pikiran maupun tubuh. Kalau sudah bisa melewati 5 menit, dicoba 10 menit, lalu 15 menit, dan seterusnya.
Terus terang keterangan lewat blog begini pastinya terbatas. Saya sarankan sih kalau memang ingin mencoba serius, datanglah ke meditation center yang rasanya pas di hati kamu, dan coba ikut dalam format grup dulu. Biar kita bisa belajar juga dari pengalaman orang lain yang sama2 praktek dengan kita.
Untuk week 7 RV, sori banget saat itu saya nggak bisa siaran live, karena berhalangan. So, saya rekaman di pagi harinya, dan sampai pagi hari memang belum ada entry yang masuk, karena mungkin juga musim libur. Akhirnya diputuskan untuk membuat format lain, yakni membacakan pesan2 singkat mengenai entry Cicak Di Dinding dari blog. Belakangan saya tahu bahwa kamu juga ngirim ya? Tapi baru keterima di redaksi Cosmo siang/sore hari jadi nggak bisa diudarakan. Mudah2an Jan nggak kapok dan mau ikutan di minggu berikut. Kita masih ada 3 minggu lagi kok. Maaf sekali lagi ya.
Thank you,
~ D ~
mba dewi,
klo boleh saya tau latian meditasinya dmn ya?
saya mau ikut tp blm ngerti apa2..hehe.
makasih y mbak..
Ketika pertama kali menunjukkan minat pada meditasi, seorang teman saya berkomentar bahwa hanya orang-orang stres lah yang tertarik pada meditasi, termasuk saya katanya.
Saat itu, saya tersinggung. Beberapa lama sesudahnya, saya merenungi perkataan teman saya. Dalam kasus saya pribadi, ucapan teman saya itu sepertinya ada benarnya. Jujur, ketertarikan saya pada meditasi berawal dari sebuah rasa ‘tidak nyaman’, ‘gelisah’, ‘galau’, ‘kesepian’, dan entah apa lagi labelnya yang ada dalam diri saya. Saya kemudian berusaha mencari ‘sesuatu’ untuk mengatasi segala perasaan tadi. Mulai dari jalan-jalan, nonton, telfon, baca buku, chatting, berenang, menulis dan lain sebagainya. Sejenak, segala perasaan tidak enak tadi menghilang, tapi sayang hanya untuk sementara.
Akhirnya, saya sampai pada sesuatu yang bernama meditasi. Dengan bermodalkan teori yang saya baca, lihat dan dengar tentang meditasi, saya pun mencobanya sendiri. Dari beberapa kali percobaan, sekali dua kali saya merasakan ketenangan. Sepertinya berbagai perasaan tidak enak yang semula ada dalam diri saya lenyap entah kemana. Namun, itu tidak berlangsung lama. Sesudahnya, berbagai perasaan tidak enak kembali hadir dalam diri saya. Dan, saya pun sampai pada kesimpulan bahwa masalah tidak bisa diatasi lewat meditasi. Entah karena jenis dan metodanya kah yang salah, saya tidak tahu.
Saya lantas berpikir bahwa meditasi bukanlah sebuah media yang bisa membawa kita ke sebuah tujuan akhir. Entah itu kebahagiaan atau apalah namanya. Tiap orang yang tertarik bermeditasi (bagaimana pun bentuknya), menurut saya, pada dasarnya merasa bahwa di dalam dirinya ada sesuatu yang salah, mungkin penderitaan. Dari perasaan itu, ia berusaha mencari sesuatu untuk melenyapkan penderitaan itu, Akhirnya, bertemulah ia dengan meditasi. Entah siapa menemukan siapa. Bisa kita, bisa juga justru meditasi yang menemukan kita.
Saya lalu berpikir lagi, mungkinkah meditasi itu sama seperti bernapas? Tidak perlu berpikir dan berlatih untuk melakukannya. Atau justru harus seperti itukah meditasi yang sesungguhnya? Dan kalau sudah sampai pada tahap itu, apakah yang akan kita rasakan dan dapatkan?
Salam,
Ra-Ma
Salam kenal tuk mba' Dewi....
Mungkin tak diragukan lagi kalo cuma nulis postingan Coz tulisan di buku aja dasyatnya luar biasa...
Dee, meditasi itu perlu konsentrasi ? karena klo kita duduk diam sambil memejamkan mata pikiran bisa macem2..
saya setuju bahwa meditasi bukan untuk mengurangi permasalahan.
dari pengalaman saya, Beban lega, dan refresh yang muncul setelahnya, adalah karena saya lebih bisa mengerti diri saya, memahami marah saya, memahami segala kerumitan yang saya alami dan lalu menerimanya, serta mengakui adanya berbagai hal yang bersliweran di hidup saya. dari sanalah pencerahan itu muncul dan saya lalu dapat berjalan dengan lebih tenang lagi.
makanya dengan aktivitas dan kegiatan yang berjibun, saya selalu HARUS mencuri waktu, karena saya dapat menemukan DIRI saya yang seutuhnya di sana.
salam hangat,
may
mba dee..
aq baru tau blog ini...
salam kenal yah..
aq penggemar beraat mba dee
dari tulisan sampe lagu...
Postingan yang sangat bagus...:)
Mungkin meditasi sebagai wahana untuk meredam emosi efek dari masalah yang ada. Jadi tubuh dan pikiran kita (mind body n soul) ditenangkan terlebih dahulu untuk menghadapi segala persoalan kita. Mungkin ?
Thanks.
ya nggak lah mba,,
saya malah berniat ikut di tiga minggu berikutnya,,
saya pingin banget dapet CDnya,,
jujur,, terlalu mahal di kantong saya,,
bisa beli bukunya aja bersyukur banget,,
^_^
oya mba,
Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh udah gak dicetak ya mba??
saya kesulitan ndapetinnya,,
Di tiga Gramedia di jogja nggak ada,,
Di TB lain seperti Togamas, Social Agency pun saya gak nemuin,,
trus pas cari lewat online,,
di tiga toko buku online, stok kosong semua,,
ada tempat khusus pemesanan yang sudah pasti ada nggak mba??
maaf tanya-tanya terus,,
makasih,,
^_^
pertama kali berkunjung di blog ini,.
semua tulisanx bagus,.
oyah.. bisa gk meditasi sendirian?? (untuk pemula)
atau harus di bimbing secara khusus??
salam mba dee..
maap kalo foto profil saya tdk ada, maklum saya msh newcomer di blogspot. Oya, mba..gmn ya cara bermeditasi yg baik (fokus) itu? saya juga mau nyoba nih tapi di rumah aja soalnya stress banget di tahun ketiga SMU ini, banyak tugas, ulangan seabrek, blum lagi masalah di rumah, dll. Masalahnya saya tinggal di lingkungan pasar, ya tentu gak pernah sunyi, alias selalu bising. trus gimana ya caranya kalo meditasi itu bener2 fokus dan pikiran2 lain diminggirin sebentar, kayaknya susua (hehee...sorry pesimis). makasih ya mba sempat luangin waktu baca komen ini
salaaam...
Meditasi. mengamati jalannya pikiran yang berujar. sakit. senang, kenangan pahit. kenangan indah . ya begitulah adanya. sadari.sadari saja
mbak dewi kapan ke mendut lagi ?
salam :)
sabbe satta bhavantu sukhitatta
setau saya meditasi itu adalah hadir di saat ini dengan memperhatikan apa yang sedang terjadi di dalam dan di luar diri kita.. Salah satu cara yang paling mudah dilakukan adalah dengan memperhatikan keluar masuknya nafas. Mengapa harus napas? karena semua makhluk yang hidup pasti bernapas :)
thx :)
Yep. Saya setuju. Meditasi membantu kita untuk "be in the now". Dan betul, napas memang adalah salah satu objek meditasi yang sangat membantu. Jika pikiran sudah terpencar-pencar, kita kembali saja menyadari napas.
To Ludvy:
Berdasarkan pengalaman saya sendiri, meditasi tidak "meredam" emosi, karena dengan meredam kita bisa saja sebetulnya menolak emosi tsb. Dan apa yang ditolak, seperti kata pepatah: what you resist, persists. Jadi usaha "meredam" tadi malah membuat emosi itu semakin awet. Meditasi tidak menolak, tidak meredam, hanya mengamati. So, kalo muncul emosi, apa pun itu, amati saja. Jika muncul rasa penolakan, amati rasa penolakan itu. Pengamatan inilah yang akan meluruhkan emosi, atau dalam bahasa saya: PacMan yang melahap objeknya dengan utuh dan lengkap hingga tidak ada yang tersisa lagi. Bukan dengan cara ditolak atau dicarikan solusi.
To Fikri dan Tata:
Kekacauan pikiran itulah yang bisa kita jadikan objek meditasi. Salah satu guru saya, Mingyur Rinpoche, pernah mengatakan bahwa meditasi dengan objek "monkey mind" (istilah untuk pikiran kita yang tak henti-hentinya berkomentar, bergerak, dsb) adalah salah satu meditasi terbaik. Mengapa? Karena "monkey mind" hampir selalu scr konstan menyuplai kita dengan objek meditasi. Ada-ada saja kan yang diproduksi pikiran kita? Nah, itulah yang diamati.
Satu hal mengenai konsentrasi. Banyak sekali yang menyangka bahwa meditasi adalah "fokus", "konsentrasi", "pengosongan pikiran", tapi itu semua cuma konsep (baca: upaya) yang jika kita berusaha terus kejar dalam praktek kita, malah nggak akan dapat2. Seperti senar gitar, jika disetel terlalu kencang malah putus, jika sama sekali kendur juga tidak akan berbunyi. Jadi ada unsur "fokus" maupun "konsentrasi" dalam meditasi, yang jika ada di dalam takaran yang pas, itulah dia yang namanya "mengamati". Rileks namun mawas.
To Rampa:
Pengamatan yang menarik. "Meditative state" adalah kondisi yang alamiah, yang sudah bersama kita. Sama halnya dengan bernapas. Karena itulah meditasi yang "berupaya" akan semakin menjauhkan kita dari kondisi meditatif. Meditasi memang bukan tujuan akhir, ia hanyalah alat. Semacam perahu, yang jika sudah sampai di pulau, perahu itu pun harus kita tinggalkan. Dan memang benar, biasanya orang harus dirundung masalah dulu baru tergerak untuk menyelam ke dalam dirinya. Kenyamanan membuat kita terlena. Ketidaknyamananlah yang menggerakkan kita untuk mencari.
To Puu:
Pertama-tama saya mengenal meditasi hanya selewat, melalui yoga dan reiki. Saya baru ikut pelatihan meditasi yang intensif pada tahun 2006 & 2007 bersama Pak Hudoyo Hupudio (MMD - Meditasi Mengenal Diri, terbuka untuk umum, non-religi). Sejak itu saya menjalankan praktek harian di rumah, dan mingguan di Meditasi Rabu bersama Reza (baca postingan sebelum ini). Selama kurang lebih
tiga tahun ini saya juga banyak belajar meditasi dengan format beragam (Dyad, Zen Kinesiology, Zen Counseling, TAT, dsb).
Teman-teman, sekali lagi, penjelasan saya di sini sangatlah terbatas. Dan saya hanya bisa menjelaskan sejauh pengalaman saya pribadi saja. Yang jelas, membaca mengenai meditasi dengan menjalankannya langsung sangatlah berbeda. Tapi mudah2an apa yang kita diskusikan di thread ini tetap bermanfaat.
~ D ~
mba dewi...
aku bt sekaligus happy baca posting ini..
haha rasanya ada yang 'mencuri' apa yang saya rasain selama ikutan meditasi rabu sama mas reza..tapi sekaligus happy..karena tinggal ngomong 'aha..bener buanget..itu loh maksud saya..hei! semua manusia yang ada diluar sana, yang masih 'melihat' meditasi dengan senyum tersungging di salah satu sisi bibir sambil berkata dalam hati 'ih..meditasi? ntar masuk yang engga engga lho!' tolong segera beli intisari edisi yang ada tulisan ini':p
Hallo Mbak Dee, lama tak berkomentar di blog ini. Belakangan saya hanya menjadi silent reader. Karena saya memilih untuk jadi “murid” dari posting-posting di sini, terutama posting-posting berlabel Meditation Journal. Saya seperti mendapati guru meditasi satu lagi: guru yang melemparkan sebuah tulisan, dan secara ajaib tulisan itu menyintak kesadaran para pembacanya, mengubak-mengacaknya, dan sampailah mereka pada “kesadaran utuh” sehingga bisa melihat masalah hidup, diri sendiri, hidup itu sendiri, dan apa saja dari kacamata batin yang jernih; bukankah itu yang penting dalam meditasi? Apapun bentuknya, retret atu bukan, di manapun, kapanpun.
Setelah membaca posting-posting Meditation Journal, saya dibuat mengangguk setuju, atau berkata, “Oh, itu dia!” atau kalimat lain yang serupa seperti diucapkan seseorang yang mengira dirinya menempuh jalan yang terang padahal ia masih butuh banyak cahaya. “Oh ini dia!” kadang-kadang saya seperti menemukan rambu yang sudah lama saya cari.
Jika meditasi itu luas, mungkin saya melakukannya dengan cara yang aneh untuk mencapai “kesadaran yang utuh” itu; saat saya benar-benar bisa menyadari sepenuhnya apa yang saya lihat, rasakan, dan lakukan. Saya harus bengong dulu, misalnya. Atau saya harus sampai pada perasaan “apa adanya”. Misalnya, ketika menulis, saya bisa merasakan keadaan meditatif semacam itu. Saat saya tiba-tiba punya “teropong lain” untuk melihat sesuatu secara unik, dan memaknainya dengan cara yang lain. Atau saat saya merasa heran sendiri dengan apa yang sudah saya lakukan. Misalnya ketika saya sendiri menyadari, “Kok saya bisa bilang begini, ya?” dan lainnya. Kondisi begitu sering saya alami ketika saya benar-benar melepaskan semua beban, intensi, keinginan-keinginan, dan hanya fokus pada apa yang saya pikirkan. Saya mengamati pikiran itu, merefleksikannya, dan itu saja.
Berbeda dengan ketika menulis untuk “kebutuhan sesuatu”. Ketika saya membebankan banyak konsekuensi yang harus dicapai oleh saya sendiri seperti: tulisan ini harus lolos seleksi, harus menang, harus bagus, harus dapat nilai tinggi, harus enak dibaca orang, dan seterusnya. Rasanya seperti bermeditasi dengan tuntutan-tuntutan: meditasi harus meloloskan saya dari masalah-masalah, meditasi harus membuat saya bahagia sepanjang masa, dan seterusnya.
Sejauh ini saya melakukan meditasi Sufi. Saya mengenalnya untuk pertama kali dari seorang sahabat di Bandung, Bambang Q-Anees namanya. Nama-nama untuk melakukan tindakan meditatifnya berbeda, tindakannya berbeda, tapi rasanya “yang diharapkan” dan “yang ingin digapai”-nya sama saja. Sayaratnya utamanya juga rasanya sama, seperti yang Mbak ingatkan dalam posting ini, “Lakukanlah semuanya untuk melihat dan mengenal siapa dirimu. Jangan yang lain-lain.” Ya, saya setuju, tak usahlah kita membebankan pada diri kita bahwa meditasi harus menyelesaikan masalah, harus ini, harus itu, dan seterusnya. Meditasi untuk mengenal diri, akan membaya semuanya menuju tarikan-tarikan yang takterduga. Masalah misalnya, ketika kita mengenal diri, bukankah kita mengenal masalah yang dihadapi “diri” itu, lalu setelahnya kita bisa tahu apa yang harus kita lakukan ketika keduanya berhadap-hadapan.
Ketika membaca tulisan ini, pun, saya tidak mengharapkan “rekomendasi” untuk menyelesaikan problem-problem saya. Yang saya inginkan adalah tulisan ini tetap seperti semula: berefek pada kondisi-kondisi ketika saya dibuat mengangguk setuju, atau berkata, “Oh, itu dia!” atau kalimat lain yang serupa seperti diucapkan seseorang yang mengira dirinya menempuh jalan yang terang padahal ia masih butuh banyak cahaya. “Oh ini dia!” seperti saya yang menemukan rambu yang sudah lama saya cari. Dengan begitu, saya akan berjuang mendapatkan teropong untuk meraba “diri” lebih jauh, mengenal masalah-masalah hidup, dan mengenal hidup itu sendiri.
Itulah mengapa saya memilih untuk menjadi “murid” dalam posting-posting semacam ini. Posting semacam ini, pada dirinya sendiri, adalah posting yang sangat meditatif; dan punya efek serupa ketika ia dibaca. Saya tak bisa membayakngkan apa yang Mbak lakukan sebelum menuliskan tulisan sejujur dan sejernih ini. Makanya, saya memilih untuk menjadi “murid” saja.
“Murid” dalam bahasa arab berarti seseorang yang menginginkan sesuatu; sebuah tempat (maqam) misalnya, ilmu, atau sesuatu yang lain. Tapi “murid” tak bisa sendirian saja mencapai semua itu begitu saja. Ia butuh “Mursyid”. Seseorang yang membimbing dan mengarahkan. Seorang Mursyid tentu saja sebelumnya harus “Rasyid”, yang terbimbing dan terarahkan. Ketika menghadapi mursyidnya seorang murid tentu saja penuh dengan keinginan-keinginan—yang kadang melebar dan meluas kemana-mana. Di situlah kemudian sang Mursyid menjadi “rambu pengingat” yang hidup. Sesorang yang dengan sabar berkata, “Eit, hati-hati, jangan kesana!” atau “Sabarlah! Ikuti dulu tahapan-tahapannya”, dan seterusnya.
Oke, rasanya terlalu panjang lagi. Hehehe. Belakangan ini memang saya hanya menjadi silent reader. Karena saya memilih untuk jadi “murid” dari posting-posting di sini, terutama posting-posting berlabel Meditation Journal. Sekali lagi, saya seperti mendapati guru meditasi satu lagi: guru yang melemparkan sebuah tulisan, dan secara ajaib tulisan itu menyintak kesadaran para pembacanya, mengubak-mengacaknya, dan sampailah mereka pada “kesadaran utuh” sehingga bisa melihat masalah hidup, diri sendiri, hidup itu sendiri, dan apa saja dari kacamata batin yang jernih.
Kenapa hari ini saya berkomentar? Saya tak ingin kehilangan komunikasi dengan guru saya, tentu saja. Semacam memberi radar, “Saya masih di sini. Di belakang sini. Mendengarkan Anda.”
Fahd
www.ruangtengah.co.nr
mba ...
perahu kertas itu nggak ada hardcopynya ?
kalo softcpynya bisa didapat dimana ya ?
Malam...dee....
salam kenal,
Sya senang baca postingan kamu dee....
saya selalau merasa ada energi baru yang masuk ke dalam diri saya.....
Blog kamu juga bisa dijadikan sebagai bahan bacaan yang berbobot, terutama untuk saya yang tidak terlalu suka baca buku..
Rectoverso-nya keren banget...
Thanx
Bubun-Bandung
Malam Dee....
saya salah satu fans anda, saya buka blog ini kurang lebih baru satu bulan.Saya seneng baca postingan anda, jujur saya merasa punya referensi baru sebagai bahan bacaan.
Sukses ya untuk rectoverso-nya.
Bubun
Thanx
Salam,
Anda satu dari beberapa "Artis" yang berwawasan luas, tidak banyak di Indonesia. Salut.
Muhammad-Affan
Meditasi jangan diindentikkan dengan terapinya orang-orang stress, meditasi adalah latihan untuk meningkatkan kewaspadaan (mindfulness) dalam menjalani kehidupan.
Wah kok belakangan banyak yang membahas meditasi ya? Ini ada juga orang yang menceritakan pengalamannya selama mengikuti retret meditasi di blognya:
http://www.kolamteratai.net/profiles/blogs/problematik-beropini-cara
Juga website komunitasnya Pak Hudoyo Hupudio:
http://meditasi-mengenal-diri.ning.com
salam
Saya tidak terlalu mengerti. Tapi salam kenal aja.
“Meditasi memang bukan tujuan akhir, ia hanyalah alat. Semacam perahu, yang jika sudah sampai di pulau, perahu itu pun harus kita tinggalkan. Dan memang benar, biasanya orang harus dirundung masalah dulu baru tergerak untuk menyelam ke dalam dirinya. Kenyamanan membuat kita terlena. Ketidaknyamananlah yang menggerakkan kita untuk mencari.”
Kalau meditasi seumpama perahu, maka ketika sampai di pulau, perahu itu tidak bersama lagi dengan kita. Ketika sudah sampai di tujuan, meditasi sudah tak perlu lagi. Mungkin, hal ini bisa menjadi seperti itu kalau kita sudah tahu dengan jelas tujuannya. Namun, bukankah kita bermeditasi justru karena kita belum punya tujuan, karena kita masih mencari?
Kalau meditasi ibarat perahu, maka sepanjang bermeditasi kita akan selalu berperahu. Mungkin, kita tak perlu mendayung agar sampai ke sebuah tempat. Bisa jadi, kita hanya perlu diam mengikuti ke mana perahu membawa kita. Ketika sampai di sebuah tempat (entah pulau, laut atau bahkan samudera), kita baru akan tahu kita telah sampai. Bisa juga, kita akan melebur bersama perahu yang terus berlayar tanpa pernah sampai-sampai. Kemudian, kita akan berhenti dan mendapati bahwa kita tak perlu kemana-mana. Tak perlu ada pulau untuk dituju. Tak perlu ada perahu untuk ditumpangi. Kita adalah perahu itu sendiri.
Ra ~ Ma
Meditation is a report.
setuju...meditasi bukan sarana yang tepat untuk untuk di jadikan solver problem... masalah itu hanya datang bila kita lagi boke' bro...so....
......indah
......damai
...........menyelam dalam ke dalam diri, semua hanya sekumpulan sel kecil.
...........terbang tinggi ke angkasa, bumi hanya titik biru kecil.
ijinkan saya bersama di sini, jatuh cnta, tersungkur dalam indah.... damai....
dee terima kasih atas jawabannya..!!
datang, dan buktikan sendiri....
semoga batin selalu berkembang
ben gak jadi masalah, biarkan hati ini "diam", ojo nganti dari otak/pikiran jatuh ke hati/perasaan
Mba dewi tulisan soal meditasi ini inspiratif.
Menurut saya, setelah membaca tulisan dan komentar teman-teman diatas, saya mengasumsikan bahwa setiap orang memiliki metode dan pola sendiri dalam bermeditasi.
untuk saya sebagai penganut Islam, Muslim, bermeditasi mungkin melalui sholat, karena ketika sholat kita berusaha mempersiapkan dengan baik, teratur, serta sistematis.
Dalam Islam, sebelum kita sholat, kita diwajibkan dalam keadaan bersih serta suci, arti filosofisnya, membuang semua kotoran baik secara fisikal maupun rohaniah. lalu berniat bersungguh-sungguh akan melaksanakan dan fokus kepada sholat tsb. dan memulai berkomunikasi sang Khalik. untuk memulai sholat tsb., pun pikiran kita harus fokus dan dalam keadaan tenang serta melupakan sejenak pikiran-pikiean "diluar sana/duniawi".
dan biasanya, saya "curhat" ke Allah melalui berdoa setelah sholat tsb., menceritakan segala permasalahan saya dengan sejujur-jujurnya, karena saya mirip seperti mba dewi, terkadang dalam "kehidupan nyata", saya termasuk orang yang kata teman saya, selalu bersikap tenang, semangat dan ceria, karena menurut saya hal tsb. dilakukan agar saya tetap "maju" dan berusaha berpikiran positif serta tenang dalam bersikap, cuma lama-lama, saya merasa ada yang menumpuk saja di perasaan ini.
untuk saya, dengan sholat mungkin merupakan sebuah solusi dan metode meditasi juga, dan sepertinya meditasi tsb. juga merupakan akhirnya adalah salah satu cara dalam menangani segala permasalahan di hidup kita ini.
salam.
Ikut ngasih komentar ya mbak dee
Meditasi tidak mengurangi masalah!!
benar dalam sudut pandang keseluruhan proses yang berjalan dari awal dan akhir. Awal disini adalah keadaan dimana kesadaran memandang masa lalu dan akhir disini adalah keadaan kita ketika menyimpulkan proses tersebut.
Meditasi mempunyai efek, yaitu seperti apa yang dikatakan mbak dewi, kita melihat keadaan diri kita seutuhnya, tidak ditambahkan ataupun tidak dikurangi. Meditasi menjadi solusi dalam hal keadaan setelah meditasi, yaitu kesadaran yang timbul. Kesadaran ini baru dibandingkan dengan kondisi pra-meditasi. Pemberian nilai terhadap kesadaran itulah yang menjadi solusi, bila pemberian nilai-nya bersifat negatif maka menjadi solusi negatif, dan apabila pemberian nilainya positif, maka menjadi solusi positif.
Meditasi dapat meredam emosi, dalam hal ditimpali secara aktif oleh kesadaran, hal tersebut dapat datang langsung secara murni dari orang yang melakukan meditasi, tetapi dapat juga dilakukan dengan pengabaian, artinya menahan segala pikiran yang emosional itu, untuk proses yang pertama tadi, hal tersebut tergolong hal yang “totally given”, sedangkan yang kedua adalah pembelajaran yang terus menerus, yang diterangkan dengan gerakan bolak-balik dari suatu keadaan ke keadaan lain.
Keadaan mbak dee sekarang merupakan suatu “kesadaran murni dalam kebingungan primordial”, yang selalu jujur dalam menerima “kondisi nyata” dari apa yang dipikirkan dan dirasakan…….. kesadaran itu murni muncul dari ruh yang tersucikan, dan kebingungan tersebut muncul karena manusia mempunyai jasad yang menempel pada ruh….
Wallahualam bisawab
Woooow... today such a beautiful day for me.. from morning till evening.. on of it is YOU..
Mbak..
Sungguh talent yang luar biasa, anugerah yang memperindah perjalanan hidup banyak orang..
Buku pertama sampai sekarang, udah bertengger di rak buku dan tetap mencoba dan bangga ketika bisa dapat cetakan pertama.. so happy untuk punya edisi Akar dengan sampul yang sempat kontroversi dan Petir.. mungkin karena terlalu adore malah di "uji" ada yang pinjem dan ga balik2.. but fine will manage untuk beli lagi walaupun.. hiks...
Mbak Dee,
Rectoverso.. amazing.. menggabungkan antara musik dan cerita.. (for sure edisi pertama..)..
TETAP BERSEMANGAT ya Mbak..
TETAP MEMBAGI ANUGERAHNYA UNTUK KITA SEMUA..
Berharap satu hari nanti bisa tatap muka.. dan bersedia tandatangan bukunya.. warisan unuk anak2ku.. heheee...
ALL THE BEST, Mbak
Mba dee,
saya baru kali ini membuka blog anda :)
ISInya LUAR BIASA!
Ketertarikan saya untuk membuka blog anda dimulai dari membaca artikel anda dari teman saya.
Saya mo minta ijin, apa boleh postingan ini dimasukkan ke majalah? Majalah Dawai. Mungkin mba tau karena dulu pernah masuk di majalah ini juga :)
Thx dan SEMOGA SUKSES SELALU
:)
Salam kenal mbak Dee,
Setuju! Masalah akan menjadi masalah jika kita menganggap itu suatu masalah.
Kadang saya "diam", padahal dalam diri saya terjadi perang bathin.
Terima kasih untuk pencerahannya.
Pada saat kita meditasi, apa saja sih yang kita lakukan? saya pernah denger katanya meditasi itu konsentrasi pada satu titik. Tapi saya gak pernah bisa konsen pasa pada satu titik. Pikiran saya gak pernah kosong...
Hi Dewi, Have you read "Superpower Mindfulness" of Bhante Ajahn Brahm ? I have just bought one.
Ajahn Brahm will be visiting Indonesia end this month, you might be interesting to attend his Dhamma talks. In Jakarta, it will be held on :
Sat 28th Feb 2009
The Golf, Pantai Indah Barat 1, Pantai Indah Kapuk, Jakut.
For details information, please check www.ehipassiko.net.
May all beings be happy.
asiknya sy ultah Januari jg lo mba dew huahua... btw sy setuju ma titon bahwa mns adl ruh yg memiliki tubuh jasmani... semua pengalaman hidup hanyalah suatu pengalaman (netral). Pengalaman itu akan jd baik ato buruk tergantung Perasaan/emosional yg diberikan oleh pelakunya... Renungkanlah "kesadaran" siapa anda sebenarnya !!!
To Angkatbicara:
Dalam meditasi, memang dikenal teknik konsentrasi pada satu titik atau one-pointedness. Tapi apa yang bisa dilakukan jika konsentrasi tersebut buyar dan pikiran kita berlari-lari? Amati saja pikiran yang lari-lari itu. Dan gimana kalau kita merasa putus asa karena pikiran terus lari-lari meskipun kita rasanya sudah mengamati? Ya amati saja rasa putus asa tsb.
Kalau bagi saya, meditasi akan selalu kembali mengamati.
Semoga berguna,
~ D ~
_/|\_
Dlam meditasi q ada IKA yg mengganggu pikiranku..ah aq mau nyari IKA dulu..:(
http://kurniawanart.blogspot.com/2008/09/serpihan-kaca-pecah_3247.html
Salam untuk dewi lestari :)
salam kenal dari jogja, namaku chacha. Sering baca buku-buku mba, dan saya salut sama buku-buku mba yang berisi energi-energi yang inspiratif, yang jika dibaca, membawa saya kedunia yang lebih nyata. Walaupun, kisah yang dihadirkan bersifat fiksi. Two Thumbs Up ;)
Mba dewi, terimakasih untuk postingannya tentang meditasi. Kebetulan, besok kamis, tanggal 12, mas reza gunawan akan memberikan meditasi di jogja ya. Saya sudah mendaftar dan berminat ikut. Dan postingan mba dewi, sangat melengkapi kegiatan mas reza :) saya senang bisa menyatukan persepsi sebelum melangkah ke dunia meditasi.
Selamat untuk lahirnya adek Atisha Prajna Tiara.
Semoga menjadi anak yang dapat membahagiakan kedua orang tua dan dunia sekitarnya.
Maju terus mba!
kapan ada event di jogja? :)
Saya kagun dengan tulisan-tulisan mba Dee....sangat inspiratif dan luar biasa.
tulipungu.wordpress.com
Post a Comment